Click here to load reader

LP Fraktur Femur

  • View
    102

  • Download
    6

Embed Size (px)

DESCRIPTION

laporan pendahuluan fraktur femur

Text of LP Fraktur Femur

LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR FEMUR2.1 DefinisiFraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh. Kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang, baik berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung (Sjamsuhidajat & Jong, 2005).Fraktur femuradalah rusaknya kontinuitas tulang paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang / osteoporosis.Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang terbesar dan terkuat pada tubuh (Brooker, 2001).Stadium Penyembuhan Fraktur

1. Std. DESTRUKSI / HEMATOM terjadi kerusakan jaringan lunak & perdarahan di sekitarfraktur.2. Std. INFLAMASI & PROLIFERASI SEL (puncaknya 2X24 jam, penurunan 5-6 hari), sel-sel inflamasi masuk ke daerah hematom. Secara bertahap jaringan hematom ini berubah menjadi jaringan granulasi.3. Std. PEMBENTUKAN KALUS terjadi pembentukan sel osteoblas & osteoklas (wovenbone). Kalus menyebabkan fragmen-fragmen tulang bersatu. Pada stadium ini rasa nyeri sudah hilang (anak 3-4 bln, dewasa 6 bln).4. Std. KONSOLIDASI Woven bone berubah menjadi lamellar bone (kalus berubahmenjadi hard kalus) dan fragmen menjadi solid5. Std. REMODELLING kalus yang berlebih mulai menghilang sehingga terbentuktulang yang normal atau mendekati normal. Kanalis medularismulai terbentuk.CATATAN:Sampai dengan stadium remodelling dibutuhkan waktu sekitar 1 tahun. Namun pada anak, waktu yang dibutuhkan bisa lebih cepat, hingga setengah dari rata-rata waktu penyembuhan pada dewasa. Ini dikarenakan periosteum anak-anak lebih tebal & dapat menghasilkan kalus dalam waktu yang singkat serta lebih banyak.

Gambar anatomi tulang femur2.2 Klasifikasi1. Menurut Chairudin Rasjad (1998) Fraktur di klasifikasikan sebagai berikut :a. Fraktur tertutup (sederhana)Merupakan fraktur tanpa komplikasi dengan kulit tetap utuh disekitar fraktur tidakmenonjol keluar dari kulit.b. Fraktur terbuka (compound)Pada tipe ini, terdapat kerusakan kulit sekitar fraktur, luka tersebut menghubungkan bagian luar kulit. Pada fraktur terbuka biasanya potensial untukterjadinya infeksi, luka terbuka ini dibagi menurut gradenya, yaituGrade I : luka bersih, kurang dari 1 Cm.Grade II : luka lebih luas disertai luka memar pada kulit dan otot.Grade III : paling parah dengan perluasan kerusakan jaringan lunak terjadi pulakerusakan pada pembuluh darah dan syaraf.c. Fraktur komplitPada fraktur ini garis fraktur menonjol atau melingkari tulang periosteum terganggu sepenuhnya.d. Fraktur inkomplitGaris fraktur memanjang ditengah tulang, pada keadaan ini tulang tidak terganggu sepenuhnya.e. Fraktur displacedFragmen tulang terpisah dari garis fraktur.f. Fraktur ComminutedFraktur yang terjadi lebih dari satu garis fraktur, dan fragmen tulang hancur menjadi beberapa bagian (remuk).g. Fraktur impacted atau fraktur compressiTulang saling tindih satu dengan yang lainnya.h. Fraktur PatologisFraktur yang terjadi karena gangguan pada tulang serta osteoporosis atau tumor.i. Fraktur greenstickPada fraktur ini sisi tulang fraktur dan sisi tulang lain bengkak

2.3 EtiologiChairudin Rasjad (1998) menyebutkan penyebab fraktur adalah dapat dibagi menjadi 3 yaitu : 1. Fraktur TraumatikTerjadi karena trauma yang tiba-tiba mengenai tulang dengan kekuatan yang besar dan tulang tidak mampu menahan trauma tersebut sehingga menjadi patah.

2. Fraktur PatologikTerjadi karena kelemahan tulang sebelumnya akibat kelarutinan patologis di dalam tulang. Fraktur patologis terjadi pada daerah-daerah tulang yang menjadi lemah karena tumor atau proses patologis lainnya. Tulang seringkali menunjukkan penurunan densitas. Penyebab yang paling sering dari fraktur-fraktur semacam ini adalah tumor, baik tumor primer maupun tumos metastasis.3. Fraktur stress.Terjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada suatu tempat tertentu.2.4 Manifestasi KlinisMenurut Arif Muttaqin, 2009 manifestasi klinis dari fraktur femur terbagi menjadi:a. Permasalahan pada saluran pernafasan Anastesi yang digunakan seat operasi bersifat sebagai zat iitan sebagai reflek batuk tertekan dan karenanya pengeluatan sekresi menjadi sulit, sering juga terjadni sekresi bersifat sehingga sulit dikeluarkan, karena lemahnya reflek batuk dan sistem sekresi karena tindakan pembiusan menyebabkan pasien mengantuk dan lemah sehingga proses pembuangan sekresi terganggu. b. Nyeri, timbul oleh karena rangsangan respon sensorik tubuh oleh karena kerusakan jaringan (sekitar bekas operasi tungkai kiri). c. Bengkak, timbul oleh karena pecahnya pembuluh darah arteri yang menyertai pelaksanaan operasi sehingga aliran darah menuju jantung tidak lancar, maka timbul bengkak disekitar luka incisi. d. Eritema, adanya warna kemerahan pada kulit pada daerah yang fiksasi hal ini disebabkan pembengkakkan, jumlah cairan darah dibawa secara berlebihan akibat rusaknya pembuluh darah. e. Peningkatan suhu lokal, dalam keadaan normal suhu kira-kira 36o C kaki pada daerah yang ada fiksasi atau bekas operasi suhu sama dengan kaki kanan.f. Keterbatasan Lingkup Gerak Sendi (LGS), ini terjadi di sendi penggerak tubuh (tungkai kiri) disebabkan oleh reaksi proteksi yaitu penderita berusaha menghindari gerakan yang menyebabkan nyeri. g. Penurunan kekuatan otot, terjadi karena adanya pembengkakan sehingga timbul nyeri dan keterbatasan gerak serta aktifilas terganggu dan terjadi penurunan kekuatan tungkai kiri.2.5 Patofisiologi Fraktur Femur Terbuka. Pada kondisi trauma, diperlukan gaya yang besar untuk mematahkan batang femur pada orang dewasa. Kebanyakan fraktur ini terjadi pada pria muda yang mengalami kecelakaan kendaraan bermotor atau mengalami jatuh dari ketinggian. Biasanya, pasien ini mengalami trauma multiple yang menyertainya. Secara klinis, pada fraktur femur terbuka biasanya akan ditemukan juga kerusakan neuromuskuler. Kondisi ini akan memberikan manifestasi peningkatan resiko syok, baik syok hipovolemik karena kehilangan darah (pada setiap patah satu tulang femur diprediksi akan hilangnya darah 500cc dari vaskuler), maupun syok neurogenik yang disebabkan rasa nyeri yang sangat hebat akibat kompresi atau kerusakan saraf yang berjalan di bawah tulang femur.Kerusakan fragmen tulang femur memberikan manifestasi pada hambatan mobilitas fisik dan akan diikuti dengan adanya spasme otot paha yang memberikan manifestasi deformitas khas pada paha yaitu pemendekan tungkai bawah dan apabila kondisi ini berlanjut tanpa dilakukan intervensi yang optimal maka akan memberikan risiko terjadinya malunion pada tulang femur. Kondisi klinik dari fraktur femur terbuka pada fase awal akan memberikan implikasi pada berbagai masalah keperawatan pada pasien, meliputi respons nyeri hebat akibat rusaknya jaringan lunak dan kompresi saraf risiko tinggi injuri pada jaringan akibat kerusakan vaskuler dengan pembengkakan local, risiko syok hipovolemik yang merupakan sekunder dari cedera vaskuler dengan perdarahan hebat, hambatan mobilitas fisik sekunder dari kerusakan fragmen tulang perdarahan hebat, hambatan mobilitas fisik sekunder dari kerusakan fragmen tulang serta adanya risiko tinggi infeksi sekunder dari porte de entre luka terbakar. Pada fase lanjut dari fraktur femur terbuka memberikan implikasi pada kondisi terjadinya malunion, nonunion dan delayed union akibat dari cara mobilisasi yang salah.Fraktur femur tertutup. Kebanyakan fraktur ini terjadi pada pria muda yang mengalami kecelakaan kendaraan bermotor atau jatuh dari ketinggian. Biasanya, pasien ini mengalami trauma multiple yang menyertainya. Pada kondisi degenerasi tulang (osteoporosis) atau keganasan tulang paha yang menyebabkan fraktur patologis dengan tidak adanya riwayat trauma yang menandai untuk mematahkan tulang femur. Kerusakan neuromuskuler akan memberikan manifestasi peningkatan risiko syok, baik syok hipovolemik karena kehilangan banyak darah, maupun syok neurogenik disebabkan rasa nyeri yang sangat hebat yang dialami oleh pasien. Kerusakan fragmen tulang femur akan diikuti dengan adanya spasme otot paha yang memberikan manifestasi deformitas khas pada paha yaitu pemendekan tungkai bawah, dan apabila kondisi ini berlanjut tanpa dilakukan intervensi yang optimal maka akan memberikan risiko terjadinya malunion pada tulang femur.PATHWAYS2.6 Pemeriksaan Penunjang1. Pemeriksaan Rontgen : menentukan lokasi / luasnya fraktur / trauma.2. Scan tulang (tomogram, CT scan/MRI) : memperlihatkan fraktur dan juga dapatmengindentifikasi kerusakan jaringan lunak.3. Arteriogram : dilakukan bila kerusakan vaskuler di curigai.4. Hitung darah lengkap : HT mungkin meningkat ( hemokonsentrasi ) atau menurun (pendarahan bermakna pada sisi frktur organ jauh pada trauma multiple).5. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfuse multiple, ataucedera hati (Doengoes, 2000: 762)2.7 Penatalaksanaan Fraktur FemurTerdapat dua kelompok besar fraktur : terbuka dan tertutup. Teknik-teknik pengobatan dapat digolongkan sebagai reduksi tertutup (traksi, gips, dan bidai) dan reduksi terbuka (fiksasi interna dan eksterna).1. REDUKSI TERTUTUPReduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan posisi anatomis normal. Pada kebanyakan kasus reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan)A. TRAKSITraksi adalah pemasangan gaya tarikan ke bagian tubuh. Traksi digunakan untukmeminimalkan spasme otot, untuk mereduksi, mensejajarkan, dan mengimobilisasi fraktur, untukmengurangi deformitas, dan untuk menambah ruangan di antara kedua permukaan patahan tulang.Traksi harus diberikan dengan arah dan besaran yang diinginkan untuk mendapatkan efekterapeutik.Mekanisme TraksiMekanisme traksi meliputi tidak hanya dorongan traksi sebenarnya tetapi juga tahanan yang dikenal sebagai kontratraksi, dorongan pada arah yang berlawanan. Seperti pada gambar fraktur berikut :Ada dua cara untuk melakukan hal terseb