Click here to load reader

LP Fraktur Femur

  • View
    110

  • Download
    7

Embed Size (px)

DESCRIPTION

vkdfgksghsdgkzdnh

Text of LP Fraktur Femur

LAPORAN PENDAHULUANFRAKTUR FEMUR

Disusun Oleh:Diajeng Sekar Ayu Kinasih NIM: 1102026

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN STIKLES BETHESDA YAKKUM YOGYAKARTA PERNYATAAN PERSETUJUAN Laporan Pedahuluan Fraktur Femur ini sudah diteliti dan disetujui oleh Pembimbing Laboratorium Klinik STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta

Yogyakarta, November 2013

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

Isnanto, S.Kep.,NsNs. FA Muji Raharjo,S.Kep

Mengetahui, Ka Prodi S1 Ilmu Keperawatan

Nurlia Ikaningtyas, M.Kep.,Sp.Kep.MB

BAB I LANDASAN TEORI FRAKTUR FEMUR

A. KONSEP MEDIS 1. Pengertian Fraktur adalah hi;langnya kontinuitas tulang, tulang rawan, baik yang bersifat total maupun sebagian. Fraktur Femur atau patah tulang paha adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang disaebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, dan kondisi tertentu, seperti degenerasi tulang atau osteoporosis. (Arif Muttaqin, 2008)

2. Epidemiologi Fraktur subtrochanter femur banyak terjadi pada wanita tua dengan usia lebih dari 60 tahun dimna tulang sudah mengalami osteoporosis, trauma yang dialami oleh lansia biasanya ringan (karena terpeleset di kamar mandi) sedangkan pada penmderita muda ditemukan riwayat mengalami kecelakaan. Sedangkan fraktur batang femur, femur supracondyler, fraktur intercondyler , fraktur condyler femur banyak terjadi pada penderita laki-laki dewasa karena kecelakaan ataupun jatuh dri ketinggian. Sedangkan fraktur batang femur pada anak terjadi karena jatuh waktu bermain.

3. Anatomi Fisiologi a. Anatomu Tulang Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan menjadi tempat untuk melekatnya otot-otot yang menggerakkan tubuh. Tulang dlh jaringan terstruktur dengan baik dan mempunyai 5 fungsi utama: 1) Membentuk rangka badan 2) Sebagi pengumpil dan tempat melekat otot3) Sebagai bagian dari tubuh untuk melindungi dan mempertahankan alat-alt dalam (otot, sumsum tulang belakang, jantung, dan paru-paru)4) Sebagai tempat mengatur dan deposit kalsium, fosfat, magnesium dan garam. 5) Ruang ditengah tulang tertentu sebagai organ yang mempunyai fungsi tambahan lain, yaitu sebagai jaringan hemopoetik untuk memproduksi sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Komponen utama jaringan tulang adalah mineral dan jaringan organik (kolagen dan proteoglikan). Kalsium dan fosfat membentuk suatu kristal garam (hidroksiapatit), yang tertimbun pada matriks kolagen dan proteoglikan. Matriks organik tulang juga disebut osteosid. Sekitar 70% dari osteosid adalah kolagen tipe I yang kaku dan memberi tinggi pada tulang. Materi organik lain yang juga menyusun tulang berupa proteoglikan. Secara garis besar, tulang dibagi menjadi 6;1) Tulang panjang (long bone): femur, tibia, fibula, ulna, humerus. 2) Tulang pendek (short bone): tulang-tulang karpal 3) Tulang pipih (flat bone): tulang parietal, iga, skapula, dan pelvis. 4) Tulanmg tak beraturan (irregular bone): tulang vertebra5) Tulang Sesmoid: tulang patella 6) Tulang Sutura: atap tengkorakTulang terdiri atas daerah yang kompak pada bagian luarnya yang disebut dengan korteks dan bagian luarnya dilapisi periosteum. b. Fisiologi tulang Tulang terdiri dari 3 jenis sel:1) Osteoblast Membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe I dan proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteosid melalui suatu proses yangh disebut osifikasi. 2) OsteositAdalah sel tulang dewasa yng bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat. 3) Osteoklas Adalh sel besar yang berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks tulang dapat di absorbsi. Sel ini menghasilkan enzim proteolitik, yang memecah matriks dan beberapa asam yang melarutklan mineral tulang sehingga kalsium dan fosfat terlepas ke dalam aliran darah.(Arif Muttaqin, 2008)c. Os Femur Merupakan tulang pipa terpanjang dan terbesar yang terhubung dengan asetabulum membentuk kepala sendi yang disebut kaput femoris. Disebelah atas dan bawah kolumna femoris terdapat taju yang disebut trokanter mayor dan trokanter minor. Di bagian ujung membentuk persendian lutut, terdapat dua buah tonjolan yang disebut kondilus medialis dan kondilus lateralis. Di antara kedua kondilus ini terdapat lekukan tempat letaknya tulang tempurung lutut (patela) yang disebut dengan fosa kondilus. Os tibialis dan fibularis merupakan tulang pip yng terbesar sesudah tulang paha yang membentuk persendian dengan os femur. Pda bagian ujungnya terdapat tonjolan yang disebut maleolus lateralis atau mata kaki luar. Os tibia bentuknya lebih kecil, pada pangklal melekat os fibula, pada bagian ujung membentuk persendian dengan tulang pangkal kaki dan terdapat taju yang disebut os maleolus medialis. (Syaifuddin, 2006)

4. Etiologi Penyebab fraktur femur antara lain:a. Fraktur femur terbukaDisebabkan oleh trauma langsung pad paha b. Fraktur femur tertutup Disebabkan oleh trauma langsung atau kondisi tertentu, seperti degenerasi tulang (osteoporosis) dan tumor atau keganasan tulang paha yang menyebabkan fraktur patologis. (Arif Muttaqin, 2011)

5. Patofisiologi

6. Tanda dan gejalaa. NyeriTerus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang dimobilisasi.Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirncang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang. b. Gerakan luar biasa Bagian bagian yang tidak dapat digunkan cendrung bergerak secara tidak alamiah bukannya tetap rigid seperti normalnya. c. Pemendekan tulang Terjadi pada fraktur panjang. Karena kontraksi otot yang melekat di atas dan dibawah tempat fraktur. d. Krepitus tulang (derik tulang) Akibat gerakan fragmen satu dengan yang lainnya. e. Pembengkakan dan perubahan warna tulangAkibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini terjadi setelah beberapa jam atau hari. (Brunner Suddarth, 2001)

7. Klasifikasi Dua tipe fraktur femur adalah sebagai berikut;a. Fraktur interkapsuler femur yang terjadi di dalam tulang sendi, panggul, dan melalui kepala femur (fraktur kapital).b. Fraktur ekstrakapsular 1) Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokanter femur yang lebih besar / lebih kecil/ pada daerah intertrokanter. 2) Terjadi di bagian distal menuju leher femur, tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah trokanter minor. Klasifikasi fraktur femur:a. Fraktur leher femurMerupakan jenis fraktur yang sering ditemukan pada orang tua terutama wanita usia 60 tahun ke atas disertai tulang yang osteoporosis. Fraktur leher femur pada anak anak jarang ditemukan fraktur ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan dengan perbandingan 3:2. Insiden tersering pada usia 11-12 tahun.

b. Fraktur subtrokanter Dapat terjadi pada semua usia, biasanya disebabkan trauma yang hebat. Pemeriksaan dpat menunjukkan fraktur yang terjadi dibawah trokanter minor.

c. Fraktur intertrokanter femur Pada beberapa keadaan, trauma yang mengenai daerah tulang femur. Fraktur daerah troklear adalah semua fraktur yang terjadi antara trokanter mayor dan minor. Frkatur ini bersifat ekstraartikular dan sering terjadi pada klien yang jatuh dan mengalami trauma yang bersifat memuntir. Keretakan tulang terjadi antara trokanter mayor dan minor tempat fragmen proksimal cenderung bergeser secara varus. Fraktur dapat bersifat kominutif terutama pada korteks bagian posteomedial.

d. Fraktur diafisis femur Dapat terjadi pada daerah femur pada setiap usia dan biasanya karena trauma hebat, misalnya kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian.

e. Fraktur suprakondilar femur Daerah suprakondilar adalah daerah antar batas proksimal kondilus femur dan batas metafisis dengan diafisis femur. Trauma yang mengenai femur terjadi karena adanya tekanan varus dan vagus yang disertai kekatan aksial dan putaran sehingga dapat menyebabkan fraktur pada daerah ini. Pergeseran terjadi karena tarikan otot.(Arif Muttaqin, 2008)

8. Pemeriksaan diagnostikPemeriksaan berdasar jenis fraktur femur:a. Fraktur leher femur Pemeriksaan radiologis dapat mengetahui jenis fraktur dan jenis pengobatan yang dapat diberikan. b. Fraktur subtrokanter Pemeriksaan radiologis dapat menunjukkan fraktur yang terjadi di bawah trokanter minor. Garis fraktur dapat bersifat transversal, oblik atau spiral dan sering bersifat kominutif. Fragmen proksimal dalam posisi fleksi, sedangkan fragmen distal dlam posisi adksi bergeser ke proksimal. c. Fraktur diafisis femur Klien mengalami pembengkakan dan deformitas pada tungkai atas berupa rotasi eksterna dan pemendekan tungkai. Klien mungkin datang dengan keadaan syok.d. Fraktur suprakondilar femurAdanya pembengkakan dan deformitas terdapat krepitasi. (Arif Muttaqin, 2008)

9. Penatalaksanaan a. Fraktur Femur Terbuka Menurut Apley (1995), fraktur femur terbuka harus dinilai dengan cermt untuk mengetahui ada tidaknya kehilangan kulit, kontaminasi luka, iskemia otot, cedera pada pembuluh darah dan saraf. Intervensi tersebut meliputi:1) Profilaksis antibiotik 2) Debridemen Pembersihan luka dan debridemen harus dilakukan dengan sedikit mungkin penundaan. Jika terdapat kematian jaringan yang mati dieklsisi dengan hati-hati. Luka akibat penetrasi fragmen luka yang tajam juga perlu dibersihkan dan dieksisi, terapi yang cukup dengan debridemen terbatas saja.3) Stabilisasi Dilakukan pemasangan fiksasi interna atau eksterna.4) Penundaan tertutup5) Penundaan rehabilitasi

b. Fraktur Femur TertutupPengkajian ini diperlukan oleh perawat sebagai peran kolaboratif dalam melakukan asuhan keperawatan. Denagn mengenal tindakan medis, perawat dapat mengenal impliksi pada setiap tindakan medis yang dilakukan. 1) Fraktur trokanter dan sub trokanter femr, meliputi:a) Pemasangan traksi tulang selama 6-7 minggu yang dilanjutkan dengan gips pinggul selama 7 minggu merupakn alternaltif pelaksanaan pada klien usia muda. b) Reduksi terbuka dan fiksasi interna merupakan pengobatan pilihan dengan memergunakan plate dan screw. 2) Fraktur diaf