LP Diabetes Insipidus

  • View
    1.051

  • Download
    47

Embed Size (px)

Text of LP Diabetes Insipidus

ASKEP GANGGUAN SISTEM ENDOKRIN PADA DEWASA GANGGUAN ADRENAL DAN PTUITARY DIABETES INSIPIDUS

OLEH : SGD 3 Ni Ketut Rahajeng Intan Handayani (1002105017) Desak Putu Pebriantini (1002105018) I.B Pt Sancitha Guptayana Putra (1002105027) I Gusti Ayu Anik Sutari (1002105028) Ni Wayan Noviantary Laksmi (1002105034) Made Ratih Khrisna Nurpeni (1002105037) Ni Wayan Sawitri (1002105058) I Gede Agus Wiryawan (1002105063) Ayu Indah Carolina (1002105073) Ni Made Candra Yundarini (1002105074) Putu Pamela Kenwa (1002105081)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2011

LEARNING TASK

Gangguan kelenjar pituitary Diabetes insipidus (kelompok sgd 3 dan 4)1. Jelaskan konsep dasar (pengertian, etiologi, manifestasi klinis, penatalaksanaan

medis, pencegahan, komplikasi).2. Buatlah asuhan keperawatan (pengkajian, diagnosa, rencana keperawatan, dan

evaluasi keperawatan).3. Pendidikan kesehatan yang mungkin diberikan.

PEMBAHASAN1. Konsep dasar (pengertian, etiologi, manifestasi klinis, penatalaksanaan medis,

pencegahan, komplikasi).A. Pengertian

Diabetes insipidus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh penurunan produksi, sekresi, dan fungsi dari Anti Diuretic Hormone (ADH) serta kelainan ginjal yang tidak berespon terhadap kerja ADH fisiologis, yang ditandai dengan rasa haus yang berlebihan (polidipsi) dan pengeluaran sejumlah besar air kemih yang sangat encer (poliuri). Ada dua macam diabetes insipidus, yaitu:1) Diabetes Insipidus Sentralis (DIS), disebabkan oleh kegagalan pelepasan

hormon antidiuretik yang secara fisiologi dapat merupakan kegagalan sintesis atau penyimpanan.2) Diabetes Insipidus Nefrogenik (DIN), ialah diabetes insipidus yang tidak

responsif terhadap ADH eksogen (kadar ADH normal tetapi ginjal tidak memberikan respon yang normal terhadap hormon ini).B. Etiologi

Diabetes insipidus dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu sebagai berikut: a. Hipotalamus mengalami kelainan fungsi dan berkurangnya produksi ADH baik total maupun parsial. b. Kelenjar hipofisis posterior mengalami penurunan atau gagal melepaskan hormon antidiuretik ke dalam aliran darah.c. Kerusakan hipotalamus atau kelenjar hipofisa akibat pembedahan, trauma

kepala, cedera otak (terutama patah tulang di dasar tengkorak), tumor otak, operasi ablasi, atau penyinaran pada kelenjar hipofisis.d. Ketidakmampuan ginjal berespon terhadap kadar ADH dalam darah akibat

berkurangnya reseptor atau second messenger (diabetes insipidus nefrogenik). Hal ini disebabkan oleh faktor genetik dan penyakit ginjal.e. Infeksi sistem saraf pusat (ensefalitis atau meningitis).

f. Pengaruh obat yang dapat mempengaruhi sintesis dan sekresi ADH seperti phenitoin, alkohol, lithium carbonat.

g. Sarkoidosis atau tuberculosis. h. Gangguan aliran darah (Aneurisma atau penyumbatan arteri yang menuju ke

otak). i. Idiopatik : dalam hal ini tidak ditemukan kelainan walaupun terdapat gejala. Gejala sering mulai pada masa bayi, tetapi tidak hilang selama hidup, tanpa mengganggu kesehatan dan mempengaruhi umur penderita. Berdasarkan klasifikasi, penyebab diabetes insipidus antara lain: 1) Diabetes Insipidus Sentral (DIS) dapat terjadi akibat beberapa hal, yaitu: (Asman,dkk, 1996, hal : 816)a. Tumor-tumor pada hipotalamus. b. Tumor-tumor

besar

hipofisis

dan

menghancurkan

nucleus-nukleus

hipotalamik.c. Trauma kepala. d. Cedera operasi pada hipotalamus. e. Oklusi pembuluh darah pada intraserebral (trombosis atau perdarahan

serebral, aneurisma serebral, post-partum necrosis).f. Pengangkutan ADH/AVP yang tidak bekerja dengan baik akibat rusaknya

akson pada traktus supraoptikohipofisealis.g. Sintesis ADH terganggu. h. Kerusakan pada nucleus supraoptik paraventricular. i. j.

Gagalnya pengeluaran ADH. Infeksi (Meningitis, ensefalitis, landry-Guillain-Barres syndrome)

2) Diabetes insipidus Nefrogenik (DIN), secara fisiologis DIN dapat disebabkan

oleh: (Asman,dkk, 1996, hal : 816) a. Kegagalan tubulus renal untuk bereaksi terhadap ADH, akibat: -

Penyakit ginjal kronik Penyakit ginjal polikistik Medullary cystic disease Pielonefritis Obstruksi ureteral Gagal ginjal lanjut Hipokalemia

-

b. Gangguan elektrolit

-

Hiperkalsemia Litium Demoksiklin Asetoheksamid Tolazamid Glikurid Propoksifen

c. Obat-obatan

d. Penyakit sickle cell e. Gangguan diet

-

Intake air yang berlebihan Penurunan intake NaCl Penurunan intake protein Multipel mieloma Amiloidosis Penyakit Sjogrens Sarkoidosis

f. Lain-lain

C. Manifestasi klinis

Manifestasi

klinis

penderita

diabetes

insipidus

ialah

sebagai

berikut:

(Abdoerachman,dkk, 1974, hal : 290)a) Gejala utama: poliuria (banyak kencing) dan polidipsi (banyak minum). Jumlah

cairan yang diminum maupun produksi urin per 24 jam sangat banyak. Produksi urin sangat encer dengan jumlah sekitar 4-30 liter/hari, dengan berat jenis urin biasanya sangat rendah, berkisar antara 1001 1005 atau 50 200 mOsmol/kg berat badan. Sebagai kompensasi hilangnya cairan melalui air kemih, penderita bisa minum sejumlah besar cairan (3,8-38 L/hari). Jika kompensasi ini tidak terpenuhi, maka dengan segera akan terjadi dehidrasi yang menyebabkan tekanan darah rendah dan syok.b) Penderita terus berkemih dalam jumlah yang sangat banyak, terutama di malam

hari. Selain poliuria dan polidipsia, biasanya tidak terdapat gejala-gejala lain kecuali jika ada penyakit lain yang menyebabkan timbulnya gangguan pada mekanisme neurohypophyseal renal reflex.

c) Pada bayi yang diberikan minum seperti biasa akan tampak kegelisahan yang tidak berhenti, sampai timbul dehidrasi, panas tinggi, dan terkadang sampai syok. d) Gejala lain: - Penurunan berat badan- Nocturia

- Kelelahan - Hipotensi Gizi kurang baik Gangguan emosional Enuresis Kulit kering Anoreksia Gangguan pertumbuhanD. Penatalaksanaan medis

Pengobatan Diabetes Insipidus harus disesuaikan dengan gejala yang ditimbulkan. Pada pasien DIS dengan mekanisme rasa haus yang utuh tidak diperlukan terapi apa-apa selama gejala nocturia dan poliuria tidak mengganggu tidur dan aktifitas sehari-hari. Tetapi pasien dengan gangguan pada pusat rasa haus, diterapi dengan pengawasan yang ketat untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Namun jika gejala itu sangat mengganggu kondisi pasien, dapat diberikan obat Clorpropamide, clofibrate untuk merangsang sintesis ADH di hipotalamus. Penatalaksanaan pada Diabetes Insipidus diberikan obat yang cara kerjanya menyerupai ADH. Obat obatan yang paing sering digunakan adalah vasopresin atau desmopressin asetat (dimodifikasi dari hormon antidiuretik) bisa diberikan sebagai obat semprot hidung (secara nasal spray) beberapa kali sehari untuk mempertahankan pengeluaran air kemih yang normal. Namun terlalu banyak mengkonsumsi obat ini bisa menyebabkan penimbunan cairan, pembengkakan, dan gangguan lainnya. Suntikan hormon antidiuretik diberikan kepada penderita yang akan menjalani pembedahan atau penderita yang tidak sadarkan diri. Pada DIN yang komplit biasanya diperlukan terapi hormone pengganti (hormonal replacement). DDAVP (1-desamino-8-d-arginine vasopressin) merupakan obat piihan utama untuk DIN.\

Selain terapi hormone pengganti dapat juga dipakai terapi adjuvant yang secara fisiologis mengatur keseimbangan air dengan cara : a. b.c.

Mengurangi jumlah air ke tubuus distal dan collecting duct. Memacu pelepasan ADH endogen. Meningkatkan efek ADH endogen yang masih ada pada tubulus ginjal. Obat-obatan adjuvant yang biasa dipakai adalah : Diuretic Tiazid Klorpopamid Kofibrat Karbamazepin Tujuan terapi adalah untuk menajmin penggantian cairan yang adekuat,

a. b. c. d.

mengganti vasopressin (yang biasanya merupakan program terapeutik jangka panjang), dan untuk meneliti dan mengoreksi kondisi patologis intracranial yang mendasari. Penyebab nefrogenik memerlukan penatalaksanaan yang berbeda. Penggantian dengan vasopressin. Desmopresin (DDAVP), yaitu suatu preparat sintetik vasopressin yang tidak memiliki efek vaskuler ADH alami, merupakan preparat yang sangat berguna karena mempunyai durasi kerja yang lebih lama dab efek samping yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan preparat lain yang pernah digunakan untuk mengobati penyakit ini. Preparat ini diberikan intranasal dengan menyemprotkan larutan obat kedalam hidung melalui pipa plastic fleksibel tidak yang kerjanya singkat dan diabsorpsi lewat mukosa nasal ke dalam darah. Jika kita menggunakan jalur intranasal dalam pemberian suatu obat, observasi kondisi pasien unutk mengetahui adanya ranofaringitis kronis. Bentuk terapi yang lain adalah penyuntikan intramuskuler ADH, yaitu vasopresin tannat dalam minyak, yang dilakukan bila pemberian intranasal tidak dimungkinkan. Preparat suntikan diberikan tiap 24 jam hingga 96 jam. Sebelum digunakan botol obat suntik terlebih dahulu dihangatkan atau digucangkan dengan kuat. Penyuntikan dilakukan pada malam hari agar mencapai hasil yang optimal. Kram abdomen adalahefek samping dari obat ini. Mempertahankan cairan. Klofibrat, yang merupakan preparat hipolipidemik, ternyata memiliki efek antidiuretik pada penderita diabetes insipidus yang masih sedikit mengalami vasopresin hipotalamik. Klorpropamid dan preparat tiazida juga digunakan untuk penyakit yang ringan karena kedua prepart ini bekerja

menguatkan kerja vasopresin. Pasien yang menerima klorpropamid harus diingatkan tentang efek hipoglikemik. Penyebab nefrogenik. Jika diabetes insipidus tersebut disebabkan oleh gangguan ginjal, terapi ini tidak akan efektif. Preparat tiazida, penurunan garam yang ringan dan penyekat prostaglandin digunakan untuk mengobati bentuk nefrogenik diabetes insipidus.E. Pencegahan

Diabetes Insipi