of 23 /23
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Linguistik umum bisa didefinisikan sebagai ilmu bahasa.Definisi demikian mencangkup linguistik dalam kegiatan tertentu dengan disiplin-disiplin dan ilmu-ilmu lain diluar linguistik itu sendiri dan dalam pembagiannya menjadi berbagai cabang.Linguistik umum menelaah bahasa manusia sebagai bagian yang universal yang dapat dikenali dari perilaku manusia dan kemampuan manusia; bahasa manusia ini mungkin merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan seperti yang kita ketahui, dan salah satu kesanggupan manusia yang mempunyai efek yang paling luas dalam kaitan dengan seluruh prestasi umat manusia. Linguistik umum adalah ilmu yang mempelajari sekumpulan bahan tertentu, yaitu bahasa lisan dan bahasa tulisan, serta bahwa linguistik itu dimulai dengan kegiatan-kegiatan yang dapat disampaikan dan dideskripsikan secara umum kepada masyarakat dan dapat dibuktikan dengan mengacu pada prinsip- prinsip yang dapat dinyatakan dan mengacu kepada suatu teori yang dapat dirumuskan. 1

Linguistik fonologi

Embed Size (px)

DESCRIPTION

makalah lenguitik fonologi

Text of Linguistik fonologi

BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang.Linguistik umum bisa didefinisikan sebagai ilmu bahasa.Definisi demikian mencangkup linguistik dalam kegiatan tertentu dengan disiplin-disiplin dan ilmu-ilmu lain diluar linguistik itu sendiri dan dalam pembagiannya menjadi berbagai cabang.Linguistik umum menelaah bahasa manusia sebagai bagian yang universal yang dapat dikenali dari perilaku manusia dan kemampuan manusia; bahasa manusia ini mungkin merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan seperti yang kita ketahui, dan salah satu kesanggupan manusia yang mempunyai efek yang paling luas dalam kaitan dengan seluruh prestasi umat manusia.Linguistik umum adalah ilmu yang mempelajari sekumpulan bahan tertentu, yaitu bahasa lisan dan bahasa tulisan, serta bahwa linguistik itu dimulai dengan kegiatan-kegiatan yang dapat disampaikan dan dideskripsikan secara umum kepada masyarakat dan dapat dibuktikan dengan mengacu pada prinsip-prinsip yang dapat dinyatakan dan mengacu kepada suatu teori yang dapat dirumuskan.Linguistik dalam menganalisis materi dan membuat pernyataan-pernyataan umum yang meringkas dan sejauh mungkin berkaitan dengan kaidah dan keteraturan dari gejala-gejala (tuturan- tuturan secara lisan maupun tulisan) yang termaksud dalam ruang lingkup linguistik.Linguistik sebagai penutur-pendengar dari bahasa yang sedang dipelajarinya atau bahasa yang dikuasainya tidak hanya bisa mendapatkan materi yang didapat ia hasilkan untuk dirinya sendiri tanpa menunggu sampai materi itu ditemukan, tapi juga bisa mendapatkan reaksi dan penilaian yang betul-betul bersifat pribadi tentang hal-hal seperti kalimat tersusun dengan baik dan benar. Linguistik berbeda dari kajian-kajian lain karena linguistik menggunakan bahasa dan sekaligus mempelajari bahasa sebagai objek.B. Rumusan Masalah1. Apa yang dimaksud linguistik fonologi ?2. Apa kaitan nya dengan fonetik ?3. Apa hubungan nya fonologi dengan fonemik ?4. Bagaimana kaitan fonologi dengan fona ?5. Bagaimana hubungan fonologi dengan fomen ?C. Tujuan 1. Mengetahui apa maksud dari fonologi2. Mengetahui kaitannya dengan fonetik3. Mengetahui hubungan nya dengan fonemik4. Mengetahui kaitan fonologi dengan fona5. Mengetahui hubungan fonologi dengan fomenD. Manfaat a. Manfaat Teoritis. Penelitian ini bertitik tolak dengan meragukan suatu teori tertentu atau yang disebut dengan penelitian verifikatif.Adanya keraguan terhadap teori itu muncul apabila yang terlibat tidak dapat lagi menjelaskan kejadian-kejadian aktual yang tengah dihadapi.Dilakukannya pengujian atas teori tersebut bisa melalui penelitian secara empiris serta hasilnya dapat menolak ataupun mengukuhkan serta merevisi teori yang berhubungan.b. Manfaat Praktis. Di lain sisi, penelitian juga berguna untuk memecahkan permasalahan praktis. Semua lembaga yang bisa kita jumpai di masyarakat, seperti lembaga pemerintahan ataupun lembaga swasta, sadar akan manfaat tersebut dengan menempatkan suatu penelitian dan juga pengembangan sebagai bagian dari integral organisasi merek.

Jadi kedua manfaat tersebut adalah syarat untuk dilakukannya sebuah penelitian yang mana telah dinyatakan di dalam desain atau rancangan penelitian.BAB IIKAJIAN TEORIA. Sejarah Fonologi Sejarah fonologi dapat dilacak melalui riwayat pemakaian istilah fonem dari waktu ke waktu. Pada sidang Masyarakat Linguistik Paris, 24 mei 1873, Dufriche Desgenettes mengusulkan nama fonem, sebagai padanan kata Bjm Sprachault. Ferdinand De Saussure dalam bukunya Memorie Sur Le Systeme Primitif Des Voyelles Dan Les Langues Indo-Europeennes memoir tentang sistem awal vokal bahasa-bahasa Indo eropa yang terbit pada tahun 1878, mendefinisikan fonem sebagai prototip unik dan hipotetik yang berasal dari bermacam bunyi dalam bahasa-bahasa anggotanya. Sejarah fonologi dalam makalah ini akan lebih mengkhususkan membahas mengenai istilah fonem. Gambaran mengenai perkembangan fonologi dari waktu ke waktu dapat dilihat lewat berbagai aliran dalam fonologi.a. Aliran KazanDengan tokohnya Mikolaj Kreszewski, aliran ini mendefinisikan fonem sebagai satuan fonetis tak terbagi yang tidak sama dengan antropofonik yang merupakan kekhasan tiap individu. Tokoh utama aliran kazan adalah Baudoin de Courtenay (1895). Menurut linguis ini, bunyi-bunyi yang secara fonetis berlainan disebut alternan, yang berkerabat secara histiris dan etimologis. Jadi, meskipun dilafalkan berbeda, bunyi-bunyi itu berasal dari satu bentuk yang sama. Pada 1880, Courtenay melancarkan kritiknya terhadap presisi atas beberapa fona yang dianggapnya tidak bermanfaat. Pada 1925, paul passy mempertegas kritik tersebut.

b. Ferdinand De Saussure.Dalam bukunya Cours de Linguistique Generale Kuliah Linguistik umum, Saussure mendefinisikan fonologi sebagai studi tentang bunyi-bunyi bahasa manusia.dari definisi tersebut tercermin bahwa bunyi bahasa yang dimaksud olehnya hanyalah unsur-unsur yang terdengar berbeda oleh telinga dan yang mampu menghasilkan satuan-satuan akustik yang tidak terbatas dalam rangkaian ujaran. Jadi dapat dikatakan bahwa Saussure menggunaklan criteria yang semata-mata fonetis untuk menggambarkan fonem dan memempatkannya hanya pada poros sintagmatik.Lalu Saussure mengoreksinya dan mengatakan bahwa pada sebuah kata yang penting bukanlah bunyi melainkan perbedaan fonisnya yang mampu membedakan kata itu dengan yang lain.Dengan konsep-konsepnya, meskipun tidak pernah mencantumkan istilah struktur maupun fungsi, Saussure dianggap telah membuka jalan terhadap studi fonologi yang kemudian diadaptasi oleh aliran Praha.

c. Aliran PrahaKelahiran fonologi ditandai dengan Proposition 22 Usulan 22 yang diajukan oleh R. Jakobson, S. Karczewski dan N. Trubetzkoy pada konggres Internasional I para linguisdi La Haye, april 1928. Pada 1932 jakobson mendefinisikan fonem sebagai sejumlah ciri fonis yang mampu membedakan bunyi bahasa tertentu dari yang lain, sebagai cara untuk membedakan makna kata. Jadi konsep fonem merupakan sejumlah ciri pembeda (ciri distingtif).

d. Aliran AmerikaTokoh aliran ini adalah Edward Sapir (1925), seorang etnolog dan linguis yang terutama memeliti bahasa-bahasa Indian Amerika. Menurutnya, sistem fonologi bersifat bersifat fungsional. Kiprah Sapir diteruskan oleh penerusnya dari Yale, Leonard Bloomfield , yang karyanya Language menjadikan dirinya bapak linguistik Amerika selama 25 tahun. Pada buku itu Bloomfield menjelaskan banyak hal tentang definisi-definisi mutakhir tentang fonem, istilah ciri pembeda, zona penyebaran fonem, kriteria dasar dalam menentukan oposisi fonologis dan lain-lain. Sifat behaviouris dan antimentalis Bloomfield mengantarkannya pada konsepsi tentang komunikasi sebagai perilaku dimana sebuah stimulus (ujaran penutur) memunculkan reaksi mitra tutur. Menurutnya, yang penting dalam bahasa adalah fungsinya untuk menghubungkan stimulus penutur dengan reaksi mitra tutur. Agar fungsi itu terpenuhi, pada tataran bunyi cukuplah kiranya jika setiap fonem berbeda dengan yang lainnya.Sehingga zona penyebaran fonem dan sifat akustiknya bukanlah sesuatu yang penting. Pada tataran fonologi umum, pionir fonologi Amerika lainnya, W.F Twaddell pada 1935 menerbitkan monografi. Di dalamnya Twaddell menegaskan bahwa satuan-satuan fonologis bersifat relasional. Daniel Jones dan Aliran Fonetik Inggris Sejak 1907 Daniel Jones mengajar fonetik di University of London. Setelah itu ia kemudian lebih banyak menggelti praktek fonologi di Inggris. Kegiatannya di jurusan fonetik di University of college lebih difokuskan pada transkripsi fonetis dan pengajaran pelafalan bahasa-bahasa dunia. Perhatiannya pada dua hal itu membuat dirinya memiliki konsep tersendiri tentang fonem. Pada 1919, dalam Colloquial Sinhalese Reader yang diterbitkannya bersama H.S Parera, Jones memberikan definisi fonem yang berciri distribusional.Terinspirasi oleh Baudoin de Courtenay, yang memakai fonem sebagai realitas psikofonetis, Jones menggambarkan fonem sebagai realitas mental.Maksudnya, dalam studi tentang sifat alamiah fonem, kita juga dapat menggunakan baik intuisi, rasa bahasa maupun cara-cara lain yang bersifat psikologis.Hal ini menunjukkan bahwa Jones lebih suka pada sifat fonem, alih-alih fungsinya. Dengan sudut pandang seperti itu sebenarnya Jones sudah memasuki daerah kerja fonologi, dalam analisisnya ia memasukkan data fonologi tertentu, namun dengan menyingkirkan sudutpandangfonologis.

B. Pengertian FonologiFonologi adalah bagian tata bahasa atau bidang ilmu bahasa yang menganalisis bunyi bahasa secara umum.Istilah fonologi ini berasal dari gabungan dua kata Yunani yaitu phone yang berarti bunyi dan logos yang berarti tatanan, kata, atau ilmu disebut juga tata bunyi., bunyi yang dipelajari dalam Fonologi bukan bunyi sembarang bunyi, melainkan bunyi bahasa yang dapat membedakan arti dalam bahasa lisan ataupun tulis yang digunakan oleh manusia. Fonologi terbagi dari dua bagian, yaitu Fonetik dan Fonemik.Bahkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan bahwa fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya. Dengan demikian fonologi adalah merupakan sistem bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatakan bahwa fonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa. Bunyi yang dipelajari dalam Fonologi kita sebut dengan istilah fonem.Menurut Kridalaksana (2002) dalam kamus linguistik, fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya. Sekarang coba Anda perhatikan bunyi gebrakan tangan di atas meja.Apakah bunyi tersebut termasuk ke dalam kategori fonem?jika Anda menjawab Iya, Anda harus membaca kembali kalimat sebelumnya. Tapi, jika jawaban Anda Bukan..Selamat! Anda telah berhasil memahami tentang fonem. Bunyi gebrakan tangan di atas meja mungkin bisa memiliki makna atau pun membedakan makna, tapi apakah bunyi tersebut termasuk ke dalam bunyi bahasa..silahkan Anda perhatikan dengan baik.Fonem dalam bahasa Indonesia terdiri atas empat macam. Ada fonem yang benar-benar asli dari bahasa Indonesia, namun ada pula fonem yang berasal dari berbagai bahasa lain namun penggunaannya sudah dibakukan. Dalam pembahasan berikut, saya tidak akan membedakan antara fonem yang asli dengan fonem yang serapan.Menurut Hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik.Secara umum fonetik biasanya dijelaskan sebagai cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.Sedangkan fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.Di Amerika istilah fonologi disebut fonemik (phonemics) sedangkan di eropa disamping fonemik terdapat pula fonetik. Jadi, bagi sarjana di eropa, misalnya Belanda dan Inggris terdapat fonetik dan fonologi, sedangkan di Amerika Serikat, baik fonetik maupun fonemik dibicarakan dalam satu tataran yang disebut fonologi. Di Amerika istilah fonologi disebut fonemik (phonemics) sedangkan di eropa disamping fonemik terdapat pula fonetik. Jadi, bagi sarjana di eropa, misalnya Belanda dan Inggris terdapat fonetik dan fonologi, sedangkan di Amerika Serikat, baik fonetik maupun fonemik dibicarakan dalam satu tataran yang disebut fonologi. Fonologi mempunyai dua cabang yaitu:1. FonetikMenurut Samsuri (1994), fonetik adalah studi tentang bunyi-bunyi ujar. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), Fonetik diartikan sebagai bidang linguistik tentang pengucapan (penghasilan) bunyi ujar atau fonetik adalah sistem bunyi suatu bahasa.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yangdihasilkan alat ucap manusia, serta bagaimana bunyi itu dihasilkan.yaitu cabang kajian yang mengkaji bagaimana bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa direalisasikan atau dilafalkan. Fonetik adalah bagian fonologi yang mempelajari cara menghasilkan bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi bahasa diproduksi oleh alat ucap manusia.Fonetik juga mempelajari cara kerja organ tubuh manusia terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahasa.Fonetik diartikan sebagai bidang linguistik tentang pengucapan (penghasilan) bunyi ujar atau fonetik adalah sistem bunyi suatu bahasa.Chaer (2007) membagi urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, menjadi tiga jenis fonetik, yaitu:a. Fonetik artikulatorisatau fonetik organis atau fonetik fisiologi, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan.b. Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam (bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getaranya.Fonetik yang mempelajari bunyi bahasa yang berupa getaran udara dan mengkaji tentang frekuensi getaran bunyi, amplitudo, intensitas dan timbrenya.c. Fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

Dari ketiga jenis fonetik tersebut yang paling berurusan dengan dunia lingusitik adalah fonetik artikulatoris, sebab fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia.Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika, dan fonetik auditoris berkenaan dengan bidang kedokteran.

2. Fonemikyaitu kesatuan bunyi terkecil suatu bahasa yang berfungsi membedakan makna. Fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yangberfungsi sebagai pembeda makna. Chaer mengatakan bahwa fonemik mengkaji bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata. Fonemik adalah bagian fonologi yang mempelajari bunyi ujaran menurut fungsinya sebagai pembeda arti.

C. Hal-hal Terkait FonologiIstilah lain yang berkaitan dengan Fonologi antara lain fona dan fomen:a. Fona. Fona adalah bunyi ujaran yang bersifat netral, atau masih belum terbukti membedakan arti, sedang fonem ialah satuan bunyi ujaran terkecil yang membedakan arti. Variasi fonem karena pengaruh lingkungan yang dimasuki disebut alofon.Gambar atau lambang fonem dinamakan huruf.Jadi fonem berbeda dengan huruf. Unluk menghasilkan suatu bunyi atau fonem, ada tiga unsur yang penting yaitu :1) udara,2) artikulator atau bagian alat ucap yang bergerak, dan3) titik artikulasi atau bagian alat ucap yang menjadi titik sentuh artikulator.

b. FomenSantoso (2004) menyatakan bahwa fonem adalah setiap bunyi ujaran dalam satu bahasa mempunyai fungsi membedakan arti. Bunyi ujaran yang membedakan arti ini disebut fonem. Fonem tidak dapat berdiri sendiri karena belum mengandung arti.Tidak berbeda dengan pendapat tadi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) tertulis bahwa yang dimaksud fonem adalah satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna.Jadi, dapat disimpulkan bahwa fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan memiliki fungsi untuk membedakan makna.Fonem tidak dapat berdiri sendiri karena belum mengandung arti.Fonem adalah kesatuan bunyi yang terkecil dan sistem bunyi-bunyi bahasa yang dapat berfungsi sebagai pembeda makna. Dan fonem juga adalah merupakan objek kajian dalam ilmu fonemik.Identifikasi fomen untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan, kita harus mencari sebuah satuan bahasa biasanya sebuah kata, yang mengandung bunyi, lalu membandingkannya dengan satuan kata yang lain yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama. kalau ternyata kedua satuan bahasa itu mempunyai makna yang berbeda maka dapat kita simpulkan bahwasanya bunyi tersebut adalah fonem, karena dia bisa atau berfungsi membedakan makna kedua satuan bahasa tersebut.Fonem yang berbeda dalam bahasa Indonesia, Sebagai bidang yang berkosentrasi dalam deskripsi dan analisis bunyi-bunyi ujar, hasil kerja fonologi berguna bahkan sering dimanfaatkan oleh cabang-cabang linguitik yang lain, misalnya morfologi, sintaksis, dan semantik.

Fonem dapat diklasifikasikan atas dua bagian, yaitu: fonem segmental dan fonem suprasegmental. Adapun yang dimaksud dengan fonem segmental adalah vokal dan konsonan dalam fonologi ataupun fonem-fonem yang berupa bunyi yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran. Dan yang dimaksud dengan suprasegmental adalah jalinan atau susunan bunyi yang dapat membedakan arti suatu kata dengan kata yang lain. Sedangkan yang dimaksud dengan segmen adalah satuan bahasa yang diabstraksikan dari suatu teks, misalnya fon atau fonem sebagai suatu bunyi, morf atau morfem sebagai satuan gramatikal. Fomen dibagi menjadi dua yaitu:a) Fomen konsonanKonsonan adalah fonem yang dihasilkan dengan menggerakkan udara keluar dengan rintangan, dalam hal ini yang dimaksud dengan rintangan dalam hal ini adalah terhambatnya udara keluar oleh adanya gerakan atau perubahan posisi articulator.Konsonan dapat digolongkan berdasarkan tiga kriteria yaiti, posisi pitasuara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi. Berdasarkan posisi pita suara, bunyi bahasa dibedakan ke dalam dua macam, yakni bunyi bersuara dan bunyi tak bersuara.(Samsuri, 1994, Supriyadi, dkk. 1992, Santoso, 2004 dan Depdikbud,1988).Bunyi bersuara terjadi apabila pita suara hanya terbuka sedikit, sehingga terjadilah getaran pada pita suara itu.Bunyi tak bersuara terjadi apabila pita suara terbuka agak lebar, sehingga tidak ada getaran pada pita suara. Berdasarkan tempat artikulasinya, kita mengenal empat macam konsonan, yakni:1) Konsonan bilabial adalah konsonan yang terjadi dengan cara merapatkan kedua belah bibir. 2) Konsonan labiodental adalah bunyi yang terjadi dengan cara merapatkan gigi bawah dan bibir atas. 3) Konsonan laminoalveolar adalah bunyi yang terjadi dengan cara menempelkan ujung lidah ke gusi. 4) Konsonan dorsovelar adalah bunyi yang terjadi dengan cara menempelkan pangkal lidah ke langit-langit lunak. Menurut cara pengucapanya atau cara artikulasinya, konsonan dapat dibedakan sebagai berikut:1) Konsonan letupan (eksplosif) yakni bunyi yang dihasilkan dengan menghambat udara sama sekali ditempat artikulasi lalu dilepakan. 2) Konsonan nasal (sengau) adalah bunyi yang dihasilkan dengan menutup alur udara keluar melalui rongga mulut tetapi dikeluarkan melalui rongga hidung. 3) Konsonan lateral yakni bunyi yang dihasilkan dengan menghambat udara sehingga keluar melalui kedua sisi lidah. 4) Konsonan frikatif yakni bunyi yang dihasilkan dengan menghambat udara pada titik artikulasi lalu dilepaskan secara frikatif.5) Konsonan afrikatif yaitu bunyi yang dihasilkan dengan melepas udara yang keluar dari paru-paru secara frikatif. 6) Konsonan getar yakni bunyi yang dihasilkan dengan mengartikulasikan lidah pada lengkung kaki gigi kemudian dilepaskan secepatnya dan diartikulasikan lagi.

b) Fomen Vocal Vokal adalah fonem yang dihasilkan dengan menggerakkan udara keluar tanpa rintangan.vokal yang dihasilkan tergantung dari beberapa hal berikut. Posisi bibir (bentuk bibir ketika mengucapkan sesuatu bunyi).Tinggi rendahnya lidah (posisi ujung dan belakang lidah ketika mengucapkan bunyi). Maju-mundurnya lidah (jarak yang terjadi antara lidah dan lengkung kaki gigi). Menurut posisi lidah yang membentuk rongga resonansi, vokal-vokal digolongkan: 1) Vokal tinggi depan dengan menggerakkan bagian depan lidah ke langit- langit sehingga terbentuklah rongga resonansi. 2) Vokal tinggi belakang diucapkan dengan kedua bibir agak maju dan sedikit membundar. 3) Vokal sedang dihasilkan dengan menggerakkan bagian depan dan belakang lidah ke arah langit-langit sehingga terbentuk ruang resonansi antara tengah lidah dan langit-langit. 4) Vokal belakang dihasilkan dengan menggerakkan bagian belakang lidah ke arah langit-langit sehingga terbentuk ruang resonansi antara bagian belakang lidah dan langit-langit. 5) Vokal sedang tengah adalah vokal yang diucapkan dengan agak menaikkan bagian tengah lidah ke arah langit-langit. 6) Vokal rendah adalah vokal yang diucapkan dengan posisi lidah mendatar.

BAB IIIPENUTUP

A. Kesimpulan Fonologi adalah cabang ilmu bahasa (linguistik) yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa, proses terbentuknya dan perubahannya. Fonologi mengkaji bunyi bahasa secara umum dan fungsional.Istilah fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna.Varian fonem berdasarkan posisi dalam kata, misal fonem pertama pada kata makan dan makna secara fonetis berbeda. Variasi suatu fonem yang tidak membedakan arti dinamakan alofon.Kajian fonetik terbagi atas klasifikasi bunyi yang kebanyakan bunyi bahasa Indonesia merupakan bunyi egresif. Dan yang kedua pembentukan vokal, konsonan, diftong, dan kluster.Dalam hal kajian fonetik, perlu adanya fonemisasi yang ditujukan untuk menemukan bunyi-bunyi yang berfungsi dalam rangka pembedaan makna tersebut. Dengan demikian fonemisasi itu bertujuan untuk(1) menentukan struktur fonemis sebuah bahasa, dan(2) membuat ortografi yang praktis atau ejaan sebuah bahasa.Gejala fonologi Bahasa Indonesia termasuk di dalamnya yaitu penambahan fonem, penghilangan fonem, perubahan fonem, kontraksi, analogi, fonem suprasegmental.Pada tataran kata, tekanan, jangka, dan nada dalam bahasa Indonesia tidak membedakan makna. Namun, pelafalan kata yang menyimpang dalam hal tekanan, dan nada kan terasa janggal.

A. SaranAdapun saran yang dapat penulis sampaikan yaitu kita sebagai calon pendidik, harus selalu menggali potensi yang ada pada diri kita. Cara menggali potensi dapat dilakukan salah satunya dengan cara mempelajari makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat untuk kita ke depannya. Amiin.

1