LINGKUNGAN “PECINAN” DALAM TATA RUANG KOTA “PECINAN” DALAM TATA RUANG KOTA DI JAWA PADA MASA KOLONIAL (Handinoto) Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan -

  • Published on
    25-Feb-2018

  • View
    218

  • Download
    4

Embed Size (px)

Transcript

  • DIMENSI TEKNIK SIPIL Vol. 27, No. 1, Juli 1999 : 20 - 29

    Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petrahttp://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/

    20

    LINGKUNGAN PECINAN DALAM TATA RUANG KOTA DI JAWAPADA MASA KOLONIAL.

    HandinotoStaf Pengajar Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Kristen Petra

    ABSTRAK

    Lingkungan Pecinan selalu ada di hampir semua kota-kota di Jawa. Meskipun sekarang lingkungan inisudah semakin kabur, tapi di beberapa kota kecil di Jawa bekas kehadirannya masih sangat terasa sekali.Atmosfir lingkungannya yang khas, diperkuat dengan kehadiran kelenteng sebagai pusat ibadah dan sosial, sertabentuk-bentuk bangunan yang khas pula sangat mudah untuk ditengarai. Di beberapa kota di dunia seperti SanFransisco, Manila dan sebagainya daerah Pecinan ini justru di perkuat kehadirannya. Bahkan daerah tersebutbisa dijadikan sebagai daerah tujuan wisata kota. Selama Orde baru, karena alasan sosial dan politik, kehadiranPecinan di kota-kota Indonesia, mulai dihapuskan. Tulisan ini mencoba untuk menelusuri sejarah kehadirandaerah Pecinan pada kota-kota di Jawa pada masa lampau.

    Kata kunci : Kota di Jawa jaman kolonial, Pecinan.

    ABSTRACT

    Pecinan (Chinese Camp) area is never absent in the town of Java. Although the specific characteristics ofthis mileu is not so strong any more at the present as it was in the past, its presency in diverse smaller towns inJava is still felt as something different. The specific atmosphere of the area, centered on the klenteng as the placeof workship, its social environment, included the specific style of house construction, are easy to be recognized.In some world cities like San Fransisco and Manila, the socalled China Towns are just stimulated for itsexistence. It is even so far, that theyare recomended as tourist destination objects. During the rule of the NewOrder (1965-1998), Pecinan in the towns in Indonesia are systimatically abolished, because of sicio politicalconsiderations. This paper tries to trace back the history of those Chinese Camps in the older towns of Java, tohave a certain picture of its existence in the past.

    Keywords : Town in Java in colonial period, Pecinan

    PENDAHULUAN

    Pecinan atau yang sering disebut sebagaiChinezen Wijk atau China Town, tidak sajaterdapat di Jawa tapi juga di hampir setiap kotapantai utama Asia Tengara. Di Jawa Pecinanterdapat di hampir semua kota, baik di kotapantai seperti Jakarta (Batavia), Semarang,Surabaya sampai kota pedalaman pusatKebudayaan Jawa seperti Yogyakarta danSurakarta. Di kota-kota yang relatif muda diJawa seperti Jember (kota yang baru timbul diakhir abad ke 19 ,karena pembukaan daerahperkebunan di ujung Timur P. Jawa), Pecinanjuga hadir disana.

    Di dalam tata ruang kota, daerah Pecinansering menjadi Pusat Perkembangan karenadaerah tersebut merupakan daerah perdaganganyang ramai. Daerah yang punya kepadatantinggi dengan penampilan bangunan berbentukruko (rumah toko atau Shop houses) seringmenjadi ciri daerah pecinan. Meskipun perannyademikian penting dalam suatu perkembangan

    tata ruang kota, tapi anehnya daerah ini jarangsekali menjadi obyek studi. Pembahasan tulisanini di titik beratkan pada peran pecinan terhadapperkembangan morpologi kota di Jawa padaumumnya.

    AWAL TIMBULNYA PEMUKIMAN CINADI KOTA-KOTA PANTAI UTARA JAWA

    Emigrasi orang Cina ke Jawa mulai terjadisecara besar-besaran pada abad ke 14. Awalterjadinya pemukiman Cina di sepanjang pantaiUtara Jawa tersebut sebagai akibat samping dariaktifitas perdagangan antara India dan Cinalewat laut. Perdagangan lewat laut tersebutmemanfaatkan angin musim Utara antara bulanJanuari-Pebruari untuk pergi ke Selatan danpulang ke Utara dengan pertolongan anginmusim Selatan antara bulan Juni-Agustus.

    Selama periode badai (Cylone) atau per-ubahan musim, para pedagang tinggal dipelabuhan-pelabuhan Asia Tenggara, disampingmereka menunggu rekan dagang dari bagian

  • LINGKUNGAN PECINAN DALAM TATA RUANG KOTA DI JAWA PADA MASA KOLONIAL (Handinoto)

    Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petrahttp://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/

    21

    dunia luar lainnya. Selama mereka tinggal dipelabuhan-pelabuhan Asia Tenggara, anak buahkapal dan penumpang berdiam dibagian kotayang di singgahinya (Reid, 1993:65).

    Cirebon (ARA-VEL 1250)1. Chineese Campon2. Passer3. Fort de Beschermingh met des opperhoofts wooningh4. Compagnies Thuyn5. Haneveghterey6. Passebaan) van Sultan Anom7. t Hof )8. Passebaan) van Sultan Soppo9. t Hof )10. t Vervallen hof Cranan

    Gambar 1. Peta kuno (antara th. 1700 an) KotaCirebon. Terlihat di dalam petatersebut daerah pemukiman orangCina (no. 1). Daerah Pecinan hadirlebih dulu sebelum benteng deBeschermingh milik VOC didirikandi kota Cirebon

    Beberapa kota yang ditempati pemukimCina di Asia Tenggara tersebut kemudianberkembang menjadi Entrepot (kota pelabuhansebagai pusat dari tukar menukar barang). DiJawa, kota-kota seperti itu bisa disebutmisalnya: Tuban, Gresik, Surabaya, Demak,Jepara, Lasem, Semarang, Cirebon, Banten danSunda Kelapa.

    Perkembangan pemukiman Cina di AsiaTenggara tambah dipacu dengan adanya usahadari dinasti Ming (1368-1644) untuk memasuk-kan daerah Asia Tenggara sebagai daerahprotektoratnya pada abad ke 14. Admiral Zheng

    He (Cheng Ho dalam dialek Fujian) dari dinastiMing dikirim untuk melakukan ekspedisipelayaran. Antara th. 1405-1433, Zheng Hemelakukan 7 kali ekspedsi pelayaran, sebelum iameninggal dalam usia 62 th di lautan Hindia,kemudian dikubur sesuai dengan agama yangdipeluknya secara muslim (Levathes, 1994:168-173). Pada jaman ekspedisi Zheng He inilahpemukiman Cina di berbagai kota-kota pantaiUtara Jawa mengalami pemantapan. Jadipemukiman Cina di Jawa sudah ada jauhsebelum orang-orang Belanda menguasai daerahpantai Utara Jawa pada th. 1743.

    Plaan van de Forten en Bergh van Japara (ARA-VEL 1275)1. Bergh van Japara 5. Fort2. Fort 6. Passebaan3. Compagnies paardenstal 7. Chineesch quartier4. De werf 8. Compagnies thuyn

    Gambar 2. Peta kuno (antara th. 1700 an) KotaJepara. Seperti kota-kota pantai utaraP. Jawa, sebelum didirikannya bent-eng Belanda, Pecinan sudah hadirlebih dulu di Jepara, yang waktu itumenjadi salah satu bandar terkemukadi pantai utara Jawa.

    Edmund Scott pemimpin loji Inggris diBanten pada th. 1603-1604, melukiskankesannya pada daerah Pecinan di Jawa sbb(Lombard, 1996, jilid2:275) : Sejak tiba dipelabuhan-pelabuhan pesisir, kita dengan mudahmelihat ke khas an daerah Pecinan. Daerahpecinan seolah-olah merupakan sebuah kota didalam kota. Letaknya di sebelah barat kota dandipisahkan oleh sebuah sungai. Rumah-rumahnya dibangun dengan pola bujur sangkardan terbuat dari bata. Wilayah ini mempunyaipasar sendiri yang dicapai melalui sungai.

  • DIMENSI TEKNIK SIPIL Vol. 27, No. 1, Juli 1999 : 20 - 29

    Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petrahttp://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/

    22

    Plaan van het Fort en de omleggende Cituate van Tegal 1719(ARA-VEL 12531. Fort2. Compagnies thuyn3. Rijststamperij4. Chinees quartier

    Gambar 3. Peta kota Tegal th. 1719. Terlihatdaerah pecinan (no.4). Pada umumnyapelaut-pelaut asing yang berdagang dikota-kota pantai utara Jawa mengata-kan bahwa mereka dengan mudahmelihat ke khas an daerah Pecinan.Daerah pecinan se olah-olah merupa-kan sebuah kota di dalam kota.

    Semarang (1695)1. Fort 2. Javaanse negorij 3. Chineesche negorij

    Gambar 4. Peta kota Semarang th. 1695. Terlihatdaerah Pecinan (no. 3) Semarangadalah salah satu kota kota di pantaiutara yang punya penduduk Cinaterbesar di Jawa.

    Banyak kota-kota di Jawa di beri namadalam bahasa Cina. Nama tersebut tidakberkaitan dengan dengan kata asli setempat.Misalnya Xiagang untuk Banten, Wendenguntuk Tangerang, Yecheng untuk Jakarta/Batavia, Linmu untuk Demak, Cecun untukGresik, Sishui untuk Surabaya. Yanwang untukPasuruan (Lombard, 1996, jilid2:244).

    Peta-peta kuno Belanda yang dibuat padaawal pendudukannya atas kota-kota pantai UtaraJawa menunjukkan bukti bahwa pemukimanCina sudah ada di kota-kota pantai tersebutsebelum mereka datang.(lihat gambar peta no:1,2, 3 dan 4)

    Sebagian besar pemukim Cina yang ada diAsia Tenggara pada umumnya dan Jawa padakhususnya berasal dari dua propinsi di Cinaselatan, yaitu Fujian dan Guangdong (Salmon,1985: 14, Kohl, 1984:1-5)(Lihat gambar petano.5a,5b,5c). Fujian dan Guangdong punya garispantai yang panjang yang secara geografispunya banyak kemiripan dengan kota-kota dipantai utara Jawa. Itulah sebabnya bahwa padaawalnya, pemukim Cina tersebut memindahkanpola dasar tata ruang dari daerah pelabuhan diCina selatan, kedalam kota-kota pelabuhan dipantai utara Jawa.

    Gambar 5a. Sebagian besar pemukiman Cina diJawa berasal dari dua propinsi diCina Selatan, yaitu Fujian (Fukien)dan Guangdong (Kwangtung). Petadi atas menunjukkan letak keduapropinsi tersebut.

    Penyelidikan yang dilakukan oleh Widodo(1996:216-224) atas beberapa kota pantai dipropinsi Fujian, terutama di daerah kota bawahyang dekat dengan garis pantai dan sungaimenunjukkan adanya persamaan dengan polaawal pemukiman Cina di Asia Tenggara.

    Pola seperti: klenteng, pasar, pelabuhandan aksis jalan utama yang tegak lurus garispantainya, merupakan elemen dasar dari intipemukiman Cina di daerah tersebut. Klenteng di

  • LINGKUNGAN PECINAN DALAM TATA RUANG KOTA DI JAWA PADA MASA KOLONIAL (Handinoto)

    Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petrahttp://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/

    23

    persembahkan pada dewa pelindung untukpelaut, atau secara populer disebut sebagai MaZu (Mak Co), yang selalu terdapat danberhubungan langsung dengan pelabuhan(Widodo, 1996:223)(lihat gb. no.6).

    Gambar 5b. Orang-orang Cina yang ada di Jawamenggunakan berbagai bahasadaerah dari tanah asal mereka. Petadi atas menunjukkan berbagaibahasa daerah dan tanah asalnya,yang banyak digunakan di Jawa.

    Gambar 5c. Propinsi Fujian dan Guangdong(tanah asal para pemukiman Can diJawa), punya garis pantai yangpanjang, yang mirip dengan daerahpantai Utara Jawa. Pola pemukimanorang Cina (pecinan) di Jawa punyabanyak kesamaan dengan pola kota-kota pantai di propinsi Fujian danGuangdong.

    Pola awal pemukiman Cina di kota-kotapantai utara Jawa seperti Jakarta, Semarang danSurabaya sekarang sulit sekali dicari, karenaperubahan morpologi kotanya yang sangatcepat, dan perubahan garis pantai yang terusmenjorok kelaut dari tahun ke tahun. Tapi dikota-kota pantai utara Jawa yang lebih kecilseperti Pasuruan dan Probolinggo, pola dasarawal pemukiman Cina seperti yang ada di kota-kota pelabuhan di Cina selatan tersebut masihbisa dilihat. Inti dari elemen dasar pemukimanCina seperti: Klenteng, pasar, pelabuhan danaksis jalan utama yang tegak lurus pantaidimana ujungnya terdapat klenteng, masihterlihat dengan jelas sekali. Hanya perubahangaris pantai yang makin menjorok ke laut darimasa ke masa menjadikan letak klentengsekarang makin menjauhi garis pantai.

    Gambar 6. Pola umum dari kota bawah daerahpelabuhan dari propinsi Fujian danGuangdong di Cina

    PERKEMBANGAN PEMUKIMAN CINAPADA JAMAN KOLONIAL DI KOTAPANTAI DAN KOTA PEDALAMAN

    Pada jaman kolonial pemukiman Cina yangterdapat di berbagai kota di Jawa ada dibawahkekuasaan pemerintah kolonial Belanda. Jumlahpenduduk Cina di Jawa makin lama makinbanyak. Dibawah ini terdapat data jumlahpenduduk Cina di berbagai daerah di Jawath.1815:

    Daerah JumlahSeluruh

    Penduduk

    Jumlah SeluruhPenduduk

    Cina

    Prosentase

    Banten 231.604 628 0.27Batavia 332.015 52.394 15.78Bogor 76.312 2.633 3.45Cirebon 216.001 2.343 1.08Tegal 178.415 2.004 1.12

  • DIMENSI TEKNIK SIPIL Vol. 27, No. 1, Juli 1999 : 20 - 29

    Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petrahttp://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/

    24

    Pekalongan 115.442 2.046 1.77Semarang 327.610 1.700 0.51Jepara &Juana

    103.290 2.290 2.21

    Rembang 158.530 3.891 2.45Gresik 115.442 364 0.31Surabaya 154.512 2.047 1.32Pasuruhan 108.812 1.070 0.98Prabalingga 104.359 1.430 1.37Surakarta 972.727 2.435 0.25Yogyakarta 685.207 2.202 0.32

    Pada tahun 1800 an penduduk Cina diJawaberjumlah 100.000 orang dan menjadi 500.000orang menjelang akhir abad ke 19 (Lombard,1996,jilid 2:245).

    Dari data-data diatas terlihat bahwapenduduk Cina di berbagai daerah di Jawamakin lama makin bertambah banyak. Sebagianbesar dari mereka bertempat tinggal di daerahPecinan. Untuk alasan pengontrolan, keamanandan persaingan dagang maka pemerintahkolonial Belanda pada th. 1816 mengeluarkanperaturan yang dinamakan Passenstelsel.Peraturan tersebut mengharuskan penduduk diberbagai daerah di Jawa kalau ingin bepergiankeluar daerahnya harus meminta surat pass(surat jalan) kepada penguasa setempat.Mengingat sarana komunikasi waktu itu yangsangat sederhana, maka tindakan pemerintahkolonial ini sangat membatasi ruang gerakorang-orang cina didaerah Pecinan. Sehinggatindakan ini malah membuat daerah Pecinan diberbagai kota di Jawa makin melakukankonsolidasi didaerahnya sendiri.

    Pada th. 1826 pemerintah kolonial Belandamengeluarkan undang-undang yang disebutsebagai wijkenstelsel. Undang-undang inimengharuskan etnik-etnik yang ada di suatudaerah untuk tinggal didaerah/wilayah yangtelah ditentukan didalam kota. Misalnya orangCina harus tingal di Pecinan, yang tinggal diluarPecinan harus pindah kedalam wilayahnyasendiri yang telah ditentukan. Sehingga daerah-daerah etnik yang memang sudah ada diberbagai kota terutama di kota-kota pantai diJawa lebih diperkuat lagi kehadirannya. Olehsebab itu secara phisik kotakota di Jawakemudian dipisahkan secara jelas menjadi tigawilayah besar. Pertama daerah orang Eropa(Europeesche Wijk), kedua daerah orang Cina(Chinezen Wijk) dan orang Timur asing lainnya(Vreemde Oosterlingen) serta yang ketiga adalahdaerah tempat tinggal orang pribumi setempat.Undang-undang wilayah (Wijkenstelsel) ini pada

    hakekatnya malah memperkuat kehadirandaerah pecinan dalam tata ruang kota di Jawa.Meskipun Wijkenstelsel ini secara resmidihapuskan pada th. 1920-an tapi bekas-bekasdaerah Pecinan tersebut tidak secara otomatishilang.

    Batas daerah pecinan dalam tata ruang kotamemang tidak selalu terlihat secara tegas.Terutama daerah pinggirannya kadang-kadangbatas-batasnya kelihatan kabur. Untuk memu-dahkan pengontrolan atas daerah ini pemerintahBelanda menunjuk pemuka-pemuka Cina untukmengepalai daerah ini. Pejabat yang ditunjuktersebut mendapat pangkat Kapten atau kalaudaerah kekuasaannya cukup luas seperti di kota-kota pantai yang besar seperti Batavia Semarangatau Surabaya, pejabatnya diberi pangkatmayor1. Di kota-kota tertentu misalnya sepertiSemarang, daerah pecinan nya pernah dipagarisendiri oleh penghuninya demi alasan ke-amanan2 .

    Pada jaman kolonial kebanyakan orangCina berperan sebagai pedagang perantara danpedagang eceran. Kedudukan ini menempatkanorang Cina sebagai pedagang antara orangpribumi yang menghasilkan produk-produkpertanian kemudian menjualnya pada pedagang-pedagang besar Eropa. Disamping itu orangCin...

Recommended

View more >