of 172 /172
i GAYA KELEKATAN REMAJA DAN ORANG TUA PADA SISWA SMP NEGERI 1 NGUTER KABUPATEN SUKOHARJO Skripsi disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan oleh Latih Buran Tedra 1301410059 JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2015

lib.unnes.ac.idlib.unnes.ac.id/21150/1/1301410059-s.pdf · ii PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas

Embed Size (px)

Text of lib.unnes.ac.idlib.unnes.ac.id/21150/1/1301410059-s.pdf · ii PENGESAHAN Skripsi ini telah...

  • i

    GAYA KELEKATAN REMAJA DAN ORANG TUA PADA SISWA

    SMP NEGERI 1 NGUTER KABUPATEN SUKOHARJO

    Skripsi disajikan sebagai salah satu syarat

    untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

    oleh

    Latih Buran Tedra

    1301410059

    JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING

    FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

    UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

    2015

  • ii

    PENGESAHAN

    Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi Jurusan

    Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang

    pada:

    Hari :

    Tanggal :

    Panitia Ujian

    Ketua Sekretaris

    Prof. Dr. Fakhruddin, M.Pd. Dr. Awalya, M.Pd., Kons.

    NIP. 19560427 198603 100 1 NIP. 19601101 198710 2 001

    Penguji I Penguji II

    Prof. Dr. Sugiyo, M.Si. Dr. Catharina Tri Anni, M.Pd.

    NIP. 19520411 197802 1 00 1 NIP. 19610724 198603 2 003

    Penguji III/Pembimbing

    Prof. Dr. Dwi Yuwono Puji Sugiharto, M.Pd.,Kons

    NIP. 19611201 198601 1 001

  • iii

    PERNYATAAN

    Dengan ini saya,

    Nama : LATIH BURAN TEDRA

    NIM : 1301410059

    Jurusan : Bimbingan dan Konseling

    Fakultas : Ilmu Pendidikan

    Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul Gaya Kelekatan

    Remaja dan Orang Tua pada Siswa SMP Negeri 1 Nguter Kabupaten Sukoharjo,

    saya tulis dalam rangka memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana

    Pendidikan adalah benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan

    jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau

    temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan

    kode etik ilmiah.

    Semarang, Januari 2015

    Penulis

    Latih Buran Tedra

    NIM. 1301410059

  • iv

    PERSETUJUAN PEMBIMBING

    Skripsi yang berjudul Gaya Kelekatan Remaja dan Orang Tua pada Siswa SMP

    Negeri 1 Nguter Kabupaten Sukoharjo ini telah disetujui oleh pembimbing untuk

    diajukan ke Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Bimbingan dan Konselng,

    Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang.

    Semarang, Januari 2015

    Pembimbing,

    Prof. Dr. Dwi Yuwono Puji Sugiharto, M.Pd., Kons.

    NIP. 19611201 198601 1 001

  • v

    MOTTO DAN PERSEMBAHAN

    MOTTO

    Bukan seberapa lama hidup didunia, namun seberapa berarti kita bagi orang

    lain terlebih orang terdekat kita

    PERSEMBAHAN

    1) Almamaterku BK FIP UNNES.

    2) Untuk Bapak Tejo Sudrajat dan Ibu Purwanti

    tercinta untuk segala kasih sayang, doa, dukungan,

    perjuangan dan motivasinya.

    3) Untuk saudaraku tersayang, Mbak Wida, Dek Azis,

    Dek Risqi, Mas Wildan, Dedek El dan Dedek Baim.

    4) Untuk keluarga besarku, keluarga Alm.Kakung

    Sugeng dan Kakung Wiji.

    5) Untuk sahabat BK Unnes 10 yang senangtiasa

    berjuang bersama.

  • vi

    KATA PENGANTAR

    Alhamdulillah segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas

    segala rahmat, hidayah, serta rencana terbaik-Nya, sehingga penulis mampu

    menyelesaikan skripsi dengan judul Gaya Kelekatan Remaja dan Orang Tua

    pada Siswa SMP Negeri 1 Nguter Kabupaten Sukoharjo . Penelitian dilakukan

    kerena melihat pentingnya kelekatan remaja dan orang tua yang dapat menjadi

    tameng remaja terhindar dari kenakalan remaja, dengan gaya kelekatan yang

    aman dengan orang tua siswa dapat membantu kompetensi sosial dan

    kesejahteraan sosial remaja. Namun banyak yang belum mengetahui gaya

    kelekatan antara remaja dan orang tua dan seringkali melupakan pentingnya gaya

    kelekatan. Sehingga ini bertujuan untuk memperoleh data empiris tentang gaya

    kelekatan remaja dan orang tua, gambaran gaya kelekatan remaja dan orang tua

    dilihat dari jenis kelamin dan pendidikan terakhir orang tua pada siswa SMP

    Negeri 1 Nguter Kabupaten Sukoharjo. Penulisan skripsi ini tidak lepas dari

    bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih

    kepada:

    1. Prof. Dr. Fathur Rokhman M.Hum., Rektor Universitas Negeri Semarang

    yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menempuh studi di

    Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan.

    2. Prof. Dr. Fakhruddin, M.Pd, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas

    Negeri Semarang yang telah memberikan ijin penelitian untuk skripsi ini.

  • vii

    3. Drs. Eko Nusantoro, M.Pd., Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling, yang

    telah memberikan ijin penelitian dan pengarahan penulis dalam

    menyelesaikan skripsi ini

    4. Mulawarman, M.Pd., Dosen Wali yang telah memberikan arahan, motivasi

    dan bimbingan kepada penulis.

    5. Prof. Dr. Dwi Yuwono Puji Sugiharto, M.Pd., Kons sebagai pembimbing

    skripsi dan dosen penguji tiga, yang telah memberikan bimbingan, arahan,

    perhatian, masukan dan dukungan selama penyusunan skripsi.

    6. Prof. Dr. Sugiyo, M.Si., sebagai dosen penguji satu, yang telah memberikan

    bimbingan dan masukan selama sidang skripsi hingga perbaikan skripsi.

    7. Dr. Catharina Tri Anni, M.Pd., sebagai dosen penguji dua, yang telah

    memberikan bimbingan dan masukan selama sidang skripsi hingga perbaikan

    skripsi.

    8. Kepala SMP Negeri 1 Nguter Kabupaten Sukoharjo, yang telah memberikan

    izin penelitian.

    9. Guru BK SMP Negeri 1 Nguter, yang telah bersedia membantu selama proses

    penelitian.

    10. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang

    khususnya Dosen Jurusan Bimbingan dan Konseling atas bekal ilmu,

    wawasan, inspirasi, dan motivasi kepada penulis.

    11. Seluruh Staf Karyawan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri

    Semarang, khusunya Staf Jurusan Bimbingan dan Konseling, beserta petugas

  • viii

    perpustakaan Jurusan Bimbingan dan Konseling yang telah membantu

    kelancaran penulisan skripsi.

    12. Keluarga Mahasiswa BK Angkatan 10, teman DPMJ BK, teman-teman kos

    dan sahabat saya, Endah Yuli Astuti, Ulfa Masruroh, Zumika Elvina, Rifki

    Nurazmi, Mb Endah, Anissa Arum Sari, Eka Suci Wulandari, Zakki Nurul

    Amin, Hani Rosyidah dan Maulida Fakhrina A., teman satu dosen

    pembimbing, Anik Mahtun Fajar Rini dan Shinta Nurul Mentari yang telah

    memberikan banyak bantuan, inspirasi dan motivasi kepada penulis.

    13. Serta seluruh pihak yang telah ikut membantu dalam penyusunan skripsi ini

    yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

    Demikian skripsi ini disusun, semoga kita senangtiasa diberi yang terbaik

    oleh Allah SWT dan selalu berada dalam Ridho-Nya. Akhir kata, semoga karya

    ini bermanfaat.

    Semarang, Januari 2015

    Penulis

  • ix

    ABSTRAK

    Tedra, Latih Buran. 2015. Gaya Kelekatan Remaja dan Orang Tua pada Siswa

    SMP Negeri 1 Nguter Kabupaten Sukoharjo. Skripsi. Jurusan Bimbingan dan

    Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Pembimbing

    Prof. Dr. Dwi Yuwono Puji Sugiharto, M.Pd., Kons.

    Kata Kunci: gaya kelekatan, remaja dan orang tua.

    Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data empiris tentang gaya

    kelekatan remaja dan orang tua, yang dilihat menurut jenis kelamin dan

    pendidikan terakhir orang tuanya pada siswa SMP Negeri 1 Nguter Kabupaten

    Sukoharjo. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survai

    deskriptif. Penelitian ini dilakukan kepada 227 orang siswa SMP Negeri 1 Nguter,

    dengan perbandingan untuk kelas VII berjumlah 76 siswa, VIII berjumlah 84

    siswa dan 67 siswa kelas IX. Teknik pengambilan sampel menggunakan

    proportionate stratified random sampling. Metode pengumpulan data

    menggunakan metode skala psikologis dan metode wawancara. Sedangkan teknik

    analisis data menggunakan analisis kuantitatif yang mencakup deskriptif

    prosentase serta analisis kualitatif wawancara sebagai data pendukung. Keabsahan

    data menggunakan trianggulasi teknik.

    Hasil penelitian menunjukkan secara umum gambaran gaya kelekatan

    remaja dan orang tua terlihat banyak siswa yang memiliki kelekatan aman dengan

    persentase 67%, gaya kelekatan menolak 2% dan 31% kelekatan terpreokupasi.

    Gaya kelekatan takut menghindar tidak muncul pada populasi SMP Negeri 1

    Nguter Kebupaten Sukoharjo. Menurut jenis kelamin siswa siswa laki-laki lebih

    banyak terlihat pada kelekatan aman dan kelekatan menolak, sedangkan

    perempuan lebih banyak terlihat pada kelekatan terpreukupasi. Menurut latar

    belakang pendidikan orang tua, ayah dengan tingkat pendidikan terakhir sarjana

    lebih menonjol pada kelekatan aman, sedangkan SMA pada kelekatan menolak

    dan SD/tidak sekolah pada kelekatan terpreokupasi. Tingkat pendidikan terakhir

    ibu terlihat SMP/tidak sekolah dengan persentase tertinggi pada kelekatan aman,

    kelekatan menolak dengan tingkat pendidikan SMA tertinggi dan tingkat

    pendidikan terakhir sarjana dengan persentase tertinggi.

    Simpulan dari penelitian ini bahwa secara umum gaya kelekatan remaja

    dan orang tua pada gaya kelekatan aman. Sebagian besar dari siswa perempuan

    pada gaya kelekatan terpreokupasi dan tetap mengupayakan pendidikan dalam

    keluarga dengan tidak mengesampingkan pendidikan formal. Sebagai implikasi

    penerapan layanan bimbingan dan konseling sebagai upaya pencegahan dan

    pemecahan masalah, guru bimbingan dan konseling dapat melakuan kolaborasi

    dengan orang tua dengan berdiskusi dan konsultasi. Layanan bimbingan dan

    konseling dengan tema diskusi dan perhatian seperti layanan konseling individual,

    bimbingan dan konseling kelompok dan format klasikal dapat diberikan untuk

    membantu siswa mencapai gaya kelekatan aman.

  • x

    DAFTAR ISI

    Halaman

    KATA PENGANTAR...................................................................................... vi

    ABSTRAK ..................................................................................................... ix

    DAFTAR ISI ................................................................................................. x

    DAFTAR TABEL ......................................................................................... xiii

    DAFTAR DIAGRAM .................................................................................... xiv

    DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xv

    BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................... 1

    1.1 Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1

    1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 5

    1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................................... 6

    1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................... 6

    BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. 8

    2.1 Penelitian Terdahulu .......................................................................... 8

    2.2 Kelekatan ...................................................................................... 10

    2.2.1 Pengertian Kelekatan .............................................................. 10

    2.2.2 Gaya Kelekatan .......................................................................... 12

    2.3 Remaja dan Orang Tua .......................................................................... 15

    2.3.1 Remaja ..................................................................................... 15

    2.3.2 Remaja dan Orang Tua ............................................................. 17

    2.4 Gaya Kelekatan Remaja dan Orang Tua ................................................. 19

    2.5 Kelekatan Remaja dan Orang Tua Ditinjau dari Perbedaan Jenis

    Kelamin ................................................................................................... 25

    2.6 Kelekatan Remaja dan Orang Tua Ditinjau dari Latar Belakang

    Pendidikan Orang Tua ......................................................................... 26

    2.7 Perlunya Konselor Mengetahui Gaya Kelekatan Siswa dan Orang

    Tua ........................................................................................................ 28

    BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN .................................................. 29

  • xi

    3.1 Jenis Penelitian ...................................................................................... 29

    3.2 Variebel Penelitian ................................................................................. 30

    3.2.1 Identifikasi Variabel ..................................................................... 31

    3.2.2 Defenisi Operasional Variabel ...................................................... 31

    3.3 Populasi dan Sampel Penelitian .............................................................. 32

    3.3.1 Populasi ...................................................................................... 32

    3.3.2 Sampel ...................................................................................... 32

    3.4 Metode dan Alat Pengumpul Data ......................................................... 34

    3.4.1 Metode Pengumpulan Data .......................................................... 34

    3.4.2 Alat Pengumpulan Data .............................................................. 37

    3.5 Validitas dan Reliabilitas .......................................................................... 39

    3.5.1 Validitas ...................................................................................... 41

    3.5.2 Reliabilitas ...................................................................................... 42

    3.6 Hasil Uji Coba Instrumen ...................................................................... 44

    3.6.1 Uji Validitas Skala Gaya Kelekatan Remaja dan Orang Tua......... 44

    3.6.2 Uji Reliabilitas................................................................................. 44

    3.7 Teknik Analisis Data .......................................................................... 45

    3.7.1 Analisis Data Kuantitatif .............................................................. 45

    3.7.2 Analisis Data Kualitatif .............................................................. 47

    BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .......................... 49

    4.1 Hasil Penelitian ...................................................................................... 49

    4.1.1 Hasil Analisis Kuantitatif .............................................................. 50

    4.1.2 Hasil Analisis Kualitatif .............................................................. 74

    4.2 Pembahasan ............................................................................................ 79

    4.2.1 Gaya Kelekatan Remaja dan Orang Tua pada Siswa di SMP Negeri 1 Nguter Kabupaten Sukoharjo.......................................................... 80

    4.2.2 Gambaran Gaya Kelekatan Remaja dan Orang Tua Berdasarkan Jenis Kelamin Siswa Negeri 1 Kabupaten Sukoharjo .......................... 90

    4.2.3 Gambaran Gaya Kelekatan Remaja dan Orang Tua Berdasarkan Tingkat Pendidikan Oranng Tua Siswa SMP Negeri 1 Nguter

    Kabupaten Sukoharjo .................................................................... 93

    4.3 Keterbatasan Penelitian .......................................................................... 95

  • xii

    BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................... 97

    5.1 Kesimpulan ............................................................................................ 97

    5.2 Saran ....................................................................................................... 98

    DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 101

    LAMPIRAN .................................................................................................. 104

  • xiii

    DAFTAR TABEL

    Tabel Halaman

    3.1 Jumlah Populasi Penelitian ................................................................... 32

    3.2 Jumlah Sampel Penelitian ..................................................................... 33

    3.3 Kategori Jawaban Skala Psikologi ........................................................ 36

    3.4 Kisi-kisi Instrumen Skala Gaya Kelekatan Remaja dan Orang Tua ....... 38

    3.5 Kriteria Reliabilitas Instrumen ................................................................ 43

    3.6 Kategori Deskripsi Presentase ................................................................ 47

  • xiv

    DAFTAR DIAGRAM

    Diagram Halaman

    4.1 Gaya Kelekatan Remaja dan Orang Tua pada Siswa SMP Negeri 1

    Nguter Secara Keseluruhan ................................................................... 50

    4.2 Hasil Analisis Gaya Kelekatan Remaja dan Orang Tua per-Indikator

    Secara Keseluruhan ........................................................................... 51

    4.3 Gambaran Indikator Gaya Kelekatan Aman ............................................ 55

    4.4 Gambaran Aspek Gaya Kelekatan Menolak per-Komponen .................. 58

    4.5 Gambaran Komponen Gaya Kelekatan Terpreokupasi ......................... 61

    4.6 Perbandingan Laki-laki dan Perempuan pada Sampel di SMP Negeri 1

    Nguter Kabupaten Sukoharjo ................................................................ 63

    4.7 Perbandingan Siswa Laki-laki dan Perempuan pada Gaya Kelekatan

    Aman ................................................................................................... 64

    4.8 Perbandingan Siswa Laki-laki dan Perempuan pada Gaya Kelekatan

    Menolak .................................................................................................. 65

    4.9 Perbandingan Siswa Laki-laki dan Perempuan pada Gaya Kelekatan

    Terpreokupasi ...................................................................................... 66

    4.10 Gambaran Tingkat Pendidikan Orang Tua Siswa SMP Negeri 1 Nguter

    Kabupaten Sukoharjo .............................................................................. 67

    4.11 Tingkat Pendidikan Orang Tua pada Gaya Kelekatan Aman ................ 70

    4.12 Tingkat Pendidikan Orang Tua pada Gaya Kelekatan Menolak ........... 72

    4.13 Tingkat Pendidikan Orang Tua pada Gaya Kelekatan Terpreokupasi .. 73

  • xv

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran Halaman

    1. Kisi-kisi Try Out Skala Gaya Kelekatan Remaja dan Orang Tua........ 104

    2. Skala Gaya Kelekatan Remaja dan Orang Tua (Try Out).................... 112

    3. Lembar Bimbingan Instrumen Penelitian dengan................................ 117 Ekspert Jungmen

    4. Tabulasi Data Try Out Skala Kelekatan Remaja dan Orang Tua......... 120

    5. Perhitungan Validitas Skala Kelekatan Remaja dan Orang Tua ......... 124

    6. Perhitungan Reliabilitas Skala Kelekatan Remaja dan Orang Tua...... 125

    7. Kisi-kisi Intrumen Penelitian Skala Kelekatan Remaja dan Orang Tua 126

    8. Instrumen Penelitian:.............................................................................. 134 Skala Gaya Kelekatan Remaja dan Orang Tua dan Pedoman Wawancara

    9. Hasil Analisis Deskriptif ....................................................................... 140 Tabulasi Gaya Kelekatan Remaja dan Orang Tua

    10. Analisis Deskriptif per Indikator Komponen Gaya Kelekatan Remaja dan Orang Tua Keseluruhan ................................................................. 152

    11. Hasil Analisis Deskriptif ....................................................................... 153 Tabulasi Gaya Kelekatan Aman Remaja dan Orang Tua

    12. Analisis Deskriptif per Indikator Gaya Kelekatan Aman.................... 163

    13. Hasil Analisis Deskriptif ...................................................................... 164 Tabulasi Gaya Kelekatan Menolak Remaja dan Orang Tua

    14. Analisis Deskriptif per Indikator Gaya Kelekatan Menolak.................. 167

    15. Hasil Analisis Deskriptif ..................................................................... 168 Tabulasi Gaya Kelekatan Terpreokupasi Remaja dan Orang Tua

    16. Analisis Deskriptif per Indikator Gaya Kelekatan Terpreokupasi........ 173

    17. Hasil Wawancara Gaya Kelekatan Remaja dan Orang Tua.................. 174

    18. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian..................................... 201

    19. Foto Dokumentasi ............................................................................... 202

  • 1

    BAB 1

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang Masalah

    Bimbingan dan konseling merupakan jantung hati dari pendidikan di

    indonesia, dengan tujuan untuk perkembangan individu. Sejalan dengan

    pengertian bimbingan dan konseling yang disampaikan oleh Sugiyo (2011:15)

    yaitu serangkaian kegiatan atau aktivitas yang dirancang oleh konselor untuk

    membantu klien mengembangkan dirinya seoptimal mungkin. Bantuan yang

    ditujukan antar jenjang sekolah memiliki perbedaan yang membuat bantuan antar

    jenjang pendidikan memiliki kekhasan tersendiri walaupun pada dasarnya

    bantuan atau helping berarti menyediakan kondisi menyediakan kondisi untuk

    individu agar dapat memenuhi kebutuhan untuk cinta (love) dan respek, harga

    diri, dapat membuat keputusan dan aktualisasi diri (Komalasari, 2011:8). Bantuan

    untuk individu tersebut dilakukan dengan meyesuaikan tugas perkembangan

    perseta didik di sekolah sehingga berbeda antara pendidikan dasar menengah dan

    pendidikan tinggi.

    Pendidikan menengah yang merupakan sekolah lanjutan dari jenjang

    pendidikan dasar memiliki kemiripan dengan pendidikan dasar namun peran dari

    konselor disesuaikan dengan ciri sekolah menengah sebagai berikut: berkaitan

    dengan orientasi terhadap kebutuhan teransisi usia perkembangan anak, serta

    kebutuhan pendidikan, perkembangan dan sosial populasi anak itu sendiri

  • 2

    (Gibson, 2011:92). Peran konselor dalam usia transisi antara anak dengan dewasa

    ini menjadi fokus untuk konselor sekolah menengah. Usia transisi antara sekolah

    dasar menuju sekolah menengah atas berarti perubahan antara usia anak-anak

    menuju usia dewasa. Menurut Konopka dalam Yusuf (2011:184) masa remaja

    meliputi, remaja awal : 12-15 tahun; remaja madya: 15-18 tahun; dan remaja

    akhir: 19-22 tahun. Siswa sekolah mengah berkisar antara usia 12 tahun hingga

    15 tahun merupakan usia remaja awal. Willis (2010:43) mengungkapkan bahwa

    masa remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak-anak ke

    masa dewasa. Remaja bukan anak-anak lagi akan tetapi belum mampu memegang

    tugas sebagai orang dewasa. Masa anak-anak adalah masa kebergantungan

    (dependency), sedangkan masa dewasa adalah masa ketidak bergantunngan

    (independency). Tingkah laku remaja labil dan tidak mampu menyesuaikan diri

    secara baik dengan lingkungannya. Pada masa peralihan antara masa

    kebergantung dan ketidak bergantunngan remaja termasuk dengan orang tua akan

    menimbulkan berbagai gaya relasi yang berbeda dari sebelumnya antara orang tua

    dan remaja. Menurut Santrock (2002:7) remaja mengalami beribu-ribu jam

    interaksi dengan orang tua, teman sebaya, dan guru-guru dalam 10 hingga 13

    tahun akhir dari perkembangan. Namun relasi orang tua dan remaja memiliki

    bentuk yang berbeda, hubungan dengan teman-teman sebaya semakin intim

    (Santrock, 2002:7).

    Perbedaan interaksi antara orang tua dan remaja mulai memiliki perbadaan

    dan itu membuat hubungan psikologis ataupun fisik yang berbeda pula antara

    remaja dan orang tua. Perbedaan ini membuat pola yang unik antara remaja dan

  • 3

    orang tua. Diketahui bahwa hubungan psikologis antara satu individu dengn

    individu lain merupakan kelekatan. Secara utuh pengertian kelekatan menurut

    Santrok (2002: 196) Attachment mengacu pada suatu relasi antara dua orang

    yang memiliki perasaan yang kuat satu sama lain dan melakukan banyak hal

    bersama untuk melanjutkan relasi itu. Kelekatan ini memiliki berbagai berbedaan

    karekteristik antar gaya satu dengan gaya yang lain. Gaya kelekatan ini timbul

    karena karekteristik yang berbeda antara individu, diketahui jenis gaya kelekatan

    ada empat jenis yaitu gaya kelekatan aman, gaya kelekatan menolak, gaya

    kelekatan terpeokupasi dan gaya kelekatan takut menghindar.

    Teori kelekatan yang dikembangkan oleh Bartholomew dan rekan-rekan

    mengajukan suatu pendekatan yang berbeda. Penekanan Bowlby pada dua sikap

    dasar (mengenai self dan orang lain), diasumsikan bahwa berbagai aspek dari

    perilaku interpersonal dipengaruhi sejauh mana self-evaluation seseorang adalah

    positif atau negatif dan sejauh mana orang lain dipersepsikan positif (terpercaya)

    atau negatif (tidak dapat dipercaya) (Baron, 2005:12). Kombinasi antara self

    esteem dan interpersonal trust ini tergambar dalam empat gaya kelekatan,

    kombinasi antara self esteem yang tinggi dan interpersonal trust yang tinggi

    adalah gaya kelekatan aman, kombinasi antar self esteem yang tinggi dan

    interpersonal rendah yaitu kelekatan menolak, kombinasi antara self esteem yang

    rendah dan interpersonal trust yang tingi yaitu gaya kelekatan. Model kelekatan

    Bartholomew adalah suatu gaya yang memiliki karakteristik self esteem yang

    tinggi dan kepercayaan interpersonal yang tinggi; biasanya digambarkan sebagai

    kelekatan yang paling berhasil. Santrock (2003:194) memaparkan bahwa

  • 4

    keterikatan pada orang tua pada masa remaja bisa memfasilitasi kecakapan dan

    kesejahteraan sosial, seperti yang dicerminkan beberapa ciri seperti harga diri,

    penyesuaian emosi dan kesejahteraan fisik. Baik kiranya jika kelekatan antara

    anak dan orang tua memiliki kelekatan yang aman.

    Penelitian Prastiwi Yunita Dewi (2009) tentang Hubungan Antara

    Kelekatan Terhadap Orang tua dengan Identitas Diri Pada Remaja Pria

    Delinquent di Lembaga Permasyarakatan Anak Kutoharjo menunjukkan semakin

    positif kelekatan terhadap orang tua, maka semakin tinggi tingkat pencapaian

    identitas dirinya. Sebaliknya, semakin negatif kelekatan terhadap orang tua, maka

    tingkat pencapaian identitas dirinya semakin rendah.

    Namun pada kenyataannya masih ada orang tua yang mengabaikan hal

    tersebut, seperti yang di tuturkan oleh Adhim (2010:45) bahwa:

    ... Sebagiaan orang tua melupakan kualitas dalam pertemuan antara

    orang tua dan anak. Segagai contoh nyata dalam kehidupan

    berkeluarga. Orang tua mempunyai waktu yang banyak di rumah,

    tetapi anak-anak tak mersakan kehadirannya. Mereka (orang tua dan

    anak) benyak melakuakan kegiatan bersama-sama, tetapi tanpa

    kebersamaan. Mereka bersama-sama melihat TV, di tempat yang

    sama, tetapi pikirannya sibuk sendiri-sendiri. Mereka saling

    berdekatan, tetapi tidak menjalin kedekatan

    Pada usia remaja awal pada siswa SMP Negeri 1 Nguter ditemukan berbagai

    interaksi antara orang tua dan siswa. Wawancara yang dilakukan oleh peneliti

    kepada guru bimbingan dan konseling SMP Negeri 1 Nguter ditemukan, siswa

    yang mengalami kekerasan fisik oleh orang tuanya di depan guru bimbingan

    konseling saat melakukan home visit. Masalah yang berbada adalah ada orang tua

  • 5

    yang terlihat begitu dekat dengan anaknya namun anak tersebut tidak menghargai

    kerja keras orang tuanya. Terlihat tidak sedikit orang tua siswa yang merantau,

    sehingga komunikasi antara orang tua dan guru bimbingan konseling sangat

    diperlukan untuk membantu perkembangan siswa didik.

    Berdasarkan fenomena tersebut maka peneliti ingin melakukan penelitian

    dengan judul Gaya Kelekatan Remaja dan Orang Tua hasil dari penelitian ini

    diharapkan dapat dijadikan bahan pengayaan teori dan menambah wawasan dalam

    bidang ilmu bimbingan dan konseling, khususnya terkait gaya kelekatan remaja

    dan orang tua. Selanjutnya dengan gambaran gaya kelekatan remaja dan orang tua

    tindak lanjut pengembangan diri secara optimal pada siswa SMP Negeri 1 Nguter.

    1.2 Rumusan Masalah

    Dari latar belakang masalah seperti di atas, maka dapat dirumuskan

    permasalahan sebagai berikut:

    1. Bagaimana gaya kelekatan remaja dan orang tua di SMP Negeri 1 Nguter

    Kabupaten Sukoharjo?

    2. Bagaimana gambaran gaya kelekatan remaja dan orang tua berdasarkan jenis

    kelamin siswa SMP Negeri 1 Nguter Kabupaten Sukoharjo?

    3. Bagaimana gambaran gaya kelekatan remaja dan orang tua berdasarkan

    tingkat pendidikan orang tua siswa SMP Negeri 1 Nguter Kabupaten

    Sukoharjo?

  • 6

    1.3 Tujuan Penelitian

    Sesuai dengan rumusan masalah yang telah diajukan maka tujuan yang

    hendak dicapai dalam penelian ini ialah mendeskripsikan dan menganalisis gaya

    kelekatan remaja dan orang tua pada siswa di SMP Negeri 1 Nguter.

    1. Mendeskripsikan dan menganalisis gaya kelekatan remaja dan orang tua di

    SMP Negeri 1 Nguter Kabupaten Sukoharjo.

    2. Mendeskripsikan dan menganalisis gambaran gaya kelekatan remaja dan

    orang tua berdasarkan jenis kelamin siswa SMP Negeri 1 Nguter Kabupaten

    Sukoharjo.

    3. Mendeskripsikan dan menganalisis gambaran gaya kelekatan remaja dan

    orang tua berdasarkan tingkat pendidikan orang tua siswa SMP Negeri 1

    Nguter Kabupaten Sukoharjo.

    1.4 Manfaat Penelitian

    1.4.1 Teoritis

    Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan pengayaan teori dalam

    bidang bimbingan dan konseling dan dapat memberikan wawasan kepada

    mahasiswa maupun civitas akademika dan praktisi lapangan bimbingan dan

    konseling di sekolah khususnya terkait dengan gaya kelekatan remaja dan orang

    tua, serta implikasinya bagi pelayanan bimbingan dan konseling berdasarkan latar

    belakang gaya kelekatan remaja dan orang tua.

  • 7

    1.4.2 Praktis

    1. Bagi civitas akademika ataupun orang yang berminat mambaca harapannya

    dapat menambah data empiris mengenai gaya kelekatan remaja dan orang tua

    dan menambah referensi tentang implikasinya bagi pelaksanaan layanan

    bimbingan konseling di sekolah .

    2. Bagi konselor, harapannya dapat memberikan implikasi dalam penerapan

    layanan bimbingan konseling kepada siswa berdasarkan gaya kelekatan

    remaja dan orang tua. Hal ini sangat penting dalam upaya meningkatkan

    kualitas pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah.

    3. Sedangkan bagi peneliti selanjutnya, harapannya dapat mengembangkan

    penelitian yang lebih mendalam tentang gaya kelekatan remaja, baik dalam

    subjek penelitian, pendalaman tentang faktor penyebab dan dampaknya untuk

    perkembangan pada masa remaja, maupun metode penelitian dengan menguji

    program bimbingan dan konseling yang dihasilkan untuk meningkatkan gaya

    kelekatan remaja.

  • 8

    BAB 2

    KAJIAN PUSTAKA

    Suatu penelitian ilmiah membutuhkann adanya landasan teoris yang kuat.

    Hal ini bertujuan agar hasil yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan dengan

    baik, khususnya dalam menjawab permasalahan yang diajukan. Teori-teori yang

    digunakan sebagai landasan akan dapat menunjukkan alur berpikir dari proses

    penelitian yang dilakukan. Terkait dengan hal itu, pada bab dua ini secara

    berturut-turut akan diuraikan mengenai tinjauan pustaka yang melandasi

    penelitian, yang mencakup: penelitian terdahulu, gaya kelekatan remaja dan orang

    tua, gaya kelekatan remaja dan orang tua, dan perlunya konselor mengetahui gaya

    kelekatan siswa dan orang tua.

    2.1 Penelitian Terdahulu

    Penelitian terdahulu digunakan sebagai rujukan dalam melakukan penelitian

    mengenai gaya kelekatan remaja dan orang tua di SMP Negeri 1 Nguter

    Kabupaten Sukoharjo. Berikut dikutip beberapa hasil penelitian yang terkait

    dengan gaya kelekatan antara orang tua dan anak.

    2.1.1 Prastiwi Yunita Dewi (2009) tentang Hubungan Antara Kelekatan

    Terhadap Orang tua dengan Identitas Diri Pada Remaja Pria

    Delinquent di Lembaga Permasyarakatan Anak Kutoharjo.

    Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara Kelekatan pada

    Orang tua dengan Identitas Diri pada Remaja di Lembaga Pemasyarakatan Anak

  • 9

    Kutoarjo. Semakin positif kelekatan terhadap orang tua, maka semakin tinggi

    tingkat pencapaian identitas dirinya. Sebaliknya, semakin negatif kelekatan

    terhadap orang tua, maka tingkat pencapaian identitas dirinya semakin rendah.

    Sumbangan efektif variabel kelekatan pada orang tua dengan variabel identitas

    diri yaitu sebesar 0,273, yang memiliki arti bahwa variabel kelekatan pada orang

    tua menyumbang sebesar 27,3% terhadap variabel identitas diri. Sisanya sebesar

    72,7% dipengaruhi oleh faktor-faktor yang tidak diungkap dalam penelitian ini,

    misalnya kelekatan pada peer group.

    2.1.2 Emel Arslan dan Ramazan Ar (2010) tentang Analisis Proses Identitas

    Ego pada Remaja Berdasarkan Gaya Kelekatan dan Jenis Kelamin

    (Analysis Of Ego Identity Process Of Adolescents In Terms Of

    Attachment styles and gender)

    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan apakah proses

    identitas ego remaja secara signifikan bervariasi sesuai dengangaya kelekatan dan

    jenis kelamin. Variabel bebas dari penelitian ini adalah gaya gender dan

    kelekatan. Populasi penelitian terdiri dari 1.525 remaja (848 677 laki-laki

    perempuan dan). Dalam studi, komitmen dan eksplorasi nilai dari rata-rata remaja

    bervariasi secara signifikan sesuai dengan gaya kelekatan. Ketika skor komitmen

    dianggap dalam hal gaya kelekatan; ditemukan bahwa ada perbedaan yang

    signifikan menurut jenis kelamin dan bahwa perempuan memiliki lebih tinggi

    skor komitmen dibandingkan dengan anak laki-laki. Nilai rata-rata eksplorasi

    tidak ditemukan bervariasi secara signifikan.

  • 10

    2.1.3 Astrid Wiwik Listiyana (2009) tentang Gambaran Kelekatan

    (attachment) Remaja Akhir Putri dengan Ibu (Studi Kasus).

    Subjek penelitian ini adalah satu orang remaja putri pada usia remaja putri

    akhir yang berusia 22 tahun dengan pendekatan studi kasus. Berdasarkan hasil

    penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa secara umum kelekatan

    (attachment) pada subjek dengan ibu cenderung cukup baik. Faktor-faktor yang

    mempengaruhi kelekatan antara subjek dengan ibu adalah bahwa subjek memiliki

    kepuasan terhadap ibunya dalam kasih sayang, perhatian yang ditunjukkan ibu

    kepada subjek. Adanya reaksi atau merespon setiap tingkah laku yang

    menunjukkan perhatian disaat subjek sedang membutuhkann dekapan hangat dari

    ibu, membutuhkann perhatian yang lebih dari ibu, maka ibu merespon positif

    setiap tingkah laku yang ditunjukkan subjek kepada ibunya. Seringnya bertemu

    dengan subjek, maka subjek akan memberikan kelekatannya.

    2.2 Kelekatan

    2.2.1 Pengertian Kelekatan

    Secara etimologinya kelekatan berasal dari bahasa inggris yaitu attachment.

    Menurut Santrok (2002: 196) Attachment mengacu pada suatu relasi antara dua

    orang yang memiliki perasaan yang kuat satu sama lain dan melakukan banyak

    hal bersama untuk melanjutkan relasi itu. Dalam Desmita (2009: 120)

    menuliskan beberapa definisi attachement dari beberapa ahli diantaranya menurut

    Kuper dan Kuper attachment mengacu pada ikatan antara dua orang atau lebih;

    sifatnya adalah hubungan psikologis yang didiskriminatif dan spesifik, serta

    mengikat seseorang dengan orang lain dalam rentang waktu dan ruang tertentu.

  • 11

    Menurut Feldman mendefinisikan attachment is the positif emotional bond that

    develops between a child and particular individual.

    Kelekatan pada orang lain dapat dipandang sebagai kebutuhan untuk

    berdekatan dan mencari kontak dengan orang lain (Haditono, 2000;52). Dari

    beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kelekatan adalah hubungan

    psikologis berupa ikatan emosional positif antara individu dengan individu

    tertentu untuk melajutkan relasi dalam waktu dan ruang tertentu. Teori kelekatan

    ini merupakan teori dari Bowlby yang meneliti tentang relasi antara ibu dan anak

    pada usia kanak-kanak. Seperti yang diungkapakan oleh Feist (2009;180) Teori

    kedekatan (attachment theory) Bowlby juga berangkat dari pemikiran

    psikoanalisis dengan masa kanak-kanak sebagai titik awalnya lalu meramalkan

    kemungkinan masa dewasanya.

    Bowlby banyak memberikan terori bahwa kelekatan terjadi di masa kanak-

    kanak namun dewasa ini terori kelekatan mulai dikembangkan untuk sepanjang

    hayat. Menurut Davila, Burge dan Hammen pada Baron (2005;16) ada bukti

    bahwa orang-orang berbeda mengenai sejauh mana gaya kelekatan mereka tetap

    konstan atau berubah-ubah sepanjang waktu. Karena hubungan antara individu

    satu dengan individu lain tidak dapat diramalkan intensitasnya sehingga tidak

    dapat meramalkan hubungan saat bayi sehingga hubungan tersebut akan

    berlangsung hingga dewasa. Termasuk pada masa remaja terdapat gaya kelekatan

    antara remaja dan orang tua.

  • 12

    2.2.2 Gaya Kelekatan

    Teori kelekatan Bowlby yang berasal dari pengamatan Bowlby antara bayi

    dan pengasuh (biasanya ibu) memberikan kesimpulan tentang gaya kelekatan.

    Gaya kelekatan (attachement style) merupakan suatu hubungan antara dua orang

    bukan sebuah karakter yang diberikan pada bayi oleh pengasuhnya. Hubungan ini

    merupakan hubungan dua arah baik bayi maupun pengasuhnya harus responsif

    terhadap satu sama lain dan mempengaruhi perilaku satu sama lainya (Feist,

    2009; 181). Pertama Bowlby membuat tiga tahap kecemasan dalam perpisahan

    antara bayi dan pengasuhnya yaitu tahap pertama protes, tahap kedua tahap putus

    asa yang ketiga yaitu tahap melepaskan.

    Teori tersebut dikembangkan oleh Maria Ainsworth dan rekan-rekannya

    yang masih dipengaruhi Bowlby menemukan tiga skala gaya kedekatan. Dalam

    Feist (2009:181) menjelaskan tiga skala gaya kelekatan yaitu rasa aman, cemas-

    menolak dan cemas menghindar sebagai berikut:

    a. Pada kedekatan rasa aman (secure attachment), bayi merasa gembira dan antusias ketika ibu mereka kembali dan mau

    memulai kontak. Contohnya, mereka akan mendatangi ibu

    mereka dan igin dipegang oleh ibunya. Bayi yang

    mengembangkan kedekatan dengan rasa aman mereka yakin

    bahwa pengasuhnya mudah didatangi dan bertanggung jawab

    atas dirinya.

    b. Pada kedekatan cemas-menolak (anxious-resistant), bayi bersifat ambivalen. Ketika ibu mereka meninggalkan ruangaan,

    mereka menjadi kesal dengan cara yang tidak biasa. Namun,

    ketika ibu mereka kembali, mereka berupaya membina kontak

    sekaligus juga menolak kedekatan dengan ibunya. Pada

    kedekatan cemas-menolak, bayi-bayi memberi pesan yang

    sangat bertolak-belakang. Di satu sisi mereka mencari kontak

    dengan ibu mereka namun di sisi lain mereka menggeliat untuk

    diturunkan dan bisa melemparkan mainan yang disodorkan

    ibunya.

  • 13

    c. Gaya kelekatan ketiga yaitu cemas menghindar (anxious-avoidant). Pada gaya kelekatan ini, bayi tetap merasa tenang

    ketika sang ibu meninggalkan mereka juga menerima kehadiran

    orang asing. Ketika ibu mereka kembali, mereka cenderung

    mengabaikan dan menghindarinya. Bayi yang tergolong dalam

    kedua jenis gaya kelekatan yang diikuti perasaan tidak aman

    (cemas menghindar dan cemas menolak) cenderung kurang

    memiliki kemempuan untuk terlibat dalam permainan eksplorasi

    efektif.

    Gaya kelekatan di atas didasarkan pada hubungan bayi dan anak. Namun

    Bartholomew dan rekan-rekan mengajukan suatu pendekatan yang berbeda.

    Adanya penekanan Bowlby pada dua sikap dasar (mengenai self dan orang lain),

    diasumsikan bahwa berbagai aspek dari perilaku interpersonal dipengaruhi sejauh

    mana self-evaluation seseorang adalah positif atau negatif dan sejauh mana orang

    lain dipersepsikan positif (terpercaya) atau negatif (tidak dapat dipercaya) (Baron,

    2005:12). Konseptualisasi Bertholomew lebih maju selangkah dan mengusulkan

    bahwa kedua dimensi tersebut (self esstem dan interpersonal trust) harus

    dipertimbangkan secara bersamaan. Seperti gambar di bawah ini:

    Gambar 1. Model Kerja Tentang Orang Lain (Baron. Robert A. dan Baron Byrne

    2005. Psikolagi Sosial Jilid 2. Jakarta:Erlangga)

    Gaya kelekatan

    aman

    Gaya kelekatan

    terpreokupasi

    Gaya kelekatan

    takut-menghindar

    Gaya kelekatan

    menolak

    Harga diri

    Kepercayaan

    Interpersonal

    positif

    positif

    negatif

  • 14

    Kombinasi tersebut dapat dijelaskan mengenai gaya kelekatan. Ada empat

    gaya kelekatan yaitu gaya kelekatan aman, gaya kelekatan yang terpreokupasi,

    gaya kelekatan yang menolak dan gaya kelekatan yang takut menghindar. Baron

    (2005:13) menggambarkan karakteristik keempat gaya tersebut sebagai berikut:

    a) Gaya kelekatan aman. Model Bartholomew adalah suatu gaya yang memiliki karakteristik self esteem yang tinggi dan

    kepercayaan interpersonal yang tinggi; biasanya digambarkan

    sebagai kelekatan yang paling berhasil.

    b) Gaya kelekatan takut mengindar. Model Bertholomew, adalah suatu gaya yang memiliki karakteristik self esteem yang rendah

    dan kepercayaan interpersonal yang rendah. Gaya ini adalah

    gaya keekatan yang paling tidak aman dan paling tidak adaptif.

    c) Gaya kelekatan terpreokupasi. Model Bartholomew, adalah suatu gaya yang memiliki karakteristik self esteem yang rendah

    dan kepercayaan interpersonal yang tinggi. Biasanya

    dijelaskan sebagai gaya yang mengandung pertentangan dan

    tidak aman di mana individu benar-benar mengaharap sebuah

    hubungan dekat tapi merasa tidak layak untuk pasangan dan

    juga rentan akan penolakan.

    d) Gaya kelekatan menolak. Model Bartholomew, adalah suatu gaya yang memiliki karakteristik self esteem yang tinggi dan

    kepercayaan interpersonal yang rendah. Gaya ini biasanya

    digambarkan sebagai gaya yang berisi konflik dan agak tidak

    aman di mana individu merasa dia layak memperoleh

    hubungan akrab namun tidak mempercayai calon pasangan

    yang potensial. Akibatnya adalah kecenderungan untuk

    menolak dengan orang lain pada suatu titik di dalam hubungan

    guna menghindari supaya tidak menjadi seseorang yang

    ditolak.

    Gaya kelekatan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa gaya kelekatan

    aman adalah gaya kelekatan yang paling baik dari ketiga atau keempat gaya

    tersebut gaya kelekatan yang lain. Gaya kelekatan yang aman yang tercipta dari

    semasa bayi dapat membentuk pribadi remaja yang memiliki pribadi secara

    psikologis yang baik.

  • 15

    2.3 Remaja dan Orang Tua

    2.2.1 Remaja

    Negera-negara barat mengistilahkan remaja dengan adolescere yang berasal

    dari bahasa Latin adolesce (kata bendanya adolescentia = remaja), yang berarti

    tumbuh menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa (Desmita,

    2009:189). Menurut Hurlock dalam Ali dan Muhmmad Asrori (2005:9) masa

    remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita

    dan 13 tahun samapi dengan 22 tahun bagi pria. Rentan usia remaja ini dapat

    dibagi menjadi dua bahagia, yaitu usia 12/13 tahun samapai dengan 17/18 tahun

    adalah remaja awal, dan usia 17/18 tahun sampai dengan 21/22 tahun adalah

    remaja akhir.

    Menurut Konopka dalam Yusuf (2011:184) masa remaja meliputi (a)

    remaja awal : 12-15 tahun; (b) remaja madya: 15-18 tahun; (c) remaja akhir: 19-

    22 tahun. Menurut Salzman dalam Syamsu (2011:184) mengemukkan bahwa

    remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap

    orang tua ke arah kemandirian (indipenden), minat seksual, perenungan diri, dn

    perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral.

    Dalam Ali dan Mohammad Asrori (2005:9) Piaget menyatakan bahwa

    secara psikologis, remaja adalah suatu usia di mana individu menjadi terintegrasi

    ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia di mana individu menjadi terintegrasi ke

    dalam masyarakat dewasa, suatu usia di mana anak itu merasa sama, atau paling

    tidak sejajar. Memasuki masyarakat dewasa ini mengandung banyak aspek afektif

    lebih atau kurang dari usia puberitas. Puberitas menurut Desmita (2009:192)

  • 16

    ialah suatu periode dimana kematangan kerangka dan seksual terjadi dengan

    pusat terutama pada awal masa remaja. Dalam Mappiare (1982:27) bahwa Kata

    puberitas berasal dari kata Latin, yang berarti usia menjadi orang; suatu periode

    dalam mana anak dipersiapkan untuk mampu menjadi individu yang dapat

    melaksanakan tugas biologis berupa melanjutkan keturunnnya atau berkembang

    biak. Dari beberapa aspek di atas dapat diambil kesimpulan bahwa remaja

    merupakan tahap yang dimalai dari masa puber, dimana dari anak-anak menuju

    kedewasaan terjadi pada rentang umur 12 tahun hingga 22 tahun, yang

    didalamnya terdapat perkembangan sikap tergantung menjadi kemandirian, minat

    seksual, perenungan diri, dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu

    moral menuju individu yang terintegrasi kedalam masyarakat dewasa.

    Saat remaja merupakan saat peralihan antara anak-anak kemasa dewasa.

    Sangatlah beragam gejolak yang ditimbulkan di masa tersebut. Kenakalan remaja

    salah satu fenomena yang sering dijumpai. Menurut Sudarsono (2004:14)

    kenakalan remaja atau yang di sebut dengan Juvenile Deliquency apabila

    seseorang berada dalam fase-fase usia remaja kemudian melakukan pelanggaran

    terhadap norma-norma hukum, sosial, susila dan agama. Anwar (2010:386)

    menyebutkan berbagai problema remaja yaitu:

    a. Problema penyesuaian diri

    b. Problema beragama

    c. Problem perkewinan dan hidup berumah tangga

    d. Problem ingin berperan dalam masyarakat

    e. Problem pendidikan dan problem mengisi waktu luang

  • 17

    2.2.2 Remaja dan Orang tua

    Keluarga merupakan suatu kelompok yang terbentuk dari suatu hubungan

    seks yang tetap, untuk menyelenggarakan hal-hal yang berkenaan dengan keorang

    tuaan dan pemeliharaan anak (Latiana, 2010:2). Menurut Pujosuwarno (1994:11)

    keluarga adalah suatu ikatan persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara

    orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seseorang laki-laki

    atau seorang perempuan sendirian dengan atau tanpa anak, baik anaknya sendiri

    atau adopsi, dan tinggal dalam sebuah rumah tangga. Sehingga keluarga

    merupakan hal yang tidak asing untuk semua orang, kerana hakikat manusia

    adalah untuk berkeluarga. Keluarga umumnya terjadi interaksi antara anak dan

    orang tua. Anak dan orang tua merupakan unsur utama dalam keluarga secara

    umum. Definisi keluarga di atas terdapat aspek keluarga yang berkenaan antara

    orang tua dan anak.

    Keluarga bukan hanya sebatas hubungan atau hasil dari perkawinan antara

    laki-laki dan perempuan namun lebih dari itu. Jika keluarga tersebut mempunya

    buah hati orang tua mempunyai peranan yang lebih. Keluarga dituntut menjadi

    lingkungan yang baik bagi anak. Menurut Sunaryo dan Agung (2002:193)

    keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama bagi anak-

    anak dan remaja. Pendidikan lebih menekankan pada aspek moral atau

    pembentukan kepribadian daripada pendidikan untuk menguasai ilmu

    pendidikan. Jika pendidikan keluarga itu tidak berjalan dengan baik maka bisa

    menjadi salah satu faktor kenakalan remaja. Faktor keluarga yang mempengaruhi

  • 18

    kenakalan remaja antara lain, anak yang kurang mendapat kasih sayang dan

    perhatian orang tua, lemahnya keadaan ekonomi orang tua, kehidupan keluarga

    yang tidak harmonis menurut Willis (2010:99).

    Beberapa faktor di atas dapat disimpulkan bahwa anak sangat

    membutuhkann kasih sayang orang tua baik materiil dan non materiil. Hubungan

    antara anak dan orang tua yang berkualitas tentunya ditandai dengan timbulnya

    kedekatan emosi yang aman (secure attachment). Menurut Santrock (2002:196)

    mengartikan Attachment atau keterikatan mengacu kepada suatu relasi antara dua

    orang yang memiliki perasaan yang kuat satu sama lain dan malakukan banyak

    hal bersama untuk melanjutkan relasi itu. Menurut Santrock (2002:41)

    Attachment dengan orang tua pada masa remaja dapat membantu kompetensi

    sosial dan kesejahteraan sosial remaja, sebagaimana tercermin dalam ciri-ciri:

    harga diri, penyesuaian emosional, dan kesejahteraan secara fisik. Attachment

    dengan orang tua dapat menjadi fungsi adaktif yang menyediakan landasan yang

    kokoh di mana remaja dapat menjelajahi dan menguasai lingkungan-lingkungan

    baru dan suatu dunia sosial yang luas dalam suatu cara yang secara psikologis

    sehat.

    Menurut Salzman dalam Syamsu (2011:184) mengemukkan bahwa Remaja

    merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap orang

    tua ke arah kemandirian (indipenden), minat seksual, perenungan diri, dan

    perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral. Dari pengertian di atas

    menggambarkan hubungan orang tua dan anak pada masa remaja ini terdapat

    proses menjadi pribadi yang mandiri dari yang dahulunya pada tingkat anak-anak

  • 19

    masih memiliki tingkat ketergantuann yang tinggi pada orang tua. Sehinga

    hubungan yang baik antara remaja dan orang tua dapat membentengi remaja

    untuk dalam dunia sosial yang diharapkan dan mempunyai psikologis yang sehat

    dengan demikian anak dapat berkembang secara optimal.

    2.4 Gaya Kelekatan Remaja dan Orang Tua

    Menurut Santrok (2002:41) Attachment dengan orang tua pada masa

    remaja dapat membantu kompetensi sosial dan kesejahteraan sosial remaja,

    sebagaimana tercermin dalam ciri-ciri: harga diri, penyesuaian emosional, dan

    kesejahteraan secara fisik. Attachment dengan orang tua dapat menjadi fungsi

    adaktif yang menyediakan landasan yang kokoh di mana remaja dapat menjelajahi

    dan menguasai lingkungan-lingkungan baru dan suatu dunia sosial yang luas

    dalam suatu cara yang secara psikologis sehat. Bowlby pada Baron (2005:11)

    menuturkan saat berlangsungnya interaksi tersebut (kelekatan ibu dan bayi), anak

    akan membentuk kognisi yang berpusat pada dua sikap yang sangat penting

    (istilah Bowlby terhadap sikap-sikap ini adalah model kerja atau working model).

    Salah satu sikap dasar, evaluasi terhadap diri sendiri, disebut self esteem Dengan

    working model tersebut dapat diketahui beberapa gaya kelekatan. Dan yang kedua

    adalah aspek social self yang terdiri dari belief dan harapan mengenai orang lain

    atau yang disebut dengan kepercayaan interpersonal (interpersonal trust).

    Indikator kelekatan ini mengunakan self esteem (harga diri) dan

    interpersonal trust (kepercayaan interpersonal). Self esteem menurut Baron

    (2004:173) adalah evaluasi diri yang dibuat oleh setiap individu; sikap seseorang

    terhadap dirinya sendiri dalam rentang dimensi positif-negatif. Sejalan dengan

  • 20

    Teori Holisme dan Humanisme dari Abraham Maslow salah satu kebutuhan dasar

    yaitu kebutuhan akan harga diri. Harga diri dibagi menjadi dua jenis (Alwisol,

    2012:206) yaitu

    ...(1) Menghargai diri sendiri (self respect): kebutuhan kekuatan,

    penguasaan kompetensi, prestasi, kepercayaan diri, kemandirian, dan

    kebebasan. Orang membutuhkann pengetahuan tentang dirinya

    sendiri, bahwa dirinya berharga, mampu mengusai tugas dan

    tantangan hidup. (2) Mendapat penghargaan dari orang lain (respect

    from other): kebutuhan prestise, penghargaan dari orang lain, status,

    ketenaran, dominasi, menjadi orang penting, kehormatan, diterima dan

    apresiasi. Orang membutuhkann pengetahuan bahwa dirinya dikenal

    baik dan dinilai baik oleh orang lain.

    Menurut Feist (2011:335) Maslow mengidentifikasi dua tingkatan

    kebutuhan akan penghargaan (reputasi dan harga diri). Reputasi adalah persepsi

    akan gengsi, pengakuan, atau ketenaran yang dimiliki oleh seseorang dilihat dari

    sudut pandang orang lain. Sementara harga diri adalah perasaan pribadi seseorang

    bahwa dirinya bernilai atau bermanfaat dan percaya diri. Harga diri yang

    terpenuhi dari dua aspek tersebut dapat dikatagorikan seseorang memiliki harga

    diri yang baik pula, walau sejatinya harga diri yang utama adalah dari dirnya

    sendiri. Mendapatkan penghargaan dari orang lain hanyalah hadiah dari seseorang

    menghargai dirinya sendiri, sehingga dapat harmonis dengan lingkungan. Dapat

    disimpulkan bahwa self esteem terdiri dari dua jenis yaitu Menghargai diri sendiri

    dan mendapat penghargaan dari orang lain. Aspek menghargai diri sendiri terdiri

    atas kebutuhan kekuatan, penguasaan kompetensi, prestasi, kepercayaan diri,

    kemandirian, dan kebebasan. Mendapat penghargaan dari orang lain adalah

    kebutuhan prestise, penghargaan dari orang lain, status, ketenaran, dominasi,

    kehormatan, diterima dan apresiasi. Karena pengertian dari dominasi sendiri

  • 21

    adalah menjadi orang penting di lingkungan. Indikator yang selanjutnya adalah

    Interpersonal trust.

    Intrpersonal trust menurut bahasa berasal dari dua kata yaitu

    interpersonal dan trust. Interpersonal menurut arti adalah connected with

    relationships between people (hubungan yang terhubung dengan orang lian dan

    orang-orang) dan trust adalah the belife that sb/tsh is good, sincere, honest, etc.

    and will not try to harm or trick you (percaya bahwa seseorang tersebut baik,

    tulus, jujur dll, dan tidak akan mencoba melukai atau menipu mu) (Oxford 8th

    edition, 2010). Interpersonal trust menurut Baron (2005:12) adalah suatu dimensi

    yang mendasari gaya kelekatan yang melibatkan keyakinan bahwa orang lain

    dapat dipercaya, dapat diharapkan, dan dapat diandalkan atau lawannya, yaitu

    bahwa orang lain tidak dapat dipercaya, tidak dapat diharapkan, dan tidak dapat

    daiandalkan. Menurut Geller (tanpa tahun: 36) ada enam kunci dari interpersonal

    trust yaitu:

    a. Communication -- exchange of information or opinion by speech, writing, or signal.

    b. Caring -- showing concern or interest about what happens. c. Candor -- straightforwardness and frankness of expression,

    freedom for prejudice.

    d. Consistency -- agreement among successive acts, ideas, or events.

    e. Commitment -- being bound emotionally or intellectually to a course of action.

    f. Consensus -- agreement in opinion testimony, or belief g. Character -- the combined moral or ethical structure of a

    person or group, integrity, fortitude.

    Kesimpulan dari enam kata kunci untuk interpersonal trust sebagai berikut

    komunikasi, perhatian, keterusterangan, konsistensi, komitmen, konsensus,

    karakter. Penelitian ini adalah hubungan remaja dan orang tua sehingga self

  • 22

    esteem yang diukur adalah self esteem remaja dan interpersonal trust remaja

    terhadap orang tua.

    Dengan mengukur keduanya akan didapatkan empat gaya kelekatan yaitu

    sebagai berikut:

    a. Gaya kelekatan aman. Model Bartholomew adalah suatu gaya yang

    memiliki karakteristik self esteem yang tinggi dan kepercayaan

    interpersonal yang tinggi; biasanya digambarkan sebagai kelekatan

    yang paling berhasil. Pelekatan aman juga sering disebut dengan secure

    attachment. Remaja dengan hubungan yang aman dengan orang tua

    mempunyai harga diri yang lebih tinggi dan kesejahteraan emosi yang

    lebih baik menurut Armsden dan Greenberg (Santrok, 2003:194).

    Keterikatan yang kuat ini ditandai dengan remaja lebih menunjukkan

    kepuasan terhadap bantuan yang diterima dari orang tua.

    b. Gaya kelekatan takut mengindar. Model Bertholomew, adalah suatu

    gaya yang memiliki karakteristik self esteem yang rendah dan

    kepercayaan interpersonal yang rendah. Gaya ini adalah gaya keekatan

    yang paling tidak aman dan paling tidak adaptif. Dengan

    meminimalkan kedekatan interpersonal dan menghindari hubungan

    akrab, mereka berharap dapat melindungi diri mereka dari rasa sakit

    karena ditolak (Baron, 2005:14). Menurut Levi dkk dalam Baron

    (2005:14) individu yang takut menghindar menggambarkan orang tua

    mereka secara negatif.

  • 23

    c. Gaya kelekatan terpreokupasi. Model Bartholomew, adalah suatu gaya

    yang memiliki karakteristik self esteem yang rendah dan kepercayaan

    interpersonal yang tinggi. Biasanya dijelaskan sebagai gaya yang

    mengandung pertentangan dan tidak aman di mana individu benar-

    benar

    mengharap sebuah hubungan dekat tapi merasa tidak layak untuk pasangan

    dan juga rentan akan penolakan. Pada jenis insecurely attached remaja lebih

    memperlihatkan rasa takut kepada orang tuanya, namun remaja tersebut

    mempunyai perasaan berpisah dengan orang tuanya dan tidak melakukan

    perlawanan (diam) . Pada perlekatan ini remaja masih bisa interaksi fisik

    namun tidak ada interaksi emosional. Menurut Fisher dalam Santrok

    (2003:195) remaja dengan perlekatan cemas ini menampilkan

    kecemburuan, konflik, dan ketergantuangn, bersamaan dengan kepuasan yang

    kurang, dalam hubungan mereka dengan sahabat karibnya dibandingkan

    dengan teman-teman yang terikat aman.

    d. Gaya kelekatan menolak. Di dalam model Bartholomew, adalah suatu gaya

    yang memiliki karakteristik self esteem yang tinggi dan kepercayaan

    interpersonal yang rendah. Gaya ini biasanya digambarkan sebagai gaya yang

    berisi konflik dan agak tidak aman di mana individu merasa dia layak

    memperoleh hubungan akrab namun tidak mempercayai calon pasangan

    yang potensial. Akibatnya adalah kecenderungan untuk menolak dengan

    orang lain pada suatu titik di dalam hubungan guna menghindari supaya tidak

    menjadi seseorang yang ditolak. Hubungan remaja dengan orang tuanya lebih

  • 24

    kepada sering melakukan perlawanan karena ketidak senangannya kepada

    orang tua. Pada pelekatan ini anak tidak dapat merasakan interaksi fisik

    maupun emosional.

    Empat gaya di atas remaja yang sehat akan membangun kelekatan yang

    aman dengan orang tua mereka karena gaya kelekatan yang aman membawa

    remaja pada individu yang mampu dengan individu yang lain. Dan memiliki

    tingkat kecemasan sosial yang rendah. Menurut Santrock (2003:194) keterikatan

    pada orang tua selama masa remaja dapat mengeksplorasi dan menguasai

    lingkungan baru serta dunia sosial yang semakin luas dalam kondisi yang sehat

    secara psikologis. Sehingga keterikataan yang aman antara remaja dan orang tua

    dapat menjadi tameng yang baik dalam pengaruh negatif lingkungan remaja dan

    menjadikan remaja tumbuh secara optimal dengan tugas perkembangannya.

    Gaya kelekatan remaja dan orang tua merupakan gaya interaksi fisik dan

    emosional yang terjadi antara remaja dan orang tua. Gaya kelekatan remaja dan

    orang tua tersebut mencakup atas empat gaya yaitu: aman, takut mengindar,

    terpreokupasi dan menolak. Keempat gaya tersebut dapat diukur dengan harga diri

    remaja (siswa) dan kepercayaan remaja kepada orang tua mereka. Kelekatan yang

    aman merupakan gaya kelekatan yang paling baik dari gaya kelekatan yang lain

    karena terdiri dari harga diri yang tinggi dan kepercayaan kepada orang lain yang

    tinggi.

    2.5 Kelekatan Remaja dan Orang Tua Ditinjau dari Perbedaan Jenis Kelamin

  • 25

    Jenis kelamin di dunia ini pada dasarnya ada dua jenis yaitu laki-laki dan

    perempuan. Perbedaan jenis kelamin tersebut juga membawa berbagai perbedaan

    karekteristik antara keduanya. Menurut Baron (2004: 203) jenis kelamin merujuk

    pada perbedaan anatomi dan fisik antara laki-laki dan perempuan yang secara

    jenis kelamin sering disebut-sebut dengan gender walupun sedikit berbeda antara

    keduanya. Perbedaan antara keduanya terletak pada jenis kelamin merupakan

    kodrat sedangkan gender merupakan yang tidak dapat atau permanen. Konsep

    gender tersebutlah yang membuat pandangan bahwa laki-laki dan perempuan

    memang merupakan dua unsur yang berbeda.

    Dalam masyarakat perempuan digambarkan sering digambarkan sebagai

    sosok yang feminim dan laki-laki sebagai sosok yang maskulin. Sifat-sifat

    tersebut sudah mengakar di dalam masyarakat dan membuat barbagai jenjang

    perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Sehingga mempengaruhi sisi

    psikologis dari laki-laki maupun perempuan. Perempuan terlihat banyak

    tergantung dan lebih dilindungi dari pada laki-laki. Sifat tergantung tersebut

    membuat perempuan lebih lekat dengan orang tuanya.

    2.6 Kelekatan Remaja dan Orang Tua Ditinjau Dari Latar Belakang Pendidikan Orang Tua

    Menurut UU No.20 Tahun 2003 Pasal 14 jenjang pendidikan adalah

    tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta

    didik, tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang dikembangan. Jenjang

    pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan

    pendidikan tinggi (Munib, 2011:147). Undang-undang No.20 Tahun 2003 tentang

  • 26

    sistempendidikan nasional, bunyi Pasal 17 (1) jenjang pendidikan dasar

    merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah,

    pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah atau

    bentuk lain yang sederajat dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan

    Madrasah Tsanawiyah (MTs). Jenjang pendidikan menengah diatur dalam pasal

    (1,2,3 dan 4), dalam pasal 3 dijelaskan bahwa pendidikan menengah berbentuk

    Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah

    Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) atau berbentuk lain yang

    sederajat. Selanjutnya untuk jenjang pendidikan tinggi diatur dalam pasal 19, 20,

    dan 21, 22, 23, 24 dan 25. Penjelasan pasal 19 ayat (1) pendikan tinggi merupakan

    jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup pendidikan

    diploma, sarjana, magester, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh

    perguruan tinggi.

    Dari penjelasan di atas pendidikan indonesia dibagi menjadi tiga jenjang

    namun umumnya dimasyarakat ada Sekolah Dasar (SD) atau sederajat, Sekolah

    Menengah Pertama (SMP) atau sederajat, Sekolah Menengah Atas (SMA) atau

    sederajat dan Perguruan Tinggi. Tujuan dari penidikan di indonesia menrut UU

    No.20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 adalah mengembangkan kemampuan dan

    membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka

    mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembnganya potensi peserta

    didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang

    Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi

    warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dari tujuan tersebut

  • 27

    diharapkan orang tua memilikin pengetahuan yang lebih baik sejalan dengan

    tingginya pendidikan yang didapat. Dengan berbagai jenjang pendidikan yang

    didapat menjadikan beberapa pola yang berbeda dalam berbagai keluarga.

    Dalam Sayekti (1994:20) mengatakan bahwa keluarga merupakan

    lingkungan pendidikan yang pertama dan utama anak-anak mengenal pendidikan

    pertama kali di dalam lingkungan keluarga. Dengan demikian pendidikan awal

    juga berasal dari keluarga bagaimana pembentukan karekter anak. Sayekti

    (1994:20) menambahkan bahwa pendidikan keluarga adalah pendidikan kodrati.

    Apalagi setalah lahir, pergaulan diantara orang tua dan anak-anaknya yang

    meliputi rasa cinta kasih, ketentraman dan kedamaiaan, anak-anak akan

    berkembang kearah kedewasaan yang wajar. Didalam keluarga segala sikap dan

    tingkah laku kedua orang tuanya sangat berpengaruh terhadap perkembangan.

    2.7 Perlunya Konselor Mengetahui Gaya Kelekatan Siswa dan Orang Tua

    Menurut Konopka dalam Yusuf (2011:184) masa remaja meliputi (a) remaja

    awal : 12-15 tahun; (b) remaja madya: 15-18 tahun; (c) remaja akhir: 19-22

    tahun. Pada umur tersebut remaja mulai dengan pendidikan menengah yaitu

    Sekolah Menengah pertama. Tugas konselor di sekolah menegah dijelaskan dalam

    Kartadinata dkk (2007:31) adalah sebagai berikut:

    ... konselor dapat berperan secara maksimal dalam memfasilitasi

    konseli mengaktualisasi potensi yang dimilikinya secara optimal.

    Konselor berperan membantu peserta didik dalam menumbuhkan

    potensinya. Salah satu potensi yang seyogyanya berkembang pada

    diri konseli adalah kemandirian, seperti kemampuan mengambil

    keputusan penting dalam perjalanan hidupnya yang berkaitan dengan

    pendidikan maupun persiapan karier. Dalam melakanakan program

    bimbingan dan konseling seyogyanya melakukan kerjasama

  • 28

    (kolaborasi) dengan berbagai pihak yang terkait, seperti kepala

    sekolah/madrasah, guru mata pelajaran, orang tua konseli.

    Kolaborasi dengan orang tua yang merupakan salah satu bentuk tugas

    konselor di sekolah. Karena orang tua dapat berinteraksi secara penuh dengan

    anak. Menurut Gibson (2011:542) konselor mesti mengkomunikasikan dan

    bekerjasama dengan orang tua kerena merekalah yang memiliki banyak

    kesempatan untuk mengasuh dan membentuk gaya hidup yang sehat bagi emosi

    dan pengmbangan hubungan antar-pribadi anak-anak mereka sejak bayi. Dengan

    memiliki kelekatan yang aman antara anak dan orang tua dapat menjadi fungsi

    adaktif yang menyediakan landasan yang kokoh di mana remaja dapat menjelajahi

    dan menguasai lingkungan-lingkungan baru dan suatu dunia sosial yang luas

    dalam suatu cara yang secara psikologis sehat (Santrock, 2002:41).

  • 29

    BAB 3

    METODE PENELITIAN

    Metode penelitian merupakan suatu cara sebagai usaha menemukan,

    mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan dalam upaya

    memecahkan suatu permasalahan (Sugiyono, 2015:5). Suatu kegiatan penelitian

    harus menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan, hal ini menjadi

    penting agar mencapai harapan dan tujuan penelitian tersebut. Menggunakan

    metode penelitian pekerjaan penelitian akan lebih terarah, sebab metode penelitian

    bermaksud memberikan kemudahan dan kejelasan tentang apa dan bagaimana

    peneliti melakukan penelitian.

    Berkaitan dengan pernyataan tersebut, dalam rangka mencari jawaban atas

    permasalahan penelitian ini, diperlukan suatu metode penelitian ilmiah untuk

    memuat gambaran gaya kelekatan remaja dan orang tua. Oleh karena itu dalam

    bab tiga ini secara berturut-turut akan diuraikan mengenai berbagai hal yang

    termasuk dalam metode penelitian yakni jenis penelitian, desaian penelitian,

    variabel penelitian, populasi dan sampel, metode pengumpulan data, validitas dan

    reliabilitas instrumen, hasil uji coba instrumen serta analisis data penelitian.

    3.1 Jenis Penelitian

    Peneliti menggunakan jenis penelitian jenis penelitian survei deskriptif

    dengan pendeketan kuantitatif. Mengacu pada tujuan penelitian dimana peneliti

  • 30

    ingin mengetahui bagaimana gaya kelekatan remaja dan orang tua di SMP Negeri

    1 Nguter Kabupaten Sukoharjo.

    Metode penelitian survei deskriptif yaitu metode yang digunakan untuk

    mengetahui secara lebih mendalam dan menyeluruh tentang gaya kelekatan

    remaja dan orang tua di SMP Negeri 1 Nguter Kabupaten Sukoharjo. Arikunto

    (2006: 12) mendefinisikan penelitian kuantitatif merupakan suatu penelitian yang

    menggunakan angka dalam mengumpulkan data dan dalam memberikan

    penafsiran terhadap hasilnya. Penelitian deskriptif ini diperlukan untuk

    mendeskripsikan hasil dari data yang telah diperoleh yang mengacu pada fakta

    secara sistematis. Azwar (2004:6) menjelaskan bahwa penelitian deskriptif

    melakukan analisis hanya sampel pada taraf deskripsi, yaitu menganalisis dan

    menyajikan fakta secara sistematis sehingga dapat lebih mudah menganalisis

    untuk difahami dan disimpulkan. Menggunakan survei deskriptif diharapkan

    peneliti mendapatkan berbagai data yang diperlukan dengan lebih efisien tanpa

    mengurangi hasil dari penelitian. Sedangkan pendekatan kuantitatif merupakan

    pendekatan yang memungkinkan dilakukan pengumpulan dan pengukuran data

    berbentuk angka-angka.

    3.2 Variabel Penelitian

    Menurut Sugiyono (2007:4) mengemukakan bahwa variabel penelitian adalah

    suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai

    variasi tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk mempelajari dan ditarik

    kesimpulan. Sugiyono juga mengemukakan bahwa variabel dibedakan menjadi

  • 31

    empat yaitu variabel indipenden, variebel dependen, variabel moderator, variabel

    intervening dan variabel control.

    Namun dalam penelitian ini tidak menggunakan salah satu dari variabel

    tersebut karena peneliti menggunakan variabel tunggal. Selain itu penelitian ini

    sebagai penelitian deskriptif yang coba menggambarkan secara jelas suatu objek,

    bukan meneliti tentang ada tidaknya hubungan atau pengaruh.

    3.2.1. Identifikasi Variabel

    Variebel dalam penelitian ini adalah adalah gaya kelekatan remaja dan

    orang tua.

    3.2.2. Defenisi Operasional Variabel

    Defenisi operasional variabel adalah batasan yang jelas, nyata, konkrit,

    sehingga variebel dapat diukur. Definisi operasional variable dari gaya kelekatan

    remaja dan orang tua adalah gaya interaksi fisik dan emosional yang terjadi antara

    remaja dan orang tua. Gaya kelekatan remaja dan orang tua tersebut mencakup

    atas empat gaya yaitu: aman, takut menghindar, terpreokupasi dan menolak.

    Keempat gaya tersebut dapat diukur dengan harga diri remaja (siswa) dan

    kepercayaan remaja kepada orang tua mereka. Kelekatan yang aman merupakan

    gaya kelekatan yang paling baik dari gaya kelekatan yang lain karena terdiri dari

    harga diri yang tinggi dan kepercayaan kepada orang tua yang tinggi.

  • 32

    3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

    3.3.1 Populasi

    Menurut Arikunto (2006:108) populasi adalah keseluruhan subjek

    penelitian. Dengan mendasarkan pada judul, maka populasi dalam penelitian ini

    adalah semua siswa SMP Negeri 1 Nguter. Jumlah seluruh siswa di SMP Negeri 1

    Nguter adalah 667 siswa. Rincian untuk semua kelas dipaparkan dalam tabel

    berikut.

    Tabel 3.1

    Populasi SMP Negeri 1 Nguter

    KELAS LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH

    VII 133 93 226

    VIII 143 106 249

    IX 109 93 202

    Total Populasi 385 292 677

    3.3.2 Sampel

    Sedangkan Sugiyono (2007:62) menjelaskan bahwa sampel adalah bagian

    dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Teknik sampling

    merupakan teknik pengambilan sampel. Teknik sampling dikelompokkan menjadi

    dua yaitu Problability Sampling dan Nonprobabiliti Sampling. Peneliti

    menggunakan proportionate stratified random sampling dalam kelompok

    probability sampling. Berdasarkan tabel Nemogram Herry King dengan jumlah

    populasi berkisar antara 677 dengan taraf kesalahan 5% maka ditentukan jumlah

    sampel 227 sebagai ukuran sampel.

    Sampel 227 tersebut terdiri dari beberapa kelas, dari kelas VII, kelas VIII

    dan kelas IX (Sugiyono, 2010:128). Menurut Sugiyono (2010:120) proportionate

  • 33

    stratified random sampling teknik ini digunakan bila populasi mempunyai

    anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Populasi di

    SMP Negeri 1 Nguter terdiri dari tiga kelas yaitu kelas VII, kelas VIII dan kelas

    IX kerena itu disebut populasi yang berstata.

    Tabel 3.2

    Jumlah Sampel Penelitian

    TINGKAT KELAS JUMLAH SAMPEL

    VII

    A 28

    76

    B 28

    C 28

    D 28

    E 25

    F 26

    G 26

    H 24

    Jumlah 226

    VIII

    A 27

    84

    B 27

    C 24

    D 25

    E 28

    F 28

    G 27

    H 31

    Jumlah 249

    IX

    A 32

    67

    B 29

    C 32

    D 32

    E 29

    F 30

    G 28

    H 32

    Jumlah 202

    Total 677 227

  • 34

    3.4 Metode Dan Alat Pengumpul Data

    3.4.1 Metode Pengumpulan Data

    Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode skala psikologis

    dan metode wawancara. Metode utama penelitian ini adalah skala psikolagis,

    metode tersebut digunakan untuk mengukur bagaimana gaya kelekatan remaja

    dan orang tua yang terjadi. Metode yang kedua yaitu metode wawancara, metode

    wawancara digunakan untuk memperkuat data yang diperoleh.

    3.4.1.1 Skala Psikologis

    Gaya kelekatan remaja dan orang tua diukur dengan skala psikolagis.

    Pengukuran dengan skala psikologis dikarenakan variabel dalam gaya kelakatan

    remaja dan orang tua adalah atribut yang sifatnya tidak nampak (inner behavior).

    Menurut Sutoyo (2009: 170) skala psikologi digunakan untuk mengungkap

    konstrak atau konsep psikologi yang menggambarkan aspek kepribadian

    individu. Hal tersebut sejalah dengan pendapat Azwar (2005:3) bahwa istilah

    skala psikologi selalu mengacu kepada alat ukur atau atribut efektif. Azwar

    (2005:5) juga mengungkapkan bahwa dalam skala psikologis dapat mengungkap

    tentang:

    a. Data yang diungkap berupa konsep psikologis yang menggambarkan kepribadian individu.

    b. Pertanyaan sebagai stimulus tertuju pada indikator perilaku guna memancing jawaban yang berupa refleksi dari keadaan subyek

    yang biasanya tidak disadari oleh responden yang bersangkutan,

    pertanyaan yang diajukan memang dirancang untuk

    mengumpulkan sebanyak mungkin indikasi dari aspek

    kepribadian yang lebih abstrak.

    c. Responden tidak menyadari arah jawaban yang dikehendaki dan kesimpulan dari pertanyaan.

  • 35

    d. Responden terhadap skala psikologis diberi skor lewat penskalaan.

    e. Skala psikologi hanya diperuntukan untuk mengungkap atribut tunggal.

    Dijelaskan lebih rinci oleh Azwar (2005:3-4) bahwa karakteristik alat ukur

    psikologi antara lain:

    a. Stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur melainkan

    mengungkap indikator perilaku dari atribut yang bersangkutan.

    b. Atribut psikologis diungkap secara tidak langsung melalui indikator-indikator perilaku, sedangkan indikator perilaku

    diterjemahkan dalam bentuk item-item.

    c. Respon subjek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban benar atau salah. Semua jawaban dapat diterima sepanjang diberikan

    secara jujur dan sungguh-sungguh. Hanya saja, jawaban yang

    berbeda akan diintrerpretasikan berbeda pula.

    Dengan demikian, skala psikologi dapat digunakan sebagai alat ukur yang

    dapat mengungkap indikator perilaku yang berupa pertanyaan maupun pernyataan

    sebagai stimulus. Responden tidak mengetahui arah jawaban dari pertanyaan

    maupun pernyataan rersebut.

    Untuk mengukur gaya kelekatan remaja dan orang tua yaitu dengan

    menggunakan skala likert. Sugiyono (2010:134) menyatakan bahwa skala likert

    adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi

    seseorang tentang fenomena sosial. Data yang diperoleh dari skala tersebut

    berupa data interval. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Sugiyono (2011:25)

    yang mengungkapkan bahwa dalam penelitian sosial yang instrumennya

    menggunakan skala likert, gutman, semantic diferential, thurstone, data yang

    diperoleh adalah data interval. Data interval adalah data yang jaraknya sama,

    tetapi tidak mempunyai nilai nol absolut (mutlak). Skala psikologis gaya

  • 36

    kelekatan remaja dan orang tua berbentuk checklist, dengan 4 pilihan jawaban

    yaitu SS (Sangat sesuai), S (Sesuai), KS (Kurang sesuai), TS (Tidak sesuai),

    dengan penskoran 4, 3, 2, dan 1.

    Tabel 3.3

    Kategori Jawaban Skala Psikologi

    Pernyataan Positif (+) Nilai Pernyataan Negatif (-) Nilai

    Sangat Sesuai (SS) 4 Sangat Sesuai (SS) 1

    Sesuai (S) 3 Sesuai (S) 2

    Kurang Sesuai (KS) 2 Kurang Sesuai (KS) 3

    Tidak Sesuai (TS) 1 Tidak Sesuai (TS) 4

    3.4.1.2 Wawancara

    Sugiyono (2010:317) menyatakan bahwa wawancara adalah pertemuan dua

    orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat

    dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Menurut Moleong (2006:189)

    wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, percakapan ini dilakukan

    oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan

    dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.

    Terdapat dua jenis wawancara, yaitu wawancara terstruktur dan wawancara

    tidak terstruktur. Penelitian ini hanya digunakan wawancara terstruktur.

    Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila

    peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang infomasi apa yang akan diperoleh.

    Oleh karena itu dalam wawancara terstukutur menggunakan pedoman wawancara

    yang disusun berdasarkan kisi-kisi pengembangan pedoman wawancara.

    Sedangkan penggunaan metode wawancara dalam penelitian ini dimaksudkan

  • 37

    untuk menggali data yang lebih mendalam dari responden dengan maksud

    mendapatkan data pendukung hasil penelitian. Pemilihan responden ditentukan

    berdasarkan tabulasi skor tertinggi pada masing- masing jenis kelekatan pada

    siswa SMP Negeri 1 Nguter. Pada penelitian ini dipilih masing masing jenis

    kelekatan 3 anak sehingga totalnya adalah 12 siswa.

    3.4.2 Alat Pengumpul Data

    Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standard untuk

    memperoleh data yang diperlukan. Selalu ada hubungan antara metode

    pengumpulan data dengan masalah penelitian yang ingin dipecahkan.

    Penyelenggaraan pengumpulan data bermaksud mengumpulkan seluruh data dan

    keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan siswa dalam berbagai

    aspeknya. Alat yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini

    adalah skala gaya kelekatan remaja dan orang tua dan pedoman wawancara untuk

    mengetahui gaya kelekatan remaja dan orang tua.

    3.4.2.1. Skala Gaya Kelekatan Remaja dan Orang tua

    Skala gaya kelekatan remaja dan orang tua terdapat beberapa pernyataan

    yang akan di jawab oleh siswa berkaitan dengan gaya kelekatan remaja dan orang

    tua yang mengungkap indikator gaya kelekatan remaja dan orang tua. Indikator

    gaya kelekatan remaja dan orang tua terdiri dari dua komponen yaitu self esstem

    dan interpersonal trust.

    Adapun kisi-kisi instrumen skala gaya kelekatan remaja dan orang tua

    adalah sebagai berikut:

  • 38

    Tabel 3.4 Kisi-kisi Intrumen Skala Gaya Kelekatan Remaja dan Orang Tua

    VARIABEL KOMPONEN INDIKATOR DESKRIPTOR NO ITEM

    + -

    Gaya

    kelekatan

    anak dan

    orang tua

    A. Self esstem 1. menghargai diri sendiri (self

    respect). Orang

    membutuhkann

    pengetahuan

    tentang dirinya

    sendiri, bahwa

    dirinya

    berharga,

    mampu

    mengusai tugas

    dan tantangan

    hidup

    2. Mendapat penghargaan

    1.1. Memiliki kemampuan untuk

    mengontrol/memerintah

    seseorang atau sesuatu.

    1.2. Memiliki kemampuan untuk mengatasi persoalan

    kehidupan apa pun, dan

    yakin bahwa masa

    depannya akan gemilang.

    1.3. Memiliki prestasi akademik (rapor yang baik atau

    memiliki peringkat di kelas)

    ataupun non akademik

    (menjuarai berbagai

    kejuaraan).

    1.4. Memiliki keyakinan atas kemampuan dirinya sendiri

    dalam melaksanakan tugas

    atau sesuatu dan yakin akan

    berhasil.

    1.5. Memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas

    dengan mandiri dan tidak

    selalu bergantung dengan

    orang lain.

    1.6. Memiliki kemampuan untuk menikmati dirinya

    secara utuh dalam berbagai

    kegiatan yang meliputi

    pekerjaan, permainan,

    ungkapan diri yang kreatif,

    persahabatan, atau sekedar

    mengisi waktu luang.

    2.1. Memiliki keyakinan bahwa dirinya sama dengan orang

    1,2, 5

    6, 7, 8

    9, 10,

    11,

    12, 13

    15,

    17, 18

    20, 21

    22, 24

    26,

    27, 28

    3, 4

    14, 16

    19

    23

    25, 29

  • 39

    dari orang lain

    (respect from

    other). Orang

    membutuhkann

    pengetahuan

    bahwa dirinya

    dikenal baik

    dan dinilai baik

    oleh orang lain

    lain, sebagai manusia tidak

    tinggi ataupun rendah,

    walaupun terdapat

    perbedaan dalam

    kemampuan tertentu, latar

    belakang keluarga, atau

    sikap orang lain

    terhadapnya.

    2.2. Merasa di hargai oleh orang lain atas segala jerih

    payahnya dan selalu

    diterima dalam lingkungan.

    2.3. Mendapatkan jabatan dalam lingkungan sekolah atau

    lingkungan masyarakat

    seperti ketua kelas, ketua

    osis, sekertaris atau jabatan

    lain dalam organisasi

    sekolah atau luar sekolah.

    2.4. Memiliki pengaruh dan kontrol atas lingkungan

    sekolah atau lingkungan

    masyarakat.

    2.5. Memiliki peran penting di dalam lingkungan, selalu

    dibutuhkan (dalam

    berpendapat atau yang lain)

    oleh lingkungan sehingga

    banyak orang yang

    bergantung kepada dirinya.

    2.6. Dihormati dan dikagumi oleh orang lain, dan dapat

    menerimahnya tanpa

    bersalah

    2.7. Merasa diterima di dalam keluarga, sekolah atupun

    masyarakat.Tidak dibenci

    ataupun memiliki musuh

    dalam lingkungannya

    (sekolah ataupun rumah).

    2.8. Mendapatkan pujian atau beberapa hadiah yang

    diberikan oleh orang lain

    untuk dirinya sebagai tanda

    terimakasih atau apresiasi

    atas apa yang diperbuatnya.

    30, 31

    34,

    35, 38

    39,

    40,

    41, 42

    43,

    44,

    45, 46

    47, 48

    50

    54, 55

    56

    32,33

    36, 37

    49,

    51, 52

    53

  • 40

    B. Interpersonal trust

    1. Komunikasi

    2. Perhatian

    3. Berterusterang

    4. Konsisten

    5. Komitmen

    6. Diskusi

    7. Karakter

    Orang tua dan anak saling

    memberi informasi, pendapat

    dengan berbicara, menulis

    atau isyarat tertentu dan

    dalam intensitas yang

    memadai.

    Orang tua ataupun anak

    saling memberikan perhatian

    satu sama lain dalam besar

    ataupun kecil dalam

    berbagai hal.

    Anak dan orang tua selalu

    berterusterangan dan jujur

    dalam berekspresi dan tidak

    ada keraguan atas apa yang

    diungkapkan atara satu dan

    yang lainnya.

    Tidak terjadi perbedaan

    pendapat yang mencolok

    antara orang tua dan anak,

    dalam melakuan tindakan,

    ataupun menungkan ide,

    sehingga keduanya tidak

    terjadi pertentangan.

    Terjalinnya komitmen yang

    terikat secara emosional

    maupun intelektual untuk tidakan yang dilakukan antara

    anak dan orang tua.

    Orang tua dan anak selalu

    berdiskusi untuk mendapatkan

    kesepakatan, kesaksian ataupun

    keyakinan antara keduanya.

    Anak mempersepsikan orang

    tua sebagi orang tua yang baik

    atau buruk atau begitu

    sebaliknya. Apakah orang tua

    yang dimilikinya adalah

    sosok yang diidamkannya

    atau bahkan adalah sosok

    yang dibencinya karena

    57,

    59,

    60, 61

    63,

    64, 66

    67, 68

    75, 77

    80

    84,

    85,

    86, 87

    58, 62

    65,

    69,

    70,

    71,

    72,

    73, 74

    76,

    78, 79

    81,

    82, 83

    88

  • 41

    karekter yang dimilikinya.

    Jumlah Item 57 31

    3.4.2.2. Pedoman Wawancara

    Pedoman wawancara berisi pokok-pokok pertanyaan yang berkaitan

    dengan masalah peneliti sehingga informasi yang diberikan responden lebih

    fokus pada tujuan penelitian. Penggunaan metode interview atau wawacara dalam

    penelitian ini ditujukan untuk menggali data pendukung yang terkait dengan latar

    belakang terbentuknya berbagai gaya kelekatan.

    3.5 Validitas dan Realibilitas

    Salah satu masalah penting dalam penelitian adalah cara atau instrumen

    yang dipergunakan untuk memperoleh data yang akurat dan objektif. Masalah ini

    dipendang penting sebab simpulan hasil pnenelitian akan dapat dipercaya

    manakala didasarkan pada atau diperoleh melalui alat ukur yang baik (valid dan

    reliabel). Berikut akan dipaparkan validitas dan reliabilitas dalam penelitian ini.

    3.5.1 Validitas

    Validitas menurut Saifuddin dalam Sutoyo (2009:61) mengemukakan

    bahwa sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan

    fungsi ukurnya. Sehingga perlu adanya uji validitas untuk mengetahui sejauh

    mana ketepatan dan kecermatan alat yang akan digunakan untuk meengukur dan

  • 42

    fungsi ukurannya. Sugiyono (2007: 352) menyebutkan bahwa ada 3 jenis

    pengujian validitas instrument (1) Pengujian Validit