34
LAPORAN TUTORIAL BLOK GERIATRI SKENARIO I KELOMPOK A8 : Achmad Nurul Hidayat G0011003 Aprilisasi P.S. G0011031 Dea Saufika Najmi G0011063 Fitria Dewi Larassuci G0011097 Ines Aprilia Safitri G0011115 Risky Pratiwi P G0011177 Azamat Agus Sampurna G0011047 Gefaritza Rabbani G0011099 Jati Febriyanto Adi L.P. G0011121 Riko Saputra G0011173 TUTOR : dr. Dian Nugroho FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA TAHUN 2013

LAPTUT SK 1

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: LAPTUT SK 1

LAPORAN TUTORIAL

BLOK GERIATRI SKENARIO I

KELOMPOK A8 :

Achmad Nurul Hidayat G0011003

Aprilisasi P.S. G0011031

Dea Saufika Najmi G0011063

Fitria Dewi Larassuci G0011097

Ines Aprilia Safitri G0011115

Risky Pratiwi P G0011177

Azamat Agus Sampurna G0011047

Gefaritza Rabbani G0011099

Jati Febriyanto Adi L.P. G0011121

Riko Saputra G0011173

TUTOR :

dr. Dian Nugroho

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

TAHUN 2013

Page 2: LAPTUT SK 1

BAB I

PENDAHULUAN

Menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan- lahan

kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/ mengganti diri dan

mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita.

Dengan begitu manusia secara progresif akan kehilangan daya tahan

terhadap infeksi dan akan menumpuk makin banyak distorsi metabolik dan

struktural yang disebut sebagai penyakit degeneratif, seperti hipertensi dan

diabetes mellitus. Namun perlu diingat bahwa proses menua merupakan

kombinasi dari bermacam- macam faktor yang saling berkaitan.

SKENARIO 1

Trilogi Eyang Yoso I : Jatuhnya Sang Pejuang

Eyang Yoso, seorang pensiunan ABRI, yang masih bugar di usianya yang

60 tahun, tiba- tiba jatuh pada saat jalan- jalan di pagi hari bersama istrinya.

Esok harinya nyeri lututnya kambuh kembali, bahkan sulit digerakkan dan

minta dibawa ke dokter. Pemeriksaan dokter tekanan darah 190/100 mmHg.

Hasil pemeriksaan laboratorium UGD didapatkan GDS 200 mg/dl, Hb 10.5 gr%,

tidak ditemukan proteinuria. EKG dalam batas normal.

Penderita mengeluhkan mata kabur, pendengaran berkurang, dan sering

lupa. Jika berjalan merasa tidak stabil dan nggliyeng (serasa ingin jatuh).

Sebelumnya beliau minum bisoprolol dan HCT secara rutin, kadang

-kadang mengkonsumsi juga antalgin atau meloxicam yang dibeli di toko obat

untuk meredam nyeri sendi.

Page 3: LAPTUT SK 1

BAB II

DISKUSI DAN TINJAUAN PUSTAKA

A. Seven Jump

1. Langkah I: Membaca skenario dan memahami pengertian beberapa istilah

dalam skenario

A. Geriatri : gerontologi medik yang meliputi preventif, promotif,

kuratif, dan rehabilitatif. Pasien geriatric berumur lebih atau

sama dengan 60 tahun dengan dua penyakit atau lebih

B. Proteinuria : suatu kondisi terdapatnya protein dalam urin

C. Bisoprolol : salah satu obat antihipertensi golongan β-blocker

D. HCT : salah satu obat antihipertensi golongan tiazid yang

termasuk juga dalam golongan obat diuretik

E. Antalgin : obat analgesik-antipiretik kuat dari derivat pirazolon

F. Meloxicam : tergolong dalam generasi terbaru obat-obatan Non Steroid

Anti-Inflamatory Drug (NSAID) efektif bisa mengobati

nyeri dan inflamasi atau rematik (osteoarthritis dan

rheumatoid arthritis).

2. Langkah II: Menentukan/mendefinisikan permasalahan

1. Tiba- tiba jatuh pada saat jalan- jalan di pagi hari

2. Nyeri lutut kambuh kembali, bahkan sulit digerakkan

3. Tekanan darah 190/100 mmHg, GDS 200 mg/dl, Hb 10.5 gr%, tidak

ditemukan proteinuria, EKG dalam batas normal

4. Mata kabur, pendengaran berkurang, dan sering lupa. Jika berjalan merasa

tidak stabil dan nggliyeng (serasa ingin jatuh).

5. Sebelumnya minum bisoprolol dan HCT secara rutin, kadang- kadang

mengkonsumsi antalgin atau meloxicam yang dibeli di toko obat untuk

meredakan nyeri sendi.

Page 4: LAPTUT SK 1

3. Langkah III: Menganalisis permasalahan dan membuat pertanyaan mengenai

permasalahan (tersebut dalam langkah II)

1. a) Apa itu geriatri ?

b) Mengapa tiba- tiba jatuh? apa penyebabnya?

c) Apa bahaya dan komplikasi yang timbul akibat jatuh?

d) Bagaimana fisiologi proses menua?

e) Apakah hubungan usia dan pekerjaan dengan keluhan pasien?

2. a) Apa saja penyakit pada geriatri yang dapat mengakibatkan nyeri lutut dan

lutut sulit digerakkan?

b) Bagaimana patofisiologi sendi sulit digerakkan?

c) Apakah jatuh merupakan penyebab kambuhnya nyeri lutut dan lutut sulit

digerakkan?

d) Apa saja faktor risiko nyeri lutut?

3. a) Bagaimana interpretasi hasil pemeriksaan?

b) Bagaimana patofisiologi meningkatnya tekanan darah dan glukosa darah

sewaktu pada pasien geriatri?

c) Apakah ada hubungan antara hasil pemeriksaan dengan gejala pasien?

4. Apakah mata kabur, pendengaran berkurang dan sering lupa merupakan

proses fisiologis ataukkah patologis pada pasien?

5. a) Apakah indikasi penggunaan bisoprolol dan HCT? Apa efek samping

yang ditimbulkan pada pemakaian rutin?

b) Apakah indikasi penggunaan antalgin dan meloxicam?

c) Apakah antalgin dan meloxicam aman dikonsumsi secara bebas tanpa

resep dokter?

6. a) Bagaimana tatalaksana pada pasien ini?

b) Apa saja upaya preventif untuk mencegah jatuh tiba- tiba pada pasien

geriatri?

c) Bagaimana meningkatkan kualitas hidup lansia?

Page 5: LAPTUT SK 1

4. Langkah IV : Menginventarisasi permasalahan secara sistematis dan

pernyataan sementara mengenai permasalahan pada Langkah III.

5. Langkah V : Merumuskan tujuan pembelajaran.

1. a) Apa bahaya dan komplikasi yang timbul akibat jatuh?

b) Bagaimana fisiologi proses menua?

c) Apakah hubungan usia dan pekerjaan dengan keluhan pasien?

2. a) Bagaimana patofisiologi sendi sulit digerakkan?

b) Apakah jatuh merupakan penyebab kambuhnya nyeri lutut dan lutut sulit

digerakkan?

c) Apa saja faktor risiko nyeri lutut?

3. a) Bagaimana interpretasi hasil pemeriksaan?

b) Bagaimana patofisiologi meningkatnya tekanan darah dan glukosa darah

sewaktu pada pasien geriatri?

c) Apakah ada hubungan antara hasil pemeriksaan dengan gejala pasien?

4. a) Apakah indikasi penggunaan bisoprolol dan HCT? Apa efek samping

yang ditimbulkan pada pemakaian rutin?

b) Apakah indikasi penggunaan antalgin dan meloxicam?

c) Apakah antalgin dan meloxicam aman dikonsumsi secara bebas tanpa

resep dokter?

5. a) Bagaimana tatalaksana pada pasien ini?

b) Apa saja upaya preventif untuk mencegah jatuh tiba- tiba pada pasien

geriatri?

c) Bagaimana meningkatkan kualitas hidup lansia?

6. Langkah VI :

- Mengumpulkan informasi baru.

- Mahasiswa mencari informasi di rumah.

Page 6: LAPTUT SK 1

7. Langkah VII : Melaporkan, membahas dan menata kembali informasi baru

yang diperoleh.

Hasil dari Langkah VII akan dijelaskan di Pembahasan.

B. Pembahasan

1. a) Apa itu geriatri?

Gerontologi : ilmu yang mempelajari tentang penuaan

Geriatri : gerontologi medik

Preventif

Promotif

Kuratif

Rehabilitatif

Pasien geriatri :

lebih atau sama dengan 60 tahun dengan dua penyakit atau lebih

b) Mengapa tiba- tiba jatuh? Apa penyebabnya?

a. Faktor risiko jatuh

Sistem sensorik yang berperan adalah visus, oendengaran, fungsi

vestibuler, dan propioseptif.Semua gangguan akan menimbulkan

kerentanan jatuh pada lansia.

SSP Penyakit SSP seperti stroke, parkinson, hidrosefalus.

KognitifDementia diasosiasikan dengan faktor resiko jatuh

MuskuloskeletalGangguan muskuloskeletal menyebabkan gangguan gaya

berjalan, disebabkan oleh :

1) Kekuatan jaringan penghubung

2) Berkurangnya massa otot

3) Perlambatan konduksi saraf

Page 7: LAPTUT SK 1

4) Penurunan visus

5) Kerusakan propioseptif

Yang kesemuanya menyebabkan:

a) Penurunan ROM sendi

b) Penurunan kekuatan otot

c) Perpanjangan waktu reaksi

d) Kerusakan persepsi dalam

e) Peningkatan postural sway

Secara singkat, faktor risiko dibagi jadi 2, yaitu faktor intrinsik dan

ekstrinsik :

1. Faktro intrinsik : kondisi fisik dan neuropsikiatrik,

penurunan visus dan pendengaaran, perubahan beuromuskuler,

gaya berjalan, ddan reflek postural

2. Faktor ekstrinsik : Obat-obat yang diminum, alat bantu

berjalan, lingkungan yang tidak mendukung

b. Penyebab jatuh

Kecelakaan, misal kepleset, tersandung

Nyeri kepala/ vertigo

Hipotensi orthostatic

Obat-obatan, seperti diuretik, antihipertensi, sedativa, psikotik, obat

hipoglikemik, alkohol

Proses penyakit, seperti penyakit kardivaskuler, neurologi.

Idiopatik

Page 8: LAPTUT SK 1

Sinkope

Faktor lingkungan uamg sering dihubungkan dengan kecelakaan pada

lansia:

- Alat perlengkapan rumah tangga yang sudah tua, tidak stabil, atau

tergeletak dibawah

- Tempat tidur atau WC yang rendah

- Tempat berpegangan yang tidak kuat/susah dipegang

c) Apa bahaya dan komplikasi yang timbul akibat jatuh?

Akibat yang ditimbulkan oleh jatuh tidak jarang tidak ringan, seperti

cedera kepala, cedera jaringan lunak, sampai dengan patah tulang. Jatuh juga

seringkali merupakan petanda kerapuhan (fraility), dan merupakan faktor

prediktor kematian atau penyebab tidak langsung kematian melalui patah

tulang.

Kematian dan kesakitan akibat patah tulang umumnya disebabkan

karena komplikasi akibat patah tulang dan imobilisasi yang ditimbulkannya.

Beberapa diantaranya adalah timbulnya ulkus dekubitus akibat tirah baring

berkepanjangan; perdarahan, trombosis vena dalam dan emboli paru; infeks

pneumonia atau infeksi saluran kemih akibat tirah baring lama; gangguan

nutrisi, dan sebagainya.

d) Bagaimana fisiologi proses menua?

1) Teori “Genetic Clock”

Tiap spesies mempunyai didalam nuclei (inti sel) nya suatu jam

genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu. Jma ini akan

menghitung mitosis dan mengehntikan replikasi sel bila tidak dipuat, jadi

bila jam itu menghentikan replikasi sel maka kita akan meninggal dunia,

Page 9: LAPTUT SK 1

meskipun tanpa disertai kecelakaan lingkungan atau penyakit akhir yang

katastrofal.

2) Mutasi somatik (teori error Catastrophe)

Faktor-faktor penyebab terjadinya menua adalah faktor lingkungan

yang menyebabkan terjadinya mutasi somatik. Radiasi dan zat kimia dapat

memperpendek umur, sebaliknya menghindari terkenanya radiasi atau

tercemar zat kimia yang bersifat karsinogenik atau toksis, dapat

memperpanjang umur. Menurut teori ini terjadinya mutasi yang progresif

pada DNA sel somatik, akan menyebabkan terjadinya penurunan

kemampuan fungsional sel tersebut.

Menurut hipotesis ini, menua disebabkan oleh kesalahan yang

beruntun. Setelah berlangsung dalam waktu lama, terjadi kesalahan

transkipsi DNA menjadi RNA, amupun dalam proses translasi RNA ->

protein/enzim. Kesalahan tersebut akan menyebabkan terbentuknya enzim

yang salah sehingga akan terjadi proses metabolisme yang salah dan

kesalahan sintesis protein atau enzim.

3) Rusaknya sistem imun tubuh

Mutasi yang berulang atau perubahan protein pasca translasi dapat

menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali

dirinya sendiri. Jika mutasi somatik, dapat menyebabkan kelaiann pada

antigen permukaan sel, maka hal ini akan dapat menyebabkan sistem

imun tubuh menganggap sel yang mengalami perubahan sebagai zat

asing dan menghancurkannya (autoimun).

Dipihak lain, sistem imun tubuh sendiri, daya pertahanannya

mengalami penurunan pada proses menua, daya serangnya terhadap sel

kanker menjadi menurun, sehingga sel kanker leluasa membelah-belah.

4) Teori menua akibat metabolisme

Page 10: LAPTUT SK 1

Perpanjangan umur berasosiasi dengan tertundanya proses

degenerasi. Perpanjangan kalori akibat penurunan jumlah kalori

disebabkan karena menurunnya salah satu atau beberapa proses

metabolisme. Terjadi penurunan pengeluaran hormon yang merangsang

proliferasi sel, misalnya insulin dan hormon pertumbuhan. Pentingnya

metabolisme sebagai faktor penghambat umur panjang. Beberapa penelitian

menunjukkan keterkaitan tersebut.

5) Kerusakan akibat radikal bebas

Untuk organisme aerobik, radikal bebas terutama terbentuk pada

waktu respirasi di dalam mitokondria karena 90% oksigen yang diambil

tubuh, masuk ke dalam mitokondria. Waktu terjadi proses respirasi tersebut

oksigen dilibatkan dalam mengubah bahan bakar menjadi ATP, melalui

enzim respirasi di dalam mitokondria, maka radikal bebas akan dihasilkan

sebagai zat antara radikal bebas yang terbentuk adalah : superoksida, radikal

bebas hidroksil , peroksida hidrogen. Radikal bebas bersifat merusak

karena sangat reaktif. Walaupun telah ada sistem penangkal, radikal bebas

tetap akan lolos bahakan semakin lanjut usia semakin banyak radikal

bebas terbentuk sehingga proses pengerusakan tetap terjadi. Kerusakan

organel sel makin lama makin banyak dan akhirnya mati.

e) Apakah hubungan usia dan pekerjaan dengan keluhan pasien?

Dilihat dari usia eyang yoso, pasien sudah memasuki fase lanjut

usia dimana fungsi-fungsi dari organ tubuh sudah mulai mengalami

penurunan. Nyeri lutut yang dialami eyang yoso mungkin bisa disebabkan

karena dulu beliau merupakan ABRI yang memiliki mobilitas tinggi dan

mungkin juga ada riwayat trauma yang diderita beliau saat masih muda

dulu yang tentunya menjadi faktor risiko munculnya nyeri lutut eyang yoso

sekarang. Berkurangnya kemampuan pendengaran juga dapat diakibatkan

karena ketika masih di ABRI, beliau sering mendengar suara tembakan dan

Page 11: LAPTUT SK 1

suara2 keras lainnya yang tentunya akan berefek pada organ pendengaran

pasien.

2. a) Apa saja penyakit pada geriatri yang dapat mengakibatkan nyeri lutut

dan lutut sulit digerakkan?

a. Osteoartritis (OA)

Adalah bentuk dari arthritis yang berhubungan dengan degenerasi

tulang dan kartilago yang paling sering terjadi pada usia lanjut.

Osteoartritis, yang juga disebut dengan penyakit sendi degeneratif,

artritis degeneratif, osteoartrosis, atau artritis hipertrofik, merupakan salah

satu masalah kedokteran yang paling sering terjadi dan menimbulkan

gejala pada orang – orang usia lanjut maupun setengah baya. Terjadi pada

orang dari segala etnis, lebih sering mengenai wanita, dan merupakan

penyebab tersering disabilitas jangka panjang pada pasien dengan usia

lebih dari 65 tahun. Lebih dari sepertiga orang dengan usia lebih dari 45

tahun mengeluhkan gejala persendian yang bervariasi mulai sensasi

kekakuan sendi tertentu dan rasa nyeri intermiten yang berhubungan

dengan aktivitas, sampai kelumpuhan anggota gerak dan nyeri hebat yang

menetap, biasanya dirasakan akibat deformitas dan ketidakstabilan sendi.

Sebagian besar pasien dengan osteoartritis datang dengan keluhan

nyeri sendi. Pasien sering menggambarkan nyeri yang dalam,

ketidaknyamanan yang sukar dilokalisasikan, yang telah dirasakan selama

bertahun-tahun. Nyeri dapat bertambah dengan perubahan cuaca,

khususnya dalam cuaca dengan suhu yang dingin, dan aktivitas. Nyeri

yang berhubungan dengan aktivitas biasanya terasa segera setelah

penggunaan sendi dan nyeri dapat menetap selama berjam-jam setelah

aktivitas. Beberapa pasien pada awalnya memperhatikan adanya gejala

penyakit degeneratif sendi ini setelah trauma ringan sendi atau aktivitas

fisik yang berat, pada pemeriksaan radiologis dapat ditemukan perubahan

degenerasi sendi. Pada tahap lanjut, nyeri menjadi konstan hingga dapat

Page 12: LAPTUT SK 1

membangunkan pasien dari tidurnya. Selama degenerasi sendi berlanjut,

pasien dapat mengeluhkan nyeri yang tajam yang dipicu dengan gerakan.

Pembesaran sendi karena pembentukan osteofit dan deformitas muncul

pada tahap akhir dari penyakit.

b. Rheumatoid arthritis (RA)

Merupakan suatu penyakit inflamasi sistematik yang walaupun

manifestasi utamanya adalah poliartritis yang progresif, akan tetapi

penyakit ini juga melibatkan seluruh organ tubuh. Pada umumnya selain

gejala konstitusional berupa kelemahan umum, cepat lelah atau gangguan

organ non artikular lainnya (Sudoyo, 2006)

RA merupakan suatu penyakit inflamasi yang menyebabkan rasa

sakit, pembengkakan, kekakuan dan hilangnya fungsi pada sendi. Yang

mempunyai beberapa keistimewaan yang membuat RA berbeda dari jenis

lainnya dari artritis. Contohnya, RA secara umum terjadi pada pola yang

simetris, artinya jika satu lutut atau tangan yang dilibatkan, yang sisi lain

juga terkena penyakit ini sering mempengaruhi sendi-sendi pergelangan

tangan (wrist joint) dan sendi-sendi jari yang terdekat dari tangan.

Penyakit ini juga mempengaruhi bagian-bagian tubuh lain disamping

sendi-sendi. Dan RA mungkin juga sebagai manifestasi dari penyakit

sistemik (Sudoyo, 2006)

Kriteria diagnostik RA yang dibentuk oleh The American Rheumatism

Association (ARA) pada tahun 1958 telah digunakan selama hampir 30

tahun, akan tetapi dengan berkembangnya pengetahuan dalam bidang RA,

ternyata diketahui bahwa dengan menggunakan kriteria tersebut banyak

dijumpai kesalahan diagnostik. Banyak kasus RA yang luput dari

diagnosis atau sebaliknya, banyak jenis artritis yang didiagnosis sebagai

RA (Sudoyo, 2006)

Page 13: LAPTUT SK 1

Untuk itu pada tahun 1987 ARA telah mempublikasikan susunan

kriteria klasifikasi RA dalam format tradisional yang baru. Kriterianya : 1)

Kaku pagi hari; 2) Artritis pada 3 daerah yaitu pembengkakan jaringan

lunak atau persendian atau lebih efusi (bukan pertumbuhan tulang) pada

sekurang-kurangnya 3 sendi secara bersamaan yang diobservasi oleh

seorang dokter. Dalam kriteria ini terdapat 14 persendiaan yang memenuhi

kriteria yaitu PIP (Proximal Interphalangeal), MCP (Metacarpophalangeal)

kiri dan kanan; 3) Artritis pada persendian tangan (sekurang-kurangnya);

4) Artritis simetris; 5) Nodul reumatoid: nodul subkutan pada penonjolan

tulang atau permukaan ekstensor; 6) Faktor reumatoid serum: terdapatnya

titer abnormal faktor reumatoid serum yang diperiksa dengan cara yang

memberikan hasil positif <5%>

Untuk keperluan klasifikasi, seseorang dikatakan menderita RA

jika ia sekurang-kurangnya memenuhi 4 dari 7 kriteria diatas.

b) Bagaimana patofisiologi sendi sulit digerakkan?

Waktu untuk kontraksi dan relaksasi muskular memanjang. Implikasi dari

hal ini adalah perlambatan waktu untuk bereaksi, pergerakan yang kurang

aktif.

Perubahan kolumna vertebralis, akilosis atau kekakuan ligamen dan sendi,

penyusustan dan sklerosis tendon dan otot, den perubahan degeneratif

ekstrapiramidal. Implikasi dari hal ini adalah peningkatan fleksi.

Pecahnya komponen kapsul sendi dan kolagen. Implikasi dari hal ini

adalah nyeri, inflamasi, penurunan mobilitas sendi da deformitas.

Kekakuan ligamen dan sendi. Implikasi dari hal ini adalah peningkatan

risiko cedera.

c) Apakah jatuh merupakan penyebab kambuhnya nyeri lutut dan lutut

sulit digerakkan?

Jatuh pada lansia dapat menimbulkan komplikasi berupa perlukaan

yaitu rusaknya jaringan lunak yang terasa sangat sakit berupa robek atau

Page 14: LAPTUT SK 1

tertariknya jaringan otot, robeknya arteri / vena. Selain itu bisa terjadi patah

tulang (fraktur) yang bisa terjadi pada: pelvis, femur, humerus, lengan

bawah, tungkai bawah, atau kista.

d) Apa saja faktor risiko nyeri lutut?

Penurunan fungsi sendi, hilangnya elastisitas dan mobilitas sendi,

dan kekakuan sendi cenderung menyebabkan nyeri/ sakit. Selain itu rasa

percaya dan ketepatan gerak berkurang. Terdapat berbagai penyakit artritis

yang menyebabkan kekakuan sendi (ankilosis) dan kontraktur:

- Osteoartritis: begitu seringnya terjadi sehingga dianggap “fisiologik”

- Artritis rematoid: suatu kelainan constitutional. Onset sering pada dewasa

muda tetapi bisa pula diatas 60 tahun.

- Gout dan pseudo gout

- Artropati neuropatik

3. a) Bagaimana interpretasi hasil pemeriksaan?

Hasil dari tekanan darah pasien 190/100 mmHg menunjukan bahwa

pasien mengalami hipertensi sistolik dan diastolik. Berdasarkan klasifikasi

JNC VII pasien tersebut mengalami hipertensi derajat 2. Hipertensi

merupakan kondisi yang sering dialami oleh pasien geriatri. Peningkatan

tekanan darah biasanya seiring dengan meningkatnya usia pada pasien.

Kadar GDS 200 mg/dl juga menunjukan bahwa pasien memiliki

kadar gula darah tinggi. Kadar gula darah tinggi dapat diakibatkan karena

adanya peningkatan resistensi insulin perifer sehingga terjadi penurunan

toleransi glukosa.

Tidak ditemukan proteinuria berarti tidak terjadi kerusakan pada

ginjal pasien

Page 15: LAPTUT SK 1

Pasien juga mengalami penurunan kadar hemoglobin. Penurunan

tersebut mungkin juga disebabkan karena penurunan fungsi organ, dalam hal

ini adalah organ yang berfungsi dalam pembentukan sel darah merah yaitu

sumsum tulang.

b) Bagaimana patofisiologi meningkatnya tekanan darah dan glukosa

darah sewaktu pada pasien geriatri?

Patofisiologi hipertensi pada lansia :

Pada usia lanjut pathogenesis terjadinya hipertensi usia lanjut

sedikit berbeda dengan yang terjadi pada dewasa muda. Faktor yang

berperan pada usia lanjut terutama adalah :

penurunan kadar renin karena menurunnya jumlah nefron akibat proses

menua. Hal ini menyebabkan suatu sirkulus vitiosus : hipertensi-

glomerulo-sklerosis-hipertensi yang berlangsung terus- menerus

peningkatan sensitivitas terhadap asupan natrium. Makin lanjutnya

usia makin sensitive terhadap peningkatan atau penururnan kadar

natrium

penurunan elastisitas pembuluh darah perifer akibat proses menua akan

meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer yang pada akhirnya

akan mengakibatkan hipertensi sistolik saja

perubahan ateromatous akibat proses menua menyebabkan disfungsi

endotel yang berlanjut pada pembentukan berbagai sitokin dan

substansi kimiawi lain yang kemudian menyebabkan resorbsi natrium

di tubulus ginjal, meningkatkan proses sclerosis pembuluh darah

perifer dan keadaan lain yang berakibat pada kenaikan tekanan darah.

Patofisiologi meningkatnya GDS :

Page 16: LAPTUT SK 1

Seiring dengan proses penuaan, semakin banyak lansia yang

berisiko terhadap terjadinya DM, sehingga sekarang dikenal istilah

prediabetes. Prediabetes merupakan kondisi tingginya gula darah puasa

(gula darah puasa 100-125mg/ dL) atau gangguan toleransi glukosa

(kadar gula darah 140- 199mg/dL, 2 jam setelah pembebanan 75 g

glukosa). Modifikasi gaya hidup mencakup menjaga pola makan yang

baik, olah raga dan penurunan berat badan dapat memperlambat

perkembangan prediabetes menjadi DM. Bila kadar gula darah mencapai

>200 mg/dL maka pasien ini masuk dalam kelas Diabetes Melitus

(DM).1 Gangguan metabolisme karbohidrat pada lansia meliputi tiga hal

yaitu resistensi insulin, hilangnya pelepasan insulin fase pertama

sehingga lonjakan awal insulin postprandial tidak terjadi pada lansia

dengan DM, peningkatan kadar glukosa postprandial dengan kadar gula

glukosa puasa normal. Di antara ketiga gangguan tersebut, yang paling

berperanan adalah resistensi insulin. Hal ini ditunjukkan dengan kadar

insulin plasma yang cukup tinggi pada 2 jam setelah pembebanan

glukosa 75 gram dengan kadar glukosa yang tinggi pula. Timbulnya

resistensi insulin pada lansia dapat disebabkan oleh 4 faktor1 perubahan

komposisi tubuh: massa otot lebih sedikit dan jaringan lemak lebih

banyak, menurunnya aktivitas fisik sehingga terjadi penurunan jumlah

reseptor insulin yang siap berikatan dengan insulin, perubahan pola

makan lebih banyak makan karbohidrat akibat berkurangnya jumlah gigi

sehingga, perubahan neurohormonal (terutama insulin-like growth

factor-1 (IGF-1) dan dehidroepiandosteron (DHEAS) plasma) sehingga

terjadi penurunan ambilan glukosa akibat menurunnya sensitivitas

reseptor insulin dan aksi insulin. Selain gangguan metabolisme glukosa,

pada DM juga terjadi gangguan metabolisme lipid sehingga dapat terjadi

peningkatan berat badan sampai obesitas, dan bahkan dapat pula terjadi

hipertensi. Bila ketiganya terjadi pada seorang pasien, maka pasien

tersebut dikatakan sebagai mengalami sindrom metabolik.

Page 17: LAPTUT SK 1

c) Apakah ada hubungan Antara hasil pemeriksaan dengan gejala

pasien?

Seperti yang telah dijelaskan pada nomor 3. a) di atas

bahwa beberapa hasil pemeriksaan menunjukkan di luar batas normal,

maka sebagai manifestasinya adalah munculnya keluhan- keluhan seperti

yang dirasakan oleh pasien.

4. Apakah mata kabur, pendengaran berkurang dan sering lupa

merupakan proses fisiologis ataukkah patologis pada pasien?

Menua merupakan suatu proses menghilangnya secara perlahan-

lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki, mengganti diri dan

mempertahankan struktur dan fungsi normalnya. Dengan demikian menua

ditandai dengan kehilangan secara progresif lean body mass (LBM =

jaringan aktif tubuh) yang sudah dimulai sejak usia 40 tahun disertai dengan

menurunnya metabolisme basal sebesar 2% setiap tahunnya yang disertai

dengan perubahan disemua sistem didalam tubuh manusia.

Beberapa perubahan fisiologis yang terjadi ketika memasuki usia

lanjut adalah :

A. Perubahan pada panca indera terutama rasa

Sekresi saliva berkurang mengakibatkan pengeringan rongga mulut.

Papil-papil pada permukaan lidah mengalami atrofi sehingga terjadi

penurunan sensitivitas terhadap rasa terutama rasa manis dan asin.

Keadaan ini akan mempengaruhi nafsu makan, dan dengan demikian

asupan gizi juga akan terpengaruh. Keadaan ini mulai pada usia 70 tahun.

Perubahan indera penciuman, penglihatan dan pendengaran juga

mengalami penurunan fungsi seiring dengan bertambahnya usia.

B. Esofagus

Lapisan otot polos esofagus dan sfingter gastro esofageal mulai melemah

yang akan menyebabkan gangguan kontraksi dan refluk gastrointestinal

Page 18: LAPTUT SK 1

spontan sehingga terjadi kesulitan menelan dan makan menjadi tidak

nyaman.

C. Lambung

Pengosongan lambung lebih lambat, sehingga orang akan makan lebih

sedikit karena lambung terasa penuh, terjadilah anoreksia. Penyerapan zat

gizi berkurang dan produksi asam lambung menjadi lebih sedikit untuk

mencerna makanan. Diatas umur 60 tahun, sekresi HCl dan pepsin

berkurang, akibatnya absorpsi protein, vitamin dan zat besi menjadi

berkurang. Terjadi overgrowth bakteri sehingga terjadi penurunan faktor

intrinsik yang juga membatasi absorbsi vitamin B12, Penurunan sekresi

asam lambung dan enzim pankreas, fungsi asam empedu menurun

menghambat pencernaan lemak dan protein, terjadi juga malabsorbsi

lemak dan diare.

D. Tulang

Kepadatan tulang akan menurun, dengan bertambahnya usia. Kehilangan

massa tulang terjadi secara perlahan pada pria dan wanita dimulai pada

usia 35 tahun yaitu usia dimana massa tulang puncak tercapai.

Dampaknya tulang akan mudah rapuh (keropos) dan patah, mengalami

cedera, trauma yang kecil saja dapat menyebabkan fraktur.

E. Otot

Penurunan berat badan sebagai akibat hilangnya jaringan otot dan

jaringan lemak tubuh. Presentasi lemak tubuh bertambah pada usia 40

tahun dan berkurang setelah usia 70 tahun. Penurunan Lean Body Mass

( otot, organ tubuh, tulang) dan metabolisme dalam sel-sel otot berkurang

sesuai dengan usia. Penurunan kekuatan otot mengakibatkan orang sering

merasa letih dan merasa lemah, daya tahan tubuh menurun karena terjadi

atrofi. Berkurangnya protein tubuh akan menambah lemak tubuh.

Page 19: LAPTUT SK 1

Perubahan metabolisme lemak ditandai dengan naiknya kadar kolesterol

total dan trigliserida.

F. Ginjal

Fungsi ginjal menurun sekitar 55% antara usia 35 – 80 tahun. Banyak

fungsi yang mengalami kemunduran, contohnya laju filtrasi, ekskresi,

dan reabsorbsi oleh ginjal. Reaksi asam basa terhadap perubahan

metabolisme melambat. Pembuangan sisa-sisa metabolisme protein dan

elektrolit yang harus dilakukan ginjal menjadi beban tersendiri.

G. Jantung dan Pembuluh darah

Perubahan yang terkait dengan ketuaan sulit dibedakan dengan

perubahan yang diakibatkan oleh penyakit. Pada lansia jumlah jaringan

ikat pada jantung (baik katup maupun ventrikel) meningkat sehingga

efisien fungsi pompa jantung berkurang. Pembuluh darah besar terutama

aorta menebal dan menjadi fibrosis. Pengerasan ini, selain mengurangi

aliran darah dan meningkatkan kerja ventrikel kiri,juga mengakibatkan

ketidakefisienan baroreseptor (tertanam pada dinding aorta, arteri

pulmonalis, sinus karotikus). Kemampuan tubuh untuk mengatur tekanan

darah berkurang.

H. Paru-paru

Elastisitas jaringan paru dan dinding dada berkurang,kekuatan kontraksi

otot pernapasan menurun sehingga konsumsi oksigen akan menurun pada

lansia.Perubahan ini berujung pada penurunan fungsi paru.

I. Kelenjar endokrin

Terjadi perubahan dalam kecepatan dan jumlah sekresi,respon terhadap

stimulasi serta struktur kelenjar endokrin. Pada usia diatas 60 tahun

terjadi penurunan sekresi testosteron,estrogen,dan progesteron.

J. Kulit dan rambut

Page 20: LAPTUT SK 1

Kulit berubah menjadi tipis,kering,keriput dan tidak elastis lagi.Rambut

rontok dan berwarna putih,kering dan tidak mengkilat.

K. Fungsi imunologik

L. Penurunan fungsi imunologik sesuai dengan umur yang berakibat

tingginya kemungkinan terjadinya infeksi dan keganasan. Ada

kemungkinan jika terjadi peningkatan pemasukan vitamin dan mineral

termasuk zinc, dapat meniadakan reaksi ini.

5. a) Apakah indikasi penggunaan bisoprolol dan HCT? Apa efek samping

yang ditimbulkan pada pemakaian rutin?

a. BISOPROLOL

Indikasi:

Bisoprolol diindikasikan untuk hipertensi, bisa digunakan sebagai monoterapi atau dikombinasikan dengan antihipertensi lain

Page 21: LAPTUT SK 1

Efek samping:

Sistem saraf pusat: dizziness, vertigo, sakit kepala, parestesia, hipoaestesia, ansietas, konsentrasi berkurang.

Sistem saraf otonom: mulut kering.

Kardiovaskular: bradikardia, palpitasi dan gangguan ritme lainnya, cold extremities, klaudikasio, hipotensi, hipotensi ortostatik, sakit dada, gagal jantung.

Psikiatrik: insomnia, depresi.

Gastrointestinal: nyeri perut, gastritis, dispepsia, mual, muntah, diare, konstipasi.

Muskuloskeletal: sakit otot, sakit leher, kram otot, tremor.

Kulit: rash, jerawat, eksim, iritasi kulit, gatal-gatal, kulit kemerah-merahan, berkeringat, alopesia, angioedema, dermatitis eksfoliatif, vaskulitis kutaneus

Khusus: gangguan visual, sakit mata, lakrimasi abnormal, tinitus, sakit telinga.

Metabolik: penyakit gout.

Pernafasan: asma, bronkospasme, batuk, dispnea, faringitis, rinitis, sinusitis.

Genitourinaria: menurunnya libido/impotensi, penyakit Peyronie, sistitis, kolik ginjal.

Hematologi: purpura

Lain-lain: kelemahan, letih, nyeri dada, peningkatan berat badan.

b. HCT

Indikasi : hipertensi ringan dan sedang dan dalam kombinasi dengan berbagai antihipertensi lain.

Efek samping :

Page 22: LAPTUT SK 1

Terutama dalam dosis tinggi dapat menyebabkan hypokalemia yang berbahaya pada pasien yang mendapat digitalis. Efek samping ini dapat dihindari bila tiazid diberikan dalam dosis rendah atau dikombinasi dengan obat lain seperti diuretic hemat kalium atau ACE-inhibitor sedangkan suplemen kalium tidak lebih efektif

Hiponatremia

Hipomagnesemia

Hiperkalsemia

Menghambat sekresi asam urat dari ginjal

Meningkatkan kadar kolesterol LDL dan trigliserid

Pada penderita DM tiazid dapat menyebabkan hiperglikemia karena mengurangi sekresi insulin

Pada pasien pria gangguan fungsi seksual merupakan efek samping yang kadang- kadang cukup mengganggu

b) Apakah indikasi penggunaan antalgin dan meloxicam?

Farmakologi Meloxicam dan Antalgin

A. MELOXICAM

Meloxicam atau movi-cox yang tergolong dalam generasi

terbaru obat-obatan Non Steroid Anti-Inflamatory Drug (NSAID)

efektif bisa mengobati nyeri dan inflamasi atau rematik (osteoarthritis

dan rheumatoid arthritis).

Farmakokinetik

Kadar puncak dalam plasma dicapai dalam 3 jam setelah pemberian

per oral. Bila diberi bersama makanan yang kaya lemak, kadar puncak

dalam plasma tertunda 1-2 jam. Kadarnya akan menurun sebanyak

37% bila diberikan bersama antasid yang mengandung alumunium dan

magnesium. Celecoxib dimetabolisme oleh sitokrom P450 2C9 dan

Page 23: LAPTUT SK 1

menghasilkan metabolit yang tidak aktif dan diekskresikan melalui

feses sebanyak 57% dan 27% melalui urine.

Cara kerja obat

Artrilox adalah obat NSAI (Non Steroid Anti Inflammatory) baru dari

golongan asam enolat. Mekanisme kerja meloxicam sebagai efek anti-

inflamasi, analgesik, dan antipiretik melalui penghambatan biosintesa

prostaglandin yang diketahui berfungsi sebagai mediator peradangan.

Proses penghambatan oleh meloxicam lebih selektif pada COX2

daripada COX1. Penghambatan COX2 menentukan efek terapi NSAI,

sedang penghambatan COX1 menunjukan efek samping pada lambung

dan ginjal.

Efek samping

- Saluran cerna : dispepsia, rasa mual, muntah-muntah, rasa sakit di

perut,konstipasi, rasa kembung, diare, bersendawa, esofagitis, ulkus

gastro-duodenal, pendarahan gastro-intestinal makroskopik, jarang

terjadi kolitis.

- Fungsi hati menjadi abnormal untuk sementara waktu dengan

peningkatan kadartransaminase dan btlirubin.

- Fungsi ginjal menjadi abnormal dengan peningkatan kadar serum

kreatinin dan/atau serum urea.

- Pada kulit : pruritus, ruam kulit, stomatitis, urtikaria, jarang terjadi

fotosensitisasi.

- Anemia, gangguan jumlah sel darah : lekosit, lekopenia dan

trombosito penia. Bila diberikan bersama-sama dengan obat

mielotoksik yang potent, terutama methotrexate, akan menyebabkan

terjadinya sitopenia.

Page 24: LAPTUT SK 1

Kardiovaskuler: edema, peningkatan tekanan darah, palpitasi, muka

kemerahan.

- Pernafasan : jarang terjadi timbulnya asma akut setelah pemberian

aspirin atau obat-obat NSAI lainnya termasuk meloxicam. Sistem

susunan saraf pusat : kepala terasa ringan, pusing, vertigo, tinitus,

ngantuk.

Interaksi obat

Secara umum berinteraksi dengan obat yang menghambat sitokrom

P450 2C9. Potensial berinteraksi dengan flukonazol, litium,furosemid,

dan inhibitor ace.

Tidak ada interaksi yang secara klinis bermakna dengan gliburid,

ketokonazol, metotreksat, fenitoin, dan tolbutamid.

A. METAMPIRON

Metampiron atau disebut juga antalgin merupakan obat

analgesik-antipiretik kuat dari derivat pirazolon. Dalam pasaran obat

ini sering dikombinasikan dengan Tiamin monohidrat (vitamin B1)

untuk memperkuat efek analgetiknya.

Metampiron ditemukan pada tahun 1946. Merupakan obat

analgesik golongan NSAID atau analgesik non steroid.

Page 25: LAPTUT SK 1

C13H16N3NaO4S.H2O

Dalam bentuk aslinya adalah hablur putih atau putih kekuningan.

Ada 3 efek farmakodinamik metampiron yaitu:

- Analgesik, digunakan untuk mengobati nyeri akut atau kronik hebat

bila analgesik lain tidak menolong

- Antipiretik, menurunkan demam bila tidak dapat diatasi dengan

antipiretik lain

- Anti-Inflamasi, efek anti radang yang dihasilkan rendah

Metampiron sangat baik diabsorbsi oleh saluran cerna, kadar

tertinggi dalam plasma dicapai saat 30-45 menit dan memiliki masa

paruh plasma saat 1-4 jam. Obat ini dimetabolisme oleh enzim

mikrosom hati dan diekskresi oleh ginjal.

Dalam pasaran, metampiron terdapat dalam bentuk sediaan

tablet / kaplet 500 mg dan larutan injeksi.

Page 26: LAPTUT SK 1

Dosis yang digunakan adalah 3 kali sehari 1 tablet (500mg), maksimum

3 gram sehari.

Untuk anak 6-12 tahun diberikan setengah dosis dewasa, maksimal 2

gram sehari.

Untuk anak kurang dari 6 tahun diberikan setengah dosis dewasa,

maksimal 1 gram sehari.

Penggunaan dosis suntik tidak boleh lebih dari 1 gram sehari, karena

dapat menimbulkan syok.

Kontra Indikasi :

- Reaksi hipersensitifitas

- Wanita hamil, terutama 3 bulan pertama dan 6 minggu terakhir

- Penderita glaukoma sudut sempit

Efek samping dapat muncul seperti gejala kepekaan (ruam,

alergi). Pada penggunaan teratur dan jangka panjang dapat

menyebabkan gangguan saluran cerna, tinitus (telingga berdenging),

anemia aplastik atau gangguan / terhambatnya pembentukan sel darah

merah. Efek samping lainnya yaitu peradangan mulut, hidung,

tenggorokan serta tremor, syok hingga menimbulkan agranulositosis

yaitu berkurangnya jumlah granulosit dalam darah.

c) Apakah antalgin dan meloxicam aman dikonsumsi secara bebas

tanpa resep dokter?

Antalgin kurang aman dikonsumsi secara bebas tanpa resep

dokter mengingat efek sampingnya yang dapat menyebabkan

agranulositosis. Demikian juga dengan meloxicam karena mengingat

efek sampingnya yang banyak.

6. a) Bagaimana tatalaksana pada pasien ini?

Pasien dalam skenario ini menderita beberapa penyakit,

maka perlu diperhatikan penggunaan obat secara rasional pada usia lanjut.

Penyakit pada usia lanjut cenderung terjadi pada banyak organ, sehingga

Page 27: LAPTUT SK 1

pemberian obat juga cenderung bersifat polifarmasi, belum lagi kalau

diingat kecenderungan mengunjungi banyak dokter, sehingga polifarmasi

lebih sering terjadi. Polifarmasi selain menyangkut biaya yang besar untuk

pembelian obat juga banyak menyebabkan terjadinya interaksi obat, efek

samping obat dan reaksi sampingan yang merugikan. Perlu diingat pula

bahwa bahkan proses menua yang fisiologis pun menyebabkan perubahan

farmakokinetik dan farmakodinamik obat, juga penurunan fungsi dari

berbagai organ, sehingga tingkat keamanan obat dan efektivitas obat

berubah. Rejimen pengobatan usia lanjut :

- Periode pengobatan jangan dibuat terlalu lama agar bisa diadakan re-

evaluasi secepatnya atas pengobatan yang diberikan

- Jumlah/ jenis obat haruslah dibuat seminimal mungkin. Penderita lansia

lebih sering keliru bila mendapatkan obat lebih dari 3 jenis. Untuk hal ini

terdapat pedoman penulisan resep bagi lansia, sebagai berikut :

Obat harus diberikan atas diagnosis pasti. Hindari sekecil mungkin

pemberian obat atas dasar simtom

Harus diketahui dengan jelas efek obat, mekanisme kerja, dosis

dan efek samping yang mungkin timbul. Apabila ragu- ragu, lebih

baik tidak memberi obat

Apabila diperlukan pemberian polifarmasi, prioritaskan pemberian

obat yang ditujukan untuk mengurangi gangguan fungsional

Pemberian obat harus dimulai dengan dosis kecil, kemudian

dititrasi setelah beberapa hari (kecuali anti-infeksi harus langsung

dosis optimal)

- Frekuensi pemberian obat harus diupayakan sesedikit mungkin, kalau

mungkin sekali sehari. Upayakan memberinya bersamaan dengan kegiatan

rutin harian, misalnya makan.

Page 28: LAPTUT SK 1

Pada skenario ini disebutkan bahwa pasien rutin mengkonsumsi

HCT. HCT ini digunakan untuk mengobati hipertensi. Pemilihan HCT

sebagai terapi sudah tepat karena pilihan pertama pengobatan hipertensi

pada usia lanjut adalah CCB (Calcium Channel Blocker) atau Diuretic

tiazid. HCT termasuk golongan diuretic tiazid dan biasanya sering

dikombinasikan dengan obat hipertensi lain untuk mengoptimalkan efek

kerjanya. Namun penggunaan jangka panjang obat ini memiliki efek

samping , salah satunya hipotensi ortostatik. Oleh karena itu sangat

tpenting bagi dokter untuk selalu melakukan monitoring terhadap

pengobatan ini.

b) Apa saja upaya preventif untuk mencegah jatuh tiba- tiba pada

pasien geriatri?

Pada pasien lansia yang baru pertama kali jatuh harus

dilakukan pemeriksaan gaya berjalan dan fungsi keseimbangan dan

kemudian dilakukan evaluasi. Pada lansia yang jatuh berulang

dilakukan assesmen tentang obat- obatan yang digunakan, fungsi

penglihatan, pemeriksaan gaya berjalan dan keseimbangan, fungsi

ekstremitas bawah, fungsi neurologi dan kardiovaskular.

Ada 3 usaha pokok untuk pencegahan, antara lain :

1. Identifikasi faktor risiko

Pada setiap lansia perlu dilakukan pemeriksaan untuk

mencari adanya faktor intrinsic risiko jatuh, perlu dilakukan

assesmen keadaan sensorik, neurologik, musculoskeletal dan

penyakit sistemik yang sering mendasari jatuh. Keadaan

lingkungan rumah yang berbahaya dan dapat menyebabkan jatuh

harus dihilangkan. Penerangan rumah harus cukup tetapi tidak

menyilaukan. Lantai rumah datar, tidak licin, bersih dari benda-

benda kecil yang susah dilihat. Peralatan rumah tangga yang sudah

tidak aman sebaiknya diganti. Kamar mandi dibuat tidak licin,

Page 29: LAPTUT SK 1

diberi pegangan pada dindingnya, pintu yang mudah dibuka, dan

lain- lain. Obat- obatan yang berperan terhadap jatuh, misalnya

karena menyebabkan hipotensi ortostatik, juga perlu untuk

diwaspadai. Alat bantu berjalan yang dipakai lansia harus dibuat

dari bahan yang kuat tetapi ringan, aman tidak mudah bergeser

serta sesuai dengan ukuran tinggi badan lansia.

2. Penilaian pola berjalan dan keseimbangan

A. Penilaian pola berjalan secara klinis

Pola jalan normal dibagi 2 fase yaitu :

1. Fase pijakan (stance phase) : fase dimana kaki bersentuhan

dengn pijakan.

2. Swing phase : fase dimana kaki tidak menyentuh pijakan

Dalam pola jalan lansia ada beberapa perubahan yang mungkin

terjadi, di antaranya :

- Sedikit ada rigiditas pada anggota gerak terutama anggota

gerak atas lebih dari anggota gerak bawah. Rigiditas akan

hilang jika tubuh bergerak.

- Gerakan otomatis menurun, amplitude dan kecepatan

berkurang, seperti hilangnya ayunan tangan saat berjalan

- Hilangnya kemampuan untuk memanfaatkan gravitasi

sehingga kerja otot meningkat

- Hilangnya ketepatan dan kecepatan otot, khususnya otot

penggerak sendi panggul

- Langkah lebih pendek agar merasa lebih aman

Page 30: LAPTUT SK 1

- Penurunan perbandingan antara fase mengayun terhadap fase

menumpu

- Penurunan rotasi badan terjadi karena efek sekunder

kekakuan sendi

- Penurunan ayunan tungkai saat fase mengayun

- Penurunan sudut antara tumit dan lantai

- Penurunan irama jalan

- Penurunan rotasi gelang bahu dan panggul

- Penurunan kecepatan ayunan lengan dan tungkai

B. Pemeriksaan keseimbangan

Seharusnya dilakukan saat berdiri secara statis dan dinamik,

termasuk pemeriksaan kemampuan untuk bertahan terhadap

ancaman baik internal dan eksternal.

c) Bagaimana meningkatkan kualitas hidup lansia?

Sebagai wujud komitmen pemerintah dalam pemenuhan

dan perlindungan Lansia, maka telah disusun Rencana Aksi Nasional

Lanjut Usia (RAN-LU) Tahun 2009–2014 dan ditandatangani oleh

Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik

Indonesia pada bulan Desember 2008.

Di dalam RAN-LU 2009-2014 tercantum gambaran umum

pelaksanaan 9 Aksi, yaitu :

1. Membentuk dan memperkuat Kelembagaan Lanjut Usia.

2. Memperkuat Koordinasi Antar Instansi dan Institusi terkait.

3. Memperkuat Penanganan terhadap Lanjut Usia Miskin, Terlantar,

Cacat dan mengalami Tindak Kekerasan.

Page 31: LAPTUT SK 1

4. Memelihara dan memperkuat dukungan Keluarga dan Masyarakat

terhadap Kehidupan Lanjut Usia.

5. Memantapkan Upaya Pelayanan Kesehatan bagi Lanjut usia.

6. Meningkatkan Kualitas Hidup Lanjut Usia baik dari Aspek

Ekonomi, Mental Keagamaan, Aktualisasi dan Kualitas Diri

Lanjut Usia.

7. Meningkatkan Upaya Penyediaan Sarana dan Fasilitas Khusus bagi

Lanjut Usia.

8. Meningkatkan Upaya Mutu Pendidikan Kemandirian bagi Lanjut

Usia.

9. Meningkatkan Jaringan Kerjasama Internasional.

Selain itu, Kementerian Kesehatan telah merumuskan

berbagai kebijakan, program dan kegiatan yang dapat menunjang

derajat kesehatan dan mutu kehidupan lanjut usia. Program pokok

kesehatan menanamkan pola hidup sehat dengan lebih

memprioritaskan upaya pencegahan penyakit (preventif) dan

peningkatan kesehatan (promotif), tanpa mengabaikan upaya

pengobatan (kuratif) dan rehabilitatif.

Tujuan Program Kesehatan Lanjut Usia adalah

meningkatkan derajat kesehatan lanjut usia agar tetap sehat, aktif,

mandiri dan berdaya guna baik bagi dirinya sendiri, keluarga maupun

masyarakat. Sehat dan aktif di usia lanjut mempunyai makna bahwa

kita harus meningkatkan derajat kesehatan dari para lanjut usia

sehingga mereka mempunyai kesempatan untuk dapat berperan serta

dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, dapat berbagi

pengalaman dan pikiran yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas

hidup para lanjut usia. Dengan makin berkembangnya pengetahuan

yang mempelajari tentang lanjut usia (ilmu Geriatri) melalui upaya

promotive, preventif, kuratif dan rehabilitatif, telah mengupayakan

agar para lanjut usia dapat menikmati masa tua yang bahagia dan

Page 32: LAPTUT SK 1

berguna. Dengan demikian maka aspek-aspek yang dapat

dikembangkan adalah upaya pencegahan agar proses menua

(degeneratif) dapat di jalani dalam keadaan tetap sehat, sebaliknya

yang sudah tua dan mengalami masalah kesehatan perlu dipulihkan

(rehabilitatif) agar tetap mampu mengerjakan kehidupan sehari-hari

secara mandiri.

Di samping itu para lanjut usia perlu untuk

mempertahankan pola hidup sehat yakni dengan mengkonsumsi

makanan yang bergizi seimbang, melakukan aktivitas fisik/olahraga

secara benar dan teratur, tidak merokok, hindari faktor resiko penyakit

degeneratif, memeriksakan kesehatan secara teratur, terus menyalurkan

hobby dan kebiasaan yang bermanfaat, serta tingkatkan keimanan dan

ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal-hal tersebut perlu terus

diperhatikan dan disosialisasikan kepada masyarakat baik kepada

lanjut usia maupun yang masih berusia muda.

DAFTAR PUSTAKA

Darmojo, Boedhi. 2011. Geriatri. Jakarta: Balai penerbit FK UI .Edisi

ke-4

Page 33: LAPTUT SK 1

Kuliah Pengantar Blok Geriatri oleh dr. Fatichati, Sp.PD

Kurniawan, Indra. 2010. Diabetes Melitus Tipe 2 Pada Usia Lanjut.

http://webcache.googleusercontent.com/search?

q=cache:cum_5QgGyjIJ:indonesia.digitaljournals.org/index.php/id

nmed/article/download/511/508+&cd=1&hl=id&ct=clnk – Diakses

Maret 2014

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Page 34: LAPTUT SK 1

Penyakit pada populasi usia lanjut berbeda perjalanan dan penampilannya dengan yang terdapat pada populasi lain. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa pada usia lanjut :

- Penyakit bersifat multipatologik atau mengenai multiorgan/ sistem, bersifat degenerative, saling terkait

- Penyakit biasanya bersifat kronis, cenderung menyebabkan kecacatan lama sebelum terjadinya kematian

- Sering terdapat polifarmasi dan iatrogenesis

- Biasanya juga mengandung komponen psikologik dan social

- Usia lanjut juga lebih sensitif terhadap penyakit akut

Maka jelas bahwa pelayanan kesehatan pada usia lanjut berbeda dengan pelayanan kesehatan pada golongan populasi lain.

SARAN

Diharapkan supaya mahasiswa lebih mempersiapkan diri ketika melakukan kegiatan tutorial sehingga diskusi dapat berjalan lebih lancar.