Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

Embed Size (px)

Text of Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    1/32

    BAB I

    PENDAHULUAN

    Polip nasi merupakan massa udematous yang lunak berwarna putih atau

    keabu-abuan yang terdapat di dalam rongga hidung dan berasal dari

    pembengkaan mukosa hidung atau sinus. Prevalensi yang pasti dari polip nasi

    belum ada datanya, oleh karena studi epidemiologi yang dilakukan dan hasilnya

    bergantung pada populasi studi serta metodenya.1,2

    Etiologi dan patogenesis dari polip nasi belum diketahui secara pasti.

    Sampai saat ini, polip nasi masih banyak menimbulkan perbedaan pendapat.

    Dengan patogenesis dan etiologi yang masih belum ada kesesuaian, maka

    sangatlah penting untuk dapat mengenali gejala dan tanda polip nasi untuk

    mendapatkan diagnosis dan pengelolaan yang tepat.

    1

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    2/32

    BAB II

    LAPORAN KASUS

    2.1. Identitas

    Nama : M. Zulfi Fauzan

    Umur : 11 tahun

    Jenis Kelamin : Laki-laki

    Pekerjaan : Pelajar

    Suku/Bangsa : Indonesia

    Alamat : Lingkungan IV Rt 008 kec Indralaya Mulya.

    No. Rekmed : 106486

    Tanggal Masuk RS : 01 Januari 2012

    2.2. Anamnesis

    Keluhan utama :

    Hidung kanan tersumbat (buntu) sejak 1 tahun yang lalu.

    Keluhan tambahan :

    sakit kepala dan demam

    Riwayat Perjalanan Penyakit :

    1 tahun SMRS Penderita mengeluh hidung tersumbat yang menetap.

    Penderita juga mengeluh sering pilek, demam, dan sakit kepala. Akibat

    sumbatan tersebut, penderita merasa sulit bernafas dan saat tidur penderita

    mengorok.

    2 minggu SMRS penderita mengaku tampak ada benjolan di lubang

    hidung kanan. Penderita juga mengeluhkan gangguan penciuman yang mulai

    berkurang sejak 2 minggu yang lalu.

    Riwayat asma, alergi makanan/obat-obatan tertentu disangkal.

    Riwayat bersin-bersin pada pagi hari disangkal. Riwayat gigi berlubang

    2

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    3/32

    pada geraham kanan. Tidak ada keluhan pada telinga, pendengaran, maupun

    tenggorokan.

    Riwayat pengobatan : Penderita tidak pernah minum obat apapun

    semenjak keluhan muncul.

    Riwayat Penyakit Sebelumnya

    Riwayat menderita amandel (tonsilitis kronis) sejak 4 tahun yang lalu

    namun belum pernah dioperasi.

    Pasien sering menderita pilek dan demam

    Riwayat dengan keluhan yang sama sebelumnya disangkal

    Riwayat Penyakit Keluarga :

    Tidak ada keluarga yang menderita penyakit serupa dengan pasien

    Riwayat atopik dalam keluarga disangkal

    Tidak ada riwayat asma pada keluarga.

    2.3. Pemeriksaan Fisik

    a. Keadaan Umum

    Kesadaran : Compos mentis

    Nadi : 81 x/menit

    Pernapasan : 20 x/menit

    Suhu : 37,7 0C

    Status Generalis

    - Kepala : normocephali, wajah simetrisMata : konjungtiva anemis (-)/(-), sklera ikterik (-)/(-)

    - Leher : pembesaran KGB (-)

    - Thoraks

    Paru

    a) Inspeksi : simetris, retraksi interkosta (-)/(-)

    b) Palpasi : vokal fremitus dextra = sinistra

    c) Perkusi : sonor pada semua lapang paru

    3

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    4/32

    d) Auskultasi : vesikular (+)/(+) normal, wheezing (-)/(-), ronki (-)/(-)

    Jantung

    a) Inspeksi : tidak tampak iktus kordis

    b) Palpasi : tidak ditemukan kelainan

    c) Perkusi :

    Batas atas : ICS II linea midklavikularis sinistra

    Batas kanan : ICS IV V linea parasternalis dextra

    Batas kiri : ICS V linea mid aksilaris anterior sinistra

    d) Auskultasi : S1/S2 reguler, gallop (-), murmur (-)

    - Abdomen

    Inspeksi : datar, lemas

    Palpasi : teraba massa (-), pembesaran hepar-lien (-)

    Perkusi : timpani

    Auskultasi : BU (+) normal

    - Ekstremitas

    a) Superior : akral hangat, deformitas (-)/(-), gangguan fungsi dan

    gerak (-)/(-)

    b) Inferior : akral hangat, deformitas (-)/(-), gangguan fungsi dan

    gerak (-)/(-)

    b. Pemeriksaan Khusus

    Status Lokalis THT

    Telinga

    Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra

    Daun telinga

    Kel kongenital Tidak ada Tidak ada

    Trauma Tidak ada Tidak ada

    Radang Tidak ada Tidak ada

    Kel. Metabolik Tidak ada Tidak ada

    Nyeri tarik Tidak ada Tidak ada

    Nyeri tekan tragus Tidak ada Tidak ada

    Cukup lapang (N) Cukup lapang (N) Cukup lapang(N)

    4

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    5/32

    Dinding liang

    telinga Sempit

    Hiperemis Tidak ada Tidak ada

    Edema Tidak ada Tidak ada

    Massa Tidak ada Tidak ada

    Sekret/serumen

    Ada / Tidak Tidak ada Tidak ada

    Bau Tidak ada Tidak ada

    Warna Tidak ada Tidak ada

    Jumlah Tidak ada Tidak ada

    Jenis Tidak ada Tidak ada

    Membran timpani

    Utuh

    Warna Putih mengkilat Putih mengkilat

    Reflek cahaya (+) arah jam 5 (+) arah jam 7

    Bulging Tidak ada Tidak ada

    Retraksi Tidak ada Tidak ada

    Atrofi Tidak ada Tidak ada

    Perforasi

    Jumlah perforasi Tidak ada Tidak ada

    Jenis Tidak ada Tidak ada

    Kwadran Tidak ada Tidak ada

    pinggir Tidak ada Tidak ada

    Hidung

    Pemeriksaan Kelainan Dektra Sinistra

    Hidung luar

    Deformitas Tidak ada

    Tidak ada

    Tidak ada

    Kelainan kongenital

    Trauma

    Radang

    5

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    6/32

    Tidak ada

    Tidak ada

    Massa

    Sinus paranasal

    Pemeriksaan Dekstra Sinistra

    Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada

    Nyeri ketok Tidak ada Tidak ada

    Rinoskopi Anterior

    Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra

    Cavum nasi

    Cukup lapang (N) - +

    Sempit + -

    Lapang - -

    Sekret

    Lokasi Tidak ada Tidak ada

    Jenis Tidak ada Tidak ada

    Jumlah Tidak ada Tidak ada

    Bau Tidak ada Tidak ada

    Konka inferior Ukuran Eutrofi Eutrofi

    Warna Merah muda Merah muda

    Permukaan Rata Rata

    Edema Tidak ada Tidak ada

    Septum

    Cukup

    lurus/deviasi

    Cukup lurus Cukup lurus

    Permukaan Rata, licin Rata, licin

    Warna Merah muda Merah muda

    Spina Tidak ada Tidak ada

    Krista Tidak ada Tidak ada

    6

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    7/32

    Abses Tidak ada Tidak ada

    Perforasi Tidak ada Tidak ada

    Massa

    Lokasi Meatus

    medius

    Tidak ada

    Bentuk Bulat lonjong Tidak ada

    Ukuran Tidak bisa

    dinilai

    Tidak ada

    Permukaan Licin Tidak ada

    Warna Putih keabu-

    abuan

    Tidak ada

    Konsistensi Lunak, tidak

    rapuh, tidak

    mudah

    berdarah

    Tidak ada

    Orofaring dan mulut

    Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra

    Palatum mole +

    Arkus Faring

    Simetris/tidak Simetris Simetris

    Warna Merah muda Merah muda

    Edema Tidak ada Tidak ada

    Bercak/eksudat Tidak ada Tidak ada

    Dinding faring Warna Merah muda Merah muda

    Permukaan Licin Licin

    Ukuran T3 T2

    Warna Merah muda Merah muda

    Permukaan - -

    Muara kripti Melebar Melebar

    Detritus Tidak Ada Tidak Ada

    Eksudat Tidak ada Tidak ada

    7

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    8/32

    Tonsil Perlengketan

    dengan pilarTidak ada Tidak ada

    Gigi Karies/Radiks M1 atas Tidak ada

    Kesan Karies

    Lidah

    Warna Merah muda Merah muda

    Bentuk Normal Normal

    Deviasi Tidak ada Tidak ada

    Massa Tidak ada Tidak ada

    Pemeriksaan Kelenjar getah bening leher : tidak ada pembesaran KGB

    Inspeksi : Tidak terlihat adanya pembesaran kelenjar getah bening.

    Palpasi : Tidak tampak adanya pembesaran kelenjar getah bening.

    2.4. Pemeriksaan Penunjang

    Pemeriksaan Laboratorium Darah- Hemoglobin : 14,1 gr/dl

    - Leukosit : 11.900 /cm2

    - Diff. Count : 3/0/0/48/41/8 (shift to the right)

    - Hematokrit : 39%

    - Trombosit : 339.000 / L

    - Cloting Time : 7

    - Bleeding Time : 2

    Kesan : kemungkinan terdapat infeksi kronik

    2.5. Resume

    Penderita, laki-laki usia 11 tahun datang dengan keluhan hidung

    tersumbat yang menetap sejak 1 tahun yang lalu.. Penderita juga mengeluh

    sering pilek, demam, dan sakit kepala. Akibat sumbatan tersebut, penderita

    merasa sulit bernafas dan saat tidur penderita mengorok. 2 minggu SMRS

    8

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    9/32

    penderita mengaku tampak ada benjolan di lubang hidung kanan. Penderita

    juga mengeluhkan gangguan penciuman yang mulai berkurang. Riwayat

    asma, alergi makanan/obat-obatan tertentu disangkal. Riwayat bersin-bersin

    pada pagi hari disangkal. Riwayat gigi berlubang pada geraham kanan atas.

    Penderita tidak pernah minum obat apapun semenjak keluhan muncul.

    Keluhan timbul benjolan pada hidung kanan pertama kali dirasakan

    penderita. Tidak ada keluarga yang menderita penyakit serupa dengan

    pasien. Riwayat atopik dalam keluarga disangkal.

    Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik generalis ditemukan dalam batas

    normal. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik khusus Rhinoskopi Anterior :

    Tampak massa di meatus medius, bentuk bulat lonjong, permukaan licin,

    warna putih keabu-abuan, konsistensi lunak, tidak rapuh, tidak mudah

    berdarah, mudah digoyang.

    Orofaring dan Mulut :

    Tonsil : T3-T2, warna merah muda, muara kripti melebar, detritus (+)

    Gigi : karies pada M1 atas dextra

    2.6 Diagnosis Banding

    a. Polip Nasal Dextra Stadium 3

    b. Konkha hipertrofi

    2.7. Diagnosis Kerja

    Polip nasal dextra stadium 3

    Diagnosis Tambahan: Susp Tonsilitis Kronis et Karies gigi

    2.8. Usulan Pemeriksaan Penunjang

    - Nasoendoskopi, untuk memastikan adanya polip nasal maupun

    sinus dan untuk menentukan letak polip nasal tersebut

    - Rontgen foto polos sinus paranasal,

    - Biopsi massa polip

    2.9. Penatalaksanaan

    9

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    10/32

    a. Non Medikamentosa

    - Menjelaskan tentang penyakit yang diderita pada pasien dan anggota

    keluarga serta menjelaskan juga komplikasi yang mungkin terjadi.

    - Menjelaskan tentang terapi yang dapat dilakukan terhadap penderita dan

    komplikasi yang mungkin terjadi.

    - Berobat ke dokter gigi untuk pengananan gigi yang berlubang.

    - Kontrol post operatif ke poliklinik THT.

    b. Medikamentosa

    - IVFD RL gtt XX/mnt

    - Sefuroksim inj 2x375 mg

    - paracetamol 3x500 mg

    - Pro polipektomi dextra

    2.10. Prognosis

    a. Quo ad vitam : ad bonam

    b. Quo ad fungsionam : ad bonam

    c. Quo ad sanationam : dubia ad bonam

    2.11. Follow Up Post Tonsilektomi

    Pasien dilakukan tindakan operasi pada hari senin tanggal 03

    Desember 2012 pukul 13.00 WIB.

    a. selasa / 04 Desember 2012 / 08.00 WIB

    Subjektif Objektif Assesment Rencana Terapi

    - Nyeri setelah

    operasi- Darah yang

    mengalir dari

    dalam mulut

    berkurang

    - Demam

    Vital Sign

    N : 89 x/menitRR : 23 x/menit

    Temp 37,3 0C

    Pemeriksaan Khusus

    hidung

    - Terpasang tampon

    di R nasalis Dx

    - Perdarahan (+) aktif

    - Nyeri (+)

    Post

    polipektomiec. Polip nasi

    dextra hari

    ke 1

    - IVFD RL gtt

    XX/mnt- Inj. Sharox 2x375

    mg

    - Inj. Asam

    Tranexamat 2 x

    375 mg

    - Paracetamol

    3x250 mg

    - Cetirizin

    1x5 mg tab

    - Diet BB

    10

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    11/32

    b. Rabu / 05 Desember 2012 / 07.30 WIB

    Subjektif Objektif Assesment Rencana Terapi

    - Demam

    - Nyeri post op

    berkurang

    - Perdarahan (+)

    tidak aktif

    Vital Sign

    N : 92 x/menit

    RR : 21 x/menit

    Temp 37,5 0C

    Pemeriksaan Khusus

    hidung

    - Terpasang tampon

    di R nasalis Dx

    - Perdarahan (+) tidak

    aktif

    - Nyeri (-)

    Post

    polipektomi

    ec. Polip nasi

    dx hari ke 2

    - IVFD RL gtt

    XX/mnt

    - Inj. Sharox 2x375

    mg

    - Inj. Asam

    Tranexamat 2 x

    375 mg

    - Paracetamol

    3x250 mg

    - Cetirizin

    1x5 mg tab

    - Diet BB

    c. Kamis / 06 Desember 2012/ 07.30

    Subjektif Objektif Assesment Rencana Terapi

    - Demam (-)

    - Nyeri post op

    (-)

    - Perdarahan (+)

    tidak aktif

    Vital Sign

    N : 91 x/menit

    RR : 22 x/menit

    Temp 36,9 0C

    Pemeriksaan Khusushidung

    - Terpasang tampon

    di R nasalis Dx

    - Perdarahan (+) tidak

    aktif

    - Nyeri (-)

    Post

    polipektomi

    ec. Polip nasi

    dx hari ke 3

    - IVFD RL gtt

    XX/mnt

    - Inj. Sharox 2x375

    mg

    - Inj. Asam

    Tranexamat 2 x375 mg

    - Paracetamol

    3x250 mg

    - Cetirizin

    1x5 mg tab

    - Diet BB

    d. Jumat/ 07 Desember 2012 / 08.00

    Subjektif Objektif Assesment Rencana Terapi

    - Demam (-)

    - Nyeri post op

    (-)

    - Perdarahan (-)

    tidak aktif

    Vital Sign

    N : 92 x/menit

    RR : 21 x/menit

    Temp 36,9 0

    Pemeriksaan Khusus

    hidung

    - Terpasang tampon

    di R nasalis Dx

    - Perdarahan (+) tidak

    aktif

    Post

    polipektomi

    ec. Polip nasi

    dx hari ke 4

    - Rencana

    pulang

    - Aff ifus

    Ganti oral

    - Cefotaxim

    2x250 mg tab

    - Paracetamol

    3x 250 mg tab

    - Cetirizin

    1x5 mg tab

    11

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    12/32

    - Nyeri (-)

    BAB III

    TINJAUAN PUSTAKA

    3.1 Anatomi Hidung 3,4

    Gambar 1. Anatomi Hidung

    A. Hidung Luar

    Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian bagiannya dari atas ke

    bawah :

    1. Pangkal hidung (bridge)

    2. Dorsum nasi

    12

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    13/32

    3. Puncak hidung

    4. Ala nasi

    5. Kolumela

    6. Lubang hidung (nares anterior)

    Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi

    kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yaitu M. Nasalis pars transversa dan M.

    Nasalis pars allaris. Kerja otot otot tersebut menyebabkan nares dapat melebar

    dan menyempit. Batas atas nasi eksternus melekat pada os frontal sebagai radiks

    (akar), antara radiks sampai apeks (puncak) disebut dorsum nasi. Lubang yang

    terdapat pada bagian inferior disebut nares, yang dibatasi oleh :

    - Superior : os frontal, os nasal, os maksila

    - Inferior : kartilago septi nasi, kartilago nasi lateralis, kartilago alaris

    mayorb dan kartilago alaris minor

    Dengan adanya kartilago tersebut maka nasi eksternus bagian inferior

    menjadi fleksibel.

    Perdarahan :

    1. A. Nasalis anterior (cabang A. Etmoidalis yang merupakan cabang dari

    A. Oftalmika, cabang dari a. Karotis interna).

    2. A. Nasalis posterior (cabang A.Sfenopalatinum, cabang dari A.

    Maksilaris interna, cabang dari A. Karotis interna)

    3. A. Angularis (cabang dari A. Fasialis)

    Persarafan :

    1. Cabang dari N. Oftalmikus (N. Supratroklearis, N. Infratroklearis)

    2. Cabang dari N. Maksilaris (ramus eksternus N. Etmoidalis anterior)

    B. Kavum Nasi

    Dengan adanya septum nasi maka kavum nasi dibagi menjadi dua ruangan

    yang membentang dari nares sampai koana (apertura posterior). Kavum nasi ini

    berhubungan dengan sinus frontal, sinus sfenoid, fossa kranial anterior dan fossa

    kranial media. Batas batas kavum nasi :

    Posterior : berhubungan dengan nasofaring

    13

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    14/32

    Atap : os nasal, os frontal, lamina kribriformis etmoidale,

    korpus sfenoidale dan sebagian os vomer

    Lantai : merupakan bagian yang lunak, kedudukannya hampir

    horisontal, bentuknya konkaf dan bagian dasar ini lebih

    lebar daripada bagian atap. Bagian ini dipisahnkan

    dengan kavum oris oleh palatum durum.

    Medial : septum nasi yang membagi kavum nasi menjadi dua

    ruangan (dekstra dan sinistra), pada bagian bawah

    apeks nasi, septum nasi dilapisi oleh kulit, jaringan

    subkutan dan kartilago alaris mayor. Bagian dari

    septum yang terdiri dari kartilago ini disebut sebagai

    septum pars membranosa = kolumna = kolumela.

    Lateral : dibentuk oleh bagian dari os medial, os maksila, os

    lakrima, os etmoid, konka nasalis inferior, palatum dan

    os sfenoid.

    Konka nasalis suprema, superior dan media merupakan tonjolan dari

    tulang etmoid. Sedangkan konka nasalis inferior merupakan tulang yang terpisah.

    Ruangan di atas dan belakang konka nasalis superior adalah resesus sfeno-etmoid

    yang berhubungan dengan sinis sfenoid. Kadang kadang konka nasalis suprema

    dan meatus nasi suprema terletak di bagian ini.

    Perdarahan :

    Arteri yang paling penting pada perdarahan kavum nasi adalah

    A.sfenopalatina yang merupakan cabang dari A.maksilaris dan A. Etmoidale

    anterior yang merupakan cabang dari A. Oftalmika. Vena tampak sebagai pleksus

    yang terletak submukosa yang berjalan bersama sama arteri.

    Persarafan :

    1. Anterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari N. Trigeminus

    yaitu N. Etmoidalis anterior

    2. Posterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari ganglion

    pterigopalatinum masuk melalui foramen sfenopalatina kemudian

    menjadi N. Palatina mayor menjadi N. Sfenopalatinus.

    14

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    15/32

    C. Mukosa Hidung

    Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional

    dibagi atas mukosa pernafasan dan mukosa penghidu. Mukosa pernafasan terdapat

    pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak

    berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel sel goblet.

    Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang

    kadang terjadi metaplasia menjadi sel epital skuamosa. Dalam keadaan normal

    mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir

    (mucous blanket) pada permukaannya. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar

    mukosa dan sel goblet.

    Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang

    penting. Dengan gerakan silia yang teratur, palut lendir di dalam kavum nasi akan

    didorong ke arah nasofaring. Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk

    membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang

    masuk ke dalam rongga hidung. Gangguan pada fungsi silia akan menyebabkan

    banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Gangguan

    gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang berlebihan, radang,

    sekret kental dan obat obatan.

    Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan

    sepertiga bagian atas septum. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu dan

    tidak bersilia (pseudostratified columnar non ciliated epithelium). Epitelnya

    dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel penunjang, sel basal dan sel reseptor

    penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan.

    D. Sinus Paranasal

    Polip nasi sering dihubungkan dengan sinusitis. Sinus paranasal ada empat

    buah yaitu sinus maksila, sinus etmoid, sinus frontal, dan sinus sphenoid.

    1. Sinus maksila terdapat dilateral hidung, dasar sinus maksila adalah

    processus alveolaris gigi, atap sinus maksila berhubungan dengan dasar

    orbita. Pstium sinus maksila berhubungan dengan meatus media.

    15

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    16/32

    2. Sinus etmoid seperti sarang tawon (honeycomb). Dibagi menjadi dua

    bagian anterior dan posterior. Terletak antara dinding lateral hidung dan

    dinding medial orbita (lamina papirasea). Atap sinus etmoid berhubungan

    dengan sinus frontal dan fossa kranii anterior. Di inferolateral sinus etmoid

    berhubungan dengan sinus maksila. Sinus etmoid posterior berhubungan

    dengan sinus sphenoid.

    3. Sinus frontal terletak pada tulang frontal. Dinding posterior sinus frontal

    membentuk dinding anrerir fosa kranii. Di inferior sinus ini berbatasan

    dengan orbita dan sinus etmoid. Drainase sinus ini melalui duktus

    nasofrontal langsung ke hidung atau melalui infundibulum etmoid.

    4. Sinus sphenoid terletak di garis tengah. Dibagi dua oleh septum. Di

    superior berbatasan dengan hipofisa, lobus frontal dan sinus kavernosus.

    Di posterior terletak pons cerebri dan arteri basilaris, di inferior terletak

    nasofaring. Arteri karotis terletak di lateral sinus ini.

    Gambar 2 : Anatomi sinus

    3.2 Definisi Polip Nasi

    Polip nasi merupakan kelainan mukosa hidung berupa massa lunak yang

    bertangkai, berbentuk bulat atau lonjong, berwarna putih keabuan, dengan

    permukaan licin dan agak bening karena mengandung banyak cairan. Polip nasi

    bukan merupakan penyakit tersendiri tapi merupakan manifestasi klinik dari

    16

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    17/32

    berbagai macam penyakit dan sering dihubungkan dengan sinusitis, rhinitis alergi,

    fibrosis kistik dan asma. 5

    Berdasarkan jenis sel peradangannya, polip dikelompokkan menjadi 2 :

    1. Polip eusinofilik. Polip jenis ini biasanya disebabkan proses hipersensitivitas

    atau alergi.

    2. Polip neutrofilik. Polip jenis ini biasanya disebabkan oleh proses inflamasi non-

    alergi.

    3.3 Epidemiologi

    Polip nasi sudah di kenal sejak 4000 tahun yang lalu, melalui pengetahuan

    dari prasasti yang ditemukan pada makam raja-raja Mesir. Polip nasi digambarkan

    sebagai buah anggur yang turun melalui hidung ( grapes coming down from the

    nose) .Istilah polip berasal dari kata Yunani poly-pous yang berarti berkaki

    banyak. Pada awal perkernbangannya polip nasi sering dihubungkan dengan

    neoplasma, baru pada tahun 1882 Zuckerkandl menyatakan bahwa polip nasi

    merupakan suatu proses inflamasi. Polip nasi ditemukan 1-4 % dari populasi, 36

    % penderita dengan intoleransi aspirin, 20% pada penderita fibrosis kistik, 7%

    pada penderita asma. Polip nasi lebih banyak ditemukan pada penderita asma non

    alergi (13%) dibanding penderita asma alergi (5%). Polip nasi terutama ditemukan

    pada usia dewasa, hanya kurang lebih 0.1% ditemukan pada anak-anak, lebih

    sering ditemukan pada laki-laki dibanding dengan wanita dengan rasio 2:1 atau

    3:1 dan dapat ditemukan pada seluruh kelompok ras dan kelas ekonomi. 2

    Angka mortalitas polip nasi tidaklah signifikan, namun polip nasi

    dihubungkan dengan turunnya kualitas hidup seseorang. Polip multipel yang jinak

    biasanya timbul setelah usia 20 tahun dan lebih sering pada usia diatas 40 tahun.

    Polip nasi jarang ditemukan pada anak usia dibawah 10 tahun. 2

    3.4. Etiologi dan Faktor Resiko 3,5

    17

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    18/32

    Sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai etiologi polip nasi,

    terdapat sejumlah hipotesis mengenai asal dari polip nasi eosinofilik dan

    neutrofilik yang berkisar dari predisposisi genetik, variasi anatomi, infeksi kronis,

    alergi inhalan, alergi makanan, sampai ketidakseimbangan vasomotor. Namun

    saat ini yang banyak digunakan, yaitu : teori infeksi dan teori inflamasi.

    Etiologi yang pasti belum diketahui tetapi ada 3 faktor penting pada

    terjadinya polip, yaitu :

    1. Adanya peradangan kronik yang berulang pada mukosa hidung dan sinus.

    2. Adanya gangguan keseimbangan vasomotor.

    3. Adanya peningkatan tekanan cairan interstitial dan edema mukosa hidung.

    Fenomena Bernoulli menyatakan bahwa udara yang mengalir melalui

    tempat yang sempit akan mengakibatkan tekanan negatif pada daerah sekitarnya.

    Jaringan yang lemah akan terhisap oleh tekanan negatif ini sehingga

    mengakibatkan edema mukosa dan pembentukan polip. Fenomena ini

    menjelaskan mengapa polip kebanyakan berasal dari daerah yang sempit di

    kompleks ostiomeatal (KOM) di meatus medius. Walaupun demikian polip juga

    dapat timbul dari tiap bagian mukosa hidung atau sinus paranasal dan seringkali

    bilaterak dan multipel.

    Selain dari fenomena Bernouli terdapat beberapa hipotesa lainnya.

    1. Perubahan Polisakarida

    di postulatkan pada 1971 oleh Jackson dan Arihood.

    2. Infeksi

    3. Infeksi berulang pada sinus predisposisi pada mukosa menjadi

    perubahan polipoid.

    4. Alergi

    alergi telah di implikasikan sebagai penyebab, sejak sekresi hidung

    mengandung eosinofil dan pasien mempunyai gejala alergi, sering

    dikaitkan dengan asma dan atopi.

    18

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    19/32

    5. Teori vasomotor

    Gangguan keseimbangan otonomik di duga mungkin sebagai penyebab

    pada individu non atopi.

    Juga di kaitkan dengan mediator inflamasi, faktor anatomi lokal, dan tumor.

    Predisposisi genetik diketahui sebagai penyebab polipoid pada fibrosis kistik.

    Yang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya polip antara lain : .

    1. Alergi terutama rinitis alergi.

    2. Sinusitis kronik.

    3. Iritasi.

    4. Sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum

    dan hipertrofi konka.

    3.4. Patofisologi

    Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitif atau

    reaksi alergi pada mukosa hidung. Peranan infeksi pada pembentukan polip

    hidung belum diketahui dengan pasti tetapi ada keragu raguan bahwa infeksi

    dalam hidung atau sinus paranasal seringkali ditemukan bersamaan dengan

    adanya polip. Polip berasal dari pembengkakan lapisan permukaan mukosa

    hidung atau sinus, yang kemudian menonjol dan turun ke dalam rongga hidung

    oleh gaya berat. Polip banyak mengandung cairan interseluler dan sel radang

    (neutrofil dan eosinofil) dan tidak mempunyai ujung saraf atau pembuluh darah.

    Polip biasanya ditemukan pada orang dewasa dan jarang pada anak anak. Pada

    anak anak, polip mungkin merupakan gejala dari kistik fibrosis. 5

    Banyak faktor yang mempengaruhi pementukan polip nasi. Kerusakan epitel

    merupakan patogenesa dari polip. Sel-sel epitel teraktivasi oleh alergen, polutan

    dan agen infeksius. Sel melepaskan berbagai faktor yang berperan dalam reson

    inflamasi dan perbaikan. Epitel polip menunjukan hiperplasia sel goblet dan

    hipersekresi mukus yang berperan dalam obstruksi hidung dan rinorea. 5

    19

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    20/32

    Polip dapat timbul pada hidung yang tidak terinfeksi kemudian

    menyebabkan sumbatan yang mengakibatkan sinusitis, tetapi polip dapat juga

    timbul akibat iritasi kronis yang disebabkan oleh infeksi hidung dan sinus. 6

    Polip di kavum nasi terbentuk akibat proses radang yang lama dan berulang.

    Penyebab tersering adalah sinusitis kronik dan rinitis alergi. Dalam jangka waktu

    yang lama, vasodilatasi lama dari pembuluh darah submukosa menyebabkan

    edema mukosa. Kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler sehingga

    mukosa yang sembab menjadi polipoid Mukosa akan menjadi ireguler dan

    terdorong ke sinus dan pada akhirnya membentuk suatu struktur bernama polip.

    Biasanya terjadi di sinus maksila, kemudian sinus etmoid. Bila proses ini

    berlanjut, mukosa yang sembab makin membesar dan kemudian tururn kedalam

    rongga hidung sambil membentuk tangkai yang akan turun ke kavum nasi

    kebanyakan terjadi di daerah meatus medius. Hal ini terjadi karena bersin dan

    pengeluaran sekret yang berulang yang sering dialami oleh orang yang

    mempunyai riwayat rinitis alergi karena pada rinitis alergi terutama rinitis alergi

    perennial yang banyak terdapat di Indonesia karena tidak adanya variasi musim

    sehingga alergen terdapat sepanjang tahun. Begitu sampai dalam kavum nasi,

    polip akan terus membesar dan bisa menyebabkan obstruksi di meatus media.7

    3.5 Gejala Klinis 3,8

    Pasien dengan polip yang masif biasanya mengalami sumbatan hidung yang

    meningkat, hiposmia sampai anosmia, perubahan pengecapan, dan drainase post

    nasal persisten. Sakit kepala dan nyeri pada muka jarang ditemukan dan biasanya

    pada daerah periorbita dan sinus maksila. Pasien polip dengan sumbatan total

    rongga hidung atau polip tunggal yang besar memperlihatkan gejala sleep apnea

    obstruktif dan pernafasan lewat mulut yang kronik.

    Pasien dengan polip soliter seringkali hanya memperlihatkan gejala

    obstruktif hidung yang dapat berubah dengann perubahan posisi. Walaupun satu

    atau lebih polip yang muncul, pasien mungkin memperlihatkan gejala akut,

    rekuren, atau rinosinusitis bila polip menyumbat ostium sinus. Beberapa polip

    dapat timbul berdekatan dengan muara sinus, sehingga aliran udara tidak

    20

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    21/32

    terganggu, tetapi mukus bisa terperangkap dalam sinus. Dalam hal ini dapat

    timbul perasaan penuh di kepala, penurunan penciuman, dan mungkin sakit

    kepala. Mukus yang terperangkap tadi cenderung terinfeksi, sehingga

    menimbulkan nyeri, demam, dan mungkin perdarahan pada hidung.

    Manifestasi polip nasi tergantung pada ukuran polip. Polip yang kecil

    mungkin tidak menimbulkan gejala dan mungkin teridentifikasi sewaktu

    pemeriksaan rutin. Polip yang terletak posterior biasanya tidak teridenfikasi pada

    waktu pemeriksaan rutin rinoskopi posterior. Polip yang kecil pada daerah dimana

    polip biasanya tumbuh dapat menimbulkan gejala dan menghambat aliran saluran

    sinus, menyebabkan gejala-gejala sinusitis akut atau rekuren.

    3.6 Diagnosis

    Anamnesa

    Pada anamnesa kasus polip, keluahan utama biasanya ialah: 5

    1. Hidung tersumbat dari yang ringan sampai berat. Sumbatan ini

    menetap, tidak hilang dan semakin lama semakin berat.

    2. Rinore mulai dari yang jernih sampai purulen

    3. Pasien sering mengeluhkan terasa ada massa di dalam hidung dan

    sukar membuang ingus.

    4. Hiposmia atau anosmia

    Mungkin disertai bersin-bersin, rasa nyeri pada hidung disertai sakit

    kepala di daerah frontal. Bila disertai infeksi sekunder mungkin di dapati post

    nasal drip dan rinore purulen. Gejala sekunder yang dapat timbul adalah bernafasmelalui mulut, halitosis, nyeri muka, suara nasal (bindeng), telinga terasa penuh,

    mendengkur, gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup.9

    Selain itu juga harus di tanyakan riwayat rhinitis alergi, asma, intoleransi

    terhadap aspirin dan alergi obat serta makanan. 9

    Pemeriksaan Fisik5,10

    21

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    22/32

    1. Inspeksi

    Polip yang masif sering sudah menyebabkan deformitas hidung luar.

    Dapat dijumpai pelebaran kavum nasi terutama polip yang berasal dari sel-

    sel etmoid.

    2. Rinoskopi Anterior

    Memperlihatkan massa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus

    medius yang mudah digerakkan. Deformitas septum membuat

    pemeriksaan menjadi lebih sulit. Tampak sekret mukus dan polip multipel

    atau soliter. Polip kadang perlu dibedakan dengan konka nasi inferior,

    yakni dengan cara memasukan kapas yang dibasahi dengan larutan efedrin

    1% (vasokonstriktor), konka nasi yang berisi banyak pembuluh darah akan

    mengecil, sedangkan polip tidak mengecil. Polip dapat diobservasi berasal

    dari daerah sinus etmoidalis, ostium sinus maksilaris atau dari septum

    3. Rinoskopi Posterior

    Kadang-kadang dapat dijumpai polip koanal. Sekret mukopurulen ada

    kalanya berasal dari daerah etmoid atau rongga hidung bagian superior,yang menandakan adanya rinosinusitis.1,6,9,10.

    4. Nasoendoskopi

    Adanya fasilitas nasoendoskopi akan sangat membantu diagnosis kasus

    baru. Polip stadium awal tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi

    anterior tetapi tampak dengan pemeriksaan nasoendoskopi. Pada kasus

    polip koanal juga sering dapat terlihat tangkai polip yang berasal dari

    ostium assesorius sinus maksila.

    Pemeriksaan Radiologi

    Foto polos sinus paranasal ( posisi waters, lateral, Caldwell dan AP) dapat

    memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya batas udara cairan di

    dalam sinus, tetapi sebenarnya kurang bermanfaat pada kasus polip nasi

    karena dapat memberikan kesan positif palsu atau negative palsu dan tidak

    dapat memberikan informasi mengenai keadaan dinding lateral hidung dan

    22

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    23/32

    variasi anatomis di daerah kompleks osteomeatal. Pemeriksaan tomografi

    computer sangat bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan di hidung

    dan sinus paranasal apakah ada proses radang, kelainan anatomi, polip

    atau sumbatan pada kompleks osteomeatal. Terutama pada kasus polip

    yang gagal diobati dengan terapi medikamentosa, jika ada komplikasi dari

    sinusitis dan pada perencanaan tindakan bedah terutama bedah endoskopi.

    Biasanya untuk tujuan penapisan dipakai potongan koronal, sedangkan

    polip yang rekuren juga dipeerlikan potongan aksial.

    6. Tes alergi

    Evaluasi alergi sebaiknya dipertimbangkan pada pasien dengan riwayat

    alergi lingkungan atau riwayat alergi pada keluarganya.

    7. Laboratorium

    Untuk membedakan sinusitis alergi atau non alergi. Pada sunisitis alergi

    ditemukan eosinofil pada swab hidung, sedang pada non alergi

    ditemukannya neutrofil yang menandakan adanya sinusitis kronis.

    Stadium Polip Nasal

    Pembagian stadium polip menurut Mackay dan Lund (1997) :

    Stadium 1 : polip masih terbatas di meatus medius

    Stadium 2 : polip sudah keluar dari meatus medius tapi belum memenuhi

    rongga hidung

    Stadium 3 : polip yang masif

    3.7 Diagnosis Banding

    Polip didiagnosisbandingkan dengan konka polipoid, yang ciri cirinya

    sebagai berikut : 5

    Tidak bertangkai

    Sukar digerakkan

    23

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    24/32

    Nyeri bila ditekan dengan pinset

    Mudah berdarah

    Dapat mengecil pada pemakaian

    vasokonstriktor (kapas adrenalin).

    Pada pemeriksaan rinoskopi anterior cukup mudah untuk membedakan

    polip dan konka polipoid, terutama dengan pemberian vasokonstriktor yang juga

    harus hati hati pemberiannya pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler

    karena bisa menyebabkan vasokonstriksi sistemik, maningkatkan tekanan darah

    yang berbahaya pada pasien dengan hipertensi dan dengan penyakit jantung

    lainnya.

    3.8 Penatalaksanaan 11,12

    Karena etiologi yang mendasari pada polip nasi adalah reaksi inflamasi,

    maka penatalaksanaan medis ditujukan untuk mpengobatan yang tidak spesifik.

    Pada terapi medikamentosa dapat diberikan kortikosteroid. Kortikosteroid dapat

    diberikan secara sistemik ataupun intranasal.

    Pemberian kortikosteroid sistemik diberikan dengan dosis tinggi dalam

    waktu yang singkat, dan pemberiannya perlu memperhatikan efek samping dan

    kontraindikasi. Kortikosteroid oral adalah pengbatan paling efektif untuk

    pengobatan jangka pendek dari polip nasi, dan kortikosteroid oral memiliki

    efektivitas paling baik dalam mengurangi inflamasi polip.

    Kortikosteroid juga dapat diberikan secara intranasal dalam bentuk spray

    steroid, yang dapat mengurangi atau menurunkan pertumbuhan polip nasi yang

    kecil, tetapi secara relatif tidak efektis untuk polip yang masif. Steroid intranasal

    paling efektif pada periode post operatif untuk mencegah atau megurangi relaps.

    Pengobatan juga dapat ditujukan untuk mengurangi reaksi alergi pada polip

    yang dihubungkan dengan rhinitis alergi. Pada penderita dapat diberikan

    antihistamin oral untuk mengurangi reaksi inflamasi yang terjadi. Bila telah

    terjadi infeksi yang ditandai dengan adanya sekret yang mukopurulen maka dapat

    diberikan antibiotik.

    24

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    25/32

    Pengobatan Medis polip nasal sebagai berikut : 3,5

    Steroid oral dan topikal di berikan pada pengobatan pertama pada nasal

    polip. Antihistamin, dekongestan dan sodium cromolyn memberikansedikit keuntungan. Imunoterapi mungkin dapat berguna untuk

    pengobatan rhinitis alergi, tapi bila di gunakan sendirian, ak dapat berguna

    pada polip yang telah ada, pemberian antibiotik bila terjadi superimposed

    infeksi bakteri.

    Kortikosteroid adalah pengobatan pilihan, baik secara topikal maupun

    sistemik. Injeksi langsung pada polip menunjukkan berkurangnya

    pertumbuhan polip dan berkurangnya gejala pada hidung dibandingkan

    dengan pengobatan intranasal. Injeksi steroid intrapolip ini merupakan

    pengobatan alternatif yang aman pada pasien tertentu tapi masih

    dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Tapi tindakan ini kemudian tidak

    dibenarkan olehFood and Drug Administration karena dilaporkan terdapat

    3 pasien dengan kehilangan penglihatan unilateral setelah injeksi

    intranasal langsung dengan kenalog. Keamanan mungkin tergantung pada

    ukuran spesifik partikel. Berat molekuler yang besar seperti Aristocort

    lebih aman dan sepertinya sedikit yang di pindahkan ke area intrakranial.

    Hindari injeksi langsung ke dalam pembuluh darah.

    Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut juga

    polipektomi medikamentosa.Untuk polip stadium 1 dan 2, sebaiknya

    diberikan kortikosteroid intranasal selama 4-6 minggu. Bila reaksinya

    baik, pengobatan ini diteruskan sampai polip atau gejalanya hilang. Bila

    reaksinya terbatas atau tidak ada perbaikan maka diberikan juga

    kortikosteroid sistemik. Perlu diperhatikan bahwa kortikosteroid intranasal

    mungkin harganya mahal dan tidak terjangkau oleh sebagian pasien,

    sehingga dalam keadaan demikian langsung diberikan kortikosteroid oral.

    Dosis kortikosteroid saat ini belum ada ketentuan yang baku, pemberian

    masih secara empirik misalnya diberikan Prednison 30 mg per hari selama

    seminggu dilanjutkan dengan 15 mg per hari selama seminggu. Menurut

    van Camp dan Clement dikutip dari Mygind dan, Lidholdt untuk polip

    dapat diberikan prednisolon dengan dosis total 570 mg yang dibagi dalam

    25

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    26/32

    beberapa dosis, yaitu 60 mg/hari selama 4 hari, kemudian dilakukan

    tapering off 5 mg per hari. Menurut Naclerio. pemberian kortikosteroid

    tidak boleh lebih dari 4 kali dalam setahun. Pemberian suntikan

    kortikosteroid intrapolip sekarang tidak dianjurkan lagi mengingat

    bahayanya dapat menyebabkan kebutaan akibat emboli. Kalau ada tanda-

    tanda infeksi harus diberikan juga antibiotik. Pemberian antibiotik pada

    kasus polip dengan sinusitis sekurang-kurangnya selama 10-14 hari.

    Respon dengan kortikosteroid tergambar dari ada atau tidaknya

    eosinofilia, jadi pasien dengan polip dan rhinitis alergi atau asma

    seharusnya respon dengan pengobatam ini. Pasien dengan polip yang

    sedikit eosinofil mungkin tidak respon terhadap steroids. Penggunaan

    steroid oral jangka panjang tidak direkomendasikan karena efek

    sampingnya yang merugikan (seperti gangguan pertumbuhan, Diabetes

    Melitus, hipertensi, gangguan psikis, gangguan pencernaan, katarak,

    glukoma, osteoporosis)

    Banyak penulis menganjurkan pemberian steroid topikal untuk polip nasal,

    sebagai pengobatan primer atau pengobatan lanjutan mengikuti pemberian

    per oral, atau bedah. Banyak steroid nasal (seperti ; flucitason,

    beclomethasone, budesonide) efektik untuk menurunkan gejala subjektif,

    dan meningkatkan aliran udara di hidung ketika dipastikan secara

    objektif. Beberapa penelitian mengindikasikan mempunyai onset yang

    lebih cepat dan mungkin sedikit lebih baik dari beclomethasone.

    Pemberian topikal kortikosteroid di beriakan secara umum karena lebih

    sedikit efek yang merugikan dibandingkan pemberian sistemik karena

    bioavaibilitasnya yang terbatas. Pemberian jangka panjang khususnyadosis tinggi dan kombinasi dengan kortikosteroid inhalasi, terdapat resiko

    penekanan hipotalamus-pituari-adrenal aksis, pembentuakan katarak,

    gangguan pertumbuhan, perdarahan hidung, dan pada jarang kasus terjadi

    perforasi septum.

    Inhibitor Leukotrien : Leukotrien dibentuk selama pemecahan asam

    arachidonat oleh enzim 5-lipoxigenase. Mereka merupakan mediator

    inflamasi yang berperan dalam patogenesis asma, rhinitis alergi, dan polip

    26

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    27/32

    nasal. Hasilnya mereka menjadi target modulasi terapi. Penelitian baru-

    baru ini mengenai penghambatan sintesis leukotrien menunjukkan

    peningkatkan aliran udara dalam hidung dan pengecilan polip nasal yang

    dibuktikan dengan endoskopi dan studi imaging. Penggunaan inhibitor

    leukotrien ini menunjukkan hasil maksimal pada penderita dengan rhinitis

    alergi konkomitan dan polip nasal eosinofilik.

    Obat-obatan lain : obat-obatan lain yang mungkin digunakan dalam

    pengobatan polip nasal adalah antibiotic makrolid, terapi diuretic topical,

    dan asam asetilsalisilat-lisin intranasal.

    Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polipyang sangat masif dipertimbangkan untuk terapi bedah. Pembedahan dilakukan

    jika Polip menghalangi saluran pernafasan, menghalangi drainase dari sinus

    sehingga sering terjadi infeksi sinus, atau berhubungan dengan tumor.

    Terapi bedah yang dipilih tergantung dari luasnya penyakit (besarnya polip

    dan adanya sinusitis yang menyertainya), fasilitas alat yang tersedia dan

    kemampuan dokter yang menangani. Macamnya operasi mulai dari polipektomi

    intranasal menggunakan jerat (snare) kawat dan/ polipektomi intranasal dengan

    cunam (forseps) yang dapat dilakukan di ruang tindakan unit rawat jalan dengan

    analgesi lokal; etmoidektomi intranasal atau etmoidektomi ekstranasal untuk polip

    etmoid; operasi Caldwell-Luc untuk sinus maksila. Yang terbaik ialah bila

    tersedia fasilitas endoskop maka dapat dilakukan tindakan endoskopi untuk

    polipektomi saja, atau disertai unsinektomi atau lebih luas lagi disertai

    pengangkatan bula etmoid sampai Bedah Sinus Endoskopik Fungsional lengkap.

    Alat mutakhir untuk membantu operasi polipektomi endoskopik ialah

    microdebrider (powered instrument) yaitu alat yang dapat menghancurkan dan

    mengisap jaringan polip sehingga operasi dapat berlangsung cepat dengan trauma

    yang minimal.

    Tindakan pengangkatan polip atau polipektomi dapat dilakukan dengan

    menggunakan senar polip dengan anestesi lokal, untuk polip yang besar tetapi

    belum memadati rongga hidung. Polipektomi sederhana cukup efektif untuk

    memperbaiki gejala pada hidung, khususnya pada kasus polip yang tersembunyi

    27

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    28/32

    atau polip yang sedikit. Bedah sinus endoskopik (Endoscopic Sinus Surgery)

    merupakan teknik yang lebih baik yang tidak hanya membuang polip tapi juga

    membuka celah di meatus media, yang merupakan tempat asal polip yang

    tersering sehingga akan membantu mengurangi angka kekambuhan. Surgical

    micro debridementmerupakan prosedur yang lebih aman dan cepat, pemotongan

    jaringan lebih akurat dan mengurangi perdarahan dengan visualisasi yang lebih

    baik.

    28

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    29/32

    29

    Keluhan

    Sumbatan hidung dengan 1/>

    gejala

    Curiga keganasan

    Permukaan berbenjol,

    mudah berdarah

    Massa polip hidung

    Tentukan stadium

    Biopsy tatalaksana

    sesuai

    Stad 2&3

    Terapi

    bedah

    Stad I & 2

    Terapi

    medik

    Jika mungkin : biopsy

    untuk tentukan tipe

    polip dan lakukan

    polipektomi reduksi

    Semua

    stadium

    tipenetrofi

    lik terapi

    medik

    Semua

    stadium

    tipenetrofi

    lik terapi

    bedah

    Keterangan

    menentukan stadium

    Polip dalam MM (NE)Polip keluar dari MM

    Polip memenuhirongga hidung

    Persiapan

    pra bedahTerapi medik :

    steroid topical dan ataupolipektomi medikamentosa dengan cara :

    deksametason 12 m (3 Hr) 8 mg (3 Hr)4 mgt (3 Hr)

    Methylprednisolon 64 mg 10 mg (10 Hr)

    Prednisone 1 mg/ kgbb (10 Hr)

    Terapi bedahTidak ada

    perbaikan

    Perbaikan

    mengecil

    Perbaikan

    hilang

    Tindak lanjut dengan steroid topical

    Pemeriksaan berkala sebaiknya dengan NE

    sembuh

    Polip rekuren :

    Cari faktor alergiSteroid topicalSteroid oral tidak lebih 3-4x/ tahunKaustikOperasi ulang

    Penatalaksanaan Polip Hidung dan sinus para

    nasal

    Bagan 1: Penatalaksanaan Polip Nasal

    Sumber : Perhati-KL, Guideline Pen akit THT-KL di Indonesia

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    30/32

    3.9 Prognosis

    Polip nasi dapat muncul kembali selama iritasi alergi masih tetap

    berlanjut. Rekurensi dari polip umumnya terjadi bila adanya polip yang multipel.

    Polip tunggal yang besar seperti polip antral-koanal jarang terjadi relaps. 7

    30

  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    31/32

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Zulfadli. 2007. Polip Nasi. Diakses dari www.solaraid.com.

    Diakses pada tanggal 10 Desember 2012

    2. Punagi, Abdul Qadar. 2005. Peranan Sitokin Pada Polip Nasi

    dalam Jurnal Media Nusantara Volume 26 No.4 Oktober- Desember 2005. Hal

    263-267.

    3. Nizar, Nuty W, Endang Mangunkusumo. Hidung. Dalam Buku

    Ajar Ilmu Kesehatan Hidung dan Telinga editor : Eliaty AS, Nurbaiti, edisi ke

    6 tahun 2007. Hal 118-122.

    4. Snell, Richard S, Kepala dan Leher dalam Anatomi Klinik alih

    bahasa dr. Jan Tamboyang. EGC 1997

    5. Nizar, Nuty W, Endang Mangunkusumo. Polip Hidung. Dalam

    Buku Ajar Ilmu Kesehatan Hidung dan Telinga editor : Eliaty AS, Nurbaiti,

    edisi ke 6 tahun 2007. Hal 123-125

    6. McClay, Jhon E MD. Nasal Polyps, di akses dari :

    www.emedicine.com . Diakses tanggal 11 Desember 2012.

    7. Polip hidung, 2004. Diakses dari www.medicastore.com Diakses

    tanggal 11 Desember 2012

    8. Blumenthal MN. Kelainan alergi pada pasien THT. Dalam: Adam,

    Boies, Higler. BOIES. Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta, EGC, 1997. Hal

    196-8.

    9. Bechara, Y Ghorayeb. Nasal polyps. Diakses dari

    www.otolaryngology Houston.htm . Diakses tanggal 13 Desember 2012

    10. Polip Nasal. Diakses dari www.arquivosdeorl.org.br Diakses

    tanggal 11Desember 2012.

    11. Valerie J Lund. Diagnosis and Treatment of Nasal Polyps. Diakses

    dari www.otolayngologyhouston Htm. Diakses tanggal 12 Desember 2012

    12. Perhimpunan Dokter Spesialis THT-KL Indonesia. Guideline

    Penyakit THT-KL di Indonesia. 2007. Hal 58

    31

    http://www.solaraid.com/http://www.emedicine.com/http://www.otolaryngology/http://www.arquivosdeorl.org.br/http://www.otolayngology/http://www.solaraid.com/http://www.emedicine.com/http://www.otolaryngology/http://www.arquivosdeorl.org.br/http://www.otolayngology/
  • 7/30/2019 Lapsus Tht Yoan Polip Nasi

    32/32