of 33 /33
PENDAHULUAN Kandidiasis yang sering disebut juga candidosis, trush, dan moniliasis merupakan suatu keadaan patologis yang hanya menginfeksi jaringan kulit dan mukosa. Kandidiasis oral merupakan suatu keadaan klinis dari kandidiasis mukokutaneus di rongga mulut akibat munculnya etiologi dan faktor-faktor predisposisi yang memungkinkan terjadinya infeksi ini. Berdasarkan penelitian, para ahli menyebutkan bahwa penyebab terjadinya kandidiasis oral yang paling utama adalah kandida albicans, meskipun hubungan spesies lain mungkin juga terlibat. 1,2 Kandidiasis oral merupakan suatu infeksi yang paling sering dijumpai dalam rongga mulut manusia, dengan prevalensi 20%-75% dijumpai pada manusia sehat tanpa gejala. Antara tahun 1980-1990 dari data rumah sakit di Amerika Serikat yang melakukan surveillance terhadap patogen nosokomial didapati 7,9% (22.200

lapsus THT kandia

  • Author
    mf-dauz

  • View
    168

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of lapsus THT kandia

PENDAHULUAN

Kandidiasis yang sering disebut juga candidosis, trush, dan moniliasis merupakan suatu keadaan patologis yang hanya menginfeksi jaringan kulit dan mukosa. Kandidiasis oral merupakan suatu keadaan klinis dari kandidiasis mukokutaneus di rongga mulut akibat munculnya etiologi dan faktor-faktor predisposisi yang memungkinkan terjadinya infeksi ini. Berdasarkan penelitian, para ahli menyebutkan bahwa penyebab terjadinya kandidiasis oral yang paling utama adalah kandida albicans, meskipun hubungan spesies lain mungkin juga terlibat.1,2 Kandidiasis oral merupakan suatu infeksi yang paling sering dijumpai dalam rongga mulut manusia, dengan prevalensi 20%-75% dijumpai pada manusia sehat tanpa gejala. Antara tahun 1980-1990 dari data rumah sakit di Amerika Serikat yang melakukan surveillance terhadap patogen nosokomial didapati 7,9% (22.200 kasus) disebabkan oleh infeksi jamur, sekitar 79% infeksi jamur ini disebabkan oleh spesies kandida. 1 Kandidiasis oral diklasifikasikan dalam tiga manifestasi klinis yang berbeda, yaitu kandidiasis akut, kandidiasis kronis dan angular kheilitis. Untuk itu dalam penatalaksanaannya diperlukan pemeriksaan dan penentuan diagnosa yang tepat berdasarkan gambaran klinis setiap lesi, anamnesis yang teliti, pemeriksaan laboratorium yang akurat, yang kemudian dilanjutkan dengan melakukan terapi pada pasien dengan menggunakan obat anti jamur.2,3

Berikut dilaporkan sebuah kasus kandidasis oral pada seorang laki-laki berusia 26 tahun yang dirawat di ruang THT RSUD Ulin Banjarmasin.

1

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI Kandidiasis (moniliasis, kandidosis) yaitu infeksi yang disebabkan oleh jamur kandida baik primer maupun sekunder terhadap penyakit lain yang telah ada. Kandidiasis yang sering disebut juga candidosis, trush, dan moniliasis merupakan suatu keadaan patologis yang hanya menginfeksi jaringan kulit dan mukosa.1,2 Oral thrush (kandidiasis oral) adalah suatu kondisi di mana jamur Candida albicans menyebabkan infeksi pada selaput mulut. Oral thrush menyebabkan lesi putih, biasanya pada lidah atau pipi dalam. Lesi dapat menyakitkan dan dapat berdarah sedikit ketika tergores. Mukosa yang terinfeksi terlihat meradang dan merah. Kadang-kadang trush bisa menyebar ke langit-langit mulut, gusi, amandel atau bagian belakang tenggorokan. Atau mungkin juga bagian lain dari tubuh, seperti vagina, daerah popok atau lipatan kuku.4

B. ETIOLOGI Sel jamur kandida berbentuk bulat, lonjong, dengan ukuran 25 x 36 hingga 25 x 528,5 . Spesies-spesies kandida dapat dibedakan berdasarkan kemampuan fermentasi dan asimilasi terhadap larutan glukosa, maltosa, sakarosa, galaktosa dan Iaktosa. Jamur kandida dapat hidup tanpa

menyebabkan kelainan apapun di dalam berbagai alat tubuh baik manusia

2

maupun hewan. Kandida albicans merupakan spesies jamur kandida yang paling sering menyebabkan kandidiasis pada manusia, baik kandidiasis superfisialis maupun sistemik. Pada media agar khusus akan terlihat struktur hyphae, pseudohyphae dan ragi. 1

C. PATOFISIOLOGI Kandida albicans merupakan flora normal rongga mulut, saluran cerna dan vagina pada sekitar 80% individu normal dan hanya menginvasi penderita dengan imunokompromi atau keadaan netropenia yang 1ama. Perkembangan penyakit disebabkan kandida ditentukan oleh interaksi yang kompleks antara patogenisitas internal organisme tersebut dan mekanisme pertahanan pejamu.1,5 Mekanisme pertahanan pejamu yang berperan selama infeksi kandida merupakan proses yang kompleks dan belum seluruhnya dimengerti. Diperkirakan faktor imun dan non-imun turut berperan di sini. Faktor imun yang berperan dalam pertahanan terhadap jamur yaitu respon imun humoral dan seluler. Faktor imun seluler diperkirakan mempunyai peranan yang lebih penting. Bukti-bukti ini didapat dan pengalaman pada kandidiasis

mukokutaneus kronik dan infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus), adanya defek imunitas seluler tersebut menyebabkan kandidiasis superfisialis yang luas, walaupun sistem imunitas humoral normal atau sedikit meningkat. Pada individu normal dapat juga dijumpai sedikit peningkatan titer produksi antibodi serum terhadap antigen glikoprotein dinding sel utama kandida.

3

Faktor non-imun yang berperan antara lain : (1) Interaksi dengan floraflora mikrobial lain, (2) Integritas stratum korneum, (3) Proses deskuamasi karena proliferasi epidermis oleh adanya peradangan, (4) Opsonisasi dan fagositosis, (5) Faktor-faktor serum lain. Flora mikrobial normal merupakan mekanisme protektif untuk pejamu, karena flora ini mengadakan kompetisi dengan kandida untuk mendapatkan makanan dan tempat perlekatan pada epitelial dan juga flora ini dapat menghasilkan produk-produk toksik terhadap jamur.1 Kulit yang intact dengan proses regenerasi dan lipid permukaannya merupakan barier yang efektif terhadap kandida. Ketika terjadi infeksi di kulit, maka kulit yang sakit tersebut akan meningkatkan proses

deskuamasinya, hal ini membantu menyingkirkan organisme penyebab penyakit. Penderita-penderita dengan netropenia yang berlangsung lama sering pula terinfeksi jamur ini, ternyata pada percobaan in vitro terlihat selsel netrofil ini dapat membunuh sel ragi kandida dan merusak segmensegmen pseudohifa, sehingga diperkirakan netrofil ini berperanan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap jamur ini.5 Faktor lain yang turut mengawali terjadinya infeksi yaitu kemampuan organisme tersebut untuk melekat pada sel-sel epitelial dan selanjutnya mengadakan invasi. Mekanisme pasti terjadinya invasi masih belum diketahui seluruhnya, diperkirakan karena pengaruh pengeluaran enzim-enzim

keratinolitik atau enzim-enzim proteolitik spesifik dan masing-masing strain kandida. Secara ultrastruktur, terlihat pseudohifa mengadakan penetrasi

4

intraseluler ke dalam korneosit pada lesi-lesi kandida, juga terlihat ronggarongga terang di sekitar organisme yang me nunjukkan adanya proses lisis jaringan epitelial.1

D. FAKTOR PREDISPOSISI 1 a. Mekaniky Trauma (luka bakar, abrasi, dll) y Oklusi lokal, kelembaban dan atau maserasi

b. Faktor nutrisiy Avitaminosis y Defisiensi besi (kandidiasis mukokutaneus kronik) y Malnutrisi

c. Perubahan-perubahan fisiologisy Usia tua y Kehamilan y Menstruasi

d. Penyakit sistemiky Sindroma Down y Acrodermatitis enteropathica y Diabetes melitus dan beberapa penyakit endokrinopati lain y Uremia, keganasan (hematologi, timoma)

e. Keadaan imunodefisiensi intrinsik (DiGeorge's syndrome dll)y Penyebab-penyebab iatrogenik

5

y Tindakan yang melemahkan daya tahan (pemakaian kateter, intravena) y Penyinaran

sinar-x,

obat-obatan,

kortikosteroid

atau

obat-obat

imunosupresify Antibiotik (terutama dengan spektrum luas, metronidazole) y Trankuiliser y Kontrasepsi oral (terutama estrogen dominan) y Coichicine, phenilbutason

E. GAMBARAN KLINIS Awalnya, gejala oral thrush mungkin tidak terlihat. Pada kasus infeksi ringan, pasien mengeluh: 4y Rasa

sakit,

walaupun

kadang-kadang

dapat

menjadi

sangat

sakit.merasakan empuk di muluty Suara di sudut-sudut mulut Anda y Lesi putih di lidah, dalam pipi dan kadang-kadang di atap mulut, gusi dan

amandely Kehilangan selera makan y Sedikit pendarahan jika lesi digosok atau tergores.

Pada kasus yang berat, lesi dapat menyebar ke bawah ke dalam kerongkongan. Ini dapat menyebabkan kesulitan menelan atau perasaan tidak nyaman seolah-olah makanan terjebak dalam tenggorokan.4 Kandidiasis oral merupakan suatu infeksi superfisial dari lapisan epitelium mukosa mulut dan mengakibatkan terbentuknya plak atau flek putih pada

6

permukaan mukosa yang terdiri atas sel epitel yang berdeskuamasi, sel-sel radang, fibrin, ragi dan elemen miselia. Mukosa disekitar lesi bisa merah bisa tidak, akan tetapi pembuangan plak dengan gosokkan atau kerokan yang lembut biasanya memperlihatkan suatu daerah kemerahan terutama pada pasien AIDS akan berdarah. Lokasi paling umum yaitu mukosa bukal, labial, palatal dan batas lateral serta permukaan dorsal lidah.3 Manifestasi secara klinis pada kandidiasis oral dapat akut, sub akut atau kronis. Dapat terlokalisir yang meliputi mulut, kerogkongan, kulit, kulit kepala, vagina, jari-jari, kuku, bronkus, paru, saluran gastrointestinal atau menjadi sistemik seperti pada septisemia, endokarditis dan meningitis. Pada individu yang sehat, infeksi kandida biasanya merusak fungsi epitelial dan terjadi pada semua kelompok usia, tapi paling umum pada bayi yang baru lahir dan usia lanjut.3 Lesi yang khas pada bayi digambarkan sebagai suatu bercak putih yang lunak dan melekat pada mukosa mulut, dan kadang meluas ke jaringan sirkum oral. Lesi ini biasanya tidak sakit dan ditemukan oleh si ibu atau perawat hanya jika ia memeriksa mulut bayi tersebut dengan teliti. Lesi ini dapat dibuang dengan mudah, akan tetapi meninggalkan suatu permukaan yang kasar dan berdarah. Pada orang dewasa, peradangan, eritema dan daerah erosi yang sangat lebih sering menyertai penyakit ini dan kadang lesi seperti plak yang khas berwarna putih seperti mutiara atau biru keputihan, sehingga relatif tidak terlihat.3

7

F. DIAGNOSIS Kandidiasis oral biasanya dapat didiagnosis hanya dengan melihat lesi, tetapi kadang-kadang sampel kecil diperiksa di bawah mikroskop untuk mengkonfirmasikan diagnosis. Pada anak yang lebih tua atau remaja yang tidak memiliki faktor risiko, kondisi medis yang mendasarinya mungkin menjadi penyebab kandidiasis oral. Sebuah pemeriksaan fisik dapat dilakukan, serta tes darah tertentu untuk membantu menemukan sumber masalah.1 Jika kandidiasis meluas hingga kerongkongan merupakan tanda serius. Untuk membantu mendiagnosa kondisi ini, satu atau lebih dari tes berikut mungkin disarankan: 1y Kultur Tenggorokan. Bagian belakang tenggorokan di-swab dengan kapas

steril dan sampel jaringan di kultur pada media khusus untuk membantu mengidentifikasi bakteri atau jamur.y Pemeriksaan Endoskopi. Kerongkongan, perut dan bagian atas dari usus

kecil diperiksa menggunakan endoskopi.

G. PENGOBATAN Aspek terpenting dalam pengobatan kandidiasis adalah mengkoreksi faktor-faktor predisposisi yang ada. Obat-obatan yang dapat digunakan antara lain yaitu: amfoterisin-B, obat ini termasuk golongan antibiotik polyene. Obat ini tidak dapat diberikan secara oral, harus diberikan secara intravena Dosis .

8

yang dapat diberikan antara 0,3I mg/kgBB/hari dibagi dalam 6 dosis. Obat ini sering menimbulkan efek samping antara lain : toksik terhadap ginjal, sering menimbulkan demam, muntah-muntah, takikardi ventrikel, kadang-kadang hipokalemi dan anemi. Lama terapi bervariasi tergantung respon klinik penderita dan umumnya antara 6-12 minggu. 1,5 Obat lain yang dapat digunakan yaitu flucytosine atau 5- fluorocytosine, yaitu suatu derivat pirimidin, pada awalnya obat ini digunakan untuk kemoterapi kanker. Oleh karena obat ini selain menimbulkan efek toksik terhadap fungsi ginjal, hati, sumsum tulang dan kadang-kadang menyebabkan muntah- muntah dan diare serta cepat menimbulkan resistensi maka obat ini tidak dianjurkan lagi untuk pengobatan tunggal, obat ini hanya diberikan dengan kombinasi amfoterisin-B. Kombinasi amfoterisin-B dengan flucytosin mempunyai sifat sinergistik, lebih efektif daripada pemberian masing-masing obat dan dapat mengurangi kemungkinan timbulnya resistensi. Dosis kombinasi yang dapat diberikan yaitu amfoterisin-B 0,250,5 mg/kgBB/ hari secara intravena dan flucytosine 150 mg/kgBB/hari peroral dibagi 4 dosis. Suatu obat baru, fluconazole, dikatakan mempunyai aktifitas anti kandida.Keuntungan obat ini antata lain: dapat diberikan secara oral dan intravena, ikatan dengan protein plasma minimal, konsentrasinya tinggi di dalam plasma, urin, saliva, sputum, cairan serebrospinal dan cairan vagina . Beberapa kepustakaan menyebutkan pada penelitian-penelitian awal yang dilakukan, fluconazole sama efektifnya dengan pemberian kombinasi amfoteris in-B dengan flucytosine dan aman untuk anak-anak di atas usia 3

9

tahun dengan dosis 36 mg/kgbb/hari dosis tunggal, tetapi penelitian-penelitian yang lebih luas masih perlu dilakukan.

H. PROGNOSIS Kandidiasis sistemik biasanya sekunder terhadap penyakit lainnya, bila penyakit yang mendasarinya dapat diatasi umumnya memberikan prognosis yang baik sedangkan sistem pertahanan tubuh yang rendah sering menyebabkan kegagalan terapi. Rekurensi jarang ditemukan bila sistim imunitas pejamu telah membaik dan penyakit yang mendasarinya telah diatasi. 1

10

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS Nama : Tn R Umur : 26 tahun

Pekerjaan : Buruh pabrik Alamat MRS : PT SSTC : 26 Mei 2010

Jenis kelamin : Laki-laki Suku : Banjar

II.ANAMNESIS Keluhan Utama : Nyeri menelan Riwayat Penyakit Sekarang : 7 hari SMRS pasien mengaku nyeri menelan, nyeri dirasakan pasien setiap saat sehingga pasien tidak bisa makan. Sejak 7 hari yang lalu pasien mengaku hanya dapat makan 3 5 sendok perharinya. Selain nyeri saat menelan pasien juga mengaku nyeri saat membuka mulutnya, hal ini lah yang menurut pasien menembah berat sakit yang diderita nya. Pasein juga mengaku semanjak 7 hari yang lalu badannya sering panas. Pasien juga mengaku pernah keluar darah dari mulut nya saat mencoba untuk makan. Semenjak 3 bulan yang lalu pasien mengaku sering batuk. Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat keluarga dengan penyakit tekanan darah tinggi, kencing manis, penyakit saluran pernapasan seperti asma dan alergi disangkal oleh penderita Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat keluarga dengan penyakit tekanan darah tinggi, kencing manis, penyakit saluran pernapasan seperti asma dan alergi disangkal oleh penderita. III. Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum : Baik Kesadaran Tanda vital : Compos mentis : RR = 16 x/menit Suhu = 36. 8 oC

Tekanan darah = 120/70 mmHg Nadi = 86 x/menit

11

Kepala dan leher Kepala Mata

: Bentuk normal, simetris : Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, pupil isokor

Leher

: Pembesaran KGB tidak dijumpai, nyeri tidak ada, JVP tidak Meningkat.

THT Thorax Jantung Paru Abdomen normal Ekstremitas

: Lihat status lokalis : S1S2 tunggal, murmur tidak ada, batas jantung normal : Simetris, sonor, vesikuler, ronkhi tidak ada : Datar, hepar/lien tidak teraba, timpani, bising usus

: Dalam batas normal, edema tidak ada

Status Lokalis Telinga Aurikula Bentuk Hematom Tragus pain Canalis auditorius eksternus Serumen Othorrea Edema Hiperemi Polip/masa Membran timpani Retraksi Bombans Conus of light

Kanan

Kiri

dbn -

dbn -

minimal -

minimal -

+

+

12

Tes Pendengaran Rinne Weber Swabach

+ tdk ada lateralisasi = pemeriksa

+ tidak ada lateralisasi = pemeriksa

Rhinoskopi Anterior Vestibulum nasi Dasar kavum nasi Meatus nasi inferior Konka nasi inferior Meatus nasi medius Konka nasi medius Septum nasi dbn dbn

Kanan dbn hiperemi dbn dbn dbn

Kiri dbn hiperemi dbn dbn dbn

tidak ada deviasi

tidak ada deviasi

Rinoskopi Posterior

Kanan Tdl

Kiri tdl

Tenggorok Bibir Mulut Lidah Tonsil Ukuran Warna Kripta Detritus Membran

: bentuk normal, warna merah : mukosa merah muda, tampak leukopakia pada palatum : lidah kotor, leukoplakia (+) Kanan T2 merah muda dbn Kiri T2 merah muda dbn -

13

Faring Heperimis, leukoplakia(+), sekret (+)kental Kelenjar getah bening : tidak ada pembesaran IV. Pemeriksaan Penunjang Darah rutin : Hb Leukosit Kimia darah SGOT SGPT Urea Urea nitrogen Creatinin V. Diagnosis Kandidiasis oral VI. Penatalaksanaan IVFD D5 20 tpm Ceftriaxon 1amp/8jam/iv Antrain 1amp/8jam/iv : 22 U/L : 17 U/L : 32 mg/dl :15 mg/dl : 0,8 mg/dl : 11 gr% : 5000/mm3

Lameson 1amp/8jam/iv Gastridin 1amp/8jam/iv Nistatin obat kumur 3 x 3tts VIIl. Follow Up Tanggal 27 Mei 2010 S : Nyeri menelan (+), Nyeri membuka mulut (+), Mual / muntah (+/-), Suara Sangau(-) O : TD = 110/90 mmHg N = 84 x/mnt A : kandidiasis oral RR = 18 x/mnt S = 3 7.1 oC

14

P : IVFD D5 20 tpm Ceftriaxon 1amp/8jam/iv Antrain 1amp/8jam/iv

Lameson 1amp/8jam/iv Gastridin 1amp/8jam/iv Nistatin obat kumur 3 x 3tts Tanggal 28 Mei 2010 S : Nyeri menelan (+), Nyeri membuka mulut (-), Mual / muntah (+/-), O : TD = 120/90 mmHg N = 96 x/mnt A : kandidiasis oral P : IVFD D5 20 tpm Ceftriaxon 1amp/8jam/iv Antrain 1amp/8jam/iv RR = 20 x/mnt S = 3 6,8 oC

Lameson 1amp/8jam/iv Gastridin 1amp/8jam/iv Nistatin obat kumur 3 x 3tts Tanggal 29 Mei 2010 S : Nyeri menelan (+), Nyeri membuka mulut (-), Mual / muntah (+/-), Makan/Minum (