of 25 /25
BAB I PENDAHULUAN Tonsil palatina adalah suatu jaringan limfoid yang terletak pada fossa tonsilaris pada kedua sudut orofaring dan merupakan salah satu bagian dari cincin Waldeyer. Peran imunitas dari tonsil adalah sebagai pertahanan primer untuk menginduksi sekresi bahan imun dan mengatur produksi dari immunoglobulin sekretoris. Peran tonsil mulai aktif pada umur antara 4 hingga 10 tahun dan akan menurun setelah masa pubertas. Hal ini menjadi alasan fungsi pertahanan dari tonsil lebih besar pada anak-anak daripada orang dewasa. Anak-anak mengalami perkembangan daya tahan tubuhnya terhadap infeksi terjadi pada umur 7 hingga 8 tahun dan tonsil merupakan salah satu organ imunitas pada anak yang memiliki fungsi imunitas yang luas. Lokasi tonsil sangat memungkinkan mendapat paparan benda asing dan pathogen yang menyebabkan timbulnya respon imun yang tidak jarang menyebabkan hipertropi tonsil atau tonsillitis. Pengaruh rangsangan bakteri yang terus menerus terhadap tonsil pada tonsilitis kronik menyebabkan sistem imunitas lokal tertekan karena menurunnya respon imunologis limfosit tonsil dan perubahan epitel akan mengurangi reseptor antigen. Hal ini menyebabkan terjadinya kegagalan fungsi tonsil sebagai gatekeeper dan respon imunologi tonsil terhadap antigen. Pengobatan tonsilitis kronik sangat sulit dan lazim dilakukan tonsilektomi. 1

Lapsus THT 1 Mita_tonsilofaringitis

Embed Size (px)

Text of Lapsus THT 1 Mita_tonsilofaringitis

BAB I PENDAHULUAN Tonsil palatina adalah suatu jaringan limfoid yang terletak pada fossa tonsilaris pada kedua sudut orofaring dan merupakan salah satu bagian dari cincin Waldeyer. Peran imunitas dari tonsil adalah sebagai pertahanan primer untuk menginduksi sekresi bahan imun dan mengatur produksi dari immunoglobulin sekretoris. Peran tonsil mulai aktif pada umur antara 4 hingga 10 tahun dan akan menurun setelah masa pubertas. Hal ini menjadi alasan fungsi pertahanan dari tonsil lebih besar pada anak-anak daripada orang dewasa. Anak-anak mengalami perkembangan daya tahan tubuhnya terhadap infeksi terjadi pada umur 7 hingga 8 tahun dan tonsil merupakan salah satu organ imunitas pada anak yang memiliki fungsi imunitas yang luas. Lokasi tonsil sangat memungkinkan mendapat paparan benda asing dan pathogen yang menyebabkan timbulnya respon imun yang tidak jarang menyebabkan hipertropi tonsil atau tonsillitis. Pengaruh rangsangan bakteri yang terus menerus terhadap tonsil pada tonsilitis kronik menyebabkan sistem imunitas lokal tertekan karena menurunnya respon imunologis limfosit tonsil dan perubahan epitel akan mengurangi reseptor antigen. Hal ini menyebabkan terjadinya kegagalan fungsi tonsil sebagai gatekeeper dan respon imunologi tonsil terhadap antigen. Pengobatan tonsilitis kronik sangat sulit dan lazim dilakukan tonsilektomi. Tonsilitis kronis umumnya terjadi akibat komplikasi tonsilitis akut, terutama yang tidak mendapat terapi adekuat; mungkin serangan mereda tetapi kemudian dalam waktu pendek kambuh kembali dan menjadi laten. Proses ini biasanya diikuti dengan pengobatan dan serangan yang berulang setiap enam minggu hingga 3 4 bulan. Seringnya serangan merupakan faktor prediposisi timbulnya tonsilitis kronis yang merupakan infeksi fokal. Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang dapat disebabkan oleh virus (4060%), bakteri (5-40%), alergi, taruma, dan toksin. Faringitis pada anak yang disebabkan oleh virus, biasanya hanya memerlukan terapi suportif saja. Sedangkan faringitis yang disebabkan oleh bakteri patogen seperti Sterptokokus Beta Hemolitik Grup A, memerlukan pengobatan dengan antibiotik.

1

Faringitis dan tonsilitis sering ditemukan bersamaan yang dikenal dengan sebutan tonsilofaringitis. Tonsilofaringitis adalah radang orofaring mengenai dinding posterior yang disertai inflamasi tonsil. Etiologi tonsilofaringitis akut 50 % adalah kuman golongan streptococcus B hemolyticus, streptococcus viridians dan streptococcus pyogenes. Sedang sisanya disebabkan oleh virus yaitu ; adenovirus, echo, virus influenza serta herpes. Tonsilofaringitis merupakan peradangan yang berulang pada tonsil dan faring yang memiliki faktor predisposisi antara lain rangsangan kronis rokok, makanan tertentu, higiene mulut yang buruk, pasien yang biasa bernapas melalui mulut karena hidungnya tersumbat, pengaruh cuaca dan pengobatan tonsilofaringitis sebelumnya yang tidak adekuat. Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di Indonesia, terutama infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) baik infeksi saluran pernafasan atas maupun infeksi saluran pernafasan bawah. Penyakit tonsilofaringitis termasuk dalam infeksi saluran pernafasan akut yang kasusnya banyak dimasyarakat, mencapai 40 - 60 % kunjungan pasien ke RS. Dari Sistim Pencatatan dan PelaporanRS menunjukkan bahwa tonsilofaringitis adalah yang paling sering ditemui di lapangan.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. ANATOMI TONSIL Tonsil (tonsil palatine ) umumnya ada sepasang , berupa masa oval yang lokasinya pada dinding lateral orofaring. Meskipun biasanya terbatas pada orofaring, dengan pertumbuhan yang berlebihan tonsil dapat membesar keatas kedalam nasofaring muncul dengan insufisiensi velofaringeal atau obstruksi nasal. Lebih umum lagi tonsil tumbuh melebar kebawah kedalam hipofaring, muncul dalam bentuk gangguan obstruksi pernafasan saat tidur. Lokasi anatomisnya membuat tonsil kurang terkait dengan penyakit pada tuba eustachius, komplek telinga tengah, dan sinus-sinus. Namun tonsil dan adenoid sering dipengaruhi secara simultan oleh proses-proses penyakit : infeksi kronik/rekuren dan/atau hiperplasi obtrukstif. Tonsilla palatina (tonsil) adalah kelompok jaringan limfoid yang terdapat pada masingmasing sisi orofaring dalam sela antara lengkung-lengkung palatum. Tonsilla palatina tidak mengisi penuh fossa tonsillaris antara lengkung-lengkung tersebut. Dalam palung tonsil (tonsillar bed) terdapat dua otot, muskulus palatopharyngeus dan muskulus constrictor pharyngis superior. Lembaran jaringan ikat tipis yang melapisi palungan tonsilla palatina adalah bagian dari fascia pharyngobasilaris. Permukaan dalam tonsil melekat pada fasia melapisi otot konstriktor yang lebih atas. Batas anterior tonsil adalah otot palatoglossus ( Pilar anterior ) dan batas posteriornya adalah otot palatofaringeus ( pilar posterior ). Tonsil dapat melebar lebih kebawah menjadi lanjutan dengan jaringan tonsil lingual pada dasar lidah. Tonsil disuplai oleh ascending pharyngeal, ascending palatine, dan cabang-cabang dari arteri lingual dan fasial, semua cabang-cabang arteri karotis eksterna. Arteri karotis interna berada pada kira-kira 2 cm posterolateral dari aspek dalam tonsil; dengan demikian diperlukan ketelitian agar tetap berada pada bidang pembedahan/pemotongan yang tepat untuk menghindari luka pada lokasi pembuluh darah. Aliran utama limfa dari tonsil menuju superior deep cervical and jugular lymph nodes; Penyakit peradangan pada tonsil merupakan faktor signifikan dalam perkembangan adenitis atau abses servikal pada anak. Inervasi sensoris tonsil berasal dari n. glosofaringeal dan beberapa cabang-cabang n. palatina melalui ganglion sphenopalatina.3

Gambar 2.1 Anatomi Tonsil

II.2. TONSILITIS KRONIS II.2.1 Definisi Tonsilitis Tonsillitis adalah peradangan tonsila palatina yang merupakan bagian dari cincin Waldeyer. Cincin waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam rongga mulut yaitu tonsil faringeal (adenoid), tonsil palatine, tonsil lingual ( tonsil pangkal lidah ), tonsil tuba Eustachius ( lateral band dinding faring / Gerlanchs tonsil ). Penyebaran infeksi melalui udara ( air borne droplets ), tangan dan ciuman. Dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak. Tonsilitis kronis umumnya terjadi akibat komplikasi tonsilitis akut, terutama yang tidak mendapat terapi adekuat; mungkin serangan mereda tetapi kemudian dalam waktu pendek kambuh kembali dan menjadi laten. Proses ini biasanya diikuti dengan pengobatan dan serangan yang berulang setiap enam minggu hingga 3 4 bulan. Seringnya serangan merupakan faktor prediposisi timbulnya tonsilitis kronis yang merupakan infeksi fokal. Faktor predisposisi munculnya tonsillitis kronik ialah rangsangan menahun dari rokok, beberapa jenis makanan, higine mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik, dan pengobatan tonsillitis akut yang tidak adekuat.

4

Gambar II.2.1 Tonsilitis II.2.2 Patologi Karena proses peradangan yang berulang dapat menyebabkan epitel mukosa jaringan lomfoid terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid diganti dengan jaringan parut yang akan mengalami pengerutan sehingga kripte melebar. Secara klinis kripte ini tampak di isi oleh detritus. Proses berjalan terus sehingga menembus kapsul tonsil dan akhirnya menimbulkan perlekatan dengan jaringan di sekitar fosa tonsilaris. Pada anak proses ini disertai dengan pembeasran kelenjar limfa submandibula. II.2.3 Gejala Dan Tanda Gejala tonsilits kronis dapat berupa : a) Gejala lokal, yang bervariasi dari rasa tidak enak di tenggorok, sakit tenggorok, sulit sampai sakit menelan. b) Gejala sistemis, seperti rasa tidak enak badan atau malaise, nyeri kepala, demam subfebris, nyeri otot dan persendian. c) Gejala klinis, seperti tonsil dengan debris di kriptenya (tonsilitis folikularis kronis), udem atau hipertrofi tonsil (tonsilitis parenkimatosa kronis), tonsil fibrotik dan kecil (tonsilitis fibrotik kronis), plika tonsilaris anterior hiperemis dan pembengkakan kelenjar limfe regional.

5

Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata, kriptus melebar dan beberapa kriptus terisi oleh detritus. Rasa ada yang mengganjal di tenggorokan, dirasakan kering di tenggorokan dan napas berbau. Besar tonsil ditentukan sebagai berikut: T0 T1 T2 T3 T4 : tonsil di dalm fosa tonsil atau telah diangkat : bila besarnya jarak arkus anterior dan uvula : bila besarnya 2/4 jarak arkus anterior dan uvula : bila besarnya jarak arkus anterior dan uvula : bila besarnya mencapai arkus anterior atau lebih

Gambar II.2.3 Pembesaran Tonsil II.2.4 Terapi Terapi tonsilitis kronis dapat diatasi dengan menjaga higiene mulut yang baik, obat kumur, obat hisap dan tonsilektomi jika terapi konservatif tidak memberikan hasil. Pengobatan tonsilitis kronis dengan menggunakan antibiotik oral perlu diberikan selama sekurangnya 10 hari. Antibiotik yang dapat diberikan adalah golongan penisilin atau sulfonamida, namun bila terdapat alergi penisilin dapat diberikan eritromisis atau klindamisin.

6

II.2.5 Tonsilektomi Tonsilektomi merupakan terapi pembedahan berupa tindakan pengangkatan jaringan tonsil (tonsila palatina) yang merupakan salah satu organ imun dari fossa tonsilaris, dimana tonsil merupakan massa jaringan berbentuk bulat kecil, terutama jaringan limfoid. Tonsilektomi dilakukan bila terjadi infeksi yang berulang atau kronik, gejala sumbatan, serta kecenderungan neoplasma. The American Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery Clinical Indicators Compendium tahun 1995 menetapkan indikasi tonsilektomi adalah sebagai berikut :1). Serangan tonsilitis lebih dari tiga kali pertahun walaupun telah mendapatkan terapi yang adekuat, 2). Tonsil hioertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan gangguan pertumbuhan orofasial, 3). Sumbatan jalan napas yang berupa hipertrofi tonsil dengan sumbatan jalan napas, sleep apnea, gangguan menelan, gangguan bicara, dan cor pulmonale, 4). Rinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsilitis, abses peritonsil yang tidak berhasil hilang dengan pengobatan, 5). Napas bau yang tidak berhasil dengan pengobatan, 6). Tonsiliitis berulang yang disebabkan oleh bakteri grup A streptococus hemolitikus, 7). Hipertropi tonsil yang dicurigai

adanya keganasan, 8). Otitis media efusa / otitis media supuratif. Terdapat beberapa keadaan yang disebutkan sebagai kontraindikasi, namun bila sebelumnya dapat diatasi, operasi dapat dilaksanakan dengan tetap memperhitungkan imbang manfaat dan risiko. Keadaan tersebut adalah: 1). Gangguan perdarahan, 2). Risiko anestesi yang besar atau penyakit berat, 3). Anemia, 4). Infeksi akut yang berat, 5). Demam yang tidak diketahui penyebabnya, 6). Pembesaran tonsil tanpa gejala-gejala obstruksi, 7). Rinitis alergika, 8). Asma, 9). Ketidak mampuan yang umum atau kegagalan untuk tumbuh, 10). Tonus otot yang lemah, 11). Sinusitis. II.3. FARINGITIS KRONIS II.3.1 Definisi Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang dapat disebabkan oleh virus (4060%), bakteri (5-40%), alergi, taruma, dan toksin. Faringitis pada anak yang disebabkan oleh virus, biasanya hanya memerlukan terapi suportif saja. Sedangkan faringitis yang disebabkan

7

oleh bakteri patogen seperti Sterptokokus Beta Hemolitik Grup A, memerlukan pengobatan dengan antibiotik. Faringitis kronis adalah kondisi inflamasi dalam waktu yang lama pada mukosa faring dan jaringan sekitarnya. Faringitis kronis terbagi menjadi faringitis kronis hiperplastik (granular) dan faringitis kronis atropi atau kataralis. II.3.2 Etiologi Faringitis kronis dapat dipicu oleh beberapa factor predisposisi seperti radang kronis di faring seperti rhinitis kronis, sinusitis, iritasi kronik oleh rokok, minuman alcohol, inhalasi uap yang merangsang mukosa faring dan debu. Faktor lain penyebab terjadinya faringitis kronik adalah pasien yang terbiasa bernapas melalui mulut karena hidungnya tersumbat. Faringitis kronis akibat gangguan pencernaan pada lambung juga mungkin dapat terjadi namun merupakan penyebab yang jarang di temukan. II.3.3 Patofisologi Bakteri atau virus secara langsung dapat menginvasi mukosa faring, menyebabkan respon radang lokal. Virus-virus lain seperti rhinovirus dan coronavirus dapat menyebabkan iritasi mukosa faring akibat sekunder dari sekresi nasal. Infeksi streptokokus memiliki karakteristik yaitu invasi local dan pelepasan toksin ekstraseluler maupun protease. Fragmen-fragmen Protein M dari serotip Streptokokus grup A mirip dengan antigen-antigen sarkolema miokardiak dan berhubungan dengan demam rematik dan kerusakan katup jantung bertahap II.3.4 Gejala Gejala subjektif yang dirasakan dapat berupa rasa gatal di tenggorokan, rasa ada yang mengganjal di tenggorokan, batuk iritatif dan batuk yang berdahak. Penderita faringitis kronis juga dapat menderita gangguan pada laring yaitu suara serak. Pada stadium dini, membran mukosa akan tampak merah karena pembuluh darah mengalami kongesti, bengkak dan dilapisi mucus. Pada tahap selanjutnya warna membrane mukosa faring akan lebih gelap dan seperti di tutupi oleh folikel-folikel yang membesar, terjadi penebalanmukosa, serta secret berkurang dan kental.8

Diagnosis faringitis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Hasil anamnesis terutama didapatkan adanya rasa nyeri di sekitar tenggorokan, disertai nyeri saat menelan (terutama saat menelan ludah) dan demam yang tidak terlalu tinggi. Hasil pemeriksaan fisik terutama didapatkan mukosa faring yang tampak merah (hiperemi) dan tonsil (amandel) membesar dan memerah, kadang disertai bercak (detritus). Pasien faringitis harus menghindari sumner-sumber iritan. Kebiasaan merokok, mengkonsumsi alcohol, makanan panas, dan kontak langsung dengan udara terbuka harus dibatasi untuk mengurangi gejala faringitis. II.3.5 Terapi Pada faringitis kronik hiperplastik dilakukan terapi local dengan melakukan kaustik faring dengan zat kimia larutan nitrat argenti atau dengan listrik (electro cauter). Pengobatan simtomatis diberikan obat kumur atau tablet hisap. Jika di perlikan dapat diberikan obat batuk antitusif atau ekspetoran. Sedangkan pada faringitis atrofi pengobatan ditujukan pada rhinitis atrofinya dan untuk faringitis kronik atrofinya dengan obat kumur dan menjaga kebersihan mulut.

9

BAB III LAPORAN KASUS IDENTITAS PASIEN Nama Umur : Nn Evi : 23 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan Alamat Pekerjaan ANAMNESIS y Keluhan utama : Pasien mengeluh nyeri menelan yang disertai rasa sakit pada tenggorokan. y Riwayat penyakit sekarang: Pasien datang ke poliklinik THT RSUP Mataram dengan keluhan nyeri menelan yang dirasakan hilang timbul sejak 12 bulan yang lalu dan nyeri menelan di rasakan memberat sejak 2 bulan terakhir. Dalam 1 tahun tersebut pasien mengaku telah mengalami serangan lebih dari 6 kali. Nyeri menelan dirasakan terutama setelah mengkonsumsi gorengan, makanan pedas, atau minuman dingin, dan nyeri menelan akan hilang sendiri setelah beberapa hari tanpa pengobatan. Pasien juga mengeluhkan rasa sakit pada tenggorokan yang timbul sejak 2 bulan terakhir, rasa kering pada tenggorokan, panas pada tenggorokan, gatal, dan keluhan suara serak disangkal oleh pasien. Pasien juga mengeluhkan batuk yang tidak berdahak dan pilek yang dirasakan terutama ketika serangan, akan tetapi ketika pemeriksaan pasien tidak mengeluhkan batuk dan pilek. Keluhan demam, nyeri pada telinga, telinga terasa mendengung dan telinga tersa penuh, disangkal oleh pasien. : Kodya Asri : PNS

10

y

Riwayat penyakit dahulu: Pasien mengeluhkan penyakit serupa sejak 12 bulan yang lalu yang dirasakan hilang timbul. Riwayat hipertensi dan penyakit kencing manis disangkal oleh pasien.

y

Riwayat penyakit keluarga: Tidak ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit yang sama dengan pasien.

y

Riwayat alergi: Pasien mengaku tidak memiliki riwayat alergi terhadap debu dan udara dingin. Alergi makanan dan obat-obatan (-).

y

Riwayat pengobatan: Selama sakit pasien tidak pernah meminum obat-obatan yang diberikan oleh dokter.

PEMERIKSAAN FISIK (Tanggal: 4 April 2011) Status Generalis y y y Keadaan umum Kesadaran Tanda vital Tensi Nadi : 110/70 mmHg : 80 x/menit : Baik : Compos mentis

Respirasi : 20 x/menit Suhu : 36,5 0C

Status Lokalis Pemeriksaan telinga:

11

No. 1.

Pemeriksaan Telinga Daun telinga

Telinga kanan

Telinga kiri

Bentuk dan ukuran dalam Bentuk dan ukuran dalam batas batas normal, nyeri tragus (- normal, ), hematoma (-) nyeri tragus (-),

hematoma (-) Serumen (-)

2.

Liang telinga luar

Serumen (-) Edema (-), furunkel (-)

hiperemi (-), Edema

(-),

hiperemi

(-),

furunkel (-)

3.

Membran timpani

Intak, retraksi (-), bulging (- Intak, retraksi (-), bulging (-), ), warna membran timpani warna membran timpani suram, suram, cone of light (-) cone of light (-)

.Pemeriksaan hidung:

Pemeriksaan Hidung

Hidung kanan

Hidung kiri

Hidung luar

Bentuk (N), inflamasi (-), nyeri Bentuk (N), inflamasi (-), nyeri tekan (-), deformitas (-) tekan (-), deformitas (-)

12

Rinoskopi anterior Vestibulum nasi Cavum nasi N, ulkus (-) N, ulkus (-)

Bentuk (N), Sekret (-), mukosa Bentuk (N), Sekret (-), mukosa hiperemi (-) hiperemi (-)

Meatus nasi media

Mukosa hiperemi (-), secret (-), Mukosa hiperemi (-), secret (-), massa (-) massa (-) Edema (-), mukosa hiperemi (-)

Konka nasi inferior

Edema (-), mukosa hiperemia (-)

Septum nasi

Deviasi (-), benda asing (-), Deviasi (-), perdarahan (-), ulkus (-)

benda

asing(-),

perdarahan (-), ulkus (-)

Pemeriksaan Tenggorokan:

Mukosa Bukal Lidah Uvula Palatum mole Faring

berwarna merah muda, hiperemia (-) Normal Normal Ulkus (-), hiperemi (+) Mukosa hiperemi (+), edema (+), granul (+), ulkus (-),

neovaskularisasi (-)

13

Tonsila palatine

Hiperemia (+), ukuran T2-T3, pada tonsila palatine kiri kripte melebar (+), detritus (+), tampak bergranul.

Leher : simetris, limfonodi tidak teraba. DIAGNOSIS Tonsilofaringitis kronik eksaserbasi akut.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium berupa kultur dan uji resistensi kuman dari sediaan apusan tonsil untuk mengetahui bakteri penyebab. RENCANA USULAN TERAPI Antibiotik : Amoxicilin tab 3 x 250 mg

Analgetik dan anti-inflamasi : Asam mefenamat 3 x 1 Obat kumur Vitamin : untuk menjaga daya tahan tubuh KIE untuk menjaga higienitas mulut, menghindari makanan pedas, makanan berminyak, dan minuman dingin dan KIE untuk dilakukan tonsilektomi.

PROGNOSIS Bonam.

14

BAB III PEMBAHASAN Pada kasus ini, diagnosis tonsilofaringitis kronis eksaserbasi akut ditegakkan berdasarkan hasil anamnesia dan pemeriksaan fisik. Dari keluhan pasien didapatkan bahwa pasien mengeluh nyeri sewaktu menelan yang disertai rasa sakit pada tenggorokan yang timbul terutama setelah mengkonsumsi gorengan, makanan pedas, atau minuman dingin. Pada pemeriksaan fisik tenggorokan dengan spatula lidah didapatkan gambaran perjalanan kronis pada tonsil dan faring. Pada tonsil didapatkan pembesaran pada tonsila (tonsila palatina), dengan permukaan yang tidak hiperemi (kemerahan) dan tidak rata, ukuran pembesaran tonsil T2-T3 dan pada tonsila palatina kiri tampak kripte melebar, terlihat adanya detritus, dan tampak bergranul. Sedangkan pada pemeriksaan fisik pada daerah faring ditemukan mukosa dinding posterior faring hiperemis dan tampak tidak rata yang disertai granul. Gambaran perjalanan kronis juga dapat dilihat dari gejala yang berlangsung sejak 12 bulan dan baru dirasakan memberat 2 bulan terakhir. Eksaserbasi

akut ditandai dengan pada tonsil maupun faring didapatkan tanda-tanda inflamasi yaitu mukosa faring dan tonsil Nampak edema dan hiperemi. Faktor predisposisi timbulnya tonsillitis kronis juga menjadi perhatian yang sangat penting seperti rangsangan yang menahun dari rokok, beberapa jenis makanan (makanan panas, pedas, berminyak, serta minuman dingin), hygiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik dan pengobatan tonsillitis akut yang tidak adekuat. Pada kasus ini faktor yang mendukung adalah sering mengkonsimsi makanan pedas dan berminyak serta minuman dingin yang dapat memicu timbulnya serangan.

15

Pada pasien didapatkan serangan berulang yang sangat sering yaitu lebih dari 6 kali dalam setahun serta ukuran tonsil yang cukup membesar dan di khawatirkan dapat mengganggu jalan napas maka pada pasien ini terdapat indikasii untuk dilakukannya Tonsilektomi. Terapi untuk kasus ini antara lain berupa medikamentosa dan KIE: Medikamentosa : KIE : a. Kumur dengan air garam hangat b. Banyak minum air putih sejuk c. Selalu jaga higiene mulut d. Perbanyak istirahat e. Banyak makan makanan yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh f. KIE pasien untuk dilakukan Tonsilektomi Antibiotik : Amoxicilin tab 3 x 250 mg

Analgetik dan anti-inflamasi : Asam mefenamat 3 x 1 Obat kumur Vitamin : untuk menjaga daya tahan tubuh

16

DAFTAR PUSTAKA Adam Boies Higler. 1997. Penyakit Sinus Paranasalis dalam Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta. Amarudin, Tolkha et Anton Christanto, (2005), Kajian Manfaat Tonsilektomi, Available from : http://www.cerminduniakedoteran.com, (Accessed : 6 April 2011). Byron J., (2001), Head and Neck Surgery-Otolaryngology 3rd Edition, New York : Lippincott Williams and Wilkins (CD-ROM). Keith, L., Agur, A.M., (2007), Essential Clinical Anatomy 2nd Edition, New york : Lippincott Williams and Wilkins.. Soepardi, Iskandar, N., Bashiruddin, J., et al. (eds)., (2007), Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher Edisi Keenam, Jakarta : Gaya Baru. Simon, K., (2009. December 10 last updated), Pediatric, Pharyngitis, (Emedicine), Available from : http://emedicine.medscape.com/article/803258-overview, (Accessed : 2011, April 6). Ying, Ming-De, (1988), Immunological Basis of Indications for Tonsillectomy and Adenoidectomy, Available from : http://informahealthcare.com, (Accessed : 6 April 2011).

17