of 31 /31
Skenario Harini, 19 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri perut kanan bawah disertai demam sejak seminggu yang lalu. Nyeri hilang timbul. Sehari yang lalu, Harini tidak dapat melakukan aktivitasnya karena nyeri bertambah berat. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri perut kanan bawah, rovsing sign (+), nyeri tekan di titik Mc Burney (+) Hasil pemerikaan laboraturium didapatkan leukosit 20.000/ul dengan neutrofilia, LED 40ml/jam STEP 1 (tidak ditemukan kata sulit) STEP 2 1. Diagnosis banding dan diagnosis kerja? 2. Bagaimana cara penegakan diagnosis? 3. Etiologi dan faktor resiko diagnosis kerja? 4. Patofisiologi dan patogenesis diagnosis kerja? 5. Interpretasi hasil pemeriksaan (dari skenario)? 6. Bagaimana penatalaksaan diagnosis kerja?

laporan sken 4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

skenario 4

Citation preview

Skenario

Harini, 19 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan

nyeri perut kanan bawah disertai demam sejak seminggu

yang lalu.

Nyeri hilang timbul. Sehari yang lalu, Harini tidak

dapat melakukan aktivitasnya karena nyeri bertambah

berat.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri perut kanan

bawah, rovsing sign (+), nyeri tekan di titik Mc Burney

(+)

Hasil pemerikaan laboraturium didapatkan leukosit

20.000/ul dengan neutrofilia, LED 40ml/jam

STEP 1

(tidak ditemukan kata sulit)

STEP 2

1. Diagnosis banding dan diagnosis kerja?

2. Bagaimana cara penegakan diagnosis?

3. Etiologi dan faktor resiko diagnosis kerja?

4. Patofisiologi dan patogenesis diagnosis kerja?

5. Interpretasi hasil pemeriksaan (dari skenario)?

6. Bagaimana penatalaksaan diagnosis kerja?

7. Komplikasi diagnosis kerja?

STEP 3 & 4

Diagnosis kerja dari skenario adalah appendisitis

kronik eksaserbasi akut.

Diagnosis banding dibahas pada STEP 7.

Appendisitis

Apendisitis merupakan peradangan pada appendix vermiformis. Peradangan

akut apendiks memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah

komplikasi yang umumnya berbahaya.

Etiologi & Faktor Resiko

1. Obstruksi lumen merupakan penyebab utama apendisitis. Fekalit

merupakan penyebab tersering dari obstruksi apendiks.

2. Hipertrofi jaringan limfoid

3. Sisa barium dari pemeriksaan rontgen

4. Diet rendah serat. Penelitian epidemiologi menunjukkan peran

kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi

terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan meningkatkan

tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional

apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa.

5. Cacing usus termasuk ascaris.

6. Trauma tumpul atau trauma karena colonoscopy dapat mencetuskan

inflamasi pada apendiks.

7. Post operasi apendisitis juga dapat menjadi penyebab akibat adanya

trauma atau stasis fekal.

8. Parasit E. Hisolytica yang menyebabkan erosi mukosa

Frekuensi obstruksi meningkat dengan memberatnya proses inflamasi.

Fekalit ditemukan pada 40% dari kasus apendisitis akut, sekitar 65%

merupakan apendisitis gangrenous tanpa rupture dan sekitar 90% kasus

apendisitis gangrenous dengan rupture.

Patofisiologi

Appendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks

oleh hyperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena

fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi

lumen yang tertutup disebabkan oleh hambatan pada bagian

proksimalnya dan berlanjut pada peningkatan sekresi normal dari

mukosa apendiks yang distensi. Obstruksi tersebut menyebabkan mucus

yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mucus

tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding appendiks

mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan

intralumen.

Kapasitas lumen apendiks normal hanya sekitar 0,1 ml. Jika sekresi

sekitar 0,5 dapat meningkatkan tekanan intalumen sekitar 60 cmH20.

Manusia merupakan salah satu dari sedikit makhluk hidup yang dapat

mengkompensasi peningkatan sekresi yang cukup tinggi sehingga

menjadi gangrene atau terjadi perforasi. Tekanan yang meningkat

tersebut akan menyebabkan apendiks mengalami hipoksia, menghambat

aliran limfe, terjadi ulserasi mukosa dan invasi bakteri. Infeksi

menyebabkan pembengkakan apendiks bertambah (edema) dan semakin

iskemik karena terjadi trombosis pembuluh darah intramural (dinding

apendiks). Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai

oleh nyeri epigastrium. Gangren dan perforasi khas dapat terjadi dalam

24-36 jam, tapi waktu tersebut dapat berbeda-beda setiap pasien karena

ditentukan banyak faktor.

Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal

tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan

bakteri akan menembus dinding. Peradangan timbul meluas dan

mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah

kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut.

Bila kemudian arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks

yang diikuti dengan gangrene. Stadium ini disebut dengan apendisitis

gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi

apendisitis perforasi. Bila semua proses diatas berjalan lambat,

omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah apendiks

hingga timbul suatu massa local yang disebut infiltrate apendikularis.

Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang.

Infiltrat apendikularis merupakan tahap patologi apendisitis yang

dimulai di mukosa dan melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks

dalam waktu 24-48 jam pertama, ini merupakan usaha pertahanan tubuh

dengan membatasi proses radang dengan menutup apendiks dengan

omentum, usus halus, atau adneksa sehingga terbentuk massa

periapendikular. Didalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa

abses yang dapat mengalami perforasi. Jika tidak terbentuk abses,

apendisitis akan sembuh dan massa periapendikular akan menjadi

tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri secara lambat.

Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih

panjang, dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah

dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya

perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena

telah ada gangguan pembuluh darah. Kecepatan rentetan peristiwa

tersebut tergantung pada virulensi mikroorganisme, daya tahan tubuh,

fibrosis pada dinding apendiks, omentum, usus yang lain, peritoneum

parietale dan juga organ lain seperti vesika urinaria, uterus tuba,

mencoba membatasi dan melokalisir proses peradangan ini.

Bila proses melokalisir ini belum selesai dan sudah terjadi perforasi

maka akan timbul peritonitis. Walaupun proses melokalisir sudah

selesai tetapi masih belum cukup kuat menahan tahanan atau tegangan

dalam cavum abdominalis, oleh karena itu penderita harus benar-benar

istirahat (bedrest). Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh

sempurna, tetapi akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan

perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan ini dapat

menimbulkan keluhan berulang diperut kanan bawah. Pada suatu ketika

organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan mengalami

eksaserbasi akut. Pada kehamilan, keluhan utama apendisitis adalah

nyeri perut, mual, dan muntah. Yang perlu diperhatikan ialah, pada

kehamilan trimester pertama sering juga terjadi mual dan muntah. Pada

kehamilan lanjut sekum dengan apendiks terdorong ke kraniolateral

sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih ke

regio lumbal kanan.

Gejala Klinis

Gambaran klinis yang sering dikeluhkan oleh penderita, antara lain

1. Nyeri abdominal

Nyeri ini merupakan gejala klasik appendisitis. Mula-mula nyeri

dirasakan samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di

daerah epigastrium atau sekitar umbilicus. Setelah beberapa jam

nyeri berpindah dan menetap di abdomen kanan bawah (titik Mc

Burney). Nyeri akan bersifat tajam dan lebih jelas letaknya sehingga

berupa nyeri somatik setempat. Bila terjadi perangsangan peritonium

biasanya penderita akan mengeluh nyeri di perut pada saat berjalan

atau batuk.

2. Mual-muntah biasanya pada fase awal.

3. Nafsu makan menurun.

4. Obstipasi dan diare pada anak-anak.

5. Demam, terjadi bila sudah ada komplikasi, bila belum ada

komplikasi biasanya tubuh belum panas. Suhu biasanya berkisar

37,5º-38,5º C

Keluhan Patologi Keluhan dan tandaPeradangan awal Kurang enak ulu hati/ daerah pusat

mungkin kolikAppendisitis mukosa Nyeri tekan kanan bawah

(rangsangan automik)Radang di seluruh ketebalan dinding

nyeri sentral pindah ke kanan bawah, mual dan muntah

Apendisitis komplet radangPeritoneum parietale appendiks

rangsangan peritoneum lokal (somatik), nyeri pada gerak aktif dan pasif, defans muskuler lokal

Radang alat/jaringan yangmenempel pada appendiks

genitalia interna, ureter, m.psoas, kantung kemih, rektum

perforasi demam sedang, takikardia,mulai toksik, leukositosis

Infiltrasi lokal tidak berhasil demam tinggi, dehidrasi,syok, toksik

Infiltrasi lokal berhasil massa perut kanan bawah, keadaan umum berangsur membaik

Abses demam remiten, keadaan umum toksik,keluhan dan tanda setempat

Pemeriksaan Fisik

Demam biasanya ringan, dengan suhu sekitar 37,5-38,5°C. Bila suhu

lebih tinggi, mungkin sudah terjadi perforasi. Bisa terdapat perbedaan

suhu aksilar dan rektal sampai 1°C.

1. Inspeksi

Kadang sudah terlihat waktu penderita berjalan sambil bungkuk

dan memegang perut. Penderita tampak kesakitan. Pada inspeksi

perut tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat

pada penderita dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut

kanan bawah bisa dilihat pada massa atau abses appendikuler.

2. Palpasi

Dengan palpasi di daerah titik Mc. Burney didapatkan tanda-tanda

peritonitis lokal yaitu:

- Nyeri tekan di Mc. Burney

- Nyeri lepas

- Defans muscular lokal. Defans muscular menunjukkan adanya

rangsangan peritoneum parietal.

Pada appendiks letak retroperitoneal, defans muscular mungkin

tidak ada, yang ada nyeri pinggang. Nyeri rangsangan peritoneum

tidak langsung :

- nyeri tekan bawah pada tekanan kiri (Rovsing)

- nyeri kanan bawah bila tekanan di sebelah kiri dilepaskan

(Blumberg)

- nyeri kanan bawah bila peritoneum bergerak seperti nafas dalam,

berjalan, batuk, mengedan.

- Appendisitis infiltrat atau adanya abses apendikuler terlihat

dengan adanya penonjolan di perut kanan bawah.

3. Auskultasi

Peristaltik usus sering normal. Peristaltik dapat hilang karena ileus

paralitik pada peritonitis generalisata akibat appendisitis perforata.

4. Pemeriksaan colok dubur akan didapatkan nyeri kuadran kanan

pada jam 9-12. Pada appendisitis pelvika akan didapatkan nyeri

terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. Pada apendisitis pelvika

tanda perut sering meragukan, maka kunci diagnosis adalah nyeri

terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. Colok dubur pada anak

tidak dianjurkan.

Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan pemeriksaan yang

lebih ditujukan untuk mengetahui letak apendiks. Uji psoas dilakukan

dengan rangsangan m. psoas lewat hiperekstensi atau fleksi aktif. Bila

apendiks yang meradang menempel di m. psoas, tindakan tersebut akan

menimbulkan nyeri. Uji obturator digunakan untuk melihat apakah

apendiks yang meradang kontak dengan m.obturator internus yang

merupakan dinding panggul kecil. Dengan gerakan fleksi dan

endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang, pada apendisitis

pelvika akan menimbulkan nyeri.

Psoas sign. Nyeri pada saat paha kanan pasien diekstensikan. Pasien

dimiringkan kekiri. Pemeriksa meluruskan paha kanan pasien, pada saat

itu ada hambatan pada pinggul / pangkal paha kanan. Dasar anatomi

dari tes psoas. Apendiks yang mengalami peradangan kontak dengan

otot psoas yang meregang saat dilakukan manuver (pemeriksaan).

Obturator sign. Nyeri pada rotasi kedalam secara pasif saat paha

pasien difleksikan. Pemeriksa menggerakkan tungkai bawah kelateral,

pada saat itu ada tahanan pada sisi samping dari lutut (tanda bintang),

menghasilkan rotasi femur kedalam. Dasar Anatomi dari tes obturator :

Peradangan apendiks dipelvis yang kontak denhgan otot obturator

internus yang meregang saat dilakukan manuver.

Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan Laboratorium

a. Pemeriksaan darah : akan didapatkan leukositosis pada

kebanyakan kasus appendicitis akut terutama pada kasus

dengan komplikasi, kreatinin protein meningkat. Pada

appendicular infiltrat, LED akan meningkat.

b. Pemeriksaan urin : untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan

bakteri di dalam urin. Pemeriksaan ini sangat membantu dalam

menyingkirkan diagnosis banding seperti infeksi saluran kemih

atau batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang hampir

sama dengan appendisitis.

2. Abdominal X-Ray

Digunakan untuk melihat adanya fecalith sebagai penyebab

appendisitis. Pemeriksaan ini dilakukan terutama pada anak-anak.

3. USG

Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan, dapat dilakukan

pemeriksaan USG, terutama pada wanita, juga bila dicurigai

adanya abses. Dengan USG dapat dipakai untuk menyingkirkan

diagnosis banding seperti kehamilan ektopik, adnecitis dan

sebagainya.

4. Barium enema

Suatu pemeriksaan x-ray dengan memasukkan barium ke colon

melalui anus. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-

komplikasi dari appendisitis pada jaringan sekitarnya dan juga

untuk menyingkirkan diagnosis banding. Appendicogram memiliki

sensitivitas dan tingkat akurasi yang tinggi sebagai metode

diagnostik untuk menegakkan diagnosis appendisitis khronis.

Dimana akan tampak pelebaran/penebalan dinding mukosa

appendiks, disertai penyempitan lumen hingga sumbatan usus oleh

fekalit.

5. CT-scan

Dapat menunjukkan tanda-tanda dari appendisitis. Selain itu juga

dapat menunjukkan komplikasi dari appendisitis seperti bila terjadi

abses.

6. Laparoscopi

Suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang

dimasukan dalam abdomen, appendiks dapat divisualisasikan

secara langsung. Tehnik ini dilakukan di bawah pengaruh anestesi

umum. Bila pada saat melakukan tindakan ini didapatkan

peradangan pada appendiks maka pada saat itu juga dapat langsung

dilakukan pengangkatan appendiks.

7. Histopatologi

Pemeriksaan histopatologi adalah standar emas (gold standard)

untuk diagnosis appendisitis akut. Ada beberapa perbedaan

pendapat mengenai gambaran histopatologi appendisitis akut.

Perbedaan ini didasarkan pada kenyataan bahwa belum adanya

kriteria gambaran histopatologi appendisitis akut secara universal

dan tidak ada gambaran histopatologi apendisitis akut pada orang

yang tidak dilakukan operasi. Riber et al, pernah meneliti variasi

diagnosis histopatologi appendisitis akut. Hasilnya adlah perlu

adanya komunikasi antara ahli patologi dan antara ahli patologi

dengan ahli bedahnya.

Definisi histopatologi apendisitis akut:

1. Sel granulosit pada mukosa dengan ulserasi fokal atau difus di

lapisan epitel.

2. Abses pada kripte dengan sel granulosit dilapisan epitel.

3. Sel granulosit dalam lumen appendiks dengan infiltrasi ke

dalam lapisan epitel.

4. Sel granulosit diatas lapisan serosa appendiks dengan abses

apendikuler dengan atau tanpa terlibatnya lapisan mukusa.

5. Sel granulosit pada lapisan serosa atau muskuler tanpa abses

mukosa dan keterlibatan lapisan mukosa, bukan apendisitis

akut tetapi periapendisitis.

Sistem skor Alvarado

Diagnosis appendisitis akut pada anak tidak mudah ditegakkan hanya

berdasarkan gambaran klinis, hal ini disebabkan sulitnya komunikasi

antara anak, orang tua dan dokter. Anak belum mampu untuk

mendiskripsikan keluhan yang dialami, suatu hal yang relatif lebih

mudah pada umur dewasa. Keadaan ini menghasilkan angka

appendiktomi negatif sebesar 20% dan angka perforasi sebesar 20-30%.

Salah satu upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan medis

ialah membuat diagnosis yang tepat. Telah banyak dikemukakan cara

untuk menurunkan insidensi apendiktomi negatif, salah satunya adalah

dengan instrumen skor Alvarado. Skor Alvarado adalah sistem skoring

sederhana yang bisa dilakukan dengan mudah, cepat dan kurang invasif.

Alfredo Alvarado tahun 1986 membuat sistem skor yang didasarkan

pada tiga gejala , tiga tanda dan dua temuan laboratorium. Klasifikasi

ini berdasarkan pada temuan pra operasi dan untuk menilai derajat

keparahan apendisitis.

Gejala dan tanda: Skor

Nyeri berpindah 1

Anoreksia 1

Mual-muntah 1

Nyeri fossa iliaka kanan 2

Nyeri lepas 1

Suhu > 37,30C 1

Leukosit > 10x103/L 2

Neutrofil > 75% 1

Total skor 10

Keterangan Alavarado score :

Dinyatakan appendicitis akut bila > 7 point

Modified Alvarado score tanpa observasi dari hematogram:

1 – 4 dipertimbangkan appendicitis akut

5 – 6 possible appendicitis tidak perlu operasi

7 – 9 appendicitis akut perlu pembedahan

Penanganan berdasarkan skor Alvarado :

1 – 4 : observasi

5 – 6 : antibiotic

7 – 10 : operasi dini

Diagnosis Banding

1. Gastroenteritis

Pada gastroenteritis, mual-muntah dan diare mendahului rasa sakit.

Sakit perut lebih ringan dan tidak berbatas tegas. Hiperperistaltik

sering ditemukan. Panas dan leukositosis kurang menonjol

dibandingkan dengan appendisitis.

2. Limfadenitis mesenterica

Biasanya didahului oleh enteritis atau gastroenteritis. Ditandai

dengan nyeri perut yang samar-samar terutama disebelah kanan, dan

disertai dengan perasaan mual-muntah.

3. Ileitis akut

Berkaitan dengan diare dan sering kali riwayat kronis, tetapi tidak

jarang anorexia, mual, muntah. Jika ditemukan pada laparotomi,

appendiktomi insidental diindikasikan utntuk menghilangkan gejala

yang membingungkan.

4. DHF

Pada penyakit ini pemeriksaan darah terdapat trombositopeni,

leukopeni, rumple leed (+), hematokrit meningkat.

5. Peradangan pelvis

Tuba fallopi kanan dan ovarium terletak dekat appendiks. Radang

kedua organ ini sering bersamaan sehingga disebut salpingo-

ooforitis atau adnecitis. Untuk menegakkan diagnosis penyakit ini

didapatkan riwayat kontak sexual. Suhu biasanya lebih tinggi

daripada appendisitis dan nyeri perut bagian bawah lebih difus.

Biasanya disertai dengan keputihan. Pada colok vaginal jika uterus

diayunkan maka akan terasa nyeri.

6. Kehamilan ektopik

Ada riwayat terhambat menstruasi dengan keluhan yang tidak

menentu. Jika terjadi ruptur tuba atau abortus di luar rahim dengan

perdarahan akan timbul nyeri yang mendadak difus di daerah pelvis

dan mungkin akan terjadi syok hipovolemik. Pada pemeriksaan

colok vagina didapatkan nyeri dan penonjolan di cavum Douglas,

dan pada kuldosentesis akan didapatkan darah.

7. Diverticulitis

Meskipun diverculitis biasanya terletak di perut bagian kiri, tetapi

dapat juga terjadi di sebelah kanan. Jika terjadi peradangan dan

ruptur pada diverticulum gejala klinis akan sukar dibedakan dengan

gejala-gejala appendisitis.

8. Batu ureter atau batu ginjal

Adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut menjalar ke inguinal

kanan merupakan gambaran yang khas. Hematuria sering ditemukan.

Foto polos abdomen atau urografi intravena dapat memastikan

penyakit tersebut.

Penatalaksanaan

1. Appendiktomi

Cito : akut, abses & perforasi

Elektif : kronik

Bila diagnosis klinis sudah jelas maka tindakan paling tepat adalah

apendektomi dan merupakan satu-satunya pilihan yang terbaik.

Penundaan apendektomi sambil memberikan antibiotik dapat

mengakibatkan abses atau perforasi. Insidensi appendiks normal

yang dilakukan pembedahan sekitar 20%. Pada appendisitis akut

tanpa komplikasi tidak banyak masalah. Perjalanan patologis

penyakit dimulai pada saat apendiks menjadi dilindungi oleh

omentum dan gulungan usus halus didekatnya. Mula-mula, massa

yang terbentuk tersusun atas campuran membingungkan bangunan-

bangunan ini dan jaringan granulasi dan biasanya dapat segera

dirasakan secara klinis. Jika peradangan pada apendiks tidak dapat

mengatasi rintangan-rintangan sehingga penderita terus mengalami

peritonitis umum, massa tadi menjadi terisi nanah, semula dalam

jumlah sedikit, tetapi segera menjadi abses yang jelas batasnya.

Massa apendiks terjadi bila terjadi apendisitis gangrenosa atau

mikroperforasi ditutupi atau dibungkus oleh omentum dan atau lekuk usus

halus. Pada massa periapendikular yang pendidingannya belum sempurna,

dapat terjadi penyebaran pus keseluruh rongga peritoneum jika perforasi

diikuti peritonitis purulenta generalisata. Oleh karena itu, massa

periapendikular yang masih bebas disarankan segera dioperasi untuk

mencegah penyulit tersebut. Selain itu, operasi lebih mudah. Pada anak,

dipersiapkan untuk operasi dalam waktu 2-3 hari saja. Pasien dewasa

dengan massa periapendikular yang terpancang dengan pendindingan

sempurna, dianjurkan untuk dirawat dahulu dan diberi antibiotik sambil

diawasi suhu tubuh, ukuran massa, serta luasnya peritonitis. Bila sudah tidak

ada demam, massa periapendikular hilang, dan leukosit normal, penderita

boleh pulang dan apendiktomi elektif dapat dikerjakan 2-3 bulan kemudian

agar perdarahan akibat perlengketan dapat ditekan sekecil mungkin. Bila

terjadi perforasi, akan terbentuk abses apendiks. Hal ini ditandai dengan

kenaikan suhu dan frekuensi nadi, bertambahnya nyeri, dan teraba

pembengkakan massa, serta bertambahnya angka leukosit.

Massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif sebaiknya dilakukan

tindakan pembedahan segera setelah pasien dipersiapkan, karena dikuatirkan

akan terjadi abses apendiks dan peritonitis umum. Persiapan dan

pembedahan harus dilakukan sebaikbaiknya mengingat penyulit infeksi luka

lebih tinggi daripada pembedahan pada apendisitis sederhana tanpa

perforasi. Pada periapendikular infiltrat, dilarang keras membuka perut,

tindakan bedah apabila dilakukan akan lebih sulit dan perdarahan lebih

banyak, lebih-lebih bila massa apendiks telah terbentuk lebih dari satu

minggu sejak serangan sakit perut. Pembedahan dilakukan segera bila dalam

perawatan terjadi abses dengan atau pun tanpa peritonitis umum.

Terapi sementara untuk 8-12 minggu adalah konservatif saja. Pada anak

kecil, wanita hamil, dan penderita usia lanjut, jika secara konservatif tidak

membaik atau berkembang menjadi abses, dianjurkan operasi secepatnya.

Bila pada waktu membuka perut terdapat periapendikular infiltrat maka luka

operasi ditutup lagi, apendiks dibiarkan saja. Terapi konservatif pada

periapendikular infiltrat :

1. Total bed rest posisi fawler agar pus terkumpul di cavum douglassi.

2. Diet lunak bubur saring

3. Antibiotika parenteral dalam dosis tinggi, antibiotik kombinasi yang aktif

terhadap kuman aerob dan anaerob. Baru setelah keadaan tenang, yaitu

sekitar 6-8 minggu kemudian, dilakukan apendiktomi. Kalau sudah terjadi

abses, dianjurkan drainase saja dan apendiktomi dikerjakan setelah 6-8

minggu kemudian. Jika ternyata tidak ada keluhan atau gejala apapun, dan

pemeriksaan jasmani dan laboratorium tidak menunjukkan tanda radang

atau abses, dapat dipertimbangkan membatalakan tindakan bedah.

Analgesik diberikan hanya kalau perlu saja. Observasi suhu dan nadi

Biasanya 48 jam gejala akan mereda. Bila gejala menghebat, tandanya

terjadi perforasi maka harus dipertimbangkan appendiktomy. Batas dari

massa hendaknya diberi tanda (demografi) setiap hari. Biasanya pada hari

ke5-7 massa mulai mengecil dan terlokalisir. Bila massa tidak juga

mengecil, tandanya telah terbentuk abses dan massa harus segera dibuka dan

didrainase.

Komplikasi

1. Perforasi pada apendiks, sekum, dan lekuk usus halus.

Tanda-tanda terjadinya suatu perforasi adalah :

a. nyeri lokal pada fossa iliaka kanan berganti menjadi nyeri

abdomen menyeluruh

b. Suhu tubuh naik tinggi sekali

c. Nadi semakin cepat

d. Defance Muskular yang menyeluruh

e. Bising usus berkurang

f. Perut distended

Akibat lebih jauh dari peritonitis generalisata adalah terbentuknya :

1. Pelvic Abscess

2. Subphrenic absess

3. Intra peritoneal abses lokal

Prognosis

Dengan diagnosis yang akurat serta pembedahan tingkat mortalitas dan

morbiditas penyakit ini sangat kecil. Keterlambatan diagnosis akan

meningkatkan morbiditas dan mortalitas bila terjadi komplikasi.

Serangan berulang dapat terjadi bila appendiks tidak diangkat.

STEP 7

1. Diagnosis banding

a. Keracunan makanan

b. Intoleransi makanan

c. Alergi makanan

d. Malabsorpsi makanan

e. Ileus paralitik

f. Divertukulum mekel

g. Perdarahan GI

Keracunan MakananKeracunan makanan adalah suatu keadaan peradangan akut pada selaput

lendir lambung atau usus kecil. Keracunan makanan sangat umum terjadi

dan terkadang menimbulkan masalah serius hingga mengancam hidup

penderitanya. Banyak sekali penyebab keracunan makanan, yang paling

umum adalah karena infeksi bakteri seperti Campylobacter, Salmonella,

Shigella, Escherichia coli (E. coli), Listeria, dan Botulisme.

Penyebab keracunan makanan

Berikut adalah beberapa organisme yang dapat meracuni makanan :

a. Keracunan oleh Bakteria

Penyebabnya dari keracunan ini adalah campyolobacterosis oleh bakteri

campylobacter seperti E.Coli , Vibro Cholera, Yersenia enterocolitica,

Lysteria monocytogenes, Shigella Sp, Salmonella dan Staphylococcus

Auereus . Biasanya terdapat pada ayam mentah, daging dan susu.

b. Keracunan oleh Virus

Hepatitis A, disebabkan oleh virus pada kerang dan siput yang menempel

pada sayuran mentah yang tidak dicuci sempurna. Norwalkvirus,

disebabkan oleh virus norwalk. Terdapat pada kerang dan siput yang

tercemar kotoran manusia

c. Keracunan oleh Protozoa

Giardiasis, disebabkan oleh Giardia Lambia, terdapat pada usus dan

pencernaan manusia, seringnya karena tidak mencuci tangan sebelum

makan. Amebiasis, disebabkan oleh Entamoeba hystolitica.

d. Penyebab Keracunan lain

Dapat disebabkan oleh cendawan beracun dan juga buah dan sayur yang

terlengketi racun serangga. Keracunan makanan juga bisa disebabkan

karena mengonsumsi alkohol secara berlebihan, alergi terhadap suatu

bahan makanan tertentu yang mungkin menyehatkan bagi orang lain

namun tidak bagi dirinya, dan racun atau bahan kimia tertentu. Sebagian

racun dapat menyebabkan keracunan dalam waktu yang jauh lebih

singkat. Dalam kasus ini, muntah menjadi gejala utama.

Seseorang dicurigai menderita keracunan, bila :

1. Sakit mendadak.

2. Gejala tak sesuai dengan keadaan patologik tertentu.

3. Gejala berkembang dengan cepat karena dosis besar.

4. Anamnese menunjukkan kearah keracunan, terutama kasus percobaan

bunuh diri, pembunuhan atau kecelakaan.

5. Keracunan kronis dicurigai bila digunakannya obat dalam waktu lama

atau lingkungan pekerjaan yang berhubungan dengan zat kimia.

Gejala Keracunan Makanan

Keracunan makanan biasanya dimulai dengan perasan mual, kejang dan

nyeri di perut secara tiba-tiba, perut kembung terutama di bagian bawah

yang diikuti dengan muntah-muntah, diare, dan perasaan lemah. Mungkin

juga muncul perasaan terbakar pada anus, dan tinja yang dikeluarkan

mengandung darah atau semacam lendir. Bila sudah dalam kondisi seperti

ini, si penderita akan kekurangan cairan dan akhirnya syok, hingga asidosis

(terlalu banyak asam pada cairan tubuh).

Dalam dua sampai empat jam setelah memakan makanan yang sudah

terkontaminasi bakteri, penderita akan merasakan kejang perut yang hebat,

diikuti perasaan mual, muntah-muntah, dan diare, sering juga terjadi

kelemahan dan syok yang hebat. Meskipun begitu, pada umumnya serangan

ini akan berakhir dalam beberapa jam diikuti dengan kesembuhan

sempurna.

Prinsip Penatalaksanaan :

1. Mengatasi penyebab terjadinya keracunan

2. Mengatasi masuknya zat racun ke dalam tubuh, atau menjadikan

racun yaang telah masuk ke dalam tubuh menjadi hilang

(dieliminasi) dari dalam tubuh.

3. Mengatasi efek yang ditimbukan oleh racun

Penatalaksanaan

Keracunan makanan dapat ditangani dengan cara :

a. Jangan makan makanan padat saat masih mual atau muntah tapi

minum banyak cairan.

b. Minum cairan dengan sedikit dan sering untuk menjaga tubuh agar

tetap rehidrasi. Dapat juga diberikan susu yang dicampur dengan

telur mentah.

c. Hindari alkohol, kafein, atau minuman manis.

d. Obat Rumah untuk mengobati mual atau diare seperti teh dengan

jeruk nipis dan jahe dapat digunakan untuk mengurangi gejala.

Tidak ada obat herbal makanan terbukti keracunan. Konsultasikan

dengan praktisi kesehatan sebelum mengkonsumsi obat keracunan

makanan alami.

e. Setelah berhasil mentoleransi cairan, makan harus mulai perlahan-

lahan, ketika mual dan muntah telah berhenti. Makanan biasa yang

mudah pada perut harus dimulai dalam jumlah kecil. Awalnya

mempertimbangkan makan nasi, gandum, roti, kentang, sereal

rendah gula, daging, dan ayam (tidak digoreng). Susu dapat

diberikan secara aman, meskipun beberapa orang mungkin

mengalami masalah pada perut karena laktosa intoleransi.

f. Sebagian besar keracunan makanan tidak memerlukan penggunaan

obatobatan untuk menghentikan diare, tetapi mereka umumnya aman

jika digunakan sesuai petunjuk. Hal ini tidak dianjurkan bahwa obat-

obat ini digunakan untuk mengobati anak-anak. Jika ada pertanyaan

atau kekhawatiran, selalu periksa dengan dokter

g. Penggantian cairan yang hilang. Cairan dan elektrolit - mineral

seperti natrium, kalium dan kalsium yang menjaga keseimbangan

cairan dalam tubuh. Terutama yang mengalami diare resisten. Anak-

anak dan orang dewasa yang sangat membutuhkan pengobatan

dehidrasi di rumah sakit, di mana mereka dapat menerima garam dan

cairan melalui vena (intravena), bukan melalui mulut. Hidrasi

intravena memberikan tubuh dengan air dan nutrisi penting jauh

lebih cepat daripada larutan oral lakukan.

h. Antibiotik dapat diresepkan jika memiliki beberapa jenis keracunan

makanan bakteri dan gejala yang berat. Keracunan makanan

disebabkan oleh kebutuhan listeria untuk diobati dengan antibiotik

intravena di rumah sakit. Dan pengobatan cepat dimulai, lebih baik.

Selama kehamilan, pengobatan antibiotik yang cepat dapat

membantu menjaga infeksi dari mempengaruhi bayi.

Penderita keracunan makanan harus dibawa ke dokter jika:

Gejala bertambah parah dan tidak berkurang dalam satu hari.

Demam 38° C atau lebih.

Terdapat gejala dehidrasi berat.

Penderita adalah bayi.

Keracunan terjadi secara massal.

Mencegah Keracunan Makanan

Makanan dapat terkontaminasi selama tahap pembuatan, pengolahan dan

penyajian. Untuk mencegah keracunan makanan, yang harus dilakukan

adalah:

Masak daging, unggas, telur, sosis dan ikan secara matang.

Cuci tangan dengan benar sebelum dan setelah menyiapkan

makanan.

Hindari menggunakan alat masak atau wadah untuk kelas makanan

berbeda, seperti mengiris daging lalu mengiris tahu tanpa pisau

dicuci terlebih dahulu.

Cuci tangan dengan baik setelah memegang hewan.

Jangan mengonsumsi susu yang belum di pasteurisasi.

Selalu perhatikan keterangan kadaluarsa pada makanan.