Laporan Revitalisasi Kawasan Danau Tanjung Bunga

  • Published on
    13-Jul-2015

  • View
    700

  • Download
    3

Transcript

<p>BAB I PENDAHULUAN</p> <p>Kota Makassar memiliki beberapa tapak danau, dalam hal ini yang merupakan Tapak Danau Buatan. Salah satu Tapak danau ini berada pada lokasi kawasan Tanjung Bunga yaitu Danau Tanjung Bunga, yang berada di Kecamatan Tamalate. Danau Tanjung Bunga Makassar merupakan salah satu</p> <p>1.1 Latar Belakang Kota sebagai konsentrasi berbagaai kegiatan manusia yang demikian berkembang sangat cepat dengan berbagai keterbatasan yang ada untuk mengembangan aktifitas tersebut. Didalam lingkungan perkotaan terdapat banyaknya elemen-elemen air yang mendukung untuk terciptanya suatu konsep wisata keairan. Tapak yang didominasi oleh elemen-elemen air, mempunyai ciri dan karakteristik sendiri untuk dilakukan sebuah perencanaan. Tapak Danau yang merupakan gabungan yang dapat disatukan antara unsur Tapak dengan aspek fisik kewisataan yang mengacu pada wisat a tepian air dan aspek fisik dari pemeliharaan unsur ekosistem yang ada pada tapak danau ini. Pengembangan kawasan tepian air (waterfront development) merupakan trend yang melanda kotakota besar dunia sejak tahun 80-an, dan tampak masih akan digemari sampai dasawarsa mendatang. Jenis pengembangan ini dirintis sejak tahun 60-an oleh kota-kota pantai di Amerika yang memanfaatkan lahan-lahan kosong bekas pelabuhan lama untuk dikembangkan menjadi kawasan bisnis, hiburan, serta permukiman. Sukses Amerika ini segera ditiru oleh kota-kotapelabuhan Eropa dan kemudian menyebar ke segala penjuru dunia. Waterfront development sebagai "interface between land and water". Di sini kata "Interface" mengandung pengertian adanya kegiatan aktif yang memanfaatkan pertemuan antara daratan dan perairan. Adanya kegiatan inilah yang membedakannya dengan kawasan lain yang tidak dapat disebut sebagai waterfront development - meski memiliki unsur air - apabila unsur airnya dibiarkan pasif. Dengan demikian pengertian waterfront development dapat dirumuskan sebagai pengolahan kawasan tepian air yaitu kawasan pertemuan antara daratan dan perairan dengan memberikan muatan kegiatan aktif pada pertemuan tersebut. Perairan yang dimaksud bisa berupa unsur air alami (laut, sungai, kanal, danau) atau unsur air buatan (kolam, danau buatan). Sedangkan muatan kegiatan bisa berupa aktivitas perairan seperti berperahu (dayung atau layar) atau aktivitas pantai (pesisir, promenade, atau esplanade) yang memanfaatkan pemandangan perairan. Pengertian waterfornt development telah demikian berkembang, sehingga mencakup pengembangan kawasan yang sama sekali jauh dari sumber air alami.</p> <p>kawasan tepian air yang belum termanfaatkan secara maksimal. Mengingat besarnya potensi dari kawasan tepian air tersebut, Sehingga dibutuhkan pengembangan dan pendekatan tapak danau buatan yang dapat dimaksimalkan dengan berbagai potensi disekitar danau itu sendiri dengan tetap mempertahankan ekosistem yang ada di sekitar danau.</p> <p>1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana Kondisi eksisting di Danau, Tanjung Bunga Makassar ? 2. Masalah-masalah apa yang terlihat di danau Tanjung Bunga ? 3. Potensi apa yang dimiliki danau Tanjung Bunga sebagai daerah tepian air? 4. Bagaimana perilaku dan aktifitas masyarakat di kawasan sekitar Danau Tanjung Bunga, Makassar ? 5. Bagaimana alternative konsep perencanaan tapak yang tepat untuk kawasan Danau Tanjung Bunga, Makassar ?</p> <p>1.3 Tujuan 1. Mengetahui Kondisi eksisting di Danau, Tanjung Bunga Makassar 2. Mengetahu Masalah-masalah di danau Tanjung Bunga 3. Mengetahui Potensi apa yang dimiliki danau Tanjung Bunga 4. Mengetahui perilaku dan aktifitas masyarakat di kawasan sekitar Danau Tanjung Bunga, Makassar. 5. Mengetahui alternative konsep perencanaan tapak yang tepat untuk kawasan Danau Tanjung Bunga, Makassar</p> <p>1</p> <p>Revitalisasi Bangunan dan Kawasan Pantai</p> <p>1.4 Lokasi Revitalisasi Lokasi terletak di Danau Tanjung Bunga, tepatnya berada di Jl. Danau Tanjung Bunga Kelurahan Tanjung Merdeka Kecamatan Tamalate, sekitar 4 km dari pusat kota Makassar.</p> <p>1.5 Sistematika Pembahasan Adapun penyusunan laporaan ini akan dibahas sesuai dengan sistematika pembahasan yang disajikan sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang, permasalahan, tujuan dan sasaran, ruang lingkup (materi dan wilayah) serta sistematika pembahasan. BAB II TINJAUAN TEORI Pada bab ini menguraikan tentang pengertian-pengertian dasar yang berhubungan dengan materi kajian yang relevan. BAB III PEMBAHASAN Bab ini berisi mengenai gambaran umum kondisi danau tanjung bunga serta karakteristik fisik bangunan dan kondisi sosial ekonomi masyarakatnya. BAB IV ANALISIS &amp; KONSEP PERENCANAAN Berisi tentang hasil analisis dari kawasan danau tanjung bunga yang mengaitkan antara kondisi eksisting dengan kondisi yang ideal, serta berisi mengenai alternatif / solusi dari permasalahan yang terdapat pada kawasan danau tanjung bunga dengan meninjau beberapa studi banding dibeberapa tempat BAB V PERENCANAAN KAWASAN Bab ini berisi mengenai langkah yang ditempuh dalam merencanakan kawasan danau tanjung bunga n sesuai dengan tujuan perencanaannya.</p> <p>Makassar</p> <p>Danau Tanjung Bunga</p> <p>BAB VI PENUTUP Bab ini berisi tentang kesimpulan yang dapat diambil dari hasil analisa, kondisi sarana prasarana, karakteristik sosial ekonomi penduduk, dan potensi-potensi yang ada di kawasan danau tanjung bunga, sehingga permasalahan yang ada dapat teratasi dan dilakukan upaya-upaya perkembangannya.</p> <p>2</p> <p>Revitalisasi Bangunan dan Kawasan Pantai</p> <p>BAB II TINJAUAN TEORI Peremajaan Kota Kawasan wisata merupakan kawasan yang didalamnya terdapat berbagai macam kegiatan wisata dan didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah (UU No.10/2009 tentang Kepariwisataan). Proses peremajaan kota diartikan sebagai proses pengembangan kembali bagian wilayah kota yang telah terbangun untuk meningkatkan produktivitas serta kegunaan bagian wilayah kota tersebut. Sebagai suatu fungsi peremajaan kota diartikan sebagai kegiatan untuk menguasai, menata dan merehabilitasi atau membangun kembali suatu bagian wilayah kota yang telah rusak untuk dapat menampung kegiatankegiatan yang konsisten dengan rencana kota yang ada. Sebagai suatu program peremajaan kota dapat merupakan bgian dari suatu kegiatan pelaksanaan pembangunan kota yang terkoordinir dan terpadu. Peremajaan kota (urban renewal) merupakan usaha yang dilakukan untuk mengatasi dan mengantisipasi semakin meluasnya dampak negatif pada perkembangan kota. Dalam hal ini peremajaan kota dilakukan untuk mengatasi masalah kerusakan suatu kawasan/kota (urban blight), yaitu mencakup kerusakan dan kemunduran kualitas dari bangunan-bangunan kota dan lingkungannya, atau jika diukur menurut standar yang berlaku, kondisi bangunan dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat.. Menurut Chapin (Chapin, 1965:311-312), kerusakan kawasan perkotaan terdiri atas dua macam, yaitu : 1. Kerusakan yang sederhana/ringan (simple form of urban blight), meliputi : kerusakankerusakan struktural, tidak ada fasilitas sanitasi, pemeliharaan lingkungan yang elementer kurang, penumpukan sampah, bau/bising, kekurangan fasilitas sosial, dan sebagainya. 2. Kerusakan kawasan kota yang kompleks/rumit (complex form of urban blight), meliputi : tata guna lahan yang campur aduk, pembagian dari blok-blok rumah dan jalan-jalan yang tidak praktis, kondisi yang tidak sehat, keadaan yang tidak aman serta membahayakan, dan sebagainya.</p> <p>Pariwisata Air Pariwisata air adalah kegiatan bepergian dengan tujuan atau obyek pemandangan alam maupun buatan berupa kawasan perairan. Pariwisata air merupakan kegiatan yang dilakukan diluar kegiatan sehari-hari misalnya dengan menikmati pemandangan kawasan perairan. Pariwisata air selalu dikaitkan dengan penggunaan fasilitas-fasilitas wisata yang tersedia yang mendukung kegiatan wisata air.Pariwisata air dikaitkan dengan kegiatan bersenang-senang atau hiburan menikmati pemandangan atau melakukan kegiatan rekreasi wisata air.</p> <p>Pengembangan Danau Rancangan Peraturan Pemerintah Tentang Sungai Dan Danau, 23-24 Desember 2004 y Danau adalah wadah air dan ekosistem yang terbentuk secara alamiah termasuk situ dan wadah air sejenis dengan sebutan istilah lokal. (Bab I,Pasal 1, ayat 2) y Pendayagunaan sungai dan danau adalah upaya penatagunaan, penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan sungai dan danau secara optimal, agar berhasil guna dan berdaya guna. (Bab I,Pasal 1, ayat 9) y Pengembangan sungai dan danau adalah upaya peningkatan manfaat fungsi sungai dan danau dengan memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan. (Bab I,Pasal 1, ayat 15) y Garis sempadan danau adalah garis maya batas luar perlindungan danau. (Bab I,Pasal 1, ayat 25) y Garis sempadan danau ditetapkan sekurang kurangnya 500 (lima ratus) meter dari titik pasang tertinggi kearah darat dan berfungsi sebagai sabuk hijau. (Pasal 26 a) y Pemanfaatan lahan di daerah manfaat sungai dapat untuk menyelenggarakan kegiatan bagi</p> <p>masyarakat yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan fungsi sungai. Peremajaan kota dilakukan dengan pertimbangan beberapa faktor, diantaranya adalah faktor ekonomi dan faktor non-ekonomi. Faktor pertimbangan ekonomi, menurut Richardson (Dritasto, dkk., 1998:69) ada dua hal yang mengakibatkan diperlukannya usaha peremajaan kota, yaitu : y y Pertama, keadaan buruk perumahan penduduk berpenghasilan rendah di pusat kota, Kedua, adanya kebutuhan akan lokasi di pusat kota untuk kegiatan komersial maupun perumahan penduduk berpenghasilan tinggi.3 Revitalisasi Bangunan dan Kawasan Pantai</p> <p>Catatan: dapat digunakan untuk olah raga, rekreasi, parkir dll. (Pasal 27, ayat 1 f) y Garis sempadan danau ditetapkan sekurang kurangnya 50 (lima puluh) meter dari titik pasang tertinggi kearah darat dan berfungsi sebagai sabuk hijau. (Pasal 26 a)</p> <p>y Pemanfaatan lahan di daerah manfaat sungai dapat</p> <p>untuk menyelenggarakan kegiatan bagi</p> <p>Janis-Jenis / Macam-Macam Danau yang ada di Indonesia : 1. Danau Buatan / Waduk Danau buatan adalah danau yang secara sengaja dibuat oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan air</p> <p>masyarakat yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan fungsi sungai. Catatan: dapat digunakan untuk olah raga, rekreasi, parkir dll. (Pasal 27, ayat 1 f) y Pengembangan sungai dan danau dilaksanakan dengan memperhatikan karakteristik dan fungsi sungai dan danau yang bersangkutan. (Pasal 40, ayat 2) 2. Danau Karst y Pengembangan sungai dan danau wajib memperhatikan kekhasan dan aspirasi daerah serta masyarakat setempat, serta aspirasi seluruh pemilik kepentingan pada setiap tahap pengembangan dan dapat mengikutsertakan masyarakat, lembaga, atau badan usaha untuk ikut berperan. (Pasal 40, ayat 3) 3. Danau Tektonik Danau tektonik adalah danau yang terjadi akibat adanya aktivitas / peristiwa tektonik yang mengakibatkan permukaan tanah pada lapisan kulit bumi turun ke bawah membentuk cekung dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 63 Tahun 1993 Tentang Garis Sempadan Sungai, Daerah Manfaat Sungai, Daerah Penguasaan Sungai Dan Bekas Sungai y Untuk danau dan waduk, garis sempadan ditetapkan sekurangkurangnya 50 (lima puluh) meter dari titikpasang tertinggi kearah darat, (pasal 10 a) y Pemanfaatan lahan di daerah sempadan dilakukan oleh masyarakat untuk kegiatan-kegiatan tertentu sebagal berikut: a. Untuk budidaya pertanian, dengan jenis tanaman yang diijinkan. b. Untuk kegiatan niaga, penggalian dan penimbunan. c. Untuk pemasangan papan reklame, papan penyuluhan dan peringatan, serta rambu-rarnbu pekerjaan: d. Untuk pemasangan rentangan kabel listrik, kabel telepon,dan pipa air minum. e. Untuk pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan / jembatan baik umum maupun kereta api. f. Untuk penyelenggaraan yang bersifat sosial dan masyarakat yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan fungsi serta fisik sungai. g. Untuk pembangunan prasarana lalu lintas air dan bangunan pengambilan dan pembuangan air. (pasal 11) Arti danau adalah suatu cekungan pada permukaan bumi yang berisi air. Danau dapat memiliki manfaat serta fungsi seperti untuk irigasi pengairan sawah, ternak serta kebun, sebagai objek pariwisata, sebagai PLTA atau pembangkit listrik tenaga air, sebagai tempat usaha perikanan darat, sebagai sumber penyediaan air bagi makhluk hidup sekitar dan juga sebagai pengendali banjir dan erosi.4 Revitalisasi Bangunan dan Kawasan Pantai</p> <p>pertanian, perikanan darat, air minum, dan lain sebagainya. Contoh : Waduk Jatiluhur di Jawa Barat.</p> <p>Danau karts adalah danau yang berada di daerah berkapur di mana yang berukuran kecil disebut doline dan yang besar dinamakan uvala.</p> <p>akhirnya terisi air. Contoh yakni : Danau Toba di Sumatera Utara. 4. Danau Vulkanik / Danau Kawah Danau vulkanik adalah danau yang terbentuk pada bekas kawah gunung berapi. Contoh yaitu : Danau Batur di Bali. RTH Sumber Air Baku/Mata Air RTH sumber air meliputi sungai, danau/waduk, dan mata air. Untuk danau dan waduk, RTH terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Untuk mata air, RTH terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurangkurangnya 200 (dua ratus) meter di sekitar mata air.</p> <p>Kriteria Vegetasi untuk RTH pada Sumber Air Baku/Mata Air Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) relatif tahan terhadap penggenangan air;</p> <p>1)</p> <p>Peneduh a) ditempatkan pada jalur tanaman (minimal 1,5 m dari tepi median); b) percabangan 2 m di atas tanah; c) bentuk percabangan batang tidak merunduk; d) bermassa daun padat; e) berasal dari perbanyakan biji; f) ditanam secara berbaris; g) tidak mudah tumbang.</p> <p>b) daya transpirasi rendah; c) memliki sistem perakaran yang kuat dan dalam, sehingga dapat menahan erosi dan meningkatkan infiltasi (resapan) air. Vegetasi ideal yang ditanam pada RTH pengaman sumber air merupakan vegetasi yang tidak mengkonsumsi banyak air atau yang memiliki daya transpirasi yang rendah. Beberapa tanaman yang memiliki daya transpirasi yang rendah antara lain (Manan, 1976 dan Kurniawan, 1993): Cemara Laut (Casuarina equisetifolia), Karet Munding (Ficus elastica), Manggis (Garcinia mangostana), Bungur (Lagerstroemia speciosa), Kelapa (Cocos nucifera), Damar (Agathis loranthifolia), Kiara Payung (Filicium decipiens).</p> <p>Perencanaan RTH ( Ruang Terbuka Hijau ) y RTH Jalur Hijau Jalan</p> <p>2)</p> <p>Penyerap polusi udara a) terdiri dari pohon, perdu/semak; b) memiliki kegunaan untuk menyerap udara; c) jarak tanam rapat; d) bermassa daun padat.</p> <p>Untuk jalur hijau jalan, RTH dapat disediakan dengan penempatan tanaman antara 2030% dari ruang milik jalan (rumija) sesuai dengan klas jalan. Untuk menentukan pemilihan jenis tanaman, perlu memperhatikan 2 (dua) hal, yaitu fungsi tanaman dan persyaratan penempatannya. Disarankan agar dipilih jenis tanaman khas daerah setempat, yang disukai oleh burung-burung, serta tingkat evapotranspirasi rendah.</p> <p>3)</p> <p>Peredam kebisingan a) terdiri dari pohon, perdu/semak; b) membentuk massa;</p> <p>1. Pulau Jalan d...</p>

Recommended

View more >