LAPORAN PENDAHULUAN frktr

Embed Size (px)

DESCRIPTION

DAFTAR PUSTAKA: Doenges Marlyn E, Moorhouse Mary Frances, Geissler Alice C, 1999, "Pedoman Asuhan Keperawatan", Edisi ke-3. Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Long Barbara C, 1996, "Medical Bedah 2" Yayasan IAPK, Pajajaran, Bandung Price Sylvia A, Wilson Lorraine M, 1995 "Patifosiologi", Edisi ke-4 Buku ke II, Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Citation preview

LAPORAN PENDAHULUANDefinisiFraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis baik yang bersifat total maupun parsial (PERMENKES RI, 2014).Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Price dan Wilson, 2006).Fraktur tertutup adalah suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar (PERMENKES RI, 2014).Klasifikasi fraktur humerusFraktur Humerus menurut Suzanne C. Smeltzer (2001 ; 2368-2371) dibagi menjadi :Fraktur kolum humeriFraktur humerus proksimal dapat terjadi pada kolum anatomikum maupun kolum sirurgikum humeri. Kolum anatomikum humeri terletak di bawah kaput humeri. Kolum sirurgi humeri terletak di bawah tuberkulum. Fraktur impaksi kolum sirurgikum humeri paling sering terjadi pada wanita tua setelah jatuh posisi tangan menyangga. Fraktur ini pada dasarnya tidak bergeser.Fraktur batang humerusFraktur batang humerus paling sering disebabkan oleh :Trauma langsung yang mengakibatkan fraktur tranversal (sepanjang garis tengah tulang), oblik (membentuk sudut dengan garis tengah tulang) atau komunitif (tulang pecah menjadi beberapa segmen)Gaya memutar tak langsung yang menghasilkan fraktur spion (memuntir seputar batang tulang) saraf dan pembuluh darah brakhialis dapat mengalami cedera.Fraktur pada sikuFraktur humerus distal akibat kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh dengan siku menumpu (posisi ekstensi atau fleksi) atau hantaman langsung. Fraktur ini dapat mengakibatkan kerusakan saraf akibat cedera pada saraf medianus, radialis dan ulna.EtiologiEtiologi dari fraktur menurut Price dan Wilson (2006) ada 3 yaitu:Cidera atau benturan Fraktur patologikFraktur patologik terjadi pada daerah-daerah tulang yang telah menjadi lemah oleh karena tumor, kanker dan osteoporosis.Fraktur bebanFraktur beban atau fraktur kelelahan terjadi pada orang- orang yang baru saja menambah tingkat aktivitas mereka, seperti baru di terima dalam angkatan bersenjata atau orang- orang yang baru mulai latihan lari.Manifestasi KlinikTanda dan gejala fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan ekstrimitas, krepitus, pembengkakan local, dan perubahan warna.PatofisiologiTrauma yang terjadi menyebabkan fraktur, akibatnya jika satu tulang sudah patah, maka jaringan lunak sekitarnya seperti pembuluh darah, otot, dan organ terdekatpun ikut rusak, periosteum terpisah dari tulang, dan terjadi perdarahan hebat, timbul rasa nyeri, kejang otot sekitar fraktur menyebabkan tertariknya segmen tulang sehingga menyebabkan deformitas.Apabila terjadi fraktur tertutup dimana kulit tidak ditembus oleh fragment tulang, maka tempat fraktur tidak akan tercemar lingkungan. Sedangkan apabila terjadi fraktur terbuka dimana kulit ditembus fragment tulang, maka luka tersebut dapat terkontaminasi oleh benda asing yang dapat menyebabkan infeksi (Sylvia A. Price, 1995 : 1185).PhatwayFaktor EtiologiFraktur CemasDiskonitinuitas TulangPergeseran TulangPerubahan Jaringan sekitar Resiko Infeksi Terputusnanya inkontinuitas Jaring Merangsang pengeluaran histamine ,Bradikinin, serotoninLaserasi Kulit Pergeseran Pragmen tulang Diterima oleh reseptor nyeriPada medulla spinalisKerusakan Integritas Kulit DeformitasHipotalamus Gangguan Fungsi Nyeri Gangguan Mobilitas FisikPenatalaksanaanMuttaqin (2008) konsep dasar yang harus dipertimbangkan pada waktu menangani fraktur yaitu : rekognisi, reduksi, retensi, dan rehabilitasi.Rekognisi (Pengenalan)Riwayat kecelakaan, derajat keparahan, harus jelas untuk menentukan diagnosa dan tindakan selanjutnya. Reduksi (manipulasi/ reposisi)Reduksi adalah usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen fragmen tulang yang patah sedapat mungkin kembali lagi seperti letak asalnya.Reduksi fraktur dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan. Pada kebanyakan kasus, reduksi fraktur menjadi semakin sulit bila cedera sudah mulai mengalami penyembuhan. Retensi (Immobilisasi)Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara optimal.RehabilitasiMengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin untuk menghindari atropi atau kontraktur. Bila keadaan mmeungkinkan, harus segera dimulai melakukan latihan-latihan untuk mempertahankan kekuatan anggota tubuh dan mobilisasi.Pemeriksaan PenunjangFoto polosUmumnya dilakukan pemeriksaan dalam proyeksi AP dan lateral, untuk menentukan lokasi, luas dan jenis fraktur.Pemeriksaan radiologi lainnyaSesuai indikasi dapat dilakukan pemeriksaan berikut, antara lain: radioisotope scanning tulang, tomografi, artrografi, CT-scan, dan MRI, untuk memperlihatkan fraktur dan mengidentifikasi kerusakan jaringan lunakPemeriksaan darah rutin dan golongan darahHt mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple). Peningkatan sel darah putih adalah respon stress normal setelah trauma. Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal. 5. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah. (PERMENKES RI, 2014).Asuhan KeperawatanData Fokus PengkajianRiwayat penyakit sekarangKaji kronologi terjadinya trauma yang menyebabkan patah tulang, pertolongan apa yang di dapatkan, apakah sudah berobat ke dukun patah tulang. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan, perawat dapat mengetahui luka kecelakaan yang lainya. Riwayat penyakit dahuluPada beberapa keadaan, klien yang pernah berobat ke dukun patah tulang sebelumnya sering mengalami mal-union. Penyakit tertentu seperti kanker tulang atau menyebabkan fraktur patologis sehingga tulang sulit menyambung. Selain itu, klien diabetes dengan luka di kaki sangat beresiko mengalami osteomielitis akut dan kronik serta penyakit diabetes menghambat penyembuhan tulang.Riwayat penyakit keluargaPenyakit keluarga yang berhubungan dengan patah tulang adalah salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik (Muttaqin (2008)).Nyeri / kenyamananNyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area jaringan / kerusakan tulang pada imobilisasi ), tidak ada nyeri akibat kerusakan syaraf (Gangguan sensibilitas). Spasme / kram otot (setelah imobilisasi), Sulit digerakkan, Deformitas, Bengkak , Perubahan warna , Kelemahan otot Pemeriksaan Fisik Inspeksi (look) Adanya deformitas dari jaringan tulang, namun tidak menembus kulit. Anggota tubuh tdak dapat digerakkan.Palpasi (feel)Teraba deformitas tulang jika dibandingkan dengan sisi yang sehat.Nyeri tekanBengkakMengukur panjang anggota gerak lalu dibandingkan dengan sisi yang sehat.Gerak (move) Umumnya tidak dapat digerakkan(PERMENKES RI, 2014)Analisa DataNoDataEtiologiMasalah1.DO : a.Ekspresi wajah meringis b.Terdapat luka insisi sepanjang 5 cm, 8 buah jahitan Fraktur akibat kecelakaan (tabrakan) Terputusnya kontinuitas tulang dan jaringan Merangsang reseptor nyeri Merangsang pengeluaran zat-zat bradikinin, histamin, serotinin dan prostaglandin Rangsang nyeri dihantarkan ke thalamus Nyeri dipersepsikan Nyeri2.DO :Tampak ada lukaKlien tampak tidak nyamanFrakturDiskontinuitas TulangPerubahan Jaringan sekitarLaserasi KulitKerusakan integritas kulit3.DO : a.Klien tampak berbaring di tempat tidur b.Aktivitas dibantu oleh perawat dan keluargaNyeri Klien enggan bergerak Klien imbobilisasi Aktivitas dibantu keterbatasan gerak Gangguan mobilitas fisik4.DO :Balutan 2 hari belum digantiTerdapat tanda infeksi rubor, kalor, dolor dan fungsiolesaTerputusnya kontinuitas jaringan kulit Pola hygiene klien kurang baik. Balutan yang terkontaminasi kuman dapat menyebabkan invasi kuman tersebut melalui luka. Resiko terjadinya infeksiResiko Infeksi5.DO :Klien selalu bertanya-tanyaKlien sering melamunPerubahan status kesehatan Koping individu tidak adekuat Kurangnya informasi Kurang pengetahuan klien tentang penyakitnya CemasDiagnosa KeperawatanNyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang, gerakan fragmen tulang, edema dan cedera pada jaringan, alat traksi/immobilisasi, stress, ansietas.Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status metabolik, kerusakan sirkulasi dan penurunan sensasi dibuktikan oleh terdapat luka / ulserasi, kelemahan, penurunan berat badan, turgor kulit buruk, terdapat jaringan nekrotik.Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan, kerusakan muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan kekuatan/tahanan.Risiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh, respons inflamasi tertekan, prosedur invasif dan jalur penusukkan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan.Kurang pengetahuan tantang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi.Intervensi KeperawatanIntervensi dan implementasi keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op frakture meliputi :Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang, gerakan fragmen tulang, edema dan cedera pada jaringan, alat traksi/immobilisasi, stress, ansietas.Tujuan : nyeri dapat berkurang atau hilang.Kriteria Hasil : Nyeri berkurang atau hilang, Klien tampak tenang.Lakukan pendekatan pada klien dan keluargaR/ hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatifKaji tingkat intensitas dan frekwensi nyeriR/ tingkat intensitas nyeri dan frekwensi menunjukkan skala nyeriJelaskan pada klien penyebab dari nyeriR/ memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang nyeri.Observasi tanda-tanda vital.R/ untuk mengetahui perkembangan klienMelakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesikR/ merupakan tindakan dependent perawat, dimana analgesik berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri.Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status metabolik, kerusakan sirkulasi dan penurunan sensasi dibuktikan oleh terdapat luka / ulserasi, kelemahan, penurunan berat badan, turgor kulit buruk, terdapat jaringan nekrotik.Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai.Kriteria Hasil : tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus., luka bersih tidak lembab dan tidak kotor, Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka.R/ mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam melakukan tindakan yang tepat.Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan lukaR/ mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah intervensi.Pantau peningkatan suhu tubuh.R/ suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan.Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka dengan kasa kering dan steril, gunakan plester kertas.R/ tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi.Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan, misalnya debridement.R/ agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas pada area kulit normal lainnya.Setelah debridement, ganti balutan sesuai kebutuhan.R/ balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi parah/ tidak nya luka, agar tidak terjadi infeksi.Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.R/ antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme pathogen pada daerah yang berisiko terjadi infeksi.Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan, kerusakan muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan kekuatan/tahanan.Tujuan : Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.Kriteria hasil : penampilan yang seimbang, melakukan pergerakkan dan perpindahan., mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi, dengan karakteristik :0 : mandiri penuh1 : memerlukan alat bantu2 : memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan, pengawasan.3 : membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat bantu4 : ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas.Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan.R/ mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas.R/ mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah ketidakmauan.Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu.R/ menilai batasan kemampuan aktivitas optimal.Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif.R/ mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot.Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi.R/ sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien.Risiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh, respons inflamasi tertekan, prosedur invasif dan jalur penusukkan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan.Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol.Kriteria hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus. Luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.Pantau tanda-tanda vital.R/ mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat.Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptikR/ mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen.Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll.R/ untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit.R/ penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi.Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.R/ antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.Kurang pengetahuan tantang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi.Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan.Kriteria Hasil :Melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan.Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen perawatan.Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.R/ mengetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.R/ dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya.R/ diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan.Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan.R/ mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.DAFTAR PUSTAKAHarman, T. Heather. NANDA International Diagnose Keperawatan Definisi Dan Klasifikasi 2012-2014Muttaqin, Arif. Buku Ajaran Asuhan Keperawatan Klien Gangguan System Musculoskeletal. Jakarta : EGC. 2008Nurarif A H, Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnose Medis. Yogyakarta : Medication Publishing ; 2013Price & Wilson. Patofisiologi Konsep Klinis Penyakit Edisi 6. Jakarta : EGC, 2006Peraturan Menteri Kesehatan Republic Indonesia Nomor 5 Tahun 2014.pdf