of 23 /23
BAB I LAPORAN KASUS I. IDENTITAS Nama : Tn. S Umur : 45 tahun Jenis kelamin : Laki-laki Bangsa : Indonesia Agama : Islam Pendidikan : SMA Pekerjaan : Buruh Alamat : Rukun Ujung, Pasar Minggu No RM : 852418 II. ANAMNESIS Dilakukan autonamnesis pada tanggal 8 Februari 2013, jam 1300 WIB. Keluhan utama : Pasien mengeluh penglihatan mata kanan dan kiri buram sejak 4 hari lalu. Keluhan tambahan : Pasien juga mengeluh kedua mata merah, nyeri sekitar mata dan sakit kepala. Riwayat penyakit sekarang 1

Laporan Kasus Glaukoma Akut

Embed Size (px)

DESCRIPTION

glaukoma

Citation preview

Page 1: Laporan Kasus Glaukoma Akut

BAB I

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS

Nama : Tn. S

Umur : 45 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Bangsa : Indonesia

Agama : Islam

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Buruh

Alamat : Rukun Ujung, Pasar Minggu

No RM : 852418

II. ANAMNESIS

Dilakukan autonamnesis pada tanggal 8 Februari 2013, jam 1300 WIB.

Keluhan utama : Pasien mengeluh penglihatan mata kanan dan kiri buram sejak 4 hari

lalu.

Keluhan tambahan : Pasien juga mengeluh kedua mata merah, nyeri sekitar mata dan

sakit kepala.

Riwayat penyakit sekarang

Sejak 4 hari lalu, pasien mengeluh penglihatan pada mata kanan dan kiri buram. Buram pada

kedua mata munculnya tiba-tiba. Pasien mengeluh hanya bisa melihat bayangan

samar-samar. Pasien juga mengeluh kedua mata merah, sedikit berair namun

menyangkal terdapatnya gatal, belekan dan silau. Pasien juga mengeluh terdapat

nyeri pada kedua mata. Nyeri dirasakan terus menerus dan menghilang setelah tidur

1

Page 2: Laporan Kasus Glaukoma Akut

sebentar. Pasien juga mengeluh sakit kepala terus-menerus. Keluhan mual dan

muntah disangkal. Riwayat trauma dan penggunaan obat-obatan tetes mata yang lama

sebelumnya disangkal.

Riwayat penyakit dahulu :

Riwayat sakit mata sebelumnya disangkal pasien. Tidak ada riwayat hipertensi dan

diabetes mellitus pada pasien. Riwayat memakai kaca mata juga disangkal.

Riwayat penyakit keluarga :

Tidak ada anggota keluarga serumah yang mengalami keluhan yang sama dengan

pasien.

III. PEMERIKSAAN FISIK

A. Status generalis

Keadaan umum : Tampak sakit ringan

Kesadaran : Compos mentis

Tekanan darah : 120/80 mmHg

Frekuensi nadi : 84x/ menit

Suhu : 36.6oC

Pernafasan : 20x/ menit

B. Status Oftalmologis

2

Page 3: Laporan Kasus Glaukoma Akut

Occuli Dekstra (OD) Occuli Sinistra (OS)

3/60 Visus 3/60

Ortoforia Kedudukan bola mata Ortoforia

Bola mata bergerak ke

segala arah

Pergerakan bola mata Bola mata bergerak ke

segala arah

Oedema (-), Hiperemis (-),

Enteropion (-), Ekteropion

(-), Trikiasis (-), Distikiasis

(-)

Palpebra superior Oedema (-), Hiperemis (-),

Enteropion (-), Ekteropion

(-), Trikiasis (-), Distikiasis

(-)

Oedema (-), Hiperemis (-),

Enteropion (-), Ekteropion

(-), Trikiasis (-), Distikiasis

(-)

Palpebra inferior Oedema (-), Hiperemis (-),

Enteropion (-), Ekteropion

(-), Trikiasis (-), Distikiasis

(-)

Hiperemis (-), Folikel (-),

Papil (-), Litiasis (-)

Konjungtiva Tarsal

Konjungtiva Superior

Hiperemis (-), Folikel (-),

Papil (-), Litiasis (-)

Hiperemis (-), Folikel (-), Konjungtiva Tarsal Hiperemis (-), Folikel (-),

3

Page 4: Laporan Kasus Glaukoma Akut

Papil (-), Litiasis (-), Sekret

(-)

Inferior Papil (-), Litiasis (-, Sekret

(-)

Injeksi silier (-), Injeksi

konjungtiva (+),

Subkonjungtival bleeding

(-), Pinguekula (-),

Pterigium (-)

Konjungtiva Bulbi Injeksi silier (+), Injeksi

konjungtiva (+),

Subkonjungtival bleeding

(-), Pinguekula (-),

Pterigium (-)

Occuli Dekstra (OD) Occuli Sinistra (OS)

Jernih Kornea Jernih

Dalam COA Dalam

Warna coklat, kripti baik Iris Warna coklat, kripti baik

Bulat, tepi regular,

RCL/RCTL (+)

Pupil Bulat, tepi regular,

RCL/RCTL (+)

Jernih Lensa Jernih

Jernih Vitreous humor Jernih

Refleks fundus (+), papil

bulat, batas tegas, CD ratio

0.3, arteri : vena = 2:3,

refleks macula (+)

Funduskopi Refleks fundus (+), papil

bulat, batas tegas, CD ratio

0.3, arteri : vena = 2:3,

refleks macula (+)

25.8 TIO 30.4

IV. RESUME

4

Page 5: Laporan Kasus Glaukoma Akut

Tn. S usia 45 tahun datang dengan keluhan penglihatan pada mata kanan dan kiri buram

sejak 4 hari lalu. Buram pada kedua mata munculnya tiba-tiba dan hanya bisa melihat

bayangan samar-samar. Kedua mata merah, sedikit berair dan nyeri. Nyeri dirasakan

terus menerus dan menghilang setelah tidur sebentar. Pasien juga mengeluh sakit

kepala terus-menerus.

Berdasarkan pemeriksaan oftalmologis, didapatkan visus occuli dextra (OD) dan

sinistra (OS) adalah 3/60. Pada konjungtiva bulbi terdapat injeksi konjungtiva. Pada

pemeriksaan tekanan bola mata didapatkan TIO mata kanan (25.8) dan mata kiri

(30.4)

V. DIAGNOSIS

Glaukoma akut ODS

VI. PENATALAKSANAAN

Medikamentosa

Timol 0.5% eye drop 2 dd gtt I ODS

Polynel eye drop 6 dd gtt I ODS

Glaucon tab 2 dd I

KCL tab 2 dd I

VII. PROGNOSIS

Ad vitam : Ad bonam

Ad fungsionam : Ad bonam

Ad sanationam : Ad bonam

5

Page 6: Laporan Kasus Glaukoma Akut

BAB II

ANALISA KASUS

Pada kasus ini, pasien didiagnosis glaukoma akut pada mata kanan dan kiri berdasarkan

anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Hasil anamnesis yang mendukung

glaukoma akut pada mata kanan dan kiri yaitu :

Mata kanan dan kiri mendadak buram sejak 4 hari lalu.

Mata kanan dan kiri merah.

Nyeri pada mata kanan dan kiri yang timbul mendadak.

Nyeri kepala.

Sedangkan dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada mata kanan didapatkan :

Konjungtiva bulbi : hiperemis dengan injeksi konjungtiva.

Visus mata kanan dan kiri menurun (3/60)

Pemeriksaan TIO dengan tonometri :

OD: 25.8

OS:30.4

Berdasarkan etiologinya glaukoma terdiri dari glaukoma primer, sekunder, glaukoma

kongenital. Glaukoma primer adalah glaukoma yang tidak diketahui penyebabnya. Glaukoma

sekunder adalah glaukoma yang disebabkan oleh kelainan penyakit di dalam mata tersebut

seperti kelainan pada kornea (seperti lekoma adherens), COA (seperti hifema, hipopion),

iris/pupil (sinekia posterior, tumor iris), dan lain-lain. Glaukoma kongenital adalah glaukoma

yang dibawa sejak lahir. Sedangkan berdasarkan mekanisme peningkatan tekanan intraokular,

glaukoma terbagi dalam glaukoma sudut terbuka dan glaukoma sudut tertutup. Pasien dalam

6

Page 7: Laporan Kasus Glaukoma Akut

kasus ini tergolong dalam glaukoma primer sudut tertutup. Gejala dan tanda pada glaukoma akut

tertutup, ditemukan mata merah dengan penglihatan turun mendadak, tekanan intraokuler

meningkat mendadak, nyeri yang hebat, melihat halo di sekitar lampu yang dilihat, terdapat

gejala gastrointestinal berupa mual dan muntah. Mata menunjukkan tanda-tanda peradangan

dengan kelopak mata bengkak, kornea suram dan edem, iris sembab meradang, pupil melebar

dengan reaksi terhadap sinar yang lambat, papil saraf optik hiperemis. Gejala spesifik seperti di

atas tidak selalu terjadi pada mata dengan glaucoma akut. Kadang-kadang riwayat mata sakit

disertai penglihatan yang menurun mendadak sudah dapat dicurigai telah terjadinya serangan

glaucoma akut seperti gejala dan tanda yang ditunjukkan pasien.

Ketika terjadi serangan glaukoma akut primer, terjadi sumbatan sudut kamera anterior

oleh iris perifer. Hal ini menyumbat aliran humor akuos dan tekanan intraokular meningkat

dengan cepat, menimbulkan nyeri hebat, kemerahan, dan kekaburan penglihatan. Serangan akut

biasanya terjadi pada pasien berusia tua seiring dengan pembesaran lensa kristalina yang

berkaitan dengan penuaan. Pada glaukoma akut, pupil berdilatasi sedang, disertai sumbatan

pupil. Hal ini biasanya terjadi pada malam hari saat tingkat pencahayaan berkurang. Rasa nyeri

hebat pada mata yang menjalar sampai kepala merupakan tanda khas glaukoma akut. Hal ini

terjadi karena meningkatnya tekanan intraokular sehingga menekan simpul-simpul saraf di

daerah kornea yang merupakan cabang dari nervus trigeminus. Sehingga daerah sekitar mata

yang juga dipersarafi oleh nervus trigeminus ikut terasa nyeri. Pada Glaukoma akut, tekanan

okular sangat meningkat, sehingga terjadi kerusakan iskemik pada iris yang disertai edem

kornea, hal ini menyebabkan penghilatan pasien sangat kabur secara tiba-tiba dan visus menjadi

menurun.

7

Page 8: Laporan Kasus Glaukoma Akut

Glaukoma akut merupakan salah satus kasus kegawatdaruratan pada penyakit

mata sehingga penatalaksanaan harus dilakukan segera di rumah sakit. Tujuan pengobatan pada

glaukoma akut adalah untuk menurunkan tekanan bola mata secepatnya kemudian apabila

tekanan bola mata normal dan mata tenang maka dapat dilakukan pembedahan. Pengobatan pada

glaukoma akut harus segera berupa kombinasi pengobatan sistemik dan topikal.

Pada kasus ini, pasien diberikan obat topikal tetes mata Timolol 0.5% 2x1 tetes (ODS)

dan Polynel 6x1 tetes (ODS) sedangkan untuk pengobatan sistemik diberikan Glaucon

(asetazolamid) tablet 2x1 mg dan KCL tablet 2x1.

Glaucon mengandung asetazolamid yang termasuk dalam golongan karbonik anhidrase

inhibitor. Efeknya dapat menurunkan tekanan dengan menghambat produksi humor akuos

sehingga sangat berguna untuk menurunkan tekanan intraokular secara cepat. Obat ini dapat

diberikan secara oral dengan dosis 250-1000 mg per hari. Pada pasien dengan glaukoma akut

yang disertai mual muntah dapat diberikan Asetazolamid 500 mg IV, yang disusul dengan 250

mg tablet setiap 4 jam sesudah keluhan mual hilang. Pemberian obat ini memberikan efek

samping hilangnya kalium tubuh, parastesi, anoreksia, diarea, hipokalemia, batu ginjal dan

miopia sementara. Untuk mencegah efek samping tersebut, pada pasien ini diberikan pemberian

KCL tablet.

Timolol merupakan beta bloker non selektif dengan aktivitas dan konsentrasi tertinggi

pada camera occuli posterior (COP) yang dicapai dalam waktu 30-60 menit setelah pemberian

topikal. Beta bloker dapat menurunkan tekanan intraokular dengan cara mengurangi produksi

humor aquos. Penggunan beta bloker non selektif sebagai inisiasi terapi dapat diberikan 2 kali

dengan interval setiap 20 menit dan dapat diulang dalam 4, 8, dan 12 jam kemudian. Pemberian

Timolol 0.5% 2x1 tetes (ODS) sudah tepat. Timolol termasuk beta bloker non selektif sehingga

8

Page 9: Laporan Kasus Glaukoma Akut

perlu diperhatikan pemberiannya pada pasien dengan asma, PPOK, dan penyakit jantung.

Polynel tetes mata steril ini mengandung Fluoromethasone 1 mg dan Neomycin Sulfate diberi

untuk mengurangi reaksi peradangan yang terjadi akibat proses akut.

BAB III

GLAUKOMA AKUT

I. DEFINISI

Glaukoma sudut tertutup primer terjadi apabila terbentuk iris bombe yang menyebabkan

sumbatan sudut kamera anterior oleh iris perifer, sehingga menyumbat aliran humor akueus

dan tekanan intraokular meningkat dengan cepat sehingga menimbulkan nyeri hebat,

kemerahan dan kekaburan penglihatan. Glaukoma Akut merupakan kedaruratan okuler

sehingga harus diwaspadai, karena dapat terjadi bilateral dan dapat menyebabkan kebutaan

bila tidak segera ditangani dalam 24 – 48 jam.

II. EPIDEMIOLOGI

9

Page 10: Laporan Kasus Glaukoma Akut

Glaukoma akut terjadi pada 1 dari 1000 orang yang berusia di atas 40 tahun dengan

angka kejadian yang bertambah sesuai usia. Perbandingan wanita dan pria pada penyakit ini

adalah 4:1. Pasien dengan glaukoma sudut tertutup kemungkinan besar rabun dekat karena

mata rabun dekat berukuran kecil dan struktur bilik mata anterior lebih padat.

III. ETIOLOGI

Glaukoma akut terjadi karena peningkatan tekanan intraokuler secara mendadak yang

dapat disebabkan oleh sumbatan di daerah kamera okuli anterior oleh iris perifer, sehingga

menyumbat aliran humor akueus dan menyebabkan tekanan intra okular meningkat dengan

cepat sehingga menimbulkan nyeri hebat.

IV. PATOFISIOLOGI

Glaukoma sudut tertutup primer terjadi karena ruang anterior secara anatomis

menyempit sehingga iris terdorong ke depan, menempel ke jaringan trabekular dan

menghambat humor akueus mengalir ke saluran schlemm. Pergerakan iris ke depan dapat

karena peningkatan tekanan vitreus, penambahan cairan di ruang posterior atau lensa yang

mengeras karena usia tua. Peningkatan tekanan intraokuler akan mendorong perbatasan antara

saraf optikus dan retina di bagian belakang mata. Akibatnya pasokan darah ke saraf optikus

berkurang sehingga sel-sel sarafnya mati. Karena saraf optikus mengalami kemunduran, maka

akan terbentuk bintik buta pada lapang pandang mata. Yang pertama terkena adalah lapang

pandang tepi, lalu diikuti oleh lapang pandang sentral. Jika tidak diobati, glaukoma pada

akhirnya bisa menyebabkan kebutaan.

V. GEJALA DAN TANDA

10

Page 11: Laporan Kasus Glaukoma Akut

Tajam penglihatan kurang (kabur mendadak), mata merah, bengkak, mata berair, kornea

suram karena edema, bilik mata depan dangkal dan pupil lebar dan tidak bereaksi terhadap

sinar, diskus optikus terlihat merah dan bengkak, tekanan intra okuler meningkat hingga

terjadi kerusakan iskemik pada iris yang disertai edema kornea, dibuktikan dengan tonometri

schiotz ataupun teknik palpasi (tidak dianjurkan karena terlalu subjektif), melihat halo

(pelangi di sekitar objek), nyeri hebat periorbita, pusing, bahkan mual-muntah.

VI. DIAGNOSIS

Berdasarkan penjelasan di atas, maka diagnosis dapat ditegakan dari anamnesis,

pemeriksaan status umum dan oftalmologis, serta penunjang.

Berdasarkan ananmnesis, pasien akan mengeluhkan pandangan kabur, melihat pelangi

atau cahaya di pinggir objek yang sedang dilihat (halo), sakit kepala, sakit bola mata, pada

kedua matanya, muntah – muntah.

Pada pemeriksaan akan ditemukan tanda-tanda, antara lain : visus sangat menurun, mata

merah, tekanan intra okular meningkat, injeksi pericorneal, kornea oedem, COA dangkal,

iris oedem dan berwarna abu – abu, pupil sedikit melebar dan tidak bereaksi terhadap sinar,

serta diskus optikus terlihat merah dan bengkak.

Selain itu, dapat juga dilakukan pemeriksa penunjang, diantaranya, pemeriksaan

tekanan intra okular dengan menggunakan tonometri, melihat sudut COA, menilai CDR,

pemeriksaan lapang pandang, tonografi, serta tes kamar gelap.

VII. KLASIFIKASI

Glaukoma sudut tertutup primer dapat dibagi menjadi :

a. Akut

Glaukoma ini terjadi apabila terbentuk iris bombe yang menyebabkan sumbatan sudut

kamera anterior oleh iris perifer dan akibat pergeseran diafragma lensa-iris ke anterior

disertai perubahan volume di segmen posterior mata.

b. Subakut

Glaukoma dengan gejala klinis nyeri unilateral berulang dan mata tampak kemerahan

c. Kronik

11

Page 12: Laporan Kasus Glaukoma Akut

Glaukoma dengan gejala klinis terdapat peningkatan tekanan intraokular, sinekia

anterior perifer meluas

d. Iris plateau

Iris plateau adalah suatu kelainan yang jarang dijumpai kedalaman kamera anterior

sentral normal tetapi sudut kamera anterior sangat sempit karena insersi iris secara

kongenital terlalu tinggi.

VIII. DIAGNOSIS BANDING

Iritis akut, menimbulkan fotofobia lebih besar daripada glaukoma. Tekanan intraokular

biasanya tidak meningkat, pupil konstriksi, dan kornea biasanya tidak edematosa. Di kamera

anterior tampak jelas sel – sel, dan terdapat injeksi siliaris dalam.

Konjungtivitis akut, nyerinya ringan atau tidak ada dan tidak terdapat gangguan

penglihatan. Terdapat tahi mata dan konjungtiva yang meradang hebat tetapi tidak terdapat

injeksi siliaris. Respon pupil dan tekanan intraokular normal, dan kornea jernih.

Glaukoma sudut tertutup akut sekunder dapat terjadi akibat pergeseran diafragma

lensa-iris ke anterior disertai perubahan volume di segmen posterior mata. Hal ini dapat

dijumpai pada sumbatan vena retina sentralis, pada skleritis posterior dan setelah tindakan –

tindakan terapeutik misalnya fotokoagulasi panretina, krioterapi retina, dan scleral buckling

untuk pelepasan retina. Gambaran klinis biasanya mempermudah diagnosis.

IX. KOMPLIKASI

Apabila terapi tertunda, iris perifer dapat melekat ke jalinan trabekular (sinekia

anterior), sehingga menimbulkan sumbatan ireversibel sudut kamera anterior yang

memerlukan tindakan bedah untuk memperbaikinya. Kerusakan saraf optikus sering terjadi.

X. PENATALAKSANAAN

Glaukoma hanya bisa diterapi secara efektif jika diagnose ditegakkan sebelum

serabut saraf benar-benar rusak. Tujuannya adalah menurunkan tekanan intraokular, dapat

dilakukan dengan minum larutan gliserin dan air bisa mengurangi tekanan dan

menghentikan serangan glaukoma. Bisa juga diberikan inhibitor karbonik anhidrase

12

Page 13: Laporan Kasus Glaukoma Akut

(misalnya asetazolamid 500 mg iv dilanjutkan dgn oral 500 mg/1000mg oral). Tetes mata

pilokarpin menyebabkan pupil mengecil sehingga iris tertarik dan membuka saluran yang

tersumbat. Untuk mengontrol tekanan intraokuler bisa diberikan tetes mata beta bloker

(Timolol 0.5% atau betaxolol 0.5%, 2x1 tetes/hari) dan kortikosteroid topikal dengan atau

tanpa antibiotik untuk mengurangi inflamasi dan kerusakan saraf optik. Setelah suatu

serangan, pemberian pilokarpin dan beta bloker serta inhibitor karbonik anhidrase biasanya

terus dilanjutkan. Pada kasus yang berat, untuk mengurangi tekanan biasanya diberikan

manitol intravena (melalui pembuluh darah).

Prinsip dari pengobatan glaukoma akut yaitu untuk mengurangi produksi humor

akueus dan meningkatkan sekresi dari humor akueus sehingga dapat menurunkan tekanan

intra okuler sesegera mungkin. Obat – obat yang dapat digunakan, yaitu :

• Menghambat pembentukan humor akueus

Penghambat beta andrenergik adalah obat yang paling luas digunakan. Dapat

digunakan tersendiri atau dikombinasi dengan obat lain. Preparat yang tersedia antara lain

Timolol maleat 0,25% dan 0,5%, betaksolol 0,25% dan 0,5%, levobunolol 0,25% dan

0,5%, dan metipranolol 0,3%. Apraklonidin adalah suatu agonis alfa adrenergik yang

baru yang berfungsi menurunkan produksi humor akueous tanpa efek pada aliran keluar.

epinefrin dan dipiferon juga memiliki efek yang serupa. Inhibitor karbonat anhidrase

sistemik asetazolamid digunakan apabila terapi topikal tidak memberi hasil memuaskan

dan pada glaukoma akut dimana tekanan intraokuler sangat tinggi dan perlu segera

dikontrol. Obat ini mampu menekan pembentukan humor akueous sebesar 40-60%.

• Fasilitasi aliran keluar humor akueous

Obat parasimpatomimetik meningkatkan aliran keluar humor akueous dengan

bekerja pada jalinan trabekuler melalui kontraksi otot siliaris. Obat pilihan adalah

pilokarpin, larutan 0,5-6% yang diteteskan beberapa kali sehari atau gel 4% yang

dioleskan sebelum tidur. Semua obat parasimpatomimetik menimbulkan miosis disertai

meredupnya penglihatan, terutama pada pasien dengan katarak, dan spasme akomodatif

yang mungkin mengganggu bagi pasien muda.

13

Page 14: Laporan Kasus Glaukoma Akut

• Penurunan volume korpus vitreum

Obat-obat hiperosmotik menyebabkan darah menjadi hipertonik sehingga air tertarik

keluar dari korpus vitreum dan terjadi penciutan korpus vitreum. Penurunan volume

korpus vitreum bermanfaat dalam pengobatan glaukoma akut sudut tertutup. Gliserin

1ml/kgBB dalam suatu larutan 50% dingin dicampur dengan sari lemon, adalah obat yang

paling sering digunakan, tetapi pemakaian pada pasien diabetes harus berhati-hati. Pilihan

lain adalah isosorbin oral atau manitol intravena.

• Miotik, Midriatik

Konstriksi pupil sangat penting dalam penalaksanaan glaukoma sudut tertutup akut

primer dan pendesakan sudut pada iris plateau. Dilatasi pupil penting dalam penutupan

sudut akibat iris bombe karena sinekia posterior. Apabila penutupan sudut diakibatkan

oleh pergeseran lensa ke anterior, atropine atau siklopentolat bisa digunakan untuk

melemaskan otot siliaris sehingga mengencangkan apparatus zonularis.

Bila tidak dapat diobati dengan obat – obatan, maka dapat dilakukan tindakan :

Iridektomi dan iridotomi perifer

Sumbatan pupil paling baik diatasi dengan membentuk komunikasi langsung

antara kamera anterior dan posterior sehingga beda tekanan diantara keduanya

menghilang. Hal ini dapat dicapai dengan laser neonidium: YAG atau aragon atau

dengan tindakan bedah iridektomi perifer, tetapi dapat dilakukan bila sudut yang

tertutup sebesar 50%.

Trabekulotomi (Bedah drainase)

Dilakukan jika sudut yang tertutup lebih dari 50% atau gagal dengan

iridektomi.

XI. PENCEGAHAN

Pencegahan terhadap glaukoma akut dapat dilakukan Pada orang yang telah berusia

20 tahun sebaiknya dilakukan pemeriksaan tekanan bola mata berkala secara teratur setiap

14

Page 15: Laporan Kasus Glaukoma Akut

3 tahun, bila terdapat riwayat adanya glaukoma pada keluarga maka lakukan pemeriksaan

setiap tahun. Secara teratur perlu dilakukan pemeriksaan lapang pandangan dan tekanan

mata pada orang yang dicurigai akan timbulnya glaukoma. Sebaiknya diperiksakan tekanan

mata, bila mata menjadi merah dengan sakit kepala yang berat, serta keluarga yang pernah

mengidap glaukoma.

XII. PROGNOSIS

Glaukoma akut merupakan kegawat daruratan mata, yang harus segera ditangani

dalam 24 – 48 jam. Jika tekanan intraokular tetap terkontrol setelah terapi akut glaukoma

sudut tertutup, maka kecil kemungkinannya terjadi kerusakan penglihatan progresif. Tetapi

bila terlambat ditangani dapat mengakibatkan buta permanen.

15

Page 16: Laporan Kasus Glaukoma Akut

DAFTAR PUSTAKA

1. Shock JP, Harper RA, Vaughan D, Eva PR. Lensa, Glaukoma. In: Vaughan DG, Asbury

T, Eva PR, editors. Oftalmologi umum. 14 ed. Jakarta. Widya Medika. 1996

2. Friedmand NJ, Kaiser PK, Trattler WB. Ophtalmology. Philadelphia. Elsevier Saunders.

2002

3. Gerhard KL, Oscar, Gabriele, Doris, Peter. Ophtalmology a short textbook. Second

edition. Thieme Stuttgart : New York. 2007.

4. Lang, GK. Ophthalmology. Germany. 2000.

5. Khaw PT, Elkington AR. AC Of Eyes. Edisi ke-4. BMJ Book: London.2005

6. James B, Chew C, Bron A. Lecture Notes Oftalmologi. Ed 9. EMS: Jakarta. 2005

7. Gondowihardjo T, Simanjuntak G. editor. Glaukoma Akut dalam Panduan Manajemen

Klinis Perdami. PP Perdami: Jakarta. 2006

16