of 31 /31
1 AGUSTUS, 2014 Hari, Tanggal : Selasa, 5 Agustus 2014 Hari ke - : 1 No Kegiatan Uraian 1. Pembukaan dan Pengenalan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung oleh Pak Agung - Penjelasan mengenai tata tertib di Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Bandung Peserta Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) dan peserta lain yang berpraktek di BBPOM saling memperkenalkan diri - Pengenalan dari para pembimbing dari BBPOM - Pembagian jadwal dan bidang untuk peserta PKPA, dan saya ditempatkan di bidang Pemeriksaan dan Penyidikan (Pemdik) 2. Penyambutan dan Pengantar oleh Kepala Penanggungjawab BBPOM Bandung (Ibu Della) - BBPOM Bandung merupakan “kepanjangan tangan” badan POM di tingkat provinsi Jawa Barat - Secara umum tugas BBPOM dibagi menjadi 3, yaitu : sertifikasi produk dan pelayanan masyarakat (konsumen), pemeriksaan dan penyidikan, dan pengujian - Mempunyai 5 bidang utama, yaitu : 1. Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen (Serlik), yang bertugas untuk melayani perusahaan atau perseorangan yang ingin mendapatkan sertifikasi produk serta masyarakat umum yang ingin berkonsultasi atau mendapatkan layanan dari balai 2. Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan (Pemdik), yang bertugas dalam hal pemeriksaan dan penyidikan kasus yang terjadi di masyarakat atau sesuai dengan permintaan 3. Bidang Terapeutik, Narkotika- Psikotropika, Obat Tradisional, Kosmetik, dan Komplemen Makanan (Teranokoko), yang bertugas untuk menguji sampel teranokoko tersebut 4. Bidang Pangan dan Bahan Berbahaya, yang bertugas untuk menguji sampel atau uji lab, hanya saja dengan jumlah yang lebih sedikit 5. Bidang Mikrobiologi, yang bertugas menguji semua sampel baik dari pangan

Laporan Harian Bpom Fix

Embed Size (px)

Citation preview

  • 1

    AGUSTUS, 2014

    Hari, Tanggal : Selasa, 5 Agustus 2014

    Hari ke - : 1

    No Kegiatan Uraian

    1. Pembukaan dan Pengenalan Balai

    Besar Pengawas Obat

    dan Makanan

    (BBPOM) Bandung

    oleh Pak Agung

    - Penjelasan mengenai tata tertib di Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Bandung Peserta

    Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) dan

    peserta lain yang berpraktek di BBPOM saling

    memperkenalkan diri

    - Pengenalan dari para pembimbing dari BBPOM

    - Pembagian jadwal dan bidang untuk peserta PKPA, dan saya ditempatkan di bidang

    Pemeriksaan dan Penyidikan (Pemdik)

    2. Penyambutan dan Pengantar oleh Kepala

    Penanggungjawab

    BBPOM Bandung

    (Ibu Della)

    - BBPOM Bandung merupakan kepanjangan tangan badan POM di tingkat provinsi Jawa Barat

    - Secara umum tugas BBPOM dibagi menjadi 3, yaitu : sertifikasi produk dan pelayanan

    masyarakat (konsumen), pemeriksaan dan

    penyidikan, dan pengujian

    - Mempunyai 5 bidang utama, yaitu : 1. Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi

    Konsumen (Serlik), yang bertugas untuk

    melayani perusahaan atau perseorangan

    yang ingin mendapatkan sertifikasi produk

    serta masyarakat umum yang ingin

    berkonsultasi atau mendapatkan layanan

    dari balai

    2. Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan (Pemdik), yang bertugas dalam hal

    pemeriksaan dan penyidikan kasus yang

    terjadi di masyarakat atau sesuai dengan

    permintaan

    3. Bidang Terapeutik, Narkotika-Psikotropika, Obat Tradisional, Kosmetik,

    dan Komplemen Makanan (Teranokoko),

    yang bertugas untuk menguji sampel

    teranokoko tersebut

    4. Bidang Pangan dan Bahan Berbahaya, yang bertugas untuk menguji sampel atau

    uji lab, hanya saja dengan jumlah yang

    lebih sedikit

    5. Bidang Mikrobiologi, yang bertugas menguji semua sampel baik dari pangan

  • 2

    maupun teranokoko, hanya saja fokus

    terhadap uji mikrobiologinya

    Pengenalan Gedung BBPOM

    - Gedung A Lantai 1, tempat untuk Pelayanan atau Serlik

    - Gedung A Lantai 2, tempat utnuk Tata Usaha

    - Gedung A Lantai 3, tempat untuk Pendidikan

    - Gedung B Lamtai 2, tempat untuk Pemdik - Gedung C Lantai 1, tempat Manajemen

    Mutu

    - Gedung C Lantai 2, tempat Uji Mikro - Gedung C Lantai 3, tempat Uji Pangan - Gedung D, tempat Teranokoko

    3. Pengenalan Bidang Pemeriksaan dan

    Penyidikan (Pemdik)

    - Dibuka oleh Ibu Della, selaku Ketua Penanggungjawab Balai Besar Pengawas Obat

    dan Makanan Bidang Pemdik

    - Pengenalan Gedung Pemdik: - Lantai 1, adalah gudang penyimpanan

    barang-barang hasil penyidikan

    - Lantai 2, adalah bagian Pemeriksaan - Lantai 3, adalah bagian Penyidikan

    4. Penyampaian materi bidang Pemdik

    - Inti dari tugas bagian Pemdik adalah melakukan pemeriksaan dan penyidikan

    - Seksi Pemeriksaan, bertugas melakukan pemeriksaan setempat serta pengambilan

    contoh untuk pengujian dan pemeriksaan

    sarana produksi dan distribusi produk

    terapetik, narkotika, psikotropika dan zat

    adiktif lain, obat tradisional, kosmetik, produk

    komplemen, pangan, dan bahan berbahaya

    - Seksi Penyidikan, bertugas melakukan penyidikan terhadap kasus pelanggaran hukum

    di bidang produk terapetik, narkotika,

    psikotropika dan zat adiktif lain, obat

    tradisional, kosmetik, produk komplemen,

    pangan, dan bahan berbahaya

    - Pengawasan dilakukan pada saat : a. Premarket : dalam rangkaian registrasi b. Postmarket : melihat kesesuaian

    - Sarana yang menjadi sasaran adalah sarana distribusi, sarana pelayanan, sarana produksi,

    apotek, retail pangan, dll

    - Untuk penyidikan, petugas yang diberikan kewenangan adalah Penyidik Pegawai Negeri

  • 3

    Sipil (PPNS), yang sebelumnya diberikan

    pelatihan dan koordinasi dengan Polda

    5. Penyampaian materi bidang

    TERANOKOKO

    - Bidang TERANOKOKO merupakan singakatan dari TERApetik, Narkotik, Obat

    tradisional, Kosmetik dan produk Komplemen.

    - Adapun Tupoksi bidang ini menurut SK Ka Badan POM No. 05018/SK/KBPOM 17 Mei

    2001, yaitu:

    Penyusunan rencana dan program

    Pelaksanaan

    Pelaporan

    Evaluasi

    - Pemeriksaan dilakukan secara laboratorium,

    pengujian dan penilaian mutu

    - Produk yang diuji berupa terapetik, obat

    tradisional, kosmetik, suplemen makanan, alat

    kesehatan, perbekalan kesehatan rumah tangga

    - Pengujian dilakukan sesuai dg parameter uji

    yang tercantum dalam PUSTAKA ACUAN

    Farmakope Indonesia, Supplemen FI

    USP

    BP

    Buku standar resmi lainnya

    Metode Analisis PPOMN

    - Hasil pengujian laporan sampel rutin & kasus,

    dikirim ke BADAN POM ( PPOMN, tembusan

    ke DEPUTI I Atau II) --> dievaluasi, jika

    sampel TMS, maka dilakukan:

    PERINGATAN

    PENARIKAN PRODUK

    PENCABUTAN NOMOR REGISTRASI

    PENGHENTIAN PRODUKSI

    PENCABUTAN IZIN

    PENUTUPAN

    PUBLIC WARNING

    Dra. Dela Triatmani, Apt Dra. Wiwiek Indriyati, M. Si., Apt

    Pembimbing Balai Besar Pengawas Pembimbing Fakultas Farmasi

    Obat dan Makanan (BBPOM) Universitas Padjadjaran

    Bandung

  • 4

    AGUSTUS, 2014

    Hari, Tanggal : Rabu, 6 Agustus 2014

    Hari ke - : 2

    No Kegiatan Uraian

    1. Mempelajari mengenai Prekursor

    - Prekursor nartkotika adalah

    - Prekursor psikotropika adalah

    - Pengelompokan Prekursor:

    Bahan Dasar

    Bahan yang jika strukturnya diubah akan

    menjadi narkotika/psikotropika. Contoh:

    efedrin

    Reagen:

    Bahan yang digunakan untuk memodifikasi

    atau mereaksikan bahan dasar menjadi

    narkotika atau psikotropika. Contoh: Kalium

    permanganate untuk memproduksi kokain.

    Anhidrad asetat untuk memproduksi heroin.

    Solvent

    Pelarut yang tidak ikut bereaksi tapi

    mempengaruhi struktur molekul dan utnuk

    memurnikan produk akhir. Contoh: aseton

    Dra. Dela Triatmani, Apt Dra. Wiwiek Indriyati, M. Si., Apt

    Pembimbing Balai Besar Pengawas Pembimbing Fakultas Farmasi

    Obat dan Makanan (BBPOM) Universitas Padjadjaran

    Bandung

  • 5

    AGUSTUS, 2014

    Hari, Tanggal : Kamis, 7 Agustus 2014

    Hari ke - : 3

    No Kegiatan Uraian

    1. Mempelajari PerMenKes nomor

    1799 tahun 2010

    tentang Industri

    Farmasi

    Mengenai izin industri farmasi

    - Pembuatan obat atau bahan obat hanya boleh dilakukan oleh industri farmasi

    - Instalasi Farmasi Rumah Sakit dapat melakukan proses pembuatan obat untuk

    keperluan pelayanan

    - Kegiatan industri harus sesuai dengan Cara Pedoman Obat yang Baik (CPOB)

    - Untuk persyaratan izin :

    Badan usaha berupa Perseroan Terbatas (PT)

    Rencana investasi dan kegiatan pembuatan obat

    Mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

    Memiliki 3 apoteker sebagai penanggung jawab pemastian mutu, produksi, dan

    pengawasan mutu

    Komisaris dan direksi tidak pernah terlibat - Rencana Induk Pembangunan (RIP)

    Persetujuan Prinsip perolehan izin industri - RIP diajukan kepada Kepala Badan - Ketika Persetujuan Prinsip telah disetujui,

    maka pemohon dapat langsung melakukan

    persiapan, pembangunan, pengadaan,

    pemasangan, dan sesuai undang-undang.

    Berlaku selama 3 tahun

    - Izin industri dapat dipakai dan digunakan untuk seterusnya, bila ada perubahan maka

    harus melaporkan kembali atas perubahannya

    - Fungsi industri farmasi yaitu pembuatan obat dan atau bahan obat, pendidikan dan pelatihan

    serta penelitian dan pengembangan

    - Laporan dilakukan setiap 6 bulan, yaitu mengenai jumlah dan nilai produksi

    Dra. Dela Triatmani, Apt Dra. Wiwiek Indriyati, M. Si., Apt

    Pembimbing Balai Besar Pengawas Pembimbing Fakultas Farmasi

    Obat dan Makanan (BBPOM) Universitas Padjadjaran

    Bandung

  • 6

    AGUSTUS, 2014

    Hari, Tanggal : Jumat, 8 Agustus 2014

    Hari ke - : 4

    No Kegiatan Uraian

    1. Sharing antar semua bidang di Balai Besar

    POM

    - Dari bidang SERLIK, terdapat 6 bidang komoditi yaitu tentang :

    a. Obat b. Pangan c. Obat tradisional d. Narkotika dan Psikotropika e. Komplementer f. Kosmetik

    - Bidang SERLIk ini dibagi menjadi 2 bagian, yaitu sertifikasi dan Layanan Informasi

    Konsumen

    - Dari hari pertama hingga hari kamis, terdapat beberapa perusahan yang

    mengunjungi SERLIK dengan beberapa

    kasus. Kasus pertama yaitu tentang

    bagaimana pengujian air minum, apakah

    hasil uji air harus dari intansi atau lembaga

    tertentu. Jawabannya adalah pengujian tidak

    diharuskan dari instansi atau lembaga

    tertentu, akan tetapi laboratorium penguji itu

    harus sudah terakreditasi.

    - Untuk bidang Laboratorium (TERANOKOKO dan PANGAN) terdapat

    beberapa alasan dan sebab mengapa harus

    dilakukan uji, yaitu karena merupakan

    sampling rutin yang dilakukan oleh Balai

    Besar POM, kemudian karena adanya

    temuan kasus, dan karena permintaan pihak

    ketiga.

    Dra. Dela Triatmani, Apt Dra. Wiwiek Indriyati, M. Si., Apt

    Pembimbing Balai Besar Pengawas Pembimbing Fakultas Farmasi

    Obat dan Makanan (BBPOM) Universitas Padjadjaran

    Bandung

  • 7

    AGUSTUS, 2014

    Hari, Tanggal : Senin, 11 Agustus 2014

    Hari ke - : 5

    No Kegiatan Uraian

    1. Membaca Cara Distribusi Obat yang

    Baik (CDOB)

    - Badan POM merupakan sebuah Badan non Departemen yang langsung bertanggung

    jawab kepada Presiden. PEMDIK merupakan

    sebuah bidang yang melakukan pemeriksaan

    yang bertujuan untuk pembinaan, dan

    kemudian penyidikan yaitu bertujuan untuk

    penegakan hukum

    - Pemeriksaan meliputi berbagai sarana, yaitu : industri, PBF, toko obat, dan apotek

    - Sarana distribusi yaitu PBF harus menerapkan Cara Distribusi Obat yang Baik

    - PBF menurut ketentuan nomor 1948 Tahun 2011 yaitu sebuah lembaga atau perusahaan

    yang berbadan hukum dan mempunyai izin

    untuk menyalurkan obat. Izin PBF diberikan

    oleh Kemenkes yang berlaku selama 5 tahun

    - PBF cabang mendapatkan pengakuan izin dari dinas kesehatatan tingkat provinsi

    - Untuk PBF yang mendistribusikan bahan baku obat, harus memiliki laboratorium dan

    gudang yang terpisah

    - Obat jadi tidak boleh diimpor oleh PBF - Untuk penggantian apoteker penanggung

    jawab, balai pom tidak melakukan

    pemeriksaan kembali, hanya membuatkan

    surat keterangan

    - Pemberian sertifikat CDOB untuk PBF masih bersifat volutari (PBF tidak wajib untuk

    mengurusi untuk mendapatkan sertifikat

    CDOB). Untuk mendapatkan sertifikat ini,

    Balai Besar POM akan melakukan proses

    mapping

    - PBF cabang tidak diperbolehkan untuk mendistribusikan keluar daerah provinsi lain

    - PBF yang mendistribusikan jenis narkotika harus memiliki tambahan izin khusus

    narkotika. Di Indonesia, PBF yang sudah

    mendapatkan izin tersebut adalah PBF Kimia

    Farma dan PBF Daya Madya Agung

    - PBF yang akan melakukan repacking juga harus memiliki tambahan izin khusus, PBF

    yang bisa melakukannya baru PBF Brataco

  • 8

    - Pedoman Teknis CDOB memiliki 9 aspek, yaitu :

    a. Manajemen mutu b. Organisasi dan personalia c. Bangunan dan peralatan d. Operasional e. Inspeksi Diri f. Penanganan keluhan dan penarikan

    kembali

    g. Transportasi h. Fasilitas distribusi berdasarkan kontrak i. Dokumentasi

    - CDOB ini memiliki 3 aneks, yaitu : a. Untuk menyalurkan bahan baku b. Untuk menyalurkan produk rantai dingin c. Untuk menyalurkan narkotika dan

    psikotropika

    Dra. Dela Triatmani, Apt Dra. Wiwiek Indriyati, M. Si., Apt

    Pembimbing Balai Besar Pengawas Pembimbing Fakultas Farmasi

    Obat dan Makanan (BBPOM) Universitas Padjadjaran

    Bandung

  • 9

    AGUSTUS, 2014

    Hari, Tanggal : Selasa, 12 Agustus 2014

    Hari ke - : 6

    No Kegiatan Uraian

    1. Pemberian materi kuliah umum bidang SERLIK

    (Sertifikasi & Layanan

    Informasi Konsumen)

    - Tugas utama dari SERLIK adalah dalam membantu dan mengurus sertifikasi dan

    memberikan layanan informasi kepada

    konsumen yang membutuhkan

    - Pemeriksaan yang dilakukan oleh SERLIK dilakukan pada saat premarket, sedangkan

    pemeriksaan yang dilakukan pada saat

    postmarket adalah bagian PEMDIK

    - Terdapat 3 lapis pengawasan yang dilakukan dalam suatu produk atau perusahaan, yaitu oleh

    pemerintah, produsen itu sendiri, dan

    konsumen

    - Pendaftaran dan sertifikasi produk pangan olahan dalam skala industri harus dilakukan ke

    Balai Besar POM, sedangkan pendaftaran atau

    sertifikasi produk pangan olahan yang

    dihasilkan oleh industri rumah tangga dapat

    dilakukan di Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten

    setempat

    - SERLIK melakukan sertifikasi pada produk, sarana produksi, dan sarana distribusi

    - Untuk pendaftaran toko obat, apotek, dan PBF cabang telah dilimpahkan kepada Dinas

    Kesehatan Kota/Kabupaten setempat

    - Untuk industri obat dan kosmetik, dari sebelum membangun dan mendirikan perusahaan, maka

    harus terdaftar ke BPOM, sedangkan untuk

    pangan dapat mendaftar sebelum produknya

    dipasarkan saja

    - Produk yang harus memiliki sertifikat SNI adalah produk AMDK (Air Minum Dalam

    Kemasan), Bubuk coklat, Garam, dan tepung

    terigu

    Dra. Dela Triatmani, Apt Dra. Wiwiek Indriyati, M. Si., Apt

    Pembimbing Balai Besar Pengawas Pembimbing Fakultas Farmasi

    Obat dan Makanan (BBPOM) Universitas Padjadjaran

    Bandung

  • 10

    AGUSTUS, 2014

    Hari, Tanggal : Rabu, 13 Agustus 2014

    Hari ke - : 7

    No Kegiatan Uraian

    1. Mempelajari PerMenKes no. 006

    tahun 2012 tentang

    Industri Obat

    Tradisional

    - IOT semua produk obat tradisional - IEBA ekstrak sebagai produk akhir - UKOT semua produk, kecuali tablet dan

    efervesen

    - UMOT rajangan, param, philis, cairan obat luar

    - IOT & IEBA koperasi, membuat persetujuan prinsip, penanggung jawab adalah

    apoteker, izin harus ke Dirjen, dan mengajukan

    RIP

    - UKOT merupakan badan usaha, penanggungg jawab adalah tenaga Teknis

    Kefarmasian, izin dapat mengajukan ke

    Dinkes Provinsi

    - UMOT merupakan kepemilikian perorangan, Tenaga Teknis Kefarmasian

    sebagai penanggung jawab, izin dapat diajukan

    ke Dinkes kabupaten/kota

    Tidak boleh mengandung BKO dalam obat

    tradisional

    Dra. Dela Triatmani, Apt Dra. Wiwiek Indriyati, M. Si., Apt

    Pembimbing Balai Besar Pengawas Pembimbing Fakultas Farmasi

    Obat dan Makanan (BBPOM) Universitas Padjadjaran

    Bandung

  • 11

    AGUSTUS, 2014

    Hari, Tanggal : Kamis, 14 Agustus 2014

    Hari ke - : 8

    No Kegiatan Uraian

    1. Membaca tentang persyaratan iklan

    Persyaratan Iklan:

    a. Kosmetik

    Harus sesuai dengan fungsi kosmetika (memperindah, mempercantik dsn

    memelihara).

    Tidak boleh menyesatkan

    Tidak boleh berlebihan

    Harus sesuai dengan etika b. Pangan

    Materi tidak boleh mengobati penyakit

    Serta tidak boleh mencantumkan khasiat dari komposisi

    c. Rokok

    Harus mencantumkan peringatan dimana luas dari gambar peringatan ialah 15%

    dari luas kemasan rokok keseluruhan.

    Tidak boleh memasukkan gambar tembakar.

    d. Obat

    Harus komplit

    Penandaan obat harus jelas seperti lambang obat bebas dan obat bebas

    terbatas

    e. Otrad dan produk komplementer

    Nama dan nomer izin edar

    Nama dan alamat produsen

    Nomer pendaftaran/no.registrasi

    Spot peringatan dan perhatian

    Logo jamu, OHT

    Tidak boleh ada testimoni

    Tidak boleh ada pernyataan produk paling unggul

    Tidak boleh ada pernyatan membandingkan dengn produk lain

    Tidak boleh ada tenaga kesehatan yang menjadi bintang iklan

    Tidak boleh mencantumkan klaim melebihi obat tradisional

    Sangsi yang diberikan jika melakukan

    pelanggaran terhadap aturan periklanan ialah

  • 12

    teguran 1, teguran 2, teguran 3, peringatan keras

    hingga pencabutan izin.

    2. Penyampaian materi bidang Sertifikasi

    - Pendaftaran dan sertifikasi produk pangan olahan dalam skala industri harus dilakukan ke

    Balai Besar POM, sedangkan pendaftaran atau

    sertifikasi produk pangan olahan yang

    dihasilkan oleh industri rumah tangga dapat

    dilakukan di Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten

    setempat

    - Untuk industri obat dan kosmetik, dari sebelum membangun dan mendirikan

    perusahaan, maka harus terdaftar ke BPOM,

    sedangkan untuk pangan dapat mendaftar

    sebelum produknya dipasarkan saja

    - Produk yang harus memiliki sertifikat SNI adalah produk AMDK (Air Minum Dalam

    Kemasan), Bubuk coklat, Garam, dan tepung

    terigu

    Dra. Dela Triatmani, Apt Dra. Wiwiek Indriyati, M. Si., Apt

    Pembimbing Balai Besar Pengawas Pembimbing Fakultas Farmasi

    Obat dan Makanan (BBPOM) Universitas Padjadjaran

    Bandung

  • 13

    AGUSTUS, 2014

    Hari, Tanggal : Jumat, 15 Agustus 2014

    Hari ke - : 9

    No Kegiatan Uraian

    1. Kunjungan ke

    laboratorium

    Ada 3 laboratorium pengujian yang terdapat di

    BBPOM di Bandung yaitu:

    1. Lab. Teranokoko Pada laboratorium ini dibagi menjadi

    beberapa ruangan diantaranya ruang sampel,

    ruang instrumen AAS dan GC, ruang uji

    disolusi, ruang instrumen HPLC, ruang

    bahan baku dan reagen dan ruang

    penimbangan.

    2. Lab. Pangan Pada laboratorium ini dibagi beberapa

    ruangan yaitu diantaranya, ruang pengujian,

    ruang instrumen HPLC, ruang instrumen

    AAS dan GC-MS, dan ruang intrumen

    ELISA.

    3. Lab. Miktobiologi Pada laboratorium mikrobiologi dibagi

    menjadi beberapa ruangan yaitu diantaranya

    ruang sampel, ruang destruksi, ruang

    sterilisasi, ruang uji cemaran jamur dan

    ruang uji cemaran bakteri.

    2. Sharing Kegiatan rutin peserta PKPA di BBPOM di

    Bandung untuk berbagi informasi, ilmu dan

    kegiatan yang dilakukan selama 1 minggu pada

    masing-masing bidang PKPA.

    Dra. Dela Triatmani, Apt Dra. Wiwiek Indriyati, M. Si., Apt

    Pembimbing Balai Besar Pengawas Pembimbing Fakultas Farmasi

    Obat dan Makanan (BBPOM) Universitas Padjadjaran

    Bandung

  • 14

    AGUSTUS, 2014

    Hari, Tanggal : Senin, 18 Agustus 2014

    Hari ke - : 10

    No Kegiatan Uraian

    1. Pengecekkan data dan

    pemisahan & penandaan

    sampel, untuk pengujian

    di laboratorium

    Dilakukan pengecekkan kesesuaian identitas sampel yang terdapat pada surat permintaan

    uji (BBPOM) dan yang tertera pada kemasan

    obat meliputi nomor registrasi, nomor batch,

    dan expired date.

    Membagi sampel obat dari satu batch yang sama untuk dilakukan pengujian di

    laboratorium mikrobiologi, dan kimia serta

    juga untuk disimpan sebagai retain sampel.

    Setelah pembagian sampel, maka pada masing-masing bagian sampel ditempel

    label BBPOM yang berisi kode sampel

    (catatan: untuk penempelan label cukup

    perwakilan dari sampel masing-masing

    bagian)

    2. Penyampaian materi

    mengenai Pengujian

    Pangan

    Metode pengawasan yang dilakukan BPOM:

    Pendekatan post market vigilance pada bahan-bahan pangan olahan.

    Program kerja bidang:

    Penyusunan rencana dan program pengujian reagen, alat dan instrument

    Pelaksanaan program

    Pelaporan

    Evaluasi

    Tugas lain yang ditetapkan oleh Ka.Balai Pelatihan SDM:

    Teknis alat Penunjang Sampling Penyelenggara BPOM, PPOM, instansi lain. Metode analisa:

    SNI

    MA PPOMN

    AOAC

    Kodeks makanan Indonesia

    FI

    Pustaka Lain Jenis metoda:

    Kualitatif konvensional formalin borax Kualitatif instrument Pewarna (KCKT) Kuantitatif cemaran/ residu instrumen

  • 15

    Kuantitatif kadar tinggi konvensional karbohidrat

    Kuantitatif kadar tinggi instrument Bahan baku pembanding pengadaannya oleh

    PPOMN pengawet, pemanis buatan, pewarna sintesis, antioksidan. Untuk reagen diadakan

    sendiri oleh BPOM.

    Jenis sampel:

    Sampel Internal Sampel rutin, PJAS, Garam beryodium,

    tepung terigu dan kemasan pangan

    Sampel Eksternal Pihak ketiga Sampel kasus

    Dra. Dela Triatmani, Apt Dra. Wiwiek Indriyati, M. Si., Apt

    Pembimbing Balai Besar Pengawas Pembimbing Fakultas Farmasi

    Obat dan Makanan (BBPOM) Universitas Padjadjaran

    Bandung

  • 16

    AGUSTUS, 2014

    Hari, Tanggal : Selasa, 19 Agustus 2014

    Hari ke - : 11

    No Kegiatan Uraian

    1. Input data sampel hasil

    sampling

    Menuliskan data (kemasan terluar/box, etiket,

    kemasan sesuai dengan form dokumen

    penilaian. Data yang diperiksa kelengkapannya

    ialah:

    Nama obat

    Nama generik

    Komposisi

    HET

    Bentuk sediaan

    Besar kemasan

    Nama dan alamat industri pendaftar

    Nama dan alamat importer (kalau ada)

    Nomor ijin edar

    Nomor batch

    Tanggal produksi

    Tanggal kadaluarsa

    Cara kerja obat/farmakologi

    Indikasi

    Efek samping

    Kontraindikasi

    Interaksi obat

    Peringatan dan perhatian

    Peringatan khusus

    Cara penyimpanan

    Dra. Dela Triatmani, Apt Dra. Wiwiek Indriyati, M. Si., Apt

    Pembimbing Balai Besar Pengawas Pembimbing Fakultas Farmasi

    Obat dan Makanan (BBPOM) Universitas Padjadjaran

    Bandung

  • 17

    AGUSTUS, 2014

    Hari, Tanggal : Rabu, 20 Agustus 2014

    Hari ke - : 12

    No Kegiatan Uraian

    1. Penyampaian materi

    mengenai Bidang

    Mikrobiologi

    Tugas dari bidang pengujian mikrobiologi ialah untuk melaksanakan penyusunan

    renana dan program serta evaluasi dan

    penyusunan laporan pelaksanaan

    pemeriksaan secara laboratorium, pengujian

    dan penilaianmutu secara mikrobiologi

    dengan tujuan untuk pengawasan mutu dan

    perlindungan terhadap konsumen.

    Metode analisa yang digunakan pada laboratorium mikrobiologi BBPOM di

    Bandung mengacu pada Keputusan Kepala

    BPOM terkait produk yang akan diuji.

    (contoh: SK Kepala BPOM

    NO.PR.02.21.1513 tentang batas cemaran

    mikroba untuk kosmetika.

    Ruang lingkup pengujian mikrobiologi di BBPOM:

    1. Pengujian cemaran mikroba (produk pangan, obat tradisional, kosmetik, dan

    alat kesehatan)

    2. Pengujian potensi kosmetik 3. Pengujian sterilisasi (produk terapetik,

    narkotika, psikotropika, zat adiktif, dan

    alat kesehatan).

    4. Pengujian lain yang berkaitan dengan mikrobiologi (pengujian koefisien fenol

    untuk produk perbekalan kesehatan

    rumah tangga).

    Sampel yang akan diuji: 1. Sampel rutin 2. Sampel khusus/ kasus (apabila terjadi

    keracunan/diduga terjadi pemalsuan

    produk/ produk dibuat tidak sesuai

    peraturan)

    3. Sampel permintaan pihak ketiga yang dapat berasal dari

    perorangan/perusahaan.

    4. Sampel dari Pelayanan Kesehatan Daerah (PKD).

    Penjelasan terkait parameter yang diuji untuk masing-masing produk yang akan

    diuji di laboratorium mikrobiologi.

  • 18

    2. Pengecekkan data dan

    pemisahan & penandaan

    sampel, untuk pengujian

    di laboratorium

    Dilakukan pengecekkan kesesuaian identitas sampel yang terdapat pada surat permintaan

    uji (BBPOM) dan yang tertera pada kemasan

    obat meliputi nomor registrasi, nomor batch,

    dan expired date.

    Membagi sampel obat dari satu batch yang sama untuk dilakukan pengujian di

    laboratorium mikrobiologi, dan kimia serta

    juga untuk disimpan sebagai retain sampel.

    Setelah pembagian sampel, maka pada masing-masing bagian sampel ditempel

    label BBPOM yang berisi kode sampel

    (catatan: untuk penempelan label cukup

    perwakilan dari sampel masing-masing

    bagian)

    Dra. Dela Triatmani, Apt Dra. Wiwiek Indriyati, M. Si., Apt

    Pembimbing Balai Besar Pengawas Pembimbing Fakultas Farmasi

    Obat dan Makanan (BBPOM) Universitas Padjadjaran

    Bandung

  • 19

    AGUSTUS, 2014

    Hari, Tanggal : Kamis, 21 Agustus 2014

    Hari ke - : 13

    No Kegiatan Uraian

    1. Pengecekkan data dan

    pemisahan & penandaan

    sampel, untuk pengujian

    di laboratorium

    Dilakukan pengecekkan kesesuaian identitas sampel yang terdapat pada surat permintaan

    uji (BBPOM) dan yang tertera pada kemasan

    obat meliputi nomor registrasi, nomor batch,

    dan expired date.

    Membagi sampel obat dari satu batch yang sama untuk dilakukan pengujian di

    laboratorium mikrobiologi, dan kimia serta

    juga untuk disimpan sebagai retain sampel.

    Setelah pembagian sampel, maka pada masing-masing bagian sampel ditempel

    label BBPOM yang berisi kode sampel

    (catatan: untuk penempelan label cukup

    perwakilan dari sampel masing-masing

    bagian)

    Dra. Dela Triatmani, Apt Dra. Wiwiek Indriyati, M. Si., Apt

    Pembimbing Balai Besar Pengawas Pembimbing Fakultas Farmasi

    Obat dan Makanan (BBPOM) Universitas Padjadjaran

    Bandung

  • 20

    AGUSTUS, 2014

    Hari, Tanggal : Jumat, 22 Agustus 2014

    Hari ke - : 14

    No Kegiatan Uraian

    1. Penyampaian materi

    mengenai sampling Tujuan dari proses sampling ialah untuk

    pengawasan mutu, keamanan dan manfaat

    produk pada saat post market untuk menjamin mutu produk secara konsisten perlindungan terhadap konsumen

    Jenis sampling ada 2 yaitu: 1. Compliance

    Untuk pemenuhan standar mutu produk

    standar mutu seperti produk tablet,

    melakukan uji-uji seperti uji disolusi, uji

    waktu hancur dan lain-lain apakah sudah

    sesuai dengan standar yang berlaku.

    Kriteria: banyak beredar dipasaran, high

    risk, tingkat konsumsi tinggi.

    2. Surveillance Mensurvey atau mendeteksi secara dini

    peredaran obat-obat palsu, BKO, pangan.

    tujuannya lebih spesifik contoh:

    obat tradisional yang dicurigai terdapat

    BKO.

    Sampel rutin ada 9 kategori berdasarkan tingkat resikonya yaitu:

    1. Kategori A (high risk) Obat-obat yang tersedia pada pelayanan

    dasar (obat generik)

    2. Kategori B Obat yang dapat menimbulkan resistensi

    jika penggunaannya salah

    Contoh: Antibiotik, obat malaria

    3. Kategori C Obat yang diproduksi dalam yang jumlah

    besar

    Contoh: Deksametason

    Pengambilan sampelnya berdasarkan

    pabrik berdasarkan jumlah yang

    diproduki.

    Kategori C1 Pabrik yang sudah ditetapkan

  • 21

    Kategori C2 Pabrik yang belum ditetapkan

    4. Kategori D Industri farmasi yang penerapan CPOB

    nya rendah berdasarkan data inspeksi.

    5. Kategori E Obat yang mempunyai riwayat recall

    (surveillance)

    Kategori E1 Obat TMS Kategori E2 Obat palsu

    6. Kategori F Obat anak 7. Kategori G

    Untuk obat impor, hanya dokumennya

    saja yang diperiksa karena pabriknya

    tidak diperiksa aspek CPOB kecuali

    sediaan injeksi

    8. Kategori H Kelompok NAPZA dan prekursor

    9. Kategori I lain-lain Contoh : Rokok pemeriksaan label dan

    kadar nikotin, PKRT, dan alkes.

    Sampel yang dipicu kasus tertentu Misal : Aspek CPOB rendah sampling

    produk dilaporkan dijadikan target

    Sampel yang bersumber dari penyelidikan/investigasi awal. untuk

    membuktikan saranan tersebut mengedarkan

    produk yang tidak memenuhi mutu/ilegal.

    2. Sharing Kegiatan rutin peserta PKPA di BBPOM di

    Bandung untuk berbagi informasi, ilmu dan

    kegiatan yang dilakukan selama 1 minggu pada

    masing-masing bidang PKPA

    Dra. Dela Triatmani, Apt Dra. Wiwiek Indriyati, M. Si., Apt

    Pembimbing Balai Besar Pengawas Pembimbing Fakultas Farmasi

    Obat dan Makanan (BBPOM) Universitas Padjadjaran

    Bandung

  • 22

    AGUSTUS, 2014

    Hari, Tanggal : Senin, 25 Agustus 2014

    Hari ke - : 15

    No Kegiatan Uraian

    1. Membaca materi

    mengenai PPNS

    Perbedaan antara pejebat polisi dan PPNS

    sebagai penyidik:

    1. Polisi

    Penyidik umum

    Berhak melakukan penahanan

    Berhak melakukan penyelidikan 2. PPNS

    Melaksanakan tugas berdasarkan Undang-Undang yang menjadi dasar

    hukumnya

    Tidak berhak melakukan penahanan

    Tidak berhak melakukan penyelidikan Tujuan penyelidikan tindak pidana dibidang

    obat dan makanan.

    Mencari, menemukan, mengumpulkan dan menganalisis informasi/bahan keterangan

    dan alat-alat bukti berupa petunjuk,

    dokumen, komoditi dan tersangka dari

    peristiwa tindak pidana di bidang produk

    terapetik, produk biologi, narkotika,

    psikotropika, prekusor, zat adiktif, makanan

    minuman, obat tradisional, kosmetika, alat

    kesehatan, bahan berbahaya, dan produk

    komplemen.

    Agar informasi/bahan keterangan dan alat-alat bukti yang ditemukan pada investigasi

    memenuhi syarat utuk dijadikan sebagai

    bukti awal dilakukannya proses Pro Justitia.

    Untuk mengungkap modus operandi, aktor

    intelektual serta luasnya jaringan kegiatan

    tindak pidana tersebut.

    Dra. Dela Triatmani, Apt Dra. Wiwiek Indriyati, M. Si., Apt

    Pembimbing Balai Besar Pengawas Pembimbing Fakultas Farmasi

    Obat dan Makanan (BBPOM) Universitas Padjadjaran

    Bandung

  • 23

    AGUSTUS, 2014

    Hari, Tanggal : Selasa, 26 Agustus 2014

    Hari ke - : 16

    No Kegiatan Uraian

    1. Inspeksi ke sarana

    distribusi obat di daerah

    Padalarang (klinik,

    apotek & toko obat)

    Tujuan dari inspeksi ini ialah sebagai supervisi rutin yang dilakukan oleh BBPOM

    di Bandung terkait pengawasan terhadap

    sarana distribusi obat sebagai bentuk

    perlindungan terhadap konsumen.

    Data-data yang dimasukkan adalah nama

    dan alamat sarana yang diperiksa, profil

    singkat sarana yang diperiksa, penanggung

    jawab atau pemimpin sarana, temuan atau

    penyimpangan yang ditemukan, dan usulan

    penilaian atau pengkatagorian temuan yang

    diperoleh. Hasil temuan pemeriksaan terdiri

    dari dua rangkap, bagian yang kopiannya

    dibawa kembali ke BBPOM sedangkan

    bagian aslinya diserahkan ke pemilik sarana.

    Temuan yang didapatkan di klinik antara lain

    tidak terdapatnya apoteker sebagai

    penanggung jawab pelayanan kefarmasian

    padahal klinik ini juga melakukan pelayanan

    kefarmasian. Selain itu tenaga teknis

    kefarmasian hanya ada pada hari rabu dan

    sabtu saja

    Untuk pemeriksaan apotek ditemukan bahwa

    apotek dibuka namun belum memiliki SIA

    (Surat Izin Apotek). Apotek juga

    menyediakan obat-obat keras

    Pada pemeriksaan toko obat ditemukan obat

    keras berupa antibiotic dan obat batuk yang

    berisi zat aktif yang telah dicabut izin

    edarnya yaitu dextrometorfan tunggal.

    2. Penyampaian materi

    bidang Manajemen Mutu Penerapan manajemen sistem mutu

    bertujuan agar organisasi dapat

    menunjukkan kemampuannya dalam

    menyediakan produk secara konsisten

    mempertinggi kepuasan pelanggan.

    Quality Management System (QMS) Badan POM didefinisikan sebagai sistem

    manajemen yang mengikutsertakan seluruh

    elemen organisasi Badan POM dalam

    melaksanakan tugas melindungi masyarakat

    dari obat dan makanan yang berisiko

    terhadap kesehatan sesuai peraturan

  • 24

    perundangan melalui eksekusi grand

    strategi, pemenuhan persyaratan standar

    nasional maupun internasional, tuntutan

    pengembangan organisasi dan stakeholder

    serta improvement tools yang dijabarkan

    dalam proses kerja yang sistematis,

    terkendali dan meningkat secara

    berkesinambungan.

    BBPOM di Bandung menerapkan 2 (dua) sistem manajemen mutu:

    1. ISO/IEC 9001:2008 Sistem manajemen yang

    mengikutsertakan seluruh elemen

    organisasi Badan POM termasuk unit

    kerja di daerah (Balai Besar/Balai).

    BBPOM di Bandung memperoleh Sertifikat ISO 9001:2008 pada tahun

    2012.

    2. ISO/IEC 17025:2008 Sistem manajemen yang

    mengarahkan dan mengendalikan

    laboratorium pengujian berkaitan

    dengan pencapaian mutu.

    Pemenuhan terhadap Standar ISO 17025:2008

    Dra. Dela Triatmani, Apt Dra. Wiwiek Indriyati, M. Si., Apt

    Pembimbing Balai Besar Pengawas Pembimbing Fakultas Farmasi

    Obat dan Makanan (BBPOM) Universitas Padjadjaran

    Bandung

  • 25

    AGUSTUS, 2014

    Hari, Tanggal : Rabu, 27 Agustus 2014

    Hari ke - : 17

    No Kegiatan Uraian

    1. Inspeksi ke sarana

    distribusi obat di daerah

    Padalarang (apotek)

    Tujuan dari inspeksi ini ialah sebagai supervisi rutin yang dilakukan oleh BBPOM

    di Bandung terkait pengawasan terhadap

    sarana distribusi obat sebagai bentuk

    perlindungan terhadap konsumen.

    Data-data yang dimasukkan adalah nama

    dan alamat sarana yang diperiksa, profil

    singkat sarana yang diperiksa, penanggung

    jawab atau pemimpin sarana, temuan atau

    penyimpangan yang ditemukan, dan usulan

    penilaian atau pengkatagorian temuan yang

    diperoleh. Hasil temuan pemeriksaan terdiri

    dari dua rangkap, bagian yang kopiannya

    dibawa kembali ke BBPOM sedangkan

    bagian aslinya diserahkan ke pemilik sarana.

    Pada apotek pertama dilakukan pemeriksaan

    terhadap pengelolaan narkotika &

    psikotropika selama penggunaan periode 3

    bulan terakhir. Mulai dari pemesanan,

    penyimpanan, pendistribusian, serta sesuai

    tidaknya pencatatan di kartu stok dengan

    jumlah fisik. Tidak ditemukan pelanggaran

    terhadap peraturan.

    Pada apotek kedua ditemukan barang

    konsinyasi berupa obat tradisional tanpa izin

    edar. Dilakukan pendataan terhadap obat-

    obat tersebut. Selain itu ditemukan pula obat

    batuk yang berisi dextrometorfan tunggal.

    Dilakukan penyitaan terhadap obat tersebut

    karena dextrometorfan tunggal dilarang

    beredar.

    2. Penyampaian materi

    bidang Manajemen Mutu Untuk inspeksi CPOB mempunyai suatu

    manajemen mutu dengan persyaratan:

    Dilaksanakan oleh minimal inspektur/spesialis/observer (personil)

    Untuk spesialis melakukan inspeksi ke laboratorium PPOM, direktorat untuk

    registrasi obat.

    Persyaratan untuk mejadi seorang inspektur: Harus mengikuti pelatihan CPOB dasar

  • 26

    Kualifikasi : S1 kimia, S1 mirobiologi, S1 Farmasi dan Apoteker dan bekerja di

    bagian pemdik

    Setelah itu baru menjadi observer, tidak boleh melakukan inspeksi namun hanya

    boleh melakukan observasi dan juga

    tidak bertanggung jawab atas isi dari

    BAP.

    Dilakukan kualifikasi oleh Tim Ahli (konsultan CPOB, pensiunan BPOM

    atau dari PMA) bila LULUS maka sudah

    ditetapkan menjadi inspektur junior

    Inspektur junior hanya boleh melakukan inspeksi dalam untuk pabrik produk non-

    steril.

    Inspketur junior kemudian dinilai kembali bila LULUS maka sudah

    ditetapkan menjadi inspektur senior.

    Inspektur senior boleh melakukan inspeksi sarana steril dan non steril

    Kemudian inspektur senior mengikuti pelatihan lead auditor

    Dilakukan kualifikasi kembali Setalah itu ditetapkan menjadi inspektur

    kepala

    Untuk dapat meningkatkan jabatan dinilai dari jumlah inspeksi yang

    dilakukan menurut target dan baru bisa

    diajukan untuk dilakukan kualifikasi.

    Dapat dilakukan inspeksi gabungan bila wilayah BBPOM tersebut tidak

    memenuhi target untuk inspeksi

    Dilakukan inspeksi :

    1. Petugas BPOM (2 orang dari pusat atau 2 orang dari Balai). Dari Balai

    bisa dua-duanya inspektur atau 1

    spesialis dan 1 inspektur

    2. Rutin/Mandiri Tiga orang inspektur dan satu orang

    spesialis dari Balai

    3. Semuanya harus disertai dengan 1 inspektur kepala

    Sarana yang diinspeksi : 1. Non steril minimal 1 kali dalam 2 tahun 2. Steril minimal 1 kali dalam 4 tahun

  • 27

    3. Target dalam setahun melakukan inspeksi 50 industri

    Perencanaan Inspeksi : 1. Analisis Resiko

    Dilakukan skoring dengan tahap:

    Faktor kritis untuk produk yang diproduksi. Misalnya : aseptis,

    sterilisasi akhir, non steril. Nilainya

    dari besar ke yang terkecil

    Pabrik yang terkena sanksi (PSK, PK, P)

    Setiap peringatan mempunyai nilai

    berbeda

    Dilihat dari riwayat recall (>2 tahun terakhir)

    Dilihat dari produktivitas pabrik. Contoh: Kalbe, Sanbe dengan tingkat

    produksi tinggi.

    Dari semuanya baru dilakukan

    skoring, bila nilai besar maka dapat

    menjadi prioritas untuk dilaksanakan

    inspeksi

    2. Persiapan Membuat formulir :

    Agenda inspeksi Rencana inspeksi Aide memoir

    Resume untuk hasil CPOB tahun lalu

    atau hasil inspeksi

    sebelumnya/CAPA/riwayat

    kecil/sanksi sebelumnya) atau dapat

    dilakukan verifikasi hasil sebelumna

    dengan menggunakan aide memoir

    Daftar hadir Harus tandatangan saat opening dan closing meeting

    Jadwal inspeksi Biasanya dilakukan inspeksi dari gudang

    ke produksi sarana penunjang-

    laboratorium baru kemudian melakukan

    review dokumen.

    3. Pelaksanaan Inspektur kepala memimpin opening

    meeting yang menjelaskan tentang :

    Tujuan dilakukannya inspeksi

  • 28

    Agenda/ ruang lingkup inspeksi dan hanya yang lebih beresiko yang

    nantinya akan dilihat untuk inspeksi

    Jadwal inspeksi, tergantung track record pabrik

    Site visite, misal gudang yang dilihat label yang tercantum, gudang

    karantina/reject harus terkunci,

    sistem FIFO, tumpukan barang

    diatur, PES control, penataan di

    rak/etalase, suhu dan kelembaban

    diatur, akses menuju gudang dan

    bahan baku yang expired tidak

    digunakan atau dipisah dan

    dimusnahkan/diretur.

    Sepakat, dalam arti orang yang audit dan yang diaudit harus sama-sama

    megetahui bila ada temuan dan bila

    perlu ditulis nama orang yang diaudit

    dan mengaduit dan tandatangan

    Produksi Peralatan: mudah dibersihkan,

    inert, mudah dipasang,

    kualifikasi-validasi

    Dokumen batch record jelas Kebersihan

    Sarana penunjang Sistem tata udara dan tata air Sistem limbah Udara tekan

    Review dokumen Kualifikasi, validasi Sistem mutu Aspek harus diklarifikasi

    Laporan inspeksi Harus dicantumkan :

    Perubahan inspeksi di proses akhir

    Perubahan verifikasi di proses akhir

    Perubahan observasi di proses akhir

    Mayor, minor, kritis Klarifikasi temuan

    Laporan dikirim ke pusat dan dilakukan evaluasi setelah itu dikeluarkan surat sanksi,

    diantaranya :

  • 29

    1. Peringatan keras disertai larangan produksi

    2. Pengehentian sementara atau pencabutan rekomendasi izin

    3. Ijin industri didapat dari Menkes, BPOM hanya dapat memberikan rekomendasi

    tindak lanjut saja (penutupan industri)

    Tidak memberikan sanksi langsung

    Dra. Dela Triatmani, Apt Dra. Wiwiek Indriyati, M. Si., Apt

    Pembimbing Balai Besar Pengawas Pembimbing Fakultas Farmasi

    Obat dan Makanan (BBPOM) Universitas Padjadjaran

    Bandung

  • 30

    AGUSTUS, 2014

    Hari, Tanggal : Kamis, 28 Agustus 2014

    Hari ke - : 18

    No Kegiatan Uraian

    1. Post test Merupakan kegiatan akhir yang dilakukan mahasiswa peserta PKPA. Post test ini

    merupakan ujian tulis untuk mengevaluasi

    mahasiswa peserta PKPA BBPOM di

    Bandung. Merupakan ujian tertulis yang

    terbagi menjadi 2 bagian yaitu ujian umum

    yang mencakup pengetahuan umum

    mengenai BBPOM dan ujian tulis khusus

    yang merupakan ujian yang khusus

    diberikan untuk peserta PKPA di bagian

    Pemdik.

    Dra. Dela Triatmani, Apt Dra. Wiwiek Indriyati, M. Si., Apt

    Pembimbing Balai Besar Pengawas Pembimbing Fakultas Farmasi

    Obat dan Makanan (BBPOM) Universitas Padjadjaran

    Bandung

  • 31

    AGUSTUS, 2014

    Hari, Tanggal : Jumat, 29 Agustus 2014

    Hari ke - : 19

    No Kegiatan Uraian

    1. Penutupan PKPA

    BBPOM Bandung

    Penutupan kegiatan PKPA BBPOM di Bandung

    yang diikuti oleh 10 mahasiswa peserta PKPA

    dari Universitas Padjadjaran. Mahasiswa

    diberikan kesempatan untuk menyampaikan

    pesan dan kesan selama mengikuti kegiatan

    PKPA di BBPOM Bandung.

    Kegiatan PKPA BBPOM Bandung periode

    bulan Agustus dilaksanakan pada tanggal 5-29

    Agustus 2014.

    Dra. Dela Triatmani, Apt Dra. Wiwiek Indriyati, M. Si., Apt

    Pembimbing Balai Besar Pengawas Pembimbing Fakultas Farmasi

    Obat dan Makanan (BBPOM) Universitas Padjadjaran

    Bandung