of 22/22
PENDAHULUAN Toxoplasmosis adalah infeksi parasit yang disebabkan oleh toxoplasma gondii. Dimana hospes definitif T. gondii adalah kucing dan hospes perantaranya adalah manusia, mamalia dan burung. Toxoplasma gondii terdapat dalam tiga bentuk yaitu trofozoid, kista jaringan, ookista. Trofozoid dapat mengivasi semua sel mamalia yang memiliki inti sel. Dapat ditemukan pada jaringan selama fase akut infeksi. Kista jaringan dibentuk di tubuh hospes dan menetap seumur hidup terutama di otak, jantung, dan otot rangka. Ookista terbentuk di usus kucing dan dikeluarkan bersama feces. 1 Epidemologi Infeksi pada manusia bila makan daging yang kurang matang mengandung kista. Cara infeksi yaitu secara transplasental (toxoplasmosis kongenital), melalui transfusi darah ataupun transfusi organ. Toxoplasmosis cerebral sering ditemukan pada pasien HIV dengan jumlah sel CD4 < 100 L. Dari data rumah sakit di Amerika Serikat diperoleh bahwa toxoplasmosis serebral sebagian besar terjadi karena reinfeksi atau infeksi fase latent. 2 Penting untuk membedakan pasien dengan infeksi klinik dari mereka dengan seropositif sederhana untuk T gondii yang terpapar dengan toxoplasmosis. Pada orang dewasa, kebanyakan infeksi T gondii adalah subklinik, tapi infeksi berat dapat terjadi pada pasien yang immunocompromised, seperti mereka yang mengidap acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) dan 1

Lapkas Sol

  • View
    8

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

neorologi

Text of Lapkas Sol

Headache is very common

PENDAHULUANToxoplasmosis adalah infeksi parasit yang disebabkan oleh toxoplasma gondii. Dimana hospes definitif T. gondii adalah kucing dan hospes perantaranya adalah manusia, mamalia dan burung. Toxoplasma gondii terdapat dalam tiga bentuk yaitu trofozoid, kista jaringan, ookista. Trofozoid dapat mengivasi semua sel mamalia yang memiliki inti sel. Dapat ditemukan pada jaringan selama fase akut infeksi. Kista jaringan dibentuk di tubuh hospes dan menetap seumur hidup terutama di otak, jantung, dan otot rangka. Ookista terbentuk di usus kucing dan dikeluarkan bersama feces.1Epidemologi

Infeksi pada manusia bila makan daging yang kurang matang mengandung kista. Cara infeksi yaitu secara transplasental (toxoplasmosis kongenital), melalui transfusi darah ataupun transfusi organ.

Toxoplasmosis cerebral sering ditemukan pada pasien HIV dengan jumlah sel CD4 < 100 (L. Dari data rumah sakit di Amerika Serikat diperoleh bahwa toxoplasmosis serebral sebagian besar terjadi karena reinfeksi atau infeksi fase latent.2Penting untuk membedakan pasien dengan infeksi klinik dari mereka dengan seropositif sederhana untuk T gondii yang terpapar dengan toxoplasmosis. Pada orang dewasa, kebanyakan infeksi T gondii adalah subklinik, tapi infeksi berat dapat terjadi pada pasien yang immunocompromised, seperti mereka yang mengidap acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) dan keganasan.2,3 Organ-organ yang dipengaruhi termasuk gray dan white matter dari otak, retina, alveolar lining paru-paru, jantung, dan otot skletal. AIDS-associated encephalitis Toxoplasma terjadi dari reaktivasi infeksi latent kronik pada lebih dari 95% pasien.4,6 Patogenesa

Trofozoit yang merupakan bentuk yang paling infektif, masuk melalui jalur fekal oral. Trofozoit mengifeksi setiap sel yang berinti, kemudian bereplikasi yang menyebabkan penghancuran sel dan terbentuknya fokal nekrosis di usus. Kista jaringan dibentuk bila sudah ada kekebalan dan dapat ditemukan di berbagai jaringan tubuh, yang mengakibatkan infeksi kronis seumur hidup.

Imunitas seluler yang dimediasi oleh sel T, makrofag, dan aktivasi sitokin tipe 1 (interleukin [IL]-12 dan interfero [IFN]-gamma) diperlukan untuk pengendalian infeksi kronis T.gondii. IL-12 menstimulasi produksi IFN-gamma, yang merupakan mediator pelindung sel host utama terhadap kuman patogen. Produksi IL-12 dan IFN-gamma di stimulus oleh CD154 pada infeksi toxoplasma. CD 154 (diaktivasi terutama oleh sel T CD4) bekerja dengan merangsang dendrit sel dan makrofag untuk mensekresi IL-12 yang akan meningkatkan jumlah IFN-gamma.

Pada orang dengan HIV terjadi peningkatan kemungkinan untuk terjadi infeksi oportunistik seperti infeksi toxoplasma. Infeksi ini dapat terjadi oleh beberapa mekanisme seperti; penipisan sel T CD4, produksi IL-12 dan TNF yang berkurang, serta penurunan sensitifitas CD 154 untuk merespon infeksi T.gondii. Defisiensi ini mempunyai peranan penting dalam infeksi toxoplasma pada penderita HIV.

Gejala Klinik

Toxoplasmosis pada penderita HIV biasanya disebabkan oleh reaktivasi infeksi kronik dan toxoplasmosis serebral merupakan manifestasi yang paling sering. Penyakit ini merupakan penyebab penting lesi fokal otak pada penderita HIV. Pada toxoplasmosis serebral akut dapat ditemukan gangguan fokal neurologis yang disertai gejala-gejala seperti: sakit kepala, perubahan mental dan demam. Gangguan fokal neurologis yang paling sering adalh kelemahan motorik dan gangguan bicara. Pada penderita yang dapat ditemukan adanya kejang, gangguan pada nervus kranial, gangguan pada lapangan pandang, gangguan sensorik, kelumpuhan serta neuropsikosa. Toxoplasmosis cerebral yang bersifat difus jarang terjadi. Tapi hal ini harus diwaspadai pada penderita dengan IgG anti T.gondii dan sel T CD4 yang kurang dari 100/l yang disertai gangguan neurologis tanpa sebab yang jelas.

Pada penderita HIV dapat terjadi ekstracerebral toxoplasmosis tanpa atau dengan infeksi serebral. Gangguan pada mata dan paru-paru adalah presentasi paling sering dari toxoplasmosis extraserebral. Pada khorio retinitis didapatkan gejala-gejala seperti pandangan yang kabur, nyeri, skotoma dan photophobia.

Gejala klinik toxoplasmosisToxoplasmosis pada penderita HIV biasanya disebabkan oleh reaktivasi infeksi kronik dan toksoplasmosis serebral merupakan manifestasi yang paling sering, dan menyebabkan lesi fokal pada otak. Pada toksoplasmosis serebral akut dapat ditemukan gangguan fokal neurologis yang disertai gejala-gejala seperti; sakit kepala, perubahan mental dan demam. Gangguan fokal neurologis yang paling sering adalah gangguan motorik dan gangguan bicara.5,7 Toxoplasmosis cerebral yang bersifat difus jarang terjadi. Tapi hal ini harus diwaspadai pada penderita dengan IgG anti T.gondii dan sel T CD4 yang kurang dari 100/l yang disertai gangguan neurologis tanpa sebab yang jelas.9Bila SSP terlibat, dapat terjadi meningoensefalitis local maupun difus dengan ciri khas nekrosis dan nodul microglia. Ensefalitis nekrotikans pada pasien tanpa infeksi AIDS memiliki ciri khas lesi difus berkuran kecil dengan perivascular cuffing pada daerah berdekatan. Pada pasien AIDS, selain monosit, limfosit, dan sel plasma dapat pula ditemukan leukosit PMN. Kista mengandung bradizoit sering ditemukan bersebelahan dengan perbatasan jaringan nekrotik.6,8Diagnosis toxoplasmosisPemeriksaan serologik yang sering dipakai untuk diagnosa toxoplasmosis. Positif jika ditemukan adanya IgG dan IgM anti toxoplasma. Diagnosis toxoplasmosis akut bila titer IgG meninggi secara pemeriksaan kedua kali dalam jangka waktu 3 minggu atau lebih, atau bila ada konversi dari negatif ke positif. Cairan serebrospinal pasien toxoplasmosis serebral dapat ditemukan pleositas ringan dan peningkatan kadar protein. Hasil intratekal IgG anti toxoplasmosis dapat dihitung dengan rumus:

Jika rasio lebih dari 1, maka menunjukkan adanya IgG pada cairan cerebrospinal dan mendukung diagnosis toxoplasmosis cerebral.

Polymerase chain reaction (PCR) dan DNA T.gondii dapat dipakai. Isolasi toxoplasmosis dapat juga didiagnosa dengan kultur cairan tubuh (darah, cairan serebrospinal atau jaringan hasil biopsi. Radiologi, CT scan menunjukkan lesi multiple, bilateral, hypodense dengan penambahan kontras dapat menunjukkan lesi di otak hampir 70-80 % pada penderita toxoplasma serebral. MRI lebih sensitif dibanding CT scan dan lebih unggul pada penderita toxoplasma serebral tanpa gangguan neurologis fokal. Histopatologi, biopsi eksisional otak dapat memberikan diagnosa yang definitif dari toxoplasma serebral. Dengan adanya trofozoid atau kista yang dikelilingi fokus peradangan, dapat dipakai sebagai dasar diagnosa toxoplasma serebral.6

Penanganan toxoplasmosis

Penanganan pada penderita HIV dengan toxoplasmosis serebral dibagi dalam dua tahap yaitu terapi akut, dan terapi maintenance.5

Pada terapi akut digunakan pyrimetamine karena dianggap sebagai obat penting dalam penanganan toxoplasma. Kombinasi pyrimetamine dan sulfadiazine merupakan obat pilihan utama pada toxoplasma serebral. Pasien yang diterapi dengan pyrimetamine harus diberikan asam folat untuk mencegah gangguan hematologi.4,5

Umumnya regimen pengobatan toxoplasmosis tidak membunuh kista jaringan. Hal inilah yang sepertinya menjelaskan mengapa pada 80-90 % penderita HIV yang tidak mendapat terapi ART (antiretroviral therapy) yang adekuat, terjadi relaps (toxoplasmosis serebral) dalam 12 bulan. Terapi maintenance menggunakan obat-obat yang sama pada terapi akut tapi dalam dosis yang lebih rendah. Pyrimetamine ditambah sulfadiazine dilaporkan sebagai obat maintenance yang baik.6-8 LAPORAN KASUSNama: Ny. MS

Umur: 29 tahun

Agama: Kr. Protestan

Alamat: Pontak I jaga III Kec. Ranoyapo, Kab. Minsel

MRS: Tanggal 25 Mei 2009, Jam 20.45

Dengan Keluhan Utama : Sakit Kepala

Nyeri kepala seperti ditusuk-tusuk dialami penderita 5 minggu sebelum masuk rumah sakit. Nyeri berlangsung terus-menerus dalam beberapa menit (( 15-20 menit) kemudian menghilang. Nyeri kepala biasa timbul saat penderita berbaring, atau jongkok, kadang-kadang timbul saat penderita mengedan saat buang air besar. Dengan obat penghilang nyeri, nyeri tidak menghilang dengan sempurna. Penderita kadang-kadang gelisah dan kebingungan saat serangan sakit kepala. Muntah (+) dua kali pada saat serangan sakit kepala. Demam (+) dua hari pertama, demam cukup tinggi pada perabaan dan menghilang saat diberi obat penurun panas. Awalnya penderita dirawat di rumah sakit Tompaso Baru sejak 2 minggu yang lalu, setelah dirawat 3 hari penderita minta pulang. 10 hari kemudian penderita masuk ke RS Tompaso Baru dengan keluhan yang sama dan dirujuk ke RSU Prof RD Kandou. Muntah dialami penderita sebanyak dua kali selama perjalan dari Tompaso ke Manado, isi sisa makanan dan minuman.

Riwayat Penyakit Dahulu : Penderita pernah dirawat di rumah sakit Prof Kandou (C3)

dengan diagnosa HIV (CD4 )Riwayat penyakit keluarga: Hanya penderita yang sakit seperti ini.

Riwayat Kebiasaan : Alkohol (-), merokok (-), penggunaan obat-obatan (-)Riwayat pekerjaan

: Penderita sebelumnya pernah tinggal di Papua dan bekerja

di pub.O : KU, Tampak sakit sedang,

Kesadaran, CM

T: 100/60 mmHg N: 64 x/mntR: 24 x/mnt SB: 37,7 0C

Status Neurologi: GCS E3M5V4, pupil bulat isokhor ( 3 mm RC +/+, RCTL +/+.Status Cranialis : Kesan Paresa (-), laseq (-), kernig (-)

Status Motorik

: KO TO n/n

RF +/+

RP -/-

Status Sensorik: Sensibilitas Ki = Ka

Status Otonom

: BAK/BABbiasa

A:- Obs. Severe Cephalgia

- Susp Viral Infection dd Malaria

P:- Prophen 250 mg inj 3 x 1

- PCT 500 mgtab 3 x 1

- Ranitidin 2 x 150 mg tab

- Vastigo 3 x 1

Laboratorium masuk

Leukosit: 8,6

K : 4,5

Eritrosit : 4,74

Cl : 105

Hemoglobin: 12,9

Malaria : (-)

Hematokrit: 40,3

Ureum : 32,2 mg/dl

Trombosit : 424.000Kreatinin : 1.3 mg/dl

FOLLOW UP26/05-2009

S: Sakit Kepala ((O: T 100/80N. 71 x/mntR. 20 x/mntSB. 37.8 0C

A: Susp Toxoplasmosis dd meningoencephalitis.

Viral infection P: - Ibuprofen 50 mg 3 x 1

- PCT 500 mg 3 x 1

- Diazepam 2 mg tab 3 x 1

- Antriphit 5 mg tab 3 x 1

- Ranitidine 2 x 150 mg tab

- Vastigo 3 x 1

R: CT scan kepala dengan kontras

27/05-2009

S: Pusing (+)

O: T 120/70N. 64 x/mntR. 28 x/mntSB. 38.5 0C

A: Susp toxoplasmosis dd meningoencephalitis.

Viral infection

P: - Ibuprofen 50 mg 3 x 1

- PCT 500 mg 3 x 1

- Diazepam 2 mg tab 3 x 1

- Antriphit 5 mg tab 3 x 1

- Ranitidine 2 x 150 mg tab

- Vastigo 3 x 1Laboratorium

Albumin: 3,0

Na : 141

SGOT

: 26

K : 4,1

SGPT

: 20

Cl : 104

Tot. kolesterol: 154

Malaria : (-)

HDL

: 34

LDL

: 94

28/05-2009

S: Pusing (+)

Nyeri Kepala (( Penglihatan mata kanan terasa kabur O: T 110/70N. 68 x/mntR. 24 x/mntSB. 38.2 0C

A. : Susp Toxoplasmosis dd meningoencephalitis

Viral infectionP: - Ibuprofen 50 mg 3 x 1

- PCT 500 mg 3 x 1

- Diazepam 2 mg tab 3 x 1

- Antriphit 5 mg tab 3 x 1

- Ranitidine 2 x 150 mg tab

- Vastigo 3 x 1R: - Konsul mata dan THT

- X foto thorax

- Lumbal punksi

Hasil pemeriksaan CT scan dengan kontras

* Kesan suspek massa otak sekitar cornu anterior ventrikel lateral dengan perifokal edema dan infark cerebri

29/05-2009

S: Nyeri kepala

O: T 100/70N. 95 x/mntR. 24 x/mntSB. 37.8 0C

A. : Toxoplasmosis cerebriP: - Ibuprofen 50 mg 3 x 1

- PCT 500 mg 3 x 1

- Diazepam 2 mg tab 3 x 1

- Antriphit 5 mg tab 3 x 1

- Ranitidine 2 x 150 mg tab

- Vastigo 3 x 1Jawaban konsul mataVODS 6/60

TIOD: 10,2 mmHg

TIOS: 12,2

Segmen anterior ODS : Dalam batas normal

Segmen posterior ODS : Refleks fundus (+) uniform

Papil, retina sukar dievaluasi karena pasien tidak kooperatif.

Jawaban konsul THT

S: Pusing (+)

Riwayat otorrhea (-)

Pf: St. lokalis : Telinga MAE D/S lapang, membrane timpani intakWdx: Vertigo, severe cephalgia

30/05-2009

S: Nyeri kepala

O: T 110/70N. 85 x/mntR. 20 x/mntSB. 38.0 0C

A: Toxoplasmosis cerebriP: - Ibuprofen 50 mg 3 x 1

- PCT 500 mg 3 x 1

- Diazepam 2 mg tab 3 x 1

- Antriphit 5 mg tab 3 x 1

- Brain act 2 x 500 mg tab

- Radin 3 x 100 mg

- Vastigo 3 x 1 tab

Hasil pemeriksaan cairan otakMakroskopis

Warna

: Tidak berwarna

Kejernihan

: jernih

Bekuan

: (-)

Kimiawi

Nonne

: Negatif

Pandy

: Negatif

Protein cairan otak : 50 mg/dl

Glukosa cairan otak, natrium, clorida : Tidak dievaluasi

Serologi

VDRL: Tidak dievaluasi

Mirkobiologi

Pulasan gram : (-)

Pulasan BTA: (-)

Kultur dan resistensi : Tidak dievaluasi

Kesan tidak terdapat darah dalam liquor cerebrospinal

3/06-2009

S: Nyeri Kepala (+), Pusing (+)

O: T 110/70N. 84 x/mntR. 18 x/mntSB. 37.5 0C

A: Toxoplasmosis cerebriP: - Ibuprofen 500 mg 3 x 1

- PCT 500 mg 3 x 1 (k/p)

- Diazepam 2 mg tab 3 x 1

- Ranitidine 2 x 150 mg tab

- Vastigo 3 x 1

4-5/06-2009

S: Nyeri Kepala (+) O: T 110/60N. 80 x/mntR. 20 x/mntSB. 37.7 0CA: Toxoplasmosis cerebri

P: - Ibuprofen 500 mg 3 x 1

- PCT 500 mg 3 x 1 (k/p)

- Diazepam 2 mg tab 3 x 1

- Ranitidine 2 x 150 mg tab

- Vastigo 3 x 1

6/06-2009

S: Nyeri Kepala (+),

O: T 110/70N. 80 x/mntR. 20 x/mntSB. 38.2 0C

A: Toxoplasmosis cerebriP: - Ibuprofen 500 mg 3 x 1

- PCT 500 mg 3 x 1

- Diazepam 2 mg tab 3 x 1

- Ranitidine 2 x 150 mg tab

- Vastigo 3 x 1

R: Foto thorax

DISKUSI

Pada kasus ini, seorang wanita umur 29 tahun, masuk rumah sakit dengan keluhan utama sakit kepala. Nyeri kepala seperti ditusuk-tusuk 5 minggu sebelum masuk rumah sakit. Nyeri bersifat terus menerus dalam beberapa menit ( 15-20 menit) kemudian menghilang. Nyeri kepala biasa timbul saat berbaring, atau jongkok, dan mengedan saat buang air besar. Nyeri tidak hilang sempurna dengan obat. Penderita kadang-kadang gelisah dan kebingungan saat serangan sakit kepala. Muntah (+), demam (+) dua hari pertama, demam cukup tinggi hilang dengan obat panas. Penderita pernah dirawat di rumah sakit Prof Kandou dengan diagnosa HIV (CD 4). Riwayat kebiasaan, alkohol kadang-kadang. Riwayat pekerjaan, penderita pernah tinggal di Papua dan bekerja di PUB.Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran kompos mentis, Tekanan darah 100/60 mmHg, nadi 64 x/menit, respirasi 24 x/menit, suhu badan 37.70C. Status neurologis GCS E3M5V4, pupil bulat isokhor 3 mm, refleks cahaya positif pada kedua mata. Status kranialis, kesan paresa tidak ada, laseq negatif, Kernig negatif. Status motorik, kekuatan otot tonus otot normal, refleks fisiologis pada kedua ekstremitas positif, refleks patologis negatif. Pada status sensorik, sensibilitas kiri sama dengan kanan, bab dan bak biasa.Hasil laboratorium saat masuk diperoleh: Leukosit, 8,6; Kalium, 4,5; Eritrosit 4,74; Cl, 105; Hemoglobin 12,9; Malaria, negatif; Hematokrit 40,3; Ureum, 32,2 mg/dl; Trombosit, 424.000; Kreatinin, 1,3 mg/dL. Pada follow up, pemeriksaan cairan otak tidak ditemukan darah dalam liquor cerebrospinal.

Konsul mata tidak diperoleh kelainan yang berarti, namun pemeriksaan pupil dan retina sulit dilakukan karena penderita tidak kooperatif (gelisah akibat penurunan kesadaran). Konsul THT menunjukkan adanya vertigo dan severe cephalgia.

Pemeriksaan CT scan, diperoleh kesan terdapat massa otak sekitar kornu anterior ventrikel lateral dengan edema perifokal dan infark cerebri.

Pasien ini didiagnosa toxoplasmosis cerebri, dan diterapi secara medika mentosa Pasien ini memenuhi beberapa kriteria dan tanda-tanda klinik toksoplasmosis. Selain itu, riwayat pekerjaan penderita mengarahkan pada kemungkinan penderita HIV positif. Toxoplasmosis disebabkan oleh protozoa intraseluler Toxoplasma gondii dan memicu terjadinya toxoplasmosis serebral pada penderita HIV-1 positif.8 Anamnesis yang mendukung diagnosis, diperoleh sejumlah gambaran klinik-morfologi yang samar karena keterlibatan susunan saraf pusat, selain itu terdapat abses soliter yang bisa terisolasi pada medula spinalis.9Kebanyakan pasien dewasa, infeksi toxoplasmosis subklinik, dengan hanya serokonversi satu-satunya fakta yang tampak. Kadang-kadang, gangguan sistemik ringan dapat terjadi. Pada pasien immunokompeten, presentasi klinik dapat menyerupai demam glandular dan dihubungkan dengan fatique, menggigil, pyrexia, lymphadenopathy, dan sakit kepala. Gejala-gejala ini lebih berat pada pasien dengan immunocompromised. Manifestasi yang jarang termasuk maculopapular rash, encehpalomyelitis, myiocarditis, dan hepatitis.10 Gejala klinik pasien ini mirip gejala yang muncul pada penderita HIV positif dengan toxoplasmosis.

Gambaran klinik yang muncul pada space occupying lesion akibat toxoplasmosis, sesuai dengan lokasi massa lesi pada otak, dengan tanda-tanda lokalisasi yang mirip dengan tanda klinik pasien ini. Gambaran klinik yang muncul pada pasien ini memperlihatkan bahwa lokasi lesi berada pada lobus temporal; termasuk perubahan emosi dan perilaku, konvulsi, gangguan kesadaran yang samar. Pasien ini memenuhi beberapa kriteria toxoplasmosis, meskipun belum ditunjang oleh pemeriksaan titer IgG anti toxoplasmosis.7 Menurut kepustakaan, lesi-lesi pada lobus temporal seringkali memunculkan masalah-masalah psikologis yang samar-samar, yaitu:

Dapat timbul depersonalisasi, perubahan emosi, dan gangguan perilaku.

Halusinasi penciuman, rasa, suara dan penglihatan. Muncul berupa Deja vu dimana pasien merasa familiar seperti kejadian tersebut sudah terjadi sebelumnya.

Displasia dapat ditemukan

Defek lapangan pandang meliputi kuadran atas kontralateral

Dapat terjadi konvulsi

Masalah psikologik lain termasuk; pelupa, fatique (keadaan gangguan kesadaran, dimana pasien terlihat melakukan pekerjaan dengan kesadaran penuh tapi setelah sembuh pasien tidak mengingatnya kembali), psikologis fungsional dan ketakutan atau kemarahan. Mungkin terjadi perilaku seksual yang tidak tepat namun sindroma Kluver-bucy sangat jarang terjadi.9Pemeriksaan CT scan pada pasien ini; Terlihat gambaran massa abses toxoplasma (cornu anterior ventrikel lateral dengan edema perifokal dan infark cerebri) dengan tanda-tanda yang muncul sesuai lokasi lesi berada (lobus temporal).2

Pasien-pasien yang menderita AIDS beresiko terhadap perkembangan disseminated toxoplasmosis, dengan manifestasi yang paling sering berupa abnormalitas system saraf pusat. Kira-kira 50 % pasien-pasien ini seropositif untuk T gondii mengalami encephalitis.Toxoplasmosis adalah penyebab paling sering lesi otak pada pasien dengan AIDS dan seringkali terlokalisir pada basal ganglia, meskipun sisi lain dari otak dan medulla spinalis dapat dipengaruhi. Focus soliter dapat terlihat pada 1/3 pasien, meskipun fokal multiple lebih sering terlihat. Temuan histology toksoplasmosis SSP termasuk inflamasi solid atau granuloma kistik sekunder sampai reaksi glial mesenchymal, yang dikelilingi edema dan mikroinfark yang terjadi kerena vaskulitis. Pada AIDS-related Toxoplasma encephalitis, proses lekuk granulomatosa dengan batas yang terlihat atau gambaran diffuse necrotizing encephalitis. Gambaran lesi dan perjalanan penyakit pada pasien ini mirip lesi toxoplasmosis yang terjadi pada penderita HIV positif, namun pemeriksaan selanjutnya belum dilakukan.9,11. Pada penderita HIV dengan IgG anti toxoplasma negatif harus dianjurkan untuk mencegah infeksi T.gondii yang bisa didapatkan. Penderita hanya bisa makan daging yang sudah matang (suhu daging 116 0C atau sudah tidak ada lapisan daging yang berwarna merah muda) dan harus mencuci tangan setelah menyentuh daging mentah. Cuci buah dan sayur yang kemungkinan terkontaminasi dengan kotoran kucing, hindari menyentuh kucing, pakai sarung tangan ketika berkebun. Kotoran kucing harus dibuang setiap hari untuk mencegah maturasi ookista dan kandang kucing dapat dibersihkan menggunakan air mendidih yang direndam selama 5 menit.11Profilaksis utama untuk toxoplasmosis harus diberikan pada penderita dengan IgG anti toxoplasma positif dengan kadar sel T CD4 kurang dari 100/L tanpa memperhatikan adanya gejala klinik ataupun tidak, dan juga pada penderita dengan kadar sel T CD4 kurang dari 200/L jika ada infeksi oportunistik atau keganasan yang berkembang. Trimetoprim-sulfamethoxazole, pyrimethamine-dapson dan pyrimethamine-sulfadoxin adalah kombinasi obat yang efektif untuk mencegah terjadinya toxoplasmosis cerebral pada penderita HIV.9REFERENSI1. DR.Bindu. K. Intra cranial space occupying lesions. Available at http://www.similima.com/ 2. Tidy C. DR. Space occupying lesion. Last update. Mar 7, 2009 available at: http://www.patient.co.uk/showdoc. asp?doc=40000781.

3. Knott L. Toxoplasmosis. Last Updated: 28 Oct 2008. available at http://www.patient.co.uk/showdoc.asp?doc=40000376 4. Bigal ME, Lipton RB. Headache: classification. Mc Mahon. Chapter 54. p 1-14 5. Khan AN. Toxoplasmosis, CNS imaging. King Fahad National Guard Hospital, King Abdulaziz Medical City, Riyadh, Saudi Arabia. Update Jun 7, 2007. available at. http://emedicine.medscape.com/article/344706-imaging.

6. Herdiman T, Pohan. Toxoplasmosis. Buku ajar Ilmu penyakit dalam. Jilid 3 edisi 4. 396-1758.7. SchankinCJ; FerrariU; ReinischVM; BirnbaumT; GoldbrunnerR; StraubeANeurologische Klinik und Poliklinik, Kilinikum der Universitt Mnchen, Grosshadern, Mnchen, Germany. [email protected] 2007; 27(8):904-11 8. Anonymus. Acquired Cerebellar Toxoplasmosis in a Non- Immunocompromised Child: Case Report. http://panarabneurosurgery.org.sa/journal/apr1999/ AcquiredCerebellarToxoplasmis.htm. 9. Zahmani F. MD. Primary Alveolar Soft Part Sarcoma of Chest Wall: Case Report. GI and Liver Disease Research Center, Iran University of Medical Sciences, Tehran, Iran www.medscape.com/viewarticle/533958_2.

10. Toxoplasmosis. www.pathconsultddx.com/pathCon/diagnosis?pii= 11. Intracranial infection. http://neurosun.googlepages.com/intracranialinfections.

6

_1307395478.unknown