of 22 /22
BAB I PENDAHULUAN Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan penetrasi tungau parasit Sarcoptes scabiei var. hominis dan produknya ke dalam epidermis. Tungau skabies pertama kali diidentifikasi pada tahun 1600an, tetapi tidak dikenali sebagai penyebab dari erupsi kulit sampai tahun 1700an. Sinonim atau nama lain skabies adalah kudis, the itch, gudig, budukan, dan gatal agogo. 1,5 Penyakit ini sangat menular. Penularan terjadi melalui kontak personal langsung dari kulit ke kulit atau melalui kontak tidak langsung (melalui benda-benda) seperti pakaian, handuk, sprei, bantal, dan lain-lain. Tungau ini bersifat obligat pada manusia, tinggal dalam terowogan yang dibuatnya dalam epidermis superfisial. 2,5,9 Terdapat lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia yang menderita skabies. 1 Skabies adalah penyakit endemik di seluruh dunia, dapat menyerang seluruh ras dan berbagai tingkat sosial, namun gambaran akurat mengenai prevalensinya sulit didapatkan. 1,3 Sebuah penelitian terbaru menyatakan bahwa prevalensi skabies meningkat di United Kingdom dan skabies lebih sering terjadi di daerah perkotaan pada anak-anak dan wanita dan pada musim dingin dibandingkan saat musim panas. 4,5 Lingkungan padat penduduk, yang sering terdapat pada negara-negara berkembang dan hampir selalu berkaitan dengan 1

Lapkas Scabies

Embed Size (px)

Text of Lapkas Scabies

BAB IPENDAHULUANSkabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan penetrasi tungau parasit Sarcoptes scabiei var. hominis dan produknya ke dalam epidermis. Tungau skabies pertama kali diidentifikasi pada tahun 1600an, tetapi tidak dikenali sebagai penyebab dari erupsi kulit sampai tahun 1700an. Sinonim atau nama lain skabies adalah kudis, the itch, gudig, budukan, dan gatal agogo.1,5 Penyakit ini sangat menular. Penularan terjadi melalui kontak personal langsung dari kulit ke kulit atau melalui kontak tidak langsung (melalui benda-benda) seperti pakaian, handuk, sprei, bantal, dan lain-lain. Tungau ini bersifat obligat pada manusia, tinggal dalam terowogan yang dibuatnya dalam epidermis superfisial.2,5,9Terdapat lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia yang menderita skabies.1 Skabies adalah penyakit endemik di seluruh dunia, dapat menyerang seluruh ras dan berbagai tingkat sosial, namun gambaran akurat mengenai prevalensinya sulit didapatkan.1,3 Sebuah penelitian terbaru menyatakan bahwa prevalensi skabies meningkat di United Kingdom dan skabies lebih sering terjadi di daerah perkotaan pada anak-anak dan wanita dan pada musim dingin dibandingkan saat musim panas.4,5 Lingkungan padat penduduk, yang sering terdapat pada negara-negara berkembang dan hampir selalu berkaitan dengan kemiskinan dan higiene yangburuk, dapat meningkatkan penyebaran skabies.6

BAB IISTATUS PASIEN

IDENTITAS Nama: An.MG Umur: 1 Tahun 6 Bulan Jenis Kelamin: Laki-laki Agama: Islam Alamat: Banjar

ANAMNESIS (Allo Anamnesis, Senin, 7 April 2014) Keluhan Utama :Bruntus-bruntus kemerahan pada kedua tangan, leher dan kedua kaki yang disertai gatal terutama malam hari sejak 1 minggu yang lalu.

Riwayat Penyakit Sekarang :Pasien anak usia 1 tahun 6 bulan datang bersama ibunya ke Poliklinik RSUD kota Banjar dengan keluhan bruntus-bruntus kemerahan pada kedua pergelangan tangan, punggung tangan, sela-sela jari tangan, leher dan kedua kaki dari paha sampai ke sela jarinya yang disertai gatal sejak 1 minggu yang lalu. Awalnya 1 bulan yang lalu timbul bruntus kemerahan sebesar kepala jarum pentul dan merasa gatal di pergelangan tangan kanan. Menurut ibunya, pasien mengaku sering menggaruk-garuk daerah pergelangan tangan kanan yang gatal tersebut, kemudian bruntus kemerahan dirasakan semakin banyak dan semakin gatal serta meluas hingga ke pergelangan tangan, punggung tangan, sela-sela jari tangan kirinya ,bruntus tersebut menyebar pada daerah leher dan kedua kaki serta sela-sela jarinya, tidak tampak keluhan bruntus-bruntus kemerahan di bagian tubuh lainnya. Kemudian menurut ibunya, pasien mengeluhkan bruntus-bruntus kemerahan berisi cairan yang dirasakan semakin bertambah gatal dan pasien sering menggaruk bruntus kemerahan yang berisi cairan tersebut hingga pecah.Pasien mengeluhkan gatal setiap saat tetapi dirasakan semakin hebat pada malam hari, yang menyebabkan pasien rewel karena susah tidur dan sering terbangun. Pasien masih tidur bersama adik dan ibunya yang juga memiliki keluhan sama seperti pasien yaitu bruntus-bruntus kemerahan disertai gatal terutama malam hari pada tangannya. Keluhan bruntus-bruntus kemerahan berisi cairan yang disertai gatal belum pernah dialami pasien sebelumnya. Menurut ibu pasien, keluhan yang dialami selama 1 bulan terakhir ini sebelumnya belum pernah diobati, sehingga keluhan gatal semakin berat dan mengganggu pada 1 minggu terakhir ini, namun sebagian sudah ada yang mengering. Keluhan Tambahan:Pasien tinggal satu rumah dengan ibu, ayah, dan adik laki-lakinya, lingkungan rumah padat dan kurang ventilasi cahaya. Dirumah terdapat kasur dan karpet berbulu yang menurut ibu pasien jarang dijemur di sinar matahari. Ibu pasien mengganti sprei, kasur, guling dan bantal hanya jika terlihat kotor. Pasien dengan keluarga status ekonomi rendah.Pasien tidak mengeluhkan nyeri dan panas, tidak mengalami batuk dan pilek sebelum dan saat timbulnya keluhan bruntus-bruntus kemerahan pada kedua tangan, leher dan kedua kakinya. Pasien mengaku tidak ada riwayat kontak dengan bahan iritan berupa detergen dan bahan kimia lainnya. Sebelum tampak bruntus-bruntus kemerahan ibu pasien mengatakan, tidak menggunakan baju baru dan sepatu baru. Ibu pasien menyangkal adanya riwayat alergi terhadap makanan, cuaca maupun bahan iritan pada pasien. Ibu pasien juga menyangkal bahwa pasien maupun anggota keluarga lainnya memiliki riwayat penyakit alergi. (dermatitis atopik, rinitis alergik). Ibu pasien juga menyangkal memelihara binatang di rumahnya.

2.1 PEMERIKSAAN FISIK Kesadaran: Composmentis Keadaan umum: Tampak sakit ringan Vital Sign: Nadi:96x/menit Pernapasan:20 x/menit Suhu:36C

Status Generalis: Kepala: Normochepal Mata: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks pupil (+/+) Hidung: Septum deviasi (-), sekret (-/-) Mulut: Mukosa bibir kering (-), stomatitis (-) Leher: Pembesaran KGB (-) Thorax : Paru : Pergerakan dada simetris, vesikuler (+/+)Jantung: Ictus cordis teraba di ICS 5, BJ I dan II reguler Abdomen: Tampak cembung, BU normal, organomegali (-) Ekstremitas: Akral hangat (+/+), edema (-/-), pitting nails (-/-)

Status Dermatologikus

DistribusiRegional

A/RKedua tangan, leher, dan kedua kaki

LesiMultiple, sebagian konfluens sebagian diskret, timbul, sirkumskrip, ukuran diameter terkecil + 2mm, ukuran diameter terbesar + 7 mm , kering, bentuk korimbiformis.

EfloresensiPapul dengan eritema, vesikel, krusta

PEMERIKSAAN PENUNJANGPada pemeriksaan kerokan kulit dengan KOH 10% :Hasil (-), yaitu tidak ditemukan adanya tungau.

RESUMEPasien anak usia 1 tahun 6 bulan datang bersama ibunya ke Poliklinik RSUD kota Banjar dengan keluhan papul eritema pada kedua tangan, leher dan kedua kaki yang disertai pruritus nokturna sejak 1 minggu yang lalu.Menurut ibu pasien awalnya papul eritema yang muncul di pergelangan tangan kanan, dengan pruritus dan pasien sering menggaruk nya, sehingga meluas ke punggung tangan, sela-sela jari tangan kanan, punggung tangan, pergelangan tangan dan sela-sela jari tangan kiri, kemudian ke leher dan kedua kaki dan beberapa tampak adanya vesikel dan papul eritema di daerah kedua pergelangan tangan karena sering digaruk, kemudian pecah dan beberapa lesi saat ini tampak sudah mengering. Di keluarga pasien, ibu serta adik laki-lakinya juga sedang mengalami keluhan adanya vesikel dan papul eritema pada bagian tangannya disertai pruritus nokturna, yang mana pasien tinggal disatu kamar dan rumah yang sama serta sering bermain bersama.Lingkungan rumah pasien kurang ventilasi cahaya, barang-barang seperti kasur dan karpet berbulu jarang dijemur dan ibu pasien mengganti sprei, kasur, guling dan bantal hanya jika terlihat kotor dengan status ekonomi rendah.

Pemeriksaan Fisik :Didapatkan tanda vital dalam batas normal dan pada pemeriksaan dermatologi ditemukan:DistribusiGeneralis

A/RKedua tangan, leher, dan kedua kaki

LesiMultiple, sebagian konfluens sebagian diskret, timbul, sirkumskrip, ukuran diameter terkecil + 2mm, ukuran diameter terbesar + 7 mm , kering, bentuk korimbiformis.

EfloresensiPapul dengan eritema, vesikel, krusta

DIAGNOSA BANDING Skabies Dermatitis Atopik

DIAGNOSIS KERJA Skabies

RENCANA PEMERIKSAAN PENUNJANG LAIN Pemeriksaan Laboratorium (IgE dan eosinofil) Histopatologi

PENATALAKSANAAN NonMedikamentosa:Edukasi pasien: Menjelaskan kepada keluarga pasien mengenai penyakit yang diderita oleh pasien dan cara penggunaan obat yang diberikan. Mandi dengan air hangat dan keringkan badan. Pengobatan yang diberikan dioleskan di kulit dan sebaiknya dilakukan pada malam hari sebelum tidur. Selalu menjaga kebersihan tangan dan kaki. Ganti pakaian, handuk, sprei, yang digunakan, selalu cuci dengan teratur dan direndam dengan air panas. Alatalat yang tidak bisa direndam dengan air panas seperti karpet,kasur dan sofa dapat dijemur. Menyarankan agar saudara yang mengalami keluhan bruntus-bruntus kemerahan pada pergelangan tangan kanan dan kiri serta badan untuk berobat. Setiap anggota keluarga serumah sebaiknya mendapatkan pengobatan yang sama dan ikut menjaga kebersihan diri dan lingkungan rumah.

Medikamentosa: Topikal: Permetrin krim 5% 1x selama 1 hari dioleskan pada seluruh area tubuh dari leher kebawah sampai kaki tanpa terkecuali dan digunakan dalam waktu 10 jam, dianjurkan pengolesan pada malam hari kemudian dicuci pada esok harinya.

PROGNOSIS Quo Ad Vitam: Ad Bonam Quo Ad Functionam: Ad Bonam Quo Ad Sanationam: Dubia ad Bonam

BAB IIIANALISIS KASUS

Mengapa pada kasus ini diagnosis skabies?ANAMNESISBerdasarkan anamnesis pada pasien ini didapatkan cardinal sign berupa gatal yang dirasakan terutama pada malam hari, ibu dan adik laki-laki pasien juga sedang mengalami keluhan bruntus-bruntus kemerahan yang terasa gatal terutama malam hari pada tangannya.Yang mana pada teori dijelaskan diagnosa skabies dapat ditegakkan berdasarkan cardinal signnya yang meliputi 2 dari 4 cardinal sign berikut :1. Pruritus nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.2. Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu pula dalam sebuah perkembangan yang padat penduduknya, sebagaian besar tetangga yang berdekatan akan diserang tungau tersebut.3. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan itu ditemukan papul atau vesikel.4. Menemukan tugau , merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini.5,10,11

PEMERIKSAAN FISIKMelihat gejala klinis dengan mengetahui predileksi terjadinya skabies pada kasus yaitu lokasinya pada kedua pergelangan tangan, punggung tangan dan sela-sela jari tangan, yang kemudian terkena juga pada leher dan kedua kaki sampai ke sela jarinya. Efloresensi berupa papul eritema, vesikel, krusta.Sesuai dengan teori, lokasi gatal yang dirasakan pada pasien sesuai dengan tempat-tempat predileksi skabies yaitu merupakan tempat dengan startum korneum yang titpis, yakni : sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola mame (wanita), umbilikus, bokong, genitalia eksterna (pria), dan perut bagian bawah. Lesi yang timbul berupa papul, vesikel, urtika, dan lain-lain. Bila ada infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi, dan lain-lain).3,5,12

PEMERIKSAAN PENUNJANGPada kasus dilakukan pemeriksaan KOH 10 %, tidak ditemukan tungau. Dalam teori, menemukan tungau merupakan hal yang paling diagnostik dan dapat ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini.5

Apa penyebab dan faktor risikonya?Diduga pada kasus diatas pasien tertular oleh ibu dan adiknya atau oleh barang-barang yang dipakai bersama dengan ibu dan adiknya. Sesuai dengan teori penyakit ini sangat menular, penyakit ini disebabkan oleh Sarcoptes scabiei terutama oleh betina yang sudah dibuahi, selain terdapat pada manusia (Sarcoptes scabiei var hominis), S.scabiei juga terdapat pada binatang seperti kambing dan babi, yang secara morfologik merupakan tungau kecil, bentuk oval, punggung cembung, perutnya rata, translusen,warna putih kotor dan tidak bermata, dengan cara penularannya melalui kontak personal langsung dari kulit ke kulit atau melalui kontak tidak langsung (melalui benda-benda) seperti pakaian, handuk, sprei, bantal, dan lain-lain.5Faktor risiko skabies pada pasien adalah lingkungan rumah yang kurang ventilasi cahaya, terdapat barang-barang berupa kasur dan karpet berbulu yang jarang dijemur serta sprei, bantal, dan guling yang jarang diganti.Yang mana pada teori dijelaskan mengenai faktor resiko terjadinya scabies berupa faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain sosial ekonomi yang rendah, higiene yang buruk, dan perkembangan dermografik serta ekologik.7

Mengapa pada kasus ini didiagnosis banding dengan dermatitis atopik?DIAGNOSIS BANDINGPada kasus pasien anak 1 tahun 6 bulan, mengeluh adanya papul dan ada beberapa vesikel yang eritema disertai pruritus nokturna pada kedua tangan yang meliputi pergelangan, punggung tangan dan sela jari, leher serta kedua kakinya yang juga meliputi sela jarinya. Ibu dan adiknya memiliki keluhan yang sama. Pasien maupun keluarga tidak memiliki riwayat dermatitis atopik dan rinitis alergik. Dalam teori, dermatitis atopik (anak usia 2 bulan-2 tahun) adalah keadaan peradangan kulit kronis dan residif, disertai gatal yang umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak, sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dan riwayat atopik pada keluarga dan penderita(dermatitis alergik, rinitis alegik) memiliki lesi mulai di muka (dahi,pipi), berupa eritema, papulo vesikel yang halus, karena gatal kemudian vesikel pecah, eksudatif, dan akhirnya terbentuk krusta. Lesi dapat meluas ke leher, pergelangan tangan, lengan dan tungkai.8Walaupun gejala klinis pada dermatitis atopik dengan skabies hampir sama, namun dermatitis atopik dapat disingkirkan dalam diagnosis kerja karena dalam teori penyakit tersebut tidak ada keluhan gatal terutama malam hari, tidak menyerang dalam 1 kelompok, serta adanya riwayat atopik pada penderita ataupun keluarganya.

RENCANA PEMERIKSAAN PENUNJANG LAIN Pemeriksaan Laboratorium (IgE dan eosinofil), untuk kemungkinan diagnosis banding dermatitis atopik karena IgE dalam serum dan jumlah eosinofil dalam darah perifer penderita dermatitis atopik umumnya meningkat.8 Histopatologi, untuk kemungkinan dermatitis atopik juga namun tidak spesifik. Lesi akut ditandai spongiosis dan dermis menjadi edema, bersebukan sel radang terutama limfosit T, makrofag, sel mast dalam batas normal tetapi dalam keadaan degranulasi.8

Bagaimana penatalaksanaan kasus ini?PENATALAKSANAAN Pada pasien terapi non-medikamentosa yang diberikan berupa edukasi kepada pasien: Menjelaskan kepada keluarga pasien mengenai penyakit yang diderita oleh pasien dan cara penggunaan obat yang diberikan. Mandi dengan air hangat dan keringkan badan. Pengobatan yang diberikan dioleskan di kulit dan sebaiknya dilakukan pada malam hari sebelum tidur. Selalu menjaga kebersihan tangan dan kaki. Ganti pakaian, handuk, sprei, yang digunakan, selalu cuci dengan teratur dan direndam dengan air panas. Alatalat yang tidak bisa direndam dengan air panas seperti karpet,kasur dan sofa dapat dijemur. Menyarankan agar saudara yang mengalami keluhan bruntus-bruntus kemerahan pada pergelangan tangan kanan dan kiri serta badan untuk berobat. Setiap anggota keluarga serumah sebaiknya mendapatkan pengobatan yang sama dan ikut menjaga kebersihan diri dan lingkungan rumah.Berdasarkan teori dijelaskan untuk mengobati skabies perlu diberikan penjelasan kepada pasien dan keluarganya bahwa penyakit skabies mudah sekali menular, sehingga semua individu yang kontak langsung secara aktif /serumah harus diobati walaupun gejala belum ada. Obat topikal sebaiknya diberikan setelah mandi karena hidrasi kulit. Pakaian, sprei, handuk dan alat tidur lain hendaknya dicuci dengan air panas.2 Terapi Medikamentosa yang diberikan pada pasien berupa :Topikal:Permetrin krim 5% 1x selama 1 hari dioleskan pada seluruh area tubuh dari leher kebawah tanpa terkecualai dan digunakan dalam waktu 10 jam, dianjurkan pengolesan pada malam hari kemudia dicuci pada esok harinya.Dalam teori, krim permetrin 5% adalah suatu skabisid berupa piretroid sintesis yang efektif pada manusia dengan toksisitas rendah, bahkan dengan pemakaian yang berlebihan sekalipun dan obat ini telah dipergunakan lebih dari 20 tahun. Krim permetrin ditoleransi dengan baik, diserap minimal dan tidak diabsorbsi sistemik, serta dimetabolisasi dengan cepat. Aplikasi hanya sekali dan dihapus setelah 10 jam. Bila belum sembuh diulang setelah 1 minggu. Tidak dianjurkan pada bayi dibawah umur 2 bulan.5,11,12,13

Bagaimana prognosis pasien dalam kasus ini?PROGNOSISPada teori dijelaskan dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat, serta syarat pengobatan dan menghilangkan faktor prediposisi (higiene), maka penyakit ini dapat diberantas dan memberikan prognosis yang baik.7Sesuai dengan kasus ini prognosisnya adalah : Quo ad vitam: Ad Bonam Karena dengan menggunakan Permetrin cream 5% untuk skabies serta menjaga higenitas, pasien dapat sembuh. Tidak ada gejala atau tanda yang mengarah pada ancaman kematian. Quo ad functionam: Ad Bonam Karena tidak mengganggu dari fungsi-fungsi organ. Quo ad sanationam: Dubia Ad Bonam Walaupun penyakit ini dapat timbul kembali apabila ada faktor pencetusnya, namun bila higenitas pasien terjaga maka tidak akan terjangkit kembali.

BAB IVPENUTUP

KESIMPULANPasien anak usia 1 tahun 6 bulan datang bersama ibunya ke Poliklinik RSUD kota Banjar dengan keluhan papul eritema pada kedua tangan, leher dan kedua kaki yang disertai pruritus nokturna sejak 1 minggu yang lalu. Diagnosis kerja pasien tersebut adalah skabien dengan melihat minimal 2 dari 4 tanda kardinal, yaitu:1. Pruritus nokturnal, artinya gatal pada malam hari.2. Menyerang secara kelompok, misalnya dalam sebuah keluarga.3. Adanya terowongan pada tempat predileksinya.4. Menemukan tungau.Penatalaksanaan untuk skabies yang diberikan pada kasus pasien diatas yaitu krim permetrin 5% . Untuk menghindari infeksi berulang, seluruh kontak dekat dengan pasien harus diedukasi dan seluruh kain, selimut, handuk dan pakaian harus dicuci dengan air panas.Terapi harus tuntas bagi penderita dan keluarga penderita yang memiliki gejala yang sama.

SARANUntuk melakukan pencegahan terhadap penularan skabies, orang-orang yang kontak langsung atau dekat dengan penderita harus diterapi dengan topikal skabisid. Terapi pencegahan ini harus diberikan untuk mencegah penyebaran skabies karena seseorang mungkin saja telah mengandung tungau skabies yang masih dalam periode inkubasi asimptomatik.3Selain itu untuk mencegah terjadinya reinfeksi melalui seprei, bantal handuk dan pakaian yang digunakan dalam 5 hari terakhir, harus dicuci bersih dan dikeringkan dengan udara panas karena tungau scabies dapat hidup hingga 3 hari diluar kulit, karpet dan kain pelapis lainnya harus dibersihkan (vacuum cleaner).3

DAFTAR PUSTAKA1. Stone SP, Goldfarb JN, and Bacalieri RF. Scabies, Other Mites, and Pediculosis. In:Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, ed. FitzpatricksDermatology in General Medicine. 7th ed. New York: Mc-Graw Hill; 2008.p. 2029-32.2. Kartowigno S. 10 Besar Kelompok Penyakit Kulit. Edisi Pertama. Palembang : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2011 : 167-173.3. Meinking TL, Burkhart CN, Burkhart CG. and Elgart G. Infections, Infestations, andBites. In: Bolognia JL, Jorizzo JL, and Rapini RP, ed. Dermatology. 2nd ed. New York: Elsevier; 2008.p. 1291-5.4. Weller R, Hunter J and Savin J. Infestations. In: Weller R, Hunter J, and Savin J, ed. Clinical Dermatology. 4th ed. Oxford: Blackwell; 2008.p.262-6.5. Handoko, R. Skabies. In : Djuanda, A. Hamzah, N. Aisah, S. IlmuPenyakit Kulit Dan Kelamin Edisi Keenam. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2010 . hal: 119-122.6. Sungkar, S. Penyakit yang Disebabkan Artropoda. Dalam Srirasi G., H. Herry D, dan Wita Pribadi, ed. Parasitologi Kedokteran. Edisi III Fakultas Kedokteran UI Jakarta. 2003. hal:264-267.7. James WD, Berger TG and Elston DM. Parasitic Infestations, Stings, and Bites. In: James WD, Berger TG and Elston DM, ed. Andrews Diseases of The Skin Clinical Dermatology. 10th ed. Philadelphia: aunders; 2006.p.452-3.8. Sularsito, Djuanda. Dermatitis. In: Djuanda A. Hamzah, N. Aisah, S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Keenam. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2010.hal:129-1539. Murtiastutik D. Buku Ajar Infeksi Menular Seksual: Skabies. Edisi 1. Surabaya:Airlangga University Press. 2005 : 202-208.10. McCarthy, J. Kemp, D. Walton, S. Currie, B. Review Scabies : More Than Just AnIrritation. Postgrad Medical Journal 2004 : 80 : 382-386.11. Cox, N. Permethrin Treatment In Scabies Infestasion : Important Of CorrectFormulation. British Medical Journals 2000 : 320 : 37-38.12. Fox, G. Itching And Rash In A Boy And His Grandmother. The Journal Of FamilyPractice 2006 : 55 : p 26-27.13. Gunawan, Sulistia Gan.2008. Farmakologi Dan Terapi Edisi 5.Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2008 : 664-673.

15