Lapkas PEB

  • View
    33

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

preeklampsia berat

Text of Lapkas PEB

20

LAPORAN KASUSPREEKLAMSIA BERAT DENGAN IMPENDING EKLAMSIA

SUPERVISOR: dr. M. Rizki Yaznil, M.Ked (OG), Sp.OG

OLEH:Astrie Hananda Febriancy 090100299

FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS SUMATERA UTARADEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGIRS HAJI ADAM MALIKMEDAN

2014DAFTAR ISI

Daftar Isi.............................................................................................i

BAB 1Pendahuluan......................................................................1

BAB 2Tinjauan Pustaka..............................................................2

2.1 Definisi.........................................................................2

2.2Epidemiologi dan Faktor Risiko Preeklamsia..........3

2.3 Etiologi.........................................................................5

2.4 Patogenesis dan Patofisiologi Preeklamsia...............7

2.5 Gejala Klinis Preeklamsia..........................................9

2.6 Pemeriksaan Fisik.......................................................10

2.7 Pemeriksaan Penunjang.............................................10

2.8 Penatalaksanaan.........................................................10

BAB 3Laporan Kasus..................................................................

Daftar Pustaka

i

BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangSampai saat ini angka kematian ibu (AKI) tidak dapat turun seperti yang diharapkan. Menurut laporan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), tahun 2003 AKI di Indonesia yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2004 yaitu 270 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2005 yaitu 262 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2006 yaitu 255 per 100.000 kelahiran hidup, dan tahun 2007 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup. Target Millenium Development Goals (MDGs), AKI di Indonesia tahun 2015 harus mencapai 125 per 100.000 kelahiran hidup. Penyumbang angka kematian yang tinggi ini meliputi perdarahan, preeclampsia/eklampsia dan infeksi 1.Angka kejadian preeklampsia sekitar 5-10% dari seluruh kehamilan dan masing-masing negara mempunyai angka yang berbeda. Di Amerika Serikat, hipertensi dalam kehamilan merupakan penyebab kematian maternal kedua setelah perdarahan dan 15% dari kematian ibu hamil disebabkan oleh preeklampsia. Menurut Simanjuntak 2(4), pada penelitian retrospektif selama lima tahun (1993-1997) dijumpai 5-10% kematian ibu pada kasus preeklampsia berat, sedangkan penelitian dari Cochrane Review 3,4(5,6) menyebutkan prevalensi penderita preeklampsia berat dengan usia kehamilan di bawah 34 minggu adalah 50% dari jumlah kehamilan dengan preeklampsia berat. Dari pasien dengan preeklampsia berat tersebut, 50% memerlukan terminasi kehamilan dalam 24 jam setelah masuk rumah sakit berdasarkan indikasi ibu. Meskipun beberapa penelitian telah dilakukan, sampai saat ini penyebab preeklampsia belum diketahui secara pasti dan oleh Zweifel penyakit ini disebut dengan the disease of theories. Dan saat ini masih banyak penelitian yang berlangsung untuk mengetahui pathogenesis dari preeklampsia. Hanya saja, para peneliti sepaham dan telah membuktikan bahwa plasenta pasien preeklampsia ternyata mengalami iskemik oleh karena menurunnya aliran darah ke plasenta yang disebabkan tidak terjadinya dilatasi arteri spiralis 2,3,5 (7).Oleh karena etiologi dan patogenesisnya belum diketahui dengan jelas sampai sekarang, akibatnya penanganan yang definitif belum dijumpai. Hanya pemikiran karena penyakit ini disebabkan oleh plasenta, maka untuk menghentikan proses perjalanan penyakit adalah dengan melahirkan plasenta yang tentu saja akan juga melahirkan bayinya walaupun belum cukup bulan. Sebagai konsekuensi dari hal-hal tersebut akan banyak dilahirkan bayi-bayi yang prematur 6.Menurut Advanced in Labour and Risk Management (ALARM) Internasional tahun 2007, persalinan pada pasien preeklampsia berat pada saat yang optimal mengurangi morbiditas dan mortalitas ibu serta neonatal. Penundaan persalinan dilakukan hanya untuk mendapatkan maturitas paru janin. Hipertensi gestasional merupakan penyakit progresif, manajemen konservatif potensial berbahaya bila ada penyakit yang berat atau dugaan gawat janin 7(10).1.2. TujuanTujuan penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut:1. Untuk menambah pengetahuan penulis tentang preeklampsia berat, klasifikasinya, penatalaksanaannya baik pada ibu hamil.2. Sebagai salah satu tugas dalam bagian Ilmu Obstetri dan Ginekologi RSUP HAM.

BAB 2TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DefenisiPreeklampsia ialah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan / atau edema akibat dari kehamilan setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan, bahkan setelah 24 jam post partum.2Sebelumnya, edema termasuk ke dalam salah satu kriteria diagnosis preeklampsia, namun sekarang tidak lagi dimasukkan ke dalam kriteria diagnosis, karena pada wanita hamil umum ditemukan adanya edema, terutama di tungkai, karena adanya stasis pembuluh darah.3Hipertensi umumnya timbul terlebih dahulu daripada tanda-tanda lain. Kenaikan tekanan sistolik > 30 mmHg dari nilai normal atau mencapai 140 mmHg, atau kenaikan tekanan diastolik > 15 mmHg atau mencapai 90 mmHg dapat membantu ditegakkannya diagnosis hipertensi. Penentuan tekanan darah dilakukan minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam pada keadaan istirahat.3Proteinuria ditandai dengan ditemukannya protein dalam urin 24 jam yang kadarnya melebihi 0.3 gram/liter atau pemeriksaan kualitatif menunjukkan 1+ atau 2+ atau 1 gram/liter atau lebih dalam urin yang dikeluarkan dengan kateter atau midstream yang diambil minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam. Umumnya proteinuria timbul lebih lambat, sehingga harus dianggap sebagai tanda yang serius.4Walaupun edema tidak lagi menjadi bagian kriteria diagnosis pre-eklampsia, namun adanya penumpukan cairan secara umum dan berlebihan di jaringan tubuh harus teteap diwaspadai. Edema dapat menyebabkan kenaikan berat badan tubuh. Normalnya, wanita hamil mengalami kenaikan berat badan sekitar 0.5 kg per minggu. Apabila kenaikan berat badannya lebih dari normal, perlu dicurigai timbulnya pre-eklampsia.3Preeklampsia pada perkembangannya dapat berkembang menjadi eklampsia, yang ditandai dengan timbulnya kejang atau konvulsi. Eklampsia dapat menyebabkan terjadinya DIC (Disseminated intravascular coagulation) yang menyebabkan jejas iskemi pada berbagai organ, sehingga eklampsia dapat berakibat fatal.4Preeklampsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya tekanan darah tinggi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria dan/atau edema pada kehamilan 20 minggu atau lebih.5-72.2. Epidemiologi dan Faktor Risiko PreeklamsiaPreeklampsia dapat ditemui pada sekitar 5-10% kehamilan, terutama kehamilan pertama pada wanita berusia di atas 35 tahun.Frekuensi pre-eklampsia pada primigravida lebih tinggi bila dibandingkan dengan multigravida, terutama pada primigravida muda. Diabetes mellitus, mola hidatidosa, kehamilan ganda, hidrops fetalis, usia> 35 tahun, dan obesitas merupakan faktor predisposisi terjadinya pre-eklampsia.4Penelitian berbagai faktor risiko terhadap hipertensi pada kehamilan / preeklampsia /eklampsia.4 UsiaInsidens tinggi pada primigravida muda, meningkat pada primigravida tua.Pada wanita hamil berusia kurang dari 25 tahun insidens > 3 kali lipat. Pada wanita hamil berusia lebih dari 35 tahun, dapat terjadi hipertensi laten.

ParitasAngka kejadian tinggi pada primigravida, muda maupun tua, primigravida tua risiko lebih tinggi untuk pre-eklampsia berat.

Ras/golongan etnikMungkin ada perbedaan perlakuan/akses terhadap berbagai etnik di banyak negara.

Faktor keturunanJika ada riwayat pre-eklampsia/eklampsia pada ibu/nenek penderita, faktor risiko meningkat sampai 25%.

Faktor genDiduga adanya suatu sifat resesif (recessive trait), yang ditentukan genotip ibu dan janin.

Diet/giziTidak ada hubungan bermakna antara menu/pola diet tertentu (WHO). Penelitian lain : kekurangan kalsium berhubungan dengan angka kejadian yang tinggi. Angka kejadian juga lebih tinggi pada ibu hamil yang obese/overweight.

Iklim / musimDi daerah tropis insidens lebih tinggi.

Tingkah laku/sosioekonomiKebiasaan merokok : insidens pada ibu perokok lebih rendah, namun merokok selama hamil memiliki risiko kematian janin dan pertumbuhan janin terhambat yang jauh lebih tinggi.Aktifitas fisik selama hamil : istirahat baring yang cukup selama hamil mengurangi kemungkinan/insidens hipertensi dalam kehamilan.

HiperplasentosisProteinuria dan hipertensi gravidarum lebih tinggi pada kehamilan kembar, dizigotik lebih tinggi daripada monozigotik.

Hidrops fetalis berhubungan mencapai sekitar 50% kasus

Diabetes mellitus Angka kejadian yang ada kemungkinan patofisiologinya bukan pre-eklampsia murni, melainkan disertai kelainan ginjal/vaskular primer akibat diabetesnya.

Mola hidatidosaDiduga degenerasi trofoblas berlebihan berperan menyebabkan pre-eklampsia. Pada kasus mola, hipertensi dan proteinuria terjadi lebih dini/pada usia kehamilan muda, dan ternyata hasil pemeriksaan patologi ginjal juga sesuai dengan pada pre-eklampsia. Riwayat pre-eklampsia. Kehamilan pertama Usia lebih dari 40 tahun dan remaja Obesitas Kehamilan multiple Diabetes gestasional Riwayat diabetes, penyakit ginjal, lupus, atau rheumatoid arthritis. 4

2.3. EtiologiPenyebab preeklampsia sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti, sehingga penyakit ini disebut dengan The Diseases of Theories.Beberapa faktor yang berkaitan dengan terjadinya preeklampsia adalah :1. Faktor TrofoblastSemakin banyak jumlah trofoblast semakin besar kemungkinan terjadinya preeklampsia. Ini terlihat pada kehamilan Gemelli dan Mola Hidatidosa. Teori ini didukung pula dengan adanya kenyataan bahwa keadaan preeklampsia membaik setelah plasenta lahir.1

2.Faktor Imunolo