of 47/47
STATUS PSIKIATRI I. Identitas pasien Nama : Tn. R Jenis kelamin : Laki-laki Tanggal lahir : Jakarta,8 juli 1983 Usia : 29 Tahun Agama : Islam Alamat : Jl. H. Sikam raya rt 01/13, Pinang Bojong Status pernikahan : Belum menikah Pekerjaan : Mahasiswa (tidak tamat) Tanggal masuk rs : 6 Desember 2012 II. Riwayat psikiatri Berdasarkan Autoanamnesis tanggal 11 Februari 2013 Alloanamnesis tidak dilakukan 2.1. Keluhan utama Pasien mengaku di bawa ke RSJ Islam Klender oleh ayahny karena sering BAK di sembarang tempat. 2.2. Keluhan tambahan Pasien sering berbicara sendiri, sering mendengar bisikan, mudah tersinggung dan kesal, tidak mau minum obat, tidak

Lapkas jadi

  • View
    223

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

jiwa

Text of Lapkas jadi

STATUS PSIKIATRII. Identitas pasienNama: Tn. R

Jenis kelamin: Laki-laki Tanggal lahir: Jakarta,8 juli 1983Usia: 29 Tahun

Agama: IslamAlamat: Jl. H. Sikam raya rt 01/13, Pinang Bojong

Status pernikahan: Belum menikahPekerjaan: Mahasiswa (tidak tamat) Tanggal masuk rs: 6 Desember 2012II. Riwayat psikiatriBerdasarkan

Autoanamnesis tanggal 11 Februari 2013 Alloanamnesis tidak dilakukan 2.1. Keluhan utamaPasien mengaku di bawa ke RSJ Islam Klender oleh ayahny karena sering BAK di sembarang tempat.

2.2. Keluhan tambahanPasien sering berbicara sendiri, sering mendengar bisikan, mudah tersinggung dan kesal, tidak mau minum obat, tidak mau makan, hanya ingin minum kopi dan merokok dan tidak bisa tidur.2.3. Riwayat gangguan sekarangAutoanamnesa :

Pasien mengaku dibawa ke RSJ Islam Klender oleh ayahnya karena sering BAK di sembarang tempat. Pasien tidak tahu alasan kenapa suka BAK di sembarang tempat. Pasien juga tidak mau makan. Pasien hanya mau merokok, minum kopi dan minum jahe. Pasien juga mengaku sering marah-marah karena tersinggung karena hal-hal kecil. Pasien mengaku marah kepada ayahnya karena pasien telah membuatkan kopi untuk kedua orang tuanya namun kopi tersebut tidak diminum sama sekali oleh orang tuanya sehingga pasien tersinggung. Karena menurut pasien kopi yang sudah dibuat itu mubadzir apabila tidak diminum. Pasien mengaku apabila menutup kuping dengan kedua jarinya maka pasien akan mendengar suara orang yang sedang berbisik-bisik tanpa ada wujudnya. Menurut pasien suara orang yang berbisik tersebut seperti ayah dan ibunya atau terkadang suara perempuan yang mengatakan bahwa papah dan mamah akan memulangkan dirinya. Bisikan tersebut tidak pernah memerintahkan apapun kepada dirinya. Pasien tidak pernah melihat hal-hal aneh ataupun penampakan-penampakan. Pasien mengaku tidak merasa sedang dikejar-kejar ataupun merasa curiga kepada orang-orang disekitarnya. 2.4 Riwayat gangguan sebelumnya1. Gangguan PsikiatriPasien mengaku sudah 2 kali dirawat di RSJIK, pertama kali dirawat tahun 2008, dan yang ke dua adalah yang sekarang.

2. Gangguan MedisPasien tidak memiliki kelainan bawaan sejak lahir, tidak menderita sakit berat sampai dirawat di RS dan pasien tidak memiliki riwayat kejang. 3. Gangguan Zat PsikoaktifPasien merupakan perokok berat. Menurut pasien, pasien pernah menghisap ganja serta pasien sering mengkonsumsi alkohol. Namun menurut pasien sekarang sudah tidak lagi menggunakan ganja maupun minum alkohol.

2.5 Riwayat Pribadi Pasien Sebelum Sakit

2.5.1 Riwayat Pranatal dan Perinatal

Pasien dilahirkan cukup bulan, spontan, dengan persalinan normal, ditolong oleh bidan. Dan merupakan kelahiran yang dikehendaki serta tidak ada cacat bawaan.

2.5.2 Masa anak-anak Awal (0-3 tahun)Pasien diasuh oleh kedua orang tuanya. Pasien tumbuh normal seperti anak seusianya. Pasien tidak pernah mengalami kejang dan cedera kepala. 2.5.3 Masa anak-anak Pertengahan (3-11 tahun)

Secara fisik, pasien tumbuh seperti anak-anak seusianya. Pasien tidak ada kesulitan dan masalah dengan lingkungan sekitarnya. Prestasi di sekolah pasien biasa saja dan pasien tidak pernah tinggal kelas.

2.5.4 Masa anak- anak akhir ( pubertas sampai remaja)Pasien termasuk orang yang pendiam, kurang memiliki banyak teman dan tidak memiliki teman dekat. Hubungan dengan keluarga cukup baik.

Riwayat Pendidikan Formal

Pasien mulai bersekolah saat umur 4 tahun. Pasien tidak pernah tinggal kelas. Setelah lulus SD, pasien melanjutkan ke SMP kemudian ke SMA. Dan melanjutkan lagi pendidikannya ke universitas.

Perkembangan Motorik dan KognitifPasien tidak mengalami gangguan pada perkembangan fisiknya. Pasien tidak mengalami kesulitan dalam belajar.

Riwayat psikoseksual

Pasien kurang terbuka untuk menceritakan hal ini kepada keluarga. 2.5.5 Masa dewasa

Riwayat Pekerjaan

Pasien pernah bekerja sebagai kuli bangunan

Aktivitas Sosial

Cenderung menyimpan sendiri masalah yang dihadapi dan selalu memikirkan masalah-masalahnya sendiri. Pasien tidak mempunyai teman akrab. Bahkan pasien tidak mempunyai teman di lingkungan rumah.

Riwayat Pernikahan

Pasien belum pernah menikah. Menurut pasien, pasien pernah mempunyai hubungan dengan perempuan sebanyak 2 kali saat kuliah namun hubungannya putus begitu saja dan pasien sempat patah hati.

Riwayat pendidikan

Pasien berkuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta mengambil jurusan periklanan dan tidak tamat kuliah.

Riwayat keagamaan

Pendidikan agama pasien didapat dari kedua orang tuanya dan pasien termasuk orang yang tekun beribadah.

Riwayat hukum

Pasien tidak pernah melakukan pelanggaran hukum

2.6 Riwayat psikoseksual

Pasien kurang terbuka. 2.7 Riwayat KeluargaPasien adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Didalam keluarga pasien tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit serupa. Pasien dan keluarga tinggal dirumah sendiri di daerah tangerang. Pasien tinggal bersama ayah, ibu serta adiknya. Pasien tidur di kamar sendiri dan sumber penghasilan keluarga didapat dari sisa pensiunan ayahnya. Ayah pasien meninggal 1 januari 2013.SKEMA KELUARGA

Keterangan :

= laki-laki

= Perempuan

= meninggal

= Pasien III.STATUS MENTAL

3.1. Gambaran umum

1. Penampilan

Pasien seorang laki-laki berusia 29 tahun, berbadan kurus dengan tinggi 170 cm, berkulit kuning langsat, berambut hitam dan berkumis tipis. Pasien tampak lebih muda dari usianya dan tampak kekanak kanakan. Pada saat dilakukan wawancara pasien tidak memakai baju hanya menggunakan celana pendek berwarna coklat dan tidak memakai sandal. Seluruh tubuh pasien tampak bekas garukan,pasien tampak tidak dapat mengurus dirinya namun kuku tangan dan kaki tampak pendek. Saat wawancara pasien tampak tenang. 2. Perilaku dan aktivitas motorik

Gaya berjalan normal ,Selama wawancara pasien duduk tenang, kooperatif, sopan, kontak mata baik, selama wawancara pasien duduk tenang.3. Sikap terhadap pemeriksa Pasien kooperatif, sopan, tidak melawan dan menjawab pertanyaan dengan baik tetapi kadang tidak tepat. 3.2. Mood dan afek

Mood: Irritable Afek: Terbatas/ menyempit

Keserasian: Tidak Serasi 3.3. Pembicaraan

Volume: Sedang

Irama

: Teratur

Kelancaran: Artikulasi baik, Lancar tidak gagap

Kecepatan: cepat

3.4. Gangguan persepsi

Halusinasi Auditorik:Ada

Karena pasien mengatakan bahwa bila menutup kuping sering mendengar orang yang

berbisik tapi wujudnya tidak ada. Halusinasi Visual: Tidak ada Halusinasi Olfaktorius: Tidak ada

Halusinasi Gustatorik: Tidak ada

Halusinasi Taktil: Tidak ada

Depersonalisasi: Tidak ada

Derealisasi : Tidak ada

Ilusi : Tidak ada

3.5. Pikiran

a) Proses Pikir:

Produktivitas : Cukup ide

Kontinuitas

: Inkoheren

b) Isi pikiran

Preokupasi

: Pasien membahas mengenai jual beli tanah Gangguan Isi Pikir

Waham: Waham bizzare

( karena menurut permyataan pasien makan kuku sendiri itu dapat menyehatkan). Ideas of reference: Tidak ada

3.6. Sensorium dan kognitif

a) Kesadaran

: Compos mentis (GCS=15)

b) Orientasi

Waktu: Pasien mengetahui bedanya siang atau malam saat

diwawancara

Tempat

: Pasien mengetahui berada di RSJ Islam Klender Perorangan: Pasien bisa mengetahui sedang di wawancarai

dokter muda

c) Konsentrasi: Baik

Karena pasien dapat menghitung 100 dikurangi 7 secara serial sebanyak 7 kali.d) Daya ingat Daya ingat lama:

Baik, Pasien mampu mengingat dimana ia bersekolah dari SD hingga SMA. serta tempat kuliahnya.

Daya ingat peristiwa yang baru terjadi:

Baik, Pasien mampu mengingat apa yang baru saja dilakukan

Daya ingat tentang kedaan yang baru-baru ini terjadi:

Baik, pasien mampu mengingat menu sarapan kemarin dan kegiatan yang dilakukan kemarin.

Daya ingat Segera:

Baik, pasien mampu mengingat nama pewawancara.

e) Visuospasial : Baik, pasien mampu menggambar jam analog

pukul 04.00

f) Hendaya bahasa : tidak ada

g) Pemikiran abstrak: Baik, mengetahui perbedaan antara jeruk dengan bolah) Intelegensi dan pengetahuan umum : Baik, Pasien mampu menyebutkna nama Presiden RI pertama dan Presiden RI saat ini. 3.7. Pengendalian impuls

Baik (pasien dapat mengendalikan dirinya saat diwawancara)

3.8. Daya Nilai Penilaian sosial: Baik (pasien dapat bergaul dengan pasien yang lain) Uji daya nilai: kurang Baik

karena menurut pasien bila menemukan dompet di jalan, dia akan mengambil uangnya dan disumbangkan ke mesjid

karena uang nya hasil korupsi. 3.9. RTA : Terganggu3.10. Tilikan : Derajat I, pasien menyangkal sepenuhnya bahwa dirinya sakit.3.11. Taraf dapat dipercaya: Pasien cukup dapat dipercaya.

IV.STATUS FISIKStatus Interna Keadaan Umum: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda vital

Tekanan darah: 120/80 mmHg

Nadi

: 88 kali/menit

Pernapasan: 24 kali/menit

Suhu

: 36,5 C Kepala

: Normocephal, rambut hitam, distribusi merata. Mata

: CA (-/-). SI( -/-), pupil bulat isokor, refleks cahaya (+/+) Mulut

: mukosa bibir tidak kering, sianosis (-) THT

: Dalam batas normal Leher

: Pembesaran KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid (-) Thorax

: Pulmo : vesikuler (+/+), wheezing (-/-), ronkhi (-/-) Cor : Bunyi jantung 1 dan 2 reguler,murmur (-)

Abdomen

: Supel, nyeri tekan (-), hepatosplenomegali (-), BU (+) Ekstremitas

: Akral hangat, edema (-/-), RCT < 2 detik

Kulit

: Tampak bercak bekas garukan

Status Neurologis

Tanda Rangsang Meningeal : tidak adaMotorik :

Tonus: baik

Turgor: baik

Kekuatan : baik

Koordinasi : baik

Refleks Fisiologis: normal

Refleks Patologis : tidak adaV. IKHTISIAR PENEMUAN BERMAKNA

Kesadaran

: Compos Mentis

Penampilan

: Tampak lebih muda dari usianya, kekanak-

-kanakan dan tidak dapat mengurus diri.

Gangguan perilaku motorik: perilaku Stereotipik

Mood

: Irritable

Ekspresi afek

: Terbatas/menyempit

Keserasian

: Tidak serasi

Gangguan persepsi

: Halusinasi auditorik

Gangguan proses pikir

: Inkoherensi

Gangguan isi pikir

: Waham bizarre

Uji daya nilai

: Kurang baik.

RTA

: Terganggu

Tilikan

: Derajat I

Faktor stressor

: Pasien dipasung saat pengobatan alternatif.

Taraf dapat dipercaya

: Cukup dapat dipercayaVI. FORMULASI DIAGNOSTIK

Aksis I : SKIZOFRENIA HEBEFRENIK Pada pasien ini memenuhi kriteria skizofrenia yaitu :

- Halusinasi auditorik.- Waham bizarre.

- Pembicaraan tidak relevan serta inkoheren. - onset lebih dari 1 bulan.

- RTA terganggu.

- Tidak ada gangguan kesadaran neurologis.- Tidak ada penyakit organik spesifik yang diduga berkaitan dengan gangguan jiwanya.

Menurut PPDGJ III :

psikosis ini termasuk skizofrenia hibefrenik karena memenuhi kriteria diagnostik :

Kriteria diagnosis skizofrenia hebefrenik menurut PPDGJ IIIHasil penemuan pada pasien

Memenuhi kriteria umum untuk diagnostik skizofreniaSudah memenuhi dgn adanya halusinasi auditorik,onset > 1 bulan

Diagnosis hebefrenik untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau dewasa muda (15-25 tahun)Dapat dilihat dulu di riwayat penyakit dahulu saat pertama ali sakit di usia 25 tahun

Kepribadian premorbid menunjukan ciri khas pemalu dan senang menyendiri Menurut ibu pasien,pasien merupakan seorang yg pemalu dan tidak mempunyai teman akrab

Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan,serta manerisme,ada kecenderungan untuk selalu menyendiri dan perilaku menunjukkan hampa tujuan dan hampa perasaan Menurut ibu pasien, semenjak sakit pasien menjadi pemalas,tidak mau disuruh-suruh, hanya tidur dan merokok, BAK sembarangan.

Afek dangkal, tidak wajar, cekikikan, senyum sendiriAfek pasien terbatas, menurut ibu pasien sering tertawa sendiri

Proses fikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu (rambling) serta inkoheren Pembicaraan pasien inkoheren

Halusinasi dan waham tidak menonjol Terdapat halusinasi auditorik namun tdiak menonjol

Aksis II : Ciri kepribadian Skizoid Karena pasien sebelum sakit merupakan tipe pendiam, tidak mempunyai teman akrab, selalu melakukan aktivitas sendiri, dan sedikit melakukan aktivitas yang memberikan kesenangan.

Aksis III: - Aksis IV: Pasien sempat dipasung.

Aksis V : GAF 40-31 beberapa disabilitas dan hubungan dengan realita dan komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi. Fungsi sosial : Pasien masih kooperatif untuk menjawab pertanyaan dan

cukup bersahabat. Pasien bisa bergaul dengan pasien lainnya.Fungsi merawat diri : Pasien tidak mampu mengurus dirinya hal ini ditandai dengan

penampilan pasien yang sering tidak memakai baju, kumis yang

tidak dicukur,tidak memakai sendal. Fungsi Pekerjaan : Pasien pemalas, pekerjaannya hanya tidur merokok dan makan.

VII. EVALUASI MULTIAKSIAL

Aksis I

: F20.1 Skizofrenia hebefrenik.Aksis II: Ciri kepribadian Skizoid. Aksis III: -Aksis IV: Pasien pernah dipasung Aksis V : GAF 40-31 beberapa disabilitas dan hubungan dengan

realita dan komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa

fungsi.VIII. DIFERENTIAL DIAGNOSA

Skizofrenia Residual.

XI. DAFTAR PROBLEM

Problem Organobiologis : Tidak ada

Problem psikologis dan perilaku :

Halusinasi auditorik, waham bizarre, dan gangguan isi pikir. Problem keluarga, lingkungan, dan sosial budaya :

Pasien pernah dipasung.X. PROGNOSISDubia ad malam Hal ini karena beberapa fakor yang memperberat yaitu :

Onset muda

Riwayat sosial,seksual dan pekerjaan pramorbid yang buruk

Pasien tidak bekerja

Pasien tidak menikah

Gejala negatif yaitu pasien pemalas Faktor yang memperingan

Faktor pencetus jelas

Tidak mempunyai keluarga dengan riwayat penyakit yang sama

XI. RENCANA TERAPI Psikofarmaka

Risperidone 2 x 2 mg

Trihexiphenidil 2 x 2 mg

Psikoterapi

Suportif

Memberikan dukungan dan perhatian kepada pasien dalam menghadapi masalah serta memberikan dorongan agar pasien lebih terbuka bila mempunyai masalah dan jangan memperberat pikiran dalam menanggapi sebuah masalah terlalu serius dan berlebihan. Memotivasi pasien agar minum obat teratur dan mau bekerja.

Kognitif

Menerangkan tentang gejala penyakit pasien yangn timbul akibat cara berpikir yang salah, mengatasi perasaan dan sikapnya terhadap masalah yang dihadapi.

Keluarga

Memberikan penyuluhan bersama-sama dengan pasien yang diharapkan keluarga dapat membantu dan mendukung kesembuhan pasien. Membantu pasien untuk minum obat secara teratur dan bila kekurangan biaya disarankan untuk mengurus kartu sehat agar bebas dari biaya untuk membeli obat.

SKIZOFRENIA

A. PengertianSkizofrenia merupakan gangguan mental yang kompleks dan banyak aspek tentang skizofrenia sampai saat ini belum dapat dipahami sepenuhnya. Sebagai suatu sindrom, pendekatan skizofrenia harus dilakukan secara holistik dengan melibatkan aspek psikososiai, psikodinamik, genetik, farmakologi, dan lain-lain.

Mengingat kompleksnya gangguan skizofrenia, untuk mendapatkan hasil terapi yang optimal, klinikus perlu memperhatikan beberapa fase simptom gangguan skizofrenia, yaitu : fase prodromal, fase aktif dan fase residual. Hasil akhir yang ingin dicapai adalah penderita skizofrenia dapat kembali berfungsi dalam bidang pekerjaan, sosial dan keluarga.

Skizofrenia adalah suatu sindrom klinis dengan variasi psikopatologi, biasanya berat, berlangsung lama dan ditandai oleh penyimpangan dari pikiran, persepsi serta emosi.

B. EpidemiologiPrevalensi skizofrenia di Amerika Serikat dilaporkan bervariasi terentang dari 1 sampai 1,5 persen dengan angka insidens 1 per 10.000 orang per tahun. Berdasarkan jenis kelamin prevalensi skizofrenia adalah sama, perbedaannya terlihat dalam onset dan perjalanan penyakit. Onset untuk laki laki 15 sampai 25 tahun sedangkan wanita 25-35 tahun. Prognosisnya adalah lebih buruk pada laki laki dibandingkan wanita.Beberapa penelitian menemukan bahwa 80% semua pasien skizofrenia menderita penyakit fisik dan 50% nya tidak terdiagnosis. Bunuh diri adalah penyebab umum kematian diantara penderita skizofrenia, 50% penderita skizofrenia pernah mencoba bunuh diri 1 kali seumur hidupnya dan 10% berhasil melakukannya. Faktor risiko bunuh diri adalah adanya gejala depresif, usia muda dan tingkat fungsi premorbid yang tinggi.Komorbiditas Skizofrenia dengan penyalahgunaan alkohol kira-kira 30% sampai 50%, kanabis 15% sampal 25% dan kokain 5%-10%. Sebagian besar penelitian menghubungkan hal ini sebagai suatu indikator prognosis yang buruk karena penyalahgunaan zat menurunkan efektivitas dan kepatuhan pengobatan.Hal yang biasa kita temukan pada penderita skizofrenia adalah adiksi nikotin, dikatakan 3 kali populasi umum (75%-90% vs 25%-30%). Penderita skizofrenia yang merokok membutuhkan anti psikotik dosis tinggi karena rokok meningkatkan kecepatan metabolisme obat tetapi juga menurunkan parkinsonisme. Beberapa laporan mengatakan skizofrenia lebih banyak dijumpai pada orang orang yang tidak menikah tetapi penelitian tidak dapat membuktikan bahwa menikah memberikan proteksi terhadap Skizofrenia.C. EtiologiModel diatesis-stress, menurut teori ini skizofrenia timbul akibat faktor psikososial dan lingkungan. Model ini berpendapat bahwa seseorang yang memiliki kerentanan (diatesis) jika dikenai stresor akan lebih mudah menjadi skizofrenia. Secara somatogenik, etiologi penyebab skizofrenia antara lain:

Faktor Biologi1. Komplikasi kelahiranBayi laki laki yang mengalami komplikasi saat dilahirkan sering mengalami skizofrenia, hipoksia perinatal akan meningkatkan kerentanan seseorang terhadap skizofrenia.2. Infeksi Perubahan anatomi pada susunan syaraf pusat akibat infeksi virus pernah dilaporkan pada orang-orang dengan skizofrenia. Penelitian mengatakan bahwa terpapar infeksi virus pada trimester kedua kehamilan akan meningkatkan seseorang menjadi skizofrenia.Faktor Neurotransmitter1. Dopamin HyperactivityDopamin merupakan neurotransmiter pertama yang berkontribusi terhadap gejala skizofrenia. Hampir semua obat antipsikotik baik tipikal maupun antipikal menyekat reseptor dopamin D2, dengan terhalangnya transmisi sinyal di sistem dopaminergik maka gejala psikotik diredakan. Berdasarkan pengamatan diatas dikemukakan bahwa gejala gejala skizofrenia disebabkan oleh hiperaktivitas sistem dopaminergik.2. Hipotesis SerotoninGaddum, Wooley dan Show tahun 1954 mengobservasi efek lysergic acid diethylamide (LSD) yaitu suatu zat yang bersifat campuran agonis/antagonis reseptor 5-HT. Temyata zatini menyebabkan keadaan psikosis berat pada orang normal. Kemungkinan serotonin berperan pada skizofrenia kembali mengemuka karena penetitian obat antipsikotik atipikal clozapine yang temyata mempunyai afinitas terhadap reseptor serotonin 5-HT lebih tinggi dibandingkan reseptordopamin D2.57.

Struktur OtakDaerah otak yang mendapatkan banyak perhatian adalah sistem limbik dan ganglia basalis. Otak pada pendenta skizofrenia terlihat sedikit berbeda dengan orang normal, ventrikel terlihat melebar, penurunan massa abu-abu dan beberapa area terjadi peningkatan maupun penurunan aktifitas metabolik. Pemeriksaan mikroskopis dari jaringan otak ditemukan sedikit perubahan dalam distribusi sel otak yang timbul pada masa prenatal karena tidak ditemukannya sel glia, biasa timbul pada trauma otak setelah lahir.GenetikaPara ilmuwan sudah lama mengetahui bahwa skizofrenia diturunkan, 1% dari populasi umum tetapi 10% pada masyarakat yang mempunyai hubungan derajat pertama seperti orang tua, kakak laki laki ataupun perempuan dengan skizofrenia. Masyarakat yang mempunyai hubungan derajat kedua seperti paman, bibi, kakek / nenek dan sepupu dikatakan lebih sering dibandingkan populasi umum. Kembar identik 40% sampai 65% berpeluang menderita skizofrenia sedangkan kembar dizigotik 12%. Anak dan kedua orang tua yang skizofrenia berpeluang 40%, satu orang tua 12%. D. Gambaran klinisPerjalanan penyakit Skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase prodromal, fase aktif dan fase residual. Pada fase prodromal biasanya timbul gejala gejala non spesifik yang lamanya bisa minggu, bulan ataupun lebih dari satu tahun sebelum onset psikotik menjadi jelas. Gejala tersebut meliputi: hendaya fungsi pekerjaan, fungsi sosial, fungsi penggunaan waktu luang dan fungsi perawatan diri. Perubahan perubahan ini akan mengganggu individu serta membuat resah keluarga dan teman, mereka akan mengatakan orang ini tidak seperti yang dulu. Semakin lama fase prodromal semakin buruk prognosisnya.

Pada fase aktif gejala positif/psikotik menjadi jelas seperti tingkah laku katatonik, inkoherensi, waham, halusinasi disertai gangguan afek. Hampir semua individu datang berobat pada fase ini, bila tidak mendapat pengobatan gejala-gejala tersebut dapat hilang spontan suatu saat mengalami eksaserbasi atau terus bertahan. Fase aktif akan diikuti oleh fase residual dimana gejala-gejalanya sama dengan fase prodromal tetapi gejala positif/psikotiknya sudah berkurang. Disamping gejala-gejala yang terjadi pada ketiga fase diatas, penderita skizofrenia juga mengalami gangguan kognitif berupa gangguan berbicara spontan, mengurutkan peristiwa, kewaspadaan dan eksekutif (atensi, konsentrasi, hubungan sosial).

Diagnosis: Pedoman Diagnostik PPDGJ-lll Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):

a. Waham bizarre, yaitu isi pikir yang salah yang berlangsung lama dan tidak dapat dikoreksi. Waham bizarre berupa thought echo, yaitu isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda.

thought insertion or withdrawal, yaitu isi yang asing dan luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal).

thought broadcasting= isi pikiranya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya.

delusion of control, yaitu waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar.

delusion of passivitiy, yaitu waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar (tentang dirinya = secara jelas merujuk kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus).

delusional perception, yaitu pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasnya bersifatmistik atau mukjizat.b. Halusinasi auditorik:

suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau

mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau

jenis suara halusinasi lain yang berasal dan salah satu bagian tubuh.

c. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia lain).

d. Inkoherensi, yaitu kata-kata yang diucapkan sudah tidak memiliki hubungan dan tidak lagi memberikan makna. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:

a. halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau berbulan-bulan terus menerus.b. arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme.c. perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor.d. gejala-gejala negative, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi oleh depresi atau medikasi neuroleptika. Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal). Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.PrognosisWalaupun remisi penuh atau sembuh pada skizofrenia itu ada, kebanyakan orang mempunyai gejala sisa dengan keparahan yang bervariasi. Secara umum 25% individu sembuh sempurna, 40% mengalami kekambuhan dan 35% mengalami perburukan. Sampai saat ini belum ada metode yang dapat memprediksi siapa yang akan menjadi sembuh siapa yang tidak, tetapi ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya seperti: usia tua, faktor pencetus jelas, onset akut, riwayat sosial/pekerjaan pramorbid baik, gejala depresi, menikah, riwayat keluarga gangguan mood, sistem pendukung baik dan gejala positif ini akan memberikan prognosis yang baik sedangkan onset muda, tidak ada faktor pencetus, onset tidak jelas, riwayat sosial buruk, autistik, tidak menikah/janda/duda, riwayat keluarga skizofrenia, sistem pendukung buruk, gejala negatif, riwayat trauma prenatal, tidak remisi dalam 3 tahun, sering relaps dan riwayat agresif akan memberikan prognosis yang buruk.E. Klasifikasi Skizofrenia menurut PPDGJ-IIIF20.0Skizofrenia Paranoid

F20.1Skizofrenia Hebefrenik

F20.2Skizofrenia Katatonik

F20.3Skizofrenia Tak Terinci

F20.4Depresi Pasca-Skizofrenia

F20.5Skizofrenia Residual

F20.6Skizofrenia Simpleks

F20.8Skizofrenia Lainnya

F20.9Skizofrenia YTTF. Skizofrenia HebefrenikPada Skizofrenia Hebefrenik kita dapat melihat tanda dan gejala yang khas, antara lain;

Inkoherensi yaitu jalan pikiran yang kacau, tidak dapat dimengerti apa maksudnya.

Alam perasaan yang datar tanpa ekspresi serta tidak serasi atau ketolol-tololan.

Perilaku dan tertawa kekenak-kanakan, senyum yang menunjukkan rasa puas diri atau senyum yang hanya dihayati sendiri.

Waham yang tidak jelas dan tidak sistematik tidak terorganisasi sebagai suatu kesatuan.

Halusinasi yang terpecah-pecah yang isi temanya tidak terorganisasi sebagai satu kesatuan.

Gangguan proses berfikir

Perilaku aneh, misalnya menyeringai sendiri, menunjukkan gerakan-gerakan aneh, berkelakar, pengucapan kalimat yang diulang-ulang dan cenderung untuk menarik diri secara ekstrim dari hubungan sosial.2Beberapa tanda dan gejala yang paling sering ditemukan pada pasien-pasien Skizofrenia Hebefrenik adalah,

Waham

Halusinasi

Siar pikiran5PSIKOFISIOLOGI

1. Tahapan halusinasi dan delusi yang biasa menyertai gangguan jiwa.

a. Tahap Comforting

Timbul kecemasan ringan disertai gejala kesepian, perasaan berdosa, klien biasanya mengkompensasikan stresornya dengan koping imajinasi sehingga merasa senang dan terhindar dari ancaman.

b. Tahap Condeming

Timbul kecemasan moderat, cemas biasanya makin meninggi selanjutnya klien merasa mendengarkan sesuatu, klien merasa takut apabila orang lain ikut mendengarkan apa-apa yang ia rasakan sehingga timbul perilaku menarik diri ( withdrawal ).a. Tahap Controling

Timbul kecemasan berat, klien berusaha memerangi suara yang timbul tetapi suara tersebut terus menerus mengikuti, sehingga menyebabkan klien susah berhubungan dengan orang lain. Apabila suara tersebut hilang klien merasa sangat kesepian atau sedih.e. Tahap Conquering

Klien merasa panik, suara atau ide yang datang mengancam apabila diikuti perilaku klien dapat bersifat merusak atau dapat timbul perilaku suicide.1

2. Waham

Kelompok ini ditandai secara khas oleh berkembangnya waham yg umumnya menetap dan kadang-kadang bertahan seumur hidup. Waham dapat berupa waham kejaran, hipokondrik, kebesaran, cemburu, tubuhnya dibentuk secara abnormal,merasa dirinya bau dan homoseks. Tidak dijumpai gangguan lain, hanya depresi bisa terjadi secara intermitten. Onset biasanya pada usia pertengahan, tetapi kadang-kadang yang berkaitan dengan bentuk tubuh yang salah dijumpai pada usia muda. Isi waham dan waktu timbulnya sering dihubungkan dengan situasi kehidupan individu, misalnya waham kejaran pada kelompok minoritas. Terlepas dari perbuatan dan sikapnya yang berhubungan dengan wahamnya, afek dan pembicaraan dan perilaku orang tersebut adalah normal.Waham ini minimal telah menetap selama 3 bulan.2

G. Diagnosis Skizofrenia HebefrenikMemenuhi kriteria umum diagnosis skizofreniaberdasarkan PPDGJ III: Diagnosis hebefrenik untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau dewasa muda (onset biasanya mulai 15-25 tahun). Kepribadian premorbid menunjukkan ciri khas : pemalu dan senang menyendiri (solitary), namun tidak harus demikian untuk menentukan diagnosis.Untuk diagnosis hebefrenia yang menyakinkan umumnya diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini memang benar bertahan :Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan, serta mannerisme; ada kecenderungan untuk selalu menyendiri (solitary), dan perilaku menunjukkan hampa tujuan dan hampa perasaan; Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropriate), sering disertai oleh cekikikan (giggling) atau perasaan puas diri (self-satisfied), senyum sendiri (self-absorbed smiling), atau oleh sikap tinggi hati (lofty manner), tertawa menyeringai (grimaces), mannerisme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan hipokondrial, dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated phrases)

Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu (rambling) serta inkoheren.Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir umumnya menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi biasanya tidak menonjol (fleeting and fragmentary delusions and hallucinations).

Dorongan kehendak (drive) dan yang bertujuan (determination) hilang serta sasaran ditinggalkan, sehingga perilaku penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu perilaku tanpa tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of purpose).

Adanya suatu preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat-buat terhadap agama, filsafat dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang memahami jalan pikiran pasien.Menurut DSM-IV skizofrenia disebut sebagai skizofrenia tipe terdisorganisasi.2,6,7H. Penatalaksanaan Terapi Somatik (Medikamentosa)

Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati Skizofrenia disebut antipsikotik. Antipsikotik bekerja mengontrol halusinasi, delusi dan perubahan pola fikir yang terjadi pada Skizofrenia Terdapat 2 kategori obat antipsikotik yang dikenal saat ini, yaitu : antipsikotik konvensional dan newer atypical antipsycotics.1a. Antipsikotik Konvensional

---Obat antipsikotik yang paling lama penggunannya disebut antipsikotik konvensional.Walaupun sangat efektif, antipsikotik konvensional sering menimbulkan efek samping yang serius. Contoh obat antipsikotik konvensional antara lain :1. Haldol (haloperidol)5. Stelazine (trifluoperazine)

2. Mellaril (thioridazine) 6. Thorazine (chlorpromazine)

3. Navane (thiothixene) 7. Trilafon (perphenazine)

4. Prolixin (fluphenazine)

Akibat berbagai efek samping yang dapat ditimbulkan oleh antipsikotik konvensional, banyak ahli lebih merekomendasikan penggunaan newer atypical antipsycotic.3

Ada 2 pengecualian (harus dengan antipsikotik konvensional). Pertama, pada pasien yang sudah mengalami perbaikan (kemajuan) yang pesat menggunakan antipsikotik konvensional tanpa efek samping yang berarti. Biasanya para ahli merekomendasikan untuk meneruskan pemakaian antipskotik konvensional. Kedua, bila pasien mengalami kesulitan minum pil secara reguler. Prolixin dan Haldol injeksi dapat diberikan dalam jangka waktu yang lama (long acting) dengan interval 2-4 minggu (disebut juga depot formulations). Dengan depot formulation, obat dapat disimpan terlebih dahulu di dalam tubuh lalu dilepaskan secara perlahan-lahan. b. Newer Atypcal Antipsycotic4

Obat-obat yang tergolong kelompok ini disebut atipikal karena prinsip kerjanya tidak spesifik bekerja pada reseptor Dopamine dan juga bekerja pada neurotransmitter lain, serta sedikit menimbulkan efek samping bila dibandingkan dengan antipsikotik konvensional.

Beberapa contoh newer atypical antipsycotic yang tersedia, antara lain Risperdal (risperidone)

Seroquel (quetiapine)

Zyprexa (olanzopine)

Para ahli banyak merekomendasikan obat-obat ini untuk menangani pasien-pasien dengan Skizofrenia.1,4

c. Clozaril----Clozaril mulai diperkenalkan tahun 1990, merupakan antipsikotik atipikal yang pertama. Sangat disayangkan, Clozaril memiliki efek samping yang jarang tapi sangat serius dimana pada kasus-kasus yang jarang (1%), Clozaril dapat menurunkan jumlah sel darah putih yang berguna untuk melawan infeksi. Ini artinya, pasien yang mendapat Clozaril harus memeriksakan kadar sel darah putihnya tiap bulan. Para ahli merekomendaskan penggunaan Clozaril bila paling sedikit 2 dari obat antipsikotik yang lebih aman tidak berhasil.4 Cara Penggunaan

Pada dasarnya semua obat anti psikosis mempunyai efek primer (efek klinis) yang sama pada dosis ekuivalen, perbedaan terutama pada efek samping sekunder.

Pemilihan jenis obat anti psikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping obat. Pergantian obat disesuaikan dengan dosis ekuivalen.

Apabila obat anti psikosis tertentu tidak memberikan respon klinis dalam dosis yang sudah optimal setelah jangka waktu yang memadai, dapat diganti dengan obat psikosis lain (sebaiknya dari golongan yang tidak sama), dengan dosis ekivalennya dimana profil efek samping belum tentu sama.

Apabila dalam riwayat penggunaan obat anti psikosis sebelumnya jenis obat antipsikosis tertentu yang sudah terbukti efektif dan ditolerir dengan baik efek sampingnya, dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang

Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan:

o Onset efek primer (efek klinis) : sekitar 2-4 minggu

o Onset efek sekunder (efek samping) : sekitar 2-6 jam

o Waktu paruh 12-24 jam (pemberian 1-2 kali perhari)

o Dosis pagi dan malam dapat berbeda untuk mengurangi dampak efek samping(dosis pagi kecil, dosis malam lebih besar) sehingga tidak begitu mengganggu kualitas hidup pasien.1,4

---- Pemilihan Obat untuk Episode (Serangan) Pertama

----Newer atypical antipsychotic merupakan terapi pilihan untuk penderita Skizofrenia episode pertama karena efek samping yang ditimbulkan minimal dan resiko untuk terkena tardive dyskinesia lebih rendah.

----Biasanya obat antipsikotik membutuhkan waktu beberapa saat untuk mulai bekerja. Sebelum diputuskan pemberian salah satu obat gagal dan diganti dengan obat lain, para ahli biasanya akan mencoba memberikan obat selama 6 minggu (2 kali lebih lama pada Clozaril) Pemilihan Obat untuk keadaan relaps (kambuh)

Biasanya timbul bila penderita berhenti minum obat, untuk itu, sangat penting untuk mengetahui alasan mengapa penderita berhenti minum obat. Terkadang penderita berhenti minum obat karena efek samping yang ditimbulkan oleh obat tersebut. Apabila hal ini terjadi, dokter dapat menurunkan dosis menambah obat untuk efek sampingnya, atau mengganti dengan obat lain yang efek sampingnya lebih rendah.

--Apabila penderita berhenti minum obat karena alasan lain, dokter dapat mengganti obat oral dengan injeksi yang bersifat long acting, diberikan tiap 2- 4 minggu. Pemberian obat dengan injeksi lebih simpel dalam penerapannya.

--Terkadang pasien dapat kambuh walaupun sudah mengkonsumsi obat sesuai anjuran. Hal ini merupakan alasan yang tepat untuk menggantinya dengan obat obatan yang lain, misalnya antipsikotik konvensonal dapat diganti dengan newer atypical antipsychotic atau diganti dengan antipsikotik atipikal lainnya. Clozapine dapat menjadi cadangan yang dapat bekerja bila terapi dengan obat-obatan diatas gagal.4 Pengobatan Selama fase Penyembuhan

----Sangat penting bagi pasien untuk tetap mendapat pengobatan walaupun setelah sembuh. Penelitian terbaru menunjukkan 4 dari 5 pasien yang berhenti minum obat setelah episode petama Skizofrenia dapat kambuh. Para ahli merekomendasikan pasien-pasien Skizofrenia episode pertama tetap mendapat obat antipskotik selama 12-24 bulan sebelum mencoba menurunkan dosisnya. Pasien yang menderita Skizofrenia lebih dari satu episode, atau balum sembuh total pada episode pertama membutuhkan pengobatan yang lebih lama. Perlu diingat, bahwa penghentian pengobatan merupakan penyebab tersering kekambuhan dan makin beratnya penyakit.4 Efek Samping Obat-obat Antipsikotik

----Karena penderita Skizofrenia memakan obat dalam jangka waktu yang lama, sangat penting untuk menghindari dan mengatur efek samping yang timbul. Mungkin masalah terbesar dan tersering bagi penderita yang menggunakan antipsikotik konvensional yaitu gangguan (kekakuan) pergerakan otot-otot yang disebut juga Efek samping Ekstra Piramidal (EEP). Dalam hal ini pergerakan menjadi lebih lambat dan kaku, sehingga agar tidak kaku penderita harus bergerak (berjalan) setiap waktu, dan akhirnya mereka tidak dapat beristirahat. Efek samping lain yang dapat timbul adalah tremor pada tangan dan kaki. Kadang-kadang dokter dapat memberikan obat antikolinergik (biasanya sulfas atropin) bersamaan dengan obat antipsikotik untuk mencegah atau mengobati efek samping ini.5

----Efek samping lain yang dapat timbul adalah tardive dyskinesia dimana terjadi pergerakan mulut yang tidak dapat dikontrol, protruding tongue, dan facial grimace. Kemungkinan terjadinya efek samping ini dapat dikurangi dengan menggunakan dosis efektif terendah dari obat antipsikotik. Apabila penderita yang menggunakan antipsikotik konvensional mengalami tardive dyskinesia, dokter biasanya akan mengganti antipsikotik konvensional dengan antipsikotik atipikal.

Obat-obat untuk Skizofrenia juga dapat menyebabkan gangguan fungsi seksual, sehingga banyak penderita yang menghentikan sendiri pemakaian obat-obatan tersebut. Untuk mengatasinya biasanya dokter akan menggunakan dosis efektif terendah atau mengganti dengan newer atypical antipsycotic yang efek sampingnya lebih sedikit.5

Peningkatan berat badan juga sering terjadi pada penderita Skizofrenia yang memakan obat. Hal ini sering terjadi pada penderita yang menggunakan antipsikotik atipikal. Diet dan olah raga dapat membantu mengatasi masalah ini.1

Efek samping lain yang jarang terjadi adalah neuroleptic malignant syndrome, dimana timbul derajat kaku dan termor yang sangat berat yang juga dapat menimbulkan komplikasi berupa demam, penyakit-penyakit lain. Gejala-gejala ini membutuhkan penanganan yang segera. Terapi Psikososial

a. Terapi perilakuTerapi perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan ketrampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, latihan praktis, dan komunikasi interpersonal. Perilaku adaptif adalah didorong dengan pujian atau hadiah yang dapat ditebus untuk hal-hal yang diharapkan, seperti hak istimewa. Dengan demikian, frekuensi perilaku maladaptif atau menyimpang seperti berbicara lantang, berbicara sendirian di masyarakat, dan postur tubuh aneh dapat diturunkan.b. Terapi berorientasi-keluarga

----Terapi ini sangat berguna karena pasien skizofrenia seringkali dipulangkan dalam keadaan remisi parsial, dimana pasien skizofrenia kembali seringkali mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang singkat namun intensif (setiap hari). Setelah periode pemulangan segera, topik penting yang dibahas didalam terapi keluarga adalah proses pemulihan, khususnya lama dan kecepatannya. Seringkali, anggota keluarga, didalam cara yang jelas mendorong sanak saudaranya yang terkena skizofrenia untuk melakukan aktivitas teratur terlalu cepat. Rencana yang terlalu optimistik tersebut berasal dari ketidaktahuan tentang sifat skizofrenia dan dari penyangkalan tentang keparahan penyakitnya.-Ahli terapi harus membantu keluarga dan pasien mengerti skizofrenia tanpa menjadi terlalu mengecilkan hati. Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa terapi keluarga adalah efektif dalam menurunkan relaps.

c. Terapi kelompok

Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok mungkin terorientasi secara perilaku, terorientasi secara psikodinamika atau tilikan, atau suportif. Terapi kelompok efektif dalam menurunkan isolasi sosial, meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes realitas bagi pasien skizofrenia. Kelompok yang memimpin dengan cara suportif, bukannya dalam cara interpretatif, tampaknya paling membantu bagi pasien skizofrenia.

d. Psikoterapi individual

Penelitian yang paling baik tentang efek psikoterapi individual dalam pengobatan skizofrenia telah memberikan data bahwa terapi akan membantu dan menambah efek terapi farmakologis. Suatu konsep penting di dalam psikoterapi bagi pasien skizofrenia adalah perkembangan suatu hubungan terapetik yang dialami pasien. Pengalaman tersebut dipengaruhi oleh dapat dipercayanya ahli terapi, jarak emosional antara ahli terapi dan pasien, dan keikhlasan ahli terapi seperti yang diinterpretasikan oleh pasien.

Hubungan antara dokter dan pasien adalah berbeda dari yang ditemukan di dalam pengobatan pasien non-psikotik. Menegakkan hubungan seringkali sulit dilakukan, pasien skizofrenia seringkali kesepian dan menolak terhadap keakraban dan kepercayaan dan kemungkinan sikap curiga, cemas, bermusuhan, atau teregresi jika seseorang mendekati. Pengamatan yang cermat dari jauh dan rahasia, perintah sederhana, kesabaran, ketulusan hati, dan kepekaan terhadap kaidah sosial adalah lebih disukai daripada informalitas yang prematur dan penggunaan nama pertama yang merendahkan diri. Kehangatan atau profesi persahabatan yang berlebihan adalah tidak tepat dan kemungkinan dirasakan sebagai usaha untuk suapan, manipulasi, atau eksploitasi.1,2V. PROGNOSIS Prognosis untuk skizofrenia hebefrenik sama dengan skizofrenia tipe lainnya, prognosisnya pada umumnya kurang begitu menggembirakan. Sekitar 25% pasien dapat kembali pulih dari episode awal dan fungsinya dapat kembali pada tingkat prodromal (sebelum munculnya gangguan tersebut). Sekitar 25% tidak akan pernah pulih dan perjalanan penyakitnya cenderung memburuk. Sekitar 50% berada diantaranya, ditandai dengan kekambuhan periodik dan ketidakmampuan berfungsi dengan efektif kecuali untuk waktu yang singkat. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis skizofrenia1. KeluargaPasien membutuhkan perhatian dari masyarakat, terutama dari keluarganya. jangan membeda-bedakan antara orang yang mengalami Skizofrenia dengan orang yang normal, karena orang yang mengalami gangguan Skizofrenia mudah tersinggung.2. InteligensiPada umumnya pasien Skizofrenia yang mempunyai Inteligensi yang tinggi akan lebih mudah sembuh dibandingkan dengan orang yang inteligensinya rendah.3. PengobatanObat memiliki dua kekurangan utama. Pertama hanya sebagian kecil pasien (kemungkinan 25%) cukup tertolong untuk mendapatkan kembali jumlah fungsi mental yang cukup normal. Kedua antagonis reseptor dopamine disertai dengan efek merugikan yang mengganggu dan serius. Namun pasien skkizofrenia perlu di beri obat Risperidone serta Clozapine.4. Reaksi Pengobatan

Dalam proses penyembuhan skizofrenia, orang yang bereaksi terhadap obat lebih bagus perkembangan kesembuhan daripada orang yang tidak bereaksi terhadap pemberian obat.LAPORAN KASUS

SKIZOFRENIA HEBEFRENIK

DISUSUN OLEH:

Ninda Putri Rahayu 2008730026

Ajeng Tri Septiani 2008730048

Andri Affandi

2008730049DOKTER PEMBIMBING:

Dr. Erie Darma, SpKJKEPANITERAAN KLINIK PSIKIATRI

RUMAH SAKIT JIWA ISLAM KLENDERFAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2013