Click here to load reader

Lapkas Anestesi

  • View
    6

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

anestesi

Text of Lapkas Anestesi

BAB IPENDAHULUAN

Ketuban pecah dini (KPD) atau ketuban pecah dini prematur (KPDP) terjadi pada 3% kehamilan di seluruh dunia dan merupakan penyebab 25-30% dari kelahiran prematur. Pada penelitian lain disebutkan, sebagian besar kejadian ketuban pecah dini terjadi pada kehamilan aterm lebih dari 37 minggu sedangkan kejadian pada usia kehamilan kurang dari 36 minggu tidak terlalu banyak dilaporkan. Oleh karena KPD dan KPDP berhubungan langsung dengan masa persalinan, hal tersebut juga berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas perinatal. Hubungan tersebut dilatar belakangi komplikasi yang bisa terjadi akibat pecahnya ketuban sebelum persalinan atau masa inpartu yang bisa dialami oleh sang ibu atau bayinya, seperti, chorioamnionitis, infeksi dan sepsis neonatal, kompresi tali pusat yang menyebabkan gawat janin, dan prolapse tali pusat seiring dengan pecahnya ketuban dan lepasnya plasenta. Pada kehamilan yang cukup bulan salah satu tatalaksana yang harus segera dilakukan pada pasien dengan KPD selain pemberian antibiotic untuk mencegah infeksi, pemantauan keadaan janin adalah inisiasi kelahiran untuk mencegah komplikasi yang bisa terjadi. Salah satu pertolongan persalinan yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan sectio caesaria atau bedah saesar, yaitu proses persalinan yang dilakukan dengan membuka dinding perut dan dinding uterus. Pada saat ini, bedah saesar lebih aman dibandingkan masa sebelumnya karena tersedianya antibiotika, transfusi darah, teknik operasi yang lebih baik, serta teknik anestesi yang lebih sempurna. Seperti jenis pembedahan yang lain, tindakan bedah Caesarian membutuhkan prosedur anestesi. Anestesi sendiri secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika pembedahan ataupun proses lain yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Terdapat beberapa jenis atau teknik anestesi yaitu, anestesi Umum, anestesi regional dan anestesi lokal. Teknik anestesia yang digunakan pada pembedahan jenis ini adalah anestesi regional (Regional Anesthesia). Teknik anestesi biasa digunakan pada pembedahan Obstetri dan Ginekologi, pembedahan urologi, bedah ekstremitas bawah ataupun pembedahan yang dilakukan pada region dibawah vertebra lumbal. Alasan lain dilakukannya anestesi regional pada Sectio Caesaria adalah karena daya tembus obat-obatan anestesi umum pada sawar plasenta yang juga bisa mempengaruhi keadaan janin yang akan dilahirkan, sehingga digunakanlah anestesi regional pada pembedahan ini. Teknik anestesi ini hanya melumpuhkan sebagian tubuh manusia tanpa meyebabkan kehilangan kesadaran sehingga setelah pembedahan dilakukan waktu penyembuhan yang dibutuhkan tidak panjang.Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan diatas, kami penulis merasa tatalaksana anestesi pada section caesaria penting untuk dibahas dalam suatu kajian ilmiah dalam bentuk laporan kasus.BAB IILAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIENNama: Ny. NapiahUmur: 25 tahunJenis Kelamin: PerempuanAlamat: Sumur Jaya I RT 03/RW06 kelurahan tamansari, kecamatan pulomerahPekerjaan: ibu rumah tanggaAgama: IslamStatus: KawinTanggal Masuk: 21 Juli 2015B. ANAMNESISPasien datang ke instalasi gawat darurat dengan keluhan keluar air-air dari pukul 05.00 dan disertai keluar lendir. Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 21 Juli 2015, di instalasi gawat darurat RSUD Cilegon. Pasien merupakan pasien bagian kandungan dengan diagnosis G2P1A0 kehamilan 38 minggu inpartu kala I dengan riwayat SC 7 tahun yang lalu dan ketuban pecah dini 9 jam yang lalu. Keluhan utamaOs datang dengan keluhan keluar air-air sejak pukul 05.00 dan disertai keluar lendir dan os mengeluhkan mules Riwayat Penyakit SekarangOs mengeluhkan perut mengalami nyeri hilang timbul. Riwayat Penyakit DahuluOs menyakal memiliki riwayat penyakit Asma, Diabetes Melitus, Hipertensi, dan Alergi Riwayat tindakan Operatif Os mengaku anak pertama dilakukan sectio caesaria pada 7 tahun yang lalu.

C. PEMERIKSAAN FISIK

Dilakukan pemeriksaan Fisik pada tanggal 21 juli 2015-07-231. Keadaan Umuma. Kesan Sakit: Tampak sakit Sedangb. Kesadaran: Compos Mentisc. Berat Badan: 65 Kg2. Tanda-Tanda Vitala. Tekanan Darah : 130/90 mmHgb. Nadi: 80 X/mntc. Respirasi: 24 x/mntd. Suhu: 35,8 C3. Status GeneralisA. Kepalai. Rambut: rambut berwarna hitam, distribusi merataii. Kepala: normocephali, tidak ada deformitasiii. Mata: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterikiv. Telinga: tidak hiperemis, tidak oedem, tidka ada nyeri tekan atau nyeri tarik, tidak ada sekret yang keluar dari telingav. hidung: tampak simetris, tidak tampak deformitasvi. mulut: bibir tidak sianosis dan tidak kering, tidak ada trismusvii. gigi : tidak ada karies, tidak menggunakan gigi palsuB. LeherTidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening, tidak teraba ada pembesaran massa, trakea ditengahC. Thoraksi. Pulmo1. Inspeksi : bentuk dada simetris, dan gerak hemitoraks kanan kiri simetris dalam kondisi dinamis dan statis.2. palpasi: Vocal fremitus teraba simetris di kedua hemithoraks, pergerakan dinding dada simetris saat inspirasi dan ekspirasi3. perkusi: sonor diseluruh lapag paru4. Auskultasi: suara napas vesikuler, tidak ada ronkhi, tidak ada wheezing.

ii. cor1. inspeksi: ictus cordis tidak terlihat2. palpasi: teraba ictus cordis pada sela iga ke 5 pada linea midclavicularis sinistra3. perkusi: batas atas kiri sela iga ke 2 line parasternalis sinistra, batas atas kanan jantung sela iga ke 2 pada linea sternalis dextra, batas kiri jantung sela iga ke 5 linea midclavicularis sinisra.4. auskultasi: bunyi jantung I dan II reguler, tidak terdengan bunyi jantung tambahan, gallop (-), murmur(-)

D. Abdomen1. Inspeksi: perut membesar, tampak kulit sawo matang, tampak striae, ditemukan luka operasi2. auskultasi: sulit dinilai3. perkusi: sulit dinilai4.palpasi: teraba his pada pasienE. ekstremitasI. superior: sianosis(-), edem (-), ikterik (-), tidak ada deformitas, akral teraba hangatii. inferior : sianosis (-), edem (-), ikterik(-), tidak ada deformitas, akral teraba hangatF. PunggungTidak ada kelainan bentuk vertebraeD. PEMERIKSAAN PENUNJANG Lab darahJenis PemeriksaanNilai PasienNilai normalKeterangan

Gula darah sewaktu7092%Pucat atau kehitamanPerlu O2 SaO2 >90%SianosisDengan O2 SaO2 tetap 40% nilai dasar pre-operatif

Level aktivitasGaya berjalan stabil, tidak linglung, seperti saat pre-operatifMemerlukan bantuanTidak mampu bergerak

Mual dan muntahMiniaml, dapat sembuh dengan obat oralSedang, dapat sembuh dengan obat parenteralBerlanjut setelah mediaksi berulang

Nyeri (minimal, dapat ditoleransi pasien, terkontrol dengan obat oral)YaTidak

Perdarahan pembedadhanMinimal : tidak memerlukan transfusi darahSedang : sampai dua buah kantong transfusi darahBerat : tiga atau lebih kantong transfusi darah

Tabel. Sistem Skor Pemulangan Pasca-anestesi

BAB VIKESIMPULAN

Pasien adalah seorang perempuan berusia 25 tahun dengan riwayat ketuban pecah dini 9 jam sebelum masuk Rumah Sakit. Pasien dating ke IGD pada hari Selasa 21 Juli 2015 pukul 13.50 WIB. Dari anamnesis diperoleh informasi bahwa pasien dating ke IGD dengan keluhan keluar air disertai lendir dari kemaluan sejak pukul 05.00 WIB, pasien juga mengeluskan rasa mulas dan nyeri hilang timbul pada perut pasien. Pasien menyangkal memiliki riwayat Hipertensi, Diabetes Melitus, Asma Bronkiale dan alergi. Pasien mengaku anak pertama lahir dengan section caesaria 7 tahun yang lalu. Pasien juga menyangkal pemakaian gigi palsu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah yang meningkat yaitu 130/90 mmHg, pada pemeriksaan abdomen juga didapatkan pembesaran abdomen dan terabanya his. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan penurunan Hb (9,9 g/dl), peningkatan leukosit (15.390/uL) dan penurunan Hematokrit (30,6%). Berdasarkan American Socieety of Anesthesiology pasien digolongkan dalam ASA I E. tindakan anestesi yang dilakukan adalah anestesi regional dengan blok subarachnoid. Teknik ini dipilih karena keadaan pasien sesuai dengan indikasi teknik anestesi regional.Evaluasi pre operatif pada pasien didapatkan dalam batas normal. Tidak didapatkan keadaan yang menjadi kontraindikasi anestesi regional. Pasien diberikan premedikasi berupa Ondansetron 4mg. Setelah itu dilakukan anestesi regional dengan teknik blok subarachnoid pada L3-L4 dengan menggunakan jarum spinal no. 27 untuk memasukan obat anestesi regional yaitu Bupivacaine 20 mg pada pukul 05.15 WIB. Selama operasi berlangsung pasien mendapatkan Oksigen dengan volume 2 liter/menit. Pasien diberikan Oxytocin 10 IU dan Metyl Ergometrin 0,2 mg setelah bayi lahir, saat penjahitan luka operasi pasien diberikan Tramadol 100 mg drip. Sesaat sebelum operasi selesai pasien diberikan Pronalges supp dan Cytostol 3 tab. Selama operasi, tidak terjadi komplikasi dan kondisi pasien relative stabil selama operasi. Operasi berakhir pada pukul 06.00 WIBEvaluasi post operatif dilakukan dengan pemantauan kondisi pasien di ruang pemulihan, tidak didapatkan keluhan dan tanda syok pada pasien. Kondisi post operatif pasien relative stabil, dengan skor Bromage