Lap Pendahuluan HC

Embed Size (px)

DESCRIPTION

OTK

Text of Lap Pendahuluan HC

Laporan Tetap Praktikum OTK I - Heat Conduction (Arsip)

LAPORAN TETAP PRAKTIKUMOPERASI TEKNIK KIMIA IHEAT CONDUCTION

KELOMPOK I (SHIFT RABU SIANG)1. RATIH KESUMA W (03101003013)2. AGUNG PRASETYO N (03101003021)3. DWI LESTARI (03101003026)4. MUTHIA RANI(03101003064)5. AMANDA NOFRENI (03101003072)6. RIAN ARTHA PRIMA (03101003107)ASISTEN1.FEBIA KANIA HERNAWAN2.DIANA MUTIA PRATIWI

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIKUNIVERSITAS SRIWIJAYAINDERALAYA2013BAB IPENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Panas adalah salah satu bentuk energi yang dapat dipindahkan dari suatu tempat ke tempat lain, tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan sama sekali. Dalam suatu proses, panas dapat mengakibatkan terjadinya kenaikan suhu suatu zat, perubahan tekanan, reaksi kimia dan kelistrikan.Proses terjadinya perpindahan panas dapat dilakukan secara langsung, yaitu fluida yang panas akan bercampur secara langsung dengan fluida dingin tanpa adanya pemisah. Sedangkan secara tidak langsung, yaitu bila diantara fluida panas dan fluida dingin tidak berhubungan langsung tetapi dipisahkan oleh sekat-sekat pemisah. Perpindahan panas adalah salah satu faktor yang sangat menentukan operasional suatu pabrik kimia. Penyelesaian soal-soal perpindahan kalor secara kuantitatif biasanya didasarkan pada neraca energi dan perkiraan laju perpindahan kalor. Perpindahan panas akan terjadi apabila ada perbedaan temperatur antara 2 bagian benda. Panas akan berpindah dari temperatur tinggi ke temperatur yang lebih rendah. Peristiwa konduksi merupakan suatu peristiwa perpindahan energi dengan interaksi dari molekul-molekul suatu substansi dimana terjadinya perpindahan panas dalam bentuk liquid, gas,dan padat tanpa adanya perpindahan partikel-partikel dalam bahan tersebut melalui medium tetap.Perpindahan panas pada suatu medium, tidak mungkin terjadi hanya dengan cara konduksi, tetapi juga terjadi secara konveksi. Hal ini terjadi karena sifat molekul, atom ataupun elektron bebas yang selalu bergerak. Jadi apabila suatu bahan dipanasi maka akan terjadi perpindahan panas secara konduksi dan konveksi dari ujung yang dipanasi ke ujung yang lebih kecil temperaturnya. Profil perpindahan panas pada medium tersebut akan mengakibatkan adanya fluks panas.Pada skala mikroskopis, konduksi terjadi dalam tubuh dianggap sebagai stasioner, ini berarti bahwa energi kinetik dan potensial dari gerakan massal dari tubuh secara terpisah dipertanggung-jawabkan. Energi internal akan berdifusi dengan cepat atau bergerak menggetarkan atom. Kemudian molekul berinteraksi dengan partikel tetangga, mentransfer beberapa energi mikroskopis mereka dengan energi kinetik dan potensial. Jumlah ini didefinisikan relatif, tetapi terhadap sebagian besar tubuh dianggap sebagai stasioner.Panas ditransfer oleh konduksi bila berdekatan dengan atom atau bila molekul bertabrakan, atau sebagai elektron beberapa bergerak mundur dan maju dari atom ke atom dengan cara yang tidak teratur sehingga tidak membentuk arus listrik makroskopik. Konduksi adalah cara yang paling signifikan dari perpindahan panas dalam padat atau antara benda padat dalam kontak termal. Konduksi lebih besar dalam padatan karena jaringan yang relatif hubungan spasial tetap erat antara atom membantu untuk mentransfer energi antara mereka dengan getaran.Pada peristiwa konduksi, panas akan berpindah tanpa diikuti aliran medium perpindahan panas. Panas akan berpindah secara estafet dari satu partikel ke partikel yang lainnya dalam medium tersebut. Salah seorang yang mempelajari proses perpindahan panas secara konduksi adalah Joseph Fourier. Pada tahun 1827 ia merumuskan hukumnya yang berkenaan dengan konduksi. Tinjauan terhadap peristiwa konduktif dapat diambil dengan berbagai macam cara (yang pada prinsipnya berakar pada hukum Fourier), mulai dari subjek yang sederhana yaitu hanya sebatang logam (composite bar). Banyak faktor yang mempengaruhi peristiwa konduksi. Diantaranya pengaruh luas penampang yang berbeda, pengaruh geometri, pengaruh permukaan kontak, pengaruh adanya insulasi ataupun pengaruh-pengaruh lainnya. Konduktansi kontak termal adalah studi konduksi panas antara tubuh padat dalam kontak. Sebuah penurunan suhu sering diamati pada antarmuka antara dua permukaan dalam kontak. Tahan panas antarmuka adalah ukuran resistensi antarmuka yang mengalir termal. Konveksi panas terjadi karena partikel zat yang bertemperatur lebih tinggi berpindah tempat secara mengalir sehingga dengan sendirinya terjadi perindahan panas melalui perpindahan massa. Oleh sebab itu penyelidikan tentang konveksi panas perlu didahului oleh dan berhubungan sangat erat dengan arus zat atau arus fluida.1.2. TujuanAdapun tujuan dari percobaan ini adalah:1) Mengetahui penerapan hukum Fourier untuk kondisi linier sepanjang logam.2) Mengetahui mekanisme terjadinya panas konduksi.3) Mengetahui cara dan prinsip kerja alat heat conduction.4) Menghitung nilai konduktivitas termal logam.1.3. PermasalahanMasalah dari percobaan ini adalah:1) Bagaimanakah pengaruh perubahan area terhadap variabel temperatur? 2) Bagaimana terjadinya panas konduksi pada alat heat conduction?1.4. Hipotesa1) Hukum Fourier berlaku untuk perpindahan panas sistem konduksi pada zat padat, zat cair dan gas.2) Zat yang memiliki daya hantar panas atau thermal conductivity tinggi akan mempunyai heat transfer rate yang tinggi pula.3) Panas yang didapat dari perhitungan tidak akan berbeda jauh dengan panas yang disupply dari sumber arus.1.5. ManfaatMelalui percobaan ini diharapkan agar dapat mengetahui dan membuktikan aplikasi dari hukum Fourier serta memahami mekanisme dan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya panas konduksi.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1. Jenis-Jenis Konduksi2.1.1. Transient KonduksiSecara umum, selama periode dimana suhu yang berubah dalam waktu di setiap tempat dalam suatu objek, modus aliran energi termal disebut konduksi transien. Istilah lain adalah non-steady state konduksi, mengacu pada waktu-ketergantungan bidang temperatur dalam suatu objek. Non-steady state situasi muncul setelah perubahan suhu yang ditetapkan pada batas suatu objek. Mereka juga mungkin terjadi dengan perubahan suhu di dalam objek, sebagai hasil dari sumber baru atau sink panas tiba-tiba diperkenalkan dalam sebuah objek, menyebabkan suhu mendekati sumber atau tenggelam untuk berubah dalam waktu.Ketika gangguan baru temperatur jenis ini terjadi, suhu di dalam sistem akan berubah dalam waktu menuju keseimbangan baru dengan kondisi baru, asalkan ini tidak berubah. Setelah kesetimbangan, aliran panas ke dalam sistem akan sekali lagi sama dengan aliran panas keluar, dan suhu pada setiap titik dalam sistem tidak ada perubahan lagi. Setelah ini terjadi, konduksi transien berakhir, meskipun kondisi mapan konduksi dapat terus jika ada terus menjadi aliran panas.Jika perubahan suhu eksternal atau perubahan panas internal generasi terlalu cepat untuk keseimbangan suhu dalam ruang untuk mengambil tempat, maka sistem tidak pernah mencapai keadaan distribusi suhu tidak berubah, dan sistem tetap dalam keadaan transien.2.1.2. Konduksi RelativistikTeori konduksi panas relativistik adalah model yang kompatibel dengan teori relativitas khusus. Untuk sebagian besar dari abad terakhir, bahwa persamaan Fourier bertentangan dengan teori relativitas karena mengakui kecepatan tak terbatas propagasi sinyal panas. Sebagai contoh, menurut persamaan Fourier, kecepatan propagasi informasi lebih cepat daripada kecepatan cahaya dalam ruang hampa, yang secara fisik tidak dapat diterima dalam kerangka relativitas. Perubahan pada model Fourier disediakan untuk model relativistik dari konduksi panas, menghindari masalah ini.2.1.3. Konduksi Quantum Teori lain adalah fenomena kuantum mekanik di mana perpindahan panas terjadi oleh gelombang-seperti gerak, bukan oleh mekanisme yang lebih biasa difusi. Panas mengambil tempat tekanan dalam gelombang suara normal. Ini mengarah ke konduktivitas termal yang sangat tinggi. Hal ini dikenal sebagai suara kedua karena gerakan gelombang panas mirip dengan penyebaran suara di udara.2.2. Sifat-sifat Perpindahan Kalor KonduksiBila dua buah benda yang suhunya berbeda berada dalam kontak termal, maka kalor akan mengalir dari benda yang suhunya tinggi ke benda yang suhunya lebih rendah. Aliran netto selalu berlangsung menurut arah penurunan suhu. Dalam konduksi, panas dapat dikonduksi melalui solids, liquids, dan gases. Panas dikonduksi oleh perpindahan energi gerak molekul-molekul yang berdekatan. Dalam gas hotter molecules, yang mana memiliki energi kinetik yang lebih besar memberi energinya ke molekul terdekat yang berada pada level terendah. Perpindahan jenis ini hadir dalam beberapa tingkat pada semua solids, gases, atau liquids yang mana berada pada temperatur gradient tertentu. Dalam konduksi, energi juga dapat dipindahkan oleh elektron bebas, yang mana juga cukup penting pada metallic solids. Contoh dari perpindahan panas secara konduksi yaitu perpindahan panas melalui dinding heat exchangers atau sebuah refrigerator, perlakuan panas pada steel forgings, pendinginan tanah sepanjang musim dingin dan lain-lain. Pada solid, mekanisme yang utama adalah vibrasi molekular.Perpindahan panas secara konduksi dapat terjadi dalam dua proses berikut, yaitu :1) Melalui pemanasan salah satu ujung zatIni menyebabkan partikel-pertikel pada ujung itu bergetar lebih cepat dan suhunya naik atau energi kinetiknya bertambah. Partikel-partikel yang memiliki energi kinetik lebih besar ini akan memberikan sebagian energinya kepada partikel-partikel tetangganya melalui tumbukan sehingga partikel tetangga tersebut memiliki energi kinetik yang lebih besar. Selanjutnya, partikel-partikel ini akan memberikan sebagian energi kinetiknya ke partikel-partikel tetangga berikutnya. Demikian seterusnya sampai kalor mencapai ujung dingin (bagian yang tidak dipanasi). Perpindahan panas dengan cara ini berlangsung lambat karena diperlukan beda suhu yang tinggi diantara kedua ujung untuk memindahkan lebih banyak kalor.2)Melalui elektron-elektron bebasDalam logam kalor dipindahkan melalui elektron-elektron bebas yang terdapat dalam struktur atom logam. Elektron bebas ini mudah berpindah sehinggapertambahan energi dapat dengan cepat diberikan ke elektron-elektron lain yang letaknya berjauhan melalui peristiwa tumbukan. Dengan cara ini kalor dapat berpindah dengan lebih cepat.2.3.Heat ExchangerAda tiga tipe penukar panas yang sering digunakan, yakni plate and frame/ gaskette plate (umumnya disebut plate exchanger), spiral plate, dan lamella. Kesamaan dari ketiga konfigurasi ini adalah permukaan pemindahan panas sama-sama terdiri dari paralel lempeng logam yang dipisahkan permukaan kontak dan panas yang diterima mengubah aliran fluida pada saluran tipis. Penukar panas jenis plate adalah penukar panas yang dapat memindahkan panas lebih baik dari 2 konfigurasi lainnya. Kelebihan lain penukar panas jenis plate ini adalah:1) Fleksibel dalam penyusunan arah alir fluida.2) Memiliki laju perpindahan panas yang tinggi.3) Mudah dalam pengecekan/ inspeksi dan perawatan.Proses pertukaran panas di industri digunakan untuk pemenuhan kebutuhan unit proses dan untuk konservasi energi. Untuk itu penukar panas yang baik yang memiliki laju perpindahan panas seoptimal mungkin. Ketidakoptimalan laju perpindahan panas ditentukan nilai koefisien perpindahan panas keseluruhan. Hasil-hasil penelitian yang telah dipublikasikan menunjukkan bahwa perubahan fluks massa udara dapat meningkatkan nilai U untuk setiap laju alir massa flue gas konstan pada alat penukar panas jenis plat. Marriot (1971) membatasi rentang bilangan Reynolds yang efektif untuk fluida operasi gas-gas adalah 10-400. Pada bilangan Reynolds yang terlalu tinggi, laju alir fluida juga akan tinggi, yang akan menyebabkan perpindahan panas tidak efektif. Penukar panas (Heat Exchanger) adalah alat yang digunakan untuk mempertukarkan panas secara kontinu dari suatu medium ke medium lainnya dengan membawa energi panas. Secara umum ada 2 tipe penukar panas, yaitu:1) Direct heat exchangerKedua medium penukar panas saling kontak satu sama lain. Yang tergolong Direct heat exchanger adalah cooling tower dimana operasi perpindahan panasnya terjadi akibat adanaya pengontakan langsung antara air dan udara.2) Indirect heat exchangerDimana kedua media penukar panas dipisahkan oleh sekat/dinding dan panas yang berpindah juga melewatinya.Menurut Bell (1959) ada beberapa tipe aliran fluida dalam pelat heat exchanger, yaitu :1) SeriPola ini digunakan untuk fluida yang laju alirnya rendah dan beda temperaturnya tinggi.2) ParalelPola ini digunakan untuk fluida yang laju alirnya lebih besar dan beda temperaturnya rendah.3) Seri parallelPola ini digunakan untuk fluida yang laju alir dan beda temperaurnya tidak terlalu tinggi (menengah).Penukar panas jenis pelat terdiri atas pelat-pelat tegak lurus yang dipisahkan sekat-sekat berukuran antara 2 sampai 5 mm. Pelat-pelat ini berbentuk empat persegi panjang dengan tiap sudutnya terdapat lubang. Melalui dua di antara lubang-lubang ini fluida yang satu dialirkan masuk dan keluar pada satu sisi, sedangkan fluida yang lain karena adanya sekat mengalir melalui ruang antara di sebelahnya. Struktur umum penukar panas jenis pelat yang dipublikasikan Marriot, 1971 dapat dilihat pada gambar 1 berikut:

Gambar 2.1. Penukar panas jenis pelat (Marriot, 1971)Banyak pelat bergelombang, sehingga aliran turbulen sudah tercapai pada bilangan Reynolds antara 10-400. Pelat yang lebih tipis akan memberikan perpindahan panas yang lebih efisien, uniform, dan proses kontrol yang lebih baik. Berdasarkan konstruksinya, penukar panas pelat dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu :1)Gasketted Plate Heat Exchanger Gasketted plate heat exchanger mudah dimodifikasi karena desainnya fleksibel. Fungsi utama gasket adalah menjaga tekanan fluida, menjaga laju alir fluida dan mencegah pencampuran fluida. Selain iu, gasket juga mudah dibuka untuk kontrol dan pembersihan. 2)Brazed Plate Heat Exchanger Brazed plate heat exchanger adalah pengembangan jenis gasket. Kelebihannya adalah lebih kompak, dan digunakan untuk tekanan dan temperatur tinggi.2.3.1. Jenis-Jenis Plate Heat ExchangerPenukar panas jenis pelat didasarkan pada ragam aliran fluida operasi. Berdasarkan hal ini penukar panas jenis pelat dapat dibedakan menjadi:1) Penukar panas pelat beraliran jamak (multipass plate heat exchanger)2) Penukar panas pelat berlawanan arah (countercurrent plate heat exchanger)3) Penukar panas pelat bersilangan arah (crosscurrent plate heat exchanger)Penukar panas pelat secara skematik dapat dilihat pada Gambar 2.2 Proses pertukaran panas pada penukar panas jenis ini secara sederhana mirip dengan proses pertukaran panas pada penukar panas pipa ganda (double pipe heat exchanger). Perbedaannya terletak pada bentuk alur laluan fluida. Pada pipa ganda alur laluan fluida pendinginnya sejajar dengan alur laluan fluida panasnya. Baik fluida dingin maupun panas memiliki alur aliran yang lurus (smooth). Sedangkan pada penukar panas pelat beraliran jamak alur laluan fluida dingin membentuk huruf U dan sejajar dengan alur laluan fluida panas.

Gambar 2.2. Penukar panas jenis pelat berlairan jamak (multi-pass)Pada alat penukar panas berlawanan arah, kedua fluida, flue gas, dan udara pendingin mengalir masuk ke penukar panas dalam arah yang berlawanan dan keluar sistem dalam arah yang berlawanan juga. Gambar 2.3 menunjukkan skema arah aliran pada penukar pelat berlawanan arah.

Gambar 2.3. Penukar panas pelat berlawanan arah (counter current)Pada penukar panas pelat bersilangan arah, udara bergerak menyilang melalui matriks perpindahan panas yang dilalui oleh flue gas. Arah matriks perpindahan panas pada penukar panas jenis ini dapat dilihat pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4. Penukar panas bersilangan arah (cross-current)1) Alat Penukar Panas Saluran JamakAlat penukar panas saluran jamak memiliki spesifikasi aliran berupa saluran jamak banyak laluan (multipass) untuk aliran udara pendingin dan saluran tunggal untuk aliran flue gas. Dengan adanya saluran jamak ini, perpindahan panas berlangsung secara bertahap sehingga laju penurunan temperatur flue gas lebih teratur. Fluida panas (flue gas) yang digunakan dalam penelitian ini adalah udara yang berasal dari kerangan (valve) yang dipanaskan oleh alat pemanas udara (heater) dan udara ambient sebagai fluida dingin. Rancangan alat penukar panas saluran jamak ditampilkan pada gambar 2.5 dan gambar 2.6 berikut:

Gambar 2.5. Alat penukar panas jenis pelat saluran jamak untuk sisi udara

Gambar 2.6. Alat penukar panas jenis pelat saluran jamak untuk sisi flue gas2) Alat Penukar Panas Berlawanan Arah (Counter Current Plate Heat Exchanger)Pada alat penukar panas berlawanan arah, kedua fluida, flue gas dan udara pendingin mengalir masuk ke penukar panas dalam arah berlawanan dan keluar sistem dalam arah yang berlawanan juga. Hal ini dapat dilihat pada gambar 2.7 dan gambar 2.8. pada gambar skema alat dapat dilihat udara pendingin yang mengalir masuk ke penukar panas secara counter current dengan udara panas yang keluar dari arah berlawanan pada alat penukar panas. Catatan bahwa, perpindahan udara atau fluida panas dan dingin berada didalam alat. Dengan skema peralatan tersebut diharapkan hasil yang diperoleh dapat memenuhi rentang bilangan Reynolds antara 10-400 seperti yang ditekankan Marriot (1971).

Gambar 2.7. Alat penukar panas jenis pelat berlawanan arah untuk sisi udara

Gambar 2.8. Alat penukar panas pelat berlawanan arahuntuk sisi flue gas3) Alat Penukar Panas Bersilangan Arah (Cross Current Plate Heat Exchanger)Bila kedua fluida mengalir sepanjang permukaan perpindahan panas dalam gerakan yang tegak lurus satu dengan lainnya, maka penukar panasnya dikatakan berjenis aliran silang (cross flow). Pada sistem ini, udara bergerak menyilang melalui matriks perpindahan panas yang dilalui flue gas. Aliran fluida panas dan dingin pada penukar panas pelat beraliran silang yang akan digunakan pada percobaan ini tidak saling bercampur (unmixed). Hal ini disebabkan oleh adanya sekat yang memisahkan aliran kedua fluida tersebut. Skema peralatan penukar panas pelat beraliran silang ini ditampilkan pada gambar 9.

Gambar 2.9. Alat penukar panas jenis pelat bersilangan arah2.4.Koefisien Perpindahan PanasPerpindahan panas antara dua fluida yang dipisahkan oleh pelat terjadi secara konduksi dan konveksi. Jika konduksi dan konveksi secara berurutan, maka tahanan panas yang terlibat (konduksi dan konveksi) dapat dijumlahkan untuk memperoleh koefisien perpindahan panas keseluruhan (U). Besaran 1/Uh dan 1/Uc disebut tahanan keseluruhan terhadap perpindahan panas dan merupakan jumlah seri dari tahanan di fasa fluida panas, pelat, dan fluida dingin.Secara matematis dapat dirumuskan:

= + +...... (2.1)

= + +...... (2.2)Dimana :

= tahanan panas keseluruhan atas dasar fluida panas

= tahanan panas keseluruhan atas dasar fluida dinginhh = koefisien perpindahan panas di fluida panashc = koefisien perpindahan panas di fluida dinginxw = tebal pelatk = konduktivitas pelatA= luas penampang pelat

Perpindahan panas menjadi:

= U ( Th Tc )... (2.3)

hh = ... (2.4)

hc = ... (2.5)Dimana :dQ/dA= fluks panas per unit perpindahan panas di mana perbedaan temperature (Th -Tc)U= koefisien perpindahan panas keseluruhanTw= temperatur dinding pelat.Bilangan Reynolds merupakan bilangan tak berdimensi yang didefinisikan sebagai perbandingan antara gaya inersia terhadap gaya viscous dalam system aliran fluida. Secara matematis dapat dirumuskan:

NRE = ...... (2.6)Dimana : = densitas fluida (kg/m3)v = laju alir fluida (m/s2) = viskositas fluida (ms2/kg)D = diameter (m)2.5.Neraca Massa dan Energi pada Sistem Alat Perpindahan PanasKarakteristik alat perpindahan panas ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain:1) Jenis fluida yang akan dipertukarkan panasnya.2) Laju alir fluida.3) Tipe aliran yang dipakai (co-current atau counter-current).4) Letak fluida panas dan dingin, di dalam atau di luar alat penukar panas tersebut.Dalam neraca entalpi pendingin dan pemanas didasarkan pada asumsi bahwa dalam penukar kalor tidak terjadi kerja poros, sedang energi mekanik, energi potensial, dan nergi kinetik semuanya kecil dibandingkan dengan suku lain dalam persamaan neraca energi. Maka, untuk satu arus dalam penukar kalor:Q= m ( Hb - Ha )...... (2.7)Dimana,m = laju aliran massa dalam arus tersebut

q = = laju perpindahan kalor ke dalam arusHa & Hb = entalpi per satuan massa arus pada waktu masuk dan pada waktu keluar.Perpindahan kalor dari atau ke udara sekitar dibuat sekecil mungkin dengan isolasi yang baik sehingga kehilangan kalor tersebut diabaikan terhadap perpindahan kalor yang melalui dinding tabung yang memisahkan udara panas dan udara dingin.2.6.Hukum FourierHubungan dasar yang mengenai aliran kalor melalui konduksi ialah berupa kesebandingan yang ada antara laju aliran kalor melintas permukaan isotermal dan gradien suhu yang terdapat pada permukaan itu. Hubungan umum ini disebut hukum fourier. Hukum Fourier menyatakan bahwa k tak bergantung pada gradient suhu tetapi tidak selalu demikian halnya dengan suhu itu sendiri. Termal konduktivitas adalah proses untuk memindahkan energi dari bagian yang panas kebagian yang dingin dari substansi oleh interaksi molekuler. Konduktivitas termal k ialah suatu konstanta (tetapan) yang ditentukan dari eksperimen dengan medium itu. Satuan k adalah Btu/hr ft oF atau W/m K. Hukum Fourier dapat dituliskan sebagai :

= -k...... (2.8)Dimana :A = luas permukaan isotermaln= jarak, diukur normal (tegak lurus) terhadap permukaan ituq = laju aliran kalor melintas permukaan pada arah normal terhadapnyaT= suhuK= konstanta proporsionalitas (tetapan kesebandinganBAB IIIMETODOLOGI

3.1.Alat dan Bahan3.1.1. Alat1) Power Supply2) Stavolt3) Heat conduction apparatus4) Linier module dan radial module5) Pompa6) Ember3.1.2. Bahan1) Air pendingin2) Material sample [Kuningan besar (A), kuningan kecil (B) dan stainless stell (C)]3.2.Prosedur Percobaan1) Rangkailah alat.2) Hidupkan power supply.3) Atur watt meter sesuai yang dikehendaki (untuk sistem linier dan radial).4) Catat temperatur masuk air pendingin seketika setelah power supply dihidupkan.5) Catatlah harga-harga temperatur yang terbaca untuk T1, T2, sampai dengan T9 untuk sistem linier dan T1, T2, T3, T7, T8 dan T9 untuk sistem radial, apabila harga watt meter stabil seperti yang dikehendaki.Catatan : Pembacaan temperatut T1 samapi T9 dilakukan dengan memutar temperatur selector switch. Lakukan langkah 1 sampai 5 terhadap masing-masing jenis logam A, B dan C untuk setiap variasi sistem.