of 115 /115

KURIKULUM 2013kurikulum.kemdikbud.go.id/kurikulum/data/data/6...kurikulum. Salah satu dokumen kurikulum yang disediakan oleh Pemerintah adalah dokumen kurikulum setiap mata pelajaran

  • Author
    others

  • View
    23

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of KURIKULUM 2013kurikulum.kemdikbud.go.id/kurikulum/data/data/6...kurikulum. Salah satu dokumen...

KURIKULUM 2013
Madrasah Tsanawiyah (MTs)
PUSAT KURIKULUM DAN PERBUKUAN 2014
ii Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014
TIM PENGEMBANG PEDOMAN
Koordinator: Dra. Mariati Purba, M.Pd
Pengembang Mata Pelajaran: 1. Neneng Kadariyah, S.S 2. Drs. Ariantoni 3. Dr. Endah Tri 4. Dr. Titi 5. Dra. Dumaria, M.Pd 6. Drs. Sri Satata
iiiBuku Pedoman Guru Kurikulum 2014
KATA PENGANTAR
Sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dokumen kurikulum merupakan perangkat operasional untuk memfasilitasi pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian kurikulum. Salah satu dokumen kurikulum yang disediakan oleh Pemerintah adalah dokumen kurikulum setiap mata pelajaran. Dokumen tersebut dikemas dalam sebuah dokumen yang dinamakan pedoman mata pelajaran. Disamping Pedoman mata pelajaran untuk setiap mata pelajaran, Pemerintah juga menyediakan pedoman pembelajaran tematik terpadu.
Pedoman mata pelajaran yaitu dokumen yang berisikan antara lain karakteristik mata pelajaran, kompetensi inti dan kompetensi dasar, silabus, desain pembelajaran, model pembelajaran, penilaian, media dan sumber belajar, serta guru sebagai pengembang budaya sekolah. Sedangkan pedoman pembelajaran tematik terpadu antara lain berisikan konsep pembelajaran tematik, desain pembelajaran tematik terpadu, dan guru sebagai pengembang budaya sekolah.
Kami menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada para pakar yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi, guru-guru mata pelajaran dan tematik, dan staf teknis Pusat Kurikulum dan Perbukuan yang telah bekerjasama dengan baik sehingga pedoman mata pelajaran dan pedoman pembelajaran tematik terpadu ini dapat diselesaikan.
Jakarta, Juni 2014
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014iv
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................. ii
DAFTAR ISI ......................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................... 1 A. Latar Belakang .............................................................. 1 B. Tujuan .......................................................................... 4 C. Ruang Lingkup ............................................................. 5 D. Sasaran .......................................................................... 5
BAB II KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA ...................................................... 7 A. Rasional ......................................................................... 7 B. Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia SMPdan MTs .. 7 C. Ruang Lingkup ............................................................. 8 D. Hakikat Mata Pelajaran Bahasa Indonesia .................. 8
BAB III KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR SERTA ALUR PENGEMBANGANNYA .......................... 13 A. Kompetensi Inti Mata pelajaran Bahasa Indonesia ....... 13 B. Ruang Lingkup ............................................................ 13 C. Kompetensi Dasar Mata pelajaran Bahasa Indonesia ... 16 D. Kompetensi Dasar Domain Sikap Ketuhanan .............. 16 E. Kompetensi Dasar Domain Sikap Aspek Sosial ........... 17 F. Kompetensi Dasar Domain Pengetahuan ..................... 18 G. Kompetensi Dasar Domain Keterampilan .................. 18
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 v
BAB IV DESAIN DASAR PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA .................................................... 21 A. Kerangka Pembelajaran .............................................. 21 B. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi ..... 22 C. Rancangan Pembelajaran Bahasa Indonesia ............... 23 D. Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia ......................................................... 25 E. Aplikasi Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia .................................. 27
BAB V MODEL-MODEL PEMBELAJARAN ............................. 51 A. Pengertian .................................................................... 51 B. Model-Model Pembelajaran Bahasa Indonesia ........... 53 C. Model Pembelajaran Berbasis Teks ............................. 54
BAB VI PENILAIAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMP DAN MTs ...................... 59 A. Pengantar ...................................................................... 59 B. Hubungan Pembelajaran dan Penilaian Otentik dalam Kurikulum 2013 ................................................. 60 C. Bentuk Penilaian dan PEDOMAN Pengembangan Bentuk Penilaian ........................................................... 62 D. Strategi Penilaian ......................................................... 73 E. Pelaporan ...................................................................... 75
BAB VII MEDIA DAN SUMBER BELAJAR DALAM MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA .................. 91 A. Media ........................................................................ 91
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014vi
BAB VIII GURU SEBAGAI PENGEMBANG KULTUR SEKOLAH ......................................................................... 103 A. Kultur Sekolah ............................................................. 103 B. Faktor Pembentuk Kultur Sekolah ............................... 103 C. Peran Guru ................................................................... 104
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pemerintah merumuskan kembali rencana pembangunan nasionalnya, terutama yang berkaitan dengan pembangunan nonfisik. Perumusan kembali itu tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005–2025, yang menetapkan prioritas pembangunan nasional dalam kurun waktu dua puluh tahun. Prioritas yang ditentukan adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. Tujuan pembangunan nasional dalam jangka panjang tersebut menjadi pedoman seluruh kementerian dalam merancang program kerja masing- masing, termasuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Untuk mencapai tujuan itu, Kemendikbud antara lainmerancang dan menetapkan kurikulum 2013. Dengan melihat berbagai bidang keilmuan secara holistik, kurikulum 2013 mengintegrasikan kemampuan peserta didik pada aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap spiritual maupun sikap sosial. Peran mata pelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 sangat strategis sebagai penghela ilmu pengetahuan. Hal ini karena mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagai media peneria dan penyampai ilmu pengetahuan yang lain. Bahasa Indonesia memainkan peran sangat strategis terutama sejak bahasa Indonesia (waktu itu disebut bahasa Melayu) memiliki sistem ejaan (C. Van Ophuijsen 1901). Bahasa Indonesia mampu menjadi bahasa penerbitan berbagai bacaan rakyat (sastra, surat kabar, majalah), bahasa radio,
Buku Pedoman Guru Kurikulum 20142
dan bahasa perhubungan antarsuku bangsa di Indonesia. Tidak sebatas itu, bahasa Indonesia telah digunakan dalam menjalankan organisasi perjuangan kemerdekaan, bahkan bahasa Indonesia mampu menyatukan beragam suku bangsa yang berbeda latar belakang sosial budaya dan bahasa ke dalam satu kesatuan bangsa Indonesia yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Sumpah pemuda adalah pengakuan terhadap (1) satu kesatuan wilayah (satu tanah air, tanah Indonesia), (2) satu kesatuan bangsa (satu bangsa, bangsa Indonesia), dan (3) satu bahasa persatuan (menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia). Perluasan wilayah penggunaan bahasa Indonesia dalam berbagai keperluan tersebut, terutama untuk perjuangan kemerdekaan, telah melahirkan sikap kesetiakawanan, kebersamaan, keikhlasan, kejujuran, pengorbanan, dan kepahlawanan. Persebaran penggunaan bahasa Indonesia dalam berbagai ranah kehidupan juga memperkuat peran sosiologis bahasa Indonesia dalam kehidupan masyarakat bahkan menggerakan kaum cendekiawan untuk memikirkan masa depan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu. Ketika timbul polemik tentang kemampuan bahasa persatuan tersebut sebagai bahasa ilmu bagi masa depan anak bangsa, maka polemik itu dijawab dalam Kongres Bahasa Indonesia I pada tahun 1938 di Surakarta, yang merekomendasikan perlunya penciptaan istilah dalam bahasa Indonesia. Tantangan kemampuan bahasa Indonesia tersebut bertambah lagi ketika Jepang masuk ke Indonesia. Penguasa baru itu melarang penggunaan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar pendidikan, maka bahasa Indonesia mengambil alih peran bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar pendidikan pada masa penjajahan Jepang. Bahasa Indonesia juga digunakan sebagai wahana untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia (Teks Proklamasi ditulis dalam bahasa Indonesia) serta diakui oleh dunia internasional sebagai negara merdeka. Sehari setelah proklamasi kemerdekaan, bahasa perjuangan yang mampu menyatukan dan membangun keindonesiaan itu menyandang peran amat strategis dan mulia, yaitu menjadi bahasa negara (Pasal 36 Undang-Undang
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 3
Dasar 1945). Dengan demikian, kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan makin kokoh (memiliki landasan hukum) dan terus memainkan peran dalam pencerdasan kehidupan bangsa, sebagaimana amanat pembukaan Undang-Undang Dasar tersebut. Penempatan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan merupakan pemikiran strategis para pendiri republik ini karena bahasa perjuangan itu ditempatkan sebagai sarana penguasaan ilmu, teknologi, dan seni. Atas dasar pertimbangan historis tersebut, kebijakan pembelajaran bahasa Indonesia harus dilakukan secara bertahap, berjenjang, bersitem, terpadu, berkelanjutan, dan secara nasional. Selain itu, sifat bahasa yang hidup dan dinamis sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta kemajuan peradaban masyarakat penuturnya memungkinkan terjadinya pengaruh bahasa daerah. Di Indonesia, terdapat lebih dari 700 bahasa daerah yang masing-masing memiliki tradisi dan kebudayaan, maka kondisi multilingual dalam masyarakat multikultural itu akan menyebabkan perkembangan bahasa Indonesia beragam sesuai dengan lingkungan dan budaya masyarakat. Kondisi masyarakat semacam itu makin mengukuhkan kebijakan penguatan dan penataan ulang kurikulum bahwa mata pelajaran Bahasa Indonesia tidak dapat dilakukan secara lokal tetapi harus bersifat nasional. Pada Kurikulum 2013, pengembangan kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia menggunakan pendekatan pembelajaran bahasa berbasis teks. Pada pendekatan ini diharapkan siswa mampu memproduksi dan menggunakan teks sesuai dengan tujuan dan fungsi sosialnya, bahasa Indonesia diajarkan bukan sekadar sebagai pengetahuan bahasa, melainkan sebagai teks yang mengemban fungsi untuk menjadi sumber aktualisasi diri penggunanya pada konteks sosial-budaya akademis. Teks dimaknai sebagai satuan bahasa, baik verbal maupun nonverbal, yang mengungkapkan makna secara kontekstual. Buku PEDOMAN Guru mata pelajaran bahasa Indonesia ini perlu disusun sebagai rujukan para guru di sekolah. Buku PEDOMAN ini dilengkapi
Buku Pedoman Guru Kurikulum 20144
dengan desain pembelajaran, model pembelajaran, strategi yang bisa dipilih guru serta bentuk-bentuk penilaian otentiknya.Buku PEDOMAN guru mata pelajaran ini juga diharapkan bisa untuk meminimalisir berbagai perbedaan pemahaman antarguru terhadap kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD) serta bagaimana membelajarkan dan menilai ketercapaian KI dan KD tersebut. Hal itu terjadi antara lain karena keragaman: (a) latar belakang pendidikan guru, (b) minat dan perhatian guru dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, (c) pengalaman guru, dan (d) keterlibatan guru dalam berbagai pelatihan. Perbedaan pemahaman itu akan berdampak kurang baik terhadap proses dan hasil pembelajaran. Perbedaan pemahaman itu akan dapat dikurangi apabila disediakan panduaan metodologi pembelajaran dan penilaiannya.
B. Tujuan
PEDOMANMata Pelajaran Bahasa Indonesia SMP dan MTs ini disusun dengan tujuan agar para guru Bahasa Indonesia memahami (1) substansi dan karakteristik mata pelajaran bahasa Indonesia di SMPdan MTs, (2) kompetensi inti dan kompetensi dasar mata pelajaran bahasa Indonesia di SMPdan MTs, (3) desain pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia di SMPdan MTs, (4) model pembelajaran untuk mencapai tiap kompetensi dasar mata pelajaran bahasa Indonesia di SMPdan MTs, (5) metodologi pembelajaran bahasa Indonesia di SMPdan MTs, (3) jenis-jenis penilaian mata pelajaran bahasa Indonesia di SMPdan MTs, (4) strategi pembelajaran dan penilaian setiap kompetensi dasar, (5) penilaian otentik dalam pembelajaran bahasa Indonesia, (6) penggunaan sumber belajar dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, dan (7) guru sebagai pengembang kultur sekolah. Dengan pemahaman terhadap ketujuh komponen tersebut diharapkan para guru bahasa Indonesia mampu mengaktualisasikan
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 5
pemahaman mereka dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian, pemilihan media dan sumber belajar pembelajaran bahasa Indonesia, serta peran guru sebagai pengembang kultur sekolah.
C. Ruang Lingkup
PEDOMAN ini memuat (1) latar belakang, tujuan, ruang lingkup PEDOMAN,dan sasaran PEDOMAN(2) substansi dan karakteristik mata pelajaran bahasa Indonesia, (3) kompetensi inti dan kompetensi dasar mata pelajaran bahasa Indonesia, (4) desain pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia, (5) model pembelajaran untuk mencapai tiap kompetensi dasar mata pelajaran bahasa Indonesia, (6) penilaian otentik dalam pembelajaran bahasa Indonesia, (7) penggunaan sumber belajar dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, dan (8) peran guru sebagai pengembang kultur sekolah.
D. Sasaran
Buku PEDOMAN mata pelajaran bahasa Indonesia ini disusun agar bisa dijadikan rujukan oleh: (1) Dinas Pendidikan, (2) Pengawas, (3) Kepala Sekolah, (4) Guru, (5) Orang tua, dan (6) Stakeholder lainnya.
Buku Pedoman Guru Kurikulum 20146
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 7
BAB II KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA
A. Rasional
Pemerintah, melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, telah memberlakukan Kurikulum 2013, setelah melakukan kajian tahap demi tahap, yang diawali dengan mengevaluasi secara menyeluruh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sudah diberlakukan sejak tahun2006. Mata pelajaran Bahasa Indonesia memiliki peranan yang sangat strategis dalam Kurikulum 2013. Peran utama mata pelajaran bahasa Indonesia adalah sebagai penghela ilmu pengetahuan. Dengan mengembangkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif maka peran bahasa Indonesia sebagai penghela ilmu pengetahuan akan terus berkembang seiring dengan perkembangan bahasa Indonesia itu sendiri.
B. Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia SMPdan MTs
Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia diturunkan dari Permendikbud Nomor 54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Standar Kompetensi Lulusan kemudian diturunkan menjadi Kompetensi Inti (KI). Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMPdan MTs memiliki empat tujuan utama yang tertuang dalam kompetensi inti masing-masing jenjang pendidikan. Secara keseluruhan tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di SMP dan MTsadalah (1) memiliki sikap religius (2) memiliki sikap sosial, (3) memiliki pengetahuan yang memadai tentang berbagai genre teks bahasa Indonesia sesuai dengan jenjang pendidikan yang ditempuhnya, dan (4) memiliki keterampilan membuat berbagai genre teks bahasa Indonesia. Setiap pengetahuan tentang berbagai genre teks bahasa Indonesia harus
Buku Pedoman Guru Kurikulum 20148
diimplementasikan dalam produk berupa karya, artinya pengetahuan tersebut harus bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam membuat karya sesuai dengan genre teks yang ada. Selanjutnya pengetahuan- pengetahuan yang dipelajari siswa harus bisa mengubah perilaku siswa terutama yang berhubungan dengan sikap sosial dan religiusnya.
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia SMP dan MTs meliputi 15 jenis teks, yaitu: (1) teks anekdot, (2) teks eksposisi, (3) teks laporan hasil observasi, (4) teks prosedur komplek, (5) teks negosiasi, (6) teks cerita pendek, (7) teks pantun, (8) teks cerita ulang, (9) teks eksplanasi kompleks, (10) teks film/ drama, (11) Teks cerita sejarah, (12) teks berita, (13) teks iklan, (14) teks editorial/opini, dan (15) teks novel.
D. Hakikat Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
1. Sarana Berpikir Hakikat pembelajaran Bahasa Indonesia adalah proses belajar memahami dan memproduksi gagasan, perasaan, pesan, informasi, data, dan pengetahuan untuk berbagai keperluan komunikasi keilmuan, kesastraan, dunia pekerjaan, dan komunikasi sehari-hari baik secara tertulis maupun lisan. Dalam kaitannya dengan memahami dan memproduksi gagasan, perasaan, pesan, informasi, data, dan pengetahuan untuk berbagai keperluan tersebut, kegiatan berpikir mempunyai peranan sangat penting. Bahkan berpikir merupakan aktivitas sentral yang memungkinkan peserta didik dapat memahami dan memproduksi gagasan dan lain-lain dengan baik. Oleh karena itu, guru harus menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya proses berpikir secara optimal. Proses berpikir optimal yang seharusnya melekat dan terus-menerus
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 9
terjadi dalam pembelajaran bahasa Indonesia harus disadari pendidik dan peserta didik dalam setiap episode pembelajaran. Ketika pendidik menghadirkan sebuah teks, misalnya, isi teks itu akan dipahami dengan baik bila peserta didik mampu dan mau berpikir (logis, kritis, dan kreatif). Selanjutnya, peserta didik akan dapat memproduksi gagasan dan lain-lain yang baru berdasarkan gagasan-gagasan yang ditemukan dalam teks tersebut, bila peserta didik mampu dan mau berpikir dengan baik pula. Realisasi kegiatan berpikir itu misalnya menghubung-hubungkan gagasan, membandingkan gagasan, mempertentangkan gagasan, memilih-milah gagasan, menafsirkan data, menyimpulkan hasil analisis, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan-gagasan baru atau aspek- aspek baru yang akan dituangkan ke dalam tulisan atau paparan lisan dalam suatu peristiwa berbahasa tertentu. Dengan demikian, kegiatan berbahasa dan berpikir merupakan inti dalam pembelajaran berbahasa Indonesia.
2. Bahasa Indonesia sebagai Sarana Perekat Bangsa Bahasa Indonesia memiliki peran sentral untuk mempersatukan bangsa dan sarana pengembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik. Selain itu, penguasaan bahasa Indonesia oleh peserta didik juga akan menunjang keberhasilan mereka dalam mempelajari semua mata pelajaran. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diharapkan membantu peserta didik mengembangkan potensi pikir, rasa, dan karsa untuk mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, mengemukakan gagasan dan perasaan, menemukan serta menggunakan kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif, inventif, dan imaginatif yang ada dalam diri peserta didik. Ke arah masa depan, peserta didik memerlukan pengalaman belajar berbahasa Indonesia sebagai perekat bangsa. Proses penghayatan ini perlu diprogramkan secara terencana dan bersistem. Dengan cara ini – melalui pengalaman belajar berbahasa Indonesia sebagai perekat
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201410
bangsa – diharapkan akan terbangun jiwa dan semangat kebersamaan peserta didik. Dengan demikian kedudukan bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa makin diperkuat melalui proses pendidikan di sekolah, sebagaimana tercerminkan dalam komunikasi sosial kultural yang harmonis di antara para penuturnya. Bahasa Indonesia juga berperan penting dalam kehidupan sehari-hari untuk berbagai keperluan, untuk berkomunikasi dengan seluruh warga bangsa dalam rangka membangun rasa dan ikatan kebersamaan secara nasional, membangun komunikasi efektif sehari-hari, membangun relasi sosial yang harmonis (komunikasi yang bermartabat), dan membangun kematangan emosional. Di sisi lain, sastra Indonesia berperan untuk penghalusan budi, peningkatan rasa kemanusiaan dan kepedulian sosial, penumbuhan apresiasi budaya, penyaluran gagasan, penumbuhan imajinasi, serta peningkatan ekspresi secara kreatif.
3. Penghela Ilmu Pengetahuan Kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, inovatif, dan bahkan inventif peserta didik perlu secara sengaja dibina dan dikembangkan. Untuk melakukan hal itu, mata pelajaran bahasa Indonesia menjadi wadah strategis. Melalui membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara peserta didik dapat mengembangkan kemampuan berpikir tersebut secara terus-menerus yang akan diteruKIan juga melalui mata pelajaran yang lain. Hal itu harus benar-benar disadari semua guru BI agar dalam menjalankan tugasnya dapat mewujudkan mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagai wadah pembinaan/ pengembangan kemampuan berpikir. Dengan mengembangkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif maka peran bahasa Indonesia sebagai penghela ilmu pengetahuan akan terus berkembang seiring dengan perkembangan bahasa Indonesia itu sendiri.
4. Penghalus Budi Pekerti Lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia mencakup kemampuan berbahasa dan bersastra. Melalui jenis teks sastra, bahasa Indonesia dapat
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 11
dijadikan sebagai sarana penghalus budi pekerti siswa. Sastra Indonesia sebagai media ekspresi sikap kritis dan kreatif terhadap berbagai fenomena kehidupan mampu menumbuhkan kehalusan budi, kesetiakawanan sosial, kepedulian terhadap lingkungan, dan mampu membangun kencerdasan kehidupan masyarakat. Pembelajaran sastra dapat membentuk sikap kritis dan kreatif serta kepekaan terhadap berbagai fenomena kehidupan di lingkungan sosial budaya ataupun di lingkungan alam sekitar. Bersastra dapat diwujudkan melalui kegiatan apresiasi dan produksi karya sastra (puisi, fiksi, dan drama). Kegiatan apresiasi karya sastra yang diawali dari membaca harus menjadi kegiatan penting dalam pembelajaran bersastra peserta didik. Melalui membaca puisi, fiksi, naKIah drama atau mendengarkan rekaman atau pembacaan puisi, cerpen, penggalan novel, dan/atau naKIah drama peserta didik terlibat dalam kegiatan reseptif. Pada kesempatan yang lain, peserta didik diajak untuk terlibat dalam kegiatan produktif untuk menulis atau menghasilkan puisi, cerpen, penggalan novel, dan/atau naKIah drama. Melalui kegiatan produktif lisan atau tulis peserta didik juga dapat mempresentasikan kinerja apresiatifnya. Dengan demikian, kegiatan reseptif dan produktif dalam bersastra akan menjadi kegiatan sambung-menyambung dalam iklim pembelajaran yang menyenangkan.
5. Pelestari Budaya Bangsa Bahasa Indonesia merupakan bagian dari budaya bangsa yang perlu terus dilestarikan eksistensinya. Sebagai bagian dari budaya bangsa yang dijunjung tinggi, eksistensi bahasa Indonesia akan terus bertahan dan bahkan menguat bila dilestarikan setiap penuturnya. Pemelajaran bahasa Indonesia dan komunitas sekolah pada umumnya, akan sangat kondusif untuk melestarikan eksistensi bahasa Indonesia mengingat peserta didik dan guru merupakan kelompok strategis di masyarakat untuk melestarikan eksistensi bahasa Indonesia sebagai bagian dari budaya bangsa.
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201412
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 13
BAB III KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR
SERTA ALUR PENGEMBANGANNYA
Kompetensi Inti merupakan terjemahan atau operasionalisasi SKL dalam bentuk kualitas yang harus dimiliki mereka yang telah menyelesaikan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu atau jenjang pendidikan tertentu, gambaran mengenai kompetensi utama yang dikelompokkan ke dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran. Kompetensi Inti harus menggambarkan kualitas yang seimbang antara pencapaian hard skills dan soft skIills. Kompetensi Inti berfungsi sebagai unsur pengorganisasi (organising element) kompetensi dasar. Sebagai unsur pengorganisasi, Kompetensi Inti merupakan pengikat untuk organisasi vertikal dan organisasi horizontal Kompetensi Dasar. Organisasi vertikal Kompetensi Dasar adalah keterkaitan antara konten Kompetensi Dasar satu kelas atau jenjang pendidikan ke kelas/jenjang di atasnya sehingga memenuhi prinsip belajar yaitu terjadi suatu akumulasi yang berkesinambungan antara konten yang dipelajari peserta didik. Organisasi horizontal adalah keterkaitan antara konten Kompetensi Dasar satu mata pelajaran dengan konten Kompetensi Dasar dari mata pelajaran yang berbeda dalam satu pertemuan mingguan dan kelas yang sama sehingga terjadi proses saling memperkuat.
B. Ruang Lingkup
Kompetensi Inti dirancang dalam empat kelompok yang saling terkait, yaitu berkenaan dengan sikap keagamaan (kompetensi inti 1), sikap
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201414
sosial (kompetensi inti2), pengetahuan (kompetensi inti 3), dan penerapan pengetahuan (kompetensi inti 4). Keempat kelompok itu menjadi acuan dari Kompetensi Dasar dan harus dikembangkan dalam setiap peristiwa pembelajaran secara integratif. Kompetensi yang berkenaan dengan sikap keagamaan dan sosial dikembangkan secara tidak langsung (indirect teaching), yaitu pada waktu peserta didik belajar tentang pengetahuan (kompetensi kelompok 3) dan penerapan pengetahuan (kompetensi Inti kelompok 4). Kompetensi Inti SMP dan MTs
Kompetensi Inti Kelas VII
Kompetensi Inti Kelas VIII
Kompetensi Inti Kelas IX
2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya
2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya
2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 15
Kompetensi Inti Kelas VII
Kompetensi Inti Kelas VIII
Kompetensi Inti Kelas IX
3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata
3. Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata
3. Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata
4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai
4. Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai
4. Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201416
C. Kompetensi Dasar Mata pelajaran Bahasa Indonesia
Kompetensi Dasar merupakan kompetensi setiap mata pelajaran untuk setiap kelas yang diturunkan dari Kompetensi Inti. Kompetensi dasar adalah kompetensi yang harus dikuasai peserta didik dalam suatu mata pelajaran di kelas tertentu. Kompetensi dasar setiap mata pelajaran di kelas tertentu ini merupakan jabaran lebih lanjut dari kompetensi inti, yang memuat tiga ranah, yaitu afektif, kognitif, dan psikomotor. Acuan yang digunakan untuk mengembangkan kompetensi dasar setiap mata pelajaran pada setiap kelas adalah kompetensi inti.
D. Kompetensi Dasar Domain Sikap Ketuhanan
Kompetensi dasar (KD) domain sikap dipilah menjadi dua aspek, yaitu aspek ketuhanan dan aspek sosial. KD domain sikap aspek ketuhanan untuk mata pelajaranBahasa Indonesia jenjang SMPdan MTs difokuskan pada perwujudan rasa syukur terhadap keberadaan bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia di tengah beragaman bahasa dan budaya, rasa syukur karena bahasa Indonesia berfungsi sebagai sarana untuk memahami dan sekaligus menyajikan informasi secara lisan dan tulis. Wujud rasa syukur ini dalam praktik pembelajaran di kelas ditandai dengan penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar dalam memahami, menelaah, menilai, dan menyajikan informasi baik secara lisan maupun tulis. Oleh karena itu, KD domain sikap aspek ketuhanan ini tidak diajarkan tetapi diintegrasikan dalam KD domain kognitif dan psikomotor. Selanjutnya rumusan KD domain sikap aspek ketuhanan untuk mata pelajaran bahasa Indonesia kelas VII SMP adalah sebagai berikut: (1) Menghargai dan mensyukuri keberadaan bahasa Indonesia sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa untuk mempersatukan bangsa Indonesia ditengah keberagaman bahasa dan budaya, (2) Menghargai dan mensyukuri
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 17
keberadaan bahasa Indonesia sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa sebagai sarana memahami informasi lisan dan tulis (3) Menghargai dan mensyukuri keberadaan bahasa Indonesia sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa sebagai sarana menyajikan informasi lisan dan tulis.
E. Kompetensi Dasar Domain Sikap Aspek Sosial
KD domain sikapaspek sosial mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk tiap kelas memiliki rumusan berbeda. KD ini difokuskan pada pemilikan karakter jujur, peduli, cinta tanah air, semangat kebangsaan, demokratis, kreatif, santun, percaya diri ketika mengungkapkan aktivitas berbahasa baik secara lisan maupun tulis. Rumusan KD domain sikap aspek sosial ini dipilah sesuai dengan jenis teks yang hendak dikompetenkan kepada peserta didik. Selanjutnya untuk kelas VII SMP ada 5 KD domain sikap yang diselaraskan dengan 5 jenis teks yang dituntut untuk dikuasai oleh peserta didik, yaitu teks laporan hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerpen. Sikap jujur, tanggung jawab, santun, dan lain-lain menjadi acuan ketika melaksanakan aktivitas berbahasa sesuai dengan jenis teks. Contoh rumusan KD kelas VII SMP mapel bahasa Indonesia untuk domain sikap aspek sosial dipaparkan berikut: (1), Memiliki perilaku jujur, tanggung jawab, dan santun dalam menanggapi secara pribadi hal-hal atau kejadian berdasarkan hasil observasi, (2) Memiliki perilaku percaya diri dan tanggung jawab dalam membuat tanggapan pribadi atas karya budaya masyarakat Indonesia yang penuh makna, (3) Memiliki perlaku kreatif, tanggung jawab,dan santun dalam mendebatkan sudut pandang tertentu tentang suatu masalah yang terjadi pada masyarakat, (4) Memiliki perilaku jujur dan kreatif dalam memaparkan langkah-langkah suatu proses berbentuk linear), dan (5) Memiliki perilaku percaya diri, peduli, dan santun dalam merespon secara pribadi peristiwa jangka pendek. Rumusan KD domain sikap aspek sosial tersebut memuat dua komponen penting
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201418
yaitu aspek sikap/perilaku (jujur, tanggung jawab, santun, dll.) dipadu dengan aktivitas berbahasa dalam jenis teks tertentu (menanggapi hal-hal atau kejadian berdasarkan hasil observasi, dll.). Dari rumusan tersebut tampak jelas bahwa KD domain sikap aspek sosial ini tidak diajarkan dalam materi tersendiri tetapi diintegrasikan dalam pembelajaran pada domain pengetahuan dan keterampilan.
F. Kompetensi Dasar Domain Pengetahuan
Pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia di SMPdan MTs selalu diawali dengan teori pengetahuan. Selanjutnya pengetahuan-pengetahuan itu harus bermakna dalam bentuk produk/ keterampilan. Dan terakhir dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki diharapkan bisa mengubah sikap para peserta didik. Berikut adalah contoh rumusan KD kelasVII SMPdan MTs mapel Bahasa Indonesia untuk domain pengetahuan: (1) Memahami teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita pendek baik melalui lisan maupun tulisan, (2) Membedakan teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita pendek baik melalui lisan maupun tulisan, (3) Mengklasifikasi teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita pendek baik melalui lisan maupun tulisan, dan (4) Mengidentifikasi kekurangan teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita pendek berdasarkan kaidah-kaidah teks baik melalui lisan maupun tulisan.
G. Kompetensi Dasar Domain Keterampilan
Berikut contoh rumusan KD kelas VII SMP dan MTsmata pelajaran Bahasa Indonesia untuk domain keterampilan: (1) Menangkap makna teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita pendek baik secara lisan maupun tulisan, (2) Menyusun teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita pendek sesuai dengan
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 19
karakteristik teks yang akan dibuat baik secara lisan maupun tulisan, (3) Menelaah dan merevisi teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita pendek sesuai dengan struktur dan kaidah teks baik secara lisan maupun tulisan, dan (4) Meringkas teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita pendek baik secara lisan maupun tulisan
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201420
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 21
BAB IV DESAIN DASAR PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
A. Kerangka Pembelajaran
Siswa adalah peserta yang aktif. Titik tolak pemikiran bahwa siswa diajar dan guru mengajar beralih ke pandangan bahwa siswa belajar, mempelajari hal terus-menerus dalam perjalanan hidupnya. Sekolah merupakan tempat dan kesempatan untuk belajar. Kegiatan belajar adalah kegiatan sepanjang hayat, yang tidak berhenti pada saat siswa tamat sekolah. Oleh karena itu, kegiatan di sekolah harus memiliki fungsi lebih daripada sekadar pengajaran. Kegiatan di sekolah adalah kegiatan pembelajaran. Siswa saling belajar, bukan hanya dari guru melainkan dari teman sekelas, sesekolah, dan dari sumber belajar yang lain (lingkungan). Siswa juga mempelajari bahasa sebagai alat komunikasi, lebih daripada sekadar pengetahuan tentang bahasa. Pembelajaran bahasa, selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar serta kemampuan memperluas wawasan. Selain itu, juga diarahkan untuk mempertajam perasaan siswa. Siswa tidak hanya diharapkan mampu memahami informasi yang disampaikan secara lugas atau langsung, melainkan juga yang disampaikan secara terselubung atau secara tidak langsung. Siswa tidak hanya pandai dalam bernalar, tetapi juga memiliki kepekaan dalam interaksi sosial dan dapat menghargai perbedaan baik di dalam hubungan antarindividu maupun di dalam kehidupan bermasyarakat, yang berlatar budaya dan agama. Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Kurikulum 2013 Pembelajaran bahasa Indonesia pada kurikulum 2013 bermuara pada pengembangan kompetensi dalam ranah sikap (KI-1 dan KI-2), pengetahuan (KI-3), dan (KI-4) keterampilan. Pendekatan berbasis teks
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201422
yang dikembangkan pada kurikulum ini diaplikasikan melalui KBM yang mendorong peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan (KI-3) dan keterampilan (KI-4) mereka dalam memahami dan menyusun berbagai jenis teks sesuai dengan jenjang. Adapun pengembangan sikap (KI-1 dan KI-2) tidak menjadi bagian tersendiri sebagai sesuatu yang diajarkan dalam proses pembelajaran. Kompetensi dasar yang terdapat pada KI-1 dan KI-2 dikembangkan melalui integrasi dalam pengembangan kompetensi pengetahuan dan keterampilan. Sebagai contoh, ketika peserta didik mempelajari struktur teks laporan observasi dan mengaplikasikan konsep tersebut melalui penyusunan teks, sikap-sikap yang diinginkan pada KD di KI-2, yaitu disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras. Guru harus selalu terus menerus mengembangkan sikap-sikap ini di dalam KBM.
B. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dapat dimanfaatkan untuk mempelajari Bahasa Indonesia. Teknologi komunikasi berupa media cetak dan elektronik. Media cetak meliputi surat kabar, majalah, buku, brosur, radio, internet, VCD, CD, dan lain-lain. Melalui internet dapat diperoleh berbagai informasi dalam berbagai bahasa sehingga dapat meningkatkan kemampuan membaca. Melalui televisi dan radio siswa dapat meningkatkan kemampuan mendengarkan dan melalui media komputer siswa dapat mengembangkan kemampuan membaca dan menulis. Pendekatan Berbasis Teks Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia menggunakan pendekatan berbasis teks. Pendekatan ini bertujuan agar siswa mampu memproduksi dan menggunakan teks sesuai dengan tujuan dan fungsi sosialnya. Dalam pembelajaran bahasa yang berbasiskan teks, Bahasa Indonesia diajarkan bukan sekadar sebagai pengetahuan bahasa, melainkan sebagai teks yang
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 23
berfungsi untuk menjadi aktualisasi diri penggunanya pada konteks sosial dan akademis. Teks harus dipandang sebagai satuan bahasa yang bermakna secara kontekstual. Prinsip pembelajaran bahasa berbasis teks: (1) bahasa dipandang sebagai teks, bukan semata-mata kumpulan kata-kata atau kaidah-kaidah kebahasaan, (2) penggunaan bahasa merupakan proses pemilihan bentuk-bentuk kebahasaan untuk mengungkapkan makna, (3) bahasa bersifat fungsional, yaitu penggunaan bahasa yang yang tidak pernah dapat dilepaskan dari konteks karena dalam bentuk bahasa yang digunakan itu tercermin ide, sikap, nilai, dan ideologi penggunanya, dan (4) bahasa merupakan sarana pembentukan kemampuan berpikir manusia. Setiap teks memiliki struktur tersendiri yang berbeda dengan teks lainnya. Dalam setiap setiap teks tersebut terdapat struktur berpikir yang harus dipahami agar fungsi sosial masing-masing teks tersebut dapat tercapai.
C. Rancangan Pembelajaran Bahasa Indonesia
Siklus Pembelajaran Berbasis teks: 1. Membangun Konteks
Tahapan pertama dalam pembelajaran berbasis teks dimulai dari memperkenalkan konteks sosial dari teks yang dipelajari. Kemudian mengeksplorasi ciri-ciri dari konteks budaya umum dari teks yang dipelajari serta mempelajari tujuan dari teks tersebut. Selanjutnya adalah dengan mengamati konteks dan situasi yang digunakan. Misalnya dalam teks eksposisi, siswa harus bisa memahami peran dan hubungan antara orang-orang yang berdialog apakah antar teman, editor dengan pembaca, guru dengan siswa, dan sebagainya. Siswa juga harus memahami media yang digunakan apakah percakapan tatap muka langsung atau percakapan melalui telepon. Kegiatan yang dapat dilakukan di dalam kelas adalah:(a) mempresentasikan
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201424
konteks. Untuk menyajikan suatu konteks, bisa menggunakan berbagai media antara lain melalui gambar, benda nyata, field-trip, kunjungan, wawancara kepada narasumber dan sebagainya, (b) membangun tujuan sosial. Untuk mengetahui tujuan sosial bisa melalui diskusi, survey, dan yang lainnya, (c) membandingkan dua kebudayaan. Membandingkan penggunaan teks antara dua kebudayaan berbeda, yaitu kebudayaan kita dengan kebudayaan penutur asli, (d) Membandingkan model teks dengan teks yang lainnya. Contohnya membandingkan percakapan antara teman dekat, teman kerja, atau orang asing.
6. Pemodelan Pada tahap ini, siswa mengamati pola dan ciri-ciri dari teks yang diajarkan. Siswa dilatih untuk memahami struktur dan ciri-ciri kebahasaan teks
7. Menyusun Teks Secara Bersama Dalam tahapan ini, siswa mulai memahami keseluruhan teks. Guru secara perlahan mulai mengarahkan siswa agar mandiri sehingga siswa menguasai model teks yang diajarkan.Kegiatan yang dapat dilakukan di dalam kelas antara lain mendiskusikan jenis teks, melengkapi teks rumpang, membuat kerangka teks, melakukan penilaian sendiri atau penilaian antar teman sebaya, dan bermain teka-teki.
8. Menyusun Teks Secara Mandiri Setelah melalui tahapan kesatu sampai tahapan ketiga, siswa telah memiliki pengetahuan mengenai model teks yang diajarkan. Siswa mulai memiliki kemampuan yang cukup untuk membuat teks yang mirip dengan model teks yang diajarkan. Dalam tahapan ini, siswa mulai mandiri dalam mengerjakan teks dan peran guru hanya mengamati siswa untuk penilaian.Kegiatan yang dapat dilakukan dalam tahapan ini antara lain (a) Untuk meningkatkan kemampuan mendengarkan, siswa merespon teks lisan, menggaris bawahi teks, menjawab pertanyaan, dan lain-lain, (b) Untuk meningkatkan kemampuan mendengarkan dan berbicara, siswa bermain peran, melakukan dialog berpasangan atau berkelompok, (c) Untuk meningkatkan kemampuan berbicara, siswa melakukan presentasi
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 25
di depan kelas, (d) Untuk meningkatkan kemampuan membaca, siswa merespon teks tertulis, menggaris bawahi teks, menjawab pertanyaan, dan lain-lain, (e) Untuk meningkatkan kemampuan menulis, siswa membuat draft dan menulis teks secara keseluruhan
D. Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Permendikbud No.65 Tahun 2013 tentang Standar Proses mengamanatkan penggunaan pendekatan saintifik dengan menggali informasi melalui mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/melakukan eksperimen, menalar/mengasosiasi dan mengomunikasikan.
1. Mengamati Tahap mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan media objek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik, sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara objek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru. Pendekatan saintifik seperti telah dikemukan di atas juga diterapkan di dalam kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia. Melalui penguasaan berbagai jenis teks seperti yang terdapat di dalam kurikulum 2013 , keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca, menulis) akan memperkuat pencapaian kompetensi peserta didik. Pada tahap mengamati, kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan mengamati teks yang dimodelkan, mengamati tayangan TV/rekaman video, mengamati gambar atau mengamati lingkungan sekitar.
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201426
9. Menanya Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermuladari ‘bertanya’. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis Contextual Teaching and Learning(CTL). Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam pelaksanaaan pembelajaran. Siswa dalam mengajukan pertanyaan didorong rasa ingin tahu. Setiap pertanyaan merupakan saat yang berguna, karena saat ini akan memusatkan seluruh perhatian untuk memahami sesuatuyang baru. Setiap pertanyaan yang diutarakan menunjukan bahwa siswa menyadari adanya suatu masalah. Siswa merasa kekurangan pengetahuan seputar materi yang diajarkan oleh guru. Guru harus mampu merangsang minat siswa bertanya serta mampu merespon setiap pertanyaan dengan baik.Adapun keterampilan bertanya yang harus dimiliki siswa ketika bertanya yaitu frekuensi pertanyaan selama proses pembelajaran, substansi pertanyaan, bahasa, suara, dan kesopanan. Seorang siswa yang dibiasakan untuk bertanya maka siswa tersebut akan.
10. Mengumpulkan informasi/melakukan eksperimen Kegiatan mengumpulkan informasi/melakukan eksperimen adalah kegiatan pembelajaran yang didesain agar tecipta suasana kondusif yang memungkinkan siswa dapat melakukan aktivitas fisik yang memaksimalkan pengunaan panca indera dengan berbagai cara, media, dan pengalaman yang bermakna dalam menemukan ide, gagasan, konsep, dan/atau prinsip sesuai dengan kompetensi mata pelajaran. Dalam kegiatan ini, guru: (1) melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip belajar dari aneka sumber; (2) menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain; (3) memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 27
lainnya; (4) melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan (5) memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
11. Menalar/mengasosiasi Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta- kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating; bukan merupakan terjemanan dari reasonsing, meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. Karena itu, istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemampuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori.
12. Mengomunikasi Pada tahap ini peserta didik memaparkan hasil pemahamannya terhadap suatu konsep/bahasan secara lisan atau tertulis. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah melakukan presentasi laporan hasil percobaan, mempresentasikan peta konsep, dan lain-lain.
E. Aplikasi Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pendekatan saintifik seperti telah dikemukan di atas juga diterapkan di dalam kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia. Melalui penguasaan berbagai jenis teks seperti yang terdapat di dalam kurikulum 2013 , keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca, menulis) akan memperkuat pencapaian kompetensi peserta didik. Aplikasi diwujudkan melalui contoh RPP berikut:
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201428
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan Pendidikan : SMP Mata Pelajaran : Bahasa Indoesia Kelas/semester : VII/Semester dua Materi Pokok : Teks Cerita Pendek Alokasi Waktu : 2pertemuan (6 X40 menit)
A. Kompetensi Inti 1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya. 2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab,
peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya
3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata.
4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 29
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
No Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi
1 1.2 Menghargai dan mensyukuri keberadaan bahasa Indonesia sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa sebagai sarana memahami informasi lisan dan tulis.
1.2.1 Terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai implementasi rasa syukur kepada Tuhan atas keberadaan bahasa Indonesia di antaranya dalam menjelaskan struktur dan ciri bahasa teks cerpen
1.2.2 Terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai implementasi rasa syukur kepada Tuhan atas keberadaan bahasa Indonesia di antaranya dalam menjelaskan makna kata, kalimat, dan ungkapan dalam teks cerpen.
2 2.1 Memiliki perilaku percaya diri, peduli, dan santun dalam merespon secara pribadi peristiwa jangka pendek.
2.1.1 Banyak berinisiatif dan memberi pendapat dalam berdiskusi tentang struktur teks, ciri bahasa, dan isi teks cerpen.
2.1.2 Menunjukkan sikap toleran dan banyak membantu sejawat dalam berdiskusi tentang struktur teks, ciri bahasa, dan isi teks cerpen.
2.1.3 Menggunakan pilihan kata, ekspresi, dan gestur yang menunjukkan sikap santun berdiskusi tentang pemahaman struktur teks, ciri bahasa, dan isi teks cerpen.
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201430
No Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi
3 3.1 Memahami teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita pendek baik melalui lisan maupun tulisan
3.1.1 Mengidentifikasi struktur teks cerpen 3.1.2 Mengidentifikasi ciri bahasa cerpen.
4 4.1 Menangkap makna teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita pendek baik secara lisan maupun tulisan
4.1.1 Mejelaskan makna kata, kalimat, dan ungkapan yang terdapat dalam teks cerpen.
4.1.2 Menjawab pertanyaan literal, inferensial, inegratif, dan kritis yang terkait dengan isi teks cerpen.
4.1.3 Menemukan keterkaitan isi teks cerpen dengan kehidupan sehari- hari.
C. Tujuan Pembelajaran
1. Setelah membaca sebuah cerpen, peserta didik mampu mengidentifikasi struktur teks cerpen dengan baik.
2. Setelah membaca sebuah cerpen, peserta didik mampu mengidentifikasi ciri bahasa teks cerpen dengan baik.
3. Selama proses pembelajaran tentang struktur dan ciri bahasa teks, peserta didik terbiasa berinisiatif dan memberi pendapat dengan baik.
4. Selama proses pembelajaran, peserta didik terbisas bersikap toleran dan
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 31
banyak membantu sejawat dengan baik. 5. Selama proses pembelajaran, peserta didik terbiasa menggunakan pilihan
kata, ekspresi, dan gestur yang menunjukkan sikap santun dengan baik.
Pertemuan ke-2
6. Setelah membaca cerpen, siswa mampu menjelaskan makna kata, kalimat, dan ungkapan yang terdapat dalam teks cerpen dengan baik.
7. Setelah membaca teks cerpen, siswa mampu menjawab pertanyaan literal, inferensial, integratif, dan kritis yang terkait dengan isi teks cerpen dengan baik.
8. Setelah membaca teks cerpen, peserta didik mampu menemukan keterkaitan isi teks cerpen dengan kehidupan sehari-hari.
9. Selama proses pembelajaran tentang makna kata, kalimat, ungkapan, menjawab pertanyaan literal, inferensial, integratif, dan kritis, peserta didik terbiasa berinisiatif dan memberi pendapat dengan baik.
10. Selama proses pembelajaran tentang makna kata, kalimat, ungkapan, menjawab pertanyaan literal, inferensial, integratif, dan kritis, peserta didik terbiasa menunjukkan sikap toleran dan terbiasa membantu sejawat dengan baik.
11. Selama proses pembelajaran tentang makna kata, kalimat, ungkapan, menjawab pertanyaan literasi, inferensial, integrative, dan kritis, peserta didik terbiasa menggunakan pilihan kata, ekspresi, dan gestur yang menunjukkan sikap santun dengan baik.
D. Materi Pembelajaran
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201432
b. Ciri bahasa cerpen c. Kebiasaan bersikap percaya diri dengan berinisiatif dan banyak berpendapat
saat berdiskusi d. Kebiasaan bersikap peduli dengan menunjukkan sikap toleran dan banyak
membantu sejawat. e. Kebiasaan bersikap santun dengan pilihan kata, ekspresi, dan gestur dalam
berdiskusi.
Pertemuan ke-2 a. Isi teks cerpen b. Keterkaitan isi teks cerpen dengan kehidupan nyata sehari-hari siswa c. Kebiasaan bersikap percaya diri dengan berinisiatif dan banyak berpendapat
saat berdiskusi d. Kebiasaan bersikap peduli dengan menunjukkan sikap toleran dan banyak
membantu sejawat. e. Kebiasaan bersikap santun dengan pilihan kata, ekspresi, dan gestur dalam
berdiskusi
E. Metode Pembelajaran • Pendekatan Komunikatif (Communicative Approach) • Model Pembelajaran Berbasis Teks (Genre-based Aproach) • Sintak:
1) Membangun konteks 2) Pemodelan teks 3) Pemecahan masalah secara bersama 4) Pemecahan masalah secara individual
F.
G. Sumber Belajar
Alwi, Hasan. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Balai Bahasa. hlm. …
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013a. Bahasa Indonesia: Wahana Pengetahuan. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 143—186.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013b. Bahasa Indonesia Wahana Pengetahuan: Buku Guru. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 55—59.
Penulis. Tahun. Pelajaran Mengarang. Jakarta: Kompas-Gramedia. (Kumpulan Cerpen)
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2010. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
H. Media Pembelajaran 1. Media
CD Interaktif pembelajaran cerpen
2. Alat dan bahan Teks Cerpen pemenang lomba tahun 2010, 2011, 2012
I. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201434
a. Pendahuluan 1) Guru mengajak peserta didik mengingat suasana komunikasi di
keluarga: ayah, ibu, kakak, dan adik untuk membangun hubungan antara guru dan peserta dirik.
2) Guru mengarahkan peserta didik untuk membentuk kelompok dengan anggota 4—6 orang. Guru menarik perhatian peserta didik dengan menggunakan guntingan judul dan bagian tengah cerpen “Kupu-kupu Ibu” kepada peserta didik dan peserta diminta menebak isi informasinya.
3) Guru mengarahkan perhatian peserta didik dengan meminta wakil kelompok memberikan pendapatnya secara bersungguh-sungguh berdasar pengetahuan awalnya.
4) Guru membangkitkan motivasi siswa dengan menyatakan bahwa setiap jawaban siswa pada dasarnya benar. Setiap jawaban yang kurang sempurna terhadap tebakan isi cerpen disempurnakan oleh guru.
5) Guru menjelaskan manfaat belajar pokok bahasan cerita pendek.
a. Kegiatan inti 1) Mengamati :
• Siswa menjawab enam pertanyaan yang ada pada buku siswa hlm. 143—144 untuk membangun pemahaman tentang teks cerpen Indonesia.
• Setelah menjawab pertanyaan, siswa menyimak guru membacakan cerita pendek berjudul “Kupu-kupu Ibu”. Sambil mendengarkan hal-hal pembacaan oleh guru, siswa mencermati hal-hal yang menarik dan nyaman dinikmati dari cerpen tersebut.
1) Menanya • Siswa mempertanyakan tentang hal-hal (positif, negatif, menonjol,
baru, sering muncul, dll) yang terdapat pada cerpen “Kupu-kupu
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 35
Ibu”. • Dengan teknik catat bersusun, siswa melengkapi tabel untuk
mendalami pemahaman pada isi cerpen. Siswa melengkapi tabel yang bersisi enam penggalan kalimat yang ditandai dengan bintang tiga (***).
• Siswa menjawab/mengajukan pertanyaan tentang isi teks cerpen dalam diskusi kelompok kecil.
3) Mengumpulkan data
• Dengan dipandu oleh guru, siswa mengenali struktur teks cerita pendek: orientasi, komplikasi, dan resolusi.
• “Kupu-kupu Ibu”, khususnya judul.
• Dengan dipandu oleh guru, siswa mengenali struktur teks cerita pendek “Kupu-kupu Ibu”, khususnya tokoh dan penokohan.
• Dengan dipandu oleh guru, siswa mengenali struktur teks cerita pendek “Kupu-kupu Ibu”, khususnya latar.
• Dengan dipandu oleh guru, siswa mengenali struktur teks cerita pendek “Kupu-kupu Ibu”, khususnya konflik.
• Dengan dipandu oleh guru, siswa mengenali struktur teks cerita pendek “Kupu-kupu Ibu”, khususnya klimaks.
• Dengan dipandu oleh guru, siswa mengenali struktur teks cerita pendek “Kupu-kupu Ibu”, khususnya leraian dan amanat.
• Siswa mengenali struktur cerita pendek “Kupu-kupu Ibu”: Siswa mengenali tokoh-tokoh cerita pendek “Kupu-kupu Ibu”.
• Siswa mengenali tempat cerita berlangsung pada cerita pendek “Kupu-kupu Ibu”.
• Siswa mengenali ide pokok cerita yang diyakini dijadikan sumber cerita pada cerita pendek “Kupu-kupu Ibu”.
• Siswa mengenali tokoh-tokoh cerita pendek “Kupu-kupu Ibu”.
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201436
• Siswa mengidentifikasi bagian awal ceita yang berup lukisan, waktu, tempat, atau kejadian pada cerita pendek “Kupu-kupu Ibu”.
• Siswa menandai masalah yang dihadapi pelaku cerita pada cerita pendek “Kupu-kupu Ibu”.
• Siswa mengidentifikasi puncak ketegangan pada cerita pendek “Kupu-kupu Ibu”.
4)...Menalar • Siswa mengaitkan isi cerpen dengan kehidupan nyata • Siswa mengomunikasikan hal-hal menarik dan dapat dinikmati dari
cerpen yang baru didengarkan. • Siswa menuliskan pesan/nasihat dari cerita pendek “Kupu-kupu Ibu”. • Siswa mendiskusikan tentang riwayat penulis cerita pendek “Kupu-
kupu Ibu”. • Siswa melengkapi bagian yang rumpang pada buku siswa hlm. 151
dengan konjungsi yang sesuai. • Siswa menemukan makna kata sulit dalam cerita pendek “Kupu-kupu
Ibu” dengan menggunakan kamus yang baik. • Siswa menyusun kalimat dengan menggunakan kata-kata yang baru
saja ditemukan dari kamus.
5) Mengomunikasikan • Siswa menjelaskan struktur teks cerpen “Kupu-kupu Ibu”. • Siswa menjelaskan (1) kata-kata sifat untuk mendeskripsikan pelaku,
penampilan fisik, atau kepribadiannya; dan (2) kata-kata keterangan untuk menggambarkan latar (latar waktu, tempat, dan suasana).
b. Penutup • Guru dan siswa melalukan refleksi terkait dengan pembelajaran yang
baru berlangsung.
• Guru memberikan kuis sederhana untuk mengukur ketercapaian pembelajaran hari ini.
• Guru memberikan tugas untuk pengayaan atau remidi kepada siswa.
Pertemuan Kedua a. Pendahuluan (10 menit )
• Siswa berdoa bersama. • Siswa bersama guru mengatur tempat duduk sebelum pembelajaran. • Guru menjelaskan manfaat belajar pokok bahasan Cerita Pendek
Indonesia.
• Siswa membaca cerita pendek berjudul “Kupu-kupu Ibu”, menikmati kekhasan imajinasinya, dan menangkap maknanya.
2) Menanya • Siswa menjawab/mengajukan pertanyaan dengan mengacu pada
sebelas butir pertanyaan pada buku siswa (hlm. 150) sebagai pemandu pemahaman isi cerpen.
• Siswa mencatat informasi yang didapat dari pembacaan cerita pendek sebagai isi cerita pendek.
3) Mengumpulkan data • Dengan dipandu oleh guru, siswa memberikan omentar terhadap
berbagai isi informasi yang didapat dari pembacaan cerpen “Kupu- kupu Ibu”. Komentar ditekankan pada keaslian pendapat siswa.
• Dalam diskusi kelompok, siswa membahas komentar masing- masing dengan sesame siswa.
• Dengan dipandu oleh guru, siswa memperkaya informasi tentang budaya, nilai, kebiasaan, sikap seseorang dari buku-buku referensi.
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201438
4) Menalar • Dengan dipandu oleh guru, siswa mengaitkan isi cerita pendek
yang dibaca siswa dengan kehidupan nyata siswa. • Siswa menemukan makna kata sulit dalam cerita pendek “Kupu-
kupu Ibu” dengan menggunakan kamus yang baik. • Siswa menyusun kalimat dengan menggunakan kata-kata yang
baru saja ditemukan dari kamus.
5) Mengomunikasikan • Siswa menjelaskan isi teks cerpen “Kupu-kupu Ibu”. • Dalam diskusi kelompom/kelas, siswa menjelaskan keterkaitan isi
cerita pendek dengan kehidupan sehari-hari. a. Penutup
• Guru dan siswa melalukan refleksi terkait dengan pembelajaran yang baru berlangsung.
• Guru memberikan kuis sederhana untuk mengukur ketercapaian pembelajaran hari ini.
• Guru memberikan tugas untuk pengayaan atau remidi kepada siswa.
I. Penilaian
1. Sikap spiritual dan sosial
a. Teknik Penilaian : Observasi b. Bentuk Instrumen : Lembar observasi c. Kisi-kisi:
LEMBAR OBSERVASI
No. Sikap/Nilai Indikator Butir Pertanyaan
1 Menghargai dan bersyukur kepada Tuhan YME atas keberadaan bahasa Indonesia
Terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
A1
A2
A3
A4
A5
4 Santun Terbiasa menggunakan pilihan kata, ekspresi, dan gesture santun.
A6
Instrumen: lihat Lampiran 01
2. Pengetahuan a. Teknik Penilaian : Tes Tulis b. Bentuk Instrumen : Uraian non Objektif (UNO) c. Kisi-kisi:
No Indikator Butir Instrumen 1 Mengenal struktur teks cerpen B1 2 Mengenal struktur bahasa cerpen B2 3 Memahami isi teks cerpen. B3
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201440
Instrumen: lihat Lampiran 02.
3. Keterampilan
a. Teknik Penilaian : Tes Tuls b. Bentuk Instrumen : Pilihan Ganda c. Kisi-kisi:
Keterampilan Butir Instrumen 1.1.1 Mengidentifikasi kata, kalimat, dan
ungkapan yang terdapat dalam teks cerpen.
C1, C2, C3
C4, C,5, C6,C7
C8, C9, C10
Instrumen: lihat Lampiran 03.
Jakarta, 17 Juli 2013 Mengetahui Kepala SMP Bangun Negeri, Guru Mata Pelajaran,
________________________ _________________________ NIP. ... NIP. ... Lampiran 01
No. Sikap/nilai SB B C K
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 41
1 Terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
2 Terbiasa berinisiatif dalam bahasan memecahkan masalah.
3 Terbiasa memberi pendapat dalam bahasan pemecahan masalah.
4 Terbiasa toleran dalam memecahkan masalah.
5 Terbiasa membantu sejawat dalam memecahkan masalah.
6 Terbiasa menggunakan pilihan kata, ekspresi, dan gesture santun.
Keterangan: SB = sangat baik B = baik C = cukup K = kurang
Lampiran 02
TES URAIAN NONOBJEKTIF (UNO) PENGETAHUAN STRUKTUR CERPEN DAN CIRI BAHASA CERPEN
Petunjuk 1. Baca cerita pendek berjudul “Kartu Pos dari Surga” berikut! 2. Kemudian, jawablah beberapa pertanyaan yang menyertainya.
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201442
Kartu Pos dari Surga Agus Noor
Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti, Beningnya langsung meloncat menghambur. “Hati-hati!” teriak sopir. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Seperti capung ia melintas di halaman. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Pasti kartu pos dari Mama telah tiba. Di kelas, tadi, ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun.
Beningnya tertegun, mendapati kotak itu kosong. Ia melongok, barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. Tapi memang tak ada. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak, “Biiikkk…Bibiiikkk…” Ia nyaris terpeleset dan menabrak pintu. Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu.
“Ada apa, Non?” “Kartu posnya udah diambil Bibik, ya?” Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas, dan Bik Sari merasa
mulutnya langsung kaku. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup, seakan sudah menebak, karena ia terus diam saja. Sungguh, ia selalu tak tahan melihat mata yang kecewa itu. ***
MARWAN hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi. “Sekarang, setiap pulang, Beningnya selalu nanya kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah. “Saya ndak tahu mesti jawab apa…” Memang, tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu. Ia masih belum genap 6 tahun. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya, “Kok kartu pos Mama belum datang ya, Pa?”
“Mungkin Pak Posnya lagi sakit. Jadi belum sempet nganter ke mari…” Lalu ia mengelus lembut anaknya. Ia tak menyangka, betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban.
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 43
Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. Kadang bisa sebulan tak pulang. Dari kota-kota yang disinggahi, ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya. Marwan, kadang meledek istrinya, “Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau kirim SMS. Meski baru playgroup, Beningnya sudah pegang hape. Sekolahnya memang mengharuskan setiap murid punya handphone, agar bisa dicek sewaktu-waktu, terutama saat bubaran sekolah, untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan.
“Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…”
Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu. Sepanjang hidupnya, Marwan tak pernah menerima kartu pos. Bahkan, rasanya, ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. Saat SMP, banyak temannya yang punya sahabat pena, yang dikenal lewat rubrik majalah. Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan atau kartu pos, dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. Karena iri, Marwan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri, lantas mengeposkannya. Ia pun berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima.
Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut. “Setiap kali menerima kartu pos darinya, aku selalu merasa ayahku muncul dari negeri-negeri yang jauh. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren. Marwan ingat, bagaimana semasa mereka pacaran, Ren bercerita dengan suara penuh kenangan, “Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu, setiap Ayah pulang.” Ren kecil duduk di pangkuan, sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi. “Itulah saat-saat menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut.” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. “Mungkin aku memang jadul. Aku hanya ingin Beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…”
Tak ingin berbantahan, Marwan diam. Meski tetap saja ia merasa aneh, dan yang lucu: pernah suatu kali Ren sudah pulang, tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang disinggahi baru sampai tiga hari kemudian! ***
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201444
Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit, dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. Itu kotak kayu pemberian Ren. Kotak kayu yang dulu juga dipakai Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. Marwan melirik jam dinding kamarnya. Pukul 11.20.
“Nggak bisa tidur, ya? Mo tidur di kamar Papa?” Marwan menggandeng anaknya masuk.
“Besok Papa bisa anter Beningnya nggak?” tiba-tiba anaknya bertanya. “Nganter ke mana? Pizza Hut?”
Beningnya menggeleng. “Ke mana?” “Ke rumah Pak Pos…”
Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya. “Kalu emang Pak Posnya sakit, biar besok Beningnya aja yang ke
rumahnya, ngambil kartu pos dari Mama.” Marwan hanya diam, bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan
setumpuk kartu pos dari kotak itu. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD Pokoyo, kartun kesukaannya. Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. Sudut kota tua. Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. Sepeda yang berjajar di tepian kanal. Pagoda kuning keemasan. Deretan kafe payung warna sepia. Dermaga dengan deretan yacht tertambat. Air mancur dan patung bocah bersayap. Gambar pada dinding gua. Bukit karang yang menjulang. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam kartu pos. Rasanya, ia kini mulai dapat memahami, kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya.
Andai ada Ren, pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya tertidur. Ah, bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu?
“Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita, teman sekantor, saat Marwan makan siang bersama. Marwan masih ngantuk, karena baru tidur menjelang jam lima pagi, setelah Beningnya pulas.
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 45
“Bagaimana kalau ia malah terus bertanya, kapan pulangnya?” “Ya sudah, kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya.” Itulah. Ia selalu merasa bingung, dari mana mesti memulainya? Marwan
menatap Ita, yang tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. Beberapa rekan sekantornya terlihat tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. Pasti mereka menduga ia dan Ita… “Atau kamu bisa saja tulis katu pos buat dia. Seolah-oleh itu dari Ren..” Marwan tersenyum. Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya. ***
MOBIL jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati, tetapi bocah itu telah melesat menuju kotak pos di pagar rumah. Marwan tersenyum. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu, seperti tercekat, kemudian berlarian tergesa masuk rumah.
Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu. “Wah, udah datang ya kartu posnya?” Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca.
“Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. “Ini bukan tulisan Mama…”
Marwan tak berani menatap mata anaknya, ketika Beningnya terisak, dan berlari ke kamarnya. Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barangkali memang harus berterus terang. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali. Membiarkannya ikut ke pemakaman. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan Beningnya dari tangisnya, ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut, dan mayatnya tak pernah ditemukan.
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201446
*** KETUKAN gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun.
Duabelas lewat, sekilas ia melihat jam kamarnya. “Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat. “Beningnya…” Terburu Marwan mengikuti Bik Sari. Dan ia tercekat di depan kamar
anaknya. Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu. Cahaya yang terang keperakan. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang, seperti tengah bercakap-cakap dengan seseorang. Hawa dingin bagai merembes dari dinding. Bau wangi yang ganjil mengambang. Dan cahaya itu makin menggenangi lantai. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar.
“Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu sulit ia buka. Ia melihat ada asap lembut, serupa kabut, keluar dari lubang kunci. Bau sangit membuatnya tersedak. Lebih keras dari bau amoniak. Ia menduga terjadi kebakaran, dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur.
“Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil. “Buka Beningnya! Cepat buka!” Entahlah berapa lama ia menggedor, ketika akhirnya cahaya keperakan
itu seketika lenyap, dan pintu terbuka. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. Segera Marwan menyambar mendekapnya. Ia melongok ke dalam kamar, tak ada api, semua rapi. Hanya kartu pos-kartu pos yang beserakan.
“Tadi Mama datang,” pelan Beningnya bicara. “Kata Mama tukang posnya emang sakit, jadi Mama mesti nganter kartu posnya sendiri…”
Beningnya mengulurkan tangan. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos dipegangi anaknya. Marwan menerima dan mengamati kain itu. Kain kafan yang tepiannya kecoklatan bagai bekas terbakar.
Singapura-Yogyakarta,
Pertanyaan:
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 47
1. Jelaskan garis besar cerita pendek tersebut! 2. Jelaskan struktur cerita pendek tersebut! 3. Jelaskan ciri bahasa yang khas yang kamu temukan pada cerpen tersebut.
Rambu Jawaban
1. Bening, anak usia 6 tahun adalah putra Marwan dan Ren. Kesibukannya bekerja di luar kota menjadikan Ren sering berkirim kartu pos kepada anaknya, Bening. Suatu saat, karena karena kecelakaan Ren meninggal di luar kota, jenazahnya tidak bisa dibawa pulang. Karena belum cukup umur, Bening belum diberi tahu kabar yang sesungguhnya tentang mamanya, Ren. Akhirnya, Bening pun selalu menunggu kartu pos dari mamanya.
2. Cerita pendek “Kartu Pos dari Surga” beralur mundur. Cerita diawali dari kondisi terakhir Bening yang amat merindukan kartu pos dari mamanya. Berikutnya diceritakan kondisi kehidupan Ren, Marwan, da Bening. Pada akhir cerita, setelah membaca bahasa yang tersirat, pembaca dapat menyimpulkan bahwa Ren telah meninggal di luar kota yang tidak memungkinkan jenazahnya dibawa pulang.
3. Sapaan pada anak yang amat disayang dengan menambahkan klitika “-nya”. Sapaan seperti ini merupakan terjemahan dari akhirn “-e” dalam bahasa Jawa. Sapaan anak tersayang dengan tambahan akhir “-e” dalam budaya Jawa ini diadopsi untuk sapaan sayang dalam bahasa Indonesia. Ini menunjukkan bahwa latar budaya cerita adalah budaya Jawa.
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201448
Lampiran 03
PENILAIAN TERTULIS KETERAMPILAN MENANGKAP MAKNA CERITA PENDEK
Petunjuk 1. Baca kembali cerpen berjudul “Kartu Pos dari Surga”. 2. Jawablah pertanyaan berikut dengan memilih satu alterative jawaban yang
paling benar.
Soal 1. Identifikasi 3 kata kunci yang terdapat pada cerita pendek tersebut!
Jawab: a. selalu melongok kotak pos b. kartu pos c. sepotong kain serupa kartu pos
2. Identifikasi 2 kalimat yang menurut Anda menarik yang terdapat pada cerita pendek tersebut! Jawab: a. “Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat
kartu pos.. b. “Tadi mama dating,” pelan Beingnya bicara, “kata mama tukang posnya
emang sakit, jadi mama mesti mengantar kartu posnya sendiri.”
3. Identifikasi ungkapan yang menurut Anda menarik yang terdapat pada cerita pendek tersebut! Jawab:
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 49
siluet menara dengan pagoda kuning keemasan a. …………… 4. Menjawab pertanyaan literal Siapakah yang bercerita pada bacaan di atas?
A. Salah satu tokoh, yaitu Marwan B. Salah satu tokoh, yaitu Bi Sari C. Pengamat pencerita D. Salah satu tokoh, yaitu Beningnya
Kunci: C 5. Menjawab pertanyaan inferensial
Berdasarkan informasi yang kalian temukan dari bacaan di atas dapat kalian simpulkan bahwa mama Bening adalah seorang .... A. pramugari B. pelaut C. diplomat D. pengusaha
Kunci: A
6. Menjawab pertanyaan integratif Berdasarkan informasi pada bacaan di atas, tulislah dua pelajaran penting yang dapat kalian petik dari bacaan di atas!
Jawab: 1) Mewujudkan perhatian/kepedualian kepada orang lain dapat dialkukan
dengan memberikan kepadanya benda yang murah tapi unik. 2) Untuk menjadi orang yang bertanggung jawab pada tugas tidak harus
memiliki jabatan tinggi. Bik Sari adalah orang yang bertanggung jawab pada tugasnya, meski hanya pembantu rumah tangga.
7. Menjawab oertanyaan evaluatif
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201450
Pertanyaan Evaluatif Judul tulisan di atas adalah Surat dari Surga. Menurut penilain kalian, apakah judul tersebut sesuai dengan isinya? Berikan alasan! Jawab Sesuai, karena pada cerita tersebut terdapat unsur misteri dan msiteri itu berkonotasi positif.
8. Menjelaskan keterkaitan isi cerpen yang positif dengan kehidupan sehari- hari. Jawab Ren adalah gambaran wanita karier yang sangat sibuk. Meski sibuk, ia masih bertanggung jawab pada keluarga dengan selalu membangun komunikasi dengan anaknya dengan cara yang menimbukan kesan baik, yaitu mengirim kartu pos di era serba digital.
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 51
BAB V MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
Dalam kaitannya dengan model pembelajaran bahasa Indonesia, ada beberapa istilah yang perlu diperjelas maknanya. Di antara sekian banyak istilah tersebut, enam istilah yang paling sering digunakan adalah: pendekatan, metode, teknik, strategi, prosedur, dan model. Anthony (1963) menyatakan bahwa pendekatan adalah seperangkat asumsi yang saling berkaitan terkait dengan hakikat bahasa, belajar bahasa, dan pengajaran bahasa. Pendekatan bersifat aksiomatis, artinya kebenarannya tidak perlu diperdebatkan lagi. Pendekatan menggambarkan hakikat suatu mata pelajaran yang diajarkan, menyatakan sudut pandang, filosofi, dan kebenaran yang tidak perlu dibuktikan. Sebagai contoh, kita mengenal pendekatan komunikatif. Pendekatan komunikatif memandang bahasa adalah alat komunikasi sehingga belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi, dan pembelajaran bahasa adalah suatu upaya yang dilakukan oleh pendidik agar pembelajar dapat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa secara baik dan benar. Pandangan ini bersifat fiosofis, aksiomatis, dan kebenarannya tidak perlu diperdebatkan. Karakteristik pembelajaran bahasa yang menerapkan pendekatan komunikatif adalah: (1) seluruh proses pembelajaran didesain untuk menciptakan situasi yang mendorong peserta didik mengembangkan kemampuan berkomunikasi, (2) belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar berkomunikasi, oleh karena itu unsur-unsur tatabahasa, kosakata, dan bunyi diarahkan untuk kepentingan pengembangan kemampuan berkomunikasi, (3) makna adalah hal yang utama, sedangkan struktur adalah pendukung makna, oleh karena itu pembelajaran tentang struktur diajarkan secara terpadu untuk mendukung pemahaman terhadap makna,
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201452
dan (4) pembelajar didorong untuk berani berkomunikasi dalam bahasa target secara efektif (Syafi’ie, 2011). Metode adalah perencanaan menyeluruh terkait dengan pemilihan, pengurutan, penyampaian materi pembelajaran, serta pemberian koreksi jika pembelajar melakukan kesalahan dalam pembelajaran,yang didasarkan pada pendekatan yang telah dipilih (Anthony, 1963). Metode merupakan penerapan dari pendekatan yang telah dipilih. Sebagai contoh, ketika kita memilih pendekatan komunikatif, maka materi bahasa yang kita pilih difokuskan pada penggunaan bahasa bukan pada kaidah-kaidah bahasa semata. Dalam penyajian materi, peserta didik diajak terlibat langsung dalam praktik penggunaan bahasa dalam konteks komunikasi nyata dan kaidah-kaidah bahasa diajarkan terpadu dengan penguasaan kemampuan menggunakan bahasa. Kekurangsempurnaan peserta didik dalam menggunakan tatabahasa, unsur-unsur bahasa, mengucapkan bunyi-bunyi bahasa ditoleransi selama maksud komunikasi masih dapat dipahami. Perbaikan terhadap berbagai kesalahan berbahasa dilaksanakan secara alamiah, terpadu dalam seluruh proses pembelajaran (Syafi’ie, 2011). Teknik adalah implementasi pembelajaran di kelas yang dirancang selaras dengan pendekatan dan metode yang dipilih (Anthony, 1963). Sebagai contoh, untuk membelajarkan peserta didik terampil menulis teks hasil observasi, pendidik dapat menggunakan beragam teknik, yaitu pemodelan, diskusi, dan praktik. Teknik pemodelan dilaksanakan dengan cara membaca beragam contoh teks hasil observasi. Dari pemodelan ini peserta didik dapat mengidentifikasi struktur isi dan ciri bahasa teks hasil observasi yang baik. Setelah itu, peserta didik melaksanakan diKIusi untuk menentukan objek yang hendak diamati/diobservasi, menentukan data-data yang diperlukan untuk menyusun teks hasil observasi dan mengembangkan garis besar isi teks hasil observasi sesuai dengan struktur isi dan ciri bahasa teks hasil observasi. Teknik-teknik tersebut dipilih selaras dengan pendekatan dan metode yang telah dipilih, yaitu pendekatan dan metode komunikatif . Dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), para guru
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 53
bahasa Indonesia sering menyamakan istilah metode dengan teknik, misalnya metode ceramah, metode diKIusi, dan metode tanya jawab. Ceramah, diskusi, dan tanya jawab adalah teknik bukan metode. Istilah strategi pada hakikatnya sama dengan metode. Hal ini karena strategi dan metode dilihat dari makna leksikalnya adalah suatu cara untuk melakukan sesuatu secara sistematis. Strategi dan metode terkait dengan pengelolaan pembelajaran secara menyeluruh, mulai dari pemilihan, pengurutan, penyajian materi, serta cara evaluasi. Istilah prosedur dilihat dari makna leksikalnya adalah suatu tahapan untuk melakukan sesuatu. Prosedur adalah perwujudan dari teknik yang kita pilih. Sebagai contoh, ketika kita memilih teknik pemodelan dalam membelajarkan keterampilan menulis teks hasil observasi maka prosedur yang dilakukan adalah membaca satu atau dua contoh teks hasil observasi, mengidentifikasi struktur isinya, kemudian mengidentifikasi ciri bahasa dari teks yang dibaca. Perwujudan dari pendekatan, metode/strategi, teknik, dan prosedur yang kita pilih itulah yang disebut dengan model. Sebuah model, misalnya model pembelajaran komunikatif dalam pembelajaran bahasa, berarti di dalamnya sudah memuat pandangan tentang hakikat bahasa, belajar bahasa, dan pembelajaran bahasa. Di samping itu juga sudah tergambar bagaimana prinsip dan tahapan pembelajaran itu dilaksanakan serta bagaimana membelajarkannya.
B. Model-Model Pembelajaran Bahasa Indonesia
Berdasarkan uraian tentang pengertian istilah di atas, berikut ini disajikan model-model pembelajaran bahasa Indonesia beserta pendekatan, metode/ strategi, teknik, dan prosedur yang selaras dengan model pembelajaran yang dipilih.
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201454
C. Model Pembelajaran Berbasis Teks
Pembelajaran berbasis teks dilandasi oleh asumsi bahwa bahasa adalah alat berkomunikasi dan berkomunikasi adalah kegiatan berwacana dan wacana direalisasikan dalam teks. Dengan asumsi tersebut, maka tugas pembelajaran bahasa adalah mengembangkan kemampuan memahami dan menciptakan teks karena komunikasi terjadi dalam teks atau pada tataran teks. Asumsi inilah yang digunakan sebagai dasar pengembangan kompetensi dasar mata pelajaran bahasa Indonesia domain kognitif dan psikomotor dalam kurikulum 2013. Komunikasi terjadi dalam teks ini dilandasi fakta bahwa kita hidup di dunia kata-kata. Ketika kata-kata itu dirangkai menjadi satu kesatuan untuk mengomunikasikan makna tertentu, itu artinya kita telah menciptakan teks. Ketika kita berbicara atau menulis untuk mengomunikasikan pesan tertentu, itu artinya kita telah menciptakan teks. Ketika kita menyimak atau membaca, itu artinya kita menginterpretasikan makna yang ada dalam teks. Menciptakan atau menyusun teks untuk tujuan tertentu berarti kita melakukan pemilihan bentuk dan struktur teks yang akan kita gunakan agar pesan tersampaikan secara tepat. Pemilihan bentuk atau struktur teks oleh penutur untuk mencapai suatu tujuan dalam suatu kegiatan sosial komunikatif ditentukan oleh konteks situasi yang dihadapi (Halliday, 1985). Konteks situasi merupakan kesatuan dari beberapa unsur yang tidak dapat terpisahkan dan saling memengaruhi satu sama lain, yaitu apa yang sedang dibicarakan, siapa yang terlibat dalam pembicaraan tersebut (sifat dan peran masing-masing, serta sifat hubungan antara satu dengan lainnya), saluran yang digunakan (tertulis, lisan, atau kombinasi keduanya, serta tujuan sosialnya (persuasif, ekspositori, deduktif, dsb.). Suatu tindakan komunikasi yang dilakukan untuk mencapai satu tujuan tertentu diwujudkan dalam bentuk kongkrit berupa teks. Untuk satu tujuan yang sama, biasanya tidak digunakan satu teks yang persis sama selamanya, tetapi bervariasi dalam hal isi maupun bentuk bahasa yang
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 55
digunakan. Meskipun sama, kemiripan antara teks-teks tersebut dapat dengan mudah diidentifikasi, bahkan oleh orang awam yang tidak memiliki pengetahuan tentang ilmu bahasa atau ilmu komunikasi. Beberapa teks yang memiliki kemiripan dalam tindakan yang dilakukan itulah yang biasanya dikelompokkan dalam satu genre yang sama (Puskur, 2007). Konsep genre dikaitkan dengan tindakan komunikatif dalam konteks budaya, sedangkan teks pada konteks yang lebih spesifik, yaitu situasi komunikatif yang ada. Satu genre dapat muncul dalam berbagai jenis teks. Misalnya genre cerita, di antaranya, dapat muncul dalam bentuk teks: cerita ulang, anekdot, eksemplum, dan naratif, dengan struktur teks (struktur berpikir) yang berbeda (Mahsum, 2013). Baik genre maupun teks tentunya dapat digunakan sebagai satuan untuk menyusun program pendidikan bahasa. Keduanya sama-sama berkenaan dengan potensi bahasa sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan berwacana secara efektif. Jenis teks dapat dikelompokkan menjadi dua kategori besar, yaitu teks sastra dan teks faktual (Anderson, 2003). Jenis teks terpilih untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2013 jenjang SMP dan SMP dapat dilihat pada tabel berikut. Jenis Teks untuk mapel Bahasa Indonesia jenjang SMP
SMP KELAS X KELAS XI KELAS XII
• anekdot • laporan hasil
• cerita pendek • pantun • cerita ulang • eksplanasi kompleks • film/drama
• cerita sejarah • berita • iklan • editorial/ opini • novel
1. Prinsip-Prinsip Pembelajaran
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201456
sebagai berikut: (1) berbahasa adalah kegiatan berkomunikasi dalam bentuk wacana yang direalisasikan dalam bentuk teks, (2) tugas pembelajaran bahasa adalah mengembangkan kemampuan memahami dan menciptakan teks karena komunikasi terjadi dalam teks atau pada tataran teks, (3) menciptakan atau menyusun teks untuk tujuan tertentu berarti melakukan pemilihan bentuk dan struktur teks yang akan digunakan agar pesan tersampaikan secara tepat, (4) pemilihan bentuk atau struktur teks oleh penutur untuk mencapai suatu tujuan dalam suatu kegiatan sosial komunikatif ditentukan oleh konteks situasi yang dihadapi, (5) belajar bahasa merupakan kegiatan yang bersifat sosial, (6) belajar menjadi lebih efektif ketika harapan guru terhadap pembelajar disampaikan secara tersurat, dan (7) proses belajar bahasa merupakan serangkaian tahapan perkembangan dari kegiatan berbantuan sampai dengan kegiatan mandiri.
2. Tahap-Tahap Pembelajaran Berikut adalah tahap-tahap pembelajaran berbasis teks.
a. Apersepsi/Luncuran (building knowledge of the field) Pembicaraan topik yang akan dibahas. Kegiatan ini bersifat interaktif antara guru dan siswa, siswa dan siswa sehingga keterampilan mendengarkan dan berbicara dimulai di sini.
b. Pemodelan teks (modelling of text) Pengenalan beragam teks lisan maupun tulis kepada siswa. Teks tulis seperti resep juga dapat dikenalkan pada tahap ini dengan menggunakan bahasa yang khas resep, yaitu tanpa basa- basi kesantunan, padat, ringkas, dan bentuk dan unsur teksnya cenderung tetap, yakni judul, bahan, cara merau, dan cara menghidangkan.
c. Pemecahan masalah bersama (joint construction, Belajar dalam kelompok yang digunakan siswa secara bersama- sama dalam kelompok atau berpasangan, mengerjakan perlatihan-
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 57
perlatihan berbahasa yang ditugaskan oleh guru. Penyelesaian perlatihan secara kelompok ini dilakukan dengan PEDOMAN dari buku pelajaran, guru, maupun siswa lain.
d. Pemecahan masalah secara individual (independent construction) Pelatihan siswa untuk menciptakan teks secara mandiri. Pada tahap ini siswa diharapkan mampu menyelesaikan pelatihan-pelatihan berbahasa secara mandiri atau spontan dalam konteks baru yang berbeda dengan tahap kerja kelompok.
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201458
Buku Pedoman Guru Kurikulum 2014 59
BAB VI PENILAIAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI
SMP DAN MTs
Penilaian otentik adalah komponen penting dari reformasi pendidikan sejak tahun 1990-an. Wiggins (1993) menegaskan bahwa metode penilaian tradisional untuk mengukur prestasi, seperti tes pilihan ganda, benar/salah, menjodohkan, dan lain-lain telah gagal mengetahui kinerja peserta didik yang sesungguhnya. Tes semacam ini telah gagal memperoleh gambaran yang utuh mengenai sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik dikaitkan dengan kehidupan nyata mereka di luar sekolah atau masyarakat.
Penilaian otentik adalah penilaian atas perkembangan peserta didik, karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek tertentu. Penilaian otentik harus mampu menggambarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan apa yang sudah
Buku Pedoman Guru Kurikulum 201460
atau belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya,