KULIAH UMUM MEMBANGUN DAN masjid dan upacara-upacara tradisi keagamaan (Wiryomartono, 1995). Pada konsep kota tradisional tidak terbentuk komunitas urban yang terbuka

  • View
    217

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of KULIAH UMUM MEMBANGUN DAN masjid dan upacara-upacara tradisi keagamaan (Wiryomartono, 1995). Pada...

  • KULIAH UMUMMEMBANGUN DAN MEMPERTAHANKAN IDENTITAS KOTA1

    Oleh : Dr.Ir. Edi Purwanto, MT2

    A. PengantarMateri kuliah umum dengan tema Membangun dan Mempertahankan Identitas

    Kota disampaikan didepan mahasiswa strata 1 Program Studi Perencanaan Wilayah

    dan Kota serta mahasiswa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UGM. Tujuan kuliah

    umum adalah membekali mahasiswa dengan pemikiran-pemikiran baru bahwa dalam

    perencanaan dan perancangan kota kekayaan khasanah lokal (kearifan lokal)

    mendapatkan porsi yang lebih banyak agar identitas lokal sebuah kota dapat terbangun.

    Pembicara kuliah umum adalah seorang pengajar dan arsitek yang

    berkecimpung dalam bidang arsitektur perkotaan, oleh karena itu materi kuliah umum

    akan berfokus pada porsi objek perancangan kota/urban design. Fokus kedua,

    makalah ini akan lebih menitik beratkan pada upaya membangun dan mempertahankan

    identitas kota dari sisi pemanfaatan potensi kearifan lokalnya, dengan menitik beratkan

    peran sentral masyarakat lokal, artinya rekayasa ruang yang dibangun lebih banyak

    bersifat bottom up.

    B. Sejarah Perkembangan Kota : Kota Terencana vs Kota OrganikSejak jaman modern atau saat revolusi industri terjadi, kebanyakan kota di dunia

    Barat dirancang dalam tradisi yang menyusun kota secara teknis. Artinya budaya-

    budaya di dunia Barat khususnya sejak waktu tersebut dirancang dengan standar yang

    mengutamakan faktor geometri sebagai hasil pengetahuan yang bersifat teknis dan

    teoritis. Kota-kota yang dibangun dengan cara demikian disebut sebagai kota terencana

    (planned city). Kota itu secara keseluruhan atau beberapa kawasan besar dari kota

    tersebut dibangun dengan perencanaan tertentu yang lengkap secara geometris.

    Struktur kota demikian sangat dipengaruhi oleh suatu tujuan dan rencana tertentu

    sehingga proses yang terjadi pada pembangunan kota ini tidak penting karena

    sebelumnya semua telah diatur dan diarahkan perencanaannya (Kostof, 1991).

    Sebaliknya sebelum jaman modern, kebanyakan kota-kota di luar dunia Barat

    dibetuk oleh tradisi disusun secara organis, artinya hampir semua budaya di luar dunia

    Barat memakai standar-standar perencanaan kota yang mengutamakan faktor organik

    1 Disampaikan didepan mahasiswa strata 1 Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota serta mahasiswa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UGM, tanggal 27 Februari 20092 Staf Pengajar Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

    1

  • sebagai hasil pandang mereka yang bersifat tradisional. Kota-kota yang dibangun

    dengan cara demikian disebut kota tumbuh (growth city) dan kota itu sendiri atau

    kebanyakan kawasan dari kota tersebut dibangun dalam suatu proses tanpa

    memperhatikan perancangan secara keseluruhan. Struktur kota ini sangat dipengaruhi

    oleh proses pembangunan sehingga yang menjadi tujuan dari rencana tersebut

    terhadap pembangunan kota dianggap tidak penting. Oleh sebab itu, pembangunan

    kota tidak akan diatur sebelum adanya pembangunan karena kota dianggap akan

    berkembang secara organis, ilmiah sesuai kebutuhan masyarakatnya.

    Bagaimana dengan sejarah kota-kota di Indonesia? Terdapat beberapa tipologi

    kota yang terekam dalam sejarah kota-kota di Indonesia dan dibagi dalam 3 kelompok

    (Alfian, 2007):

    1. Kota Tradisional, yaitu kota yang dibentuk dan dibangun oleh penguasa pada

    saat mendirikan pusat-pusat kerajaan seperti kota Jogjakarta dan Surakarta.

    2. Kota dagang pra-kolonial dan awal kolonial, seperti misalnya kota Banten,

    Cirebon, Surabaya, dan beberapa kota di sepanjang pantai Utara Jawa. Tipe ini

    secara prinsip dapat dikategorikan sebagai kota-kota dengan konsep kota

    tradisional yang telah mengalami modifikasi, meskipun dominasi tradisionalnya

    masih sangat kuat.

    3. Kota kolonial modern, yang secara prinsip mengacu pada konsep kota modern

    dan produk industri dari negara-negara maju.

    Sebagian besar kota-kota di Indonesia pada dasarnya berasal dari

    perkembangan kota-kota tradisional dan kota-kota kolonial. Konsep kota tradisional di

    Indonesia merupakan kosep kota yang berasal dari peradaban agraris yang bersifat

    tertutup seperti terlihat pada konsep kota tradisional Jawa. Struktur pemerintahan yang

    berkembang pada saat itu adalah struktur pemerintahan patrimonial (Wheatly, 1983).

    Legitimasi kebudayaan kota terpusat pada legitimasi keagamaan raja. Tradisi hinduisme

    dan Budhisme yang datang dari India mempunyai pengaruh yang kuat terhada ritual

    dan simbol-simbol kota. Demikian pula dengan pengaruh tradisi buaya Islam dalam

    penyusunan tata ruang kota, arsitektur. Simbo-simbol kota banyak ditampakkan dalam

    bangunan-bangunan masjid dan upacara-upacara tradisi keagamaan (Wiryomartono,

    1995).

    Pada konsep kota tradisional tidak terbentuk komunitas urban yang terbuka.

    Kehidupan kota berlangsung berdasarkan aliansi antara kelompok-kelompok sosio-

    kultural dengan kelompok-kelompok sosio-religius yang sampai batas tertentu memiliki

    hak-hak otonomi. Kota dagang di Indonesia tidak dibangun berdasarkan kebersamaan

    sebuah sistem nilai melainkan merupakan semacam konfederasi dari kelompok-

    2

  • kelompok sosio-kultural (McGee, 1967). Terjadi pemberlakuan sistem nilai lokal pada

    tingkat yang sangat umum, sedangkan setiap kelompok mempertahankan sistem nilai

    sendiri daam kelompok mereka masing-masing. Kehidupan sosial perkotaan hanya

    berkembang di dalam kampung, bukan di tingkat kota. Sebaliknya, menurut prinsip kota

    modern, kota harus bersifat terbuka bagi semua orang dan merupakan komunitas yang

    dibentuk berdasarkan kesepakatan bersama antara kelompok-kelompok yang setara

    dengan tujuan membangun kehidupan bersama. Kota modern adalah tempat tawar-

    menawar, jual beli, memberi dan mendapatkan apa yang diinginkan. Setiap kelompok

    harus mampu menekan sebagian kepentingan kelompok mereka sendiri, demi

    terbentuknya komunitas urban yang heterogen secara etnis dan religi (Nas, 1984).

    Dalam perkembangannya di Indonesia, warisan tipe kota tradisional dan kota

    dagang pra-kolonial/masa kolonial relatif masih bisa dikenali struktur intinya meskipun

    sudah mengalami perkembangan dan pertumbuhan. Kota dengan tipe demikian masih

    bisa diamati seperti misalnya kota Jogjakarta dan Surakarta, serta kota-kota

    disepanjang pantai utara Jawa memanjang dari sisi Barat sampai ke Timur.

    C. Kehancuran Kota Tanpa Identitas : Berkaca dari Pengalaman Dalam upaya penataan ruang dan pengelolaan wilayah Indonesia sudah banyak

    disusun Rencana Tata Ruang Wilayah mulai dari tingkat Nasional, Propinsi hingga kota

    Kabupaten bahkan kota Kecamatan. Akan tetapi pada kenyataannya hampir sebagian

    besar rencana-rencana yang dibuat dengan susah payah itu tetap tinggal sebagai

    rencana saja, karena tidak dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Terdapat

    beberapa masalah yang dihadapi dalam implementasi rencana tersebut, akan tetapi

    yang sangat menonjol adalah lemahnya penegakkan hukum (law enforcement) dan

    kurangnya pelibatan masyarakat. Kenyataan menunjukkan bahwa antara rencana yang

    disusun dengan realitas kehidupan di dunia nyata terdapat kesenjangan yang lebar.

    Terlebih lagi, aspirasi masyarakat sering tidak tertampung atau terwadahi dengan baik.

    Bagaimanapun juga rekayasa ruang perkotaan yang diinginkan berdimensi

    manusia yang semestinya bertolak dari perspektif rekayasa ruang dalam konteks

    kehidupan manusia agar efeknya mampu mendorong munculnya rancangan sosial

    yang manusiawi dan bermartabat. Pendekatan perencanaan dan perancangan ruang

    perkotaan di Indonesia selama ini seringkali menggunakan pola top-down dan kurang

    melibatkan unsur-unsur masyarakat pelaku ruang perkotaan (bottom-up), bahkan

    kadang dilakukan dengan cara mencomot begitu saja teori-teori yang berasal dari

    khasanah budaya/pustaka barat kemudian langsung diterapkan. Akibatnya adopsi teori-

    teori tersebut kadangkala tidak tepat dengan situasi lokal karena teori yang digunakan

    3

  • muncul dari situasi sosio spasial yang sangat berlainan dengan permasalahan lokal

    yang akan ditangani. Perencanaan dan perancangan ruang perkotaan tidak dapat

    semata-mata didasarkan kepada pendekatan yang objektif-positivistis tanpa

    mempertimbangkan kenyataan subjektif-fenomenologis yang dirasakan oleh pelaku

    ruang sebagai penggunanya. Realitas objektif ruang perkotaan sebenarnya hanyalah

    sebagian kecil dari seluruh realitasnya, yang amat kaya dengan tanggapan-tanggapan

    subjektif manusia penghuninya di dalam rangkaian proses dialektika manusia ruang,

    yang berlangsung terus menerus jangka panjang. Dengan demikian, pendekatan

    pembangunan ruang perkotaan yang semakin tajam dan bermakna perlu dilakukan

    dengan pendekatan subjektif-fenomenologis agar menukik dan membumi sampai ke

    dasar dan akar permasalahan melalui suatu proses dialogis yang terus menerus dan

    dilandasi oleh sikap hati-hati yang arif, kritis dan cerdas.

    Selama ini paradigma perencanaan yang terlalu teknokratik dan deterministik ini

    sebenarnya telah dikritik habis-habisan oleh Jane Jacobs, melalui beberap