Click here to load reader

KONSEP DZAWIL ARHAM DALAM PEMBAGIAN …etheses.uinmataram.ac.id/958/1/Ahmad Sanusi 152132005.pdfSkripsi dengan judul “Konsep Dzawil Arham dalam Pembagian Harta Peninggalan menurut

  • View
    10

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of KONSEP DZAWIL ARHAM DALAM PEMBAGIAN …etheses.uinmataram.ac.id/958/1/Ahmad Sanusi...

  • i

    KONSEP DZAWIL ARHAM DALAM PEMBAGIAN HARTA

    PENINGGALAN MENURUT ULAMA’ SYAFI’IYAH DAN

    ULAMA’ HANAFIYAH

    Oleh

    AHMAD SANUSI

    15.2.13.2.005

    JURUSAN AKHWAL AL SYAKHSHIYAH

    FAKULTAS SYARI’AH

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

    2018

  • ii

    KONSEP DZAWIL ARHAM DALAM PEMBAGIAN HARTA

    PENINGGALAN MENURUT ULAMA’ SYAFI’IYAH DAN

    ULAMA’ HANAFIYAH

    Skripsi

    Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Mataram Untuk Melengkapi

    Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Hukum

    Oleh

    AHMAD SANUSI

    15.2.13.2.005

    JURUSAN AKHWAL AL SYAKHSHIYAH

    FAKULTAS SYARI’AH

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

    2018

  • iii

    PERSETUJUAN PEMBIMBING

    Skripsi : Ahmad Sanusi, NIM 15.2.13.2.005. yang berjudul “Konsep Dzawil

    Arham dalam Pembagian Harta Peninggalan menurut Ulama’ Syafi’iyah dan

    ulama’ Hanafiyah” telah memenuhi syarat dan disetujui untuk di munaqasahkan

    .

    Disetujui tanggal . 21 Desember 2017

    Di bawah Bimbingan

    Pembimbing I

    Dr. H. USMAN, M.Ag

    NIP.196312311992031026

    Pembimbing II

    Dr.H.M. Said Ghazali, Lc. MA

    NIP. 197112312006041003

  • iv

    NOTA DINAS PEMBIMBING

    Hal : Munaqasyah

    Mataram, 21 Desember 2017

    Kepada

    Yth. Rektor UIN Mataram

    di Mataram

    Assalamu‟alaikum Warahmatullhi Wabarakatuh .

    Setelah di periksa dan diadakan perbaikan sesuai dengan masukan

    pembimbing dan pedoman , skripsi, kami berpendapat bahwa skripsi : Ahmad

    Sanusi, NIM 15.2.13.2.005. yang berjudul “Konsep Dzawil Arham dalam

    Pembagian Harta Peninggalan menurut Ulama’ Syafi’iyah dan Ulama’

    Hanafiyah” telah memenuhi syarat untuk diajukan dalam sidang munaqasyah

    skripsi fakultas Syari‟ah UIN Mataram.

    Demikian, atas perhatian bapak rektor disampaikan terima kasih .

    Wassalamu‟alaikum. Wr. Wb.

    Pembimbing I

    Dr. H. USMAN, M.Ag

    NIP.196312311992031026

    Pembimbing II

    Dr.H.M. Said Ghazali, Lc. MA

    NIP. 197112312006041003

  • v

    PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

    Yang bertanda tangan di bawah ini :

    Nama : Ahmad Sanusi

    NIM : 15.2.13.2.005

    Jurusan : Ahwal Al Syakhshiyah

    Fakultas : Syari‟ah

    Dengan sesungguhnya menyatakan bahwa skripsi dengan judul :

    Konsep Dzawil Arham dalam Pembagian Harta Peninggalan menurut

    Ulama’ Syafi’iyah dan Ulama’ Hanafiyah secara keseluruhn adalah hasil

    penelitian / karya sendiri, kecuali pada bagian – bagian yang dirujuk sumbernya.

    Apabila di belakang hari ternyata karya tulis ini tidak asli, saya siap

    dianulir gelar keserjanaan saya sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN

    Mataram

    Mataram, 28 desember 2017

    Hormat saya

    Ahmad Sanusi

    NIM. 15.2.13.2.005

  • vi

    PENGESAHAN

    Skripsi dengan judul “Konsep Dzawil Arham dalam Pembagian Harta

    Peninggalan menurut Ulama’ Syafi’iyah dan ulama’ Hanafiyah” di ajukan

    oleh Ahmad Sanusi NIM. 15.2.13.2.005, Jurusan Ahwal Al Syakhshiyah Fakultas

    Syariah Universitas Islam Negeri (UIN ) Mataram telah di munaqasah-kan pada

    hari Rabu 05 Januari 2018 dan di nyatakan telah memenuhi syarat untuk mencapai

    Gelar Sarjana Hukum.

    Dewan Munaqasah

    1. Ketua Sidang Pembimbing I

    Dr. H. USMAN, M.Ag

    NIP. 196312311992031026

    (_______________)

    2. Sekretaris Sidang Pembimbing II

    Dr.H.M. Said Ghazali, Lc. MA

    NIP. 197112312006041003

    (_______________)

    3. Penguji Pertama

    Drs. H. Muktamar, M.H

    NIP:196512311993031024

    (_______________)

    4. Penguji Kedua

    Hj. Ani Wafiroh, M.Ag

    NIP:197407162005012003

    (_______________)

    Mengetahui

    Dekan

    Dr. H. Musawar, M.A.g

    NIP: 196912311998031008

  • vii

    MOTTO

    َولَهُنَّ َعلَْيُكْم ِرْزقُهُنَّ َوِكْسَىتُهُنَّ بِاْلَمْعُروفِ

    „‟Dan mereka (para istri) mempunyai hak diberi rizki dan pakaian (nafkah) yang

    diwajibkan atas kamu sekalian (wahai para suami).‟‟ (HR. Muslim 2137)

  • viii

    HALAMAN PERSEMBAHAN

    1. Kupersembahkan skripsi ini untuk ibu & bapak tercinta yakni bapak

    Jamali (alm) dan ibu Hj. Fatimah, Terimakasih yang tiada terhingga

    ananda ucapkan atas segala Kasih sayang, kerja keras dan Pengorbanan

    yang engkau berikan kepada ananda sehingga ananda bisa

    menyelesaikan Program Studi Sarjana I di Universitas Islam Negeri

    Mataram,

    2. Kepada ayahanda, ibunda, kakanda, ayunda, adindaku yang ada diwadah

    organisasi himpunan mahasiswa islam (HMI) ananda ucapkan terima

    kasih yang tak terhingga atas segala motivasi, suport, dan bantuan

    sehingga ananda bisa menggunakan toga ini .

    3. Kepada teman-teman AS Angkatan Kelas A 2013 banyak suka duka

    yang kita alami bersama anada ucapkan terimakasih telah menemani

    ananda sampai saat ini dikala susah maupun senang

    4. Buat Teman- teman KKP diAik Bukak tahun 2016 terima kasih atas

    dukungannya selama ini . Thank‟s For all My Friends.

    5. Untuk Keluarga Besar ku terimakasih atas dukungan dan motivasi nya

    selama ini dari awal sampai sekarang,

    6. Buat pembimbing bapak Dr. H. Usman M.Ag. dan Dr. H. M. Sa‟id

    Ghozali Lc. MA., terimakasih atas bimbingannya selama ini, tanpa

    bimbingan dari bapak, ananda tidak akan dapat menyelesaikan tugas

    akhir ini.

  • ix

    KATA PENGANTAR

    Alhamdulillah, dengan penuh rasa syukur penulis panjatkan kehadirat

    Allah SWT yang telah melimpakan rahmatnya, sehingga penulis dapat

    menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam konsisten tercurahkan kepada

    sang revolusioner sejati bagi dunia ini, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga,

    sahabat, pengikut-pengikutnya dan seluruh umat Islam dari masyrik sampai

    magrib, semooga kita mendapatkan syafa‟at beliau di akhirat kelak. Amin

    Atas berkah dan rahmat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan

    kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sesuai dengan

    yang diharapkan, patutlah rasa syukur penulis panjatkan kepada-Nya serta rasa

    terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu

    penulis dalam menyelesaikan perkuliahan di Fakultas Syari‟ah Universitas Islam

    Negeri (UIN) Mataram.

    Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak dapat terselesaikan dengan baik

    tanpa adanya bantuan orang lain yang begitu berharga dan bermakna bagi penulis,

    dengan demikian dalam kesempatan yang berharga ini penulis menghaturkan rasa

    hormat dan ucapan terima kasih kepada:

    1. Pembimbing skripsi, Bapak Dr. H. Usman, M.Ag. Dan Bapak Dr. H.M.

    Said Ghazali, Lc. MA yang senantiasa ikhlas meluangkan waktunya untuk

    memberikan bimbingan dan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan

    skripsi ini. Semoga beliau selalu dalam lindungn Allah SWT.

    2. Rektor Universitas Islam Negri (UIN) Mataram,

  • x

    3. Dekan Fakultas Syari‟ah Universitas Islam Negri (UIN) Mataram, beserta

    segenap pimpinan, karyawan, dan staf yang berdedikasi tinggi dan

    sepenuh hati memberikan nasihat-nasihat yang berharga demi

    meningkatkan kualitas spiritual dan intelektual kepada mahasiswa/i

    Fakultas Syari‟ah .

    4. Para Dosen Fakultas Syari‟ah yang telah memberikan ilmu pengetahuan

    selama penulis belajar di kampus tercinta, Universitas Islam Negri (UIN)

    Mataram yang banyak membuka cakrawala dan wacana berpikir penulis.

    5. Rasa Ta‟zim dan terima kasih yang mendalam kepada kedua orang tua

    saya, Bapak Jamali dan Ibu Hj. Fatimah yang telah memberikan motivasi

    dukungan moril dan materil, kesabaran, keikhlasan, perhatian, kasih

    sayang serta do‟a munajatnya yang tak henti-henti kepada Allah SWT

    senantiasa agar penulis mendapatkan kesuksesan dalam penyelesaian studi

    dan juga atas perjuangan mereka yang telah mendidik dan mengajarkan

    arti kehidupan. Penulis persembahkan skripsi ini.

    6. Teman-teman seperjuangan jurusan Akhwal Al-Syakhsiyah angkatan 2013

    yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah bersama-sama

    berjuang dalam menuntut ilmu baik dalam suasana suka maupun duka di

    fakultas syari‟ah tercinta, semoga ukhuwah islamiyah diantara kita tetap

    terjaga selamanya.

    Penulis menyadari bahwa masih banyak nama-nama yang penulis

    sebutkan satu persatu, kepada semua pihak yang telah memotivasi dalam

    memberikan inspirasi kepada penulis untuk mencapai suatu cita-cita dan telah

  • xi

    membantu baik secara langsung amupun tidak langsung, moril maupun

    materil. Hanya ucapan terimakasih yang mapu penulis haturkan semoga segala

    bantuan tersebut diterima sebagai amal ibadah di sisi Allah SWT dengan

    pahala yang terus mengalir.

    Akhirnya saran dan kritik yang konstruktif dan solutif dari semua pihak

    akan diterima dengan baik, semoga Allah senantiasa meridhoi setiap langkah

    kita. Amin.

    Mataram, 28 Desember 2017

    Penulis,

  • xii

    DAFTAR ISI

    SAMPUL DEPAN .......................................................................................... i

    HALAMAN JUDUL ....................................................................................... ii

    PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................................... iii

    NOTA DINAS PEMBIMBING ...................................................................... iv

    PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ......................................................... v

    PENGESAHAN .............................................................................................. vi

    MOTO ............................................................................................................. vii

    PERSEMBAHAN ........................................................................................... viii

    KATA PENGANTAR .................................................................................... ix

    DAFTAR ISI ................................................................................................... x

    ABSTRAK ..................................................................................................... xiv

    BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1

    A. Latar Belakang Masalah ........................................................... 1

    B. Rumusan Masalah .................................................................................. 5

    C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ........................................................ 6

    D. Kajian Pustaka ................................................................................. 7

    E. Kerangka Teori ............................................................................... 11

    F. Metode Penelitian ............................................................................ 15

    1. Jenis dan Pendekatan Penelitian ............................................... 15

    2. Sumber data ............................................................................... 15

    3. Teknik dan Analisis data ............................................................ 16

    4. Teknik Pengumpulan data ......................................................... 18

    5. Validitas data ............................................................................. 18

    G. Sistematika Pembahasan ................................................................. 19

    BAB II PEMBAHASAN DZAWIL ARHAM MENURUT

    SYAFI‟IYAH DAN HANAFIYAH ................................................................ 20

    A. Konsep dzawil arham menurut syafi‟iyah ...................................... 20

    1. Pengertian Dzawil arham ........................................................... 20

    2. Ahli waris zawil arham .............................................................. 22

  • xiii

    3. Kewarisan dzawil arham ............................................................ 23

    4. Dalil tentang dzawil arham tidak dapat bagian harta ................. 24

    B. Konsep Dzawil Arham Menurut Hanafiyah ................................... 26

    1. Pengertian Dzawil Arham .......................................................... 26

    2. Dalil Tetang Dzawil Arham Bisa Mendapatkan Harta .............. 26

    3. Cara Mendapatkan Warisan Dzawil Arham ............................... 32

    4. Kelompok Dzawil Arham .......................................................... 39

    5. Perbedaan Antara Mazhab Ahlu Al-Tanzil Dan

    Mazhab Ahlu Al-Qorobah ......................................................... 42

    6. Cara Mewarisi ............................................................................ 42

    7. Syarat-Syarat Kewarisan Dzwil Arham ..................................... 44

    C. Persamaan Dan Perbedaan Antara Syafi‟iyah Dan Hanafiyah

    Tentang Konsep Dzawil Arham ...................................................... 47

    1. Pengertian Dzawil Arham .......................................................... 47

    2. Kewarisan Dan Ahli Waris ......................................................... 48

    3. Kewarisan Dzawil Arham .......................................................... 49

    4. Dalil-Dalil Tentang Dzawil Arham Dapat Menjadi Ahli Waris

    Dan Tidak Dapat Menjadi Ahli Waris ......................................... 50

    BAB III PENUTUP......................................................................................... 57

    A. Kesimpulan ...................................................................................... 57

    B. Saran ............................................................................................... 57

    DAFTAR PUSTAKA

  • xiv

    ABSTRAK

    Penelitian ini membahas tentang kewarisan yang sering membuaat orang-

    orang bingung bagaimana mau melaksanakan dan menyelesaikan pembagian harta

    peninggalan yang ditinggalkan oleh mayyit, yaitu tentang kewarisan dzawil

    arham, apakah akan diberikan harta peninggalan tersebut atau tidak kepada

    mereka.

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam dan lebih luas

    argumentasi ulama‟ Syafi‟iyah dan ulama‟ hanafiayah tentang sisi perbedaan

    mereka megenai dzawil arham dalam pembagian harta peninggalan dan

    mempertimbangkan tingkat kekuatan argumentasi yang masing-masing mereka

    gunakan dalam hal ini.

    Penelitian ini ialah penelitian pustaka, data yang dikumpulkan berdasarkan

    fakta yang didapatkan dari dokumen-dokumen. Penelitian ini juga bersifat

    konfaratif yaitu suatu metode membandingkan pendapat atau hasil pemkiran para

    tokoh, dalam hal ini adalah membandingkan pendapat para ulama‟ Syafi‟iyah dan

    ulama‟ Hanafiyah tentang dzawil arham dalam pembagian harta peninggalan.

    Penelitian ini membahas bagaiman konsep-konsep yang ditawarkan oleh

    masing-masing ulama‟ dari mazhab Syafi‟i dan ulama‟ dari mazhab Hanafi

    tentang dzawil arham dalam pembagian harta peninggalan dan cara mereka para

    kerabat dzawil arham mendapatkan bagian harta peninggalan orang yang mati

    sesuai prosedur.

    Kata kunci: Dzawil furudh Ashabah, Dzawil arham, Ulama‟ Syafi‟iyah dan

    ulama‟ Hanafiyah

  • 15

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Manusia adalah mahluk sosial yang tidak akan pernah dapat hidup sendiri

    tanpa bantuan orang lain atau makhluk lain, karenanya Allah menurunkan aturan

    kepada manusia berupa al-Qur‟an dan al-Hadits sebagai penuntun dan pedoman

    manusia dalam menjalankan kehidupanya di dunia ini, diperkuat lagi dengan

    sumber-sumber hukum lainnya, seperti ijma‟ para ulama‟, qiyas, dan lain

    sebagainya.

    Al-Qur‟an dan al-Hadits mengajarkan kepada umat manusia aturan-aturan

    yang terkait dengan kehidupan duniawi yang dapat memberikan jalan yang baik

    menuju kesuksesan kehidupan akhirat yang akan membuatnya selamat, seperti

    aturan-aturan dalam keluarga dan yang berhubungan dengan hal tersebut, seperti

    hukum waris yang diaturnya secara detail. Masalah harta peninggalan orang yang

    telah meninggal ini sangatlah sensitif dalam sebuah keluarga, sehingga sangat

    rentan dapat memecah-belah hubungan keluarga yang awalnya harmonis.1

    Berbagai kemungkinan timbulnya senketa disebabkan harta telah

    diantisipasi dengan adanya aturan-aturan jelas dibidang harta, seperti dapat dilihat

    dalam aturan jual beli, utang piutang, aturan hibah, wakaf, wasiat, mawaris dan

    sebagainya. Silang sengketa tidak dapat dihindarkan bilamana pihak-pihak tidak

    konsisten dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan.2

    1 Muhamad bin Ibrahim bin Abdullah Atuwaijry. Hukum Waris. (Riyadh: Maktab Dakwah

    dan Bimbingan Jaliyat Rabwah, 2007) h.1. 2 M. Zein, Satria Efendi, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer. (Jakarta:

    Kencana Prenada Media Group, 2010), h. 223.

    1

  • 2

    Ilmu tentang harta peninggalan ini termasuk ilmu yang amat mulia,

    sesuatu yang tinggi kedudukannya, amat besar ganjarannya. Karena pentingnya

    ilmu tersebut, hingga Allah sendiri yang menentukan bagian masing-masing dan

    Allah pun yang menerangkan bagian masing-masing ahli waris, sebagian besar

    diterangkan dalam beberapa ayat secara jelas, karena harta itu sendiri kerap kali

    menjadi sumber ketamakan bagi manusia. Sebagian besar dari harta warisan itu

    adalah untuk keluarga baik pria maupun wanita, besar maupun kecil, yang lemah

    maupun yang kuat, sehingga tidak terdapat padanya kesempatan untuk

    berpendapat atau berbicara dengan hawa nafsu.

    Karena itulah Allah swt. yang langsung mengatur sendiri secara tertib

    pembagian serta rincianya dalam kitab-Nya yang mulia (al-Qur‟an), meratakannya

    di antara semua keluarga yang tergolong sebagai ahli waris sesuai dengan tingkat

    keadilan diantara semua kerabat serta menjaga keharmonisan berkeluarga diantara

    mereka.3

    Ilmu mawaris adalah salah satu cabang ilmu tentang hukum keluarga

    dalam Islam yang `membahas tentang tata cara pembagian harta peninggalan

    kepada kerabat yang ditinggalkan dengan aturan yang sudah ditentukan. Aturan

    tersebut datang dari sumber hukum utama di dalam Islam, yaitu al-Qur‟an dan al-

    Sunnah

    Pembahasan tentang warisan lebih banyak termuat di dalam kitab-kitab

    klasik berbahasa arab tentang hasil-hasil ijtihad dan fatwa-fatwa para Ulama‟

    masa lampau. Dengan situasi seperti ini agak berat bagi pembaca untuk

    3Muhamad bin Ibrahim bin Abdullah Atuwaijry. Hukum Waris. (Riyadh: Maktab Dakwah

    dan Bimbingan Jaliyat Rabwah, 2007),h. 1.

  • 3

    menjadikannya refrensi penelitian, karena harus melewati metode-metode yang

    cukup rumit dalam memahaminya.

    Aturan mengenai warisan banyak yang telah dibukukan baik dengan

    berbahasa Indonesia, bahasa arab atau lainnya, termasuk berupa terjemahan dari

    kitab-kitab berbahasa arab, sehingga mudah bagi para peneliti sekarang untuk

    mencari dan menjadikan refrensi tentang aturan-aturan mengenai disiplin ilmu

    warisan tersebut.

    Warisan merupakan persoalan yang cukup sensitif dalam masalah hukum

    keluarga dan yang lumayan sulit terselesaikan dilembaga-lembaga pengadilan,

    dan krusial untuk diketahui dan dipelajari guna menyelamatkan harmonisasi

    keluarga, karena menyankut masalah harta benda yang akan dibagi kepada ahli

    waris yang ditinggalkan.

    Pengertian secara umum mengenai hukum mawaris adalah hukum yang

    mengatur mengenai peralihan atau pemindahan harta kekayaan yang ditinggalkan

    oleh seseorang yang telah meninggal dunia untuk dibagi kepada ahli warisnya

    atau kepada keluarga dekat yang ditinggalkannya sesuai dengan bagian masing-

    masing yang telah diatur. Adapun hukum mawaris di Indonesia mengatakan

    bahwa hukum warisan adalah suatau cara penyelesaian perhubungan-perhubungan

    hukum dalam masyarakat, yang melahirkan sedikit-banyak kesulitan sebagai

    akibat dari wafatnya seseorang.4

    Hukum mawaris merupakan seperangkat aturan/hukum yang mengatur

    mengenai peralihan harta kekayaan yang ditinggalkan oleh seseorang (pewaris)

    4 Beni Ahmad Saebani, Fiqh Mawaris. (Bandung: Pustaka Setia, 2009), h. 16.

  • 4

    yang telah meninggal dunia kepada ahli warisnya atau keluarganya.Di dalam

    pembagian warisan selalu dimungkinkan adanya perselisihan didalamnya, karena

    pembagian warisan identik dengan pembagian harta peninggalan pewaris kepada

    ahli warisnya yang apabila tidak dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang telah

    ditetapkan akan menimbulkan sengketa diantara ahli waris.5

    Hukum mawaris ini berbicara dan membahas mengenai apa dan

    bagaimanakah segala sesuatu yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban-

    kewajiban tentang harta peninggalan atau kekayaan seseorang pada saat ia

    meninggal dunia yang akan beralih dan dipindah kepada orang lain yang masih

    hidup untuk dikelola dengan baik.6

    Kerabat terbagi menjadi tiga golongan, yaitu dzawil furudh,7 ashabah

    8 dan

    dzawil arham. Ulama‟ sepakat bahwa golongan dzawil furudh dan dzawil ashabah

    menjadi ahli waris yang mewarisi harta pusaka orang yang meninggal. Adapun

    dzawil arham terdapat perbedaan cara pandang para ulama‟ terhadap nash-nash

    dalam menjadikan mereka sebagai ahli waris. Misalnya cucu yang dari garis anak

    perempuan. Sebagian ulama‟ ada yang berpendapat bahwa cucu tersebut

    memperoleh harta warisan dan ada juga sebagian ulama‟ yang berpendapat tidak

    memperoleh harta peninggalan.

    Perbedaan yang terjadi mengenai dzawil arham ini bisa membuat orang

    awam menjadi semakin bingung dalam mengambil kesimpulan makna mengenai

    5Ibid. h. 13.

    6 Wirjono Prodjodikoro, Hukum Warisan di Indonesia, (Bandung : Sumur Bandung), h. 12.

    7 Dzawil Furudh adalah ahli waris yang mendapatkan warisan dengan cara mendapatkan

    bagian masing-masing yang telah dijelaskan didalam al-Qur‟an dan/atau al-hadits. 8Asabah adalah ahli waris yang mendapatkan warisan dengan mendapatkan sisa dari

    pembagian harta peninggalan yang telah diberikan bagian masing-masing kepada dzawil furudh

    yang ada.

  • 5

    apa itu dzawil arham. Perbedaan itu tentu tidak terlepas dari argumentasi-

    argumentasi logis yang dijadikan dasar utama dalam beristinbat dan

    mempertahankan hasil ijtihad mereka (Ulama‟).

    Berdasarkan perbedaan di atas peneliti tertarik untuk membahas penelitian

    tentang konsep dzawil arham sebagai objek penelitian untuk mencari landasan

    hukum para ulama‟ tersebut dalam memberikan hasil ijtihad mereka tentang

    dzawil arham. Dzawil arham juga pernah menjadi bahan diskusi para sahabat

    dalam menentukan hukumnya, Zaid bin Tsabit, Ibnu Abbas, Umar Bin Khatab,

    Ibnu Mas‟ud dan ali bin Abi Thalib, namun juga menghasilkan perbedaan hasil

    interpretasi dikalangan mereka.

    Dengan demikian perlu dicari penjelasan lebih lanjut terkait argumen-

    argumen yang dianggap tepat terkait dengan konsep dzawil arham menurut

    pendapat dan atau pandangan para ulama‟, yaitu dengan mengumpulkan dan

    mencari tahu semua pendapat para ulama‟ dan dalil yang dijadikan landasan

    dalam memperkuat pendapat mereka.

    B. Rumusan Masalah

    Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

    1. Bagaimanakah konsep dzawil arham dalam pandangan Syafi‟iyah dan

    Hanafiyah?

    2. Bagaimanakah persamaan dan perbedaan antara Ulama‟ Syafi‟iyah dan

    Ulama‟ Hanafiyah tentang konsep dzawil arham.

    C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    1. Tujuan Penelitian

  • 6

    Dalam penelitian ini peneliti mempunyai tujuan yaitu:

    a. Untuk mengetahui pendapat ulama‟ Syafi‟iyah dan Hanafiyah tentang

    dzawil arham

    b. Untuk memahami dan mendalami alasan dan argument ulama‟ Syafi‟iyah

    dan Hanafiyah tentang konsep dzawil arham

    c. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan masing-masing ulama‟

    Syafi‟iyah dan Hanafiyah

    2. Manfaat Penelitian

    Adapun manfaat yang kami harapkan dari penelitian ini adalah:

    a. Secara Teoritik, dapat memperbanyak khazanah keilmuan, khususnya

    dalam masalah kewarisan dalam Islam

    b. Dalam tataran praktis diharapkan dapat dijadikan sebagai pedoman dan

    rujukan bagi masyarakat umumnya, khususnya masyarakat akademis

    dalam memahami kelompok ahli waris yang termasuk dalam kategori

    dzawil arham.

    D. Kajian Pustaka

    Penelaahan pustaka dilakukan untuk menjelaskan posisi penelitian yang

    sedang dilakukan (State of Affairs) yang bertujuan untuk menegaskan kebaruan,

    orisinalitas, dan urgensi penelitian bagi pengembangan ilmu terkait.

    Tujuan dari kajian pustaka adalah menginformasikan kepada pembaca hasil-

    hasil penelitian lain yang berkaitan erat dengan penelitian yang dilakukan saat itu,

    menghubungkan penelitian dengan literatur-literatur yang ada, dan mengisi celah-

    celah dalam penelitian sebelumnya, dan menjadi tolak ukur untuk mempertegas

  • 7

    pentingnya penelitian tersebut, seraya membandingkan hasil-hasilnya dengan

    penemuan-penemuan lain.9

    Terdapat beberapa judul penelitian yang mengangkat tentang materi yang

    berkaitan dengan materi yang peneliti teliti, yang menjadi bahan kajian penulis

    sebelum penulisan skripsi ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh para

    Ahli dalam masalah waris dan kebetulan memiliki kmiripan dengan judul

    proposal penelitian yang peneliti lakukan, adapun hasil penelitian yang dimaksud

    adalah sebagai berikut:

    1. Judul Skripsi “Kedudukan dan bagian Ahli waris pengganti dalam hukum

    Islam”. 2014.10

    Kesimpulan dari penelitian yang terkait dengan penelitian saya ni adalah,

    memiliki sisi kesamaan yaitu tentang munculnya istilah dzawil arham, yang

    menurutnya pada awalnya ahli waris pengganti tidak dikenal dalam konsep

    Hukum kewarisan Islam yang ada dalam kitab-kitab fiqh yang kemudian hal ini

    dianggap dapat menimbulkan rasa ketidakadilan bagi para ahli waris pengganti,

    sehingga atas dasar inilah kemudian dilakukan ijtihad guna untuk menyelesaikan

    berbagai masalah baru yang bermunculan termasuk ahli waris pengganti.

    Perbedaan penelitian ini dengan penelitian saya yaitu tentang diakuinya

    dzawil arham di Indonesia, dari proses ijtihad inilah kemudian menghasilkan

    adanya unifikasi atau penyatuan berbagai aturan dalam hukum Islam yang

    kemudian disebut Kompilasi Hukum Islam yang di berlakukan di negara

    Indonesia. Di dalam Kompilasi Hukum Islam tersebut terdapat pasal-pasal yang

    9Ibid. h. 40.

    10Alhafidz Limbanadi, “Kedudukan dan bagian Ahli waris pengganti dalam hukum Islam”.

    2014.

  • 8

    mengatur tentang kedudukan juga bagian yang didapat oleh ahli waris pengganti

    yang kemudian pasal-pasal tersebut dapat menjadi dasar pengambilan keputusan

    oleh hakim dalam memenuhi rasa keadilan bagi para ahli waris pengganti.

    2. Judul Tesis “Analisis Yuridis Atas Putusan Nomor: 014/Pdt.P/2014/Pa-Lpk

    Tentang Penetapan Ahli Waris Dzawil Arham Yang Mendapatkan Seluruh Harta

    Warisan Si Pewaris”11

    Kesimpuan dari penelitian tersebut yang terkait dengan penelitian ini adalah

    bahwa memiliki sisi kesamaan yaitu tentang kedudukkan dzawil arham sebagai

    ahli waris diakui oleh Al-Quraan sebagaimana terdapat dalam Surat Al-Anfal ayat

    75, serta Hadist Nabi SAW tentang perkara pemberian harta peninggalan Tsabit

    bin ad-Dahdah yang jatuh kepada anak laki-laki saudaranya yaitu Abu Lubabah.

    Diantaranya juga adalah mengenai faktor-faktor dzawil arham berhak atas harta

    peninggalan seorang ahli waris yaitu menurut penelitian ini ada dua faktor utama,

    yang pertama faktor adanya hubungan nasab, yang kedua tidak adanya kelompok

    ahli waris dzawil furudh (dzul fardin) dan kelompok ahli waris ashabah.

    Perbedaannya dengan penelitian saya ini adalah, Penelitian saya terpokus

    pada masalah pandangan para Ulama‟ tentang apa itu dzawil arham dengan

    masing-masing dalil yang mereka gunakan, tetapi penelitian dari Taufiq Tahrir

    Yufuf Lubis tersebut hanya pokus pada masalah analisis putusan tentang dzawil

    arham yang dapat menerima semua harta warisan dari pewaris.

    3. Judul Tesis, “Kedudukan Cucu Sebagai Ahli Waris Pengganti Berdasarkan

    Ketentuan Kompilasi Hukum Islam”12

    11

    Taufiq Tahrir Yusuf Lubis “Analisis Yuridis Atas Putusan Nomor: 014/Pdt.P/2014/Pa-

    Lpk Tentang Penetapan Ahli Waris Dzawil Arham Yang Mendapatkan Seluruh Harta Warisan Si

    Pewaris”, Universitas Sumatera Utara, 2014.

    http://www.usu.ac.id/

  • 9

    Kesimpulan dari penelitian tersebut yang terkait dengan penelitian ini

    memiliki sisi kesamaan dengan penelitian saya yaitu tentag konsep dzawil arham,

    tetapi hanya pokus pada konsep kompilasi hukum islam yang berlaku di

    Indonesia. Penelitian ini tidak memuat pendapat-pendapat para Ulama‟ atau

    pakar-pakar dalam hukum Islam.

    Perbedaanya dengan penelitian yang saya teliti adalah, bahwa penelitian ini

    hanya mengkonparasikan dzawil arham menurut kompilasi hukum Islam dengan

    dengan dzawil arham menurut al-Qur‟an.Karena di dalam Al Qur‟an telah

    ditetapkan

    hak kepemilikan atas harta bagi setiap manusia, baik laki-laki maupunperempuan

    dengan cara yang sah dan dibenarkan menurut ajaran Islam.

    Seperti yang kita ketahui bahwa di dalam Al Qur‟an telah ditentukan adanya

    ahli waris Ashabah dan ahli waris Dzawil Furudl saja. Ahli waris Ashabah adalah

    ahli waris yang mendapatkan bagian sisa, ahli waris Dzawil Furudl adalah ahli

    waris yang mendapatkan bagian yang telah ditentukan menurut Al Qur‟an.Dan

    apabila pada saat pewaris meninggal dunia tidak meninggalkan seorangpun ahli

    waris, maka harta warisannya wajib diserahkan kepada Baitul Maal untuk

    dipergunakan bagi kemaslahatanagama dan umat Islam.

    4. Judul Tesis “Tinjauan Ahli Waris Pengganti dalam Hukum kewarisan Islam

    dan Hukum Kewarisan KUH Perdata”13

    12

    Taufiq Tri Kusnanto, “Kedudukan Cucu Sebagai Ahli Waris Pengganti Berdasarkan

    Ketentuan Kompilasi Hukum Islam”, Universitas Diponegoro. 2007. 13

    Pasnelyza Karani “Tinjauan Ahli Waris Pengganti dalam Hukum kewarisan Islam dan

    Hukum Kewarisan KUH Perdata”Universitas Diponegoro Semarang. 2010.

  • 10

    Kesimpulan dari penelitian tersebut yang terkait dengan penelitian saya

    yaitu memiliki sisi kesamaan yaitu berbicara sedikit mengenai konsep.Ahli Waris

    Dzawil Arham menurutnya adalah ahli waris yang mempunyai hubungan darah

    dengan pewaris melalui anggota keluarga dari pihak perempuan, yang termasuk

    dalam kategori ini misalnya cucu dari anak perempuan, anak saudara perempuan,

    anak perempuan saudara laki-laki, anak perempuan paman, paman seibu, saudara

    laki-laki ibu dan saudara perempuan ibu/bibi. Diantaranya juga mengenai

    pendapat Para ulama berbeda dalam menentukan apakah ahli waris Dzawil Arham

    dapat mewaris atau tidak.

    Ada dua pendapat yang dikemukakan tentang hal ini, yaitu :

    Pendapat pertama, mengatakan bahwa ada atau tidak ada ahli waris dzawil

    furudl maupun ahli waris asabah, ahli waris dzawil arham tidak dapat mewaris.

    Apabila tidak ada ahli waris dzawil furudl maupun ahli waris asabah, harta

    warisan diserahkan ke Baitulmaal, meskipun ada ahli waris dzawil arham.

    Beberapa ulama yang berpendapat seperti ini, Zaid bin Tsabit, Ibnu Abbas, Imam

    Malik, Imam Syafi‟i dan Ibnu Hazm.

    Pendapat kedua, mengemukakan bahwa apabila tidak ada ahli waris dzawil

    furud maupun ahli waris asabah, ahli waris dzawil arham dapat mewaris.Lebih

    jauh dikatakan bahwa dzawil arham lebih berhak untuk menerima harta warisan

    dibandingkan lainnya.Untuk itu lebih diutamakan untuk menerima harta warisan

    dzawilarham dari pada Baitul Maal. Pendapat ini merupakan jumhur ulama

    diantaranya , Umar bin Khatab, Ibnu Mas‟ud dan Ali bin Abi Thalib, Imam Abu

    Hanifah, Ahmad bin Hambal r.a. Dari kedua pendapat tersebut dapat satu hal yang

  • 11

    jelas bagi kita yaitu sepanjang masih ada ahli waris dzawil furud atau ahli waris

    asabah, ahli waris dzawil arham tak mungkin mewarisi.

    Perbedaan penelitian ini dengan penelitian saya adalah, penelitian ini hanya

    pokus pada masalah tinjauan hukum tentang dzawil arham yang sesuai dengan

    kitab undang-undang hukum perdata yang diakui di Indonesia.

    E. Kerangka Teori

    Menurut bahasa, rahim berarti tempat berdiamnya embrio didalam

    kandungan ibu, kemudian istilah itu mutlak ditunjukkan kepada kerabat, baik

    kerabat dari pihak ayah ataupun ibu, karena kata “ar-rahim” meliputi mereka

    semua. Penggunaan kata arham bagi keluarga atau kerabat sangat populer, baik

    dari segi bahasa lisan ataupun syara‟14

    Beberapa dalil telah menjelaskan tentang makna arham dalam berbagai

    sudut pandang nash sehingga memberikan kesimpulan yang berbeda-beda tentang

    makna dzawil arham.

    Dzawil arham menurut Muhammad Ali as-Shobuni adalah mereka yang

    bukan termasuk golongan ahli waris ashabu al-furudh dan bukan juga termasuk

    golongan ahli waris ashabah seperti paman dari pihak ibu, bibi dari pihak bapak,

    cucu-cucu (laki-laki dan perempuan) dari jalur anak perempuan dan lain

    sebagainya.15

    Menurut Otje Salman dan Mustofa Haffas, dzawil arham adalah mereka

    yang tidak termasuk orang-orang yang tidak mendapatkan bagian waris, yang

    jumlahnya telah ditentukan oleh Qur‟an dan sunnah dan juga tidak termasuk

    14

    Muhammad Ali as-Shabuni, Hukum Waris dalam Syari‟at Islam, h. 199. 15

    Muhammad Ali as-Shobuni. Tafsir ayatil ahkam, (Jakarta: dinamik Berkah Utama), h.

    280.

  • 12

    golongan ashabah. Maka setiap orang yang mempunyai hubungan kekerabatan

    dengan orang yang mati, namun ia tidak mendapatkan warisan, baik dari jalan

    ashabul furudl ataupun ashabah, maka orang tersebut dinamakan dzawil arham.

    Misalnya bibi dari piak ayah, paman dan bibi dari pihak ibu, anak laki-laki dari

    saudara perempuan, cucu laki-laki dari anak perempuan dan sebagainya.16

    Dzawil Arham disebut juga oleh Ahlus sunnah dengan istilah mawali atau

    ahli waris pengganti. Dzawil Arham menurut Alus sunnah adalah laki-laki dan

    perempuan yang tidak berlaku ketetuan didalam al-Qur‟an tentang bagian seorang

    laki-laki sama dengan bagian dua orang perempuan pada kasus tertentu.17

    Mawali Ialah Ahli waris pengganti. Yang dimaksud adalah ahli waris yang

    menggantikan seorang untuk memperoleh bagian warisan yang tadinya akan

    diperoleh orang yang digantikan tersebut. Sebabnya ialah karena orang ang

    digantikan itu adalah orang yang seharusnya menerima warisan kalau dia masih

    hidup, tetapi dalam kasus bersasngkutan dia telah meninggal terlebih dahulu.18

    Para Imam Mujtahid berbeda pendapat mengenai kewarisan dzawil arham,

    mengikuti perbedaan pendapat yang timbul dikalangan para sahabat r.a. dalam

    masalah ini mereka terbagi dalam dua kelompok:

    Kelompok pertama, Berpandangan bahwa dzawil arham tidak berhak

    mendapat warisan. Mereka berkata: “Sesungguhnya harta warisan apabila tidak

    ada golongan ashabul furudl atau gologan ash-habah, diserahakan kepada baitul

    mal dan dipergunakan untuk kepentingan Umat Islam seluruhnya, tidak

    dikhususan buat kepentingan dzawil arham. Konsepsi ini merupakan pendapat dua

    16

    R Otje Salman dan Mustofa Haffas, Hukum Waris Islam, h. 53. 17

    Zaiuddin Ali, Pelaksanaan Hukum Waris DiIndonesia, h. 62. 18

    Sajuti Thalib, Hukum kewarisan Islam diIndonesia, h. 80.

  • 13

    Imam, yaitu Imam Syafi‟i dan Imam Maliki r.a. Pendapat kedua Imam tersebut

    disandarkan kepada sebagian sahabat, seperti Zaid bin Tsabit dan Ibnu Abbas r.a.

    dalam sebagian rawayatnya.19

    Kelompok kedua, mengakui kewarisan dzawil arham, apabila tidak ada ahli

    warits dari golongan ashabul furudh dan golongan ashabul ash-habah. Menurut

    pandangan mereka, dzawil arham lebih berhak mewarisi daripada yang lain, sebab

    mereka memiliki hubungan kekerabatan dengan simati, dan kewarisan merea

    didahulukan daripada baitul mal. Pendapat ini merupakan pendapat dua Imam,

    yakni Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal r.a.. Pendapat kedua tersebut

    disandarkan kepada Ali bin Abi thalib k.w., Umar bin Khatthab, Ibnu Rusyd, dan

    Shabat besar radiyallahu anhum lainnya. Dan pendapat inilah yang lebih banyak

    penganutnya bahkan menjadi mazhab jumhur.20

    F. Metode Penelitian

    Metode yang diguakan dalam penelitian ini adalah:

    1. Jenis dan pendekatan penelitian

    Jenis penelitian ini merupakan penelitian pustaka, yaitu suatu

    usaha untuk mendapatkan data dan atau informasi yang diperlukan

    serta menganalisis suatu permasalahan melalui sumber-sumber

    kepustakaan, penulis menggunakan studi kepustakaan ini

    dimaksudkan untuk memperoleh dan menelaah teori-teori yang

    19

    Muhammad Ali as-Shabuni, Hukum Waris dalam Syari‟at Islam, h. 201. 20 Ibid., h.201.

  • 14

    berhubungan dengan topik dan sekaligus dijadikan sebagai landasan

    teori.21

    2. Sumber Data

    Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah

    subyek dari mana data dapat diperoleh untuk melengkapi penelitian.22

    Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka, karenanya data yang

    diperoleh dari bahan- bahan pustaka adalah berupa sumber data primer

    dan sumber data skunder, yaitu sebagai berikut:

    a. Sumber data primer

    Data primer adalah data yang data yang diperoleh langsung dari

    subyek penelitian dengan menggunakan alat pengambilan langsung

    pada subyek informasi yang dicari. Sumber data primer dalam

    penelitian ini meliputi kitab-kitab yang secara langsung membahas

    terkait dzawil arham baik dari kalangan Syafi‟iyah ataupun

    Hanafiyah, seperti kitab fathul mu‟in dan kitab al-mawarits

    b. Sumber data skunder

    Data skunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain, tidak

    langsung dari subyek penelitiannya, tetapi dapat mendukung atau

    berkaitan dengan tema yang diankat. Dalam penelitian ini.Data

    skundernya adalah antara lain: buku-bukuberbahasa Indonesia yang

    merupakan kutipan dari kitab-kitab kelasik, tafsir-tafsir

    kontemporer.

    21

    Sutrisno Hadi, Metodologi Research 1. h. 82. 22

    Suharsimi Arikunto, 2010, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: PT

    Rineka3 Cipta, h. 171.

  • 15

    3. Tekhnik Analisis Data

    Analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja

    dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya yang menjadi

    satuan yang dapat dikelola, mencari dan menemukan pola, menemukan

    apa yang penting dan apa yang pelajari.23

    Menurut miles dan Huberman ada tiga jenis kegiatan dalam

    analisis data24

    yaitu:

    a. Reduksi Data

    Pada tahap ini peneliti melakukan proses pemilihan dengan

    memisahkan catatan-catatan tertulis peneliti yang diperoleh

    dilapangan, yang tidak relevan dengan obyek penelitian, proses ini

    dilakukan selama penelitian berlangsung. Hal ini dimaksudkan untuk

    menyederhanakan dan memusatkan perhatian terhadap obyek

    penelitian.

    b. Display Data

    Setelah melalui proses pemilihan pada tahap reduksi data, peneliti

    melakukan display data atau penyajian data, yaitu peneliti

    mensistematisasikan keterangan-keterangan atau catatan-catatan yang

    telah dipilih pada tahap reduksi data. Ini dimaksudkan untuk

    memudahkan penarikan kesimpulan pada tahap terakhir, selain itu

    untuk menyederhanakan informasi yang pada akhirnya keterangan-

    keterangan atau data-data tersebut jelas dan mudah dipahami.

    23

    Lexy J. Moleong, Metodologi...,h .248. 24

    Elvinaro Ardianto, Metodologi Penelitian untuk Public Relations Kuantitatif dan Kualitatif, (Bandung: Simbiosa Reekatama Media, 2011), h. 223.

  • 16

    c. Penarikan Simpulan

    Pada tahap terakhir ini, setelah melalui proses reduksi data dan

    penyajian data, peneliti melakukan analisis dari keseluruhan data secara

    utuh yang telah tersistematisasi dengan baik, yang diperoleh selama

    berlangsungnya penelitian. Baru kemudian menarik kesimpulan,

    penarikan kesimpulan dilakukan pada akhir dari kegiatan penelitian

    yang ditandai dengan terkumpul dan tersusunnya data-data yang

    dibutuhkan peneliti.

    4. Tehnik Pengumpulan Data

    Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode

    dokumentasi. Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-

    hal atau literature yang berupa catatan, trankrip, buku, surat kabar,

    majalah dan sebagainya. Adapun maksud metode ini guna

    mendapatkan data tentang dokumen-dokumen yang ada melalui

    sumber-sumber yang berkaitan dengan kajian yang dibahas, baik

    langsung maupun tidak langsung.

    5. Validitas Data

    Validitas data bertujuan untuk membuktikan bahwa apa yang

    diperoleh oleh peneliti sesuai dengan apa yang didapatkan dalam

    penelitian.

    Keabsahan data berkaitan dengan suatu kepastian bahwa yan

    berukur benar-banar merupakan variabel yang ingin diukur.

    Keabsahan data ini juga dapat dicapai dengan proses pengumpulan

  • 17

    data yang tepat, salah satau caranya adalah dengan proses triangulasi

    (teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu

    yang lain diluar data itu untuk keperluan pemeksriksaan atau sebagai

    pembanding data tersebut25

    Dalam hal ini untuk memperoleh validitas data yang peneliti

    inginkan agar penelitian ini menghasilkan penelitian yang tidak

    diragukan validitasnya, maka diperlukan teknik pemeriksaan data atau

    analisis data, dan dalam hal ini teknik yang digunakan adalah

    triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data

    yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan

    pemeriksaan atau sebagai pembanding data tersebut26

    G. Sistematika Pembahasan

    Untuk memudahkan dalam mempelajari materi skripsi ini, sistematika

    pembahasan memegang peranan penting. Adapun sistematika pembahasan skripsi

    dapat ditulis paparan sebagai berikut

    a. Bab I Pendahuluan.

    Di dalam bab ini diuraikan tentang keranka dari penelitian skripsi

    yang berisi latar belakang masalah, konteks penelitian, tujuan penelitian,

    manfaat penelitian, kajian pustaka, kerangka teori metode penelitian dan

    sistematika pembahasan. Bab pendahuluan ini sebagai jembatan awal

    untuk mengantarkan penelitian pada bab selanjutnya.

    25

    Iskandar, Metodologi Penelitian Kualitatif, Cet Pertama, (jakarta : Persada Press, 2009).

    h. 143. 26

    Ibid. h. 154.

  • 18

    b. Bab II Pembahasan.

    Dalam bab ini diuraikan tentang kewarisan dzawil arham dalam

    pandangan ulama‟ Syafi‟iyah, kewarisan dzawil arham dalam pandangan

    ulama‟ Hanafiyah, persamaan dan perbedaan kewarisan dzawil arham

    dalam pandangan ulama‟ mazhab syafi‟iyah dan ulama‟ hanafiyah.

    c. Bab III Penutup

    Dalam bab ini diuraikan tentang temuan studi berupa kesimpulan dari

    keseluruhan pembahasan dan saran rekomendasi dari hasil kesimpulan tersebut.

  • 19

    BAB II

    Pembahasan Dzawil Arham Menurut Syafi’iyah Dan Hanafiyah

    A. Konsep Dzawil Arham menurut Syafi’iyah

    1. Biografi Imam Syafi’i dan Ulama’-ulama’ Syafi’iyah

    Imam Syafi‟i, yang dikenal sebagai pendiri mazhab Syafi‟I adalah:

    Muhammad bin Idris Asy-Syafi‟I Al-uraisyi. Beliau dilahirkan di Ghazzah,

    pada tahun 150 H, bertepatan dengan wafatnya Imam Abu Hanifah.

    Pada usianya yang ke-20, beliau meninggalkan Mekah mempelajari

    ilmu fiqh dari Imam Malik. Merasa masih harus memperdalam

    pengetahuannya, beliau kemudian pergi ke Irak, sekali lagi mempelajari ilmu

    diqh dari murid Imam Abu Hanifah yang masih ada. Dalam perantaunnya

    tersebut, beliau juga sempat mengunjungi Persia, dan beberapa tempat lain.27

    Setelah wafat Imam Malik (179 H), beliau kemudian pergi ke Yaman,

    menetap dan mengajarkan ilmu di sana, bersama Harun al-Rasyid yang telah

    mendengar kehebatan beliau, kemudian meminta beliau untuk dating ke

    Baghdad. Imam Syafi‟i memenuhi undangan tersebut. Sejak saat itu beliau

    dikenal secara lebih luas, dan banyak orang belajar kepadanya. Pada waktu

    itulah mazhab beliau dikenal.

    Tak lama setelah itu, Imam Syafi‟I kembali ke Mekkah dan mengajar

    rombongan jama‟ah hajji yang datang dari berbagai penhuru. Melalui mereka

    inilah, mazhab Syafi‟I menjadi tersebar luas ke penjuru dunia.

    27 Muhammad Jawad Mughniyah. Fiqih Lima Mazhab. (Jakarta: Lentera, 2008) h.xxix

    19

  • 20

    Pada tahun 198 H, beliau pergi ke negeri Mesir. Beliau mengajar di masjid

    Amru bin As. Beliau juga menulis kitab al-Um, Amali Kubra, kitab Risalah,

    Ushul al-Fiqh, dan memperkenalkan. Qaul jadid sebagai mazhab baru.

    Di Mesir inilah akhirnya Imam Syafi‟i wafat, setelah menyebarkan

    ilmu dan manfaat kepada banyak orang. Kitab-kitab beliau hingga kini masih

    dibaca orang, dan makam beliau di Mesir sampai detik ini masih ramai

    diziarahi orang.

    Sedang pengikut-pengikut beliau yang terkenal, masih tetap dibaca

    karyanya sampai saat ini dan dijadikan rujukan oleh peneliti dalam penelitian

    ini adalah : Ali As‟ad, Al-Bakri bin Arif, Ibrahim al-Bajuri, Sayyid Sabik dan

    Muhammad Ali al-Shabuni. 28

    2. Pengertian Dzawil Arham

    Yang dimaksud dengan ahli waris dzawil arham adalah orang-orang yang

    mempunyai hubungan kerabat dengan pewaris, namun tidak dijelaskan

    bagianya dalam al-Qur‟an dan/atau Hadits Nabi sebagai dzawil furudh dan

    tidak pula termasuk sebagai Ashabah. Bila kerabat yang menjadi ashabah

    laki-laki dalam garis keturunan laki-laki, maka dzawil arham itu adalah

    perempuan atau laki-laki melalui garis keturunan perempuan.29

    Menurut Muhammad Ali al-Shobuniy, dzawil arham adalah orang-orang

    yang tidak disebutkan ketentuan bagian mereka didalam al-Qur‟an dan al-

    Sunnah, bukan termasuk orang yang mendapatkan dengan jalan furudh dan

    bukan pula dengan jalan ashabah. Maka setiap orang yang dekat lagi

    28

    Muhammad Jawad Mughniyah. Fiqih Lima Mazhab. h.xxx 29

    Amir Syarifuddin. Garis-Garis Besar Fiqh.(Jakarta: Kencana Prenadamedia Group,

    2003) h.169.

  • 21

    memiliki hubungan kekerabatan dengan orang yang meninggal, tetapi tidak

    mendapatkan harta peninggalan dengan jalan furudh dan dengan jalan

    ashabah, maka mereka adalah dzawil arham. Seperti: kholah, „ammah, anak

    laki-laki saudara perempuan, anak laki-laki dari anak perempuan, dan lain-

    lain.30

    ْزَحاِم ُهُمُذَ َْصَحاِبُ ِوالا

    َْيُسْىاِبا

    ََن ل ًْ ِر

    َُّ ال ُسْوض

    ُاِل وَُ ف

    َخ

    ْا ل

    ََبَناِث َوآل َعَصَباة ك

    ِْدال

    َْوال

    َِتَوا َعمَّ

    ْال

    ْيِرِهمَُْ 31َوغ

    Artinya: Dzawil arham adalah mereka yang bukan tergolong ashabu al-

    furudh dan bukan juga termasuk golongan Ashabah seperti paman dari pihak

    ibu, bibi dari pihak bapak, cucu-cucu dari anak perempuan dan lain

    sebagainya.

    Dalam penjelasan ini dzawil arham adalah mereka yang tidak termasuk

    orang-orang yang tidak mendapatkan bagian waris, yang jumlahnya telah

    ditentukan oleh Qur‟an dan sunnah dan juga tidak termasuk golongan

    ashabah. Maka setiap orang yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan

    orang yang mati, namun ia tidak mendapatkan warisan, baik dari jalan

    ashabul furudl ataupun ashabah, maka orang tersebut dinamakan dzawil

    arham. Misalnya bibi dari pihak ayah, paman dan bibi dari pihak ibu, anak

    laki-laki dari saudara perempuan, cucu laki-laki dari anak perempuan dan

    sebagainya.

    30

    Muhammad Ali al-Shabuniy.Al-Mawarits. (Makkah al-Mukarromah: Daru al-Kutub al-

    Islamiyah, 2010) h.159. 31

    Muhammad Ali as-Shobuni. Tafsir ayatil ahkam, (Jakarta: dinamik Berkah Utama), h.

    280.

  • 22

    ى ِمَنَُْول

    َ ا

    ََقَساَبت

    ْنَّ ال

    َى ا

    ََعال

    ََن هللُا ح َبيَّ

    َى ِبَبْعض ِفْي ِكَخاِب هللِا. ف

    َْول

    َْزَحاِم َبْعُضُهْم ا

    َْىالا

    ُْول

    ُ َوا

    32الْحلِفُ

    Artinya: Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya

    lebih berhak kepada sesamanya (daripada yang bukan kerabat),

    demikian menurut kitabullah.

    Argumentasi yang diambil dari ayat tersebut adalah bahwasanya Allah

    SWT telah menyebutkan sebagian keluarga lebih berhak mewarisi daripada

    selain mereka. Lafaz ulul arham itu pengertianya bersifat umum, meliputi

    semua keluarga, baik mereka dari golongan dzawil farudh atau ash-habah

    atau diluar keduanya, asal masih termasuk kerabat. Dengan demikian lafadh

    tersebut meliputi semua kerabat, tidak membeda-bedakan antara dzawil furud,

    golongan asabah, atau kerabat lainnya. Seolah-olah ayat tersebut berkata:

    “Kerabat dari jihat manapun lebih berhak mewarisi daripada yang lainnya,

    disebabkan adanya hubungan kekerabatan. Jika mereka mempunyai

    hubungan kerabat dengan yang mati, berilah mereka warisan dan tidak boleh

    mendahulukan seseorang pun daripada yang lain”

    3. Ahli Waris Dzawil Arham

    Dzawil Arham itu dapat dikelompokkan pada empat kelompok sesuai

    dengan garis keturunan: 33

    a. Garis keturunan lurus kebawah, yaitu:34

    32

    Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al-Anshori Al-Qurthubi. Al-jami‟ al-

    Ahkami Al-Qur‟an, (Bairut Libanon: darul kutubi „ilmiyah), h. 83. 33

    Ibid. h. 159. 34

    Sayyid Syabik. Fiqh al-Sunnah. (Kairo: Darul Fath, 2009) h. 307.

  • 23

    cucu dari anak perempuan dan keturunannya.

    Anak dari cucu perempuan atau keturunannya

    b. Garis keturunan lurus keatas, yaitu:

    Ayah dari ibu dan seterusnya ke atas

    Ayah dari ibunya ibu dan seterusnya ke atas.

    Ayah dari ibunya ayah dan seterusnya ke atas.

    c. Garis keturunan kesamping pertama, yaitu:

    Anak perempuan dari saudara laki-laki kandung atau seayah dan

    anaknya.

    Anak laki-laki atau perempuan dari saudara seibu dan seterusnya ke

    bawah.

    d. Garis keturunan ke samping kedua, yaitu:

    Saudara perempuan (kandung, seayah dan seibu) dari ayah dan

    anaknya.

    Saudara laki-laki atau perempuan seibu dari ayah dan seterusnya ke

    bawah.

    Saudara laki-laki atau perempuan (kandung, seayah, seibu) dari ibu dan

    seterusnya ke bawah

    4. Kewarisan Dzawil Arham

    Sesungguhnya jika terdapat harta peninggalan orang yang meninggal,

    tetapi tidak ada dzawil furudh dan ashabah, maka harta tersebut dipindahkan

    kepada baitul mal orang muslim, yaitu untuk kemaslahatan orang muslim secara

    umum, tidak boleh diserahkan kepada dzawil arham, sebagaimana pendapat

  • 24

    sebagian para sahabat, seperti Zaid bin Sabit dan Ibnu Abbas dalam sebagian

    riwayat.35

    Menurut Ali al-As‟ad dalam bukunya adalah, apabila seluruh ahli waris

    tidak ada, maka menurut asal madzhab adalah Dzawil Arham tidak bisa dijadikan

    Ahli waris; dan bila hanya ada bagian Ahli Waris maka kelebihan hartanya tidak

    dikembalikan kepada yang ada itu lagi; tetapi semuanya ini menjadi milik baitul

    mal (harta negara)36

    ان لم ًنخظم بيت املال زدما فضل عنهم عليهم غيرالصوجين

    Artinya: Kemudian jika Baitul Mal tidak tertib, maka kelebihan harta bisa

    dikembalikan lagi kepada ahli waris yang ada selain suami/istri dengan

    besar bagian menurut Fardlu masing-masing; kalau tidak ada, maka

    diberikan kepada Dzawil Arham.37

    Menurut Syaikh Ibrahim al-Bajuriy dalam kitabnya bahwa jika baitul

    malnya tidak terorganisir dengan baik, maka harta tersebut tidak boleh diserahkan

    kepadanya, maka sisanya tersebut diserahkan kepada keluarganya setelah diambil

    oleh dzawil furud, kecuali tidak boleh diserahkan kepada suami atau istri, karena

    sebab penyerahannya harus kepada kerabat, bukan karena sebab pertalian suami-

    istri, Seperti seorang istri adalah anak perempuan paman dari garis bapak atau

    anak perempuan bibik dari garis ibu, maka cara penyelesaiannya adalah di berikan

    kepada dzawil furud, kemuadian mencari tahu hubungan tiap-tiap dari

    35

    Ibid. h. 160. 36

    Muhammad Ali al-Shabuniy.Al-Mawarits. (Makkah al-Mukarromah: Daru al-Kutub al-

    Islamiyah, 2010) h.159. 37

    Sayyid Abu Bakar, I‟anah al-Thalibin, (Surabaya: al-Hidayah). H. 225.

  • 25

    keseluruhannya dan diserahkan sisanya kepada yang berhak dengan hubungannya

    untuk mencari keadilan.38

    Dzawil Arham ada sebelas, yaitu: cucu dari anak wanita, anak saudar

    wanita, anak wanita saudara lelaki, anak wanita saudara ayah, saudara lelaki ayah

    seibu, saudara lelaki ibu, saudara wanita ibu, saudara wanita bapak, ayahnya ibu,

    ibunya ayahnya ibu, dan anak lelakinya saudara lelaki seibu.39

    5. Dalil tentang dzawil arham tidak dapat bagian harta peninggalan

    a. Bahwa dasar dalil tentang kewarisan itu diambil dari nash yang qot‟i,

    yaitu al-Qur‟an dan Sunnah Nabi SAW, dan nash yang menunjukkan

    tentang kewarisan dzawil arham ini tidak ditemukan didalam dua nash

    tersebut (al-Qur‟an dan al-Sunnah). Dengan itu kewarisan dzawil arham

    itu tidak punya nash dan dalil, maka jika dzawil arham diberikan warisan,

    maka hukumnya batil.

    b. Dari sebuah hadist:

    لخه الغيرزفع زاسه الي السماء فقال اللهم زجل فيمن جسك عمخه وخا ىملا اسخفت

    ل قال ها اها ذا قال ال ئجسك عمخه وخالخه ال وازث له غيرهما جم قال اًن السا

    ميراث لهماArtinya: Rasulullah SAW pernah memberikan fatwa kepada seseorang

    yang meninggal, yang hanya punya „ammah/bibik (garis bapak)

    dan Kholah/bibik (garis ibu), tidak ada yang lain selain

    keduanya. Maka Nabi SAW berdo‟a kepada Allah SWT untuk

    meminta petunjuk tentang masalah ini, Nabi bersabda: Ya

    Allah, ada seorang laki-laki yang meninggal dengan

    meninggalkan seorang bibik (garis bapak) dan bibik (garis ibu),

    dia tidak punya ahli waris selain keduanya, Malaikat Jibril

    memberitahukan bahwa tidak ada bagian bagi keduanya, dan

    38

    Ibrahim Al Bajuri, Al-Bajuri Ala Ibnu Qasim Al Gozi,(Surabaya : Nurul huda). Juz 2 h.

    75. 39

    Ali As‟ad. Terjemah fathul Mu‟in, (Yogyakarta: Menara Kudus) h. 414.

  • 26

    Nabi bertanya: kemanakah orang bertanya tadi?, maka berkata

    seseorang: inilah saya wahai Rosulullah. Dan Nabi pun

    bersabda: Keduanya (amah dan kholah) tidak mendapatkan

    harta warisan.

    Maka tidak boleh diberikan harta peninggalan itu kepada dzawil

    arham, karena sesungguhnya mempertahankan dengan tanpa ada dalil

    yang menguatkan itu hukumnya batil. Karena itu, pada dasarnya dzawil

    arham tidak mendapatkan harta peninggalan. 40

    c. Apabila harta pusaka itu diserahkan kepada baitul mal, manfaat dan

    faidahnya sangat besar dan menjadi milik bersama seluruh ummat Islam.

    Berbeda halnya kalau diberikan kepada dzawil arham, manfaatnya sedikit

    dan faedahnya hanya dapat dinikmat oleh yang bersangkutan saja.

    Sedangkan qaidah fiqhiyyah telah menetapkan bahwa kemaslahatan umum

    harus didahulukan daripada kemaslahatan khusus. Oleh sebab itu, Baitul

    Mal lebih berhak didahulukan daripada dzawil arham.41

    B. Konsep Dzawil Arham Menurut Hanafiyah

    1. Biografi Imam Abu Hanifah dan Ulama’-ulama’ Hanafiyah

    Imam Abu Hanifah, pendiri mazhab Hanafi, adalah Abu Hanifah An-

    Nukman bin Tsabit bin Zufi At-Tamimi. Beliau masih mempuyai pertalian

    hubungan kekeluargaan dengan Ali bin Abi Thalib ra. Imam Ali bahkan

    pernah berdo‟a bagi Tsabit, yakni agar Allah memberkahi keturunannya. Tak

    40

    Al-Sayyid al-Bakriy bin „Arif. I‟anatu al-thalibin, (Surabaya: Al-Hidayah) juz. 3, h. 225. 41

    Muhammad Ali al-Shabuniy.Al-Mawarits. (Makkah al-Mukarromah: Daru al-Kutub al-

    Islamiyah, 2010) h. 160.

  • 27

    heran jika kemudian dari keturunan Tsabit ini, muncul seorang ulama‟ besar

    seperti Abu Hanifah.42

    Dilahirkan di Kuffah pada tahun 150 H/699 M, pada masa

    pemerintahan Al-Qalid bin Abdul Malik, Abu Hanifah selanjutnya

    menghabisi masa kecil sampai tumbuh dewasa disana. Sejak masih kanak-

    kanak beliau telah mengkaji dan mengahfal al-Qur‟an. Beliau dengan tekun

    senantiasa mengulang-ulang hafalanya, sehingga ayat-ayat suci tersebut tetap

    terjaga dalam ingatanya. Dalam hal memperdalam pengetahuannya tentang

    al-Qur‟an beliau sempat berguru kepada Imam Asin, seorang ulama‟ terkenal

    pada masa itu. Beliau juga belajar fiqih pada ulama‟ yang paling terpandang

    pada masa itu, yakni Hummad bin Abu Sulaiman, tidak kurang dari 18 tahun

    lamanya. Setelah wafat gurunya, Imam Abu Hanifah kemudian mulai

    mengajar dibanyak majelis ilmu di Kuffah.

    Imam Abu HAnifah wafat pada usia 70 tahun. Beliau dimakamkan

    dikuburan khizra. Pada tahun 450 H/1066 M, didirikan lah sebuah sekolah

    yang bernam Jami‟ Abu Hanifah. Sepeninggalan beliau, ajaran beliau tersebar

    melalui murid-murid beliau yang cukup banyak. Seperti Abu Yusuf, Abdullah

    bun Mubarak, Waki‟ bin Jarah ibn hasan as-Saybani dan lain-lain. Sedang

    pengikut-pengikut beliau yang terkenal, masih tetap dibaca karyanya sampai

    saat ini dan dijadikan rujukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah:

    Abdullah bin Mahmud bin Maudud, Muhammad Sulaiman al-Mannaniy.

    42 Muhammad Jawad Mughniyah. Fiqih Lima Mazhab. (Jakarta: Lentera, 2008) h.xxv

  • 28

    2. Pengertian dzawil arham

    43وذوو ألازحام كل قسيب ليس بري سهم وال عصبت

    Artinya: Dzawil arham adalah setiap kerabat yang bukan termasuk orang

    yang mendapatkan saham dan bukan juga termasuk orang yang

    mendapatkan ashabah.

    Yang dimaksud dengan ahli waris dzawil arham adalah orang-orang

    yang mempunyai hubungan kerabat dengan pewaris, namun tidak dijelaskan

    bagianya dalam al-Qur‟an dan/atau Hadits Nabi sebagai orang yang

    mendapatkan saham dan tidak pula termasuk sebagai ashabah.

    3. Dalil tentang dzawil arham bisa mendapatkan harta peninggalan

    Mazhab hanafiyah memberikan argumentasi dengan menggunakan al-

    Qur‟an, al-Sunnah dan akal.

    a. Adapun yang terdapat di dalam al-Qur‟an yaitu Firman Allah:

    ىُ َل وأ

    َُضُہمأ أ َحاِم َبعأ زأ

    َ أ ٱۡل

    ْىا

    ُْول

    ُِب َوأ

    ٍ۬ ِفى ِكَخـ ض

    ِبَبعأ

    ِهَُّ44ُُ ٱلل

    Artinya: Dzawil arham itu lebih utama diberikan kepada mereka dari

    pada sebagian yang lain, demikianlah yang terdapat didalam

    kitab Allah.

    Argumentasi yang diambil dari ayat tersebut adalah bahwasanya

    Allah SWT telah menyebutkan sebagian keluarga lebih berhak mewarisi

    43Abdullah bin Mahmud bin Maudud. Al-Ikhtiyar lita‟lili al-Mukhtar. (Libanon: Bairut,

    2005) h. 112. 44

    Q.S. al-Anfal [8]: 75.

  • 29

    daripada selain mereka. Lafaz ulul arham itu pengertianya bersifat umum,

    meliputi semua keluarga, baik mereka dari golongan ashabul farudh atau

    ash-habah atau diluar keduanya, asala masih termasuk kerabat.Dengan

    demikian lafadh tersebut meliputi semua kerabat, tidak membeda-bedakan

    antara ashabul furud, golongan asabah, atau kerabat lainnya. Seolah-olah

    ayat tersebut berkata: “Kerabat dari jihat manapun lebih berhak mewarisi

    daripada yang lainnya, disebabkan adanya hubungan kekerabatan. Jika

    mereka mempunyai hubungan kerabat dengan yang mati, berilah mereka

    warisan dan tidak boleh mendahulukan seseorang pun daripada yang

    lain”.45

    Maka Tidak diragukan lagi bahwa dzawil arham termasuk yang

    disebutkan oleh keumuman ayat tersebut, bukanlah seperti yang kelompok

    pertama sebutkan, yakni intisari maksud ayat, tapi justru dari tuntunan ayat

    itu sendiri, sesungguhnya setiap kerabat lebih berhak mewarisi harta

    kerabatnya daripada orang lain. Dengan demikian dzawil arham lebih

    berhak mewarisi daripada baitul mal orang muslim.

    b. Dalil dari al-Qur‟an juga

    ِلَداِن لل َى أَسَك ٱل

    َا ج مَّ ِصيٞب ّمِ

    َِء ه

    َٓسا ِ

    َّسُبىَن َوِللن

    أقَ أِلَداِن َوٱۡل َى

    أَسَك ٱل

    َا ج مَّ ِصيٞب ّمِ

    َّسَِجاِل ه

    ُسوٗضا فأ ِصيٗبا مَََّرَۚ ه

    ُثَوأ ك

    َُه أ لَّ ِمنأ

    َا ق َسُبىَن ِممَّ

    أقَ أَُوٱۡل

    Artinya: Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-

    bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian

    (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik

    sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.46

    45

    Muhammad Ali al-Shabuniy. Al-Mawarits. (Makkah al-Mukarromah: Daru al-Kutub al-

    Islamiyah, 2010) h.161. 46

    Surat al-Nisa‟ [4]: 7.

  • 30

    Sisi argumentasi ayat ini adalah, bahwasanya Allah SWT menyebutkan

    setiap laki-laki dan perempuan memiliki bagian dalam harta peninggalan

    keluarga dan kerabat mereka.47

    Sesungguhnya ayat tersebut jelas menyebutkan tentang kerabat,

    dan memperjelas bahwa mereka memiliki bagian dalam harta peninggalan

    keluarga dan kerabat mereka, entah yang didapatkan itu sedikit ataupun

    banyak.Menurut kesepakatan kebanyakan Ulama‟ berpendapat bahwa

    dzawil arham itu adalah bagian dari kerabat, dengan begitu mereka sangat

    berhak untuk mendapatkan bagian harta peninggalan keluarga dan kerabat

    mereka karena dalil ini.48

    Ayat ini juga menasakh praktik waris mewarisi yang pernah

    dilakukan pada permulaan datangnya islam yaitu dengan sebab al-Mualat

    dan al-Muakhat dalam agama, atau dengan sebab al-Hijrah dan al-Nashrah

    (Hijrah dan Pertolongan).

    Sesungguhnya Syari‟at Islam menetapkan kewarisan para kerabat,

    bukan selain mereka saja yang pernah disebutkan bagiannya dalam ayat-

    ayat tentang mawarits. Akan tetapi ayat ini sesungguhnya mensyari‟atkan

    kewarisan bagi semua kerabat, bukan kepada beberapa golongan saja,

    maka ayat yang kami sebutkan ini sungguh menjadi petunjuk yang jelas

    tentang kewarisan dzawil arham.

    47

    Muhammad Ali al-Shabuniy. Al-Mawarits. (Makkah al-Mukarromah: Daru al-Kutub al-

    Islamiyah, 2010) h.163. 48

    Ibid., h. 161.

  • 31

    c. Adapun dalam Sunnah Nabi SAW.

    َرُجُنَََّزِنّيِ أ

    ُ ِْه اْل

    َِّر ْبِن َعْبِد الل

    ْا ُحَمْيٌد َعْن َبك

    ََبَرن

    ْخ

    َ أ

    َا َيِزيُد ْبُن َهاُرون

    ََبَرن

    ْخ

    ََك أ

    َ َهل

    اًل

    ِصيَب َ ن

    َة

    َال

    َخ

    ْى ال

    َْعط

    َِخ َوأ

    َ ِْصيَب ْلا

    َ ن

    َة َعمَّ

    ْى ُعَمُر ال

    َْعط

    َأَُه ف

    َتَال

    َُه َوخ

    َت َرَك َعمَّ

    ََوت

    ِتُْخ

    ُ ْ )رواه الدارمي( ْلا

    Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Harun telah

    mengabarkan kepada kami Humaid dari Bakr bin Abdullah Al

    Muzani bahwa ada seorang laki-laki meninggal dunia dan

    meninggalkan seorang bibi dari pihak ayah dan bibi dari pihak

    ibu. Maka Umar memberikan bagian kepada bibi dari pihak

    ayah seperti bagian saudara laki-laki dan memberikan kepada

    bibi dari pihak ibu seperti bagian saudara perempuan. (HR.

    Darimi No.2922).

    Maka Hadits ini menunjukkan tentang bahwa kerabat yang termasuk

    golongan dzawil arham itu dapat menerima harta warisan selama tidak

    adanya ahli waris dari golongan dzawil furudh dan golongan ashabah.

    d. Dalil yang digunakan juga dari sebuah riwayat:49 bahwa seorang laki-laki

    pernah menembak Sahal bin Hunaif dengan fanah, kemudian Ia

    meninggal, dan dia tidak punya ahli waris melainkan hanya ada paman

    daris garis ibunya (al-Khal). Maka Abu Ubaidah bin Jarah melapor kepada

    Sayyidina Umar bin al-Khattab untuk menanyai tentang hal tersebut, maka

    Sayyidina Umar pun menjawab: bahwa Nabi saw. Pernah bersabda:50

    51ُالخال وازث من ال وازث له

    Artinya: Paman (dari garis ibu) adalah ahli waris orang yang tidak punya

    ahli waris.

    49

    Abu Abdullah Muhammad bin Yazid, Sunan Ibnu Majah (Daru Ihya‟ al-Kutub al-

    „Arabiyah), h. 914. 50

    Abu Isa Muhamad bin „Isa bin Surah, Sunan al-Tirmizi, h. 421. 51

    Sunan Abu Dawud, (Bairut: Maktabah al-„Asriyyah), h. 123.

    https://www.mutiarahadits.com/83/33/76/warisan-dzawil-arham.htmhttps://www.mutiarahadits.com/83/33/76/warisan-dzawil-arham.htm

  • 32

    Maka cerita ini dan apa yang telah diberitahukan oleh Umar al-

    faruq dari nabi SAW menjadi dalil tentang kewarisan dzawil arham,

    karena al-khal (Paman dari garis bapak) bukan lah termasuk dzawil furudh

    dan bukan juga termasuk dari golongan yang mendapatkan ashabah

    berdasarkan kesepakatan para Ulama‟. Sesungguhnya telah diriwayatkan

    dari Nabi SAW bahwa al-Khal (paman dari garis Ibu) adalah termasuk ahli

    waris ketika tidak ada ahli waris yang lebih utama untuk mewarisi harta

    peninggalan.52

    e. Adapun dalil yang di gunakan berdasarkan akal pikiran, yaitu mereka

    berkata sesungguhnya dzawil arham lebih berhak mendapatkan warisan

    daripada baitul mal orang muslim.53 Oleh karena itu, sesungguhya baitul

    mal orang muslim berhubungan dengan mayit dengan satu hubungan saja

    yaitu hubungan keislaman dengan memandang mayit adalah orang

    muslim.

    Adapun dzawil arham berhubungan dengan orang meninggal

    dalam dua hubungan yang pertama hubungan keislaman dan yang kedua

    hubungan kekerabatan. Siapa saja yang memiliki sistim kekerabatan dari

    dua sisi, maka sesungguhnya lebih kuat daripada orang yang memiliki

    hubungan kekerabatan hanya dari satu sisi seperti saudara sekandung yang

    apabila berkumpul bersama saudara sebapak maka harta tersebut

    semuanya diberikan kepada saudara sekandung,karana hubungan karena

    52

    Muhammad Ali al-Shabuniy.Al-Mawarits. (Makkah al-Mukarromah: Daru al-Kutub al-

    Islamiyah, 2010) h.. 162. 53

    Abdullah bin Mahmud bin Maudud. Al-Ikhtiyar lita‟lili al-Mukhtar. (Libanon: Bairut,

    2005) h. 113.

  • 33

    hubungan kekerabatannya dari dua sisi yaitu dari sisi bapak dan sisi ibu

    maka begitu jugalah dzawil arham.

    f. Dalil berdasarkan akal fikiran yaitu: Sesungguhnya kekerabatan itu pada

    dasarnya merupakan sebab berhak mendapatkan harta peninggalan,

    kecuali bahwa kekerabatannya itu lebih jauh dari semua kerabat yang ada.

    Maka setiap harta peninggalan yang masih memiliki hak untuk

    mewarisinya, maka tidak boleh harta tersebut diserahkan kepada baitul

    mal.54

    ال ًجىش صسفه إلى بيت املال

    Setiap orang muslim dipandang dekat secara keseluruhan kepada

    agama Islam, dan mereka pun (dzawil arham) dekat dengan orang yang

    meninggal dari segi kekerabatan. Orang yang memiliki kedekatan dari dua

    sisi lebih utama dari pada yang dekatnya hanya dari satu sisi.

    4. Cara mendapatkan warisan dzawil arham

    Dan orang-orang yang berpendapat tentang kewarisan dzawil arham

    menurut jumuhur ulama‟ mereka berbeda pendapat tentang jalan dan cara mereka

    mendapatkan warisan . Para ulama membaginya menjadi tiga mazhab, yaitu:55

    a. Mazhab Ahlu Al-Rahim

    b. Mazhab Ahlu Al-tanzil

    c. Mazhab Ahlu Al-Qarabah

    54

    Abdullah bin Mahmud bin Maudud. Al-Ikhtiyar lita‟lili al-Mukhtar. (Libanon: Bairut,

    2005) h. 112. 55

    Muhammad Ali al-Shabuniy.Al-Mawarits. (Makkah al-Mukarromah: Daru al-Kutub al-

    Islamiyah, 2010) h. 164.

  • 34

    Adapun mazhab yang pertama yaitu mazhab ahlu Al-rohim mereka berkata

    dengan cara meratakan diantara dzawil arham dengan tanpa membedakan

    kerabat yang lebih dekat dengan kerabat yang lebih jauh, tidak juga diantara

    yang laki-laki dan yang permpuan,maka setiap dzawil arham itu mendapatkan

    warisan menurut pendapat mereka. Karena sebab mereka mendapatkan

    warisan dengan jalan satu nasab, dan itu dibenarkan menurut kebanyakan

    pendapat maka mereka mendapatkan warisan dengan cara di samaratakan.

    Apabila seseorang meninggal dunia umpamanya dengan meninggalkan cucu

    perempuan dari anak perempuan, anak perempuan dari saudara perempuan,

    bibik dari garis bapak, bibik dari garis ibu dan anak saudara seibu, maka

    semuanya mendapatkan bagian harta peninggalan dengan disamaratakan .

    Maka dinamakan mazhab ini dengan mazhab Ahlu al-rahim karna mereka

    berpendapat bahwa tidak boleh membedakan yang satu dengan yang lain

    dalam pembagian harta peninggalan, dan tidak boleh juga memandang sisi

    kuatnya kekerabatan atau lemahnya dengan memandang kerabat yang sedarah

    maka diratakanlah semuanya.56

    Mazhab ini tidak terlalu populer bahkan lemah dan tidak banyak dipakai

    karna orang yang berpendapat tentang hal itu, mereka tidak membuatnya

    dengan kaidah-kaidah ilmiah karna itu dia tidak terlalu banyak dipakai. Dan

    tidak ada seorang fuqaha‟ dan imam mujtahid pun yang menggunakannya.

    56

    Muhammad Ali al-Shabuniy. Al-Mawarits. (Makkah al-Mukarromah: Daru al-Kutub al-

    Islamiyah, 2010) h.163. h.164.

  • 35

    Adapun mazhab yang kedua yaitu mazhab ahlu al-Tanzil, mazhab ini di

    namakan mazhab ahlu al-tanzil karna mereka menempatkan posisi ahli waris

    dzawil arham pada posisi ahli waris asalnya. Mereka tidak memandang ahli

    waris yang ada, akan tetapi mereka memandang pada yang ahli waris yang

    menunjukkan furu‟ ashabul furud dan ashabah, maka mereka memberikan

    yang ada pada bagiannya seperti bagian ahli waris pada asalnya.

    Mazhab ini dianut oleh imam ahmad R.ha karena itu di anut oleh ulama‟-

    ulama‟ muataakhirin dari kalangan mazhab syafi‟I dan mazhab maliki karena

    itu kami perlu memberikan contoh untuk menjelaskan tentang mazhab ini 57

    a. Jikalau seseorang meninggal dengan meninggalkan cucu perempuan

    dari anak perempuan, anak laki-laki saudari sekandung, anak

    perempuan saudara sebapak, disamakan seperti seakan akan seseorang

    meninggal dengan meninggalkan anak perempuan, saudari sekandung,

    dan saudara sebapak. Maka mereka memberikan kepada cucu

    perempuan dari anak perempuan itu ½ yaitu bagian ibunya yang

    menunjukkan kepadanya, anak laki – laki dari saudara perempuan

    mereka memberikannya juga ½ yaitu bagian ibunya, dan tidak ada

    bagian bagi anak perempuan saudara sebapak. Karena yang

    sekandung dapat menjadi ashobah bersama anak perempuan, dan anak

    57

    Muhammad Ali al-Shabuniy. Al-Mawarits. (Makkah al-Mukarromah: Daru al-Kutub al-

    Islamiyah, 2010). h.165.

  • 36

    perempuan itu mendapatkan sisa, dan terhijab saudara sebapak

    begitulah bagiannya.58

    Lihatlah tabel dibawah ini:

    Ahli waris Bagiannya

    Cucu perempuan dari anak

    perempuan / Anak Perempuan

    ½

    Anak laki-laki saudari sekandung

    / Saudari Sekandung

    ½ Ashabah

    Anak perempuan saudara sebapak

    / Saudara Sebapak

    Dihijab oleh saudari sekandung

    b. Seseorang yang mati dengan meninggalkan anak perempuan dari

    saudari sekandung, anak perempuan dari saudari sebapak, anak laki-

    laki dari saudari seibu, dan anak perempuan paman sekandung. Maka

    untuk anak perempuan saudari sekandung ½ , untuk perempuan

    saudari sebapak 1/6 yang menyamai 2/3, anak laki-laki dari saudari

    seibu 1/6 dengan jalan furud, anak perempuan paman sekandung

    mendapatkan sisa dengan dijadikan ashabah, demikianlah dengan

    memandang pada asalnya. Maka seakan akan orang yang mati tersebut

    meninggalkan saudari sekandung, saudari sebapak, saudari seibuk, dan

    paman sekandung. Maka bagian daripada yang sekandung ½ , bagian

    saudari sebapak 1/6 bagian saudari seibu 1/6 dan untuk paman

    sekandung ialah sisa, kemudian dipindahlah warisan seluruhnya

    kepada furu‟ nya maka yang jadi ahli waris mereka adalah yaitu yang

    58

    Muhammad Sulaiman al-Mannanniy. Al-Jauharah al-Nairah ala syarhi mukhtashar al-

    Quduri fi furu‟I al- Hanafiyah. h. 148.

  • 37

    mendapatkan warisan dari furu‟nya dan yang terhijab itu di hijab oleh

    furu‟nya .59

    Lihatlah tabel dibawah ini:

    Ahli waris Bagiannya

    Anak perempuan dari saudari

    sekandung / Saudari Sekandung

    ½

    Anak perempuan dari saudari

    sebapak / Saudari Sebapak

    1/6

    Anak laki-laki dari saudari seibu /

    Saudari seibu

    1/6

    Anak perempuan paman

    sekandung / Paman Sekandung

    1/6 dengan jalan ashabah

    Kemudian di pindahlah bagian dari keluruhannya kepada furu‟nya

    c. Seseorang mati dengan meninggalkan cucu perempuan, anak laki-laki

    saudari sekandung, anak laki-laki saudara sekandung, dan anak

    perempuan saudara sebapak. Seakan – akan yang meninggalkan seperti

    anak perempuan, saudari sekandung, saudari seibu, dan saudara

    sebapak. Lihatlah tabel dibawah ini:

    Ahli waris Bagiannya

    Cucu perempuan / Anak

    perempuan

    ½ dengan jalan furud

    Anak laki-laki saudari sekandung/ ½ dengan jalan ashabah

    59

    Muhammad Ali al-Shabuniy. Al-Mawarits. (Makkah al-Mukarromah: Daru al-Kutub al-

    Islamiyah, 2010). h.165.

  • 38

    Saudari sekandung

    Anak laki-laki saudari sekandung/

    Saudari seibu

    Dihijab oleh anak perempuan

    Anak perempuan saudara

    sebapak/ Saudari sebapak

    Dihijab oleh saudari sekandung

    Maka yang menjadi ahli waris dalam masalah ini cucu perempuan dari

    anak perempuan mengambil bagian ibunya, dan anak laki-laki saudari

    sekandung mengambil bagian ibunya dan untuk anak saudari seibu dan

    anak saudara sebapak itu tidak mendapatkan bagian .60

    d. Seseorang yang mati dengan meninggalkan bibik dari garis bapak dan

    bibik dari garis ibu, maka untuk bibik dari garis bapak mendapatkan

    2/3 dan untuk bibik dari garis ibu mendapatkan 1/3. Sesungguhnya

    seakan akan yang mati tersebut adalah bapak dan ibu. Maka untuk

    bapak mendapatkan 2/3 dan untuk ibu 1 / 3 , karna bibik dari garis

    bapak sesungguhnya menunjukkan pada bapak karena dia adalah

    saudari bapak dan bibik dari garis ibu menujukkan kepada ibu, karna

    dia adalah saudari ibu. Maka dipindahlah bagian asalnya kepada

    furu‟nya, dan diberikan yang dianggap berhak mendapatkan warisan.

    Lihatlah tabel dibawah ini:

    Ahli waris Bagiannya

    Bibik dari garis bapak / bapak 2/3

    60

    Muhammad Ali al-Shabuniy. Al-Mawarits. (Makkah al-Mukarromah: Daru al-Kutub al-

    Islamiyah, 2010). h. 166.

  • 39

    Bibik dari garis ibu / ibu 1/3

    Sesungguhnya yang menggunakan mazhab ini memberikan dalil

    untuk memperkuat mazhab mereka seperti apa yang telah diriwayatkan

    dari nabi SAW bahwasanya telah memberikan warisan kepada bibik

    dari garis bapak dan bibik dari garis ibu dan tidak ada ahli waris lain

    daripada keduanya. Maka diberikanlah kepada bibik dari garis bapak

    2/3 dan di berikan kepada bibik dari garis ibu 1/3 .

    Mereka juga memberikan dalil dengan fatwa ibnu mas‟ud r.a.

    sesungguhnya di pernah menghadapi suatu masalah tentang yang ada

    cucu perempuan dari anak perempuan dan anak perempuan saudari

    sekandung. Maka ibu mas‟ud memberikan harta tersebut pada

    keduanya sama- sama ½, untuk cucu perempuan dari anak perempuan

    ½ dan anak perempuan saudari sekandung ½. sesungguhnya perbuatan

    Nabi SAW disandarkan kepada fatwa ibnu mas‟ud yang dapat

    menguatkan pendapat kami tentang dzawil arham dapat mendapatkan

    warisan bukan karena disandarkan pada orang lain akan tetapi

    disandarkan kepada orang orang yang menunjukkan kepada mereka

    dari ashabul furud atau ashabah . 61

    Maka tentang kewarisan dzawil arham tidak dapat di pegang

    kecuali ada nash - nash yang umum, tidak ada yang menjelaskan

    ukuran pendapatannya dan tidak ada juga jalan kekuatannya akan

    tetapi di pandang kepada asalnya yang dapat menunjukkan kepada

    61

    Muhammad Ali al-Shabuniy. Al-Mawarits. (Makkah al-Mukarromah: Daru al-Kutub al-

    Islamiyah, 2010). h. 167.

  • 40

    mereka bahwa lebih berhak dan lebih utama, karna sesungguhnya

    ashbul furud dan ashabah itu telah dijelaskan bagian bagian mereka

    dan furd-furd mereka dengan jelas. Tidak ada jalan bagi kita untuk

    mengetahui bagian bagian dzawil arham kecuali dengan

    mengembalikannya kepada asal nya yang menujukkan kepada mereka

    maka jadilah ini dikuatkan menurut pendapat yang menganut mazhab

    ini.

    Adapun mazhab ketiga adalah mazhab ahlu al-qorobah, yaitu

    mazhab yang memandang kewarisan dzawil arham derajatnya lebih

    dekat dan kekrabatannya kuat, di qiyaskan seperti ashabah yang

    diberikan kepada yang berhak yaitu laki-laki yang paling dekat dengan

    orang yang meninggal, mazhab ini dinamakan dengan mazhab ahlu al-

    qorobah karena dipegang dari sisi derajat kekerabatannya dan

    kekuatannya. Sesungguhnya mazhab ini membagi dzawil arham

    menjadi beberapa bagian sebagaimana keadaan yang ada dalam

    pembagian ashabah menjadi beberapa bagian. Mereka memandang

    kekuatannya itu dengan derajat yang paling dekat kemudian yang

    kerabat yang paling kuat, bahwa laki-laki mendapatkan bagian seperti

    dua bagian perempuan (للركس مثل حظ الاهثيين) sebagaimana yang ada

    dalam pembagian ashabah. Mazhab ini dianut oleh Ali bin Abi Thalib

    ra, karena itu diambil oleh imam mazhab hanapi . 62

    62

    Muhammad Sulaiman al-Mannanniy. Al-Jauharah al-Nairah ala syarhi mukhtashar al-

    Quduri fi furu‟I al- Hanafiyah. h. 148.

  • 41

    5. Kelompok dzawil arham

    Sesungguhnya mazhab Ahlu Al-qorobah telah membagi bagian dzawil

    arham menjadi 4 bagian. Mazhab ini menjadikan setiap bagian dzawil arham

    untuk furu‟-furu‟ dan ketentuannya sebagai mana mereka menjelaskan tentang

    tatacara pembagian tiap-tiap bagian ini. Kami akan menyebutkan bagian-bagian

    secara terperinci beserta contoh-contohnya secara berurutan .63

    a. Kerabat yang memiliki hubungan dengan mayit

    b. Kerabat yang memiliki hubungkan melalui mayit

    c. Kerabat yang memiliki hubungan dengan orang tua mayit

    d. Kerabat yang berhubungan dengan kakek dan atau nenek si mayit

    Bagian pertama yaitu Kerabat yang memiliki hubungan dengan mayit

    yaitu :

    1) Cucu (laki-laki/perempuan) dari jalan anak perempuan dan terus

    kebawah

    2) Anak (laki-laki/perempuan) dari cucu perempuan anak laki-laki dan

    terus kebawah

    Bagian yang kedua kerabat yang memiliki hubungkan melalui mayit

    1) Kakek yang tidak shahih dan terus keatas, sperti bapaknya ibu, dan

    bapak bapaknya si ibu

    2) Nenek yang tidak shahih dan terus keatas, seperti ibu bapaknya si ibu

    dan ibu ibu bapaknya si ibu.

    63

    Muhammad Ali al-Shabuniy. Al-Mawarits. (Makkah al-Mukarromah: Daru al-Kutub al-

    Islamiyah, 2010). h. 167.

  • 42

    Bagian ketiga yaitu kerabat yang memiliki hubungkan kepada orang tua si

    mayit yaitu

    1) Anak (laki-laki/perempuan) saudara perempuan sekandung atau

    sebapak atau seibu64

    2) Anak perempuan saudara sekandung atau sebapak atau seibu dan anak

    perempuan bapak bapak mereka dan terus kebawah

    3) Anak laki-laki saudara seibu dan anak anak mereka terus kebawah,

    seperti anak laki-laki saudara seibu, cucu laki-laki saudara seibu atau

    cucu perempuan dari anak laki-laki saudara seibu.

    Bagian keempat kerabat yang memilik hubungkan kepada kakek dan atau

    nenek simayit dari sisi bapaknya atau sisi ibunya :65

    1) Bibik – bibik dari jalan bapak simayit sekandung atau sebapak atau

    seibu, paman-pamannya dari jalan ibu simayit dan bibik-bibik dari

    jalan ibu simayit dan paman-paman dari jalan bapak si ibu

    2) Anak-anak (laki-laki/perempuan) bibik dari jalan bapak,bibik dari

    jalan ibu,paman dari jalan ibu,dan anak-anak (laki-laki/perempuan)

    paman dari jalan bapak seibu dan terus kebawah

    3) Bibik-bibik (dari jalan bapak) bapaknya simayit sekandung atau

    sebapak atau seibu, paman-paman dan bibik-bibik (dari jalan ibu)

    sibapak, paman (dari jalan bapak) siibu, bibik ( dari jalan bapak) siibu,

    64

    Muhammad Sulaiman al-Mannanniy. Al-Jauharah al-Nairah ala syarhi mukhtashar al-

    Quduri fi furu‟I al- Hanafiyah, h. 138. 65

    Muhammad Ali al-Shabuniy. Al-Mawarits. (Makkah al-Mukarromah: Daru al-Kutub al-

    Islamiyah, 2010). h. 168.

  • 43

    dan bibik (dari jalan ibu) si ibu, dan bibik (dari jalan ibu) sekandung

    atau sebapak.

    4) Anak (laki-laki/perempuan) bibik (dari jalan bapak) sibapak dan terus

    kebawah

    5) Paman (dari jalan bapak) kakeknys simayit seibu,paman (dari jalan

    bapak) si nenek, paman dan bibik (dari jalan ibu) dan bibik dari jalan

    bapak si kakek dan atau si nenek

    6) Anak dari point 5 dan terus kebawah

    Kesimpulannya, sesungguhnya enam kelompok ini adalah kerabat yang

    dihubungkan kepada kakek dan nenek simayit yaitu bibik dari jalan

    bapak sekandung atau sebapak atau seibu, paman dari jalan bapak

    seibu,paman dan bibik dari jalan ibu, dan anak-anak tiap-tiap dari

    mereka .

    6. Perbedaan antara mazhab ahlu al-Tanzil dan mazhab ahlu al- Qorobah

    Bahwa telah terjadi perbedaan antara mazhab ahlu al-tanzil dan

    mazhab ahlu al-qorobah yaitu seperti apa yang akan datang.66

    a. Mazhab al-tanzil tidak mengatur bagian-bagian tersebut yaitu tidak

    mendahulukan kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Berbeda

    dengan ahlu al-qorobah mendahulukan kelompok yang satu dengan

    kelompok yang lain karna membandingkan dengan ashobah bin nafsi .

    66

    Muhammad Ali al-Shabuniy. Al-Mawarits. (Makkah al-Mukarromah: Daru al-Kutub al-

    Islamiyah, 2010) h.163. h. 169.

  • 44

    b. Sesungguhnya pendapat ahlu al-tanzil m