38
Konjungtivitis Vernalis Verawaty 102010051 Mahasiswi Fakultas Kedokteran Kristen Krida Wacana, Jalan Arjuna Utara 6 Jakarta Barat, E-mail: [email protected] Pendahuluan Mata merah merupakan keluhan penderita yang sering kita temui maupun kita dengar. Mata terlihat merah akibat melebarnya pembuluh darah konjungtiva yang terjadi pada peradangan mata akut misalnya pada keratitis, iritis, glaucoma akut, dan konjungtivitis. Mata merah yang disebabkan akibat adanya infeksi atau tanpa infeksi, tanpa adanya gangguan pada visus disebut konjungtivitis. Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva (lapisan luar mata dan lapisan dalam kelopak mata) yang disebabkan oleh mikro-organisme (virus, bakteri, jamur, chlamidia), alergi, iritasi bahan-bahan kimia. Insidensi konjungtivitis di Indonesia berkisar antara 2-75%. Data lain menunjukkan bahwa dari 10 penyakit mata utama, konjungtivitis menduduki tempat kedua (9,7%) setelah kelainan refraksi (25,35%).. oleh karena itu pembuatan makalah ini bertujuan agar masyarakat semakin mengetahui konjungtivitis dan bagaimana menanganinya dengan harapan peradangan tersebut tidak meluas ke kornea.

Konjungtivitis virus akut.docx

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Konjungtivitis virus akut.docx

Konjungtivitis VernalisVerawaty

102010051

Mahasiswi Fakultas Kedokteran Kristen Krida Wacana,

Jalan Arjuna Utara 6 Jakarta

Barat,

E-mail: [email protected]

Pendahuluan

Mata merah merupakan keluhan penderita yang sering kita temui maupun kita dengar. Mata

terlihat merah akibat melebarnya pembuluh darah konjungtiva yang terjadi pada peradangan

mata akut misalnya pada keratitis, iritis, glaucoma akut, dan konjungtivitis. Mata merah yang

disebabkan akibat adanya infeksi atau tanpa infeksi, tanpa adanya gangguan pada visus

disebut konjungtivitis.

Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva (lapisan luar mata dan lapisan dalam

kelopak mata) yang disebabkan oleh mikro-organisme (virus, bakteri, jamur, chlamidia),

alergi, iritasi bahan-bahan kimia. Insidensi konjungtivitis di Indonesia berkisar antara 2-75%.

Data lain menunjukkan bahwa dari 10 penyakit mata utama, konjungtivitis menduduki tempat

kedua (9,7%) setelah kelainan refraksi (25,35%).. oleh karena itu pembuatan makalah ini

bertujuan agar masyarakat semakin mengetahui konjungtivitis dan bagaimana menanganinya

dengan harapan peradangan tersebut tidak meluas ke kornea.

Anamnesis

Riwayat Kesehatan Sekarang

Keluhan utama - merupakan keluhan yang dirasakan pasien, sehingga menjadi alasan pasien datang ke rumah sakit : Nyeri, ada pasir dalam mata, gatal, panas dan kemerahan disekitar mata, epipora mata dan sekret.

Sifat keluhan - kronologis dari penyakit yang diderita saat ini mulai awal hingga di bawa ke RS secara lengkap meliputi :

Page 2: Konjungtivitis virus akut.docx

P = Provoking atau Paliatif

Apa penyebab gejala?; Apa yang dapat mengurangi dan memperberat penyakit?; Apa yang dilakukan pada saat gejala mulai dirasakan?

Q = Quality and Quantity

Seberapa tingkat keparahan yang dirasakan klien

R = Regio or Radiation

Pada area mana gejala dirasakan? Sejauh mana penyebarannya?

S = Severity

Tingkat/skala keparahan, Semakin membaik atau memburuk?

T = Time

Kapan gejala mulai muncul?; Seberapa sering dirasakan?; Apakah timbul tiba-tiba atau bertahap?

Riwayat Kesehatan Lalu.

Riwayat Kesehatan Keluarga

Riwayat Sosio-Ekonomi1

Pemeriksaan fisik

1. Pemeriksaan keadaan umum : GCS

Di dapatkan pada kasus kesadaran compos mentis

2. Pemeriksaan tanda-tanda vital :

a) Suhu : subfebris

b) Tekanan darah : (N=120/80 mmHg)

c) Denyut nadi : (N= 80-100 kali/menit)

d) Frekuensi napas : (N=12-18 kali/menit)

3. Inspeksi dan palpasi pada wajah : pada kasus didapatkan limfadenopati preaurikular

4. Pemeriksaan mata dasar

1) Pemeriksaan visus

a. Pasien dapat melihat snellen chart

- Meminta pasien duduk pada jarak 5 atau 6 meter dari Snellen Chart

Page 3: Konjungtivitis virus akut.docx

- Meminta pasien untuk menutup sebelah mata dengan telapak tangan.

Pemeriksaan dimulai dari mata kanan

- Meminta pasien untuk melihat ke depan dengan santai tanpa melirik

- Meminta pasien menyebutkan angka/huruf/symbol yang ditunjuk, dari yang

besar sampai yang terkecil

- Menyebutkan hasil pemeriksaan

- Bila visus pasien tidak normal (6/6 atau 20/20), dilakukan pin hole untuk

melihat adanya perbaikan visus (kelainan pada media refraksi) atau tidak

(kelainan organic). Lihat gambar 1

- Ulangi pemeriksaan pada mata sebelahnya.2

Gambar 1. Snellen chart

b. Pemeriksaan Gerak Bola mata

- Pemeriksa berdiri di depan pasien

- Cek pergerakan kedua bola mata ke 8 arah

c. Pemeriksaan Mata External

- Palpebra : kedua palpebra edema

- Conjunctiva : injeksi konjungtiva reaksi folikel, perdarahan subkonjungtiva,

pseudomembran pada konjungtiva palpebra

- Kornea

- COA

- Iris/Pupil

- Lensa

d. Pemeriksaan Tekanan Bola Mata (Tonometri)

- Pasien diminta menutup mata dan melihat ke bawah

Page 4: Konjungtivitis virus akut.docx

- Pemeriksa meraba rasakan/palpasi bagian sklera atas dengan benar

- Pemeriksa membandingkan dengan penekanan skleranya sendiri

e. Pemeriksaan Lapang pandang (Tes Konforontasi I)

- Pemeriksa dan pasien duduk/ berdiri berhadapan dengan posisi mata sama tinggi

- Menerangkan apa yang akan dilakukan pemeriksa

- Pasien diinstrusikan menutup mata kiri, pemeriksa menutup mata kanan

- Pemeriksa menggerakan jari telunjuk/ benda dari perifer ke tengah

- Instruksikan pesien untuk memberitahu bila telah melihat jari/benda tersebut.

Catatan : pertahankan eye contact antara pasien dengan pemeriksa sepanjang

test ini. Mata tidak boleh melirik ke benda/jari yang digerakkan.

f. Funduskopi

- Lakukan di ruangan gelap dan setengah gelap

- Atur oftalmoskop pada posisi normal. Sesuaikan ukuran lensa oftalmoskop

kurang lebih sama dengan keadaan refraksi pasien.

- Peganglah oftalmoskop dengan cara menggenggam bagian pegangannya,

sedangkan jari telunjuk berada pada panel pengatur ukuran lensa. Pemeriksa

memegang oftalmoskop dengan tangan kanan, dan melihat melalui oftalmoskop

dengan mata kanan, demikian sebaliknya

- Pasien duduk tenang, pandangan di fiksasi pada 1 titik jauh. Tempatkan

oftalmoskop mulai jarak 15-30 cm di depan mata penderita. Cahaya

oftalmoskop diarahkan ke dalam pupil pasien sambil pemeriksa terus mendekat

kea rah pasien.2

- Periksa Funduskopi :

Reflex fundus ● Rasio arteri : vena

Vitreus = jernih/tidak ● Macula lutea

Papil = warna, bentuk,batas ● Retina = eksudat, perdarahan, ablasio

Pemeriksaan penunjang

1. Biopsi

Biopsi konjungtiva dapat membantu pada kasus konjungtivitis yang tidak berespon pada

terapi. Oleh karena mata tersebut mungkin mengandung keganasan, biopsi langsung dapat

menyelamatkan penglihatan dan juga menyelamatkan hidup. Pada kasus dicurigai

Page 5: Konjungtivitis virus akut.docx

karsinoma glandula sebasea, biopsi palpebra seluruh ketebalan diindikasikan. Saat

merencanakan biopsi, konsultasi preoperatif dengan ahli patologi dianjurkan untuk

meyakinkan penanganan dan pewarnaan spesimen yang tepat.

2. Tes darah

Paparan bahan kimiawi langsung terhadap mata dapat mengindikasikan konjungtivitis

toksik/kimiawi. Pada kasus yang dicurigai luka percikan bahan kimia, pH okuler harus

dites dan irigasi mata terus dilakukan hingga pH mencapai 7. Konjungtivitis juga dapat

disebabkan penggunaan lensa kontak atau iritasi mekanikal dari kelopak mata.

3. Tes diagnostik klamidial

Kasus yang dicurigai konjungtivitis klamidial pada dewasa dan neonatus dapat dipastikan

dengan pemeriksaan laboratorium. Tes diagnostik yang berdasarkan imunologikal telah

tersedia, meliputi tes antibodi imunofloresens langsung dan enzyme-linked imunosorbent

assay. Tes ini telah secara luas digantikan oleh PCR untuk spesimen genital, dan, karena

itu, ketersediaannya untuk spesimen konjungtival lebih terbatas. Ketersedian PCR untuk

mengetes sampel okuler beragam. Meskipun spesimen dari mata telah digunakan dengan

performa yang memuaskan, penggunaannya belum diperjelas oleh FDA.

4. Smear/sitologi

Smear untuk sitologi dan pewarnaan khusus (misal gram, giemsa) direkomendasikan pada

kasus dicurigai konjungtivitis infeksi pada neonatus, konjungtivitis kronik atau berulang,

dan pada kasus dicurigai konjungtivitis gonoccocal pada semua grup usia. Pada

konjungtivitis bakteri dengan pewarnaan giemsa ditemukan sel polimorfonuklear.

Sedangkan pada konjungtivitis virus didapatkan sel mononuclear dan limfosit.

5. Kultur virus

Bukan merupakan pemeriksaan rutin untuk menetapkan diagnosa. Tes imunodiagnostik

yang cepat dan dilakukan dalam ruangan menggunakan antigen sudah tersedia untuk

konjungtivitis adenovirus. Tes ini mempunyai sensitifitas 88% sampai 89% dan spesifikasi

91% sampai 94%. Tes imunodiagnostik mungkin tersedia untuk virus lain, tapi tidak

diakui untuk spesimen dari okuler. PCR dapat digunakan untuk mendeteksi DNA virus.

Ketersediannya akan beragam tergantung dari kebijakan laboratorium.1,2,3

Diagnosis kerja

Konjungtivitis alergi

Page 6: Konjungtivitis virus akut.docx

Bentuk radang konjungtiva akibat reaksi alergi terhadap noninfeksi, dapat berupa reaksi cepat

seperti alergi biasa dan reaksi terlambat sesudah beberapa hari kontak seperti pada reaksi

terhadap obat, bakteri, dan toksik. Merupakan reaksi antibodi humoral terhadap alergen.

Biasanya dengan riwayat atopi.

Semua gejala pada konjungtiva akibat konjungtiva bersifat rentan terhadap benda asing.

Gejala utama penyakit alergi ini adalah radang (merah, sakit, bengkak, dan panas), gatal,

silau berulang dan menahun. Tanda karakteristik lainnya adalah terdapatnya papil besar pada

koniungtiva, datang bermusim, yang dapat mengganggu penglihatan. Walaupun penyakit

alergi konjungtiva sering sembuh sendiri akan tetapi dapat memberikan keluhan yang

memerlukan pengobatan. Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan sei eosinofii, sel plasma,

limfosit dan basofil.3

Pengobatan terutama dengan menghindarkan penyebab pencetus penyakit dan memberikan

astringen, sodium kromolin, steroid topikal dosis rendah yang kemudian disusul dengan

kompres dingin untuk menghilangkan edemanya. Pada kasus yang berat dapat diberikan

antihistamin dan steroid sistemik.

Dikenal beberapa macam bentuk konjungtivitis alergi seperti Konjungtivitis flikten,

konjungtivitis vernal, konjungtivitis atopi, konjungtivitis bakteri, konjungtivitis alergi akut,

konjungtivitis alergi kronik, sindrom Stevens Johnson, pemfigoid okuli, dan sindrom

Syogren.

a. Konjungtivitis vernal

Konjungtivitis akibat reaksi hipersensitivitas (tipe l) yang mengenai kedua mata dan

bersifat rekuren. Pada mata ditemukan papil besar dengan permukaan rata pada

konjungtiva tarsal, dengan rasa gatal berat, sekret gelatin yang berisi eosonofil atau

granula eosinofil, pada kornea terdapat keratitis, neovaskularisasi, dan tukak indolen.

Pada tipe limbal terlihat benjolan di daerah limbus, dengan bercak Horner Trantas yang

berwarna keputihan yang terdapat didalam benjolan. (gambar 2)

Secara histologik penonjolan ini adalah suatu hiperplasi dan hialinisasi jaringan ikat

disertai proliferasi sel epitei dan sebukan sel limfosit, sel piasma dan sel eosinofil.

Merupakan penyakit yang dapat rekuren dan bilateral terutama pada musim panas.

Mengenai pasien usia muda antara 3-25 tahun dan kedua jenis kelamin sama. Biasanya

Page 7: Konjungtivitis virus akut.docx

pada laki-laki mulai pada usia di bawah 10 tahun. Penderita konjungtivitis vernal sering

menunjukkan gejala-gejala alergi terhadap tepung sari rumput-rumputan. Dua bentuk

utama (yang dapat berjalan bersama) :

- Bentuk palpebra. Pada tipe palpebra terutama mengenai konjungtiva tarsal superior.

Terdapat pertumbuhan papil yang besar (Coble stone) yang diliputi sekret yang

mukoid. Konjungtiva tarsal bawah hiperemi dan edema, dengan kelainan kornea lebih

berat dibanding bentuk limbal. Secara klinik papil besar initampak sebaga tonjolan

bersegi banyak dengan permukaan yang rata dan dengan kapiler di tengahnya.

- Bentuk limbal, hipertrofi papil pada limbus superior yang dapat membentuk jaringan

hiperplastik gelatin, dengan Trantas dot yang merupakan degenerasi epitel kornea

atau eosinofil di bagian epitel limbus kornea, terbentuknya pannus, dengan sedikit

eosinofil.3

Antihistamin dan desensitisasi mempunyai efek yang ringan. Vasokonstriktor, kromolin

topikal dapat mengurangi pemakaian steroid, siklosporin dapat bermanfaat. Obat anti

inflamasi nonsteroid lainnya tidak banyak manfaat. Pengobatan dengan steroid

topikaltetes dan salep akan dapat menyembuhkan. Hati-hati pemakaian steroid lama. Bila

tidak ada hasil dapat diberikan radiasi, atau dilakukan pengangkatan giant papil.

Penyakit ini biasanya sembuh sendiritanpa diobati. Dapat diberi obat kompres dingin,

natrium karbonat dan obat vasokonstriktor. Kelainan komea dan konjungtiva dapat

diobati dengan natrium cromolyn topikal. Bila terdapat tukak maka diberi antibiotik untuk

mencegah infeksi sekunder disertai dengan sikloplegik.3

b. Konjungtivitis flikten

Merupakan konjungtivitis nodular yang disebabkan alergi terhadap bakteri atau antigen

tertentu. Konjungtivitis flikten disebabkan oleh karena alergi (hipersensitivitas tipe lV)

terhadap tuberkuloprotein, stafilokok, limfogranuloma venerea, leismaniasis, infeksi

parasit, dan infeksi ditempat lain dalam tubuh.

Kelainan ini lebih sering ditemukan pada anak-anak di daerah padat, yang biasanya

dengan gizi kurang atau sering mendapat radang saluran napas. Secara histopatologik

terlihat kumpulan sel leukosit neutrofil dikelilingi sel limfosit, makrofag, dan kadang-

kadang sel datia berinti banyak. Flikten merupakan infiltrasi selular subepitel yang

terutama terdiri atas sel monokular limfosit. Biasanya konjungtivitis flikten terlihat

Page 8: Konjungtivitis virus akut.docx

unilateral dan kadangkadang mengenai kedua mata. Pada konjungtiva terlihat sebagai

bintik putih yang dikelilingi daerah hiperemi. Pada pasien akan terlihat kumpulan

pembuluh darah yang mengelilingi suatu tonjolan bulat dengan warna kuning kelabu

seperti suatu mikroabses yang biasanya terletak di dekat limbus. Biasanya abses ini

menjalar ke arah sentral atau kornea dan terdapat tidak hanya satu. Gejala konjungtivitis

flikten adalah mata berair, iritasi dengan rasa sakit, fotofobia dapat ringan hingga berat.

Bila kornea ikut terkena selain daripada rasa sakit, pasien juga akan merasa silau disertai

blefarospasme. Dapat sembuh sendiri dalam 2 minggu, dengan kemungkinan terjadi

kekambuhan. Keadaan akan lebih berat bila terkena kornea.

Diagnosis banding adalah pinguekula iritan (lokalisasi pada fisura palpebra), ulkus

kornea, okular rosazea, dan keratitis herpes simpleks. Pengobatan pada konjungtivitis

flikten adalah dengan diberi steroid topikal, midriatika bila terjadi penyulit pada kornea,

diberi kacamata hitam karena adanya rasa silau yang sakit. Diperhatikan higiene mata dan

diberi antibiotika salep mata waktu tidur, dan air mata buatan. Sebaiknya dicari

penyebabnya seperti adanya tuberkulosis, blefaritis stafilokokus kronik dan lainnya.

Karena sering terdapat pada anak dengan gizi kurang maka sebaiknya diberikan vitamin

dan makanan tambahan. Penyulit yang dapat ditimbulkan adalah menyebarnya flikten ke

dalam kornea atau terjadinya infeksi sekunder sehingga timbul abses.3

c. Konjungtivitis iatrogenik

Konjungtivitis akibat pengobatan yang diberikan dokter. Berbagai obat dapat memberikan

efek samping pada tubuh, demikian pula pada mata yang dapat terjadi dalam bentuk

konjungtivitis.3

d. Sindrom Steven Johnson

Sindrom Steven Johnson adalah suatu penyakit eritema multiform yang berat (mayor).

penyakit ini sering ditemukan pada orang muda usia sekitar 35 tahun. Penyebabnya

diduga suatu reaksi alergi pada orang yang mempunyai predisposisi alergi terhadap obat-

obat sulfonamid, barbiturat, salisilat. Ada yang beranggapan bahwa penyakit ini idiopatik

dan sering ditemukan sesudah suatu infeksi herpes simpleks. Kelainan ditandai dengan

lesi pada kulit dan mukosa Kelainan pada kulit berupa lesi eritema yang dapat timbul

mendadak dan tersebar secara simetris. Mata merah dengan demam dan kelemahan umum

dan sakit pada sendi merupakah keluhan penderita dengar sindrom Steven Johnson ini.

sindrom ini disertai dengan gejala vesikel pada kulit, bula, dan stomatitis ulseratif. Pada

mata terdapat vaskularisasi kornea parut konjungtiva, konjungtiva kering, simblefaron,

Page 9: Konjungtivitis virus akut.docx

tukak dan perforasi kornea dan dapat mermberikan penyulit endoftalmitis. Kelainan

mukosa dapat berupa korjungtivitis Pseudomembran Pada keadaan lanjut dapat terjadi

kelainan, yang sangat menurunka daya Penglihatan. Pengobatan bersifat simtomatik

dengan pengobatan umur berupa kortikosteroid sistemik dan infus cairan antibiotik.

Pengobatar lokal pada mata berupa pembersihan sekret yang timbul midriatika steroid

topikal dan mencegah simblefaron. Pemberian kortikostero: harus hati-hati terhaciap

adanya infeksi herpes simpleks.3

e. Konjungtivitis atopik

Reaksi alergi selaput lendir mata atau konjungtiva terhadap polen disertai dengan demam.

Memberikan tanda mata berair, bengkak, dan belek berisi eosinofil.3

Gambar 2. Konjungtivitis vernal

Diagnosis banding

Konjungtivitis Bakteri

Konjungtivitis yang disebabkan oleh bakteri, misalnya akibat infeksi gonokokok,

meningokok, Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumonia, Hemophilus influenza dan

Escherischia coli. Memberikan gejala secret mukopurulen dan purulen, kemosis konjungtiva,

edema kelopak, kadang kadang disertai keratitis dan blefaritis. Konjungtivitis bakteri ini

mudah menular pada satu mata ke mata sebelahnya dan menyebar ke orang lain melalui

benda yang dapat menyebarkan kuman. Terdapat 2 bentuk konjungtivitis akut (dapat sembuh

kurang lebih dalam 14 hari) dan biasanya sekunder terhadap penyakit palpebra / obstruksi

duktus nasolakrimalis. 3

Page 10: Konjungtivitis virus akut.docx

Konjuntivitis Bakteri Akut

Konjungtivitis bakteri akut disebabkan oleh Streptokokus, Corynebacterium diphterica,

Pseudomonas, Neisseria dan Hemophilus. Gambaran klinin berupa konjungtivitis

mukopurulen dan konjungtivitis purulen. Perjalanan penyakit akut yang dapat berjalan kronis.

Dengan tanda hiperemi konjungtiva, edema kelopak, papil dan dengan kornea yang jernih.

Pengobatan kadang kadang diberikan sebelum pemeriksaan mikrobiologik dengan antibiotic

tunggal seperti Neosporin, basitrasin, gentamisin, kloramfenicol, tobramisin, eritromisin dan

sulfa. Bila pengobatan tidak memberikan hasil yang baik dengan antisioti setelah 3 – 5 hari

maka pengobatan dihentikan dan tunggu hasil pemeriksaan mikrobiologik. Bila terjadi

penyulit pada kornea maka diberikan sikloplegik. Pada konjungtivitis bakteri sebaiknya

dimintakan pemeriksaan sediaan langsung dan bila ditemukan kumannya, maka pengobatan

disesuaikan. Apabila tidak ditemukan kuman dalam sediaan langsung, maka diberikan

antibiotic spectrum luas dalam bentuk tetes mata tiap jam atau salep mata 4 sampai 5 kali

sehari. Apabila dipakai tetes mata, sebaiknya sebelum yidur diberikan salep mata

(sulfasetamid 10-15% atau kloramfenicol ). Apabila tidak sembuh dalam satu minggu, bila

mungkin dilakukan pemeriksaan resistensi, kemungkinan defisiensi air mata atau

kemungkinan obstruksi duktus nasolakrimal. 3

Konjungtivitis Gonore

Konjungtivitis gonore merupakan radang konjuntiva akut dan hebat disertai dengan secret

purulen. Gonokok merupakan kuman yang sangat pathogen, virulen dan bersifat invasive

sehingga reaksi radang terhadap kuman ini sangat berat. Penyakit kelamin yang disebabkan

oleh gonore merupakan penyakit yang tersebar di seluruh dunia secara endemic.

Pada neonatus, infeksi konjungtiva terjadi pada saat berada pada jalan kelahiran, sedang pada

bayi penyakit ini ditularkan oleh ibu yang sedang menderita penyakit tersebut. Pada dewasa

penyakit ini didapatkan dari penularan penyakit kelamin sendiri. Di klinik kita akan melihat

penyakit ini dalam bentuk oftalmia neonatorum (bayi berusia 1 – 3 hari), konjuntivitis gonore

infantum (usia lebih dari 10 hari) dan konjungtivitis gonore adultorum. Terutama mengenai

golongan muda dan bayi yang ditularkan ibunya, merupakan penyebab utama oftalmia

neonatorum.

Page 11: Konjungtivitis virus akut.docx

Memberikan secret purulen padat dengan masa inkubasi antara 12 jam hingga 5 hari, disertai

perdarahan subkonjungtiva dan konjungtivitis kemotik. Pada orang dewasa terdapat 3

stadium penyakit infiltrative, supuratif dan penyembuhan. Pada stadium infiltrative,

ditemukan kelopak dan konjungtiva yang kaku disertai rasa sakit pada perabaan. Kelopak

mata membengkak dan kaku sehingga sukar dibuka. Terdapat pseudomembran pada

konjungtiva tarsal superior sedangkan konjungtiva bulbi merah, kemotik dan menebal. Pada

dewasa, selaput konjuntiva lebih bengkak dan lebih menonjol dengan gambaran spesifik

gonore dewasa. Pada dewasa terdapat rasa sakit pada mata yang dapat disertai dengan tanda

tanda infeksi umum. Pada umumnya menyerang satu mata terlebih dahulu dan biasanya

kelainan ini pada laki laki didahului mata kanannya.3

Pada stadium supuratif terdapat secret yang kental. Pada bayi biasanya mengenai kedua mata

dengan secret kuning kental. Kadang kadang bila sangat dini secret dapat sereus yang

kemudian menjadi kental dan purulen. Berbeda dengan oftalmia neonatorum, pada dewasa

secret tidak kental sekali. Terdapat pseudomembran yang merupakan kondensasi fibrin pada

permukaan konjungtiva. Pada dewasa penyakit ini berlangsung selama 7 minggu dan tidak

jarang ditemukan pembesaran disertai rasa sakit kelenjar preaurikul. Diagnosis pasti penyakit

ini adalah pemeriksaan secret dengan pewarnaan metilen biru dimana akan terlihat diplokok

didalam sel leukosit. Dengan pewarnaan gram akan terdapat sel intraseluler atau ekstraseluler

dengan sifat gram negative. Pemeriksaan sensitivitas dilakukan pada agar darah dan coklat.

Pengobatan segera dimulai bila pada pewarnaan gram positif diplokok batang intraseluler dan

sangat dicurigai konjungtovitis gonore. Pasien dirawat dan diberikan pengobatan dengan

penisilin salep dan suntikan, pada bayi diberikan 50000 U/kgBB selama 7 hari. Secret

dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air bersih (direbus) atau dengan garam fisiologik

setiap ¼ jam. Penisilin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk larutan penisilin G 10000 –

20000 unit/ ml setiap 1 menit sampai 30 menit. Kemudian salep diberikan setiap 5 menit

sampai 30 menit. Disusul pemberian salep penisilin setiap 1 jam selama 3 hari.

Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan gonokok. Pada stadium

penyembuhan smua gejala sangat berjurang. Pengobatan dihentikan bila pada pemeriksaan

mikroskopik yang dibuat setiap hari menghasilkan 3 kali berturut turut negative. Pengobatan

biasanya dengan perawatan di Rumah Sakit dengan terisolasi, dibersihkan dengan garam

fisiologik, pensilin sodium G 100000 unit/ml, eritromisin topical dan penislin 4,8 juta unit

dibagi 2 kali sistemik.

Page 12: Konjungtivitis virus akut.docx

Cara yang lebih aman ialah mebersihkan mata bayi segera setelah lahir dengan larutan borisi

dan memberikan salep kloranfenicol. Konjungtivitus purulen pada bayi sebaiknya dibedakan

dengan oftalmia neonatorum lainnya seperti klamidia konjungtivitis (inclusion blenore),

infeksi diberikan bakteri lain, virus dan jamur. Saat terlihat penyakit, gambaran klonis serta

hasil pemeriksaan hapus akan membantu untuk menentukan kausa. Pemeriksaan laboratorium

akan memberikan gambaran yang khusus untuk jenis infeksi, yang akan memperlihatkan

tanda tanda infeksi virus, jamur dan bakteri pada pemeriksaan sitologik.3

Oftalmia Neonatorum

Merupakan konjungtivitis purulen hiperakutyang terjadi pada bayi dibawah usia 1 bulan,

disebabkan oleh penularan di jalan lahir dari secret vagina dapat disebabkan oleh berbagai

sebab yaitu

1. Non infeksi

Iritasi akibat nitras argenti dapat mengakibatkan konjungtivitis kimia terjadi 24 jam. Saat

ini nitras argenti tidak dipergunakan lagi dan diganti dengan neomycin dan kloramfenikol

tetes mata

2. Infeksi

Bakteri, stafilokok, masa inkubasi lebih dari 5 hari

Klimidia masa inkuasi 5 – 10 hari

Neiseria gonore, 2 – 5 hari (blenore)

Herpes simpleks

Gejalanya antara lain bola mata sakit dan pegal, mata mengeluarkan belek atau kotoran dalam

bentuk purulen, mukoid dan muko purulen tergantung penyebabnya. Konjungtiva hyperemia

dan kemotok. Kelopak biasanya bengkan. Dan kornea dapat terkena juga pada herpes

simpleks.3

Konjungtivitus Angular

Konjungtivitis angular terutama didapatkan di daerah kantus interpalpebra, disertai ekskoriasi

kulit di sekitar daerah yang meradang. Konjuntivitis angular disebabkan oleh basil Moraxella

axenfeld. Pada konjuntivitis angular tedapat secret mukopurulen dan pasien sering mengedip.

Page 13: Konjungtivitis virus akut.docx

Pengobatan yang sering diberikan adalah tetrasiklin atau basitrasin. Dapat juga diberi sulfas

zinc yang bekerja mencegah proteolisis. Dapat memberikan penyulit blefaritis.

Konjuntivitis Mukopurulen

Merupakan konjuntivitis dengan gejala umum konjuntivitis kataral mukoid. Penyebabnya

adalah Streptococcus pneumonia atau basil kataral mukoid. Penyakit ini ditandai dengan

hyperemia konjuntiva dengan secret mukopurulen yang mengakibtkan kedua kelopak

melekat terutama pada waktu bangun pagi. Sering ada keluhan seperti adanya halo (gambaran

pelangi yang sebaiknya dibedakan dengan halo pada glaucoma). Gejala penyakit terberat

terjadi pada hari ketiga dan bila tidak diobati akan berjalan kronis. Dapat timbul adalah ulkus

kataral margina pada kornea atau keratitis superficial. Pengobatan dengan membersihkan

konjungtiva dan antibiotic yang sesuai. 3

Konjungtivitis virus akut

Demam faringokonjungtiva

Konjungtivitis demam faringokonjungtiva disebabkan infeksi virus. Kelainan ini akan

memberikan gejala demam, faringitis, sekret berair dan sedikit, yang mengenai satu atau

kedua mata. Biasanya disebabkan adenovirus tipe 3 dan 7, terutama mengenai remaja, yang

disebarkan melalui droplet atau kolam renang. Masa inkubasi 5-12hari, yang menularkan

selama 12hari, dan bersifat epidernik. Mengenai satu mata yang akan mengenai mata lainnya

dalam minggu berikutnya. Berjalan akut dengan gejala penyakit hiperemia konjungtiva,

folikel pada konjungtiva, sekret serous, fotofobia, kelopak bengkak dengan pseudomembnan.

Pada kornea dapat terjadi keratitis superfisial, dan atau subepitel dengan pembesaran kelenjar

limfe preurikel. Pengobatannya hanya suportif karena dapat sembuh sendiri. Diberikan

kompres, astringen, lubrikasi, pada kasus yang berat dapat diberikan antibiotik dengan steroid

topikal. Pengobatan biasanya simtomatik dan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder.3

Keratokonjungtivitis epidemi

Page 14: Konjungtivitis virus akut.docx

Keratokonjungtivitis epidemi disebabkan adenovirus 8 dan 19. Mudah menular dengan masa

inkubasi B-9 hari dan masa infeksius 14 hari. Mata berair berat, seperti kelilipan, perdarahan

subkonjungtiva, folikel terutama konjungtiva bawah, kadang-kadang terdapat

pseudomembran. Kelenjar preurikel membesar. Biasanya ge.iala akan menurun dalam waktu

7-15 hari. Pengobatan dengan antivirus dan alfa interferon tidak umum untuk konjungtivitis

adenovirus. Astringen diberikan untuk mengurangi gejala dan hiperemia. Pemberian

antibiotik adalah untuk mencegah infeksi sekunder. Steroid dapat diberikan bila terlihat

adanya membran dan infiltrasi subepitel.3

Konjungtivitis herpetik

Konjungtivitis herpetik dapat merupakan manifestasi primer herpes dan terdapat pada anak-

anak yang mendapat infeksi dari pembawa virus. Pada konjungtivitis herpetik ini akan

terdapat limfadenopati preurikel dan vesikel pada kornea yang dapat meluas membentuk

gambaran dendrit.

Perjalanan penyakit biasanya akut dengan folikel yang besar disertai terbentuknya jaringan

parut besar pada kornea.

a. Konjungtivitis herpes simpleks

Konjungtivitis herpes simpleks merupakan infeksi berulang pada mata. Sering disertai

infeksi herpes pada kulit dengan pembesaran kelenjar pre urikel. Pengobatan dengan obat

antivirus.

b. Konjungtivitis varisela-zoster

Herpes Zoster disebut juga shingle, zona, atau posterior ganglionitis akut. Virus herpes

zoster dapat memberikan infeksi pada ganglion Gaseri saraf trigeminus. Bila yang terkena

ganglion cabang oftalmik maka akan terlihat gejala-gejala herpes zoster pada rnata.

Herpes Zoster dapat mengenai semua umur dan umurnnya pada usia lebih dari 50 tahun.

Kelainan yang terladi akibat herpes zoster tidak akan melampaui garis median kepala,

Herpes zoster dan varisela memberikan gambaran yang sama pada konjungtivitis seperti

mata hiperemia, vesikel dan pseudomembran pada konjungtiva, papil, dengan

pembesaran kelenjar preurikel. Diagnosis biasanya ditegakkan dengan ditemukannya sel

raksasa pada pewarnaan Giemsa, kultur virus, dan sel inklusi intranuklear.

Page 15: Konjungtivitis virus akut.docx

Pengobatan dengan kompres dingin. Pada saat ini asiklovir 400 mg/hari untuk selama 5

hari merupakan pengobatan umum. Walaupun diduga steroid mengurangkan penyulit

akan tetapi dapat mengakibatkan penyebaran sistemik. Pada 2 minggu pertama dapat

diberi analgetika untuk menghilangkan rasa sakit. Pada kelainan permukaan dapat

diberikan salep tetrasiklin. Steroig tetes dekasametason 0.1% diberikan bila terdapat

episkleritis, skleritis, dan iritis. Glaukoma yang terjadi akibat iritis diberi preparat steroid

dan antiglaukoma. Penyulit yang dapat terjadi berupa parut pada kelopak, neuralgia,

katarak, glaukoma, kelumpuhan saraf lll, lV, Vl, atrofi saraf optik, dan kebutaan.3

Konjungtivitis inklusi

Konjungtivitis inklusi merupakan penyakit okulogenital disebabkan oleh infeksi klamidia,

yang merupakan penyakit kelamin (uretra, prostat, serviks dan epitel rektum), dengan masa

inkubasi 5-10 hari. Klamidia menetap di dalam jaringan uretra, prostat serviks dan epitel

rektum untuk beberapa tahun sehingga mudah terjadi infeksi ulang. Penyakit ini dapat

bersifat epidemik karena merupakan swimming pool konjungtivitis.

Konjungtivitis okulogenital pada bayi timbul 3-5 hari setelah lahir Pada bayi dapat

memberikan gambaran konjungtivitis purulen sedang pada orang dewasa dapat dalam

beberapa bentuk, konjungtiva hiperemik kemotik, pseudomembran, folikel yang nyata

terutama pada kelopak bawah dan tidak jarang memberikan gambaran seperti hipertrofi papil

disertai pembesaran kelenjar Preurikel. Pengobatan dengan tetrasiklin atau sulfisoksasol

topikal dan sistemik.3

Konjungtivitis New Castle

Konjungtivitis New Castle disebabkan virus New Castle, dengan gambaran klinis sama

dengan demam faringo-konjungtiva. Penyakit ini biasanya terdapat pada pekerja peternakan

unggas yang ditulari virus New Castle yang terdapat pada unggas. Umumnya penyaki: ini

bersifat unilateral walaupun dapat juga bilateral. Konjungtivitis ini memberikan gejala

influensa dengan demam ringar sakit kepala dan nyeri sendi. Konjungtivitis New Castle akan

memberikar keluhan rasa sakit pada mata, gatal, mata berair, penglihatan kabur dan fotofobia.

Penyakit ini sembuh dalam jangka waktu kurang dari 1 minggu. Pada mata akan terlihat

edema palpebra ringan, kemosis dan sekresi yang sedikit, dan folikel-folikel yang terutama

Page 16: Konjungtivitis virus akut.docx

ditemukan pada konjungtiva tarsa bagian bawah. Pada komea ditemukan keratitis epitelial

atau keratitis subepitel Pembesaran kelenjar getah beninE preaurikel yang tidak nyeri tekan.

Pengobatan yang khas sampai saat ini tidak ada, dan dapat diberikar antibiotik untuk

mencegah infeksi sekunder disertai obat-obat simtomatik.3

Konjungtivitis hemoragik epidemik akut

Konjungtivitis hemoragik epidemik akut merupakan konjungtivitis disertaimtimbulnya

perdarahan konjungtiva. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Ghana Afrika pada tahun

1969 yang menjadi pandemik. Konjungtivitis yang disebabkan infeksivirus pikorna, atau

enterovirus 70. Masa inkubasi 24-48 jam, dengan tanda-tanda kedua rnata iritatif, serperti

kelilipan, dan sakit periorbita. Ederna kelopak, kemosis konjungtira, sekret seromukos,

fotofobia disertai lakrimasi. Terdapat gejala akut dimana ditemukan adanya konjungtiva

folikular ringan, sakit periorbita, keratitis, adenopati preurikel, dan yang terpenting adanya

perdarahan subkonjungtiva yang dimulai dengan ptekia. Pada tarsus konjungtiva terdapat

hipertrofi folikular dan keratitis epitelial yang berkurang spontan dalam 3-4 hari. Penyakit ini

dapat sembuh sendiri sehingga pengobatan hanya simtomatik. Pengobatan antibiotika

spektrum luas, sulfasetamid dapat dipergunakan untuk mencegah infeksi sekunder.

Pencegahan adalah dengan mengatur kebersihan untuk mencapai penularan.3

Konjungtivitis menahun

Konjungtivitis Folikularis Kronis

Merupakan koniungtivitis yang sering ditemukan pada anak-anak, dan tidak pemah terlihat

pada bayi baru lahir kecuali bila usia sudah beberapa bulan. Konjungtivitis foiikularis kronis

ditandai dengan terdapatnya tanda khusus berupa benjolan kecil berwarna kemerah-merahan

pada lipatan retrotarsal. Folikel yang terjadi merupakan reaksi konjungtiva terhadap virus dan

alergen toksik seperti iododioksiuridin, fisostigmin, dan klamidia. Folikel terlihat sebagai

benjolan kecil mengkilat dengan pembuluh darah kecil diatasnya, yang pada pemeriksaan

histologik berupa sel limfoid. Setiap folikel ini nrerupakan pusat germinatif tunggal limfoid.

Folikel ini bila diakibatkan trakoma akan berdegenerasi yang akan membentuk jaringan

Page 17: Konjungtivitis virus akut.docx

parut. Folikel yang didapatkan pada tarsus inferior anak dan orang dewasa sering dapat

dianggap normal.

Konjungtivitis akut terdapat pada penyakit epidemik keratokonjungtiviitis folikularis

(adenovirus 8), demam faringokonjungtiva (adenovirus 3), herpes simpleks, konjungtivitis

hemoragika akut (adenovirus 90), konjungtivitis inklusi, trakoma akut, penyakit New Castle,

influenza, herpes zoster. Kionjungtivitis kronis terdapat pada trakoma, toksis obat (kosmetik),

bakteri, keratokonjuntivitis Thygeson, moluskum kontagiosum, dan Parinaud konjungtivitis.3

Trakoma

Trakoma adalah suatu bentuk konjungtivitis folikular kronik yang disebabkan oleh

Chlamydia trachomatis. Penyakit ini dapat mengenai segala umur tapi lebih banyak

ditemukan orang muda dan anak-anak.Daerah yang banyak terkena adalah di Semenanjung

Baikan.Ras yang banyak terkena ditemukan pada ras Yahudi, penduduk asli Australia dan

Indian Amerika atau daerah dengan hygiene yang kurang.

Penyakit ini ditularkan melalui kontak langsung dengan secret penderita trakoma atau melalui

alat-alat kebutuhan sehari-hari seperti handuk, alat-alat kecantikan dan lain-lain. Masa

inkubasi rata-rata 7 hari ( berkisar 5 sampai 14 hari)

Keluhan pasien menyerupai konjungtivitis bakteri adalah fotofobia, gatal, berair, eksudat,

edema palpebral, kemosis konjungtiva bulbaris, hipertrofi papil. Pengobatan trakoma dengan

tetrasiklin 1-1,5 gr/hari peroral diberikan dalam 4 dosis selama 3-4 minggu, doxucyclin 100

mg peroral2x sehari selama 3 minggu atau eritromisin 1 gr/ hari peroral dibagi dalam 4 dosis

selama 3- 4 minggu. Pencegahan dilakukan dengan hygiene yang baik, makanan yang

bergizi, penyakit ini sembuh atau bertambah ringan. Komplikasi dari trakoma adalah

entropion, trikiasis, simblefaron, kekeruhan kornea dan xerosis atau keratitis sika .3

Konjungtivitis Dry Eyes

Keratokonjungitvitis sika adalah suatu keadaan keringnya permukaan kornea dan konjungtiva

yang diakibatkan berkurangnya fungsi air mata.

Page 18: Konjungtivitis virus akut.docx

1. Defisiensi komponen lemak air mata misalnya blefaritis menahun, distikiasis, dan

akibat pembedahan kelopak mata.

2. Defisiensi kelenjar air mata: sindrom Sjogren, Sindrom Riley Day, alakrimal

kongenital, aplasia kongenital saraf trigeminus, sarkoidosis, limfoma kelenjar air

mata, obat-obatan diuretic, atropine dan usia tua

3. Defisiensi komponen musim : benign ocular pempigoid

4. Akibat penguapan yang berlebihan seperti pada keratitis neuroparalitik, hidup di

gurun pasir, keratitis lagoftalamus

5. Karena parut pada kornea atau menghilangnya mikrovili pada kornea

Pasien akan mengeluh gatal, mata seperti berpasir, silau dan penglihatan kabur. Mata

akan memberikan gejala sekresi mucus yang berlebihan, sukar menggerakan kelopak

mata, mata tampak kering dan terdapat erosi kornea. Konjungtiba bulbi edema, hiperemik

menebal dan kusam.Kadang-kadang terdapat benang mucus kekuning-kuningan pada

forniks konjungtiva bagian bawah. Sebaiknya dilakukan beberapa pemeriksaan seperti uji

Schiemer dimana resapan air mata pada kertas Schiemer kurang dari 5 menit dianggap

normal. Pengobatan tergantung pada penyebabnya dan air mata buatan yang diberikan

selamanya. Komplikasi yang dapat terjadi adalah ulkus kornea, infeksi sekunder oleh

bakteri dan parut kornea dan neovaskularisasi kornea.3

Toksik konjungtivitis folikular

Konjungtivitis folikular dapat terjadi akut dan kronik dimana gejala utama adalah

terbentuknya folikel pada konjungtiva tarsal superior atau inferior.

Hipersensitivitas terhadap obat

Gejala dapat terjadi akut setelah beberapa kali sensitisasi yang akan memperlihatkan

kelainan kulit dan kelopak diikuti pembentukan parut. Seringkali, terjadi akibat

pemberian jangka panjang dipiverfrin, miotik, idoxuridine, neomycin dan obat lain

dengan bahan pengawet yang toksik atau yang menimbulkan iritasi.

Tanda hipersensitif obat adalah hyperemia terutama pada tarsus bawah, eosinophil

dengan perwarnaan Giemsa. Pada kerokan konjungtiva terdapat sel-sel berkeratin, sel

Page 19: Konjungtivitis virus akut.docx

PMN. Menghentikan penyebab, pemakaian tetesan yang ringan atau sama sekali tanpa

tetesan. 3

Penyakit konjungtiva etiologi tidak jelas

Eritema multiform atau lupus eritematosis. Lupus eritematosis adalah suatu penyakit

autoimun yang mengenai seluruh sistem dalam tubuh, ditandai dengan kenaikan antibody

yang bersirkulasi, dimana kelainan patologik pada jaringan sebagian besar merupakan

penimbunan kompleks imun pada pembukuh darah kecil. Pada pemeriksaan sediaan

hapus darah tepi dapat ditemui sel LE yaitu sel makrofag yang memakan inti sel leukosit

yang rusak. Terutama ditemukan pada wanita usia muda sampai usia pre menopause dan

pada kelainan retina kira-kira terdapat 25 % penderita

Pada lupus eritematosis, ditemukan kelainan mata dapat berupa: kelainan palpebral

inferior dapat merupakan bagian daripada erupsi kulit yang tak jarang mengenai pipi dan

hidung. Pada permulaannya konjungtiva menunjukkan sedikit secret yang mukoid yang

disusul dengan hiperemi yang intensif dan edema membrane mukosa.Reaksi ini dapat

local atau difus.Reaksi konjungtiva yang berat dapat menyebabkan pengerutan

konjungtiva.Kornea dapat menunjukkan erosi kornea pungtata.Kelainan ini dapat

menyatu, menjadi tukak kornea yang dalam atau merupakan keratits discoid.Tukak

marginal dan infiltrate local tetapi berat, dengan vaskularisasi dapat demikian berat

sehingga menyebabkan kekeruhan pada kornea.Pada sclera dapat ditemukan skleritis

anterior yang difus atau nodular yang makin lama makin sering kambuh dan setiap kali

kambuh keadaannya bertambah berat.Dengan berkembangnya penyakit skleritis berubah

menjadi skleritis nekrotik yang melanjut dari tempat lesi semula ke segala jurusan sampai

dihentikan dengan pengobatan.3

Keratokonjungtivitis Limbus Superior

Keratokonjungtivitis limbus superior merupakan peradangan konjungtiva bulbi dan

konjungtiva tarsus superior yang tidak diketahui sebabnya , disertai kelainan-kelainan

pada limbus bagian atas.

Page 20: Konjungtivitis virus akut.docx

Penyakit ini biasanya bilateral, simetris, terletak pada limbus sekitar jam 12. Dapat juga

unilateral.Lebih sering terdapat pada wanita dewasa 20-70 tahun.Kelainan ini bersifat

menahun, disertai remisi dan eksaserbasi dan diduga ada hubungan dengan hipertiroid.

Umumnya baik dan pada kasus-kasus yang telah sembuh biasanya tidak dijumpai

gangguan penglihatan dan gejala sisa.

Pada keadaan yang ringan terdapat rasa tidak enak pada mata sedangkan pada keadaan

yang berat dapat sampai terjadi blefarospasme dan rasa seperti ada benda asing.Pada

keadaan ringan ditemukan peradangan papiler dan hipertrofi papil pada bagian tengah

konjungtiva tarsus superior.Konjungtiva tarsus inferior tak ada kelainan.Injeksi

konjungtiva dan episklera ditemukan pada konjungtiva bulbi.Pada konjungtiva bulbi yang

terkena terdapat bendungan, penebalan dan hipertrofi daerah limbus.Pada keadaan yang

berat terlihat seolah-olah ada pembentukan lengkung limbus yang baru. Dapat dijumpai

perwarnaan pungtata kornea pada pemeriksaan zat warna dan dapat ditemukan filament-

filamen pada kornea( 1/3 bagian atas). Dapat terjadi remisi spontan dan keadaan

patologik yang terjadi dapat menghilang dalam satu hari.

Pengobatan yang tepay belum ada, karena penyebabnya belum jelas. Dapat diberika

pengobatan secara simtomatik berupa tetes dekongestan, zinc sulfat, meril selulosa,

polivinil alcohol, kortikosteroid atau antibiotic. Dapat diberikan AgNO3 0,5% yang

diusapkan pada konjungtiva tarsus superior.3

Konjungtiva membranosa

Konjungtivitis membranosa merupakan konjungtivitis dengan pembentukan membrane

yang menempel erat pada jaringan di bawah konjungtiva. Pengangkatan membrane ini

akan mengakibatkan pendarahan. Differia, pneumokok, stafilokok dan infeksi adenovirus

selain dari pada disebabkan penyakit Steven Johnson. Biasanya konjungtivitis

membranosa ditemukan pada anak yang tidak mendapat imunisasi

Bila ringan akan didapatkan secret yang mukopurulen dan kelopak bengkak sedangkan

pada yang berat dapat terjadi nekrosis ataupun konjungtiva yang biasanya terjadi pada

hari keenam. Pada hari ke 6-10 dapat terjadi penyulit tukak pada kornea akibat infeksi

sekunder dan lepasnya secret yang banyak.Dapat juga terjadi perlekatan antara

Page 21: Konjungtivitis virus akut.docx

konjungtiva atau simblefaron.Sangat jarang terjadi paralisis pasca difteri seperti gangguan

akomodasi.

Diobati sebagai difteria berupa penisilin, serum antidifteria.3

Etiologi

- Sistem imun

Epidemiologi

- Terjadi pada musim semi atau “musiman”

- Alergi bilateral

- Biasanya mulai pada tahun pubertas dan berlangsung selama 5-10tahun

- Laki-laki > perempuan

- Penyakit ini lebih jarang pada beriklim sedang dari pada beriklim hangat, dan hampir

tidak pernah di daerah dingin.

- Paling banyak ditemukan di Afrika sib-sahara dan timur tengah

Patofisiologi

Perubahan struktur konjungtiva erat kaitannya dengan timbulnya radang interstitial yang

banyak didominasi oleh reaksi hipersensitivitas tipe I. Pada konjungtiva akan dijumpai

hiperemi dan vasodilatasi difus, yang dengan cepat akan diikuti dengan hiperplasi akibat

proliferasi jaringan yang menghasilkan pembentukan jaringan ikat yang tidak terkendali.

Kondisi ini akan diikuti oleh hyalinisasi dan menimbulkan deposit pada konjungtiva sehingga

terbentuklah gambaran cobblestone.

Jaringan ikat yang berlebihan ini akan memberikan warna putih susu kebiruan sehingga

konjungtiva tampak buram dan tidak berkilau. Proliferasi yang spesifik pada konjungtiva

tarsal, oleh von Graefe disebut pavement like granulations. Hipertrofi papil pada konjungtiva

tarsal tidak jarang mengakibatkan ptosis mekanik

Page 22: Konjungtivitis virus akut.docx

Limbus konjungtiva juga memperlihatkan perubahan akibat vasodilatasi dan hipertofi yang

menghasilkan lesi fokal. Pada tingkat yang berat, kekeruhan pada limbus sering

menimbulkan gambaran distrofi dan menimbulkan gangguan dalam kualitas maupun

kuantitas stem cells.

Tahap awall konjungtivitis vernalis ini ditandai oleh fase prehipertrofi. Dalam kaitan ini, akan

tampak pembentukan neovaskularisasi dan pembentukan papil yang ditutup oleh satu lapis

sel epitel dengan degenerasi mukoid dalam kripta di antara papil serta pseudomembran milky

white. Pembentukan papil ini berhubungan dengan infiltrasi stroma oleh sel- sel PMN,

eosinofil, basofil dan sel mast.4

Tahap berikutnya akan dijumpai sel- sel mononuclear lerta limfosit makrofag. Sel mast dan

eosinofil yang dijumpai dalam jumlah besar dan terletak superficial. Dalam hal ini hampir

80% sel mast dalam kondisi terdegranulasi. Temuan ini sangat bermakna dalam

membuktikan peran sentral sel mast terhadap konjungtivitis vernalis. Keberadaan eosinofil

dan basofil, khususnya dalam konjungtiva sudah cukup menandai adanya abnormalitas

jaringan.

Fase vascular dan selular dini akan segera diikuti dengan deposisi kolagen, hialuronidase,

peningkatan vaskularisasi yang lebih mencolok, serta reduksi sel radang secara keseluruhan.

Deposisi kolagen dan substansi dasar maupun seluler mengakibatkan terbentuknya deposit

stone yang terlihat secara nyata pada pemeriksaan klinis. Hiperplasi jaringan ikat meluas ke

atas membentuk giant papil bertangkai dengan dasar perlekatan yang luas. Horner- Trantas

dot’s yang terdapat di daerah ini sebagian besar terdiri dari eosinofil, debris selular yang

terdeskuamasi, namun masih ada sel PMN dan limfosit.4

Manifestasi klinis

- Sangat gatal dengan kotoran mata berserat-serat

- Biasanya terdapat riwayat alergi di keluarga

- Konjungtiva tampak putih ussu, dan terdapat banyak papila halus di konjungtiva

tarsalih inferior.

- Konjungtiva palpebralis superior sering menampilkan papila raksasa bentuk poligonal

mirip batu kali

Page 23: Konjungtivitis virus akut.docx

- Mungkin terdapat kotoran mata berserabut dan pseudomembran fibrinosa (tanda

maxwell-lyos)

- Pembengkakan gelatinosa (papillae)

- Ditemukan bintik tranta dan sediaan hapus eksudat konjungtiva yang terpulas

Giemsa.5

Medika mentosa

Karena koretokonjungtivitis vernal adalah penyakit yang sembuh sendiri, perlu diingat bahwa

medikasi yang dipakai untuk meredakan gejala dapat memberi perbaikan dalam waktu

singkat, tetapi dapat memberi kerugian jangka panjang. Steroid topikal atau sistemik, yang

mengurangi rasa gatal, hanya sedikit mempengaruhi penyakit kornea ini. , dan efek

sampingnya (glaukoma, katarak, dan komplikasi lian) dapat sangat merugikan. Kombinasi

antihistamin penstabil sel mast yang lebih batu bermanfaat sebagai agen profilaktik dan

terapeutik pada kasus sedang hingga berat. Vasokonstriktor kompres dingin, dan kompres es

ada manfaatnya, tidur di ruang sejuk ber AC membuat pasien nyaman, kemungkinan besar

pemuliahan terbaik dicapai dengna pndah ketempak beriklim sejuk dan lembab. Pasien yang

melakukan ini setidaknya membaik bila tidak sembuh total.

Gejala akut pada seorang pasien yang sangat fitifoik hingga tidak dapat berbuat apa-apa

sering kali diatasi dengna steroid sistemik atau topikal jangka pendek, didikuti dengan

vasokonstriktor, kompres dingin dan pemakaian tetas mata yang memblok histamin. Obat-

obat antiinflamasi non steroid yang lebih bru, seperti ketorolac dan lodoxamide cukup

bermanfaat untuk mengurangi gejala sebelumnya, penggunaan steroid berkepanjangan harus

dihindari. Studi kliis baru-baru ini menunjukan bahwa tetes mata tipikal cyclosporine 2%

efektif untuk kasus-kasus berat yang tidak responsif. Penyuntikan dopotkortikosteroid

supratarsal dengan atau tanpa eksisi papilaraksasa terbukti efektif untuk ulkus “perisai”

vernal.5

Densitas terhasap tepung sari rumput dan antigen lain belum membuahkan hasil. Blefaritis

dan konjungtivitis stafilokok adalah komplikasi yang sering dan harus ditangani.

Kekambuhan pasti terjadi, khususnya pada musim semi dan musim panas; tetapi setelah

sejumlah kekambuhan, papillae akan menghilansempurna tanpa meninggalkan jaringan

parut.5

Page 24: Konjungtivitis virus akut.docx

Komplikasi

- Keratitis

- Keratokonjungtivitis

- Jaringan sikatrik

- Ulkus kornea superfisial..4,5,6

Prognosis

Kondisi ini dapat berlanjut dari waktu ke waktu dan dapat memburuk di musim-musim

tertentu.4,5,6

Edukasi

- tinggal diruagan ber Ac

- jika gatal jangan digaruk

- Usahakan tangan tidak megang-megang wajah (kecuali untuk keperluan tertentu), dan

hindari mengucek-ngucek mata.

- Mencuci tangan sesering mungkin, terutama setelah kontak (jabat tangan,

berpegangan, dll) dengan penderita konjungtivitis.3,4,6

Kesimpulan

 

Konjugtivitis vernal adalah peradangan konjungtiva bilateral dan berulang yang khas, dan

merupakan suatu reaksi alergi. Konjungtivitis vernal terjadi akobat teaksi hipersensitivitas

tipe I yang mengenai kedua mata. Perjalanan penyakit ini sangat menahun. Penyakit ini

Page 25: Konjungtivitis virus akut.docx

sering menimbulkan kekambuhan terutama di musim panas. Penyakit ini biasanya sembuh

sendiri tanpa diobati. Dapat diberi obat kompres dingin, natrium karbonat dan

obatvasokonstriktor. Kelainan kornea dan konjungtiva dapat diobati dengan natrium

cromolym topikal. Bila terdapat tikak maka diberi antibiotik untuk mencegah infeksi

sekunder disertai dengan siklopegik. Lebih baik penderita pindah ketempat beriklim sejuk

dan lembab.

Daftar pustaka

1. Gleadle. At a galance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta : penerbit Erlangga;

2005.h.48-50

2. Bickley LS. Buku ajar pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan bates. Edisi ke-8.

Jakarta: EGC; 2009.h.147-157

3. Vaughan DG, Asbury T. Oftalmologi Umum. Edisi ke-17. Jakarta: Widya Medika;

2010.h.97-115

4. Ilyas S, Yulianti S R.ilmu penyakit mata. Edisi 4.Jakarta: FKUI; 2011.h.121-31

5. Ilyas S. Ilmu penyakit mata. Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia; 2009.h.121-145

6. Hollwich F. Buku panduan oftalmologi. Edisi 2. Jakarta: Binarupa Aksara; 2009.p.57-

81.