of 123 /123
PENGARUH PENERAPAN EDP AUDIT, KOMPETENSI DAN INDEPENDENSI AUDITOR TERHADAP TINGKAT MATERIALITAS DALAM AUDIT LAPORAN KEUANGAN (Studi Empiris pada Kantor Akuntan Publik di Jakarta) Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untuk Memenuhi Syarat-syarat Untuk Meraih Gelar Sarjana Ekonomi Oleh : RIZAL PAHLAWI NIM: 206082004007 JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1431 H/2010 M

Kompetensi Materialitas Mantap Lalu

Embed Size (px)

DESCRIPTION

gbunikl

Citation preview

  • PENGARUH PENERAPAN EDP AUDIT, KOMPETENSI DAN

    INDEPENDENSI AUDITOR TERHADAP TINGKAT

    MATERIALITAS DALAM AUDIT LAPORAN KEUANGAN (Studi Empiris pada Kantor Akuntan Publik di Jakarta)

    Skripsi

    Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis

    Untuk Memenuhi Syarat-syarat Untuk Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

    Oleh :

    RIZAL PAHLAWI NIM: 206082004007

    JURUSAN AKUNTANSI

    FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

    SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    1431 H/2010 M

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Penelitian

    Timbul dan berkembangnya profesi akuntan publik di suatu negara adalah

    sejalan dengan berkembangnya perusahaan dan berbagai bentuk badan hukum

    perusahaan di negara tersebut. Jika perusahaan-perusahaan di suatu negara

    berkembang sedemikian rupa sehingga tidak hanya memerlukan modal dari

    pemiliknya, namun mulai memerlukan modal dari kreditur, dan jika timbul

    berbagai perusahaan berbentuk badan hukum perseroan terbatas yang

    modalnya berasal dari masyarakat, jasa akuntan publik mulai diperlukan dan

    berkembang. Berdasarkan keterangan tersebut, dari profesi akuntan publik

    inilah masyarakat kreditur dan investor mengharapkan penilaian yang bebas

    tidak memihak terhadap informasi yang disajikan dalam laporan keuangan oleh

    manajemen perusahaan. Profesi akuntan publik bertanggung jawab untuk

    menaikkan tingkat keandalan laporan keuangan perusahaan-perusahaan,

    sehingga masyarakat keuangan memperoleh informasi keuangan yang andal

    sebagai dasar untuk memutuskan alokasi sumber-sumber ekonomi.

    Ada beberapa jenis auditor salah satunya adalah auditor eksternal atau

    independen yang bekerja untuk kantor akuntan publik dan statusnya diluar

    struktur perusahaan yang mereka audit. Umumnya auditor eksternal

    menghasilkan laporan atas financial audit atau audit laporan keuangan.

    Pemeriksaan atas laporan keuangan merupakan evaluasi kewajaran laporan

  • 2

    keuangan yang disajikan oleh manajemen secara keseluruhan dibandingkan

    dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku umum. Umumnya kriteria

    yang dimaksud adalah standar akuntansi yang berlaku umum seperti prinsip

    akuntansi yang berterima umum. Hasil audit atas laporan keuangan adalah

    opini auditor yaitu Unqualified Opinion, Qualified Opinion, Disclaimer

    Opinion dan Adverse Opinion.

    Seorang auditor eksternal harus memiliki keahlian yang memadai dalam

    mengaudit laporan keuangan suatu perusahaan. Keahlian atau kompetensi

    auditor dapat ditentukan oleh tiga faktor yaitu:(1) pendidikan universitas

    formal untuk memasuki profesi , (2) pelatihan praktik dan pengalaman dalam

    auditing, dan (3) mengikuti pendidikan profesi berkelanjutan selama karir

    profesional auditor. Auditor eksternal harus memiliki pengetahuan audit yang

    cukup. Pengetahuan (knowledge) itu penting untuk dapat memahami relevansi

    dan keandalan informasi yang diperoleh. Selanjutnya informasi tersebut

    menjadi bukti yang kompeten dalam penentuan opini audit. Independensi

    adalah syarat utama agar laporan audit objektif. Kompetensi saja tidak cukup,

    karena auditor juga harus bebas dari pengaruh klien dalam melaksanakan audit

    serta dalam melaporkan temuan-temuannya (Boynton, 2006).

    Memasuki era modern, dimana perkembangan teknologi informasi

    bergerak cepat, banyak organisasi yang semakin bergantung pada teknologi

    informasi (Information Technologi or IT) untuk menyimpan informasi dan

    mendukung proses bisnis. Diseluruh dunia, termasuk Indonesia, sejumlah besar

    data bisnis disimpan dalam bentuk data elektronik, bahkan dengan tidak

  • 3

    disertai dokumen kertasnya (paperless documentation). Penggunaan sistem

    akuntansi berbasis komputer untuk menggantikan sistem manual, secara

    otomatis akan mengurangi atau bahkan meninggalkan dokumen konvensional

    (hard copy) yang bersifat verifiable evidence, sehingga hard copy bukan lagi

    menjadi bagian utama tujuan pencatatan. Dokumen tersebut digantikan dengan

    sinyal kode binary digit dalam bahasa komputer yang intangible.

    Teknologi informasi telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari

    yang memungkinkan perdagangan, perniagaan dilakukan melalui media

    elektronik. Aplikasi teknologi informasi yang baik dapat menyebabkan data

    lebih cepat diproses dan terjaga akurasinya, disamping untuk menjaga

    transparansi. Di lain pihak, aplikasi yang salah akan menyebabkan sistem tidak

    dapat digunakan secara efektif dan efisien, serta dapat menimbulkan harapan

    yang salah seperti adanya false sense of security.

    Setelah komputer menjadi alat utama dalam pemrosesan data dan

    penyediaan informasi untuk berbagai keputusan, sangat perlu bagi pengguna

    sistem informasi berbasis komputer untuk mengendalikan pemakaian sistem

    pengolahan data berbasis komputer tersebut secara lebih baik. Alasan utama

    untuk sebuah manajemen sistem informasi yang efektif adalah:

    1. Ketergantungan terhadap Sistem Informasi

    Meningkatnya ketergantungan kepada sistem informasi sebagai akibat

    penggunaan informasi dalam aktivitas sehari-hari.

  • 4

    2. Business Driven Technology

    Teknologi sistem informasi saat ini juga digunakan sebagai pendukung

    (enabler) pencapaian strategi dan tujuan organisasi. Dampak potensial dari

    perkembangan teknologi informasi yang mengubah secara dramatis

    praktek organisasi dan bisnis yang ada saat ini, serta adanya kemungkinan

    menciptakan peluang-peluang baru untuk pengurangan biaya karena

    penggunaan teknologi informasi.

    3. Ancaman terhadap Sistem Informasi

    Meningkatnya kerentanan dan luasnya spektrum ancaman terhadap sistem

    informasi, seperti cyber threats, hacker dan perang informasi (information

    war)

    4. Skala dan Biaya untuk Investasi Sistem Informasi

    Skala investasi dan investasi yang diinvestasikan pada saat ini maupun

    mendatang kepada sebuah sistem informasi sangatlah besar, sehingga

    perlu dikelola dengan baik.

    Teknologi akan mempengaruhi metode pengumpulan bukti audit.

    Kebutuhan terhadap auditing terkomputerisasi yang dinamakan EDP

    (Electronic Data Processing) atau PDE (Proses Data Elektronik) semakin

    diperlukan agar tujuan audit dapat dicapai secara efektif dan efisien.

    Pelaksanaan audit EDP jauh lebih luas dibandingkan dengan auditing

    konvensional karena pemeriksaan juga harus dilakukan terhadap integritas

    yang terdapat dalam perangkat keras dan lunak, serta organisasi pelaksana EDP

    dalam mencapai efisiensi dan efektivitas.

  • 5

    Berdasarkan keterangan tersebut, dianjurkan bagi auditor mempelajari

    keahlian baru untuk bekerja secara efektif dalam suatu lingkungan bisnis yang

    terkomputerisasi untuk mereview teknologi komputer. Auditor harus

    memahami dan mempertimbangkan sifat sistem EDP yang bisa mempengaruhi

    sistem akuntansi dan sistem pengendalian intern yang akan mempengaruhi

    tingkat materialitas dalam audit laporan keuangan.

    Nilai laporan keuangan auditan terletak pada asumsi bahwa auditor

    bersikap independen terhadap kliennya. Sikap independen auditor tidak hanya

    dijalankan dalam fakta lapangan saja, akan tetapi harus ditujukan kepada

    pengguna laporan keuangan. Disinilah sikap independen seorang auditor

    eksternal sangat berperan dalam menilai kualitas dari laporan keuangan auditor.

    Apabila seorang auditor tidak independen dalam hal memberikan opini audit

    maka akan sangat berpengaruh terhadap laporan keuangan yang disajikan,

    karena tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

    Ketiga faktor tersebut, yaitu penerapan EDP (electronic data processing)

    audit, kompetensi, serta independensi sangat dibutuhkan oleh seorang auditor

    khususnya dalam mengaudit laporan keuangan. Karena apabila seorang auditor

    tidak memiliki kompetensi yang memadai, maka dalam menjalankan auditnya

    tidak akan berjalan secara maksimal, dan jika auditor tidak independen dalam

    menjalankan tugasnya maka dapat dipengaruhi dalam memberikan opini audit.

    Selain itu, untuk memudahkan auditor dalam menjalankan tugasnya dan untuk

    mencegah auditor agar tidak melakukan kecurangan dalam hal memberikan

  • 6

    pendapat atau opini audit, sangat dianjurkan bagi audior untuk mempelajari

    keahlian baru, yakni EDP (Electronic Data Processing) audit.

    Penelitian ini menjadi menarik, karena penulis menambahkan satu variabel

    independen baru yakni EDP (Electronic Data Processing) audit kedalam

    penulisan penelitian ini. Terdapat perbedaan terhadap penelitian sebelumnya,

    yang dilakukan oleh Wahyudi (2006) yaitu pengaruh profesionalisme auditor

    terhadap tingkat materialitas dalam pemeriksaan laporan keuangan. Pada

    penelitian ini, penulis menambahkan variabel independen, yakni EDP audit.

    Dimana EDP audit merupakan hal yang masih asing bagi sebagian auditor.

    Selain hal tersebut, penelitian ini juga dilakukan pada KAP yang terdapat

    di wilayah DKI Jakarta. Hal tersebut dilakukan karena sebagian besar KAP

    yang ada di Indonesia berkantor pusat di Jakarta, sehingga bisa mewakilkan

    kondisi sebenarnya yang ada di KAP tersebut.

    Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut, maka judul yang diambil

    adalah Pengaruh Penerapan EDP (Electronic Data Processing) Audit,

    Kompetensi, dan Independensi Auditor Terhadap Tingkat Materialitas

    dalam Audit Laporan Keuangan.

    B. Perumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka

    rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:

    1. Apakah penerapan electronic data processing audit berpengaruh terhadap

    tingkat materialitas dalam audit laporan keuangan?

  • 7

    2. Apakah kompetensi auditor berpengaruh terhadap tingkat materialitas

    dalam audit laporan keuangan?

    3. Apakah independensi auditor berpengaruh terhadap tingkat materialitas

    dalam audit laporan keuangan?

    4. Apakah penerapan EDP audit, kompetensi, serta independensi auditor

    secara bersama-sama berpengaruh terhadap tingkat materialitas dalam

    audit laporan keuangan?

    C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    1. Tujuan Penelitian

    Sesuai dengan rumusan masalah, penelitian ini bertujuan:

    a. Untuk mendapatkan bukti empiris dan menganalisis pengaruh

    penerapan EDP audit terhadap tingkat materialitas dalam audit laporan

    keuangan.

    b. Untuk mendapatkan bukti empiris dan menganalisis pengaruh

    kompetensi auditor terhadap tingkat materialitas dalam audit laporan

    keuangan.

    c. Untuk mendapatkan bukti empiris dan menganalisis pengaruh

    independensi auditor terhadap tingkat materialitas dalam audit laporan

    keuangan.

    d. Untuk mendapatkan bukti empiris dan menganalisis pengaruh

    penerapan EDP audit, kompetensi, serta independensi auditor terhadap

    tingkat materialitas laporan keuangan.

  • 8

    2. Manfaat Penelitian

    Tujuan lain dari dibuatnya penelitian ini adalah memberikan manfaat

    terhadap:

    a. Auditor Independen

    Mengetahui bahwa auditor juga harus memahami elektronik serta ilmu-

    ilmu lain yang menunjang pelaksanaan audit.

    b. Penelitian Selanjutnya

    Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi mahasiwa pada

    umumnya serta memberikan kontribusi bagi mahasiswa yang

    mengambil konsentrasi audit serta memberikan pengetahuan lebih,

    bahwa audit itu tidak hanya dilakukan secara general atau audit laporan

    keuangan saja pada umumnya, tetapi dapat juga dilakukan pada IT yaitu

    EDP audit.

    c. Bagi Penulis

    Dapat mengetahui bahwa audit itu tidak saja dilakukan seperti halnya

    pada laporan keuangan, tetapi bagaimana ketika elektronik digunakan

    sehingga memberikan nilai efisien terhadap perusahaan serta pada

    proses auditnya walaupun pada dasarnya sama tetapi elemen-elemen

    yang membedakannya, serta bukti audit yang mendukungnya.

  • 9

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. Pengertian Auditing Secara Umum

    1. Definisi Audit

    Auditing adalah jasa yang diberikan oleh auditor dalam memeriksa

    dan mengevaluasi laporan keuangan yang disajikan perusahaan klien.

    Pemeriksaan ini tidak dimaksudkan untuk mencari kesalahan atau

    menemukan kecurangan, walaupun dalam pelaksanaannya sangat

    memungkinkan diketemukannya kesalahan atau kecurangan. Pemeriksaan

    atas laporan keuangan dimaksudkan untuk menilai kewajaran laporan

    keuangan berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia

    (Agoes, 2004).

    Sedangkan menurut Report of the Committee on Basic Auditing

    Concept of the American Accounting Association(Accounting Review,

    vol. 47) memberikan definisi auditing sebagai

    Suatu proses sistematis untuk memperoleh serta mengevaluasi bukti secara objektif mengenai asersi-asersi kegiatan dan peristiwa ekonomi, dengan tujuan menetapkan derajat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

    Auditing/pemeriksaan akuntansi bertujuan memberikan nilai tambah

    bagi laporan keuangan perusahaan, karena tujuan akhir auditing adalah

    memberikan pendapat mengenai kewajaran posisi keuangan suatu

    perusahaan. Auditing merupakan salah satu bentuk atestasi. Atestasi

    9

  • 10

    adalah merupakan suatu komunikasi tertulis yang menjelaskan suatu

    kesimpulan mengenai realibilitas dari asersi tertulis yang merupakan

    tanggung jawab dari pihak lainnya. Disamping itu auditing juga

    merupakan salah satu bentuk jasa assurance (Agoes, 2004).

    Menurut Tuanakotta (1982) pemeriksaan akuntansi (auditing) pada

    dasarnya mempunyai bentuk analitis yakni memecah-mecah atau

    menguraikan informasi yang ada dalam ikhtisar keuangan untuk mencari

    pembuktian yang dapat mendukung pendapat akuntan mengenai kelayakan

    penyajian informasi tersebut.

    Berdasarkan beberapa definisi tersebut, pemeriksaan akuntansi

    (auditing) adalah suatu rangkaian kegiatan dalam mendapatkan serta

    menganalisis bukti transaksi yang terjadi untuk mencari kebenaran serta

    pembuktian yang dapat mendukung pendapat akuntan mengenai kelayakan

    penyajian informasi keuangan yang telah diperiksa tersebut.

    Berdasarkan definisi diatas, terdapat beberapa karakteristik dalam

    pengertian auditing yaitu:

    a. Informasi yang dapat diukur dan kriteria yang telah ditetapkan

    Dalam proses pemeriksaan, harus ditetapkan kriteria-kriteria

    informasi yang diperlukan seperti Audit Finansial, Audit Manajemen,

    dan Sistem Pengendalian Intern dapat diverifikasi kebenarannya

    untuk dijadikan bukti audit yang kompeten.

  • 11

    b. Entitas Ekonomi (Economy Entity)

    Proses pemeriksaan harus jelas dalam hal penetapan kesatuan

    ekonomi dan periode waktu yang diaudit. Kesatuan ekonomi ini

    sesuai dengan Entity Theory dalam ilmu akuntansi yang menjelaskan

    posisi keuangan suatu perusahaan terpisah secara tegas dengan posisi

    keuangan pemilik perusahaan tersebut.

    c. Aktivitas Mengumpulkan dan Mengevaluasi Bahan Bukti

    Proses pemeriksaan selalu mencakup aktivitas mengumpulkan dan

    mengevaluasi bukti yang dianggap kompeten dan relevan dengan

    proses pemeriksaan yang sedang dilakukan. Diawali dari penentuan

    jumlah bukti yang diperlukan sampai pada proses evaluasi atau

    penilaian kelayakan informasi dalam pencapaian sasaran kegiatan

    audit.

    d. Independensi dan Kompetensi Auditor Pelaksana

    Auditor pelaksana harus mempunyai pengetahuan audit yang cukup.

    Pengetahuan (knowledge) itu penting untuk dapat memahami

    relevansi dan keandalan informasi yang diperoleh. Selanjutnya

    informasi tersebut menjadi bukti yang kompeten dalam penentuan

    opini audit.

    e. Pelaporan Audit

    Hasil aktivitas pemeriksaan adalah pelaporan pemeriksaan itu.

    Laporan audit berupa komunikasi dan ekspresi auditor terhadap objek

    yang diaudit agar laporan atau ekspresi auditor tadi dapat dimengerti

  • 12

    maka laporan itu harus mampu dipahami oleh penggunanya. Artinya

    laporan ini mampu menyampaikan tingkat kesesuaian antara

    informasi yang diperoleh dan diperiksa dengan kriteria yang telah

    ditetapkan.

    2. Jenis-jenis Audit

    Agoes (2004), menyebutkan tiga jenis auditing yang umum

    dilaksanakan. Ketiga jenis tersebut yaitu:

    a. Pemeriksaan Operasional/Manajemen (Operasional Audit)

    Operasional atau management audit merupakan pemeriksaan atas

    semua atau sebagian prosedur dan metode operasional suatu organisasi

    untuk menilai efisiensi, efektifitas, dan ekonomisnya. Audit

    operasional dapat menjadi alat manajemen yang efektif dan efisien

    untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Hasil dari audit operasional

    berupa rekomendasi-rekomendasi perbaikan bagi manajemen sehingga

    audit jenis ini lebih merupakan konsultasi manajemen.

    b. Audit Ketaatan (Compliance Audit)

    Compliance audit merupakan pemeriksaan untuk mengetahui apakah

    prosedur dan aturan yang telah ditetapkan otoritas berwenang sudah

    ditaati oleh personel di organisasi tersebut. Compliance audit biasanya

    ditugaskan oleh otoritas berwenang yang telah menetapkan prosedur/

    peraturan dalam perusahaan sehingga hasil audit jenis ini tidak untuk

    dipublikasikan tetapi untuk intern manajemen.

  • 13

    c. Audit atas Laporan Keuangan (Financial Audit)

    Pemeriksaan atas laporan keuangan merupakan evaluasi kewajaran

    laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen secara keseluruhan

    dibandingkan dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku umum.

    Dalam pengertiannya apakah laporan keuangan secara umum

    merupakan informasi yang dapat ditukar dan dapat diverifikasi lalu

    telah disajikan sesuai dengan criteria tertentu. Umumnya kriteria yang

    dimaksud adalah standar akuntansi yang berlaku umum seperti prinsip

    akuntansi yang berterima umum. Hasil audit atas laporan keuangan

    adalah opini auditor yaitu Unqualified Opinion, Qualified Opinion,

    Disclaimer Opinion dan Adverse Opinion.

    B. Electronic Data Processing Audit

    1. Pengertian EDP (Electronic Data Processing)

    EDP atau komputerisasi merupakan rangkaian kegiatan dengan

    menggunakan komputer untuk mengubah informasi mentah (data) menjadi

    informasi yang berguna (Purwono, 2004). Rangkaian kegiatan tersebut

    terdiri dari proses pemasukkan data, penyimpanan, pengolahan, proses

    menghasilkan laporan, dan pengendalian.

    Dalam penelitian Rukmini (2008), EDP merupakan nama yang

    diberikan untuk aplikasi berbasis computer, manipulasi atau transformasi

    simbol-simbol seperti angka dan abjad untuk tujuan meningkatkan

    kegunaannya.

  • 14

    Menurut Standar Profesional Akuntan Publik, EDP Audit memiliki

    definisi bahwa bila suatu komputer dengan tipe atau ukuran apapun

    digunakan dalam pengolahan informasi keuangan suatu entitas membawa

    dampak yang signifikan bagi audit, terlepas apakah komputer tersebut

    dioperasikan oleh entitas tersebut atau oleh pihak ketiga (IAI SA). Terdapat

    beberapa pendapat lain, diantaranya adalah:

    a. Menurut Basamalah (1995) EDP audit adalah: Auditing EDP adalah proses pengumpulan dan penilaian bukti untuk menentukan apakah sistem komputer perusahaan mampu mengamankan harta, memelihara kebenaran data, mampu mencapai tujuan perusahaan secara efektif, dan menggunakan aktiva perusahaan secara tepat.

    Berdasarkan beberapa definisi tersebut, pengertian EDP (Electronic

    Data Processing) adalah suatu rangkaian kegiatan yang menggunakan

    bantuan sistem komputer dalam proses mengumpulkan serta menganalisis

    bukti audit, dan penggunaan komputer tersebut membawa dampak yang

    sinifikan bagi hasil audit.

    2. Dampak EDP Terhadap Auditing

    Perbedaan yang timbul dalam pelaksanaan audit yang dibantu komputer

    memberikan dampak tersendiri dalam prosedur audit, karena merubah

    desain sistem informasi maupun struktur pengendalian internalnya seperti

    bukti jejak audit (audit trail)meskipun secara hakiki tidak merubah konsep

    dan tujuan audit (general financial audit) (Gondodiyoto, 2007). Terdapat

    dua macam dampak yang ditimbulkan akibat penerapan sistem EDP oleh

    auditor terhadap auditing, yaitu:

  • 15

    a. Perubahan atas bukti yang dikumpulkan dan yang dievaluasi

    Bukti yang dikumpulkan dan yang dievaluasi dalam aktivitas audit

    atas suatu organisasi yang masih menerapkan sistem manual adalah

    seluruhnya masih dalam bentuk yang dapat dibaca secara kasat mata.

    Jalur audit trail dari laporan yang dihasilkan ke catatan dan dokumen

    dasar sebagai bukti transaksi cukup jelas dan dapat diikuti atau

    ditelusuri jejaknya (Gondodiyoto, 2007).

    Suatu organisasi dengan sistem informasi berbasis komputer atau

    yang telah menerapkan sistem EDP, bukti-bukti dalam bentuk tersebut

    dapat ditemui dalam jumlah yang sangat banyak tergantung tingkat

    kompleksitas sistem EDP yang diterapkan.

    b. Perubahan dalam rancangan konseptual auditing

    Menurut Purwono (2004), terdapat tiga pendekatan audit yang

    berkaitan dengan komputer, diantaranya adalah:

    1) Audit di Sekitar Komputer (Arround the Computer)

    Yaitu pemeriksaan hanya dilakukan terhadap hal yang berada

    diluar lingkungan komputer meliputi segenap bukti-bukti fisik,

    laporan yang dihasilkan oleh kegiatan pengolahan data, serta

    prosedur manual yang diselenggarakan dalam kegiatan

    pengolahan data tersebut. Tidak ada kewajiban auditor untuk

    melakukan pemahaman terhadap lingkungan komputer dimana

    pemeriksaan itu dilakukan.

  • 16

    2) Audit melalui komputer (Through the Computer)

    Melalui pendekatan ini auditor menggunakan komputer untuk

    menguji logic dan pengendalian yang ada dalam komputer dan

    catatan yang dihasilkan oleh komputer. Sehingga peranan

    komputer dalam audit tergantung pada kompleksitas dari sistem

    komputer perusahaan yang diaudit.

    3) Audit dengan komputer (Within the Computer)

    Pada pendekatan ini, audit dilakukan dengan menggunakan

    komputer dan software untuk mengotomisasi prosedur

    pelaksanaan audit. Pendekatan ini akan bermanfaat selama

    pengujian substantive atas file dan record perusahaan. Software

    audit yang digunakan merupakan program komputer yang

    digunakan oleh auditor untuk membantu pengujian dan evaluasi

    keandalan record file perusahaan.

    C. Kompetensi Auditor

    1. Definisi Kompetensi

    Menurut Kamus Kompetensi LOMA (1998) dalam Lasmahadi (2002)

    kompetensi didefinisikan sebagai aspek-aspek pribadi dari seorang pekerja

    yang memungkinkan dia untuk mencapai kinerja superior. Aspek-aspek

    pribadi ini mencakup sifat, motf-motif, sistem nilai, sikap. pengetahuan dan

    keterampilan dimana kompetensi akan mengarahkan tingkah laku,

    sedangkan tingkah laku akan menghasilkan kinerja.

  • 17

    Menurut Susanto (2000), definisi tentang kompetensi yang sering

    dipakai adalah karakteristik-karakteristik yang mendasari individu untuk

    mencapai kinerja superior. Kompetensi juga merupakan pengetahuan,

    keterampilan, dan kemampuan yang berhubungan dengan pekerjaan, serta

    kemampuan yang dibutuhkan untuk pekerjaan-pekerjaan non rutin. Definisi

    kompetensi dalam bidang auditing pun sering diukur dengan pengalaman

    (Mayangsari, 2003).

    Auditor harus mempunyai pengetahuan audit yang cukup. Pengetahuan

    (knowledge) itu penting untuk dapat memahami relevansi dan keandalan

    informasi yang diperoleh. Selanjutnya informasi tersebut menjadi bukti yang

    kompeten dalam penentuan opini audit.

    Menurut Webster`s Ninth Collegiate Dictionary (1983) dalam Sri

    Lastanti (2005), kompetensi atau keahlian adalah keterampilan dari seorang

    ahli. Ahli didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki tingkat

    keterampilan tertentu atau pengetahuan yang tinggi dalam subyek tertentu

    yang diperoleh dari pelatihan dan pengalaman. Menurut Trotter (1986)

    dalam Sri Lastanti (2005) ahli adalah orang yang dengan keterampilannya

    mengerjakan pekerjaan secara cepat, mudah, intuisi dan sangat jarang atau

    tidak pernah membuat kesalahan.

    Menurut Hayes Roth et.al., (1983) dalam Dwi Ratnadi dan Eka

    Desyanti (2006) mendefinisikan keahlian sebagai keberadaan dari

    pengetahuan tentang suatu lingkungan tertentu, pemahaman terhadap

  • 18

    masalah-masalah yang timbul dalam lingkungan tersebut, dan keterampilan

    untuk memecahkan masalah tersebut.

    Berdasarkan beberapa definisi tersebut, pengertian kompetensi adalah

    pengetahuan atau keahlian suatu individu yang mendukung seseorang dalam

    melakukan tugasnya sehingga dengan keterampilannya tersebut bisa

    menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan bisa dipertanggungjawabkan.

    Kompetensi bisa diperoleh melaui pendidikan, baik formal maupun non

    formal dan bisa juga diperoleh melalui pengalaman.

    2. Faktor-faktor Kompetensi

    Dalam audit laporan keuangan, seorang auditor harus mempunyai

    keahlian yang memadai dalam mengaudit laporan keuangan suatu

    perusahaan. Keahlian atau kompetensi auditor dapat ditentukan oleh tiga

    faktor yaitu:

    a. Pendidikan universitas formal untuk memasuki profesi

    b. Pelatihan praktik dan pengalaman dalam auditing

    c. Terlibat dalam pendidikan profesi berkelanjutan selama karir professional

    auditor

    3. Komponen-komponen Kompetensi

    Keahlian audit tidak semata-mata diperoleh dari ilmu pengetahuan dan

    pengalaman saja, melainkan juga dari atribut penting lain yang menunjang

    keahlian audit (Murtanto, Gudono:1999). Atribut-atribut tersebut

    dikelompokkan lagi kedalam lima kategori (Abdolmohammadi, Searfoss,

    dan Seanteau:1992, dalam Murtanto, Gudono:1999), yaitu:

  • 19

    a. Komponen Pengetahuan (Knowledge Component)

    Merupakan komponen penting dalam suatu keahlian. Komponen

    pengetahuan meliputi: pengetahuan terhadap fakta-fakta, prosedur-

    prosedur dan pengalaman.

    b. Ciri-Ciri Psikologis (Psychological Traits)

    Komponen ini meliputi kemampuan didalam berkomunikasi, kreatifitas,

    kemampuan bekerjasama dengan orang lain, dan kepercayaan kepada

    keahlian.

    c. Kemampuan Berfikir (Cognitive Abilities)

    Merupakan kemampuan untuk mengakumulasi dan mengolah informasi.

    Beberapa karakteristik yang dapat dimasukkan sebagai unsur kemampuan

    berfikir, misalnya: kemampuan beradaptasi pada situasi yang baru,

    kemampuan untuk memfokuskan pada fakta-fakta yang relevan dan

    kemampuan untuk mengabaikan fakta yang tidak relevan, serta

    kemampuan untuk dapat menghindari tekanan dari pihak manapun.

    d. Strategi Penentuan Keputusan (Decision Strategis)

    Kemampuan seorang auditor dalam membuat keputusan secara sistematis

    baik formal maupun informal akan membantu dalam mengatasi

    keterbatasan manusia.

    e. Analisa Tugas (Task Analysis)

    Banyak dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman audit dan analisis

    tugas. Kompleksitas tugas akan mempengaruhi pilihan terhadap bantuan

    keputusan oleh auditor yang telah tinggi pengalamannya.

  • 20

    D. Independensi Auditor

    1. Definisi Independensi

    Independensi dianggap sebagai karakteristik auditor yang paling kritis,

    bahkan nilai auditing sangat bergantung pada persepsi publik atas

    independensi auditor (Arens et.al., 2008). Kwanbo (2009), mendefinisikan

    independensi sebagai berikut:

    Independence is the ability to act with integrity and objectivity, and that certain relationships with client would cause third parties to question the ability of an auditor to act with requisite impartiality.

    Ikatan Akuntan Indonesia (IAI, 2009) melalui Standar Profesional

    Akuntan Publik SA Seksi 220 mendefinisikan independensi sebagai berikut:

    Independen, artinya tidak mudah dipengaruhi, tidak dibenarkan memihak kepada kepentingan siapapun, mengakui kewajiban untuk jujur tidak hanya kepada manajemen dan pemilik perusahaan, namun juga kepada kreditur dan pihak lain yang meletakkan kepercayaan (paling tidak sebagian) atas laporan auditor independen. Independensi dalam audit berarti cara pandang yang tidak memihak di

    dalam pelaksanaan pengujian, evaluasi hasil pemeriksaan, dan penyusunan

    laporan audit (Arens, 2006). Menurut Standar Audit Pemerintah 1995,

    independensi merupakan suatu pendapat, kesimpulan, pertimbangan atau

    rekomendasi dari hasil audit yang dilaksanakan secara tidak memihak dan

    dipandang tidak memihak oleh pihak ketiga yang memiliki pengetahuan

    mengenai hal itu.

  • 21

    Berdasarkan definisi tersebut, independensi adalah suatu tindakan baik

    berupa sikap dan perbuatan atau mental dari dalam diri auditor dalam proses

    audit dimana auditor dapat memposisikan dirinya dengan auditee secara

    tidak memihak.

    Independensi merupakan dasar dari struktur filosofi profesi. Bagaimana

    kompetennya seorang CPA dalam melaksanakan audit dan jasa atestasi

    lainnya, pendapatnya akan menjadi kurang bernilai bagi mereka yang

    mengandalkan laporan auditor apabila CPA tersebut tidak independen. Para

    anggota dalam memberikan jasa tersebut harus bersikap independen dalam

    segala hal, artinya para anggota harus bersikap dengan integritas dan

    objektivitas (Boynton, 2006).

    2. Aspek Independensi

    Menurut Taylor (1997), ada dua aspek independensi yaitu:

    a. Independensi sikap mental (independence of mind/ independence of

    mental attitude), independensi sikap mental ditentukan oleh pikiran

    akuntan publik untuk bertindak dan bersikap independen.

    b. Independensi penampilan (image projected to the public/ appearance of

    independence), independensi penampilan ditentukan oleh kesan

    masyarakat terhadap independensi akuntan publik.

    Menurut Supriyono (1998) dalam penelitian Mayangsari (2003), ada

    enam faktor yang mempengaruhi independensi akuntan publik, salah

    satunya adalah jasa-jasa lain selain audit yang dilakukan oleh auditor bagi

    klien. Seringkali manajemen klien meminta kantor akuntan publik untuk

  • 22

    memberikan jasa lain selain jasa audit. Pemberian jasa lain selain jasa audit

    dapat menimbulkan pertanyaan yang mendasar apakah akuntan publik

    tersebut dapat mempertahankan independensinya.

    3. Faktor-faktor yang Mengganggu Independensi

    Secara garis besar, standar-standar pemeriksaan seperti GAAS

    (General Accepted Auditing Standard) dan SPKN (Standar Pemeriksaan

    Keuangan Negara) menyatakan ada tiga faktor gangguan yang dapat

    mempengaruhi independensi pemeriksa yaitu gangguan yang bersifat

    pribadi, gangguan yang bersifat eksternal dan gangguan yang bersifat

    organisasi. Para auditor, termasuk konsultan yang dipekerjakan dan tenaga

    ahli serta spesialis internal yang melaksanakan tugas audit, perlu memiliki

    pertimbangan terhadap tiga macam gangguan, yaitu sebagai berikut:

    a. Gangguan yang bersifat pribadi

    Gangguan yang bersifat pribadi merupakan suatu keadaan dimana

    auditor secara individu tidak bisa untuk tidak memihak, atau dianggap

    tidak mungkin tidak memihak. Gangguan yang bersifat pribadi ini dapat

    berlaku bagi auditor secara individu dan juga berlaku bagi organisasi.

    Gangguan independensi yang bersifat pribadi, antara lain sebagai berikut:

    1) Hubungan dinas, profesi, pribadi, atau keuangan yang mungkin dapat

    menyebabkan seorang auditor membatasi pengungkapan temuan

    audit, memperlemah atau membuat temuan auditnya menjadi

    memihak salah satu pihak.

  • 23

    2) Prasangka terhadap perorangan, kelompok, organisasi atau tujuan

    suatu program, yang dapat membuat pelaksanaan audit menjadi

    berpihak kepada salah satu pihak.

    3) Pada masa sebelumnya memiliki tanggung jawab dalam pengambilan

    keputusan atau pengelolaan suatu entitas, yang berdampak pada

    pelaksanaan kegiatan atau program entitas yang sedang berjalan atau

    sedang diaudit.

    4) Kecenderungan untuk memihak, karena keyakinan politik atau social,

    sebagai akibat hubungan antar pegawai, kesetiaan kelompok,

    organisasi atau tingkat pemerintahan tertentu.

    5) Pelaksanaan audit oleh seorang auditor yang sebelumnya pernah

    sebagai pejabat yang menyetujui faktur, daftar gaji, klaim, dan

    pembayaran yang diusulkan oleh suatu entitas atau program yang

    diaudit.

    6) Pelaksanaan audit oleh seorang auditor, yang sebelumnya pernah

    menyelenggarakan catatan akuntansi resmi atau lembaga/ unit kerja

    atau program yang diaudit.

    b. Gangguan yang bersifat eksternal

    Gangguan yang bersifat eksternal bagi organisasi/ lembaga audit

    dapat membatasi pelaksanaan audit atau mempengaruhi kemampuan

    auditor dalam menyatakan pendapat dan kesimpulan auditnya secara

    independen dan objektif. Gangguan ini antara lain sebagai berikut:

  • 24

    1) Campur tangan atau pengaruh pihak eksternal yang membatasi atau

    mengubah secara tidak semestinya terhadap lingkup audit.

    2) Campur tangan pihak eksternal terhadap pemilihan dan penerapan

    prosedur audit, atau dalam pemilihan transaksi yang harus diperiksa.

    3) Campur tangan pihak luar terhadap organisasi lembaga audit mengenai

    penugasan, penunjukkan dan promosi staff pelaksana audit.

    4) Pembatasan terhadap sumber yang disediakan bagi organisasi lembaga

    audit tersebut dalam melaksanakan tugasnya.

    5) Wewenang untuk menolak atau mempengaruhi pertimbangan auditor

    terhadap isi yang sesungguhnya dari suatu laporan audit.

    c. Gangguan yang bersifat organisasi

    Independensi para auditor pemerintah dapat dipengaruhi oleh

    kedudukannya dalam struktur organisasi pemerintah, tempat auditor

    tersebut ditugaskan, dan juga dipengaruhi oleh audit yang

    dilaksanakannya, yaitu apakah mereka melakukan audit internal atau

    audit terhadap entitas lain.

    4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Independensi

    Setiap auditor, harus menjaga dan mempertahankan independensinya

    dengan cara menghindari faktor-faktor yang dapat merusak independensi.

    Oleh karena itu, auditor harus mengetahui faktor apa saja yang mungkin

    dapat merusak independensinya. Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI)

    sebagai organisasi tunggal profesi akuntan publik di Indonesia sampai saat

    ini belum mengeluarkan secara resmi mengenai faktor-faktor yang

  • 25

    mempengaruhi independensi auditor. Untuk memberikan gambaran secara

    rinci mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi independensi auditor akan

    dijelaskan sebagai berikut:

    a. Komite Audit

    Komite audit adalah sejumlah anggota terpilih dari dewan direksi

    sebuah perusahaan yang tanggung jawabnya membantu auditor untuk

    tetap independen dari pihak manajemen. Kebanyakan komite audit dibuat

    dari tiga hingga lima atau terkadang tujuh direktur yang bukan dari

    manajemen (Arens, 2003).

    b. Kondisi Keuangan Perusahaan Klien

    Shuctz dan Gustavon (1987) menemukan bukti bahwa akuntan

    merasa resiko kewajiban hukum kantor akuntan berhubungan terbalik

    dengan kondisi keuangan klien. Apabila kondisi keuangan klien buruk,

    maka auditor tidak mungkin menyerah pada tekanan kliennya sehingga

    merasa khawatir atau takut dalam tuntutan hukum. Hasil riset yang

    dilakukan oleh Knapp (1985) menemukan bukti bahwa pada saat kondisi

    keuangan klien buruk, persepsi bankir tentang independensi auditor

    meningkat. Kejadian seperti ini membuat auditor tidak mungkin

    menyerah pada tekanan kliennya walaupun tuntutan hukum meningkat.

    c. Jasa Konsultasi Manajemen

    Menurut Boynton (2006), jenis utama jasa-jasa yang diberikan oleh

    kantor akuntan publik adalah:

  • 26

    1) jasa akuntansi dan kompilasi

    2) jasa atestasi seperti jasa audit, pemeriksaan, jasa review, prosedur yang

    disepakati

    3) jasa lain seperti jasa teknologi, konsultasi manajemen, perencanaan

    keuangan

    Aktivitas kantor akuntan publik selain memberikan jasa audit, juga

    memberikan jasa-jasa lain, pemberian jasa konsultasi ini memungkinkan

    hilangnya independensi akuntan publik karena akuntan publik akan

    cenderung memihak pada kepentingan kliennya.

    d. Tingkat Persaingan antar Kantor Akuntan Publik

    Persaingan antar kantor akuntan publik dapat diidentifikasi sebagai

    perubahan penting yang terjadi pada lingkungan pelayanan jasa audit

    yang ditandai dengan adanya kantor akuntan lain yang memasuki market

    audit untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada dan tidak

    dapat meniru siasat pemasaran agresif. Ketatnya persaingan antar kantor

    akuntan publik, kemungkinan memiliki pengaruh besar terhadap

    independensi auditor eksternal, karena tiap kantor akuntan dihadapkan

    pada dua pilihan, yakni kehilangan kliennya karena mencari kantor

    akuntan lain atau mengeluarkan opininya sesuai dengan keinginan klien.

    e. Lamanya Hubungan antara Kantor Akuntan Publik

    Lamanya hubungan antara kantor akuntan publik dengan kliennya

    adalah lamanya waktu yang digunakan oleh kantor akuntan dalam

    melayani kebutuhan audit yang disediakan untuk kliennya. Tingkat

  • 27

    lamanya hubungan antara KAP dengan kliennya diklasifikasikan menjadi

    dua kategori, yaitu: lima tahun/ kurang dan lebih dari lima tahun.

    Pembagian ini konsisten dengan ketentuan yang ditetapkan oleh AICPA.

    5. Indikator Independensi

    Menurut Boynton (2006), beberapa indikator independensi

    professional antara lain:

    a. Independensi dalam program audit

    1) Bebas dari intervensi manajemen atas program audit

    2) Bebas dari segala intervensi atas prosedur audit

    3) Bebas dari segala persyaratan untuk penugasan audit selain yang

    memang disyaratkan untuk sebuah proses audit

    b. Independensi dalam verifikasi

    1) Bebas dalam mengakses semua catatan, memeriksa aktiva, dan

    karyawan yang relevan dengan audit yang dilakukan

    2) Mendapat kerjasama yang aktif dari karyawan manajemen selama

    verifikasi audit

    3) Bebas dari segala usaha manajemen yang ditujukan untuk membatasi

    aktivitas yang diperiksa atau membatasi perolehan barang bukti

    4) Bebas dari kepentingan pribadi yang menghambat verifikasi audit

    c. Independensi dalam pelaporan

    1) Bebas dari perasaan wajib memodifikasi dampak atau signifikansi dari

    fakta-fakta yang dilaporkan

  • 28

    2) Bebas dari tekanan untuk tidak melaporkan hal-hal yang signifikan

    dalam laporan audit

    3) Menghindari penggunaan kata-kata yang menyesatkan baik secara

    sengaja maupun tidak sengaja dalam melaporkan fakta, opini, dan

    rekomendasi dalam interpretasi auditor

    4) Bebas dari segala usaha untuk meniadakan pertimbangan auditor

    mengenai fakta atau opini dalam laporan audit

    E. Materialitas

    1. Definisi Materialitas

    Materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji

    informasi akuntansi, dilihat dari keadaan yang melingkupinya, yang mungkin

    dapat mengakibatkan perubahan pengaruh terhadap pertimbangan orang yang

    meletakkan kepercayaan atas informasi tersebut karena adanya penghilangan

    atau salah saji tersebut (Agoes, 2004). Standar yang tinggi dalam praktik

    akuntansi akan memecahkan masalah yang berkaitan dengan konsep

    materialitas. Pedoman materialitas yang beralasan, yang diyakini oleh

    sebagian besar anggota profesi akuntan adalah standar yang berkaitan dengan

    informasi laporan keuangan bagi para pemakai, akuntan harus menentukan

    berdasarkan pertimbangannya tentang besarnya sesuatu/informasi yang

    dikatakan material.

    Menurut Boynton (2006), materialitas adalah besarnya suatu pengabaian

    atau salah saji informasi akuntansi yang diluar keadaan disekitarnya

    memungkinkan bahwa pertimbangan seseorang yang bergantung pada

  • 29

    informasi tersebut akan berubah atau terpengaruh oleh pengabaian atau salah

    saji tersebut. Definisi tersebut mensyaratkan auditor untuk mempertimbangkan

    baik situasi yang berkenaan dengan entitas dan informasi yang dibutuhkan

    oleh mereka yang akan bergantung pada laporan keuangan yang diaudit.

    Definisi dari materialitas dalam kaitannya dengan akuntansi dan

    pelaporan audit menurut Arens (2006) adalah suatu salah saji dalam laporan

    keuangan dapat dianggap material jika pengetahuan atas salah saji tersebut

    dapat mempengaruhi keputusan pemakai keuangan.

    Diterapkannya definisi ini, menggunakan tiga tingkatan materialitas

    dalam mempertimbangkan jenis laporan yang harus dibuat:

    a. Jumlahnya tidak material. Jika terdapat salah saji dalam laporan keuangan,

    tetapi cenderung tidak mempengaruhi keputusan pemakai laporan, salah

    saji tersebut dianggap tidak material. Pendapat wajar tanpa pengecualian

    dapat diberikan.

    b. Jumlahnya material tetapi tidak mengganggu laporan keuangan secara

    keseluruhan. Tingkat materialitas ini, terjadi jika salah saji di dalam laporan

    keuangan dapat mempengaruhi keputusan pemakai tetapi keseluruhan

    laporan keuangan tersebut tersaji dengan benar sehingga tetap berguna.

    Untuk memutuskan materialitas jika terdapat kondisi yang menghendaki

    adanya penyimpangandari laporan wajar tanpa pengecualian, auditor harus

    mengevaluasi semua pengaruhnya terhadap laporan keuangan. Jika auditor

    menyimpulkan bahwa salah saji tersebut cukup material tetapi tidak

  • 30

    mengganggu laporan keuangan secara keseluruhan, maka pendapat yang

    tepat adalah pendapat wajar dengan pengecualian.

    c. Jumlahnya sangat material/pengaruhnya sangat meluas sehingga kewajaran

    laporan keuangan secara keseluruhan diragukan. Tingkat materialitas

    tertinggi terjadi jika para pemakai laporan keuangan dapat membuat

    keputusan yang salah jika mereka mengandalkan laporan keuangan secara

    keseluruhan. Semakin meluas pengaruh salah saji, kemungkinan untuk

    menerbitkan pendapat tidak wajar akan lebih besar daripada pendapat wajar

    dengan pengecualian.

    Berdasarkan beberapa definisi diatas, pengertian materialitas adalah

    suatu pengabaian atau salah saji informasi dalam laporan keuangan yang bisa

    menyebabkan pemakai laporan keuangan salah dalam mengambil keputusan.

    2. Konsep Materialitas

    Materialitas dalam akuntansi adalah sesuatu yang relatif, nilai kuantitatif

    yang penting dari beberapa informasi keuangan, bagi para pemakai laporan

    keuangan, dalam konteks pembuatan keputusan (Paul Frishkoff 1970 dalam

    Hastuti et.al.,2003). Menurut Moriarty dan Barron (1980) dalam Hastuti

    et.al.,(2003) yang menyatakan bahwa konsep materialitas adalah jika dua nilai

    diputuskan material, maka dua nilai akan dibandingkan dengan hasil salah satu

    dari nilai tersebut mungkin lebih material daripada nilai yang lain. Hal ini

    merupakan aspek materialitas yang dapat membantu pertimbangan auditor

    dalam mengambil keputusan yang tepat dan terbaik.

  • 31

    Peran konsep materialitas adalah mempengaruhi kuantitas dan kualitas

    informasi akuntansi yang diperlukan auditor dalam membuat keputusan yang

    berkaitan dengan bukti audit. Konsep materialitas menyatakan bahwa tidak

    semua informasi keuangan diperlukan dalam laporan akuntansi, hanya

    informasi yang material yang seharusnya disajikan. Informasi yang tidak

    material seharusnya diabaikan atau dihilangkan. Hal tersebut dapat

    dianalogikan bahwa konsep materialitas juga tidak memandang secara lengkap

    terhadap semua kesalahan, hanya kesalahan yang mempunyai pengaruh

    material yang wajib diperbaiki.

    Menurut Boynton et.al.,(2006) menyatakan bahwa konsep materialitas

    dapat mempengaruhi proses audit dengan cara:

    a. Auditor membuat suatu keputusan material jika ada suatu perencanaan

    dalam mengambil keputusan yang penting mengenai lingkup audit.

    Materialitas merupakan konsep penting untuk membantu auditor dalam

    menemukan salah saji yang secara potensial akan mempengaruhi

    pengguna laporan keuangan.

    b. Konsep materialitas dapat membantu auditor dalam proses evaluasi audit.

    Melalui pengumpulan bukti audit, auditor harus dapat menilai audit secara

    signifikan.

  • 32

    E. Hasil Penelitian Terdahulu

    No Peneliti Judul Variabel Metodologi

    Penelitian

    Hasil

    Penelitian

    1. Ani

    Rohani

    (2008)

    Pengaruh

    Profesionalisme

    Auditor, Gender

    dan Pengalaman

    Audit Terhadap

    Tingkat

    Materialitas dalam

    Pemeriksaan

    Laporan Keuangan

    Profesionalisme

    Auditor (X1),

    Gender (X2),

    Pengalaman

    Audit (X3).

    Tingkat

    Materialitas

    dalam

    Pemeriksaan

    Laporan

    Keuangan (Y)

    Metode yang

    dipakai

    adalah

    convenience

    sampling.

    Metode

    penaksiran

    yang dipakai

    adalah OLS

    (Ordinary

    Least

    Square)

    dengan

    Hasil

    penelitian

    menunjukkan

    bahwa

    professionali

    sme auditor,

    gender dan

    pengalaman

    audit tidak

    berpengaruh

    secara

    signifikan

    terhadap

  • 33

    analisis

    Multiple

    Linier

    Regression

    (Regresi

    Linier

    Berganda).

    pertimbanga

    n tingkat

    materialitas.

    2. Hendro

    Wahyudi

    (2006)

    Pengaruh

    Profesionalisme

    Auditor Terhadap

    Tingkat

    Materialitas dalam

    Pemeriksaan

    Laporan Keuangan

    Pengabdian

    pada profesi

    (X1), kewajiban

    sosial (X2),

    keandirian (X3),

    kepercayaan

    profesi(X4), dan

    hubungan

    dengan rekan

    seprofesi(X5).

    Tingkat

    Materialitas

    dalam

    Pemeriksaan

    Laporan

    Keuangan (Y).

    Metode

    penelitian

    yang

    digunakan

    adalah

    pengujian

    hipotesis.

    Besarnya

    sampel

    dipilih

    dengan

    metode

    systematic

    random.

    Hasil

    penelitian

    Menunjukka

    n bahwa

    pengabdian

    pada profesi

    memiliki

    pengaruh

    yang

    signifikan

    terhadap

    tingkat

    materialitas.

    Menunjukka

    n bahwa

    kewajiban

    social tidak

    memiliki

  • 34

    dari analisis

    regresi

    berganda.

    pengaruh

    yang

    signifikan

    terhadap

    tingkat

    materialitas.

    Menunjukan

    bahwa

    kemandirian

    memiliki

    pengaruh

    yang

    signifikan

    terhadap

    tingkat

    materialitas.

    Menunjukan

    bahwa

    kepercayaan

    pada profesi

    memiliki

    pengaruh

  • 35

    yang

    signifikan

    terhadap

    tingkat

    materialitas.

    Menunjukan

    bahwa

    hubungan

    dengan

    sesama

    rekan

    seprofesi

    memiliki

    pengaruh

    yang

    signifikan

    terhadap

    tingkat

    materialitas.

    3. Trisni

    Hapsari

    (2007)

    Pengaruh

    Kompetensi dan

    Independensi

    Terhadap Kualitas

    Kompetensi

    (X1),

    Independensi

    (X2).

    Penelitian ini

    dilakukan

    dengan

    pendekatan

    Penelitian ini

    berhasil

    memberikan

    bukti bahwa

  • 36

    Audit dengan

    Etika Auditor

    sebagai Variabel

    Moderasi

    Kualitas Audit

    (Y)

    explanatory

    research,

    yaitu

    memberikan

    penjelasan

    pengaruh

    kompetensi

    dan

    independensi

    terhadap

    kualitas audit

    dengan etika

    auditor

    sebagai

    variabel

    moderasi.

    kompetensi

    berpengaruh

    signifikan

    terhadap

    kualitas

    audit. Hal ini

    berarti bahwa

    kualitas audit

    dapat dicapai

    jika auditor

    memiliki

    kompetensi

    yang baik,

    dimana

    kompetensi

    tersebut

    terdiri dari

    dua dimensi

    yaitu

    pengalaman

    dan

    pengetahuan.

    4. Reni Analisis Pengaruh Pelaksanaan Penelitian ini Hasil uji

  • 37

    Rukmini

    (2008)

    Pelaksanaan

    Electronic Data

    Processing Audit

    dan Resiko Audit

    Terhadap Kinerja

    Audit.

    Electronic Data

    Processing

    Audit (X1),

    Resiko Audit

    (X2).

    Kinerja Audit

    (Y)

    dilakukan

    dengan

    model

    analisis jalur

    (path

    analysis)

    untuk

    menganalisa

    besarnya

    pengaruh

    variabel

    langsung

    suatu

    variabel

    yang

    mempenga-

    ruhi

    (eksogen),

    variabel

    yang

    dipengaruhi

    (endogen).

    parsial

    menyatakan

    bahwa

    pelaksanaan

    EDP audit

    memiliki

    pengaruh

    yang

    signifikan

    terhadap

    tinggi

    rendahnya

    kinerja audit

    yang

    dihasilkan.

    Hasil uji

    parsial

    menyatakan

    bahwa

    resiko audit

    memiliki

    pengaruh

    terhadap

  • 38

    kinerja audit

    tetapi tidak

    signifikan

    Hasil uji

    secara

    simultan

    antara

    pelaksanaan

    EDP audit

    dan resiko

    audit

    berpengaruh

    secara

    signifikan

    terhadap

    kinerja

    audit.

    5. Soesanto

    Warsoko

    (2007)

    Faktor-Faktor

    yang

    Mempengaruhi

    Kualitas Informasi

    Akuntansi pada

    Implementasi

    Lembaga

    Pengelola (X1),

    Sumber Daya

    Manusia (X2),

    Sarana dan

    Prasarana (X3),

    Analisis

    Data Regresi

    Linier

    Berganda.

    Uji F

    dilakukan

    Model

    persamaan

    simultan

    hasil regresi

    telah

    menyimpul-

  • 39

    Basis Data

    Program Financial

    Accounting And

    Monitoring

    System (PFAMS).

    Kemudahan

    Data (X4).

    Kualitas

    Informasi (Y).

    untuk

    melihat

    kontribusi

    pengaruh

    secara

    simultan

    keseluruhan

    variabel

    independen

    terhadap

    variabel

    dependen

    dalam model

    regresi linier

    dan uji t

    dilakukan

    untuk

    menguji

    hipotesis

    setiap

    variabel

    independen.

    kan bahwa

    kualitas

    informasi

    akuntansi

    sistem yang

    berbasis data

    PFAMS di

    Jawa Timur

    secara

    signifikansi

    dipengaruhi

    oleh kualitas

    lembaga

    pengelola,

    kualitas

    sumber daya

    manusia,

    kualitas

    sarana dan

    prasarana

    serta

    kemudahan

    data.

  • 40

  • 41

  • 42

    G. Keterkaitan Antar Variabel

    1. Pengaruh Penerapan EDP Audit terhadap Tingkat Materialitas dalam Audit

    Laporan Keuangan

    Menurut Rukmini (2008) dalam penelitiannya mengenai pengaruh

    pelaksanaan EDP audit dan resiko audit terhadap kinerja audit menyatakan

    bahwa pelaksanaan EDP audit memiliki pengaruh yang signifikan terhadap

    tinggi rendahnya kinerja audit yang dihasilkan. Hal ini menggambarkan

    bahwa semakin baik pelaksanaan EDP audit maka semakin baik kinerjanya,

    hal ini dikarenakan semakin kuatnya bukti yang dikumpulkan.

    Penerapan EDP audit, bagi sebagian auditor merupakan hal yang baru

    sehingga auditor harus mempelajari EDP audit itu sendiri sebagai suatu

    keahlian baru. Penerapan EDP Audit yang berkaitan dengan tingkat

    materialitas laporan keuangan, berkaitan pula dengan keahlian auditor dalam

    melaksanakan audit yang dibantu dengan komputer atau EDP audit. Apabila

    auditor tidak memiliki keahlian dalam pengauditan maka akan

    mengakibatkan kurangnya bukti yang dihasilkan karena pelaksanaan EDP

    audit bukan saja terhadap audit yang dilakukan secara konvensional tetapi

    juga harus dilakukan terhadap elektronik yang digunakan untuk menguji

    tingkat relevansinya, dan juga digunakan untuk menguji tingkat materialitas

    laporan keuangan itu sendiri. Berdasarkan keterangan tersebut, maka diduga

    penerapan EDP audit berpengaruh terhadap tingkat materialitas dalam audit

    laporan keuangan, sehingga dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

    Ha1: Penerapan EDP audit berpengaruh terhadap tingkat materialitas dalam

    audit laporan keuangan.

  • 43

    2. Pengaruh Kompetensi Auditor terhadap Tingkat Materialitas dalam Audit

    Laporan Keuangan

    Menurut Mardiyah dan Hendro Wahyudi (2006) dalam penelitiannya

    tentang pengaruh profesionalisme auditor terhadap tingkat materialitas

    dalam pemeriksaan laporan keuangan menyatakan bahwa profesionalisme

    berpengaruh terhadap tingkat materialitas dalam pemeriksaan laporan

    keuangan, dimana profesionalisme seorang auditor dalam mengaudit laporan

    keuangan harus bebas dari tekanan terutama dalam mengaudit laporan

    keuangan, sehingga laporan tersebut dapat disajikan dengan sebenarnya dan

    sesuai dengan standar audit yang berlaku. Dalam perencanaan audit, auditor

    eksternal antara lain mempertimbangkan masalah penetapan tingkat resiko

    pengendalian yang direncanakan dan pertimbangan awal tingkat materialitas

    untuk tujuan audit. Auditor yang memiliki pandangan profesionalisme yang

    tinggi akan memberikan kontribusi yang dapat dipercaya oleh para

    pengambil keputusan. Untuk menjalankan tugasnya, auditor dituntut

    memiliki tanggung jawab yang besar dan memiliki wawasan yang luas

    tentang kompleksitas organisasi modern. Berdasarkan keterangan tersebut,

    maka diduga kompetensi auditor berpengaruh terhadap tingkat materialitas

    dalam audit laporan keuangan, sehingga dirumuskan hipotesis sebagai

    berikut:

    Ha2: Kompetensi auditor berpengaruh terhadap tingkat materialitas dalam

    audit laporan keuangan.

  • 44

    3. Pengaruh Independensi Auditor Terhadap Tingkat Materialitas dalam Audit

    Laporan Keuangan

    Menurut Devi Megasari (2008), dalam penelitiannya mengenai

    pengaruh etika, keahlian audit, dan independensi terhadap opini audit

    menyatakan bahwa terdapat pengaruh antara etika, keahlian audit, dan

    independensi terhadap opini audit. Sikap independensi seorang auditor harus

    selalu konsisten, karena sikap tersebut mutlak diperlukan bagi seorang

    auditor dalam menjalankan tugasnya. Pemahaman seorang auditor untuk

    bersikap independen juga diperlukan etika auditor agar hasil pemeriksaan

    laporan keuangan yang dilakukan auditor berupa opini audit dapat

    diandalkan. Berdasarkan keterangan tersebut, diduga independensi auditor

    berpengaruh terhadap tingkat materialitas dalam audit laporan keuangan,

    sehingga dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

    Ha3: Independensi auditor berpengaruh terhadap tingkat materialitas dalam

    audit laporan keuangan.

    H. Kerangka Pemikiran

    Abdul Hamid (2007), kerangka pemikiran merupakan sintesa dari

    serangkaian teori yang tertuang dalam tinjauan pustaka, yang pada dasarnya

    merupakan gambaran sistematis dari kinerja teori dalam memberikan solusi

    atau alternatif solusi dari serangkaian masalah yang ditetapkan.

  • 45

    Berdasarkan definisi tersebut, variabel variabel yang akan diuji dalam

    penelitian ini akan dikembangkan dalam sebuah kerangka pemikiran yang

    dapat digambarkan sebagai berikut:

    Variabel Independen Variabel Dependen

    Gambar 2.1

    Kerangka Pemikiran

    Penerapan

    EDP Audit

    (X1)

    Kompetensi

    Auditor

    (X2)

    Independensi

    Auditor

    (X3)

    Tingkat Materialitas dalam

    Audit Laporan Keuangan

    (Y)

  • 46

    I. Perumusan Hipotesis

    Perumusan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini bertujuan untuk

    menguji seberapa besar pengaruh penerapan EDP (Electronic Data Processing)

    audit, kompetensi, dan independensi auditor terhadap tingkat materialitas

    dalam audit laporan keuangan, maka hipotesis yang akan diuji dalam penelitian

    ini adalah sebagai berikut:

    Ha1: Penerapan EDP audit berpengaruh signifikan terhadap tingkat

    materialitas dalam audit laporan keuangan.

    Ha2: Kompetensi auditor berpengaruh signifikan terhadap tingkat

    materialitas dalam audit laporan keuangan.

    Ha3: Independensi auditor berpengaruh signifikan terhadap tingkat

    materialitas dalam audit laporan keuangan.

    Ha4: Penerapan EDP audit, kompetensi, dan independensi auditor

    berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap tingkat

    materialitas dalam audit laporan keuangan.

  • 47

    BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

    A. Ruang Lingkup Penelitian

    Tempat yang digunakan sebagai tujuan penelitian ini adalah Kantor

    Akuntan Publik (KAP) di Jakarta untuk memperoleh data yang berkaitan

    dengan permasalahan yang diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa

    adanya pengaruh yang signifikan antara penerapan EDP audit, kompetensi dan

    independensi auditor terhadap tingkat materialitas dalam audit laporan

    keuangan.

    B. Metode Pemilihan Sampel

    Menurut Nur Indrianto dan Bambang Soepomo (2002) populasi adalah

    sekelompok orang, kejadian atau segala sesuatu yang mempunyai karakteristik

    tertentu. Penelitian ini mengambil objek pada auditor-auditor yang terdapat

    pada Kantor Akuntan Publik (KAP) di Jakarta.

    Metode penentuan sampel menggunakan pemilihan sampel bertujuan

    (purpose sampling) dilakukan dengan mengambil sampel dari populasi

    berdasarkan suatu kriteria tertentu. Untuk memperoleh laporan yang sesuai dan

    terukur, maka pengambilan sampel dengan menggunakan metode judgment

    sampling merupakan tipe pemilihan sampel secara tidak acak yang

    informasinya diperoleh dengan mengunakan pertimbangan tertentu, dengan

    kriteria responden yaitu auditor yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik yang

    terdapat di Jakarta.

    47

  • 48

    C. Metode Pengumpulan Data

    1. Data Primer (Primary data)

    Untuk mendukung penelitian ini dan memperoleh data yang

    dibutuhkan maka jenis data yang digunakan adalah data primer. Data

    primer yang dikumpulkan melalui metode survey dengan menggunakan

    kuesioner yang dibuat oleh penulis. Kuesioner ini diperoleh dari beberapa

    sumber referensi, yang kemudian akan dimodifikasi dalam bentuk

    pertanyaan. Bobot penilaian atau angka hasil kuesioner dalam penelitian ini

    sesuai dengan yang digambarkan dalam skala likert (Likert Scale). Skala

    likert menggunakan lima angka penilaian, yaitu:

    Tabel 3.1 Tingkat Penelitian Jawaban

    No. Jenis Jawaban Bobot

    1. Sangat Tidak Setuju (STS) 1

    2. Tidak Setuju (TS) 2

    3. Tidak Pasti Setuju (TP) 3

    4. Setuju (S) 4

    5. Sangat Setuju (SS) 5

    Kuesioner ini selanjutnya dikirimkan kepada para karyawan atau staff

    di KAP yang ada di Jakarta. Pengiriman kuesioner dilakukan secara

    langsung, yaitu dengan mengirimkan langsung kepada kantor yang

    bersangkutan.

  • 49

    D. Metode Analisis dan Pengolahan Data

    Penelitian ini menggunakan metode analisis statistik deskriptif merupakan

    statistik yang menggambarkan fenomena atau karakteristik dari data, yaitu

    dengan memberikan gambaran tentang pengaruh penerapan EDP audit,

    kompetensi dan independensi auditor terhadap tingkat materialitas dalam audit

    laporan keuangan.

    1. Uji Normalitas Data

    Untuk mengolah data digunakan Uji Normalitas, yang menguji apakah

    dalam sebuah model regresi, variabel independen dan variabel dependen

    atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Dengan

    menggunakan Normal P-P Plot data yang ditunjukkan menyebar disekitar

    garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi dapat

    dikatakan memenuhi asumsi normalitas (Santoso, 2002).

    2. Uji Hipotesis

    Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan model

    regresi berganda untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai

    hubungan antara variabel dependen, yaitu: tingkat materialitas dalam audit

    laporan keuangan, sedangkan variabel independennya adalah penerapan

    EDP Audit dan kompetensi auditor.

    Model persamaanya dapat dinyatakan sebagai berikut:

    Y= a+b1X1+b2X2+b3X3+e

  • 50

    Penjelasan model tersebut adalah sebagai berikut:

    Y = Tingkat Materialitas dalam Audit Laporan Keuangan

    a = Konstanta

    X1 = Penerapan EDP audit

    X2 = Kompetensi Auditor

    X3 = Independensi Auditor

    bx = Koefisien Regresi

    e = Error

    Linieritas hanya dapat diterapkan pada regresi berganda karena

    memiliki variabel dependen lebih dari satu. Suatu model regresi berganda

    dikatakan linier jika memenuhi syarat-syarat linieritas, seperti normalitas

    data (baik secara individu maupun model), bebas dari asumsi klasik statistik

    multikolineritas, auto korelasi, dan heteroskesdastisitas. Model regresi linier

    berganda dikatakan model yang baik jika memenuhi asumsi normalitas data

    dan terbebas dari asumsi-asumsi klasik statistik.

    Dalam uji hipotesis ini dilakukan melalui:

    a. Koefisien Determinasi

    Koefisien determinasi (R2) bertujuan untuk mengukur kemampuan

    variabel-variabel independen, yaitu penerapan EDP audit, kompetensi,

    dan independensi auditor dalam menjelaskan variabel dependen, yaitu

    tingkat materialitas dalam audit laporan keuangan. Nilai koefisien

    determinasi (R2) untuk menunjukan persentase tingkat kebenaran prediksi

    dari pengujian regresi yang dilakukan. Nilai R2, memiliki range antara 0

  • 51

    sampai 1. Jika nilai R2 semakin mendekati 1 maka berarti semakin besar

    variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen.

    Hubungan antara variabel-variabel independen dengan variabel dependen,

    diukur dengan koefisien korelasi (R). Jika angka R diatas 0.5 maka

    korelasi atau hubungan antara variabel independen dengan variabel

    dependen adalah kuat. Sebaliknya jika R di bawah 0.5 maka korelasi atau

    hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen adalah

    lemah (Santoso, 2002).

    b. Uji F

    Uji F dilakukan dengan tujuan untuk menguji variabel independen,

    yaitu penerapan EDP audit, kompetensi dan independensi auditor

    terhadap 1 variabel dependen yaitu tingkat materialitas laporan dalam

    audit laporan keuangan. Secara bebas dengan signifikan sebesar 0.05,

    dapat disimpulkan (Ghozali, 2005).

    1) Jika nilai signifikan < 0.05, maka Ho diterima,

    2) Jika nilai signifikan > 0.05, maka Ho ditolak.

    c. Uji t

    Uji t bertujuan untuk menguji seberapa jauh pengaruh satu variabel

    independen secara individual yaitu penerapan EDP audit dan kompetensi

    auditor dalam menerangkan variabel dependen yaitu tingkat materialitas

    dalam audit laporan keuangan. Untuk dapat mengetahui apakah ada

    pengaruh yang signifikan dari variabel masing-masing independen, maka

    nilai signifikan t dibandingkan dengan derajat kepercayaan.

  • 52

    Apabila sig t lebih besar dari 0.05, maka Ho diterima. Demikian pula

    sebaliknya jika sig t lebih kecil dari 0.05, maka Ho ditolak. Bila Ho

    ditolak ini berarti ada hubungan yang signifikan antara variabel

    independen terhadap variabel dependen (Ghozali, 2005).

    3. Uji Kualitas Data

    a. Uji Validitas

    Validitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat

    pengukur benar-benar menguji apa yang perlu diukur. Dalam penelitian

    ini, uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu

    kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada

    kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh

    kuesioner tersebut.

    Uji validitas ini diukur dengan menggunakan pearson correlation

    dengan cara menghitung korelasi antara nilai masing-masing butir

    pertanyaan dengan total nilai, dinyatakan valid jika nilai signifikansi lebih

    kecil dari 0,05 (Ghozali, 2005).

    b. Uji Reliabilitas

    Reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner, dimana

    sebuah kuesioner dapat dikatakan reliabel atau handal jika jawaban

    responden terhadap pernyataan konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.

    Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan cronbach alpha

    coefficient. Jika nilai cronbach alpha lebih besar dari 0,60 maka butir

    pernyataan tersebut reliabel. (Ghozali, 2005).

  • 53

    4. Uji Asumsi Klasik

    a. Uji Multikolinearitas

    Bertujuan untuk menguji apakah model regresi yang ditemukan

    terdapat korelasi antar variabel independen. Model regresi yang baik

    seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel independen (tidak terjadi

    multikolinieritas), uji multikolinieritas dilihat dari nilai tolerance dan

    variance inlfation factor (VIF). Dari suatu model regresi yang bebas dari

    multikolinieritas adalah memiliki nilai VIF kurang dari 10 dan memiliki

    nilai tolerance lebih dari 0,10 (Ghozali, 2005).

    b. Uji Heteroskedastisitas

    Menurut Ghozali (2005), uji heteroskedastisitas bertujuan untuk

    menguji apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidasamaan varians

    dan residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi

    yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas.

    E. Operasional Variabel Penelitian

    Operasional variabel penelitian adalah sebuah konsep yang memiliki

    penjabaran dari variabel yang ditetapkan dalam suatu penelitian dan

    dimaksudkan untuk memastikan agar variabel yang diteliti secara jelas dapat

    ditetapkan indikatornya (Rukmini, 2008).

    Sebagai variabel dependen dalam penelitian ini adalah tingkat

    materialitas dalam audit laporan keuangan sedangkan independen variabelnya

    adalah penerapan EDP audit, kompetensi dan independensi auditor.

  • 54

    Pengukuran dari masing-masing variabel dapat dikemukakan sebagai berikut

    ini:

    1. Materialitas dalam audit laporan keuangan

    Materialitas adalah suatu pengabaian atau salah saji informasi

    akuntansi dalam laporan keuangan yang bisa menyebabkan pihak-pihak

    yang berkepentingan dengan laporan keuangan, salah atau terpengaruh

    dengan pengabaian atau salah saji tersebut.

    2. Penerapan EDP Audit

    EDP audit adalah proses pengumpulan dan evaluasi bukti untuk

    menetapkan apakah sistem (pembukuan) komputer dapat mengamankan

    harta, menjaga integritas data, tujuan organisasi dapat tercapai dengan

    efektif dalam pengunaan sumber daya secara efisien.

    3. Kompetensi Auditor

    Kompetensi adalah pengetahuan atau keahlian suatu individu yang

    menunjang seseorang dalam melakukan tugasnya sehingga dengan

    keterampilannya tersebut bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan

    bisa dipertanggungjawabkan. Kompetensi bisa diperoleh melalui

    pendidikan, baik formal maupun non formal dan bisa juga diperoleh

    melalui pengalaman.

    4. Independensi Auditor

    Independensi adalah suatu tindakan baik berupa sikap dan perbuatan

    atau mental dari dalam diri auditor dalam proses audit dimana auditor dapat

  • 55

    memposisikan dirinya dengan auditee secara tidak memihak, sehingga bisa

    menerbitkan opini audit yang bisa dipertanggungjawabkan.

    Berdasarkan keterangan tersebut, operasional variabel penelitian ini

    akan dijelaskan sebagai berikut:

  • 56

    Variabel Sub Variabel Indikator Ukuran

    Penerapan

    EDP Audit

    a.Pengendalian

    Umum

    b Pengendalian

    Aplikasi

    Melakukan pemisahan

    fungsi departemen EDP

    dan non EDP

    Pengendalian personil

    Pengendalian software dan

    hardware

    Dokumentasi program

    Prosedur-prosedur standar

    Pemeriksaan intern

    Pengujian sistem dan

    konversi

    Keamanan sistem

    Perencanaan penganggaran

    dan sistem pembebanan

    kepada pemakai

    Otorisasi dan validasi

    masukan

    Penanganan kesalahan

    Pemeliharaan ketepatan

    data

    Pengujian batasan yang

    memadai

    Penelaahan dan pengujian

    hasil pengolahan

    Skala

    Ordinal

  • 57

    Kompetensi

    Auditor

    a. Komponen

    Pengetahuan

    b. Ciri-ciri

    Psikologis

    c. Kemampuan

    Berpikir

    Pengalaman auditor

    berpengaruh terhadap

    tingkat materialitas laporan

    keuangan.

    Integritas dan kompetensi

    yang dimiliki auditor,

    membantu terhadap tingkat

    materialitas laporan

    keuangan.

    Pendidikan auditor

    mempengaruhi

    kemampuan auditor.

    Auditor harus menjalani

    pelatihan yang cukup.

    Pelatihan merupakan

    faktor yang mempengaruhi

    perkembangan

    pengetahuan auditor.

    Kemampuan penyesuaian

    diri dan berkomunikasi

    Sikap kritis harus dimiliki

    oleh seorang auditor

    Kepercayaan pada

    keahlian

    Kemampuan bekerjasama

    dalam sebuah tim

    Berpikir secara objektif

    serta mengambil keputusan

    Skala

    Ordinal

  • 58

    d. Strategi

    Penentuan

    Keputusan

    e. Analisa

    Tugas

    dengan analisa yang baik

    Kemampuan untuk

    memfokuskan pada fakta-

    fakta yang relevan dan

    memahami industri dan

    resiko bisnis klien

    Berfikir secara cepat dan

    terperinci

    Menggunakan kemampuan

    profesionalnya dengan

    cermat dan seksama

    Bertanggungjawab

    terhadap keputusan yang

    diambil

    Ketegasan auditor

    Analisa tugas banyak

    dipengaruhi oleh

    pengalaman audit

    Analisa tugas berpengaruh

    terhadap keputusan yang

    diambil

  • 59

    Independensi

    Auditor

    a. Independen

    dalam

    program audit

    b. Independen

    dalam

    verifikasi

    c. Independen

    dalam

    pelaporan

    Bebas dari intervensi

    manajemen atas program

    audit

    Bebas dari segala

    intervensi atas prosedur

    audit

    Bebas dalam mengakses

    semua catatan, memeriksa

    aktiva dan karyawan yang

    relevan dengan audit yang

    dilakukan

    Mendapatkan kerjasama

    yang aktif dari karyawan

    dan manajemen selama

    verifikasi audit

    Bebas dari kepentingan

    pribadi yang menghambat

    verifikasi audit

    Bebas dari tekanan untuk

    tidak melaporkan hal-hal

    yang signifikan dalam

    laporan audit

    Bebas dari segala usaha

    untuk meniadakan

    pertimbangan auditor

    mengenai fakta atau opini

    dalam laporan audit

    Skala

    Ordinal

  • 60

    Tingkat

    Materialitas

    Laporan

    Keuangan

    a. Konsep

    Materialitas

    Kuantitas dan kualitas

    informasi akuntansi yang

    diperlukan

    Menemukan salah saji

    yang secara potensial akan

    mempengaruhi pengguna

    laporan keuangan

    Skala

    Ordinal

  • 61

    BAB IV

    ANALISA DAN PEMBAHASAN

    A. Gambaran Umum Objek Penelitian

    Kantor Akuntan Publik (KAP) merupakan tempat yang melaksanakan jenis

    usaha yang terdiri dari jasa atestasi dan non atestasi, seperti audit atas laporan

    keuangan histories, akuntansi dan pembukuan, konsultasi perpajakan,

    konsultasi manajemen, pembuatan laporan keuangan kompilasi yang

    bermanfaat bagi masyarakat. Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah perusahaan

    perseorangan atau persekutuan, beberapa akuntan publik bergabung untuk

    menjalankan usahanya bersama-sama sebagai suatu sekutu atau rekan.

    Daftar nama KAP dan wilayah penyebaran kuesioner dapat ditunjukkan

    dalam tabel berikut:

    Tabel 4.1 Wilayah dan Nama KAP

    No Nama Kantor Akuntan Publik Wilayah

    1 KAP Hananta Budiarto dan Rekan Jakarta Selatan

    2 KAP Hasnil, M.Yasin dan Rekan Jakarta Selatan

    3 KAP Herman Dody Tanumihardja dan Rekan

    Jakarta Selatan

    4 KAP Kanaka Puradiredja, Suhartono Jakarta Selatan

    5 KAP Nugroho dan Rekan Jakarta Selatan

    6 KAP Rachsin dan Rekan Jakarta Selatan

    Sumber: Hasil penelitian yang diolah, 2010

  • 62

    Pengiriman kuesioner dilakukan pada awal Agustus 2010, sedangkan

    proses pengembalian dan pengumpulan data dilakukan sampai akhir Agustus

    2010. Kuesioner yang dikirim sebanyak 80 lembar eksemplar sedangkan jumlah

    yang kembali sebanyak 52 kuesioner atau 65 % dari total kuesioner yang

    dikirim. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

    Tabel. 4.2 Sample dan Tingkat Pengembalian Kuesioner

    Keterangan Jumlah

    Penyebaran Kuesioner 80

    Kuesioner yang kembali 52

    Kuesioner yang tidak kembali 28

    Kuesioner yang bisa diolah 52

    Tingkat pengembalian (Response rate) 65%

    Sumber: Hasil penelitian yang diolah, 2010

    Dari data di atas dapat dilihat bahwa dari 80 kuesioner yang disebarkan

    yang dapat terkumpul sebanyak 52 buah kuesioner. Tingkat pengembalian

    yang diperoleh adalah sebesar 65% dari total kuesioner. Kuesioner yang tidak

    kembali sebanyak 28 kuesioner atau sebesar 35%. Hal ini menunjukkan tingkat

    pengembalian kuesioner yang cukup tinggi karena peneliti mendatangi langsung

    Kantor Akuntan Publik dalam melakukan penyebaran kuesioner.

  • 63

    B. Penemuan dan Pembahasan

    1. Deskriptif Demografi Responden

    Deskriptif demografi responden memberikan gambaran mengenai

    karakteristik responden yang diukur dengan skala nominal yang

    menunjukkan besarnya frekuensi absolut dan persentase (dengan

    pembulatan tanpa koma) jabatan, jenis kelamin, pendidikan, dan lamanya

    bekerja pada perusahaan.

    Tabel 4.3. Jabatan Responden

    Jabatan Absolut Persentase

    Manager 2 4 %

    Senior Auditor 13 25 %

    Junior Auditor 37 71 %

    Jumlah 52 100 %

    Sumber : Hasil penelitian yang diolah, 2010

    Pada tabel 4.3. dapat dilihat bahwa jabatan yang dimiliki oleh

    responden pada data yang telah diolah. Responden yang menjabat sebagai

    Manager sebanyak 2 orang atau sebesar 4% dari 52 responden. Sebanyak 13

    orang jabatannya sebagai Senior Auditor dengan persentase 25%, sebanyak

    37 orang sebagai Junior Auditor dengan persentase 71%.

  • 64

    Tabel 4.4. Jenis Kelamin Responden

    Jenis Kelamin Absolut Persentase

    Laki-laki 35 67 %

    Perempuan 17 33 %

    Jumlah 52 100 % Sumber : Hasil penelitian yang diolah, 2010

    Pada tabel 4.4 dapat dilihat bahwa jumlah responden berdasarkan jenis

    kelamin terbanyak adalah laki-laki yaitu sebanyak 35 atau sebesar 67%,

    sedangkan sisanya sebanyak 17 orang atau sebesar 33% dipenuhi oleh jenis

    kelamin perempuan. Artinya, sebagian besar responden yang mengisi

    kuesioner adalah laki-laki.

    Tabel 4.5.

    Pendidikan Responden

    Pendidikan Absolut Persentase S1 48 92% S2 4 8% S3 0 0% Jumlah 52 100% Sumber : Hasil penelitian yang diolah, 2009

    Pada tabel 4.5. dapat dilihat bahwa jumlah responden berdasarkan

    jenjang pendidikan terakhir tersebar pada responden yang berpendidikan

    terakhir dengan kategori Sarjana Strata Satu (S1) sebanyak 48 orang atau

    sebesar 92%, dan Strata Dua (S2) sebanyak 4 orang atau sebesar 8% serta

    tidak ada satu orang responden pun yang berpendidikan selain S1, dan S2.

  • 65

    Tabel 4.6. Lama Berprofesi Sebagai Auditor

    Lama Bekerja Absolut Persentase

    5 tahun 33 63 %

    > 5 tahun 19 37 %

    Jumlah 52 100 %

    Sumber : Hasil penelitian yang diolah, 2010

    Pada tabel 4.6. dapat dilihat bahwa jumlah responden berdasarkan lama

    berprofesi sebagai auditor adalah diatas 5 tahun yaitu sebanyak 19 orang

    atau sebesar 37% sedangkan sisanya sebanyak 33 orang atau sebesar 63%

    telah berprofesi sebagai auditor tidak lebih dari 5 tahun.

    2. Hasil Uji Kualitas Data

    a. Hasil Uji Realibilitas

    Uji reliabilitas ini dilakukan untuk menguji konsistensi jawaban dari

    responden melalui pertanyaan yang diberikan. Hasil dari pengujian

    reliabilitas digunakan untuk mengetahui apakah instrumen penelitian yang

    dipakai dapat digunakan berkali-kali pada waktu yang berbeda.

    Reliabilitas sebenarnya adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang

    merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dapat

    dikatakan reliable atau handal jika jawaban responden terhadap

    pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.

    Dalam pengujian reliabilitas ini, peneliti menggunakan metode

    statistik Cronbach Alpha dengan signifikansi yang digunakan sebesar 0,6

  • 66

    dimana jika nilai Cronbach Alpha dari suatu variabel lebih besar dari 0,6

    maka butir pertanyaan yang diajukan dalam pengukuran instrumen

    tersebut memiliki reliabilitas yang memadai. Sebaliknya, jika nilai

    Cronbach Alpha dari suatu variabel lebih kecil dari 0,6 maka butir

    pertanyaan tersebut tidak realible (Ghozali, 2005).

    Tabel 4.7. Hasil Uji Reliabilitas

    Variabel Jumlah butir pertanyaan Cronbach alpha

    Penerapan EDP Audit 10 butir 0,840 Kompetensi Auditor 10 butir 0,774 Independensi Auditor 10 butir 0,819 Tingkat Materialitas 10 butir 0,834

    Sumber: Hasil penelitian yang diolah, 2010

    Berdasarkan tabel 4.7 menunjukkan bahwa instrumen untuk setiap

    variabel penelitian adalah reliabel, karena Cronbach Alpha () hitung >

    0,6. Pada variabel Penerapan EDP Audit memiliki 0,840 > 0,6.

    Variabel Kompetensi Auditor memiliki hitung 0,774 > 0,6, Variabel

    Independensi Auditor memiliki hitung 0,819 > 0,6, dan variabel

    Tingkat Materialitas memiliki hitung 0,834 > 0,6.

    b. Hasil Uji Validitas

    Uji validitas digunakan untuk mengetahui apakah item-item yang ada

    di dalam kuesioner mampu mengukur peubah yang didapatkan dalam

    penelitian ini (Ghozali, 2005). Maksudnya untuk mengukur valid atau

    tidaknya suatu kuesioner dilihat jika pertanyaan dalam kuesioner tersebut

  • 67

    mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner

    tersebut.

    Uji validitas ini dapat dilakukan dengan menggunakan korelasi antar

    skor butir pertanyaan dengan total skor konstruk atau variabel. Setelah itu

    tentukan hipotesis H0: skor butir pertanyaan berkorelasi positif dengan

    total skor konstruk dan Ha: skor butir pertanyaan tidak berkorelasi positif

    dengan total skor konstruk. Setelah menentukan hipotesis H0 dan Ha,

    kemudian uji dengan membandingkan r hitung (tabel corrected item-total

    correlation) dengan r tabel (tabel Product Moment dengan signifikansi

    0,05) untuk degree of freedom (df) = n-2, dimana n adalah jumlah

    sampel penelitian sebanyak 50 responden sehingga diperoleh nilai (df) =

    50-2 atau nilai df dari 48 adalah 0,235. Suatu kuesioner dinyatakan valid

    apabila r hitung > r tabel (Ghozali, 2005). Hasil pengujian validitas

    ditunjukkan dalam tabel berikut:

    Tabel 4.8.

    Hasil Uji Validitas Variabel Penerapan EDP Audit

    Pertanyaan Variabel Pearson Correlation Sig. Kesimpulan

    Butir 1 Penerapan EDP Audit 0,596** 0 Valid

    Butir 2 Penerapan EDP Audit 0,402** 0,003 Valid

    Butir 3 Penerapan EDP Audit 0,384** 0,005 Valid

    Butir 4 Penerapan EDP Audit 0,587** 0 Valid

    Butir 5 Penerapan EDP Audit 0,418** 0,002 Valid

    Butir 6 Penerapan EDP Audit 0,383** 0,005 Valid

  • 68

    Butir 7 Penerapan EDP Audit 0,354* 0,01 Valid

    Butir 8 Penerapan EDP Audit 0,413** 0,002 Valid

    Butir 9 Penerapan EDP Audit 0,419** 0,002 Valid

    Butir 10 Penerapan EDP Audit 0,616** 0 Valid

    Sumber: Hasil penelitian yang diolah, 2010

    Variabel penerapan EDP Audit terdiri atas 10 butir pertanyaan, dari

    10 butir pertanyaan tersebut semua butir pertanyaan adalah valid (nilai

    signifikansi kurang dari 0,01 dan 0,05).

    Tabel 4.9. Hasil Uji Validitas Variabel Kompetensi Auditor

    Pertanyaan Variabel Pearson Correlation Sig. Kesimpulan

    Butir 1 Kompetensi Auditor 0,664** 0 Valid

    Butir 2 Kompetensi Auditor 0,700** 0 Valid

    Butir 3 Kompetensi Auditor 0,494** 0 Valid

    Butir 4 Kompetensi Auditor 0,396** 0,004 Valid

    Butir 5 Kompetensi Auditor 0,588** 0 Valid

    Butir 6 Kompetensi Auditor 0,628** 0 Valid

    Butir 7 Kompetensi Auditor 0,633** 0 Valid

    Butir 8 Kompetensi Auditor 0,651** 0 Valid

    Butir 9 Kompetensi Auditor 0,628** 0 Valid

    Butir 10 Kompetensi Auditor 0,403** 0,003 Valid

    Sumber: Hasil penelitian yang diolah, 2010

  • 69

    Variabel Kompetensi Auditor terdiri atas 10 butir pertanyaan, dari

    10 butir pertanyaan tersebut semua butir pertanyaan adalah valid (nilai

    signifikansi kurang dari 0,01 dan 0,05).

    Tabel 4.10. Hasil Uji Validitas Variabel Independensi Auditor

    Pertanyaan Variabel Pearson Correlation Sig. Kesimpulan

    Butir 1 Independensi Auditor 0,629** 0 Valid

    Butir 2 Independensi Auditor 0,774** 0 Valid

    Butir 3 Independensi Auditor 0,665** 0 Valid

    Butir 4 Independensi Auditor 0,672** 0 Valid

    Butir 5 Independensi Auditor 0,689** 0 Valid

    Butir 6 Independensi Auditor 0,696** 0 Valid

    Butir 7 Independensi Auditor 0,536** 0 Valid

    Butir 8 Independensi Auditor 0,683** 0 Valid

    Butir 9 Independensi Auditor 0,431** 0,001 Valid

    Butir 10 Independensi Auditor 0,395** 0,004 Valid

    Sumber: Hasil penelitian yang diolah, 2010

    Variabel Independensi Auditor terdiri atas 10 butir pertanyaan, dari

    10 butir pertanyaan tersebut semua butir pertanyaan adalah valid (nilai

    signifikansi kurang dari 0,01 dan 0,05).

  • 70

    Tabel 4.11. Hasil Uji Validitas Variabel Tingkat Materialitas

    Pertanyaan Variabel Pearson Correlation Sig. Kesimpulan

    Butir 1 Tingkat Materialitas 0,650** 0 Valid

    Butir 2 Tingkat Materialitas 0,651** 0 Valid

    Butir 3 Tingkat Materialitas 0,649** 0 Valid

    Butir 4 Tingkat Materialitas 0,562** 0 Valid

    Butir 5 Tingkat Materialitas 0,589** 0 Valid

    Butir 6 Tingkat Materialitas 0,626** 0 Valid

    Butir 7 Tingkat Materialitas 0,645* 0 Valid

    Butir 8 Tingkat Materialitas 0,698** 0 Valid

    Butir 9 Tingkat Materialitas 0,649** 0 Valid

    Butir 10 Tingkat Materialitas 0,680** 0 Valid

    Sumber: Hasil penelitian yang diolah, 2010

    Variabel Tingkat Materialitas terdiri atas 10 butir pertanyaan, dari 10

    butir pertanyaan tersebut semua butir pertanyaan adalah valid (nilai

    signifikansi kurang dari 0,01 dan 0,05).

    3.Hasil Uji Asumsi Klasik

    a.Hasil Uji Multikolinearitas

    Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui apakah ada

    hubungan atau korelasi diantara variabel independen. Multikolinearitas

    menyatakan hubungan antar sesama variabel independen. Dalam

    penelitian ini uji multikolinearitas digunakan untuk menguji apakah ada

  • 71

    korelasi atau hubungan diantara variabel penerapan EDP audit,

    kompetensi auditor dan independensi auditor. Pedoman suatu model

    regresi yang ideal adalah tidak terjadi korelasi diantara variabel

    independen (nilai VIF dan tolerance disekitar angka 1 serta koefisien

    korelasi antar variabel independen haruslah dibawah 0,5) atau tidak terjadi

    multikolinearitas. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka

    variabel-variabel ini tidak orthogonal yakni variabel orthogonal adalah

    variabel independen yang memiliki nilai korelasi antar sesama variabel

    independen sama dengan nol (Ghozali, 2005).

    Tabel 4.12. Hasil Uji Multikolinearitas

    Pada tabel 4.12 terlihat nilai tolerance untuk variabel PEA sebesar

    0,671, KA sebesar 0,397, dan IA sebesar 0,529 sedangkan nilai VIF untuk

    masing-masing variabel sebesar 1,491 untuk PEA, 2,517 untuk KA dan

    IA sebesar 1,889. Berdasarkan pedoman terhadap uji multikolinieritas

    nilai tolerance > 0,1 dan nilai VIF < 10 maka terlihat bahwa tidak terjadi

    korelasi diantara variabel penerapan EDP audit, kompetensi auditor dan

    Coefficients(a)

    Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant) PEA 0.671 1.491 KA 0.397 2.517 IA 0.529 1.889

    a. Dependent Variable: TM

  • 72

    independensi auditor atau tidak terjadi multikolinearitas dalam model

    regresi ini.

    b. Hasil Uji Heteroskedastisitas

    Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu

    model regresi terdapat persamaan atau perbedaan varian yang dapat

    dilihat dari grafik plot. Deteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dapat

    dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik

    scatterplot antara SRESID dan ZPRED, dimana sumbu Y adalah Y telah

    diprediksi dan sumbu X adalah residual (Y prediksi - Y sesungguhnya)

    yang telah di-studentized.

    Jika plot membentuk pola tertentu (bergelombang, melebar,

    kemudian menyempit) maka mengindikasikan telah terjadi

    heteroskedastisitas. Jika plot tidak membentuk pola tertentu, seperti titik-

    titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y maka

    mengindikasikan telah terjadi homokedastisitas.