Klasifikasi Mahluk Hidup World 2003

  • View
    42

  • Download
    7

Embed Size (px)

DESCRIPTION

klasifikasi makhlukhidup menggunakan diagram dikotom

Text of Klasifikasi Mahluk Hidup World 2003

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP

OLEH:

PENDIDIKAN BIOLOGI A/ KELOMPOK 4

1. AGUSTINA SEKAR PUSPITA14304241020

2. FITRI FERBRIANI

14304241021

3. NENY ANDRIYANI

14304241022

4. SENJA FITRIANA

14304241023

5. DHIAS KARTIKA NINGRUM14304241024JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2014

BAB I

PENDAHULUANA. Latar BelakangIndonesia merupakan negara tropis yang cukup luas dan memiliki beranekaragam jenis hewan dan tumbuhan. Di setiap daerah atau pulau memiliki tumbuhan atau hewan yang khas dari daerahnya dan jarang ditemukan di wilayah lain. Di dalam lingkungan terdapat berbagai macam faktor abiotik yang mempengaruhinya, seperti topografi, geologi dan iklim. Oleh karena itu, ada lingkungan yang misalnya cukup air, subur, mendapatkan banyak cahaya, tetapi ada pula lingkungan yang kekurangan unsur tersebut. Penyebaran makhluk hidup pada kondisi lingkungan abiotik yang berbeda memberikan kemungkinan adanya keanearagaman hayati.

Makhluk hidup yang beraneka ragam memiliki ciri yang bervariasi dan memiliki keistimewaan yang berbeda-beda. Misalnya pada tumbuhan terdapat beraneka ragam jenis pisang, misalnya pisang kapok, pisang raja, pisang susu dan lain sebagainya. Kesemua jenis pisang itu memiliki persamaan umum pohon pisang, yaitu memiliki akar serabut, batang semu yang berasal dari pelepah daun yang tumbuh saling menutupi dan melingkari hingga ketebalan tertentu, kemudian memiliki daun yang terdapat lapisan lilin dibagian bawahnya. Meski begitu, terdapat organ-organ tumbuhan pisang yang membedakan jenis pisang satu dengan pisang lainnya, baik itu ukuran buah pisang, warna tepi daun ataupun rasa dari buah pisang itu sendiri. Disinilah mulai ditemukan kesulitan jika ingin menyebutkan nama suatu tumbuhan, atau mahluk hidup. Oleh karena itu, diperlukanlah suatu sistem penamaan dan pengklasifikasian untuk mengenal dan membedakan mahluk hidup sehingga kita lebih mudah untuk mempelajari dan mengetahui kekerabatan antar mahluk hidup. Kemudian beberapa ahli biologi mulai berinovasi menciptakan sistem untuk mempermudah dalam mempelajari dan mengenal organisme melalui cara pengklasifikasian. Pengklasifikasian merupakan proses pengelompokan mahluk hidup berdasarkan ciri-ciri tertentu yang rasional, misalnya cara hidup, tempat hidup, daerah persebaran dan lain-lain.Organisme-organisme yang sama dikelompokkan sebagai satu kelompok. Ciri kelompok telah mewakili sifat individu. Contohnya pada daun bayam merah dan daun hanjuang merah, keduanya dikelompokkan bersama atas dasar persamaan warna, jadi dari pengelompokan tersebut dapat diidentifikasikan bahwa ciri-ciri daun bayam merah dan daun hanjuang merah adalah berwarna merah.B. Tujuan1. Memahami prinsip atau dasar klasifikasi makhluk hidup

2. Mampu melakukan klasifikasi menggunakan dasar tertentu

BAB II

TINJAUAN PUSTAKAMenurut Rideng (1989), klasifikasi adalah pembentukan takson-takson dengan tujuan mencari keseragaman dan keanekaragaman. Klasifikasi tumbuhan adalah proses pengaturan tumbuhan dalam tingkat tingkat kesatuan kelasnya yang sesuai secara ideal (Sudarsono, 2005: 25).A. Klasifikasi Berjenjang

Klasifikasi berjenjang digunakan oleh Carolus Linnaeus. Spesies yang tampak berkerabat dekat dikelompokkan dalam genus yang sama. Sebagai contoh macan tutul (Panthera pardus) tergolong dalam genus yang sama dengan jaguar (Panthera onca). Sistem taksonomi yang dinamai berdasarkan Linnaeus menempatkan sejumlah genus yang sekerabat dalam famili yang sama, famili ke dalam ordo, ordo ke dalam kelas, kelas ke dalam filum, filum ke dalam kingdom, dan yang terbaru kingdom ke dalam domain (Campbell, 2008: 98).B. Macam-macam Sistem Klasifikasi1. Klasifikasi Empirik

Klasifikasi empirik yaitu penggolongan organisme yang tidak memperdulikan organisme itu sendiri, jadi merupakan suatu penggolongan yang tidak didasarkan pada sifat dan ciri yang dimiliki organisme tersebut (Sudarsono, 2005: 29).2. Klasifikasi Rasional

Klasifikasi Rasional merupakan suatu klasifikasi yang betul-betul mempunyai hubungan langsung dengan organisme yang diklasifikasikan dengan menggunakan sifat dan ciri yang dimiliki sebagai dasarnya (Sudarsono, 2005: 29).Klasifikasi rasional dibagi menjadi :

a. Klasifikasi praktis

Klasifikasi ini sering disebut sebagai klasifikasi khusus, sebab digunakan untuk memenuhi keperluam tertentu. Contoh : klasifikasi tanaman serat, obat-obatan, gulma (Sudarsono, 2005: 29).b. Klasifikasi buatan

Klasifikasi buatan dibuat untuk mempermudah pengenalan, dasarnya hanya pada satu atau dua ciri-ciri morfologi yang mudah dilihat. Misalnya, mengelompokkan tumbuhan berdasarkan perawakan, yaitu pohon, semak, rendah dan herba (Sudarsono, 2005: 29).c. Klasifikasi fenetik

Klasifikasi ini didasarkan pada kekerabatan yang ditunjukkan atau ditentukan oleh banyaknya persamaan-persamaan yang terlihat (Sudarsono, 2005: 29).d. Klasifikasi filogenik

Klasifikasi ini menekankan keeratan hubungan kekerabatan nenek moyang takson-takson satu sama lain. Jadi ada sifa-sifat yang dianggap lebih primitif dan ada yang dianggap lebih maju. Sejarah evolusi dari sebuah kelompok organisme dapat diorientasikan dalam diagram bercabang yang disebut pohon filogenik. Sebuah pohon filogenik merepresentasikan hipotesis tentang hubungan evolusioner. Hubungan ini sering digambarkan sebagai rangkaian dikotomi atau titik percabangan dua arah. Setiap titik percabangan merepresentasikan divergensi antara dua garis keturunan evolusioner dari nenek moyang bersama (Campbell, 2008: 98-99).e. Klasifikasi alamiah

Klasifikasi ini dikatakan alamiah karena sistem klasifikasinya mencerminkan keadaan yang sebenarnya seperti terdapat di alam, serba guna karena banyak pernyataan kekerabatan yang dimiliki kesatuan-kesatuannya, sehingga banyak memiliki sifat-sifat yang dapat diramalkan (Sudarsono, 2005: 30).C. Macam-macam Kunci Determinasi

Kunci determinasi sering digunakan dalam mendeterminasi tumbuh-tumbuhan, selain bertanya pada seorang ahli atau mencocokkan gambar pada buku-buku taksonomi. Kunci determinasi ada bermacam-macam. Ada kunci yang hanya sampai bangsa saja, sampai suku, marga atau jenis dan bahkan sampai varietas (Sudarsono, 2005: 33).

Berdasarkan cara penyususnan sifat-sifat yang harus dipilih, maka dikenal dua macam kunci determinasi sebagai berikut :

1. Kunci perbandingan

Dalam kunci perbandingan ini, semua takson yang dicakup dan segala ciri-cirinya dicantumkan sekaligus. Terdapat tiga macam bentuk kunci perbandingan, yaitu :

a. Tabel

Kunci perbandingan tabel memuat lajur dan kolom yang masing-masing memuat takson dan sifat-/sifat dari organisme tersebut (Sudarsono, 2005: 34).b. Kartu berlubang

Pada umumnya, sistem kartu berlubang mempunyai satu kartu takson serta sejumlah kartu ciri-ciri. Kartu takson memuat lingkaran-lingkaran kecil sejumlah takson dan letaknya teratur. Masing-masing lingkaran memuat nama satu takson atau dengan nomor urut sesuai dengan nomor takson. Setiap ciri mempunyai kartu sendiri-sendiri dan kartu itu memuat lingkaran-lingkaran kecil dan letaknya seperti kartu takson (Sudarsono, 2005: 34).c. Kunci Leenhouts

Kunci Leenhouts pada dasarnya memuat sifat, ciri dan nomor takson. Pendeterminasian dapat dilakukan dari salah satu ciri yang dimliki. Dari sifat dan ciri nantinya hanya akan didapatkan satu nomor takson yang merupakan identitas dari organisme tersebut (Sudarsono, 2005: 34).2. Kunci Analisis

Kunci ini sering disebut kunci dikotomi karena terdiri atas sederetan bait atau kuplet. Tiap bait terdiri dari dua baris yang disebut penuntun yang berisi sifat dan ciri yang dipertentangkan (Sudarsono, 2005: 34).D. Klasifikasi, Homologi dan Analogi

Klasifikasi sering didasarkan pada prinsip bahwa makhluk hidup yang memiliki organ analog harus dikelompokkan bersama. Organ analog adalah organ yang mempunyai fungsi yang sama. Sayap pada burung, kelelawar dan serangga merupakan organ analog yang memungkinkan hewan-hewan tersebut dapat terbang (Paidi, 2014: 15).Karena semakin banyak yang diketahui tentang anatomi makhluk hidup, maka nyatanya bahwa kesamaan dalam analogi sering agak dangkal. Kenyataan bahwa kelelawar mempunyai rambut halus, menyusui anaknya, burung berbulu dan bertelur, sementara serangga berdarah dingin dan tidak memiliki kerangka dalam memberi kesan bahwa organisme-organisme tersebut berlainan satu sama lain dalam hal yang lebih penting daripada kemiripannya satu sama lain (Paidi, 2014: 15).

Adanya pengertian bahwa organisme-organisme dapat menyerupai atau berbeda satu sama lain yang merupakan suatu cara yang benar-benar berarti, memungkinkan naturalis Swedia, Carolus Linnaeus menemukan sistem klasifikasi yang modern. Pada tahun 1753, dia menerbitkan suatu klasifikasi tentang tumbuhan, lalu pada tahun 1758 mengenai hewan. Untuk karya ini dia dijuluki Bapak Taksonomi, nama yang diberikan untuk telaah mengenai klasifikasi. Sistem klasifikasinya pada dasarnya merupakan sistem yang kita gunakan saat ini, yaitu berdasarkan prinsip homologi (Paidi, 2014: 15-16).Mengapa klasifikasi yang berdasarkan homologi begitu penting? Klasifikasi yang berlandaskan prinsip homologi, atau menggunakan organ-organ homolog sebagai dasarnya merupakan klasifikasi yang berdasarkan kekerabatan. Semua makhluk hidup yang bersama-sama mempunyai organ-organ homolog adalah berkerabat satu sama lain karena mewarisi organ-organ homolognya dari moyang yang sama. Jadi, manusia, kelelawar dan ikan paus semua mempunyai moyang tunggal yang mempunyai stuktur anggota depan dasar yang dimiliki makhluk-makhluk kini, walaupun jelas dalam bentuk yang amat termodifikasi. Kemiripan akibat garis keturunan yang sama disebut homologi (Campbell, 2