6
IlhamMaulana dot Com Halaman 1 MANAJEMEN RESIKO Risk Management Manajemen Resiko merupakan suatu proses mengidentifikasi, mengukur resiko, serta membentuk strategi untuk mengelolanya melalui sumber daya yang tersedia. Strategi yang dapat digunakan antara lain : a. Mentransfer resiko pada pihak lain. b. Menghindari resiko. c. Mengurangi efek buruk dari resiko. d. Menerima sebagian maupun seluruh konsekuensi dari resiko tertentu. Didalam proses Manajemen Resiko, perlu dilakukan : 1. Identifikasi Resiko. Proses ini meliputi identifikasi resiko yang mungkin terjadi didalam suau aktivitas usaha. Identifikasi resiko secara akurat dan komplit sangatlah vital dalam manajemen resiko. Salah satu aspek penting dalam identifikasi resiko adalah mendaftar resiko yang terjadi sebanyak mungkin. Teknikteknik yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi resiko, antara lain : Brainstroming, Survei, Wawancara, Informasi Hitoris, Kelompok Kerja, dll. 2. Analisa Resiko. Setelah melakukan identifikasi resiko, maka tahap berikutnya adalah pengurangan resiko dengan cara melihat potensial seberapa besar terjadinya kerusakan dan probabilitas terjadinya resiko tersebut. Penentuan probabilitas terjadinya suatu kejadian sangatlah subjektif dan lebih berdasarkan nalar dan pengalaman. Beberapa resiko memang mudah untuk diukur, namun sangatlah sulit untuk memastikan probabilitas suatu kejadian yang sangat jarang terjadi. Sehingga pada tahap ini, sangatlah penting untuk menetukan dugaan yang terbaik agar nantinya kita dapat memprioritaskan dengan baik dalam implementasi perencanaan manajemen resiko. 3. Pengelolaan Resiko. Beberapa jenis mengelola resiko, adalah : a. Risk Avoidance. Yaitu memutuskan untuk tidak melakukan aktivitas yang mengandung resiko sama sekali. Dalam memutuskan untuk melakukannya, maka harus dipertimbangkan potensial keuntungan dan potensial kerugian yang dihasilkan oleh suatu aktivitas. b. Risk Reduction. Risk Reduction atau juga Risk Mitigation yaitu merupakan metode yang mengurangi kemungkinan terjadinya suatu resiko ataupun mengurangi dampak kerusakan yang dihasilkan oleh suatu resiko. c. Risk Transfer. Yaitu memindahkan resiko kepada pihak lain. Umumnya melalui suatu kontrak asuransi maupun hedging.

Kisi - Kisi UAS - Rekayasa Perangkat Lunak - Binus Semester 4

  • Upload
    ilham

  • View
    3.258

  • Download
    6

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Pembahasan 4 dari 6 kisi-kisi Rekaya Perangkat Lunak. Untuk anak Binus, semester 4.

Citation preview

Page 1: Kisi - Kisi UAS - Rekayasa Perangkat Lunak - Binus Semester 4

I l h a m M a u l a n a d o t C o m

Halaman 1

MANAJEMEN RESIKO Risk Management

Manajemen Resiko merupakan suatu proses mengidentifikasi, mengukur resiko, serta membentuk strategi untuk mengelolanya melalui sumber daya yang tersedia.

Strategi yang dapat digunakan antara lain : a. Mentransfer resiko pada pihak lain. b. Menghindari resiko. c. Mengurangi efek buruk dari resiko. d. Menerima sebagian maupun seluruh konsekuensi dari resiko tertentu.

Didalam proses Manajemen Resiko, perlu dilakukan :

1. Identifikasi Resiko. Proses ini meliputi identifikasi resiko yang mungkin terjadi didalam suau aktivitas usaha. Identifikasi resiko secara akurat dan komplit sangatlah vital dalam manajemen resiko. Salah satu aspek penting dalam identifikasi resiko adalah mendaftar resiko yang terjadi sebanyak mungkin. Teknik–teknik yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi resiko, antara lain : Brainstroming, Survei, Wawancara, Informasi Hitoris, Kelompok Kerja, dll.

2. Analisa Resiko. Setelah melakukan identifikasi resiko, maka tahap berikutnya adalah pengurangan resiko dengan cara melihat potensial seberapa besar terjadinya kerusakan dan probabilitas terjadinya resiko tersebut. Penentuan probabilitas terjadinya suatu kejadian sangatlah subjektif dan lebih berdasarkan nalar dan pengalaman. Beberapa resiko memang mudah untuk diukur, namun sangatlah sulit untuk memastikan probabilitas suatu kejadian yang sangat jarang terjadi. Sehingga pada tahap ini, sangatlah penting untuk menetukan dugaan yang terbaik agar nantinya kita dapat memprioritaskan dengan baik dalam implementasi perencanaan manajemen resiko.

3. Pengelolaan Resiko. Beberapa jenis mengelola resiko, adalah : a. Risk Avoidance.

Yaitu memutuskan untuk tidak melakukan aktivitas yang mengandung resiko sama sekali. Dalam memutuskan untuk melakukannya, maka harus dipertimbangkan potensial keuntungan dan potensial kerugian yang dihasilkan oleh suatu aktivitas.

b. Risk Reduction. Risk Reduction atau juga Risk Mitigation yaitu merupakan metode yang mengurangi kemungkinan terjadinya suatu resiko ataupun mengurangi dampak kerusakan yang dihasilkan oleh suatu resiko.

c. Risk Transfer. Yaitu memindahkan resiko kepada pihak lain. Umumnya melalui suatu kontrak asuransi maupun hedging.

Page 2: Kisi - Kisi UAS - Rekayasa Perangkat Lunak - Binus Semester 4

I l h a m M a u l a n a d o t C o m

Halaman 2

d. Risk Deferral. Dampak suatu resiko tidak selalu konstan. Risk Deferral meliputi menunda aspek suatu proyek hingga saat dimana probabilitasnya terjadinya resiko tersebut kecil.

e. Risk Retention. Walaupun resiko tertentu dapat dihilangkan dengan mengurangi maupun mentransfernya, namun beberapa resiko harus tetap diterima sebagai bagian penting dari aktivitas.

==============================================================================

SOFTWARE QUALITY ASSURANCE (SQA)

Software Quality Assurance (SQA) adalah : Merupakan kegiatan yang terpola secara sistematis dan terencana, yang dibutuhkan untuk menjamin kualitas suatu perangkat lunak. SQA terdiri dari 7 aktivitas utama, yaitu :

1. Aplikasi metode secara teknis. 2. Review teknis formal. 3. Pengujian perangkat lunak. 4. Penekanan pada standar. 5. Pengontrolan pada perubahan.

6. Pengukuran.

7. Penyimpanan dan pelaporan.

Penjelasan dari 7 aktivitas utama diatas, adalah :

1. SQA dimulai dengan sekumpulan alat dan metode teknis yang membantu analis untuk

mendapatkan spesifikasi yang berkualitas tinggi dan bagi perancang untuk merancang

dengan kualitas tinggi.

2. Setelah spesifikasi dan desain dibuat, ditetapkan kualitasnya dengan melakukan review

teknis formal.

3. Pengujian perangkat lunak mengkombinasikan langkah-langkah strategi dengan metode

rancangan test-case yang dapat menjamin pendeteksian kesalahan secara efektif.

4. Jika terdapat standar yang formal, berarti harus dapat dijamin bahwa standar tersebut

diikuti.

5. Pengontrolan perubahan dilakukan selama pembuatan perangkat lunak dan tahap

pemeliharaan. Setiap perubahan dapat menyebabkan kesalahan dan efek lain yang akan

menyebabkan kesalahan juga.

Page 3: Kisi - Kisi UAS - Rekayasa Perangkat Lunak - Binus Semester 4

I l h a m M a u l a n a d o t C o m

Halaman 3

6. Pengukuran perangkat lunak mencakup pengukuran secara manajemen dan teknis.

7. Penyimpanan hasil dari review, audit, pengontrolan perubahan, pengujian, dll, sebagai

bagian dari record historis untuk suatu proyek dan didesiminasikan kepada para staff

pengembang sebagai dasar untuk mereka ketahui.

==============================================================================

SOFTWARE CONFIGURATION MANAGEMENT (SCM) Manajemen Konfigurasi Software

- Software Configuration Management (SCM), adalah :

Seni untuk mengidentifikasi, mengorganisasi, kontrol modifikasi pada software yang

sedang dibangun oleh tim programming.

- Tujuan dari Software Configuration Management, adalah :

Memaksimalkan produktivitas dengan meminimalkan kesalahan.

- Software Configuration Management dilakukan untuk :

1. Identifikasi Perubahan.

2. Kontrol Perubahan.

3. Memastikan bahwa perubahan telah dilakukan dengan baik.

4. Memberikan report kepada pihak lain yang membutuhkan.

- Faktor Terjadinya Perubahan :

i. Bisnis baru atau kondisi pasar yang menjadikan perubahan pada kebutuhan produk atau

aturan bisnis.

ii. Kebutuhan pelanggan baru yang menyebakan perubahan permintaan data oleh sistem

informasi, fungsi yang ada pada produk, atau layanan yang diberikan oleh sistem

berbasis komputer.

iii. Re-organisasi dan/atau perubahan bisnis yang menyebabkan perubahan dalam prioritas

proyek dan struktur tim software engineering.

iv. Batasan anggaran dan jadwal yang menyebabkan redefinisi sistem atau produk.

- Proses Software Configuration Management, adalah :

1. Software Configuration Management adalah elemen yang penting dalam Software

Quality Assurance.

2. Tanggung jawab utama adalah melakukan kontrol terhadap perubahan.

Page 4: Kisi - Kisi UAS - Rekayasa Perangkat Lunak - Binus Semester 4

I l h a m M a u l a n a d o t C o m

Halaman 4

3. SCM juga bertanggung jawab untuk mengidentifikasi Software Configuration Items (SCI)

dan beberapa versi dari software, auditing konfigurasi software untuk memastikan

bahwa software telah dibangun dengan baik dan membuat laporan mengenai semua

perubahan yang diaplikasikan pada konfigurasi.

4. Ada 5 tugas SCM, yaitu : Identifikasi, Kontrol Versi, Kontrol perubahan, Audit

Konfigurasi, dan Pelaporan.

Figure 1- Proses Software Configuration Management Menurut Pressman

==============================================================================

identification

change control

version control

configuration auditing

reporting

SCIs

Software

Vm.n

Page 5: Kisi - Kisi UAS - Rekayasa Perangkat Lunak - Binus Semester 4

I l h a m M a u l a n a d o t C o m

Halaman 5

PROJECT SCHEDULLING Penjadwalan Proyek

- Pengiriman software terlambat dikirimkan dari jadwal yang telah ditentukan, disebabkan:

1. Batas waktu yang tidak realistis karena dibuat oleh orang diluar kelompok Software

Engineering.

2. Perubahan kebutuhan pelanggan yang tidak tercermin dalam perubahan jadwal.

3. Memandang rendah jumlah usaha dan sumber daya yang dibutuhkan dalam melakukan

pekerjaan.

4. Resiko yang dapat diramalkan dan tidak dapat diramalkan yang tidak dipertimbangkan

pada proyek tersebut.

5. Kesulitan teknis dari manusia yang tidak dapat dilihat sebelumnya.

6. Kesalahan komunikasi diantara staff proyek yang mengakibatkan penundaan proyek.

7. Kegagalan manajer proyek untuk mengetahui bahwa proyek sudah ketinggalan dari

jadwal yang ada dan kurangnya tindakan dalam memecahkan masalah tersebut.

- Tindakan yang dapat dilakukan dalam menghadapi keterlambatan jadwal proyek, adalah:

a. Lakukan perkiraaan lengkap berdasarkan data dari proyek yang lalu. Tentukan usaha

dari perkiraan dan durasi untuk proyek tersebut.

b. Dengan metode Inkremental, kembangkan suatu strategi pengembangan yang akan

menyampaikan fungsionalitas dan dokumentasikan rencana tersebut.

c. Komunikasikan dengan pelanggan. Jelaskan mengapa jadwal tidak realistis. Lakukan

pencatatan bahwa semua perkiraan yang ada pada kinerja proyek dan tunjukan %

peningkatanyang dibutuhkan untuk mencapai batas waktu yang ada.

d. Menawarkan strategi pengembangan Inkremental sebagai alternatif.

- Prinsip dasar menentukan jadwal, yaitu:

1. Pembagian.

2. Saling Ketergantungan.

3. Alokasi Waktu.

4. Validasi Kerja.

5. Batasan Tanggung Jawab

6. Batasan Keluaran.

7. Kejadian penting yang ditentukan.

Page 6: Kisi - Kisi UAS - Rekayasa Perangkat Lunak - Binus Semester 4

I l h a m M a u l a n a d o t C o m

Halaman 6

- DIAGRAM TIMELINE.

Dalam membuat jadwal proyek perangkat luna, perencanaan memulainya dengan

serangkaian tugas. Bila piranti otomatis digunakan, rincian kerja dimasukkan sebagai sebuah

jaringan tugas/outline tugas. Kemudian kerja, durasi, dan tanggal mulai dimasukkan bagi

setiap tugas dan tugas-tugas dapat ditentukan bagi individu-individu tertentu.

Dengan input tersebut, terbentuk diagram timeline atau Gantt Chart.

- Garis horizontal adalah menunjukkan durasi dari masing-masing tugas,

- Bila ada garis ganda pada saat yang sama pada kalender, tugas-tugas konkuren di-

implikasikan.

- Tanda diamond menunjukan kejadian penting.

- Hasilnya adalah tabel proyek yang menentukan tanggal dimulainya dan berakhirnya,

baik yang direncanakan maupun yang sesungguhnya.

Figure 2 - Contoh Timeline Sederhana