KINA 2 2014 WEB

  • View
    52

  • Download
    15

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Magz

Text of KINA 2 2014 WEB

  • EDISI 02 - 2014

    PenguatanIndustrI Manufaktur

    Made In IndonesIa KIKO IndonesiaPT. Eta Sidoarjo Tenun Baduy Lurik Cawas Lenan Pearl of Silk Denim Tenun Elhaus F-Flo Design MT Jewelry Anbiyaa Collections Puspa Collection Webe Bag Kayun Wiracana Handycraft Mandiri Art Komunitas Pensil Kertas Banana Paper ABC Toys Jogjakarta Koperasi Petani Kopi Kayumas Farrel Pattiserie

    teknologI Alat Konversi Energi Mobil Listrik Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut

    opInI Ade Sudrajat

    apa & sIapa Runi Palar

    Strengthening the national Manufacturing induStry

  • KEMENTERIAN PERINDUSTRIANwww.kemenperin.go.id

  • KEMENTERIAN PERINDUSTRIANwww.kemenperin.go.id

    Daftar IsiContents

    AktuAlitA Penguatan Industri Manufaktur 4

    mAde in indonesiA KIKO Indonesia 10PT. Eta Sidoarjo 12Tenun Baduy 14Lurik Cawas 16Lenan Pearl of Silk 18Denim Tenun Elhaus 20F-Flo Design 22MT Jewelry 24Anbiyaa Collections 26Puspa Collection 28Webe Bag 30Kayun 32Wiracana Handycraft 34Mandiri Art 38Komunitas Pensil Kertas 40Banana Paper 42ABC Toys Jogjakarta 44Koperasi Petani Kopi Kayumas 46Farrel Pattiserie 48

    teknologi Alat Konversi Energi Mobil Listrik 50Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut UKI 52

    opini Ade Sudrajat 54

    ApA & siApA Runi Palar 58

    REDAKSI Pemimpin Umum: Ansari Bukhari | Pemimpin Redaksi: Hartono | Wakil Pemimpin Redaksi : Siti Maryam | Redaktur Pelaksana: Habibi Yusuf Sarjono | Editor: Intan Maria | Photografer: J. Awandi | Anggota Redaksi: Feby Setyo Hariyono, Krisna Sulistiyani, Titin Fauziyah Rochmawati, Djuwansyah, Hafizah Larashati, I Nyoman Wirya Artha, Dewi Meisni

    Alamat RedaksiPusat Komunikasi Publik, Gedung Kementerian Perindustrian, Lt 6, Jl. Gatot Subroto Kav. 52-53, JakartaTelp: (021) 5255609, 5255509, Pes. 4074, 2174.

    Redaksi menerima artikel, opini, surat pembaca. Setiap tulisan hendaknya diketik dengan spasi rangkap dengan panjang naskah 6000 - 8000 karakter, disertai identitas penulis. Naskah dikirim ke redaksi Majalah KINA Kementerian Perindustrian.Majalah ini dapat diakses melalui: www.kemenperin.go.id

    dari meja redaksiSebagai motor penggerak (prime mover) pertumbuhan ekonomi, sektor industri khususnya industri

    pengolahan non migas (manufaktur) menempati posisi strategis sebab kontribusi industri manufaktur terhadap PDB industri cukup besar, yaitu relatif di sekitar angka 24%. Pasca krisis 2008, kontribusi industri manufaktur sempat anjlok, kemudian naik lagi pada tahun 2009, 2010 dan 2011, namun kontribusi itu turun lagi pada tahun 2012.

    Namun dari sisi pertumbuhan, pertumbuhan industri manufaktur dalam beberapa tahun terakhir ini terus mengalami penurunan dari 6,74% pada tahun 2011 menjadi 6,42% pada tahun 2012 dan menjadi 6,10% pada tahun 2013. Pada kuartal I 2014 pertumbuhan industri kembali turun menjadi 5,56%.

    Memang salah satu penyebab turunnya pertumbuhan industri manufaktur disebabkan lesunya perekonomian nasional dan global. Namun, hal ini tetap harus ditanggapi secara serius oleh pemerintah karena makin besarnya tantangan yang dihadapi industri nasional ke depannya. Untuk tahun 2015 saja, Indonesia harus menghadapi penerapan kawasan perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Belum lagi adanya penerapan perjanjian perdagangan bebas yang lebih luas lagi dengan negara-negara lain atau regional lainnya yang membuat Indonesia menjadi lebih terbuka bagi masuknya produk-produk dari negara lain.

    Agar bisa bersaing dengan negara-negara lain di era yang terbuka itu, tentunya diperlukan sektor industri yang tangguh dan berdaya saing tinggi. Dengan potensi yang ada, industri manufaktur nasional bisa dijadikan andalan untuk bersaing dengan negara lain.

    Berkaitan hal itu, dalam KINA edisi 02 Tahun 2014 ini, redaksi menampilkan tema penguatan industri manufaktur pada rubrik aktualita. Berbagai kendala yang dihadapi industri manufaktur di dalam negeri dan upaya-upaya yang telah dan sedang dilakukan pemerintah untuk memperkuat industri manufaktur nasional dibeberkan secara gamblang. Semua itu redaksi rangkum dan sajikan dengan baik untuk pembaca.

    Dalam KINA edisi 02 Tahun 2014 ini, juga ditampilkan sejumlah produk karya anak bangsa Indonesia yang telah mampu menembus pasar internasional serta produk-produk kreatif berbahan baku di dalam negeri yang memiliki potensi besar untuk menjadi andalan Indonesia dalam menghadapi makin ketatnya persaingan dengan negara-negara lainnya.

    Beberapa temuan dan kreasi anak bangsa di bidang teknologi juga redaksi tampilkan pada rubrik teknologi, seperti tenaga listrik yang dihasilkan dari gelombang laut yang dihasilkan oleh beberapa mahasiswa jurusan teknik mesin.

    Untuk rubrik opini, redaksi menampilkan Ade Sudrajat, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) yang membahas tentang berbagai persoalan yang terjadi serta peluang besar yang bisa diperoleh Indonesia dari sektor tekstil dan produk tekstil.

    Redaksi berharap semua yang ada pada KINA edisi 02 tahun 2014 ini bisa memberikan wawasan baru bagi pembaca serta dapat menjadi masukan bagi berbagai pihak dalam upaya mengembangkan industri nasional secara menyeluruh.

    As the prime mover of economic growth, industrial sector, particularly non-oil manufacture industries, takes a strategic position because the contribution of manufacture industries to GDP is reasonably big, approximately at 24%. After economic crisis in 2008, the contribution of manufacture industries had plunged before risen in 2009, 2010, and 2011, but decreased again at 2012.

    However, on growth side, the growth of manufacture industries in current years has continued to decline, from 6,75% in 2011 to 6,42% in 2012 and 6,10% in 2013. In the first quarter of 2014, the industrial growth felt to 5,56%.

    One of the causes of decrease in the growth of manufacture industries is the sluggishness in national and global economic. Somehow, this should be seriously responded by the government because of the bigger challenges that will be faced by national industrial sector in future. Speak about 2015, Indonesia should face the implementation of a free-trade area called ASEAN Economic Community (AEC). Moreover, the implementation of free trade agreemements with more countries or regions will make Indonesia to be more open for the entry of goods from abroad.

    To be able competing with other countries in this open era, a tough and competitive industrial sector is needed. With its potentials, national manufacture industries are able to be the mainstay to compete with other countries.

    Related to that, in KINA no. 02/2014, editor presents the theme of strengthening national manufacture industries in Aktualita rubric. Some barriers faced by manufacture industries in the countries and efforts that have been done or being performed by government to strengthen national manufacture industries are clearly presented. All of the information are summarized by the editor and well presented for the readers.

    This edition of KINA also features some products by local producers that have already succeeded penetrating international market and creative products using raw materials from the country that have big potentials to become Indonesias mainstay to face the tough competition with other countries.

    Other innovations and creations in the field of technology are also presented in Teknologi rubric, such as electricity power produced from ocean wave by several students of mechanical engineering program.

    For Opini rubric, the Chairman of Indonesia Textile Association (Asosiasi Pertekstilan Indonesia; API) was interviewed about some issues and big opportunities for Indonesia in textile and textile products sector.

    Editor expects that the content of the present KINA gives new knowledge for readers as well as inputs for stakeholders in order to develop national industries comprehensively.

    EDISI 02 - 2014

    PenguatanIndustrI Manufaktur

  • 4 Karya Indonesia Edisi No. 02-2014

    Kondisi ini perlu segera disikapi pemerintah untuk mencegah semakin terpuruknya sektor industri ini di masa-masa mendatang. Dengan kata lain, diperlukan langkah-

    langkah penyelamatan industri manufaktur agar cita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara industri tangguh di dunia pada tahun 2025 dapat dicapai.

    Berbagai langkah dan kebijakan strategis untuk menyelamatkan industri manufaktur itu sudah sangat mendesak untuk dilakukan pemerintah mengingat banyak industri di dalam negeri yang kini sudah dalam kondisi kritis. Lebih-lebih, tidak lama lagi Indonesia akan memasuki arena perdagangan bebas yang lebih

    selalu berada di atas pertumbuhan ekonomi yang dari tahun 2011 sampai kuartal I 2014 berturut-turut sebesar 6,49% (2011), 6,26% (2012), 5,78% (2013) dan 5,21% (kuartal I tahun 2014).

    Industri manufaktur memiliki peranan yang cukup penting bagi ekonomi nasional. Sebab, kontribusi industri manufaktur terhadap PDB industri cukup besar, yaitu relatif berkisar di sekitar angka 24%. Pasca krisis 2008, kontribusi industri manufaktur sempat anjlok, kemudian naik lagi pada tahun 2009, 2010 dan 2011, namun turun lagi pada tahun 2012.

    Menurut Harjanto, tren penurunan pertumbuhan industri manufaktur nasional antara lain disebabkan

    luas lagi di ASEAN, yaitu Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2015.

    Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Harjanto, mengatakan pertumbuhan industri manufaktur dalam beberapa tahun terakhir ini terus mengalami penurunan dari 6,74% pada tahun 2011 menjadi 6,42% pada tahun 2012 dan menjadi 6,10% pada tahun 2013. Pada kuartal I 2014 pertumbuhan industri kembali turun menjadi 5,56%. Tren penurunan pertumbuhan industri manufaktur ini juga sejalan dengan tren penurunan pertumbuhan ekonomi nasional. Walaupun demikian, sejak tahun 2011 pertumbuhan industri manufaktur