Click here to load reader

KESANTUNAN TINDAK DIREKTIF GURU DALAM PEMBELAJARAN

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of KESANTUNAN TINDAK DIREKTIF GURU DALAM PEMBELAJARAN

KESANTUNAN TINDAK DIREKTIF GURU DALAM PEMBELAJARAN DI KELAS SD NEGERI SANGIR
KECAMATAN WAJO KOTA MAKASSAR
Spoken In Learning at SD Negeri Sangir
Kecamatan Wajo Macassar City .
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta
Austin, J.L. 1969. How to Do Things with Words. Cambridge: Harvard University Press
Bach, Kent dan Robert Harnish M. 1979.Linguistics Communication and Speech Acts. Cambridge: The Mit Press
Brown, P. dan Levinson, S.C 1978. Politeness: Some Universal Indonesia Language Usage. Cambridge
Brown, P. dan Gerge Yule. 1996. Discourse Analysis. Cumbridge. CUP
Chaer, Abdul. 2007. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Renika Cipta
___________.2010.Kesantunan Berbahasa. Jakarta: Rineka Cipta.
Cummings, Louise. 2007. Pragmatik Kliniks, Kajian tentang Penggunaan dan Gangguan Bahasa secara Kliniks. Terjemahan oleh Abdul Syukur Ibrahim (Ed.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Duranti, Allesandro. 2000. Linguistic Antorophology. Cambridge: CUP
Fraser, Bruce. 1978. ‘Perspectives of Politeness’, Jurnal of Pragmatics 14:219-236
Gunarwan, A. 1994.Kesantunan Negatif di Kalangan Dwibahasawan Indonesia-Jawadi Jakarta:kajian Sosioprogmatik PELLBA7: 81- 122.Jakarta:Lembaga Bahasa Unika Atmajaya.
Hanafi, Muhammad, Komaruddin. 2001. Fungsi Perintah dan Persepsi Kesantuanan dalam Bahasa Indonesia-Tesis tidak diterbitkan. Ujung Pandang: PPS IKIP Makassar.
Hidayat, Komaruddin. 2010. Krisis ke Pemimpinan Bangsa. Jakarta: Metro TV
Hohnes, J. 2001. An Introduction to Sociolingaistics.Harlow: Person Education
Hymes.Dell. 1974. Foundation in Sociolinguistics: An Etnosraphic Approach. Philadelphia: University of Pennsylvan Press, Inc
Ibrahim, Abdul Syukur. 1993. Kajian Tindak Tutur.Surabaya: Usaha Nasional.
Karim, Ali.2008. Penggunaan Tindak Imperatif dalam Wacana Kelas. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: PPs UM. Malang.
Kartomihardjo, S. 1988. Bahasa Cermin Kehidupan Masyarakat. Jakarta: Depdikbud.
Leech, G. 1983. Principles of Pragmatics.London: Logman.
________ . 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Terjemahan oleh M.D.D. Oka.1993. Jakarta: Universitas Indonesia (UI Press)
Martinich, A.P. 2001. The Philosophy of Language.Fourth Edition. New York Oxford University Frees.
Mey, Jakob L. 1996.Pragmatics: An Introduction. Oxford: Blackwell.
Mills, Matthew B. dan Huberman, A. Michael.2004.Analisis Data Kualitas Terjemahan Tjetjep Rohendi Rohidi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Muslich, Mansur. 2006. Kesantunan Berbahasa: Sebuah Kajian Sosiolinguistik. Pendidikan Network (onlinc). (http///www.Artikel Pendidikan Network) Kesantunan Berbahasa-htm, diakses 20 Maret 2012)
Pranowo.2009. Berbahasa Secara Santun.Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar. 2010. Pedoman Penulisan Tests dan Disertasi(Edisi Ketiga). Makassar: Badan penerbit UNM.
Rahardi, Kunjana. 2000. Imperatif dalam Bahasa Indonesia, Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
________ . 2005. Pragmatik:Kesantunan Tindak Impertaif Bahasa Indonesia.Jakarta: Indonesia.
Richard, Jack C. 1995. Tentang Percakapan. Terjemahan oleh ismari. Surabaya: Airlangga University Press.
Saleh, Muhammad. 2009. Representasi Kesantunan Berbahasa Mahasiswa Dalam Wacana Akademik Kajian Etnografi Komunikasi di Kampus Universitas Negeri Makassar.Disertasi tidak diterbitkan. Malang: PPs. UM. Malang
Searle, J.R. 1985.Speech Act: An Essay in the Philosophy of LanguageCambridge: Cambridge University Press.
Soemarsono dan Paina Partana. 2002. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Sabda
Suemarsono. 2003. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Sabda
Syafaruddin. 2010. Kesantunan Honorifik dalam Tindak Direktif Berbahasa Indonesia Keluarga Terpelajar Masyarakat Tutur Makassar. Disertasitidak diterbitkan. Malang: PPs. UM. Malang.
Syahrul R. 2006 .Representasi Kesarituriah Tindak Tatar Berbahasa Indonesia dalam Pembelajaran di Kelas (Kajian Etnografi Komunikasi di SMA PMTHamkaSumbar).Disertasi tidak drterbitkan. Malang: PPs. UM. Malang.
Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik.Yogyakarta:
Yule, George. 2006. Pragmatik. Terjemahan oleh Indah Fajar Wahyuni.Yogyakarta.Pustaka Pelajar.
RIWAYAT HIDUP
Nopember 1982. Ia merupakan anak kedua dari
pasangan Ahmad dan Husnah, S.Pd.
Ia mengawali pendidikan formal di SD Negeri Sangir tahun 1988
tamat tahun 1994. Pada tahun 1994 ia melanjutkan pendidikan ke SMP
Negeri 5 Makassar dan tamat tahun 1997. Selanjutnya ia melanjutkan
pendidikan ke SMU Negeri 5 tahun 1997 dan tamat tahun 2000. Pada
tahun 2001 ia melanjutkan pendidikan S1 ke Universitas Muhammadiyah
Makassar Prodi Bahasa Indonesia dan selesai tahun 2005. Pada tahun
2012 melanjutkan pendidikan magister (S2) pada jurusan Bahasa
Indonesia Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar.
Ia memulai karier sebagai tenaga pendidik pada tahun 2004 di SD Negeri
Sangir Kecamatan Wajo Kota Makassar sampai sekarang
HALAMAN PENGESAHAN
DI KELAS SD NEGERI SANGIR KECAMATAN WAJO
KOTA MAKASSAR
SARMILA
pada tanggal 16 Oktober 2014
Menyetujui
Pembimbing II
Mengetahui; Direktur Program Pascasarjanas
Magister Pendidikan Bahasa Indonesia
Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia
Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M.,M.Pd.
KESANTUNAN TINDAK DIREKTIF GURU DALAM PEMBELAJARAN DI KELAS SD NEGERI SANGIR
KECAMATAN WAJO KOTA MAKASSAR
Program Studi
HALAMAN PENERIMAAN PENGUJI
Judul : KESANTUNAN TINDAK DIREKTIF GURU DALAM PEMBELAJARAN DI KELAS SD NEGERI SANGIR KECAMATAN WAJO KOTA MAKASSAR Nama : SARMILA NIM : 04.07.828.2012 Program Studi : Bahasa Indonesia Kosentrasi : -
Telah diuji dan dipertahankan di depan Panitia Penguji Tesis pada Tanggal 16 Oktober 2014 dan dinyatakan telah memenuhi pesyaratan dan dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan Bahasa Indonesia pada Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar.
Makassar, 16 Oktober 2014
iv
taala berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan tesis ini. Tesis ini diajukan guna memenuhi salah satu
persyaratan akademik untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan pada
Program Studi Pendidikan Bahasa, Kekhususan Pendidikan Bahasa
Indonesia Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar.
Dalam penyusunan tesis yang berjudul “Kesantunan Tindak Direktif Guru
dalam Pembelajaran di Kelas SD Negeri Sangir Kecamatan Wajo Kota
Makassar”, penulis banyak mendapat bantuan dalam bentuk bimbingan,
saran, dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis
menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
tesis ini. Terima kasih diucapkan kepada Dr. A. Rahman Rahim, M.Hum.
pembimbing I dan Dr. H. Bahrun Amin, M.Hum. pembimbing II yang telah
membimbing, mengarahkan, dan memberikan saran dalam penyelesaian
tesis ini. Terima kasih kepada Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M.,M.Pd.
penguji I dan Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum. penguji II yang telah
memberikan saran, kritikan demi kesempurnaan tesis ini.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Direktur PPs UNISMUH
Prof. Dr. H. Ide Said D.M., M.Pd. dan Rektor Universitas Muhammadiyah
Makassar, Ketua Prodi. Pendidikan Bahasa, beserta staf yang telah
memberikan bantuan dan kemudahan kepada penulis, baik pada waktu
v
Ucapan terima kasih pula kepada seluruh dosen dan Prodi Kekhususan
Bahasa Indonesia yang telah membekali penulis berbagai pengetahuan
selama perkuliahan sampai pada hasil penelitian ini.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kepala sekolah, guru dan
murid SD Negeri Sangir Makassar yang membantu penulis dalam
melaksanakan penelitian ini. Secara khusus, penulis mengucapkan terima
kasih dan penghargaan kepada ayahanda dan ibunda yang sangat
berjasa telah melahirkan, mendidik, membesarkan, memberikan kasih
sayang dan doanya. Terima kasih pula kepada suami tercinta dan seluruh
keluarga dengan penuh kesabaran dan ketabahan mendampingi penulis
dalam penyelesaian studi dan senantiasa setia mendoakan penulis agar
dapat meraih kesuksesan.
diberikan oleh berbagai pihak dapat bernilai ibadah dan mendapat pahala
dari Allah swt.
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS
Yang bertandatangan di bawah ini : Nama : Sarmila NIM : 04.07.828.2012 Program Studi : Bahasa dan Sastra Indonesia Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang saya tulis ini benar-
benar merupakan karya asli saya sendiri,bukan merupakan
pengambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain. Apabila dikemudian
hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan tesis
ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan
tersebut.
SARMILA, 2014. Kesantunan Tindak Direktif Berbahasa Indonesia Guru dalam Pembelajaran di Kelas SD Negeri Sangir Kecamatan Wajo Kota Makassar. Dibimbing oleh A.Rahman Rahim, dan H.Bahrun Amin. Penelitian ini bertujuan mengkaji kesantunan tindak direktif berbahasa Indonesia guru dalam pembelajaran di kelas SD Negeri Sangir Kecamatan Wajo Kota Makassar. Fokus penelitian ini adalah wujud kesantunan tindak direktif dan fungsi tindak direktif guru dalam pembelajaran di kelas SD Negeri Sangir Kecamatan Wajo Kota Makassar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data penelitian berupa pernyataan/kalimat yang digunakan oleh guru dalam pebelajaran di kelas. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi dan perekaman. Untuk memverifikasi keabsahan data dapat dilakukan dengan triangulasi, perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan pengecekan teman sejawat. Analisis data dilaksanakan dengan menstranskip data rekaman ke dalam bentuk tulis, mengklasifikasikan wujud dan fungsi tindak direktif, mendeskripsikan data berdasarkan penanda kesantunan, menyajikan data dalam bentuk deskriptif. Berdasarkan analisis data, wujud kesantunan tindak direktif berbahasa Indonesia oleh guru dalam pembelajaran di kelas secara deskriptif diekspresikan melalui tiga modus tuturan yakni : (1) modus tuturan deklaratif; (2) modus tuturan imperatif; (3) modus tuturan interrogatif. Fungsi kesantunan tindak direktif berbahasa Indonesia guru diekspresikan melalui : (1) fungsi kesantunan dalam perintah ; (2) fungsi kesantunan dalam ajakan ; (3) fungsi kesantunan dalam permintaan ; (4) fungsi kesantunan dalam mengizinkan ; dan (5) fungsi kesantunan dalam menasishati. Hasil penelitian menunjukksan bahwa penggunaan kesantunan tindak direktif berbahasa Indonesia guru dalam pembelajaran di kelas di representasikan secara beragam melalui wujud dan fungsi dengan menggunakan teori tindak tutur dalam kesantunan.
viii
ABSTRACT
Sarmila.2014. Politeness of directive acts on teachers’ Indonesian Language Spoken In Learning at SDN. Sangir Kecamatan Wajo Macassar City .Supervised by A. Rahman Rahim, and H. Bahrun Amin. The study aimed at examining the politeness of directive acts on teachers’spoken of Indonesian language in learning at SDN. Sangir Kecamatan Wajo Maccassar City. The study on the form of directive acts and function of teachers’ directive acts in learning at SDN. Sangir Kecamatan Wajo Macassar City. This study is a qualitative research. Data of the study are statements/sentences used by teachers in the class. Data were collected through observation and recording techniques. Data validation was conducted through triangulation, extended participation, observation, and member check. Data were analyzed by transcribing the recording data into the written from, classifying the form and function of directive acts, describing data based on the politeness markers, and presenting the data descriptively. Based on the data analysis, it is found the diversification of form and function of directive acts politeness on teachers’ Indonesian Language spoken as follows: the form of politeness of diterctive acts on teachers spoken of Indonesian language in class descriptively is expressed trough three speech modes, namely (1) declarative speech mode, (2)imperative speech mode, and (3) interrogative speech mode. The function of teachers’directive acts were expressed through (1) function of politeness is giving order, (2) function of politeness in inviting, (3) function of politeness in asking, (4) function of pioliteness is giving permission, and (5) function of politeness in advice. The result revealed that the use of politeness of directive acts on Indonesian language of teachers in class was represented in diversity throuhh the forms and functions using the theory of speech acts and politeness. Based on the study, it is suggested that (1) teachers can improve the politeness of directive acts on Indonesian language of students, (2) students understand have knowledge of language, particularly the politeness of directive acts on Indonesian language, (3) the principal of SDN. Sangir should stress on teachers to use the politeness of directive acts on Indonesian language in classs, and (4) the researcher should develop a study on politeness of directive acts by employing different research design to examine the benefit of polite language in improving students’ learning achievement.
ix
B. Rumusan Masalah 7
C. Tujuan Penelitian 7
A. Kajian Pustaka 10
Direktif 10
4. Hakikat Kesantunan 21
5. Wujud Kesantunan 22
6. Fungsi Kesantunan 23
7. Jenis-Jenis Kesantunan 23
9. Struktur Tindak Tutur Direktif 27
10. Keragaman Tindak Tutur Direktif 28
11. Fungsi Tindak Tutur Direktif 31
12. Kesantunan Tindak Direktif dalam Dimensi Analisis
Sosiolinguistik 32
A. Jenis Penelitian 35
B. Desain Penelitian 35
C. Batasan Istilah 35
D. Lokasi Penelitian 36
F. Instrumen Penelitian 37
G. Definisi Operasional 37
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 40
A. Hasil Penelitian 40
Guru dalam Pembelajaran di Kelas 40
a. Penggunaan Tuturan dengan Modus Deklaratif 40
b. Penggunaan Tuturan dengan Modus Imperatif 44
xi
2. Fungsi Kesantunan Tindak Direktif Berbahasa
Indonesia Guru dalam Pembelajaran di Kelas 57
a. Penggunaan Fungsi Kesantunan dalam Perintah 58
b. Fungsi Kesantunan dalam Ajakan 67
c. Fungsi Kesantunan Permintaan 70
d. Fungsi Kesantunan dalam Mengizinkan 87
e. Fungsi Kesantunan dalam Menasehati 89
B. Pembahasan 91
A. Simpulan 103
B. Saran 105
santun, dan budi pekerti merupakan aspek-aspek bahasa yang
diekspresikan dalam sebuah komunikasi yang dilingkupi oleh berbagai
konteks. Fraser (1978: 11) melihat bahwa kesantunan sebagai properti
yang diasosiasikan dengan tuturan. Sehubungan dengan hal itu, Chaer
(2007: 45) menyatakan bahwa ada tiga hal yang harus dipenuhi oleh
penutur ketika berbahasa agar dapat dikatakan sebagai manusia yang
beradab, yakni kesantunan berbahasa, etika berbahasa, dan
kesopanan berbahasa. Pertama, kesantunan berbahasa berkenaan
dengan substansi bahasanya. Kedua, etika berbahasa berkenaan
dengan perilaku atau tingkah laku di dalam bertutur, dan ketiga
kesopanan berbahasa berkenaan dengan topik tuturan, konteks situasi
pertuturan, dan jarak hubungan sosial antara penutur dan lawan tutur.
Percakapan dalam pembelajaran merupakan realitas interaksi
sosial yang dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. Oleh karena itu,
penggunaan bahasa dalam pembelajaran di kelas menarik untuk
diperhatikan dan dipahami karena realitas tersebut dapat disebut
sebagai miniatur kehidupan sosial dalam masyarakat. "Peristiwa
komunikasi yang terjadi ditandai oleh percakapan antara penutur dan
mitra tutur yang bersifat resiprokal, bersemuka dan bentuknya
2
digunakan sebagai alat komunikasi paling efektif dan media ekspresi
bagi penuturnya. Bahasa sebagai media ekspresi bagi penutur dan
mitra tutur dalam kehidupan sosial di masyarakat memerlukan
seperangkat nilai. Salah satu nilai yang dimaksud adalah kesantunan
berbahasa. Kesantunan sebagai sebuah nilai yang diasosiasikan
melalui penggunaan bahasa dalam pembelajaran di kelas diharapkan
mampu mengatur hubungan atau interaksi antara siswa dengan siswa
atau siswa dengan guru sehingga tercipta interaksi yang harmonis.
Terkait dengan pandangan-pandangan di atas, Hobnes (dalam
Syafruddin 2010:2) mengungkapkan bahwa bahasa merupakan sarana
interaksi antarpenutur, baik secara individu maupun kelompok, yang
terpola sesuai dengan kaidah-kaidah kebahasaan dan norma-norma
sosial. Salah satu tindak tutur yang menarik untuk diperhatikan dan
dipahami ketika kesantunan diasosiasikan dengan tindak tutur tersebut
adalah tindak direktif. Secara umum, tindak direktif didefinisikan sebagai
suatu tindak tutur yang mengekspresikan maksud atau keinginan
penutur yang menghendaki mitra tutur untuk melakukan sesuatu sesuai
dengan yang dikehendaki penutur.
tutur melakukan sesuatu, misalnya tindak memaksa, memerintah,
3
Dengan demikian, tindak direktif merupakan jenis tindak tutur yang
dilakukan penutur untuk membuat mitra tutur melakukan sesuatu, baik
yang berfungsi sebagai pengatur tingkah laku maupun yang berfungsi
sebagai pengontrol tindak.
digalakkan di sekolah-sekolah adalah penggunaan kesantunan tindak
direktif berbahasa Indonesia karena sering diekspresikan oleh para
guru-siswa saat berinteraksi di kelas. Sesuai dengan fakta tersebut,
penggunaan tuturan dalam pembelajaran di kelas SDN Sangir
Kecamatan Wajo Kota Makassar senantiasa dipengaruhi faktor sosial
budaya setempat.
Fenomena tersebut dapat dilihat pada percakapan berikut.
Guru : Anak-anakku, tolong didengarkan soalnya ya! (1) Mengapa gubernur memiliki kedudukan rangkap dalam struktur pemerintahan? (2) Siswa : Karena, a. . .nuh Bu, (3) gubernur sebagai kepala
propinsi Guru : kenapa?(4) Siswa : Jelaskan sajami, Bu,(5) tidak tau'ki" (6)
Tuturan di atas dituturkan oleh Guru ketika berlangsung
percakapan di dalam kelas. Dalam kutipan di atas terungkap aspek
kesantunan tindak direktif melalui tuturan langsung dengan modus
imperatif (1) dengan menggunakan pemarkah tolong dan anak-anakku
sebagai wujud penunjukan solidaritas tinggi seorang guru ketika
4
tersebut sehingga terdengar wajar dan santun bagi siswa (mitra tutur).
Melalui tuturan (3), (5) dan (6) siswa tampak menggunakan tuturan
langsung dengan modus imperatif dan deklaratif. Aspek kesantunan
tindak direktif yang dapat dilihat dalam tuturan siswa tersebut antara
lain. Pertama, penggunaan sapaan anuh Bu yang disampaikan dengan
intonasi rendah dengan menunjukkan rasa hormat melalui sapaan Bu
berarti bahwa siswa tetap memposisikan guru sesuai dengan statusnya
(asimetris) yang patut dihormati. Kedua, sikap rendah diri siswa dan
berterus terang dengan menggunakan pemarkah honorifik
(penghormatan, kita) sebagai sosiokultural masyarakat Bugis.
Pemahaman bahasa sebagai realitas interaksi sosial yang
dipengaruhi faktor sosiokultural, tuturan guru-siswa dalam
pembelajaran di kelas merupakan ekspresi penuturnya sebagai wujud
kerja sama(cooperative). Oleh karena itu, penggunaan kesantunan
tindak direktif berbahasa Indonesia dalam pembelajaran di kelas tidak
dapat dipisahkan dari dua fokus utama, yakni: (1) penggunaan bentuk
(wujud verbal) yang berkenaan dengan jenis tindak direktif, dan (2)
penggunaan fungsi (tujuan, maksud, atau makna) tindak direktif.
Percakapan dalam pembelajaran di kelas sebagai bentuk tuturan
juga memiliki komponen tutur, seperti latar tutur (setting), peserta tutur,
tujuan tutur, nada tutur, topik tuturan, norma tutur, sarana tutur, dan
5
jenis tuturan. Dalam penelitian ini, komponen tutur di atas menjadi titik
tolak kajian untuk melihat penggunaan kesantunan tindak direktif
berbahasa Indonesia dalam pembelajaran di kelas sebagai salah satu
subkajian pragmatik.
serta kedudukan penelitian ini di antara berbagai penelitian kesantunan
yang relevan, berikut diuraikan relevansi penelitian ini dengan beberapa
penelitian terdahulu. Pertama, Gunarwan (1994), mengkaji persepsi
kesantunan direktif bahasa Indonesia di antara beberapa kelompok
etnik di Jakarta. Kesimpulan yang diperoleh terdapat kesejajaran di
antara ketaklangsungan tindak direktif dan kesantunan pemakainya.
Kedua, Karim (2008) mengkaji penggunaan tindak imperatif dalam
wacana kelas. Dengan memfokuskan kajian pada penggunaan tindak
imperatif guru dan penggunaannya terhadap siswa.Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dalam penyampaian tindak imperatif guru maupun
siswa adakalanya menekan dan memaksa dan adakalanya halus.
Ketiga, Saleh (2009) mengkaji tentang Kesantunan Berbahasa
Mahasiswa dalam Wacana Akademik. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa strategi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana
akademik didasarkan pada upaya penutur untuk menjaga muka mitra
tutur.
6
honorofik dalam tindak direktif dipengaruhi oleh norma sosial dan
budaya yang mereka miliki.
topik-topik yang dikaji berkaitan dengan penggunaan kesantunan tindak
direktif berbahasa Indonesia dalam pembelajaran di kelas. Oleh karena
itu, penelitian ini banyak berkiblat terhadap penelitian-penelitian
sebelumnya, agar penelitian ini lebih terarah dan dapat menunjukkan
loyalitas terhadap hal-hal yang ingin dicapai. Meski penelitian tentang
kesantunan berbahasa dan tindak direktif telah banyak dilakukan,
namun penelitian ini tetap perlu dilakukan untuk menambah wawasan
penelitian kesantunan tindak direktif yang telah ada sebelumnya.
Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat melengkapi
hasil-hasil penelitian terdahulu yang menyangkut dengan kesantunan
ataupun tindak direktif.
Pembelajaran di Kelas" sebagai sebuah fenomena bahasa yang
memungkinkan untuk dijadikan penelitian di kelas SDN Sangir dengan
pertimbangan bahwa percakapan antara guru dan siswa saat
pembelajaran berlangsung di kelas sering sekali berkaitan dengan
kesantunan tindak direktif berbahasa Indonesia yang tidak dapat
dipisahkan dari dua fokus utama, yakni: (1) penggunaan bentuk (wujud
7
penggunaan fungsi (tujuan, maksud, atau makna) tindak direktif.
Peneliti mengharapkan agar tindak tutur direktif pada tuturan guru
dalam proses belajar mengajar dijadikan sebagai salah satu contoh
pengajaran kesantunan berbahasa dan tetap mempertahankan
nilai-nilai kesantunan berbahasa dalam tuturan direktifnya.
B. Rumusan Masalah
masalah dalam penelitian ini seperti yang diuraikan berikut ini:
1. Bagaimanakah wujud kesantunan tindak direktif guru dalam
pembelajaran di kelas SDN Sangir Kecamatan Wajo Kota
Makassar .
Makassar.
penelitian ini juga ada dua, yaitu:
1. Mengkaji wujud kesantunan tindak direktif guru dalam
pembelajaran di kelas SDN Sangir Kecamatan Wajo Kota
Makassar.
8
Makassar.
D. Manfaat Hasil Penelitian
Manfaat penelitian ini dapat ditinjau dari dua sisi yakni: (1) manfaat
teoretis dan (2) manfaat praktis.
1. Manfaat Teoretis
tindak tutur, dan khususnya penggunaan kesantunan tindak direktif
dalam pembelajaran di kelas yang berkaitan dengan kajian pragmatik.
2. Manfaat Praktis
pragmatik, khususnya berkaitan dengan kesantunan tindak direktif.
Manfaat praktisnya antara lain:
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh guru bahasa
Indonesia,sebagai salah satu alternasi bahan acuan dalam
penerapan bahan ajar, khususnya bahan ajar untuk pembelajaran
keterampiian berbahasa.
penggunaan bahasa sebagai alat berkomunikasi dalam
pencapaian hasil belajar yang maksimal.
9
tutur yang terkait dengan kesantunan tindak direktif berbahasa
Indonesia di bidang pragmatik.
Penggunaan kesantunan tindak direktif berbahasa Indonesia tidak
dilepaskan dari kajian pragmatik. Hal ini didasarkan pada kenyataan
bahwa kesantunan berkaitan dengan bahasa, dan secara khusus
berkaitan dengan penggunaan bahasa, yang menjamin
mengklasifikasikannya dalam pragmatik. Untuk memahami kesantunan
tindak direktif berbahasa Indonesia dalam perspektif pragmatik,
beberapa konsep dasar dan pengembangan yang terkait dengan
pragmatik, penting untuk diuraikan dalam kajian ini. Konsep-konsep
tersebut meliputi: (a) hakikat pragmatik; (b) deiksis; (c) persuposisi atau
pra-anggapan; dan (d) implikatur percakapan (conversational
implicatur).
memandang hakikat pragmatik meliputi empat ruang cukup. Pertama,
pragmatik merupakan studi tentang maksud penutur. Kedua, pragmatik
adalah studi tentang makna kontekstual. Ketiga, pragmatik adalah studi
11
dituturkan. Keempat, pragmatik adalah studi tentang ungkapan dari
jarak hubungan.
sebagai studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur dan
ditafsirkan oleh pendengar. Sebagai akibatnya, studi ini lebih banyak
berhubungan dengan analisis tentang apa yang dimaksudkan orang
dengan tuturan-tuturannya daripada dengan makna terpisah dari fcata
atau frasa yang digunakan dalam tuturan itu. Studi ini melibatkan
penafsiran tentang apa yang dimaksudkan orang dalam suatu konteks
khusus dan bagaimana konteks itu berpengaruh terhadap apa yang
dikatakan. Diperlukan suatu pertimbangan tentang bagaimana cara
penutur mengatur apa yang ingin mereka katakan yang disesuaikan
dengan orang yang mereka ajak bicara, di mana, kapan, dan dalam
keadaan apa.
studi kebahasaan yang terkait dengan konteks. Pragmatik sebagai ilmu
bahasa mempelajari kondisi penggunaan bahasa yang digunakan
manusia yang ditentukan oleh konteks…

Search related