23
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Halusinasi atau persepsi indera tanpa adanya rangsangan eksternal dapat terjadi pada indera manapun. Salah satu bentuk halusinasi yang umum terjadi yaitu halusinasi dengar yakni persepsi suara tanpa adanya rangsang eksternal. Halusinasi dengar merupakan gejala paling umum pada pasien psikotik seperti skizofrenia dan gangguan skizoafektif (Subramanian et al., 2013). Beberapa penderita mengalami halusinasi dengar yang menetap sehingga mengalami disfungsi secara langsung terhadap seluruh aspek kehidupannya. Upaya medis dilakukan untuk mengontrol halusinasi yang pada umumnya dengan pemberian obat-obatan antipsikotik, namun sekitar 30% penderita halusinasi dengar hanya berespons sebagian terhadap pengobatan antipsikotik standar. Berbagai jenis terapi pun dikembangkan untuk mengobati atau mengurangi gejala halusinasi dengar pada pasien psikotik (Zarghami,

Kelompok SIII-REFERAT Isi Halusinasi Dengar

  • Upload
    gendis

  • View
    55

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tugas

Citation preview

Page 1: Kelompok SIII-REFERAT Isi Halusinasi Dengar

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Halusinasi atau persepsi indera tanpa adanya rangsangan eksternal dapat

terjadi pada indera manapun. Salah satu bentuk halusinasi yang umum terjadi

yaitu halusinasi dengar yakni persepsi suara tanpa adanya rangsang eksternal.

Halusinasi dengar merupakan gejala paling umum pada pasien psikotik seperti

skizofrenia dan gangguan skizoafektif (Subramanian et al., 2013).

Beberapa penderita mengalami halusinasi dengar yang menetap sehingga

mengalami disfungsi secara langsung terhadap seluruh aspek kehidupannya.

Upaya medis dilakukan untuk mengontrol halusinasi yang pada umumnya

dengan pemberian obat-obatan antipsikotik, namun sekitar 30% penderita

halusinasi dengar hanya berespons sebagian terhadap pengobatan antipsikotik

standar. Berbagai jenis terapi pun dikembangkan untuk mengobati atau

mengurangi gejala halusinasi dengar pada pasien psikotik (Zarghami,

Moonesi, & Khademloo, 2012; Subramanian et al., 2013). Oleh karena itu,

perlu dipelajari lebih lanjut mengenai halusinasi dengar dan

penatalaksanaannya pada pasien psikotik yang tepat.

B. Tujuan

1. Mengetahui mekanisme dan aspek psikologi halusinasi dengar pada pasien

psikotik

2. Mengetahui penatalaksaan halusinasi dengar pada pasien psikotik

Page 2: Kelompok SIII-REFERAT Isi Halusinasi Dengar

2

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Gangguan Psikotik

Gangguan psikotik adalah semua kondisi yang menunjukkan adanya

hendaya berat dalam kemampuan daya nilai realitas, baik dalam perilaku

individu dalam suatu saat maupun perilaku individu dalam perjalanannya

mengalami hendaya berat kemampuan daya nilai realitas (perlu

dipertimbangkan faktor budaya) (Sadock & Sadock, 2010). Bukti langsung

hendaya daya nilai realitas terganggu adalah seperti berikut:

1. adanya waham, halusinasi, dan tanpa tilikan akan sifat patologinya;

2. adanya perilaku yang demikian kacau (grossly disorganized) misalnya

bicara yang inkoheren, perilaku agitasi tanpa tujuan, disorientasi pada

delirium, dan sebagainya;

3. adanya kegagalan fungsi sosial dan personal dengan penarikan diri dari

pergaulan sosial dan tidak mampu dalam tugas pekerjaan sehari-hari.

B. Halusinasi Dengar

1. Definisi

Halusinasi adalah persepsi sensorik yang timbul tanpa adanya

rangsang apapun pada panca indera seorang pasien, yang terjadi dalam

keadaan sadar atau bangun, yang disebabkan oleh kemungkinan organik,

fungsional psikotik ataupun histerik, dan tidak berdasarkan kenyataan serta

merupakan gejala yang paling umum pada gangguan psikotik. Halusinasi

dengar (auditorik) adalah persepsi suara tanpa adanya rangsang suara

Page 3: Kelompok SIII-REFERAT Isi Halusinasi Dengar

3

apapun, dapat juga berupa bunyi-bunyi seperti musik. Karakteristiknya

ditandai dengan mendengar suara, terutama suara-suara orang, biasanya

pasien mendengar suara orang yang sedang membicarakan apa yang

sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu

(Kaplan, Saddock, & Greb, 2010; Djatmiko, 2009).

2. Mekanisme Gangguan Halusinasi Dengar

Penelitian neuroimaging terkini menunjukkan bahwa interpretasi

informasi auditorik pada sistem saraf pusat terdiri dari dua jaras, dorsal

sebagai penginterpretasi informasi spatial dan ventral sebagai

penginterpretasi informasi non-spatial. Jaras dorsal mendeskripsikan lokasi

sumber suara, jaras ini berada pada bagian posterosuperior lobus temporal,

inferior lobus parietal, dan superior lobus frontal. Jaras ventral

menginterpretasikan isi suara, jaras ini berada pada bagian anterosuperior

lubos temporal dan inferior lobus frontal. Stimulus suara diinterpretasikan

melalui kedua jaras tersebut sehingga menjadi suatu informasi suara yang

utuh (Badcock, 2010).

Gambar 2.1. Jaras interpretasi auditorik manusia (Badcock, 2010).

Page 4: Kelompok SIII-REFERAT Isi Halusinasi Dengar

4

Halusinasi dengar terjadi sebagai akibat dari abnormalitas interpretasi

dengar yang terjadi pada kedua jaras auditorik. Isi dari halusinasi dengar

merupakan hasil dari abnormalitas proses interpretasi pada jaras ventral.

Abnormalitas ini dapat terjadi apabila ada kelainan pada jaras ventral.

Salah satu penelitian neuroimaging menunjukkan bahwa penurunan

volume pada girus superior lobus temporal menghasilkan aktivitas jaras

ventral yang abnormal. Penelitian lainnya pada pasien skizofrenia

menunjukkan bahwa penurunan aktivitas neuroimaging pada girus

superior lobus temporal berbanding lurus dengan tingkat keparahan

halusinasi dengar yang terjadi (Badcock, 2010).

Halusinasi seolah terdapat suara dari luar yang mengkomentari dan

menyuruh seseorang untuk bertindak sesuatu merupakan abnormalitas dari

fungsi spatial auditorik. Kelainan pada jaras dorsal akan membuat suara

yang ada diinterpretasikan seolah berada di luar kepala. Penelitian

neuroimaging menunjukkan bahwa pada pasien yang mengalami

halusinasi memiliki aktivitas abnormal pada planum temporal di lobus

temporoparietal (Badcock, 2010).

Page 5: Kelompok SIII-REFERAT Isi Halusinasi Dengar

5

3. Aspek Psikologis Gangguan Halusinasi Dengar pada Pasien Psikotik

Gambar 2.2. Formasi dan Konsolidasi Halusinasi Dengar (Garselan, 2004)

Dalam gambar 2.2 di atas, ditampilkan proses formasi dan konsolidasi

halusinasi dengar. Personal antecedents merujuk ke berbagai variabel yang

menyebabkan berbagai trigger halusinasi menjadi teraktivasi. Variabel-

variabel tersebut meliputi: kepercayaan metakognitif, predisposisi untuk

tersugesti, dan kepribadian. Halusinasi ditandai dengan adanya

kepercayaan metakognitif yang membuat seseorang meyakini bahwa

situasi pribadi mereka adalah suatu masalah, dengan didukung kerentanan

Page 6: Kelompok SIII-REFERAT Isi Halusinasi Dengar

6

untuk tersugesti dan memperlihatkan ketidakstabilan emosi (Garselan,

2004).

Permulaan dari proses halusinasi terjadi ketika seseorang menghadapi

situasi yang berbeda yang tidak dapat diatasi dan orang tersebut

menginterpretasikannya sebagai ancaman bagi integritas fisik dan

psikologis. Sebagai dampaknya, orang tersebut merasa dikuasai oleh

situasi dan kondisi yang stress (Garselan, 2004). Dalam situasi tesebut

dibutuhkan adaptasi untuk menanggulangi stress. Berikut ini beberapa

situasi yang menimbulkan stressor psikososial antara lain (Hawari, 2006):

a. Perkawinan

Permasalahan perkawinan menjadi sumber stress bagi seseorang

misalnya pertengkaran, perceraian dan kematian salah satu pasangan.

b. Problem orang tua

Permasalahan yang dihadapi orang tua misalnya tidak memiliki anak,

kebanyakan anak, kenakalan anak, anak sakit dan hubungan yang tidak

baik antara anggota keluarga. Permasalahan tersebut diatas bila tidak

dapat diatasi oleh yang bersangkutan maka seseorang akan jatuh sakit.

c. Hubungan interpersonal

Adanya konflik antarpribadi merupakan sumber stress bagi seseorang

yang bila tidak dapat diperbaiki maka seseorang akan jatuh sakit.

d. Pekerjaan

Stress pekerjaan misalnya seseorang yang kehilangan pekerjaan,

pensiun, pekerjaan yang terlalu banyak, pekerjaan tidak cocok, mutasi

dan jabatan.

Page 7: Kelompok SIII-REFERAT Isi Halusinasi Dengar

7

e. Lingkungan hidup

Kondisi lingkungan sosial dimana seseorang itu hidup. Stressor

lingkungan hidup antara lain masalah perumahan, pindah tempat

tinggal, penggusuran dan hidup dalam lingkungan yang rawan

kriminalitas. Rasa tidak aman dan tidak terlindungi membuat jiwa

seseorang tercekam sehingga mengganggu ketenangan dan ketentraman

hidup yang lama-kelamaan daya tahan tubuh seseorang akan turun dan

pada akhirnya akan jatuh sakit.

f. Keuangan

Kondisi sosial ekonomi yang tidak sehat misalnya pendapatan jauh

lebih rendah daripada pengeluaran, terlibat hutang, kebangkrutan usaha,

warisan dan lain sebagainya merupakan sumber stress.

g. Penyakit fisik atau cidera

Penyakit dapat menjadi sumber stres yang dapat mempengaruhi kondisi

kejiwaan seseorang terutama penyakit kronis.

h. Faktor keluarga

Sumber stres bagi anak remaja yaitu hubungan kedua orangtua yang

kurang baik, orang tua yang jarng dirumah, komunikasi antara anak dan

orang tua tidak baik, perceraian kedua orang tua, salah satu orang tua

menderita gangguan kejiwaan, dan orang tua yang pemarah.

Interpretasi dari peristiwa pribadi yang dialami sebagai peristiwa

asing melalui dua proses, yang pertama berhubungan dengan bias

eksternal. Ketika penderita berpikir bahwa peristiwa yang yang terjadi

Page 8: Kelompok SIII-REFERAT Isi Halusinasi Dengar

8

bukan dialami olehnya, dan menganggapnya sumber eksternal. Fenomena

tersebut disebut juga dengan bias in reality monitoring atau bias in source

monitoring. Penderita mengalami kesulitan untuk menentukan asal dari

peristiwa dan mengaitkannya dengan sumber eksternal. Proses kedua

yakni perubahan struktur bahasa yang ditandai dengan perubahan pada

kata ganti orang misalnya, orang pertama diekspresikan sebagai orang

kedua atau ketiga (Garselan, 2004).

Beberapa karakteristik dari halusinasi dengar antara lain:

a. Individualisasi dan personifikasi suara. Beberapa penderita

mengidentifikasi suara dan menghubungkannya dengan individu nyata

yang berasal dari lingkungan sosialnya seperti keluarga, teman, atau

public figure; sebagian lagi tidak menghubungkannya dengan suara

orang tertentu.

b. Sikap turut dalam suara. Suara ditujukan pada penderita untuk

mendengarkan atau mengambil bagian dalam percakapan tersebut,

mungkin juga dapat berdialog dengan suara-suara yang didengar.

c. Suara-suara yang berhubungan. Ada interaksi antara pendengar dengan

suara, misalnya suara pertanyaan-jawaban, permintaan-penolakan, dan

lain sebagainya.

Perilaku yang dapat ditimbulkan akibat adanya halusinasi dengar

tergantung isi dari suara sesuai dengan kepercayaan penderita terhadap

halusinasi dengar yang mereka alami antara lain:

a. Percaya bahwa suara tersebut memiliki identitas. Sebagian besar

penderita memegang penuh keyakinan mengenai sumber suara.

Page 9: Kelompok SIII-REFERAT Isi Halusinasi Dengar

9

Penderita berpikir bahwa suara-suara yang mereka dengan berasal dari

orang lain atau sesuatu yang berasal dari luar.

b. Percaya mengenai maksud dan tujuan dari suara. Penderita biasanya

mencari maksud dan tujuan dari suara yang mereka dengar. Sebagian

kasus, pasien berpikir bahwa suara-suara tersebut akan menyakiti

(voice with malevolent meaning) atau suara tersebut akan membatu

mereka (benevolent voices).

c. Percaya pada kekuatan suara. Penderita berpikir bahwa suara yang

mereka dengar sangat kuat dan mereka tak berdaya untuk melawannya.

Kepercayaan ini sangat dekat kaitannya dengan ide dari suara yakni

omnipotent atau omniscient.

d. Percaya pada konsekuensi atau resistensi. Penderita berpikir bahwa

mereka harus mematuhi isi suara dan percaya sesuatu yang buruk akan

terjadi apabila suara tersebut tidak dipatuhi.

4. Penatalaksanaan Halusinasi Dengar pada Pasien Psikotik

a. Farmakoterapi

Cara utama untuk mengobati halusinasi dengar adalah dengan

obat antipsikotik yang mempengaruhi metabolisme dopamin. Jika

diagnosis utama adalah gangguan mood (dengan ciri-ciri psikotik),

obat ajuvan sering digunakan (misalnya, antidepresan atau stabilisator

mood). Adapun kelompok yang umum digunakan adalah :

1. Fenotiazin Asetofenazin (60-120 mg)

2. Klorpromazin (30-800 mg)

3. Flufenazine (1-40 mg)

Page 10: Kelompok SIII-REFERAT Isi Halusinasi Dengar

10

4. Mesoridazin (30-400 mg)

5. Perfenazin (12-64 mg)

6. Proklorperazin (15-150 mg)

7. Trifluoperazin (2-40 mg)

8. Trifluopromazin (60-150 mg)

9. Tioksanten Klorprotiksen (75-600 mg)

10. Tiotiksen (8-30 mg)

11. Butirofenon Haloperidol 1-100 mg)

12. Dibenzodiazepin Klozapin (300-900 mg)

Berdasarkan data dari European First-Episode Schizophrenia

Trial (EUFEST) terhadap 5 jenis obat antipsikotik yaitu haloperidol,

olanzapine, amisulpride, quetiapine, dan ziprasidone menunjukkan

hasil bahwa haloperidol memliki efek lebih rendah dalam mengurangi

halusinasi dibandingkan 4 obat lainnya. Penggunaan dosis obat

antipsikotik sama dengan dosis awal yang dipertahankan selama 1

tahun untuk rumatan dapat mencegah kekambuhan (Sommer et al,

2012).

Klozapin merupakan drug of choice bagi pasien yang resisten

terhadap 2 macam obat antipsikotik. Kadar klozapin dalam darah

yang menimbulkan efek terapetik adalah 350-450 µg/ml. Meskipun

klozapin merupakan obat antipsikotik paling efektif untuk halusinasi

refrakter, tidak semua pasien remisi sempurna dengan kadar klozapin

dalam darah yang adekuat. Pada beberapa pasien yang resisten,

strategi pengobatan yang dilakukan meliputi: psikoterapi, augmentasi

farmakologik, repetitive TMS, dan ECT. Di dalam klinik, klozapin

Page 11: Kelompok SIII-REFERAT Isi Halusinasi Dengar

11

diaugmentasi dengan lithium, sodium valproat, benzodiazepine, atau

selective serotonin reuptake inhibitor (Sommer et al, 2012).

b. Repetitive transcranial magnetic stimulation (r-TMS)

TMS merupakan teknik noninvasif dengan menghantarkan arus

listrik melalui kumparan yang ditempelkan pada tulang kepala area

tertentu yang mampu mendepolarisasi neuron-neuron area lokal, pada

kedalaman 2 cm. Repetitive transcranial magnetic stimulation (rTMS)

dengan frekuensi rendah (1 Hz) pada korteks temporoparietal sinistra

digunakan untuk terapi halusinasi dengar refrakter. R-TMS secara

signifikan dapat mengurangi halusinasi dengar dengan efek rata-rata

8,5 minggu. RTMS direkomendasikan penggunaannya dengan

kombinasi farmakoterapi (Sommer et al., 2012; Subramanian et al,

2013).

c. Electro Compulsive Therapy (ECT)

Terapi electroconvulsive atau ECT telah terbukti mengurangi

gejala psikotik berhubungan dengan skizofrenia, mania, dan depresi

serta sering digunakan di rumah sakit jiwa (Shergil, 1998). Walaupun

ECT terbukti mengurangi gejala psikotik, namun dalam

penggunaannya, ECT tidak direkomendasikan untuk selalu digunakan

pada terapi skizofrenia dan efek dalam mengurangi halusinasi masih

belum jelas (Sommer et al., 2012).

d. Terapi Perilaku Kognitif

Terapi perilaku kognitif bertujuan untuk mengurangi distress

emosional akibat halusinasi dengar dan menemukan cara strategi

Page 12: Kelompok SIII-REFERAT Isi Halusinasi Dengar

12

koping yang baru. Terapi ini dapat diaplikasikan untuk augmentasi

terapi farmakologi (Sommer et al, 2012).

e. Terapi Suportif

1. Menciptakan lingkungan yang terapeutik

Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan

ketakutan pasien akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan

pendekatan di lakukan secara individual dan usahakan agar terjadi

kontak mata, kalau bisa pasien di sentuh atau di pegang. Pasien

jangan di isolasi baik secara fisik atau emosional. Setiap perawat

masuk ke kamar atau mendekati pasien, bicaralah dengan pasien.

Begitu juga bila akan meninggalkannya hendaknya pasien

diberitahu. Pasien diberitahu tindakan yang akan di lakukan di

ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat merangsang

perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan dengan

realitas, misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding,

majalah dan permainan

2. Melaksanakan program terapi dokter

Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan

dengan rangsangan halusinasi yang di terimanya. Pendekatan

sebaiknya secara persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati

agar obat yang di berikan betul di telannya, serta reaksi obat yang

di berikan.

3. Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah

yang ada

Page 13: Kelompok SIII-REFERAT Isi Halusinasi Dengar

13

Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat

dapat menggali masalah pasien yang merupakan penyebab

timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada.

Pengumpulan data ini juga dapat melalui keterangan keluarga

pasien atau orang lain yang dekat dengan pasien.

4. Memberi aktivitas pada pasien

Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan

fisik, misalnya berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan.

Kegiatan ini dapat membantu mengarahkan pasien ke kehidupan

nyata dan memupuk hubungan dengan orang lain. Pasien di ajak

menyusun jadwal kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai.

5. Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan

Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang

data pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam

proses keperawatan, misalnya dari percakapan dengan pasien di

ketahui bila sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang

mengejek. Tapi bila ada orang lain di dekatnya suara-suara itu

tidak terdengar jelas. Pasien jangan menyendiri dan menyibukkan

diri dalam permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini

hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan petugas lain

agar tidak membiarkan pasien sendirian dan saran yang di berikan

tidak bertentangan (Penn et al., 2008).

Page 14: Kelompok SIII-REFERAT Isi Halusinasi Dengar

14

III.RESUME

1. Gangguan psikotik adalah semua kondisi yang menunjukkan adanya hendaya

berat dalam kemampuan daya nilai realitas, baik dalam perilaku individu

dalam suatu saat maupun perilaku individu dalam perjalanannya mengalami

hendaya berat kemampuan daya nilai realitas (perlu dipertimbangkan faktor

budaya).

2. Halusinasi dengar adalah persepsi suara tanpa adanya rangsang suara dan

merupakan gejala yang paling umum pada pasien psikotik.

3. Halusinasi dengar terjadi akibat gangguan pada kedua jaras auditorik. Isi dari

halusinasi akibat abnormalitas jaras ventral, sedangkan abnormalitas pada

jaras dorsal mengakibatkan suara seolah-olah berasal dari luar.

4. Halusinasi ditandai dengan adanya kepercayaan metakognitif yang membuat

seseorang meyakini bahwa situasi pribadi mereka adalah suatu masalah,

dengan didukung kerentanan untuk tersugesti dan memperlihatkan

ketidakstabilan emosi.

5. Penatalaksanaan halusinasi dengar pada pasien psikotik antara lain:

farmakoterapi, psikoterapi, augmentasi farmakologik, repetitive TMS, terapi

perilaku kognitif, ECT, dan terapi suportif.

Page 15: Kelompok SIII-REFERAT Isi Halusinasi Dengar

15

DAFTAR PUSTAKA

Badcock, Joanna C. 2010. The Cognitive Neuropsychology of Auditory Hallucinations: A Parallel Auditory Pathway Framework. Schizophrenia Bulletin, 36: 576-84.

Djatmiko, P. 2009. Rekapan : Grafik 10 Penyakit Terbanyak Rawat Jalan dan Rawat Inap RSJ Dr. Soeharto Heerdjan Tahun 2009.

Garselan, S.P. 2004. A Psychological Model for Verbal Auditory Hallucinations. Int J of Psychology and Psychological Therapy, 4 (1): 129-53.

Hawari, Dadang. 2006. Pendekatan Holistik pada Gangguan Jiwa Skizofrenia. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.

Kaplan, H.I., B.J. Sadock, dan J.A. Grebb. 2010. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Jilid 2. Tangerang: Bina Rupa Aksara Publisher.

Penn, D.L., P.S. Meyer, E. Evans, R.J. Wirth, et al. 2008. Professional A Randomized Controlled Trial of Group Cognitive-Behavioral Therapy vs. Enhanced Supportive Therapy for Auditory Hallucinations. Schizophrenia Research, 109: 52-9.

Sadock, B.J. and V.A. Sadock. 2010. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi ke-2. Cetakan 2010. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Pp: 147-56.

Shergill, Sukhwinder S., Murray, R.M., McGuire, P.K. 1998. Auditory Hallucinations: a Review of Psychological Treatments. Schizophrenia Research, 32: 137-50.

Sommer, I.E.C., C.W. Slotema, Z. Daskalakis, E.M. Derks, et al. 2012. The Treatment of Hallucinations in Schizophrenia Spectrum Disorders. Schizophrenia bulletin, 2012:1-11.

Subramanian, P., A. Burhan, L. Pallaveshi, and A. Rudnick. 2013. Case Report: The Experience of Patients With Schizophrenia Treated with Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation for Auditory Hallucinations. Case Report in Psychiatry, 2013: 1-5.

Zarghami, M., F.S. Moonesi, M. Khademloo. 2012. Control of Persistens Auditory Hallucinations trough Audiotape Therapy (Three Case Report). European Review for Medical and Pharmacological Sciences, 16 (4 suppl): 64-5