KELOMPOK 6 PRESENTASI

  • View
    518

  • Download
    61

Embed Size (px)

DESCRIPTION

makro ekonomi

Text of KELOMPOK 6 PRESENTASI

BAB I

PENDAHULUAN

Sulit sekali kita membaca surat kabar tanpa menemukan tulisan-tulisan dari politikus atau penulis yang menganjurkan perubahan tertentu dalam kebijakan ekonomi. Pemerintah harus menaikkan pajak untuk mengurangi defisit anggaran atau harus berhenti mengkhawatirkan deficit anggaran. Bank sentral harus memotong tingkat suku bunga untuk merangsang perekonomian yang lesu atau pemerintah harus menghindari tindakan tersebut agar tidak menghadapi risiko inflasi yang lebih tinggi. Pemerintah harus mereformasi sistem pajak untuk mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat atau mereformasi sistem pajak untuk memperoleh distribusi pendapatan yang lebih merata. Permasalahan permasalahan ekonomi seperti itu merupakan pusat dari perdebatan politik di seluruh dunia.Beberapa bab sebelumnya telah mempelajari alat alat yang digunakan para ekonom saat menganalisis perilaku ekonomi secara keseluruhan dan pengaruh kebijakan-kebijakan ekonomi. Bab terakhir ini mempresentasikan keduanya dalam lima perdebatan penting mengenai kebijakan ekonomi makro.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1PERLUKAH PARA PEMBUAT KEBIJAKAN MONETER DAN FISKAL MENCOBA UNTUK MENSTABILKAN PEREKONOMIAN?

Pada tiga bab sebelumnya kita melihat bagaimana perubahan pada permintaan dan penawaran agregat dapat menimbulkan fluktuasi jangka pendek dalam produksi dan penyerapan tenaga kerja. Kita juga melihat bagaimana kebijakan moneter dan fiskal dapat mengubah permintaan agregat dan selanjutnya mengubah fluktuasi ini. Meskipun jika para pembuat kebijakan mampu memengaruhi fluktuasi ekonomi jangka pendek, pakah itu berarti mereka perlu melakukan hal tersebut? Perdebatan pertama kita mencakup apakah para pembuat kebijakan moneter dan fiskal harus menggunakan perangkat-perangkat yang boleh mereka gunakan untuk mencoba meredakan naik-turunnya siklus bisnis.Pro: Para Pembuat Kebijakan Perlu Mencoba untuk Menstabilkan Perekonomian

Apabila dibiarkan, perekonomian cenderung berfluktuasi. Ketika rumah tangga dan perusahaan menjadi pesimis, misalnya, maka mereka mengurangi pengeluaran, dan ini mengurangi permintaan agregat untuk barang dan jasa. Penurunan permintaan agregat akan mengurangi produksi barang dan jasa. Perusahaan-perusahaan memecat para pegawainya, dan tingkat pengangguran naik. PDB riil dan ukuran-ukuran pendapatan lainnya turun. Pengangguran yang meningkat dan pendapatan yang menurun membantu dalam memperkuat rasa pesimisme yang awalnya memicu resesi ekonomi.Resesi semacam itu tidak memiliki manfaat bagi masyarakat hal ini hanya membuang sumber-sumber daya dengan percuma. Para pekerja yang menjadi pengangguran karena permintaan agregat yang tidak mencukupi seharusnya dapat bekerja. Pengusaha yang perusahaannya dibiarkan tidak beroperasi selama resesi seharusnya dapat memproduksi barang dan jasa yang bernilai dan menjualnya guna memperoleh keuntungan.Tidak ada alasan bagi masyarakat untuk menderita selama lonjakan dan kegagalan siklus bisnis. Perkembangan teori ekonomi makro telah menunjukkan kepada para pembuat kebijakan bagaimana caranya mengurangi dahsyatnya fluktuasi ekonomi. Dengan bersandar pada angin perubahan ekonomi, kebijakan moneter dan fiskal dapat menstabilkan permintaan agregat, demikian juga pada produksi dan ketenagakerjaan. Ketika permintaan agregat tidak cukup untuk memastikan penyerapan tenaga kerja, para pembuat kebijakan harus menaikkan pengeluaran pemerintah, mengurangi pajak, dan meningkatkan jumlah uang yang beredar. Ketika permintaan agregat berlebih dan beresiko dalam memunculkan inflasi yang lebih tinggi, para pembuat kebijakan harus memotong pengeluaran pemerintah, menaikkan pajak, dan mengurangi jumlah uang yang beredar. Tindakan kebijakan seperti itu menempatkan teori ekonomi makro pada penggunaan terbaiknya dengan mengarah pada perekonomian yang lebih stabil yang menguntungkan semua orang.Kontra: Para Pembuat Kebijakan Tidak Perlu Menstabilkan Perekonomian

Meskipun kebijakan moneter dan fiskal dapat digunakan untuk menstabilkan perekonomian secara teori, pada praktiknya, ada persoalan yang harus dihadapi dalam pemakaian kebijakan-kebijakan tersebut. Salah satu persoalannya adalah kebijakan moneter dan fiskal tidak segera memengaruhi perekonomian, tetapi bekerja dalam waktu yang lambat. Kebijakan moneter memengaruhi permintaan agregat dengan mengubah tingkat suku bunga, yang selanjutnya memengaruhi pengeluaran, khususnya investasi rumah dan bisnis. Namun, kebanyakan rumah tangga dan perusahaan menetapkan rencana pengeluaran mereka sebelumnya. Akibatnya, perlu waktu untuk perubahan tingkat suku bunga guna mengubah permintaan agregat untuk barang dan jasa. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa perubahan kebijakan moneter hanya memiliki efek yang kecil terhadap permintaan agregat sampai kira-kira enam bulan setelah perubahan dibuat.Kebijakan fiskal bekerja lambat karena proses politik yang panjang menentukan perubahan pada pengeluaran dan pajak. Karena keterlambatan ini, para pembuat kebijakan yang ingin menstabilkan ekonomi perlu mempertimbangkan kondisi perekonomian yang akan muncul saat tindakan mereka dimulai. Sayangnya, perkiraan ekonomi sangat tidak pasti, sebagian karena ilmu ekonomi makro merupakan cabang ilmu yang primitif dan sebagian karena guncanngan yang menyebabkan fluktuasi ekonomi pada hakikatnya tidak dapat diprediksi. Dengan demikian, ketika pembuat kebijakan mengubah kebijakan moneter dan fiskal, mereka harus mengandalkan dugaan-dugaan yang cerdas mengenai kondisi perekonomian pada masa depan.Sering kali para pembuat kebijakan yang mencoba untuk menstabilkan perekonomian melakukan hal yang sebaliknya. Kondisi perekonomian dapat dengan mudah berubah antara waktu saat satu kebijakan dimulai dan saat kebijakan tersebut benar-benar mulai terasa. Karena hal ini, para pembuat kebijakan dapat tanpa sengaja memperburuk; bukannya mengurangi besarnya fluktuasi ekonomi. Beberapa ekonom telah memberikan pernyataan bahwa banyak.

Jika dibandingkan dengan dokter yang dihadapkan pada pasien yang sakit dan diagnosis yang tidak pasti, sering kali seorang dokter tidak melakukan apapun, tetapi membiarkan tubuh pasien bekerja sendiri. Campur tangan tanpa pengetahuan yang cukup hanya akan memperburuk keadaan.

Hal yang sama pun berlaku ketika menangani perekonomian yang sedang sakit. Mungkin diharapkan para pembuat kebijakan dapat meniadakan seluruh fluktuasi ekonomi, tetapi bukanlah itu tujuan realistis mengingat pengetahuan ekonomi makro terbatas dan meramalkan peristiwa-peristiwa di dunia adalah hal yang sulit. Para pembuat kebijakan harus menjauhkan diri untuk tidak terlalu sering mengintervensi kebijakan moneter dan fiskal serta memastikan bahwa tindakan mereka tidak berdampak buruk.2.2HARUSKAH KEBIJAKAN MONETER DIBUAT BERDASARKAN ATURAN ATURAN DARIPADA BERDASARKAN KEBEBASAN?

Seperti yang telah kita bahas pada bab 29, bank sentral mengevaluasi kondisi perekonomian dan menjalankan kebijakan moneter. Berdasarkan evaluasi ini dan perkiraan kondisi perekonomian pada masa depan, bank sentral dapat memilih untuk meningkatkan, menurunkan, atau mempertahankan tingkat suku bunga jangka pendek. Bank sentral kemudian dapat menyesuaikan jumlah uang yang beredar untuk mencapai target tingkat suku bunga hingga target tersebut dievaluasi kembali.Di sini, bank sentral beroperasi dengan kebebasan yang hampir penuh mengenai cara menjalankan kebijakan moneter. Undang-undang yang menciptakan bank sentral hanya memberikan petunjuk yang tidak jelas perihal tujuan yang harus dicapai oleh bank sentral. Lebih lanjut, mereka tidak memberitahukan bank sentral bagaimana cara meraih tujuan yang hendak dicapai itu. Beberapa ekonom pun mengkritik struktur institusi ini.

Pro: Kebijakan Moneter Harus Dibuat Berdasarkan Aturan Kebebasan pada saat menjalankan kebijakan moneter memiliki dua masalah. Yang pertama adalah ia tidak membatasi ketidakcakapan dan penyalahgunaan kekuasaan. Ketika pemerintah mengirimkan polisi ke dalam sebuah komunitas untuk menjaga ketertiban masyarakat, mereka diberikan panduan-panduan ketat mengenai cara melaksanakan tugas. Karena polisi memiliki kekuatan yang besar, membiarkan mereka untuk mempergunakan kekuatan itu dengan cara apapun yang mereka inginkan dapat jadi berbahaya. Namun, ketika pemerintah memberikan otoritas kepada bank sentral untuk mempertahankan tatanan perekonomian, pemerintah tidak memberikan panduan. Para pembuat kebijakan moneter diberikan kebebasan sebesar-besarnya.

Sebagai contoh penyalahgunaan kekuatan, para pejabat bank sentral sering kali tergoda untuk menggunakan kebijakan moneter guna memengaruhi hasil pemilihan umum. Andaikan bahwa suara untuk presiden yang berkuasa saat ini didasarkan pada kondisi perekonomian pada saat ia berusaha dipilih kembali. Pejabat bank sentral yang bersimpati kepada politisi yang sedang memegang jabatan mungkin tergoda untuk megejar perluasan kebijakan sesaat sebelum pemilihan untuk merangsang produksi dan penyerapan tenaga kerja, karena ia mengetahui bahwa dampak inflasi baru akan muncul setelah pemilihan umum. Para ekonom menyebut fluktuasi semacam itu sebagai siklus bisnis politik.Masalah kedua yang lebih tidak terlihat adalah bahwa kebijakan moneter berdasarkan kebebasan dapat menyebabkan laju inflasi yang lebih tinggi daripada yang diinginkan. Para pejabat bank sentral mengetahui bahwa tidak ada trade off (pertukaran kepentingan) jangka panjang antara inflasi dengan pengangguran, sering kali menyatakan bahwa tujuan mereka adalah laju inflasi hingga nol. Namun, mereka jarang memperoleh stabilitas harga. Mengapa? Mungkin karena, segera setelah public membentuk dan menangani inflasi, ara pembuat kebijakan menghadapi tradeoff jangka pendek antara inflasi dan pengangguran. Mereka tergoda untuk mengingkari pernyataan tentang stabilitas harga untuk memperoleh tingkat pengangguran yang lebih rendah. Ketidaksesuaian antara pernyataan (apa yang dikatakan oleh para pembuat keb