of 43 /43
KELARUTAN BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Dalam bidang farmasi, untuk memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat atau kombinasi obat, akan membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu yang timbul pada waktu pembuatan larutan farmasetik, dan lebih jauh lagi dapat bertindak sebagai standar atau uji kemurnian. Pengetahuan yang lebih mendetail mengenai kelarutan dan sifat-sifat yang berhubungan dengan itu juga memberikan informasi mengenai struktur obat dan gaya antarmolekul obat. Selain itu, pelepasan zat dari bentuk sediaannya sangat dipengaruhi oleh sifat kimia dan fisika zat tersebut serta formulasinya. Pada prinsipnya obat baru dapat diabsorbsi setelah zat aktifnya telarut dalam cairan usus, sehingga salah satu usaha untuk mempertinggi efek farmakologi dari sediaan adalah dengan menaikkan kelarutan zat aktifnya. WIWIK FADILAH AMIR NURHAWA VITALIA 150 2012 0357

kelarutan wiwik

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kelarutan

Text of kelarutan wiwik

KELARUTAN

KELARUTAN

BAB IPENDAHULUANI.1Latar BelakangDalam bidang farmasi, untuk memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat atau kombinasi obat, akan membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu yang timbul pada waktu pembuatan larutan farmasetik, dan lebih jauh lagi dapat bertindak sebagai standar atau uji kemurnian. Pengetahuan yang lebih mendetail mengenai kelarutan dan sifat-sifat yang berhubungan dengan itu juga memberikan informasi mengenai struktur obat dan gaya antarmolekul obat. Selain itu, pelepasan zat dari bentuk sediaannya sangat dipengaruhi oleh sifat kimia dan fisika zat tersebut serta formulasinya. Pada prinsipnya obat baru dapat diabsorbsi setelah zat aktifnya telarut dalam cairan usus, sehingga salah satu usaha untuk mempertinggi efek farmakologi dari sediaan adalah dengan menaikkan kelarutan zat aktifnya. Kelarutan adalah kemampuan suatu zat telarut melarut pada suatu pelarut. Kelarutan didefinisikan dalam besaran kuantitatif sebagai konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperature tertentu, dan secara kualitatif didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk disperse molekular homogen. Kelarutan suatu senyawa bargantung pada sifat fisika, dan kimia zat terlarut dan pelarut, juga bergantung pada faktor temperatur, tekanan, pH larutan dan untuk jumlah yang kecil, bergantung pada hal terbaginya zat terlarut.

I.2 Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kelarutan dari asam salisilat dan factor-faktor yang mempengaruhi kelarutan suatu zat.

BAB IITINJAUAN PUSTAKAII.1 Dasar TeoriKelarutan adalah fungsi sebuah parameter molekul. Pengionan struktur dan ukuran molekul stereokimia dan struktur elektronik. Semuanya akan mempengaruhi antar aksi pelarut dan terlarut, seperti pada bagian terdahulu, air membentuk ikatan hydrogen dengan ion atau dengan senyawa non ionik, sedangkan polar melalui gugus OH, -NH, atau dengan pasangan elektron tak mengikat pada atom oksigen atau nitrogen. Ion atau molekul akan memperoleh sampel hidrat dan akan memisah dari bongkahan zat padat dan artinya melarut (Thomas Nagrady, 1992)Kelarutan dalam Farmakope Indonesia, diartikan dengan kelarutan pada suhu 200C (FI III) atau 250C (FI IV) dinyatakan dalam satu bagian bobot zatpadat atau 1 bagian volume zat cair dalam bagian volume tertentu pelarut, kecuali dinyatakan lain.Kelarutan yang tanpa angka adalah kelarutan pada suhu kamar (250C) pernyataan bagian dalam kelarutan berarti bahwa 1 gram zat padat atau 1 mL zat cair dalam sejumlah mL pelarut (Anief Moh, 2007).Istilah KelarutanJumlah bagian pelarut yang diperlukan untuk melarutkan 1 bagian zat

Sangat mudah larutKurang dari 1

Mudah larut1 10

Larut10 30

Agak sukar larut30 100

Sukar larut100 1.000

Sangat sukar larut1.000 10.000

Praktis tidak larutLebih dari 10.000

Larutan yang mengandung zat terlarut dengan konsentrasi maksimum sama dengan kelarutan yang disebut larutan jenuh. Pada suatu larutan jenuh, zat terlarut berada dalamkesetimbangan antara fase padat dengan ion-ionnya.MX(s) M+(aq) + X-(aq)Karena reaksi merupakan kesetimbangan, maka dalam suatu larutan jenuh terdapat suatu tetapan kesetimbangan yang disebut tetapan hasil kali kesetimbangan (Ksp). (Anwar Budiman, 2004)Larutan dibagi menjadi tiga yaitu :a) Larutan jenuhYaitu suatu larutan dimana zat terlarut berada dalam kesetimbangan dengan fase padat (zat terlarut).b) Larutan hamper jenuh atau tidak jenuh Yaitu suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi di bawah konsentrasi yang dibutuhkan untuk penjenuhan sempurna pada temperatur tertentu.c) Larutan lewat jenuhYaitu suatu kelarutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi lebih banyak daripada yang seharusnya pada temperatur tertentu, terdapat juga zat terlarut yang tidak terlarut. (Martin, 1991).Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu zat adalah: (Anoniom , 2013)1. pH2. Temperatur3. Jenis pelarut4. Bentuk dan ukuran partikel5. Konstanta dielektrik pelarut6. Adanya zat-zat lain, misalnya surfaktan pembentuk kompleks ion sejenis dan lain-lain.

Dalam istilah farmasi, larutan didefinisikan sebagai sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaanya, tidak dimasukkan kedalam golongan produk lainnya. (Effendi, 2003).Kelarutan suatu bahan dalam suatu pelarut tertentu menunjukkan konsentrasi maksimum larutan yang dapat dibuat dari bahan dan pelarut tersebut. Bila suatu pelarut pada suhu tertentu melarutkan semua zat terlarut sampai batas daya melarutkannya, larutan ini disebut larutan jenuh. (Effendi, 2003).Kelarutan obat sebagian besar disebabkan oleh polaritas pelarut yaitu oleh momen dipolnya. Pelarut polar melarutkan zat terlarut ionic dan zat polar lainnya. Sesuai dengan itu, air bercampur dengan alcohol dalam segala perbandingan dengan melarutkan gula dan senyawa polihidroksi lain (Voight., 1994).II.2Uraian Bahan 1. Asam Salisilat (DITJEN POM, 1979)Nama resmi : Acidum salicylicumNama lain: Asam salisilatRumus molekul : C3H6O3Berat molekul : 138,12Pemerian :Hablur ringan tidak berwarna, atau serbuk berwarna putih, hampir tidak berbau.Kelarutan : larut dalam 550 bagian air dan dalam 4bagian etanol (95 %) p, mudah larut dalam kloroform p dan dalam eter P.Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baikKegunaan: sebagai sampel uji2. Air suling (DITJEN POM, 1979)

Nama resmi : Aqua destilataNama lain : Air sulingRM / BM : H2O / 18,02Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapatKegunaan : Sebagai pelarut3. Tween-80 (DITJEN POM, 1979)Nama resmi : POLYSORBATIUM-80 Nama lain : Polisarbat-80Pemerian : cairan kental seperti minyak, jernih dan kunig,bau asam lemah khas.Kegunaan : Sebagai surfaktan.Kelarutan : : Mudah larut dalam air, dalam etanol (95%) dalam etil asetat P dan dalam methanol P, sukar larut dalam paraffin dan minyak biji.

II.3 Prosedur kerja (Anoniom , 2013) Menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif1. Masukkan 1 g asam salisilat dalam 50 ml air dan kocok selama 1,5 jam dengan stirrer, jika ada endapan yang larut selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah tertentu asam salisilat sampai diperoleh larutan yang jenuh.2. Saring dan tentukan kadar asam salisilat yang terlarut dalam masing-masing larutan.3. Lalu keringkan endapannya. Pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat1. Buatlah 100 ml campuran bahan pelarut yang tertera pada tabel di bawah ini:PelarutAir % (v/v)Alkohol % (v/v)Propilen glilekol % (v/v)

ABCDEFGH60606060606060600510152030354040353025201050

2. Ambil 50 ml campuran pelarut, larutkan asam salisilat sebanyak 1 gke dalam masing-masing campuran pelarut.3. Kocok larutan dengan stirrer selama 1,5 jam. Jika ada endapan yang larut selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah tertentu asam salisilat sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali.4. Saring larutan dan tentukan kadar asam salisilat yang larut.5. Buatlah kurva antara kelarutan asam salisilat dengan harga konstanta dielektrik bahan pelarut campur yang ditambahkan. Pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat1. Buatlah 50 ml larutan tween 80 dengan konsentrasi 0; 0,1; 0,5; 1,0; 5,0; 10,0; 50,0; dan 100 mg/100 ml.2. Tambahkan 1g asam salisilat ke dalam masing-masing larutan.3. Kocok larutan dengan stirrer selama 1,5 jam. Jika ada endapan yang larut laryt selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah tertentu asam salisilat sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali.4. Saring larutan dan tentukan kadar asam salisilat yang larut.5. Buatlah kurva antara kelarutan asam salisilat dengan konsentrasi tween 80 yang digunakan.6. Tentukan konsentrasi misel kritik (KMK) tween 80. Pengaruh pH terhadap kelarutan suatu zat1. Buat 100 ml larutan dapar fosfat dengan pH 4, 5, 6,7, 8.2. Ambil 25 ml masing-masing larutan lalu tambahkan 0,5 g natrium diklofenak ke dalamnya.3. Kocok larutan dengan dengan stirrer selama1,5 jam. Jika ada endapan yang larut selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah tertentu asam salisilat sampai diperoleh larutan yang jenuh.4. Saring larutan dan tentukan kadar natrium diklofenat yang terlarut dalam masing-masing larutan dapar dengan cara spektrofotometri UV pada panjang gelombang 274-278 nm. Bila konsentrasi larutan terlalu pekat encerkan dulu dengan larutan dapar yang sesuai.5. Buatlah kurva hubungan antara konsentrasi zat yang diperoleh dengan pH larutan.

BAB IIIMETODE KERJAIII.1Alat dan BahanIII.1.1 AlatAlat yang digunakan dalam percobaan ini adalah gelas kimia 50 ml, gelas kimia 100 ml, gelas erlenmeyer 25 ml, gelas ukur 50 ml, magnetic stirrer, pipet volume 10 ml, buret 50 ml, corong gelas, kertas grafik, sendok tanduk, botol semprot, pipet pendek, pipet panjang.III.1.2BahanBahan yang digunakan dalam percobaan adalah aquadest, dapar fosfat pH 4, dapar fosfat pH 5, dapar fosfat pH 6, Dapar fosfat pH 7, dapar fosfat pH 8, tween 80.. III.2.1Cara Kerja (Anonim, 2013) Menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif1. Dimasukkan 1 g asam salisilat dalam 50 ml air dan kocok selama 1,5 jam dengan stirrer, jika ada endapan yang larut selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah tertentu asam salisilat sampai diperoleh larutan yang jenuh.2. Disaring dan tentukan kadar asam salisilat yang terlarut dalam masing-masing larutan.3. Lalu keringkan endapannya.

Pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat1. Buatlah 100 ml campuran bahan pelarut yang tertera pada tabel di bawah ini:PelarutAir % (v/v)Alkohol % (v/v)Propilen glilekol % (v/v)

ABCDEFGH60606060606060600510152030354040353025201050

2. Diambil 50 ml campuran pelarut, larutkan asam salisilat sebanyak 1 gke dalam masing-masing campuran pelarut.3. Dikocok larutan dengan stirrer selama 1,5 jam. Jika ada endapan yang larut selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah tertentu asam salisilat sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali.4. Disaring larutan dan tentukan kadar asam salisilat yang larut.5. Dibuat kurva antara kelarutan asam salisilat dengan harga konstanta dielektrik bahan pelarut campur yang ditambahkan. Pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat1. Dibuat 50 ml larutan tween 80 dengan konsentrasi 0; 0,1; 0,5; 1,0; 5,0; 10,0; 50,0; dan 100 mg/100 ml.2. Ditambahkan 1g asam salisilat ke dalam masing-masing larutan.3. Dikocok larutan dengan stirrer selama 1,5 jam. Jika ada endapan yang larut laryt selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah tertentu asam salisilat sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali.4. Disaring larutan dan tentukan kadar asam salisilat yang larut.5. Buatlah kurva antara kelarutan asam salisilat dengan konsentrasi tween 80 yang digunakan.6. Tentukan konsentrasi misel kritik (KMK) tween 80. Pengaruh pH terhadap kelarutan suatu zat1. Dibuat 100 ml larutan dapar fosfat dengan pH 4, 5, 6,7, 8.2. Diambil 25 ml masing-masing larutan lalu tambahkan 0,5 g natrium diklofenak ke dalamnya.3. Dikocok larutan dengan dengan stirrer selama1,5 jam. Jika ada endapan yang larut selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah tertentu asam salisilat sampai diperoleh larutan yang jenuh.4. Disaring larutan dan tentukan kadar natrium diklofenat yang terlarut dalam masing-masing larutan dapar dengan cara spektrofotometri UV pada panjang gelombang 274-278 nm. Bila konsentrasi larutan terlalu pekat encerkan dulu dengan larutan dapar yang sesuai.5. Dibuat kurva hubungan antara konsentrasi zat yang diperoleh dengan pH larutan.

BAB IVHASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Data perhitungan a. Menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif

Berat sampelBerat kertas saringSampel dan kertas saringResidu sampelSampel yang larut

1 gr0,82 gr1,54 gr0,720,28 gr

b. Pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat

pelarutBerat sampelBerat kertas saringSampel dan kertas saringResidu sampelSampel yang larut

A1,5 gr0,81 gr 1,6512 gr0,8412 gr0,6588 gr

B2 gr0,81 gr1,41 gr0,6 gr1,4 gr

C1,5 gr0,80 gr0,9646 gr0,1646 gr1,3354 gr

D2 gr0,81 gr0,9620 gr0,152 gr1,848 gr

E2 gr0,81 gr0,9583 gr0,1483 gr1,8517 gr

F2 gr1 gr2,06 gr1,06 gr0,94 gr

G2 gr1 gr2,05 gr1,05 gr0,95 gr

H2 gr1 gr1,79 gr0,79 gr1,21 gr

c. Pengaruh penambahan surfaktan terhadap suatu zat

% tweenBerat sampelBerat kertas saringSampel dan kertas saringResidu sampelSampel yang larut

Tween 1 %1 gr1,05 gr3,17 gr2,12 gr0,38 gr

Tween 2 %1 gr1,05 gr3,19 gr2,14 gr0,36 gr

Tween 3 %1 gr1,05 gr2,86 gr1,81 gr0,69

Tween 4 %1,5 gr0,4340 gr0,8882 gr0,45421,0458

Tween 5 %1 gr1,29 gr2,19 gr0,9 gr1,1 gr

Tween 6 %1 gr1,29 gr2,59 gr1,3 gr1,2 gr

Tween 7 %1 gr1,35 gr2,78 gr1,43 gr1,07 gr

Tween 8 %1 gr1,08 gr2,64 gr1,56 gr0,44 gr

Tween 9 %1 gr1,03 gr2,51 gr1,48 gr0,52 gr

Tween 10 %2,5 gr0,43 gr0,60 gr0,71 gr2,5 gr

d. Pengaruh pH terhadap kelarutan suatu zat

pH larutanBerat sampelBerat kertas saringSampel dan kertas saringResidu sampelSampel yang larut

51 gr0,42 gr 1,04 gr0,62 gr0,38 gr

61,5 gr0,40 gr1,35 gr0,95 gr0,55 gr

72 gr0,36 gr1,63 gr1,276 gr0,73 gr

81,5 gr0,33 gr1,07 gr0,74 gr0,76 gr

Perhitungan:Ket: residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saring Sampel yang larut = berat sampel- residu sampela. menentukan kelarutan secara kuantitatifResidu sampel = 1,54 - 0,82= 0,72 gSampel yang larut = 1 0,72 = 0,28 gKelarutan = = 178,57 (sukar larut)b. pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan suatu zat Pelarut A Residu sampel = 1,6512 - 0,81 = 0,8412 g Sampel larut = 1,5 0,8412 = 0,6588 g Kelarutan = = 151,79 (sukar larut ) Pelarut B Residu sampel = 1,41 - 0,81 = 0,6 g Sampel larut = 2 0,6 = 1,4 g Kelarutan = = 71,42 ( agak sukar larut )

Pelarut C Residu sampel = 10,9646 - 0,80 = 0,1646 g Sampel larut = 1,5 0,1646 = 1,3354 g Kelarutan = = 74,88( agak sukar larut ) Pelarut D Residu sampel = 10,9620 - 0,81 = 0,152 g Sampel larut = 2 0,152 = 1,848 g Kelarutan = = 54,11( agak sukar larut ) Pelarut E Residu sampel = 0,9583 - 0,81 = 1,483 g Sampel larut = 2 0,1483 = 1, 8517 g Kelarutan = = 54,00( agak sukar larut ) Pelarut F Residu sampel = 2,06 - 1 = 1,06 g Sampel larut = 2 1,06 = 0,94 g Kelarutan = = 106,38 (sukar larut ) Pelarut G Residu sampel = 2,05 - 1 = 1,05 g

Sampel larut = 2 1,05 = 0,95 g Kelarutan = = 105,26 (sukar larut ) Pelarut H Residu sampel = 1,79 - 1 = 0,79 g Sampel larut = 2 0,79 = 1,21 g Kelarutan = = 82,64 ( agak sukar larut ) Perhitungan pelarut campur antara konstanta dielektrik dengan zat yang terlarutDiketahui: konstanta dielektrik alcohol : 23,3 konstanta dielektrik propolen glikol: 32,0 konstanta dielektrik air : 80,4Penyelesaian :a. untuk pelarut A air 60 % = x 80,4= 48,24 alcohol 0 % = 0= 0 propilenglikol 40% = x 32,0= 12,8+Jumlah= 61b. untuk pelarut B air 60 % = x 80,4= 48,24 alcohol 5 % = x 24,3= 1,215 propilenglikol 35% = x 32,0= 11,2+Jumlah= 60,655c. untuk pelarut C air 60 % = x 80,4= 48,24 alcohol10 % = x 24,3= 2,43 propilenglikol 30% = x 32,0= 9,6+Jumlah= 60,27

d. untuk pelarut D air 60 % = x 80,4= 48,24 alcohol 15 % = x 24,3= 3,645 propilenglikol 25 % = x 32,0= 8 +Jumlah= 59,885e. untuk pelarut E air 60 % = x 80,4= 48,24 alcohol 20 % = x 24,3= 4,86 propilenglikol 20 % = x 32,0= 6,4 +Jumlah= 59,5

f. untuk pelarut F air 60 % = x 80,4= 48,24 alcohol 30 % = x 24,3= 7,29 propilenglikol 10% = x 32,0= 3,2+Jumlah= 58,73

g. untuk pelarut G air 60 % = x 80,4= 48,24 alkohol 35 % = x 24,3= 8,505 propilenglikol 5% = x 32,0= 1,6+Jumlah= 58,345

h. untuk pelarut H air 60 % = x 80,4= 48,24 alkohol 40 % = x 24,3= 9,72 propilenglikol 0 % = x 32,0= 0+Jumlah= 57,96

c. Pengaruh surfaktan terhadap kelarutan suatu zat Tween 1 %Residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saringResidu sampel = 3,17 g 1,0 g = 2,12 gSampel yang larut = berat sampel residu sampelSampel yang larut = 2,5 g 2,12 g = 0,38 gKelarutan = 100 ml 0,38 gr = 263,15 ml/gr ( sukar larut). Tween 2 %Residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saringResidu sampel = 3,19 g 1,05 g = 2,14 gSampel yang larut = berat sampel residu sampelSampel yang larut = 2,5 g 2,14 g = 0,36g ( sangat mudah larut)Kelarutan = 100 ml 0,36 gr = 277,77 ml/gr (sukar larut). Tween 3 %Residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saringResidu sampel = 2,86 g 1,05 g = 1,81 gSampel yang larut = berat sampel residu sampelSampel yang larut = 2,5 g 1,81 g = 0,69 g Kelarutan = 100 ml 0,69 gr = 144,92 ml/gr (sukar larut). Tween 4 %Residu sampel = 0,88882 0,4340= 0,4542 gSampel yang larut = 1,5 0,4542 = 1,0458 gKelarutan = 100 ml 1,0458 gr = 95,62 ml/gr (agak sukar larut). Tween 5 %sResidu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saringResidu sampel = 2,19 g 1,29 g = 0,9 gSampel yang larut = berat sampel residu sampelSampel yang larut = 2 g 0,9 g = 1,1 gKelarutan = 100 ml 1,1 gr = 90,90 ml/gr ( agak sukar larut). Tween 6 %Residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saringResidu sampel = 0,607 0,434 = 0,713 gSampel yang larut = berat sampel residu sampelSampel yang larut = 2,5 0,713 = 2,327 gKelarutan = 100 ml 2,327 gr = 42,973 ml/gr ( agak sukar larut). Tween 7 %Residu sampel = 2,78 gr 1,35 gr= 1,43 grSampel yang larut = 2,5 gr 1,43 gr=1,07Kelarutan = 100 ml 1,07 gr = 69,93 ml/gr (agak sukar larut) Tween 8 %Residu sampel = 2,64 gr 1,08 gr= 1,56 grSampel yang larut = 2 gr 1,56 gr= 0,44 grKelarutan = 100 ml 0,44 gr = 227,27 ml/gr Tween 9 %Residu sampel = 2,51 gr 1,03 gr= 1,48 grSampel yang larut = 2 gr 1,48 gr= 052 gr Kelarutan = 100 ml 0,52 gr = 192,30 ml/gr Twen 10 %Residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saringResidu sampel = 0,607 0,434 = 0,713 gSampel yang larut = berat sampel residu sampelSampel yang larut = 2,5 0,713 = 2,327 gKelarutan = 100 ml 2,327 gr = 42,97 ml/gr ( agak sukar larut).

d. Pengaruh pH terhadap kelarutan suatu zat pH 5 Residu sampel = 1,04 - 0,42= 0,62 g Sampel larut = 1 0,62 = 0,38 g Kelarutan = = 131,57 ( sukar larut ) pH 6 Residu sampel = 1,35 - 0,40= 0,95 g Sampel larut = 1,5 0,95 = 0,55 g Kelarutan = = 90,90 ( agak sukar larut ) pH 7 Residu sampel= 1,63 - 0,36= 1,27 g Sampel larut = 2 1,27 = 0,73 g Kelarutan = = 68,49 ( agak sukar larut ) pH 8 Residu sampel = 1,07 - 0,33= 0,74 g Sampel larut = 1,5 0,74 = 0,76 g Kelarutan = = 65,78 ( agak sukar larut )

e. Kurva a) Pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat

b) Pengaruh pH terhadap kelarutan suatu zat

c).

IV.2 PembahasanKelarutan merupakan faktor yang sangat penting dalam suatu proses formulasi sediaan obat. Pada sediaan liquida, data kelarutan juga sangat diperlukan karena sediaan tersebut memerlukan suatu pembawa cair.. pada sediaan tablet data kelarutan sangat penting untuk memperkirakan kecepatan absorpsi obat dalam saluran cerna. Dan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan ketersediaan hayati suatu obat (zat aktif) didalam tubuh khususnya Pengaruh Pelarut Campuran (cosolven). Terhadap Kelarutan Suatu Zat Cosolvensi adalah suatu peristiwa dimana suatu zat lebih mudah larut didalam pelarut gabungan dibandingkan dengan pelarut tunggal. Hal tersebut dikarenakan pengaruh nilai konstanta dieletrik. Konstanta dielektrik pelarut harus mendekati nilai konstanta dielektrik zat, agar zat tersebut mudah melarut. Sehingga digunakan pelarut campuran agar didapat nilai konstanta dielektrik pelarut yang mendekati nilai konstanta dielektrik zat. Pada praktikum kali ini digunakan pelarut campuran air, alkohol dan propilen glikol dengan perbandingan yang berbeda-beda.Pengaruh Penambahan Surfaktan Terhadap Kelarutan Suatu ZatSurfaktan adalah zat aktif permukaan yang diserap pada permukaan untuk menurunkan tegangan permukaan zat sampai dengan titik KMK. Titik KMK adalah titik dimana penambahan surfaktan tidak lagi mempengaruhi tegangan permukaan. Setelah dilalui titik KMK maka penambahan surfaktan berpengaruh terhadap solubilisasi miselar dimana pada keadaan ini akan terjadi pelarutan spontan zat melalui interaksi misel dan surfaktan sehingga terbentuk suatu larutan yang stabil secara termodinamika. Pada percobaan kali ini, digunakan surfaktan tween 8o dengan konsntrasi berbeda-beda. Pengaruh pH terhadap Kelarutan Suatu Zat. Salah satu faktor yang mempengaruhi kelarutan adalah pH. Hal ini karena reaksi asam basa yang terjadi dari asam salisilat dan NaOH dan akan membentuk garam. Sehingga asam salisilat dapat terionisasi dan menjadi mudah larut. Asam salisilat merupakan zat yang bersifat asam, sehingga kelarutannya akan meningkat seiring dengan peningkatan pH. KESIMPULAN Kecepatan pengadukan suatu larutan, mempengaruhi tingkat kelarutan suatu zat. Semakin tinggi proses pengadukan, semakin tinggi tigkat kelarutannya. Penambahan ion sejenis menurukan tingkat kelarutan , sedangkan penambahan surfaktan meningkatkan kelarutan suatu zat.Semakin tinggi nilai konstanta dielektrik, maka kelarutan zat semakin meningkat. Konsentrasi asam salisilat yang paling tinggi, didapat dengan gabungan pelarut air: Semakin tinggi konsentrasi surfaktan, maka kelarutan semakin meningkat karena terjadi proses solubilisasi miselar.Titik KMK terjadi pada saat konsentrasi surfaktan 2 g/100 ml.Kelarutan asam salisilat meningkat seiring dengan peningkatan pH.

BAB VPENUTUPV.1 Kesimpulan Semakin lama pengocokan maka kelarutan suatu zat semakin besar. Semakin tinggi konstanta dielektrik suatu zat maka semakin tinggi pula kelarutan suatu zat. Semakin besar konsentrasi surfaktan yang ditambahkan maka semakin tinggi pula kelarutan suatu zat. Semakin tinggi pH suatu zat maka semakin cepat pula kelarutan suatu zat.

V.2 SaranAdapun saran pada percobaan ini yaitu, sebaiknya para praktikan berhati-hati pada proses penimbangan dapat mempengaruhi keakuratan hasil yang diperoleh.

DAFTAR PUSTAKA

Arief. Moh,2007. Farmasetika , UGM Press. JakartaAnonim, 2013, Penuntun praktikum farmasi fisika , UMI. Makassar Direktorat jendral POM. 1979. Farmakope Indonesia edisi ke III. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Leon, 1989. teori dan praktek farmasi industry, UI Press. Jakarta Martin, A. 1990. Farmasi Fisika jilid II. Jakarta : Universitas Indonesia Press.Moechtar. 1990. Farmasi Fisika. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada Press.Parrot, L, E. 1970. Pharmaceutical Technologi. Mineapolish : Burgess Publishing Company

Voigt, R. 1994. Buku Pelajaran teknologi Farmasi edisi V Cetakan I. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press

Budiman. Anwar, 2004, Bimbingan Pemantapan Kimia untuk SMA/MA, Yrama Widya, BandungNogrady. Thomas, 1992, Kimia Medisinal, University Press, Tokyo

WIWIK FADILAH AMIRNURHAWA VITALIA150 2012 0357