18
Kejang Otot Betis Saat Berenang Winaldi Sandimusti 102012207 Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jalan Arjuna Utara No. 6 – Jakarta Barat 11510 [email protected] Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Untuk dapat mengerakan dan mempertahankan bentuk tubuh pada posisi tertentu, makhluk hidup khususnya manusia memiliki struktur anatomi pada sistem muskuloskeletal yang diantaranya memiliki fungsi sebagai alat gerak yaitu tulang (Skeletal), selain sebagai alat gerak pasif tulang juga memiliki fungsi sebagai penyanggah dan tempat melekatnya organ-organ lain yang salah satunya adalah otot. Otot bertugas sebagai alat gerak aktif, mekanisme kerja otot ialah berkontraksi (memendek) dan berelaksasi (memanjang/kembali pada posisi semula). Dalam menjalani tugasnya otot, tulang dan sendi sering mengalami ceredera baik yang timbul akibat pergerakan tiba-tiba sebelum warming up maupun akibat benturan yang timbul dari luar tubuh sebelum mengulas lebih jauh tentang cedera pada sistem muskuloskeletal, kita terlebih dahulu harus mengenal struktur dan fungsi sistem muskuloskeletal dalam keadaan normal. Selain itu MUSKULOSKELETAL-1 1

Kejang Otot Betis Saat Berenang

Embed Size (px)

DESCRIPTION

sssssssssssssssssssssssssssssffffffffffffffffffffffffffs

Citation preview

Page 1: Kejang Otot Betis Saat Berenang

Kejang Otot Betis Saat Berenang

Winaldi Sandimusti

102012207

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jalan Arjuna Utara No. 6 – Jakarta Barat 11510

[email protected]

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Untuk dapat mengerakan dan mempertahankan bentuk tubuh pada posisi tertentu, makhluk hidup khususnya manusia memiliki struktur anatomi pada sistem muskuloskeletal yang diantaranya memiliki fungsi sebagai alat gerak yaitu tulang (Skeletal), selain sebagai alat gerak pasif tulang juga memiliki fungsi sebagai penyanggah dan tempat melekatnya organ-organ lain yang salah satunya adalah otot. Otot bertugas sebagai alat gerak aktif, mekanisme kerja otot ialah berkontraksi (memendek) dan berelaksasi (memanjang/kembali pada posisi semula).

Dalam menjalani tugasnya otot, tulang dan sendi sering mengalami ceredera baik yang timbul akibat pergerakan tiba-tiba sebelum warming up maupun akibat benturan yang timbul dari luar tubuh sebelum mengulas lebih jauh tentang cedera pada sistem muskuloskeletal, kita terlebih dahulu harus mengenal struktur dan fungsi sistem muskuloskeletal dalam keadaan normal. Selain itu juga terdapat sendi yang berfungsi untuk menggabungkan 2 buah tulang atau tulang rawan bahkan lebih yang bersifat elastis, persendian (Articulatio) antar tulang terdapat cairan sinofial yang memberikan pelumasan pasa pergerakan antar tulang yang memperkecil terjadinya gesekan saat bergerak.

Pada setiap pertemuan anatra 2 buah tulang atau tulang rawan bahkan lebih terdapat persendian, lalu keduanya di bungkus oleh beberapa otot yang membuatnya memungkinkan untuk dapat bergerak sekaligus melindungi dari benturan dan gesekan dari luar tubuh. Benturan dan gesekan yang cukup serius dapat menurunkan fungsinya hingga masa pemulihan selesai.

1.2 Rumusan Masalah

Anak laki-laki 15 tahun mengalami kejang pada otot betis kanan ketika berenang lalu dilakukan tindakan dorsofleksi.

MUSKULOSKELETAL-1 1

Page 2: Kejang Otot Betis Saat Berenang

Pembahasan

2.1 Struktur Tulang dan Otot Pada Regio Curis

Manusia bisa bergerak karena ada rangka dan otot. Rangka tersebut tidak dapat bergerak sendiri, melainkan dibantu oleh otot. Dengan adanya kerja sama antara rangka dan otot, manusia dapat melompat, berjalan, bergoyang, berlari, dan sebagainya. Sistem muskuloskeletal merupakan suatu system yang dibentuk oleh tulang, sendi dan otot.

2.1.1 Makro

A. Otot

Semua sel-sel otot mempunyai kekhususan yaitu untuk berkontraksi. Terdapat lebih dari 600 buah otot pada tubuh manusia. Sebagian besar otot-otot tersebut dilekatkan pada tulang-tulang oleh tendon.1,2

Ciri-ciri sistem otot:

1. Kontrakstilitas: Serabut otot berkontraksi dan menegang, yang dapat atau tidak melibatkan pemendekan otot.

2. Eksitabilitas: Serabut otot akan merespons dengan kuat jika distimulasi oleh impuls saraf.

3. Ekstensibilitas: Serabut otot memiliki kemampuan untuk menegang melebihi panjang otot saat rileks.

4. Elastisitas: Serabut otot dapat kembali ke ukuran semula setelah berkontraksi atau meregang.1,2

Jenis-jenis otot:

1. Otot rangka: merupakan otot lurik, volunter, dan melekat pada rangka.

2. Otot Polos: merupakan otot tidak berlurik dan involunter. Jenis otot ini dapat ditemukan pada dinding berongga seperti kandung kemih, dan uterus. Serta pada dinding tuba, seperti pada sistem respirasi, pencernaan dan sistem sirkulasi darah.

3. Otot Jantung: Disebut juga otot serat lintang involunter ,otot ini hanya terdapat pada jantung. Bekerja terus menerus dan bersifat tidak cepat lelah.2

MUSKULOSKELETAL-1 2

Page 3: Kejang Otot Betis Saat Berenang

Gambar 1. (Dari kiri ke kanan) Otot Lurik/ Otot Rangka, Otot Polos, dan Otot Jantung.1

Sifat kerja otot:

1. Agonis: bertanggung jawab terhadap suatu gerak dan merupakan mayoritas.

2. Antagonis: mengembalikan gerakan atau menimbulkan gerakan yang berkebalikan.

3. Sinergis: bersifat membantu agonis dan antagonis utama.

B. Tulang/ Rangka

Skeletal disebut juga sistem rangka, yang tersusun atas tulang-tulang. Tubuhkita memiliki 206 tulang yang membentuk rangka. Bagian terpenting adalah tulang belakang. Klasifikasi tulang berdasarkan Bentuknya :

1. Tulang panjang, contoh: humerus, femur, radius, ulna.

2. Tulang pendek, contoh: tulang pergelangan tangandan pergelangan kaki.

3. Tulang pipih, contoh: tulang tengkorak kepala, tulangrusuk dan sternum.

4. Tulang tidak beraturan, contoh: vertebra, tulang muka, pelvis.1

Regio Curis

Otot tungkai bawah hanya membungkus tibia dan fibula yang merupakan otot somatik yang merupakan otot lurik. Otot tersebut digerakkan menurut kehendak kita (otot volunter). Secara garis besar otot tungkai bawah dibagi atas musculi flexor, musculi extensor, dan musculi peronaei.1

Musculi flexor superfisialis1. Musculus Gastrocnemius : otot betis superfisial berkepala dua, terletak antara bagian

bawah paha dan tumit, menyilang pada dua persendian, dan membentuk tonjolan besar pada betis atas. Saraf yang ada adalah saraf tibial. Fungsinya adalah plantar fleksi, fleksi tungkai pada lutut. Otot ini juga penting untuk daya penggerak.

MUSKULOSKELETAL-1 3

Page 4: Kejang Otot Betis Saat Berenang

2. Musculus Soleus : otot betis yang besar dan lebar terletak di bawah gastrocnemius, antara tungkai superior dan tumit, dan bersilangan hanya pada persendian di pergelangan kaki. Fungsinya adalah plantar fleksi dan membentuk postur.

3. Musculus Plantaris : otot betis dengan badan otot kecil di dekat dua kepala gastroknemius, tendon ramping panjang yang merentang sampai tumit. Fungsinya adalah membantu gastroknemius dalam plantar fleksi dan fleksi tungkai.

Musculi flexor profundus

1. Musculus popliteus : otot triangular tipis dan pipih pada belakang lutut, terletak lebih ke dalam dari kepala gastroknemius. Fungsinya adalah rotasi tibia ke medial pada femur dengan kaki tidak menginjak ke tanah, dan rotasi femur ke lateral dengan kedua kaki tegak.

2. Musculus Tibialis posterior : otot panjang lebih di dalam dari soleus, terletak di sepanjang permukaan lateral tibia di belakang tibialis anterior. Fungsinya adalah inversi kaki dan membantu plantar fleksi pada kaki.

3. Musculus Fleksor hallucis longus : otot lateral dalam di sepanjang fibula bawah, tendon melintang di belakang pergelangan kaki, berkelok-kelok di balik malleolus medial dan memanjang ke dasar telapak kaki sampai ujung ibu jari kaki. Fungsinya adalah fleksi ibu jari kaki, plantar fleksi kaki, dan berperan aktif dalam gerakan berjinjit.

4. Musculus Fleksor digitorium longus : otot medial tipis di sepanjang tibia, tendon insersi membentang di balik malleolus medial, melewati telapak kaki secara melintang, dan terbagi menjadi empat bagian yang masing-masing ke setiap sisi lateral dari empat jari kaki. Fungsinya adalah fleksi keempat jari kaki lateral dan plantar fleksi pada kaki.

Musculi ekstensor

1. Musculus tibialis anterior : otot superfisial tebal dan besar yang terletak di sisi lateral dari tepi superfisial tibia. Saraf yang ada adalah saraf peroneal dalam. Fungsinya adalah dorsifleksi kaki dan inversi kaki.

2. Musculus ekstensor hallucis longus : otot pada sisi anterior tungkai di antara bagian tengah tungkai dan ibu jari kaki. Fungsinya adalah untuk ekstensi ibu jari kaki, dorsifleksi kaki dan membantu inversi kaki.

3. Musculus ekstensor digitorium longus : otot pada bagian anterior lateral tungkai, terletak di sisi lateral tibialis anterior. Saraf yang ada sama dengan saraf yang ada pada ekstensor ibu jari kaki longus. Fungsinya adalah ekstensi lateral empat jari kaki dan dorsifleksi kaki.

MUSKULOSKELETAL-1 4

Page 5: Kejang Otot Betis Saat Berenang

Musculi peronaei

1. Musculus Peroneus longus : otot superfisial pada tungkai lateral antara tungkai superior dan kaki. Saraf yang ada adalah saraf peroneal superfisial. Fungsinya adalah eversi dan plantar fleksi kaki.

2. Musculus Peroneus brevis : otot pendek pada bagian inferior tungkai lateral yang terletak lebih dalam dari peroneus longus, tendon insersinya melapisi malleolus lateral menuju kaki. Fungsinya adalah eversi dan plantar fleksi kaki.

3. Musculus Peroneus tertius : otot kecil terletak antara sisi inferior fibula lateral dan kaki, yaitu bagian lateral ekstensor ibu jari kaki longus. Fungsinya adalah eversi dan plantar fleksi kaki.1,2

Gambar 2. Otot-otot Betis, Lapis Superficial (kiri) dan Profunda (kanan).2

Triseps surae (betis) yang merupakan musculi flexor superfisialis terdiri dari tiga otot yang dibentuk dari dua kepala gastrocnemius dan soleus.1

Serta tulang-tulang pada tungkai bawah terdiri dari:

1. Tibia, terbelah menjadi dua bagian yang disebut condylus medialis tibiae dan condylus lateralis tibiae. Keduanya mempunyai dataran sendi yang disebut facies articularis superior condylus medialis dan lateralis tibiae, tempat bersendi dengan facies articularis inferior condylus medialis dan lateralis femur.

2. Fibula, merupakan tulang panjang yang letaknya di sebelah lateral dan sejajar dengan tibia.1

MUSKULOSKELETAL-1 5

Page 6: Kejang Otot Betis Saat Berenang

2.1.2 Mikro

A. Otot Rangka

Otot rangka di susun oleh bundel-bundel paralel yang terdiri dari serabut-serabut beerbentuk silinder panjang, disebut dengan serabut otot dengan diameternya berkisar antara 10 – 100 µm dan panjang hingga 75cm.

• Setiap serabut otot sesungguhnya adalah sebuah sel yangmempunyai banyak nukleus ditepinya.

• Cytoplasma dari sel otot disebut sarcoplasma yang penuh dengan bermacam-macam organella, kebanyakan berbentuk silinder yang panjang yang disebut dengan myofibril.

• Myofibril disusun oleh myofilament-myofilament yang berbeda-bedaukurannya :

yang kasar terdiri dari protein myosin,

yang halus terdiri dari protein aktin.3

Gambaran mencolok yang dimiliki oleh otot rangka adalah memiliki banyak inti sel dan berada di pinggir serat otot. Banyaknya inti sel ini di dalam otot lurik ini disebabkan karena penggabungan mioblas (prekursor sel otot) selama perkembangan embrionik. Selain multinukleus, fitur lain adalah banyaknya mitokondria karena dibutuhkannya energi yang tinggi.4

Setiap serabut otot tersusun dari subunit-subunit, disebut miofibril. Miofibril yang membentuk 80% volume serat otot,adalah struktur silindris intrasel dengan diameter 1 µm dan terbentang di seluruh panjang serat otot. Setiap miofibril ini juga tersusun atas filamen tebal dan tipis yang tersusun rapi dan teratur. Filamentebal yang berdiameter 12 – 18 nm dan panjang 1,6 µm, terdiri dari protein miosin. Filamen tipis yang berdiameter 5 – 8 nm dan panjang 1 µm, terdiri dari tiga protein : aktin, tropomiosin, dan troponin.3

Di dalam sarkoplasma, penempatan filamen aktin dan miosin sangat teratur, membentuk pola garis-garis tegak lurus yang sangat tampak. Dengan mikroskop cahaya, maka akan terlihat pita I terang dan pita A gelap pada setiap serabut otot. Karena terlihat mempunyai garis melintang berwarna gelap dan terang yang tersusun teratur, maka otot lurik ini disebut otot seran lintang. Dengan menggunakan mikroskop elektron, akan didapatkan gambar beresolusi tinggi yang menunjukkan setiap pita I terang dibagi dua dengan pita Z yang tebal. Di antara kedua garis Z yang berdampingan ditemukan unit kontraktil otot yang terkecil, yaitu sakromer. Sakromer adalah unit fungsional otot rangka.Unit fungsional setiap organ adalah komponen terkecil yang dapat melakukan semua fungsi organ tersebut. Karena itu, sarkomer adalah komponen terkecil serat otot yang dapat berkontraksi.3,4

MUSKULOSKELETAL-1 6

Page 7: Kejang Otot Betis Saat Berenang

Gambar 3. Struktur Mikroskopik dan Protein Otot Rangka.3

Otot rangka dikelilingi oleh lapisan jaringan penyambung jarang yang tebal yaitu epimisium. Dari epimisium, terdapat lapisan jaringan penyambung jarang yang sedikit kurang tebal, yaitu perimisium, memanjang ke dalam dan membagi otot interior menjadi berkas yang lebih kecil disebut fasikula; setiap fasikula dikelilingi oleh perimisium.Lapisan tipis serabut jaringan penyambung retikular disebut edomisium, tertanam pada setiap serabut otot. Berada di sarung jaringan penyambung yang berbeda terdapat pembuluh darah, saraf, dan limfa.3

B. Tulang

 Berdasarkan perbandingan jumlah matriks dan jumlah rongga (spaces), tulang dibedakan menjadi tulang spongiosa dan tulang kompakta.

1. Tulang spongiosa terdiri dari trabekula, yaitu bentukan tulang yang langsing, tidak teratur, bercabang, dan saling berhungan membentuk anyaman. Celah-celah diantara anyaman ini ditempati oleh sumsum tulang.

2. Tulang kompakta jumlah dan ukuran rongga lebil kecil dari tulang spongiosa, serta jumlah bahan padat lebih banyak.4

MUSKULOSKELETAL-1 7

Page 8: Kejang Otot Betis Saat Berenang

Matriks tulang bersifat asidofilik, tersusun berlapis-lapis, tebalnya 5-7 mikron. Matriks tulang terdiri dari 35% komponen organik yaitu kolagen dan proteoglikan, serta 65% material inorganik (mineral). Kolagen pada tulang merupakan kolagen jaringan ikat yang mirip kolagen tipe 1 jaringan ikat longgar berfungsi dalam fleksibilitas tulang. Mineral yang terdapat pada tulang adalah kristal kalsium fosfat (hidroksiapatit) [Ca10(PO4)6(OH)2].3

Sel-sel tulang:

1. Osteoprogenitor: berbentuk gelendong, inti pucat, memanjang, dan sitoplasma jarang. Sel ini merupakan stem sel. Sel osteoprogenitor terdapat di dalam periosteum, endosteum, dan saluran vaskular tulang kompakta.

2. Osteoblas: bentuk sel, dari koboid hingga piramidal atau seringkali berupa lembaran utuh menyerupai epitel inti besar, memiliki satu nukleolus retikulum sarkoplasma luas banyak ribosom sitoplasma sangat basofilik dikarenakan adanya nukleoprotein (untuk sintesis material organik matriks). Osteoblas ditemukan pada permukaan tulang.

3. Osteosit: merupakan osteoblas yang terpendam dalam matriks sitoplasmanya basofil ringan, intinya terpulas gelap terdapat gap junction atau maculae communicantes yaitu tempat bertemunya tonjolan sitoplasma dalam kanalikuli. Tempat (suatu ruang) dimana osteosit berada disebut lacuna.

4. Osteoklas: berfungsi untuk resorpsi. Sel raksasa, inti banyak sitoplasmanya mengandung vakuol-vakuol, terdapat dekat permukaan tulang, seringkali dalam lekukan dangkal yang dikenal sebagai lacuna howship. Osteoklas mengeluarkan kolagenase dan enzim proteolitik lain yang menyebabkan matriks tulang melepaskan substansi dasar yang mengapur.3,4

2.2 Mekanisme Kontraksi Otot

Berikut adalah urutan tahap-tahap mulai dan berakhirnya kontraksi otot somatik.

1. Suatu potensial aksi berjalan di sepanjang saraf motorik sampai ke ujung serat otot.

2. Pada setiap ujung, saraf menyekresi substansi neurotransmitter, yaitu asetilkolin, dalam jumlah yang sedikit.

3. Asetilkolin bekerja pada area setempat pada membran serat otot untuk membuka banyak saluran bergerbang asetilkolin melalui molekul-molekul protein dalam membran serat otot.

4. Terbukanya saluran asetilkolin memungkinkan sejumlah besar ion Na+ untuk mengalir ke bagian dalam membran serat otot pada titik terminal saraf. Peristiwa ini akan menimbulkan suatu potensial aksi dalam serat otot.

MUSKULOSKELETAL-1 8

Page 9: Kejang Otot Betis Saat Berenang

5. Potensial aksi akan berjalan di sepanjang membran serat otot dalam cara yang sama seperti potensial aksi berjalan di sepanjang membran saraf.

6. Potensial aksi akan menimbulkan depolarisasi membran serat otot, dan juga berjalan di dalam serat otot, pada tempat dimana potensial aksi menyebabkan retikulum sarkoplasma melepaskan sejumlah besar ion Ca2+, yang telah disimpan dalam retikulum, ke dalam miofibril.

7. Ion-ion Ca2+ menimbulkan kekuatan tarik menarik antara filamen aktin dengan filamen miosin, yang menyebabkannya bergerak bersama-sama saling tarik menarik, terjadi pergeseran / sliding, dan menghasilkan proses kontraksi.

8. Setelah kurang lebih satu detik, ion Ca2+ dipompa kembali ke dalam retikulum sarkoplasma, tempat ion-ion ini disimpan sampai potensial aksi otot yang baru datang lagi; pengeluaran ion Ca2+ dari miofibril akan menyebabkan kontraksi otot terhenti.5

Gambar 4. Mekanisme Kontraksi pada Otot Rangka.5

MUSKULOSKELETAL-1 9

Page 10: Kejang Otot Betis Saat Berenang

2.4 Penggunaan Energi Otot

Terdapat tiga langkah berbeda dalam proses kontraksi-relaksasi yang memerlukan ATP, yaitu:

1. Penguraian ATP oleh ATPase miosin menghasilkan energi untuk kayuhan bertenaga jembatan silang.

2. Pengikatan molekul baru ATP ke miosin memungkinkan jembatan silang terlepas dari filamen aktin pada akhir kayuhan bertenaga sehingga siklus dapat diulang. ATP ini kemudian terurai untuk menghasilkan energi bagi kayuhan jembatan silang selanjutnya.

3. Transpor aktif Ca2+ kembali ke dalam retikulum sarkoplasma selama relaksasi bergantung pada energi yang berasal dari penguraian ATP.5

Karena ATP adalah satu-satunya sumber energi yang dapat secara langsung digunakan untuk berkontraksi, maka agar dapat terus beraktivitas, ATP harus terus menerus diberikan. Oleh karena itu, serat otot memiliki tiga jalur alternatif untuk memberikan tambahan ATP sesuai kebutuhan selama kontraksi otot, yaitu transfer fosfat berenergi tinggi dari keratin fosfat ke ADP, fosfolirasi oksidatif (siklus asam sitrat dan sistem transpor elektron), dan glikolisis.

Seperti ATP, keratin fosfat memiliki satu gugus fosfat berenergi tinggi, yang dapat diberikan langsung kepada ADP untuk membentuk ATP. Energi yang dibebaskan dari hidrolisis keratin fosfat bersama dengan fosfat dapat diberikan langsung ke ADP membentuk ATP. Reaksi ini dikatalisis oleh enzim sel otot (keratin kinase) dan bersifat reversibel dimana energi dan fosfat dari ATP dapat dipindahkan ke keratin untuk membentuk keratin fosfat. Sewaktu cadangan energi bertambah, peningkatan ATP mendorong pemindahan gugus fosfat berenergi tinggi dari ATP membentuk keratin fosfat. Sebaliknya, ketika permulaan kontraksi dimana ATPase miosin menguraikan cadang ATP, penurunan ATP mendorong pemindahan gugus fosfat berenergi tinggi dari keratin fosfat membentuk lebih banyak ATP. Otot yang berisitirahat mengandung keratin fosfat lima kali lebih banyak daripada ATP. Selain itu karena dibutuhkan hanya satu reaksi enzimatik pada pemindahan energi ini, maka ATP dapat dibentuk dengan cepat. Oleh karena itu, keratin fosfat adalah sumber energi utama.5,6

Fosforilasi oksidatif berlangsung di dalam mitokondria otot jika tersedia cukup O2. Oksigen dibutuhkan untuk menunnjang rantai transpor elektron mitokondria, yang secara efisien memanen energi yang diambil dari penguraian molekul-molekul nutrien dan menggunakannya untuk meghasilkan ATP.6 Jalur ini dijalankan oleh glukosa atau asam lemak, bergantung pada intensitas dan durasi aktivitas. Glukosa dan asam lemak disalurkan ke sel-sel otot oleh darah. Sel otot mampu menyimpan glukosa dalam bentuk glikogen. Meskipun menghasilkan banyak energi, yaitu 36 ATP, namun fosforilasi oksidatif relatif lambat karena banyaknya proses yang harus dilalui.5

MUSKULOSKELETAL-1 10

Page 11: Kejang Otot Betis Saat Berenang

Reaksi-reaksi kimiawi pada glikolisis menghasilkan produk-produk yang akhirnya masuk ke jalur fosforilasi oksidatif, tetapi glikolisis juga dapat berlangsung tanpa diproses lebih lanjut oleh fosforilasi oksidatif. Selama glikolisis, satu molekul glukosa diuraikan menjadi dua molekul asam piruvat dan menghasilkan dua ATP. Jika O2 yang dibutuhkan tidak cukup untuk memenuhi energi yang dibutuhkan, maka asam piruvat ini tidak dilanjutkan ke proses fosforilasi oksidatif. Walau glikolisis hanya mengekstrasi sedikit ATP, jalur ini dapat berlangsung jauh lebih cepat dan dapat mengalahkan fosforilasi oksidatif dalam periode tertentu asalkan glukosa yang ada cukup.5,6

Meskipun glikolisis anaerob lebih cepat dan mampu mengalahkan fosforilasi oksidatif, namun ia memiliki dua konsekuensi. Pertama, sejumlah besar nutrien harus diproses karena glikolisis jauh kurang efisien dibandingkan fosforilasi oksidatif dalam mengubah energi nutrien menjadi ATP (glikolisis menghasilkan 2 ATP, sedangkan fosforilasi oksidatif menghasilkan 36 ATP). Sel otot menyimpan glukosa dalam jumlah terbatas dalam bentuk glikogen , tetapi glikolisis anaerob ini cepat menguras simpanan glikogen ini. Kedua, asam piruvat yang dihasilkan glikolisis ini karena tidak diproses lebih lanjut oleh fosforilasi oksidatidf, akan diubah menjadi asam laktat. Akumulasi asam laktat diperkirakan berperan menimbulkan nyeri otot yang dirasakan ketika seseorang melakukan olahraga intens. Selain itu, asam laktat yang diserap oleh darah menimbulkan asidosis metabolik. Terkurasnya cadangan energi dan turunnya pH otot akibat akumulasi asam laktat berperan dalam munculnya kelelehan otot.5,6

2.5 Faktor Pemicu Kejang Betis Saat Berenang

Kejang otot atau kram muskulorum dapat didefinisikan sebagai spasme otot yang disertai nyeri. Kram adalah kontraksi yang irasional, involunter, dan menimbulkan nyeri dari satu otot atau sekelompok otot. Kram dapat dialami oleh orang-orang yang telah mengeluarkan banyak tenaga. Kram diperkirakan disebabkan karena adanya kelelahan otot.5

Kelelahan otot terjadi jika otot yang beraktivitas tidak lagi dapat berespons terhadap rangsangan dengan derajat kontraksi yang sama.5 Kelelahan otot diperkirakan karena faktor-faktor berikut :

• Meningkatnya ADP dan fosfat inorganik lokal dari penguraian ATP dapat secara langsung mengganggu siklus jembatan silang dan/atau menghambat pelepasan dan penyerapan kembali Ca2+ oleh retikulum sarkoplasma.

• Akumulasi asam laktat dapat menghambat enzim-enzim kunci di jalur penghasil energi dan/atau proses penggabungan eksitasi-kontraksi.

• Akumulasi K+ ekstrasel yang terjadi di otot ketika pompa Na+ - K+ tidak dapat secara aktif memindahkan K+ kembali ke dalam sel otot secepat keluarnya ion ini selama fase turun potensial aksi berulang menyebabkan penurunan lokal potensial membran. Perubahan potensial ini dapat mengurangi pembebasan Ca2+ intrasel dengan

MUSKULOSKELETAL-1 11

Page 12: Kejang Otot Betis Saat Berenang

menghambat penggabungan reseptor dihidropiridin berpintu voltase di tubulus T dan saluran pelepas Ca2+ di retikulum sarkoplasma

• Terkurasnya cadangan energi glikogen dapat menyebabkan kelelahan otot pada olahraga yang berat.7

Ketika mencapai kelelahan otot ini, umpan balik sensoris dari otot dan respons sistem saraf yang diberikan terjadi malfungsi dimana otot tidak dapat relaksasi dan terus menerus kontraksi, yang menyebabkan terjadinya kram.7

Kesimpulan

Triseps surae atau otot betis yang merupakan musculi flexor superfisialis terdiri dari tiga otot yang dibentuk dari musculus gastrocnemius capu medial et lateral dan soleus. Otot betis ini merupakan otot lurik yang bersifat volunter. Kontraksi otot dapat terjadi karena adanya ikatan aktin-miosin (sarkomer) tarik menarik yang menyebabkan sliding, sehingga terjadi pemendekan otot.

Proses ini membutuhkan energi yang dapat diperoleh dari berbagai sumber, yaitu langsung dari ATP, keratin fosfat, fosforilasi oksidatif, dan glikolisis anaerob. Kelelahan otot yang terjadi dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada umpan balik sensoris dan respon sehingga otot tidak bisa berelaksasi dan terus-menerus berkontraksi sehingga menyebabkan suatu kondisi yang disebut kram, atau pada kasus yang dibahas, kejang betis.

Daftar Pustaka

1. Sloane E. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2004. hal 122-8.

2. Gilroy AM, MacPherson B, Ross L.Atlas of Anatomy. New York: Thieme Medical Publisher, Inc; 2003. P. 20-32.

3. Eroschenko VP. Di fiore's atlas of histology with functional correlations. 11 th ed. Philadelphia: Lippincott Williams &Wilkins; 2008. p. 117-9.

4. Don W, Fawceet. Buku Ajar Histologi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2006. hal 127-32.

5. Hall JE. Guyton and hall textbook of medical physiology. 12 th ed. Philadelphia: Elsevier Health Sciences; 2010. p. 73-4.

6. Maks B, Allan DM, Colleen MS. Basic Medical Biochemistry. London: Williams and Wilkins publishers, Inc. P. 54-8

7. Dunford M, Doyle JA. Nutrition for sport and exercise. 2nd ed. Belmont: Cengage Learning; 2011. p. 259-60.

MUSKULOSKELETAL-1 12