of 24/24
PRESENTASI KASUS KEJANG DEMAM Yuan Elsafitri 20100310217 STASE KIA RSUD SALATIGA DOKTER PEMBIMBING: dr. Dwi Ambarwati, Sp. A

kejang demam

  • View
    28

  • Download
    5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

IKA

Text of kejang demam

Slide 1

PRESENTASI KASUSKEJANG DEMAMYuan Elsafitri20100310217STASE KIA RSUD SALATIGADOKTER PEMBIMBING:dr. Dwi Ambarwati, Sp. AKasusIdentitas pasienNama: An. FUmur: 2 tahunJenis kelamin: laki-lakiTgl masuk RS: 16 Mei 2015

AntropometriBerat badan: 16,5 kgTinggi badan: 90 cmLingkar kepala: 51 cmAnamnesisKeluhan Utama:KejangKeluhan lain:Demam tinggi (+), nyeri kepala (+), pilek (+),

Riwayat penyakit sekarangDemam tinggi muncul mendadak & jemudian muncul kejang pada hari dimana pasien masuk RS (demam hari pertama). Kejang 2xKejang pertama: > 5 menit < 10 menitKejang kedua: 1 menitTipe kejang : TonikKeluhan batuk (-), mual (-), muntah (-), nafsu makan & minum turun, nyeri telinga (-), nyeri hidung (-), nyerti tenggorokan (-), sesak nafas (-)

Riwayat penyakit dahulu:- Riwayat kejang sebelumnya disangkal- Riwayat jatuh dengan kepala terbentur hingga hematom, 3 hari SMRSPemeriksaan fisikKU: SomnolenVital sign:

Inspeksi:- Konjungtiva anemis (-/-)- Sklera ikterik (-/-)- Tampak hematom pada kening dan kelopak mata bawah kanan & kiri Suhu HRRRSp O216-05-201539, 816456 99 %17-05-201541,21605218-05-2015371325619-05-201538,412036Palpasi:- Nyeri tekan pada kening (+)- Pembesaran limfonodi (-)- Nyeri tekan abdomen (-)- Ekstremitas akral hangat +/+/+/+

Auskultasi:Thorak: Cor = S1/S2 reguler, bising (-) Pulmo= SDV (+/+) Ronkhi (-/-) Wheezing(-/-)Abdomen: Bising Usus (+) BDNDiagnosa kerja- Obs. Kejang demam sederhana- Cedera kepala ringan

PenatalaksanaanO23 liter/menitInfus KAEN 3B10 tetes/menitInj. Citicolin 2 x 8 mgInj. Phenitoin2 x 25 mgInj. Ceftriaxone2 x 500 mgInj. Dexametason2 x 0,5 cc (2,5 mg)Inj. Ranitidin2 x 17,5 mg

Pemeriksaan penunjangCT Scan kepala tanpa kontras 18/5/2015- Gambaran brain edema ringan dg pelebaran sinus transversus- Tak tampak gambaran EDH, SDH SAH, ICH, IVH, dan tak tampak fracture pada sistema tulang yang tervisualisasi- Gambaran sinusitis maxilari bilateral terutama sinistra dan sinus sphenoidalis

Laboratorium 17/5/2015:- AL : 7, 95- AE : 5,21- Hb : 12,6- Ht : 36,0- AT : 140L

DiagnosaEdema cerebri et causa trauma kepalaSinusitis maxilaris bilateralKenapa diagnosis kejang demam tidak ada? Seharusnya ada atau tidak?Seharusnya ada, diagnosis utama pasien adalah kejang demam sederhana, karena kejang kedua tidak kuat mengarah pada kejang, kemungkinan anak kaget/termor. Diagnosis berdasarkan keluhan utama pasien datang ke RS.

9Pembahasan Kejang DemamDefinisiBangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh ( R=38C O=39C A=39,5C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium.Terjadi pada usia 6 bulan - 5 bulan, dan terbukti tidak ada infeksi SSP. Pada bayi < 1 bulan tidak termasuk KD

Klasifikasi kejang demam- Kejang demam sederhana / KDS / simple febrile seizure- Kejang demam kompleks / KDK / complex febrile seizure* Kejang lama: kejang > 15 menit atau > 2 x dan diantara bangkitan tidak sadar** Kejang berulang: kejang 2 x/24 jam, diantara dua bangkitan anak sadar. Kejang Demam SementaraKejang Demam KompleksKejang berlangsung < 15 menit, berhenti sendiriKejang lama* > 15 menitKejang umum, tonik &/ konik, TANPA gerakan fokalKejang fokal atau parsial sesisi, atau kejang umum didahului kejang parsialTidak berulang dalam waktu 24 jamKejang berulang** atau > 1 x dalam waktu 24 jamPatofisiologi kejang demamKetika demam:> Metabolisme basal meningkat & reaksi-reaksi oksidasi mjd lebih cepat sgh terjadi hipoksia. > Transport aktif yg memerlukan ATP terganggu.> Tjd penurunan potensial membran shg permeabilitas membran thdp ion Na meningkat. > Difusi Na dan K: Kanal Na terbuka masuk ke intrasel (depolarisasi), kanal K terbuka dan K keluar/ke ekstrasel (repolarisasi).> Depolarisasi akan berlebihan dan mencapai nilai ambang letup.Kejang.

Penyebab kejang demamInfeksi bakteri atau virus.

Penegakan diagnosisAnamnesis- Riwayat demam- Kesadaran- Bentuk kejang: Mata mendelik terkadang berkedip-kedip, kedua tangan&kaki kaku, kelonjotan, anak tidak memberi respon bila dipanggil atau diperintah, sadar kembali setelah kejang- Lama/durasi kejang, frekuensi, interval- Riwayat perkembangan, riw. KD sebelumnya, riw. KD dalam keluarga, riw. Epilepsi dalam keluarga- Penyakit lain untuk menyingkirkan penyebab kejang lain

2. Pemeriksaan Fisik Kesadaran Tanda Rangsang meningeal : kaku kuduk, Bruzinski I,II, Kernique, Laseque. Tanda peningkatan tekanan intrakranial ubun-ubun besar membenjol, papil edema Tanda infeksi di luar SSP: ISPA, OMA, ISK Pemeriksaan neurologis

3. Pemeriksaan Penunjang- Pemeriksaan laboratorium: Untuk evaluasi sumber infeksi penyebab demam, atau keadaan lain misal gastroenteritis dehidrasi disertai demam.> Darah Rutin dan darah perifer> Kadar elektrolit> Kadar gula darah

- Elektroensefalografi (EEG)Tidak direkomendasikan, krn tidak dapat memprediksi berulangnya kejang, atau kemungkinan kejadian epilepsi.Dilakukan pada kejang demam kompleks anak usia > 6 tahun, atau kejang demam fokal.

- PencitraanFoto X-ray kepala, CT-Scan, MRI, namun jarang dilakukan, hanya atas indikasi:> Kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis)> Paresis nervus VI>Papiledem

PenatalaksanaanManajemen umum ketika kejang- Kendorkan pakaian ketat terutama sekitar leher- Tidak sadar: Posisikan supine dg kepala miring- Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung- Jangan memasukkan apapun ke dalam mulut- Ukur suhu, observasi dan catat lama serta bentuk kejang- Tetap dampingi pasien selama kejang- Berikan diazepam rektal, jangan diberi bila kejang telah berhentiTatalaksana Kejang- Diazepam IV > Dosis: 0,3 0,5 mg/kgBB > Pemberian: IV pelan, dg kecepatan 1-2 mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit > Dosis maksimal: 20 mg- Diazepam Rektal > Dosis: 0,5-0,75 mg/kgBB atau - jika BB < 10kg=5 mg dan BB > 10kg=10mg- jika usia < 3 thn=5 mg, dan > 3 thn=7,5 mg > Pemberian diazepam rektal dapat diulang selama 2x dg interval 5 menit > Jika kejang berlanjut, beri diazepam IV > Jika dg diazepam IV kejang msh berlanjut:- Fenitoin IVLoading dose= 10-20 mg/kgBB/kali dg kecepatan 1 mg/kgBB/menit atau < 50 mgmenitJika kejang (-), maintenance dose= 4-8 mg/kgBB/hari dimulai 12 jam setelah loading doseBagan terapi kejang demam

Tatalaksana Demam- Antipiretik> Parasetamol : 10-15 mg/kgBB/kali, 4 dd 1 max 5 dd 1> Ibuprofen : 5-10 mg/kgBB/kali, 3-4 dd 1> Hindari penggunaan salisilat: Sindrom Reye

- AntikonvulsanUntuk mencegah berulangnya kejang> Diazepam oral: 0,3 mg/kgBB, 3 dd 1> Diazepam rektal: 0,5 mg/kgBB, 3 dd 1> Efek samping obat: ataksia, iritabel, sedasi berat Fenobarbital, karbamazepin, dan fenitoin pada saat demam tidak berguna untuk mencegah kejang demamPengobatan RumatHanya diberikan bila kejang demam:- Kejang lama > 15 menit- Ada kelainan neurologis nyata sebelum atau sesudah kejang, ex: hemiparese, paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental, hidrosefalus- Kejang fokal- Pengobatan rumat dipertimbangkan bila:> Kejang berulang 2x atau > 24 jam> Kejang demam terjadi pada bayi > 12 bulan> Kejang demam 4 x per tahunTerapi:Asam Valproat atau Fenobarbital- Asam valproat (DoC)> Dosis: 15-40 mg/kgBB/hari, 2-3 dd 1> Ef. Samping: gangguan fungsi hepar-Fenobarbnital> Dosis: 3-4 mg/kgBB/hari, 1-2 dd 1> Ef. Samping: gangguan belajar Lama terapi: Sampai dengan 1 tahun bebas kejang, dihentikan bertahap selam 1-2 bulanKomplikasi & Prognosis> Kelainan Neurologis> Rekurensi, faktor resiko:Riwayat kejang demam dalam keluargaUsia < 12 bulanTemperatur yang rendah saat kejangCepatnya kejang setelah demamDapat dicegah dengan pengobatan rumatan> Epilepsi, faktor resiko: - Kelainan neurologis atau perkembangan yg jelas sblm kejang demam pertama - Kejang demam kompleks - Riwayat epilepsi pd orang tua / saudara kandung

Vaksinasi tidak menjadi kontra indikasi pasien kejang demam krn sangat jarang. Dianjurkan memberikan diazepam oral atau rektal bila anak demam setelah vaksinasi DPT atau MMR. Atau PCT 3 hari stlh vaksinKenapa tidak ada diagnosis banding? Apa saja diagnosis banding kejang pada anak?Acute disseminate encephalomyelitis= kondisi demyelinating inflamasi mediasi immune yang predominan berefek pada white matter pada otak dan spinal. Klinis: kejang fokal atau general, iritabel, letargi,demam, nyeri kepalaakut hemiparesis, abnormalitas nervus kranial(kehilangan kemampuan penglihatan), ataxia, abnormalitas mental, kelemahan ototAnterior circulation stroke= nyeri kepala, gangguan status mental, syncope, seizure, sulit bicara,kelemahan otot unilateral,kehilangan indra perasa, dysarthria, kehilangan penglihatanAseptic Meningitis= nyeri kepala, demam peredominan, kejang, meningeal sign (+), rash (makulopapul & nonpruritis)Benign Childhood epilepsyComplex partial seizureGeneral Tonic-Clonic seizureMeningitis= demam, muntah, tidak bisa minum atau menyusu, sakit kepala atau nyeri bagian belakang leher, penurunan kesadaran, kejang, gelisah, cedera kepala yang baru dialami, tanda rangsang meningeal (+), letargis, ubun-ubun cembung (bulging fontanelle), ruam(ptekie atau purpura), kemungkinan adanya fraktur tulang tengkorak yang baru dialami, peningkatan tekanan intra kranial: pupil anisokor, spastisitas, paralisis ekstremitas, nafas tidak teratur, pupil tidak seimbang, opistotonus/kaku badanNeonatal seizure= bayi < 2 bulan dengan ciri: terus mengantuk/letargi/tidak sadar, minum berkurang,rewel, tangis melengking, episode apnu, kejang, ubun-ubun membonjolPartial epilepsies Pediatric first seizure Pediatric cerebral artery stroke Simple partial seizure Viral encephalitis Trauma Tetanus: gelisag, sulit minum, mulut mecucu/trismus, otot-otot mengalami kekakuan, kejang, demam24