of 107 /107
UNIVERSITAS INDONESIA KEJADIAN ISPA PADA BALITA DITINJAU DARI PENGETAHUAN IBU, KARAKTERISTIK BALITA, SUMBER PENCEMAR DALAM RUANG DAN LINGKUNGAN FISIK RUMAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DTP CIBEBER KABUPATEN LEBAK PROPINSI BANTEN TAHUN 2011 SKRIPSI YUYU SRI RAHAYU 0906618122 FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT PROGRAM SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT DEPOK JUNI 2011 Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

KEJADIAN ISPA PADA BALITA DITINJAU DARI PENGETAHUAN

Embed Size (px)

Text of KEJADIAN ISPA PADA BALITA DITINJAU DARI PENGETAHUAN

  • UNIVERSITAS INDONESIA

    KEJADIAN ISPA PADA BALITA DITINJAU DARI PENGETAHUAN IBU, KARAKTERISTIK BALITA, SUMBER

    PENCEMAR DALAM RUANG DAN LINGKUNGAN FISIK RUMAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DTP CIBEBER

    KABUPATEN LEBAK PROPINSI BANTEN TAHUN 2011

    SKRIPSI

    YUYU SRI RAHAYU0906618122

    FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKATPROGRAM SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT

    DEPOKJUNI 2011

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • UNIVERSITAS INDONESIA

    KEJADIAN ISPA PADA BALITA DITINJAU DARI PENGETAHUAN IBU, KARAKTERISTIK BALITA, SUMBER

    PENCEMAR DALAM RUANG DAN LINGKUNGAN FISIK RUMAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DTP CIBEBER

    KABUPATEN LEBAK PROPINSI BANTEN TAHUN 2011

    SKRIPSIDiajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

    Sarjana Kesehatan Masyarakat

    YUYU SRI RAHAYU0906618122

    FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKATPROGRAM SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT

    PEMINATAN KEBIDANAN KOMUNITASDEPOK

    JUNI 2011

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

    Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri,

    dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk

    telah saya nyatakan dengan benar

    Nama : YUYU SRI RAHAYU

    NPM : 0906618122

    Tanda Tangan :

    Tanggal : 24 Juni 2011

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • i

    DAFTAR RIWAYAT HIDUP

    Nama : Yuyu Sri Rahayu

    Tempat tanggal lahir : Lebak, 03 Mei 1979

    Alamat : Kamp. Cikotok RT 02/ 03 Desa Cikotok Kecamatan

    Cibeber Kabupaten Lebak Propinsi Banten 43294

    Riwayat Pendidikan

    1984 1986 : TK Pelita ANTAM Unit Pertambangan Emas Cikotok

    1986 1992 : SD ANTAM Unit Pertambangan Emas Cikotok

    1992 1995 : SMP Negeri 1 Cibeber

    1995 1998 : Sekolah Menengah Umum Kornita IPB Bogor

    1998 2001 : D III Kebidanan Depkes RI Rangkasbitung

    2007 2008 : D IV Kebidanan STIKIM Lenteng Agung Jakarta

    2009 Sekarang : S1 Peminatan Kebidanan Komunitas FKM-UI Depok

    Riwayat Pekerjaan

    20012002 : Rumah Sakit Islam Bogor

    20022009 : Bidan Pelaksana Puskesmas DTP Cibeber Kabupaten Lebak Propinsi

    Banten.

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • ii

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nyalah penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Kejadian ISPA pada Balita Ditinjau Dari Pengetahuan Ibu, Karakteristik Balita, Sumber Pencemar Dalam Ruang Di Wilayah Kerja Puskesmas DTP Cibeber Kabupaten Lebak Propinsi Banten Tahun 2011 sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana kesehatan masyarakat.

    Proses penulisan skripsi ini penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak yang tak ternilai harganya. Untuk itulah dengan ketulusan hati penulis banyak mengucapkan terima kasih kepada:

    1. Ibu drg. Sri Tjahyani Budi Utami, M.Kes selaku pembimbing akademik yang telah meluangkan waktu dan memberikan bimbingan dengan penuh kesabaran dalam penyelesaian skripsi ini.

    2. Ibu Laila Fitria, SKM, MKM dan Ibu Rina F. Bahar, SKM. M.Kes, selaku penguji pada sidang skripsi yang telah memberi banyak masukan dan saran dalam proses skripsi ini.

    3. Bapak dr. Erwan Susanto selaku Kepala Puskesmas DTP Cibeber yang telah memberikan izin kepada saya untuk melaksanakan penelitian di wilayah kerjanya.

    4. Mama dan keluargaku tercinta yang telah memberi dukungan baik moril maupun materil untuk menyelesaikan pendidikan ini.

    5. Teman-teman kelas D Peminatan Kebidanan Komunitas FKM UI angkatan II yang telah membantu dan memberikan dorongan dalam penyelesaian skripsi ini.

    6. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah membantu penyelesaian skripsi ini.

    Semoga segala bantuan dan amal ibadah mereka mendapatkan pahala dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu segala kritik dan saran yang sifatnya membangun penulis terima dengan senang hati. Akhirnya semoga skripsi ini dapat diterima dan bermanfaat bagi kita semua.

    Depok, Juni 2011

    Penulis

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • iii

    HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

    Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan dibawah ini:

    Nama : YUYU SRI RAHAYUNPM : 0906618122Program Studi : S1 EkstensiPeminatan : Kebidanan KomunitasFakultas : Kesehatan MasyarakatJenis Karya : Skripsi

    Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusif Royalti-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

    Kejadian ISPA Pada Balita Ditinjau Dari Pengetahuan Ibu, Karakteristik Balita, Sumber Pencemar Dalam Ruang Dan Lingkungan Fisik Rumah Di Wilayah Kerja

    Puskesmas DTP Cibeber Kabupaten Lebak Provinsi Banten Tahun 2011

    Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

    Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

    Dibuat di : DepokPada tanggal : 24 Juni 2011

    Yang Menyatakan

    Yuyu Sri Rahayu

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • iv

    ABSTRAK

    Nama : YUYU SRI RAHAYUProgram Studi : Kesehatan MasyarakatJudul : Kejadian ISPA Pada Balita Ditinjau Dari Pengetahuan Ibu,

    Karakteristik Balita, Sumber Pencemar Dalam Ruang Dan Lingkungan Fisik Rumah Di Wilayah Kerja Puskesmas DTP Cibeber Kabupaten Lebak Propinsi Banten Tahun 2011

    Di Indonesia, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selalu menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Diperkirakan, sebanyak 150.000 bayi / balita meninggal tiap tahun. Di wilayah Puskesmas DTP Cibeber dari tahun 2008 sampai 2010 yaitu 778 (24,3%), 231 (7,21%) dan 873 (27,3%) kasus ISPA pada balita.

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan ibu, karakteristik balita, sumber pencemar udara dalam ruang, dan lingkungan fisik rumah dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki balita yang ada di wilayah kerja Puskesmas DTP Cibeber Kabupaten Lebak Propinsi Banten dengan jumlah sampel 106 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara langsung terhadap responden dengan menggunakan kuesioner. Variabel penelitian ini adalah pengetahuan ibu, BBL balita, status ASI, status imunisasi, ventilasi, kepadatan hunian, adanya perokokdan bahan bakar memasak.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi balita yang menderita sakit ISPA 80,2%. Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu {OR= 4,333(95% CI : 1,596-11,768)}, BBL, status ASI, ventilasi {OR= 9,726, (95 CI : 2,132- 44,373)}, kepadatan hunian dan adanya perokok dalam rumah{ OR= 40,500 (95% CI: 10,466- 156,715)} terhadap kejadian ISPA pada balita.Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar diupayakan peningkatan pengetahuan ibu mengenai penyakit ISPA, pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan, pemeriksaan rutin kehamilan untuk mencegah bayi lahir rendah, bagi anggota keluarga perokok untuk tidak merokok dalam rumah atau dekat dengan balita, dan mengupayakan ventilasi dan penghuni rumah yang memenuhi syarat kesehatan.

    Kata Kunci : ISPA, Balita, Pengetahuan Ibu, sumber pencemar dalam ruang, dan lingkungan fisik rumah.

    Daftar Bacaan : 53 (1997 2010)

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • v

    ABSTRACT

    Name : YUYU SRI RAHAYUStudy Programe : Public HealthTittle : Incident Of ARI Considered From Mother Knowledge, Child

    Under Five Characteristic, Air Pollution Source Of Inside Room And Home Physical Environment In Working Area OfCibeber Community Health Centers To Care at Regency Of Lebak Banten Province 2011

    In Indonesia, Acute Respiratory Infections (ISPA) always place first rank cause of infant and child death. It is estimated as much as 150,000 infants/children under five (Balita) die for each year. Number of cases of ISPA to balita in working area of Cibeber Community Health Centers to Care from 2008 up to 2010 is 778 (24.3%), 231 (7.21%), and 873 (27.3%).

    This study aims to find out mother knowledge, balita characteristic, air pollution source of inside room, and home physical environment using cross sectional design. Study population are all of mothers who have child under five in there of samples are 106 respondents. Data were collected by direct interview to respondents using questionnaire. Variables in this study are mother knowledge, BBL of balita, ASI and immunization status, ventilation, population density, presence of smoker, and cooking fuel.

    Study result shows that proportion of balita suffered from ISPA is 80.2%. There are meaning relationship between mother knowledge {OR= 4,333(95% CI : 1,596-11,768)}, Birth weigth, born, brestfeeding status, ventilation {OR= 9,726, (95% CI : 2,132- 44,373)} , population density, and presence of smoker inside house { OR= 40,500, 95% CI: 10,466- 156,715)} to incident of ISPA to child under five. Based on study result, it is suggested to do an efforts to increase mother knowledge regarding to ISPA disease, giving an exclusive ASI for 6 months, routine checking up of gestation to prevent low birth weight for infant, not smoke near balita or inside house for family member who is smoker, make a good ventilation and occupants which meet health requirements.

    Key Words: ISPA, Balita, Mother Knowledge, Air Pollution Source, and Home Physical Environment

    References : 53 (1997-2010)

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • vi

    DAFTAR ISI

    Halaman

    PERNYATAAN ORISINALITASPERNYATAAN BEBAS PLAGIATLEMBAR PENGESAHANDAFTAR RIWAYAT HIDUP ------------------------------------------------------ iKATA PENGANTAR ---------------------------------------------------------------- iiPERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ------------------------------- - iiiABSTRAK ------------------------------------------------------------------------- --- ivABSTRACT --------------------------------------------------------------------------- vDAFTAR ISI --------------------------------------------------------------------------- viDAFTAR TABEL -------------------------------------------------------------------- viiiDAFTAR GAMBAR ----------------------------------------------------------------- ix

    BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang------------------------------------------------------------ 11.2 Rumusan Masalah ------------------------------------------------------- 31.3 Pertanyaan Penelitian --------------------------------------------------- 31.4 Tujuan Penelitian -------------------------------------------------------- 41.5 Manfaat Penelitian ------------------------------------------------------- 51.6 Ruang Lingkup Penelitian ---------------------------------------------- 5

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA2.1 Infeksi Saluran Pernapasan Akut -------------------------------------- 7 2.1.1 Pengertian ----------------------------------------------------------- 7 2.1.2 Etiologi ISPA ------------------------------------------------------ 8 2.1.3 Patofisiologi ISPA ------------------------------------------------- 8 2.1.4 Tanda dan Gejala Penyakit ISPA -------------------------------- 10 2.1.5 Klasifikasi ISPA---------------------------------------------------- 11 2.1.6 Faktor Risiko ISPA ------------------------------------------------ 13 2.1.7 Penularan ISPA ---------------------------------------------------- 14 2.1.8 Pencegahan Penyakit ISPA -------------------------------------- 15 2.1.9 Cara Mengatasi Bahaya ISPA ----------------------------------- 16 2.1.10 Program Penanggulangan ISPA -------------------------------- 16 2.1.11 Permasalahan ISPA di Indonesia ----------------------------- 17 2.1.12 Penatalaksanaan ISPA ------------------------------------------- 18 2.1.13 Konsep Determinan Kelangsungan Hidup Anak ------------ 202.2 Rumah Sehat ------------------------------------------------------------- 222.3 Partikel -------------------------------------------------------------------- 242.4 Hubungan Kondisi Lingkungan Rumah dengan Gangguan Saluran Pernapasan ---------------------------------------------------------------- 252.5 Faktor-faktor risiko yang Mempengaruhi Kejadian ISPA pada Balita 25 2.5.1 Pengetahuan Ibu --------------------------------------------------- 27 2.5.2 Berat Bayi Lahir --------------------------------------------------- 30

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • vii

    2.5.3 Status ASI ----------------------------------------------------------- 31 2.5.4 Status Imunisasi -------------------------------------------------- - 32 2.5.5 Ventilasi ----------------------------------------------------------- -- 33 2.5.6 Kepadatan Hunian ----------------------------------------------- - 34 2.5.7 Adanya Perokok dalam Rumah ---------------------------------- 35 2.5.8 Bahan Bakar Memasak -------------------------------------------- 37

    BAB III KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL

    3.1 Kerangka Teori ----------------------------------------------------------- 383.2 Kerangka Konsep -------------------------------------------------------- 393.3 Hipotesis ------------------------------------------------------------------ 403.4 Definisi Operasional ---------------------------------------------------- 41

    BAB IV METODE PENELITIAN4.1 Desain Penelitian -------------------------------------------------------- 434.2 Tempat dan Waktu Penelitian ------------------------------------------ 434.3 Populasi dan Sampel ---------------------------------------------------- 434.4 Cara Pengambilan Sampel --------------------------------------------- 444.5 Pengumpulan Data ------------------------------------------------------ 454.6 Pengolahan dan Tehnik Analisa Data --------------------------------- 45

    BAB V HASIL PENELITIAN5.1 Gambaran Umum Wilayah Kerja Puskesmas DTP Cibeber ------ 435.2 Distribusi Frekuensi Variabel Independen dan Variabel Dependen 465.3 Hubungan Variabel Independen dengan Variabel Dependen ------ 49

    BAB VI PEMBAHASAN6.1 Keterbatasan Penelitian ------------------------------------------------- 556.2 Hubungan Pengetahuan Ibu dan Pencemar Udara Ruang dengan Kejadian ISPA pada Balita ---------------------------------------------- 56 6.2.1 Kejadian ISPA pada Balita --------------------------------------- 56 6.2.2 Pengetahuan Ibu dengan Kejadian ISPA ----------------------- 56 6.2.3 Berat Badan Lahir dengan Kejadian ISPA --------------------- 57 6.2.4 Status ASI dengan Kejadian ISPA ------------------------------ 58 6.2.5 Status Imunisasi dengan Kejadian ISPA ----------------------- 58 6.2.6 Ventilasi dengan Kejadian Balita ------------------------------- 59 6.2.7 Kepadatan Hunian dengan Kejadian Balita -------------------- 60 6.2.8 Adanya perokok dalam rumah dengan Kejadian ISPA ------ 60 6.2.9 Bahan Bakar Memasak dengan Kejadian ISPA ---------------- 61

    BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN7.1 Kesimpulan ------------------------------------------------------------------------ 627.2 Saran -------------------------------------------------------------------------------- 62

    DAFTAR PUSTAKALampiran

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • viii

    DAFTAR TABEL

    Tabel 5.1.4 Distribusi Kepegawaian Puskesmas DTP Cibeber ----------------- 45

    Tabel 5.1.5 Pola 10 Besar Penyakit Di Wilayah Kerja Puskesmas DTP Cibeber Tahun 2010 ---------------------------------------------------- 46

    Tabel 5.2.1 Distribusi Frekuensi Kejadian ISPA --------------------------------- 46

    Tabel 5.2.2 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu ------------------------------- 46

    Tabel 5.2.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Balita ----------------------- ---- 47

    Tabel 5.2.4 Distribusi Frekuensi Lingkungan Fisik Rumah --------------------- 48

    Tabel 5.2.5 Distribusi Frekuensi Sumber Pencemar Udara Dalam Ruang ---- 49

    Tabel 5.3.1 Distribusi Responden Pengetahuan Ibu Dengan Kejadian ISPA-- 50

    Tabel 5.3.2 Distribusi Responden Karakteristik Balita Dengan Kejadian ISPA 52

    Tabel 5.3.3 Distribusi Responden Lingkungan Fisik Rumah Dengan Kejadian ISPA----------------------------------------------------------- 53

    Tabel 5.3.4 Distribusi Responden Sumber Pencemar Dalam Ruang Dengan Kejadian ISPA----------------------------------------------------------- 54

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • ix

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar 3.1 Kerangka Teori ------------------------------------------------------- 36

    Gambar 3.2 Kerangka konsep ----------------------------------------------------- 37

    Gambar 5.1.2 Jumlah Penduduk ---------------------------------------------------- 44

    Gambar 5.1.3 Pendidikan Terakhir Penduduk ------------------------------------ 44

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 1 Universitas Indonesia

    BAB I

    PENDAHULUAN

    I.1 Latar Belakang

    Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dikenal sebagai salah satu

    penyebab kematian utama pada bayi dan balita, diperkirakan 13 juta anak balita di

    dunia meninggal setiap tahun. Sebagian besar penelitian di Negara berkembang

    menunjukkan bahwa diberbagai negara setiap tahunnya 20-30% kematian bayi

    dan balita disebabkan karena menderita infeksi saluran nafas akut (ISPA).

    Diperkirakan 2-5 juta bayi dan balita diberbagai negara setiap tahunnya.

    Duapertiga dari kematian ini terjadi pada kelompok bayi, terutama bayi usia 2

    bulan pertama sejak kelahiran. Kejadian infeksi pernapasan akut terutama bagian

    atas, di Negara berkembang dilaporkan antara 4-7 kali per anak per tahun, ini

    hampir sama terjadi di Amerika, Afrika dan Asia (WHO, 2008).

    Di Indonesia, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selalu menempati

    urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Kematian

    akibat ISPA terutama pneumonia di Indonesia pada akhir tahun 2000 sekitar

    450.000 balita. Diperkirakan, sebanyak 150.000 bayi / balita meninggal tiap tahun

    atau 12.500 korban per bulan atau 416 kasus sehari atau 17 anak per jam atau

    seorang bayi / balita tiap lima menit (www.profilmedis.com, 2004).

    Survei mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2005

    menempatkan ISPA/Pneumonia sebagai penyebab kematian bayi terbesar di

    Indonesia dengan persentase 22,30% dari seluruh kematian balita.

    Menurut hasil Riskesdas 2007 kejadian ISPA pada satu bulan terakhir

    adalah 25,5% dengan prevalensi tertinggi terjadi pada usia balita yaitu 35%. Dan

    menurut SDKI 2007 prevalensi ISPA tertinggi pada anak umur 24-35 bulan yaitu

    sebanyak 14%.

    Berdasar hasil survey, di Propinsi Banten terdapat 28,4% kasus ISPA balita,

    dan untuk kabupaten Lebak terdapat sebanyak 35,0% kasus dengan gejala ISPA

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 2

    Universitas Indonesia

    pada balita (Riskesdas Banten, 2007). Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

    berada diurutan pertama dalam daftar 10 penyakit terbanyak di Wilayah Dinas

    Kesehatan Kabupaten Lebak, dengan jumlah kasus ISPA balita pada tahun 2009

    yaitu terdapat 31.280 (24,40%) kasus dan pada tahun 2010 sebanyak 57.051

    (44,52%) kasus (Profil P2M Lebak, 2010).

    Untuk dapat menanggulangi penyebaran ISPA tentu diperlukan pengetahuan

    mengenai faktor-faktor risiko ISPA. Beberapa penelitian sudah banyak dilakukan

    untuk mengetahui faktor pemicu maupun pencegah ISPA.

    Di Negara berkembang, sekitar 24% infeksi saluran nafas kebanyakan

    disebabkan oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan lingkungan seperti polusi

    udara dalam ruang maupun di luar ruangan, asap rokok (Etzel, 1997). Faktor-

    faktor yang berhubungan dengan ISPA antara lain umur, jenis kelamin, status gizi,

    berat badan lahir, status ASI, status imunisasi, kepadatan hunian, penggunaan anti

    nyamuk bakar, bahan bakar untuk memasak dan keberadaan perokok. Selain itu

    juga konsumsi vitamin A memiliki pengaruh terhadap timbulnya ISPA pada balita

    ( Anandari, 2007).

    Sedangkan hasil dari analisis data Riskesdas 2007 diperoleh faktor-faktor

    yang berhubungan signifikan dengan kejadian ISPA pada balita yaitu umur, status

    gizi, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, bahan bakar masak, perokok dalam rumah,

    jenis lantai dan outdoor pollution.

    Puskesmas DTP Cibeber adalah salah satu puskesmas yang berada di

    bagian tenggara wilayah kabupaten Lebak Propinsi Banten. Jarak dari puskesmas

    kecamatan ke kabupaten dan dinas kesehatan kabupaten sejauh 165 km dengan

    akses yang kurang baik. Menurut data puskesmas, ISPA merupakan urutan

    pertama dalam daftar 10 besar penyakit. Dan jumlah kesakitan balita dengan

    kasus ISPA dari tahun 2008 terdapat 778 (24,3%) kasus, kemudian pada tahun

    2009 mengalami penurunan drastis yaitu 231 (7,21%) kasus, pada tahun 2010

    melonjak naik menjadi 873 (27,3%) kasus dan pada tahun 2011 sampai dengan

    bulan Mei terdapat 482 (20%) kasus ISPA balita (laporan Puskesmas, 2011).

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 3

    Universitas Indonesia

    Berdasarkan data di atas, masih tingginya kasus ISPA pada balita, penulis

    merasa tertarik memilih Puskesmas DTP Cibeber kabupaten Lebak untuk

    mengetahui pengetahuan ibu, karakteristik balita, sumber pencemar udara dalam

    ruang dan lingkungan fisik rumah dengan kejadian ISPA pada balita.

    I.2 Rumusan Masalah

    Berangkat dari latar belakang maka rumusan masalah pada penelitian ini

    adalah adakah hubungannya antara pengetahuan ibu, karakteristik balita, sumber

    pencemar udara dalam ruang dan lingkungan fisik rumah dengan kejadian ISPA

    pada balita di wilayah kerja Puskesmas DTP CibeberKabupaten Lebak Propinsi

    Banten.

    1.3 Pertanyaan Penelitian

    1. Bagaimana gambaran kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas

    DTP Cibeber kabupaten Lebak Propinsi Banten?

    2. Bagaimana gambaran pengetahuan ibu tentang ISPA di wilayah kerja

    Puskesmas DTP Cibeber Kabupaten Lebak Propinsi Banten?

    3. Bagaimana gambaran karakteristik balita (berat bayi lahir, status imunisasi,

    dan status ASI) di wilayah kerja Puskesmas DTP Cibeber kabupaten Lebak

    Propinsi Banten?

    4. Bagaimana gambaran lingkungan fisik rumah (ventilasi dan kepadatan

    penghuni) di wilayah kerja Puskesmas DTP Cibeber kabupaten Lebak

    Propinsi Banten?

    5. Bagaimana gambaran pencemar udara dalam ruang ( adanya perokok dan

    bahan bakar memasak) di wilayah kerja Puskesmas DTP Cibeber kabupaten

    Lebak Propinsi Banten?

    6. Adakah hubungan antara pengetahuan ibu, karakteristik balita, lingkungan

    fisik rumah dan pencemar udara dalam ruang dengan kejadian ISPA pada

    balita di wilayah kerja Puskesmas DTP Cibeber Kabupaten Lebak Propinsi

    Banten?

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 4

    Universitas Indonesia

    1.4 Tujuan Penelitian

    1.4.1 Tujuan umum

    Ingin mengetahui kejadian ISPA pada balita dengan faktor pengetahuan ibu,

    karakteristik balita, sumber pencemar udara dalam ruang dan lingkungan fisik

    rumah di wilayah kerja Puskesmas DTP Cibeber kabupaten Lebak Propinsi

    Banten tahun 2011.

    1.4.2 Tujuan Khusus

    Tujuan khusus penelitian ini antara lain:

    1. Diketahuinya gambaran kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas

    DTP Cibeber Kabupaten Lebak Propinsi Banten .

    2. Diketahuinya pengetahuan ibu balita tentang ISPA di wilayah kerja

    Puskesmas DTP Cibeber Kabupaten Lebak Propinsi Banten.

    3. Diketahuinya karakteristik balita (berat bayi lahir, status imunisasi, status

    ASI) di wilayah kerja Puskesmas DTP Cibeber kabupaten Lebak Propinsi

    Banten.

    4. Diketahuinya pencemaran udara dalam ruang ( bahan bakar memasak dan

    keberadan perokok) di wilayah kerja Puskesmas DTP Cibeber kabupaten

    Lebak Propinsi Banten.

    5. Diketahuinya lingkungan fisik rumah (ventilasi dan kepadatan penghuni) di

    wilayah kerja Puskesmas DTP Cibeber kabupaten Lebak Propinsi Banten.

    6. Diketahuinya hubungan antara pengetahuan ibu dengan kejadian ISPA pada

    balita di wilayah kerja Puskesmas DTP Cibeber Kabupaten Lebak Propinsi

    Banten.

    7. Diketahuinya hubungan antara karakteristik balita (umur, berat bayi lahir,

    status imunisasi, dan status ASI) dengan kejadian ISPA di wilayah kerja

    Puskesmas DTP Cibeber Kabupaten Lebak Propinsi Banten

    8. Diketahuinya hubungan antara sumber pencemar udara dalam ruang dengan

    kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas DTP Cibeber

    Kabupaten Lebak Propinsi Banten.

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 5

    Universitas Indonesia

    9. Diketahuinya hubungan antara lingkungan fisik rumah dengan kejadian ISPA

    pada balita di wilayah kerja Puskesmas DTP Cibeber kabupaten Lebak

    Propinsi Banten.

    1.5 Manfaat Penelitian

    1.5.1 Manfaat bagi peneliti lain

    Penelitian ini dapat dijadikan bahan acuan awal bagi penelitian selanjutnya,

    terutama untuk penelitian sejenis yang terkait dengan kejadian ISPA.

    1.5.2 Manfaat bagi puskesmas

    Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi petugas kesehatan khususnya

    pengelola program KIA, program P2 ISPA dan bagian promosi kesehatan

    dalam memberikan informasi guna merencanakan program pencegahan dan

    penanganan terhadap kejadian ISPA.

    1.5.3 Manfaat bagi masyarakat

    Hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk masyarakat sebagai informasi

    dalam mengurangi kejadian ISPA pada balita di wilayahnya.

    1.5.4 Manfaat bagi peneliti

    Penelitian ini dapat memberi informasi dan menambah wawasan mengenai

    faktor pengetahuan ibu dan pencemaran udara dalam rumah yang

    mempengaruhi kejadian ISPA pada balita di wilayah Puskesmas DTP

    Cibeber Kabupaten Lebak Propinsi Banten.

    1.6 Ruang Lingkup Penelitian

    Penelitian ini dilakukan untuk mengukur keadaan kondisi fisik rumah,

    sumber pencemar dalam ruang, pengetahuan ibu dan karakteristik balita dengan

    kejadian ISPA pada balita. Penelitian ini dilakukan di wilayah Puskesmas DTP

    Cibeber Kabupaten Lebak pada bulan Mei- Juni 2011.

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 6

    Universitas Indonesia

    Desain studi yang digunakan adalah Cross Sectional yaitu rancangan studi

    penelitian yang bertujuan untuk mempelajari dinamika hubungan antara

    pengetahuan ibu terhadap pencemaran udara dalam rumah dengan kejadian ISPA

    pada balita dengan cara melakukan pengumpulan data secara bersamaan (point

    time approach), menggunakan teknik wawancara dan pengamatan dengan

    menggunakan kuesioner, Populasi dari penelitian ini adalah seluruh ibu balita

    yang berada di wilayah kerja Puskesmas DTP Cibeber, dan sebagai sampelnya

    sebanyak 106 ibu yang memiliki balita yang telah memiliki kriteria inklusi.

    Adapun cara pengumpulan data diperoleh dari data sekunder, dan data

    primer didapat dari hasil wawancara dan pengamatan di lapangan saat melakukan

    penelitian baik terhadap KMS balita dan kondisi fisik rumah dan sumber

    pencemar udara dalam ruang. Yang kemudian diolah menggunakan sistem

    komputerisasi dan disajikan dalam bentuk narasi dan tabel, selanjutnya

    menganalisis ada tidaknya hubungan antara pengetahuan ibu, karakteristik balita,

    sumber pencemar udara dalam ruang dan lingkungan fisik rumah terhadap

    kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas DTP Cibeber Kabupaten

    Lebak Banten.

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 7 Universitas Indonesia

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Infeksi Saluran Pernapasan Akut

    2.1.1 Pengertian

    ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernapasan akut dan mulai

    diperkenalkan pada tahun 1984, dengan istilah Acute Respiratory infectious

    (ARI). Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mengandung tiga unsur, yaitu

    infeksi, saluran pernapasan dan akut. Yang dimaksud dengan infeksi adalah

    masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak

    sehingga menimbulkan gejala penyakit. Saluran pernapasan adalah organ yang

    dimulai dari hidung sampai alveoli beserta organ adneksanya, seperti sinus-sinus,

    rongga telinga tengah dan pleura. Sedangkan infeksi akut adalah infeksi yang

    berlangsung sampai dengan 14 hari (Depkes, 2006)

    ISPA adalah penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan

    atau lebih dari saluran napas mulai dari hidung, hingga alveoli termasuk jaringan

    adneksanya. Infeksi saluran pernapasan meliputi infeksi saluran pernapasan

    bagian atas, seperti nasopharyngitis, pharyngo, dan epiglotitis, dan infeksi saluran

    pernapasan bagian bawah, seperti laryngitis, tracheobronchitis dan bronchitis

    pneumonia (Depkes, 2006).

    Infeksi saluran napas bagian atas adalah infeksi yang disebabkan

    mikroorganisme di struktur saluran napas yang tidak berfungsi saat pertukaran

    gas, termasuk rongga hidung, faring, dan laring yang dikenal dengan ISPA antara

    lain pilek, faringitis atau radang tenggorok, laryngitis, dan influenza tanpa

    komplikasi.

    Saluran pernapasan bagian atas terdiri dari hidung, faring, laring, dan

    epiglotis, yang berfungsi menyaring, menghangatkan, dan melembabkan udara

    yang dihirup.

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 8

    Universitas Indonesia

    2.1.2 Etiologi ISPA

    Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan ricketsia.

    Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus streptokokus, stapilokokus,

    pneumokokus, hemofilus, bordetela dan korinebakterium. Virus penyebab ISPA

    antara lain adalah golongan mikrovirus, adenovirus, koronavirus, pikornavirus,

    mikoplasma, herpesvirus, dan lain-lain (Depkes, 2006).

    Menurut Catsel, et.al. (1991), virus yang terdapat dalam saluran pernapasan

    dibagi atas beberapa macam yaitu:

    1. Virus respiratory syncytial, menyebabkan bronchiolitis

    2. Virus parainfluenza, khususnya tipe 1 menyebabkan sebagian kasus croup,

    bisa menimbulkan infeksi saluran pernapasan atas dan bronchitis.

    3. Virus influenza A dan B menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas selama

    epidemic.

    4. Adenovirus, menyebabkan penyakit saluran pernapasan simptomatik ringan

    atau konjungtivitis, bisa menyebabkan pneumonia fatal.

    5. Rhinovirus, menyebabkan infeksi koriza, infeksi virus Coxsackie terbatas pada

    saluran pernapasan atas. Tipe A menyebabkan herpangina dan

    tonsilopharingitis. Virus Coe (A21) menyebabkan infeksi saluran pernapasan.

    2.1.3 Patofisiologi ISPA

    Sebagian besar ISPA disebabkan oleh virus, meskipun bakteri juga dapat

    terlibat sejak awal atau yang bersifat sekunder terhadap infeksi virus. Semua yang

    infeksi mengakibatkan respon imun dan inflamasi sehingga terjadi pembengkakan

    dan edema jaringan yang terinfeksi. Reaksi inflamasi menyebabkan peningkatan

    produksi mukus yang berperan menimbulkan ISPA, yaitu kongesti atau hidung

    tersumbat, sputum berlebih, dan rabas hidung (pilek). Sakit kepala, demam ringan

    juga dapat terjadi akibat reaksi inflamasi.

    Meskipun saluran napas atas secara langsung terpajan dengan lingkungan,

    infeksi relative jarang meluas menjadi infeksi saluran napas bawah yang

    mengenai bronchus atau alveolus. Terdapat banyak mekanismae perlindungan di

    sepanjang saluran napas untuk mencegah infeksi.

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 9

    Universitas Indonesia

    Range dari mikroba pathogen yang menginfeksi bervariasi sangat luas

    seperti bakteri, mycobacterium, myoplasma, chlamidia, jamur dan virus. Padahal

    karakteristik biologis, gambaran perilaku dan lingkungan dari organisme-

    organisme ini berbeda satu sama lainnya dalam menimbulkan penyakit

    pernapasan (Gwaltney, et.al., 2001 dalam Ariyanto, 2008).

    Agen infeksius memasuki saluran pernapasan dapat dengan cara:

    penyebaran secara homogen, atau dengan inhalasi, ataupun dengan aspirasi ke

    dalam saluran tracheobronchial. Diperkirakan hanya 10-15% anak-anak dengan

    pneumonia yang penyebarluasan penyakit pneumonia balita adalah melalui

    mekanisme nonhematogen.

    Saluran pernapasan memiliki kemampuan untuk menyaring dan menangkap

    kuman pathogen yang masuk dengan cara Refleks batuk, yaitu dengan

    mengeluarkan benda asing dan mikroorganisme, serta mengeluarkan mukus yang

    terakumulasi dan mukosyliaris. Lapisan mukosiliaris yaitu lapisan yang terdiri

    dari sel-sel yang beralokasi dari bronkus ke atas dan mempunyai produksi mukus,

    serta sel-sel silia yang melapisi sel-sel penghasil mukus. Sel penghasil mukus

    menangkap partikel benda asing, dan silia bergerak secara ritmik untuk

    mendorong mukus dan semua partikel yang terperangkap, ke atas cabang

    pernapasan ke nasofaring tempat mukus tersebut dapat dikeluarkan sebagai

    sputum, dikeluarkan melalui hidung atau ditelan. Proses kompleks ini kadang

    disebut sebagai system escalator mukosiliaris. Silia adalah struktur lembut yang

    mudah rusak atau cedera oleh berbagai stimulus berbahaya, termasuk asap rokok.

    Apabila mikroorganisme dapat lolos dari mekanisme pertahanan tersebut

    dan membuat koloni di saluran pernapasan atas, bagian penting pertahanan ketiga

    system imun, akan bekerja untuk mencegah mikroorganisme tersebut sampai ke

    saluran napas bawah. Respon ini diperantarai oleh limfosit, tetapi melibatkan sel

    darah putih lainnya (Corwin, 2009).

    Seperti Kanra, et.al (1997) dalam Ariyanto (2008) mengatakan, makrophag

    alveolar akan mengeliminasi organisme yang mencapai alveoli. Eliminasi

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 10

    Universitas Indonesia

    organisme infeksius diperkuat oleh imununoglobulin G dan A serta faktor lainnya,

    sebagai pelengkap seperti antiprotease, lysoszyme, dan fibronectin.

    Kondisi yang mendukung keadaan yang menyebabkan menurunnya daya

    tahan tubuh, antara lain: infeksi virus yang menyebabkan menurunnya daya tahan

    pada saluran pernapasan, dilakukannya tindakan endotracheal dan traechostomy,

    obat-obat yang berdampak pada reflek batuk, menghambat pergerakan

    mucosiliaris (Kanra, et.al., 1997 dalam Ariyanto, 2008).

    2.1.4 Tanda dan Gejala Penyakit ISPA

    Penyakit infeksi saluran pernapasan meliputi infeksi pada telinga,

    tenggorokan (pharynx) trachea, bronchioli, dan paru. Tanda dan gejala penyakit

    infeksi saluran pernapasan: batuk, sakit tenggorokan, pilek, demam, kesulitan

    bernapas dan sakit telinga. Berdasarkan tingkat keparahannya, infeksi saluran

    pernapasan akut di bagi menjadi tiga kelompok yaitu:

    1. ISPA ringan

    Gejalanya antara lain adalah:

    a. Batuk

    b. Serak yaitu anak bersuara bersuara parau ketika mengeluarkan suara

    (misalnya pada saat berbicara atau menangis)

    c. Pilek yakni anak mengeluarkan lender/ingus dari hidung

    d. Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370C atau jika dahi anak diraba

    dengan punggung tangan terasa panas.

    2. ISPA sedang

    Anak dinyatakan menderita ISPA sedang, bila dijumpai gejal-gejala ISPA

    ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala berikut:

    a. Pernapasan lebih dari 50 kali permenit pada anak berumur kurang dari satu

    tahun atau lebih dari 40 kali permanit pada anak yang berumur satu tahun

    atau lebih.

    b. Suhu lebih dari 390C

    c. Tenggorokan berwarna merah

    d. Timbul bercak-bercak pada kulit menyerupai bercak campak

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 11

    Universitas Indonesia

    e. Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga

    f. Pernapasan berbunyi seperti mendengkur

    g. Pernapasan berbunyi menciut-ciut

    3. ISPA berat

    Anak dinyatakan ISPA berat, jika dijumpai gejala-gejala ISPA ringan dan

    sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala berikut:

    a. Bibir atau kulit membiru

    b. Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada saat bernapas

    c. Anak tidak sadar atau kesadarannya menurun

    d. Pernapasan berbunyi seperti mengorok, menciut dan anak tampak gelisah

    e. Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernapas

    f. Nadi cepat lebih dari 60 kali permanit atau tak teraba

    g. Tenggorokan berwarna merah

    Pada tahun 1998 World Health Organization telah mempublikasikan pola

    baru tatalaksana penderita ISPA. Kriteria untuk menggunakan pola tatalaksana

    penderita ISPA adalah: balita, dengan gejala batuk dan atau kesukaran bernapas.

    Pola tatalaksana penderita ini terdiri dari 4 bagian yaitu:

    a) Pemeriksaan

    b) Penentuan ada tidaknya tanda bahaya

    c) Penentuan klasifikasi penyakit

    d) Pengobatan dan tindakan

    2.1.5 Klasifikasi ISPA

    Dalam penentuan klasifikasi penyakit dibedakan atas dua golongan umur

    yaitu gologan umur 2 bulan sampai dengan < 5 tahun dan golongan umur < 2

    bulan (Depkes, 2006).

    1. Golongan umur 2 bulan sampai dengan < 5 tahun klasifikasi dibagi atas:

    a. Pneumonia berat

    Bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan di dinding dada bagian bawah

    ke dalam pada waktu anak menarik napas ( pada saat diperiksa anak harus

    dalam keadaa tenang, tidak menangis atau meronta).

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 12

    Universitas Indonesia

    b. Pneumonia

    Bila disertai napas cepat. Batas napas cepat adalah:

    1) Untuk usia 2 bulan -12 bulan = 50 kali per menit atau lebih

    2) Untuk usia 1-4 tahun = 40 kali per menit atau lebih

    c. Bukan pneumonia

    Bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas

    cepat.

    Tanda Bahaya untuk golongan umur 2 bulan 5 tahun yaitu:

    1) Tidak bisa minum

    2) Kejang

    3) Kesadaran menurun

    4) Stidor

    5) Gizi buruk (Depkes, 1996)

    2. Untuk kelompok umur < 2 bulan klasifikasi dibagi atas:

    a. Pneumonia berat

    Bila disertai salah satu tanda tarikan kuat di dinding pada bagian bawah atau

    napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan umur kurang dari 2 bulan yaitu

    60 kali per menit atau lebih.

    b. Bukan pneumonia

    Bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau napas

    cepat.

    Tanda Bahaya untuk golongan umur kurang dari 2 bulan, yaitu:

    1) Kurang bisa minum ( kemampuan minumnya menurun sampai kurang dari

    volume yang biasa diminum).

    2) Kejang

    3) Kesadaran menurun

    4) Stridor

    5) Wheezing

    6) Demam/dingin

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 13

    Universitas Indonesia

    2.1.6 Faktor Risiko ISPA

    Berdasarkan hasil penelitian dari berbagai Negara termasuk Indonesia dan

    berbagai publikasi ilmiah, dilaporkan berbagai faktor risiko baik yang

    meningkatkan insiden (morbiditas) maupun kematian (mortalitas) akibat ISPA

    terutama pneumonia:

    1. Faktor risiko yang meningkatkan insiden ISPA (Depkes, 2006)

    a. Umur < 2 bulan

    b. Laki-laki

    c. Gizi kurang

    d. Berat badan lahir rendah

    e. Tidak mendapat ASI memadai

    f. Polusi udara

    g. Kepadatan tempat tinggal

    h. Imunisasi yang tidak memadai

    i. Membedong anak

    j. Defisiensi vitamin A

    k. Pemberian makanan tambahan terlalu dini

    2. Faktor risiko yang meningkatkan angka kematian ISPA (Depkes, 2006)

    a. Umur < 2 bulan

    b. Tingkat sosial ekonomi rendah

    c. Kurang gizi

    d. Berat badan lahir

    e. Tingkat pendidikan ibu yang rendah

    f. Tingkat jangkauan pelayanan kesehatan yang rendah

    g. Kepadatan tempat tinggal

    h. Imunisasi yang tidak memadai

    i. Menderita penyakit kronis

    j. Aspek kepercayaan setempat dalam praktek pencarian pengobatan yang

    salah.

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 14

    Universitas Indonesia

    Faktor risiko yang berhubungan dengan individu dan lingkungan pada

    kejadian pneumonia di klinik anak pada Negara berkembang (Buletin WHO,

    2008) :

    1. Faktor risiko terbatas

    a. Kekurangan gizi (berat menurut umur z score < 2 )

    b. Berat lahir rendah (< 2500 g)

    c. Tidak ASI eksklusif (selama 4 bulan pertama)

    d. Tidak imunisasi campak (selama usia 12 bulan pertama)

    e. Pencemaran udara dalam rumah

    f. Kepadatan hunian

    2. Faktor risiko mungkin

    a. Keluarga yang merokok

    b. Kekurangan seng

    c. Pengalaman ibu dalam pemberian pengobatan

    d. Penyakit penyerta (misalnya. diare, penyakit jantung, asma)

    3. Faktor risiko kemungkinan

    a. Pendidikan ibu

    b. Pengasuh anak

    c. Curah hujan (kelembaban)

    d. Dataran tinggi (udara dingin)

    e. Defisiensi Vitamin A

    f. Jumlah paritas

    g. Pencemaran udara luar

    2.1.7 Penularan ISPA

    Adanya ketertarikan bahwa ada penularan lewat udara yang dapat

    menimbulkan penyakit pernapasan terjadi pada abad ke-19 menurut Williams

    Wells. Konsep ini memperkenalkan adanya droplet nuclei, suatu partikel infeksius

    yang amat kecil berukuran < 10, yang terdapat di udara. Modus transmisi ini

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 15

    Universitas Indonesia

    menjadi hal yang penting dalam epidemiologis perkembangan riwayat pada

    penyakit pernapasan. Karena beberapa hal menunjukkan bahwa tidak semua

    respiratory pathogen bertransmisi dengan cara yang sama (Gwaltney, et.al., 2001).

    Kuman penyakit ISPA ditularkan dari penderita ke orang lain melalui udara

    pernapasan atau percikan ludah penderita. Pada prinsipnya kuman ISPA yang ada

    di udara terhisap oleh pejamu baru dan masuk ke seluruh saluran pernapasan. Dari

    saluran pernapasan kuman menyebar ke seluruh tubuh apabila orang yang

    terinfeksi ini rentan, maka ia akan terkena ISPA (Depkes RI, 1999).

    Menurut Amin (1989) dalam Mudehir (2002) proses penyebaran Infeksi

    Saluran Pernafasan akut dikenal dengan 3 cara, yaitu:

    1. Melalui Aerosol lembut, seperti batuk

    2. Melalui Aerosol keras, seperti batuk dan bersih

    3. Melalui aerosol lebih keras, seperti batuk dan bersin melalui kontak langsung/

    tidak langsung dengan benda-benda yang telah terkontaminasi (hand to hand

    transmission).

    2.1.8 Pencegahan Penyakit ISPA

    Pencegahan dilakukan agar anak bisa bebas dari serangan ISPA atau

    terjadinya ISPA pada anak balita dapat berkurang.

    Sesuai dengan cara terjadinya ISPA, maka cara pencegahan menurut dr. Runizar

    Roesin dan dr. Indriyono (1985) dalam Ariyanto perlu dilakukan terhadap :

    1. Menghindarkan anak dari kuman

    a. Menghindarkan anak berdekatan dengan penderita ISPA, karena kuman

    penyebab ISPA sangat mudah menular dari satu orang ke orang lain.

    b. Jika seorang ibu menderita ISPA sedangkan ia butuh mengasuh anak atau

    menyusui bayinya, ibu tersebut harus menutup hidung dan mulutnya

    dengan sapu tangan.

    2. Meningkatkan daya tahan tubuh anak

    Meningkatkan daya tahan dapat dilakukan dengan jalan berikut ini :

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 16

    Universitas Indonesia

    a. Menjaga gizi anak tetap baik dengan memberikan makanan yang cukup

    bergizi (cukup protein, kalori, lemak, vitamin dan mineral). Bayi-bayi

    sedapat mungkin mendapat air susu ibu sampai usia 2 tahun.

    b. Kebersihan anak harus dijaga agar tidak mudah terserang penyakit

    menular.

    c. Memberikan kekebalan kepada anak dengan memberikan imunisasi.

    3. Memperbaiki lingkungan

    Untuk mencegah ISPA, lingkungan harus diperbaiki khususnya lingkungan

    perumahan.

    a. Rumah harus berjendela agar aliran dan pertukaran udara cukup baik.

    b. Asap dapur dan asap rokok tidak boleh berkumpul dalam rumah. Orang

    dewasa tidak boleh merokok dekat anak atau bayi.

    c. Rumah harus kering tidak boleh lembab.

    4. Sinar matahari pagi harus diusahakan agar dapat masuk ke rumah.

    5. Rumah tidak boleh terlalu padat dengan penghuni.

    6. Kebersihan di dalam dan di luar rumah harus dijaga, rumah harus mempunyai

    jamban yang sehat, dan sumber air bersih.

    7. Air buangan dan pembuangan sampah harus diatur dengan baik, agar nyamuk,

    lalat dan tikus tidak berkeliaran di dalam dan di sekitar rumah.

    2.1.9 Cara Mengatasi Bahaya ISPA

    Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah bahaya ISPA pada balita

    antara lain:

    1. Segera membawa balita ke tempat pelayanan kesehatan terdekat ( Puskesmas

    atau Rumah Sakit) atau menghubungi kader kesehatan terdekat bila

    ditemukan disertai adanya kesulitan bernafas.

    2. Semua bayi umur di bawah 2 bulan yang menderita batuk pilek segera di bawa

    ke tempat pelayanan kesehatan terdekat.

    2.1.10 Program Penanggulngan ISPA

    Pemberantasan penyakit ISPA di Indonesia dimulai pada tahun1984,

    bersamaan dengan dilancarkannya Pemberantasan penyakit ISPA ditingkat global

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 17

    Universitas Indonesia

    oleh WHO. Dalam tatalaksana ISPA tahun1984, dengan klsifikasi penyakit ISPA:

    ISPA ringan, sedang dan berat. Pada tahun 1988, WHO mempublikasikan cara

    diagnosis yang sederhana, praktis, dan tepat guna, dipisahkan antara tatalaksana

    klasifikasi penyakit pneumonia dan penyakit infeksi akut telinga dan tenggorokan.

    Pada lokakarya Nasional ke-3 tahun1990 disepakati pola tatalaksana yang

    diadaptasisesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Sejak tahun 1990 ini

    pemberantasan ISPA dititikberatkan dan difokuskan pada pengendalian

    pneumonia balita (Depkes, 2006).

    Kebijakan pemerintah yang mendukung program ISPA antara lain

    Keputusan Presiden No.36 tahun 1990 tentang KonvensiHak-Hak Anak dan

    UNdang-Undang No. 25 tahun 2000 tentang Program Pembanguna Nasional

    2000-2004. Salah satu sasaran yang akan dicapai adalah menurunkan angka

    kesakitan balita akibat pneumonia pada balita menjadi 3 per 1000 kelahiran hidup.

    Target dalam menurunkan angka kesakitan balita akibat pneumonia adalah dari

    10-20% pada tahun 2000 menjadi 8- 16% pada tahun 2005 (Depkes, 2005).

    2.1.11 Permasalahan ISPA di Indonesia

    Sumber daya manusia (SDM) yang terlibat dalam program pengendalian

    penyakit (P2) ISPA meliputi kader, petugas kesehatan yang memberikan

    tatalaksana ISPA disarana pelayanan kesehatan (polindes, pustu, puskesmas,

    Rumah Sakit, poliklinik), pengelola program ISPA di puskesmas, kabupaten/kota,

    provinsi dan pusat. Upaya peningkatan kualitas SDM P2 ISPA dilaksanakan

    diberbagai jenjang melalui kegiatan diantaranya; pelatihan ISPA bagi kader,

    pelatihan tatalaksana penderita (diintegrasikan dalam pelatihan MTBS), pelatihan

    autopsy verbal, pelatihan audit kasus, pelatihan audit manajemen, pelatihan

    promosi P2 ISPA dan pelatihan tatalaksana kasus ISPA balita di sarana pelayanan

    kesehatan. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan baik di tingkat pusat, provinsi, dan

    kab/kota. Meskipun demikian hingga saat ini kuantitas dan kualitas SDM petugas

    P2 ISPA dirasakan masih kurang (Depkes, 2006).

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 18

    Universitas Indonesia

    2.12 Penatalaksanaan ISPA

    Di Indonesia, ISPA khususnya pneumonia merupakan penyebab kematian

    utama. Dari sekitar 450.000 kematian balita yang terjadi setiap tahun diperkirakan

    ada 150.000kematian balita yang disebabkan oleh ISPA. Ini berarti ada 410

    kematian balita oleh penyakit ISPA(pneumonia) (Depkes, 2006).

    1. Program Pengendalian ISPA

    Program pengendalian ISPA yang dilakukan oleh pemerintah mempunyai

    tujuan utama yaitu :

    a. Menekankan/ mengurangi kematian oleh pneumonia pada balita.

    b. Mengurangi penggunaan antibiotika dan obat yang kurang tepat pada

    pengobatan penyakit ISPA.

    c. Menurunkan kesakitan pneumonia pada kelompok balita.

    Strategi utama untuk menurunkan kematian akibat pneumonia adalah dengan

    cara penemuan dini dan pengobatan secara tepat. Prinsip pengobatan bagi

    penderita ISPA (Depkes, 2006).

    a. Penderita batuk pilek biasa (batuk yang tidak disertai napas cepat/ sesak

    napas) tidak perlu diberi antibiotic. Mereka memerlukan paracetamol bila

    demam dan obat untuk meringankan batuk.

    b. Penderita batuk yang disertai napas cepat (pneumonia) harus mendapatka

    antibiotic selama 5 hari. Antibiotik jenis kotrimoksazol, amoksicillin,

    ampicillin atau penicillin.

    c. Penderita batuk yang disertai napas sesak (pneumonia berat) perlu dirujuk

    ke Rumah Sakit atau puskesmas dengan fasilitas rawat inap.

    Strategi WHO dalam penanggulangan ISPA antara lain:

    a. Meningkatkan cakupan imunisasi

    b. Case manajemen ISPA

    c. Imbauan agar para ibu mencari pengobatan pada petugas kesehatan yang

    terlatih sedini mungkin.

    Kurangnya informasi yang berkaitan dengan pengetahuan dalam

    menghadapi ISPA, cara pengobatan di rumah, dan pencarian pengobatan di luar

    rumah. Program penanggulangan ISPA yang dilaksanakan secara nasional akan

    lebih efisien bila banyak dilakukan pada peningkatan cara ibu mengenali ISPA

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 19

    Universitas Indonesia

    dan cara pencarian pengobatan yang efektif dan efisien, supaya mortalitas dan

    morbiditas bayi dan balita menurun secara bermakna, jika dibandingkan dengan

    hanya mengandalkan petugas kesehatan saja. Maka dengan bertumpu pada

    keberhasilan peningkatan pengetahuan ibu akan menurunkan angka kematian dan

    kesakitan bayi dan balita khususnya dalam program penanggulangan ISPA di

    Indonesia.

    2. Penanggulangan ISPA

    Menurut (Biddulp et.al, 1999 dalam Ariyanto,2008) cara penanggulangan

    penyakit ISPA dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

    a. Pendidikan Kesehatan

    Pendidikan kesehatan terutama diarahkan kepada pencegahan penyakit

    ISPA yaitu:

    a) Primordial Prevention : yang bertujuan menghindari faktor risiko bila

    faktor tersebut belum ditemukan dalam masyarakat, misalnya

    penderita batuk, asap rokok, yang menyebabkan risiko tinggi terhadap

    terjadinya ISPA perlu dihindari dengan cepat.

    b) Primary Prevention yang bertujuan untuk mengurangi atau merubah

    faktor risiko yang telah ada baik pada individu maupun masyarakat,

    misalnya bagaimana mengurangi kepadatan penghuni, memperbaiki

    ventilasi rumah,membuat system dapur sedemikian rupa sehingga

    dapat membatasi penghisapan asap dari kompor. Pencegahan penyakit

    ISPA khususnya pada anak-anak, maka pendidikan kesehatan

    diarahkan terutama pada ibu-ibu.

    b. Pengendalian Infeksi ISPA

    Pengendalian ISPA yang dimaksud adalah pengobatan ISPA, baik ISPA

    bagian atas maupun ISPA bagian bawah. Pengendalian diupayakan

    supaya, ISPA bagian atas tidak menimbulkan komplikasi dan bagaimana

    supaya ISPA bagian bawah tidak terlalu parah.

    c. Imunisasi

    Program imunisasi yang bertujuan untuk mencegah penyakit tertentu

    seperti difteri, campak dan pertusis dapat mengurangi terjadinya

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 20

    Universitas Indonesia

    pneumonia karena penyakit-penyakit tersebut dapat berkomplikasi dengan

    ISPA bagian bawah.

    2.13 Konsep Determinan Kelangsungan Hidup Anak

    Variabel-variabel yang diidentifikasi berhubungan atau berpengaruh, baik

    secara langsung maupun tidak langsung terhadap risiko kesakitan dan kematian

    anak, dalam ilmu kesehatan masyarakat dan kedokteran biasanya hanya mencakup

    faktor-faktor yang berkaitan dengan kesakitan (morbiditas) anak dan kematian

    (mortalitas) anak. Sedangkan dalam ilmu sosial termasuk dalam ilmu demografi,

    mencakup variabel-variabel secara tidak langsung. Faktor penyebab langsung

    (proximate determinants) yaitu faktor ibu, faktor nutrisi, faktor lingkungan dan

    faktor prilaku. Determinan tidak langsung adalah sosial ekonomi budaya, yang

    mempengaruhi risiko kesakitan dan kematian anak melalui faktor-faktor langsung.

    (Monsley, et.al, 1984 dalam Ariyanto, 2008).

    1. Faktor Determinan Langsung

    a. Faktor Lingkungan

    Pencemaran lingkungan dapat terjadi di udara, air, makanan, tempat cuci, kulit

    dan vector. Pencemaran tersebut dapat dideteksi dengan pemeriksaan di

    laboratorium. Di dalam studi kesehatan masyarakat da indikator tertentu yang

    dijadikan standar pemeriksaan, misalnya indikator fisik yang diperkirakan

    munculnya penyakit infeksi seperti kepadatan anggota rumah, luas rumah, luas

    lantai, jenis atap, dinding dan sebagainya.

    b. Faktor Nutrisi

    Nutrisi berperan penting terhadap risiko kematian bayi, dari pola makanan

    dapat menggambarkan masukan bahan bergizi ke dalam tubuh balita dan

    akibat dari kekurangan gizi mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit

    infeksi pada tubuh.

    c. Faktor perilaku

    Faktor perilaku dapat dilihat dari anak atau pengasuhnya (ibu) dalam upaya

    pencegahan penyakit (imunisasi, prophylaxis atau pemeriksaan prenatal bagi

    ibu). Dari segi kuratif misalnyapencarian pengibatan waktu sakit, termasuk

    pengobatan tradisional. Kebiasaan hiduop anak sangat penting diperhatikan

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 21

    Universitas Indonesia

    (kebiasaan mandi memakai sabun, frekuensi ganti makanan, kebiasaan

    memakai alas kaki).

    2. Faktor Determinan Sosial Ekonomi

    Faktor ini dapat dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu :

    a. Faktor- faktor pada tingkat individu

    a) Produktivitas individu, dipengaruhi oleh keterampilan (tingkat

    pendidikan), kesehatan dan waktu.

    b) Faktor bapak/ ibu, sangat ditentukan dengan tingkat pendidikan yang

    berkaitan dengan macam pekerjaan dan kekayaan. Tingkat pendidikan

    bapak/ ibu mempengaruhi sikap dalam kehidupan keluarga terhadap

    tindakan/ perilaku yang dapat memperkecil risiko terhadap kematian

    anak.

    c) Faktor ibu, hubungan biologis yang erat antara ibu dan anak selama

    hamil dan menyusui, maka kesehatan ibu dan status gizi ibu serta pola

    reproduksi ibu sangat mempengaruhi kesehatan dan ketahanan anak

    untuk tetap hidup. Tingkat pendidikan ibu sangat menentukan tindakan

    atau pilihan-pilihan untuk menyelamatkan anak dan peningkatan

    ketahanan anak.

    b. Faktor- faktor pada tingkat keluarga

    Faktor ini berhubungan dengan bentuk benda, jasa dan kekayaan dalam

    rumah tangga yang mempengaruhi ketahanan anak untuk hidup.

    a) Keteraturan mendapatkan makanan untuk memenuhi kebutuhan dari

    bahan bergizi, kebersihan makanan sangat penting dalam mencegah

    penyakit.

    b) Kuantitas dan kualitas air untuk memenuhi kebutuhan minimal bagi

    rumah tangga dan kehidupan rumah tangga.

    c) Pakaian dengan jumlah yang cukup dan bersih bagi anak dan ibu sangat

    berpengaruh terhadap risiko terkena penyakit infeksi pada balita.

    d) Luas dan kualitas rumah tinggal sangat penting, terutama lubang-lubang

    ventilasi dan lubang-lubang untuk sinar matahari berpengaruh terhadap

    risiko terkena penyakit. Pembagian ruang dalam rumah, khususnya

    untuk tidur dll.

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 22

    Universitas Indonesia

    e) Informasi tentang hidup sehat dan tempat-tempat mendapatkan

    perawatan preventif atau kuratif. Informasi dan penerangan gizi sangat

    penting terhadap ketahanan bayi/ balita.

    c. Faktor- faktor pada tingkat masyarakat

    a) Keadaan ekologi, sangat berpengaruh terhadap risiko kesakitan dan

    kematian balita, misalnya suhu, musim, curah hujan, kelembaban udara

    dan sebagainya.

    b) Lembaga-lembaga masyarakat

    Lembaga ini menentukan sekali dalam menghadapi permasalahan

    kesehatan misalnya ada dana sehat, kelompok sukarelawan dalam

    pengendalian dan penanggulangan penyakit, dana sosial dan sebagainya.

    c) Sistem kesehatan

    Sistem ini meliputi tindakan-tindakan pemerintah untuk pencegahan

    seperti imunisasi, pengendalian penyakit menular, sistem rujukan,

    sistem pelayanan masyarakat serta infrastruktur kesehatan.

    2.2 Rumah Sehat

    Seperti tertera dalam keputusan Menteri Kesehatan RI No. 829/Menkes/

    SK/ VII/ 1999, tertanggal 20 juli 1999 bahwa rumah merupakan salah satu

    kebutuhan dasar manusia yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian yang

    digunakan untuk berlindung dari gangguan iklim dan makhluk hidup lainnya,

    serta tempat pengembangan kehidupan keluarga. Sedangakn kesehatan rumah itu

    sendiri berarti adalah kondisi fisik, kimia dan biologis di dalam rumah,

    lingkungan rumah dan perumahan, sehingga memungkinkan penghuni atau

    masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang optimal.

    2.2.1 Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah

    1. Bahan Bangunan

    Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan zat-zat yang dapat

    membahayakan kesehatan antara lain:

    a. Debu total tidak lebih dari 150 g/m3

    b. Asbes bebas tidak melebihi 0,5 fiber/m3/4 jam.

    c. Timah hitam tidak melebihi 300 mg/kg.

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 23

    Universitas Indonesia

    d. Tidak terbuat bahan yang menjadi tumbuh dan berkembang biaknya

    mikroorganisme pathogen.

    2. Komponen dan penataan Ruang Rumah

    Komponen rumah harus memenuhi persyaratan fisik dan biologis sebagai

    berikut:

    a. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan.

    b. Dinding :

    a) Di ruang tidur, ruang keluarga dilengkapi dengan sarana ventilasi

    untuk pengaturan sirkulasi udara.

    b) Di kamar mandi dan kamar cuci harus kedap air dan mudah

    dibersihkan.

    c. Langit-langit harus mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan.

    d. Bumbungan rumah memiliki tinggi 10 meter atau lebih harus dilengkapi

    dengan penangkal petir.

    e. Ruang di dalam rumah harus ditata agar berfungsi sebagai ruang tamu,

    ruang keluarga, ruang makan, ruang tidur, ruang dapur, ruang mandi,

    ruang bermain anak.

    f. Ruang dapur harus dilengkapi dengan sarana pembuangan asap.

    3. Pencahayaan

    Pencahayaan alam dan atau buatan langsung maupun tidak langsung dapat

    menerangi seluruh ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan tidak

    menyilaukan.

    4. Kualitas Udara

    Kualitas udara di dalam rumah tidak melebihi ketentuan sebagai berikut:

    a. Suhu udara nyaman berkisar sampai 180 sampai 300 celcius.

    b. Kelembaban udara berkisar antara 40% sampai 70%.

    c. Konsentrasi gas SO2 tidak melebihi 0,10 ppm/24 jam.

    d. Pertukaran udara (air exchange rate) = 5 kaki kubik per menit per

    penghuni.

    e. Konsentrasi gas CO tidak melebihi 100 ppm/8 jam.

    f. Konsentrasi gas CO tidak melebihi 100 ppm/8 jam.

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 24

    Universitas Indonesia

    5. Ventilasi

    Luas penghawaan atau ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% dari

    luas lantai.

    6. Kepadatan hunian

    Luas ruang tidur minimal 8 meter, atau tidak dianjurkan digunakan lebih dari

    2 orang tidur dalam satu ruang tidur, kecuali anak dibawah 5 tahun.

    2.3 Partikel

    Parameter yang diukur dalam menentukan kualitas udara salah satunya

    adalah partikulat, baik di dalam maupun di luar ruangan. Partikel dapat berupa

    debu padat atau titik-titik cair. Dalam pengendalian polusi udara, maka pajanan

    partikulat terhadap gangguan saluran pernapasan terutama dari dalam rumah

    (indoor particles). Indoor particles ini berasal dari hasil pembakaran

    mikroorganisme yang bersal dari tubuh manusia, hewan, atau tanaman dan

    allergen dari debu rumah, binatang atau serangga (Sunu, 2001).

    Partikulat total yang terdiri dari partikel-partikel berukuran > 10m disebut

    sebagai respiable particulate. Fraksi proporsi respirable particulat juga dapat

    terdiri dari berbagai campuran komposisi partikulat, tetapi memiliki probabilitas

    yang lebih tinggi untuk dapat masuk ke dalam saluran napas bagian bawah karena

    diameter partikel yang lebih kecil (< 10m ) secara potensial dapat melewati

    mekanisme pertahanan saluran napas atas ( Koren, 2002).

    Partikel yang berdiameter lebih dari 5 mikron akan terhenti dan berkumpul

    terutama pada hidung dan tenggorokan. Meskipun partikel tersebut sebagian dapat

    masuk paru-paru tetapi tidak pernah lebih jauh dari kantung-kantung udara atau

    bronchi, bahkan segera dapat dikeluarkan oleh gerakan silia. Partikel dengan

    diameter 0,5-5,0 mikron dapat berkumpul di paru-paru sampai bronchioli, dan

    hanya sebagian kecil sampai alveoli. Partikel yang berdiameter kurang dari 0,5

    mikron dapat mencapai dan tinggal dalam alveoli ( Fardiaz, 1992).

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 25

    Universitas Indonesia

    2.4 Hubungan Kondisi Lingkungan Rumah Dengan Gangguan Saluran

    Pernapasan

    Salah satu gangguan yang mungkin disebabkan oleh pencemaran udara

    dalam ruangan (indoor) adalah infeksi saluran pernapasan akut. ISPA dapat

    meliputi bagian atas saja dan atau bahkan bagian bawah seperti laryngitis,

    tracheobronchitis, bronchitis dan pnemonia (Depkes RI, 1993). Secara garis

    besarnya, kualitas udara dalam ruangan dipengaruhi oleh asap dalam ruangan

    yang bersumber dari perokok, penggunaan bahan bakar kayu / arang /minyak

    tanah dan penggunaan obat nyamuk bakar. Disamping itu ditentukan oleh

    ventilasi, tata ruangan dan kepadatan penghuninya.

    Manusia sebagai makhluk hidup sangat bergantung pada udara untuk

    kelangsungan hidupnya. Kualitas udara yang buruk akan meningkatkan terjadinya

    penyakit saluran pernapasan diantaranya ; (Kusnoputranto, 2000)

    1. ISPA karena ventilasi tidak adekuat dan kepadatan hunian sehingga infeksi

    silang meningkat

    2. Asma dan penyakit alergi lainnya terutama pada balita yang disebabkan oleh

    asap rokok

    3. Bronchitis kronis

    4. Meningkatnya risiko kanker paru yang disebabkan asap rokok, dan polutan

    dari luar rumah

    5. Penyakit TBC.

    2.5 Faktor- Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Kejadian ISPA Pada Balita

    Kejadian ISPA terkait erat dengan pengetahuan tentang ISPA yang dimiliki

    oleh masyarakat khususnya ibu, karena ibu sebagai penanggung jawab utama

    dalam pemeliharaan kesejahteraan keluarga. Mereka mengurus rumah tangga,

    menyiapkan keperluan rumah tangga, merawat keluarga yang sakit, dan lain

    sebagainya. Pada masa balita dimana balita masih sangat tergantung kepada

    ibunya, sangatlah jelas peranan ibu dalam menentukan kualitas kesejahteraan

    anaknya (Nadesul, 2002).

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 26

    Universitas Indonesia

    Kondisi udara dalam rumah yang tercemar (mengalami polusi) ini perlu

    dicegah dalam rangka menurunkan kejadian ISPA pada balita. Hal ini diperkuat

    hasil kajian yang dilakukan oleh UNICEF dan WHO yang menyatakan bahwa

    salah satu cara mencegah kejadian ISPA pada balita adalah mengurangi

    pencemaran udara dalam rumah (reducing indoor air pollution).

    Salah satu faktor yang mempengaruhi ISPA adalah merokok. Satu batang

    rokok dibakar maka akan mengeluarkan sekitar 4000 bahan kimia seperti nikotin,

    gas karbon monoksida, nitrogen oksida, hidrogen cianida, amonia, acrolein,

    acetilen, benzoldehide, urethane, methanol, conmarin, 4-ethyl cathecol, ortcresor

    peryline dan lainnya.

    Berdasarkan hasil penelitian Surjadi, ISPA yang terjadi pada ibu dan anak

    berhubungan dengan penggunaan bahan bakar untuk memasak dan kepadatan

    hunian rumah, demikian pula terdapat pengaruh pencemaran di dalam rumah

    terhadap ISPA pada anak dan orang dewasa. Pembakaran pada kegiatan rumah

    tangga dapat menghasilkan bahan pencemar antara lain asap, debu, grid (pasir

    halus) dan gas (CO dan NO). Demikian pula pembakaran obat nyamuk,

    membakar kayu di dapur mempunyai efek terhadap kesehatan manusia terutama

    Balita baik yang bersifat akut maupun kronis. Gangguan akut misalnya iritasi

    saluran pernafasan dan iritasi mata.

    Faktor lingkungan rumah seperti ventilasi juga berperan dalam penularan

    ISPA, dimana ventilasi dapat memelihara kondisi atmosphere yang

    menyenangkan dan menyehatkan bagi manusia. Suatu studi melaporkan bahwa

    upaya penurunan angka kesakitan ISPA berat dan sedang dapat dilakukan di

    antaranya dengan membuat ventilasi yang cukup untuk mengurangi polusi asap

    dapur dan mengurangi polusi udara lainnya termasuk asap rokok. Anak yang

    tinggal di rumah yang padat (

  • 27

    Universitas Indonesia

    2.5.1 Pengetahuan Ibu

    Menurut Notoatmodjo (2010) pengetahuan adalah merupakan suatu hasil

    dari tahu, sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indera

    penglihatan dan indera pendengaran. Apabila suatu tindakan didasari oleh

    pengetahuan maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng, sebaliknya apabila

    tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama.

    Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan

    seseorang. Pengetahuan mempunyai 6 tingkatan, yaitu:

    1. Tahu (know)

    Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah, yang diartikan

    sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya dengan cara

    menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.

    2. Memahami (comprehension)

    Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara

    benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan dengan benar

    pula.

    3. Aplikasi (aplication)

    Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang

    telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.

    4. Analisis (analysis)

    Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu

    objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih dalam struktur organisasi dan

    masih ada kaitannya satu sama lain.

    5. Sintesis (synthesis)

    Sistesis menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau

    menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru

    (menyusun formulasi baru dari formulasi yang sudah ada).

    6. Evaluasi (evaluation)

    Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau

    penilaian terhadap suatu materi atau objek berdasarkan kriteria sendiri atau

    menggunakan kriteria yang sudah ada.

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 28

    Universitas Indonesia

    Menurut pendeketan konstruktivitas, pengetahuan bukanlah fakta dari suatu

    kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif

    seseorang terhadap obyek, pengalaman, maupun lingkungannya. Pengetahuan

    bukanlah sesuatu yang sudah ada dan tersedia dan terus menerus oleh seseorang

    yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman

    baru.

    Beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang, yaitu :

    1. Pendidikan

    Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan

    kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.

    Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seseorang

    makin mudah orang tersebut menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi maka

    seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik dari orang lain

    maupun dari media massa. Semakin banyak informasi yang masuk semakin

    banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan.

    Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan

    seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula

    pengetahuannya. Namun perlu ditekankan bahwa seseorang yang berpendidikan

    rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah pula. Peningkatan

    pengetahuan tidak mutlak diperoleh di pendidikan formal, akan tetapi juga dapat

    diperoleh pada pendidikan non formal. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu

    objek juga mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan negatif. Kedua aspek

    inilah yang akhirnya akan menentukan sikap seseorang terhadap objek tertentu.

    Semakin banyak aspek positif dari objek yang diketahui, akan menumbuhkan

    sikap makin positif terhadap objek tersebut.

    2. Mass media/ informasi

    Informasi yang diperolah baik dari pendidikan formal maupun non formal

    dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact) sehingga

    menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan. Majunya teknologi akan

    tersedia bermacam-macam media massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan

    masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk

    media massa seperti, televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 29

    Universitas Indonesia

    pengaruh besar terhadap pembentukkan opini dan kepercayaan orang. Dalam

    penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula

    pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya

    informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi

    terbentuknya pengetahuan terhadap hal tersebut.

    3. Sosial budaya dan ekonomi

    Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui penalaran

    apakah yang dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian seseorang akan

    bertambah pengetahuannya walaupun tidak melakukan. Status ekonomi seseorang

    juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan

    tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan

    seseorang.

    4. Lingkungan

    Lingkungan merupakan segala sesuatu yang berada di sekitar individu, baik

    lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap

    proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan

    tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik maupun tidak yang

    akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap individu.

    5. Pengalaman

    Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk

    memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali

    pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi masa

    lalu. Pengalaman belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan

    pengetahuan dan keterampilan professional serta pengalaman belajar selama

    bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan mengambil keputusan yang

    merupakan manifestasi dari keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang

    bertolak dari masalah nyata dalam bidang kerjanya.

    6. Usia

    Usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin

    bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya,

    sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya,

    individu akan berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 30

    Universitas Indonesia

    banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju

    usia tua, selain itu orang usia madya akan lebih banyak menggunakan waktu

    untuk membaca. Kemampuan intelektual, pemecahan masalah, dan kemampuan

    verbal dilaporkan hampir tidak ada penurunan pada usia ini. Dua sikap tradisional

    mengenai jalannya perkembangan selama hidup :

    1. Semakin tua semakin bijaksana, semakin banyak informasi yang dijumpai dan

    semakin banyak hal yang dikerjakan sehingga menambah pengetahuannya.

    2. Tidak dapat mengajarkan kepandaian baru kepada orang yang sudah tua

    karena mengalami kemunduran baik fisik maupun mental. Beberapa teori

    berpendapat bahwa IQ sesorang akan menurun cepat sejalan dengan

    bertambahnya usia.

    Suatu studi intervensi berdasarkan pendekatan budaya lokal menunjukkan

    adanya peningkatan skor rerata pengetahuan tentang pneumonia pada ibu balita

    yang mendapatkan pendidikan kesehatan dari kader terlatih lebih tinggi bermakna

    4 kali jika di bandingkan dengan peningkatan skor rerata pengetahuan tentang

    pneumonia pada ibu balita yang tidak mendapat pendidikan kesehatan (Kresno

    dalam Ariyanto, 2006).

    Hasil penelitian Ariyanto (2006), menunjukkan bahwa ibu balita yang

    pengetahuannya kurang tentang ISPA mempunyai risiko terhadap balitanya untuk

    menderita ISPA 3,67 kali lebih besar dibandingkan dengan pengetahuan ibu yang

    baik tentang ISPA.

    2.5.2 Berat Bayi Lahir

    Berat badan lahir ditetapkan dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. Bayi

    dengan Berat Lahir Rendah (BBLR) akan meningkatkan resiko kesakitan dan

    kematian karena bayi rentan terhadap kondisi-kondisi infeksi saluran pernapasan

    bagian bawah.

    Ibu yang sedang hamil harus mendapatkan asupan makanan yang cukup

    dengan gizi seimbang, kekurangan asupan gizi pada saat hamil dapat

    menyebabkan bayi yang dilahirkan berat badannya rendah. Penyakit anemia

    defisiensi zat besi pada ibu yang tengah hamil juga dapat menyebabkan bayi lahir

    dengan berat badan rendah atau bayi lahir prematur. Jika ibu hamil menderita

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 31

    Universitas Indonesia

    anemia berat, risiko morbiditas maupun mortalitas bagi ibu dan bayinya meninggi,

    kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan premature lebih besar (Pudjiadi, 2000).

    Berat badan lahir menentukan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan

    mental pada masa balita. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dapat

    menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti gangguan gizi dan

    kecenderungan untuk mudah menderita penyakit menular seperti ISPA, diare, dsb.

    Dari hasil penelitian, didapatkan adanya hubungan bermakna antara berat lahir

    rendah dengan kejadian ISPA pada balita (Ariyanto, 2006).

    2.5.3 Status ASI

    ASI merupakan makanan paling baik untuk bayi. Komponen ASI sudah

    cukup menjaga pertumbuhan dari lahirnya bayi sampai umur 6 bulan. Bayi harus

    diberikan ASI secara penuh sampai mereka berumur 4-6 bulan (Depkes, 2002).

    Lebih dari 6 bulan pemberian ASI maka kebutuhan bayi harus diteruskan atau

    ditambahkan dengan pemberian makanan pendamping selain ASI (proses

    menyapih).

    Air Susu Ibu (ASI) Ekslusif berarti hanya memberikan ASI saja, tanpa

    tambahan makanan atau minuman apapun (seperti susu formula, jeruk, madu, air

    teh, air putih), dan tanpa makanan tambahan (seperti pisang, pepaya, bubur susu,

    biskuit, bubur nasi dan tim). Anak sampai usia enam bulan pertama hanya

    membutuhkan ASI saja. ASI menyediakan segala-galanya yang dibutuhkan anak

    usia ini (BKKBN, 2001).Sedangkan menurut Rusli (2004) ASI Ekslusif adalah

    pemberian ASI saja kepada bayi sampai umur 6 bulan tanpa memberikan

    makanan/cairan lain.

    ASI mempunyai khasiat preventif secara imunologik dengan adanya

    antibody dan zat-zat lain yang dikandungnya. ASI turut memberikan perlindungan

    terhadap berbagai penyakit khususnya penyakit infeksi (Depkes, 2002).

    ASI kaya akan faktor antibodi untuk melawan infeksi-infeksi bakteri dan

    virus. Terutama selama minggu pertama (4 sampai 6 hari) payudara akan

    menghasilkan kolostrum, yaitu ASI awal yang mengandung zat kekebalan

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 32

    Universitas Indonesia

    (imunoglobin, komplemen, lisozim, laktoferin, dan sel-sel leukosit) yang sangat

    penting untuk melindungi bayi dari infeksi. Bayi yang mendapat ASI Ekslusif

    lebih tahan terhadap ISPA (lebih jarang terserang ISPA), karena dalam air susu

    ibu terdapat zat anti terhadap kuman penyebab ISPA (Anonim, 2004).

    Sementara itu, sel limfosit B di lamina propria payudara memproduksi IgA1

    yang disekresi, berupa sIgA1. SIgA ASI mengandung antibodi terhadap virus

    polio, rotavirus, influenza, Haemophilus influenzae, virus respiratory sinsisial

    (RSV), streptococcus pneumoniae, shigela, salmonella dan E.coli. Oleh kaena itu,

    ASI mampu mengurangi morbiditas Infeksi saluran pencernaan dan pernapasan

    bagian atas. SIgA ASI meningkat pada mukosa traktus respiratorius di empat hari

    pertama kehidupan, sehingga dapat mengurangi penyakit otitis media dan

    pneumonia. Fakta tersebut lebih nyata pada enam bulan pertama, namun bisa

    tampak hingga tahun kedua.

    Svanborg dan timnya telah melakukan penyelidikan yang luas dalam

    kemampuan ASI untuk melindungi lapisan usus dari bakteri pneumokokus invasif

    seperti yang menyebabkan peningkatan tingkat infeksi saluran pernapasan atas

    dan otitis media pada anak-anak tidak disusui . Studi meyakinkan juga

    menunjukkan perlindungan yang signifikan terhadap diare, infeksi saluran

    pernapasan, otitis media (infeksi telinga), atau infeksi saluran kemih, tim

    Silfverdal juga menyarankan bahwa peningkatan sistem kekebalan tubuh bisa

    bertahan selama tahunan, di luar periode menyusui itu sendiri (The Pediatric

    Infectious Disease Journal, 2002).

    Penelitian Gani (2004), menunjukkan bahwa anak balita yang menderita

    ISPA 5,3 kali tidak mendapatkan ASI eksklusif dibandingkan dengan anak balita

    yang tidak menderita ISPA.

    2.5.4 Status Imunisasi

    Imunisasi adalah salah satu bentuk intervensi kesehatan yang dapat di terima

    semua kalangan dan sangat efektif dalam upaya menurunkan kematian bayi dan

    balita. Tujuan pemberian imunisasi adalah memberika kekebalan pada anak balita

    terhadap penyakit tertentu. Imunisasi dasar bagi balita meliputi imunisasi BCG,

    DPT, Polio, dan campak sebelum balita berumur 1 tahun. Balita yang tidak

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 33

    Universitas Indonesia

    mendapatkan imunisasi dasar lengkap, maka akan mudah terserang penyakit.

    Imunisasi dasar yang tidak lengkap, maksimum hanya dapat memberikan

    perlindungan 25%-40%, sedangkan anak yang sama sekali tidak diimunisasi,

    tentu tingkat kekebalannya lebih rendah lagi (Ibrahim dalam Arianto, 2006).

    Infeksi Saluran Pernapasan Akut adalah salah satu jenis penyakit yang dapat

    dicegah dengan imunisasi, penyakit yang tergolong ISPA yang dapat dicegah

    dengan imunisasi adalah difteri, batuk rejan dan campak.

    Disisi lain penyakit ISPA pada saat ini tidak dapat dicegah secara langsung

    melalui imunisasi, karena belum tersedianya vaksin yang khusus untuk mencegah

    penyakit ISPA (Arthag, 1992).

    Penelitian di Indramayu (Sutrisna, 1993) mengidentifikasi adanya hubungan

    antara status imunisasi campak dan timbulnya kematian akibat ISPA, anak-anak

    yang belum pernah menderita campak dan belum mendapatkan imunisasi campak

    mempunyai resiko meninggal lebih besar.

    2.5.5 Ventilasi

    Ventilasi mempunyai fungsi sebagai sarana sirkulasi udara segar masuk ke

    dalam rumah dan udara kotor keluar rumah. Rumah yang tidak dilengkapi sarana

    ventilasi akan menyebabkan suplai udara segar dalam rumah menjadi sangat

    minimal. Kecukupan udara segar dalam rumah ini sangat dibutuhkan untuk

    kehidupan bagi penghuninya, karena ketidakcukupan suplai udara akan

    berpengaruh pada fungsi fisiologis alat pernafasan bagi penghuninya, terutama

    bagi bayi dan balita. Rumah yang tidak memiliki ventilasi yang memadai akan

    menyebabkan gangguan kesehatan, karena :

    - Kadar O2 menurun

    - Kadar CO2 naik

    - Kelembaban naik

    - Ruangan jadi berbau

    - Mikroorganisme berkembang biak

    Luas lubang ventilasi yang permanen minimal 5% dari luas lantai, apabila

    ditambah dengan lubang ventilasi incidental seperti jendela dan pintu sebesar 5%

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 34

    Universitas Indonesia

    maka luas ventilasi minimal adalah 10% dari luas lantai. Kelembaban

    ruang/kamar tidur akan terasa nyaman, apabila ventilasinya memenuhi syarat,

    sehingga dapat menghasilkan udara yang nyaman dengan suhu 20-250C, dengan

    kelembaban udara berkisar 60% (Gunawan dalam Irianto, 2006).

    Udara yang masuk ke dalam ruangan sebaiknya udara bersih yang tidak

    mengandung debu atau berbau, agar terjadi sirkulasi udara segar sehingga

    penghuni tidak menghirup udara berdebu dan berbau. Sedangkan ventilasi yang

    kurang dari 10% dari luas lantai akan menyebabkan terjadinya kepengapan,

    menyebabkan bronchitis, asma kambuh, serta terjadinya penularan penyakit ISPA.

    Beberapa hasil penelitian menyatakan diantaranya oleh Wattimena (2004)

    menyatakan bahwa ada hubungan bermakna antara ventilasi kamar dengan

    kejadian ISPA pada balita. Irianto (2006), bahwa balita yang tinggal di rumah

    dengan ventilasi ruang keluarga yang tidak memenuhi syarat memiliki resiko

    2,298 kali untuk menderita penyakit ISPA dibandingkan dengan balita yang

    tinggal pada rumah dengan ventilasi ruang keluarga memenuhi syarat.

    2.5.6 Kepadatan Hunian

    Kepadatan hunian yang dimaksud adalah kepadatan hunian dalam rumah

    yaitu jumlah penghuni yang tinggal bersama dengan balita. Menurut keputusan

    menteri kesehatan nomor 829/MENKES/SK/VII/1999 tentang persyaratan rumah,

    satu orang minimal menempati luas rumah 8m2. Dengan kriteria tersebut

    diharapkan dapat mencegah penularan penyakit dan melancarkan aktivitas

    (Depkes, 2001).

    Untuk kamar tidur diperlukan luas lantai minimum 3m2/ orang dan untuk

    mencegah penularan penyakit pernapasan jarak antara tepi tempat tidur yang satu

    dengan yang lain minimum 90 cm. Sebaiknya jangan digunakan tempat tidur

    bertingkat, karena tempat tidur semacam ini juga mempermudah penularan

    penyakit pernapasan (droplet infection).

    Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni lebih dari 2 orang, kecuali untuk suami

    istri dan anak di bawah 2 tahun yang biasanya masih sangat memerlukan

    kehadiran orang tua.

    Kejadian ISPA..., Yuyu Sri Rahayu, FKM UI, 2011

  • 35

    Universitas Indonesia

    Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat

    bermakna antara kepadatan hunian dengan terjadinya penyakit ISPA seperti

    penelitian Wattimena (2004) dan Irianto (2006) menunjukkan bahwa kepadatan

    hunian berpengaruh pada besarnya kejadian ISPA, yaitu besarnya anak terkena

    ISPA adalah 2,45 kali lipat dan 2,27 kalinya dari rumah yang padat penghuninya

    dibandingkan dengan rumah yang tidak padat penghuninya.

    Hasil penelitian Tupasi (1995), juga mengemukakan bahwa kepadatan

    hunian yang banyak berperan pada kejadian ISPA ialah kepadatan hunian kamar

    tidur (sleeping density) yang umumnya sangat rawan di Negara yang sedang

    berkembang. Jika kepadatan hunian di kamar tidur melebihi 3 orang dalam satu

    kamar maka besarnya risiko anak terkena ISPA 1,2 kalinya.

    2.5.7 Adanya Perokok Dalam Rumah

    Merokok diketahui mengganggu efektivitas sebagian mekanis