Kegelisahan Pecinan Menghadapi Geger Dipanagara

  • View
    48

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

diponegoro and java war a little sketch

Text of Kegelisahan Pecinan Menghadapi Geger Dipanagara

Kegelisahan Pecinan Menghadapi Geger DipanagaraKisah Kapitan Cina di Semarang yang menolak binasa akibat politik segregasi pada awal kecamuk Perang Jawa.Klenteng Tay Kak Si di kawasan Gang Lombok, pecinan lama Semarang, didirikan pada 1746 dan merupakan klenteng tertua di kota itu. Ketika pembantaian orang-orang Cina merebak pada awal Perang Jawa, klenteng ini digunakan sebagai tempat mengungsi untuk perempuan dan anak-anak. (Hafidz Novalsyah/NGI)Perang Jawa pecah di Yogyakarta pada pertengahan 1825. Namun, kasak-kusuk yang tersiar hingga pantai utara Jawa masih berseliweran. Kabar yang terwartakan pun beragam: seorang raja tengah memberontak, musuh dari luar negeri yang tengah berperang dengan serdadu Belanda, hingga aksi gerombolan pengacau. Di Semarang, kabar tersebut sungguh menggelisahkan warga. Politik segregasi telah menjadi karakter Perang Jawa. Pembantaian warga pecinan yang dilakukan laskar Dipanagara bukan hal garib pada awal perang. Sejak mendeklarasikan diri sebagai Sultan Ngabdulkamid Erucakra Sayidin Panatagama Khalifat Rasulullah pada Agustus 1825, Dipanagara menyerukan untuk membinasakan orang Belanda dan Cina di Tanah Jawa, jika mereka tidak bersedia menganut Islam. Tampaknya Sang Pangeran selalu melihat bahwa orang Cina merupakan sumber penindasan perekonomian Jawa, dan pendapat ini berlaku sampai akhir perang.Pembantaian warga pecinan yang dilakukan laskar Dipanagara bukan hal garib pada awal perang.Baru pada bulan-bulan berikutnya, warga pecinan Semarang mengetahui peristiwa yang sesungguhnya. Para serdadu Belanda kerap singgah di Semarang, sebelum mereka melanjutkan penumpasan pemberontakan ke Grobogan. Warga menjuluki masa-masa itu sebagai Geger Dipanagara.Sekitar seabad setelah kecamuk Perang Jawa, Liem Thian Joe (1895-1963) menulis tentang kegelisahan warga pecinan Semarang ketika marak pembantaian orang-orang Cina yang tampaknya dilakukan oleh laskar Dipanagara. Liem merupakan seorang jurnalis kawakan asal Parakan, namun besar di Semarang. Demi keamanan kawasan Pecinan Semarang, Liem berkisah,Kapitan Cina Tan Tiang Tjhingmengajukan permintaan kepada pemerintah Belanda. Permintaan Sang Kapitan untuk membuat pintu gerbang di empat penjuru pecinan pun dikabulkan.Gerbang Pecinan di Semarang. Gerbang berlokasi di pertigaan Gang Warung, Jalan Beteng, dan Jalan K.H. Wahid Hasyim. Pecinan ini pernah dilengkapi pintu gerbang berlapis tembok di empat penjuru untuk pertahanan, seiring maraknya pembantaian orang Cina pada awal Perang Jawa. (Tantyo Bangun)Satu gerbang dibangun di ujung Jalan Sebandaran, di jalan yang membelok ke Jagalan. Kemudian gerbang lainnya di mulut Jalan Cap-kauw-king (kini Jalan Wotgandul Barat) kawasan Petak Sembilanbelas di Beteng. Gerbang di Gang Warung (kini pintu utama pecinan) sekitar ujung barat Pecinan Lor. Kemudian, gerbang di seberang Jembatan Pekojan (kini Jalan Pekojan). Liem berkisah bahwa keempat gerbang itu dibangun lewat dana yang dikumpulkan dari penghuni Pecinan Semarang.Liem mengungkapkan bahwa keempat pintu gerbang itu dilapisi tembok tebal sehingga tidak mudah didobrak. Dalam satu gerbang dibuat pintu besar dan pintu kecil yang dibuat di daun pintu besar. Gerbang itu dijaga bergiliran oleh warga pecinan yang sudah dewasa pada setiap malam.Pintu itu ditutup setiap hari jika cuaca mulai gelap, ungkap Liem, hanya mereka yang punya keperluan penting saja yang diperkenankan keluar, dan mereka harus lewat pintu kecil yang sengaja dibuat di daun pintu itu, sekedar cukup buat satu orang keluar atau masuk.Liem mengungkapkan bahwa keempat pintu gerbang itu dilapisi tembok tebal sehingga tidak mudah didobrak.Salah satu pembantaian sadis dilakukan oleh Raden Ayu Yudakusuma, anak perempuan dari Sultan Kedua. Dia merupakan komandan pembantaian warga Cina di Ngawi pada September 1826. Akhir tahun berikutnya, Raden Tumenggung Aria Sasradilaga, ipar Dipanagara, membantai warga pecinan di Lasem dan menjamahi perempuan Cina secara paksapemerkosaan.Tampaknya kabar pembantaian di kawasan di pesisir utara Jawa itu sampai juga ke telinga Kapitan Cina Tan Tiang Tjhing. Dia telah mengambil keputusan kritis: Jika warganya kalah dalam pertempuran ini,Klenteng Tay Kak Siberikut perempuan dan anak-anak yang mengungsi di dalamnya akan dibakar supaya mereka tidak mengalami penganiayaan. Sang Kapitan pun membuat pertahanan berupa tumpukan kayu-kayu bakar di sekeliling klenteng.Salah satu gerbang Pecinan Semarang yang dibangun di empat penjuru. Gerbang ini diduga dibangun pada awal Perang Jawa. Kini, bangunan bersejarah ini telah lenyap. (Foto dalam Liem Thian Joe, "Riwayat Semarang" yang diterbitkan pertama kali oleh Boekhandel Ho Kim Joe-Semarang-Bataviapada 1933. Penerbit Hasta Wahana Jakarta menerbitkan kembali pada 2004.)Liem berkisah, suatu hari pada 1826 warga pecinan segera menutup warung mereka dan bersiap menghadapi perlawanan para berandaldemikian Liem menyebut gerombolan pengacau yang kerap menyerang pecinan. Kekuatan dipusatkan di gerbang Pekojan karena mereka beranggapan berandal yang menyerang pecinan pasti melewati gerbang tersebut.Orang telah memilih klenteng besar sebagai tempat pengorbanan, ungkap Liem, tidak ada tempat yang lebih suci daripada klenteng [...] hingga jika mereka dibakar di situ, niscaya roh mereka akan mendapat perlindungan.Keresahan itu tak hanya melanda warga Pecinan Semarang, tetapi juga tetangga mereka: Warga Pekojankampung muslim keturunan Koja asal Gujarat, India barat. Liem mengisahkan kedua kampung itu pada akhirnya bekerja sama menghalau para pengacau yang kerap membantai orang-orang Cina pada tahun-tahun awal Perang Jawa. Tampaknya perbedaan keyakinan tidak menghalangi mereka untuk memberikan teladan hidup bertetangga.Mereka bergerak ke Gedangan, sisi timur kota. Orang-orang Koja berada di barisan depan, sementara orang-orang Cina berada di barisan belakang. Kalau mereka berpapasan dengan berandal, kisah Liem, grup orang Koja akan memberi tanda dengan satu letusan mercon besar, dan grup Tionghoa harus datang membantu.Tampaknya perbedaan keyakinan tidak menghalangi mereka untuk memberikan teladan hidup bertetangga.Awalnya kisah tentang kehidupan sosial dan budaya orang-orang Tionghoa di Semarang diungkap Liem dalam seri catatannya yang terbit di majalahDjawa Tengah Reviewpada Maret 1931 hingga Juli 1933.Selanjutnya pada paruh kedua 1933, untaian tulisan Liem dalam majalah itu disatukan dalam buku berjudulRiwajat Semarang : dari djamannja Sam Poo sampe terhapoesnja Kongkoan.Lalu, sekitar satu dekade silam buku tersebut diterbitkan ulang.Meskipun tampaknya Pecinan Semarang selamat dari aksi penjarahan dan pembantaian, peristiwa kecamuk Perang Jawa telah menjadi suatu tengara masa bagi warga setempat. Banyak anak-anak Tionghoa atau orang pribumi yang lahir pada zaman itu diberi nama Geger, ungkap Liem, untuk peringatan bahwa anak itu telah lahir saat zaman gegeran.Sejarah mencatat, Tan Tiang Tjhing diangkat sebagai letnan tituler pada 1809 dan menjadi mayor Cina pertama di Semarang pada 1829. Setahun sebelum menjabat sebagai mayor, jabatan kapitan diwariskan kepada putranya, Tan Hong Yan. Nama ayah dan anak ini sohor karena turut menguasai bisnis madat di Jawa pada awal abad ke-19.Apakah kita masih bisa menemui empat pintu gerbang pecinan yang dibangun atas prakarsa Kapitan Cina Tan Tiang Tjhing?Sayangnya keempat gerbang tadi sudah tidak ada bekasnya lagi, ujar Yogi Fajri, pegiat dan ketua komunitas pemerhati sejarah Lopen Semarang. Menurut pengamatannya, banyak bangunan asli khas arsitektur Tionghoa telah lenyap dan sulit ditemui lagi di jalan-jalan utama kawasan pecinan. Kebanyakan udah dirombak pada masa Orde Baru, imbuh Yogi, "dan itu berlanjut hingga sekarang."(Mahandis Yoanata Thamrin)

Tongkat pusaka Sang Pangeran dipulangkan dari Belanda ke Indonesia.Tongkat Pangeran Diponegoro (A Lost Pusaka Returned/Peter Carey/Infografik: Andriansyah/Kompas)Ada kejutan pada malam pembukaan pameran "Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa, dari Raden Saleh hingga Kini" di Galeri Nasional, Jakarta, Kamis (5/2). Tongkat pusaka Sang Pangeran dipulangkan dari Belanda ke Indonesia.Pengembalian tongkat itu mengejutkan karena benda tersebut sudah 181 tahun disimpan salah satu keluarga keturunan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jean Chretien Baud (1833-1834). "Saya juga tidak diberi tahu sebelumnya kalau ada penyerahan pusaka tongkat Pangeran Diponegoro pada acara pembukaan ini," kata Kepala Galeri Nasional Tubagus "Andre" Sukmana.Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan meresmikan pembukaan pameran yang dijadwalkan berlangsung hingga 8 Maret 2015 itu. Terkait pengembalian tongkat, Anies mengucapkan terima kasih. "Atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia, kami berterima kasih kepada keluarga Baud yang telah menyimpan dengan baik dan memulangkan pusaka tongkat Diponegoro ini kembali ke Pulau Jawa," katanya.Pengembalian tongkat Diponegoro (1785-1855) juga disambut meriah para seniman, budayawan, dan pemerhati sejarah yang hadir di Galeri Nasional. Benda itu selanjutnya disimpan di Museum Nasional sebagai artefak penting milik negara dan rakyat Indonesia.Sejarah tongkatBagaimana sebenarnya kisah tongkat itu? Menurut ahli sejarah Diponegoro asal Inggris, Peter Carey, tongkat tersebut diperoleh Pangeran dari warga pada sekitar tahun 1815. Tongkat itu lantas digunakan semasa menjalani ziarah di daerah Jawa selatan, terutama di Yogyakarta. Itu terjadi sebelum Diponegoro mengobarkan perang terhadap Hindia Belanda pada 1825-1830."Penyerahan (tongkat itu ke Indonesia) dirahasiakan sesuai permintaan keluarga yang menyimpan pusaka tongkat Diponegoro tersebut di Belanda," kata Peter, yang juga menjadi salah satu kurator pameran, selain Werner Kraus (Jerman) dan Jim Supangkat (Indonesia).Lukisan mahakarya Raden Saleh yang berkisah tentang suasana penangkapan Pangeran Dipanagara di Wisma Residen Kedu di Magelang. Sussane Erhards, ahli restorasi karya seni dari GRUPPE Koln Jerman, bersama timnya telah merampungkan proses restorasi dan preservasi