Click here to load reader

KEEFEKTIFAN PENERAPAN KOMBINASI MODEL KOOPERATIF TIPE TGT

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of KEEFEKTIFAN PENERAPAN KOMBINASI MODEL KOOPERATIF TIPE TGT

Volume 1 – Nomor 2, Oktober 2017, 24-35 | ISSN 2548-8201 (Print) | 2580-0469) (Online) |
## HowToCite##
S. Putriyani (2017). Keefektifan Penerapan Kombinasi Model Kooperatif Tipe TGT dan Tipe NHT. Edumaspul - Jurnal Pendidikan, 1(2), 24-35
KEEFEKTIFAN PENERAPAN KOMBINASI MODEL KOOPERATIF
TIPE TGT DAN TIPE NHT
PUTRIYANI S. Email: [email protected]
Keyword Abstrak
Effectiveness, TGT, NHT
This is a pre experimental research which aims were determine the effectiveness of
learning mathematics through application of TGT and NHT cooperative models
combination which includes: (1) students’ activities, (2) teacher’s activity in
managing learning, (3) students’ responses, and (4) mathematics learning student's
achievement after the application of TGT and NHT cooperative models combination.
Population is XII IA students at the first semester of academic year 2016/2017. The
sample was 28 students taken through random cluster sampling technique. The results
showed that: (1) students’ learning activities was good category; (2) the ability of
teachers to manage learning was very good category; (3) students responded
positively to the learning; and (4) the learning outcomes of after being taught by a
combination of TGT and NHT cooperative models achieved 96,43% and the mean
score is 83,04 with a standard deviation of 9,75.
Abstrak
Keefektifan,
Jenis penelitian adalah pra eksprimen yang bertujuan untuk mengetahui keefektifan
penerapan kombinasi model kooperatif tipe TGT dan tipe NHT meliputi: (1) aktivitas
siswa, (2) aktivitas guru mengelola pembelajaran, (3) respon siswa, dan (4)
pencapaian prestasi belajar matematika siswa setelah penerapan kombinasi kooperatif
tipe TGT dan tipe NHT. Populasi penelitian adalah siswa kelas XII IA semester ganjil
tahun pelajaran 2016/2017. Sampel sebanyak 28 orang siswa dipilih dengan teknik
cluster random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) aktivitas siswa
terhadap pembelajaran kombinasi model kooperatif tipe TGT dan tipe NHT berada
pada kategori baik, (2) kemampuan guru mengelola pembelajaran berada dalam
kategori sangat baik, (3) siswa memberikan respons positif terhadap pembelajaran,
dan (4) hasil belajar siswa setelah diajar dengan kombinasi model kooperatif tipe TGT
dan tipe NHT mencapai ketuntasan belajar 96,43 % dengan nilai rata-rata 83,04 dan
standar deviasi 10,04.
1. PENDAHULUAN
untuk meningkatkan kualitas
sering dikaji dalam hubungannya dengan
keaktifan dan hasil belajar siswa adalah
usaha meningkatkan kemampuan guru
dalam belajar-mengajar. Salah satu
selama pembelajaran berlangsung berada
menarik perhatian siswa. Namun
berdasarkan pengalaman, masih rendahnya
pada saat pembelajaran berlangsung.
Padahal keaktifan siswa dalam
penting dalam pembelajaran.Ada beberapa
enggan, takut, dan malu untuk
bertanya.Mereka memilih diam jika ada
suatu hal yang belum mereka pahami dari
pada harus bertanya kepada guru yang
mengajar. Menurut beberapa orang siswa,
hal ini disebabkan karena mereka tidak
berani bertanya kepada guru, takut salah
dan lebih senang bertanya kepada teman.
Keadaan tersebut apabila didiamkan akan
menyebabkan siswa semakin mengalami
kesulitan dalam memepelajari dan
Untuk mengatasi masalah tersebut
diperlukan model pembelajaran yang
2010: 366). Khusus pembelajaran
berdiskusi menemukan pemecahan
pembelajaran kooperatif mempunyai
pembelajaran matematika apabila
sejalan dengan penelitian yang
mengembangkan kemampuan umum para
siswa (Ballantine & Larres, 2007).
Beberapa hasil penelitian menyimpulkan
bahwa pembelajaran kooperatif secara
signifikan menghasilkan prestasi lebih
baik daripada menggunakan pembelajaran
tradisional (Doymus, 2007; Adeyemi,
(NHT). Charlton, Williams dan
McLaughlin (2005: 66-72) mengemukakan
membuat siswa lebih aktif dan merasa
senang untuk belajar. Pembelajaran
guru dikombinasikan dengan games
sehingga penyampaian materi menjadi
model pembelajaran kooperatif yang
menggunakan turnamen akademik, kuis-
tim mereka dengan anggota tim lain yang
kinerja akademik sebelumnya setara
Purnamasari (2013: 120)
menggunakan model pembelajaran
Jurnal Edumaspul, 1 (2), Oktober 2017 - 26 Putriyani S.
Copyright © 2017 Edumaspul - Jurnal Pendidikan (ISSN 2548-8201 (cetak); (ISSN 2580-0469 (online)
Annurwanda, Mardiyana, dan Saputro
(2014) yang melakukan eksperimentasi
dan TAI. Diperoleh hasil yaitu prestasi
belajar matematika siswa yang dikenai
model pembelajaran TGT lebih baik
daripada prestasi belajar matematika siswa
yang dikenai model pembelajaran TAI dan
model pembelajaran langsung. Selain itu
Lai,et al.(2012) menemukan bahwa ketika
siswa bermain game, mereka dapat lebih
fokus pada kegiatan pembelajaran
siswa bermain game, mereka akan tertarik
pada isi kursus dan meningkatkan motivasi
diri dan prestasi belajar mereka.
Slavin (2008:163) menjelaskan
menggunakan turnamen akademik, dan
kemajuan individu, di mana para siswa
berlomba sebagai Menurut Kahfi (2004:9)
pembelajaran kooperatif tipe TGT meliputi
2 tahap. Yaitu pra kegiatan pembelajaran
dan detail kegiatan pembelajaran. Pra
kegiatan pembelajaran meliputi penyajian
belajar, dan membagi siswa pada meja
turnamen. Detail kegiatan pembelajaran
kelompok (team teach), (3) permainan
(tournament).
siswa dan merupakan upaya yang sangat
baik untuk meningkatkan tanggung jawab
individu dalam diskusi kelompok. Metode
NHT ini menekankan siswa untuk saling
bekerja sama dalam kelompok, sehingga
masing-masing anggota kelompok paham
bertanggung jawab terhadap hasil
diskusinya, dengan sendirinya siswa
proses pembelajaran.
hasil belajar matematika siswa kelas VIII-
A. Selain itu, Irianda dan Tanjung (2010)
menemukan bahwa prestasi belajar siswa
kelas XI IPA mengalami peningkatan
setelah diajar menggunakan model
(numbering). siswa dibagi dalam
kelompok-kelompok yang heterogen yang
pertanyaan (questioning)
mempuyai banyak keunggulan meskipun
siswa, atau student centered. Metode NHT
merupakan salah satu pembelajaran aktif
karena memberikan kesempatan kepada
mempertimbangkan jawaban yang paling
diri siswa dalam mengemukakan ide atau
jawaban di muka kelas. Teknik juga
mendorong siswa untuk meningkatkan
Selain itu, kombinasi model kooperatif
tipe TGT dan NHT berdampak positif
terhadap pengembangan karakter siswa
dan kemandirian (Lepiyanto, 2012).
maka penelitian ini dilakukan dengan
tujuan untuk mengetahui keefektifan
penerapan kombinasi model pembelajaran
Jurnal Edumaspul, 1 (2), Oktober 2017 - 27 Putriyani S.
Copyright © 2017 Edumaspul - Jurnal Pendidikan (ISSN 2548-8201 (cetak); (ISSN 2580-0469 (online)
2. METODE PENELITIAN
pembelajaran dengan kombinasi kooperatif
ditunjukkan pada Tabel 1 sebagai berikut
Tabel 1. Model Desain Eksperimen
O1 X O2
X = Treatment (pola perlakuan) yang berupa penerapan kombinasi
model pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan tipe NHT.
O2 = Posttest (observasi setelah penerapan perlakuan).
Populasi penelitian adalah semua
semester ganjil tahun pelajaran 2016/2017.
Sampel yang digunakan yaitu 28 orang
siswa dipilih menggunakan teknik cluster
random sampling.
hasil belajar, digunakan untuk mengetahui
prestasi belajar yang diperoleh siswa
setelah mengikuti kegiatan pembelajaran
tipe NHT; 2) Observasi dengan
menggunakan instrumen lembar observasi
aktivitas siswa untuk mengetahui aktivitas
siswa dan lembar observasi keterlaksanaan
model pembelajaran pada saat
digunakan untuk mengetahui respons
selanjutnya dianalisis menggunakan teknik
analisis deskriptif dan inferensial.
deskriptif dan inferensial. Data hasil
belajar siswa, aktivitas siswa, hasil
pengamatan keterlaksanaan aktivitas guru,
dianalisis dengan menggunakan statistik
siswa dianalisis dengan menggunakan
1) Deskripsi Aktivitas Siswa
diperoleh dari instrumen tersebut
Hasil rangkuman setiap observasi
disajikan pada tabel berikut.
Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Siswa
No Aspek Pertemuan ke- Rata-
Kategori Aktivitas I II IV V VII VIII Rata
1 Memperhatikan penjelasan guru
2 Membaca LKS dan buku siswa
3 3 4 4 4 4 3.66667 Sangat baik
3 Berdiskusi dalam kelompok 3 3 3 4 4 4 3.5 Baik
4 Bertanya pada guru/ teman 3 3 4 4 4 4 3.66667 Sangat baik
5 Mengerjakan LKS/ tugas secara berkelompok
3 3 4 4 4 4 3.66667 Sangat baik
6 Menyampaikan jawaban pada guru dan teman di kelas
berdasarkan nomor yang
4 4 4 4 4 4 4 Sangat baik
7 Menarik kesimpulan 2 3 3 4 4 4 3.33333 Sangat baik
Jumlah 20 22 25 28 28 28 151
Rata-rata 2.86 3.14 3.57 4 4 4 3.59524 Baik
2) Deskripsi Keterlaksanaan Aktivitas
pembelajaran yang menerapkan
terhadap aktivitas guru dalam penelitian
ini mengacu pada Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) yang terbagi atas tiga
bagian utama yaitu: (1) Pendahuluan, (2)
Inti, dan (3) Penutup.
Indikator yang digunakan untuk
mengukur Tingkat Kemampuan Guru
(TKG) dalam mengelola pembelajaran
pada bagian pendahuluan adalah:
Memotivasi siswa, (3) Menyampaikan
digunakan adalah: (1) Menjelaskan
kegiatan pembelajaran yang akan
dilaksanakan, (2) Menjelaskan aktivitas-
Mengorganisasikan siswa ke dalam
kepada kelompok/ individu yang
mengalami kesulitan, (7) Memberi
bersemangat menyelesaikan tugasnya, (8)
mempresentasikan hasil kerja
tournament, dan (10) Memberikan
membuat rangkuman, (2) Memberikan
Mengingatkan materi pada pertemuan
proses pembelajaran dapat dilihat pada
tabel berikut.
Tabel 3. Hasil Observasi Aktivitas Guru dalam Pembelajaran
Perte-
Muan
Nilai
Rata-Rata
TKG
IV 14 4.7 39 4.3 14 4.7 4.6 Sangat baik
V 14 4.7 40 4.4 14 4.7 4.6 Sangat baik
VI 15 5 43 4.8 15 5 4.9 Sangat baik
VII 14 4.7 40 4.4 14 4.7 4.6 Baik
VIII 15 5 40 4.4 14 4.7 4.7 Sangat baik
IX 15 5 43 4.8 15 5 4.9 Sangat baik
Rata-rata 4.7 4.4 4.59 4.6 Sangat baik
3) Deskripsi Respon Siswa
Berdasarkan jawaban siswa yang
terhadap kegiatan pemebelajaran
NHT meliputi pendapat dan perasaan
siswa mengenai LKS, buku siswa, cara
mengajar guru, dan suasana belajar.
Tabel 4. Persentase Respon Siswa
No. Aspek yang Direspon Respon Siswa
1 Apakah kamu merasa senang atau tidak senang selama mengikuti
pembelajaran ini?
komponen pembelajaran berikut?
Senang Tidak Senang
b. Cara mengajar guru 100,0% 0,0%
3 Apakah komponen pembelajaran berikut ini baru atau tidak baru
bagi anda?
b. Buku Siswa 100,0% 0,0%
c. Suasana Pembelajaran di Kelas 100,0% 0,0%
d. Cara mengajar Guru 89,29% 10,71%
4 Apakah bahasa yang digunakan pada komponen pembelajaran
berikut jelas atau tidak jelas?
Jelas Tidak Jelas
b. Buku Siswa 85,71% 14,29%
c. Cara mengajar Guru 96,43% 3,57%
5 Apakah penampilan (tulisan, ilustrasi/gambar dan letak gambar)
komponen pembelajaran berikut menarik atau tidak menarik
Menarik Tidak menarik
a. Lembar kegiatan Siswa (LKS) 78,57% 21,43%
b. Buku Siswa 75,0% 25,0%
c. Cara mengajar Guru 96,43% 3,57%
6 Bagaimana pendapat anda jika pokok bahasan/materilain diajarkan
dengan menggunakan kombinasi modelpembelajaran kooperatif
tipe TGT dan NHT seperti yang anda telah ikuti?
Setuju Tidak setuju
100,0% 0,0%
Alasannya rata-rata karena metode ini bisa memacu motivasi siswa untuk belajar, siswa bisa lebih
aktif dalam pembelajaran karena semua ingin kelompokknya mendapat penghargaan yang tinggi.
4) Deskripsi Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar siswa pada penelitian ini dideskripsikan berdasarkan analisis awal
(pretest) dan tes akhir (posttest). Adapun klasifikasi peningkatan hasil belajar siswa disajikan
pada tabel berikut.
Tabel 6. Klasifikasi Gain Ternormalisasi
Koefisien Normalisasi Gain Jumlah Siswa Persentase(%) Klasifikasi
g < 0,3 0 0,00 Rendah
0,3 ≤ g 0,7 9 32,14 Sedang
g ≥ 0,7 19 67,86 Tinggi
Rata-rata 0,76 Tinggi
pada tabel berikut:
Tabel 7. Distribusi Frekuensi Tingkat Kemampuan Siswa
Interval Kategori
Penguasaan Siswa
Pretest Posttest
80 –89 Tinggi 0 0 8 28,57
65 –79 Sedang 0 0 8 28,57
55 –64 Rendah 0 0 1 3,57
0 – 54 Sangat rendah 28 100 0 0
Jumlah 28 100 28 100
Tingkat pencapaian ketuntasan hasil belajar matematika secara klasikal pada kelas
yang diajar dengan kombinasi model kooperatif tipe TGT dan tipe NHT dapat dilihat pada
tabel berikut.
KKM
(posttest).
38,550 dengan df = 27. Karena nilai p
= 0,00 0,05 menunjukkan bahwa
hasil belajar pada pretest dan posttest.
2. Pengujian rata-rata hasil belajar siswa
pada posttest terhadap KKM
Berdasarkan hasil analisis data
dengan df = 27. Karena nilai p = 0,00
0,05 menunjukkan bahwa rata-rata
dengan metode pembelajaran
dan tipe NHT lebih dari 70.
3. Pengujian rata-rata hasil gain
ternomalisasi.
Karena nilai p = 0,00 0,05
menunjukkan bahwa rata-rata gain
ternormalisasi yang diajar dengan
lebih dari 0,3.
Berdasarkan hasil analisis
diuraikan sebelumnya, tampak bahwa
pembelajaran kombinasi model kooperatif
belajar siswa, aktivitas siswa, dan respons
siswa. Oleh karena itu dapat dsisimpulkan
bahwa pembelajaran kombinasi model
kooperatif tipe TGT dan tipe NHT efektif
untuk diterapkan di kelas XII IA SMAN 1
Pangsid.
Dengan demikian dapat disimpulkan
eksprimen secara deskriptif memenuhi
kriteria keefektifan. Hal tersebut
pembelajaran matematika melalui
NHTsangat baik. Siswa sangat antusias
dalam mengikuti pembelajaran kooperatif
berinteraksi dalam kelompok.
terlihat bahwa siswa tidak canggung dalam
bekerjasama, saling memberi dan
menerima, saling memberikan dukungan,
ini disebabkan karena sebelum
pelaksanaan pembelajaran siswa diberi
pembelajaran kooperatif kombinasi model
4.2. Hasil Pengamatan terhadap
mengalami peningkatan. Ini disebabkan
dilakukan diskusi-diskusi dengan
pengamat tentang kekurangan-kekurangan
memungkinkan untuk memperbaiki
analisis data pengamatan terhadap
kemampuan guru dalam mengelola
keterlaksanaan model pembelajaran berada
baik.
Siswa
merespon pernyataan positif pada
pembelajaran kombinasi model kooperatif
siswa telah memenuhi kriteria keefektifan
yaitu rata-rata persentase respon siswa
setiap aspek berada pada kategori ≥ 75%. Artinya hampir seluruh siswa memberikan
respon positif terhadap pembelajaran
tipe NHT.
berpengaruh kepada peningkatan motivasi
berpengaruh pula terhadap hasil belajar
siswa. Mereka merasa bahwa belajar
melalui kelompok kooperatif menjadi
tertulis mengatakan senang terhadap
ini bisa memacu motivasi siswa untuk
Jurnal Edumaspul, 1 (2), Oktober 2017 - 33 Putriyani S.
Copyright © 2017 Edumaspul - Jurnal Pendidikan (ISSN 2548-8201 (cetak); (ISSN 2580-0469 (online)
belajar, siswa lebih aktif dalam
pembelajaran karena semua ingin
kelompoknya mendapat penghargaan yang
pada materi lain.
pretest terlihat bahwa pada nilai mean
33,75, median 30 dan modus 30
menunjukkan bahwa sekitar 50% siswa
memperoleh nilai dibawah 30 sedangkan
pada posttest terlihat bahwa nilai mean
83,04, median 85 dan modus 90
menunjukkan bahwa sekitar 50% siswa
memperoleh nilai diatas 85.
lebih kecil dari standar deviasi posttest
yaitu 9,75 yang menunjukkan bahwa
kemampuan siswa semakin bervariasi
setelah diberikan pembelajaran kombinasi
Secara deskriptif dapat dikatakan bahwa
kemampuan siswa pada kelas eksprimen
menjadi lebih baik dari pada sebelum
diberikan pembelajaran kombinasi model
Hasil pretest menunjukkan bahwa
kategori sangat rendah dimana 28 orang
siswa memperoleh nilai pada interval 0 –
54. Setelah diberikan perlakuan, hasil
belajar (posttest) 39,29% atau 11 orang
berada pada kategori 90 – 100 atau sangat
tinggi dan 28,57% siswa berada pada
kategori tinggi. Ini berarti bahwa siswa
telah memahami materi setelah
pembelajaran kombinasi model kooperatif
hasil belajar siswa yang mencapai kriteria
ketuntasan sebanyak 27 orang siswa atau
96,43%. Nilai hasil belajar siswa tertinggi
adalah 100, nilai terendah 60 dan deviasi
standarnya adalah 9,75 dengan nilai rata-
rata 83,04. Hal ini menunjukkan bahwa
pembelajaran kooperatif dalam
pembelajaran telah banyak
menyumbangkan kontribusi dalam
NHT dinyatakan efektif sebab memenuhi
tiga indikator keefektifan yaitu: (1)
Aktivitas siswa, (2) Aktivitas Guru, (3)
Respon siswa terhadap pembelajaran
matematika siswa.
baik.
sangat baik.
adalah positif..
efektif yang ditandai dengan rata-rata
nilai hasil belajar siswa 83,04 (KKM =
70) dan peningkatan hasil belajar
matematika siswa berada pada nilai
gain di atas 0,30 serta ketuntasan
secara klasikal adalah 96,43 %.
sebagai berikut: (1) Dalam melaksanakan
pembelajaran guru hendaknya mampu
memilih pendekatan pembelajarn yang
secara aktif sehingga materi pelajaran akan
mudah diterima oleh siswa, dan (2)
Pembelajaran matematika melalui
tipe NHT perlu mendapat pertimbangan
oleh guru matematika sebagai sarana untuk
meningkatkan prestasi belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Learning and Problem Solving
Strategies on Junior Secondary
School Students Achievement in
Research in Educational Psycology,
[2] Annurwanda, P., Mardiyana, &
Saputro, D.R.S. 2014. Eksperimentasi
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Assisted Individualization pada Materi
Kecerdasan Emosional Siswa Kelas
VII SMP Negeri Se-Kabupaten
Magetan Tahun Pelajaran 2013/2014.
Desember 2014.
Cooperative Learning: A Pedagogy to
Improve Students Generic Skills.
pp 126-137.
Multiple Intelligence Supported
Achievement Levels and Attitude
Toward Anglish Lesson. International
Electronic Journal of Elementary
McLaughlin, T.F. 2005. Educational
the Acquisition of Reading Skills of
Children with Learning Disabilities.
International Journal of Special
page 66-72.
Cooperative Learning Strategy and
Component Phase Diagrams. Journal
11, pp 1857-1860.
Meningkatkan Motivasi dan Hasil
Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
(Numbered Heads Together). Skripsi
tidak diterbitkan. Malang: FMIPA
Mathematics in a Classroom
Research of Mathematics Education,
Model Pembelajaran Kooperatif
Kepanjen, (Online),
Oktober 2016.
Kooperatif dan Pelaksanaannya
dalam Pembelajaran Matematika.
[11] Lai, C. H., She, Y. X., Sung, C. Y.,
and Jong, B. S. 2012. The Game-
Based Learning of Combining
Lesson Study pada Metode
Numbered Heads Together Dipadu
dengan Team Games Tournament
untuk Pengembangan Karakter Siswa
Bioedukasi, Volume 3 Nomor 2 ,
Nopember 2012.
Mempraktekkan Cooperatif Learning
Raja Widia Sarana Indonesia.
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Peningkatan Kemampuan Penalaran
tidak diterbitkan. Jakarta. PPS
Kooperatif Tipe Numbered Head
Together (NHT) Sebagai Upaya
Terjemahan: Nurulita Yusron.
Bandung: Nusa Media
2010. Collaborative Action Research:
Education, Vol. 49, No. 6, pp 312-
318.
Eksperimentasi Model Pembelajaran
Lingkaran Ditinjau dari Kecerdasan
2013/2014. Jurnal Elektronik
Pembelajaran Matematika, Vol.2,