of 47 /47
JULIA 1102010137 LO 1 Memahami dan Menjelaskan KLB Definisi Kejadian luar biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologi dalam kurun waktu dan daerah tertentu. Kejadian Luar Biasa (KLB) : adalah timbulnya suatu kejadian kesakitan/kematian dan atau meningkatnya suatu kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu kelompok penduduk dalam kurun waktu tertentu (Undang-undang Wabah, 1969). Kriteria Kejadian Luar Biasa tentang Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa, tergolong kejadian luar biasa jika terdapat unsur : 1. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal 2. Peningkatan kerjadian penyakit terus menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut penyakitnya (jam,hari,minggu) 3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya 4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata0rata perbulan dalam tahun sebelumnya Peraturan Menteri Kesehatan RI No . 949/ MENKES/SK/VII/2004. Kejadian Luar Biasa (KLB) : timbulnya atau meningkatnya kejadian 1

Kedkom Skenario 2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kedkom

Text of Kedkom Skenario 2

Page 1: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

LO 1 Memahami dan Menjelaskan KLB

Definisi

Kejadian luar biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kesakitan/kematian yang

bermakna secara epidemiologi dalam kurun waktu dan daerah tertentu.

Kejadian Luar Biasa (KLB) : adalah timbulnya suatu kejadian kesakitan/kematian dan atau

meningkatnya suatu kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada

suatu kelompok penduduk dalam kurun waktu tertentu (Undang-undang Wabah, 1969).

Kriteria Kejadian Luar Biasa tentang Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar

Biasa, tergolong kejadian luar biasa jika terdapat unsur :

1. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal

2. Peningkatan kerjadian penyakit terus menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut

penyakitnya (jam,hari,minggu)

3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan periode

sebelumnya

4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila

dibandingkan dengan angka rata0rata perbulan dalam tahun sebelumnya

Peraturan Menteri Kesehatan RI No . 949/ MENKES/SK/VII/2004. Kejadian Luar Biasa (KLB) :

timbulnya atau meningkatnya kejadian Kesakitan atau kematian yang bermakna secara

epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.

Batasan KLB meliputi arti yang luas, yang dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Meliputi semua kejadian penyakit, dapat suatu penyakit infeksi akut kronis ataupun penyakit

non infeksi.

2. Tidak ada batasan yang dapat dipakai secara umum untuk menentukan jumlah penderita

yang dapat dikatakan sebagai KLB. Hal ini selain karena jumlah kasus sangat tergantung

dari jenis dan agen penyebabnya, juga karena keadaan penyakit akan bervariasi menurut

tempat (tempat tinggal, pekerjaan) dan waktu (yang berhubungan dengan keadaan iklim)

dan pengalaman keadaan penyakit tersebut sebelumnya.

3. Tidak ada batasan yang spesifik mengenai luas daerah yang dapat dipakai untuk

menentukan KLB, apakah dusun desa, kecamatan, kabupaten atau meluas satu propinsi dan

Negara. Luasnya daerah sangat tergantung dari cara penularan penyakit tersebut.

1

Page 2: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

4. Waktu yang digunakan untuk menentukan KLB juga bervariasi. KLB dapat terjadi dalam

beberapa jam, beberapa hari atau minggu atau beberapa bulan maupun tahun.

Di Indonesia dengan tujuan mempermudah petugas lapangan dalam mengenali adanya KLB

telah disusun petunjuk penetapan KLB, sebagai berikut :

1. Angka kesakitan/kematian suatu penyakit menular di suatu kecamatan menunjukkan

kenaikan 3 kali atau lebih selama tiga minggu berturut-turut atau lebih.

2. Jumlah penderita baru dalam satu bulan dari suatu penyakit menular di suatu Kecamatan,

menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih, bila dibandingkan dengan angka rata-rata

sebulan dalam setahun sebelumnya dari penyakit menular yang sama di kecamatan tersebut

3. Angka rata-rata bulanan selama satu tahun dari penderita-penderita baru dari suatu penyakit

menular di suatu kecamatan, menjukkan kenaikan dua kali atau lebih, bila dibandingkan

dengan angka rata-rata bulanan dalam tahun sebelumnya dari penyakit yang sama di

kecamatan yang sama pula.

4. Case Fatality Rate (CFR) suatu penyakit menular tertentu dalam satu bulan di suatu

kecamatan, menunjukkan kenaikan 50% atau lebih, bila dibandingkan CFR penyakit yang

sama dalam bulan yang lalu di kecamatan tersebut.

5. Proportional rate penderita baru dari suatu penyakit menular dalam waktu satu bulan,

dibandingkan dengan proportional rate penderita baru dari penyakit menular yang sama

selama periode waktu yang sama dari tahun yang lalu menunjukkan kenaikan dua kali atau

lebih.

6. Khusus untuk penyakit-penyakit Kholera, Cacar, Pes, DHF/DSS :

a. Setiap peningkatan jumlah penderita-penderita penyakit tersebut di atas, di suatu daerah

endemis yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan di atas.

b. Terdapatnya satu atau lebih penderita/kematian karena penyakit tersebut di atas. Di suatu

kecamatan yang telah bebas dari penyakit-penyakit tersebut, paling sedikit bebas selama

4 minggu berturut-turut.

7. Apabila kesakitan/kematian oleh keracunan yang timbul di suatu kelompok masyarakat.

8. Apabila di daerah tersebut terdapat penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/dikenal.

2

Page 3: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

Metodologi Penyelidikan KLB

Tingkat atau pola dalam penyelidikan KLB ini sangat sulit ditentukan, sehingga metoda yang

dipakai pada penyelidikan KLB sangat bervariasi. Menurut Kelsey et al., 1986; Goodman et al.,

1990 dan Pranowo, 1991, variasi tersebut meliputi :

1. Rancangan penelitian, dapat merupakan suatu penelitian prospektif atau retrospektif

tergantung dari waktu dilaksanakannya penyelidikan. Dapat merupakan suatu penelitian

deskriptif, analitik atau keduanya.

2. Materi (manusia, mikroorganisme, bahan kimia, masalah administratif),

3. Sasaran pemantauan, berbagai kelompok menurut sifat dan tempatnya (Rumah sakit, klinik,

laboratorium dan lapangan).

4. Setiap penyelidikan KLB selalu mempunyai tujuan utama yang sama yaitu mencegah

meluasnya (penanggulangan) dan terulangnya KLB di masa yang akan datang

(pengendalian), dengan tujuan khusus :

a. Diagnose kasus-kasus yang terjadi dan mengidentifikasi penyebab penyakit

b. Memastikan keadaan tersebut merupakan KLB

c. Mengidentifikasikan sumber dan cara penularan

d. Mengidentifikasi keadaan yang menyebabkan KLB

e. Mengidentifikasikan populasi yang rentan atau daerah yang berisiko akan terjadi KLB

Langkah-langkah Penyelidikan KLB

1. Persiapan penelitian lapangan

2. Menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB

3. Memastikan Diagnose Etiologis

4. Mengidentifikasikan dan menghitung kasus atau paparan

5. Mendeskripsikan kasus berdasarkan orang, waktu, dan tempat

6. Membuat cara penanggulangan sementara dengan segera (jika diperlukan)

7. Mengidentifikasi sumber dan cara penyebaran

8. Mengidentikasi keadaan penyebab KLB

9. Merencanakan penelitian lain yang sistematis

10. Menetapkan saran cara pencegahan atau penanggulangan

11. Menetapkan sistim penemuan kasus baru atau kasus dengan komplikasi

3

Page 4: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

12. Melaporkan hasil penyelidikan kepada Instansi kesehatan setempat dan kepada sistim

pelayanan kesehatan yang lebih tinggi

Persiapan Penelitian Lapangan

Sebelum penyelidikan KLB dilaksanakan perlu adanya persiapan dan rencana kerja. Persiapan

lapangan sebaiknya dikerjakan secepat mungkin, dalam 24 jam pertama sesudah adanya

informasi (Kelsey., 1986), Greg (1985) dan Bres (1986) mengatakan bahwa persiapan penelitian

lapangan meliputi :

1. Pemantapan (konfirmasi) informasi.

Informasi awal yang didapat kadang-kadang tidak lengkap, sehingga diperlukan

pemantapan informasi untuk melengkapi informasi awal, yang dilakukan dengan kontak

dengan daerah setempat. Informasi awal yang digunakan sebagai arahan untuk membuat

rencana kerja (plan of action), yang meliputi informasi sebagai berikut :

a. Asal informasi adanya KLB. Di Indonesia informasi adanya KLB dapat berasal dari

fasilitas kesehatan primer (laporan W1), analisis sistem kewaspadaan dini di daerah

tersebut (laporan W2), hasil laboratorium, laporan Rumah sakit (Laporan KD-RS) atau

masyarakat (Laporan S-0).

b. Gambaran tentang penyakit yang sedang berjangkit, meliputi gejala klinis, pemeriksaan

yang telah dilakukan untuk menegakan diagnosis dan hasil pemeriksaannya, komplikasi

yang terjadi (misal kematian, kecacatan. Kelumpuhan dan lainnya).

c. Keadaan geografi dan transportasi yang dapat digunakan di daerah/lokasi KLB.

2. Pembuatan rencana kerja

Berdasar informasi tersebut disusun rencana penyelidikan (proposal), yang minimal berisi :

a. Tujuan penyelidikan KLB

b. Definisi kasus awal

c. Hipotesis awal mengenai agent penyebab (penyakit), cara dan sumber penularan

d. Macam dan sumber data yang diperlukan

e. Strategi penemuan kasus

f. Sarana dan tenaga yang diperlukan.

Definisi kasus : definisi kasus sangat berguna untuk arahan pada pencarian kasus nantinya.

Mengingat informasi yang didapat mungkin hanya merupakan persangkaan penyakit tertentu

4

Page 5: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

atau gejala klinis yang ditemui, maka definisi kasus sebaiknya dibuat longgar, dengan

kemungkinan kasus-kasus lain akan masuk. Perbaikan definisi kasus akan dilakukan setelah

pemastian diagnose, pada langkah identifikasi kasus dan paparan.

Hipotesis awal, hendaknya meliputi penyakit penyebab KLB, sumber dan cara penularan. Untuk

membuat hipotesis awal ini dapat dengan mempelajari gejala klinis, ciri dan pola epidemiologis

penyakit tersangka. Hipotesis awal ini dapat berubah atau lebih spesifik dan dibuktikan pada

waktu penyelidikan (Bres, 1986).

Tujuan penyelidikan KLB selalu dimulai dengan tujuan utama mengadakan penanggulangan dan

pengendalian KLB, dengan beberapa tujuan khusus, di antaranya :

a. Memastikan diagnosis penyakit

b. Menetapkan KLB

c. Menentukan sumber dan cara penularan

d. Mengetahui keadaan penyebab KLB

Pada penyelidikan KLB diperlukan beberapa tujuan tambahan yang berhubungan dengan

penggunaan hasil penyelidikan. Misalnya untuk mengetahui pelaksanaan program imunisasi,

mengetahui kemampuan sistem surveilans, atau mengetahui pertanda mikrobiologik yang dapat

digunakan (Goodman et al., 1990).

Strategi penemuan kasus, strategi penemuan kasus ini sangat penting kaitannya dengan

pelaksanaan penyelidikan nantinya. Pada penyelidikan KLB pertimbangan penetapan strategi

yang tepat tidak hanya didasarkan pada bagaimana memperoleh informasi yang akurat, tetapi

juga harus dipertimbangkan beberapa hal yaitu :

a. Sumber daya yang ada (dana, sarana, tenaga)

b. Luas wilayah KLB

c. Asal KLB diketahui

d. Sifat penyakitnya.

Beberapa strategi penemuan kasus yang dapat digunakan pada penyelidikan KLB dengan

beberapa keuntungan dan kelemahannya (Bres, 1986) :

a. Penggunaan data fasilitas kesehatan Cepat Terjadi bias seleksi kasus

b. Kunjungan ke RS atau fasilitas kesehatan Lebih mudah untuk mengetahui kasus dan

kontak Hanya kasus-kasus yang berat

5

Page 6: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

c. Penyebaran kuesioner pada daerah yang terkena Cepat, tidak ada bias menaksir populasi

Kesalahan interpretasi pertanyaan

d. Kunjungan ke tempat yang diduga sebagai sumber penularan Mudah untuk menge-tahui

hubungan kasus dan kontak Terjadi bias seleksi dan keadaan sudah spesifik

e. Survai masyarakat (survai rumah tanggal, total survai) Dapat dilihat keadaan yang

sebenarnya Memerlukan waktu lama, memerlukan organisasi tim dengan baik

f. Survai pada penderita Jika diketahui kasus dengan pasti Memerlukan waktu lama, hasil

hanya terbatas pada kasus yang diketahui

g. Survai agent dengan isolasi atau serologi Kepastian tinggi, di-gunakan pada penya-kit

dengan carrier Mahal, hanya dilakukan jika pemerik saan lab dapat dikerjakan

3. Pertemuan dengan pejabat setempat.

Pertemuan dimaksudkan untuk membicarakan rencana dan pelaksanaan penyelidikan KLB,

kelengkapan sarana dan tenaga di daerah, memperoleh izin dan pengamanan.

Pemastian Diagnosis Penyakit Dan Penetapan KLB

Pemastian Diagnosis Penyakit

Cara diagnosis penyakit pada KLB dapat dilakukan dengan mencocokan gejala/tanda penyakit

yang terjadi pada individu, kemudian disusun distribusi frekuensi gejala klinisnya. Cara

menghitung distribusi frekuensi dari tanda-tanda dan gejala-gejala yang ada pada kasus adalah

sebagai berikut :

1. Buat daftar gejala yang ada pada kasus

2. Hitung persen kasus yang mempunyai gejala tersebut

3. Susun ke bawah menurut urutan frekuensinya

Penetapan KLB

Penetapan KLB dilakukan dengan membandingkan insidensi penyakit yang tengah

berjalan dengan insidensi penyakit dalam keadaan biasa (endemik), pada populasi yang dianggap

berisiko, pada tempat dan waktu tertentu. Dalam membandingkan insidensi penyakit berdasarkan

waktu harus diingat bahwa beberapa penyakit dalam keadaan biasa (endemis) dapat bervariasi

menurut waktu (pola temporal penyakit). Penggambaran pola temporal penyakit yang penting

untuk penetapan KLB adalah, pola musiman penyakit (periode 12 bulan) dan kecenderungan

jangka panjang (periode tahunan – pola maksimum dan minimum penyakit). Dengan demikian

6

Page 7: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

untuk melihat kenaikan frekuensi penyakit harus dibandingkan dengan frekuensi penyakit pada

tahun yang sama bulan berbeda atau bulan yang sama tahun berbeda (CDC, 1979).

KLB tersembunyi, sering terjadi pada penyakit yang belum dikenal atau penyakit yang tidak

mendapat perhatian karena dampaknya belum diketahui.

KLB palsu (pesudo-epidemic), terjadi oleh karena :

1. Perubahan cara mendiagnosis penyakit

2. Perubahan perhatian terhadap penyakit tersebut, atau

3. Perubahan organisasi pelayanan kesehatan,

4. Perhatian yang berlebihan.

Untuk mentetapkan KLB dapat dipakai beberapa definisi KLB yang telah disusun oleh Depkes.

Pada penyakit yang endemis, maka cara menentukan KLB bisa menyusun dengan grafik Pola

Maksimum-minimum 5 tahunan atau 3 tahunan.

Deskripsi KLB

Deskripsi Kasus Berdasarkan Waktu.

Penggambaran kasus berdasarkan waktu pada periode wabah (lamanya KLB berlangsung), yang

digambarkan dalam suatu kurva epidemik.

Kurva epidemik adalah suatu grafik yang menggambarkan frekuensi kasus berdasarkan saat

mulai sakit (onset of illness) selama periode wabah. Kurva ini digambarkan dengan axs

horizontal adalah saat mulainya sakit dan sebagai axis vertikal adalah jumlah kasus.

Kurva epidemik dapat digunakan untuk tujuan :

a. Menentukan / memprakirakan sumber atau cara penularan penyakit dengan melihat tipe

kurva epidemik tersebut (common source atau propagated).

b. Mengidentifikasikan waktu paparan atau pencarian kasus awal (index case). Dengan cara

menghitung berdasarkan masa inkubasi rata-rata atau masa inkubasi maksimum dan

minimum.

Deskripsi Kasus Berdasarkan Tempat

Tujuan menyusun distribusi kasus berdasarkan tempat adalah untuk mendapatkan petunjuk

populasi yang rentan kaitannya dengan tempat (tempat tinggal, tempat pekerjaan). Hasil analisis

ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi sumber penularan. Agar tujuan tercapai, maka kasus

dapat dikelompokan menurut daerah variabel geografi (tempat tinggal, blok sensus), tempat

pekerjaan, tempat (lingkungan) pembuangan limbah, tempat rekreasi, sekolah, kesamaan

7

Page 8: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

hubungan (kesamaan distribusi air, makanan), kemungkinan kontak dari orang ke orang atau

melalui vektor (CDC, 1979; Friedman, 1980).

Deskripsi KLB Berdasarkan Orang

Teknik ini digunakan untuk membantu merumuskan hipotesis sumber penularan atau etiologi

penyakit. Orang dideskripsikan menurut variabel umur, jenis kelamin, ras, status kekebalan,

status perkawinan, tingkah laku, atau kebudayaan setempat. Pada tahap dini kadang hubungan

kasus dengan variabel orang ini tampak jelas. Keadaan ini memungkinkan memusatkan perhatian

pada satu atau beberapa variabel di atas. Analisis kasus berdasarkan umur harus selalu

dikerjakan, karena dari age spscific rate dengan frekuensi dan beratnya penyakit. Analisis ini

akan berguna untuk membantu pengujian hipotesis mengenai penyebab penyakit atau sebagai

kunci yang digunakan untuk menentukan sumber penyakit

Prosedur Penanggulangan KLB

1.   Masa pra KLB

Informasi kemungkinan akan terjadinya KLB / wabah adalah dengan melaksanakan Sistem

Kewaspadaan Dini secara cermat, selain itu melakukakukan langkah-langkh lainnya : 

a. Meningkatkan kewaspadaan dini di puskesmas baik SKD, tenaga dan logistik. 

b. Membentuk dan melatih TIM Gerak Cepat puskesmas.

c. Mengintensifkan penyuluhan kesehatan pada masyarakat 

d. Memperbaiki kerja laboratorium

e. Meningkatkan kerjasama dengan instansi lain

Tim Gerak Cepat (TGC)

Sekelompok tenaga kesehatan yang bertugas menyelesaikan pengamatan dan

penanggulangan wabah di lapangan sesuai dengan data penderita puskesmas atau data

penyelidikan epideomologis. Tugas /kegiatan :

a. Pengamatan : Pencarian penderita lain yang tidak datang berobat.

Pengambilan usap dubur terhadap orang yang dicurigai terutama anggota keluarga

Pengambilan contoh air sumur, sungai, air pabrik dll yang diduga tercemari dan sebagai

sumber penularan.

8

Page 9: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

b. Pelacakan kasus untuk mencari asal usul penularan dan mengantisipasi penyebarannya

Pencegahan dehidrasi dengan pemberian oralit bagi setiap penderita yang ditemukan di

lapangan.

c. Penyuluhahn baik perorang maupun keluarga

d. Membuat laporan tentang kejadian wabah dan cara penanggulangan secara lengkap.

2.  Pembentukan Pusat Rehidrasi

Untuk menampung penderita diare yang memerlukan perawatan dan pengobatan.

Tugas pusat rehidrasi :

a. Merawat dan memberikan pengobatan penderita diare yang berkunjung.

b. Melakukan pencatatan nama , umur, alamat lengkap, masa inkubasi, gejala diagnosa dsb.

c. Memberikan data penderita ke Petugas TGC

d. Mengatur logistik

e. Mengambil usap dubur penderita sebelum diterapi.

f. Penyuluhan bagi penderita dan keluarga 

g. Menjaga pusat rehidrasi tidak menjadi sumber penularan (lisolisasi).

h. Membuat laporan harian, mingguan penderita diare yang dirawat.(yang diinfus, tdk diinfus,

rawat jalan, obat yang digunakan dsb.

Faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya KLB

1. Herd Immunity yang rendah

Yang mempengaruhi rendahnya faktor itu, sebagian masyarakat sudah tidak kebal lagi, atau

antara yang kebal dan tidak mengelompok tersendiri.

2. Patogenesiti

Kemampuan bibit penyakit untuk menimbulkan reaksi pada pejamu sehingga timbul sakit.

3. Lingkungan Yang Buruk

Seluruh kondisi yang terdapat di sekitar organisme tetapi mempengaruhi kehidupan ataupun

perkembangan organisme tersebut.

Faktor Yang Mempengaruhi Mordibitas dan Mortalitas dalam KLB

Untuk Mengukur Masalah Penyakit ( Angka Kesakitan / Morbiditas )

9

Page 10: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

Setiap gangguan di dalam fungsi maupun struktur tubuh seseorang dianggap sebagai

penyakit. Penyakit, sakit, cedera, gangguan dan sakit, semuanya dikategorikan di dalam istilah

tunggal

Morbiditas merupakan derajat sakit, cedera atau gangguan pada suatu populasi. Morbiditas

juga merupakan suatu penyimpangan dari status sehat dan sejahtera atau keberadaan suatu

kondisi sakit. Morbiditas juga mengacu pada angka kesakitan, yaitu jumlah orang yang sakit

dibandingkan dengan populasi tertentu yang sering kali merupakan kelompok yang sehat atau

kelompok yang beresiko. Di dalam Epidemiologi, ukuran utama morbiditas adalah angka

insidensi & prevalensi dan berbagai ukuran turunan dari kedua indikator tersebut. Setiap

kejadian penyakit, kondisi gangguan atau kesakitan dapat diukur dengan angka insidensi dan

angka prevalensi.

Insidensi

Adalah gambaran tentang frekwensi penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu

waktu tertentu di satu kelompok masyarakat. Untuk dapat menghitung angka insidensi suatu

penyakit, sebelumnya harus diketahui terlebih dahulu tentang data tentang jumlah penderita

baru. Jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit baru (Population at Risk ).

Secara umum angka insiden ini dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :

1. Incidence Rate

Yaitu jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu jangka waktu

tertentu (umumnya 1 tahun) dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena

penyakit baru tersebut pada pertengahan jangka waktu yang bersangkutan. Yang dimaksud kasus

baru adalah perubahan status dari sehat menjadi sakit. Periode waktu adalah jumlah waktu yang

diamati selama sehat hingga menjadi sakit.

Rumus incidence rate=jumlah penderita baru : jumlah penduduk yg mungkin terkena penyakit x

K Konstanta ( 100%, 1000 ‰)

Manfaat Incidence Rate adalah :

a. Mengetahui masalah kesehatan yang dihadapi

b. Mengetahui resiko untuk terkena masalah kesehatan yang dihadapi

c. Mengetahui beban tugas yang harus diselenggarakan oleh suatu fasilitas pelayanan

kesehatan.

2. Insidens kumulatif (Incidence Risk)

10

Page 11: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

Probabilitas individu berisiko berkembang menjadi penyakit dalam periode waktu tertentu.

Berarti rata-rata risiko seorang individu terkena penyakit Denominator haruslah terbebas dari

penyakit pada permulaan periode (observasi atau tindak lanjut)

a. Subyek bebas dari penyakit pada awal studi

b. Subyek potensial untuk sakit

c. Sedikit atau tidak ada kasus yang lolos dari pengamatan karena kematian, tidak lama

berisiko, hilang dari pengamatan.

d. Tidak berdimensi, dinilai dari nol sampai satu

e. Merujuk pada individu

f. Mempunyai periode rujukan waktu yang ditentukan dengan baik

Incidence risk = jml kasus insidens selama periode waktu tertentu : jml orang yg berisiko pada

permulaan waktu

3. Attack Rate

Yaitu jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu saat dibandingkan

dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit tersebut pada saat yang sama.

Manfaat Attack Rate adalah memperkirakan derajat serangan atau penularan suatu penyakit.

Makin tinggi nilai AR, maka makin tinggi pula kemampuan Penularan Penyakit tersebut.

Rumus :

Attack Rate=jml penderita baru dlm satu saat : jml penduduk yg mungkin terkena

penyakittersebut pada saat yg samax XK

4. Secondary Attack Rate

Adalah jumlah penderita baru suatu penyakit yang terjangkit pada serangan kedua dibandingkan

dengan jumlah penduduk dikurangi orang/penduduk yang pernah terkena penyakit pada serangan

pertama. Digunakan menghitung suatu panyakit menular dan dalam suatu populasi yang kecil

( misalnya dalam Satu Keluarga ).

Rumus :

SAR=jml penderita baru pd serangan kedua : jml penduduk- penduduk yg terkena serangan

pertama x XK

Prevalensi

11

Page 12: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

Adalah gambaran tentang frekwensi penderita lama dan baru yang ditemukan pada suatu jangka

waktu tertentu di sekelompok masyarakat tertentu. Pada perhitungan angka prevalensi digunakan

jumlah seluruh penduduk tanpa memperhitungkan orang / penduduk yang kebal atau penduduk

dengan resiko (Population at Risk). Sehingga dapat dikatakan bahwa angka prevalensi

sebenarnya bukan suatu rate yang murni, karena penduduk yang tidak mungkin terkena penyakit

juga dimasukkan dalam perhitungan. Prevalens tergantung pada 2 faktor :

1. Berapa banyak orang jumlah orang yang telah sakit

2. Durasi/lamanya penyakit

Secara umum nilai prevalen dibedakan menjadi 2, yaitu :

Period Prevalen Rate

Yaitu jumlah penderita lama dan baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu jangka waktu

tertentu dibagi dengan jumlah penduduk pada pertengahan jangka waktu yang bersangkutan.

Nilai Periode Prevalen Rate hanya digunakan untuk penyakit yang sulit diketahui saat

munculnya, misalnya pada penyakit Kanker dan Kelainan Jiwa.

Rumus :

Periode Prevalen Rate=jml penderita lama & baru : jml penduduk pertengahan x XK

Point Prevalen Rate

Adalah jumlah penderita lama dan baru suatu penyakit pada suatu saat dibagi dengan jumlah

penduduk pada saat itu. Dapat dimanfaatkan untuk mengetahui Mutu pelayanan kesehatan yang

diselenggarakan. Rumus :

Point Prevalen Rate=jml penderita lama & baru saat itu : jml penduduk saat itu x XK

Hubungan Antara Insidensi Dan Prevalensi

Angka Prevalensi dipengaruhi oleh tingginya insidensi dan lamanya sakit/durasi penyakit.

lamanya sakit/durasi penyakit adalah periode mulai didiagnosanya penyakit sampai berakhirnya

penyakit tersebut yaitu : sembuh, mati ataupun kronis.

Hubungan ketiga hal tersebut dabat dinyatakan dengan rumus: P = I x D

P = Prevalensi

I = Insidensi

L = Lamanya Sakit

Rumus hubungan insidensi dan prevalensi tersebut hanya berlaku jika dipenuhi 2 syarat, yaitu :

1. Nilai insidensi dalam waktu yang cukup lama bersifat konstan, tidak menunjukkan

perubahan yang mencolok.

12

Page 13: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

2. Lama berlangsungnya suatu penyakit bersifat stabil : Tidak menunjukkan perubahan yang

terlalu mencolok.

Untuk Mengukur Masalah Kematian ( Angka Kematian / Mortalitas )

Dewasa ini di seluruh dunia mulai muncul kepedulian terhadap ukuran kesehatan masyarakat

yang mencakup penggunaan bidang epidemiologi dalam menelusuri penyakit dan mengkaji data

populasi. Penelusuran terhadap berbagai faktor yang mempengaruhi status kesehatan penduduk

paling baik dilakukan dengan menggunakan ukuran dan statistik yang distandardisasi, yang

hasilnya kemudian juga disajikan dalam tampilan yang distandardisasi.

Mortalitas merupakan istilah epidemiologi dan data statistik vital untuk Kematian. Dikalangan

masyarakat kita, ada 3 hal umum yang menyebabkan kematian, yaitu :

a. Degenerasi organ vital & kondisi terkait.

b. Status penyakit.

c. Kematian akibat lingkungan atau masyarakat ( bunuh diri, kecelakaan, pembunuhan, bencana

alam, dsb.)

Macam – macam / jenis angka kematian (Mortality Rate/Mortality Ratio) dalam Epidemiologi

antara lain :

Angka Kematian Kasar ( Crude Death Rate )

Adalah jumlah semua kematian yang ditemukan pada satu jangka waktu ( umumnya 1 tahun )

dibandingkan dengan jumlah penduduk pada pertengahan waktu yang bersangkutan.

Istilah crude digunakan karena setiap aspek kematian tidak memperhitungkan usia, jenis

kelamin, atau variabel lain.

Rumus : CDR/AKK=jml seluruh kematian : jml penduduk pertengahan x XK

Perinatal Mortality Rate (PMR) / Angka Kematian Perinatal (AKP)

PMR adalah jumlah kematian janin yang dilahirkan pada usia kehamilan 28 minggu atau lebih

ditambah dengan jumlah kematian bayi yang berumur kurang dari 7 hari yang dicatat selama 1

tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. ( WHO, 1981 ).

Manfaat PMR adalah untuk menggambarkan keadaan kesehatan masyarakat terutama kesehatan

ibu hamil dan bayi. Faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya PMR adalah :

a. Banyaknya Bayi BBLR

b. Status gizi ibu dan bayi

13

Page 14: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

c. Keadaan social ekonomi

d. Penyakit infeksi, terutama ISPA

e. Pertolongan persalinan

Rumus : PMR/AKP=jml kematian janin yg dilahirkan pd usia kehamilan 28 minggu+dg jml

kematian bayi yg berumur kurang dr 7 hari yg di catat selama 1tahun : jml bayi lahir hidup pd

tahun yg sama x XK

Neonatal Mortality Rate ( NMR ) = Angka Kematian Neonatal (AKN)

Adalah jumlah kematian bayi berumur kurang dari 28 hari yang dicatat selama 1 tahun per 1000

kelahiran hidup pada tahun yang sama.

Manfaat NMR adalah untuk mengetahui :

a. Tinggi rendahnya usaha perawatan postnatal.

b. Program imunisasi.

c. Pertolongan persalinan.

d. Penyakit infeksi, terutama saluran napas bagian atas.

Rumus :

NMRAKN=jml kematian bayi umur kurang dr 28 hari : jml lahir hidup pd tahun yg sama x XK

Infant Mortality Rate (IMR) / Angka Kematian Bayi ( AKB)

Adalah jumlah seluruh kematian bayi berumur kurang dari 1 tahun yang dicatat selama 1 tahun

per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.

Manfaat IMR adalah sebagai indikator yg sensitive terhadap derajat kesehatan masyarakat.

Rumus :

IMR/AKB=jml kematian bayi umur 0-1 th : jml kelahiran hidup pd th yg sama x XK

Under Five Mortality Rate ( Ufmr ) / Angka Kematian Balita

Adalah jumlah kematian balita yang dicatat selama 1 tahun per 1000 penduduk balita pada tahun

yang sama. Manfaat UFMR adalah untuk mengukur status kesehatan bayi.

Rumus :

UFMR=jml kematian balita yg cacat dlm 1 thn : jml penduduk balita pd thn yg sama x XK

Angka Kematian Pasca-Neonatal (Postneonatal Mortality Rate)

Angka kematian pascaneonatal diperlukan untuk menelusuri kematian di Negara belum

berkembang , terutama pada wilayah tempat bayi meninggal pada tahun pertama kehidupannya

akibat malnutrisi, defisiensi nutrisi, dan penyakit infeksi. Postneonatal Mortality Rate adalah

14

Page 15: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

kematian yang terjadi pada bayi usia 28 hari sampai 1 tahun per 1000 kelahiran hidup dalam satu

tahun. Rumus : pasca-neonatal mortality rate=jml kematian bayi usia 28 hari-1 thn : jml

kelahiran hidup pd thn yg sama x XK

Angka Kematian Janin / Angka Lahir Mati (Fetal Death Rate)

Istilah kematian janin penggunaannya sama dengan istilah lahir mati. Kematian janin adalah

kematian yang terjadi akibat keluar atau dikeluarkannya janin dari rahim, terlepas dari durasi

kehamilannya. Jika bayi tidak bernafas atau tidak menunjukkan tanda – tanda kehidupan saat

lahir, bayi dinyatakan meninggal. Tanda –tanda kehidupan biasanya ditentukan dari Pernapasan,

Detak Jantung, Detak Tali Pusat atau Gerakan Otot Volunter.

Angka Kematian Janin adalah proporsi jumlah kematian janin yang dikaitkan dengan jumlah

kelahiran pada periode waktu tertentu, biasanya 1 tahun.

Rumus :

Angka kematian janin=jml kematian janin dlm periode tertentu : total kematian janin+janin lahir

hidup periode yg samax XK

Maternal Mortality Rate ( Mmr ) / Angka Kematian

Adalah jumlah kematian ibu sebagai akibat dari komplikasi kehamilan, persalinan dan masa

nifas dalam 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.

Tinggi rendahnya MMR berkaitan dengan :

a. Sosial ekonomi

b. Kesehatan ibu sebelum hamil, bersalin dan nifas

c. Pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil

d. Pertolongan persalinan dan perawatan masa nifas

Rumus : MMR=jml kematian ibu hamil, persalinan&dan nifas dlm 1 thn : jml lahir hidup pd thn

yg samax XK

Age Spesific Mortality Rate ( ASMR / ASDR )

Manfaat ASMR/ASDR adalah :

a. Untuk mengetahui dan menggambarkan derajat kesehatan masyarakat dengan melihat

kematian tertinggi pada golongan umur.

b. Untuk membandingkan taraf kesehatan masyarakat di berbagai wilayah.

c. Untuk menghitung rata – rata harapan hidup.

Cause Spesific Mortality Rate ( CSMR )

15

Page 16: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

Yaitu jumlah seluruh kematian karena satu sebab penyakit dalam satu jangka waktu tertentu

(1tahun ) dibagi dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit tersebut.

Rumus : CSMR=jml seluruh kematian karena sebab penyakit tertentu : jml penduduk yg

mungkin terkenapenyakit pd pertengahan tahunx XK

Case Fatality Rate ( CFR )

Adalah perbandingan antara jumlah seluruh kematian karena satu penyebab penyakit tertentu

dalam 1 tahun dengan jumlah penderita penyakit tersebut pada tahun yang sama. Digunakan

untuk mengetahui penyakit –penyakit dengan tingkat kematian yang tinggi.

Rumus : CFR=jml kematian karena penyakit tertentu : jml seluruh penderita penyakit tersebutx

XK

Perilaku Kesehatan Individu Dalam Masyarakat

Perilaku kesehatan, ada tiga teori yang sering menjadi acuan dalam penelitian-penelitian

kesehatan masyarakat. Menurut Lawrence Green (1980) dalam Notoatmodjo (2005), perilaku

manusia dalam hal kesehatan dipengaruhi oleh dua faktor pokok yaitu faktor perilaku (behavioral

factors) dan faktor non-perilaku (non behavioral factors).

Lawrence Green menganalisis bahwa faktor perilaku sendiri ditentukan oleh tiga faktor utama,

yaitu:

a. Faktor Predisposisi (predisposing factors), yaitu faktor-faktor yang mempermudah atau

mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan,

kepercayaan, nilai-nilai, tradisi dan sebagainya.

b. Faktor-faktor pemungkin (enabling factors), yaitu faktor-faktor yang memungkinkan atau

yang memfasilitasi perilaku atau tindakan. Yang dimaksud dengan faktor pemungkin adalah

sarana  dan prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan.

c. Faktor-faktor penguat (reinforcing factors), adalah faktor-faktor yang mendorong dan

memperkuat terjadinya perilaku.

Pada saat promosi kesehatan digencarkan aksinya melalui pemberdayaan masyarakat bahwa

petugas kesehatan membekali sasaran kesehatan (masyarakat) dengan pengetahuan/informasi

yang bermanfaat bagaimana untuk sehat, dan walau ketersediaan sarana kesehatan memadai,

16

Page 17: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

tetapi  tetap diperlukan dukungan dari masyarakat itu sendiri. Snehandu B. Karr dalam

Notoatmojo (2005), mengidentifikasi adanya lima determinan perilaku, yaitu:

a. Adanya niat, (intention) seseorang untuk bertindak sehubungan objek atau stimulus diluar

dirinya.

b. Adanya dukungan dari masyarakat sekitarnya (social support). Di dalam kehidupan di

masyarakat, perilaku seseorang cenderung memerlukan legitimasi dari masyarakat

sekitarnya. Apabila perilaku tersebut bertentangan atau tidak memperoleh dukungan dari

masyarakat, maka ia akan merasa kurang atau tidak nyaman, paling tidak untuk berperilaku

kesehatan tidak menjadi gunjingan atau bahan pembicaraan masyarakat.

c. Terjangkaunya informasi (accessibility of information), adalah tersedianya informasi-

informasi terkait dengan tindakan yang akan diambil seseorang.

d. Adanya otonomi atau kebebasan pribadi (personal autonomy) untuk mengambil keputusan.

Di Indonesia, terutama ibu-ibu, kebebasan pribadinya masih terbatas, terutama lagi di

pedesaan. Seorang istri dalam mengambil keputusan masih sangat bergantung kepada

suami.

e. Adanya kondisi dan situasi yang memungkinkan (action situation). Untuk bertindak apapun

memang diperlukan kondisi dan situasi yang tepat. Kondisi dan situasi yang tepat

mempunyai pengertian yang luas, baik fasilitas yang tersedia  serta kemampuan yang ada.

Untuk membangun rumah sehat misalnya, jelas sangat tergantung kepada kondisi ekonomi dari

orang yang bersangkutan. Meskipun faktor yang lain tidak ada masalah, tetapi apabila kondisi

dan situasinya tidak mendukung, maka perilaku tersebut tidak akan terjadi. WHO yang

merumuskan determinan perilaku ini sangat sederhana. Dikatakan mengapa seseorang

berperilaku, karena ada empat alasan pokok (determinan), yaitu:

a. Pemikiran dan perasaan (thoughts and feeling). Hasil pemikiran-pemikiran dan perasaan-

perasaan seseorang atau lebih tepat diartikan pertimbangan-pertimbangan pribadi terhadap

objek atau stimulus, merupakan modal awal untuk bertindak atau berperilaku. Didasarkan

pertimbangan untung ruginya, manfaatnya dan sumber daya atau uang yang tersedia dan

sebagainya.

b. Adanya acuan atau referensi dari seseorang atau pribadi yang dipercayai (personnal

references). Di dalam masyarakat, di mana sikap paternalistic masih kuat, maka perubahan

perilaku masyarakat bergantung acuan kepada tokoh masyarakat setempat.

17

Page 18: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

c. Sumber daya (resources) yang tersedia merupakan pendukung terjadinya perubahan perilaku.

Dalam teori Green, sumber daya ini adalah sama dengan faktor enabling (sarana, prasarana,

fasilitas).

d. Sosio budaya (culture) setempat biasanya sangat berpengaruh terhadap terbentuknya perilaku

seseorang. Hal ini dapat kita lihat dari perilaku tiap-tiap etnis berbeda-beda, karena memang

masing-masing etnis mempunyai budaya yang berbeda yang khas.

Dari uraian ketiga teori di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat

tentang kesehatan ditentukan dan dibentuk oleh pengetahuan yang diterima. Kemudian timbul

persepsi dari individu dan memunculkan sikap, niat, keyakinan/kepercayaan, yang dapat

memotivasi dan mewujudkan keinginan menjadi suatu perbuatan.

Penguatan konsep mulai dari “tahu” menjadi “mau” dan “mampu”, akan terlaksana apabila

ada faktor eksternal yang  turut mempengaruhi situasi di luar diri individu seperti: dukungan

sosial, fasilitas yang tersedia, sarana dan prasarana yang mendukung. Persepsi untuk proses

perubahan perilaku menjadi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah penilaian suatu ide atau

gagasan baru yang diperkenalkan kepada individu dan diharapkan untuk diterima dan diproses

oleh individu tersebut sehingga memunculkan sikap individu menerima dan memformulasikan

ide tersebut menurut versi dirinya sendiri. 

Perilaku hidup bersih dan sehat bukan hal yang baru bagi masyarakat.  Di tengah

kecanggihan teknologi pada masa sekarang, informasi dan pengetahuan mudah diakses

masyarakat. PHBS adalah semua perilaku yang dapat menjadikan kita hidup sehat. Hidup sehat

tidak terbatas dengan melaksanakan sepuluh indikator saja. Tetapi indikator dengan sepuluh

perilaku adalah yang dipilih sebagai penilaian apakah masyarakat sudah berperilaku hidup bersih

dan sehat dan perlu dikembangkan di tengah masyarakat kita. Dari sepuluh Indikator PHBS yang

dicanangkan Depkes RI, pentingnya bersalin menggunakan tenaga kesehatan, program ASI

Eksklusif  apalagi Inisiasi Menyusui Dini, jamban keluarga, kesesuaian lantai dengan jumlah

penghuni dan pentingnya olah raga serta makanan bervitamin dan berserat masih merupakan hal

baru bagi masyarakat.

LO 2 Memahami dan Menjelaskan Penyelidikan Epidemiologi

18

Page 19: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

Penyelidikan epidemiologi (PE) adalah rangkaian kegiatan untuk mengetahui suatu kejadian

baik sedang berlangsung maupun yang telah terjadi, sifatnya penelitian, melalui pengumpulan

data primer dan sekunder, pengolahan dan analisa data, membuat kesimpulan dan rekomendasi

dalam bentuk laporan.

Manfaat Epidemiologi

Manfaat Epidemiologi antara lain:

1. Membantu pekerjaan Administrasi Kesehatan

2. Dapat menerangkan penyebab masalah kesehatan

3. Dapat menerangkan perkembangan alamiah penyakit

4. Dapat menerangkan keadaan suatu masalah kesehatan

a. Epidemi (singkat dan tinggi)

b. Pandemi (peningkatan yang sangat tinggi dan telah amat luas)

c. Endemi (frekuansi tetap dalam waktu yang lama)

d. Sporadik (berubah-ubah menurut perubahan waktu)

Tujuan Penyelidikan Epidemiologi (PE)

Mendapatkan besaran masalah yang sesunguhnya, Mendapatkan gambaran klinis dari suatu

penyakit, Mendapatkan gambaran kasus menurut variabel Epidemiology, Mendapatkan

informasi tentang faktor risiko (lingkungan, vektor, perilaku, dll) dan etiologi, Dari ke empat

tujuan di tersebut dapat dianalisis sehingga dapat memberikan suatu penanggulangan atau

pencegahan dari penyakit itu.

Kegiatan Penyelidikan Epidemiologi (PE)

Tahap Survei pendahuluan:

a. Menegakan diagnosa

b. Memastikan adanya KLB

c. Buat hypotesa mengenai penyebab, cara  penyebaran, dan faktor yg mempengaruhinya

 Tahap pengumpulan data :

a. Identifikasi kasus kedalam variabel epid(orang, tempat, waktu )

b. Tentukan agen penyebab, cara penyebaran, dan faktor yg    mempengaruhinya.

c. Menentukan kelompok yang rentan/beresiko

Tahap pengolahan data :

19

Page 20: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

Lakukan pengolahan data menurut variabel epidemiologi, menurut    ukuran epid (Angka

insiden, Angka prevalen, Case fatality), menurut nilai statistik    (Mean, median mode,deviasi)

Lakukan analisa data :

1. Menurut variabel epid, menurut ukuran epid, menurut nilai statistik.

2. Bandingkan nilai-nilai tsb dengan kejadian atau nilai-nilai yg sudah ada

Buat intepretasi hasil analisa

Buat laporan hasil PE

Tentukan tindakan penanggulangan dan pencegahannya 

1.   Tindakan penanggulangan :

a. Pengobatan penderita

b. Isolasi kasus

2.   Tindakan pencegahan :

a. Surveilans yg ketat

b. Perbaikan mutu lingkungan

c. Proteksi diri

d. Perbaikan status kes masyarakat

LO 3 Cakupan Dan Mutu Pelayanan Kesehatan

Syarat pokok pelayanan kesehatan

Suatu pelayanan kesehatan dikatakan baik apabila:

1. Tersedia (available) dan berkesinambungan (continuous)

Artinya semua jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat tidak sulit ditemukan,

serta keberadaannya dalam masyarakat adalah pada setiap saat yang dibutuhkan.

2. Dapat diterima (acceptable) dan bersifat wajar (appropriate)

Artinya pelayanan kesehatan tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan dan kepercayaan

masyarakat. Pelayanan kesehatan yang bertentangan dengan adat istiadat, kebudayaan,

keyakinan dan kepercayaan mesyarakat, serta bersifat tidak wajar, bukanlah suatu pelayanan

kesehatan yang baik.

3. Mudah dicapai (accessible)

20

Page 21: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

Ketercapaian yang dimaksud disini terutama dari sudut lokasi. Dengan demikian, untuk dapat

mewujudkan pelayanan kesehatan yang baik, maka pengaturan distribusi sarana kesehatan

menjadi sangat penting. Pelayanan kesehatan yang terlalu terkonsentrasi di daerah perkotaan

saja, dan sementara itu tidak ditemukan didaerah pedesaan, bukanlah pelayanan kesehatan

yang baik.

4. Mudah dijangkau (affordable)

Keterjangkauan yang dimaksud adalah terutama dari sudut biaya. Untuk dapat mewujudkan

keadaan yang seperti itu harus dapat diupayakan biaya pelayanan kesehatan tersebut sesuai

dengan kemampuan ekonomi masyarakat. Pelayanan kesehatan yang mahal hanya mungkin

dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat saja bukanlah kesehatan yang baik.

5. Bermutu (quality)

Mutu yang dimaksud disini adalah yang menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan

kesehatan yang diselenggarakan, yang disatu pihak tata cara penyelenggaraannya sesuai

dengan kode etik serta standart yang telah ditetapkan.

Prinsip pelayanan prima di bidang kesehatan

1. Mengutamakan pelanggan

Prosedur pelayanan disusun demi kemudahan dan kenyamanan pelanggan, bukan untuk

memeperlancar pekerjaan kita sendiri. Jika pelayanan kita memiliki pelanggan eksternal dan

internal, maka harus ada prosedur yang berbeda, dan terpisah untuk keduanya. Jika

pelayanan kita juga memiliki pelanggan tak langsung maka harus dipersiapkan jenis-jenis

layanan yang sesuai untuk keduanya dan utamakan pelanggan tak langsung.

2. System yang efektif

Proses pelayanan perlu dilihat sebagai sebuah system yang nyata (hard system), yaitu tatanan

yang memadukan hasil-hasil kerja dari berbagai unit dalam organisasi. Perpaduan tersebut

harus terlihat sebagai sebuah proses pelayanan yang berlangsung dengan tertib dan lancar

dimata para pelanggan.

3. Melayani dengan hati nurani (soft system)

Dalam transaksi tatap muka dengan pelanggan, yang diutamakan keaslian sikap dan perilaku

sesuai dengan hati nurani, perilaku yang dibuat-buat sangat mudah dikenali pelanggan dan

memperburuk citra pribadi pelayan. Keaslian perilaku hanya dapat muncul pada pribadi yang

sudah matang.

21

Page 22: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

4. Perbaikan yang berkelanjutan

Pelanggan pada dasarnya juga belajar mengenali kebutuhan dirinya dari proses pelayanan.

Semakin baik mutu pelayanan akan menghasilkan pelanggan yang semakin sulit untuk

dipuaskan, karena tuntutannya juga semakin tinggi, kebutuhannya juga semakin meluas dan

beragam, maka sebagai pemberi jasa harus mengadakan perbaikan terus menerus.

5. Memberdayakan pelanggan

Menawarkan jenis-jenis layanan yang dapat digunakan sebagai sumberdaya atau perangkat

tambahan oleh pelanggan untuk menyelesaikan persoalan hidupnya sehari-hari.

Program Pokok Puskesmas

1. Promosi Kesehatan (Promkes)

a. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat

b. Sosialisasi Program Kesehatan

c. Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas)

2. Pencegahan Penyakit Menular (P2M) :

a. Surveilens Epidemiologi

b. Pelacakan Kasus : TBC, Kusta, DBD, Malaria, Flu Burung, ISPA, Diare, IMS (Infeksi

Menular Seksual), Rabies

3. Program Pengobatan :

a. Rawat Jalan Poli Umum

b. Rawat Jalan Poli Gigi

c. Unit Rawat Inap : Keperawatan, Kebidanan

d. Unit Gawat Darurat (UGD)

e. Puskesmas Keliling (Puskel)

4. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)

a. ANC (Antenatal Care) , PNC (Post Natal Care), KB (Keluarga Berencana),

b. Persalinan, Rujukan Bumil Resti, Kemitraan Dukun

5. Upaya Peningkatan Gizi

a. Penimbangan, Pelacakan Gizi Buruk, Penyuluhan Gizi

6. Kesehatan Lingkungan :

a. Pengawasan SPAL (saluran pembuangan air limbah), SAMI-JAGA (sumber air minum-

jamban keluarga), TTU (tempat-tempat umum), Institusi pemerintah

22

Page 23: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

b. Survey Jentik Nyamuk

7. Pencatatan dan Pelaporan :

a. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP)

Program Tambahan/Penunjang Puskesmas :

Program penunjang ini biasanya dilaksanakan sebagai kegiatan tambahan, sesuai kemampuan

sumber daya manusia dan material puskesmas dalam melakukan pelayanan

1. Kesehatan Mata : pelacakan kasus, rujukan

2. Kesehatan Jiwa : pendataan kasus, rujukan kasus

3. Kesehatan Lansia (Lanjut Usia) : pemeriksaan, penjaringan

4. Kesehatan Reproduksi Remaja : penyuluhan, konseling

5. Kesehatan Sekolah : pembinaan sekolah sehat, pelatihan dokter kecil

6. Kesehatan Olahraga : senam kesegaran jasmani

Target Indikator Pelayanan Minimal Puskesmas

Pelayanan Kesehatan Dasar :

1. Cakupan kunjungan Ibu hamil K4 95 % pada Tahun 2015;

2. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani 80 % pada Tahun 2015;

3. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan

90% pada Tahun 2015;

4. Cakupan pelayanan nifas 90% pada Tahun 2015;

5. Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani 80% pada Tahun 2010;

6. Cakupan kunjungan bayi 90%, pada Tahun 2010;

7. Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) 100% pada Tahun 2010;

8. Cakupan pelayanan anak balita 90% pada Tahun 2010;

9. Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6 - 24 bulan keluarga miskin

100 % pada Tahun 2010;

10. Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan 100% pada Tahun 2010;

11. Cakupan Penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat 100 % pada Tahun 2010;

12. Cakupan peserta KB aktif 70% pada Tahun 2010;

13. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit 100% pada Tahun 2010;

14. Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin 100% pada Tahun 2015.

23

Page 24: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

Pelayanan Kesehatan Rujukan

1. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin 100% pada Tahun 2015;

2. Cakupan pelayanan gawat darurat level 1 yang harus diberikan sarana kesehatan (RS) di

Kabupaten/Kota 100 % pada Tahun 2015.

Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa /KLB

1. Cakupan Desa/ Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi <

24 jam 100% pada Tahun 2015.

Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

1. Cakupan Desa Siaga Aktif 80% pada Tahun 2015.

Pelayanan Imunisasi

Cakupan imunisasi dalam program imunisasi nasional merupakan parameter kesehatan nasional.

Besar cakupan imunisasi harus mencapai lebih dari 80%, artinya di setiap desa, anak-anak

berusia di bawah 12 bulan, 80% harus sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Tetapi saat

ini, cakupan imunisasi belum memuaskan. Salah satu dampak cakupan imunisasi yang tidak

sesuai target adalah terjadinya kejadian luar biasa (KLB). Penyakit dapat dicegah bila cakupan

imunisasi sebesar 80% dari target. Penularan berbanding searah dengan cakupan imunisasi.

Apbila anak yang tidak diimunisasi semakin banyak maka penularan akan semakin meningkat.

Sedangkan cakupan imunisasi yang tinggi akan mengurangi penularan (majalah farmacia, 2012).

Rendahnya cakupan imunisasi dapat diakibatkan oleh beberapa faktor. Faktor tersebut adalah

aspek geografis dimana di daerah pelosok akses pelayanan kesehatan masih minim termasuk

imunisasi. Selain itu, masyarakat sering menganggap bahwa anak yang menderita batuk pilek

tidak boleh diimunisasi. Faktor lain adalah kurangnya kesadaran masyarakat atas imunisasi

akibat minimnya pendidikan. Sehingga tenaga kesehata seperti dokter, bidan atau perawat

memiliki kewajiban mengingatkan pasien tentang jadwal imunisasi. Faktor lain adalah

munculnya kelompok anti vaksin. Selain itu, kesalahan pemahaman masyarakat mengenai ASI

juga turut mempengaruhi kesediaan untuk melakukan imunisasi. ASI memang meningkatkan

daya tahan, namun perlindungan ASI juga akan berkurang seiring munculnya paparan pada anak

(majalah farmacia, 2012).

24

Page 25: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

Dalam program Intensifikasi Imunisasi Rutin, upaya pemberian imunisasi harus lebih intensif

dibandingkan tahun lalu. Imunisasi dasar diketahui sangat efektif dalam memberikan

perlindungan terhadap suatu penyakit pada masa depan kehidupan. Imunisasi dasar berfungsi

membentuk sel memori yang akan dibawa seumur hidup. Jika imunisasi dasar diberikan lengkap

dan sel memori terbentuk semakin dini, maka semakin bagus perlindungan yang diberikan

(Hadinegoro, 2012).

Namun pada vaksin tertentu (vaksin mati atau vaksin komponen, misalnya hepatitis B atau

DTP), imunisasi dasar saja tidak cukup memberikan perlindungan dalam jangka panjang

sehingga harus dilakukan booster atau penguat. Kekebalan yang diberikan imunisasi dasar tidak

berlangsung seumur hidup dan ditandai dengan titer antibodi yang semakin lama semakin

menurun. Pemberian booster dimaksudkan membangkitkan kembali sel memori untuk

membentuk antibodi agar titer antibodi selalu di atas ambang pencegahan (protective level)

(Hadinegoro, 2012).

Vaksin DTP misalnya yang diberikan usia 2, 4, 6 bulan perlu diberikan booster pada usia 18-24

bulan dan 5 tahun. Di usia lima tahun kekebalan kembali turun sehingga perlu booster kedua

bahkan ketiga dalam jangka waktu setiap 5-10 tahun. Komponen T (tetanus) pada vaksin DTP

juga harus bisa memberikan perlindungan seumur hidup terhadap tetanus neonatorum (penting

untuk melindungi bayi yang dilahirkan dari infeksi tetanus apabila pemotongan tali pusat tidak

steril). Vaksin TT diberikan pada anak usia sekolah dan ibu hamil (Hadinegoro, 2012).

Sampai kapan booster diberikan, tergantung data epidemiologi dan pola penyakit dari kelompok

usia yang rentan terkena penyakit. Misalnya penyakit difteri, pertusis, dan tetanus yang bisa

dicegah dengan vaksin DTP bisa mengancam anak-anak maupun dewasa sehingga semua usia

rentan terhadap penularan penyakit-penyakit ini (Hadinegoro, 2012).

Aspek Pelayanan Kesehatan Dilihat Dari Aspek Sosbud

Pengaruh sosial budaya terhadap kesehatan masyarakat Tantangan berat yang masih dirasakan

dalam pembangunan kesehatan di Indonesia adalahsebagai berikut.

1. Jumlah penduduk yang besar dengan pertumbuhan yang cukup tinggi serta penyebaran

penduduk yang tidak merata di seluruh wilayah.

2. Tingkat pengetahuan masyarakat yang belum memadai terutama pada golongan wanita.

25

Page 26: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

3. Kebiasaan negatif yang berlaku di masyarakat, adat istiadat, dan perilaku yang kurang

menunjang dalam bidang kesehatan.

4. Kurangnya peran serta masyarakat dalam pembangunan bidang kesehatan.Aspek sosial

budaya yang berhubungan dengan kesehatanAspek soaial budaya yang berhubungan dengan

kesehatan anatara lain adalah faktorkemiskinan, masalah kependudukan, masalah lingkungan

hidup, pelacuran dan homoseksual.

Kemiskinan

Konsep dasar kemiskinana.

Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling

berkaitan antara lain tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, aksesterhadap barang dan jasa,

lokasi, geografi, gender dan kondisi lingkungan.

Mengacu pada Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan. Kemiskinan adalahkondisi

dimana seseorang atau sekelompok orang baik laki-laki maupun perempuanyang tidak terpenuhi

hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkankehidupan yang bermatabat.

Definisi ini beranjak dari pendekatan berbasis hak yangmengakui bahwa masyarakat miskin

mempunyai hak-hak dasar yang sama dengananggota masyarakat lainnya.

Kemiskinan membahayakan kesehatan, baik secara fisik dan mental. Penyakit umumyang sering

terjadi berkaitan dengan faktor kemiskinan adalah kekurang vitamin,penyakit cacing, gusi

berdarah, beri-beri, penyakit mata, Kurang Kalori Protein(KKP), busung lapar, dan lain-lain.

Miskin adalah mereka yang tidak mendapatkan makanan yang cukup sehat dan akancukup

kandungan gizinya.Fakta saat ini derajat kesehatan penduduk miskin masih rendah, hal ini

ditandaidengan:

a. Kematian penduduk miskin tiga kali lebih tinggi daripada penduduk yangtidak miskin.

b. Pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan pendidikan belummendukung.

c. Perilaku hidup bersih di masyarakat belum membudaya.

d. Angka kematian bayi (AKB), angka kematian anak, serta angka kematian ibu (AKA/AKI)

pada penduduk miskin jauh lebih tinggi dari yang tidak miskin.

Memahami dan Menjelaskan Perilaku Kesehatan Masyarakat dan Pola pencarian

pengobatan

26

Page 27: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit

dan penyakit, system pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan. Bentuk dari perilaku

tersebut ada dua yaitu pasif dan aktif. Perilaku pasif merupakan respon internal dan hanya dapat

dilihat oleh diri sendiri sedangkan perilaku aktif dapat dilihat oleh orang lain. Masyarakat

memiliki beberapa macam perilaku terhadap kesehatan. Perilaku tersebut umumnya dibagi

menjadi dua, yaitu perilaku sehat dan perilaku sakit. Perilaku sehat yang dimaksud yaitu perilaku

seseorang yang sehat dan meningkatkan kesehatannya tersebut. Perilaku sehat mencakup

perilaku-perilaku dalam mencegah atau menghindari dari penyakit dan penyebab penyakit atau

masalah, atau penyebab masalah (perilaku preventif). Contoh dari perilaku sehat ini antara lain

makan makanan dengan gizi seimbang, olah raga secara teratur, dan menggosok gigi sebelum

tidur.

Yang kedua adalah perilaku sakit. Perilaku sakit adalah perilaku seseorang yang sakit atau telah

terkena masalah kesehatan untuk memperoleh penyembuhan atau pemecahan masalah

kesehatannya. Perilaku ini disebut perilaku pencarian pelayanan kesehatan (health seeking

behavior). Perilaku ini mencakup tindakan-tindakan yang diambil seseorang bila terkena masalah

kesehatan untuk memperoleh kesembuhan melalui sarana pelayanan kesehatan seperti

puskesmas dan rumah sakit.

Secara lebih detail, Becker (1979) membagi perilaku masyarakat yang berhubungan dengan

kesehatan menjadi tiga, yaitu:

1. perilaku kesehatan : hal yang berkaitan dengan tindakan seseorang dalam memelihara dan

meningkatkan kesehatannya. Contoh : memilih makanan yang sehat, tindakan-tindakan yang

dapat mencegah penyakit.

2. perilaku sakit : segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang individuyang merasa

sakit, untuk merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit. Contoh pengetahuan

individu untuk memperoleh keuntungan.

3. perilaku peran sakit : segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh individu yang sedang

sakit untuk memperoleh kesehatan.

Terdapat dua paradigma dalam kesehatan yaitu paradigma sakit dan paradigma sehat.Paradigma

sakit adalah paradigma yang beranggapan bahwa rumah sakit adalah tempatnya orang sakit.

Hanya di saat sakit, seseorang diantar masuk ke rumah sakit. Ini adalah paradigma yang salah

yang menitikberatkan kepada aspek kuratif dan rehabilitatif. Sedangkan paradigma sehat

27

Page 28: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

Menitikberatkan pada aspek promotif dan preventif, berpandangan bahwa tindakan pencegahan

itu lebih baik dan lebih murah dibandingkan pengobatan.

LO 4 Sistem Rujukan Kesehatan Masyarakat

Sistem Pelayanan Kesehatan Indonesia

Sistem pelayanan kesehatan di indonesia meliputi pelayanan rujukan yang berupa:

1. Pelayanan kesehatan dasar

Pada umumnya pelayanan dasar dilaksanakan di puskesmas, Puskesmas pembantu,

Puskesmas keliling, dan Pelayanan lainnya di wilayah kerja puskesmas selain rumah sakit.

2. Pelayanan kesehatan rujukan

Pada umumnya dilaksanakan di rumah sakit. Pelayanan keperawatan diperlukan, baik dalam

pelayanan kesehatan dasar maupun pelayanan kesehatan rujukan.

Sistem Rujukan (Referal System)

Di negara Indonesia sistem rujukan telah dirumuskan dalam SK. Menteri Kesehatan RI No.32

tahun 1972, yaitu suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan

pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap satu kasus penyakit atau masalah kesehatan

secara vertikal dalam arti dari unit yang berkemampuan kurang kepada unit yang lebih mampu

atau secara horizontal dalam arti antara unit-unit yang setingkat kemampuannya. Macam rujukan

yang berlaku di negara Indonesia telah ditentukan atas dua macam dalam Sistem Kesehatan

Nasional, yaitu:

1. Rujukan kesehatan

Rujukan kesehatan pada dasarnya berlaku untuk pelayanan kesehatan masyarakat (public

health services). Rujukan ini dikaitkan dengan upaya pencegahan penyakit dan peningkatan

derajat kesehatan. Macamnya ada tiga, yaitu: rujukan teknologi, rujukan sarana, dan rujukan

operasional.

2. Rujukan medis

Pada dasarnya berlaku untuk pelayanan kedokteran (medical services). Rujukan ini terutama

dikaitkan dengan upaya penyembuhan penyakit. Macamnya ada tiga, yaitu: rujukan

penderita, rujukan pengetahuan, rujukan bahan-bahan pemeriksaan.

Manfaat sistem rujukan, ditinjau dari unsur pembentuk pelayanan kesehatan:

28

Page 29: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

1.      Dari sudut pemerintah sebagai penentu kebijakan (policy maker)

a. Membantu penghematan dana, karena tidak perlu menyediakan berbagai macam peralatan

kedokteran pada setiap sarana kesehatan.

b. Memperjelas sistem pelayanan kesehatan, karena terdapat hubungan kerja antara berbagai

sarana kesehatan yang tersedia.

c. Memudahkan pekerjaan administrasi, terutama pada aspek perencanaan.

2.      Dari sudut masyarakat sebagai pengguna jasa pelayanan (health consumer)

a. Meringankan biaya pengobatan, karena dapat dihindari pemeriksaan yang sama secara

berulang-ulang.

b. Mempermudah masyarakat dalam mendapatkan pelayanan, karena telah diketahui dengan

jelas fungsi dan wewenang setiap sarana pelayanan kesehatan.

3.      Dari sudut kalangan kesehatan sebagai penyelenggara pelayanan keseahatan (health

provider)

a. Memperjelas jenjang karier tenaga kesehatan dengan berbagai akibat positif lainnya seperti

semangat kerja, ketekunan, dan dedikasi.

b. Membantu peningkatan pengetahuan dan ketrampilan, yaitu: kerja sama yang terjalin.

c. Memudahkan atau meringankan beban tugas, karena setiap sarana kesehatan mempunyai

tugas dan kewajiban tertentu.

29

Page 30: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

30

Page 31: Kedkom Skenario 2

JULIA 1102010137

LO 5 Memahami dan Menjelaskan Hukum Menjaga Kesehatan dan Berobat Menurut Pandangan Islam

31