kearifan lokal makassar.docx

  • View
    115

  • Download
    7

Embed Size (px)

Text of kearifan lokal makassar.docx

BAB IIISIA. PERALATAN DAN PERLENGKAPAN HIDUP1. Alat ProduktifMata pencarian hidup orang Sulawesi Selatan adalah bertani bagi yang berdiam di pedalaman dan daerah pegunungan dan berlayar atau menangkap ikan dengan berperahu bagi yang berdiam di daerah-daerah pesisir/pantai. peralatan-peralatan untuk melaksanakan mata pencarian hidup dalam dua lapangan ini,menjadi benda-benda kebudayaan yang sangat penting dikalangan orang Bugis-Makassar.A. Alat-alat pencaharian di laut/air. seperti perahu untuk pengangkutan barang-barang niaga dan alat-alat penangkap ikan, sebagai nelayan, dapat disebutkan antara lain jenis-jenisnya sebagai berikut: Gambar 2.1 Perahu Pinisia. Penisi/Pinisi, Adalah jenis perahu dagang Bugis-Makassar dalam ukuran besar (20 sampai 100 ton). Jenis perahu ini mengarungi laut-laut besar dalam abad-abad lalu menghubungkan Makassar dengan kepulauan Nusantara baik di Timur maupun di Barat. Jenis perahu ini mempunyai dua tiang agung dengan layar berlapis-lapis di bagian depan, pada dua tiang agung, ditambah dua buah layar kecil pada masing-masing puncak tiang agung. Kemudian yang terpasang di belakang ada dua buah. Dahulu kala perahu jenis ini dipakai juga oleh armada-armada perang orang Bugis-Makassar untuk mengangkut tenaga-tenaga perang dan perlengkapannya, hanya saja jarang dipergunakan untuk perang laut, karena untuk penyerangan dan peperangan di laut dipergunakan jenis lain yang lebih lincah dan lebih cepat. Penisi, selaku perahu niaga, dipimpin oleh seorang Ana'koda (nakhoda), juru mudi, juru batu dan awak perahu lainnya yang disebut sawi. Perahu dagang jenis penisi, sampai sekarang masih dipergunakan untuk pelayaran niaga interinsuler yang dapat dijumpai di semua pelabuhan di negeri kita.

Gambar 2.2 Perahu Lambob. Lambo' (Palari), Adalah jenis perahu dagang Bugis-Makassar dalam ukuran lebih kecil dari pinisi (10 sampai 50 ton). Sama halnya dengan pinisi, jenis ini pun dapat mengarungi laut yang jauh-jauh untuk mengangkut barang-barang niaga antarpulau. Bedanya dengan pinisi, lambo' palari, hanya mempunyai satu tiang agung, dengan layar berlapis-lapis dibagian depan, layar utama dan layar tambahan di puncak tiang agung. Gambar 2.3 Perahu soppec. Soppe', Adalah juga jenis perahu dagang orang bugis makassar, dalam ukuran kecil (1 sampai dengan 10 ton) dipergunakan untuk angkutan barang-barang dagangan antar pulau sekitar pantai-pantai Sulawesi Selatan. Juga biasa dipergunakan untuk mengangkut penumpang antarpulau.

B. Alat-alat pertanian Alat-alat pertanian orang Bugis-Makassar, khususnya untuk pengolahan tanah persawahan (padi) dipergunakan alat-alat yang pada umumnya sama dengan alat-alat pertanian daerah-daerah lain di Indonesia seperti :

Gambar 2.4 Alat Bajak Sawaha. Alat utama pada pembajakan sawah dipergunakan lukuh, (sakkala, pajjeko) yang ditarik oleh kerbau. Sistem pengairan pun dikenal, walaupun masih lebih dari separuh tanah persawahan di Sulawesi Selatan belum mempergunakan pengairan teknis. Disamping mempergunakan lukuh atau bajak, dibeberapa tempat tanah sawah yang berair itu untuk menjadikannya baik bila ditanami padi, maka ke dalam petak-petak sawah dikerahkan kerbau untuk menginjak-injaknya. setelah tanah menjadi lembut berlumpur, maka dilakukanlah pembersihan kemudian ditanami. Gambar 2.5 Pacul Dan Linggisb. Pacul dan linggis juga dikenal sebagai alat-alat pertanian di Sulawesi Selatan. Pada tanah-tanah tegalan untuk membongkar tanah dipergunakan linggis kemudian menggemburkannya dengan pacul. Tanah demikian ditanami jagung atau palawija.

2. Senjata Tradisional Gambar 2.6 Senjata Badik/Kawali1. Badik yang berasal dari Makassar, Bugis, atau Patani masing-masing memiliki bentuk dan sebutan yang berbeda yang menunjukkan perbedaan jenis badik di setiap daerah tersebut. Di Makassar, badik dikenal dengan nama badik sari yang memiliki kale (bilah) yang pipih, batang (perut) buncit dan tajam serta cappa (ujung) yang runcing. Badik sari ini terdiri dari bagian pangulu (gagang badik), sumpa kale (tubuh badik) dan banoang (sarung badik). Sementara itu, badik Bugis disebut kawali, seperti kawali raja (Bone) dan kawali rangkong (Luwu). Kawali Bone terdiri dari bessi (bilah) yang pipih, bagian ujung agak melebar serta runcing. Sedangkan kawali Luwu terdiri dari bessi yang pipih dan berbentuk lurus. Kawali memiliki bagian-bagian: pangulu (ulu), bessi (bilah) dan wanoa (sarung).Pada umumnya, badik digunakan untuk membela diri dalam mempertahankan harga diri seseorang atau keluarga. Hal ini didasarkan pada budaya sirri dengan makna untuk mempertahankan martabat suatu keluarga. Konsep sirri ini sudah menyatu dalam tingkah laku, sistem sosial budaya dan cara berpikir masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar di Sulawesi Selatan. Selain itu, ada pula badik yang berfungsi sebagai benda pusaka, seperti badik saroso, yang memiliki nilai sejarah. Ada juga sebagian orang yang meyakini bahwa badik berguna sebagai azimat yang berpengaruh pada nilai baik dan buruk Gambar 2.7 Senjata Madakapeng Tungke2. Madakapeng Tungke adalah : salah satu hasil karya panre baitullah, konon badik ini pada saat penyepuhan di jepit pada kemaluanwanita, sehingga dipercaya tidak ada orang kebal ketika berhadapan dengan badik ini Gambar 2.8 Lagecong3. Lagecong ada dua versi , yang pertama Gecong di ambil nama dari nama sang pandre (empu) yang bernama la gecong, yang kedua diambil dari bahasa bugis gecong atau geco, yang bisa diartikan sekali geco (sentuh) langsung mati,sampai saat ini banyak yang percaya kalau gecong yang asli adalah gecong yang terbuat dari daun nipah serta terapung di air dan melawan arus, wallahu alam, panjang gecong biasanya sejengkalan orang dewasa, pamor lonjo, bentuknya lebih pipih,tipis tapi kuat Pakaian Adat.

3. Pakaian Adat1. Pakaian Adat Pernikahan

Gambar 2.9 Pakaian Adat Pernikahana. Pengantin WanitaBusana pengantin menjadi simbol budaya yang dimiliki suatu daerah. Demikian pula dengan busana pengantin Bugis Makassar. Pengantin wanita mengenakan busana yang disebut Baju Bodo yang berarti tanpa lengan, dipadu dengan warna keemasan dari hiasan yang terbuat dari lempengan berwarna emas. Lempengan emas tersebut dipasang sepanjang pinggiran bagian bawah dan atas busana. Terkesan mewah dan elegan. Di bagian bawah, pengantin wanita mengenakan sarung bermotif berhiaskan payet dan lempengan emas. Tampilan busana semakin mewah dengan kehadiran perhiasan seperti gelang dan kalung. Di masa lalu, perhiasan tersebut biasanya terbuat dari emas murni atau perak yang menunjukkan status sosial si pemakainya. Perhiasan seperti kalung berantai, kalung rantekote, kalung besar. Sedangkan di tangan juga dpenuhi dengan beragam perhiasan seperti gelang keroncong bersusun atau biasa disebut bossa, perhiasan lengan atas (lola), perhiasan lengan bawah (paturu), perhiasan lengan baju sima-sima. Pada bahu sebelah kiri diselempangkan selendang berwarna keemasan dan dipindahkan ke bahu sebelah kanan jika selesai akad nikah.

b. Pengantin PriaBusana pengantin pria tak kalah elegan dan mewah dengan busana pengantin wanita. Pengantin pria mengenakan belladada atau serupa dengan jas berkerah yang dipadu dengan sarung bermotif (tope) dan warna yang sama dengan yang dikenakan pengantin wanita. Busana ini dipadu dengan perhiasan keemasan seperti gelang, rante sembang, salempang, kalung, sapu tangan (passapu ambara), dan keris berbentuk ular naga. Keris yang biasa digunakan oleh kalangan bangsawan adalah keris dengan kepala dan sarung terbuat dari emas yang biasa disebut pasattimpo atau tatarapeng.

c. Tata rias yang digunakan1. Pengantin Wanita Tata rias pengantin Bugis-Makassar tergolong unik. Pengantin wanita mengenakan sanggul yang bentuknya berdiri tegak di belakang kepala, biasa dikenal dengan nama Simpolong Teppong. Sanggul tersebut dipadu dengan berbagai aksesoris rambut berupa Pinang Goyang (mirip dengan kembang goyang), Bunga Sibali dan Bunga Simpolong, Mahkota Saloko (mirip dengan bando yang diletakan di bagian atas kepala). Selain itu, tatanan rambut pengantin wanita Bugis-Makassar menggunakan hiasan hitam pada dahi (mirip dengan paes pengantin Jawa) yang disebut Dadesa. Selain Dadesa, pengantin wanita juga mengenakan anting yang disebut Bangkara. Semua terkesan mewah dan elegan. Apalagi umumnya perhiasan yang dikenakan terbuat dari emas.

2. Pengantin Pria :Untuk pengantin pria, penggunaan Sigarak (penutup kepala) merupakan sebuah kewajiban. Di bagian depan Sigarak terdapat sebuah hiasan yang bentuknya mirip dengan kembang goyang. Perhiasan yang hadir hanyalah Kalung Rante.

2. Pakaian Adat

Gambar 2.10 Pakaian Adat BugisCorak kain sarung Bugis ada beberapa macam, di antaranya adalah corak kotak-kotak kecil yang disebut balo renni. Sementara itu, corak kotak-kotak besar seperti kain tartan Skotlandia, diberi nama balo lobang. Selain corak kotak-kotak, terdapat pula corak zig-zag yang diberi nama corak bombang. Corak ini menggambarkan gelombang lautan. Pola zig-zag ini dapat diterapkan di seluruh permukaan sarung atau di bagian kepala sarung saja, adapun bagian kepala sarung justru terletak di area tengah sarung, dan sering juga corak bombang ini digabungkan dengan corak kotak-kotak.Selain corak-corak tersebut, ada pula pola kembang besar yang disebut sarung Samarinda. Meskipun Samarinda berada di Kalimantan Timur, rupanya, kebudayaan menenun sarung di Samarinda, dibawa oleh masyarakat Bugis yang mencari suaka ke Kerajaan Kutai Kartanegara akibat perjanjian Bungaja antara Kerajaan Gowa dan Belanda sekitar abad ke-16. Dan orang Bugis pendatang itulah yang mengembangkan corak asli tenun Bugis, menjadi tenun Samarinda, yang kemudian malah memperkaya seni kain tradisional Bugis.

4. Wadah

Gambar 2.11 Wadah Air Gumbang