KEARIFAN LOKAL DALAM PEMANFAATAN TUMBUHAN ... ... penelitian tentanf kearifan lokal masyarakat dalam

  • View
    2

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of KEARIFAN LOKAL DALAM PEMANFAATAN TUMBUHAN ... ... penelitian tentanf kearifan lokal masyarakat dalam

HUTAN ADAT MARENA, DESA PEKALOBEAN, KECAMATAN
ANGGERAJA, KABUPATEN ENREKANG
ANGGEARAJA, KABUPATEN ENREKANG
PERTANIAN STRATA SATU ( S1)
Hutan Adat Marena, Desa Pekalobeaan, Kecamatan Anggeraja,
Kabupaten Enrekang
Dosen Pembimbing
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Husnah Latifah, S.Hut, M.Si Dr. Ir. Hasanuddin Molo, S.Hut. IPM.
NIDN : 0909073602 NIDN: 0907028202
Dr. H. Burhanuddin, S.Pi., M.P Dr. Hikmah, S.Hut,. M.Si. IPM
NIDN. 0915067202 NIDN. 0011077101
Anggeraja, Kabupaten Enrekang.
Nama : Nurul Pratiwi
Pembimbing I (……………………………)
(……………………………)
Penguji I
INFORMASI
Nama : Nurul Pratiwi
NIM : 105951103316
KEARIFAN LOKAL DALAM PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT PADA
HUTAN ADAT MARENA DESA PEKALOBEAAN KECAMATAN ANGGERAJA
KABUPATEN ENREKANG.
Adalah benar-benar merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam
bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi
yang berasal atau dikutip dari karya diterbitkan maupun tidak ditebitkan dari penulis
lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian
akhir skripsi ini.
Makassar, Februari 2021
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa
mencantumkan atau menyebutkan sumber.
penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau
tinjauan suatu masalah,
Makassar.
vii
ABSTRAK
Enrekang. Dibawah bimbingan Husnah Latifah dan Hasanuddin Molo
Pemanfaatan tumbuhan obat yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Pekalobeaan
Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang secara turun temurung merupakan bentuk
kearifan lokal yang harus dipertahankan. Oleh, karena itu penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat
dan bagaimana cara masyarakat memanfaatakan tumbuhan obat di Desa Pekalobeaan
Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang. Metode yang digunakan yaitu dengan metode
wawancara secara mendalam, teknik kuesioner dan survey lapangan. Teridentifikasi
sebanyak 15 spesies tumbuhan yang terdiri dari 13 family dan family yang terbanyak
ditemukan yaitu family zingiberaceae dengan jumlah sebanyak 3 spesies.Bagian-bagian
tumbuhan obat yang paling banyak dimanfaatkan yaitu bagian daun sebanyak 23,33 %
sedangkan bagian yang paling sedikit digunakan yaitu akar sebanyak 3,33%. Tumbuhan yang
paling sering digunakan yaitu paria/pare (Momordica charantia),sirih (Piper betle),laruna
(Chromolaena odorata, jahe (Zingiber officinale),kunyit (Curcuma caesia. Kearifan lokal
masyarakat di Desa Pekalobeaan Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang dalam
memanfaatkan tumbuhan obat terbagi dalam beberapa hal seperti 1. Cara mengambil
tumbuhan obat, 2.Cara meramu tumbuhan menjadi obat, dan 3.Waktu mengomsumsi
ramuan dari tumbuhan. Salah satu kearifan lokal dalam cara mengambil tumbuhan
yaitu dari bagian tumbuhan seperti daun, batang, getah,air. Dalam pengambilan
tumbuhan obat memiliki ukuran atau takaran tertentu misalnya daun yang hanya di
gunakan dengan jumlah ganjil (5 atau 7 helai.), dan dengan cara meramunya seperti
di rebus dengan jumlah 2 gelas air yang nantinya akan menyisahkan setengah gelas.
Dan pengambilan tumbuhan obat dilakukan pada pagi hari,
Kata kunci: Kearifan lokal, Masyarakat, Tumbuhan obat, Desa Pekalobean Kecamatan
Anggeraja Kabupaten Enrekang.
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kehadirat Allah subhanahu wataala atas limpahan rahmat
dan karunianyalah sehingga penulis mampu menyelesaikan laporan proposal ini yang
membahas mengenai Kearifan Lokal Dalam Pemanfaatan Tumbuhan Obat Pada
Hutan Adat Marena di Desa Pekalobean, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang
sebagai tugas laporan skripsi.
Tak lupa pula kita kirimkan salam dan shalawat kepada junjungan kita baginda
Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam, beliau yang menjadi surih tauladan bagi kita
semua. Dengan ini penulis menguraikan tentang Kearifan Lokal Dalam Pemanfaatan
Tumbuhan Obat Pada Hutan Adat Marena di Desa Pekalobean, Kecamatan
Anggeraja, Kabupaten Enrekang.
Pada kesempatan kali ini pula penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar –
besarnya kepada :
1. Kedua orang tua tercinta, tak henti – hentinya memanjatkan doa untuk
keberasilan dan keselamatan penulis dunia akhirat, kemudian dukungan moral
serta materi demi keberhasilan studi dari penulis.
2. Ayahanda Dr. H. Burhanuddin, S.Pi., M.P selaku Dekan Fakultas Pertanian
Universitas Muhammadiyah Makassar.
ix
3. Ibunda Dr. Ir. Hikmah, S.Hut., M.Si.,IPM selaku Ketua Program Studi
Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Ibunda Dr. Ir. Husna Latifah, S.Hut., M.Si., IPM selaku pembimbing ke 1 yang
telah memberikan masukan dan arahan sehingga penulis berhasil menyusun
laporan.
5. Ayahanda Dr. Ir. Hasanuddin Molo, S.Hut., M.P.,IPM selaku pembimbing ke 2
yang telah memberikan masukan dan arahan sehingga penulis berhasil menyusun
laporan.
6. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas
Muhammadiyah Makassar, yang telah memberikan ilmu selama mengikuti
kegiatan perkuliahan sehingga dapat diaplikasikan pada lokasi penelitian.
7. Teman – teman dan semua pihak yang tak dapat disebutkan satu persatu yang
telah memberikan dorongan dan motivasi yang besar.
Semoga doa dan motivasi yang diberikan oleh semua pihak dibalas oleh Allah
subhanahu wataala. Penulis berharap laporan ini bermanfaat bagi kita semua.
Makassar, Februari 2021
HAK CIPTA MILIK UNISMUH .................................................................... vi
ABSTRAK ......................................................................................................... vii
2.3. Tumbuhan Obat ............................................................................... 6
2.5. Kearifan Lokal ................................................................................. 9
2.7. Penelitian Sebelumnya (State Of The Art) ...................................... 11
2.8. Kerangka fikir .................................................................................. 14
BAB III. METODE PENELITIAN
3.2. Alat Dan Bahan Penelitian ............................................................... 16
3.3. Metode Pelaksanaan......................................................................... 16
3.5. Metode Pengumpulan Data .............................................................. 17
3.6. Metode Pengambilan Data ............................................................... 18
3.7. Metode Analisis Data ...................................................................... 19
BAB IV. KEADAAN UMUM LOKASI
4.1. Geografis dan Demografi ................................................................. 20
4.2. Keadaan Sosial, Ekonomi dan Budaya ............................................ 20
4.3. Pembagian Wilayah Desa ............................................................... 23
BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Karakteristik Responden .................................................................. 24
5.3. Cara Pemanfaatan Tumbuhan Obat ................................................ 30
BAB VI . PENUTUP
5.1. Kesimpulan ...................................................................................... 42
5.2. Saran ................................................................................................ 43
2. Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Pekalobean Kecamatan Anggeraja
Kabupaten Enrekang ............................................................................... 22
6. Bagian Tumbuhan Yang Dimanfaatkan ................................................. 28
7. Habitus Tumbuhan ................................................................................. 29
xiv
xv
1. Kuisioner Pemanfaatan Tumbuhan Obat di Hutan Adat Marena Desa
Pekalobeaan Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang .......................... 49
2. Data Mentah Responden .............................................................................. 56
3. Identitas Responden di Sekitar Hutan Adat Marena Desa Pakalobean,
Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang ............................................. 57
4. Dokumentasi Penelitian ............................................................................... 59
6. Peta Wilayah Marena Adat Desa Pekalobean ............................................. 69
7. Surat Permohonan Izin Penelitian ................................................................ 70
8. Surat Izin Penelitian ..................................................................................... 71
9. Tes Plagiat .................................................................................................... 73
10. Riyawat Hidup ............................................................................................. 75
Tumbuhan obat adalah semua jenis tumbuhan digunakan sebagai bahan
ramuan obat tradisional dimana bahan aktifnya dapat digunakan sebagai bahan obat
sintetik baik secara tunggal maupun campuran yang dianggap dan dipercaya dapat
menyembuhkan Asuatu penyakit atau dapat memberikan pengaruh terhadap
kesehatan. Pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan ramuan obat tradisional
terbentuk melalui sosialisasi yang secara turun temurun dipercaya dan diyakini
kebenaranya. Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat merupakan salah satu cara
masyarakat yang dilakukan secara turun temurun untuk memenuhi kebutuhan
terutama untuk mengatasi persoalan terkait dengan kesehatan.
Indonesia kaya akan budaya dan kearifan lokal masyarakat. Setiap daerah di
Indonesia memiliki kearifan lokal yang berbeda- beda , perbedaan ini di sebabkan
oleh tantangan alam dan kebutuhan hidup berbeda-beda , sehingga pengalamnnya
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memunculkan berbagai sytem pengetahuan
baik yang berhubungan dengan lingkungsn maupun social.
Kearifan lokal diartikan sebagai pandagan hidup dan ilmu pengetahuan serta
berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat
lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka,
Fajarini, 2014.
berkhasiat obat sebagai salah satu upaya dalam penanggulan masalah kesehatan jauh
sebelum pelayanan kesehatan formal dengan obat-obatan sintetik. Pengetahuan dan
kearifan lokal yang dimiliki secara turun temurun dari leluhurnya, masyarakat
Indonesia memanfaatkan tumbuhan untuk meredakan gejala hingga menyembuhkan
beragam penyakit yang diderita. Ada yang langsung dimanfaatkan dan ada juga yang
harus diracik dengan tumbuhan obat lainnya. Bahan-bahan yang dijadikan ramuan
dapat diambil dari bagian akar, daun, bunga, buah maupun kayu (Suparni &
Wulandari, 2012).
Indonesia umumnya mempunyai adat istiadat dan budaya yang sangat
beragam. Berbeda lokasi dari suatu masyarakat akan berbeda pula jenis tumbuhan
obat yang dimanfaatkan meskipun pada suku yang sama seperti sumber lokasi
didapatnya tumbuhan obat, status budidaya tumbuhan, bagian yang digunakan
sebagai obat serta cara pemanfaatan tumbuhan obat tersebut. Hal ini erat kaitannya
dengan ketersediaan jenis tumbuhan obat di alam serta pengetahuan yang dimiliki
oleh masyarakat tersebut. Pengetahuan lokal dalam pemanfaatan tumbuhan/bahan
alami untuk pengobatan umumnya dimiliki oleh masyarakat pedesaan yang terutama
berada di sekitar kawasan hutan. Masyarakat pedesaan umumnya memilih
menggunakan obat tradisional dengan memanfaatkan alam sekitarnya dibandingkan
obat modern. Oleh karena itu, perlu adanya identifikasi bagian-bagian tumbuhan obat
secara khusus yang digunakan pada umumnya oleh masyarakat pedesaan. Salah satu
daerah yang masih menjaga tradisi leluhur dan memiliki potensi pengetahuan yang
3
besar tentang tumbuhan obat dan kearifan local adalah desa Pekalobean, Kecamatan
Anggeraja, Kabupaten Enrekang sehingga sangat menarik di lakukan sebuah
penelitian di desa tersebut.
Kawasan hutan adat marena berada dalam penguasaan dinas kehutanan sejak
tahaun 1975, pengelolhaan hutan di marena selama ini memnag memiliki mekanisme
adat tersendiri meski sempat tidak berfungsi karena penguasaan pihan kehutanan,
hukun ini terutama berlaku di kawasan hutan lindung. Namun pasca penetapan
sebagai masyarakat adat atau hutan adat pada 14 Februari 2018 masyarakat kembali
menghidupkan aturan adat efektif dan semakin percaya diri dalam mengelolah hutan
dengan aturan adat mereka sendiri.
Inventarisasi jenis tumbuhan obat, potensi pemanfaatannya sebagai tumbuhan
obat, pengolahan dan cara memperoleh tumbuhan obat di masyarakat sekitar kawasan
Hutan Adat Marena Desa Pekalobean Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang.
Oleh karena itu, berdasarkan hal tersebut di atas, maka perlu dikaji dan dilakukan
penelitian tentanf kearifan lokal masyarakat dalam pemanfaatan tumbuhan obat.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah:
1. Jenis tumbuhan yang di manfaatakan sebagai obat di Hutan Adat Marena,
Desa Pekalobean, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang.
2. Bagian manakah tumbuhan obat yang digunakan oleh masyarakat di Hutan
Adat Marena Desa Pekalobean Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang.
4
3. Bagaimana cara pemanfaatan tumbuhan obat di Hutan Adat Marena Desa
Pekalobeaan Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang.
1.3 Tujuan Penelitian
Kabupaten Enrekang.
2. Untuk mengetahui bagian-bagian tumbuhan obat yang di gunakan oleh
masyarakat di hutan adat Marena Desa Pekalobean Kecamatan Anggeraja
Kabupaten Enrekang.
3. Untuk mengetahui bagaimana cara pemanfaatan tumbuhan obat di Hutan
Adat Marena Desa Pekalobeaan Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini di harapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi dan
bahan acuan untuk melakukan penelitian-penelitian selanjutnya yang berkaitan
dengan kearifan local dalam pemanfaatan tmbuhann obat yang ada di Hutan Adat
Marena.
5
Hutan adat adalah hutan yang berada dalam wilayah masyarakat hukum
adat.Pengertian hutan adat merujuk pada status kawasan hutan. Hal ini perna menjadi
polemic berkepanjangan kerana dalam kerangka hukum Indonesia hutan adat di
anggap sebagai hutan Negara yang hak pengelolaannya di berikan kepada masyarakat
adat, kemudian terjadi perubahan definisi yang memberikan status tersendiri.
Hutan adat adalah kawasan hutan yang berada di wilayah adat yang
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari siklus kehidupan komunitas adat
penghuninya. Pada umumnya komunitas-komunitas masyarakat adat penghuni hutan
di Indosnesia memandang bahwa manusia adalah bagian dari alam yang saling
memelihara dan menjaga keseimbangan dan harmoni, (Nababan, 1995 dalam Raden,
et al., 2003 ).
Prinsip-prinsip kearifan lokal adat yang masih di hormati dan dipraktekkan
oleh masyarakat adat yaitu masih hidup selaras alam dengan mentaati mekanisme
ekosistem dimana manusia merupakan bagian dari ekosistem yang harus di jaga
keseimbangannya, adanya hak penguasaan dan kepemilikann bersama komunitas
sehingga mengikat semua warga untuk menjaga dan mengamankannya dari
kerusakan, adanya system pengetahuan dan struktur kelembagaan pengetahuanadat
yang memberikan kemampuan bagi komunitas untuk memecahkan secara bersama
masalah-masalah yang mereka hadapi dalam pemanfaatan sumberdaya hutan, ada
6
sumberdaya milik bersama dari penggunaan berlebihan baik oleh masyarakat sendiri
maupun masyarakat kuar yang bisa meredan kecemburuan social di tengah
masyarakat ( Nababan, 1995 dalam Raden, et al., 2003)
2.2 Pemanfaatan Hasil Hutan.
Menurut Undang-Undang No 41 Tahun 1999 tentang kehutanan, pengertiaan
hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya
alam hayati dan di dominasi oleh pepohonan dalam persekituan alan lingkungannya
yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan.
Pemanfaatan hasil hutan adalah kegiatan untuk memanfaatkan kawasan hutan,
memanfaatkan jasa lingkungan, memanfaatkan hasil hutan kayu dan hasil hutan non
kayu serta memungut hasil hutan kayu dan bukan kayu secara optimal dan adil untuk
kesejahteraan masyarakat dan tetap menjaga kelestariannya.
2.3 Tumbuhan Obat
Tanaman obat adalah semua jenis tumbuhan digunakan sebagai bahan ramuan
obat tradisional dimana bahan aktifnya dapat digunakan sebagai bahan obat sintetik
baik secara tunggal maupuan secara campuran yang di anggap dan di percaya dapat
menyembuhkan suatu penyakit atau dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan.
Pemanfaatan tumbuhan obat sebagai bahan ramuan obat tradisional terbentuk melalui
sosialisasi yang secara turun temurun dipercaya dan di yakini kebenarannya.
7
Tumbuhan obat bagi masyarakat khususnya yang bertempat tinggal di daerah
pedesaan di sekitar hutan dalam pemanfaatan tanaman obat untuk kepentingan
kesehatan bukan merupakan hal yang baru namun sudah berlangsung cukup lama.
(Wiriadinata, et al 1994 dalam Soekarma dan Riswan, et al 1992).
Tumbuhan obat terdiri dari beberapa macam habitus, yaitu gambaran
penampilan umum arsutektur suatu tumbuhan. Menutu Tjitrosoepomo 2005 habitus
dari spesies tumbuhan dapat dibagi kedalam beberapa kelompok, yaitu : Herba adalah
tumbuhan yang tak berkayu dengan batang yang lunak dan berair. ; Pohon adalah
tumbuhan yang tinggi besar, batang berkayu dan bercabang jauh dari permukaan
tanah. ; Semak adalah tumbuhan yang tak seberapa besar, batang berkayu, bercabang-
cabang dekat permukaan tanah atau malahan dalam tanah. ; Perdu adalah tumbuhan
berkayuyang tidak seberapa besar dam bercabang dekat permukaan tanah biasanya
kurang dari 5-6 meter.; Liana dalah tumbuhan berkayu dengan batang
menjulur/memanjat pada tumbuhan lain. Tradisi mengomsumsi ramuan dari tanaman
obat untuk berbagai tujuan telah di lakukan oleh nenek moyang terdahulu. Salah satu
tujuannya adalah mengobati, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Hal ini
menunjukan bahwa pengobatan tradisional menggunakan tumbuhan obat sudah
menjadi budaya dan sangat nyata kontribusinya dalam menyehatkan masyarakat.
2.4 Pemanfaatan Tumbuhan Obat
memiliki khazana yang berbeda-beda. Pada setiap suku etnis, terdapat beraneka
8
tumbuhan untuk pengobatan tradisional.
berbagai suku/etnis di Indonesia sejak dahulu dan masing-masing suku/etnis
memiliki kearifan local masyarakat yang berbeda-beda dalam hal pemanfaatan
tumbuhan obat untuk pengobatan tradisional. Hal ini didukung oleh sumber daya
dalam Indonesia yang sangat kaya akan keanekaragaman hayati, World Conservation
Monitoring Center telah melaporkan bahwa wilayah Indonesia merupakan kawasan
yang banyak dijumpai beragam jenis tumbuhan obat dengan jumlah tumbuhan obat
dengan jumlah tumbuhan yang telah dimanfaatkan mencapai 2.518.
Indonesia umumnya mempunyai adat istiadat dan budaya yang sangat
beragam. Keanekaragaman etniknya menyebabkan beberapa masyarakatnya masih
menggunakan obat tradisional dengan memanfaatkan alam sekitarnya terutama yang
hidup di pedalaman dan terasing. Penggunaan obat tradisional tersebut, pada
prinsipnya bertujuan untuk memelihara kesehatan dan menjaga kebugaran,
pencegahan penyakit, obat pengganti atau pendamping obat medik dan memulihkan
kesehatan (Supandiman et al., 2000).
Menurut Zuhud et al., 1991 dalam Abdiyani (2008), masyarakat Indonesia
sudah mengenal obat dari jaman dahulu, khususnya obat yang berasal dari tumbuh-
tumbuhan. Seiring meningkatnya pengetahuan jenis penyakit, semakin meningkat
juga pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan untuk obat-obatan, namun
demikian sering terjadi pemanfaatan yang dilakukan secara berlebihan sehingga
9
seumur dengan peradaban manusia. Tumbuhan adalah gudang bahan kimia yang
memiliki sejuta manfaat termasuk untuk obat berbagai penyakit. Kemampuan
meracik tumbuhan berkhasiat obat dan jamu merupakan warisan turun temurun dan
mengakar kuat di masyarakat. Kelebihan dari pengobatan dengan menggunakan
ramuan tumbuhan secara tradisional tersebut ialah tidak adanya efek samping yang
ditimbulkan seperti yang terjadi pada pengobatan modern (Thomas, 1992 dalam
Sistiawanti et al., 2010).
Kearifan lokal dibangun dari nilai-nilai social ang dijunjung tinggi dalam
struktur social masyarakat sendiri dan memiliki fungsi sebagai pedoman, pengontrol,
dan rambu-rambu untuk berprilaku dalam berbagai dimensi kehidupan baik saat
berhubungan dengan sesame maupun dengan alam ( Santoso, 2009).
Kearifan lokal dapat di definisikan sebagai suatu budaya yang di ciptakan oleh
actor-aktor lokal melalui proses yang berulang-ulang melalui internalisasi dan
interpensi ajaran agama dan budaya yang di sosialisasikan dalam bentuk norma-
norma dan dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat.
Kearifan lokal dapat juga diartikan sebagai pandangan hidup dan ilmu
pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang
dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam
pemenuhan kebutuhan mereka, ( Fajriani, 2018 ).
10
Menurut EdySedyawati “ kearifan lokal “ adalah berbagai pola tindakan dan
hasil budaya materialnya. Dalam arti yang luas itu maka diartikan, “ kearifan lokal “
itu terjabar dalam seluruh warisan budaya baik tangible (berwujud nyata) maupun
yang intangible ( ta berwujud )
Kawasan hutan adat marena berada dalam penguasaab dinas kehutanan sejak
tahun 1975, pengelolhan hutan di marena selama ini memang memiliki mekanisme
adat tersendiri meski sempat tidak berfungsi karena penguasaan pihak kehutanan,
hukum ini terutama berlaku di kawasan hutan lindung. Namun pasca penetapan
sebagai masyarakat adat atau hutan adat pada 14 februari 2018 masyarakat kembali
menghidupkan aturan adat efektif dan semakin percaya diri dalam mengelolah hutan
dengan aturan adat mereka sendiri.
Dilokasi yang lebih tinggi dari hutan reboisasi, terdapat hutan lindung yang
dikeramatkan warga. Namanya Perangiang, artinya “ yang didengar” yaitu tempat ini
di yakini warga memiliki banyak situs purbakala, termasuk sebuah sumur yang di
keramatkan. Hanya saja meski disebut hutan lindung, kawasan tersebut sebenarnya
hamparan tanah yang dipenuhi bebatuan, gua-gua, dengan sedikit saja tegukan pohom
kecil diatasnya.
adhoc pengakuaan masyarakat adat pemerintah daerah enrekang, luas wilayah adat
merena yang di akui yaitu 676,32 hektar. Maremna mencakup lima kampung yang
11
terbagi atas Landotete ( bagian bawah ), Lembong, Dale (bagian atas), dan Paropo
dan Batu Rappe (bagian bawah hutan).
Pengelolaan hutan adatdi Marena mengacu pada meknisme adat yang di sebut
Pamali yang mencakup tiga aturan yaitu ;
1. Jika warga yang mengambil kayu di kawasan hutan lindung tanpa izin pemangku
adat, dia akan di usir keluae dari kampong bersama kayu yang diambilnya,
hukuman ini adalah yang terberat.
2. Jika terdsapat warga yang membabat hutan untuk kepentinmgan apapun itu tanpa
seizing adat, dia tidak boleh menggunakan air untuk semua lahan pertaniaannya,
ini termasuk hukuman menengah,
3. Jika terdapat warga yang membakar pohon atau tanaman apapun di kawasan hutan
lindung, dia wajib memotong seekor kerbau tedong pujuk lalu di potong secara
adat dan di makan secara bersama-sama.
2.7 Penelitian Sebelumnya ( State Of The Art )
State of the art penelitian ini diambil dari beberapa contoh penelitian
terdahulu sebagai panduan atau contoh untuk penelitiannyang dilakukan saat ini.
Penulis banyak terinspirasi dari penelitian yang berkaitan dengan kearifan lokal
dalam pemanfaatan tumbuhan obat. Berikut penelitian terdahulu yang menjadi
referensi bagi penelitian ini ini dapat di lihat pada Tabel 1.
12
Tabel 1. State Of the Art penelitian terdahulu tentang kearifan lokal.
No Judul Penelitian / Jurnal Pembahasan
1 Tumbuhan obat dan kearifan
lokal masyarakat disekitar
kawasan TNBG, Desa
Sibonggur Julu, Kabupaten
kearifan lokal masyarakat disekitar
Kabupaten Mandailing Natal dalam
desa sibonggor julu yang terdiri dari 2
kelas yaitu moonocotyledoneae dengan 5
family dan kelas dicotyledoneae dengan 12
family.
Persamaan :
obat.
Perbedaan:
metode wawancara namun tidak hanya
dengan masyarakat biasa melainkan
seperti tabib (dukun).
Lintang terdiri dari 21 jenis tumbuhan.
Persamaan :
obat dan jamu tahun 2015 melalui tim
manajemen data Badan Litbang
13
dan identifikasi langsung kelapangan
pemanfaatan tanaman obat
berkhasiat obat oelh
masyarakat Cipatat Kabupaten
berkhasiat obat merupakan bentuk
kearifan lokal dalam memanfaatkan
sumber pagan dan sebagai penyembuh.
Persaman:
Perbedaan :
ilmiah yang meneliti dan mengkaji tentang
kearifan lokal dalam pemanfaatan
obat dengan menggunakan metode
kualitatif (wawancara) dan identifiksi
masyarakat sehingga teridentifikasi
masyarakat dalam pengobatan tradisional
Dusun Tayawi.
Perbedaan :
pohon dan herba. Bagian tanaman yang
digunakan antara lain, kulit, batang, daun,
buah. Rimpang, biji, getah dan akar, dan
cara pengelolahannya yakni direbus,
dalam bentuk segar.
sama menggunakan informan kunci.
yang ada di pekarangan rumah atau di
hutan, hal ini di sebabkan karena jarak
tempuh ke puskesmas lebih jauh.
Sedangkan pada penelitian ini, mengatakan
bahwa masyarakat yang ada di Desa
tersebut sudah minim menggunakan
2.8. Kerangka Pikir
Penelitian ini di awali dengan pemilihan lokasi pada salah satu hutan adat
yang ada di Enrekang yaitu hutan adat Marena Desa Pekalobean Kecamatan
Anggeraja Kabupaten Enrekang. Lokasi tersebut di pilih dan di jadikan tempat
penelitian dengan harapan nantinya akan memberikan imformasi kepada masyarakat
15
setempat tentang kearifan local dalam pemanfaatan tumbuhan obat yang terdapat
pada hutan adat marena. Kerangka pikir penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Kerangka Pikir
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan kurang lebih 2 bulan yakni pada bulan
Oktober 2020 sampai bulan Januari 2021. Penelitian ini dilaksanakan di Hutan Adat
Marena, Desa Pekalobean, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang.
3.2 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tulis (atk), lembar
responden, kamera, laptop. Adapun bahan yang di gunakan seperti dokumen atau
jurnal yang berkaitan dengan kearifan lokal dalam pemanfaatan tumbuhan obat.
3.3 Metode Pelaksanaan
dengan mencari informasi dari masyarakat menggunakan metode snowball sampling.
Snowball sampling artinya pengumpulan data…