Karya Cipta infrastruKtur permuKiman Bangkitkan Kembali ... ?· 20 inovasi Program BssP dukung ... kawasan…

  • View
    214

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

  • Bangkitkan Kembali Nilai PusakaCipta Karya Lestarikan Bangunan Cagar Budaya

    Karya Cipta infrastruKtur permuKiman

    Edisi 06 tahun XV

    Juni 2017

    KEMENTERIANPEKERJAAN UMUM

    DAN PERUMAHAN RAKYAT

  • 19

    02|Edisi 06Tahun XV

    daftar isi Edisi 06/tahun XVJuni 201704

    2316

    10

    04 berita utamaBangkitkan Kembali Nilai PusakaCipta Karya Lestarikan BangunanCagar Budaya

    08 liputan khususCipta Karya serahterimakan Rp. 421 Miliar Kepada 49 Pemerintah daerah

    10 Tahun 2018, ditjen Cipta Karya Akan Rampungkan 5 Prioritas Pembangunan infrastruktur

    12 info baruCipta Karya Bangun TPA Representatif di Kabupaten Poso

    13 Cipta Karya Jangkau infrastruktur Hingga daerah Pelosok

    14 ditjen Cipta Karya Kunjungi Permukiman Tradisional Melayu Kota Pekanbaru

    15 Cipta Karya Optimalkan Penanganan sanitasi di Provinsi sultra

    16 dirjen Cipta Karya TinjauPenanganan Kumuh

    17 Cipta Karya Bangun Gedung PiP2B di Tanjung selor Kaltara

    18 Cipta Karya segera Bangun sPAM Regional durolis

    19 infrastruktur Permukiman Kota Baru Makassar siap dibangun

    20 inovasiProgram BsPs dukung Pembangunan destinasi Wisata indonesiaa

    23 seberapa Pedulikah KitaPada Kondisi Persampahan di indonesia

    26 Program Kotaku siap Wujudkan Kota Layak Huni di Bengkulu

    28 Toilet dan Air Bersih, Garda TerdepanPariwisata Nasional

    30 sebaiknya anda tahuCagar Budaya Kota Tua Jakarta32 lensa CkKementerian PUPR Gelar Buka Bersama 250

    Anak Yatim dan dhuafa

    33 Kementerian PUPR PeringatiHari Lahir Pancasila

    34 seputar kitaCipta Karya Konsisten Membanguninfrastruktur di Provinsi Banten

    duta sanitasi Jambi Kampanye Pentingnya sanitasi di Bulan Ramadhan

    satker PKP Banten Kejar Gerakan 100-0-100 di Provinsi Banten

    13

  • Tahun XVEdisi 06 |03

    editorialpelindungsri Hartoyo

    penanggung Jawabrina agustin indriani

    dewan redaKsidwityo a. soeranto, adjar prajudi, rina farida,

    dodi Krispratmadi, muhammad sundoro

    pemimpin redaKsimardi parnowiyoto

    penyunting redaKsiardhani p, indah raftiarty er, astaf aji pranaya

    bagian produKsiari iswanti, bramanti nawang sari, dewi savitri,

    rizqiah darmawiasih

    bagian administrasi & distribusifajar drestha birawa, Harniati ulfah

    Kontributorsri murni edi K, taufan madiasworo,

    tanozisochi lase, diana Kusumastuti, dian irawati, marsaulina pasaribu, didiet a. akhdiat,

    boby ali azhari, prasetyo, ade syaiful rachman, meike Kencanawulan, Komang raka maharthana,

    sandhi eko bramono, astiana Harjanti, andika budi prasetya, bhima dhananjaya, airyn saputri Harahap, meinar manurung

    alamat redaKsiJl. pattimura no. 20, Kebayoran baru 12110

    telp/fax. 021-7245754

    Redaksi menerima saran maupun tanggapan terkait bidang Cipta Karya ke email kompuck@gmail.com atau saran dan pengaduan di www.pu.go.id

    Cover :Benteng Marlborough, Bengkulu

    http://ciptakarya.pu.go.id

    @ditjenck

    @ditjenciptakarya

    ditjen Cipta Karya

    ditjen Cipta Karya

    kompuck@gmail.com

    Lestari Cagar Budaya: Keberadaan Fisik dan Esensinya

    Cagar budaya merupakan warisan budaya bersifat kebendaan yang dapat berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan. Adanya perkembangan terkini perkotaan yang sejalan dengan konsep-konsep pemikiran modern menjadi perlu untuk dipahami bahwa apakah konsep-konsep pemikiran tersebut sesuai dengan kebutuhan suatu cagar budaya untuk bertahan dan terjaga keberadaannya. Keberadaan cagar budaya seolah-olah berdiri di tengah arus perkembangan kota sehingga harus menyesuaikan diri demi kelestariannya, faktanya kotalah yang terbangun di sekitarnya. Karena cenderung langka dan semakin berkurang jumlahnya, pelestarian cagar budaya oleh negara dengan langkah pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan harus dilakukan. Perkembangan kota berakibat pula pada keterbatasan lahan dan tuntutan ekonomi, sehingga metode pelestarian perlu beradaptasi mengikuti pemecahan masalah tersebut. Misalnya pengembangan cagar budaya untuk kegiatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masa kini dengan melakukan perubahan terbatas yang tidak akan mengurangi nilai pentingnya atau kerusakan pada bentuk fisik. Terdapat beberapa konsep pelestarian yang dapat diterapkan, antara lain konsep urban infill yang didefinisikan sebagai perkembangan baru yang berlokasi di lahan kosong atau belum berkembang dalam suatu masyarakat yang ada, dan yang tertutup oleh jenis pembangunan lainnya. Selanjutnya konsep revitalisasi, yakni upaya untuk memvitalkan kembali suatu kawasan atau bagian kota yang dulunya pernah vital/hidup, akan tetapi kemudian mengalami kemunduran/degradasi. Konsep lain yang sering digunakan adalah preservasi, dimana secara luas preservasi merupakan kegiatan pemeliharaan bentukan fisik suatu tempat dalam kondisi eksisting dan memperlambat bentukan fisik tersebut dari proses kerusakan, sedangkan secara terbatas preservasi adalah bagian dari perawatan dan pemeliharaan yang intinya mempertahankan keadaan sekarang dari bangunan dan lingkungan cagar budaya agar keandalan dan kelaikan fungsinya terjaga baik. Pada dasarnya konsep-konsep pelestarian cagar budaya tersebut dapat diterapkan selama mengikuti prinsip-prinsip yang diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. Prinsip tersebut antara lain didasarkan untuk memenuhi kebutuhan masa kini dengan tetap mempertahankan ciri asli dan/atau muka bangunan cagar budaya atau struktur cagar budaya. Selanjutnya tetap mempertahankan nilai-nilai yang melekat pada cagar budaya, menambah fasilitas sesuai dengan kebutuhan, mengubah susunan ruang secara terbatas, dan/atau mempertahankan gaya arsitektur, konstruksi asli, dan keharmonisan estetika lingkungan di sekitarnya. (Teks: Redaksi)

  • 04|Edisi 06Tahun XV

    Bangkitkan Kembali Nilai Pusaka Cipta Karya Lestarikan Bangunan Cagar BudayaAset pusaka merupakan rekam jejak sejarah bangsa Indonesia dan memiliki nilai kearifan lokal yang otentik bagi setiap kota.

    berita utama

    Kota bukan hanya sekedar mesin eko-nomi namun juga menyimpan po tensi yang dapat berwujud kesenian, adat istiadat, bahasa, situs, arsitektur, dan kawasan bersejarah yang bernilai pusaka yang mengisi ruang-ruang kota. Sebagai bagian dari identitas kota, maka penting untuk mempertahankan keu tu-han ragam budaya setempat melalui pe na -taan dan pelestarian. Mengingat terus me-ngikisnya nilai-nilai kekayaan budaya ra gawi maupun tak ragawi yang dimiliki kota akibat perubahan sosial ekonomi lingkungan. Salah satu wujud komitmen pemerintah da lam menjalankan amanat Undang-Undang

    Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang adalah melalui Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP). Dalam Undang-Undang tersebut menyiratkan pen-

    tingnya memperhatikan nilai budaya yang berkembang di masyarakat dalam penye-lenggaraan penataan ruang sebagai salah satu bentuk perlindungan, peles tarian dan

  • Tahun XVEdisi 06 |05

    pemanfaatan cagar budaya untuk memajukan kebudayaan Indonesia. P3KP telah dirintis sejak tahun 2012 oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat berkolaborasi dengan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dan Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI). Program ini diinisiasi sebagai upaya nyata untuk melestarikan aset-aset pusaka bangsa yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Penanganan kawasan pusaka oleh P3KP diantaranya pada Kawasan Putro Phang di Kota Banda Aceh, Kawasan Silo dan Kawasan Kandhi di Kota Sawahlunto, Kawasan Plaza Monpera dan Kawasan Bukit Siguntang di Kota Palembang, Kawasan Tugu Kujang dan Kawasan Pecinan di Kota Bogor, Kawasan Taman Pintar di Kota Yogyakarta, Kawasan Kota Lama di Kota Semarang, Kawasan Ve-teran, Kawasan Erka Ilir dan Kawasan Si-ring Sudirman di Kota Banjarmasi, Kawasan Benteng Wolio di Kota Baubau, Kawasan Puputan Badung di Kota Denpasar, Kawasan Desa Tenganan dan Kawasan Puri Karangasem di Kabupaten Karangasem, Kawasan Benteng Oranje dan Kawasan Ngaralamo di Kota Ternate. Selain itu terdapat penanganannya direktif pada kawasan pusaka seperti pada Kawasan Jetayu di Kota Pekalongan, Ka-wasan Keraton Kasunanan, Kawasan Mang-kunegaran, dan Kawasan Ndalem Joyo ku su-man di Kota Surakarta. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, yang dimak sud dengan bangunan cagar budaya ada lah susunan binaan yang terbuat dari ben-da alam atau benda buatan manusia untuk me menuhi kebutuhan ruang berdinding dan

    Cagar Budaya yang Dilestarikan, menekankan untuk menjaga kelestarian bangunan cagar budaya diperlukan pengaturan ter hadap per-lindungan, pengembangan dan peman faatan serta keandalan gedung. Suatu bangunan dapat diusulkan seba gai bangunan cagar budaya apabila memenuhi kriteria berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih, mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun, dan memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan, ser ta memiliki nilai budaya bagi penguatan ke pribadian bangsa. Tahapan paling krusial dalam proses pe-lestarian bangunan cagar budaya adalah pe-nilaian signifikansi. Signifikansi merupakan nilai penting dan digunakan sebagai pan-duan dalam mengembangkan kebijakan pe-lestarian, termasuk desain dari perubahan, per baikan dan pemeliharaan untuk bangunan cagar budaya. Penilaian signifikansi dapat meng gunakan dokumentasi dan bukti fisik dari setiap elemen bangunan yang berbeda be rupa denah, fasade, struktur, dinding, lantai, dan sebagainya. Dalam penyelenggaraan bangunan ca-gar budaya yang dilestarikan harus mem-

    atau tidak berdinding dan b