78

KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

  • Upload
    others

  • View
    5

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas
Page 2: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

2

Page 3: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

3

Page 4: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

4

ABSTRAK

Imam Yuwono “Efektifitas Media Kartu Kata Bergambar Untuk Meningkatkan Kemampuan Pelafalan Kosakata Bahasa Inggris Pada Anak Autis Kelas VII Di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin”.

Autis adalah gangguan perkembangan kemampuan komunikasi,

kemampuan berinteraksi sosial dan prilaku, permasalahan anak autis di Sekolah Luar Biasa Negeri Pelambuan kelas VII belum mampu dalam melafalkan kosakata Bahasa Inggris dengan benar, sehingga berdampak kosakata Bahasa Inggris menjadi salah arti, karena pendidik kurang kreatif dalam hal penyampaian yang hanya menggunakan media dan metode yang monoton, untuk itu penerapan media kartu kata bergambar sangat cocok untuk meningkatkan kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris sehingga pembelajaran Bahasa Inggris menarik perhatian anak.

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan model penelitian subjek tunggal SSR (single subject research) menggunakan desain berpola A-B-A. Subjek penelitian adalah siswa yang berinisial Ms, pengambilan dan pengumpulan data menggunakan pencatatan kejadian (observasi berlangsung). Analisis data terbagi menjadi dua langkah: analisis dalam kondisi dan analisis antar kondisi, yang memberikan perubahan pada saat intervensi dengan hasil yang memuaskan, yaitu meningkatnya kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris dari subjek tersebut.

Adapun hasil penelitian ini menjawab rumusan penelitian yang diajukan karena terjadi peningkatan terhadap subjek penelitian dalam mean level. Persentase mean level untuk kemampuan subjek Ms, dalam melafalkan kosakata bahasa inggris mengalami peningkatan dari fase baseline (A1) adalah 44,48% dan fase intervensi (B) adalah 72,08% sedangkan baseline (A2) adalah 75,76% . Penelitian tersebut memberikan solusi dalam kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris.

Saran dalam meningkatkan kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris anak diharapkan selalu menggunakan media yang menarik seperti salah satunya media kartu kata bergambar dan memberikan materi juga tidak selalu ceramah tetapi hendaknya gunakan metode yang dapat menarik perhatian anak seperti ABA sambil diadakan sedikit permaianan dan demonstrasi pada saat pembelajaran berlangsung.

Kata Kunci: Media Kartu Kata Bergambar, Anak Autis

Page 5: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

5

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL………… ................................................................... i SURAT PERNYATAAN SKRIPSI. .......................................................... ii LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI………………………………….... iii LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................ iv MOTTO........................................................................................................ v ABSTRAK. ................................................................................................ vi KATA PENGANTAR. .............................................................................. vii DAFTAR ISI. ............................................................................................. ix DAFTAR TABEL. ..................................................................................... xi DAFTAR GAMBAR. ................................................................................ xii DAFTAR LAMPIRAN. ............................................................................. xiii BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah. .................................................... 1 B. Rumusan masalah. .............................................................. 5 C. Tujuan Penelitian. ............................................................... 6 D. Manfaat Penelitian ............................................................... 6 E. Defenisi Operasional Variabel. .......................................... 8

BAB II KAJIAN PUSTAKA. ................................................................ 11

A. Pengertian Autis ................................................................. 11 B. Klasifikasi Anak Autis. ...................................................... 14 C. Gejala Autisme. .................................................................. 15 D. Penyebab Autisme................................................................ 17 E. Kriteria Diagnostik Autisme. ….………………. ................ 21 F. Macam-macam Terapi Penunjang Autis……………… ..... 23 G. Pengertian Kartu Kata Bergambar (Flashcard) ………… .. 24 H. Kartu Kata Bergambar Sebagai Media Pendidikan……… . 25 I. Fungsi Kartu Kata Bergambar …………………………… 27 J. Kelebihan Kartu kata Bergambar …………………………. 28 K. Pengertian Pelafalan (Pronunciation)…………………… . 29 L. Pengertian Kosakata (Vocabulary) Bahasa Inggris ……… 35 M. Kerangka Berfikir................................................................. 36

BAB III METODE PENELITIAN. ......................................................... 41

A. Pendekatan Penelitian. ........................................................ 41 B. Variabel Penelitian. ............................................................ 42 C. Desain Penelitian. ............................................................... 42 D. Lokasi Penelitian. ............................................................... 44 E. Subjek Penelitian. ............................................................... 44

Page 6: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

6

F. Sistem Pencatan Data. ........................................................ 45 G. Pencatan Kejadian. ............................................................. 46 H. Uji Realibilitas Pengukuran.................................................. 50 I. Teknik Analisis Visual......................................................... 51

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. ........................ 57 A. Hasil Penelitian. .................................................................. 57 B. Pembahasan. ....................................................................... 82

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. ................................................ 88 A. Kesimpulan. ........................................................................ 88 B. Saran. .................................................................................. 88

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 90 LAMPIRAN-LAMPIRAN......................................................................... . 92 RIWAYAT HIDUP..................................................................................... 136

Page 7: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sistem pendidikan nasional merumuskan bahwa tujuan pendidikan

nasional adalah mencerdasakan kehidupan bangsa dan mengembangkan

manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan

Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan

keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan

mandiri serta tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Sebagaimana dalam pasal 5 ayat 1 Undang-Undang No. 20 Tahun

2003 Tentang Sisdiknas Usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa maka

setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk mendapat pendidikan.

Warga negara yang menjadi subyek pendidikan tidak semuanya memiliki

fisik, mental, emosi, dan sosial yang normal. Di antara mereka ada yang

memiliki kelainan, meskipun demikian mereka adalah warga negara yang

berhak memperoleh kesempatan yang seluas-luasnya untuk mendapat

pendidikan sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.

Paradigma yang sekarang sering dibicarakan adalah pendidikan untuk

semua (Educaton for All). Implikasi dari konsep ini bahwa setiap anak dengan

tidak ada pengecualian berhak mendapatkan pendidikan, termasuk anak

berkebutuhan khusus, pada kenyataannya sampai saat ini (education for all)

masih tidak merata atau biasanya dikatakan tidak semua orang dapat

memperoleh pendidikan yang layak, seperti yang diketahui anak bekebutuhan

khusus pada awalnya dikenal sebagai Anak Luar Biasa (ALB) sehingga

pendidikannya juga dikenal sebagai Pendidikan Luar Biasa (PLB), dimana UU

No. 2 tahun 1989 pasal 8 ayat 1 menegaskan bahwa “Warga negara yang

memiliki kelainan fisik dan mental berhak memperoleh pendidikan luar

biasa”.

Page 8: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

8

Sistem pendidikan seyogyanya dirancang dan program pendidikan

dilaksanakan dengan memperhatikan keanekaragaman karakteristik dan

kebutuhan tersebut (Kompendium, 2006) Implikasi pendidikan untuk semua

dalam sistem pendidikan berkebutuhan khusus. Disini yang seharusnya

ditekankan adalah pada setiap sekolah baik itu sekolah reguler, inklusi

maupun SLB hendaknya mengenai setiap mata pelajaran atau pendidikan

yang biasanya dilaksanakan dalam rangka mencerdaskan menggali potensi

anak baik itu dari segi formal dan informal bahkan ekstrakulikuler diharapkan

untuk anak berkebutuhan khusus mendapatkan juga pendidikan yang

selayaknya seperti anak-anak pada umumnya.

Menyadari akan hal ini diharapkan bahwa disetiap sekolah SLB

maupun Inklusi melaksanakan hal yang sama yaitu setiap siswa mendapatkan

pendidikan yang layak disamping itu berkualitas untuk anak-anak

berkebutuhan khusus tidak hanya untuk anak normal saja yang diprioritaskan

oleh pihak sekolah tetapi anak disabilitas juga membutuhkan perhatian

ekstra, diharapkan setiap akademik yang diberikan oleh pendidik sesuai

dengan kemampuan anak berkebutuhan khusus agar pembelajaran lebih

efektif dan efisien.

Lembaga pendidikan mempuyai fungsi untuk meletakkan dasar

pengembangan aspek-aspek, psikomotor, bahasa disamping itu aspek kognitif

juga sebagai unsur yang menuju kepada pembinaan anak menjadi pribadi-

pribadi yang utuh, sehat dan segar baik jasmani, rohani maupun sosialnya.

Untuk itu dilakukan berbagai upaya, bagi anak autis aspek kognitif

merupakan hal yang susah untuk dilakukan karena hal ini berkaitan dengan

interkasi dan sosial. Dengan keterbatasan yang dimiliki anak autis yang

memang mengalami hambatan Kemampuan berkomunikasi (berbicara dan

berbahasa), Kemampuan berinteraksi sosial (tidak tertarik untuk berinteraksi),

prilaku (hidup di dalam dunianya sendiri).

Pembelajaran mata pelajaran tertentu misalnya mata pelajaran Bahasa

Inggris. Pada pelajaran ini tidak semua materi bisa disampaikan dengan lisan

dan tertulis tetapi ada kalanya guru harus mempraktekkan dan tentunya agar

Page 9: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

9

materi bisa diingat dan diserap dengan baik oleh siswa guru perlu meminta

anak untuk mengulang apa yang sudah disampaikan oleh gurunya. Untuk bisa

melakukan aktifitas ini anak perlu diberikan materi yang menarik seperti

menggunakan metode dan media yang tidak monoton.

Salah satu keterampilan dasar yang perlu dimiliki oleh setiap orang

tentunya pada mata pelajaran bahasa inggris yaitu mengenai pelafalan yang

baik dan benar, tidak terkecuali pada anak autis yaitu pelafalan yang masih

perlu banyak diperbaiki, karena pelafalan adalah salah satu keterampilan

dasar dan salah satu bidang akademik dasar untuk menguasai Bahasa Inggris.

Kemampuan pelafalan merupakan pondasi, karena sebagian besar informasi

atau pengetahuan disajikan dalam bentuk tertulis dan lisan hanya dapat

diperoleh melalui pelafalan yang baik dan benar, tahap pelafalan permulaan

umumnya dimulai sejak murid masuk sekolah dasar kelas I. Meskipun

demikian, ada murid yang sudah belajar lebih awal dan ada pula yang baru

dapat belajar pada usia tujuh atau delapan tahun. Pada anak autis yang

mengalami keterbatasan intelegensi, kesiapan untuk belajar pelafan kosakata

baru dimulai pada saat murid duduk di kelas VII berusia empat belas tahun.

Hal ini sangat tergantung dari tingkat kematangan dan kemampuan berpikir

murid.

Pelafalan kosakata Bahasa Inggris merupakan salah satu kemampuan

yang sangat dibutuhkan, tetapi ternyata bagi murid autis hal tersebut

bukanlah hal yang mudah. Anak autis mengalami kesulitan atau kesukaran

dalam setiap pelafalan yang ditandai dengan kesulitan dalam mengenal dan

membedakan jenis kosakata, kesulitan pelafalan pada teks kosakata yang

mana hasil dari suara hampir sama pelafalannya seperti dog dan duck yang

hampir sama pelafalannya, dan contoh lainnya seperti see dan she yang juga

hampir sama pelafalannya, tidak mengherankan jika nilai rata-rata Bahasa

Inggris murid autis di kelas VII SLB Negeri Pelambuan dibawah KKM

sekolah. Hal ini berarti nilai tersebut berada di bawah nilai kriteria ketuntasan

minimal untuk mata pelajaran bahasa inggris yaitu 50. Jika kesulitan ini tidak

Page 10: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

10

tangani sejak murid berada di kelas dasar, maka akan menyulitkan murid saat

berada di kelas lanjutan.

Menyadari akan hal tersebut, maka pengajaran pelafalan bagi siswa

autis diupayakan dengan mempertimbangkan karakteristik anak autis dari

pelafalan kosakata Bahasa Inggris. Berkaitan dengan hal tersebut maka salah

satu komponen pokok dalam pembelajaran adalah menentukan media yang

tepat. Salah satu media yang dapat digunakan untuk membantu anak autis

dalam pembelajaran pelafalan kosakata Bahasa Inggris adalah media kartu

kata bergambar. Melalui media kartu kata bergambar diharapkan dapat

membantu kelancaran belajar dengan kegiatan pembelajaran yang

menyenangkan dan tidak membosankan.

Beranjak dari hal tersebut penulis tertarik mengkaji masalah

kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris anak autis dengan mencoba

menerapkan media kartu kata bergambar, dengan rumusan judulnya

“Efektifitas Media Kartu Kata Bergambar Untuk Meningkatkan

Kemampuan Pelafalan Kosakata Bahasa Inggris Pada Anak Autis Kelas

VII SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang masalah, maka

permasalahan pokok yang menjadi dasar perumusan masalah penelitian ini

sebagai berikut :

1. Bagaimana kemampuan awal Bahasa Inggris anak autis sebelum

menggunakan media kartu kata bergambar?

2. Bagaimana kemampuan Bahasa Inggris anak autis setelah

menggunakan media kartu kata bergambar?

3. Apakah penggunaan media kartu kata bergambar efektif untuk

meningkatkan kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris pada

anak autis kelas VII di SLB Negeri Pelambuan” ?

C. Tujuan Penelitian

Page 11: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

11

1. Tujuan Umum

Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh

gambaran mengenai seberapa besar efektifitas media kartu kata

bergambar dalam meningkatkan kemampuan pelafalan (pronunciation)

kosakata mata pelajaran Bahasa Inggris pada anak autis di SLB Negeri

Pelambuan Banjarmasin.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Memberikan sumbangan pemikiran dan informasi mengenai efektifitas

media kartu kata bergambar dalam meningkatkan kemampuan pelafalan

(pronuncation) kosakata Bahasa Inggris pada anak autis. Sehingga dapat

dijadikan acuan sebagai salah satu kegiatan keterampilan dalam

meningkatkan kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris untuk

beginner atau pemula pada anak autis.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi guru

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan pada guru

tentang efektifitas media kartu kata bergambar untuk meningkatkan

kemampuan pelafalan (pronuncation) kosakata Bahasa Inggris untuk

anak autis.

b. Bagi Orang Tua

Pendekatan melalui media kartu kata bergambar ini selain dapat

diterapkan di mata pelajaran Bahasa Inggris juga dapat diterapkan di

mata pelajaran yang lain seperti Bahasa Indonesia yang juga dapat

membantu dalam pengenalan huruf, pelafalan persuku kata yang

disertai dengan gambar sehingga pembelajaran juga lebih efektif

karena pengaruh gambar juga latar yang menarik dan juga warna yang

mencolok kebanyakan media ini dapat menarik perhatian anak-anak

pada umumnya, dan kartu kata bergambar ini juga dapat dipergunakan

Page 12: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

12

oleh orang tua tidak hanya semata oleh guru tetapi juga orang tua yang

bersangkutan dalam kegiatan sehari-hari di rumah, orang tua dapat

menggunakan untuk meningkatkan pelafalan kosakata anak.

c. Bagi penulis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan

tentang salah satu upaya atau kegiatan pembelajaran keterampilan

yang dapat diterapkan dalam meningkatkan kemampuan pelafalan

(pronuncation) kosakata mata pelajaran Bahasa Inggris untuk anak

autis. Memberikan sumbangan pemikiran dan informasi mengenai

efektifitas media kartu kata bergambar dalam meningkatkan

kemampuan pelafalan pada setiap kosakata Bahasa Inggris

(pronunciation) pada anak autis. Sehingga dapat dijadikan acuan

sebagai salah satu kegiatan keterampilan.

E. Definisi Operasional Variabel

Usaha untuk menghindari kesalahan dan meluasnya pandangan dalam

penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai

berikut:

1. Efektifitas

Efektifitas menunjukan taraf tercapainya suatu tujuan. Suatu usaha

dikatakan efektif kalau usaha itu mencapai tujuannya (Ensiklopedi

Indonesia, 1980:823). Efektifitas dalam penelitian ini diketahui dari hasil

skor rata-rata akhir kognitif belajar dari subjek tunggal dengan

menggunakan metode ABA (Applied Beharvior Analysis) setiap materi

diberikan kepada anak kemudian jika anak dapat menjawab dengan baik

maka diberikan reward atau berupa pujian.

2. Media

Kartu kata bergambar adalah media pembelajaran dalam bentuk kartu

bergambar yang berukuran 25x30 cm, kartu kata bergambar merupakan

suatu kartu kata atau angka dari gambar yang diperlihatkan oleh guru

kelas. Pengertian lain dari kartu kata bergambar adalah suatu kartu yang

Page 13: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

13

dicetak dengan kata atau angka dengan singkat yang disertai gambar

animasi diperlihatkan sebagian dari proses belajar.

Hal tersebut berkaitan dengan kartu kata bergambar yang diperlihatkan

kepada siswa yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa

khususnya pada pelafalan kosakata Bahasa Inggris sehingga menimbulkan

sikap aktif dan mampu untuk berkomunikasi dengan lingkungannya.

3. Pelafalan kosakata

Pelafalan adalah bagian yang bersifat dasar dalam sebuah bahasa, untuk

kealamian dari sebuah bahasa yang diucapkan akan tetapi para pelajar

Bahasa Inggris dalam penelitian disebuah lingkungan menghadapi sebuah

masalah dengan pelafalan kosakata Bahasa Inggris pada pembelajaran

pelafalan ini juga sebagai satu kesatuan dari pelafalan yang akan

diucapkan pada perkosakata, dan kosakata adalah sejumlah kata dalam

bahasa dan kata-kata tersebut digunakan sebagai mesin dari bahasa untuk

mengekspresikan suatu pikiran, dan dasar bahasa tidak ada bahasa tanpa

kosakata. Sebelum menguasai ke empat kemampuan yaitu mendengarkan,

berbicara, membaca dan menulis murid harus mempelajari kompenen

Bahasa Inggris seperti pada vocabulary (kosakata), structure (tata bahasa)

dan pronunciation (pelafalan).

4. Autis

Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada

anak. Seringkali gejala tampak sebelum anak mencapai usia 3 tahun.

Gangguan perkembangan ini mempengaruhi:

a. Kemampuan berkomunikasi (berbicara dan berbahasa)

b. Kemampuan berinteraksi sosial (tidak tertarik untuk berinteraksi)

c. Prilaku (hidup di dalam dunianya sendiri).

Umumnya, anak-anak autis sebelum berusia 3 tahun sudah

menunjukkan ketidaknormalan atau keterlambatan perkembangan dalam

berinteraksi sosial, berbicara dan bermain menggunakan daya imajinasi.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

Page 14: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

14

A. Pengertian Autis

Autis adalah sindrom yang sering disalahpahami oleh kebanyakan

orang. Anak-anak penyandang autis sering kali dianggap tidak waras, gila dan

berbahaya. Sungguh suatu pemahaman yang sangat tragis dan menakutkan.

Dengan persepsi masyarakat yang sedemikian rupa, maka perkembangan dan

keberadaan anak autis menjadi tidak diperhatikan. Jangankan untuk sekolah,

untuk berinteraksi saja anak autis sering tidak mendapatkan tempat. Anak

autis didiagnostik memiliki gangguan perkembangan pervasif pada tiga aspek

yaitu interaksi sosial, komunikasi dan perilaku dan perkembangan.

Autis secara harfiah berasal dari bahasa Yunani, auto, yang artinya

sendiri. Hal ini dilatar belakangi oleh kenyataan bahwa anak autis pada

umumnya hidup dengan dunianya sendiri, menikmati kesendirian, dan tidak

respon dengan orang-orang sekitar.

Secara neorologis, anak autis adalah anak yang mengalami hambatan

perkembangan otak terutama pada area bahasa, sosial, dan fantasi. Hambatan

perkembangan inilah yang menjadikan anak autis memilki prilaku yang

berbeda dengan anak-anak biasanya. Pada beberapa bentuk prilaku anak autis

memilki kecendrungan yang ekstrem. Dalam hal akademik juga sering

ditemukan anak-anak yang memilki kemampuan spesifik dan melebihi

kemampuan anak-anak seusianya. Sekalipun demikian, rata-rata anak autis

tidak memilki kemampuan rata-rata di semua bidang. dan gejala autisme

menutup diri sendiri secara total, dan tidak mau berhubungan lagi dengan

dunia luar, merupakan gangguan perkembangan yang komplek,

mempengaruhi perilaku, dengan akibat kekurangan kemampuan komunikasi,

hubungan sosial dan emosional dengan orang lain dan tidak tergantung dari

ras, suku, strata-ekonomi, strata sosial, tingkat pendidikan, geografis tempat

tinggal, maupun jenis makanan.

Anak autistik merupakan anak dengan hendaya perkembangan atau

developmental disorder. Kelainannya sangat mempengaruhi diri anak dalam

berbagai aspek lingkungan kehidupan dan pengalaman-pengalamannya. Oleh

Page 15: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

15

karena itu, tidaklah mengherankan jika masyarakat mengenali anak dengan

sindrom autistik pervasive developmental disorder (PDD).

Siegel, B. (1996: 9) memberikan gambaran secara terperinci tentang

hubungan yang sangat erat di antara asperger’s syndrome, fraigile-X

syndrome dan anak-anak dengan hendaya disentegratif yang berada

dalam kelompok hendaya perkembangan pervasif (PDD). Hal ini

menghindari salah pengertian di antara masyarakat (di luar para

peneliti) dalam mengenali anak dengan hendaya autistik yang

sebetulnya merupakan istilah teknis bagi para psikolog sebagai ahli

pengguna Diagnostik and Statistical Manual of Mental Disorder

(edisi keempat atau DSM IV TR) dapat dikatakan bahwa perlu adanya

pemahaman dalam membedakan kata anak autistik (autistic disorder

atau autism) dengan pervasive developmental disorder yang dikenal

dengan istilah spectrum disorder.

Anak autis yang mengalami sindrom autistik atau autism dengan

kelainan yang serius sejak usia dini terlihat dari sikap dirinya yang selalu

berusaha menghindar dari kontak sosial, bahkan terhadap orang tuanya.

Penyandang kelainan sindrom semacam ini awalnya diketemukan oleh Leo

Karner (1943; dalam Ward, A.J., 1970: 350) yang disebut dengan early

infantile autism atau autistik usia dini. Kata autism berasal dari bahasa

Yunani Kuno atau Greek yang berarti self atau diri sendiri. Mereka

berkecendrungan hidup dalam dunianya sendiri. Para peneliti beranggapan

bahwa kehidupan dalam dunianya sendiri akan berlangsung selama

kehidupannya. Anak autis secara nyata mempunyai kesulitan untuk belajar

berkomunikasi secara verbal dan nonverbal. Banyak juga diantara mereka

sudah menyakiti dirinya sendiri dan berprilaku sangat ekstrim, misalnya suka

melakukan kegiatan gerak yang sama selama berjam-jam setiap waktu atau

stereoptype (Alloy, L. B. 2005: 93).

Lebih lanjut Ward, A. J., (1970: 350-362) menyatakan bahwa

penyandang sindrome autistik usia dini (early infantile autism), dapat

Page 16: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

16

terdeteksi melalui suatu diagnosis khusus oleh ahli media atau

psikolog sejak berusia 30 bulan (APA, 1980). Dalam tulisannya Leo

Karner (1943) memberikan definisi tentang kelainan anak autistik usia

dini sebagai tipe kelainan psikis yang sampai saat ini tidak

terungkapkan. Tentunya harus dibedakan antara penderita autistik,

penderita schizophrenia masa kecil, dan juga dengan penderita

Oligophrenia yang potensi intelektualnya lebih baik dibandingkan

degan penderita sindrom autistik (Leo Karner dan Eisenberg,

1956:557).

Maulana (2008: 43) menyatakan bahwa “Anak autis mengalami

kelainan pada otak kecil (cerebellum), terutama pada lobus ke IV dan

VII, dimana otak kecil ini yang bertanggung jawab atau proses

sensoris, daya ingat, berpikir, belajar berbahasa dan proses atensi

(perhatian)”. Sebagai akibat dari kelainan di pusat bahasanya, maka

sebagian besar anak autistik mengalami berbagai hambatan dalam

berbahasa atau berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal.

Begitu sulit mengubah persepsi dan penerimaan masyarakat terhadap

anak autis, barangkali juga sesulit menemukan yang menjadi penyebab autis

itu sendiri. Berbagai spekulasi telah disampaikan mengenai penyebab autisme.

Beberapa ahli menyatakan autisme disebabkan oleh keturunan. Ahli lain

mengatakan penyebab autis adalah pola makan dan gaya hidup. Sementara

masih juga ada yang menyatakan autisme adalah kutukan Tuhan. Sungguh

menjadi semakin memilukan.

Mencermati kondisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa anak autis

sebenarnya memilki potensi yang dapat dikembangkan sebagai pegangan

hidupnya kelak. Hanya saja model pengembangan diri dan pendidikan bagi

anak autis harus disusun dengan standar dan komposisi berbeda dengan anak

Page 17: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

17

kebanyakan. Hal ini mengingat karakter anak autis yang relatif berbeda dan

unik.

B. Klasifikasi Anak Autisme

Menurut Yatim (2002) klasifikasi anak autis dikelompokkan menjadi tiga,

antara lain :

1. Autisme Persepsi : Dianggap autisme yang asli karena kelainan sudah

timbul sebelum lahir. Ketidakmampuan anak berbahasa termasuk pada

penyimpangan reaksi terhadap rangsangan dari luar, begitu juga

ketidakmampuan anak bekerjasama dengan orang lain, sehingga anak

bersikap masa bodoh.

2. Autisme Reaksi : Terjadi karena beberapa permasalahan yang

menimbulkan kecemasan seperti orangtua meninggal, sakit berat, pindah

rumah/sekolah dan sebagainya. Autisme ini akan memunculkan gerakan-

gerakan tertentu berulang-ulang kadang-kadang disertai kejang-kejang.

Gejala ini muncul pada usia lebih besar 6-7 tahun sebelum anak memasuki

tahapan berpikir logis.

3. Autisme yang timbul kemudian : Terjadi setelah anak agak besar,

dikarenakan kelainan jaringan otak yang terjadi setelah anak lahir. Hal

akan mempersulit dalam hal pemberian pelatihan dan pelayanan

pendidikan untuk mengubah perilakunya yang sudah melekat.

C. Gejala Autisme

Menurut Acocella (1996) ada banyak tingkah laku yang tercakup dalam

autisme dan ada 4 gejala yang selalu muncul, yaitu :

1. Isolasi sosial

Banyak anak autis yang menarik diri dari segala kontak sosial suatu

keadaan yang disebut extreme autistic aloneness. Hal ini akan semakin

terlihat pada anak yang lebih besar, dan ia akan bertingkah laku seakan-

akan orang lain tidak pernah ada.

2. Kelemahan kognitif

Page 18: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

18

Sebahagian besar (± 70%) anak autis mengalami retardasi mental (IQ <

70) tetapi anak auatis sedikit lebih baik, contohnya dalam hal yang

berkaitan dengan kemampuan sensori motor. Terapi yang dijalankan

anak autis meningkatkan hubungan sosial mereka tapi tidak

menunjukkan pengaruh apapun pada retardasi mental yang dialami. Oleh

sebab itu, retardasi mental pada anak autis terutama sekali disebabkan

oleh masalah kognitif dan bukan pengaruh penarikan diri dari lingkungan

sosial.

3. Kekurangan dalam bahasa

Lebih dari setengah anak autis tidak dapat berbicara, yang lainnya hanya

mengoceh, merengek, menjerit atau menunjukkan ecolalia, yaitu

menirukan apa yang dikatakan orang lain. Beberapa anak autis

mengulang potongan lagu, iklan TV atau potongan kata yang terdengar

olehnya tanpa tujuan. Beberapa anak autis menggunakan kata ganti

dengan cara yang aneh. Menyebut diri mereka sebagai orang kedua

“kamu” atau orang ketiga “dia” intinya anak autisme tidak dapat

berkomunikasi dua arah (resiprok) dan tidak dapat terlibat dalam

pembicaraan normal.

4. Tingkah laku stereotif

Anak autis sering melakukan gerakan yang berulang-ulang secara terus

tanpa tujuan yang jelas. Seperti berputar-putar, berjingkit-jingkit dan lain

sebagainya. Gerakan yang dilakukan berulang-ulang ini disebabkan oleh

adanya kerusakan fisik. Misalnya karena adanya gangguan neurologis.

Anak autis juga mempunyai kebiasaan menarik-narik rambut dan

menggigit jari. Walaupun sering menangis kesakitan akibat perbuatannya

sendiri, dorongan untuk melakukan tingkah laku yang aneh ini sangat

kuat dalam diri mereka. Anak autis juga tertarik pada hanya bagian-

bagian tertentu dari sebuah objek. Misalnya, pada roda mainan mobil-

mobilannya. Anak autis juga menyukai keadaan lingkungan dan

kebiasaan yang monoton.

Page 19: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

19

D. Penyebab Autisme

Sampai sekarang, autisme masih merupakan grey area di bidang

kedokteran yang terus berkembang dan belum diketahui penyebabanya secara

pasti (Marijani, 2003). Menurut Suprtiknya (1995), autisme disebabkan faktor

bawaan tertentu atau pengalaman yang kurang mendukung. Misalnya

dibesarkan oleh ibu yang tidak responsif atau pernah mengalami trauma

dengan lingkungan sosialnya.

Autisme juga disebabkan oleh abnormalitas kromosom terutama fragile

X. Ada pengaruh kondisi fisik pada saat hamil dan melahirkan yang

mencakup rubella, sifilis, fenilketomria, tuberus dan skleroses. Faktor prenatal

mencakup infeksi kongenital seperti Cytomegalovirus dan rubella. Faktor

pasca natal yang berperan mencakup infantile spasm, epilepsi mioklonik,

fenilketonuria, meningitis dan encefalis (Lumbantobing, 2001).

Menurut Acocella (1996), ada tiga perspektif yang dapat digunakan untuk

menjelaskan penyebab autisme, yaitu :

1. Perspektif Psikodinamika

Bettelheim (1967) mengatakan bahwa penyebab dari autisme karena

adanya penolakan orang tua terhadap anaknya. Anak menolak orang

tuanya dan mampu merasakan perasaan negatif mereka. Anak melihat

bahwa tindakannya hanya berdampak kecil pada perilaku orang tua yang

tidak responsif. Anak kemudian meyakini bahwa ia tidak memiliki

dampak apapun di dunia, sehingga anak menciptakan “benteng

kekosongan “ autisme untuk melindungi dirinya dari penderitaan dan

kekecewaan.

2. Perspektif Biologis

a. Pendekatan biologis

Folstein & Butter (1977) mengadakan penelitian di Great Britain,

antara 11 pasang monozygotic (MZ) kembar dan 10 pasang

dyzygotik (DZ) kembar, ditemukan satu pasang yang merupakan

gen autisme. Pada kelompok MZ, 4 dari 11 diantaranya adalah gen

autisme. Sedangkan pada DZ, tidak ada. Walaupun demikian, pada

Page 20: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

20

MZ kembar tidak didiagnosa sebagai autisme, hanya akan

mengalami gangguan bahwa atau kognisi.

b. Pendekatan kromosom

Kromosom yang dapat menyebabkan autisme yaitu sindrom fragile

X dan kromosom XXY, namun kromosom XXY ini tidak

menunjukkan hubungan yang sekuat sindrom fragile X.

c. Pendekatan biokimia

Anak-anak autis memiliki kadar serotonim dan dopamine yang

sangat tinggi. Obat-obat yang dapat membantu menurunkan kadar

dopamine yaitu seperti phenotiazines yang dapat menurunkan

gejala-gejala autisme.

d. Gangguan bawaan dan komplikasi

Ada 2 penyebab autisme yaitu, virus herpes dan rubella. Autisme

yang berhubungan dengan komplikasi pada saat melahirkan

berhubungan dengan faktor genetik.

e. Pendekatan neurological

1) Penyebab autisme karena adanya kerusakan otak. Hal ini dapat

dibuktikan dengan adanya beberapa gejala berikut :

a) Karakteristik anak autis seperti gangguan perkembangan

bahasa, retardasi mental, tingkah laku motorik yang aneh,

memiliki respon yang rendah atau bahkan sangat tinggi

terhadap stimulus sensori, menentang stimulus auditory dan

visual berhubungan dengan fungsi sistem saraf pusat.

b) Sistem saraf menunjukkan abnormalitas seperti, gangguan

otot, alat koordinasi, mengeluarkan air liur dan hiperaktif.

c) Memiliki electroencephalogram (EEG) yang abnormal.

Penelitian ERP menunjukkan tidak adanya respon

memperhatikan objek atau stimulus bahasa.

d) Adanya keabnormalan pada bagian Cerebellum dan sistem

lymbic otak yang sangat berpengaruh terhadap kognisi,

memori, emosi dan tingkah laku. Sistem lymbicnya lebih

Page 21: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

21

kecil dan bergumpal dibeberapa area, bagian dendrit saraf

anak autisme lebih pendek dan kurang lengkap.

f. Perspektif Kognisi

1) Ornitz, dkk (1974) mengatakan bahwa gangguan pada anak

autis disebabkan karena adanya masalah dalam mengatur dan

menyatakan input terhadap alat perasa. Contohnya, memberi

respon yang rendah atau bahkan sangat tinggi terhadap suara.

2) M. Rutter (1971) memfokuskan pada sensori persepsi, yaitu

dimana anak autisme tidak memberi respon terhadap suara.

Anak autis juga mengalami gangguan bahasa seperti aphasia

yaitu kehilangan kemampuan memakai atau memahami kata-

kata yang disebabkan karena kerusakan otak. Tetapi dalam

perspektif ini menyatakan bahwa anak autis tidak memberi

respon disebabkan adanya masalah perseptual.

3) Lovaas, dkk (1979) mengatakan bahwa anak autis sangat

overselektif dalam memperhatikan sesuatu. Anak autis hanya

dapat memproses dan merespon satu stimulus dalam satu

waktu, hal ini disebabkan karena adanya gangguan perseptual.

4) Anak autis tidak mampu mengolah sesuatu dalam pikiran.

Misalnya, tidak dapat memperkirakan dan memahami tingkah

laku yang mendasari suatu objek.

E. Kriteria Diagnostik Autisme

Menurut DSM (Diagnostic and Statiscal Manual Of Mental Disorder) edisi

IV-TR (APA, 2000) kriteria diangostik gangguan autisme adalah :

1. Sejumlah enam hal atau lebih dari (1), (2) dan (3), paling sedikit dua dari

(1) dan satu masing-masing dari (2) dan (3) :

a. Secara kualitatif terdapat hendaya dalam interaksi sosial sebagai

manifestasi paling sedikit dua dari yang berikut :

Page 22: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

22

1) Hendaya didalam perilaku non verbal seperti pandangan mata ke

mata, eksprisei wajah, sikap tubuh dan gerak terhadap rutinitas

dalam interaksi sosial.

2) Kegagalan dalam membentuk hubungan pertemanan sesuai

tingkat perkembangannya.

3) Kurang kespontanan dalam membagi kesenangan, daya pikat atau

pencapaian akan orang lain, seperti kurang memperlihatkan,

mengatakan atau menunjukkan objek yang menarik.

4) Kurang sosialisasi atau emosi yang labil.

2. Secara kualitatif terdapat hendaya dalam komunikasi sebagai manifestasi

paling sedikit satu dari yang berikut :

a. Keterlambatan atau berkurangnya perkembangan berbicara (tidak

menyertai usaha mengimbangi cara komunikasi alternatif seperti

gerak isyarat atau gerak meniru)

b. Individu bicara secara adekuat, hendaya dalam menilai atau

meneruskan pembicaraan orang lain.

c. Mempergunakan kata berulangkali dan stereotif atau kata-kata aneh.

d. Kurang memvariasikan gerakan spontan yang seolah-olah atau pura-

pura bermain sesuai tingkat perkembangan.

e. Tingkah laku berulang dan terbatas, tertarik dan aktif sebagai

manifestasi paling sedikit satu dari yang berikut :

1) Keasyikan yang meliputi satu atau lebih stereotif atau kelainan

dalam intensitas maupun fokus ketertarikan akan sesuatu yang

terbatas.

2) Ketaatan terhadap hal-hal tertentu tampak kaku, rutinitas, atau

ritual pun tidak fungsional.

3) Gerakan stereotif dan berulang misalnya, memukul, memutar arah

jari dan tangannya serta meruwetkan gerakan seluruh tubuhnya.

4) Keasyikan terhadap bagian-bagian objek yang stereotif.

3. Keterlambatan atau kelainan fungsi paling sedikit satu dari yang berikut

ini, dengan serangan sebelum sampai usia 3 tahun :

Page 23: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

23

a. Interaksi sosial

b. Bahasa yang dipergunakan dalam komunikasi sosial

c. Bermain simbol atau berkhayal.

Gangguan ini tidak disebabkan oleh gangguan Rett atau gangguan

disintegrasi masa kanak.

F. Macam-Macam Terapi Penunjang Bagi Anak Autis

Anak autisme dapat dilatih melalui terapi sesuai dengan kondisi dan

kebutuhan anak antara lain:

1. Terapi Wicara: Untuk melancarkan otot-otot mulut agar dapat berbicara

lebih baik.

2. Terapi Okupasi : Untuk melatih motorik halus anak.

3. Terapi Bermain : Untuk melatih mengajarkan anak melalui belajar sambil

bermain.

4. Terapi medikamentosa/obat-obatan (drug therapy) : Untuk menenangkan

anak melalui pemberian obat-obatan oleh dokter yang berwenang.

5. Terapi melalui makan (diet therapy) : Untuk mencegah/mengurangi

tingkat gangguan autisme.

6. Sensory Integration therapy : Untuk melatih kepekaan dan kordinasi daya

indra anak autis (pendengaran, penglihatan, perabaan).

7. Auditory Integration Therapy : Untuk melatih kepekaan pendengaran anak

lebih sempurna.

8. Biomedical treatment/therapy : Untuk perbaikan dan kebugaran kondisi

tubuh agar terlepas dari faktor-faktor yang merusak (dari keracunan logam

berat, efek casomorphine dan gliadorphine, allergen, dsb)

9. Hydro Therapy : Membantu anak autistik untuk melepaskan energi yang

berlebihan pada diri anak melalui aktifitas di air.

10. Terapi Musik : Untuk melatih auditori anak, menekan emosi, melatih

kontak mata dan konsentrasi.

G. Pengertian Media Kartu Kata Bergambar (Flashcard)

Page 24: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

24

Kartu kata bergambar adalah media pembelajaran dalam bentuk kartu

bergambar yang berukuran 25x30 cm, kartu kata bergambar merupakan suatu

kartu kata atau angka dari gambar yang diperlihatkan oleh guru kelas.

Pengertian lain dari kartu kata bergambar adalah suatu kartu yang dicetak

dengan kata atau angka dengan singkat yang diperlihatkan sebagian dari

proses belajar.

Kartu kata bergambar menurut Echols dan Shasily (1993: 246) berarti

kartu pengingat, kartu yang diperlihatkan sekilas. Jadi kartu kata

bergambar adalah salah satu media membaca gambar dengan

menggunakan kartu-kartu untuk memperkenalkan kosakata. Kartu

tersebut memuat gambar dan kata yang akrab di sekeliling anak.

Misalnya nama anggota tubuh, nama binatang, nama buah-buahan dan

lain-lain serta memiliki huruf yang berukuran besar.

Media kartu bergambar (flashcard) merupakan media yang termasuk

pada jenis media grafis atau media dua dimensi, menurut Wibawa (Ratnasari,

2003: 16) mengemukakan bahwa “kartu kata bergambar berisi kata-kata

gambar atau kombinasinya dan dapat digunakan untuk mengembangkan

perbendaharaan kata dalam pelajaran bahasa pada umumnya dan bahasa asing

khususnya”.

Arsyad (2005: 119) menjelaskan bahwa flashcard adalah kartu kecil

yang berisi gambar-gambar teks atau simbol yang mengingatkan atau

menuntun siswa kepada sesuatu yang berhubungan dengan gambar itu,

dapat digunakan untuk melatih anak dalam mengeja dan memperkaya

kosakata, dan media ini berukuran 8x12cm atau dapat disesuaikan

dengan besar kecilnya kelas yang dihadapi.

H. Kartu Kata Bergambar Sebagai Media Pendidikan

Media pendidikan adalah sesuatu yang dapat dijadikan sebagai

perantara dalam proses interaksi antara guru dengan siswa yang bertujuan

mempertegas penyampaian materi pelajaran yang dipelajari.

Page 25: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

25

Hamalik (1994: 12) menyatakan bahwa : Media pendidikan adalah

alat, metoda, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih

mengefektifkan komunikasi dan interaksi guru dengan siswa dalam

proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Dalam proses

pembelajaran dan media pendidikan memiliki kedudukan sebagai

perantara komunikasi antara guru dengan siswa.

Hal tersebut berkaitan dengan kartu kata bergambar yang

diperlihatkan kepada siswa yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan

berbahasa khususnya pada pelafalan kosakata Bahasa Inggris sehingga

menimbulkan sikap aktif dan mampu untuk berkomunikasi dengan

lingkungannya.

Gambar media kartu kata bergambar

2.1

Page 26: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

26

Gambar media kartu kata bergambar

2.2

I. Fungsi Kartu Kata Bergambar

1. Fungsi Kartu Kata Bergambar

Menurut Rudi dan Cepi (2008: 9) fungsi kartu kata bergambar adalah sebagai

berikut:

a. Untuk memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis

melalui penggunaan media kartu kata bergambar peserta didik selain

mendapatkan informasi melalui penyampaian lisan tetapi akan

mendapatkan informasi pengamatan.

b. Menimbulkan kegiatan belajar melalui penggunaan media kartu kata

bergambar yang dimodifikasi dengan gambar yang menarik warna-warna

yang cerah dan dengan penyampaian yang menarik, maka peserta didik

akan lebih terpacu untuk belajar.

Page 27: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

27

c. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indra. Media kartu kata

bergambar sangat membantu sekali dalam pemanfaatan ruang, waktu,

dan daya indra mengingat media ini berbentuk kartu yang mudah dibawa

kemana-mana dan mudah disimpan.

d. Memungkinkan adanya interaksi yang lebih langsung antara anak didik

dengan lingkungan. Melalui media kartu kata bergambar siswa akan

mengetahui isi gambar seri yang berada di dalam kartu yang merupakan

hal-hal yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

e. Mungkinkan siswa belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan

minatnya melalui media kartu kata bergambar. Peserta didik akan

menunjukan ketertarikannya terhadap isi gambar yang sesuai dengan

minat dan kemampuannya sehingga akan lebih diserap oleh anak.

J. Kelebihan Kartu Kata Bergambar

Adapun kelebihan kartu kata bergambar menurut Rudi dan Cepi (2008:96)

adalah sebagai berikut:

1. Mudah dibawa-bawa: dengan ukuran yang kecil, kartu kata bergambar

dapat disimpan didalam tas bahkan di saku, sehingga tidak membutuhkan

ruang yang luas, dapat digunakan dimana saja, dikelas ataupun di luar

kelas.

2. Praktis dapat dilihat dari cara pembuatan dan penggunaannya media kartu

kata bergambar sangat praktis dalam menggunakan media ini guru tidak

perlu memiliki keahlian khusus.

3. Gampang diingat: Karakteristik kartu kata media bergambar adalah

menyajikan pesan-pesan pendidikan ini akan memudahkan siswa untuk

mengingat pesan tersebut.

4. Menyenangkan: Media kartu kata bergambar dalam penggunaannya bisa

melalui permainan.

K. Pengertian Pelafalan/Pronunciation

Baker (1990) Pronunciation is an essential part in a language, for the

nature of language is spoken. But, most learners of English in the

Page 28: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

28

environment where a research was undertaken faced problems with

the pronunciation of English. This study aims (1) finding out the

effectiveness of dubbing as a technique for teaching the pronunciation

of English, and (2) identifying the commonly mispronounced sounds of

English.

Baker (1990) Pelafalan adalah bagian yang bersifat dasar dalam

sebuah bahasa, kasus di sekolah Luar Biasa pada anak-anak disabilitas

mengalami kesukaran dalam setiap pelafalan kosakata Bahasa Inggris

yang hampir sama penulisannya anak autis pikir sama penulisan sama

pula pelafalannya.

Transcribing English vowels: Menuliskan huruf –huruf vokal Bahasa Inggris.

1. Ladefoged gives minimal sets for the English vowels. For example, many

of the contrastive vowels of English can be illustrated in a list of words

that all start with [h] and end with [d].

For American English we can phonetically transcribe this “H-vowel-D

list”asfollows.

Ladefoged memberikan sedikit kumpulan-kumpulan pada huruf vokal

Bahasa Inggris. Sebagai contoh, banyak dari perbedaan huruf vokal

Bahasa Inggris yang bisa disertai gambar dalam daftar kata-kata yang

semuanya dimulai dengan (h) dan berakhir dengan (d).

Monophthongs (1 harakat)

Bahasa Inggris pada orang amerika, bisa secara fonetis menuliskan ini,

“daftar H- Huruf vokal –D”, sebagai berikut:

[hid] Heed [hud] who’d

[hɪd] Hid [hʊd] Hood

[heɪd] Hayed [hoʊd] Hoed

Page 29: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

29

[hɛd] Head [hɔd] Hawed

[hæd] Had [hɑd] Hod

[hʌd] HUD

 

Diphthongs  (bunyi  rangkap)  

(two  vowel  sounds)/  dua  suara  

 

/əυ/ (phone)

/iə/ (year)  

/ɔi/ (boy)  

/aυ/ (house)  

/ei/ (male)

/ai/ (fine)

/eə/ (chair)

 

 

Section  A  

 (make  a  long  sound)/  (buatlah  nada  suara  yang  panjang)  

/ɔ/ (ball)

/u/ (boot)  

 

/i/ (sheep)  

/ɑ/ (heart)  

/_/ (girl)  

Page 30: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

30

Rhotic

[hɚd] herd (or [hɹ̩d])

[hɑɹd]

Hard

[hɪɹ] Here

[heɹ] Hair

[haɪɹd] Hired

 

Like the consonants our initial phonetic analysis of vowels is

presented in a chart, which as with theconsonant chart is intended to

reflect the articulation of the vowels.

Seperti halnya huruf-huruf konsonan atau huruf mati, analisis

awal fonetis dari huruf vokal/hidup. Ditampilkan dalam sebuah grafik,

dimana sama dengan grafik huruf konsonan/mati. Dimaksudkan untuk

menggambarkan artikulasi dari huruf-huruf vokal.

Relating the vowel chart to the sagittal section of the vocal tract.

Page 31: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

31

2. Roughly, the location of the highest point of the tongue in the sagittal

section correlates with the location of the vowel in the vowel chart

.high/low, front/back.

Lokasi dari point tertinggi pada lidah dalam bagian menyambung dengan

lokasi dari huruf vokal pada peta huruf hidup, tinggi atau rendah, depan

atau belakang.

3. But notice that you can glide from one vowel to another in pronunciation

[i .. e . ɛ .. æ]. So the articulatory description is more approximate than in

consonant transcription.

Tetapi bisa menggerakkan dengan luwes dari satu huruf vokal kehuruf lain

dalam pelafalan (i.. e... Ɛ..æ). Jadi gambaran artikulasi kira-kira lebih dari

pada tulisan konsonan.

4. Story - David Stampe learning German. The book said umlaut ü in

German is pronounced like [i] but with rounded lips. Therefore, Stampe

taught him self to say ü as [i] (with rounded lips). It is possible to make

this sound with round lips, if you adjust the tongue position just so.

Kisah atau cerita dari David Stampe mempelajari bahasa German. sebuah

buku tertulis umlaut ü pada Bahasa German dilafalkan seperti (i) akan

tetapi dengan bibir yang dibulatkan. oleh karena itu, stampe mengarahkan

dirinya sendiri untuk mengatakan ü seperti (i) dengan bibir yang

dibulatkan. itu ada suatu kemungkinan untuk menggunakan bunyi dengan

membulatkan bibir, jikalau mengatur posisi lidah yang cocok/persis.

5. Lip rounding - In English is correlated with vowel backness.

Membulatkan bibir dalam Bahasa Inggris itu terhubung dengan huruf

vokal.

6. Front vowels have the tongue further forward than back vowels, and the

height relationships among these front vowels are as we see in the vowel

chart (thanks to Mona Lindau for the x-ray tracings).

Huruf vokal pada bagian depan memilki lidah lebih jauh kedepan dari

pada bagian belakang huruf vokal dan hubungan tertinggi diantara huruf

vokal bagian depan ini, seperti yang kita lihat pada grafik huruf vokal.

Page 32: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

32

Gambar vokal [i dan æ].

2.3

Back vowels are pronounced with the tongue further back than in

front vowels, and the height relationships are as we see in the vowel chart.

Huruf vokal pada bagian belakang dinyatakan dengan lidah lebih ke

belakang dari pada huruf vokal bagian depan dan hubungan tertinggi seperti

pada grafik huruf vokal.

Gambar vokal [u dan ɑ ].

2.4

Page 33: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

33

Caution: The vowel x-ray tracings above were carefully selected to illustrate

the connection between the “height” dimension in the vowel chart and tongue

height during vowels. This relationship is not perfect - the articulatory

analysis (in terms of tongue height) is a good start but is not the best phonetic

analysis we have to offer.

Jiplakan pemeriksaan huruf vokal dengan sinarnya di atas, sudah

dipilih dengan seksama untuk menjelaskan hubungan antara “puncak” ukuran

pada grafik huruf vokal dan tinggi lidah selama huruf hidup. Hubungan ini

tidak sempurna analisa artikulasi (pada syarat-syarat tinggi/puncak lidah).

Adalah awal yang bagus tetapi bukan analisis yang terbaik yang dapat

disarankan.

Umumnya pengajaran pelafalan (pronunciation) Bahasa Inggris

menggunakan teknik utama tubian. Memang tubian pada umumnya diakui

memungkinkan terbentuknya kebiasaan (habit formation). Namun praktik

melafalkan bunyi “baru” bahasa asing dalam kondisi sadar melalui tubian

rupanya belum mampu memfasilitasi penguasaan pelafalan kosakata Bahasa

Inggris.

L. Pengertian Kosakata/Vocabulary Bahasa Inggris

Vocabulary (kosakata) adalah sejumlah kata dalam bahasa dan kata-

kata tersebut digunakan sebagai mesin dari bahasa untuk mengekspresikan

suatu pikiran. Vocabulary (kosakata) adalah dasar bahasa tidak ada bahasa

tanpa kosakata. Sebelum menguasai ke empat kemampuan yaitu

mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis murid harus mempelajari

kompenen Bahasa Inggris seperti pada vocabulary (kosakata), structure (tata

bahasa) dan pronunciation (pelafalan).

Vocabulary (kosakata) adalah salah satu kompenen bahasa inggris

yang memilki peran penting dalam memahami bacaan dan

mengungkapkan semua ide dalam bentuk tulisan atau pengucapan.

Siswa dapat memperoleh vocabulary (kosakata) dari kamus.

Glosarium di bagian belakang buku Bahasa Inggris dan lain-lain.

Page 34: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

34

Vocabulary (kosakata) akan selalu ada di dalam pikiran siswa jika

selalu menggunakannya dan akan hilang jika siswa tidak

menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.

http://nikodemusoul.wordpress.com/. (online) diakses 19

November 2013)

M. Kerangka Berfikir

Anak autis mempunyai karakteristik kesukaran berpikir abstrak,

kecerdasan dan adaptasi sosialnya terlambat namun, masih memiliki

kemampuan untuk dapat berkembang dalam bidang pelajaran akademik

secara optimal. Dengan penggunaan kartu kata bergambar dimungkinkan

dapat memberi motivasi semangat belajar anak autis, dalam upaya

mengoptimalkan hasil belajar pada pelajaran Bahasa Inggris bagi anak autis

kelas VII di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin.

Memperoleh hasil belajar yang optimal dibutuhkan metode dan media

pembelajaran yang lebih bermakna dimana melalui metode dan media

pembelajaran tersebut siswa mampu mengkonstruk sendiri pengetahuan dan

keterampilan yang dibutuhkannya, bukan karena diberitahukan oleh guru

saja tetapi siswa mampu mengkonstruk sendiri pengetahuan dalam benaknya.

Untuk itu, pengetahuan dan pemahaman guru terhadap metode dan media

pembelajaran yang akan digunakan pada setiap proses pembelajaran sangat

penting sebagai salah satu upaya untuk mengoptimalkan pembelajaran. Guru

dituntut agar dapat meningkatkan mutu pelajaran dan harus memperhatikan

hakikat, tujuan mata pelajaran yang diajarkan. Mata pelajaran Bahasa Inggris

mempunyai karakteristik yang berbeda dengan mata pelajaran eksakta atau

mata pelajaran ilmu sosial yang lain. Perbedaan ini terletak pada fungsi

bahasa sebagai alat komunikasi. Hal ini mengindikasikan bahwa belajar

Bahasa Inggris bukan saja belajar kosakata dan tatabahasa dalam arti

pengetahuannya, tetapi harus berupaya menggunakan atau mengaplikasikan

pengetahuan tersebut dalam kegiatan komunikasi. Seorang siswa belum dapat

dikatakan menguasai bahasa inggris kalau dia belum dapat menggunakan

Page 35: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

35

Bahasa Inggris untuk keperluan komunikasi, meskipun dia mendapat nilai

yang bagus pada penguasaan kosakata dan tatabahasanya. Memang di akui

bahwa seseorang tidak mungkin akan dapat berkomunikasi dengan baik

kalau pengetahuan kosakatanya rendah. Oleh karena itu, penguasaan kosakata

memang tetap diperlukan tetapi yang lebih penting bukan semata-mata pada

penguasaan kosakata tersebut tetapi memanfaatkan pengetahuan kosakata

tersebut dalam kegiatan komunikasi dengan Bahasa Inggris.

Pembelajaran bahasa, orang mengenal keterampilan reseptif dan

keterampilan produktif. Keterampilan reseptif meliputi keterampilan

menyimak dan keterampilan membaca sedangkan keterampilan produktif

meliputi keterampilan berbicara dan keterampilan menulis. Baik keterampilan

reseptif maupun keterampilan produktif perlu dikembangkan proses

pembelajaran Bahasa Inggris.

Untuk dapat menguasai keterampilan tersebut di atas dengan baik,

siswa perlu dibekali dengan unsur-unsur bahasa, misalnya dengan kosakata.

Penguasaan kosakata hanya merupakan salah satu unsur yang diperlukan

dalam penguasaan keterampilan berbahasa. Unsur lain yang tidak kalah

pentingnya adalah penguasaan tatabahasa. Telah dipahami bahwa tatabahasa

membantu si pendengar untuk memahami gagasan yang diungkapkan oleh

orang lain. Sekali lagi perlu ditekankan bahwa tatabahasa hanyalah sebagai

unsur pembantu dalam penguasaan keterampilan berbahasa. Oleh karenanya.

Pengajaran yang menekankan semata-mata pada pengetahuan tatabahasa

hendaknya ditinggalkan. Tatabahasa hendaknya diajarkan dalam rangka

memfasilitasi penguasaan keempat keterampilan yang telah disebutkan.

Kemampuan seseorang dalam komunikasi dapat ditunjukan dalam dua

cara, yaitu komunikasi lisan dan komunikasi tertulis. Jika komunikasi

berlangsung secara lisan dan unsur yang lain yang perlu diperhatikan oleh

guru, dan tentu saja perlu diajarkan kepada siswanya yaitu mengenai

pelafalan (pronunciation). Lebih-lebih Bahasa Inggris yang antara ejaan dan

pelafalannya kadang-kadang jauh berbeda. Kesalahan dalam ucapan akan

menyebabkan seseorang tidak akan dapat mengemukakan gagasannya dengan

Page 36: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

36

tepat atau kalau ia dalam posisi mendengarkan pembicaraan orang lain, maka

kesalahan dalam ucapannya juga akan berpengaruh terhadap kemampuannya

untuk memahami apa yang dia dengar. Hal yang sangat terkait dengan

masalah pelafalan adalah masalah intonasi. Dalam Bahasa Inggris, intonasi

mempunyai peranan yang sangat penting dalam komunikasi. Suatu kata dapat

dilafalkan dengan pola intonasi yang berbeda intonasi yang berbeda memberi

makna yang berbeda pada kata tersebut.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam masalah pelafalan adalah

kenyataan bahwa Bahasa Inggris mempunyai bunyi-bunyi yang tidak sama

dengan Bahasa Indonesia. Sebagai contoh, di dalam Bahasa Indonesia tidak

ditemukan bunyi /æ/ bunyi ini tidak sama dengan bunyi /e/ dalam Bahasa

Indonesia. Oleh karenanya, siswa perlu dilatih untuk mengungkapkan bunyi-

bunyi yang tidak terdapat di dalam Bahasa Indonesia. Hal ini berarti bahwa

para siswa dilatih melalui pembelajaran psikomotor, siswa perlu dilatih

menggerakkan bibirnya, lidahnya dan organ-organ yang diperlukan dalam

berbicara sehingga dapat menghasilkan bunyi seperti bunyi di dalam Bahasa

Inggris.

Penguasaan pelafalan kosakata merupakan faktor penting dalam

berbahasa penguasaan kosakata bagi anak autis perlu diperhatikan perlu

dikembangkan. Penguasaan pelafalan kosakata yang memadai yang dimiliki

oleh siswa akan berpengaruh dalam perkembangan dan pertumbuhannya.

Anak autis yang mempunyai kosakata yang banyak dan baik dalam setiap

pelafalannya akan menjadi anak yang cerdas, pemberani, tidak pemalu dan

siap menghadapi orang yang baru dikenalnya. Proses pembelajaran

menggunakan media kartu kata bergambar dan menggunakan metode tanya

jawab dan sedikit reward pada setiap akhir sesi menyebabkan anak akan

bersemangat untuk belajar karena dapat mengikut sertakan anak dalam

aktivitas langsung dan mendengarkan untuk memperjelas materi yang

diterangkan oleh guru. Dengan demikian penggunaan media dan metode ini

dapat meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran bahasa inggris dan juga

dapat meningkatkan kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris.

Page 37: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

37

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian merupakan cara yang digunakan oleh peneliti

dalam mengumpulkan data. Nazir (2003:13) mengemukakan bahwa “

penelitian adalah suatu penyelidikan yang terorganisasi”. Sedangkan menurut

Arikunto (2002:136), mengatakan “pendekatan penelitian adalah cara yang

digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya”. Dari

pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pendekatan penelitian adalah cara

yang dilakukan oleh peneliti untuk mengumpulkan data dari suatu penelitian

yang terorganisir dan sistematis.

Berdasarkan permasalahan yang diteliti yaitu “Meningkatkan pelafalan

kosa kata bahasa inggris”, maka peneliti memilih pendekatan penelitian

eksperimentalquasidalam bentuk Single Subject Research (SSR) dengan

desain subjek tunggal.

Desain subjek tunggal ini memfokuskan pada data individu sebagai

sampel penelitian (Sunanto, 2005:56).Penelitian ini berkaitan dengan

modifikasi perilaku anakdisleksia berupa peningkatan kecepatan membaca

anak. Pada desain subjek tunggal pengukuran variabel terikat atau target

behavior dilakukan berulang-ulang dengan periode waktu tertentu, untuk

penelitian ini periode waktu yang digunakan adalah perhari. Perbandingan

tidak dilakukan antar individu atau kelompok tetapi dibandingkan pada

Page 38: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

38

subjek yang sama dalam kondisi yang berbeda. Kondisi yang dibandingkan

adalah kondisi baseline (kondisi alami/natural) dan kondisi eksperimen

(intervensi).

B. Variabel Penelitian

Menurut Sunanto (2005:12), variabel merupakan istilah dasar dalam

penelitian eksperimen termasuk penelitian dengan subjek tunggal. Dalam

penelitian eksperimen.variabel merupakan suatu atribut atau ciri-ciri

mengenai sesuatu yang diamati dalam penelitian. Dengan demikian variabel

dapat berbentuk kejadian yang dapat diamati dan diukur, biasanya

menggunakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas dan variabel

terikat.Variabel terikat dalam penelitian kasus tunggal dikenal dengan target

behavior (perilaku sasaran), sedangkan variabel bebas dikenal dengan istilah

intervensi (perlakuan).

Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel bebas dan

variabel terikat. Variabel bebas (intervensi) yang digunakan dalam penelitian

ini adalah kartu kata bergambar sedangkan variabel terikat (target behavior)

penelitian ini adalah kemampuan pelafalan kosa kata bahasa inggris.

C. Desain penelitian

Penelitian ini menggunakan bentuk desain reversal A-B-A-, dimana A

merupakan fase baseline dan B merupakan fase intervensi. Menurut Sunanto

(2005:61) Desain A-B-A- merupakan salah satu menunjukkan adanya

Page 39: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

39

hubungan sebab akibat antara variabel terikat dan variabel bebas. Mula-mula

target behavior diukur secara kontinyu pada kondisi baseline (A1) dengan

periode waktu tertentu kemudian pada kondisi intervensi (B1), setelah

pengukuran pada kondisi intervensi (B1) pengukuran pada kondisi baseline

kedua (A2) Penambahan kondisi baseline yang kedua (A2) dimaksudkan

sebagai kontrol untuk fase intervensi, jika grafik menunjukkan kestabilan

arah, sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan adanya hubungan

fungsional antara variabel bebas dan terikat.

Pada penelitian ini variabel yang akan di capai yaitu anak bisa

melafalkan kosa kata bahasa inggris sebelum diberlakukan internensi

menggunakan kartu kata bergambar.

Menurut Sunanto (2005:57) fasebaseline adalah fase saat variabel

terikat (target behavior) diukur secara periodik sebelum diberikan perlakuan

tertentu.Dalam hal ini seberapa kemampuan anak dalam melafalkan bahasa

inggris sebelum perlakuan diberikan. Sedangkan faseintervensiadalah fase

saat target behavior di observasi atau diukur selama perlakuan tertentu

diberikan.

Ba Baseline (A1) Intervensi (B1) Baseline (A2)

Sesi (waktu)

Gambar 3.1 Grafik desain A-B-A-

Targ

et B

ehav

ior

Page 40: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

40

Adapun langkah desain A-B-A-B yaitu, mengumpulkan data target

behavior pada kondisi baseline pertama (A1) sebanyak 5 sesi, kemudian

dilakukan intervensi (B1) sebanyak 10 sesi. Setelah diberikan perlakuan

pengumpulan data baseline kedua (A2) dilakukan sebanyak 5 sesi

C. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII SLB Pelambuan Banjarmasin.

D. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah tunggal, yaitu seseorang anak yang

berinisial Ms, anak ini adalah penyandang auits yang bersekolah di SLBN

Pelambuhan Banjarmasin. Oleh karena itu penelitian dilaksanakan berupa

eksperimen menggunakan Single Subject Research (SSR).

E. Sistem Pencatatan Data

Pencatatan data dilakukan dengan observasi langsung, yaitu mencatat

kemampuan anak adalam melafalkan kosa kata bahasa inggris, dimana aspek

yang dinilai adalah ketepatan bacaan, ketepatan intonasi dan durasi (waktu)

yang dibutuhkan anak pada saat melafalkan yang sudah ditentukan.

Prosedur pengukuran penelitian yang penulis lakukan adalah sebagai

berikut :

1. Menentukan dan menetapkan kemampuan melafalkan sebagai variabel

terikat

Page 41: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

41

2. Menetapkan kegiatan bermain kartu gambar sebagai variabel bebas

3. Menggunakan desain A-B-A-B

Pencatatan dilakukan pada saat :

a. faseA1 (Baseline1) kemampuan melafalkan yang dimiliki subjek penelitian

masih natural atau murni, subjek penelitian belum diberikan perlakuan

kegiatan menggunakan kartu gambar. Pada tahap ini pengukuran

kemampuan pelafalan dilakukan secara berulang-ulang sebanyak 5 sesi

b. fase B1 (Intervensi1), subjek penelitian diberi intervensi berupa bermain

menggunakan kartu gambar kurang lebih 30 menit setiap sesinya, setelah

itu dilakukan pengukuran kecepatan pelafalan anak, fase ini dilakukan

sebanyak 10 sesi.

c. fase A2 (Baseline2),subjek penelitian kembali tidak diberi kegiatan kartu

gambar setelah itu dilakukan pengukuran kemampuan pelafalan anak, fase

ini dilakukan sebanyak 5 sesi

F. Reliabilitas Pengukuran (agreement)

Pengukuran data yang reliabel salah satu syarat mutlak yang harus

dipenuhi dalam penelitian.Reliabiltas data penelitian sangat menentukan

kualitas hasil penelitian. Agar penelitian dapat dipercaya salah satu syaratnya

adalah data penelitian tersebut harus reliabel (Sunanto:28). Dalam penelitian

modifikasi perilaku sering melakukan pengukuran atau pencatatan data yang

berbeda antar pengamat, untuk mengetahui apakah pencatatan data tersebut

Page 42: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

42

sudah reliabel atau belum perlu menghitung persentasi kesepakatan (percent

agreement).

Pada observasi langsung pencatatan kemampuan pelafalan anak, target

behavior selalu muncul, namun potensi perbedaan antar pengamat ada pada

hasil pencatatan durasinya. Sulitnya mencapai kesamaan hasil pencatatan

durasi yang dilakukan oleh antar pengamat, oleh karena itu data harus

diambil kesepakatan. (Percen agreement)

Menurut Sunanto (2005:29)untuk menghitung persentase kesepakatan

total (total percent agreement),dapat digunakan rumus sebagai berikut :

agreement total percent agreement =---------------------------------- x 100%

……… 3.1 agreement +disagreement

Sedangkan untuk analisa perhitungan, peneliti mengambil data dari

durasi wakturata-rata kedua pengamat yaitu :

data pengamat 1 + data pengamat 2 wakturata2 = ---------------------------------------------…….. 3.2 Jumlah data (2)

G. Teknik Analisis Visual

1. Menentukan kondisi baseline dan intervensi

Kondisi baseline pertama di tulis A1 dan intervensi pertama B1 dan

baselinekedua A2, intervensi kedua B2

Tabel 3.1 kondisi

2. Menentukan panjang interval

Kondisi A1 B1 A2 B2

Page 43: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

43

Menentukan panjang interval untuk menunjukkan ada berapa sesi

kondisi tersebut. Penelitian dilakukan sebanyak 5 sesi baseline pertama

(A1), 10 sesi intervensi (B1), dan 5 sesi baseline kedua (A2)

Tabel 3.2 Panjang Interval

Kondisi A1 B1 A2 B2 Banyak sesi 677 7

3. Menentukan kecenderungan arah

Mengestimasi kecenderungan arah menggunakan metode belah dua

(split-midlle) dengan cara :

a. Bagi data pada posisi baseline pertama menjadi 2 bagian (1a)

b. Bagian kanan dan kiri juga dibagi menjadi 2 bagian (2a)

c. Menentukan posisi median dari masing-masing belahan(2b)

d. Menarik garis sejajar dengan obsis yang menghubungkan titik temu

2a dan 2b

4. Menentukan kecenderungan stabilitas

Pada penelitian ini digunakan kecenderungan stabilitas 15%. Maka

perhitungannya sebagai berikut :

Rentang stabilitas = Skor tertinggi x kriteria stabilitas……….. 3.3

a. Menghitung mean level dengan cara melihat data baseline

jumlah seluruh data mean Level = ------------------------------

………3.4 banyaknya data

b. Menentukan batas atas dengan cara :

Page 44: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

44

Batas atas = mean level + setengah dari rentang stablitas

……….. 3.5

c. Menentukan batas bawah dengan cara :

Batas bawah = mean level - setengah dari rentang

stablitas.……….3.6

d. Menghitung persentase data point pada kondisi baseline (A1) yang

berada dalam rentang stabilitas dengan cara :

data pointdalam rentang Persentasi stabilitas = ----------------------------------

……….. 3.7 banyaknya data poin

Jika stabilitas sebesar 85% - 90% dikatakan stabil, sedangkan dibawah

itu dikatakan tidak stabil (variabel)

5. Menentukan kecenderungan jejak data

Sunanto (2005:114) mengemukakan untuk menentukan data path

within trend hampir sama dengan arah kecendrungan, yaitu dimasukan

hasil yang sama seperti kecendrungan arah. Apakah meningkat (+),

menurun (-) atau sejajar dengan sumbu X (=).

Menentukan kecenderungan jejak data, dilakukan dengan cara

sama dengan menentukan kecenderungan arah. Contoh kecenderungan

arah dalam table 3.3, berikut ini :

Tabel 3.3 estimasi kecenderungan arah

Kondisi A1 B1 A2 B2 Estimasi Kecenderungan arah

( - ) ( + ) ( + ) ( + )

Page 45: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

45

6. Menentukan level stabilitas dan rentang

Menentukan level stabilitas dan rentang, dengan cara mengisi tabel

3.4 berikut ini :Tabel 3.4 Level stabilitas dan rentang

Kondisi Persentase stabilitas

Rentang Persentase stabilitas

Kecenderungan stabilitas

Baseline1 (A1)

Intervensi 1 (B1)

Baseline2 (A2)

7. Menentukan level perubahan

Menurut Sunanto (2005:115) untuk menentukan tingkat perubahan

ataulevel change yang menunjukkan seberapa besar terjadinya perubahan

data dalam suatu kondisi. Menentukan level perubahandilakukan dengan

cara menandai data pertama dan data hari terakhir pada fasebaseline dan

faseintervensi. Kemudian hitung selisih kedua data.

Berikutnya menentukan arah (menaik atau menurun). Beri tanda

(+) jika membaik dan tanda (-) jika menurun, serta (=) jika tidak ada

perubahan. Tanda (+) menunjukkan makna membaik, meskipunarah

perubahannya menurun. Tanda (-) menunjukkan makna memburuk,

meskipun arah perubahannya menaik,disesuaikan dengan tujuan

intervensi. Pada penelitian ini arah perubahan yang diharapkan arah

perubahan membaik (+), berupa kecepatan membaca yang semakin

meningkat.Jika arah menurun maka diberi tanda (-), sedangkan jika tidak

ada perubahan diberi tanda (=).

Page 46: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

46

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Sesuai dengan yang diharapkan oleh peneliti yaitu meningkatkan

keterampilan berbahasa inggris mengenai peningkatan pelafalan kosakata,

observer mengamati 5 menit dengan memberikan 40 kosakata pada setiap

pertemuan.

Adapun variabel penelitian yang dianalisis terdiri dari 3 aspek, dimana

masing-masing aspek penelitian diobservasi untuk mengetahui hasil data

baseline (A1), intervensi (B) dan baseline (A2) yang kemudian akan disajikan

dalam bentuk grafik dan tabulasi dengan keterangan skor hasil 1 = Tidak

menjawab sama sekali, 2 = Menjawab tapi belum benar, 3 = Menjawab

dengan benar.

1. Kondisi baseline sebelum diberikan intervensi (A1)

Untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data

kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris anak autism kelas VII di

SLB Negeri Pelambuan Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan pada

Baseline 1 (A1). Pengumpulan data pada saat baseline (A1) dilaksanakan 5

kali sesi, subjek belum diberikan intervensi atau perlakuan. Perhitungan

menggunakan jenis ukuran target behavior persentase. Dengan

menggunakan rumus :

Nilai = skor yang diperolehskor maksimum

×100%  (Sudjana, 2006 : 118)

Sehingga diperoleh nilai sebagai berikut :

Sesi 1. Nilai = 30+10+15120

× 100%

=55120

= 0,458×100%

= 45,8%

Page 47: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

47

Sesi 2. Nilai = 30+10+15120

× 100 %

=55120

= 0,458×100%

= 45,8%

Sesi 3. Nilai = 32+6+15120

× 100%

=53120

= 0,4416×100%

= 44,2%

Sesi 4. Nilai = 32+8+12120

× 100%

=52120

= 0,433×100%

= 43,3%

Sesi 5. Nilai = 32+8+12120

× 100%

=52120

= 0,433×100%

= 43,3%

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada subjek anak autis di SLB

Negeri Pelambuan menunjukkan adanya ketidakmampuan pelafalan kosakata

Bahasa Inggris yang dapat dilihat dari data hasil pengamatan tentang pelafalan

kosakata Bahasa Inggris yang dilakukan subjek pada saat peneliti melakukan

tes kosakata pelajaran Bahasa Inggris sebagai data baseline (A1) disajikan

dalam tabel di bawah ini.

Tabel 4.1: Baseline (A1)

Sesi Hari dan tanggal (lama pengamatan dalam Presentasi Pelafalan

Page 48: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

48

ke waktu 5 menit) (Pronunciation) yang

benar pada

Baseline/(A1)

1 Senin, 2 September 2013 45,8 %

2 Selasa, 3 September 2013 45,8%

3 Rabu, 4 September 2013 44,2 %

4 Kamis, 5 September 2013 43,3 %

5 Jumat, 6 September 2013 43,3 %

Tabel di atas, data sebagai baseline pertama (A1) dilakukan sebanyak

5 kali pengamatan. Pengamatan dilakukan oleh peneliti ketika subjek belajar

dengan guru di kelas. Data baseline (A1) pada sesi awal bervariasi, kemudian

pada sesi berikutnya menjadi stabil. Ketidakstabilan pada sesi-sesi awal

dimungkinkan karena subjek belum beradaptasi dengan tugas dalam rangka

pengumpulan data. Setelah beberapa sesi menjadi stabil. Hal ini terjadi karena

mengalami penyesuaian (adaptasi), dan terlihat bahwa pelafalan

(Pronunciation) pada baseline (A1) dilaksanakan mulai tanggal 2 September

2013 sampai dengan 6 September 2013 yang dilaksanakan sebanyak lima kali

pengamatan, dari tabel tersebut terlihat bahwa nilai 45,8 % adalah nilai

tertinggi dan 43,3 % adalah nilai terendah.

Untuk lebih jelasnya data ini bisa dilihat dari grafik di bawah ini, Data

pada kondisi baseline (A1) yang telah peneliti lakukan dalam 5 kali

pengamatan adalah sebagai berikut:

42  

43  

44  

45  

46  

1   2   3   4   5  

Sesi

Nila

i Pel

afal

an y

ang

Ben

ar

Page 49: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

49

Grafik : 4.1 (A1)

Baseline

2. Kondisi Intervensi (B)

Pada kondisi intervensi, anak dilatih kemampuan pelafalan

kosakata sebanyak 40 kosakata Bahasa Inggris dengan menggunakan

media kartu kata bergambar setiap sesi yang dilakukan 10 kali

pengamatan. Data hasil pengamatan tentang pelafalan kosakata Bahasa

Inggris pada saat mengikuti pelajaran sebagai data intervensi subjek

mengalami peningkatan data.

Perhitungan menggunakan jenis ukuran target behavior persentase.

Dengan menggunakan rumus :

Nilai = skor yang diperolehskor maksimum

×100%   (Sudjana, 2006 : 118)

Sehingga diperoleh nilai sebagai berikut :

Sesi 6. Nilai = 21+6+51120

× 100%

=78120

= 0,65×100%

= 65%

Sesi 7. Nilai = 20+8+54120

× 100%

=83120

= 0,69×100%

= 69%

Page 50: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

50

Sesi 8. Nilai = 15+16+54120

× 100%

=85120

= 0,708×100%

= 70,8%

Sesi 9. Nilai = 10+18+60120

× 100%

=88120

= 0,73×100%

= 73%

Sesi 10. Nilai = 4+8+78120

× 100%

=90120

= 0,75×100%

= 75%

Sesi 11. Nilai = 8+18+60120

× 100%

=86120

= 0,716×100%

= 71,6%

Sesi 12. Nilai = 8+18+60120

× 100%

=86120

= 0,716×100%

= 71,6%

Sesi 13. Nilai = 8+18+63120

× 100%

=89120

= 0,74×100%

Page 51: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

51

= 74%

Sesi 14. Nilai = 6+6+78120

× 100%

=90120

= 0,75×100%

= 75%

Sesi 15. Nilai = 5+8+78120

× 100%

=91120

= 0,758×100%

= 75,8%

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada subjek anak autis di

SLB Negeri Pelambuan menunjukkan adanya kenaikan kemampuan

pelafalan kosakata Bahasa Inggris yang dapat dilihat dari data hasil

pengamatan tentang kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris

dengan menggunakan media kartu kata bergambar yang dilakukan subjek

pada saat pelajaran Bahasa Inggris sebagai data intervensi disajikan

dalam tabel di bawah ini.

Tabel 4.2: Intervensi (B)

Sesi

ke

Hari dan tanggal (lama pengamatan dalam

waktu 5 menit)

Presentasi pelafalan

(Pronunciation) yang

benar pada

Intervensi/B

1 Senin, 9 September 2013 65%

2 Selasa, 10 September 2013 69%

3 Rabu, 11 September 2013 70,8%

4 Kamis, 12 September 2013 73%

5 Jumat, 13 September 2013 75%

6 Senin, 23 September 2013 71,6%

7 Selasa, 24 September 2013 71,6%

Page 52: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

52

8 Rabu, 25 September 2013 74%

9 Kamis, 26 September 2013 75 %

10 Jumat, 27 September 2013 75,8 %

Hasil tabel di atas intervensi pertama dilakukan pada sesi ke 6 pada

tanggal 9 september sampai sesi ke 15. Intervensi menggunakan media

kartu kata bergambar. Pada sesi-sesi awal intervensi, subjek tidak banyak

mengalami perubahan dengan data baseline pertama. Dimungkinkan

subjek masih menyesuaikan dengan media intervensi. Pada sesi

pertengahan hingga akhir terlihat pengaruh positif memakai media kartu

kata bergambar pada kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris. Data

pada sesi akhir mulai stabil. Dari tabel di atas, terlihat bahwa nilai 75,8%

adalah nilai tertinggi dan adalah 65 % nilai terendah.

Untuk lebih jelasnya data ini bisa dilihat dari grafik di bawah ini,

Data pada kondisi intervensi (B) yang telah peneliti lakukan dalam 10 kali

pengamatan adalah sebagai berikut:

Grafik : 4.2

Intervensi (B)

58  60  62  64  66  68  70  72  74  76  78  

1   2   3   4   5   6   7   8   9   10  

Sesi

Nila

i Pel

afal

an y

ang

Ben

ar

Page 53: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

53

3. Kondisi baseline (A2)

Pada Kondisi Baseline (A2) diambil pada sesi ke 16 sampai hari ke

20. Pengambilan data dilakukan pada saat subjek mengikuti pelajaran di

kelas. Pada sesi awal baseline (A2) data menunjukkan stabil hingga

kenaikan signifikan pada hari akhir baseline. Perhitungan menggunakan

jenis ukuran target behavior persentase. Dengan menggunakan rumus :

Nilai = skor yang diperolehskor maksimum

×100% (Sudjana, 2006 : 118)

Sehingga diperoleh nilai sebagai berikut :

Sesi 16. Nilai = 8+18+60120

× 100%

= !"!"#

   = 0,716×100%

   = 71,6%

Sesi 17. Nilai = 8+18+60120

× 100%

=86120

= 0,716×100%

= 71,6%

Sesi 18. Nilai = 4+8+78120

× 100%

=90120

= 0,75×100%

= 75%

Sesi 19. Nilai = 5+12+78120

× 100%

=95120

= 0,79×100%

= 79%

Page 54: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

54

Sesi 20. Nilai = 5+12+81120

× 100%

=98120

= 0,816×100%

= 81,6%

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada subjek anak autis di SLB

Negeri Pelambuan menunjukkan adanya kenaikan kemampuan pelafalan

kosakata Bahasa Inggris yang dapat dilihat dari data hasil pengamatan tentang

pelafalan kosakata Bahasa Inggris yang dilakukan subjek pada saat tes

kosakata pelajaran Bahasa Inggris sebagai data intervensi disajikan dalam

tabel di bawah ini.

Tabel 4.3: baseline (A2)

Sesi

ke

Hari dan tanggal (lama pengamatan dalam

waktu 5 menit)

Presentasi pelafalan

(Pronunciation) yang

benar pada

Baseline/(A2)

1 Selasa, 01 Oktober 2013 71,6 %

2 Rabu, 02 Oktober 2013 71,6 %

3 Kamis , 03 Oktober 2013 75 %

4 Jumat , 06 Oktober 2013 79 %

5 Sabtu , 05 Oktober 2013 81,6 %

Baseline kedua dilakukan pada awal bulan. Data dikumpulkan

selama 5 hari. Pada sesi awal intervesi memang pelafalan mulai membaik,

dan semakin hari ternyata untuk pelafalan kosa kata bahasa inggrisnya

tambah baik hingga akhir baseline (A2), dan dari tabel di atas, terlihat

bahwa kemampuan pelafalan (pronunciation) kosakata Bahasa Inggris.

Pada baseline (A2) dilaksanakan mulai tanggal 1 Oktober 2013 sampai

dengan 5 Oktober 2013 yang dilaksanakan sebanyak lima kali

Page 55: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

55

pengamatan. dari tabel tersebut terlihat bahwa nilai 81,6% adalah nilai

tertinggi dan adalah 71,6% nilai terendah.

Untuk lebih jelasnya data ini bisa dilihat dari grafik di bawah ini,

Data pada kondisi baseline (A2) yang telah peneliti lakukan dalam 5 kali

pengamatan adalah sebagai berikut:

Grafik : 4.3

Baseline (A2)

Perbandingan Antara hasil dari Grafik panjang kondisi baseline (A1) tanpa

diberikan intervensi (B) sampai pada baseline (A2) kemampuan anak dalam

pelafalan kosakata Bahasa Inggris. Dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

65  

70  

75  

80  

85  

1   2   3   4   5  Nila

i Pel

afal

an y

ang

Ben

ar

Sesi

Page 56: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

56

Gambar Grafik 4.4: Grafik kemampuan pelafalan kosakata bahasa

inggris subjek penelitian pada fase baseline, intervensi dan baseline

4. Perhitungan Analisis Data

Sunanto (Ari 2013:115) Dari data tersebut perlu dianalisis untuk

menentukan hasil pengkajian. Pada penelitian eksperimen dengan kasus

tunggal penggunaan statistik yang komplek tidak dilakukan tetapi lebih

banyak menggunakan statistik deskriptif yang sederhana sebab dalam

penelitian dengan desain kasus tunggal terfokus pada data individu dari

pada data kelompok.

a. Analisis dalam kondisi

Langkah ke 1

Panjang kondisi, adalah Menentukan panjang interval yang menunjukkan

berapa sesi dalam kondisi tersebut.

Kondisi (A1) B (A2)

Langkah ke 2

0  

10  

20  

30  

40  

50  

60  

70  

80  

90  

1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17   18   19   20  

Nila

i Pel

afal

an y

ang

bena

r

Sesi

Page 57: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

57

Panjang interval ini menunjukkan sesi dalam setiap kondisi pada baseline

(A1) Intervensi (B) dan baseline (A2)

Kondisi (A1) B (A2)

Panjang

Kondisi

5 10 5

Langkah 3

Mengestimasi kecenderungan arah dengan menggunakan metode belah

dua (split-middle).

Gambar Grafik 4.5: Grafik kemampuan pelafalan kosakata bahasa

inggris subjek penelitian pada fase baseline, intervensi dan baseline

keterangan

: Garis estimasi kecenderungan arah

0  

10  

20  

30  

40  

50  

60  

70  

80  

90  

100  

1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17   18   19   20  

Persen

tase  jawab

an    yan

g  be

nar  

Sesi  

Page 58: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

58

Dengan memperhatikan garis (1), (2) dan (3) maka diketahui pada fase

baseline (A1) arah trendnya menurun, pada fase intervensi (B) arah trendnya

menaik dan pada baseline (A2) arah trendnya menaik dan dalam tabel dapat

dimasukan seperti ini :

Kondisi (A1) (B) (A2)

Estimasi kecendrungan

arah

Langkah ke 4

Menentukan kecenderungan stabilitas pada baseline (A1), dalam hal ini

menggunakan kreteria stabilitas 15%, (Sunanto, 2005:112) maka

perhitungannya:

Skor tertinggi x kriteria stabilitas = rentang stabilitas

45,8 x 0,15 = 6,87

Untuk menentukan kecenderungan stabilitas dalam fase baseline (A1) ini

terlebih dahulu dihitung mean level fase baseline (A1) yaitu:

1) Menghitung mean level

45,8 + 45,8 + 44,2 + 43,3 + 43,3 = !!!,!!

= 44,48

2) Menghitung batas atas

Mean level + Setengah dari

rentang stabilitas = Batas atas

44,48 + 3,435 = 47,915

3) Menghitung batas bawah

Mean level - Setengah dari

rentang stabilitas = Batas bawah

Page 59: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

59

44,48 - 3,435 = 41,045

4) Menentukan kecenderungan stabilitas

Banyaknya data

poin yang ada

dalam rentang

: Banyaknya data

point = Pesentase stabilitas

5 : 5 = 100%

Jika persentasi stabilitas sebesar 85% - 90% dikatakan (Sunanto,

2005:113), sedangkan di bawah ini dikatakan stabil. Karena hasil

perhitungan untuk fase baseline (A1) adalah 100% maka diperoleh

hasil stabil.

Menentukan kecenderungan stabilitas pada intervensi (B) dalam hal

ini menggunakan kreteria stabilitas 15%, (Sunanto, 2005:112) maka

perhitungannya :

Skor tertinggi x kriteria stabilitas = rentang

stabilitas

75,8 x 0,15 = 11,37

Untuk menentukan kecenderungan stabilitas dalam fase intervensi (B)

ini terlebih dahulu dihitung mean level fase intervensi (B) yaitu:

1) Menghitung mean level

65+69+70,8+73+75+71,6+71,6+74+75+75,8 = !"#,!!"

= 72,08

2) Menghitung batas atas

Mean level + Setengah dari

rentang stabilitas = Batas atas

72,08 + 5,685 = 77,765

3) Menghitung batas bawah

Page 60: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

60

Mean level - Setengah dari

rentang stabilitas = Batas bawah

72,08 - 5,685 = 66,395

4) Menentukan kecenderungan stabilitas

Banyaknya data

poin yang ada

dalam rentang

: Banyaknya data

point = Pesentase stabilitas

9 : 10 = 90%

Berdasarkan hasil penelitian di atas, diketahui indeks kecenderungan arah

sebesar 90%, artinya data yang yang diperoleh pada fase intervensi (B)

mencapai tingkat kestabilan sebesar 90% menunjukkan data stabil, dengan

keadaan data intervensi (B) yang stabil telah meyakinkan untuk dilanjutkan

ke fase baseline (A2) sebagai fase kontrol untuk mengatahui sejauh mana

pengaruh media kartu kata bergambar terhadap pelafalan kosakata Bahasa

Inggris subjek penelitian. Namun, sebelum melakukan intervensi dilakukan

jeda selama dua hari.

Menentukan kecenderungan stabilitas pada baseline (A2) dalam hal ini

menggunakan kreteria stabilitas 15%, (Sunanto, 2005:112) maka

perhitungannya :

Skor tertinggi x kriteria stabilitas = rentang stabilitas

81,6 x 0,15 = 12,24

Untuk menentukan kecenderungan stabilitas dalam fase baseline (A2)

ini terlebih dahulu dihitung mean level fase baseline (A2) yaitu:

1) Menghitung mean level

71,6 + 71,6 + 75 + 79 + 81,6 = !"#,!!

= 75,76

Page 61: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

61

2) Menghitung batas atas

Mean level + Setengah dari

rentang stabilitas = Batas atas

75,76 + 6,12 = 81,88

3) Menghitung batas bawah

Mean level - Setengah dari

rentang stabilitas = Batas bawah

75,76 - 6,12 = 69,64

4) Menentukan kecenderungan stabilitas

Banyaknya data

poin yang ada

dalam rentang

: Banyaknya data

point = Pesentase stabilitas

5 : 5 = 100%

Analisis data baseline (A1) yang menunjukkan kecenderungan

stabilitas 100% (data stabil) dijadikan dasar untuk melakukan pengumpulan

data sebagai data awal untuk mengetahui tingkat kemampuan subjek

penelitian dalam pelafalan kosakata Bahasa Inggris. Data intervensi (B) yang

menunjukkan kecendrungan stabilitas 90% (data stabil) dijadikan dasar untuk

melakukan pengumpulan data sebagai data kedua, dan baseline (A2)

menunjukkan kecendrungan stabilitas 100% (data stabil). Adapun beberapa

penyebab kestabilan data tersebut antara lain, karena adanya keajekan nilai

data yang diperoleh. Pada fase baseline (A2) menunjukkan nilai mean level

sebesar 75,76 nilai ini menunjukkan bahwa nilai pelafalan kosakata Bahasa

Inggris berada di atas KKM yang telah ditentukan yaitu 50.

Page 62: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

62

Berdasarkan Perhitungan di atas maka kecendrungan stabilitas dapat dilihat

pada tabel sebagai berikut:

Kondisi (A1) (B) (A2)

Kecendrungan

Stabilitas

Stabil Stabil Stabil

100% 90% 100%

Gambar Grafik 4.6: Grafik kemampuan pelafalan kosakata bahasa

inggris subjek penelitian pada fase baseline, intervensi dan baseline

Keterangan :

: Batas atas

: Mean level

: Batas bawah

Langkah 5

Menentukan kecendrungan jejak data, hal ini sama dengan kecendrungan arah.

Kondisi (A1) (B) (A2)

Kecendrungan

jejak

(-) (+) (+)

0  

10  

20  

30  

40  

50  

60  

70  

80  

90  

1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17   18   19   20  

Nilai  Pelafalan

 yan

g  be

nar  

Sesi  

𝐴! 𝐴! 𝐵

Page 63: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

63

Langkah ke 6

Menentukan level stabilitas dan rentang: sebagaimana telah dihitung di atas

bahwa pada fase baseline (A1) datanya stabil. Adapun rentangnya 43,3-45,8.

Pada fase intervensi (B) datanya stabil dengan rentang 65–75,8, pada fase

baseline (A2) datanya stabil pada rentang 71,6–81,6.

Kondisi (A1) (B) (A2)

Level

stabilitas dan

rentang

Stabil

43,3-45,8

Stabil

65-75,8

Stabil

71,6-81,6

Langkah ke 7

Menentukan level perubahan dengan cara: ditandai data pertama dan data

terakhir. Hitung selisih antara kedua data dan data tentukan arahnya menaik

atau menurun dan beri tanda (+) jika membaik, (-) jika memburuk dan (=) jika

tidak ada perubahan. Dengan demikian, level perubahan data dapat di tulis

seperti berikut ini:

Kondisi (A1) (B) (A2)

Level

perubahan

45,8 – 43,3

(-2,5)

65-75,8

(+10,8)

71,6-81,6

(+10)

Catatan: Tanda (+) menunjukkan makin membaik (meskipun menurun), tanda

(-) menunjukkan makna memburuk (meskipun naik) karena hal ini disesuaikan

dengan tujuan intervensi.

5. Analisis antar kondisi

Untuk melakukan analisis antar kondisi ini pertama-tama masukkan kode

kondisi pada baris pertama. Pada antar kondisi1 baseline (A1) dengan

kondisi intervensi (B) dan kondisi baseline (A2) maka dalam format adalah

sebagai berikut:

Page 64: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

64

Penelitian ini dikarenakan menggunakan disain A-B-A maka disini analisis

antar kondisi dapat digambarkan seperti tabel berikut :

Perbandingan Kondisi A2/B/A1

(3:2:1)

Langkah ke 1

Penelitian ini dikarenakan menggunakan disain A-B-A dan data rekaan

variabel yang akan dirubah dari kondisi baseline (A1) ke intervensi (B)

dan baseline (A2) dengan demikian format dapat digambarkan seperti

tabel berikut :

Perbandingan Kondisi A2/B/A1

(3:2:1)

a. Jumlah Variabel Yang Dirubah 0

Langkah ke 2

Menentukan perubahan kecendrungan arah yaitu dengan mengambil

data pada analisis dalam kondisi diatas, yaitu dengan format seperti

tabel berikut :

Perbandingan Kondisi A2/B/A1

(3:2:1)

b. Perubahan Kecendrungan Arah

Dan efeknya ( - ) (+) (+)

Negatif Positif

Page 65: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

65

Langkah ke 3

Melihat perubahan kecendrungan stabilitas dapat kita lihat pada

fase baseline (A1), intervensi (B) dan baseline (A2) pada hasil analisis

dalam kondisi.

Perbandingan Kondisi A2/B/A1

(3:2:1)

c. Perubahan Kecendrungan Stabilitas Stabil

Ke

Stabil

Ke

Stabil

Langkah ke 4

Menentukan perubahan level yaitu tentukan data point pada kondisi

baseline A1 pada sesi terakhir dan sesi pertama pada kondisi intervensi

(B) kemudian hitung selisih antara keduanya.

Penelitian ini diperoleh nilai 43,3-65 pada kondisi baseline (A1). Dan

pada kondisi intervensi (B) diperoleh nilai 75,8-71,6. Maka diperoleh

nilai baseline (A1) +21,7 sedangkan intervensi (B) +4,2.

Data perubahan level dapat dilihat pada tabel berikut :

Perbandingan Kondisi A2/B/A1

(3:2:1)

Perubahan Level (75,8-71,6) (43,3-65)

+4,2 +21,7

Page 66: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

66

Langkah ke 5

Menentukkan overlap data pada kondisi baseline dengan intervensi (B)

yaitu dengan cara :

1) Melihat kembali batas bawah dan atas pada kondisi baseline (A1)

dan intervensi (B).

2) Menghitung ada berapa data point pada kondisi intervensi (B) yang

berada pada rentang kondisi baseline 1 (A1) = 0 dan rentang

intervensi (B) = 3

3) Membagi perolehan pada langkah 2 dengan banyaknya data point

dalam kondisi (B) kemudian dikalikan 100.

Adapun hasil perhitungan persentase overlap pada penelitian ini

adalah : (0 : 9) X 100 = 0% dan (3 : 5) X 100 = 60%

Perbandingan Kondisi A2/B/A1

(3:2:1)

Persentase Overlap 0% 60%

Berdasarkan visualisasi grafik di atas, maka analisis visual

kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris subjek penelitian dapat

digambarkan sebagai berikut:

6. Rangkuman Hasil Analisis Visual Dalam Kondisi

Kondisi A1 B A2

1. Panjang kondisi 5 10 5

2. Estimasi

kecenderungan arah

3. Kecenderungan 100% 90% 100%

Page 67: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

67

stabilitas

4. Kecenderungan jejak

5. Level stabilitas dan

rentang

Stabil

43,3-45,8

Stabil

65-75,8

Stabil

71,6-81,6

6. Level perubahan 45,8-43,3

(-2,5)

Memburuk

65-75,8

(+10,8)

Membaik

71,6-81,6

(+10)

Membaik

Menentukan Level Perubahan

Data pertama - Data terakhir = Persentase stabilitas

Baseline 1 (A1)

45,8

-

43,3

=

-2,5

Intervensi (B)

65

-

75,8

=

+10,8

Baseline 2 (A2)

71,6

-

81,6

=

+10

 

7. Rangkuman Hasil Analisis Visual Antar Kondisi

Perbandingan kondisi A2/B/A1  

(3:2:1)

1. Jumlah variabel yang

dirubah

0

2. Perubahan kecenderungan

arah dan efeknya

3. Perubahan kecenderungan

stabilitas

Stabil

Ke

Stabil

Ke

Stabil

Page 68: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

68

4. Perubahan level (75,8-71,6) (43,3 -65)

+4,2 +21,7

Menghitung Perubahan Level:

Data poin pada kondisi

intervensi (B1 ) pada

sesi terakhir

-

Sesi pertama pada kondisi

baseline (A2)

=

Perubah

an level

75,8 - 71,6 = +4,2

Data poin pada kondisi

baseline (A2) pada sesi

terakhir

-

Sesi pertama pada kondisi

intervensi (B1)

=

Perubah

an level

43,3 - 65 = +21,7

Perbandingan kondisi A2/B/A1

(3:2:1)

A2/B/A1

(3:2:1)

5. Persentase overlap 0% 60%

Menentukan persentase overlap dapat dilakukan dengan cara:

Untuk B/A1:

a. Lihat kembali batas bawah baseline (A1) = 41,045 dan batas atas

baseline (A1) = 47,915

b. Jumlah data point (65,69,70,8,43,3,73,75,71,6,71,6,74,75,75,8) pada

kondisi intervensi yang berada pada rentang baseline (A1) = 0

c. Perolehan pada langkah b dibagi dengan banyaknya data poin pada

kondisi (B) kemudian dikalikan 100, maka hasilnya adalah sebagai

berikut (0 : 9) X 100 = 0%

Untuk B/A2

a. Lihat kembali batas bawah intervensi (B) = 60 dan batas atas intervensi

(B) = 77,765

Page 69: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

69

b. Jumlah data point (71,6,71,6,75,79,81,6) pada kondisi baseline (A2)

yang berada pada rentang intervensi (B) = 3

c. Perolehan pada langkah b dibagi dengan banyaknya data poin pada

kondisi baseline (A2) kemudian dikalikan 100, maka hasilnya adalah

sebagai berikut (3 : 5) X 100 = 60%.

8. Reliabilitas Data Penelitian

Jadi persentase kesepakatan (percent egrement) :

!!!T×100% (Sunanto, 2005:29)

O = 31, N = 0, T = 40 31+ 040

×100  %

!"!"×100 %= 77,5%

Setelah dites pengumpulan data bahwa uji reliabilitas data menunjukkan

77,5%

Page 70: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

70

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Bahasa Inggris merupakan salah satu mata pelajaran atau pokok pada

setiap jenjang pendidikan mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah

Menengah Atas (SMA) bahkan ke jenjang Perguruan Tinggi (PT). Salah satu

komponen keterampilan dalam Bahasa Inggris yang perlu dimiliki oleh setiap

orang tidak terkecuali anak autism yaitu mengenai kemampuan pelafalan

kosakata, karena pelafalan merupakan keterampilan dasar dan salah satu

bidang akademik dasar. Kemampuan pelafalan kosakata yang benar

merupakan tumpuan pada setiap komunikasi, karena komunikasi haruslah

baik dan benar agar informasi yang disampaikan kepada orang lain tidak

terjadi salah faham.

Adapun tahapan penting dalam belajar pelafalan adalah panjang dan

pendek intonasi pelafalan dan oral pelafalan setiap kosakata dan Bahasa

Inggris memilki huruf-huruf konsonan yang khas sehingga pelafalan antara

satu kosakata dengan kosa kata yang lain pelafalan sangat jauh berbeda

bahkan ada kosakata yang samar pelafalannya tetapi beda artinya. Pelafalan

kosakata Bahasa Inggris merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam

rangka memperoleh ilmu pengetahuan, informasi, serta memperoleh hiburan.

Banyak informasi direkam dan dikomunikasikan melalui berbagai media.

Oleh karena itu, pelafalan kosakata merupakan salah-satu cara meningkatkan

penambahan pembendaharaan kosakata Bahasa Inggris agar pada saat

komunikasi tidak perlu membuka kamus saku, kemampuan pelafalan

kosakata bahasa inggris merupakan bekal dan kunci keberhasilan siswa dalam

menjalani proses pendidikan. Ilmu yang diperoleh siswa tidak hanya

diperoleh dari proses belajar mengajar di sekolah, tetapi juga melalui kegiatan

sehari-harinya dalam percakapan.

Oleh karena itu kemampuan pelafalan kosakata menjadi bagian

penting dalam penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan siswa. Akan

tetapi kemampuan pelafalan kosakata tersebut tidak dapat diperoleh secara

alami, tetapi melalui proses pembelajaran yang sebagian merupakan tanggung

Page 71: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

71

jawab guru. Dengan demikian guru dituntut untuk dapat membantu siswa

dalam mengembangkan kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris.

Latihan melafalkan kosakata bahasa inggris di SLB Negeri

Pelambuan Banjarmasin Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan terutama bagi

anak autis kelas VII diberikan sesuai dengan taraf perkembangan mental

anak. Teks kosakata yang diberikan dipilih agar dapat menarik minat serta

dapat merangsang perkembangan kemampuan pelafalan kosakata Bahasa

Inggris.

Untuk merangsang atau meningkatkan kemampuan pelafalan kosakata

Bahasa Inggris anak autis kelas VII di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin

Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan maka dilakukan penelitian dengan

media kartu kata bergambar dalam kaitannya dengan peningkatan

kemampuan pelafalan kosakata.

Hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan latihan pelafalan

kosakata pada anak autis kelas VII di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin

Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan tidak hanya pada metode dan media

belajar yang diterapkan, tetapi juga pada tingkat kesukaran teks kosakata

yang diberikan pada anak saat proses pembelajaran karena tingkat kesukaran

teks kosakata yang diberikan juga mempengaruhi kemampuan siswa dalam

memahami suatu teks kosakata, termasuk anak autis. Oleh karena itu, dalam

hal ini, peneliti memilih teks kosakata yang memiliki tingkat kesukaran yang

sama dalam proses pembelajaran untuk menghindari hal-hal yang tidak

diinginkan atau dengan kata lain untuk menjaga konsistensi dalam proses

pembelajaran.

Setelah melakukan penelitian dengan proses belajar mengajar selama

2 bulan terhadap satu orang siswa autis kelas VII di SLB Negeri Pelambuan

Banjarmasin Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan, hasil penelitian

menunjukkan bahwa kemampuan melafalkan kosakata Bahasa Inggris

menggunakan (media kartu kata bergambar) pada anak autis kelas VII di

SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan

Page 72: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

72

mengalami peningkatan yang divisualisasikan melalui grafik batang di bawah

ini.  

Gambar 4.7 Grafik Visualisasi Peningkatan Kemampuan pelafalan

kosakata bahasa inggris Pada Anak Autis Kelas VII di

SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin Tingkat Provinsi

Kalimantan Selatan

Keterangan:

Fase baseline (A1)

Fase intervensi (B)

Fase baseline (A2)

Penelitian ini adalah penelitian subjek tunggal (Single Subject

Research) dengan menggunakan desain penelitian A – B – A. Desain A – B –

A telah menunjukkan adanya hubungan sebab akibat antara variabel terikat

0  

10  

20  

30  

40  

50  

60  

70  

80  

1   2   3  

Fase

Nila

i

44,4

8

72.0

8

75.7

6

KKM

Page 73: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

73

dan variabel bebas. Adapun prosedur dasarnya yaitu mula-mula target

behavior diukur secara kontiniu pada kondisi baseline (A1). Tanpa diberikan

perlakuan dengan periode waktu tertentu sampai mencapai data yang stabil,

kemudian dilanjutkan pada fase Intervensi (B). Selama fase intervensi target

behavior secara kontiniu dilakukan pengukuran sampai mencapai data yang

stabil (lovaas, 2003; Tawney dan Gast, 1984) dalam Sunanto, (2005:57).

Setelah pengukuran pada fase intervensi (B), pengukuran pada fase baseline

(A2) diberikan. Penambahan kondisi baseline yang kedua (A2)   ini

dimaksudkan sebagai kontrol untuk fase intervensi sehingga memungkinkan

untuk menarik kesimpulan adanya hubungan fungsional antara variabel bebas

dan variabel terikat.

Sehubungan dengan grafik hasil penelitian di atas, dapat terlihat pada

data baseline (A1), kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris subjek

penelitian berinisial Ms anak autis kelas VII di SLB Negeri Pelambuan

Banjarmasin Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 44,48. Pelaksanaan

fase intervensi (B), pembelajaran pelafalan kosakata dilakukan melalui

penerapan media kartu kata bergambar selama sepuluh sesi menunjukkan

hasil yang cukup menggembirakan. Berdasarkan hasil penelitian, nilai rata-

rata yang diperoleh subjek penelitian berinisial Ms anak autis kelas VII di

SLB Negeri Pelambuan Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 72,08.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hasil intervensi (B) yang dilakukan

telah menunjukkan peningkatan kemampuan pelafalan kosakata pada subjek

penelitian.

Fase berikutnya adalah melakukan pengumpulan data baseline (A2)

setelah melakukan jeda selama dua hari dengan maksud melakukan fase

kontrol saat subjek penelitian diberikan intervensi (B). Pada fase baseline

(A2) nilai rata-rata kemampuan pelafalan kosakata yang diperoleh subjek

penelitian berinisial Ms anak autis kelas VII di SLB Negeri Pelambuan

Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 75,76 tingat stabilitasnya 100%

hal tersebut disebabkan karena kuatnya daya memori anak tersebut, melihat

Page 74: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

74

nilai rata-rata yang ditunjukkan meningkat dibandingkan pada fase baseline

(A1).

Uraian di atas menunjukkan bahwa menggunakan media kartu kata

bergambar dapat membantu meningkatkan kemampuan pelafalan kosakata

Bahasa Inggris pada anak autis kelas VII di SLB Negeri Pelambuan Tingkat

Provinsi Kalimantan Selatan. Terlihat pada nilai rata-rata kemampuan

pelafalan kosakata sebelum penerapan media kartu kata bergambar sebesar

44,48 menunjukkan masih berada di bawah KKM yang telah ditentukkan.

Sedangkan nilai kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris setelah

menggunakan media kartu kata bergambar sebesar 90% menunjukkan telah

berada diatas KKM yang telah ditentukan oleh sekolah.

Page 75: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

1

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah, paparan data dan pembahasan hasil

penelitian maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan awal bahasa inggris

pada anak autis sebelum menggunakan bahasa inggris, tidak mampu

melafalkan kosakata Bahasa Inggris yang baik dan benar, sedangkan untuk

kemampuan Bahasa Inggris pada anak autis setelah diberi intervensi berupa

media kartu kata bergambar kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris di

atas dari nilai rata-rata sebelumnya yaitu 44,48% hingga naik menjadi 72,08%.

Sehingga media kartu kata bergambar efektif meningkatkan kemampuan

pelafalan kosakata Bahasa Inggris pada anak autis kelas VII di SLB Negeri

Pelambuan Kalimantan Selatan.

Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa menggunakan media kartu

kata bergambar efektif meningkatkan kemampuan pelafalan kosakata Bahasa

Inggris siswa autis kelas VII di SLB Negeri Pelambuan Provinsi Kalimantan

Selatan.

 

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan, maka peneliti mengemukakan

saran-saran sebagai berikut:

1. Dalam mengajarkan mata pelajaran Bahasa Inggris khususnya

pembelajaran pelafalan kosakata sebaiknya menggunakan media belajar

yang betul-betul dapat memotivasi dan memacu siswa untuk lebih mudah

memahami dan mengingat materi pelajaran yang telah diajarkan.

2. Dalam pembelajaran dengan menggunakan media kartu kata bergambar

dalam meningkatkan kemampuan pelafalan kosakata, siswa hendaknya

diperhatikan setiap tahap-tahap dari pembelajaran yang telah diberikan

Page 76: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

76

yang harus dilalui oleh siswa dengan baik dalam proses pembelajaran

sehingga diperoleh hasil yang maksimal.

3. Dalam pembelajaran pelafalan kosakata Bahasa Inggris menggunakan

media kartu kata bergambar sebaiknya tidak menggunakan metode

mengajar yang bersifat monoton untuk menghindari kesan membosankan

bagi murid. Selain itu teks kosakata yang diberikan juga harus

diperhatikan, dalam artian tingkat kesulitan teks kosakata hendaknya

disesuaikan dengan kemampuan kognitif siswa.

4. Bagi sekolah khususnya SLB Negeri Pelambuan Provinsi Kalimantan

Selatan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media kartu kata

bergambar dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam

meningkatkan kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris bagi siswa

autis kelas VII.

Page 77: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

77

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, M. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Annie, S. (2012). Efektivitas penggunaan media Flashcard dalam meningkatkan penggunaan kosakata Bahasa Jepang. Skripsi pada FPBS UPI Bandung : tidak diterbitkan.

Arikunto, S. (2010). Metode kuantitatif dan kualitatif. J a k a r t a : P T B u m i A k s a r a .

Arsyad, A.(2011). Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Bening.Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem

Pendidikan Nasional, Undang-Undang Republik Indonesia No.19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, dan Undang-Undang Republik Indonesia No.47 Tahun 2008 Tentang Wajib Belajar. Jogjakarta.

Baker Ann dan Goldstein Sharon. (1990). Pronunciation Pairs An Introductory course for students of English. America: Cambridge University Pres.

Danuatmaja Bonny.2003. Anak Autis. Jakarta: Puspa Swara, Anggota Ikapi Delphie Bandi, 2009. Pendidikan Anak Autistik. Nganjuk Sleman: PT Intan Sejati

Klaten. Depdikbud, 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Ensiklopedi Indonesia, 1980. 2 Cs – Han. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hove. Geniofam, 2010. Mengasuh dan Mensukseskan Anak Berkebutuhan Khusus.

Jogjakarta: gara ilmu http://nikodemusoul.wordpress.com/. (online) diakses 19 November 2013) http:// rppguru.files.wordpress.com/.2011/.../ptk-kartu.do http://overload 84.blog detik.com/2009/07/18/gleen-doman-penemu flashcard/(09/06/2013) Mansur Hamsi, Agus Pratomo Andi, Imam Yowono, Abdul Rahim, Utomo.

(2013). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Banjarmasin: Pustaka Banua/Universitas Lambung Mangkurat.

Siegel. B. 1996. The World of the Autistic Child. New York: Oxford University Press.

Sudjana, N. 2006. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung. PT Remaja Rosdakarya

Somantri, H.T.S. 1996. Psikologi Anak Luar Biasa. Jakarta: Depdikbud Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung. CV

Alfabeta. Sukmadinata, S. N. 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT remaja

Rosdakarya. Sunanto, J dkk. 2005. Pengantar Penelitian Dengan Subjek Tunggal. CRICED

University of Tsukuba. Sunarni, 2012. Penggunaan Media Boneka Plastic Untuk Meningkatkan

Keterampilan Dalam Memakai Baju Berkancing Pada Anak Tunagrahita

Page 78: KARTU KATA(PENELITIAN)eprints.ulm.ac.id/2813/1/KARTU KATA(PENELITIAN).pdf · penelitian ini, maka akan diuraikan istilah-istilah operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Efektifitas

78

Sedang Kelas II SDLB-C Tunas Harapan Karawang. Jurnal Penelitian Universitas Pendidikan Indonesia .

Pamoedji Gayatri, (2010). 200 Pertanyaan Dan Jawaban Seputar Autisme. Perth, Western Australia: MPATI.

Tiel Van Maria Julia, (2007). Anakku Terlambat Berbicara. Jakarta: Prenada. Williams Chrisdan Wright Barry. (2004). How To Live with Autism and Asperger

Syndrome (Stategi Praktis Bagi Orang Tua dan Guru Anak Autis). PT. Dian Rakyat: Jakarta.