of 130 /130
KARAKTERISTIK IBU YANG MELAHIRKAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH DI RSU SUNDARI MEDAN TAHUN 2016 SKRIPSI OLEH : NURJANNAH NIM. 131000690 FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2017 Universitas Sumatera Utara

KARAKTERISTIK IBU YANG MELAHIRKAN BAYI BERAT BADAN …

  • Author
    others

  • View
    1

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of KARAKTERISTIK IBU YANG MELAHIRKAN BAYI BERAT BADAN …

KARAKTERISTIK IBU YANG MELAHIRKAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH DI RSU SUNDARI MEDAN
TAHUN 2016
Universitas Sumatera Utara
KARAKTERISTIK IBU YANG MELAHIRKAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH DI RSU SUNDARI MEDAN
TAHUN 2016
Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat
“KARAKTERISTIK IBU YANG MELAHIRKAN BAYI BERAT BADAN
LAHIR RENDAH DI RSU SUNDARI MEDAN TAHUN 2016” ini
besertaseluruh isinya adalah benar karya saya sendiri dan saya tidak melakukan
penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika
keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini saya siap
menanggung resiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabilakemungkinan
ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini atau
klaim dari pihak lain terhadap karya saya ini.
Medan, Oktober 2017
iii
ABSTRAK
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat badan lahir <2500 gram. Data WHO diperkirakan >3 juta bayi BBLR lahir/tahun. Riskesdas menyebutkan prevalensi BBLR di Indonesia pada tahun 2013 10,2%. Di Sumut disebutkan prevalensi BBLR adalah 7,2%.
Penelitian ini dilakukan di RSU Sundari bersifat deskriptif dengan desain case series. Populasi penelitian ini seluruh ibu yang melahirkan bayi BBLR sebesar 201 data. Sampel diambil dari keseluruhan populasi.
Distribusi frekuensi klasifikasi BBLR tertinggi kelompok berat badan 1500- <2500 (86,1%). Proporsi sosiodemografi tertinggi: usia 20-35 tahun 68,7%, beragama Islam (88,0%), tidak bekerja (65,7%). Berdasarkan faktor risiko medis tertinggi, usia kehamilan 37-42 minggu (63,7%), paritas <2 (70,6%), jarak kehamilan <2 tahun (55,2%), kadar Hb ≥11 gr% (60,2%), tidak ada penyakit (97,5%) komplikasi kehamilan (56,2%), jenis komplikasi ketuban pecah dini (69,0%), riwayat obstetric buruk (59,7%). Proporsi tertinggi keadaan sewaktu pulang bayi dan ibu adalah pulang berobat jalan berturut (92,0%) dan (98,0%).
Tidak ada perbedaan proporsi dengan klasifikasi BBLR dengan variabel umur ibu, pekerjaan, kadar Hb, Penyakit yang dialami ibu, riwayat obstetri. Sedangkan variabel usia kehamilan, paritas ibu, jarak kehamilan, komplikasi kehamilan memiliki perbedaan proporsi dengan klasifikasi BBLR.
Kepada pihak rumah sakit agar memperbaiki pencatatan (kadar Hb, penyakit ibu, suku dan riwayat obstetri, yang tidak tercatat dalam kartu status) yang berkaitan dengan kelahiran bayi BBLR. Kepada ibu agar memeriksakan kondisi kehamilannya dengan pemeriksaan rutin Antenatal Care, menjaga asupan gizi untuk mencegah terjadinya BBLR. Kepada petugas kesehatan di rumah sakit agar meningkatkan penyuluhan bagi ibu hamil mengenai pentingnya memeriksakan kehamilan serta memberi pemahaman mengenai pecegahan dan pengendalian bayi BBLR.
Kata Kunci : BBLR ,Karakteristik Ibu, RSU Sundari
Universitas Sumatera Utara
iv
ABSTRACT
Low Birth Weight (LBW) is when the babies were born less than 2500 grams. WHO estimates that more than 3 million babies are born with LBW every year. Riskesdas states that the prevalence of LBW in Indonesia in 2013 is 10.2%. In North Sumatra the prevalence of LBW is 7.2%.
This research was conducted in Sundari Hospital Medan, it’s a descriptive research with case series design. The population of this study are 201 mothers who gave birth to infants with LBW. Samples are taken from the total population.
The highest frequency distribution of LBWR for weight group is 1500- <2500 86.1%. The highest sociodemography proportion: age 20-35 years (68,7%), Moslem (88,0%),unemployed (65,7%). Based on the highest risk factor, gestational age 37-42 weeks (63,7%), parity <2 (70,6%), Interval of pregnancies with first-born child <2 years(55,2%), Hb ≥11 gr% (60,2%), no illness (97,5%) pregnancy with complication (56,2%), type of complication in early rupture of membrane (69,0%), obstetric history (59.7%). The highest proportion of infants and mothers’ discharging conditionis outpatient care which is 92,2% and 98,0% for each respectively.
There is no difference between proportion with classification of LBW with maternal age, occupation, Hb, maternal disease, obstetric history. Gestational age’s variable, parity of mother, pregnancy spacing, complication in pregnancy have different proportion with classification of LBW.
For the hospital authority is expected to improve records (Hb, mothers illness, ethnic, and obstetric history,that is not recorded in card statu) related to the birth with LBW. For the mothers, it’s suggested to check the condition of pregnancy by doing Antenatal Care for routine, maintaining the good nutrition to prevent the occurrence of LBW.The caregivers in the hospital is also expected to give more councelling for pregnant women about the important of pregnancy checking and to provide informationabout the prevention and control of LBW.
Keyword: LBW, Characteristic, SundariGeneral Hospital Medan
Universitas Sumatera Utara
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas berkat dan kasih-
Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul: “KARAKTERISTIK
IBU YANG MELAHIRKAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH DI
RSU SUNDARI MEDAN TAHUN 2016”. Skripsi ini merupakan salah satu
syarat yang ditetapkan untuk dapat meraih gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di
Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan skripsi ini tidak terlepas bantuan dan dukungan dari
berbagai pihak, baik secara moril maupun materil. Untuk itu pada kesempatan ini
penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada:
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu., S.H, M.Hum selaku Rektor Universitas
Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina., M.Si selaku Dekan Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. dr. Rahayu Lubis, M.Kes, Ph.D., selaku Ketua Departemen Epidemiologi
FKM USU.
4. drh. Rasmaliah, M.Kes., selaku Dosen pembimbing I yang telah
meluangkan waktu dan pikirannya dalam memberikan petunjuk, saran, dan
bimbingan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
5. Drs. Jemadi, M.Kes., selaku Dosen Pembimbing II yang juga telah
meluangkan waktu dan pikirannya dalam memberikan petunjuk, saran, dan
bimbingan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
Universitas Sumatera Utara
vi
6. Prof. dr. Sori Muda Sarumpaet, M.P.H., selaku Dosen Penguji I yang telah
memberikan saran dan masukan dalam penyelesaian skripsi ini.
7. dr. Fazidah Aguslina Siregar, M.Kes, Ph.D., selaku Dosen Penguji II yang
juga telah memberikan saran dan masukan dalam penyelesaian skripsi ini.
8. dr. Linda Trimurni Maas, M.P.H., selaku Dosen Penasehat Akademik
yang telah setia membimbing penulis selama menjalani perkuliahan di
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
9. Seluruh dosen dan Staf Departemen Epidemiologi FKM USU.
10. Direktur Rumah Sakit Umum (RSU) Sundari, Bagian Administrasi,
Kepala Bagian Rekam Medik, serta seluruh staf yang telah banyak
membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian ini.
11. Kedua orang tua saya tercinta Ayahanda Misnan Mustafa Basyir dan
Ibunda Khadijah Manik, S.Ag yang memberikan motivasi dan doa untuk
penulis, juga kepada kakak saya Siti Khuzaimah, S.Pd.I, abang-abang saya
Muhammad Bukhori, S.T, Rahmad Anshori, S.P, Akhmad Ghozali,
S.K.M, dan kakak-kakak ipar saya Murniati Barus, S.S, M.Pd, Supini, S.P,
Suci Hayati, Amk yang telah memberi dukungan, dan semangat dalam
penyelesaian skripsi ini.
12. Saudara seperjuangan, Rizki Mardiyah, Siti Nurhayati, Ella Melda Sari,
Desy Permatasari Manurung, Ayu Amalia Rahmi, Anggi Osyka, Isna
Hanim, Nadia Safira, Christina Sitorus, Hazellarissa Valda, Dwi
Damayanti, Ribka Valentina, Ratih Oktri Nanda, Fadhillah Azhana yang
Universitas Sumatera Utara
penulis selama perkuliahan maupun penyusunan skripsi ini.
13. Teman-teman seperjuangan PBL Desa Suka Jadi Kecamatan Perbaungan,
teman teman Epidemiologi 2013, UKMI FKM USU, Garda Media USU,
dan teman-teman lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu,yang
banyak memberi semangat, dukungan, doa dan berbagi ilmu kepada
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyajian
skripsi ini. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat penulis harapkan untuk
perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat.
Medan, Oktober 2017
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1 1.1 Latar Belakang.......................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah..................................................................... 4 1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................... 4
2.2.1 Definisi........................................................................... 9 2.2.2 Epidemiologi ................................................................. 11 2.2.2.1 Menurut Orang.................................................... 11 2.2.2.2 Menurut Tempat.................................................. 12 2.2.2.3 Menurut Waktu ................................................... 13 2.2.3 Etiologi dan Faktor Risiko ............................................. 14 2.2.3.1 Faktor Ibu........................................................... 14 2.2.3.2 Faktor Kehamilan............................................... 23 2.2.3.3 Faktor Janin....................................................... 24 2.2.3.4 Faktor yang Masih belum Diketahui ................... 25 2.2.4 Manifestasi Klinis .......................................................... 25 2.2.5 Pencegahan.................................................................... 26
2.3 Kerangka Konsep..................................................................... 29
BAB III METODE PENELITIAN ........................................................ 30 3.1 Jenis Penelitian ........................................................................ 30 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian.................................................... 30
3.2.1 Lokasi Penelian.............................................................. 30 3.2.2 Waktu Penelitian............................................................ 30
Universitas Sumatera Utara
ix
3.4 Metode Pengumpulan Data ...................................................... 31 3.5 Analisis Data ........................................................................... 31 3.5 Defenisi Operasional................................................................ 31
BAB IV HASIL PENELITIAN ............................................................. 35 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian......................................... 35
4.1.1 Profil Rumah Sakit Umum Sundari Medan .................... 35 4.1.2 Visi RSU Sundari Medan............................................... 35 4.1.3 Misi RSU Sundari Medan .............................................. 35 4.1.4 Pelayanan Medis............................................................ 36 4.1.5 Pelayanan Penunjang Medis........................................... 36 4.1.6 Penunjang Umum .......................................................... 36
4.2 Analisa Deskriptif .................................................................... 37 4.2.1 Klasifikasi Berat Badan Lahir Rendah ........................... 37 4.2.2 Sosiodemografi.............................................................. 37 4.2.3 Faktor Risiko Medis Ibu................................................. 38 4.2.4 Keadaan Bayi Sewaktu Pulang....................................... 41 4.2.5 Keadaan Ibu Sewaktu Pulang......................................... 41
4.3 Analisa Statistika ..................................................................... 42 4.3.1 Umur Ibu berdasarkan Klasifikasi BBLR....................... 42 4.3.2 Pekerjaan Ibu berdasarkan Klasifikasi BBLR................. 42 4.3.3 Usia Kehamilan berdasarkan Klasifikasi BBLR ............. 43 4.3.4 Paritas Ibu berdasarkan Klasifikasi BBLR ..................... 44 4.3.5 Jarak Kehamilan berdasarkan Klasifikasi BBLR ............ 44 4.3.6 Kadar Hb Ibu berdasarkan Klasifikasi BBLR................. 45 4.3.7 Penyakit yang Dialami Ibu berdasarkan Klasifikasi BBLR........................................................... 46 4.3.8 Komplikasi Kehamilan berdasarkan Klasifikasi BBLR .. 46 4.3.9 Riwayat Obstetri Ibu berdasarkan Klasifikasi BBLR...... 47
BAB V PEMBAHASAN ........................................................................ 48 5.1 Distribusi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR ............... 48
5.1.1 Klasifikasi BBLR........................................................... 48 5.1.2 Sosiodemografi.............................................................. 49 5.1.3 Faktor Risiko Medis Ibu................................................. 53 5.1.4 Keadaan Bayi Sewaktu Pulang....................................... 64 5.1.5 Keadaan Ibu Sewaktu Pulang......................................... 65
Klasifikasi BBLR .......................................................... 73
Universitas Sumatera Utara
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN................................................. 77 6.1 Kesimpulan ............................................................................ 77 6.2 Saran ...................................................................................... 78
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 80
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Tabel Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Klasifikasi Berat Badan Lahir Rendah di RSU Sundari Medan Tahun 2016 ........................................................ 37
Tabel 4.2 Tabel Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Sosiodemografi di RSU Sundari Medan Tahun 2016 ........................................................................................... 37
Tabel 4.3 Tabel Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Faktor Risiko Medis Ibu di RSU Sundari Medan Tahun 2016................................................................................. 39
Tabel 4.4 Tabel Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Keadaan Bayi Sewaktu Pulang di RSU Sundari Medan Tahun 2016 ..................................................................... 41
Tabel 4.5 Tabel Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Keadaan Ibu Sewaktu Pulang di RSU Sundari Medan Tahun 2016 ..................................................................... 41
Tabel 4.6 Tabel Distribusi Proporsi Umur Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR di RSU Sundari Medan Tahun 2016................................. 42
Tabel 4.7 Tabel Distribusi Proporsi Pekerjaan Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR di RSU Sundari Medan Tahun 2016............... 42
Tabel 4.8 Tabel Distribusi Proporsi Usia Kehamilan Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR di RSU Sundari Medan Tahun 2016............... 43
Tabel 4.9 Diagram Bar Distribusi Proporsi Paritas Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR di RSU Sundari Medan Tahun 2016............... 44
Tabel 4.10 Tabel Distribusi Proporsi Jarak Kehamilan Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR di RSU Sundari Medan Tahun 2016............... 44
Tabel 4.11 Tabel Distribusi Proporsi Kadar Hb Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR di RSU Sundari Medan Tahun 2016............... 45
Tabel 4.12 Tabel Distribusi Proporsi Penyakit yang dialami Ibu Berdasarkan klasifikasi BBLR di RSU SUndai Medan Tahun 2016 ........................................................................................... 46
Tabel 4.13 Tabel Distribusi Proporsi Komplikasi Kehamilan Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR di RSU Sundari Medan Tahun 2016 .......................................................................................... 46
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Gambar 2.2 Kerangka Konsep ....................................................................... 29
Gambar 5.1 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Klasifikasi Berat Badan Lahir Rendah di RSU Sundari Medan Tahun 2016 ........................................................ 48
Gambar 5.2 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Umur Ibu di RSU Sundari Medan Tahun 2016 ....... 50
Gambar 5.3 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Agama di RSU Sundari Medan Tahun 2016 ........... 51
Gambar 5.4 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Pekerjaan di RSU Sundari Medan Tahun 2016 ....... 52
Gambar 5.5 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Usia Kehamilan di RSU Sundari Medan Tahun 2016 ........................................................................................... 53
Gambar 5.6 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Paritas Ibu di RSU Sundari Medan Tahun 2016...... 54
Gambar 5.7 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Jarak Kehamilan di RSU Sundari Medan Tahun 2016 ........................................................................................... 55
Gambar 5.8 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Kadar Hb Ibu di RSU Sundari Medan Tahun 2016 . 56
Gambar 5.9 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Penyakit yang Dialami Ibu di RSU Sundari Medan Tahun 2016................................................................................. 57
Gambar 5.10 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Komplikasi Kehamilan di RSU Sundari Medan Tahun 2016................................................................................. 58
Gambar 5.11 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Jenis Komplikasi Kehamilan di RSU Sundari Medan Tahun 2016 ..................................................................... 60
Gambar 5.12 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Riwayat Obstetri di RSU Sundari Medan Tahun 2016 ........................................................................................... 61
Universitas Sumatera Utara
xiv
Gambar 5.12 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Keadaan Bayi Sewaktu Pulang di RSU Sundari Medan Tahun 2016 ..................................................................... 62
Gambar 5.13 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Keadaan Ibu Sewaktu Pulang di RSU Sundari Medan Tahun 2016 ..................................................................... 64
Gambar 5.14 Diagram Bar Distribusi Proporsi Umur Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR di RSU Sundari Medan Tahun 2016............... 65
Gambar 5.15 Diagram Bar Distribusi Proporsi Pekerjaan Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR di RSU Sundari Medan Tahun 2016............... 66
Gambar 5.16 Diagram Bar Distribusi Proporsi Usia Kehamilan Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR di RSU Sundari Medan Tahun 2016 ........................................................................................... 67
Gambar 5.17 Diagram Bar Distribusi Proporsi Paritas Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR di RSU Sundari Medan Tahun 2016............... 68
Gambar 5.18 Diagram Bar Distribusi Proporsi Jarak Kehamilan Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR di RSU Sundari Medan Tahun 2016 ........................................................................................... 70
Gambar 5.19 Diagram Bar Distribusi Proporsi Kadar Hb Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR di RSU Sundari Medan Tahun 2016............... 71
Gambar 5.20 Diagram Bar Distribusi Proporsi penyaki yang Dialami Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR di RSU Sundari Medan Tahun 2016 ........................................................................................... 73
Gambar 5.21 Diagram Bar Distribusi Proporsi Komplikasi Kehamilan Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR di RSU Sundari Medan Tahun 2016 .......................................................................................... 74
Gambar 5.22 Diagram Bar Distribusi Proporsi Riwayat Obstetri Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR di RSU Sundari Medan Tahun 2016 .......................................................................................... 75
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 2. Surat Penelitian
Lampiran 3. Master Data
Universitas Sumatera Utara
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Nurjannah, lahir pada tanggal 05 Januari 1996 di Kota
Binjai Kecamatan Binjai Utara Provinsi Sumatera Utara, beragama islam, anak
kelima dari lima bersaudara dari pasangan Misnan Mustafa Basyir dan Khadijah
Manik, S.Ag. Alamat penulis di Asrama Kebun Lada Barak Flamboyan no. 130
Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai.
Riwayat pendidikan penulis dimulai dari Sekolah Dasar di SDN 020260
Binjai (2001-2007), Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Binjai (2007-2010),
SMA Negeri 1 Binjai (2010-2013), dan S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara (2013-2017).
mencerminkan status kesehatan ibu dan anak saat kehamilan dan proses
persalinan, baik pada tatanan provinsi maupun nasional (Kemenkes RI, 2008).
AKB adalah jumlah kematian bayi (0-12 bulan) per 1.000 kelahiran hidup dalam
kurun waktu satu tahun (Timmreck,2012). Di Indonesia mayoritas kematian bayi
terjadi pada masa neonatus (0-28 hari) yaitu sebesar 19 per 1000 kelahiran hidup
(SDKI, 2012).Mengingat masih tingginya angka kematian neonatal (AKN) ini,
Indonesia menetapkan target untuk menurunkan angka kematian neonatal dalam
SDGs 2030(Kemenkes RI,2015).
Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu
penyumbang tingginya angka kematian bayi terutama pada masa perinatal.
Neonatal dengan BBLR berisiko mengalami kematian 6,5 kali lebih besar
daripada bayi yang lahir dengan berat badan normal (Kemenkes RI 2008).
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat
badannya saat lahir kurang dari 2500 gram (Kemenkes RI,2013). BBLR termasuk
faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonatus,
bayi, dan anak serta memberi dampak jangka panjang terhadap kehidupannya di
masa depan. Bayi dengan berat lahir rendah umumnya mengalami proses hidup
Universitas Sumatera Utara
2
masa depan yang kurang baik, memiliki risiko tinggi untuk meninggal dalam usia
balita jika dibandingkan dengan bayi yang memiliki berat badan normal
(Elizawarda, 2003).
Bayi BBLR yang dapat bertahan hidup, dalam lima tahun pertama akan
mempunyai risiko lebih tinggi dalam tumbuh kembang secara jangka panjang
kehidupannya jika dibandingkan dengan bayi yang berat badan normal, bayi
BBLR akan tumbuh dan berkembang lebih lambat, apalagi jika kekurangan ASI
eksklusif dan makanan pendamping ASI yang tidak cukup. Banyak faktor
penyebab terjadinya kejadian bayi BBLR ini dan penyebabnya didominasi oleh
karakteristik ibu seperti tinggi badan, umur, paritas, jarak, ukuran uterus dan
partner baru (Elizawarda 2003).
Menurut World Health Organization (WHO) (2016), diperkirakan terjadi
2,7 juta kematian neonatal dari 20 juta kelahiran di seluruh dunia setiap tahunnya
dan diperkirakan 15-20% adalah bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).
Dengan kata lain setidaknya ada lebih dari 3 juta bayi BBLR yang akan lahir
setiap tahunnya. Angka prevalensi BBLR sangat bervariasi baik di daerah dan
dalam negara. Namun, sebagian besar kejadian BBLR terjadi pada negara
berpenghasilan rendah dan menengah dan juga menjadi populasi yang paling
rentan. Estimasi Regional BBLR tahun 2015 tertinggi berada di Asia Selatan
(28%), 13% di Afrika sub-Sahara, dan 9% di AmerikaLatin.BBLR terendah
berada di Asia Pasifik (6%).
Data WHO (ika, 2015) mencatat Indonesia pada tahun 2015 berada di
peringkat 9 dunia dengan persentase BBLR lebih dari 15,5 persen dari kelahiran
Universitas Sumatera Utara
prevalensi bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) di Indonesia
berkurang dari 11,1 persen tahun 2010 menjadi 10,2 persen tahun 2013.
Terdapat variasi antar provinsi sangat mencolok dari terendah di Sumatera Utara
(7,2%) sampai yang tertinggi di Sulawesi Tengah (16,9%).
Berdasarkan Profil Kesehatan Sumatera Utara (2015), neonatal risiko
tinggi diperkirakan sebanyak 42.143 kasus dan neonatal risiko tinggi yang telah
dirujuk dan ditangani sebanyak 13.928 kasus (33,05%), jika dibandingkan dengan
tahun 2014 terjadi peningkatan kasus yaitu 12.634 kasus yang dirujuk dan
ditangani dari 41.570 kasus (30,39%). Masih banyak neonatal dengan risiko tinggi
yang ternyata belum ditangani dan dirujuk.
Persentase angka kejadian BBLR tertinggi berada di Kota Pematang
Siantar yaitu 2,46% dan terendah di Kota Padang Sidempuan dan Kota Gunung
Sitoli yaitu tidak ada kejadian BBLR. Persentase angka kejadian BBLR di Kota
Medan yaitu 0,22%. Data ini kemungkinan lebih rendah dari yang semestinya
karena data tersebut hanya berasal dari data kecamatan dan puskesmas dan
banyaknya neonatal dengan risiko tinggi.
Hasil penelitian sebelumnya (Amanda, 2013) di RSU Sundari tahun 2012
terdapat 188 kasus bayi BBLR dari 2.170 persalinan (8,6%). Dari hasil survei
pendahuluan di RSU Sundari Medan tahun 2016 terdapat 296 bayi BBLR dari 263
Ibu yang melahirkan bayi BBLRdari 2.658 persalinan (11,1%).Dengan ini dapat
dilihat bahwa terjadi peningkatan yang cukup signifikan dari tahun 2012 ke tahun
2016.
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka perlu
dilakukan penelitian tentangkarakteristik ibu yang melahirkan bayi BBLR di
Rumah Sakit Umum Sundari Medan tahun 2016.
1.2 Perumusan Masalah
Belum diketahui karakteristik ibu yang melahirkan bayi BBLR di Rumah
Sakit Umum Sundari Medan pada tahun 2016.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
1.3.2 Tujuan Khusus
klasifikasi berat badan.
Sundari tahun 2016.
jenis komplikasi kehamilan, riwayat obstetri ibu) di RSU Sundari tahun
2016.
sewaktu pulang di RSU Sundari tahun 2016.
Universitas Sumatera Utara
RSU Sundari tahun 2016.
BBLR di RSU Sundari tahun 2016.
g. Mengetahui distribusi proporsi usia kehamilan berdasarkan klasifikasi
BBLR di RSU Sundari tahun 2016.
h. Mengetahui distribusi proporsi paritas berdasarkan klasifikasi BBLR di
RSU Sundari tahun 2016.
BBLR di RSU Sundari tahun 2016.
j. Mengetahui distribusi proporsi kadar Hb ibu berdasarkan klasifikasi
BBLR di RSU Sundari tahun 2016.
k. Mengetahui distribusi proporsi penyakit yang dialami ibu berdasarkan
klasifikasi BBLR di RSU Sundari tahun 2016.
l. Mengetahui distribusi proporsi komplikasi kehamilan berdasarkan
klasifikasi BBLR di RSU Sundari tahun 2016.
m. Mengetahui distribusi proporsi riwayat obstetri ibu berdasarkan
klasifikasiBBLR di RSU Sundari tahun 2016.
Universitas Sumatera Utara
1.4 Manfaat Penelitian
a. Sebagai bahan masukan bagi pihak RSU Sundari Medan dalam upaya
peningkatan pelayanan kesehatan.
b. Sebagai bahan informasi bagi peneliti lainnya untuk melakukan penelitian
selanjutnya yang berhubungan penelitian yang dilakukan penulis.
c. Sebagai sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan
penulismengenai BBLR dan merupakan kesempatan bagi penulis dalam
menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan di Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Universitas Sumatera Utara
dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Pada kehamilan normal, masa
kehamilan adalah 280 hari atau 40 minggu, dihitung dari hari pertama haid yang
terakhir. Pembagian kehamilan menurut WHO (Manuaba,dkk 2010) adalah
sebagai berikut:
a. Preterm : Usia kehamilan kurang dari 37 minggu (259 hari)
b. Aterm : Usia kehamilan antara 37 dan 42 minggu (259-293 hari)
c. Post-term : Usia kehamilan lebih dari 42 minggu (294 hari)
Pada masa preterm usia kehamilan 0-8 minggu dengan berat janin 1.000
gr, bila berakhir disebut keguguran. Kehamilan 29 sampai 36 minggu, bila terjadi
persalinan disebut prematuritas (Dewidan Sunarsih 2011).
Banyak perubahan yang akan terjadi pada masa kehamilan, tidak hanya
perubahan secara fisik tetapi juga perubahan psikologis dan sosial pada keluarga.
Pada trimester I, ibu akan mengalami terlambatnya menstruasi, payudara nyeri
dan membesar, kelelahan kronis, mual dan muntah, dan diakhir trimester I tanda
chadwick (perubahan warna serviks dan vagina menjadi kebiru-biruan) muncul
dan uterus naik diatas simfisis serta perubahan fisik lainnya disertai perubahan
emosional seperti merasakan kekecewaan, penolakan, kecemasan, dan kesedihan.
Pada trimester II terjadi perubahan fisik dimana pada minggu ke 16 fundus
berada ditengah simfisis dan pusat, berat ibu akan bertambah 0,4-0,5 kg/mg
Universitas Sumatera Utara
selama sisa kehamilan, dan sekresi vagina meningkat. Dipertengahan trimester II
(minggu ke 20) fundus mencapai pusat, payudara memulai sekresi
kolostrum,kantong ketubanmenampung 400 ml cairan, varises juga mungkin
terjadi. Pada akhir trimester II ini fundus akan diatas pusat, dan juga sakit
punggung dan kram pada kaki, secara psikologis ibu pada trimester ini lebih
merasa sehat dan nyaman serta lebih stabil dalam emosional.
Pada trimester akhir (28-32 minggu), fundus akan berada pada
pertengahan antara pusat dan sifoideus, payudara penuh dan nyeri tekan, sering
buang air kecil, sakit punggung, dan ibu mungkin akan menjadi sulit tidur dan
secara psikologis ibu akan sering sekali merasa khawatir, sedih dan takut.
Kekhawatiran ibu pada trimester III (akhir) semakin besar, selain khawatir
terhadap janin ibu juga khawatir akan perubahan gambaran diri. Perubahan
psikologis yang akan dialami selama kehamilan ini sangat membutuhkan adanya
dukungan pada ibu dan pemantauan-pemantauan fisik terkait dengan kondisi dan
tumbuh kembang janin (Dewi.,dan Sunarsih, 2011).
Normal tidaknya berat badan bayi saat lahir bisa diprediksi sejak masih
dalam kandungan. Melalui pemeriksaan USG, dokter obgin bisa memantau
apakah berat badan janin sesuai dengan usianya (Kompas,2015). Karenanya
dalam kasus BBLR penting sekali agar ibu rutin melaksanakan pemeriksaan
Antenatal Care (ANC).
Universitas Sumatera Utara
2.2.1 Definisi
Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) tahun
2013, bayi berat lahir (BBL) adalah berat badan bayi yang di timbang dalam
waktu 1 jam pertama setelah lahir.Hubungan antara waktu kelahiran dengan umur
kehamilan dan kelahiran bayi dapat dikelompokan menjadi : bayi kurang bulan
(prematur), yaitu bayi yang dilahirkan dengan masa gestasi (kehamilan) < 37
minggu (<259 hari). Bayi cukup bulan, bayi yang dilahirkan dengan masa gestasi
antara 37-42 minggu (259 - 293 hari); dan bayi lebih bulan, bayi yang dilahirkan
dengan masa gestasi > 42 minggu (>294 hari).Berkaitan dengan berat badan bayi
lahir, bayi dapat dikelompokkan berdasarkan berat lahirnya yaitu : bayi berat lahir
rendah (BBLR), yaitu berat lahir <2500 gram, bayi berat lahir sedang, yaitu berat
lahir antara 2500-3999 gram, dan berat badan lebih, yaitu berat lahir ≥4000 gram.
Menurut Profil Kesehatan (2013) bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
adalah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram.
Dahulu, bayi baru lahir yang memiliki berat badan 2500 gram atau kurang disebut
dengan bayi prematur. Ternyata, morbiditas dan mortalitas pada neonatal tidak
hanya bergantung pada berat badan saja tetapi juga pada tingkat kematangan bayi.
Lalu World Health Organization (WHO) pada tahun 1961 membuat pernyataan
bahwa bayi yang baru lahir dengan berat badan <2500 gram disebut BBLR.
Universitas Sumatera Utara
2009), yaitu :
a) Berat bayi lahir rendah, dengan berat kurang dari 2500 gram
b) Berat bayi lahir sangat rendah, dengan berat 1000-1500 gram
c) Berat bayi lahir amat sangat rendah, dengan berat kurang dari 1000 gram.
Bayi dengan BBLR dapat dikategorikan menjadi dua (Kosim.dkk, 2010)
a. Prematuritas murni.
Prematuritas murni adalah neonatus dengan usia kehamilan kurang dari
37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai masa kehamilannya atau biasa
disebut Neonatus Kurang Bulan-Sesuai Masa Kehamilan (NKB-SMK).
b. Dismaturitas/ Kecil Masa Kehamilan (KMK).
Dismaturitas adalah berat bayi lahir dengan berat badan kurang dari
semestinya untuk masa gestasi. Penyebab dismaturitas ialah janin mengalami
gangguan pertumbuhan didalam uterus atau Intra Uterine Growth Retardation
(IUGR) sehingga pertumbuhan janin mengalami hambatan. KMK dibagi atas :
1. Simetri, adalah janin yang menderita distres yang lama, dimana gangguan
pertumbuhan terjadi berminggu-minggu sampai berbulan-bulan sebelum
lahir sehingga tampak pertumbuhan otak dan tulang rangka terganggu dan
seringkali berkaitan dengan hasil akhir perkembangan syaraf yang buruk.
2. Asimetri, terjadi akibat distres sub-akut. Gangguan terjadi beberapa
minggu sampai beberapa hari sebelum janin lahir. Pertumbuhan jantung,
otak dan tulang rangka tampak paling sedikit terpengaruh, sedangkan
Universitas Sumatera Utara
11
ukuran hati, limpa, timus sangat berkurang dan berat tidak sesuai dengan
masa gestasi.
karena itu bayi sangat peka terhadap gangguan pernapasan, infeksi, trauma
kelahiran, hipotermi dan sebagainya. Sedangkan bayi dismatur dapat lebih mudah
hidup setelah berada di luar rahim karena alat-alat tubuh lebih berkembang
dibandingkan bayi prematur dengan berat badan yang sama. Dalam jangka
panjang bayi BBLR dapat mengalami gangguan pertumbuhan, perkembangan,
penglihatan, pendengaran serta penyakit paru kronik (Mahyunani, anik &
Nurhayati 2009).
2.2.2 Epidemiologi
Tinggi rendahnya risiko dalam proses kehamilan dan persalinan sangat
bergantung pada faktor ibu seperti usia ibu, gizi, penyakit ibu (berhubungan
dengan kehamilan atau penyakit lain yang diderita ibu), keadaan sosioekonomi,
dan kondisi kehamilan ibu.Usia reproduksi yang optimal bagi seorang ibu adalah
usia 20-35 tahun, selain dari usia tersebut akan terjadi peningkatan risiko
kehamilan dan persalinan, karena usia tersebut berisiko 4 kali lebih besar
dibandingkan dengan usia 20-35 tahun (Amanda,2013).
Penelitian Rosmeri dalam Zulhaida (2003) menunjukkan bahwa status gizi
ibu sebelum hamil mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap kejadian
BBLR. Ibu dengan status gizi kurang (kurus) sebelum hamil mempunyai risiko
Universitas Sumatera Utara
4,27 kali untuk melahirkan bayi BBLR dibandingkan dengan ibu yang
mempunyai status gizi baik (normal).
Pada penelitian Purnomo dan Putro (2009), menunjukan bahwa kejadian
BBLR banyak dijumpai pada ibu dengan pendidikan rendah (6,4%) disusul
dengan ibu dengan pendidikan sedang (4,8%). Ibu dengan tingkat pendidikan
yang lebih tinggi lebih mudah menyerap informasi yang diberikan sehingga dapat
melahirkanbayi dengan berat badan yang normal.
Berdasarkan Riskesdas (2013), terlihat adanya kecenderungan semakin
tinggi pendidikan dan kuintil indeks kepemilikan, semakin rendah prevalensi
BBLR. Menurut jenis pekerjaan, persentase BBLR tertinggi pada anak balita
dengan kepala rumah tangga yang tidak bekerja (11,6%), sedangkan persentase
terendah pada kelompok pekerjaan pegawai (8,3%). Persentase BBLR di
perdesaan (11,2%) lebih tinggi daripada di perkotaan (9,4%).Persentase BBLR
pada perempuan (11,2%) lebih tinggi daripada laki-laki (9,2%) .
2.2.2.2 Menurut Tempat
World Health Organization (WHO) memperkirakan secara keseluruhan,
dari 20 juta kelahiran di seluruh dunia setiap tahunnya diperkirakan 15-20%
adalah bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Ada banyak variasi dalam
angka prevalensi BBLR baik di daerah dan dalam negara. Namun, sebagian besar
kejadian BBLR terjadi pada negara berpenghasilan rendah dan menengah dan
juga menjadi populasi yang paling rentan.
Indonesia sebagai Negara berkembang pada tahun 2015 berada di
peringkat 9 dunia dengan persentase BBLR lebih dari 15,5 persen dari kelahiran
Universitas Sumatera Utara
dengan berat badan lahir rendah (BBLR) bervariasi antar provinsi sangat
mencolok dari terendah di Sumatera Utara (7,2%) sampai yang tertinggi di
Sulawesi Tengah (16,9%). Untuk pertama kali tahun 2013 dilakukan juga
pengumpulan data panjang bayi lahir, dengan angka nasional bayi lahir pendek
<48 cm adalah 20,2 persen, bervariasi dari yang tertinggi di Nusa Tenggara Timur
(28,7%) dan terendah di Bali (9,6%).
Jika dikombinasikan antara BBLR dan panjang badan lahir pendek, maka
terdapat 4,3 persen bayi yang BBLR dan juga memiliki panjang badan lahir
pendek dan prevalensi tertinggi di Papua (7,6%), sedangkan yang terendah di
Maluku (0,8%).Berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Utara (2015),
angka kejadian BBLR tertinggi berada di Kota Pematang Siantar yaitu 2,46% dan
terendah di Kota Padang Sidempuan dan Kota Gunung Sitoli yaitu 0,00%.
2.2.2.3 Menurut Waktu
Berdasarkan Riskesdas (2013) prevalensi bayi dengan berat badan lahir
rendah (BBLR) di Indonesia berkurang dari 11,1 persen tahun 2010 menjadi 10,2
persen tahun 2013. Menurut ika (2015), Indonesia memiliki persentase BBLR
lebih dari 15,5 persen.
Di Sumatera Utara, angka kejadian BBLR pada tahun 2003 adalah sebesar
1,62% dari 187.420 bayi yang lahir hidup dan pada tahun 2007 terdapat 0,73%
bayi dengan BBLR dari 264.896 jumlah kelahiran hidup, sedangkan pada tahun
2008 terdapat 0,50% kasus BBLR dari 260.991 jumlah kelahiran hidup. Pada
tahun 2015 kejadian BBLR yaitu 0,24% dari 280.955 jumlah kelahiran hidup.
Universitas Sumatera Utara
Berdasarkan Profil Kesehatan Sumatera Utara (2015) di Kota medan angka
kejadian BBLR sebesar 0,22% dari 49.251 jumlah kelahiran hidup.
2.2.3 Etiologi dan Faktor Risiko
Berdasarkan data dari The Fifty Sixth Session of Regional Committee,
WHO for South Asia, tahun 2003, kematian bayi terjadi pada neonatus dengan
penyebab infeksi 33%, asfiksia/trauma 28%, BBLR 24%, kelainan bawaan 10%,
dan lainnya 5%. Risiko kematian BBLR 4 kali lebih besar dibandingkan bayi lahir
dengan berat badan normal (≥2500 gr) (Yulifah dkk, 2009).Berat badan lahir
rendah (BBLR) termasuk dalam penyebab kematian pada neonatus, hal ini
disebabkan oleh banyak faktor (multi faktor).
Etiologi atau penyebab dari berat badan lahir rendah maupun bayi
prematur adalah sebagai berikut (Mitayani,2009) (Manuaba,dkk, 2010).
2.2.3.1 Faktor ibu
yang dapat menyebabkan kesakitan juga kematian pada ibu dan bayi
(Rochjati,2003).
1. Gizi yang kurang saat hamil
Status gizi ibu sebelum dan selama hamil dapat mempengaruhi
pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Bila gtatus gizi ibu normal pada
masa sebelum dan selama hamil kemungkinan besar akan melahirkan bayi yang
sehat, cukup bulan dengan berat badan normal dan begitu pula sebaliknya.
Universitas Sumatera Utara
15
Dengan kata lain kualitas bayi yang dilahirkan sangat tergantung pada keadaan
gizi ibu sebelum dan selama hamil (Lubis,2003).
2. Penyakit pada ibu hamildan komplikasi medis
a. Toksemia gravidarum (Pre-Eklamsia)
Adalah kondisi ibu yang disebabkan oleh kehamilan, dengan tanda-tanda,
edema pada tungkai, tekanan darah tinggi, dalam seni terdapat zat putih telur
(pemeriksaan urine).Kondisi tersebut dapat mempengaruhi plasenta dan uterus
karena aliran darah ke plasenta menurun sehingga terjadi gangguan fungsi
plasenta. Pada hipertensi yang agak lama dapat mempengaruhi perkembangan
janin, sehingga mudah terjadi partus prematur (Manuaba,2010).
Bahaya yang dapat terjadi yaitu, bila keracunan kehamilan dan tidak
mendapat perawatan akan menjadi pre-eklamsi berat dan eklamsi. Bahaya bagi
janin, akan ada gangguan pertumbuhan janin/BBLR dan mati dalam kandungan
(Rochjati,2003).
Perdarahan sebelum persalinan. Perdarahan dapat keluar sedikit demi
sedikit tapi terus menerus menyebabkan anemia berat dan juga perdarahan bisa
banyak sekaligus dan menyebabkan syok, lemas, tekanan darah menurun. Bahaya
yang dapat terjadi yaitu bayi terpaksa dilahirkan sebelum cukup bulan (prematur
dan BBLR) dan dapat membahayakan janin (mati dalam kandungan)
(Rochjati,2003).
Keluhan yang dirasakan ibu hamil, lemas, lesu, mudah lelah, mata
berkunang-kunang, dan jantung berdebar. Jika diperiksa, wajah, kelopak mata,
lidah, dan telapak tangan tampak pucat. Pada pemeriksaan tes laboratorium
didapatkan kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari 11 gr/dl (ICD X).
Pengaruh anemia terhadap ibu hamil antara lain, menurunnya daya tahan tubuh
ibu hamil sehingga menjadi manifestasi penyakit lainnya, menghambat
pertumbuhan janin sehingga bayi lahir dengan BBLR, dan persalinan prematur.
Pada saat persalinan ibu berisiko mengalami perdarahan dan persalinan lama
(Rochjati,2003).
Keluhan yang dirasakan ibu hamil, hipertermi (demam tinggi), menggigil,
sakit kepala, dan muntah-muntah. Bila disertai dengan demam dan anemia maka
akan mengganggu ibu hamil dan kehamilannya.Bahaya yang dapat terjadi antara
lain, abortus (keguguran), kematian janin dalam kandungan, persalinan prematur
(Rochjati,2003).
e. Tuberkulosis Paru (TB Paru)
Di Indonesia prevalensi TB paru masih sanggat tinggi, hal ini terbukti
dengan Indonesia menduduki peringkat ke 2 terbanyak menderita Tb paru di
dunia. Maka dapat diasumsikan bahwa kemungkinan ibu hamil juga banyak yang
menderita penyakit ini (Mochtar,1998).
Keluhan yang dirasakan Ibu yang menderita TB Paru tidak jauh berbeda
dari penderita TB paru lainnya. Keluhan yang dirasakan batuk lama atau batuk
Universitas Sumatera Utara
17
berdarah, keringat pada malam hari, penurunan berat badan, dan gejala lainnya.
Efek TB Paru terhadap kehamilan bergantung pada beberapa faktor antara lain
berat ringannya penyakit, umur kehamilan saat terapi diberikan, status nutrisi ibu,
adanya penyakit penyerta dan sebagainya. Efek buruk yang terjadi kemungkinan
besar dikarenakan adanya keterlambatan dalam melakukan diagnosis, terapi yang
tidak adekuat, dan adanya lesi yang luas pada paru-paru. Hal ini banyak
menyebabkan terjadinya peningkatan insidensi persalinan premature, BBLR,
IUGR, serta peningkatan angka kematian perinatal (Mochtar,1998).
f. Payah Jantung
disebabkan oleh kebutuhan metabolisme yang meningkat, perubahan komposisi
darah akibat pengaruh, hormon estrogen dan progesteron yang meningkat,
sirkulasi retroplasenter (peredaran darah dalam plasenta), pembesaran uterus,
pembesaran mamae untuk laktasi, dan perubahan susunan darah dimana volume
darah meningkat 30-50%, eritrosit meningkat 20-35%, plasma darah lebih tinggi
35-50%, dan terjadi hemodelusi, serta adanya kompensasi kerja jantung. Pada
jantung yang normal, semua dapat diatasi dengan kompensasi jantung, pada
jantung yang abnormal akan terjadi dekompensasi kerja jantung sehingga
menyebabkan terhambatnya pertukaran gas dan nutrisi untuk janin yang berakibat
pada terhambatnya pertumbuhan janin dalam kandungan (Manuaba,2010).
g. Infeksi Traktus Urinates
Infeksi traktus urinates atau infeksi saluran kemih merupakan komplikasi
medik utama pada wanita hamil sekitar 15% wanita mengalami 1 kali serangan
Universitas Sumatera Utara
18
akut infeksi saluran kemih selama hidupnya. Infeksi saluran kemih bermula dari
masuknya bakteri luar ke tubuh melalui jalur eksogen, saat masuknya bakteri akan
langsung diserang oleh sistem imun nonspesifik berupa fagosit, komplemen, APP-
Acute Phase Protein atau di netralkan antibodi spesifik yang ada didalam darah.
Antibodi dan komplemen dapat juga berperan sebagai opsonin (antibody yang
bekerja dengan cara merangsang leukosit untuk menyerang antigen), karena
fagosit memiliki Fc-γ R dan CR. Baik sel poli morfonuklear maupun magrofag
memiliki Fc-αR. Fc-γ R dan CR berfungsi untuk membunuh sel target dengan
mengaktifkan sitotoksik. Fc-αR sendiri berfungsi untuk respon pro dan ant-
inflamasi tergantung pada keadaan IgA yang terikat (P Husslein, 2003) (Rust OA,
2002) (M. Sakai, dkk , 2001).
Bakteri akan masuk melalui mukosa epitel, lalumengeluarkan toxin yang
akan dinetralisir langsung oleh antibodi. Bakteri akan mengaktivasi jalur
komplemen. Jika sesuatu yang dianggap antigen berikatan dengan antibody maka
pada reseptor Fc akan terjadi sebuah proses yang memacu terjadinya degranulasi
sel mast local, sehingga melepaskan mediator-mediator yang menimbulkan
vasodilatasi dan ekstravasai netrofil dan limfosit. Selain itu akibat dari aktivasi
komplemen-komplemen saat proses tersebut menyebabkan kemotaktik untuk
netrofil dan makrofag. Makrofag banyak ditemukan pada permukaan plasenta dan
membrane amnion, bila ada invasi bakteri akan menghasilkan produk-produk
seperti Phospholipase A2 (PLA2), endotoksin, dan collagenase, selain itu akan
terjadi peningkatan produksi lipoxygenase, cyloxynase, dan sitokin (IL-1, IL-6,
IL-8, TNF). Peningkatan phospholipase akan melepaskan asam arakidonat yang
Universitas Sumatera Utara
19
dipakai untuk mensintesis COX-1 dan COX-2 pada jalur sintesis prostaglandin, ini
diakibatkan karena makrofag yang berada dipermukaan plasenta dan membrane
amnion akan mensintesis prostaglandin, enzim protease dan collagenase yang
menyebabkan penipisan serviks dan kontraksi otot miometrium sehingga
menginduksi persalinan prematur dan mengalami berat badan lahir rendah (P
Husslein, 2003) (Rust OA, 2002) (M. Sakai, dkk , 2001). Berikut gambar
patofiologi terjadinya persalinan premature akibat dari adanya infeksi pada
saluran kemih (Jannah,2010).
Infeksi saluran kemih
3. Umur Ibu
Umur Ibu ibu yang berisiko adalah pada kehamilan kurang dari 20 tahun
(primi muda) dan diatas 35 tahun (primi tua).
a. Primi muda (terlalu muda)
Primi muda adalah ibu yang kehamilan pertamanya pada umur ≤16 tahun.
Hal ini berisiko karena rahim dan panggul ibu sering kali belum tumbuh mencapai
ukuran dewasa, yang akibatnya diragukannya keselamatan dan kesehatan janin
dalam kandungan. Selain itu mental ibu belum dewasa.Bahaya yang dapat terjadi
antara lain, bayi lahir belum cukup bulan (prematur), pendarahan sebelum
persalinan, pendarahan sesudah persalinan (Rochjati,2003).
b. Primi tua (terlalu tua dan terlalu lama hamil)
Menurut Rochjati (2003) Primi tua adalah ibu hamil pertama saat berusia ≥
35 tahun dan ibu yang lambat hamil (ibu hamil pertama setelah kawin 4 tahun
atau lebih dengan dengan kehidupan perkawinan biasa). Primi tua ini pada
referensi lainnya digolongkan dalam primi tua primer.
Bahaya yang mungkin terjadi pada primi tua ibu hamil pertama setelah
usia perkawinan ≥ 4 tahun antara lain:
a) Selama kehamilan dapat timbul masalah, faktor risiko lain karena
kehamilan misalnya pre-eklamsi.
b) Persalinan tidak lancar.
Bahaya yang dapat terjadi pada ibu yang hamil usia ≥ 35 tahun antara lain:
a) Hipertensi/ tekanan darah tinggi
b) Pre-eklamsi.
f) Bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR)
c. Umur ibu ≥ 35 tahun (terlalu tua)
Yang dimaksud umur ibu ≥ 35 tahun ini adalah kehamilan saat ibu
berumur 35 tahun atau lebih. Yang membedakan pembagian ini dengan primi tua
adalah kehamilan yang dialami ibu bukanlah kehamilan pertama. Bahaya yang
dapat terjadi adalah hipertensi dan pre-eklamsi, ketuban pecah dini, persalinan
macet, perdarahan setelah persalinan, bayi BBLR (Rochjati,2003).
4. Multigravida (ibu yang hamil ≥2 kali) dan jarak kehamilannya terlalu
dekat
Multigravida/grande multi adalah ibu pernah hamil/ melahirkan anak ≥2
kali. Kondisi ibu kemungkinan mengalami gangguan kesehatan seperti anemia
dan kurang gizi, kekendoran dinding perut dan dinding rahim. Bahaya yang dapat
terjadi pada grande multi (Rochjati,2003) antara lain:
a) Kelainan letak, persalinan letak lintang.
b) Robekan rahim pada kelainan letak lintang.
c) Persalinan lama.
Jarak kehamilan yang terlalu dekat juga menjadi risiko dikarenakan
kondisi kesehatan fisik dan rahim ibu masih butuh istirahat, selain itu anak dari
Universitas Sumatera Utara
persalinan sebelumnya masih butuh perhatian dan asuhan dari orang tuanya.
Bahaya yang dapat terjadi pada ibu hamil (Rochjati,2003) antara lain:
a) Perdarahan setelah persalinan.
Keadaan ini sangat berpengaruh terhadap timbulnya prematuritas, kejadian
yang tinggi terdapat pada golongan sosial ekonomi yang rendah. Hal ini
disebabkan oleh karena keadaan gizi yang kurang baik dan pengawasan antenatal
yang masih kurang.
a. Peningkatan berat badan ibu yang tidak adekuat
Peningkatan berat badan yang normal saat kehamilan adalah 12 kg (10-
14,5 kg). dengan pola kenaikan antara 1-2 kg pada trimester 1 dan 0,3-0,4
kg/minggu pada trimester 2 dan 3. Apabila kenaikan berat badan ibu kurang dari
10 kg, dikhawatirkan akan terjadi gangguan pertumbuhan janin (prematur atau
BBLR) (jumiarni,1995).
kelainan kongenital, kematian janin dan BBLR. Carbon monoksida dan nikotin
adalah dua bahan kimia yang paling berpengaruh terhadap janin dan terdapat pada
rokok. CO menurunkan kemampuan membawa oksigen yang cukup pada jaringan
janin. Nikotin meningkatkan tekanan darah janin dan menurunkan angka
Universitas Sumatera Utara
pernapasan, nikotin berefek pada sistem syaraf pusat genitalia, saluran cerna, dan
sistem urinari janin. Dampak rokok bukan hanya dirasakan pada perokok aktif
tetapi juga pada perokok pasif. Orang yang tidak merokok atau perokok pasif
yang terpapar asap rokok akan mengirup dua kali lipat racun yang dihembuskan
oleh perokok aktif (WHO,2012).
2.2.3.2 Faktor Kehamilan
1. Hamil dengan Hidramnion
Kehamilan dengan jumlah air ketuban lebih dari 2 liter. Keluhan yang
dirasakan yaitu sesak napas, perut membesar, pembengkakan pada kedua bibir
kemaluan dan tungkai.Bahaya yang dapat terjadi antara lain, keracunan
kehamilan, cacat bawaan, kelainan letak, prematur/BBLR, dan perdarahan pasca
persalinan (Rochjati,2003).
a. Multiple gestation (hamil kembar)
Pada kehamilan kembar perut akan lebih besar dari biasanya, rahim ibu
juga ikut mengalami perbesaran dan menekan organ tubuh yang menyebabkan
keluhan-keluhan, sesak napas, pembengkakan keduan bibir kemaluan dan tungkai,
pemekaran urat (varises), hemorrhoid (kadang-kadang keluar darah dari
dubur).Bahaya yang dapat terjadi pada yaitu, keracunan kehamilan, hydramnion,
anemia, persalinan prematur/BBLR, kelainan letak, partus macet, dan perdarahan
(Rochjati,2003).
melemah sehingga menyebabkan kelahiran prematur atau kelahiran yang
tidak sehat (Kamus Kesehatan).
c. Ketuban pecah dini
persalinan yang sebenarnya atau sebelum kehamilan mencapai 37 minggu dengan
atau tanpa kontraksi (Mitayani,2009). Hal ini akan menyebabkan bayi lahir
prematur dan berat badan lahir rendah (BBLR).
d. Plasenta previa
Plasenta previa adalah plasenta dengan implantasi di segmen bawah rahim
sehingga menutupi kanalis sevikalis dan mengganggu proses persalinan dengan
terjadinya perdarahan. Jika perdarahan merupakan keadaan yang sangat darurat
maka akan diambil tindakan untuk segera mengeluarkan bayi melalui tindakan
operasi sesar untuk mengurangi kesakitan dan kematian pada ibu dan bayi.
e. Ada riwayat kelahiran prematur
2.2.3.3 Faktor janin
1. Cacat bawaan
cacat bawaan adalah faktor lingkungan, faktor genetik, dan kombinasi antar
keduanya. Cacat bawaan dapat menyebabkan terjadi kelainan pada organ tubuh
yang juga akan mempengaruhi berat badan bayi saat dilahirkan (Universitas
Padjajaran, 2004).
2.2.4 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis yang dapat ditemukan pada bayi dengan BBLR adalah
sebagai berikut:
1. Berat badan kurang dari 2500 gram.
2. Panjang badan kurang dari 45 cm.
3. Lingkar dada kurang dari 30 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm.
4. Masa gestasi kurang dari 37 minggu.
5. Kepala lebih besar dari tubuh.
6. Kulit tipis, transparan, lanugo banyak, dan lemak subkutan sangat sedikit.
7. Osifikasi tengkorak sedikit serta ubun-ubun dan sutura lebar.
8. Genitalia imatur, labia minora belum tertutup dengan labia mayora.
9. Tulang rawan dan daun telinga belum cukup, sehingga elastisitas belum
sempurna.
10. Pergerakan kurang dan lemah, tangis lemah, pernapasan belum teratur, dan
sering mendapat serangan apnea (berhentinya proses pernafasan dalam
waktu singkat ).
11. Bayi lebih banyak tidur, reflex mengisap dan menelan belum sempurna.
Bayi dengan BBLR dapat dibagi menjadi 3 stadium.
1. Stadium I, bayi tampak kurus dan relatif lebih panjang, kulit longgar,
kering.
2. Stadium II, bila didapatkan tanda-tanda stadium I ditambah warna
kehijauan pada kulit, plasenta, dan umbilikus.
3. Stadium III, ditemukan tanda stadium II ditambah kulit berwarna kuning,
demikian pula kuku dan tali pusat.
2.2.5 Pencegahan
menghadapi kelahiran dengan BBLR, pencegahan yang dapat dilakukan antara
lain pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tertier.
1. Pencegahan Primer
kejadian suatu penyakit atau gangguan sebelum terjadi. Upaya yang dapat
dilakukan untuk mencegah kejadian BBLR (Maryunani, dkk, 2009 dan Gibney,
M.J., et al., 2009):
a. Meningkatkan pengetahuan calon ibu mengenai kehamilan yang sehat.
b. Makan-makanan yang bergizi guna menjaga gizi ibu maupun janin yang
dikandung.
c. Setiap ibu hamil disarankan untuk melakukan pemeriksaan antenatal
minimal sebanyak empat kali yaitu satu kali pada trisemester I, satu kali
pada trisemester II dan dua kali pada trisemester III. Dengan melakukan
pemeriksaan antenatal segala bentuk kelainan ataupun gangguan pada ibu
dan janin dapat dideteksi sedini mungkin.
d. Menghindari perilaku berisiko tinggi seperti merokok, minum-minuman
beralkohol karena dapat mengganggu pertumbuhan janin.
Universitas Sumatera Utara
1. Menegakkan diagnosa pada bayi BBLR
Menegakkan diagnosa BBLR adalah dengan dilakukan (Syafrudin &
Hamidah, 2009):
mati, pembesaran uterus tidak sesuai dengan usia kehamilan, pergerakan janin
yang pertama terjadi lebih lambat, pertambahan berat badan ibu sangat lambat,
dijumpai kehamilan dengan oligohidromnion, hipermesis gravidarum dan
perdarahan antepartum.
diagnose BBLR:
a) Pemeriksaan skor ballard untuk menentukan usia gestasi bayi baru lahir
melalui penilaian neuromuskular dan fisik.
b) Tes kocok (shake test), dianjurkan untuk bayi kurang bulan untuk melihat
ada tidaknya sindrom gawat napas.
c) Foto thoraks/baby gram pada bayi baru lahir dengan kehamilan kurang
bulan dimulai pada umur 8 jam atau didapat/diperkirakan terjadi sindrom
gawat napas.
28
d) USG kepala terutama pada bayi dengan kehamilan kurang bulan dimulai
pada umur 2 hari unutk mengetahui adanya hidrosefalus atau perdarahan
intracranial.
2. Penatalaksanaan bayi BBLR
a) Pantau suhu disekitar bayi dan pastikan bayi agar tetap hangat.
b) Awasi frekuensi pernapasan, terutama dalam 24 jam pertama.
c) Motivasi ibu untuk menyusui dalam 1 jam pertama.
d) Cegah infeksi, karena rentan penularan antara ibu ke bayi (Mitayani,
2009).
usaha rehabilitasi pada bayi BBLR (Syafrudin & Hamidah, 2009), yaitu dengan
cara :
kenaikan berat badan bayi.
c. Pemberian vitamin K untuk mencegah terjadinya pendarahan pada bayi
baru lahir.
d. Menjaga tali pusar tetap bersih untuk mencegah terjadinya infeksi.
Universitas Sumatera Utara
Adapun kerangka konsep pada penelitian tentang karakteristik ibu yang
melahirkan bayi berat badan lahir rendah di RSU Sundari Medan Tahun 2016
adalah sebagai berikut:
KARATERISTIK IBU YANG MELAHIRKAN BAYI BBLR
1. BBLR berdasarkan Klasifikasi Berat Badan
2. Faktor Sosiodemografi Umur Agama pekerjaan
3. Faktor Risiko Medis Ibu Usia Kehamilan Paritas Jarak Kehamilan Kadar Hb Riwayat Obstetri Ibu Penyakit yang Dialami Ibu Komplikasi Kehamilan Jenis Komplikasi
4. Keadaan Bayi Sewaktu Pulang
5. Keadaan Ibu Sewaktu Pulang
Gambar 2.2 Kerangka Konsep
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Sundari Medan. Pemilihan
lokasi ini dengan pertimbangan masih banyaknya dijumpai kejadian bayi BBLR
pada Rumah Sakit Umum Sundari Medan dan belum adanya penelitian yang
dilakukan di Rumah Sakit Umum Sundari karakteristik ibu yang melahirkan bayi
BBLR tahun 2016.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dimulai bulan Desember 2016 sampai dengan Agustus 2017.
3.3 Populasi dan Sampel
Populasi adalah seluruh data ibu yang melahirkan bayi BBLR yang
tercatat dalam rekam medik RSU Sundari Medan tahun 2016 yang berjumlah 263
data.
3.3.2 Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah seluruh data ibu yang melahirkan bayi
BBLR di RSU Sundari Medan tahun 2016. Besar sampel sama dengan jumlah
populasi.Dalam hal inikartu status banyak yang tidak sesuai dengan nomor rekam
Universitas Sumatera Utara
medis pada buku registrasi dan kurangnya pencatatan sehingga menyebabkan data
yang ditemukan hanya 201 data.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan merupakan data sekunder yang berasal dari rekam
medis ibu yang melahirkan bayi BBLR di Rumah Sakit Umum Sundari Medan
(diambil dengan bantuan lembar checklist) di mulai pada bulan Januari tahun
2016 sampai Desember tahun 2016. Data ini kemudian ditabulasi dan diolah
dengan bantuan komputer.
3.5 Analisa Data
Data yang telah terkumpul diolah menggunakan komputer. Data dianalisa
dengan menggunakan uji Chi Square dan disajikan dalam bentuk narasi, tabel
distribusi frekuensi, tabel tabulasi silang, diagram batang dan diagram pie.
3.6 Definisi Operasional
3.6.1 Berat Lahir Bayi adalahberat badan bayi yang di timbang dalam waktu 1
jam pertama setelah lahir (Kemenkes RI,2013).
3.6.2 Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalahberat bayi baru lahir yang
beratbadannya saat lahir kurang dari 2500 gram (Kemenkes RI, 2013),
dengan kategori sebagai berikut:
1. Berat bayi lahir rendah, dengan berat 1500-2499 gram. 2. Berat bayi lahir sangat rendah, dengan berat <1500 gram.
3.6.3 Umur Ibu adalah umur ibu saat melahirkan, yang tercatat pada kartu status
dan dikategorikan sebagai berikut :
1. Umur berisiko : < 20 tahun dan >35 tahun 2. Umur tidak berisiko : 20-35 tahun
Universitas Sumatera Utara
32
3.6.4 Agama adalah kepercayaan yang dianut ibu, yang tercatat pada kartu status
dan dikategorikan menjadi :
1. Islam 2. Kristen Protestan 3. Kristen Katolik 4. Hindu 5. Budha
3.6.5 Pekerjaan adalah kegiatan rutin yang sehari-hari dilakukan ibu, yang
tercatat pada kartu status dan dikategorikan menjadi :
1. Tidak Bekerja 2. Bekerja
3.6.6 Usia kehamilan adalah jumlah minggu lengkap terhitung dari hari pertama
mensturasi yang terakhir sampai anak lahir, yang tercatat pada kartu status
dan dikategorikan menjadi :
3.6.7 Paritas adalah jumlah persalinan yang pernah dialami ibu sebelum
persalinan saat ini, yang tercatat pada kartu status dan dikategorikan
menjadi :
3.6.8 Jarak kehamilan adalah tenggang waktu mulai kelahiran anak terakhir
sampai berhentinya menstruasi dari kehamilan berikutnya, yang tercatat
pada kartustatus dan dikategorikan menjadi :
1. < 2 tahun 2. ≥ 2 tahun
Universitas Sumatera Utara
33
3.6.9 Kadar Hb ibu adalah kadar haemoglobin dalam darah yang diukur pada
saat melahirkan dalam satuan gram/dl sewaktu akan melahirkan, yang
tercatat pada kartu status dan dikategorikan menjadi :
1. < 11 gr/dl 2. ≥ 11 gr/dl
3.6.10 Penyakit yang Dialami Ibu
Penyakit yang Dialami Ibu adalah ada tidaknya penyakit yang dialami ibu
pada masa kehamilan yang bukan disebabkan oleh kehamilan, tetapi
berkaitan dengan kejadian BBLR, yang tercatat pada kartu status dan
dikategorikan menjadi :
1. Tidak ada Penyakit 2. Ada Penyakit (ibu pada masa kehamilan didiagnosa malaria, TB paru,
payah jantung, infeksi saluran kemih)
3.6.11 Komplikasi Kehamilan
yang berhubungan dengan kehamilan,yang tercatat pada kartu status dan
dikategorikan menjadi :
3.6.12 Jenis Komplikasi
dikategorikan menjadi:
1. Ketuban pecah dini 2. Anemia 3. Preeklamsi/eklamsi 4. Placenta previa
Universitas Sumatera Utara
34
5. Ketuban pecah dini dan anemia 6. Ketuban pecah dini dan preeklamsi/eklamsi 7. Ketuban pecah dini dan placenta previa 8. Anemia dan preeklamsi/eklamsi 9. Anemia dan plasenta previa 10. Preeklamsi/eklamsi dan plasenta previa 11. Ketuban pecah dini, anemia, preeklamsi/eklamsi 12. Ketuban pecah dini, anemia, plasenta previa 13. Ketuban pecah dini, anemia, preeklamsi/eklamsi, dan plasenta previa
3.6.13 Riwayat Obstetri
Riwayat Obstetri adalah riwayat yang pernah dialami oleh ibu pada
kehamilan sebelumnya, yang tercatat pada kartu status dan dikategorikan
menjadi :
1. Buruk (pernah abortus, melahirkan kembar, lahir mati, melahirkan dengan sectio caesarea).
2. Baik (tidak pernah abortus, tidak melahirkan kembar, lahir hidup, melahirkan dengan normal).
3.6.14 Keadaan bayi sewaktu pulang adalah kondisi bayi setelah mendapatkan
perawatan di rumah sakit yang tercatat pada kartu status dan dikategorikan
menjadi :
1. Sehat 2. Pulang Berobat Jalan (PBJ) 3. Pulang Atas Permintaan Sendiri (PAPS) 4. Meninggal
3.6.14 Keadaan ibu sewaktu pulang adalah kondisi bayi setelah mendapatkan
perawatan di rumah sakit yang tercatat pada kartu status dan dikategorikan
menjadi :
1. Sehat 2. Pulang Berobat Jalan (PBJ) 3. Pulang Atas Permintaan Sendiri (PAPS) 4. Meninggal
Universitas Sumatera Utara
4.1.1 Profil Rumah Sakit Umum Sundari Medan
Rumah Sakit Umum Sundari terletak di jalan T.B. Simatupang (Jalan
Pinang Baris No.31) Medan.Rumah Sakit ini berdiri pada tahun 1987 yang
didirikan olehBapak H. Usman.Rumah Sakit Umum Sundari pada awalnya hanya
tempat praktek bidan yang dibuat di rumah. Tempat praktek ini berada di
lingkungan Desa Lalang Kecamatan Medan Sunggal yang penduduknya belum
terlalu banyak, namun pertumbuhan penduduk yang signifikan membuat Desa
Lalan Kecamatan Medan Sunggal banyak pasien yang ingin berobat, terutama
pasien yang mau melahirkan, maka bidan Hj. Sundari mendapat izin mendirikan
klinik bersalin.
menjadi RSU Sundari yang diperkuat dengan adanya surat keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. YN. 02. 04.4. 5963.
4.1.2 Visi Rumah Sakit Umum Sundari Medan
Memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik, bermutu, terjangkau dan
professional.
layanankesehatan dengan biaya yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat
Universitas Sumatera Utara
kesehatan masyarakat sehingga tercapai keluarga sehat sejahtera.
4.1.4 Pelayanan Medis
Rumah Sakit ini telah dilengkapi berbagai prasarana yang terdiri dari
medical check up, Dokter Umum, Dokter Spesialis, Dokter Gigi, Dokter
Spesialis/Sub-Spesialis, dan dilengkapi dengan fasitas Instalasi Gawat Darurat
IGD 24 Jam, Intensive Care Unit (ICU), Kamar bedah, ruang bayi, ruang bersalin,
rawat jalan, dan rawat inap. Masing-masing unit dilengkapi denganfasilitas sesuai
dengan kebutuhan pelayanan.
patologi klinik, x-ray, USG, ECG, konsultasi gizi, farmasi/apotek, fisioterapi, 2
unitAmbulans.
4.1.6 Penunjang Umum
Penunjang umum yang terdapat di rumah sakit ini terdiri dari administrasi,
komputer, telepon, sumber air, sumber listrik, pengolahan air limbah, dapur
umumdan fasilitas umum lainnya.
Proporsi bayi BBLR berdasarkan Berat Badan di Rumah Sakit Umum
SundariMedan tahun 2016 dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.1 Distribusi Proporsi Bayi Dengan BBLR Berdasarkan Klasifikasi Berat Badan di RSU SundariTahun Medan 2016
Berat Badan Lahir (gram) F % <1500 28 13,9
1500-2499 173 86,1
Jumlah 201 100,0
Tabel 4.1 menunjukan proporsi tertinggi bayi BBLR berdasarkan
Klasifikasi Berat Badan adalah bayi BBLR dengan berat lahir 1500 sampai 2499
gram sebesar 173 orang (86,1%) dan yang terendah adalah bayi BBLR dengan
berat lahir kurang dari 1500 gram sebesar 28 orang (13,9%).
4.2.2 Sosiodemografi
Hasil penelitian Ibu yang melahirkan Bayi dengan BBLR di Rumah Sakit
Umum Sundari tahun 2016 berdasarkan sosiodemografi meliputi umur, agama,
pekerjaan, dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.2 Distribusi Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Sosiodemografi di RSU Sundari Medan Tahun 2016
Umur Ibu (tahun) F % <20 dan >35 63 31,3 20-35 138 68,7
Jumlah 201 100,0
Universitas Sumatera Utara
38
Agama F % Islam 177 88,0 Kristen Protestan 11 5,5 Kristen Katolik 9 4,5 Budha 4 2,0 Jumlah 201 100,0 Pekerjaan F % Tidak Bekerja 132 65,7 Bekerja 69 34,3
Jumlah 201 100,0
Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa proporsi ibu yang melahirkan bayi
dengan BBLR berdasarkan umur tertinggi adalah kelompok umur 20-35 tahun
138 orang (68,7%) dan terendah adalah kelompok umur < 20 dan >35 tahun 63
orang (31,3%). Proporsi ibu yang melahirkan bayi dengan BBLR berdasarkan
agama tertinggi adalah agama Islam 177 orang (88,1%) dan yang terendah adalah
agama Budha orang (2%).Berdasarkan proporsi ibu yang melahirkan bayi dengan
BBLR berdasarkan ibu yang tidak bekerja adalah 132 orang (65,7%)dan yang
terendah adalah ibu yang bekerja69 orang (34,3%).
4.2.3 Faktor Risiko Medis Ibu
Hasil penelitian Ibu yang melahirkan Bayi dengan BBLR di Rumah Sakit
Umum Sundari tahun 2016 berdasarkan faktor risiko medis ibu meliputi usia
kehamilan ,paritas, jarak kehamilan, kadar Hb, penyakit yang dialami ibu,
komplikasi kehamilan, dan riwayat obstetri dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Universitas Sumatera Utara
39
Tabel 4.3 Distribusi Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Risiko Medis Kehamilan di RSU Sundari Medan Tahun 2016
Usia Kehamilan (Minggu) f % < 37 73 36,3 37-42 128 63,7 Jumlah 210 100,0
Paritas Ibu f % <2 142 70,6 ≥2 59 29,4
Jumlah 201 100,0 Jarak Kehamilan (Tahun) F % < 2 111 55,2 ≥ 2 90 44,8 Jumlah 201 100,0 Kadar Hb Ibu (gram %) F % <11 66 39,8 ≥11 100 60,2 Jumlah 166 100,0
Riwayat Obstetri f % Baik 81 40,3 Buruk 120 59,7 Jumlah 201 100,0 Penyakit yang dialami Ibu f % Tidak ada penyakit 196 97,5 Ada Penyakit 5 2,5 Jumlah 201 100,0 Komplikasi Kehamilan f % Tidak Ada Komplikasi 88 43,8 Ada Komplikasi 113 56,2 Jumlah 201 100,0
Komplikasi Kehamilan Sakit Tidak Sakit
Total
69 16 4
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa proporsi ibu yang melahirkan bayi
dengan BBLR berdasarkan usia kehamilan tertinggi adalah kelompok usia
kehamilan 37-42 minggu 128 orang (63,7%) dan yang terendah adalah kelompok
usia kehamilan<37 minggu 73 orang (36,3%). Proporsi ibu yang melahirkan bayi
dengan BBLR berdasarkan paritas tertinggi adalah paritas <2142 orang (70,6%)
dan yang terendah adalah paritas ≥290 orang (44,8%). Proporsi ibu yang
melahirkan bayi dengan BBLR berdasarkan jarak kehamilan tertinggi adalah < 2
tahun 111 orang (55,2%) dan yang terendah adalah ≥ 2 tahun 90 orang
(44,8%).Proporsi ibu yang melahirkan bayi dengan BBLR berdasarkan kadar Hb
tertinggi adalah ≥ 11 gr% sebesar 100 orang (60,2%) dan yang terendah adalah <
11 gr% sebesar 66 orang (39,8%). Proporsi ibu yang melahirkan bayi dengan
BBLR berdasarkan penyakit yang dialami ibu tertinggi adalah kategori tidak ada
penyakit 196 orang (97,5%) dan yang terendah adalah kategori ada penyakit 5
orang (2,5%), dengan penyakit yang dialami Ibu sebagai berikut; TB Paru sebesar
2 orang (40%), payah jantung sebesar 2 orang (40%), Infeksi Saluran Kemih
(ISK) sebesar 1 orang (20%). Proporsi ibu yang melahirkan bayi dengan BBLR
berdasarkan komplikasi kehamilan tertinggi adalah kategori ada komplikasi 113
orang (56,2%) dan terendah tidak ada komplikasi 88 orang (43,8%). Dari 113 ibu
dengan komplikasi kehamilan, proporsi ibu yang melahirkan bayi dengan BBLR
berdasarkan jenis komplikasi kehamilan tertinggi adalah kategori ketuban pecah
dini (KPD) 38 orang (33,6%) dan terendah Kategori Preeklamsi/eklamsi dan
anemia dan Plasenta Previa 1 orang (0,9%). Proporsi ibu yang melahirkan bayi
Universitas Sumatera Utara
dengan BBLR berdasarkan riwayat obstetri tertinggi adalah kategori buruk 120
orang (59,7%) dan yang terendah kategori baik 81 orang (40,3%).
4.2.4 Keadaan Bayi Sewaktu Pulang
Proporsi Keadaan bayi BBLR setelah dilahirkan di Rumah Sakit Umum
Sundari Medan tahun 2016 dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.4 Distribusi Proporsi Bayi dengan BBLR Berdasarkan Keadaan Bayi Sewaktu Pulang di RSU Sundari Medan Tahun 2016
Keadaan Bayi Sewaktu Pulang
f %
PBJ 185 92,0 PAPS 3 1,5 Meninggal 13 6,5 Jumlah 201 100,0
Tabel 4.4 dapat diketahui bahwa proporsi bayi dengan BBLR berdasarkan
keadaan bayi sewaktu pulang tertinggi adalah pulang berobat jalan 92,0% (185
orang) dan yang terendah adalah pulang atas permintaan sendiri 1,5% (3 orang).
4.2.5 Keadaan Ibu Sewaktu Pulang
Proporsi Ibu yang melahirkan bayi dengan BBLR berdasarkan keadaan Ibu
sewaktu pulang di Rumah Sakit Umum Sundari Medan tahun 2016 dapat dilihat
pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.5 Distribusi Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Keadaan Ibu Sewaktu Pulang di RSU Sundari Medan Tahun 2016
Keadaan Ibu Sewaktu Pulang
f %
PBJ 197 98,0 PAPS 3 1,5 Meninggal 1 0,5 Jumlah 201 100,0
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.5 dapat diketahui bahwa proporsi ibu yang melahirkan bayi
dengan BBLR berdasarkan keadaan ibu sewaktu pulang tertinggi adalah pulang
berobat jalan 98,0% (197 orang) dan yang terendah adalah meninggal 0,5% (1
orang).
Tabel 4.6 Distribusi Proporsi Umur Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR di
RSU Sundari Medan Tahun 2016
Berat Badan Lahir Rendah (gram)
Umur Ibu (tahun) Total <20 dan >35 20-35
f % f % f % <1500 8 28,6 20 71,4 28 100,0 1500-2499 58 33,5 115 66,5 173 100,0
X2= 0,268 p=0,605
Tabel 4.6 dapat diketahui bahwa dari 28 bayi dengan klasifikasi BBLR
<1500 gram tertinggi pada ibu umur 20-35 tahun sebesar 20 orang (71,4%) dan
dari 173 bayi dengan klasifikasi BBLR 1500 - 2499 gram tertinggi pada ibu
umur 20-35 tahun sebesar 115 orang (66,5%).
Hasil analisa statistik menggunakan uji Chi-square maka didapat nilai
p>0,05 berarti tidak terdapat perbedaan proporsi yang bermakna antara umur
ibu berdasarkan klasifikasi BBLR.
Tabel 4.7 DistribusiProporsi Pekerjaan Ibu Berdasarkan BBLR di RSU Sundari MedanTahun 2016
X2=1,050 p=0,306
Tabel 4.7 dapat diketahui bahwa dari 28 bayi dengan klasifikasi BBLR
<1500 gram tertinggi pada ibu yang tidak bekerja (57,1%) dan dari 173 bayi
dengan klasifikasi BBLR 1500 - 2499 gram tertinggi pada ibu yang tidak
bekerja (67,1%).
p>0,05 berarti tidak terdapat perbedaan proporsi yang bermakna antara
pekerjaan ibu berdasarkan klasifikasi BBLR.
4.3.3 Usia Kehamilan Berdasarkan Klasifikasi BBLR
Tabel 4.8 Distribusi Proporsi Usia Kehamilan Ibu Berdasarkan BBLR di RSU Sundari MedanTahun 2016
Berat Badan Lahir Rendah (gram)
Usia Kehamilan Total
<37 37-42
f % f % f % <1500 24 85,7 4 14,3 28 100,0 1500-2499 49 28,3 124 71,7 173 100,0 X2= 34,320 p=0,001
Tabel 4.8 dapat diketahui bahwa dari 28 bayi dengan klasifikasi BBLR
<1500 gram tertinggi pada ibu dengan usia kehamilan<37 minggu (85,7%) dan
dari 173 bayi dengan klasifikasi BBLR 1500-2499 gram tertinggi pada ibu dengan
usia kehamilan37-42 minggu (71,7%).
Pekerjaan Ibu Total Tidak Bekerja Bekerja
f % f % f % <1500 16 57,1 12 42,9 28 100,0 1500-2499 116 67,1 57 32,9 173 100,0
Universitas Sumatera Utara
p<0,05 berarti terdapat perbedaan proporsi yang bermakna antara usia
kehamilan ibu berdasarkan klasifikasi BBLR.
4.3.4 Paritas Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR
Tabel 4.9 Distribusi Proporsi Paritas Ibu Berdasarkan BBLR di RSU Sundari MedanTahun 2016
Berat Badan Lahir Rendah (gram)
Paritas Total
<2 ≥2
f % f % f % <1500 25 89,3 3 10,7 28 100,0 1500-2499 117 67,6 56 32,4 173 100,0
X2=5,430 p=0,020
Tabel 4.9 dapat diketahui bahwa dari 28 bayi dengan klasifikasi BBLR
<1500 gram tertinggi pada ibu dengan paritas <2 (89,3%) dan dari 173 bayi
dengan klasifikasi BBLR 1500-2499 gram tertinggi pada ibu dengan paritas <2
(67,6%).
Hasil analisa statistik menggunakan uji Chi-square maka didapat nilai
p<0,05 berarti terdapat perbedaan proporsi yang bermakna antara paritas ibu
berdasarkan klasifikasi BBLR.
4.3.5 Jarak Kehamilan Berdasarkan Klasifikasi BBLR
Tabel 4.10 Distribusi Proporsi Jarak Kehamilan Berdasarkan BBLR di RSU Sundari Tahun 2016
berat badan lahir rendah (gram)
jarak kehamilan (tahun) Total
<2 ≥2
f % f % f % <1500 21 75,0 7 25,0 28 100,0 1500-2499 90 52,0 83 48,0 173 100,0
X2=5,145 p=0,023
45
Tabel 4.10 dapat diketahui bahwa dari 28 bayi dengan klasifikasi BBLR
<1500 gram tertinggi pada ibu dengan jarak kehamilan <2 tahun (75,0%) dan dari
173 bayi dengan klasifikasi BBLR 1500-2499 gram tertinggi pada ibu dengan
jarak kehamilan <2 tahun (52,0%).
Hasil analisa statistik menggunakan uji Chi-square didapat nilai
p<0,05 berarti terdapat perbedaan proporsi yang bermakna antara jarak
kehamilan ibu berdasarkan klasifikasi BBLR.
4.3.6 Kadar Hb Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR
Tabel 4.11 Distribusi Proporsi Kadar Hb Ibu Berdasarkan BBLR di RSU Sundari Tahun 2016
Berat Badan Lahir Rendah (gram)
Kadar Hb Ibu (gram%) Total
<11 ≥11 f % f % f %
<1500 9 37,5 15 62,5 24 100,0 1500-2499 59 41,0 85 59,0 144 100,0
X2=0,103 p=0,748
Tabel 4.11 dapat diketahui bahwa dari 24 bayi dengan klasifikasi BBLR
<1500 gram tertinggi pada ibu dengan kadar Hb ≥11 gr% (62,5%) dan dari 144
bayi dengan klasifikasi BBLR 1500-2499 gram tertinggi pada ibu dengan kadar
Hb≥11 gr% (59,0%).
Hasil analisa statistik menggunakan uji Chi-square didapat nilai p>0,05
berarti tidak terdapat perbedaan proporsi yang bermakna antara kadar Hb ibu
berdasarkan klasifikasi BBLR.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.12 Distribusi Proporsi Penyakit yang Dialami Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR di RSU Sundari Medan Tahun 2016
Berat Badan Lahir Rendah (gram)
Penyakit yang Dialami Ibu Total
Ada penyakit Tidak ada penyakit
f % f % f % <1500 1 3,6 27 96,4 28 100,0 1500-2499 4 2,3 169 97,7 173 100,0
X2=0,158 p=0,532
Tabel 4.12 dapat diketahui bahwa dari 28 bayi dengan klasifikasi BBLR
<1500 gram tertinggi pada ibu tidak ada penyakit (96,4%) dan dari 173 bayi
dengan klasifikasi BBLR 1500-2499 gram tertinggi pada ibu dengan tidak ada
penyakit (97,7%). Adapun penyakit yang dialami Ibu sebagai berikut; TB Paru
sebesar 2 orang (40%), payah jantung sebesar 2 orang (40%), Infeksi Saluran
Kemih (ISK) sebesar 1 orang (20%).
Hasil analisa statistik menggunakan uji Chi-square tidak memenuhi
syarat karena terdapat 2 sel (50,0%) yang expected count-nya kurang dari 5 maka
analisis yang dianjurkan adalah uji Fisher didapat nilai p>0,05 berarti tidak
terdapat perbedaan proporsi yang bermakna antara penyakit yang dialami ibu
berdasarkan klasifikasi BBLR.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.13 Distribusi Proporsi Komplikasi Kehamilan Berdasarkan Klasifikasi BBLR di RSU Sundari Medan Tahun 2016
Berat Badan Lahir Rendah (gram)
Komplikasi Kehamilan Total
Tidak ada Komplikasi
f % f % f % <1500 25 89,3 3 10,7 28 100,0 1500-2499 88 50,9 85 49,1 173 100,0
X2=14,452 p=0,001
Tabel 4.13 dapat diketahui bahwa dari 28 bayi dengan klasifikasi BBLR
<1500 gram tertinggi pada ibu dengan komplikasi kehamilan (89,3%) dan dari
173 bayi dengan klasifikasi BBLR 1500-2499 gram tertinggi pada ibu dengan
komplikasi kehamilan (50,9%).
p<0,05 berarti terdapat perbedaan proporsi yang bermakna antara komplikasi
kehamilan ibu berdasarkan klasifikasi BBLR.
4.3.9 Riwayat Obstetri Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR
Tabel 4.14 Distribusi Proporsi Riwayat Obstetri Ibu Berdasarkan Klasifikasi BBLR di RSU Sundari Medan Tahun 2016
Berat Badan Lahir Rendah (gram)
Riwayat Obstetri Total
Buruk Baik
f % f % f % <1500 15 53,6 13 46,4 28 100,0 1500-2499 105 60,7 68 39,3 173 100,0
X2=0,508 p=0,476
Dari Tabel 4.14 dapat diketahui bahwa dari 28 bayi dengan klasifikasi
BBLR <1500 gram tertinggi pada ibu dengan riwayat obstetri buruk (53,6%) dan
Universitas Sumatera Utara
48
dari 173 bayi dengan klasifikasi BBLR 1500-2499 gram tertinggi pada ibu dengan
riwayat obstetri buruk (60,7%).
p>0,05 berarti tidak terdapat perbedaan proporsi yang bermakna antara
riwayat obstetri ibu berdasarkan klasifikasi BBLR.
Universitas Sumatera Utara
5.1.1 Klasifikasi BBLR
Proporsi ibu yang melahirkan bayi BBLR berdasarkan klasifikasi Berat Badan
Lahir Rendah di RSU Sundari Medan tahun 2016 dapat dilihat pada gambar dibawah
ini:
Gambar 5.1 Diagram PieProporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Klasifikasi Berat Badan Lahir Rendah di RSU Sundari Medan Tahun 2016
Gambar 5.1 menunjukan proporsi BBLR berdasarkan klasifikasi BBLR yaitu
berat lahir 1500 sampai kurang dari 2500 gram sebesar 86,1% (173 orang) dan Bayi
Berat lahir sangat rendah (BBLSR), berat lahir kurang dari 1500 gram adalah 13,9%
(28 orang).
50
Dari 28 bayi dengan BBLSR (<1500 gram) lahir dengan karakteristik Ibu
proporsi tertinggi dengan umur 20-35 tahun sebesar 21 orang (75,0%), agama islam
sebesar 21 orang (75,0%), ibu yang tidak bekerja sebesar 17 orang (60,7%), usia
kehamilan 22 orang sebesar (76,8%), paritas <2 sebesar 23 (82,1%), jarak kehamilan
≥ 2 tahun sebesar 21 orang (75,0%), kadar Hb ≥11 gr% sebesar 15 orang (53,6%),
penyakit komplikasi sebesar 24 bayi (85,7%) dan ibu memiliki riwayat obstetri buruk
sebesar 17 bayi (60,7%).
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Pardede (2014) di RSU Dr
Pirngadi Medan tahun 2012-2013 dengan desain case seriesdan menunjukkan bahwa
proporsi tertinggi ibu yang melahirkan bayi dengan BBLR pada bayi dengan berat
badan 1500-2499 sebesar 82,0%. Hal ini menunjukkan bahwa ibu yang datang ke
RSU Sundari Medan banyak yang melahirkan bayi yang memiliki berat badan 1500-
2499 gram.
Menurut Sarimawar dan S. Soemantri (2003), tingginya jumlah bayi BBLR,
dengan berat lahir 1500-2500 gram, disebabkan oleh ukuran berat bayi lahir yang
sudah mendekati normal dan rentang ukuran yang lebih panjang dibanding dengan
penggolangan berat badan bayi lahir yang lain. Sedangkan rendahnya jumlah bayi
berat lahir <1000 disebabkan oleh kejadiannya yang hanya terjadi pada kondisi yang
ekstrim atau tidak biasa seperti ibu dengan status gizi buruk, anemi, malaria,dan
menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau ketika hamil.
Universitas Sumatera Utara
5.1.2.1 Umur Ibu
Proporsi ibu yang melahirkan bayi BBLR berdasarkan umur ibu di RSU
Sundari Medan tahun 2016 dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Gambar 5.2 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Umur Ibu di RSU Sundari Medan Tahun 2016
Gambar 5.2 menunjukan proporsi BBLR berdasarkan umur ibu yaitu umur
ibu 20 sampai 35 tahun 68,7% (138 orang), umur kurang dari 20 tahun dan lebih dari
35 tahun 31,3% (63 orang).
Hal ini sesuai dengan penelitian Amanda (2013) dengan desain case series di
RSU Sundari Medan bahwa proporsi tertinggi ibu yang melahirkan bayi dengan
BBLR pada kelompok umur 20-35 tahun sebesar 79,8%. Hal ini menunjukkan bahwa
ibu yang melahirkan ke RSU Sundari mayoritas pada kelompok umur 20-35 tahun.
68,7%
31,3%
Universitas Sumatera Utara
5.1.2.2 Agama
Proporsi ibu yang melahirkan bayi BBLR berdasarkan agama di RSU Sundari
Medan tahun 2016 dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Gambar 5.3 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Agama di RSU Sundari Medan Tahun 2016
Gambar 5.3 menunjukan proporsi BBLR berdasarkan agama yaitu agama
islam 88,0% (177 orang), Kristen protestan 5,5% (11 orang), Kristen katolik 4,5% (9
orang) dan budha 2,0% (4 orang). Hal ini sesuai dengan penelitian Wahyuningsih
(2003) dengan desain case series di RSUD Pekanbaru bahwa proporsi tertinggi
ibu yang melahirkan bayi dengan BBLR berdasarkan agama adalah agama Islam
sebesar 87,7%. Hal ini menunjukkan bahwa ibu yang melahirkan bayi BBLR di RSU
Sundari mayoritas beragama Islam.
Universitas Sumatera Utara
Proporsi ibu yang melahirkan bayi BBLR berdasarkan pekerjaan di RSU
Sundari Medan tahun 2016 dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Gambar 5.4 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Pekerjaan di RSU Sundari Medan Tahun 2016
Gambar 5.4 menunjukan proporsi BBLR berdasarkanibu yang tidak bekerja
sebesar 65,7% (132 orang), bekerja 34,3% (69 orang). Hal ini sesuai dengan
penelitian Ginting (2002) dengan desain case seriesdi RSU Dr. Pirngadi Medan
bahwa proporsi tertinggi ibu yang melahirkan bayi denganBBLR berdasarkan
pekerjaan adalah Ibu Rumah Tangga sebesar 67,3%.Hal ini tidak menunjukkan
keterkaitan antara pekerjaan dengan ibu yang melahirkan bayi BBLR namun
65,7%
34,3%
54
hanya menunjukkan ibu yang melahirkan bayi dengan BBLR di RSU Sundari Medan
mayoritas adalah Ibu Rumah Tangga.
5.1.3 Faktor Risiko Medis Ibu
5.1.3.1 Usia Kehamilan
Proporsi ibu yang melahirkan bayi BBLR berdasarkan usia kehamilan di RSU
Sundari Medan tahun 2016 dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Gambar 5.5 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Usia Kehamilan di RSU Sundari Medan Tahun 2016
Gambar 5.5 menunjukan proporsi BBLR berdasarkan usia kehamilan yaitu
37-42 minggu 63,7% (128 orang), dan usia kehamilan kurang dari 37 minggu adalah
36,3% (73 orang). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh sembiring
(2002) dengan desain penelitian cross sectional yang dilakukan di RSIA Sri Ratu
63,7%
36,3%
55
Medan bahwa proporsi tertinggi ibu yang melahirkan bayi BBLR berdasarkan usia
kehamilan adalah usia kehamilan 37-42 sebesar 54,6%.
5.1.3.2 Paritas Ibu
Proporsi ibu yang melahirkan bayi BBLR berdasarkan paritas ibu di RSU
Sundari Medan tahun 2016 dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Gambar 5.6 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Paritas Ibu di RSU Sundari Medan Tahun 2016
Gambar 5.6 menunjukan proporsi BBLR berdasarkanparitas yaitu paritas <2
sebesar70,6% (142 orang), paritas ≥2 sebesar 29,4% (59 orang).
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Laila (2012)
dengan desaincase control di RSUD dr. Zainoel Abidin bahwa proporsi tertinggi ibu
70,6%
29,4%
yang melahirkan bayi dengan BBLR berdasarkan paritas primipara atau jumlah
persalinan sama dengan 1 yaitu sebesar 42,9%.
5.1.3.3 Jarak Kehamilan
Proporsi ibu yang melahirkan bayi BBLR berdasarkan jarak kehamilan di
RSU Sundari Medan tahun 2016 dapat dillihat pada gambar dibawah ini:
Gambar 5.7 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Jarak Kehamilan di RSU Sundari Medan Tahun 2016
Gambar 5.7 menunjukan proporsi BBLR berdasarkan jarak kehamilan yaitu
kurang dari 2 tahun 55,2% (111 orang) dan lebih sama dengan 2 tahun 44,8% ( 90
orang). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh sistiarani (2008) di
RSUD Banyumas dengan desain penelitian case control dengan proporsi tertinggi
berdasarkan jarak kehamilan adalah kelompok <2 tahun sebesar 78,2%.
55,2%
44,8%
Menurut Ambarwati (2011) Ibu hamil dengan jarak kehamilan dari anak
terkecil < 2 tahun akan meningkatkan risiko terjadinya BBLR. Jarak kehamilan yang
dekat dapat mempengaruhi daya tahan dan gizi ibu sehingga berpengaruh terhadap
janin dan juga ibu membutuhkan waktu untuk memulihkan kesehatan fisik dan
rahimnya.
5.1.3.4 Kadar Hb
Proporsi ibu yang melahirkan bayi BBLR berdasarkan Kadar Hb di RSU
Sundari Medan tahun 2016 dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Gambar 5.8 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Kadar HbIbu di RSU Sundari Medan Tahun 2016
Gambar 5.8 menunjukan proporsi BBLR berdasarkan kadar Hb ibu yaitu lebih
sama dengan 11 gram% sebesar 60,2% (100 orang), kurang dari 11 gram% sebesar
60,2%
39,8%
58
39,8% (66 orang). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Mahfiroh (2015)
dengan desain penelitian Case control di Puskesmas Pamulang Tanggerang dengan
proporsi tertinggi sebesar 59,5%.
Proporsi ibu yang melahirkan bayi BBLR berdasarkan riwayat obstetri di
RSU Sundari Medan tahun 2016 dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Gambar 5.9 Diagram Pie Proporsi Ibu yang Melahirkan Bayi dengan BBLR Berdasarkan Riwayat Obstetri di RSU Sundari Medan Tahun 2016
Berdasarkan Gambar 5.9 menunjukan proporsi BBLR berdasarkan riwayat
obstetri yaitu buruk (pernah abortus, melahirkan kembar, lahir mati, melahirkan
dengan sectio caesarea) sebesar 59,7% (120 orang), dari 120 orang ibu dengan
riwayat obstetri buruk tersebut, persentase abortus 9,1% (11 orang), lahir mati 5,0%
59,7%
40,3%
59
(6 orang), SC 66,7% (80 orang), abortus dan SC 6,7% (8 orang), lahir kembar dan SC
5,0% (6 orang), lahir mati dan SC 4,2% (5 orang), abortus, lahir mati, dan SC 3,3%
(4orang). Sedang riwayat obstetri baik (tidak pernah abortus, tidak melahirkan
kembar, lahir hidup, melahirkan normal) sebesar 40,3% (81 orang). Penelitian ini
sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan Zuldefni (2006) dengan desain
penelitian Case control di RSU dr. Pirngadi Medan yang proporsi tertinggi
berdasarkan riwayat obstetri yang buruk sebesar 50,0%.
5.1.3.6 Penyakit yang Dialami Ibu
Proporsi ibu yang melahirkan bayi BBLR be