of 102/102
KARAKTER GURU DALAM PERSPEKTIF ISLAM (TINJAUAN ALQURAN) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar Oleh INDAH EVATUL DJANNAH 105331117216 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2020

KARAKTER GURU DALAM PERSPEKTIF ISLAM ......Judul Skripsi : Karakter Guru dalam Perspektif Islam (Tinjauan Alquran) Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut: 1. Mulai dari penyusunan

  • View
    17

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of KARAKTER GURU DALAM PERSPEKTIF ISLAM ......Judul Skripsi : Karakter Guru dalam Perspektif Islam...

  • KARAKTER GURU DALAM PERSPEKTIF ISLAM

    (TINJAUAN ALQURAN)

    SKRIPSI

    Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana

    Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

    Universitas Muhammadiyah Makassar

    Oleh

    INDAH EVATUL DJANNAH

    105331117216

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

    FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

    UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

    2020

  • ii

  • iii

  • iv

  • v

  • vi

  • vi

    UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

    FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

    SURAT PERNYATAAN

    Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

    Nama : Indah Evatul Djannah

    Nim : 105331117216

    Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

    Judul Skripsi : Karakter Guru dalam Perspektif Islam

    (Tinjauan Alquran)

    Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji

    adalah hasil karya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh

    siapa pun. Demikian pernyataan ini saya buat dan bersedia menerima sanksi

    apabila pernyataan ini tidak benar.

    Gowa, September 2020

    Yang Membuat Pernyataan

    Indah Evatul Djannah

    NIM: 1053381117216

  • vii

    UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

    FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

    SURAT PERJANJIAN

    Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

    Nama : Indah Evatul Djannah

    Nim : 105331117216

    Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

    Judul Skripsi : Karakter Guru dalam Perspektif Islam

    (Tinjauan Alquran)

    Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:

    1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi saya, saya akan

    menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapa pun).

    2. Dalam penyusunan skripsi saya akan selalu melakukan konsultasi dengan

    pembimbing, yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.

    3. Saya tidak melakukan penciplakan (Plagiat) dalam menyusun skripsi ini.

    4. Apabila saya melanggar perjanjian saya seperti butir 1, 2, dan 3 maka saya akan

    bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku.

    Demikian perjanjian ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

    Gowa, September 2020

    Yang Membuat Pernyataan

    Indah Evatul Djannah

    NIM: 1053381117216

  • viii

    MOTO DAN PERSEMBAHAN

    Ketika engkau menganggap bahwa pendapatmu benar,

    Engkau berhak untuk berkata,

    “pendapatku benar atau lebih baik.”

    Akan tetapi, engkau tidak boleh berkata,

    “hanya pendapatku yang benar.”

    -Badiuzzaman Said Nursi-

    Kupersembahkan kepada

    Ayahanda dan Ibunda tercinta

    Terima kasih tak terhingga

    Atas segala doa, pengorbanan, dan kepercayaan

    Serta saudara-saudaraku, sahabatku,

    dan untuk dia

    yang menjadi masa depanku

  • ix

    ABSTRAK

    Indah Evatul Djannah. 2020. Karakter Guru dalam Perspektif Islam (Tinjauan

    Alquran). Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas

    Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I

    H. M. Ide Said DM. dan Pembimbing II Maria Ulviani.

    Tujuan penelitian ini untuk mendesripsikan karakter guru dalam perspektif Islam

    (tinjauan Alquran). Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research)

    dengan menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Data dalam penelitian ini

    dikumpulkan dengan tiga teknik yaitu studi pustaka, teknik baca markah, dan teknik

    catat dengan menggunakan sumber-sumber tertulis, baik data primer maupun sekunder.

    Berdasarkan hasil dan pembahasan disimpulkan bahwa terdapat beberapa bentuk

    karakter guru yang ditemukan dalam Alquran. Menurut Hidayatullah dan Rohmadi,

    karakter guru dibedakan menjadi tiga nilai utama, yaitu pertama amanah berupa

    komitmen, kompeten, kerja keras, dan konsisten, kedua keteladanan berupa

    kesederhanaan dan kedekatan, ketiga yaitu cerdas. Sedangkan menurut Subur bahwa

    terdapat kurang lebih 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yang dilandaskan pada

    budaya Indonesia, yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri,

    demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi,

    bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial,

    dan tanggung jawab. Data karakter guru yang diperoleh berjumlah 64 data, yaitu

    amanah berupa komitmen berjumlah 7 data, kompeten berjumlah 11 data, kerja keras

    berjumlah 8 data dan konsisten berjumlah 17 data, analisis keteladanan berupa

    kesederhanaan berjumlah 9 data dan kedekatan berjumlah 4 data, dan analisis cerdas

    berjumlah 8 data. Jadi, karakter berupa amanah lebih banyak ditemukan dengan jumlah

    43 data sedangkan karakter guru berupa cerdas paling sedikit ditemukan dengan jumlah

    8 data.

    Kata kunci : Analisis, karakter, dan guru.

  • x

    KATA PENGANTAR

    Bismillahirrahmanirrahim

    Puji dan syukur kepada Allah Swt. yang telah melimpahkan segala rahmat dan

    hidayah kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul

    “Karakter Guru dalam Perspektif Islam (Tinjauan Alquran)” sebagai syarat guna

    mendapatkan gelar sarjana pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,

    Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar.

    Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini, banyak pihak yang

    telah meluangkan waktunya dan memberikan bantuan untuk membantu dalam

    menyelesaikan skripsi ini. Segala hormat penulis mengucapkan banyak terima kasih

    kepada Prof. Dr. H. M. Ide Said DM., M. Pd. dan Maria Ulviani, S. Pd., M. Pd.,

    Pembimbing I dan Pembimbing II, yang telah memberikan arahan serta motivasi.

    Penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. H. Ambo Asse, M. Ag.,

    Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, dan Erwin Akib, S. Pd., M. Pd., Ph. D.,

    Dekan Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang telah memberikan izin untuk meneliti, dan

    Dr. Munirah, M. Pd., Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang

    senantiasa memberikan dorongan dan arahan.

  • xi

    Para Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas

    Muhammadiyah Makassar yang telah mendidik dan memberikan ilmunya selama studi.

    Staf Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan

    kemudahan dalam mendapatkan buku-buku sebagai referensi dalam penyusunan skripsi.

    Kepada orang tua tercinta, Ayahanda Sukri Sukiman, S.E. dan Ibunda

    Rabiawati, S.S. terima kasih atas curahan kasih sayang, yang telah membesarkan dan

    mendidik dengan sabar dan ikhlas serta memberikan dorongan moril maupun materil

    dan doa kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

    Penulis sampaikan rasa terima kasih kepada teman-teman yang telah

    memberikan inspirasi dan motivasi selama penyusunan skripsi ini. Tanpa motivasi dari

    teman-teman, mungkin penulis tidak bisa menyusun skripsi ini dengan maksimal.

    Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan berpartisipasi

    dalam membuat skripsi ini. Partisipasi pihak-pihak yang membantu, sangat menunjang

    penyusunan skripsi ini.

    Seiring dengan doa semoga semua bantuan serta motivasi yang telah diberikan

    kepada penulis mendapatkan balasan dari Allah Swt.. Penulis juga menyadari bahwa

    dalam penyusunan skripsi ini jauh dari sempurna dan banyak kekurangan. Harapan dari

    penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis

    khususnya.

    Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Gowa, September 2020

  • xii

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i

    LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................... ii

    PERSETUJUAN PEMBIMBING ......................................................................... iii

    KARTU KONTROL .............................................................................................. iv

    SURAT PERJANJIAN .......................................................................................... vii

    SURAT PERNYATAAN ........................................................................................ viii

    MOTO DAN PERSEMBAHAN ............................................................................ ix

    ABSTRAK ............................................................................................................... x

    KATA PENGANTAR ............................................................................................ xi

    DAFTAR ISI ........................................................................................................... xiii

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang .............................................................................................. 1

    B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 3

    C. Tujuan Penulisan .......................................................................................... 4

    D. Manfaat Penelitian ....................................................................................... 4

    BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

    A. Kajian Pustaka

    1. Penelitian yang Relevan ........................................................................... 5

    2. Guru .......................................................................................................... 6

    3. Karakter .................................................................................................... 16

    4. Sumber Pedoman Islam ............................................................................ 22

  • xiii

    B. Kerangka Pikir ............................................................................................. 23

    BAB III METODE PENELITIAN

    A. Jenis Penelitian ............................................................................................. 26

    B. Sumber Data ................................................................................................. 26

    C. Instrumen ...................................................................................................... 27

    D. Teknik Pengumpulan Data ........................................................................... 27

    E. Teknik Analisis Data .................................................................................... 28

    F. Penyajian Data .............................................................................................. 28

    BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Hasil Penelitian ............................................................................................. 29

    B. Pembahasan .................................................................................................. 50

    BAB V SIMPULAN DAN SARAN

    A. Simpulan ....................................................................................................... 59

    B. Saran ............................................................................................................. 59

    DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 61

    LAMPIRAN

    RIWAYAT HIDUP

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Islam sangat mementingkan pendidikan dan ilmu pengetahuan, bahkan

    mendorong pemeluknya supaya menuntut ilmu pengetahuan kapan dan di mana

    pun. Islam juga menempatkan pakar ilmu pengetahuan pada peringkat yang tinggi.

    Sejarah Islam mencatat betapa sesungguhnya umat Islam zaman klasik mencari dan

    mengembangkan ilmu pengetahuan. Sikap positif umat Islam terhadap pendidikan

    ini sepenuhnya dilandasi Alquran sebagai sumber pedoman umat Islam. Islam

    sebagai agama memiliki hubungan simbiosis dengan ilmu pengetahuan dalam

    kerangka keimanan. Dalam Islam, keharusan menuntut ilmu dan memperoleh

    pendidikan adalah sepanjang hayat.

    Terjemahnya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama ( benda-benda )

    seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman :

    "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-

    orang yang benar!" ( Q.S Al-Baqarah : 31 ) ( Depag, 2015 ).

    Berdasarkan terjemahan Alquran surah al-Baqarah ayat 31 di atas, jelas

    sekali bahwa manusia hidup di dunia ini membutuhkan pendidikan. Mulai dari anak

  • 2

    kecil hingga orang tua sekalipun, pendidikan harus terus dilakukan agar manusia

    terus berproses mengenal dan memperbaiki dirinya.

    Pendidikan tidak bisa dipisahkan dari peran pendidik ( guru ). Dalam

    pengertian yang luas, orang yang melakukan tugas berupa proses pemberian ilmu

    pengetahuan dan internalisasi nilai kepada peserta didik, maka dapat disebut

    sebagai pendidik. Jadi, secara umum pendidik bisa siapa saja.

    Ibnu Khaldun, seorang ulama terdahulu mengungkapkan tentang pentingnya

    belajar langsung dari seorang pendidik. Ia berkata “barang siapa yang tidak belajar

    langsung dasar-dasar ilmu dari seorang ulama, maka kesimpulan-kesimpulan yang

    diyakininya dalam banyak masalah yang sulit sebenarnya hanya dugaan-dugaan”

    (Afifah, 2012).

    Peran guru sangat penting dan menentukan. Seorang guru diharapkan

    menghasilkan generasi muda yang intelek dan beradab. Oleh sebab itu, jika guru

    belum memenuhi syarat kualitas dan kuantitas yang baik, maka akan berpengaruh

    pada perkembangan intelektual, emosional, sosial, dan kinestetis anak didik.

    Faktor penting bagi guru adalah etika ( karakter ) pendidik. Karakter guru

    menjadi salah satu penentu dia akan menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi

    anak didiknya atau sebaliknya. Setiap guru harus mengetahui dan menyadari bahwa

    kepribadian yang diperlihatkan dalam berbagai penampilan itu, ikut menentukan

    tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan lembaga

    pendidikan tempat ia mengajar pada khususnya.

  • 3

    Oleh sebab itu, guru harus dapat memberi contoh yang baik atau sebagai

    suri teladan bagi anak didiknya, karena guru adalah representasi dari kelompok

    orang dari setiap komunitas atau masyarakat yang diharapkan dapat menjadi

    teladan yang dapat ditiru (Uno, 2007).

    Alquran merupakan sumber pedoman hidup setiap muslim. Dalam khazanah

    keislaman, Alquran lazim disebut sebagai sumber utama ( pertama ). Alquran

    diwahyukan oleh Allah Swt. dengan fungsi antara lain sebagai petunjuk ( hidayah ),

    membedakan antara yang hak dan batil ( al Furqan ), wasit atau hakim yang

    memutuskan berbagai perkara dalam kehidupan ( al Hakim ), penjelas atas semua

    perkara ( al Bayyinah ), obat penenang dan penyembuh jiwa, ( asy Syifa’ ), serta

    rahmat bagi seluruh alam ( rahmatan lil ‘alamin ) (Uno, 2007). Dalam Alquran

    banyak yang menjelaskan tentang karakter tidak terkecuali karakter untuk seorang

    pendidik.

    Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dalam penelitian ini diangkat

    sebuah judul ”Karakter Guru dalam Perspektif Islam ( Tinjauan Alquran )”.

    Peneliti memilih karakter guru dalam perspektif Islam sebagai fokus penelitian ini

    karena karakter seorang pendidik menjadi salah satu faktor penting dalam

    membentuk karakter pribadi anak didiknya.

    B. Rumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan masalah

    sebagai berikut. “Bagaimanakah karakter guru dalam perspektif Islam ( tinjauan

    Alquran )?”

  • 4

    C. Tujuan Penelitian

    Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk

    mendeskripsikan karakter guru dalam perspektif Islam ( tinjauan Alquran ).

    D. Manfaat Penelitian

    Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoretis dan

    secara praktis.

    1. Manfaat Teoretis

    Secara teoretis penelitian ini diharapkan memberikan manfaat, yakni

    dapat menjadi bahan informasi bagi pembaca dan dapat dijadikan referensi

    untuk penelitian yang lain. Selain itu, untuk menambah pengetahuan dan

    wawasan tentang karakter guru dalam perspektif Islam, sehingga penelitian ini

    dapat memberikan sumbangan informasi bagi pendidik.

    2. Manfaat Praktis

    a. Bagi guru yaitu bahan masukan bahwa tugas seorang guru bukan sekadar

    memberikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik, tetapi juga harus

    mampu membimbing, mengarahkan, dan membina serta menjadi teladan

    yang baik bagi peserta didiknya.

    b. Bagi peneliti sebagai informasi untuk peneliti lain yang ingin meneliti

    permasalahan yang sama tentang karakter pendidik atau guru dalam

    perspektif Islam.

  • 5

    BAB II

    KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

    A. Kajian Pustaka

    1. Penelitian yang Relevan

    Penelitian yang relevan dengan penelitian ini sebagai berikut :

    Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Idfi Riandanita pada tahun 2017

    dengan judul “Etika Guru dalam Pendidikan Islam (Studi Komparasi atas Pemikiran

    KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy‟ari)”. Penelitian ini bertujuan untuk

    mengetahui pemikiran KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy‟ari tentang etika guru

    dalam pendidikan Islam, kemudian mengetahui perbedaan dan persamaan pemikiran

    kedua tokoh tersebut tentang etika guru dalam pendidikan Islam. Penelitian ini

    merupakan jenis penelitian kepustakaan atau library reasearch. Sumber data yang

    digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder yang berisi

    pemikiran KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy‟ari tentang etika guru serta

    riwayat hidup kedua tokoh. Metode analisis data dalam penelitian ini dengan teknik

    analisis isi dan analisis komparatif.

    Relevansi dengan penelitian Idfi Riandanita adalah sama-sama meneliti tentang

    etika atau karakter seorang guru. Perbedaannya adalah penelitian Idfi Riandanita

    mengomparasikan pemikiran KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy‟ari. Sedangkan

    dalam penelitian yang diteliti ini berfokus pada perspektif Alquran.

  • 6

    Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Hifza pada tahun 2010 dengan judul

    “Pendidik dan Kepribadiannya dalam Alquran”. Penelitian ini merupakan kajian

    kepustakaan atau library research. Sumber data dalam penelitian dibagi dua, yaitu:

    data primer berupa Alquran serta tafsiran para mufassirin yang terkompilasi dalam

    kitab-kitab tafsir dan data sekunder, yakni buku, jurnal, majalah atau artikel. Pendekatan

    yang digunakan adalah pendekatan teologis filosofis dan pendekatan yang bersifat

    operasional untuk mengungkap maksud-maksud ayat yang dibahas. Adapun metode

    yang digunakan dalam analisis data adalah metode tafsir tematik. Dari hasil analisis

    deskriptif penelitian Hifza, ada tiga istilah dalam Alquran yang berbicara tentang tema

    pendidik dan kepribadiannya, yakni al-murabbi yang seakar dengan kata rabb, al-

    mu’allim dan ‘allama-yu ‘allimu serta konsep az-zikr.

    Relevansi penelitian Hifza dengan penelitian ini adalah keduanya melakukan

    penelitian tentang pribadi pendidik atau karakter guru dalam Alquran. Perbedaannya

    adalah penelitian Hifza berfokus pada Alquran dalam surah-surah tertentu sedangkan

    dalam penelitian ini adalah Alquran secara keseluruhan.

    2. Guru

    a. Pengertian Guru

    Kata guru berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti orang yang digugu atau

    orang yang dituruti pendapat dan perkataannya. Seorang guru adalah panutan untuk para

    muridnya sehingga setiap perkataan, perilaku, dan perbuatannya menjadi teladan bagi

    murid-muridnya.

  • 7

    Secara terminologis, menurut Muhaimin ( 2005 : 44-49 ) bahwa guru adalah

    orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik

    secara individual maupun secara klasikal. Baik di sekolah maupun di luar sekolah.

    Menurut Djamarah ( 2000 : 31) secara sederhana, guru adalah seseorang yang

    memberikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Guru menurut masyarakat adalah

    seseorang yang melakukan proses pemberian pendidikan di tempat tertentu, tidak harus

    dalam lembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga dilaksanakan di masjid, surau,

    rumah, dan sebagainya.

    Sani dan Kadri ( 2016 : 11-14 ) menyatakan bahwa pendidikan dalam konteks

    Islam adalah orang yang bisa menuntun manusia ke jalan benar sesuai dengan Alquran

    dan Sunah Rasulullah saw. Seorang guru dalam agama Islam semestinya memiliki sifat-

    sifat yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Seorang pendidik atau guru dituntut agar

    mampu memberi ilmu pengetahuan dan selalu berusaha untuk menjadi orang yang

    berkualitas, baik akhlak maupun pengetahuannya. Tingkatan seorang pendidik sangat

    diistimewakan dalam ajaran Islam, karena pendidik adalah orang yang mentransfer ilmu

    dan membina akhlak anak didiknya. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional

    yaitu mempersiapkan manusia Indonesia menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa

    kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dari berbagai pengertian guru di atas, disimpulkan

    bahwa seorang guru adalah seseorang yang membagikan ilmu pengetahuan kepada anak

    didik dengan tujuan agar mampu memahami dan mengamalkan di kehidupannya sehari-

    hari.

  • 8

    b. Tugas Guru

    Dalam pendidikan Islam, tugas menjadi seorang guru dapat dijabarkan sebagai

    berikut :

    1) Menyampaikan ilmu ( transfer of knowledge )

    Dalam hal ini seoarang pendidik bertugas mengisi otak peserta didik ( kognitif )

    seseorang. Seorang pendidik ( guru ) tidak boleh menyembunyikan ilmunya agar tidak

    diketahui orang lain. Menyampaikan ilmu itu adalah kewajiban orang yang

    berpengetahuan.

    2) Menanamkan nilai-nilai ( transfer of values )

    Di sekeliling manusia terdapat nilai-nilai, baik nilai yang baik maupun buruk.

    Tugas pendidiklah memperkenalkan mana nilai yang baik tersebut seperti jujur, benar,

    dermawan, sabar, tanggung jawab, peduli, dan empati, serta menerapkannya dalam

    kehidupan peserta didik lewat praktik pengalaman yang dilatihkan kepada mereka. Pada

    tataran ini si pendidik mengisi hati peserta didik, sehingga lahir kecerdasan

    emosionalnya.

    3) Melatihkan keterampilan hidup ( transfer of skill )

    Pendidik juga bertugas untuk melatihkan kemahiran hidup. Mengisi tangan

    peserta didik dengan satu atau beberapa keterampilan yang dapat digunakannya sebagai

    bekal hidupnya.

    Selain itu, tugas pendidik juga memiliki yang sangat luas yaitu guru juga

    bertanggung jawab mengelola, mengarahkan memfasilitasi, dan merencanakan, serta

  • 9

    mendesain program yang akan dijalankan, dari sini tugas dan fungsi pendidik dapat

    disimpulkan antara lain :

    1) Sebagai seorang pengajar ( instructional ), yang memiliki tugas merencanakan

    program pengajaran dan melaksanakan program tersebut.

    2) Sebagai seorang pendidik ( education ), yaitu memiliki tugas mengarahkan

    peserta didiknya pada tahap kedewasaan dan sikap yang mulia sesuai dengan tujuan

    Allah Swt. menhadirkan manusia di dunia.

    3) Sebagai seorang pemimpin ( managerial ), yaitu memiliki sikap pemimpin,

    mengandalkan diri sendiri, anak didik, dan masyarakat yang memiliki keterkaitan

    dengan masalah yang berhubungan denga upaya pengarahan, pengorganisasian,

    pengontrolan, dan partisipasi dalam program yang dilaksanakan.

    c. Kompetensi Guru

    Dalam bahasa Inggris, kompetensi ( competency ) artinya kecakapan,

    kemampuan, dan wewenang. Jadi, kompetensi guru profesional yaitu seseorang yang

    mempunyai kemampuan serta keahlian khusus di bidang keguruan, sehingga ia mampu

    melakukan tugas dan fungsinya sebagai pendidik dengan kemampuan maksimal.

    Seorang guru dalam proses belajar mengajar harus mempunyai kemampuan

    tersendiri agar bisa berhasil pada pendidikan yang berkualitas, efisien, dan efektif, serta

    mencapai tujuan pembelajaran. Agar mempunyai kemampuan tersebut guru harus

    membina diri sendiri dengan baik, karena fungsi guru adalah membina dan

    meningkatkan kemampuan anak didik secara profesional dalam proses belajar mengajar.

  • 10

    Agar mencapai tujuan tersebut, guru profesional harus mempunyai empay

    kompetensi, yaitu :

    1) Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan mengatur pembelajaran anak didik

    antara lain pemahaman pada anak didik, peningkatan potensi yang dimiliki anak didik,

    perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar.

    2) Kompetensi kepribadian yaitu kemampuan guru yang menampakkan kepribadian

    bermental sehat dan stabil, dewasa, arif, berwibawa, kreatif, sopan, santun, disiplin,

    jujur, rapi, serta menjadi uswatun hasanah untuk anak didiknya.

    3) Kompetensi profesional yaitu kemampuan penguasaan materi pembelajaran

    secara mendalam dan memiliki berbagai keahlian di bidang pendidikan. Meliputi :

    penguasaan materi, memahami kurikulum dan perkembangannya, pengelolaan kelas,

    penggunaan strategi, media, dan sumber belajar, memiliki wawasan tentang inovasi

    pendidikan, memberikan bantuan dan bimbingan kepada peserta didik, dan lain-lain.

    4) Kompetensi sosial yaitu kemampuan guru untuk berkomunikasi dan

    berhubungan baik dengan anak didik, orang tua peserta didik dan masyarakat, sesama

    pendidik / teman sejawat dan dapat bekerja sama dengan dewan pendidikan / komite

    sekolah, mampu berperan aktif dalam pelestarian dan pengembangan budaya

    masyarakat, serta ikut berperan dalam kegiatan sosial.

  • 11

    d. Peran Guru

    Guru merupakan unsur terpenting yang berperan dalam pemberdayaan anak

    didik, karena guru mempunyai peran yang besar dalam proses pembelajaran, dengan

    demikian guru mempunyai kewajiban agar berperan aktif dalam menempatkan tuntutan

    masyarakat. Kompetensi yang dimiliki oleh guru dengan menempatkan diri sebagai

    tenaga profesional dengan maksud bahwa guru mempunyai tanggung jawab untuk

    membentuk bakat, minat, dan prestasi anak didik sehingga menguasai suatu kecakapan

    yang mampu berguna di kemudian hari, sebagai generasi bangsa yang memiliki nilai

    jual, dan mampu menjadi manusia yang produktif serta tepat guna.

    Guru sebagai tenaga profesional mengandung makna bahwa profesi guru

    merupakan pekerjaan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Ciri dari pekerjaan

    profesional guru ialah mempunyai profesi filosofis dan ketanggapan yang bijak dengan

    kompetensi yang dimilikinya dalam melakukan pekerjaan sehari-hari, dengan ketelitian

    serta kecermatan dalam menentukan langkah, serta sikap ketika berhadapan dengan

    anak didik. Ukuran dan kriteria sebagai guru dan profesinya seperti berikut :

    1) Memilki latar belakang teori yang luas, mengandung makna bahwa seorang

    guru berpengetahuan luas dan berkeahlian khusus yang andal. Profesi guru adalah karier

    yang dibina dengan organisator dalam arti bahwa guru memiliki hak otonomi jabatan,

    memiliki kode etik jabatan, dan sebagai karya bakti seumur hidup.

    2) Diakui masyarakat sebagai pekerjaan yang terhormat dan mempunyai

    dedikasi tinggi dengan makna bahwa guru memperoleh dukungan dari masyarakat,

  • 12

    mendapat pengesahan dan perlindungan hukum, memiliki status pekerjaan yang jelas

    dan sehat, serta memiliki jaminan hidup yang layak.

    Kriteria dengan profesi guru akan mengarahkan konsekuensi yang fundamental

    pada lajunya program pendidikan yang berlangsung, terkhusus yang berkaitan dengan

    tenaga kependidikan, ini berarti bahwa masyarakat harus berperan aktif untuk

    keberhasilan program pendidikan, baik sebagai sumber asal maupun sumber daya atau

    sebagai yang berkepentingan dengan kelangsungan keberhasilan peserta didik, hal ini

    harus dijadikan sebagai kajian oleh semua unsur terkait dalam tingkat keberhasilan

    kualitas pendidikan seperti di dalam tujuan pendidikan nasional yang telah digariskan.

    Peran guru profesional ialah sebagai perancang pembelajaran (designer),

    pengembangan kepribadian (educator), pengelola pembelajaran (manager), pelaksanaan

    teknis administrasi (administrator), pemantau (supervisor), melakukan kegiatan kreatif

    (inovator), memberikan dorongan (motivator), membantu memecahkan masalah

    (konselor), memberikan bantuan teknis dan petunjuk (fasilitator), dan menilai pekerjaan

    siswa (evaluator).

    e. Fungsi Guru

    Di samping memiliki peran dan tugas, guru juga memiliki fungsi. Fungsi

    bermakna bahwa keberadaannya sesuai dan benar dengan manfaatnya. Lalu, kehadiran

    guru yaitu memberikan pencerahan kepada manusia lainnya, maksudnya adalah

    muridnya. Namun, sebelum mencerahkan orang lain guru merupakan orang yang

    terlebih dahulu harus tercerahkan. Guru ialah alat bagi siswanya agar lebih dekat

    dengan Allah.

  • 13

    Adapun fungsi seorang guru dijelaskan sebagai berikut:

    1) Mengajarkan

    Sudah lazim kita ketahui bahwa fungsi seorang guru adalah mengajarkan.

    Mengajarkan artinya menginformasikan pengetahuan kepada orang lain secara

    berurutan, langkah demi langkah. Ketika seorang guru masuk ke dalam kelas,

    berhadapan dengan murid-murid, maka yang harus ditekankan di dalam hati guru adalah

    dia akan mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya. Seorang guru harus mampu

    membuat suasana belajar-mengajar yang menyenangkan kepada murid-muridnya,

    kehadirannya harus dirindukan dan dinanti-nanti oleh muridnya, atau bukan sebaliknya,

    yaitu menakuti muridnya.

    2) Membimbing atau Mengarahkan

    Membimbing artinya memberikan petunjuk kepada orang yang tidak tahu atau

    belum tahu. Sedangkan mengarahkan adalah pekerjaan lanjutan dari membimbing, yaitu

    memberikan arahan kepada orang yang dibimbing itu agar tetap on the track (di

    jalannya), supaya tidak salah langkah dan tersesat jalan. Guru dengan fungsi sebagai

    pembimbing dan pengarah adalah guru yang menjalankan aktivitasnya dengan hati

    (qalbun). Karena dia mengetahui, yang menjadi sasaran utama fungsi profesionalnya

    adalah hati murid-muridnya, bukan sekadar otak mereka. Dia akan memunculkan

    potensi hebat qalbun murid-muridnya. Qalbun inilah yang memiliki kemampuan

    bertujuan hanya kepada Allah. Qalbun satu-satunya potensi batin manusia yang dapat

    memahami tujuan hidup manusia yaitu hanya kepada Allah. Nah, guru berfungsi

  • 14

    membimbing dan mengarahkan murid-muridnya “menemukan” Allah melalui mata

    pelajaran yang diajarkannya kepada para murid.

    3) Membina

    Fungsi guru yang sangat vital adalah membina. Ini adalah puncak dari rangkaian

    fungsi sebelumnya. Membina adalah upaya yang dilakukan dengan sungguh-sungguh

    untuk menjadikan sesuatu lebih baik dan terus lebih baik dari keadaan sebelumnya.

    Setelah guru mengajarkan murid-murid, lalu ia akan membimbing dan mengarahkan,

    baru kemudian membina. Ini memerlukan kontinuitas ( berkesinambungan ) dan

    berkaitan dengan intuisi pendidikan secara berjenjang. Selain itu, fungsi membina guru

    melibatkan para pemangku kebijakan, yaitu pemerintah, dalam hal ini Kementerian

    Pendidikan dan Kebudayaan.

    Fungsi membina tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada guru, karena dalam

    fungsi ini memiliki unsur pemeliharaan dan penataan. Tetapi harus diakui, para guru

    menjadi ujung tombak segala proses pembinaan tersebut. Oleh sebab itu, semua elemen

    pendidikan harus berperan aktif, bahu membahu, dan saling mendukung. Pada fungsi

    pembinaan tersebut peran strategis guru semakin nyata dan sangat diperlukankan.

    3. Karakter

    a. Pengertian Karakter

    Secara etimologis, karakter berasal dari bahasa Yunani, yaitu charassein ialah

    mengukir, melukis, memahat, atau menggoreskan (Echols & Shadily dalam Marzuki,

    2017:19-20). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata karakter diartikan

  • 15

    dengan tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan

    seseorang dengan yang lain, dan watak.

    Adat-istiadat masyarakat menjadi standar dalam penentuan baik buruknya suatu

    perbuatan. Ditjen Kementrian Pendidikan Nasional ( dalam Habsari, 2017 : 25 )

    menjelaskan bahwa karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri

    khusus tiap orang dalam kehidupan bekerja sama, baik itu lingkup keluarga,

    masyarakat, bangsa, dan negara. Sedangkan menurut Aristoteles (dalam Sudrajat,

    2011:48) bahwa karakter yang baik sebagai tingkah laku yang benar, tingkah laku yang

    benar dalam hubungannya dengan orang lain dan juga dengan diri sendiri.

    Karakter adalah perbuatan atau tingkah laku dan ucapan individu ketika

    berinteraksi dengan individu lainnya. Ketika yang dilakukan individu itu sesuai dengan

    nilai rasa yang berjalan dalam masyarakat tersebut dan bisa diterima serta

    menyenangkan lingkungan masyarakatnya, orang itu dinilai memiliki karakter yang

    baik, demikian pula sebaliknya. Secara singkat, karakter adalah hal-hal yang berkaitan

    dengan proses sosialisasi individu.

    Menurut filosof kontemporer seperti Micheal Novak (dalam Sudrajat, 2011:49)

    bahwa karakter adalah campuran atau perpaduan dari semua kebaikan yang berasal dari

    tradisi keagamaan, cerita, dan pendapat orang bijak, yang sampai kepada manusia

    melalui sejarah. Menurut Novak, tak seorang pun yang memiliki semua kebajikan itu,

    karena setiap orang memiliki kelemahan-kelemahan. Seseorang dengan karakter terpuji

    dapat dibedakan dari yang lainnya.

  • 16

    Jadi, dapat disimpulkan bahwa karakter ialah perbuatan seorang individu yang

    menjadi ciri khasnya sendiri ketika berinteraksi dengan orang lain maupun dengan diri

    sendiri.

    b. Sumber Ajaran Karakter

    Sumber-sumber ajaran karakter ada tiga menurut Muchson dan Samsuri ( 2013 :

    18 ), yaitu :

    1) Agama

    Umumnya agama tidak terbatas pada pengajaran tentang kewajiban-kewajiban

    yang wajib dilakukan manusia pada Tuhan ( ibadah ), tetapi juga kewajiban untuk

    berbuat baik pada manusia lain dan lingkungannya. Agama juga memberikan motivasi

    keimanan dengan memahamkan bahwa perbuatan baik yang dilaksanakan pada sesama

    manusia dan lingkungannya tersebut adalah amal saleh, sehingga pemeluknya meyakini

    akan memperoleh balasan pahala dari Tuhan Yang Maha Esa.

    2) Hati Nurani

    Potensi karakter tersimpan dalam hati nurani. Setiap individu dengan bantuan

    akal budinya bisa membedakan antara yang baik dan buruk. Melalui hati nurani dan

    akalnya, manusia berada pada tingkat yang lebih tinggi dibanding dengan makhluk yang

    lain. Pada umumnya, nilai-nilai karakter agama yang berkaitan dengan sesama manusia

    berarti menjadi nilai-nilai karakter kesusilaan, diantaranya larangan membunuh,

    mencuri, dan sebagainya.

    3) Adat-Istiadat dan Budaya

  • 17

    Adat-istiadat ialah suatu aturan berdasarkan kebiasaan yang berlaku di

    lingkungan masyarakat tertentu yang terjadi secara turun-temurun. Adat-istiadat dan

    budaya dapat menjadi sumber ajaran karakter, terkhusus pada pengertian karakter

    kesopanan. Setiap suku bangsa mempunyai adat-istiadat dan budaya daerah yang

    berbeda-beda dan semua itu menjadi sumber ajaran karakter bagi masyarakatnya.

    c. Kriteria Karakter yang Benar

    Menurut Syahidin, dkk. (2009:242-244) dalam ajaran Islam kriteria karakter

    yang benar yaitu:

    1) Memandang Martabat Manusia

    Rasulullah saw. menyatakan bahwa ia dikirim untuk menyempurnakan akhlak

    martabat dan derajat manusia. sebagian sifat tertentu seperti toleran dan pengorbanan

    diri adalah masalah penghargaan diri, tanda keterbukaan hati, serta kebesaran jiwa.

    Orang yang bersedia berkorban dan melatih kendali dirinya ditandai sebagai orang yang

    memiliki kepribadian yang baik sehingga ia menjalani keperluannya untuk kebaikan

    orang lain dan untuk menjaga agar tetap bertahan pada tujuan yang diinginkan.

    Rendah hati dalam artian menghargai orang lain dan mengakui prestasi mereka

    Bukan dalam pemaknaan untuk memalukan diri sendiri agar tunduk pada kekuatan,

    namun merupakan sifat yang mulai dan sepadan dengan martabat manusia. Kualitas

    seperti itu dimiliki oleh orang-orang yang selalu dapat mengontrol diri sendiri dan tidak

    egois. Secara nyata mengakui hal-hal baik dalam diri orang lain dan menghormatinya.

    Sifat-sifat mulia itu yang menjadi landasan karakter mulia yang termasuk dalam bagian

    dari nilai-nilai karakter Islam yang tinggi.

  • 18

    2) Mendekatkan Manusia dengan Allah

    Hanya sifat-sifat mulai yang akan mendekatkan manusia dengan Allah. Manusia

    dekat dengan Allah sesuai dengan kualitas-kualitas yang dia miliki. Jika sifat-sifat tersebut

    mendarah daging dalam dirinya dan menjadi pelengkapnya, bisa dikatakan bahwa dia telah

    mendapatkan nilai-nilai karakter Islam.

    d. Nilai-nilai Utama Karakter Guru

    Menurut Hidayatullah dan Rohmadi (2010:25-30) bahwa nilai-nilai utama dalam

    karakter guru, yaitu :

    1) Amanah

    a) Komitmen

    Komitmen diartikan sebagai suatu tekad yang mengikat dan melekat dalam

    seorang guru untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik.

    Adapun indikator guru yang mempunyai komitmen tinggi, diantaranya memiliki

    ketajaman visi, rasa memilki ( sense of belonging ), dan tanggung jawab ( sense of

    responsibility ).

    b) Kompeten

    Kompeten ialah kemampuan seorang pendidik dalam melaksanakan

    pembelajaran ( mengajar dan mendidik ) dan kemampuan memecahkan berbagai

    masalah untuk mencapai tujuan pendidikan. Indikator guru yang berkompeten, antara

    lain selalu mengembangkan diri, ahli di bidangnya, dan menjiwai profesi.

  • 19

    c) Kerja Keras

    Guru yang senantiasa bekerja keras bisa diartikan sebagai kemampuan

    mencurahkan atau mengarahkan seluruh usaha dan kesungguhan, potensi yang dipunyai

    sampai habis masa suatu urusan hingga tujuan tercapai. Untuk indikator guru yang

    selalu bekerja keras, antara lain bekerja dengan tulus dan ikhlas, sungguh-sungguh, dan

    bekerja melebihi target ( Extra ordinary proces ).

    d) Konsisten

    Guru yang konsisten merupakan guru yang mempunyai kemampuan

    melaksanakan sesuatu dengan istikamah, fokus, sabar, dan ulet, serta melakukan

    perbaikan yang terus-menerus. Indikator guru yang konsisten, yaitu memiliki prinsip

    (istikamah), tekun, rajin, sabar, ulet, dan fokus.

    2) Keteladanan

    a) Kesederhanaan

    Guru mesti bersikap sederhana, maksudnya guru mempunyai kemampuan

    menganalisiskan sesuatu secara efisien dan efektif. Indikator yang bersikap sederhana,

    antara lain bersahaja, tidak mewah, tidak berlebihan, dan tepat guna.

    b) Kedekatan

    Kedekatan yang dimaksud ialah kemampuan guru berinteraksi secara dinamis

    dalam jalinan emosional antara guru dan anak didik dalam rangka mencapai tujuan

    pembelajaran atau pendidikan. Indikatornya ialah perhatian pada siswa ( student

    centered ) dan memiliki hubungan emosional yang harmoni.

  • 20

    3) Cerdas

    Cerdas bukan hanya cerdas intelektual, namun guru juga harus cerdas secara

    emosional dan spritual, guru yang cerdas semacam ini memiliki ciri-ciri antara lain

    pertama, kemampuan cepat mengerti, memahami, tanggap, tajam dalam menganalisis,

    mampu mencari alternatif-alternatif solusi, dan mampu memecahkan masalah (cerdas

    intelektual). Kedua, kemampuan memberikan makna/nilai terhadap berbagai aktivitas

    yanag dilakukan sehingga hasilnya optimal (cerdas, emosi, dan spiritual). Indikatornya

    antara lain responsif, analitis, inovatif, dan solutif, serta mewarnai berbagai aktivitas

    yang dilaksanakan.

    Menurut Subur (2015:70) bahwa ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter

    yang berlandaskan pada budaya Indonesia, yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja

    keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah

    air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli

    lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

    4. Sumber Pedoman Islam

    Dasar pedoman Islam adalah sumber ajaran Islam yaitu Alquran. Kedua dasar

    ini dapat dikembangkan lagi dengan ijtihad sebagai antisipasi terhadap perkembangan

    zaman.

    a. Alquran

    Alquran merupakan wahyu Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada

    nabi Muhammad yang bersifat petunjuk dan ajaran-ajaran pokok yang dapat

  • 21

    dikembangkan untuk keperluan seluruh aspek kehidupan (termasuk pendidikan) melalui

    ijtihad.

    Penetapan Alquran sebagai dasar dan sumber pokok pendidikan Islam dapat

    dilihat dan dipahami dari ayat-ayat Alquran itu sendiri. Sebagai mana firman Allah

    Terjemahnya : “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Alkitab (Alquran) ini,

    melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan

    itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (An-nahl: 64) (Depag,

    2015).

    b. Sunah

    Dasar pendidikan Islam yang kedua adalah Sunah (Hadis), yaitu perkataan,

    perbuatan, atau pengakuan Rasulullah. Sunah menjadi sumber kedua dalam kehidupan

    sehari-hari.

    إوي قد تركت فيكم ما إن اعتصمتم به فله تضلوا أبدا كتاب هللا وسىة وبيه الحديث

    “Aku telah tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat

    selamanya jika berpegang teguh dengan keduanya, yaitu: Alquran dan Sunah Nabi ملسو هيلع هللا ىلص”

    (HR. Al Hakim)

    Dari Hadis di atas dapat dipahami bahwa ajaran Islam serta pendidikan akhlak

    mulia yang harus diteladani agar menjadi manusia yang hidup sesuai dengan tuntutan

    syariat, yang bertujuan untuk kemaslahatan serta kebahagiaan umat manusia.

    Dalam kaitannya dengan karakter guru, Rasulullah sendiri menjadi guru dan

    pendidik utama. Fenomena ini dapat dilihat dari praktik-praktik edukatif Rasulullah itu

  • 22

    sendiri. Pertama, beliau menggunakan rumah Al-Arqom Ibnu Abi Al-Arqom untuk

    mendidik dan mengajar. Kedua, beliau memanfaatkan tawanan perang untuk mengajar

    baca dan tulis, dan ketiga, beliau mengirim para sahabat ke daerah-daerah yang baru

    masuk Islam.

    B. Kerangka Pikir

    Kerangka pikir merupakan suatu bagan atau alur dalam memecahkan suatu

    masalah yang akan dikaji oleh peneliti. Alur pemikiran dalam kerangka pikir ini

    menjadi suatu pondasi untuk pemikiran selanjutnya. Kerangka pikir juga akan

    membantu dalam penelitian ini untuk menggambarkan hubungan dan keterkaitan antara

    variabel.

    Karakter seorang guru memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan

    karakter anak didiknya. Seorang guru bisa diakui berhasil ketika guru tersebut bisa

    memberi pengaruh yang positif pada diri anak didik. Seorang guru bertanggung jawab

    pada perbuatan peserta didiknya terlepas dari baik dan buruknya sifat anak didik itu.

    Apabila tanggung jawab orang tua telah diserahkan kepada guru di sekolah, sebenarnya

    di situlah peran guru untuk mendidik, mengajarkan, melatih pengetahuan, perilaku

    maupun sikap anak didik.

    Seorang guru juga bisa dikatakan berhasil apabila guru itu telah bisa menuntun

    peserta didik ke arah yang positif, menambah pengetahuan, mengajarkan peserta didik

    cara berperilaku yang baik, dan mengajarkan karakter yang baik.

  • 23

    Dalam penelitian ini yang menjadi subjek yang diteliti adalah Karakter Guru

    dalam Alquran. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada bagan di bawah ini :

    Gambar 1 Kerangka Pikir

    Karakter Guru dalam Islam

    Alquran

    Analisis

    Temuan

  • 24

    BAB III

    METODE PENELITIAN

    A. Jenis Penelitian

    Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dan termasuk

    dalam kategori penelitian kualitatif. Adapun metode yang digunakan adalah metode

    tematik, yakni menghimpun ayat-ayat Alquran yang berkaitan tentang karakter guru.

    Dalam mengkaji Alquran yang berkenaan dengan karakter guru serta tuntunan

    nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, diperlukan suatu metode tafsir. Metode tafsir

    yang dimaksud adalah suatu perangkat dan tata kerja yang digunakan dalam proses

    penafsiran Alquran. Secara teoretis, perangkat kerjanya menyangkut dua aspek penting,

    yaitu pertama, aspek teks dengan problem semantiknya. Kedua, aspek konteks di dalam

    teks yang mempresentasikan ruang-ruang sosial budaya yang beragam dalam teks itu

    muncul.

    B. Sumber Data

    Sebagai penelitian pustaka, maka sumber data penelitian ini adalah berupa data-

    data tertulis, baik data primer maupun sekunder. Data primer yaitu ayat-ayat Alquran.

    Kemudian, data sekunder dalam penelitian ini adalah buku, jurnal, majalah atau artikel

    yang memiliki relevansi dan signifikan dengan topik penelitian ini, sehingga ditemukan

    pemahaman yang utuh dan komprehensif tentang konsep karakter guru dalam perspektif

    Islam (Tinjauan Alquran).

  • 25

    C. Instrumen

    Instrumen penelitian adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengumpulkan

    data atau informasi yang bermanfaat untuk menjawab permasalahan penelitian.

    Instrumen penelitian kualitatif adalah peneliti sendiri (Moleong dalam Albi dan Johan,

    2018). Peneliti menjadi segalanya dalam dari keseluruhan proses penelitian. Instrumen

    yang digunakan oleh peneliti adalah Alquran.

    D. Teknik Pengumpulan Data

    Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini ada tiga yaitu teknik studi

    pustaka, teknik baca markah, dan teknik catat. Ketiga teknik tersebut diuraikan sebagai

    berikut;

    1. Teknik studi pustaka digunakan untuk mengumpulkan informasi awal terkait

    kebutuhan yang mendasari penelitian ini seperti studi terhadap hasil penelitian

    terdahulu, buku referensi, artikel jurnal, prosiding, atau artikel lainnya di internet, dan

    majalah sastra.

    2. Teknik baca markah merupakan teknik pengumpulan data dengan cara membaca

    secara teliti sumber data untuk menemukan pemahaman mendalam kemudian

    memberikan tanda (markah) pada setiap bagian atau kutipan yang dianggap terkait

    dengan kebutuhan data penelitian.

    3. Teknik catat merupakan teknik lanjutan dari teknik baca markah. Artinya,

    setelah peneliti membaca dan memberikan tanda pada sumber data, langkah selanjutnya

    adalah memindahkan data tersebut ke media atau buku lain dengan cara mencatat.

  • 26

    Teknik ini digunakan untuk memperdalam pemahaman peneliti terhadap data yang

    dikumpulkan.

    E. Teknik Analisis Data

    Analisis data adalah salah satu langkah yang paling penting dalam rangka

    memperoleh temuan-temuan hasil penelitian. Hal ini, karena data yang menuntun

    peneliti ke arah temuan ilmiah, bila dianalisis dengan teknik-teknik yang tepat. Data

    yang sebelumnya dianalisis masih merupakan data mentah. Dalam penelitian data

    mentah diberi arti, dianalisis serta ditafsirkan.

    Oleh karena itu, data yang sudah terkumpul dalam penelitian ini selanjutnya

    dianalisis. Analisis datanya bersifat induksi berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan di

    lapangan berupa catatan kata-kata, kalimat, atau paragraph, dan berkaitan dengan

    penelitian ini yang terdapat dalam Alquran.

    F. Penyajian Data

    Penyajian data merupakan salah satu kegiatan dalam pembuatan laporan hasil

    penelitian yang telah dilakukan agar dapat dipahami dan dianalisis sesuai dengan tujuan

    yang diinginkan.

    Penyajian data ditampilkan dengan menggunakan kata-kata tanpa angka-angka.

    Data dalam penelitian disajikan secara informal, artinya hasil analisis disajikan dengan

    menggunakan kata-kata verbal.

  • 27

    BAB IV

    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Hasil Penelitian

    Penelitian mengenai karakter guru dalam perspektif Islam (tinjauan Alquran)

    telah dilakukan melalui teknik analisis berupa ayat-ayat Alquran yang berkaitan tentang

    karakter guru yaitu amanah: komitmen, kompeten, kerja keras dan konsisten,

    keteladanan: kesederhanaan, kedekatan dan pelayanan maksimal, dan cerdas. Karakter

    guru yang diperoleh dalam Alquran berjumlah 64 data, yaitu amanah berupa komitmen

    berjumlah 7 data, kompeten berjumlah 11 data, kerja keras berjumlah 8 data, konsisten

    berjumlah 17 data, analisis keteladanan berupa kesederhanaan berjumlah 9 data dan

    kedekatan berjumlah 4 data, dan analisis cerdas berjumlah 8 data. Data karakter guru

    tersebut diuraikan sebagai berikut:

    1. Amanah

    a. Komitmen

    Komitmen didefinisikan sebagai sebuah tekad yang mengikat dan melekat pada

    seorang pendidik untuk melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik.

    Komitmen juga dapat diartikan sebagai janji dengan diri sendiri untuk bertanggung

    jawab atas pekerjaan yang dilaksanakan. Hasil penelitian dalam Alquran terdapat 7 data.

    Karakter guru berupa komitmen diuraikan sebagai berikut:

  • 28

    1)

    Terjemahnya: “Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan,

    sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab (Taurat)?

    Tidakkah kamu mengerti?” Al-Baqarah (2):44 (Depag, 2015:7)

    2)

    Terjemahnya: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah

    lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar,

    tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka

    dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka

    dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka

    bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.”

    Ali Imran (3):159 (Depag, 2015:71)

    3)

  • 29

    Terjemahnya: “kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri dan

    berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama

    mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman

    dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang

    beriman.” An-Nisa (4):146 (Depag, 2015:101)

    4)

    Terjemahnya: “Dan masing-masing orang ada tingkatannya, (sesuai) dengan apa

    yang mereka kerjakan. Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka

    kerjakan.” Al-An‟am (6):132 (Depag, 2015:145)

    5)

    Terjemahnya: “Dan tidakkah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan, dan

    tidak membaca suatu ayat Alquran serta tidak pula kamu melakukan suatu

    pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya.

    Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah, baik di

    bumi ataupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar

    daripada itu, melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”

    Yunus (10):61 (Depag, 2015:215)

    6)

    Terjemahnya: “Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu

    (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah

    diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi yang

    beriman.” Hud (11):120 (Depag, 2015:235)

    7)

  • 30

    Terjemahnya: “Dan milik Allah meliputi rahasia langit dan bumi dan kepada-Nya

    segala urusan dikembalikan. Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.

    Dan Tuhanmu tidak akan lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” segala urusan

    dikembalikan. Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. Dan Tuhanmu

    tidak akan lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” Hud (11):123 (Depag,

    2015:235)

    b. Kompeten

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kompeten adalah cakap

    (mengetahui). Kompeten dapat diartikan sebagai kemampuan dalam mengerjakan

    sesuatu dengan pengetahuan. Kompeten sebagai seorang pendidik adalah kemampuan

    dalam mengerjakan pembelajaran (mengajar dan mendidik), kemampuan memecahkan

    masalah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan dan senantiasa mengembangkan

    diri. Hasil penelitian dalam Alquran terdapat 11 data. Karakter guru berupa kompeten

    diuraikan sebagai berikut:

    1)

    Terjemahnya: “Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan

    dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahui.” Al-

    Baqarah (2):42 (Depag, 2015:7)

    2)

  • 31

    Terjemahnya: “Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak memahami kitab (

    Taurat), kecuali hanya berangan-angan dan mereka hanya menduga-duga.” Al-

    Baqarah (2):78 (Depag,2015:12)

    3)

    Terjemahnya: “Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul

    (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami,

    menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Alquran) dan Hikmah

    (Sunah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.” Al-Baqarah (2):151

    (Depag, 2015:23)

    4)

    Terjemahnya: “kecuali mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan

    menjelaskan(nya), mereka itulah yang Aku terima tobatnya dan Aku-lah Yang

    Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” Al-Baqarah (2):160 (Depag, 2015:24)

    5)

    Terjemahnya: “Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Diberi

    hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang

  • 32

    dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.” Al-

    Baqarah (2):269 (Depag, 2015:45)

    6)

    Terjemahnya: “Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang

    berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia

    hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang

    memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.”

    An-Nisa (4):58 (Depag, 2015:87)

    7)

    Terjemahnya: “Dan kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada

    (Muhammad), tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk

    menyesatkanmu. Tetapi mereka hanya menyesatkan dirinya sendiri, dan tidak

    membahayakanmu sedikit pun. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab

    (Alquran) dan Hikmah (Sunah) kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa

    yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat

    besar.” An-Nisa (4):113 (Depag, 2015:96)

    8)

  • 33

    Terjemahnya: “kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri dan

    berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama

    mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman

    dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang

    beriman.” An-Nisa (4):146 (Depag, 2015:101)

    9)

    Terjemahnya: “Dan apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami

    datang kepadamu, maka katakanlah, “salamun ‘alaikum” (selamat sejahtera untuk

    kamu). Tuhanmu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya, (yaitu)

    barangsiapa berbuat kejahatan di antara kamu karena kebodohan, kemudian dia

    bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, maka Dia Maha Pengampun, Maha

    Penyayang.” Al-An‟am (6):54 (Depag, 2015:134)

    10)

    Terjemahnya: “Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia

    memberi pelajaran kepadanya, “wahai anakku! Janganlah engkau mepersekutukan

    Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang

    besar.” Luqman (31):13 (Depag, 2015:412)

  • 34

    11)

    Terjemahnya: “Dan jika keduanya (orang tua) memaksamu untuk

    mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang

    itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia

    dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya

    kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang

    telah kamu kerjakan” Luqman (31):15 (Depag, 2015:412)

    c. Kerja Keras

    Kerja keras merupakan kegiatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh yang

    mengutamakan keikhlasan dan kepuasan hati dalam bekerja serta tidak berhenti sebelum

    mencapai target yang diinginkan. Guru yang bekerja keras dapat didefinisikan sebagai

    kemampuan mencurahkan atau mengarahkan seluruh usaha dan kesungguhan, potensi

    yang dimiliki sampai akhir masa suatu urusan hingga tujuan tercapai. Adapun indikator

    guru yang selalu bekerja keras, antara lain bekerja ikhlas dan sungguh-sungguh, bekerja

    melebihi target. Hasil penelitian dalam Alquran terdapat 8 data. Karakter guru berupa

    kerja keras diuraikan sebagai berikut:

    1)

  • 35

    Terjemahnya: “Dan di antara mereka ada orang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah

    kami kebaikan di dunia dan di Akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”

    Mereka itulah yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka kerjakan, dan

    Allah Maha cepat perhitungan-Nya.” Al-Baqarah (2):201-202 (Depag, 2015:31)

    2)

    Terjemahnya: “Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk

    mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

    Al-Baqarah (2):207 (Depag, 2015:32)

    3)

    Terjemahnya: “Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar

    dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana

    yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah

    (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” Ali Imran (3):146

    (Depag, 2015:68)

    4)

  • 36

    Terjemahnya: “kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri dan

    berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama

    mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman

    dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang

    beriman.” An-Nisa (4):146 (Depag, 2015:101)

    5)

    Terjemahnya: “Dan masing-masing orang ada tingkatannya, (sesuai) dengan apa

    yang mereka kerjakan. Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka

    kerjakan.” Al-An‟am (6):132 (Depag, 2015:145)

    6)

    Terjemahnya: “Dan bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu,

    begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan

    kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya

    kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” At-Taubah (9):105 (Depag,

    2015:203)

    7)

  • 37

    Terjemahnya: “dan (aku telah diperintah), “Hadapkanlah wajahmu kepada agama

    dengan tulus ikhlas, dan jangan sekali-kali engkau termasuk orang yang musyrik.”

    Yunus (10):105 (Depag, 2015:220)

    8)

    Terjemahnya: “Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah

    bekerja keras (untuk urusan yang lain),” Asy-Syarh (94):7 (Depag, 2015:596)

    d. Konsisten

    Konsisten dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah tetap (tidak

    berubah-ubah), taat asas dan ajek (teratur). Konsisten dapat diartikan sebagai fokus

    pada suatu bidang dengan membulatkan tekad untuk tetap terus menjalankan bidang

    tersebut. Guru yang konsisten adalah guru yang memiliki kemampuan melakukan

    sesuatu dengan istikamah, fokus, sabar, ulet, tekun, rajin serta melakukan perbaikan

    yang terus-menerus. Hasil penelitian dalam Alquran terdapat 17 data. Karakter guru

    berupa konsisten diuraikan sebagai berikut:

    1)

  • 38

    Terjemahnya: “(yaitu) orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, kami benar-

    benar beriman, maka ampunilah dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka.”

    (Juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang

    menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum

    fajar.” Ali Imran (3):16-17 (Depag, 2015:52)

    2)

    Terjemahnya: “Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati,

    tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu

    bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit

    pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan.” Ali Imran

    (3):120 (Depag, 2015:65)

    3)

    Terjemahnya: “Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar

    dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana

    yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah

    (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” Ali Imran (3):146

    (Depag, 2015:68)

    4)

  • 39

    Terjemahnya: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah

    lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar,

    tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka

    dan mohonkalah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka

    dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka

    bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang

    bertawakal.” Ali Imran (3):159 (Depag, 2015:71)

    5)

    Terjemahnya: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah

    kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah

    kepada Allah, supaya kamu beruntung.” Ali Imran (3):200 (Depag, 2015:76)

    6)

    Terjemahnya: “kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri dan

    berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama

  • 40

    mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman

    dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang

    beriman.” An-Nisa (4):146 (Depag, 2015:101)

    7)

    Terjemahnya: “Dan apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami

    datang kepadamu, maka katakanlah, “salamun ‘alaikum” (selamat sejahtera untuk

    kamu). Tuhanmu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya, (yaitu)

    barangsiapa berbuat kejahatan di antara kamu karena kebodohan, kemudian dia

    bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, maka Dia Maha Pengampun, Maha

    Penyayang.” Al-An‟am (6):54 (Depag, 2015:134)

    8)

    Terjemahnya: “Sekarang Allah telah meringankan kamu karena Dia mengetahui

    bahwa ada kelemahan padamu. Maka jika di antara kamu ada seratus orang yang

    sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh); dan jika di

    antara kamu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua

  • 41

    ribu orang dengan seizin Allah. Allah beserta orang-orang yang sabar.” Al-Anfal

    (8):66 (Depag, 2015:185)

    9)

    Terjemahnya: “Dan (ada pula) orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka,

    mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan yang buruk.

    Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha

    Pengampun, Maha Penyayang.” At-Taubah (9):102 (Depag, 2015:203)

    10)

    Terjemahnya: “Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah

    hingga Allah memberi keputusan. Dialah hakim yang terbaik.” Yunus (10):109

    (Depag, 2015:221)

    11)

    Terjemahnya: “kecuali orang-orang yang sabar, dan mengerjakan kebaikan, mereka

    memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” Hud (11):11 (Depag, 2015:222)

    12)

    Terjemahnya: “Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan

    pahala yang berbuat kebaikan.” Hud (11):115 (Depag, 2015:234)

    13)

  • 42

    Terjemahnya: “... maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada

    Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” Yusuf

    (12):18 (Depag, 2015:237)

    14)

    Terjemahnya: “Dan orang yang sabar karena mengharap keridaan Tuhannya,

    melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada

    mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan

    kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” Ar-Ra‟d

    (13):22 (Depag, 2015:252)

    15)

    Terjemahnya: “(sambil mengucapkan), “selamat sejahtera atasmu karena

    kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” Ar-Ra‟d (13):24

    (Depag, 2015:252)

    16)

  • 43

    Terjemahnya: “Musa berkata kepadanya, “Bolehkan aku mengikutimu agar engkau

    mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk

    menjadi) petunjuk?” Dia menjawab, “ Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar

    bersamaku. Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang

    engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu? Dia (Musa)

    berkata, “Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan

    menentangmu dalam urusan apa pun. Dia berkata, “Jika engkau mengikutiku, maka

    janganlah menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku

    menerangkannya kepadamu.” Al-Kahfi (18):66-70 (Depag, 2015:301)

    17)

    Terjemahnya: “Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu

    dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara

    mereka.” Al-Insan (76):24 (Depag, 2015:579)

    2. Keteladanan

    a. Kesederhanaan

    Sederhana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai arti

    bersahaja dan tidak berlebih-lebihan. Jadi, kesederhanaan dapat didefinisikan sebagai

    sikap yang tidak berlebih-lebihan dan lebih mengutamakan menjalankan tugas dengan

    baik agar mendatangkan hasil dan manfaat. Guru harus bersikap sederhana, artinya guru

    memiliki kemampuan menganalisiskan sesuatu secara efisien dan efektif. Adapun

    indikator yang bersikap sederhana, antara lain, bersahaja, tidak mewah, tidak

  • 44

    berlebihan, dan tepat guna. Hasil penelitian dalam Alquran terdapat 9 data. Karakter

    guru berupa kesederhanaan diuraikan sebagai berikut:

    1)

    Terjemahnya: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu,

    tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang

    melampaui batas.” Al-Baqarah (2):190 (Depag, 2015:29)

    2)

    Terjemahnya: “Katakanlah (Muhammad), “wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu

    berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah

    kamu mengikuti orang-orang yang telah tersesat dahulu dan (telah) menyesatkan

    banyak (manusia), dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus.” Al-Ma‟idah

    (5):77 (Depag, 2015:121)

    3)

    Terjemahnya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan

    apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu, dan janganlah kamu

    melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang

    melampaui batas.” Al-Ma‟idah (5):87 (Depag, 2015:122)

    4)

  • 45

    Terjemahnya: “Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar),

    sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat

    bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat

    apa yang kamu kerjakan.” Hud (11):112 (Depag, 2015:234)

    5)

    Terjemahnya: “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu

    dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (boros). Karena itu, kamu menjadi

    tercela dan menyesal.” Al-Isra‟ (17):29 (Depag, 2015:285)

    6)

    Terjemahnya: “Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-

    orang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula)

    kikir, di antara keduanya secara wajar.” Al-Furqan (25):67 (Depag, 2015:365)

    7)

    Terjemahnya: “dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang

    mengikutimu.” Asy-Syu‟ara‟ (26):215 (Depag, 2015:376)

    8)

    Terjemahnya: “Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu,

    sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” Luqman (31):19 (Depag,

    2015:412)

  • 46

    9)

    Terjemahnya: “maka adapun orang yang melampaui batas,” An-Nazi‟at (79):37

    (Depag, 2015:584)

    b. Kedekatan

    Kedekatan yang dimaksud adalah kemampuan guru berinteraksi secara dinamis

    dalam jalinan emosional antara guru dan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan

    pembelajaran atau pendidikan. Adapun indikatornya antara lain, perhatian pada siswa

    (student centered) dan terjalin hubungan emosional yang harmoni. Hasil penelitian

    dalam Alquran terdapat 4 data. Karakter guru berupa kedekatan diuraikan sebagai

    berikut:

    1)

    Terjemahnya: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah-

    lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar,

    tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka

    dan mohonkalah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka

    dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka

    bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang

    bertawakal.” Ali Imran (3):159 (Depag, 2015:71)

  • 47

    2)

    Terjemahnya: “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah

    menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan

    pasangannya (Hawa) dan (diri)nya; dan dari keduanya Allah

    memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah

    kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah)

    hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”

    An-Nisa‟ (4):1 (Depag, 2015:77)

    3)

    Terjemahnya: “Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang

    buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum). Dan tahukah engkau

    (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan diri (dari dosa), atau dia (ingin)

    mendapatkan pelajaran, yang memberi manfaat kepadanya ? Adapun orang yang

  • 48

    merasa dirinya serba cukup (pembesar-pembesar Quraisy), maka engkau

    (Muhammad) memberi perhatian kepadanya, padahal tidak ada (cela) atasmu kalau

    dia tidak menyucikan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu

    dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang dia takut (kepada

    Allah), engkau (Muhammad) malah mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu)!

    Sungguh, (ajaran-ajaran Allah) itu suatu peringatan.” „Abasa (80):1-11 (Depag,

    2015: 585)

    4)

    Terjemahnya: “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta

    saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” Al-Asr

    (103):3 (Depag, 2015:601)

    3. Cerdas

    Cerdas yang dimaksud bukan hanya cerdas intelektual, tetapi guru juga harus

    cerdas secara emosional dan spritual, guru yang cerdas semacam ini memiliki ciri-ciri

    antara lain, pertama, kemampuan cepat mengerti dan memahami, tanggap, tajam, teliti

    dalam menganalisis, dan mampu mencari alternatif-alternatif solusi, dan mampu

    memecahkan masalah (cerdas intelektual). Kedua, kemampuan memberikan

    makna/nilai terhadap berbagai aktivitas yanag dilakukan sehingga hasilnya optimal

    (cerdas emosi dan spiritual). Hasil penelitian dalam Alquran terdapat 8 data. Karakter

    guru berupa cerdas diuraikan sebagai berikut:

    1)

  • 49

    Terjemahnya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru

    kepada kebaikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang

    mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Ali „Imran (3):104

    (Depag, 2015:63)

    2)

    Terjemahnya: “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk

    manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang

    mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu

    lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan

    mereka adalah orang-orang fasik.” Ali „Imran (3):110 (Depag, 2015:64)

    3)

  • 50

    Terjemahnya: “Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat)

    yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera (mengerjakan)

    berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang saleh.” Ali „Imran (3):114

    (Depag, 2015:64)

    4)

    Terjemahnya: “Mereka itu adalah orang-orang yang (sesungguhnya) Allah

    mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Karena itu berpalinglah kamu dari

    mereka, dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang

    membekas pada jiwanya.” An-Nisa‟ (4):63 (Depag, 2015:88)

    5)

    Terjemahnya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu pergi (berperang)

    di jalan Allah, maka telitilah (carilah keterangan) dan janganlah kamu mengatakan

    kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu, “Kamu bukan seorang yang

  • 51

    beriman,” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda

    kehidupan dunia, padahal di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah

    keadaan kamu dahulu, lalu Allah memberikan nikmat-Nya kepadamu, maka

    telitilah, sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” An-Nisa‟

    (4):94 (Depag, 2015:93)

    6)

    Terjemahnya: “... sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak

    engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk

    orang yang bodoh.” Hud (11):46 (Depag 2015:227)

    7)

    “dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” Al-Qalam

    (68):4 (Depag, 2015:564)

    8)

    Terjemahnya: “Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling

    berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” Al-Balad

    (90):17 (Depag, 2015:594)

    B. Pembahasan

  • 52

    Pada bagian sebelumnya peneliti telah menyajikan data karakter guru berupa

    amanah, keteladanan dan cerdas. Pada bagian ini peneliti memaparkan hasil pengamatan

    dari analisis karakter guru dalam perspektif Islam (tinjauan Alquran).

    Berikut ini pembahasan hasil analisis karakter guru dalam perspektif islam

    (tinjauan Alquran). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karakter adalah

    sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun.

    Guru adalah orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar.

    1. Amanah

    a. Komitmen

    Menurut Wibowo (dalam Putri, 2014:220) komitmen adalah perasaan

    identifikasi, loyalitas dan keterlibatan yang ditunjukkan oleh pekerja terhadap organisasi

    atau unit organisasi. Bagi guru, komitmen didefinisikan sebagai sebuah tekad yang

    mengikat dan melekat pada seorang pendidik untuk melakukan tugas dan tanggung

    jawabnya sebagai pendidik. Karakter guru berupa komitmen diuraikan sebagai berikut:

    Terjemahnya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan

    yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang

  • 53

    penolongpun bagi mereka.Kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri dan

    berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama

    mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman dan

    kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman.”

    An-Nisa (4):146 (Depag, 2015:101)

    Data tersebut merupakan ayat bagi orang yang bertobat agar senantiasa

    bersungguh-sungguh memperbaiki diri dan menguatkan tekad untuk bertanggung jawab

    atas apa yang dikerjakan di jalan Allah atau semata-mata karena Allah, orang-orang

    tersebut akan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang beriman dan nantinya akan

    diberikan pahala yang besar

    Menurut Nursi (2014:159-160) bahwa dalam Alquran kadang menyebutkan

    sebagian dari sejumlah tujuan parsial. Kemudian, untuk mengalihkan tujuan parsial itu

    kepada kaidah umum dan agar akal mau merenungkannya, Alquran menetapkan tujuan

    parsial tadi dan menegaskannya dengan Asmaul Husna yang merupakan kaidah umum.

    Jadi, meskipun ayat tersebut lebih spesifik pada orang bertobat bukan pada guru namun

    ayat tersebut membahas tentang komitmen yang harus dimiliki setiap orang dalam

    melakukan pekerjaannya.

    Dalam terminologi Islam, semua usaha yang dilakukan oleh manusia yang

    diniatkan karena Allah selama pekerjaan itu bukan pekerjaan yang dilarang Allah akan

    ada nilai ibadahnya, begitupun menjadi seorang guru.

    Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa komitmen diartikan sebagai janji

    dengan diri sendiri untuk bertanggung jawab atas pekerjaan yang dilaksanakan.

    b. Kompeten

  • 54

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kompeten adalah cakap

    (mengetahui). Kompeten sebagai seorang pendidik adalah kemampuan dalam

    mengerjakan pembelajaran (mengajar dan mendidik), kemampuan memecahkan

    masalah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan dan senantiasa mengembangkan

    diri.

    Terjemahnya: “Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul

    (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan

    kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Alquran) dan Hikmah (Sunah), serta

    mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.” Al-Baqarah (2):151 (Depag, 2015:23)

    Data tersebut menjelaskan bahwa Tuhan mengutus Rasulullah untuk

    menerangkan tentang ayat-ayat Alquran, mengajarkan Alquran dan Sunah, serta

    mengajarkan apa yang belum diketahui kepada ummatnya agar kembali ke jalan yang

    benar.

    Dari data tersebut dapat dipahami bahwa Rasulullah memiliki sifat kompeten

    atau pengetahuan, Muhammad saw. telah diberi pengetahuan dari Allah Swt. melalui

    malaikat Jibril sebelumnya baru kemudian beliau mengajarkan Alquran dan Sunah

    kepada ummat-Nya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kompeten diartikan sebagai

    kemampuan dalam mengerjakan sesuatu dengan pengetahuan.

    c. Kerja Keras

  • 55

    Guru yang bekerja keras dapat didefinisikan sebagai kemampuan mencurahkan

    atau mengarahkan seluruh usaha dan kesungguhan, potensi yang dimiliki sampai akhir

    masa suatu urusan hingga tujuan tercapai.

    Terjemahnya: “Dan bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu

    juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah)

    Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa

    yang telah kamu kerjakan.” At-Taubah (9):105 (Depag, 2015:203)

    Data di atas menjelaskan bahwa Allah Swt. memerintahkan manusia untuk

    bekerja karena Allah akan selalu melihat setiap pekerjaan manusia, tidak terkecuali pada

    Rasul dan orang-orang mukmin. Setiap yang dikerjakan manusia pasti akan

    dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Tuhan mengetahui yang gaib dan yang

    nyata dan Allah akan membalas setiap pekerjaan manusia.

    Dari data tersebut dapat dipahami bahwa Allah senantiasa menyuruh manusia

    untuk bekerja keras karena Allah selalu melihat yang dikerjakan hamba-Nya dan Allah

    pasti akan membalas dengan yang lebih baik setiap pekerjaan manusia selama pekerjaan

    itu bukan yang dilarang-Nya. Indikator guru yang selalu bekerja keras menurut

    Hidayatullah dan Rohmadi (2010:25-30) antara lain bekerja ikhlas dan sungguh-

    sungguh, serta bekerja melebihi target.

  • 56

    Menurut Nursi (2016:30) Ikhlas dalam amal dunia, apalagi akhirat, merupakan

    landasan paling penting, kekuatan paling besar, penolong yang paling bisa diharapkan,

    sandaran yang paling kokoh, jalan paling singkat menuju akhirat, sarana mencapai

    tujuan yang paling mulia, perangai paling utama, serta ibadah yang paling murni. Jadi,

    dapat disimpulkan bahwa kerja keras merupakan kegiatan yang dilakukan dengan

    sungguh-sungguh yang mengutamakan keikhlasan dan kepuasan hati dalam bekerja

    serta tidak berhenti sebelum mencapai target yang diinginkan.

    d. Konsisten

    Konsisten dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah tetap (tidak

    berubah-ubah), taat asas dan ajek (teratur). Guru yang konsisten adalah guru yang

    memiliki kemampuan melakukan sesuatu dengan istikamah, fokus, sabar, ulet, tekun,

    rajin serta melakukan perbaikan yang terus-menerus.

    Terjemahnya: “Dan jika kami rasakan kepad