KAK Budaya Maritim Indonesia[1].doc

  • Published on
    15-Sep-2015

  • View
    6

  • Download
    1

Transcript

<p>LAPORAN AKHIR KEGIATAN</p> <p>KERANGKA ACUAN KERJA</p> <p>(KAK)</p> <p>PNYUSUNAN ATLAS BUDAYA MARITIM INDONESIA</p> <p> (KONTRAK)</p> <p>PUSAT PEMETAAN TATA RUANG DAN ATLAS</p> <p>DEPUTI BIDANG INFORMASI GEOSPASIAL TEMATIK</p> <p>BADAN INFORMASI GEOSPASIAL </p> <p>DIPA Tahun 2015PENDAHULUAN1. Latar BelakangSebagai Negara bahari, Indonesia tidak hanya memiliki satu laut utama atau heart sea, tetapi paling tidak, terdapat tiga laut utama yang membentuk Indonesia sebagai sea system, yaitu Laut Jawa, Laut Flores, dan Laut Banda (Lapian dalam Supangat, 2006). Wilayah Indonesia yang mayoritasnya terdiri dari wilayah perairan (70%) menyebabkan banyak masyarakat Indonesia yang tinggal di wilayah pesisir dan menggantungkanhidupnyadarilaut, maka tidak heran apabila budaya maritim turut melekat padacitrabangsa Indonesia.</p> <p>Awal kegiatan kemaritiman di Indonesia sudah berlangsung sejak jaman prasejarah. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan lukisan perahu yang terlihat pada gua prasejarah yang ditemukan di daerah Sulawesi, Sumatera dan Papua. Lebih lanjut, memasuki awal abad masehi, bangsa Indonesia sudah terlibat secara aktif dalam pelayaran dan perdagangan internasional, yaitu antara dunia Barat (Eropa) dengan dunia Timur (Tiongkok), yang melewati Selat Malaka. Bahkan pada masa itu kerajaan-kerajaan besar berbasis maritim mulai terbentuk antara lain Malaka, Sriwijaya dan Majapahit, menjadikan Nusantara sebagai pusat perdagangan yang sangat berarti karena letak yang strategis sebagai tempat transit para perdagang asing dari luar negeri. </p> <p>Perkembanngan dan kejayaan maritim Kerajaan Sriwijaya dan Tarumanegara yang mampu mengintegrasikan budaya maritim sebagai dasar utama untuk memajukan negaranya harus dijadikan fondasi untuk dapat mengembalikan budaya maritim yang pernah berjaya di bumi Nusantara. Berdasarkan hal tersebut maka penting untuk melakukan integrasimaritim Indonesia sebagai perwujudan identitas nasional bangsa Indonesia. Sebagai identitas nasional, Indonesia mempunyai kekuatan maritim yang melimpah dan mampu untuk memproyeksikan masa depan pembangunan Negara Indonesia. </p> <p>Untuk itu pada tahun Anggaran 2015, Pusat Pemetaan Tata Ruang dan Atlas, Badan Informasi Geospasial (BIG) menyelenggarakan kegiatan Pembuatan Atlas Budaya Maritim Indonesia yang diharapkan dapat merangkum informasi yang komprehensif dan menjadi salah satu sumber referensi spasial yang berguna untuk masyarakat Indonesia yang ingin mempelajari perkembangan budaya maritim Indonesia. Analisis dari integrasi data beberapa sektor juga diharapkan dapat memberikan gambaran dan masukan dalam menyusun kebijakan untuk perlindungan dan pelestarian budaya maritim sebagai identitas bangsa dalam rangka menjaga kedaulatan maritim nasional. Selain itu dari segi pembangunan negara diharapkan negara dapat mengembangkan potensi ekonomi berbasis maritim serta meningkatkan pembangunan infrastruktur yang dapat mendukung pertumbuhan sektor industri kelautan yang lebih signifikan mengingat potensi kelautan Indonesia begitu besar. 2. Maksud dan Tujuan Maksud dari kegiatan ini ialah menyajikan informasi geospasial terpadu di bidang budaya, khususnya budaya maritim Indonesia, pada level nasional dengan format dokumen atlas untuk memberikan kemudahan akses informasi geospasial bagi seluruh warga negara dan juga bagi pemangku kepentingan.</p> <p>Tujuan dari kegiatan ini ialah:a) Melakukan pengumpulan informasi non spasial dan geospasial tematik mengenai budaya maritim Indonesia;b) Memberikan gambaran mengenai perkembangan budaya maritim berdasarkan analisis dari beberapa variabel atau aspek terkait;c) Menyajikan informasi geospasial terpadu di bidang budaya maritim yang mencakup sejarah, kondisi geografi dan ekologi, perkembangan teknologi maritim dan sistem sosial ekonomi budaya masyarakat maritim pada level nasional dengan format dokumen atlas untuk memberikan kemudahan akses informasi geospasial bagi seluruh warga negara dan juga bagi pemangku kepentingan. 3. Sasaran Kegiatan</p> <p> Tersedianya informasi non spasial dan geospasial tematik mengenai budaya maritim Indonesia yang disajikan dalam bentuk atlas.</p> <p> Tersedianya database mengenai budaya maritim Indonesia yang sudah memanfaatkan aplikasi sistem informasi geografis.4. Ruang Lingkup</p> <p>Kegiatan ini mecakup lokasi-lokasi pusat persebaran budaya maritim di Indonesia pada level nasional.5. Metodologi</p> <p>Penyelenggaraan informasi geospasial sosial budaya berdimensi kewilayahan, dapat dilakukan dengan melakukan spasialisasi data-data non spasial sosial, ekonomi dan budaya menjadi informasi geospasial tematik sosial, ekonomi dan budaya. Adapun tahapan proses kerja dalam penyusunan atlas budaya maritim Indonesia adalah sebagai berikut: a. Persiapan</p> <p>Tahapan persiapan terdiri atas beberapa tahapan awal yang terkait penyiapan material pendukung pelaksanaan kegiatan (alat tulis kantor dan bahan komputer), penyusunan tim kerja, penyusunan rencana isi buku, dan koordinasi internal.</p> <p>b. Pengumpulan Data</p> <p>Data yang dibutuhkan untuk penyusunan atlas ini berasal dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dengan wawancara dengan narasumber serta kunjungan dan koordinasi ke beberapa lokasi pusat perkembangan budaya maritim di Indonesia. Di sisi lain, data sekunder dikumpulkan melalui beberapa instansi terkait baik di pusat dan di daerah.c. Pengolahan Data</p> <p>Data yang telah terkumpul selanjutnya diolah dengan mekanisme yang berbeda-beda. Foto-foto akan diolah untuk mempertajam kualitas tampilan dengan menggunakan Adobe Photoshop sedangkan narasi akan disusun sedemikian rupa sehingga tersusun bahasa yang menarik dan mudah dimengerti. Narasi akan dibuat dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris). Peta-peta juga ditampilkan untuk memudahkan pemahaman pembaca secara spasial.</p> <p>d. Layout Atlas</p> <p>Pada tahapan ini, data yang telah selesai diolah akan disusun menurut tata letak tertentu agar menghasilkan tampilan yang menarik dan tidak monoton. Dalam tahapan ini akan dilibatkan pihak desain grafis untuk menangani tata letak dan desain cover (dalam dan luar).</p> <p>e. Finalisasi</p> <p>Finalisasi mencakup proses revisi dan kontrol kualitas atas produk yang dihasilkan. Kegiatan ini diperlukan untuk meminimalisasi kesalahan yang muncul dalam atlas.</p> <p>6. Keluaran yang DiharapkanBeberapa keluaran yang diharapkan dari kegiatan ini:</p> <p> Album peta/dokumen berisi peta dan deskripsi:</p> <p> Sejarah Pelayaran dan Awal Perkembangan Budaya Maritim di Nusantara Kondisi geografi dan ekologi maritim di Indonesia (Potensi SDA Laut &amp; Pesisir Nusantara) Perkembangan teknologi maritim dan navigasi Budaya maritim berdasarkan kearifan lokal masyarakat Persebaran Suku-suku Laut di Indonesia Sistem Sosial Ekonomi Masyarakat Maritim</p> <p> Pemanfaatan dan Pengelolaan SDA Laut dan Pesisir Masyarakat Hukum dan Institusi adat maritim Hasil-Hasil Kesenian dari Budaya Maritim Potensi Pariwisata Budaya MaritimNb: Tema dari berbagai bidang dapat menyesuaikan sesuai hasil kajian dan temuan-temuan baru dilapangan. Basis Data Geospasial (Geodatabase) format sesuai dengan Feature Data Set (FDS) BIG Laporan, terdiri dari:</p> <p> Laporan Pendahuluan Laporan Antara Laporan Akhir</p> <p>7. Kebutuhan Tenaga Ahli</p> <p>Untuk mendukung tercapainya hasil yang diharapkan diperlukan tenaga ahli yang handal. Kebutuhan tenaga ahli adalah sebagai berikut:NoUraianVolume</p> <p>1Team Leader (Ahli Geografi/ kebumian) (S1/5 tahun)6 OB</p> <p>2Ahli Sosial Antropologi (S1/4 tahun)6 OB</p> <p>3Ahli Kelautan (S1/4 tahun)6 OB</p> <p>4Ahli/ Programmer GIS (S1/3 tahun)5 OB</p> <p>5Ahli Desain Grafis (D3/3 tahun)4 OB</p> <p>6Tenaga Administrasi 6 OB</p> <p>7Operator Komputer6 OB</p> <p>a. Ketua Tim Pelaksana </p> <p>Adalah seorang sarjana min S1 di bidang ilmu Geografi/Kebumian yang berpengalaman sebagai Ketua Tim Pelaksana selama 5 tahun dan memiliki pengalaman serta pengetahuan yang memadai tentang pemetaan sosial/budaya berdimensi kewilayahan. Ketua Tim Pelaksana secara spesifik melaksanakan tugas-tugas antara lain :</p> <p> Membuat laporan awal, laporan bulanan dan laporan akhir.</p> <p> Menyusun metodologi pekerjaan yang akan dilakukan</p> <p> Mengidentifikasi kebutuhan data awal pekerjaan yang akan dilakukan </p> <p> Melakukan koordinasi dengan instansi terkait dan review data.</p> <p>b. Ahli Sosial BudayaAdalah seorang sarjana min S1 di bidang ilmu Sosial Budaya yang berpengalaman sebagai koordinator selama 4 tahun dan memiliki pengalaman serta pengetahuan tentang perkembangan sosial budaya Indonesia, terutama budaya maritim.</p> <p>c. Ahli Kelautan </p> <p>Adalah seorang sarjana min S1 di bidang kelautan yang berpengalaman di bidangnya selama minimal 4 tahun dan memiliki pengalaman serta pengetahuan tentang kondisi kelautan Indonesia.</p> <p>d. Ahli GIS Tim Ahli yang terdiri dari ahli GIS dan Kartografi yang berpengalaman dalam kegiatan yang sesuai dengan keahliannya selama 3 tahun. Tim ahli melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan bidang keahliannya dalam menyusun pemetaan budaya.e. Desain Grafis Adalah seorang min D3 ilmu design grafis berpengalaman dalam bidangnya selama 3 tahun atau dan memiliki pengalaman serta pengetahuan yang memadai tentang design grafis.</p> <p>8. Waktu PelaksanaanKegiatan ini merupakan kegiatan untuk tahun anggaran 2015 dengan jangka waktu pelaksanaan 6 (enam) bulan.9. Hasil yang Harus Diserahkan1. Dokumen Atlas berisi peta dan deskripsinya di bidang berikut: Sejarah Pelayaran dan Awal Perkembangan Budaya Maritim di Nusantara</p> <p> Kondisi geografi dan ekologi maritim di Indonesia </p> <p> Perkembangan teknologi maritim dan navigasi</p> <p> Budaya maritim berdasarkan kearifan lokal masyarakat</p> <p> Sistem Sosial Budaya Masyarakat Maritim</p> <p> Pemanfaatan dan Pengelolaan SDA Laut dan Pesisir </p> <p> Hukum dan Institusi adat maritim</p> <p> Persebaran Suku-suku Laut di Indonesia Hasil-hasil kesenian dari budaya maritim</p> <p>Nb: Tema dari berbagai bidang dapat menyesuaikan sesuai hasil kajian dan temuan-temuan baru dilapangan.Dokumen Atlas dicetak dalam format A4 sebanyak 5 eksemplar dengan menyesuaikan tingkat kerumitan data dan skala. </p> <p>2. Basis Data Geospasial (Geodatabase) format sesuai dengan FDS BIG.3. Laporan, terdiri dari:</p> <p> Laporan Pendahuluan;</p> <p>Laporan Pendahuluan dibuat sebanyak 5 (lima) eksemplar, ukuran kertas A4 dan diserahkan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah dikeluarkan SPMK, dengan isi sesuai lingkup pekerjaan dalam Tahap Pendahuluan, kemudian dilakukan diskusi/pembahasan. Laporan Antara</p> <p>Laporan Antara dibuat sebanyak 5 (lima) eksemplar, ukuran kertas A4 dan diserahkan selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah dikeluarkan SPMK, dengan isi sesuai lingkup pekerjaan dalam Tahap Laporan Akhir.</p> <p> Laporan Akhir</p> <p>Laporan Akhir dibuat sebanyak 5 (lima) eksemplar, ukuran kertas A4 dan diserahkan selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah dikeluarkan SPMK, dengan isi sesuai lingkup pekerjaan dalam Tahap Laporan Akhir.</p> <p>10. Kepemilikan dan Hak Cipta Data Dan Hasil PekerjaanKepemilikan dan hak cipta data dan hasil kegiatan dari pekerjaan Atlas Budaya Maritim Indonesia adalah BIG (Badan Informasi Geospasial).MengetahuiPusat Pemetaan Tata Ruang dan Atlas Kepala,Dr. Suprajaka, M.T. </p> <p>NIP. 19640929 199103 1 004</p> <p>Cibinong, Desember 2014PPK Deputi Bidang IGT</p> <p>....................................</p>

Recommended

View more >