of 18/18
5 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Peran Orang Tua Dalam Membimbing Anak Belajar di Rumah Belajar bagi seorang siswa tidak hanya dilakukan di sekolah saja, tetapi juga dilakukan di rumah dan di masyarakat. Belajar yang dilakukan di rumah meliputi melengkapi catatan, mempelajari ulang bahan yang telah di dapat, meringkas bahan pelajaran, mengerjakan pekerjaan rumah dan mempersiapkan bahan pelajaran hari berikutnya. Membimbing dalam arti memberi bimbingan (guidance) menurut Slameto (1995) yaitu “ membimbing individu agar dapat mengatur hidupnya sendiri, mengembangkan pendapat sendiri, mengambil keputusan-keputusan yang dihadapi, dan memikul bebannya sendiri”. Orang tua dapat membimbing, mengarahkan anak untuk hidup mandiri sesuai dengan potensi yang ada seoptimal mungkin, sebatas pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya. Menurut Nasution (1985: 26), Peran orang tua dalam membimbing anak belajar di rumah mengatasi masalah-masalah dalam belajar, memantau jadwal anak baik jadwal sekolah dan dirumah, memperhatikan kesehatan anak dan memberikan hadiah maupun peringatan. Orang tua dapat memperhatikan dan mengawasi pendidikan anak melalui melatih dan mendorong anak untuk hidup mandiri sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya, misalnya memupuk rasa percaya diri dan berani mengatasi berbagai masalah yang muncul dalam dirinya Orang tua perlu memperhatikan dan mengawasi pendidikan anaknya, sebab tanpa adanya perhatian dan pengawasan yang berkelanjutan dari orang tuanya, pendidikan anak tidak dapat berjalan dengan lancar. Memperhatikan dan mengawasi pendidikan anak dipahami sebagai upaya komunikasi orang tua dengan anak berupa memberi pertanyaan, memberi perintah/larangan, mendengarkan jawaban, yang dimaksudkan sebagai penguat disiplin belajar sehingga pendidikan anak tidak terbengkalai. Hal ini perlu dilakukan karena anak lebih lama di rumah daripada di sekolah dan di tempat lainnya. Membiarkan anak

kajian tentang peran orang tua dalam mendampingi anak saat ujian sekolah

  • View
    9

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

wawasan untuk orang tua dalam mendampingi anak saat ujian sekolah

Text of kajian tentang peran orang tua dalam mendampingi anak saat ujian sekolah

  • 5

    BAB II

    KAJIAN PUSTAKA

    2.1 Kajian Teori

    2.1.1 Peran Orang Tua Dalam Membimbing Anak Belajar di Rumah

    Belajar bagi seorang siswa tidak hanya dilakukan di sekolah saja, tetapi juga

    dilakukan di rumah dan di masyarakat. Belajar yang dilakukan di rumah meliputi

    melengkapi catatan, mempelajari ulang bahan yang telah di dapat, meringkas

    bahan pelajaran, mengerjakan pekerjaan rumah dan mempersiapkan bahan

    pelajaran hari berikutnya.

    Membimbing dalam arti memberi bimbingan (guidance) menurut Slameto

    (1995) yaitu membimbing individu agar dapat mengatur hidupnya sendiri,

    mengembangkan pendapat sendiri, mengambil keputusan-keputusan yang

    dihadapi, dan memikul bebannya sendiri. Orang tua dapat membimbing,

    mengarahkan anak untuk hidup mandiri sesuai dengan potensi yang ada seoptimal

    mungkin, sebatas pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya.

    Menurut Nasution (1985: 26), Peran orang tua dalam membimbing anak

    belajar di rumah mengatasi masalah-masalah dalam belajar, memantau jadwal

    anak baik jadwal sekolah dan dirumah, memperhatikan kesehatan anak dan

    memberikan hadiah maupun peringatan. Orang tua dapat memperhatikan dan

    mengawasi pendidikan anak melalui melatih dan mendorong anak untuk hidup

    mandiri sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya, misalnya memupuk rasa

    percaya diri dan berani mengatasi berbagai masalah yang muncul dalam dirinya

    Orang tua perlu memperhatikan dan mengawasi pendidikan anaknya,

    sebab tanpa adanya perhatian dan pengawasan yang berkelanjutan dari orang

    tuanya, pendidikan anak tidak dapat berjalan dengan lancar. Memperhatikan dan

    mengawasi pendidikan anak dipahami sebagai upaya komunikasi orang tua

    dengan anak berupa memberi pertanyaan, memberi perintah/larangan,

    mendengarkan jawaban, yang dimaksudkan sebagai penguat disiplin belajar

    sehingga pendidikan anak tidak terbengkalai. Hal ini perlu dilakukan karena anak

    lebih lama di rumah daripada di sekolah dan di tempat lainnya. Membiarkan anak

  • 6

    tumbuh dan berkembang secara liar, akan menjadikan anak tersebut sulit

    diatur/dan dikendalikan oleh orang tuanya, sehingga kelak mengalami masa depan

    yang tidak menggembirakan.

    Menurut Stainback dan Susan (1999: 30), Peran orang tua dalam

    membimbing anak belajar di rumah berarti membantu perkembangan sikap, nilai,

    kebiasaan dan keterampilan yang mendorong keberhasilan siswa melalui

    kesediaan orang tua untuk memotivasi anak sehingga berprestasi dalam belajar.

    Dalam hal memotivasi anak agar berprestasi, orang tua dapat menumbuhkan

    motivasi anaknya dengan cara menghargai prestasi anak, memberikan hukuman

    untuk anak-anaknya yang mendapatkan nilai buruk dan hukuman ini sifatnya

    harus mendidik, menyediakan fasilitas belajar yang cukup, dan orang tua harus

    bersedia melibatkan diri dalam belajar anak.

    Menurut Grant Martin (2000: 25), Peran orang tua dalam membimbing

    anak belajar di rumah yaitu orang tua harus bersedia menjadi pendengar aktif,

    membantu anak menyusun jadwal dan pelaksanaannya, memperhatikan kondisi

    fisik terutama kesehatan anak, menperhatikan kondisi psikis anak dengan

    memberikan hadiah maupun peringatan, dapat mengenali dan mengembangkan

    gaya belajar anak. Hal ini orang tua mempunyai tanggung jawab untuk

    memperhatikan dan membantu anak dalam mengatasi masalah-masalah yang

    menghambat belajarnya.

    Berdasarkan pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa peran

    orang tua dalam membimbing anak belajar di rumah berarti kegiatan orang tua

    dalam memperhatikan dan mengawasi pendidikan anak melalui memotivasi anak

    untuk berprestasi dalam belajar, memperhatikan dan mengatasi masalah-masalah

    yang menghambat dalam belajar anak, mengenali dan mengembangkan gaya

    belajar anak.

  • 7

    1. Memotivasi Anak Untuk Berprestasi Dalam Belajar

    Unsur penting yang harus ada agar anak memperoleh prestasi belajar yang

    optimal ialah motivasi belajar. Menurut Winkle (1991 : 39) motivasi belajar

    adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan

    kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang

    memberikan arah pada kegiatan belajar itu, maka tujuan yang dikehendaki oleh

    siswa tercapai. Menurut Prayitno (1989: 13) Motivasi belajar merupakan suatu

    energi yang menggerakkan aktifitas siswa kepada tujuan belajar. Menurut Kasijan

    (Yuni Wijayanti, 2001: 13) motivasi belajar adalah dorongan yang dibentuk oleh

    pengalaman-pengalaman yang mengarahkan seseorang untuk belajar.

    Berdasarkan pendapat para ahli, dapat disimpulkan pengertian motivasi

    belajar adalah faktor psikis yang bersifat non intelektual. Peranannya yang khas

    ialah dalam hal gairah atau semangat belajar, siswa yang termotivasi kuat akan

    mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar

    Orang tua dapat membimbing untuk menumbuhkan atau membangkitkan

    motivasi belajar pada diri anak secara berkelanjutan sesuai dengan situasi dan

    kondisi anak pada saat itu. Melalui kesediaan orang tua untuk memotivasi anak,

    diharapkan anak tersebut memiliki kemandirian dalam belajar dan berupaya atau

    berinisiatif serta bertanggung jawab terhadap tugas-tugas belajar. Anak-anak yang

    dirinya termotivasi meyakini bahwa yang menentukan keberhasilan maupun

    kegagalan di sekolah adalah kerja keras. Berani kerja keras akan meningkatkan

    hasil belajar, sedangkan malas dalam belajar bisa menyebabkan hasil belajar

    menurun.

    Ada beberapa peranan orang tua untuk menumbuhkan motivasi belajar

    anak melalui:

    a. Menghargai prestasi anak. Hal ini akan sangat memacu anak untuk lebih

    giat dalam berprestasi, dan bagi anak yang belum berprestasi akan

    termotivasi untuk mengejar atau bahkan mengungguli anak yang telah

    berprestasi disekolahnya, baik dalam akademik maupun non akademik.

    Hadiah deberikan untuk memberikan rasa senang kepada anak, sebab

    merasa dihargai karena prestasinya yang baik.

  • 8

    b. Memberikan peringatan pada anak. Peringatan ini berupa hukuman,

    hukuman ini diberikan dengan harapan agar anak tersebut mau merubah

    diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya. Hukuman di sini hendaknya

    yang mendidik, seperti menghafal, mengerjakan soal, ataupun membuat

    rangkuaman. Hendaknya jangan yang bersifat fisik, seperti dipukul atau

    dicubit.

    c. Menyediakan fasilitas belajar yang cukup sehingga anak belajar dengan

    maksimal.

    d. Bersedia melibatkan diri dalam belajar anak. Hal ini dilakukan dengan cara

    mendampingi anak saat belajar, memberi pengarahan, peringatan, dan

    melakukan kontrol atas aktivitas anak, memberi dukungan kepada anak,

    memberi penghargaan terhadap anak, menjadi teladan bagi anak-anak.

    2. Memperhatikan dan Mengatasi Masalah-Masalah Yang Menghambat

    Belajar Anak

    Dalam hidupnya, semua anak pernah menghadapi situasi yang

    membuatnya kecewa, sakit hati, hancur, takut, stres. Hal tersebut dapat terjadi

    karena masalah dengan teman, adik/kakak, orang tua, guru, lingkungan, atau

    masalah dengan dirinya sendiri. Orang tau berkewajiban dan bertanggung

    jawab membimbing anak dalam menghadapi masalahnya, walaupun masalah

    tersebut bukan masalah orang tau, anaklah yang memiliki masalah.

    Menurut Gordon (1983: 25), mengatakan anak-anak yang mendapat

    bantuan untuk mengatasi masalah-masalahnya dapat mempertahankan

    kesehatan psikologis merakan dan merasa lebih kuat serta lebih percaya diri.

    Anak-anak yang tidak memperoleh bantuan, akan mengidap masalah-masalah

    emosional yang terus berkembang. Orang tua perlu membimbing anaknya

    yang sedang mengalami masalah-masalah tertentu. Jika masalah anak tidak

    segera ditolong, perilaku anak yang mempunyai masalah tersebut akan

    mengganggu orang tua, akhirnya masalah anak bisa menjadi masalah orang

    tua.

  • 9

    Orang tua perlu mengetahui bahwa anaknya sedang menghadapi masalah,

    maka orang tua perlu mengamati perilakunya apakah ia sering melamun, sulit

    memusatkan perhatian, tidak bergairah, kepala sering pusing, dan menjadi rendah

    diri. Orang tua dapat membimbing anaknya yang sedang mengalami masalah

    melalui:

    a. Bersedia menjadi pendengar aktif ketika anak sedang mengalami masalah.

    b. Memantau jadwal yang telah tersusun baik jadwal sekolah maupun jadwal

    dirumah.

    c. Memperhatikan kondisi fisik anak dengan memperhatikan kesehatan anak.

    d. Memperhatikan kondisi psikis anak dengan memberikan hadiah maupun

    peringatan.

    3. Mengenali dan Mengembangkan Gaya Belajar Anak

    Setiap individu tidak hanya belajar dengan kecepatan yang berbeda tetapi

    juga memproses informasi dengan cara yang berbeda. Cara memproses informasi

    yang diperoleh dikenal dengan istilah gaya belajar.

    Menurut De Porter dan Mike (1999: 24), gaya belajar seseorang adalah

    kombinasi dari bagaimana ia menyerap dan bagaimana ia mengatur serta

    mengolah informasi yang merupakan proses kerja internal saraf-saraf otak.

    Seseorang menyerap informasi yang diterima melalui apa yang dilihat, didengar,

    dan disentuh atau diraba, ketiga cara menyerapa informasi itu disebut modalitas

    belajar. Tentang bagaimana seseorang mengatur dan mengolah informasi yang

    merupakan proses kerja internal saraf otak, tidak dapat diamati oleh siapapun.

    Selanjutnya De Porter dan Mike (1999: 25) mengemukakan bahwa, gaya

    belajar seseorang adalah kunci untuk mengembangkan kinerja dalam pekerjaan di

    sekolah dan dalam situasi-situasi antar pribadi. Hal ini berarti jika seseorang akrab

    dengan gaya belajarnya sendiri, maka ia dapat mengambil langkah-langkah

    penting untuk membantu diri sendiri belajar lebih cepat dan mudah.

    Menurut DePorter dan Hernacki (2002: 20), gaya belajar adalah kombinasi

    dari menyerap, mengatur, dan mengolah informasi. Terdapat tiga jenis gaya

    belajar berdasarkan modalitas yang digunakan individu dalam memproses

    informasi (perceptual modality). Ketiga gaya belajar tersebut adalah gaya belajar

  • 10

    Visual (belajar dengan cara melihat), Auditory (belajar dengan cara mendengar),

    dan Kinesthetic (belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh).

    Berdasarkan pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan gaya belajar

    adalah kombinasi dari bagaimana anak dapat menyerap dan mengatur serta

    mengolah informasi sebagai kunci untuk mengembangkan kinerja dalam

    pekerjaan di sekolah dan siswa dapat menyerap informasi yang diterima melalui

    apa yang dilihat, didengar dan disentuh/diraba. Ketiga cara menyerap tersebut

    disebut modalitas. Modalitas tersebut di kelompokkan menjadi 3 karakteristik

    belajar yaitu karakteristik belajar visual, karakteristik belajar auditorial dan

    karakteristik belajar kinestetik.

    Orang tua perlu mengetahui karakter belajar anak di rumah baik karakter

    belajar visual, auditorial, maupun kinestetik. Adapun karakter belajar anak

    dirumah adalah sebagai berikut :

    a. Karakteristik belajar visual antara lain : mementingkan penampilan

    (keindahan/kerapihan tulisan), berbicara dengan cepat, pembaca cepat dan

    tekun, mencoret-coret tanpa arti ketika belajar di kelas maupun berbicara di

    telepon.

    b. Karakteristik belajar auditorial antara lain : suka berbicara sendiri, mudah

    terganggu oleh keributan, lebih suka berbicara daripada menulis, dan senang

    membaca dengan keras.

    c. Karakteristik belajar kinestetik antara lain : berpikir lebih baik ketika

    bergerak atau berjalan, banyak menggerakkan anggota tubuh ketika

    berbicara, dan merasa sulit untuk diam.

    Setelah mengetahui karakter belajar anak di rumah, orang tua dapat

    membimbing anaknya untuk mengembangkan gaya belajarnya melalui :

    a. Memeriksa hasil belajar disekolah

    b. Membantu belajar anak untuk menghadapi ulangan/tes

    c. Mengingatkan anak akan tugas-tugas/pekerjaan rumahnya.

  • 11

    2.2 Hasil Belajar

    Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa

    setelah menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2004 : 22). ). Kemampuan-

    kemampuan yang dimiliki tiap siswa tentu berbeda karena pengalaman belajar

    yang dialami antara siswa satu dengan siswa lain juga berbeda. Aspek

    perubahan itu mengacu kepada taksonomi tujuan pengajaran yang

    dikembangkan oleh Bloom, Simpson dan Harrow yang mencakup aspek

    kognitif, afektif dan psikomotorik (Winkel dalam Purwanto, 2008:45).

    Menurut Purwanto (2008: 46) hasil belajar adalah perubahan perilaku siswa

    akibat belajar. Perubahan perilaku disebabkan karena dia mencapai penguasaan

    atas sejumlah bahan yang diberikan dalam proses belajar mengajar. Pencapaian

    itu didasarkan atas tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Hasil itu dapat

    berupa perubahan dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

    Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999: 44), hasil belajar merupakan hal

    yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi

    siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik

    bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental

    tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

    Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesikannya bahan

    pelajaran. Klasifikasi hasil belajar menurut Bloom dalam Agus Suprijono

    (2009: 6) secara garis besar membagi menjadi 3 ranah, yakni ranah kognitif,

    ranah afektif, dan ranah psikomotoris.

    1. Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual.

    2. Ranah afektif, berkenaan dengan sikap.

    3. Ranah psikomotorik, berkenaan dengan hasil belajar keterampilan

    dan kemampuan bertindak.

    Berdasarkan pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa hasil

    belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa yang mencakup aspek kognitif,

    afektif dan psikomotorik.

  • 12

    Keberhasilan tingkat perkembangan dapat diukur dan dinilai berdasarkan

    evaluasi hasil belajar siswa. Nilai-nilai tersebut dapat dibandingkan dengan nilai-

    nilai peserta lain atau dibandingkan dengan nilai standar tertentu. Evaluasi hasil

    belajar dimulai dengan mengukur apakah siswa sudah menguasai ilmu yang

    dipelajari atas bimbingan guru sesuai dengan tujuan yang rumuskan. Kemudian

    guru akan memberikan penilaian terhadap siswa berdasarkan pengukuran dari

    kriteria tertentu.

    Hal tersebut sejalan dengan Sudjana (2011: 1) yang mengungkapkan

    bahwa lingkup sasaran penilaian mencakup tiga sasaran pokok, yakni (a) program

    pendidikan, (b) proses belajar mengajar, dan (c) hasil belajar. Penilaian program

    pendidikan atau penilaian kurikulum menyangkut penilaian terhadap tujuan

    pendidikan, isi program, strategi pelaksanaan program, dan sarana pendidikan.

    Penilaian proses belajar mengajar menyangkut penilaian terhadap kegiatan guru,

    kegiatan siswa, pola interaksi guru-siswa, dan keterlaksanaan program belajar

    mengajar. Sedangkan penilaian hasil belajar menyangkut hasil belajar jangka

    pendek dan hasil belajar jangka panjang. Dalam penelitian ini, pembahasan

    dibatasi pada penilaian hasil belajar dan penilaian proses belajar mengajar.

    Penilaian program pendidikan sama sekali tidak dibahas sebab penelitian ini

    hanya fokus pada strategi pembelajaran yaitu strategi pembelajaran inkuiri.

    Penilaian proses dan hasil belajar saling berkaitan satu sama lain sebab hasil

    merupakan akibat dari proses.

    Menurut Arikunto (2009: 25) evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data

    untuk mengukur sejauh mana tujuan sudah tercapai. Selain mengacu pada tujuan,

    evaluasi juga harus mengacu atau disesuaikan dengan kegiatan belajar yang

    dilaksanakan. Untuk memperoleh data evaluasi pembelajaran dalam penelitian

    perlu dilakukan kegiatan pengumpulan data dan pengukuran. Peneliti sering

    menggunakan beberapa macam cara (teknik) dan alat (instrument) pengumpulan

    data agar dapat saling melengkapi, sehingga kelemahan yang terdapat pada salah

    satu alat pengumpul data dapat diatasi oleh alat pengumpul data yang lain.

  • 13

    Teknik pengukuran dibedakan menjadi dua yaitu tes dan nontes.

    1. Tes

    Tes adalah seperangkat pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk

    memperoleh informasi tentang trait atau sifat atau atribut pendidikan yang

    setiap butir pertanyaan tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang

    dianggap benar (Suryanto Adi, dkk., 2009). Tes adalah salah satu contoh

    instrumen atau alat pengukuran yang paling banyak dipergunakan untuk

    mengetahui kemampuan intelektual seseorang. Menurut Allen dan Yen 1979:

    2.5)

    Trait pendidikan meliputi keterampilan, pengetahuan, kecerdasan,

    kemampuan, atau bakat sesesorang atau kelompok. Berdasarkan definisi

    tersebut, dapat dijelaskan bahwa tes merupakan informasi yang berbentuk

    pertanyaan atau tugas/latihan, dipergunakan untuk mengukur kemampuan yang

    ada pada seseorang atau sekelompok orang. Sebagai alat ukur dalam bentuk

    pertanyaan, maka tes harus dapat memberikan informasi mengenai

    pengetahuan dan kemampuan objek yang diukur. Sedangkan sebagai alat ukur

    berupa tugas/latihan, maka tes harus dapat mengungkap keterampilan dan

    bakat seseorang atau sekelompok orang.

    Tes merupakan alat ukur yang standar dan objektif sehingga dapat

    digunakan secara meluas untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis

    atau tingkah laku individu. Dengan demikian berarti sudah dapat dipastikan

    akan mampu memberikan informasi yang tepat dan objektif tentang objek yang

    hendak diukur baik berupa psikis maupun tingkah lakunya, sekaligus dapat

    membandingkan antara seseorang dengan orang lain. Jadi dapat disimpulkan

    bahwa tes adalah suatu cara atau alat untuk mengadakan penilaian yang

    berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh

    peserta didik atau sekelompok peserta didik, sehingga menghasilkan nilai

    tentang tingkah laku atau prestasi peserta didik tersebut. Prestasi atau tingkah

    laku tersebut dapat menunjukkan tingkat pencapaian kompetensi/tujuan

    pembelajaran atau tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi yang telah

  • 14

    diberikan dalam proses pembelajaran, dan dapat pula menunjukkan kedudukan

    peserta didik yang bersangkutan dalam kelompoknya.

    Dalam kaitan dengan rumusan tersebut, sebagai alat asesmen hasil

    belajar, tes minimal mempunyai dua fungsi, yaitu untuk:

    1) Mengukur tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi atau tingkat

    pencapaian terhadap seperangkat tujuan tertentu.

    2) Menentukan kedudukan atau perangkat peserta didik dalam kelompok,

    tentang penguasaan materi atau pencapaian tujuan pembelajaran tertentu.

    Fungsi satu lebih dititik-beratkan untuk mengukur keberhasilan

    program pembelajaran, sedang fungsi dua lebih dititikberatkan untuk mengukur

    keberhasilan belajar masing-masing individu peserta tes. Dilihat dari tujuannya

    dalam bidang pendidikan, tes dapat dibagi menjadi:

    a. Tes Kecepatan (Speed Test) Tes ini bertujuan untuk mengases peserta tes

    (testi) dalam hal kecepatan berpikir atau keterampilan, baik yang bersifat

    spontanitas (logik) maupun hafalan dan pemahaman dalam mata pelajaran

    yang telah dipelajarinya. Waktu yang disediakan untuk menjawab atau

    menyelesaikan seluruh materi tes ini relatif singkat dibandingkan dengan tes

    lainnya, sebab yang lebih diutamakan adalah waktu yang minimal dan dapat

    mengerjakan tes itu sebanyak-banyaknya dengan baik dan benar, cepat dan

    tepat penyelesaiannya. Tes yang termasuk kategori tes kecepatan misalnya

    tes intelegensi dan tes keterampilan bongkar pasang suatu alat.

    b. Tes Kemampuan (Power Test) relatif sukar karena menyangkut berbagai

    konsep dan pemecahan masalah serta menuntut peserta tes untuk berfikir

    pada level yang tinggi yakni menerapkan (apply), menganalisis (analyse),

    mengevaluasi (evaluate), dan membuat (create).

    c. Tes Hasil Belajar (Achievement Test) Tes ini dimaksudkan untuk mengases

    hal yang telah diperoleh dalam suatu kegiatan seperti Tes Hasil Belajar

    (THB), tes harian (formatif) dan tes akhir semester (sumatif). Tes ini

    bertujuan untuk mengases hasil belajar setelah mengikuti kegiatan

    pembelajaran dalam suatu kurun waktu tertentu.

  • 15

    d. Tes Kemajuan Belajar (Gains/Achievement Test) Tes kemajuan belajar

    disebut juga dengan tes perolehan. Tes ini dimaksudkan untuk mengetahui

    kondisi awal testi sebelum pembelajaran dan kondisi akhir testi setelah

    pembelajaran. Untuk mengetahui kondisi awal testi digunakan pre-tes dan

    kondisi akhir testi digunakan post-tes.

    e. Tes Diagnostik (Diagnostic Test) Tes diagnostik adalah tes yang

    dilaksanakan untuk mendiagnosis atau mengidentifikasi kesukaran-

    kesukaran dalam belajar, mendeteksi faktor-faktor yang menyebabkan

    terjadinya kesukaran belajar, dan menetapkan cara mengatasi kesukaran

    atau kesulitan belajar tersebut, seperti tes diagnostik matematika, tes

    diagnostik IPA.

    f. Tes Formatif Tes formatif adalah tes hasil belajar yang digunakan untuk

    mengetahui sejauh mana kemajuan belajar yang telah dicapai oleh peserta

    didik dalam suatu program pembelajaran tertentu seperti tes harian,

    ulangan harian.

    g. Tes Sumatif Istilah sumatif berasal dari kata sum yang berarti jumlah.

    Dengan demikian tes sumatif berarti tes yang ditujukan untuk mengetahui

    penguasaan peserta didik terhadap sekumpulan materi pelajaran (pokok

    bahasan) yang telah dipelajari, seperti UAN (Ujian Akhir Nasional), THB.

    Dilihat dari jawaban peserta didik yang dituntut dalam menjawab atau

    memecahkan persoalan yang dihadapinya, maka tes hasil belajar dapat dibagi

    menjadi 3 jenis yakni tes lisan (oral test), tes tertulis (written test), dan tes

    tindakan atau perbuatan (performance test). Penggunaan setiap jenis tes

    tersebut seyogyanya disesuaikan dengan kawasan (domain) perilaku peserta

    didik yang hendak diukur. Misalnya tes tertulis atau tes lisan dapat digunakan

    untuk mengukur kawasan kognitif, sedangkan kawasan psikomotorik cocok

    dan tepat apabila diukur dengan tes tindakan, dan kawasan afektif biasanya

    diukur dengan skala perilaku, seperti skala sikap.

    2. Non Tes

    Jika tes adalah seperangkat pertanyaan yang memiliki jawaban benar

    atau salah, teknik non-tes berisi pertanyaan atau pernyataan yang tidak

  • 16

    memiliki jawaban benar atau salah. Instrumen non-tes dapat berbentuk

    kuesioner atau inventori. Kuesioner berisi sejumlah pertanyaan atau

    pernyataan, peserta didik diminta menjawab atau memberikan pendapat

    terhadap pernyataan. Inventori merupakan instrumen yang berisi tentang

    laporan diri yaitu keadaan peserta didik, misalnya potensi peserta didik. Hasil

    pengukuran melalui instrument non tes berupa angka disebut kuantitatif dan

    bukan berupa angka seperti pernyataan sangat baik, baik, cukup, kurang, sangat

    kurang, dan sebagainya disebut kualitatif.

    Teknik nontes sangat penting dalam mengases peserta didik pada ranah

    afektif dan psikomotor, berbeda dengan teknik tes yang lebih menekankan

    pada aspek kognitif. Ada beberapa macam teknik nontes, beberapa di antaranya

    seperti unjuk kerja (performance), penugasan (proyek), tugas individu, tugas

    kelompok, laporan, ujian praktik dan portofolio

    Berdasarkan penjelasan mengenai macam-macam tes, penelitian ini

    menggunakan tes sumatif untuk mengukur hasil belajar yang dilaksanakan

    pada tengah semester.

    Hasil belajar ditunjukkan dengan skor atau angka yang menunjukkan

    nilai-nilai dari sejumlah mata pelajaran yang menggambarkan pengetahuan dan

    ketrampilan yang diperoleh siswa, serta untuk dapat memperoleh nilai

    digunakan tes terhadap mata pelajaran terlebih dahulu. Hasil tes inilah yang

    menunjukkan keadaan tinggi rendahnya hasil yang dicapai oleh siswa.

    Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat

    keberhasilan yang dicapai oleh siswa kelas IV SDN Gugus Gajah Mada

    Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora melalui nilai hasil ulangan tengah

    semester pada semester II tahun ajaran 2011/2012 yang meliputi 3 mata

    pelajaran yaitu IPS, Matematika, dan Bahasa Indonesia.

    Alat yang digunakan untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran

    dinamakan dengan instrumen. Instrumen sendiri terdiri atas instrumen butir-

    butir soal apabila cara pengukuran dilakukan dengan menggunakan tes, dan

    apabila pengukuran dilakukan dengan cara mengamati atau mengobservasi

    dapat menggunakan instrumen lembar pengamatan atau lembar observasi.

  • 17

    Instrumen yang digunakan untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran

    maupun kompetensi yang dimiliki siswa harus divalidasi terlebih dahulu,

    maksudnya adalah instrumen tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya

    diukur.

    Hasil dari pengukuran melalui teknik tes dan nontes tersebut digunakan

    sebagai dasar penilaian. Untuk memberikan penilaian juga didasarkan pada

    kriteria tertentu. Hal ini sejalan dengan Sulistya (2010:2.8) bahwa evaluasi itu

    merupakan proses untuk memberi makna atau menetapkan kualitas hasil

    pengukuran, dengan cara membandingkan angka hasil pengukuran tersebut

    dengan kriteria tertentu. Kriteria sebagai pembanding dari proses dan hasil

    pembelajaran tersebut dapat ditentukan sebelum proses pengukuran atau

    ditetapkan setelah pelaksanaan pengukuran. Kriteria tersebut dapat berupa

    proses atau kemampuan minimal yang dipersyaratkan seperti KKM (Kriteria

    Ketuntasan Minimal), atau batas keberhasilan, kriteria tersebut juga dapat pula

    berupa kemampuan rata-rata unjuk kerja kelompok, atau berbagai patokan

    yang lain. Kriteria yang berupa batas kriteria minimal yang telah ditetapkan

    sebelum pengukuran dan bersifat mutlak disebut dengan Penilaian Acuan

    Patokan atau Penilaian Acuan Kriteria (PAP/PAK), sedang kriteria yang

    ditentukan setelah kegiatan pengukuran dilakukan dan didasarkan pada

    keadaan kelompok dan bersifat relatif disebut dengan Penilaian Acuan Norma/

    Penilaian Acuan Relatif (PAN/PAR).

    Di dalam Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 20

    Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan menyatakan bahwa Kriteria

    Ketuntasan Minimal (KKM) adalah Kriteria Ketuntasan Belajar (KKB) yang

    ditentukan oleh satuan pendidikan. KKM pada akhir jenjang satuan pendidikan

    untuk kelompok mata pelajaran selain ilmu pengetahuan dan teknologi

    merupakan nilai batas ambang kompetensi.

    2.3 Penlitian Yang Relevan

    Mince Taka (2004), dalam penelitian yang berjudul Upaya Orang Tua

    Siswa kelas IV SD Inpres Palindi Mburung dalam membantu/membimbing

    putra-putrinya belajar. Tujuan penelitian untuk mendiskripsikan upaya-upaya

  • 18

    yang dilakukan orang tua dalam membantu/membimbing putra-putrinya

    belajar. Kesimpulannya adalah pada umumnya orang tua memiliki kepedulian

    yang besar dalam membantu/membimbing belajar anaknya. Orang tua

    memiliki kepedulian terhadap kesulitan belajar anaknya. Orang tua telah

    berupaya maksimal dalam membantu/membimbing belajar meskipun tidak

    dalam waktu yang telah terjadwal. Kelebihan dalam penelitian ini adalah peran

    orang tua yang memiliki kepedulian yang besar dalam membimbing putra-

    putrinya belajar akan mempengaruhi prestasi belajar anak, seperti prestasi

    belajarnya meningkat, rajin belajar belajar dirumah maupun disekolah.

    Kekurangan dalam penelitian ini adalah kurangnya kepedulian orang tua dalam

    membimbing putra-putrinya belajar dirumah, hal ini akan mempengaruhi

    prestasi belajar anak, seperti prestasi belajarnya menurun dan anak malas

    belajar.

    Dwi Astuti (2002), dalam penelitian yang berjudul Kegiatan Orang

    Tua Dalam Membimbing Anak Belajar di Rumah Pada Siswa kelas II SLTP

    Negeri 3 Salatiga Tahun Pelajaran 2001/2002. Tujuannya penelitian adalah

    untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh orang tua siswa dalam

    membimbing anaknya belajar di rumah. Hasilnya menunjukkan bahwa

    sebagian besar orang tua menyatakan melakukan kegiatan membimbing

    anaknya belajar di rumah. Hal ini berarti bahwa orang tua telah menyadari

    tanggung jawabnya untuk mendidik dengan baik. Hanya sebagian orang tua

    yang memberi penghargaan berupa kata-kata posistif bagus, dan sebagian

    lain tidak melakukannya, mungkin disebabkan oleh faktor budaya setempat

    yang tidak terbiasa menghargai dengan kata-kata. Hanya sebagian orang tua

    yang bersedia membawa keluhan-keluhan anak berkaitan dengan kesulitan

    belajar yang dialaminya bersama guru pembimbing, mungkin disebabkan oleh

    kesibukan orang tua sehingga tidak mempunyai waktu untuk datang ke sekolah

    dan menemui guru pembimbing. Kelebihan dalam penelitian ini bahwa orang

    tua dapat membimbing anaknya ketika anak belajar di rumah hal ini didorong

    oleh kata-kata bagus untuk mendorong anak untuk semangat dalam hal

  • 19

    belajar. Kelemahan dalam penelitian banyaknya aktifitas orang tua sehingga

    tidak dapat membimbing anaknya untuk belajar.

    Puji lestari (2001), dalam penelitian yang berjudul Kegiatan Orang

    Tua Pekerja dalam Membantu belajar Anak di rumah Khususnya yang Masih

    Belajar di SD. Tujuan penelitian untuk mengetahui kegiatan para orang tua

    dalam membimbing dan membantu anak belajar di rumah. Kesimpulannya,

    bentuk belajar yang paling banyak dilakukan oleh orang tua dengan jam kerja

    shift adalah mendorong anak mempelajari ulangan-ulangan terdajulu kemudian

    melatihnya. Di samping itu bentuk bimbingan belajar banyak dilakukan oleh

    orang tua pekerja, namun secara teori tidak termasuk dalam pengembangan

    keterampilan adalah menjawab kesulitan yang dihadapi anak saat belajar.

    Walaupun bukan merupakan satu-satunya faktor yang berpengaruh, namun

    anak yang berprestasi kebanyakan mendapatkan bimbingan dalam bentuk

    mempelajari ulangan-ulangan terdahulu kemudian melatihnya. Waktu belajar

    anak berprestasi tersebut adalah pukul 18.00-20.00.

    Penelitian yang telah dilakukan oleh Shobirin (STAIN, 2006) yang

    berjudul "Pengaruh Perhatian Orang Tua Terhadap Motivasi Belajar

    Pendidikan Agama Islam Pada Siswa SD Negeri 2 Siderejo Pulokulon

    Grobogan Tahun Pelajaran 2006/2007. Tujuannya untuk mengetahui seberapa

    besar pengaruh perhatian orang tua terhadap motivasi belajar pendidikan

    agama islam. Berdasarkan penelitian tersebut terbukti bahwa perhatian orang

    tua terhadap motivasi belajar Pendidikan Agama Islam dapat memningkatkan

    motivasi anak untuk belajar. Hasil penelitiannya adalah ada pengaruh positif

    antara perhatian orang tua terhadap motivasi belajar. Peneliti menyimpulkan

    bahwa semakin besar perhatian orang tua terhadap pendidikan agama Islam

    anak, semakin besar motivasi anak untuk belajar.

    Yenny Rahayu Trihastutiningsih (UMS, 2005) dalam skripsinya dengan

    judul Pengaruh Bimbingan Orang Tua dan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi

    Belajar Ekonomi Siswa Kelas II SLTP Negeri 1 GiriartoWonogiri Tahun

    Ajaran 2003/2004, tujuannya untuk mengetahui pengaruh bimbingan orang tua

    dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar. Hasil penelitiannya adalah ada

  • 20

    pengaruh yang positif antara bimbingan orang tua dan motivasi belajar

    terhadap prestasi belajar. Peneliti menyimpulkan bahwa: 1). Tinggi rendahnya

    prestasi belajar ekonomi siswa ditentukan oleh tinggi rendahnya bimbingan

    orang tua dan motivasi belajar siswa; 2). Bimbingan orang tua Motivasi belajar

    memiliki pengaruh lebih besar (dominan) terhadap prestasi belajar ekonomi.

    2.4 Kerangka Berfikir

    Keberhasilan siswa dalam belajar yang di tandai oleh hasil belajar yang

    dicapainya tidak hanya dipengaruhi oleh proses pendidikan yang dilakukan

    oleh pihak sekolah, faktor lain pendukung yang sangat penting adalah peran

    orang tua dalam membimbing anak belajar dirumah.

    Orang tua juga harus tahu bahwa anak punya naluri untuk minta

    dipahami. Menciptakan suasana yang kondusif dan rasa aman pada saat anak

    belajar di rumah membuat anak akan terdorong untuk belajar aktif, karena hal

    tersebut merupakan salah satu kekuatan pendorong dari luar yang menambah

    motivasi untuk belajar, karena tinggi rendahnya hasil belajar seseorang

    ditentukan oleh faktor internal dan faktor eksternal dari siswa. Salah satu faktor

    eksternal adalah orang tua. Orang Tua mempunyai peran yang menentukan

    keberhasilan belajar anaknya karena ada hubungan batin, untuk itu kedekatan

    maupun perhatian penuh dari orang tua kepada anaknya sangat diperlukan,

    agar hasil belajar anaknya meningkat.

    Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua dalam membimbing

    anaknya belajar dirumah antara lain dapat dilakukan dengan cara: (1)

    memotivasi anak melalui memberikan pujian, memberikan perintah,

    menyediakan buku, perlengkapan dan fasilitas belajar, mendampingi belajar,

    membantu mengerjakan tugas (2) Orang tua juga harus memperhatikan dan

    mengatasi masalah-masalah yang menghambat belajar anak dengan cara

    memberikan pujian, memberikan perintah, menyediakan buku, perlengkapan

    dan fasilitas belajar, mendampingi belajar, membantu mengerjakan tugas, (3)

    Orang tua juga dapat mengenali dan mengembangkan gaya belajar anak

    melalui memperhatikan memerikasa hasil belajar disekolah, membantu belajar,

    dan mengingatkan tugas-tugas/pekerjaan rumah.

  • 21

    Kondisi yang terjadi di lingkungan sekitar SD Negeri Gugus Gajah

    Mada Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora para orang tua sering kali

    melalaikan pendidikan anaknya dan memberikan sepenuhnya kepada guru

    untuk diberikan pendidikan di sekolah-sekolah dan melupakan kewajibannya

    untuk mendidik di rumah. Para orang tua hanya sibuk mengejar karir atau

    pekerjaannya tanpa memperdulikan perkembangan anak-anaknya. Mereka

    beranggapan bahwa pendidikan di sekolah sudah lebih dari cukup dan tidak

    memperhatikan prestasi belajar anaknya. Minimnya pengawasan orang tua

    mengenai perkembangan pendidikan anak-anaknya dan jarang menjadi

    pendamping belajar sehingga siswa-siswa memiliki hasil belajar rata-rata

    menengah ke bawah. Peran orang tua akan membuat anak akan terdorong

    untuk belajar secara aktif, karena bentuk dari peran orang tua merupakan salah

    satu kekuatan pendorong dari luar yang menambah motivasi anak untuk belajar

    sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, oleh karena itu dapat

    disimpulkan bahwa peran orang tua yang tepat dan sesuai dapat meningkatkan

    prestasi belajar siswa.

    Berdasarkan pemikiran tersebut, maka pengaruh peran orang tua dalam

    membimbing anak belajar di rumah terhadap hasil belajar dapat digambarkan

    sebagai berikut:

    Gambar 2.1

    Skema Kerangka Berfikir Penelitian Pengaruh Peran Orang Tua

    Dalam Membimbing Anak Belajar di Rumah Terhadap Hasil Belajar

    Keterangan:

    X : Peran orang tua membimbing anak belajar di rumah

    X2 : Memotivasi anak untuk berprestasi dalam belajar (memberikan pujian,

    memberikan perintah, menyediakan buku, perlengkapan dan fasilitas

    belajar, mendampingi belajar, membantu mengerjakan tugas).

    X

    X1

    X2

    X3

    Y

  • 22

    X2 : Mengatasi masalah-masalah belajar (mengatasi kesulitan belajar,

    membantu menyusun jadwal sekolah dan dirumah, menjaga kesehatan

    dan memberikan hadiah).

    X3 : Mengembangkan gaya belajar anak (memeriksa hasil belajar disekolah,

    membantu belajar, dan mengingatkan tugas-tugas/pekerjaan rumah)

    Y : Hasil belajar

    2.5 Hipotesa Penelitian

    Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka berpikir tersebut dapat

    dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

    Ha : Ada pengaruh peran orang tua dalam membimbing belajar terhadap

    hasil belajar siswa kelas IV SDN Terakreditasi A Gugus Gajah Mada.

    Ho : Tidak ada pengaruh peran orang tua dalam membimbing belajar

    terhadap hasil belajar siswa kelas IV SDN Terakreditasi A Gugus

    Gajah Mada.