Click here to load reader

KAJIAN MASA KRITIS PENYAKIT WSSV DI SALURAN · PDF filekritis WSSV untuk Kecamatan Pulokerto pada Bulan Maret-Juli, ... otot abdomen, gonad, intestinum dan ... ikan Mas (Cyprinus carpio),

  • View
    214

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of KAJIAN MASA KRITIS PENYAKIT WSSV DI SALURAN · PDF filekritis WSSV untuk Kecamatan Pulokerto...

489 Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2015

KAJIAN MASA KRITIS PENYAKIT WSSV DI SALURAN PERTAMBAKANKECAMATAN PULOKERTO, PASURUAN DAN KECAMATAN PASIR PUTIH, SITUBONDO

Koko Kurniawan, Arifuddin Tompo, dan Ince Ayu Khaerana KadriahBalai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau

Jl. Makmur Dg. Sitakka No. 129, Maros 90512, Sulawesi SelatanE-mail: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi keberadaan virus WSSV dan periode masa kritis virusWSSV (White Spot Virus Syndrome) di saluran inlet pertambakan di Kecamatan Pulokerto Kabupaten Pasuruandan Kecamatan Pasir Putih Kabupaten Situbondo selama bulan Maret sampai Desember 2012. Sampeldiambil secara berkala dan diawetkan di dalam botol yang berisi alkohol 70% untuk selanjutnya diekstrakmenggunakan metode C-tab D-tab untuk mendapatkan DNA (Deoxyribonucleic Acid) total. DNA virus WSSVdiamplifikasi dengan teknik first dan nested PCR (Polymerase Chain Reaction) mengggunakan kit amplifikasispesifik WSSV (IQ 2000TM WSSV Detecton and Preventing System). Visualisasi DNA WSSV dilakukan dengan 2%agarose dan didokumentasikan dengan gel documentation system. Berdasarkan hasil penelitian diperolehbahwa hasil analisis PCR menunjukkan semua jenis sampel dapat menunjukkan hasil positif WSSV danprevalensi rata-rata kejadian WSSV di Kecamatan Pulokerto 30% dan di Kecamatan Pasir Putih 25%. Masakritis WSSV untuk Kecamatan Pulokerto pada Bulan Maret-Juli, sedangkan bulan rawan Kecamatan PasirPutih pada AprilAgustus dan bulan November.

KATA KUNCI: masa kritis, prevalensi, WSSV

PENDAHULUAN

Pemerintah masih menempatkan udang sebagai komoditas unggulan perikanan budidaya padakurun waktu 2010-2014. Diharapkan dalam kurun waktu tersebut produksi udang nasional dapatmeningkat dari 400.000 menjadi 700.000 ton. Komoditas udang yang banyak dikembangkan diIndonesia adalah jenis penaid, yaitu udang windu dan udang vaname. Udang windu merupakansalah satu udang asli Indonesia yang memiliki keunggulan dapat tumbuh cepat dengan ukuran yangcukup besar.

Masa kejayaan tambak udang di Indonesia yaitu pada tahun 1980-an, namun setelah itu produksiudang terlihat menurun secara perlahan dikarenakan berbagai macam faktor. Penyakit viral menjadifaktor dominan yang bertanggung jawab terhadap penurunan produksi udang nasional. Ciri utamapenyakit viral adalah dapat menyebar dengan cepat di dalam tambak pemeliharaan dan akan segeramenyebar di tambak sekitarnya. Selain itu, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk dapatmenghabiskan seluruh populasi udang dalam tambak.

Salah satu penyakit viral pada udang yang saat ini masih menjadi kendala utama adalah penyakitWSSV (White Spot Syndrome Virus) atau di kalangan petambak lebih dikenal dengan penyakit bintikputih disebabkan oleh SEMBV (Systemic Ectodermal and Mesodermal Baculo Virus). Virus ini merupakanvirus DNA (Deoxyribonucleic Acid) berbentuk basil hingga silindrik dengan ukuran yang berbeda-beda.Ukuran rata-rata 120 x 320 20 nm. Organ yang diserang SEMBV adalah kaki jalan, kakirenang,insang, lambung, otot abdomen, gonad, intestinum dan karapas. Penyakit White Spotmerupakan penyakit yang dapat menyebabkan kegagalan panen dengan mortalitas 100%(Kasornchndra et al., 1995).

Upaya pemerintah untuk mencapai target produksi udang nasional adalah menerapkan programindustrialisasi perikanan dengan cara merevitalisasi tambak idle (menganggur) yang kurangdimanfaatkan. Salah satu daerah sasaran program tersebut adalah Provinsi Jawa Timur yang mencakupKabupaten Pasuruan dan Kabupaten Situbondo. Salah satu sentra tambak udang di Kabupaten Pasuruanterletak di Kecamatan Pulokerto yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Kraton. Data dari

490Kajian masa kritis penyakit WSSV di saluran ..... (Koko Kurniawan)

situs resmi pemerintah Kabupaten Pasuruan (www.pasuruankab.go.id) pada tahun 2008 dilaporkanpotensi tambak yang ada di Kabupaten Pasuruan sebesar 3.966,9 Ha dan komoditas udangdikembangkan di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Bangil, Kraton, Rejoso, dan Lekok. Rata-ratapetambak masih menggunakan sistem tradisional dan sistem tradisional plus dengan sistem budidayapolikultur bandeng-udang. Produksi udang windu di Kabupaten Pasuruan pada tahun 2009 mencapai261,77 ton sedangkan udang vanamei 17,5 ton. Sedangkan dari situs resmi Kabupaten Situbondoyang diperoleh dari survei Universitas Gadjah Mada pada tahun 2005 (www.potensiadaerah.ugm.ac.id)potensi berupa panjang bentang pantai mencapai 150 km. Luasan tambak yang ada, tambak intensif1.052,84 Ha, semi intensif 12,03 Ha dan tambak tradisional 428,87 Ha. Produksi udang di KabupatenSitubondo per tahun rata rata 924,5 ton.

Identifikasi keberadaan virus dapat dilakukan dengan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction) yangbekerja secara spesifik dan sensitif terhadap penyebab penyakit. Agen penyebab penyakit yang belummenunjukkan gejala klinis dapat terdeteksi menggunakan teknik tersebut karena DNA/ RNA (RibonucleicAcid) penyebab penyakit dapat digandakan sehingga dapat terdeteksi keberadaanya (Sukenda et al.,2009) Sampai saat ini OIE (Office Internationale Epizooticae) masih merekomendasikan teknikpemeriksaan PCR nested dengan dua tabung ependorf sebagai metode diagnostik standar untukpemeriksaan virus WSSV (OIE, 2012) meskipun Claydon et al. (2004) telah melaporkan tingginyatingkat kontaminasi pada teknik PCR tersebut sehingga dapat terjadi hasil pemeriksaan positif palsu.

Saluran pertambakan memegang peran penting dalam kelangsungan tambak. Melalui saluranpertambakan air dialirkan masuk untuk mengisi tambak. Saluran pertambakan sistem pertambakantradisional masih menggunakan satu pintu masuk untuk saluran pemasukan air dan saluranpembuangan. Kondisi ini dapat menjadi titik kritis penyebaran sebuah penyakit, sehingga diperlukanpemetaan keberadaan penyebab penyakit dalam sebuah kurun waktu.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi keberadaan virus WSSV (White Spot VirusSyndrome) dan masa kritis di Kecamatan Pulokerto Kabupaten Pasuruan dan Kecamatan Pasir PutihKabupaten Situbondo selama bulan Maret 2012 sampai Desember 2012. Agar dapat meminimalisirpotensi masuknya virus WSSV dan kegagalan panen karena serangan penyakit. Diharapkan dari hasilpenelitian ini, stakeholder dapat memanfaatkannya untuk pertimbangan pemasukan air ke dalamtambak.

METODE PENELITIAN

Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di area pertambakan masyarakat Kecamatan Pulokerto Kabupaten Pasuruandan Kecamatan Pasir Putih Kabupaten Situbondo. Sampel diambil secara berkala pada satu titik diawal saluran pertambakan selama 10 bulan pada bulan Maret hingga Desember.

Pengumpulan Sampel

Sampel yang diambil adalah hewan air (krustase, kepiting, dan ikan-ikan liar) di saluranpertambakan yang berpotensi untuk masuk ke dalam tambak melalui saluran masuk atau lubang disekitar pematang tambak yang bocor. Sampel diambil menggunakan jala buang. Organ yang diambiluntuk sampel krustase dan kepiting meliputi kaki renang, kaki jalan, ekor sedangkan untuk sampelikan berupa sirip atau ekor. Sampel disimpan ke dalam botol pengawet berisi alkohol 70% dan dibawake Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan BPPBAP Maros untuk diperiksa keberadaan virusWSSV. Prevalensi keberadaan virus WSSV dihitung berdasarkan nilai prevalensi serangan terhadapjumlah semua sampel. Untuk mengetahui keberadaan virus WSSV pada sampel hewan air, denganpengamatan makroskopis dan melalui pembacaan ukuran band DNA hasil elektroforesis.

Koleksi Genom DNA

Untuk memperoleh koleksi DNA total virus WSSV sampel diekstrak menggunakan kit ekstraksiWSSV (IQ 2000TM WSSV Detecton and Preventing System) metode C-tab D-tab. Sebanyak 30 mg sampeldimasukkan ke dalam mikrotube steril volume 1,5 mL ditambahkan dengan 600 L D-tab dan inkubasi

491 Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2015

di dalam waterbath 75oC selama 5 menit. Untuk memisahkan DNA dan RNA ditambahkan 700 LChloroform dan dihomogenkan selama 20 detik dilanjutkan dengan sentrifuse 12000 rpm selama 5menit. Setelah terjadi pemisahan, lapisan teratas (DNA) dicampur dengan 100L larutan CTAB dan900 L ddH2O dan diinkubasi dalam waterbath 75o C selama 5 menit. Sampel disentrifugasi selama10 menit dengan kecepatan 12000 rpm, lapisan bagian atas dibuang dan tambah dengan 150 Ldissolve solution. Sampel diinkubasi selama 5 menit lalu disentrifugasi dengan kecepatan 12000 rpmselama 5 menit. Sampel DNA diekstrak dengan 300 L ethanol absolut dingin dan diendapkan denganmensentrifugasi 12000 rpm selama 5 menit. DNA seanjutnya dibilas dengan 200 mL ethanol 75%dan disentrifugasi kembali dengan kecepatan 12000 rpm selama 5 menit. Cairan yang ada dibuangdan dikering anginkan selanjutnya DNA dilarutkan dengan 200L TE buffer untuk proses selanjutnya.

PCR

DNA virus WSSV diamplifikasi mengggunakan kit amplifikasi spesifik WSSV (IQ 2000TM WSSVDetecton and Preventing System) dengan teknik first dan nested PCR (Polymerase Chain Reaction). Amplifikasidilakukan dengan cara mencampur 7,5L first PCR premix, 0,5 L IQ zyme dan 2 L sampel dalammikrotube 200 L. Campuran diinkubasi dalam alat Geneamp PCR system 2700 dengan suhu amlpifikasi940C selama 30 detik; 620C selama 30 detik; 720C selama 30 detik sebanyak 5 siklus, kemudian 940Cselama 15 detik, 620C selama 15 detik; 720C selama 20 detik sebanyak 15 siklus selanjutnya 720Cselama 30 detik; 200C selama 30 detik. Sedangkan pada tahap nested, setiap reaksi ditambah dengan14 L nested PCR dan 1 L IQ zyme. Sampel diinkubasi dengan suhu 940C selama 20 detik; 620Cselama 20 detik; 720C selama 30 detik sebanyak 25 siklus dan siklus terakhir 720C selama 30 detik;200C selama 30 detik (Anonim, 2002)

Visulisai DNA WSSV

Analisis hasil amplifikasi dilakukan dengan metode elektroforesis. Sampel yang telah diamplifikasisebanyak 5L yang dicampur dengan 3L loading dye b

Search related