54
i ISSN : 1979-9128 Vol.02, No.IX, Agus 2011 SURYA Jurnal Media Komunikasi Ilmu Kesehatan Diterbitkan Oleh : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Lamongan

Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

i

ISSN : 1979-9128 Vol.02, No.IX, Agus 2011

SURYA Jurnal Media Komunikasi Ilmu Kesehatan

Diterbitkan Oleh : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan

Muhammadiyah Lamongan

Page 2: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

SURYA ii Vol.02, No.IX, Agus 2011

SURYA JURNAL MEDIA KOMUNIKASI ILMU KESEHATAN

Diterbitkan Oleh: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES)Muhammadiyah Lamongan

Jl. Raya Plalangan Plosowahyu Lamongan Telp/Fax (0322) 321843

Terbit tiga kali setahun (April, Agustus dan Desember): ISSN : : 1979-9128, berisi tentang hasil penelitian, gagasan konseptual, kajian dan aplikasi teori, resensi buku dan tulisan praktis dalam bidang Ilmu Kesehatan.

Pelindung/Penasehat

Drs.H. Mutholib Sukandar (Ketua BPH PT Muhammadiyah Lamongan) Drs. H. Budi Utomo,Amd.kep.,Mkes (Ketua STIKES Muhammadiyah Lamongan)

Ketua Pengarah :

M. Bakri PDA SKp,MKep (Ketua I) Dr. H. Masram, MM., M.Pd., MMkes (Ketua II)

Alifin SKP.,M.MKes (Ketua III)

Ketua Penyuting :

Cucuk Rahmadi, SKp., M.Kes.

Penyuting Pelaksana:

Penyuting Ahli/Mitra Bestari :

Dr. Supriyanto, MM (Dosen FE-Universitas Negeri Malang) Dr. Anang Kistyanto, MM (Dosen FE-Universitas Negeri Surabaya)

Alamat Penyuting Pelaksana dan Tata Usaha : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Muhammadiyah Lamongan JL. Raya Plalangan Plosowahyu Lamongan, Telp/Fax. (0322) 321843 Jurnal ini diterbitkan di bawah pembinaan Ketua BPH PT Muhammadiyah Lamongan (Drs. H. Muntholib Sukandar) dan Ketua STIKES Muhammadiyah Lamongan (Drs. H. Budi Utomo, AMd. Kep,M.Kes)

Drs. Arfian Mudayan, SE., M.Kes Arifal Aris, S.Kep., Ns., M.MKes

Hj. Ws Tarmi, S.Sti., M.MKes Drs. Sugeng Utomo., M.Pd Hj. Mu’ah,MM., M.Mkes

Dadang Kusbiantoro, S.Kep.,Ns. M.MKes Lilin Turlina, SST.,M.MKes

Faizatul Ummah, SST.,M.MKes

Siti Sholikhah, S.Kep, Ns Andri Tri K, SSiT, M. Kes

Amirul Amalia, S.SiT, M. Kes Atiul Impartina, SsiT, M. Kes

Sulistyowati, SSTi, M. Kes M. Ali Basyah, SH., M.Mkes

Heny Ekawati,s.Kep.Ns, M. Kes Ilkafah, S.Kep.,Ns. M. Kes

Page 3: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

SURYA iii Vol.02, No.IX, Agus 2011

DAFTAR ISI

Ahmad Indrajid, Bakri PDA, Suratmi

: Hubungan Citra Pelayanan Dengan Minat Pasien Menggunakan Jasa Pelayanan Di Poli Bedah RSUD Dr. Soegri Lamongan …………………………………..

1

Diah Puji Astutik, Ilkafah , Ihda Mauliyah

: Perbedaan Tingkat Mobilitas Pada Pasien Post Operasi Fraktur Ekstremitas Bawah Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Penyuluhan Kesehatan Di Ruang Boegenville Dan Teratai RSUD Dr. Soegiri Lamongan………………………………………………..

10

Evi Sulistiana, Diah Eko Martini, Amirul Amalia

: Pengaruh Senam Hamilterhadap Penurunan Nyeri Punggung Bawah Pada Ibu Hamil Di BPS Ny.Widya Suroso Kecamatan Turi Lamongan ................................

14

Pipit Choirum Fitriyah, Farida Juanita, Arfian Mudayan

: Hubungan Obesitas Dengan Kadar Asam Urat Darah Di Dusun Pilanggadung Kecamatan Tikung Kabupaten Lamongan ......................................................

25

Wiwik Utami : Hubungan Sikap Disiplin Anak Usia Pre School (4-6 Tahun) Dengan Penerapan Hukuman Orang Tua…..

32

Suhadak, Arifal aris, Ns. Priyoto : Pengaruh Pemberian Teh Rosella Terhadap Penurunan Tekanan Darah Inggi Pada Lansia Di Desa Windu Kecamatan Karangbinangun Kabupaten Lamongan………………………………………...............

39

Mar’atus Sa’diyah, Sri Hananto Ponco, Alifin

: Hubungan Pemberian Kompres Dingin Terhadap Penurunan Nyeri Pada Pasien Pre Operasi Apendisitis Di Ruang Bedah Rumah Sakit Muji Rahayu Surabaya............................................................................

48

Page 4: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

SURYA 1 Vol.02, No.IX, Agus 2011

HUBUNGAN CITRA PELAYANAN DENGAN MINAT PASIEN MENGGUNAKAN JASA PELAYANAN DI POLI BEDAH RSUD Dr. SOEGRI LAMONGAN

Ahmad Indrajid, Bakri PDA, Suratmi

…………......……….…… …… . .….ABSTRAK…… … ......………. …… …… . .…. Rumah sakit merupakan tempat pelayanan kesehatan, karena itu perlu memberikan pelayanan yang baik bagi pasien sehingga pasien berminat dalam menggunakan jasa pelayanan, hal ini perlu adanya sebuah citra pelayanan yang baik. citra pelayanan merupakan persepsi masyarakat terhadap rumah sakit dan pelayanan yang diberikan.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa hubungan citra pelayanan dengan minat pasien menggunakan jasa pelayanan di Poli Bedah RSUD Dr. Soegiri Lamongan. Desain penelitian ini menggunakan metode Cross Sectional. Metode sampling yang digunakan adalah Simple Random Sampling dengan menggunakan sampel sebanyak 152 responden. Data penelitian ini diambil dengan menggunakan kuesioner. Setelah ditabulasi data dianalisis dengan menggunakan uji Coefisien Contigensi dengan tingkat kemaknaan p = <0,05. Hasil penelitian menunjukkan responden yang menyatakan citra pelayanan baik sebanyak 80 orang (52,6%), kurang baik sebanyak 49 orang (32,2%), tidak baik sebanyak 23 orang (15,1%). responden yang mempunyai minat sebanyak 99 orang (65,1%), tidak ada minat sebanyak 53 orang (34,9%).

Setelah dilakukan uji statistik didapatkan nilai Z=0,611 dan P = 0,000 dimana H0 ditolak artinya ada hubungan citra pelayanan dengan minat pasien menggunakan jasa pelayanan.

Dari hasil penelitian diatas maka rumah sakit harus selalu memberikan citra pelayanan yang bagus, sehingga pasien berminat dalam menggunakan jasa pelayanan.

Kata kunci : Citra Pelayanan, Minat Pasien Menggunakan Pelayanan

PENDAHULUAN. …… . … … . Pembangunan yang dilakukan di

Indonesia dengan visi Indonesia sehat 2010 telah diarahkan guna tercapai kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Rumah Sakit (RS) menjadi ujung tombak pembangunan dan pelayanan kesehatan masyarakat, namun tidak semua rumah sakit yang ada di Indonesia memiliki citra pelayanan yang sama. Semakin banyak rumah sakit di Indonesia serta semakin tinggi pula tuntutan masyarakat akan fasilitas kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. Rumah sakit harus berupaya survive di tengah persaingan yang semakin meningkat sekaligus memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut. Pelayanan yang bersifat terus-menerus terhadap pembelian jasa yang sama akan mempengaruhi ucapan pasien pada

pihak luar/lain tentang produksi yang dihasilkan.

Indikasi pelayanan kesehatan dirumah sakit dapat tercermin dari minat pasien untuk menggunakan jasa pelayanan atas pelayanan kesehatan yang telah diterima, minat pasien menggunakan jasa pelayanan merupakan penilaian menyeluruh atas keunggulan suatu jasa atau pelayanan. Bila pasien tidak menemukan pelayanan yang diberikan maka pasien cenderung tidak melakukan kunjungan pada rumah sakit tersebut, sehingga minat pasien menggunakan jasa pelayanan mengalami penurunan (Tjiptono, 2004).

Dari penelitian sebelumnya, yang dilakukan oleh Iga Murty (2008) di RSUD Pandanaran semarang, didapatkan jumlah pasien baru lebih banyak dari jumlah pasien lama dengan prosentase 64,24% sebelumnya pada tahun 2003 hanya 60,23%. Data yang didapat dari rekam medis Poli Bedah RSUD

Page 5: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Citra Pelayanan Dengan Minat Pasien Menggunakan Jasa Pelayanan

SURYA 2 Vol.02, No.IX, Agus 2011

Dr. Soegiri, pada tanggal 11 Desember 2010, didapatkan jumlah pasien baru dan pasien lama menunjukkan angka yang fluktuaitif. Pada tahun 2008 jumlah pasien lama 42% (2309) dan pasien baru 58% (3554). Tahun 2009 pasien lama 40% (2967), pasien baru 60% (4230). Sedangkan tahun 2010 (Januari sampai November) pasien lama 61% (3878), pasien baru 39% (2462). Pasien lama dan pasien baru yang melakukan kunjungan mengalami kenaikan dan penurunan dalam memanfaatkan pelayanan rawat jalan,

Dari hasil survei awal dengan wawancara yang dilakukan pada bulan Desember 2010 di Poli Bedah Rawat Jalan RSUD Dr. Soegiri Lamongan, dilakukan kepada 15 responden, 10 (66,6%) responden menyatakan berminat terhadap pelayanan di Poli Bedah, sedangkan 5 (33,4%) responden menyatakan kurang berminat pada pelayanan di Poli Bedah, alasan pasien tidak berminat melakukan kunjungan karena pelayanan yang kurang memuaskan dan waktu tunggu dokter yang lama, hal ini menunjukkan masih terdapat pasien yang kurang berminat terhadap pelayanan di Poli Bedah.

Minat seseorang terhadap jasa pelayanan berkaitan dengan kemampuan jasa pelayanan tersebut dalam memberikan kepuasan. Faktor yang mempengaruhi minat pasien menggunakan jasa pelayanan menurut Cooper (1994) yang dikutip oleh Lita (2004) adalah kualitas dokter, perawatan, teknologi, fasilitas diagnosa, dan kualitas perawatan secara keseluruhan. Cooper juga menyatakan bahwa perhatian interpersonal, kesadaran staf terhadap kebutuhan personel pasien, kontrol terhadap pasien, pengalaman pasien terhadap rumah sakit, lokasi dan biaya, kemudian dari lokasi akan berpengaruh terhadap citra rumah sakit secara umum. Faktor yang dapat menjadi penyebab minat pasien untuk menggunakan jasa pelayanan tersebut adalah citra pelayanan yang sesuai dengan harapan pasien (pelanggan). Citra merupakan seperangkat kepercayaan, daya ingat dan kesan-kesan yang dimiliki seseorang terhadap suatu objek (Kotler, 2003). Sikap dan tindakan terhadap suatu objek ditentukan oleh citra tersebut, dalam hal ini objek yang dimaksud adalah citra pelayanan kesehatan di

rumah sakit. Menurut Gonroons (2000), citra pelayanan merupakan wujud nyata dari persepsi pelanggan terhadap pelayanan yang diberikan melalui apa yang diperoleh pelanggan sebagai hasil dari transaksi anatara penyedia dan pengguna jasa serta bagaiman pelanggan memperoleh jasa tersebut. Semakin ketatnya persaingan serta pelanggan yang semakin selektif, serta berpengetahuan mengharuskan poli bedah RSUD Dr. Soegiri selaku salah satu penyedia jasa pelayanan kesehatan untuk selalu meningkatkan citra pelayanan. Karena citra pelayanan yang tidak berkualitas dan tidak menjadikan konsumen puas terhadap pelayanan, akan mengakibatkan pasien tidak melakukan kunjungan dan tidak menggunakan jasa rumah sakit tersebut.

Untuk dapat meningkatkan citra pelayanan, terlebih dulu harus diketahui apakah pelayanan yang telah diberikan kepada pasien selama ini telah sesuai dengan harapan pasien atau belum. Untuk dapat meningkatkan jumlah kunjungan pasien di Rumah Sakit khususnya Poli Bedah RSUD Dr. Soegiri Lamongan di harapkan mampu memberi pelayanan yang bermutu. Mutu pelayanan yang baik akan memberikan kepuasan pada pelanggan maka pelanggan akan memanfaatkan jasa pelayanan bahkan akan merekomendasikan pelayanan kesehatan tersebut pada orang di sekitarnya. (Lita, 2004). Dari uraian diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan citra pelayanan dengan minat pasien menggunakan jasa pelayanan di Poli Bedah Rawat Jalan RSUD Dr. Soegiri Lamongan. METODOLOGI .PENELITIAN

Desain penelitian adalah suatu strategi penelitian dalam mengidentifikasi permasalahan sebelum perencanaan akhir pengumpulan data dan mendefinisikan struktur dimana penelitian dilaksanakan (Nursalam, 2008).

Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode analitik yaitu mencari keterkaitan atau hubungan antara variabel-variabel dalam penelitian ini, pendekatannya menggunakan cross sectional

Page 6: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Citra Pelayanan Dengan Minat Pasien Menggunakan Jasa Pelayanan

SURYA 3 Vol.02, No.IX, Agus 2011

yaitu rancangan penelitian yang menekankan waktu pengukuran atau pengamatannya dilakukan secara simultan pada satu saat atau sekali waktu (Nursalam, 2008 : 83).

HASIL .PENELITIAN … A. Data Umum 1. Karakteristik responden

Pada sub bab ini akan disajikan data yang merupakan karakteristik pasien berdasarkan usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan dan status pasien, yakni sebagai berikut:

1) Umur Tabel 1. Tabel distribusi pasien

berdasarkan umur di Poli Bedah RSUD Dr. Soegiri Lamongan bulan Maret-Juni 2011

Usia Jumlah Persentasi (%) 18-30 42 27,6% 31-40 56 36,8% 41-50 39 25,7% 51-60 15 9,9% Total 152 100%

Berdasarkan data diatas pada Tabel 1 menunjukkan bahwa hampir sebagian pasien di Poli Bedah RSUD Dr. Soegiri Lamongan berusia 31-40 tahun yaitu 56 orang (36,8%) dan sebagian kecil pasien berusia 51-60 tahun yaitu 5 orang (3,57%). 2) Jenis Kelamin Tabel 2 Tabel distribusi pasien

berdasarkan jenis kelamin di Poli Bedah RSUD Dr. Soegiri Lamongan bulan Maret-Juni 2011.

Jenis Kelamin Jumlah Persentasi (%)

Laki-laki Perempuan

65 87

42,8% 57,2%

Total 152 100 % Berdasarkan data diatas pada Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar pasien di Poli Bedah RSUD Dr. Soegiri Lamongan berjenis kelamin perempuan yaitu 87 orang

(57,2%) dan hampir sebagian pasien berjenis kelamin laki-laki yaitu 65 orang (42,8%). 3) Pendidikan Terakhir Tabel 3 Tabel distribusi pasien

berdasarkan pendidikan terakhir di Poli Bedah RSUD Dr. Soegiri Lamongan bulan Maret-Juni 2011.

Pendidikan

Terakhir Jumlah Persentasi

(%) SD SLTP/SMP SLTA/SMA Perguruan Tinggi

4 31 89 28

2,6% 20,4% 58,6% 18,4%

Total 152 100 % Berdasarkan data diatas pada Tabel 3 menunjukkan bahwa sebagian besar pasien di Poli Bedah RSUD Dr. Soegiri Lamongan memiliki pendidikan terakhir SLTA/SMA yaitu 89 orang (58,6%) dan sebagian kecil pasien memiliki pendidikan terakhir SD yaitu 4 orang (2,6%). 4) Pekerjaan Tabel 4 : Tabel distribusi pasien

berdasarkan pekerjaan di Poli Bedah RSUD Dr. Soegiri Lamongan bulan Maret-Juni 2011.

Pekerjaan Jumlah Persentasi

(%) Tidak Bekerja/Ibu Rumah Tangga Petani/Buruh Guru Swasta PNS/Polri/TNI Wiraswasta/Pedagang

69 31 19 9

24

45,4% 20,4% 12,5% 5,9% 15,8%

Total 152 100 % Berdasarkan data diatas pada Tabel 4 menunjukkan bahwa sebagian besar pasien di Poli Bedah RSUD Dr. Soegiri Lamongan tidak bekerja atau menjadi ibu rumah tangga yaitu 69 orang (42,9%) dan sebagian kecil pasien bekerja sebagai PNS/Polri/TNI yaitu 9 orang (5,9%).

Page 7: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Citra Pelayanan Dengan Minat Pasien Menggunakan Jasa Pelayanan

SURYA 4 Vol.02, No.IX, Agus 2011

5) Status Pasien Tabel 5 : Tabel distribusi pasien

berdasarkan status pasien di Poli Bedah RSUD Dr. Soegiri Lamongan bulan Maret-Juni 2011.

Status Pasien Jumlah Persentasi (%)

Askes Jamkesmas Askeskin Umum

22 71 37 22

14,5% 46,7% 24,3% 14,5%

Total 152 100 % Berdasarkan data diatas pada Tabel 5 menunjukkan bahwa hampir sebagian pasien di Poli Bedah RSUD Dr. Soegiri Lamongan status pasien adalah jamkesmas yaitu 71 orang (46,7%) dan sebagian kecil pasien berstatus pasien umum dan askes yaitu 22 orang (14,5%). B. Data Khusus

1) Data lansia berdasarkan tingkat depresi

Tabel 6 : Tabel distribusi pasien berdasarkan citra pelayanan di Poli Bedah RSUD Dr. Soegiri Lamongan bulan Maret-Juni 2011.

Citra Pelayanan Jumlah Persentasi (%)

Tidak Baik Kurang Baik Baik

23 49 80

15,1% 32,2% 52,6%

Total 152 100 % Berdasarkan data diatas pada Tabel 6 menunjukkan bahwa sebagian besar pasien di Poli Bedah RSUD Dr. Soegiri Lamongan menyatakan citra pelayanan yang diberikan baik yaitu 80 orang (52,6%), dan sebagian kecil menyatakan citra pelayanan yang diberikan tidak baik yaitu 23 orang (15,1%).

2) Minat Pasien Menggunakan Jasa Pelayanan

Tabel 7 :Tabel distribusi pasien berdasarkan minat pasien menggunakan jasa pelayanan di Poli Bedah RSUD Dr. Soegiri Lamongan bulan Maret-Juni 2011.

Minat Pasien Menggunakan Jasa Pelayanan

Jumlah Persentasi (%)

Tidak Ada Minat Ada Minat

53 99

34,9% 65,1%

Total 152 100 %

Berdasarkan data diatas pada Tabel 7 menunjukkan bahwa sebagian besar pasien di Poli Bedah RSUD Dr. Soegiri Lamongan mempunyai minat dalam menggunakan jasa pelayanan yaitu 99 orang (65,1%) dan hampir sebagian pasien tidak mempunyai minat dalam menggunakan jasa pelayanan yaitu 53 orang (34,9%).

3) Hubungan Citra Pelayanan Dan Minat Pasien Menggunakan Jasa Pelayanan di Poli Bedah RSUD Dr.Soegiri Lamongan Tahun 2011.

Tabel 8 : Tabulasi silang Citra Pelayanan

Dan Minat Pasien Menggunakan Jasa Pelayanan di Poli Bedah RSUD Dr.Soegiri Lamongan Tahun 2011

Citra Pelayanan

Minat Pasien Menggunakan Jasa Pelayanan Total Tdk Ada

Minat Ada Minat

∑ % ∑ % ∑ % Tidak baik 23 100% - - 23 100%

Kurang baik 28 57,1% 21 42,9% 49 100%

Baik 2 2,5 78 97,5% 71 100% Jumlah 53 34,9% 99 65,1% 152 100%

Berdasarkan Tabel 8 menunjukkan bahwa seluruhnya pasien menyatakan citra pelayanan tidak baik dan tidak mempunyai minat menggunakan jasa pelayanan yaitu 23 pasien (100%). Sebagian besar pasien menyatakan citra pelayanan kurang baik dan tidak ada minat menggunakan jasa pelayanan

Page 8: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Citra Pelayanan Dengan Minat Pasien Menggunakan Jasa Pelayanan

SURYA 5 Vol.02, No.IX, Agus 2011

yaitu 28 orang (57,1%), dan hampir sebagian pasien menyatakan citra pelayanan kurang baik dan ada minat menggunakan jasa pelayanan yaitu 21 orang (42,9%). Sebagian kecil pasien menyatakan citra pelayanan baik dan tidak ada minat menggunakan jasa pelayanan yaitu 2 orang (2,5%), dan hampir seluruhnya pasien menyatakan citra pelayanan baik dan mempunyai minat dalam menggunakan jasa pelayanan yaitu 78 orang (97,5%). Dari hasil uji statistik coefisien contingensi didapatkan nilai taraf signifikasi () ≤ 0,05 didapatkan nilai Approx. Sig = 0,000. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak, artinya terdapat hubungan citra pelayanan dengan minat pasien menggunakan jasa pelayanan di Poli Bedah RSUD Dr.Soegiri Lamongan.

PEMBAHASAN .… .… 1. Citra Pelayanan

Berdasarkan Tabel 4 menunujukkan bahwa masih terdapat sebagian pasien yang menganggap citra pelayanan rumah sakit yang diberikan baik yaitu 80 pasien (52,6%).

Citra merupakan sebuah peran yang terpusat pada persepsi pasien akan kualitas jasa atau citra pelayanan. Citra merupakan hal yang penting bagi suatu perusahaan dan organisasi lainya (Gronroos, 2000). Oleh karena itu penting sekali untuk mengelola citra dengan suatu cara yang tepat. Pelayanan yang diterima dari harapan yang ada mempengaruhi konsumen terhadap citra pelayanan serta persepsi pasien terhadap pelayanan yang diberikan (Zeithmal, 2000). Harapan ini dibentuk oleh apa yang konsumen dengar dari konsumen lain dari mulut ke mulut, kebutuhan pasien, pengalaman masa lalu dan pengaruh komunukasi eksternal. Persepsi pasien terhadap pelayanan yang diberikan sangatlah menentukan baik buruknya citra pelayanan yang diberikan.

Anggapan masyarakat tentang rumah sakit menentukan jumlah pengunjung rumah sakit, jika penyedia jasa memiliki citra positif dihati pelanggan, kesalahan kecil yang terjadi dalam melakukan tindakan sangat mungkin dimanfaatkan. Apabila kesalahan dalam

melakukan tindakan kerapkali terjadi, citra positif tersebut akan rusak. Sebaliknya jika citra sebuah rumah sakit tersebut negatif, maka dampak dari setiap kesalahan dalam melakukan tindakan kerapkali jauh lebih besar daripada bila citra positif, sehingga akan terjadi penurunan jumlah pengunjung.

Citra Pelayanan yang diberikan harus sesuai dengan aspek-aspek dalam kualitas pelayanan, yakni meliputi bukti langsung seperti fasilitas fisik dan sarana pegawai, keandalan dalam kemampuan memberikan pelayanan dengan segera dan memuaskan, daya tanggap para perawat dalam memberikan pelayanan dengan tanggap dan cepat, jaminan mencakup kemampuan dan pengetahuan para staf kerja rumah sakit, empati dalam melakukan hubungan antara perawat dengan pasien sehingga tejalin komunikasi yang baik (Tjiptono (2004: 58).

Untuk dapat meningkatkan sebuah citra pelayanan yang baik beberapa aspek yang perlu ditingkatkan menurut adalah daya tanggap para petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan, para petugas kesehatan mungkin menganggap tidak berbahaya dengan penyakit yang dialami oleh pasien, akan tetapi untuk menentukan citra pelayanan yang baik hal tersebut yang dilihat oleh pasien, sehingga penanganan dengan cepat dan tepat yang harus dilakukan oleh petugas kesehatan. Empati antara perawat dengan pasien, karena hal tersebut adalah yang paling utama yang dilihat oleh seorang pasien, meskipun pengetahuan seorang perawat tidak terlalu bagus, tetapi hubungan perawat dengan pasien bagus maka para pasien tersebut akan memberikan pujian kepada perawat sehingga pasien tersebut mengatakan citra pelayanan yang diberikan sangat bagus. Tetapi kita sebagai perawat yang profesional, antara pengetahuan dan empati kepada seorang pasien harus seimbang, karena itu adalah bekal seorang perawat professional.

Dari data diatas, menunjukkan citra pelayanan yang diberikan RSUD Dr. soegiri Lamongan sudah baik, hal tersebut dikarenakan pelayanan dalam memberikan perawatan pada pasien dan fasilitas yang diberikan sudah memberikan kepuasan pada

Page 9: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Citra Pelayanan Dengan Minat Pasien Menggunakan Jasa Pelayanan

SURYA 6 Vol.02, No.IX, Agus 2011

pasien, sehingga membentuk citra yang baik bagi rumah sakit. Sedangkan pada sebagian kecil pasien menyatakan citra pelayanan yang diberikan kurang atau buruk yaitu 45 pasien (29,6%) dari hasil kuesioner komunikasi antara perawat dengan pasien, karena komunikasi antara perawat dengan pasien sangat penting untuk kesembuhan pasien dan hal tersebut mempengaruhi citra pelayanan sebuah rumah sakit.

2. Minat Pasien Menggunakan Jasa

pelayanan Berdasarkan Tabel 5 menunjukkan

bahwa sebagian besar pasien mempunyai minat untuk menggunakan jasa pelayanan di RSUD Dr. Soegiri Lamongan yaitu 65,1%. fakta diatas menunjukkan bahwa jasa pelayanan yang diberikan bagus sehingga mereka berminat untuk menggunakan jasa pelayanan.

Minat sebagai suatu ungkapan kecendrungan tentang kegiatan yang sering dilakukan setiap hari, sehingga kegiatan tersebut disukainya (Nunnaly dalam Soejitno dkk, 2002), dalam hal ini minat menggunakan jasa pelayanan adalah suatu kegiatan jasa pelayanan yang sering dilakukan sehingga kegiatan tersebut disukai pasien. minat menggunakan jasa pelayanan dapat juga diartikan sebagai bagian dari tahapan loyalitas konsumen seperti diungkapkan oleh Oliver dalam Setiawati B (2006) bahwa loyalitas adalah komitmen pelanggan bertahan secara mendalam untuk berlangganan kembali atau melakukan pembelian produk jasa terpilih secara konsisten dimasa yang akan datang, meskipun pengaruh situasi dan usaha-usaha pemasaran mempunyai potensi untuk menyebabkan perubahan prilaku.

Adapun faktor yang dapat menentukan seorang pasien berminat menggunakan jasa pelayanan adalah tersedia dan berkesinambung adalah sayrat pokok utama pelayanan yang baik artinya semua jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat tidak sulit untuk ditemukan, dapat diterima dan wajar adalah pelayanan kesehatan yang diberikan tidak bertentangan dengan keyakinan dan kepercayaan

masyarakat, mudah dicapai oleh masyarakat sekitar dengan menggunakan transportasi yang tersedia, terjangkau dari sudut biaya pelayanan kesehatan dengan kemampuan ekonomi masyarakat, dan citra pelayanan yang bermutu ini merupakan sebuah peran terputus pada persepsi pelanggan akan kualitas jasa atau kualitas pelayanan yang menunjukan pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan (Azwar, 1996 dalam Lita, 2004),. Apabila faktor-faktor tersebut terpenuhi maka akan semakin banyak minat pasien untuk menggunakan jasa pelayanan dirumah sakit tersebut.

Dari hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa sebagian besar pasien mempunyai minat dalam menggunakan jasa pelayanan, dan hampir sebagian pasien yang berminat adalah pasien jamkesmas yaitu 71 pasien (46,7%), dikarenakan status ekonomi mereka yang kurang, sehingga mereka memerlukan biaya gratis untuk pengobatan, meskipun tempat tinggal mereka jauh dari rumah sakit. Sedangkan pada beberapa pasien yang tidak berminat menggunakan jasa pelayanan, hal ini disebabkan karena rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit umum, dan mereka menggangap sebagai tempat pengobatan gratis, sehingga pelayanan yang diberikan kurang optimal, tidak sesuai dengan keinginan pasien, hal tersebut juga dipengaruhi dari sistem ekonomi mereka yang tinggi. 3. Hubungan Citra Pelayanan Dengan

Minat Pasien Menggunakan Jasa Pelayanan

Berdasarkan Tabel 8 menunjukkan bahwa hampir seluruh pasien menyatakan citra pelayanan yang diberikan baik dan mempunyai minat dalam menggunakan jasa pelayanan yaitu 78 pasien (97,5%), dan sebagian kecil menyatakan citra pelayanan yang diberikan baik dan tidak mempunyai minat dalam menggunakan jasa pelayanan yaitu 2 pasien (2,5%). Sebagian besar menyatakan citra pelayanan yang diberikan kurang baik dan tidak mempunyai minat dalam menggunakan jasa pelayanan yaitu 28 pasien (57,1%), dan hampir sebagian

Page 10: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Citra Pelayanan Dengan Minat Pasien Menggunakan Jasa Pelayanan

SURYA 7 Vol.02, No.IX, Agus 2011

menyatakan citra pelayanan kurang baik dan mempunyai minat dalam menggunakan jasa pelayanan yaitu 21 pasien (42,9%). Dan dari 23 pasien (100%) seluruhnya menyatakan citra pelayanan tidak baik dan tidak mempunyai minat dalam menggunakan jasa pelayanan. Dari hasil uji statistik coefisien contingensi didapatkan nilai taraf signifikasi () ≤ 0,05 didapatkan nilai Approx. Sig = 0,000.

Citra pelayanan dipengaruhi dua model dimensi kualitas jasa yaitu technical quality adalah apa yang diperoleh pelanggan sebagai hasil dari interaksi antara penyedia dan pengguna jasa dan functional quality adalah bagaimana pelanggan memperoleh jasa tersebut. hal ini karena adanya pengaruh persepsi pelanggan akan kualitas jasa tersebut. Peran Citra sebuah rumah sakit sangat mempengaruhi keberhasilan kegiatan dalam melaksananakan suatu tindakan disebuah rumah sakit, karena citra dapat berdampak kepada persepsi pasien atau kualitas sebuah rumah sakit, nilai kepuasan dan minat pelanggan dalam menggunakan jasa pelayanan di rumah sakit tersebut. pelayanan yang baik akan dapat menciptakan minat seorang pelanggan yang semakin melekat erat dan pelanggan tidak akan berpaling pada rumah sakit lain. Jika pasien merasa puas dengan pelayanan yang diberikan, maka pasien akan memperlihatkan peluang yang besar untuk menggunakan jasa pelayanan, serta cendrung akan merekomendasikan kepada orang lain. Sedangkan pasien yang merasa tidak puas dengan pelayanan yang diberikan akan bereaksi dengan tindakan-tindakan negatif seperti mendiamkan saja, melakukan komplain, bahkan merekomendasikan negatif kepada orang lain, sehingga penting sekali bagi petugas-petugas dirumah sakit untuk selalu memberikan pelayanan yang terbaik, karena jika citra pelayanan baik maka banyak pasien yang berminat dalam menggunakan jasa pelayanan .

Hasil Penelitian diatas menunjukkan bahwa semakin bagus citra pelayanan yang diberikan maka semakin banyak minat pasien untuk menggunakan jasa pelayanan. Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara citra pelayanan dengan minat pasien menggunakan jasa pelayanan.

KESIMPULAN DAN SARAN. … 1. Kesimpulan

1) Sebagian besar responden menyatakan Bahwa citra pelayanan yang diberikan di Poli Bedah RSUD. Dr. Soegiri baik, yaitu 80 respoden atau 52,6%

2) Sebagian besar responden menyatakan berminat untuk menggunakan jasa pelayanan di Poli Bedah RSUD Dr. Soegiri lamongan, yaitu 99 responden atau 65,1%

3) Terdapat hubungan Citra Pelayanan Dengan Minat Pasien Menggunakan Jasa Pelayanan Pada 152 Responden Di Poli Bedah RSUD Dr. Soegiri Lamongan.

2. Saran

Merupakan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya dalam hal meningkatkan citra pelayanan dengan minat pasien menggunakan jasa pelayanan di Poli Bedah Rawat jalan, dan sebagai sarana pembanding bagi dunia ilmu pengetahuan dalam memperkaya informasi tentang penggunaan kunjungan jasa pelayanan.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi kepada mahasiswa tentang masalah citra pelayanan dalam suatu rumah sakit atau sebuah institusi.

Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan kegiatan evaluasi citra pelayanan terhadap minat pasien menggunakan jasa pelayanan.

Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan untuk profesi keperawatan agar selalu menjaga citra pelayanan sehingga dapat meningkatkan jumlah pengunjung untuk selalu menggunakan jasa pelayanan.

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai rujukan dan pembanding bagi peneliti selanjutnya khususnya berkenaan dengan citra pelayanan dengan minat pasien menggunakan jasa pelayanan.

Page 11: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Citra Pelayanan Dengan Minat Pasien Menggunakan Jasa Pelayanan

SURYA 8 Vol.02, No.IX, Agus 2011

. . .DAFTAR PUSTAKA . . . Alma, Puspita. 2005. Hubungan Persepsi

Tentang Kualitas Pelayanan Dengan Citra Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Aceh Tamiang. Ilmu Kesehatan Masyarakat Sumatera Utara Medan. http://citrarumahsakit.net.com. Diakses tanggal 16-02-2011.

Azwar, A. 1994. Program Menjaga Mutu

Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Yayasan IDI.

Assauri, Sofyan, 2003. “Customer Service

yang baik landasan pencapaian Customer Satisfaction” dalam Usahawan No. 01, tahun XXXII, Jakarta.

Brown, dkk. 2001. Service

QualityMultidisciplinary and Multinational Perspective. Lexington Books.

Depkes RI. 2009. Pedoman Organisasi

Rumah Sakit Umum. Jakarta. Gronroos, C. 2000. Servis Menagement

And Marketing. Publish by Jhon Wiley And Sons Ltd: England.

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode

Penelitian dan Kesehatan Masyarakat, Batam : Bina Rapa Aksara.

Iga Trimurthy. 2008. Analisis Hubungan

Persepsi pasien dengan Minat Pemanfaatan Ulang Pelayanan Rawat Jalan Puskesmas Pandanaran Semarang. Ilmu Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Diponegoro Semarang. http://minatjasaulang.net.com

Iskandar, D. 2008. Rumah Sakit Tenaga Kesehatan Dan Pasien. Jakarta: Sinar Grafik.

Jacobalis,S., 2000, Beberapa Teknik dalam

Manajemen Mutu, Manajemen Rumah Sakit, Yogyakarta : Universitas Gadjahmada.

Jasito. 2002. Persepsi Terhadap Citra

Rumah Sakit Medistra Di Kalangan Masyarakat Jakarta. Jakarta: Universitas Indonesia.

Kotler, Philiph. 2000. Menejemen Pemasaran. Jakarta: Prehallindo.

Kotler, P dan G. Amstrong. 2004. Dasar-

dasar Manajemen Pemasaran I. Edisi 9. PT. Prehallindo. Jakarta

Lestari, T.R.P, 2004. Pemasaran Pelayanan

Kesehatan di Rumah Sakit sebagai Upaya Menciptakan Image Positif di masyarakat, Jurnal Manajemen Administrasi Rumah Sakit Indonesia. Jakarta : Universitas Indonesia. http://rumahsakit.blogspot.com. Diakses: 03/01/2011

Lita, P. 2004. Pengaruh Sistem

Penyampaian Jasa Terhadap Citra Rumah Sakit. Pasca Sarjana Ilmu Ekonomi Padjadjaran Bandung. http://citrapelayanan.blogspot.com. Diakses: 03/01/2011

Lupiyoadi, Rambat. 2001. Manajemen

Pemasaran Jasa Teori dan Praktik. Jakarta : Salemba Empat.

Mauludin, Hanif. 2001. Analisis Kualitas

Pelayanan, Pengaruhnya Terhadap Image. Jurnal Penelitian Akuntansi, Bisnis dan Manajemen, Vol. 7, No. 1.

Page 12: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Citra Pelayanan Dengan Minat Pasien Menggunakan Jasa Pelayanan

SURYA 9 Vol.02, No.IX, Agus 2011

http://kualitaspelayanan.net.com Di akses 11/01/2011: Jam 13:00

Muninjaya, A. A. Gde. 2004. Manajemen

Kesehatan. Jakarta: EGC Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan

Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S. 2005. Metode Penelitian

Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Nursalam, 2008. Konsep dan Penerapan

Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Nursalam, 2001. Pedoman Praktis Dan

Penerapan Metode Penelitian Ilmu Keperawatan. Surabaya : Universitas Airlangga

RSUD Dr. Soegiri Kabupaten Lamongan.

Data Pasien Di Poli Bedah Rawat Jalan. Tahun 2008-2010.

Ruslan, Darmono. 2002. Jaminan Mutu

Layanan Kesehatan. Jakarta: EGC

Prasetijo,R, Ihalauw, JJOI, 2004. Perilaku

Konsumen. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Sandjaja. 2005. Pengertian Minat. http/BelajarBersam.Blogspot.com/ 12/10/2005/minat-dalam-belajar.html. Diakses: tanggal 25 Februari 2010.

Siregar A. 2003. Pengaruh Kualitas

Pelayanan Terhadap Keputusan Menggunakan Jasa Pada Rumah Sakit Umum Daerah Kraton Kabupaten Pekalongan. Sarjana Ekonomi Universitas Negri Semarang. www.keputusan menggunakan jasa.blogspot.com

Soejitno,, Alkatiri, dan Ibrahim. 2002.

Reformasi Perumahsakitan Indonesia. Jakarta: Grasindo.

Tjiptono, F. 2004. Menejemen Jasa.

Yogyakarta: Andi Offset. Tjiptono, F. 2002. Strategi Pemasaran.

Yogyakarta : Andi Offset. Wijono, J. 2000. Menejemen Mutu

Pelayanan Kesehatan. Surabaya : Uneversitas Airlangga Press.

Zeithaml, Valari a & Mario Jo Bitner, 1999.

Service Marketing. New York; Mc Graw-Hill Companies Inc.

Page 13: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

SURYA 10 Vol.02, No.IX, Agus 2011

PERBEDAAN TINGKAT MOBILITAS PADA PASIEN POST OPERASI FRAKTUR EKSTREMITAS BAWAH SEBELUM DAN SESUDAH DILAKUKAN

PENYULUHAN KESEHATAN DI RUANG BOEGENVILLE DAN TERATAI RSUD DR. SOEGIRI

LAMONGAN

Diah Puji Astutik, Ilkafah , Ihda Mauliyah

…………......……….…… …… . .….ABSTRAK…… … ......………. …… …… . .…. Mobility is an important thing that must be done by the postoperative fracture of the lower extremity patient to prevent postoperative complications. One of the factors that affect mobility is education. This problem changing is any postoperative fracture of the lower extremity patient that do not perform mobility. The purpose of this study is to analyze the differences in levels of mobility to postoperative fractures of the lower extremity patient before and after health education. The design of this study is pre-experimental with one group pre-post test design approach. The population of this study are the entire the postoperative fracture of the lower extremity patient in RSUD dr. Soegiri Lamongan and the sample taken are 42 respondents with Simple random sampling technique. The data are collected by using observation sheet then tabulated and analyzed by Wilcoxon signed rank test with p = 0.05. The result of the study show that the level of mobility to patients before education, the mostly at level 3 and after education the mostly at level 1, there is a difference in the level of mobility before and after health education obtained p = 0.000 where p <0.05. In conclusion, H1 accepted it means there is different degrees of mobility in the postoperative fracture of the lower extremity patient before and after health education. Based on the result of this study, it is necessary for the nurses to give health education to the patients and their families especially about the importance to do mobility post operation based on the procedure given to minimalize unsuccessful on the improvement mobility of post operation fracture of extremity patients. Keywords: Health Education, Level Mobility

PENDAHULUAN. …… . … … . Semakin pesatnya kemajuan teknologi

saat ini, memberikan berbagai kemudahan dengan tercapainya berbagai sarana dan prasarana dalam berbagai bidang. Sementara di balik kemajuan tersebut, mengakibatkan sering terjadi berbagai kecelakaan yang disebabkan oleh kesalahan manusia terutama kecelakaan kendaraan bermotor yang dapat menyebabkan fraktur atau patah tulang (Ikrima, 2008). Fraktur merupakan patah tulang atau terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Suratun, 2008). Penanganan fraktur pada ekstremitas dapat dilakukan secara konservatif dan operasi sesuai dengan tingkat keparahan fraktur dan sikap mental pasien (Smeltzer & Bare, 2002). Menurut Potter &

Perry (2005), kegawatan fraktur diharuskan segera dilakukan tindakan untuk menyelamatkan pasien dari kecacatan fisik. Kecacatan fisik dapat dipulihkan secara bertahap melalui mobilitas persendian yaitu dengan latihan Range Of Motion (ROM) dan mobilitas dini. Hal tersebut perlu dilakukan sedini mungkin pada pasien post operasi untuk mengembalikan kelainan fungsi pasien seoptimal mungkin atau melatih pasien dan menggunakan fungsi yang masih tertinggal seoptimal mungkin (Smeltzer & Bare, 2002). Menurut Susan (2001), di Amerika Serikat, fraktur terdapat hampir 10% dari seluruh cedera yang dilaporkan. Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat tahun 2005 terdapat lebih dari 7 juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan dan sekitar 2

Page 14: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Perbedaan Tingkat Mobilitas Pada Pasien Post Operasi Fraktur Ekstremitas Bawah Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Penyuluhan Kesehatan

SURYA 11 Vol.02, No.IX, Agus 2011

juta orang mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden kecelakaan yang memiliki prevalensi cukup tinggi yakni insiden fraktur ekstremitas yakni sekitar 46,2% dari insiden kecelekaan yang terjadi (Depkes RI, 2007).Menurut laporan penelitian Moesbar (2007), kejadian fraktur di Indonesia periode tahun 2005 sampai dengan 2007 terdapat 864 kasus fraktur akibat kecelakaan lalu lintas yang datang berobat ke rumah sakit dari jumlah tersebut yang mengalami patah tulang pada anggota gerak bawah dari sendi panggul sampai ke jari kaki yaitu 549 kasus (63,5%), kemudian anggota gerak atas dari sendi bahu sampai ke jari tangan sejumlah 250 kasus (28,9%) diikuti daerah tulang panggul sejumlah 39 kasus (4,5%) dan tulang belakang 26 kasus (3,1%). Berdasarkan data rekam medik RSUD dr. Soegiri Lamongan di ruang Ruang Bougenville dan Teratai tahun 2010 terdapat 272 kasus pasien yang mengalami fraktur. Hasil survey awal di Ruang Bougenville dan Teratai RSUD dr. Soegiri Lamongan tanggal 31 Januari 2011, dari 4 pasien post operasi fraktur ekstremitas didapatkan 1 pasien atau 25% yang melakukan mobilitas meskipun dengan bantuan dan 3 pasien atau 75% yang tidak melakukan mobilitas karena takut. Dari data di atas maka masalah penelitian ini adalah masih ada pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah yang tidak melakukan mobilitas. Faktor yang mempengaruhi pelaksanaan mobilitas antara lain tingkat usia dan status perkembangan, keadaan fisik (proses penyakit/cedera), gaya hidup, emosi, tingkat energi, pekerjaan, keadaan nutrisi, kebudayaan dan pengetahuan (Hesti, 2010) dimana pengetahuan dipengaruhi oleh pendidikan, pekerjaan, umur, minat, pengalaman, kebudayaan lingkungan, dan informasi (Wahit, 2007). Perawat harus mampu menjalankan perannya dalam memberikan pelayanan kesehatan, misalnya dalam bentuk pendidikan kesehatan yang diberikan oleh petugas kesehatan berupa penyuluhan kesehatan (Effendy, 2003).

Tujuan penelitian diatas untuk mengetahui Perbedaan Tingkat Mobilitas pada Pasien Post Operasi Fraktur Ekstremitas Bawah Sebelum dan Sesudah Dilakukan

Penyuluhan Kesehatan di Ruang Boegenville dan Teratai RSUD dr. Soegiri Lamongan.

METODOLOGI .PENELITIAN

Jenis Penelitian ini adalah pra eksperimental dengan pendekatan One-group pra-post test design. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah di ruang Boegenville dan Teratai RSUD dr. Soegiri Lamongan pada bulan Maret sampai Mei 2011 dengan jumlah 46 orang, sedangkan sampel penelitian adalah Sebagian pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah di ruang Boegenville dan Teratai RSUD dr. Soegiri Lamongan selama bulan Maret sampai Mei 2011 sebanyak 42 responden. Dalam penelitian ini menggunakan varibel tunggal yaitu tingkat mobilitas, sedangkan sebagai perlakuan adalah penyuluhan kesehatan. Pengumpulan data penelitian menggunakan metode observasi untuk mengetahui tingkat mobilitas pasien. Analisis penelitian menggunakan uji Wilcoxon sign rank test.

HASIL .PENELITIAN … a. Data Umum

1) Karakteristik Jenis Kelamin

Tabel 1 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Ruang Boegenville dan Teratai RSUD dr. Soegiri Lamongan Tahun 2011

No. Jenis Kelamin Jumlah

Prosentase (%)

1 2

Laki-laki Perempuan

27 15

64,3 35,7

Jumlah 42 100 Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah berjenis kelamin laki-laki sebesar 64,3%.

Page 15: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Perbedaan Tingkat Mobilitas Pada Pasien Post Operasi Fraktur Ekstremitas Bawah Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Penyuluhan Kesehatan

SURYA 12 Vol.02, No.IX, Agus 2011

2) Karakteristik umur

Tabel 2 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

No. Umur Jumlah Prosentase (%) 1 2 3

<20thn 20-35thn >35thn

14 17 11

33,3 40,5 26,2

Jumlah 42 100 Dari tabel 2 menunjukkan bahwa hampir sebagian pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah berumur 20-35 tahun sebesar 40,5%. 3) Karakteristik pendidikan

Tabel 3 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan

No Pendidikan Jumlah Prosentase (%)

1 2 3 4

SD/sederajat SMP/sederajat SMA/sederajat Akademik/Sarjana

8 16 14 4

19,1 38,1 33,3 9,5

Jumlah 42 100

Dari tabel 3 dapat dijelaskan bahwa hampir sebagian pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah berpendidikan SMP/sederajat sebesar 38,1%. 4) Karakteristik pekerjaan

Tabel 4 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

No. Pekerjaan Jumlah Prosentase (%)

1 Petani 7 16,7 2 Wiraswasta 11 26,2 3 PNS 1 2,4 4 Tidak bekerja 5 11,9 5 pedagang 0 0 6 Ibu rumah

tangga 0 0

7 Pelajar 18 42,9 Jumlah 42 100

Dari tabel 4 dapat dijelaskan bahwa hampir sebagian pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah bekerja sebagai pelajar sebesar 42,9%.

b. Data Khusus 1) Tingkat mobilitas post operasi fraktur

ekstremitas bawah sebelum dilakukan penyuluhan kesehatan.

Tabel 5 Distribusi Karakteristik

Responden Berdasarkan Tingkat Mobilitas Post Operasi sebelum dilakukan penyuluhan kesehatan

No. Tingkat

mobilitas Jumlah Prosentase

(%) 1 Tingkat 0 0 0 2 Tingkat 1 0 0 3 Tingkat 2 7 16,7 4 Tingkat 3 23 54,8 5 Tingkat 4 12 28,6

Jumlah 42 100 Pada tabel 5 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah melakukan mobilitas pada tingkat 3 sebesar 54,8%. 2) Tingkat mobilitas post operasi fraktur

ekstremitas bawah setelah dilakukan penyuluhan kesehatan

Tabel 6 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Mobilitas Post Operasi Setelah Dilakukan Penyuluhan Kesehatan

No. Tingkat

mobilitas Jumlah Prosentase

(%) 1 Tingkat 0 3 7,1 2 Tingkat 1 22 52,4 3 Tingkat 2 10 23,8 4 Tingkat 3 7 16,7 5 Tingkat 4 0 0

Jumlah 42 100 Berdasarkan tabel 6 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah melakukan mobilitas pada tingkat 1 sebesar 52,4%.

Page 16: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Perbedaan Tingkat Mobilitas Pada Pasien Post Operasi Fraktur Ekstremitas Bawah Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Penyuluhan Kesehatan

SURYA 13 Vol.02, No.IX, Agus 2011

3) Perbedaan Tingkat Mobilitas pada Pasien Post Operasi Fraktur Ekstremitas Bawah Sebelum dan Sesudah Dilakukan Penyuluhan Kesehatan.

Tabel 7 Distribusi Perbedaan Tingkat Mobilitas pada Pasien Post Operasi Fraktur Ekstremitas Bawah Sebelum dan Sesudah Dilakukan Penyuluhan

No. Keterangan Jumlah Prosentase

(%) 1 Meningkat 39 92,9 2 Tetap 2 4,8 3 Menurun 1 2,4

Jumlah 42 100 Dari tabel 7 menunjukkan bahwa hampir seluruh pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah mobilitasnya meningkat sebesar 92,9%. Dengan menggunakan uji Wilcoxon sign rank test hasil analisis data dengan bantuan SPSS versi 16,0 dengan hasil sebagai berikut p = 0,000 dimana p<0,05 sehingga H1 diterima artinya terdapat perbedaan tingkat mobilitas pada pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan kesehatan. PEMBAHASAN .… .… 1) Tingkat Mobilitas Post Operasi

Fraktur Ekstremitas Bawah Sebelum Dilakukan Penyuluhan Kesehatan Berdasarkan tabel 5 di atas menunjukkan

bahwa sebagian besar pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah melakukan mobilitas pada tingkat 3 sebesar 54,8%.

Menurut Hesti (2010), mobilitas dapat dipengaruhi oleh faktor tingkat usia dan status perkembangan, keadaan fisik (proses penyakit/cedera), gaya hidup, emosi, tingkat energi, pekerjaan, keadaan nutrisi, kebudayaan dan pengetahuan dimana pengetahuan dipengaruhi oleh pendidikan, pekerjaan, umur, minat, pengalaman, kebudayaan lingkungan, dan informasi. Kesehatan Fisik (Proses Penyakit/Cedera)

dipengaruhi oleh gangguan saraf motorik dan sensorik pada area tubuhnya sehingga dapat mempengaruhi kemampuan mobilitas pasien. Pengetahuan merupakan salah satu sumber dari pendidikan, dan tingkat pendidikan mempengaruhi gaya hidup seseorang. Makin tinggi pendidikan seseorang akan diikuti oleh perilaku yang dapat meningkatkan kesehatannya. Demikian halnya dengan pengetahuan kesehatan tentang mobilitas seseorang akan senantiasa melakukan mobilitas dengan cara yang sehat. Emosi, keresahan dan kesusahan dapat menghilangkan semangat, yang kemudian sering dimanifestasikan dengan kurang aktivitas. Kurangnya nutrisi dapat menyebabkan kelemahan otot dan obesitas dapat menyebabkan pergerakan menjadi kurang bebas. Perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi kemampuan mobilitas seseorang karena gaya hidup berdampak pada perilaku atau kebiasaan sehari-hari.

Pasien enggan melakukan mobilitas dikarenakan pasien tidak mampu melakukan mobilitas secara bebas karena dipengaruhi adanya gangguan pada sistem tubuh yang disebabkan fraktur ekstremitas bawah sehingga mobilitas pasien terganggu. Pasien tidak mampu mengontrol anggota tubuhnya sehingga membatasi pergerakan tubuhnya. Pasien beranggapan apabila melakukan mobilitas meskipun hanya pergerakan sendi pada area yang tidak mengalami fraktur akan memperparah fraktur yang diderita. Pengetahuan tentang pentingnya mobilitas post operasi juga berpengaruh pada kemauan pasien dalam melakukan mobilitas. Kurangnya pengetahuan serta belum diberikannya intervensi yaitu pendidikan kesehatan tentang mobilitas menyebabkan pasien enggan melakukan mobilitas karena takut. Selain itu juga, gangguan sistem tubuh dapat menimbulkan nyeri sehingga pasien enggan untuk bergerak secara bebas karena merasakan nyeri pada bagian tubuh yang terkena fraktur. Emosi pasien juga berpengaruh pada kemampuan mobilitas pasien. Saat sakit dan harus menjalani perawatan di rumah sakit menyebabkan emosi pasien tidak stabil sehingga pasien kehilangan semangat untuk melakukan

Page 17: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Perbedaan Tingkat Mobilitas Pada Pasien Post Operasi Fraktur Ekstremitas Bawah Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Penyuluhan Kesehatan

SURYA 14 Vol.02, No.IX, Agus 2011

mobilitas. Nutrisi yang cukup merupakan sumber energi utama yang akan digunakan untuk melakukan mobilitas. Bila nutrisi pasien tidak mencukupi, kondisi tubuh pasien akan lemah sehingga tidak mampu melakukan mobilitas. Gaya hidup juga berpengaruh pada kemampuan mobilitas pasien karena kebiasaan pasien melakukan mobilitas. Pasien yang terbiasa melakukan mobilitas setiap hari, saat menderita fraktur ekstremitas bawah akan tetap melakukan mobilitas walaupun mobilitas yang minimal begitu juga sebaliknya pasien yang sehari-harinya kurang melakukan mobilitas saat menderita fraktur ekstremitas bawah akan enggan untuk melakukan mobilitas. 2) Tingkat mobilitas post operasi fraktur

ekstremitas bawah setelah dilakukan penyuluhan kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel

4.6 menunjukkan bahwa sebagian besar pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah melakukan mobilitas pada tingkat 1 yaitu memerlukan bantuan alat sebesar yaitu 52,4%. Mobilitas dapat dipengaruhi oleh faktor tingkat usia dan status perkembangan, keadaan fisik (proses penyakit/cedera), gaya hidup, emosi, tingkat energi, pekerjaan, keadaan nutrisi, kebudayaan dan pengetahuan dimana pengetahuan dipengaruhi oleh pendidikan, pekerjaan, umur, minat, pengalaman, kebudayaan lingkungan, dan informasi.

Hal ini sesuai dengan tabel 4.2 yang menyebutkan bahwa hampir sebagian pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah berumur 20-35 tahun sebesar 40,5%. Dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada aspek fisik dan psikologis (mental). Pada aspek psikologis atau mental taraf berpikir seseorang semakin matang dan dewasa (Wahit, 2007). Umur 20-35 tahun disebut sebagai usia dewasa muda. Umur tersebut termasuk dalam usia produktif, sehingga daya ingat terhadap informasi yang diterima oleh pasien akan lebih mudah diingat dan dipahami, sehingga pasien akan mempunyai pengetahuan cukup khususnya pengetahuan tentang pentingnya melakukan mobilitas

Selain umur, mobilitas juga dipengaruhi oleh faktor pengetahuan yang dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Hal ini sesuai pada tabel 4.3 yang menyebutkan bahwa hampir sebagian pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah berpendidikan SMP/sederajat sebesar 38,1%. Menurut Notoatmodjo (2007), pendidikan adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat, sehingga mereka melakukan apa yang diberikan oleh pelaku pendidikan, tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang sehingga mampu menyikapi dan memberikan persepsi terhadap perkembangan ide teknologi baru. Sehingga dengan pendidikan yang tinggi maka seseorang lebih bisa memahami dan menerima akan perkembangan suatu pengetahuan, informasi dan teknologi.

SMP merupakan jenjang pendidikan menengah pertama, masa peralihan dari sekolah dasar sehingga dapat mempengaruhi cara berfikir mereka. Mereka berfikir secara lebih kritis dan lebih mudah memahami informasi yang mereka dapat. Pada tingkat pendidikan ini pasien mulai bisa menerima informasi yang diberikan melalui pendidikan kesehatan tentang mobilitas dan mencernanya dengan baik sehingga pasien bisa melakukan mobilitas atas kemauannya sendiri dan sesuai prosedur yang telah ditentukan. Semakin tinggi tingkat pendidikan pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah maka semakin mudah menerima informasi sehingga semakin banyak pengetahuan yang dimiliki khususnya tentang pentingnya melakukan mobilitas, sebaliknya jika pendidikan pasien rendah maka akan menghambat pasien dalam menerima informasi dan akibatnya pengetahuan pasien pun rendah karena selama menempuh pendidikan akan terjadi hubungan antar individu baik secara sosial atau interpersonal yang akan berpengaruh terhadap wawasan, oleh karena itu pendidikan dan pengetahuan pasien post operasi fraktur yang rendah mengenai mobilitas akan menyebabkan pasien tidak

Page 18: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Perbedaan Tingkat Mobilitas Pada Pasien Post Operasi Fraktur Ekstremitas Bawah Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Penyuluhan Kesehatan

SURYA 15 Vol.02, No.IX, Agus 2011

melakukan mobilitas secara sehat dan sesuai dengan prosedur.

Pekerjaan juga dapat mempengaruhi mobilitas pasien. Hal ini sesuai dengan tabel 4.4 menunjukkan bahwa hampir sebagian pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah bekerja sebagai pelajar sebesar 42,9%. Menurut Wahit (2007), lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Dengan bekerja seseorang akan berinteraksi dengan teman sekerjanya sehingga dapat terjadi pertukaran informasi. Peningkatan pengetahuan juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat seseorang bekerja dan kesesuaian pekerjaan tersebut terhadap keterampilan yang dimilikinya, dengan adanya lingkungan kerja yang nyaman dan kesesuaian antara keterampilan yang dimiliki terhadap pekerjaannya maka akan memberikan kesan yang positif dan akan dapat meningkatkan pengetahuan khususnya tentang pentingnya melakukan mobilitas post operasi.

Sebagai pelajar, pasien dituntut berfikir lebih kritis daripada pekerjaan yang lainnya. Dibangku sekolah banyak informasi yang diperoleh baik melalui ceramah yang disampaikan oleh guru, diskusi, ataupun memperoleh informasi dari buku maupun internet sehingga menambah atau menjadikan sumber informasi yang akan meningkatkan pengetahuan pasien akan pentingnya melakukan mobilitas post operasi selain pendidikan kesehatan yang dilakukan. Kenyataan tersebut juga terjadi karena tingkat kemampuan mobilitas tidak hanya dipengaruhi oleh faktor di atas saja namun masih banyak faktor lain yang dapat mempengaruhinya seperti tingkat energi, emosi dan keadaan nutrisi. Saat sakit dan harus menjalani perawatan di rumah sakit menyebabkan emosi pasien tidak stabil sehingga pasien kehilangan semangat untuk melakukan mobilitas, tetapi setelah diberikan pendidikan kesehatan pasien memahami pentingnya mobilitas post operasi sehingga pasien tidak takut untuk melakukan mobilitas. Begitu juga dengan nutrisi yang cukup

merupakan sumber energi utama yang akan digunakan untuk melakukan mobilitas. 3) Perbedaan Tingkat Mobilitas pada

Pasien Post Operasi Fraktur Ekstremitas Bawah Sebelum dan Sesudah Dilakukan Penyuluhan Kesehatan. Berdasarkan data yang diperoleh dari

penelitian ditemukan pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah mobilitasnya meningkat sebesar 92,9%. Hasil uji analisis dengan menggunakan SPSS for windows versi 16,00 dan diuji dengan uji statistik Wilcoxon signed rank test, dengan hasil sebagai berikut p = 0,000 berarti p<0,05, sehingga H1 diterima yang artinya ada perbedaan tingkat mobilitas pada pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan kesehatan. Menurut Potter & Perry (2005), penyuluhan kesehatan preoperatif tentang perilaku yang diharapkan dilakukan oleh pasien pada post operasi, yang diberikan melalui format yang sistematik dan terstruktur sesuai dengan prinsip-prinsip belajar mengajar, mempunyai pengaruh yang positif bagi pemulihan pasien.

Dapat disimpulkan bahwa pemberian penyuluhan kesehatan tentang mobilitas sebelum operasi dapat mempengaruhi perilaku pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah. Perilaku tersebut yaitu pasien dapat melakukan mobilitas dengan benar sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan sehingga berdampak sangat baik bagi pemulihan kondisi pasien, dengan melakukan mobilitas pasien mendapatkan banyak manfaat yang mendukung pemulihan kesehatan pasien. Penyuluhan kesehatan yang menyeluruh tidak hanya meningkatkan pemahaman pasien tentang pentingnya mobilitas, tetapi juga mempercepat kembalinya fungsi fisiologis pasien.

KESIMPULAN DAN SARAN. … 1. Kesimpulan 1) Tingkat mobilitas pada pasien post

operasi fraktur ekstremitas bawah di ruang Boegenville dan Teratai RSUD dr. Soegiri Lamongan sebelum pemberian

Page 19: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Perbedaan Tingkat Mobilitas Pada Pasien Post Operasi Fraktur Ekstremitas Bawah Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Penyuluhan Kesehatan

SURYA 16 Vol.02, No.IX, Agus 2011

penyuluhan kesehatan sebagian besar pada tingkat 3.

2) Tingkat mobilitas pada pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah di ruang Boegenville dan Teratai RSUD dr. Soegiri Lamongan setelah pemberian penyuluhan kesehatan sebagian besar tingkat 1.

3) Terdapat perbedaan tingkat mobilitas pada pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan kesehatan di ruang Boegenville dan Teratai RSUD dr. Soegiri Lamongan tahun 2011.

2. Saran Institusi pendidikan sebagai

tempat dalam menempuh ilmu pendidikan, diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk tambahan materi khususnya tentang penyuluhan kesehatan mengenai pentingnya mobilitas pada pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah.

Hendaknya perawat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah dan menjadikan penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam pemberian penyuluhan kesehatan pada pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah.

Hendaknya dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam meningkatkan pemberian pelayanan kesehatan berkaitan dengan dilakukannya penyuluhan kesehatan tentang mobilitas pada pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah.

Perlunya penelitian lebih lanjut dengan menggunakan jumlah responden yang lebih besar dan representatif dengan metode yang lebih akurat, serta meneliti dari faktor lain diluar penyuluhan.

. . .DAFTAR PUSTAKA . . . Asmadi.(2008). Teknik Prosedural

Keperawatan; Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta.Salemba Medika

Depkes RI.(2007). Prevalensi fraktur.

http://www.depkes.go.id. Diakses tanggal 7 Januari 2011 jam 10.55 WIB

Doenges, Marilynn E.(2000). Rencana

Asuhan Keperawatan Ed.3. Jakarta: EGC

Effendy, Nasrul.(2003). Dasar-Dasar

Keperawatan Kesehatan Masyarakat Jakarta: EGC

Hesti Widuri.(2010). Kebutuhan Dasar

Manusia; Aspek Modlitas dan Istirahat Tidur.Yogjakarta : Gosyen Publishing

Hidayat, A. Aziz. Alimul. (2006). Pengantar

Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

Hidayat, A.Aziz. Alimul. (2007). Riset

Keperawatan dan Penulisan Ilmiah.Jakarta: Salemba Medika

Ikrima. (2008). Pengaruh Range Of Motion

(ROM) Secara Dini Terhadap Kemampuan Activities Daily Living (Adl) Pasien Post Operasi Fraktur Femur Di Rsui Kustati Surakarta. http://etd.eprints.ums.ac.id/890/1/J210040026.pdf. Diakses tanggal 22 Desember 2010 jam 9.30 WIB

Moesbar.(2007). Laporan Penelitian.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21182/1/ruf-nov2007-2%20%286%29.pdf. Diakses tanggal 7 Januari 2011 jam 10.45 WIB

Page 20: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Perbedaan Tingkat Mobilitas Pada Pasien Post Operasi Fraktur Ekstremitas Bawah Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Penyuluhan Kesehatan

SURYA 17 Vol.02, No.IX, Agus 2011

Notoatmodjo, Soekidjo. (2007). Kesehatan Masyarakat;Ilmu & Seni.Jakarta: Rineka Cipta

Notoatmodjo, Soekidjo. (2005). Metode

Penelitian kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta

Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan

Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta :Salemba Medika

Potter & Perry. (2005). Buku Ajar

Fundamental Keperawatan.Jakarta : EGC

Sjamsuhidayat & Jong. (2004). Buku Ajar

Ilmu Bedah Ed.2. Jakarta: EGC Smeltzer, Suzanne C. (2002). Buku Ajar

Keperawatan Medikal Bedah vol.1. Jakarta: EGC

Smeltzer, Suzanne C. (2002). Buku Ajar

Keperawatan Medikal Bedah vol.3. Jakarta : EGC

Sugiyono, (2006). Statistik Untuk Penelitian.

Bandung: Al Fabeta Suratun. (2008). Seri Askep Klien Gangguan

Sistem Muskuloskeletal.jakarta:EGC Susan, J.Garisson. (2001). Dasar-dasar

terapi & Rehabilitasi fisik. Jakarta: Hipokrates

Suharsimi Arikunto. (2006). Prosedur

Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta

Trinoval. (2009). Mobilisasi.

www.trinoval.web.id. Diakses tanggal 25 Januari 2011 jam 11.35 WIB

Wahit Iqbal Mubarak. (2007). Promosi

Kesehatan Sebuah Pengantar Proses Mengajar dalam Pendidikan. Jakarta: Graha Ilmu.

Page 21: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

SURYA 18 Vol.02, No.IX, Agus 2011

PENGARUH SENAM HAMILTERHADAP PENURUNAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA IBU HAMIL DI BPS NY.WIDYA SUROSO

KECAMATAN TURI LAMONGAN

Evi Sulistiana, Diah Eko Martini, Amirul Amalia

…………......……….…… …… . .….ABSTRAK…… … ......………. …… …… . .…. One of the factors that can cause lower back pain in pregnant women is the pressure on back muscles or a shift in the lower spine, that cause joint stress this can be handled by performing the activity be carefully and exercising pregnant women for 30 exercises minutes. Suspected non-compliance in pregnant women doing gymnastics pregnancy became one of the causes lower back pain. The purpose of this study is investigate the influence of pregnancy exercise to decrease lower back pain in pregnant women. Pre-Experimental Research Design with a one-group pre-post test design. The sampling method used Simple Random Sampling. The sample 24 respondents in private practice midwife Ny.widya Suroso turi Lamongan District in May. Data drawn from interviews and observations in pregnant women. Data was analyzed using the Wilcoxon signed rank test with significance level ≤ 0.05. The results showed that, more than of most pregnant women do not experience lower back pain pregnant women 58.3%. While the test statistic that pregnancy exercise influence on the reduction of lower back pain in pregnant women with p = 000 where p ≤ 0.05. Seeing the results of this study, need for more intensive measures to minimize the frequency for low back pain intensity. It is expected that the results of this study as preliminary studies to develop other research and examine other factors such as imagination, acupuncture, and therapeutic touch in order to get better results. Keywords: Pregnancy Exercise, Lower Back Pain.

PENDAHULUAN. …… . … … . Kehamilan terjadi jika ada pertemuan

dan persenyawaan sel telur atau ovum dan sel mani atau spermatozoid pertumbuhan pada wanita hamil meliputi perubahan fisiologis dan perubahan spikologis. Sedangkan kehamilan itu sendiri merupakan anugerah dan hal yang membahagiakan bagi pasangan suami istri, namun, terkadang muncul berbagai keluhan selama kehamilan, salah satu diantaranya yang amat mengganggu adalah masalah nyeri punggung ketika hamil. Nyeri Punggung Bawah merupakan sindroma klinik yang ditandai dengan gejala utama nyeri atau perasaan lain yang tidak enak di daerah tualng punggung bawah, dalam masyarak nyeri punggung bawa tidak mengenal perbedaan umur, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial, tingkat pendidikan,

semuanya bisa terkenanyeri punggung bawah. Lebih dari 80% umat manusia dalam hidupnya pernah mengalami nyeri punggung bawah. Sakit punggung saat hamil biasanya dialami wanita pada waktu-waktu tertentu dalam masa kehamilannya biasanya sering terjadi pada trimester ketiga kehamilan. Rasa sakit tersebut jika tidak segera diatasi tentu akan sangat membebani dan menyakitkan (Ratih, Rochman. 2009).

Nyeri punggung bawah ditandai dengan gejala utama, nyeri atau perasaan lain yang tidak enak di daerah tulang punggung bawah sehingga dapat mengganggu ibu hamil dalam aktivitas. Nyeri ini disebabkan karena pada awal kehamilan dimana bayi terletak pada tulang panggul yang cukup kuat dan dapat menahan beban berat. Namun ketika bayi tumbuh, berat bayi menekan ke depan

Page 22: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Pengaruh Senam Hamilterhadap Penurunan Nyeri Punggung Bawah Pada Ibu Hamil

SURYA 19 Vol.02, No.IX, Agus 2011

melewati tulang pubis. Jika hal ini terjadi gaya tarik bumi (grafitasi) akan menarik berat ke depan dan ke bawah, menekan otot punggung untuk melengkung tekanan otot yang terus menerus inilah yang membuat punggung bagian bawah terasa nyeri (Jimenez, Sherry LM, 2000). Melakukan senam hamil secara teratur di percayai dapat menurunkan nyeri punggung bawah, salah satunya dengan gerakan berlutut memutar tulang panggul, menekuk bokong, melekuk, lutut-dada.(Jimenez, Sherry LM, 2000).

Senam hamil merupakan latihan-latihan atau olahraga bagi ibu hamil. Senam hamil di lakukan dengan tujuan membuat elastis otot dan ligamen yang ada di panggul, memperbaiki sikap tubuh mengatur kontraksi dan relaksasi serta mengatur teknik pernapasan. Latihan dilakukan dengan diawali latihan pendahuluan, latihan inti dan latihan rileksasi. Latihan inti untuk memperbaiki sikap tubuh, mengatur kontraksi dan rileksasi serta mengatur latihan pernapasan. Latihan ini bergantung pada usia kehamilan (22-25 minggu, 26-30 minggu, 31-34 minggu, dan 35 minggu), latihan relaksasi terdiri atas relaksasi dengan posisi berbaring terlentang, relaksasi dengan posisi berbaring miring, relaksasi dengan posisi berbaring terlentang dan lutut ditekuk. Serta relaksasi dengan posisi duduk membungkuk. (Saminem, Hajjah.2009). Namun di masyarakat, masih banyak ibu hamil yang mengalami nyeri punggung bawah yang tidak mau atau malas dalam melakukan senam hamil secara teratur sehingga insiden nyeri punggung bawah pada ibu hamil semakin tinggi, kejadian ini menyebabkan ibu hamil akan merasa terganggu dalam melakukan aktivitas.

Menurut bullock–saxton, bulan Mei tahun 1988, mengatakan nyeri punggung bawah lazim terjadi pada kehamilan dengan insiden yang di laporkan bervariasi dari kira–kira 50 % di inggris dan skandinavia,sampai mendekati 70% di Australia. Pada bulan pebruari tahun 2000 mantle melaporkan bahwa 16% wanita yang di telitih mengeluh nyeri punggung hebat dan 36% melaporkan nyeri punggung yang signifikan. (EiIeen, Brayshaw, 2008).

Sedangkan dalam survey awal yang dilakukan pada bulan November sampai Desember tahun 2010, di BPS Ny. Widya Nigrum Ds. Geger Kec. Turi Lamongan dari 6 ibu hamil, terdapat 4 (67%) ibu yang mengalami nyeri punggung bawah dan 2 (33%) ibu yang tidak mengalami nyeri punggung bawah. Dari data di atas masalah peneliti masih banyaknya ibu hamil yang mengalami nyeri punggung bawah.

Sakit punggung merupakan salah satu rasa tidak nyaman yang paling umum selam kehamilan. Nyeri punggung pada wanita hamil berkaitan dengan peningkatan berat badan akibat pembesaran rahim dan peregangan dari otot penunjang rahim karena hormon relaksan (hormon yang membuat otot relaksasi dan lemas) yang dihasilkan. Nyeri punggung ini memang biasa dan normal terjadi pada ibu hamil tetapi jika tidak segera di atasi akan menyebabkan Menyebabkan gangguan pada subtansi dasar bagian bagian penyangga dan jaringan penghubung sehingga mengakibatkan penurunan elastisitas dan fleksibilitas otot.Sakit punggung saat hamil disebabkan karena hormon kehamilan yang memengaruhi elastisitas bantalan pada sendi-sendi tubuh. Perubahan perut yang semakin membesar akan mengubah postur tubuh sehingga kelengkungan tulang punggung berubah lebih condong ke belakang yang akibatnya akan timbul rasa sakit pada punggung. Selain itu,ketika bayi terus bertumbuh, organ perut akan mendesak ke daerah dada sehingga mendesak tulang rusuk, menekannya keluar dan membebani tulang rusuk. Ini menyebabkan otot antara tulang rusuk tertekan terus-menerus sehingga menimbulkan rasa nyeri dan lelah. Selain gangguan yang tidak nyaman, rasa sakit yang terus-menerus dapat menyebabkan lelah secara fisik dan emosional sehingga ibu hamil tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasa, seperti pekerjaan ibu rumah tangga dan pekerjaan kantor pada wanita karier.(Jimenez, Sheery LM, 2000). Walaupun nyeri punggung bawah jarang fatal namun nyeri yang dirasakan menyebabkan penderita mengalami suatu kekurangmampuan (disabilitas) yaitu keterbatasan fungsional

Page 23: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Pengaruh Senam Hamilterhadap Penurunan Nyeri Punggung Bawah Pada Ibu Hamil

SURYA 20 Vol.02, No.IX, Agus 2011

dalam aktifitas sehari-hari dan banyak kehilangan jam kerja terutama pada usia produktif, sehingga merupakan alasan terbanyak dalam mencari pengobatan (Kambodji J. dkk, 2002).

Adapun cara untuk mengatasi nyeri punggung bawah pada kehamilan yaitu dengan cara melakukan senam hamil. Senam hamil merupakan olahraga bagi ibu hamil. Senam hamil di lakukan dengan tujuan membuat elastis otot dan ligamen yang ada di panggul, memperbaiki sikap tubuh, mengatur kontraksi dan relaksasi, serta mengatur teknik pernapasan. Latihan dilakukan dengan diawali latihan pendahuluan, latihan inti, dan latihan rileksasi. Latihan inti untuk memperbaiki sikap tubuh, mengatur kontraksi dan rilaksasi, serta mengatur latihan pernapasan.(Saminem, Hajjah. 2009). Dalam senam hamil terdapat manfaat dan tahap senam hamil yaitu senam aerobik yang bermanfaat untuk meningkatkan kebutuhan oksigen dalam otot, merangsang paru-paru dan jantung juga kegiatan otot dan sendi, senam relaksasi untuk menenangkan pikiran dan tubuh, membantu ibu menyimpan energi untuk ibu agar siap menghadapi persalinan, senam kebugaran panggul (kegel) yang mempunyai manfaat untuk menguatkan otot-otot vagina dan sekitarnya (perineal) sebagai kesiapan untuk persalinan, mempersiapkan diri baik fisik maupun mental dan senam kalestenik untuk meredakan sakit punggung dan meningkatkan kesiapan fisik dan mental terutama mempersiapkan tubuh dalam menghadapi persalinan. Salah satu gerakan senam hamil dengan berlutut memutar tulang panggul, menekuk bokong, melekuk, lutut-dada.gerakan ini dapat mencegah sakit punggung bagian bawah, memperkuat otot perut sehingga otot tersebut dapat menompang bayi dan mengurangi lengkungan pada tulang belakang. (Jimenez, Sheery LM, 2000). Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai pengaruh senam hamil terhadap penurunan nyeri punggung bawah. METODOLOGI .PENELITIAN

Desain penelitian menggunakan metode pra-eksperimental dengan metode sampling

simple random sampling. Sampel diambil sebanyak 24 responden yaitu ibu hamil yang melakukan senam hamil dan mengalami nyeri punggung bawah bulan mei 2011 Data penelitian diambil menggunakan SOP senam hamil,observasi dengan skala analog visual (VAS) dan wawancara. HASIL .PENELITIAN … 1. DATA UMUM Tabel 1 Distribusi Responden

Berdasarkan Usia Ibu Hamil

NO Usia ibu

hamil Jumlah Prosentasi

(%)

1 ≤ 20 0 0

2 20-30 14 58,33

3 ≥ 30 10 41,67

Total 24 100

Berdasarkan Tabel 1distribusi usia

ibu hamil di BPS Ny.widya suroso Desa Geger Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan 3-8 mei 2011. Dari diagram diatas dapat dijelaskan bahwa lebih dari sebagian responden berumur 20-30 tahun sebesar 58,33% ibu hamil dan hampir

sebagian umur >30 tahun sebesar 41,67% ibu hamil.

Table 2 Distribusi Responden

Berdasarkan Pendidikan Ibu Hamil

Pendidikan Jumlah Prosentasi (%)

SD 3 12,5 SLTP 4 16,66 SLTA 16 66,67 PT 1 4,17

Total 24 100

Berdasarkan Tabel 2 di atas dapat di jelaskan lebih dari sebagian ibu hamil berpendidikan SLTA sebesar 66,67% dan sebagian kecil berpendidikan PT sebesar 4,17% responden

Page 24: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Pengaruh Senam Hamilterhadap Penurunan Nyeri Punggung Bawah Pada Ibu Hamil

SURYA 21 Vol.02, No.IX, Agus 2011

Tabel 3 Distribusi Responden

Berdasarkan Pekerjaan Ibu Hamil

Pekerjaan Jumlah Prosentasi (%)

Ibu rumah tangga 16 66,67 Buru tani 3 12,5 Wiraswasta/Swasta 5 20,83 PNS 0 0

Total 24 100

Tabel 3 dari tabel pekerjaan

responden di BPS Ny.widya suroso Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan 3-8 mei 2011. Dari tabel di atas dapat di jelaskan bahwa lebih dari sebagian ibu hamil sebagai ibu rumah tangga sebesar 66,67% dan sebagian kecil sebagai buru tani sebanyak 12,5% responden.

2. DATA KHUSUS Tabel 4 Distribusi tingkat nyeri

punggung bawah sebelum melakukan senam hamil pada ibu hamil trimester 2 dan 3

No Intensitas

nyeri Sebelum senam ∑ %

1 Tidak nyeri 0 0 2 Nyeri ringan 13 54,2 3 Nyeri sedang 11 45,8 4 Nyeri berat 0 0 5 Nyeri sangan

berat 0 0

TOTAL 24 100

Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan

bahwa lebih dari sebagian responden sebelum di berikan perlakuan senam hamil mengalami nyeri ringan sebesar 54,2% dan hampir sebagian ibu hamil mengalami nyeri sedang sebesar 45,8%.

Tabel 5 Distribusi tingkat nyeri punggung

bawah setelah melakukan senam hamil pada ibu hamil trimester 2 dan 3

No Intensitas

nyeri Sesudah senam ∑ %

1 Tidak nyeri 14 58,3 2 Nyeri ringan 10 41,7 3 Nyeri sedang 0 0 4 Nyeri berat 0 0 5 Nyeri sangan

berat 0 0

TOTAL 24 100

Berdasarkan Tabel 5 menunjukkan

bahwa lebih dari sebagian responden setelah di berikan perlakuan senam hamil tidak mengalami nyeri punggung bawah sebesar 58,3% dan hampir sebagian mengami nyeri ringan sebesar 41,7%.

Page 25: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Pengaruh Senam Hamilterhadap Penurunan Nyeri Punggung Bawah Pada Ibu Hamil

SURYA 22 Vol.02, No.IX, Agus 2011

Tabel 6 Pengaruh senam hamil terhadap penurunan nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester 1 dan 2 di BPS Ny.widya suroso Desa Geger Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan tanggal 3-8 mei 2011.

No

Senam Hamil

Intensitas Nyeri

Total Tidak Nyeri

Nyeri Ringan

Nyeri sedang

Nyeri

Berat

Nyeri Sangat Berat

∑ % ∑ % ∑ % ∑ % ∑ % ∑ % 1 Sebelum

0 0 13 54,2 11 45,8 0 0 0 0 24 100

2 Sesudah 14 58,3 10 41,7 0 0 0 0 0 0 24 100

Dari data diatas dapat dijelaskan bahwa klien sebelum senam hamil mengalami nyeri ringan sebesar 54,2 % dan nyeri sedang sebesar 45,8 % , setelah melakukan senam hamil hampir sebagian mengalami nyeri ringan 41,7 dan lebih dari sebagian tidak merasa nyeri sebanyak 58,3 %.

Berdasarkan hasil perhitungan uji Willcoxon Signed Ranks didapatkan Z =-4.234, P=.000 Ho di tolak artinya terdapat perbedaan nyeri punggung bawah pada ibu hamil sebelum dan sesudah melakukan senam hamil pada ibu hamil di BPS Ny.widya suroso Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan.

PEMBAHASAN .… .… 1. Intensitas Nyeri Punggung Bawah Pra

Senam Hamil Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan

bahwa lebih dari sebagian responden sebelum di berikan perlakuan senam hamil mengalami nyeri ringan sebanyak 13 (54,2 %) dan hampir sebagian ibu hamil mengalami nyeri sedang sebanyak 11 (45,8 %).

Sakit punggung bawah adalah salah satu

rasa tidak nyaman yang paling umum selama kehamilan. (Myles, 2009). Nyeri punggung bawah dapat terjadi karena adanya tekanan pada otot punggung ataupun pergeseran pada tulang punggung bawah sehingga menyebabkan sendi tertekan.

Salah satu penyebab nyeri punggung bawah adalah pekerjaan ibu rumah tangga,

hal ini karena pada ibu rumah tangga dalam melakukan tugas rumah tangga banyak yang sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan sehari-hari dimana kebiasaan yang di lakukan saat ibu belum hamil. Sehingga terjadi kesalahan postur tubuh ataupun pergeseran pada tulang punggung seperti seperti pada waktu ibu hamil menyetrika dan menyiapkan makanan harus berhati-hati agar tidak terjadi pergeseran pada tulang punggung sehingga ibu dapat melakukannya dengan duduk dimana aktivitas tersebut di lakukan di atas permukaan yang tinggi ataupun juga dapat menggunakan bangku yang tinggi agar ibu hamil tidak membungkuk dan ketika ibu hamil merapikan tempat tidur dan membersikan kamar mandi ibu hamil dapat melakukan dengan berlutut agar tidak terjadi tegangan tulang belakang yang menyebabkan nyeri punggung bawah.

Hal ini di dukung dari Tabel 3 yang di jelaskan bahwa lebih dari sebagian ibu hamil menjadi ibu rumah tangga sebanyak 16 (66,67 %) dan sebagian kecil sebagai buruh tani sebanyak 3 (12,5 %). Menurut Ratih, Rocman. 2009 nyeri punggung bawah saat hamil dapat terjadi karena dinamik atau kinetik yaitu dalam keadaan normal gerakan tulang berlangsung dan terintegrasi dengan baik dan terjadi pembatasan oleh otot dan ligamen. Agar tidak menimbulkan nyeri, gerakan yang dilakukan tidak boleh melanggar keterbatasan dimana nyeri yang timbul disebabkan karena kelainan pada lumbal pelvis, sehingga mempengaruhi

Page 26: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Pengaruh Senam Hamilterhadap Penurunan Nyeri Punggung Bawah Pada Ibu Hamil

SURYA 23 Vol.02, No.IX, Agus 2011

pergerakan atau struktur tulang vertebra normal tetapi fungsinya tidak sempurna sedangkan nyeri punggung bawah karena dinamik yaitu terdapat tiga penyebab antara lain: tekanan abnormal pada pungung bawah yang normal, tekanan normal pada punggung bawah yang abnormal dan tekanan normal pada punggung bawah yang normal tetapi tubuh tidak siap menghadapinya sehingga terjadi nyeri punggung bawah.

2. Intensitas Nyeri Punggung Bawah Post

Senam Hamil Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan

bahwa lebih dari sebagian responden setelah di berikan perlakuan senam hamil tidak mengalami nyeri punggung bawah sebanyak 14 (58,3 %) dan hampir sebagian mengalami nyeri ringan sebanyak 10 (41,7 %).

Setelah di berikan senam hamil banyak ibu hamil yang mengalami penurunan nyeri punggung bawah bahkan ibu hamil juga tidak merasakan nyeri punggung bawah lagi hal ini di sebabkan karena ketika ibu hamil merasakan nyeri punggung bawah ibu hamil bersedia melakukan senam hamil dengan benar dan teratur sehingga tekanan pada otot punggung ataupun pergeseran pada tulang punggung bawah menjadi berkurang. Dengan melakukan senam hamil juga dapat mengembangkan otot-otot punggung sehingga otot pada punggung menjadi lentur dan tekanan pada punggung juga akan menjadi mereda sehingga nyeri pada punggung bawah akan menurun selain itu senam hamil juga dapat memperbaiki postur tubuh yang di sebabkan kesalahan postur tubuh pada ibu hamil dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti pada saat menyiapkan makanan, nyetrika dan mengangkat benda yang berat jika terjadi kesalahan postur tubuh akan menyebabkan pergeseran pada tulang punggung bawah sehingga terjadi nyeri punggung bawah.

Menurut Saminem, Hajjah. 2006 setelah dilakukan senam hamil tingkat nyeri punggung bawah berkurang. Senam hamil adalah latihan-latihan olahraga bagi ibu hamil. Senam hamil di lakukan dengan tujuan membuat elastis otot dan ligamen yang ada di panggul, memperbaiki sikap

tubuh, mengatur kontraksi dan relaksasi, serta mengatur teknik pernapasan. Latihan dilakukan dengan diawali latihan pendahuluan, latihan inti dan latihan rileksasi.latihan inti untuk memperbaiki sikap tubuh mengatur kontraksi dan rileksasi, serta mengatur latihan pernapasan. Latihan ini bergantung pada usia kehamilan (22-25 minggu, 26-30 minggu, 31-34 minggu, dan 35 minggu) latihan relaksasi terdiri atas relaksasi dengan posisi berbaring terlentang relaksasi dengan posisi berbaring miring relaksasi dengan posisi berbaring terlentang dan lutut ditekuk. Serta relaksasi dengan posisi duduk membungkuk. Dari latihan-latihan tersebut dapat melemaskan kontraksi otot tubuh dan luas gerakan persendian, serta menghilangkan ataupun mengurangi kekakuan sehingga nyeri punggung bawah dapat berkurang. 4.2.3 Pengaruh Senam Hamil Terhadap

Penurunan Nyeri Punggung Bawah Berdasarkan Tabel 3 dapat di jelaskan

bahwa dari 24 ibu hamil di dapatkan nyeri sedang menjadi nyeri ringan sebanya 6 orang ( 25%), nyeri sedang menjadi tidak nyeri sebanyak 5 orang (20,83 %), nyeri ringan memnjadi tidak nyeri sebanyak 9 ibu hamil ( 37,5%) dan tetap nyeri ringan sebanyak 4 orang (16,67 %).

Dari hasil uji Willcoxon Signed Ranks didapatkan Z =- 4.234 , P=.000 Ho di tolak artinya terdapat perbedaan nyeri punggung bawah pada ibu hamil sebelum dan sesudah melakukan senam hamil. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Eileen, Brayshaw dan Jimenez, sherry LM Nyeri punggung bawah saat hamil di sebabkan karena hormone-hormon kehamilan yang mempengaruhi elastisitas bantalan pada sendi-sendi tubuh dan perubahan perut yang semakin membesar akan mengubah postur tubuh sehingga kelengkungan tulang punggung berubah lebih condong ke belakang yang akibatnya akan mengalami nyeri punggung bawah. Nyeri punggung bawah juga di sebabkan karena kesalahan postur tubuh seperti kepala menunduk ke depan, bahu melengkung ke depan, perut menonjol ke depan dan lordosis yang berlebihan. Hal ini berpengaruh terhadap

Page 27: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Pengaruh Senam Hamilterhadap Penurunan Nyeri Punggung Bawah Pada Ibu Hamil

SURYA 24 Vol.02, No.IX, Agus 2011

posisi fecet sendiri pada keadaan normal sudut lumba sakral (perguson) 30˚, tumpuhan vertebra 1,5 pada sakrum memberikan gaya geser 50% kesalahan postur ini akan menimbulkan regangan pada ligamen dan menyebabkan kelelahan otot.

Nyeri punggung bawah pada ibu hamil dapat di atasi dengan melakukan aktivitas dengan hati-hati dan benar agar tidak terjadi kesalahan postur tubuh selain itu nyeri punggung bawah pada ibu hamil juga dapat di atasi dengan olahraga yang sesuai dengan kemampuan ibu hamil salah satunya dengan melakukan senam hamil. Senam hamil yang di lakukan secara teratur dan benar dapat memperbaiki sikap tubuh dan membuat elastis otot dan ligamen yang ada di panggul sehingga otot punggung menjadi lentur dan nyeri dapat berkurang.(jimenez, sherry LM, 2000). Ada beberapa tahapan senam hamil yaitu senam aerobik, kalestenik, relaksasi dan kegel. Dari beberapa tahap tersebut yang dapat menurunkan nyeri punggung bawah pada ibu hamil yaitu tahap kalestenik dimana tahap tersebut merupakan latihan pernapasan dan pemusatan perhatian pada punggung seperti melakukan gerakan dengan putar panggul ke kiri dan kanan 4 kali kemudian tekan pinggang ke lantai dengan mengempiskan perut dan mengerutkan liang dubur atau juga dengan gerakan seperti gerakan panggul ke kanan, angkat pinggang, gerakan kembali panggul ke kiri, gerakan-gerakan ini dapat membugarkan dan mengembangkan otot-otot serta dapat memperbaiki bentuk postur tubuh sehingga bermanfaat untuk meredakan sakit punggung bawah dan meningkatkan kesiapan fisik dan mental terutama mempersiapkan tubuh dalam menghadapi persalinan. (Poopy, Anggraeni.2010)

KESIMPULAN DAN SARAN. … 1. Kesimpulan

Setelah dilakukan analisa data dan melihat hasil analisa maka peneliti dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut: 1) Lebih dari sebagian intensitas nyeri

responden pada ibu hamil sebelum di lakukan senam hamil mengalami nyeri ringan dan sedang

2) Lebih dari sebagian intensitas nyeri responden pada ibu hamil sesudah di lakukan senam hamil mengalami penurunan nyeri.

3) Ada pengaruh senam hamil terhadap penurunan nyeri punggung bawah di BPS Ny.widya suroso Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan.

2. Saran Hasil peneliti ini dapat di jadikan

sebagai bahan masukkan dalam menerapkan pengaruh senam hamil terhadap penurunan nyeri punggung bawah guna membantu agar intensitas nyeri pada ibu hamil trimester 1 dan 2 menjadi berkurang.

Hasil penelitian ini dapat meningkatkan kinerja bidan di BPS yaitu dalam hal melakukan penyuluhan senam hamil yang baik dan benar pada ibu hamil dalam mengatasi nyeri punggung bawah

Perlunya peneliti lebih lanjut dengan menggunakan jumlah responden yang lebih besar dan representatif dengan metode yang lebih akurat serta meneliti dari faktor lain di luar senam hamil terhadap penuruna nyeri punggung bawah pada ibu hamil.

Diharapkan masyarakat khususnya responden dan keluarga responden untuk lebih aktif dalam meningkatkan pengetahuan untuk mengatasi intensitas nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester 1 dan 2.

. . .DAFTAR PUSTAKA . .

Bobak.(2004). Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4. Jakarta : EGC

Budiarto ,eko. (2001). Biostatistik Untuk

Kedokteran Dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta :EGC

Eileen, Braysaw. (2007). Senam Hamil Dan

Nifas. Jakarta : EGC Hidayat, A.alimul Aziz. (2007). Metode

Penelitian Keperawatan Dan Teknik

Page 28: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Pengaruh Senam Hamilterhadap Penurunan Nyeri Punggung Bawah Pada Ibu Hamil

SURYA 25 Vol.02, No.IX, Agus 2011

Analisa Data. jakarta : Salemba Medika

Kambodji J. (2002).tanda-tanda awal

kehamilan. hppt://bidanku.com/index.hpt/tanda-tanda kehamilan.. Diakses tanggal 12 januari 2011 Jam 14.00 WIB

Myles. (2009). Buku Ajar Bidan. Jakarta:

Arcan. Nolan, Mery. (2004). Kehamilan Dan

Melahirkan. Jakarta: Arcan Notoatmodjo, Soekidjo. (2005). Metodologi

Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Nursalam. (2003). Konsep Dan Penerapan

Metode Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

Nursalam. (2008). Konsep Dan Penerapan

Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika

Potter, patricia A.(2006). Buku Ajar

Fundamental Keperawatan: jakarta: EGC

Poppy, anggraeni. (2010). Serba-sirbi senam hamil. Yogyakarta: intan media.

Ratih, rocman. (2009). kehamilan,

http://www.jatimprof .go.id/indek.php?option =comcontent & task=view&id +7024&itemid=2.26 Diakses : tanggal 26 februari 20011 Jam 14.00 WIB

Saminem, Hajjah. (2006). Kehamilan

Normal. Jakarta : EGC Smeltzer, Suzanne C. (2001).

Keperawatan Medikal Bedah I. Jakarta : EGC

Sugiyono, (2006). Stastistik Untuk

Penelitian. Bandung : CD Alfabeta. Suharsimi, arikunto. (2006). Prosedur

Penelitian Suatu Pendekatan PraktikL: cet. 13. Jakarta : PT Rineka Cipta

Varney, Hellen. (2008). Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Edisi 4, Vol 2 . jakarta: EGC

Page 29: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

SURYA 26 Vol.01, No.VIII, Aprl 2011

HUBUNGAN OBESITAS DENGAN KADAR ASAM URAT DARAH DI DUSUN PILANGGADUNG KECAMATAN TIKUNG KABUPATEN LAMONGAN

Pipit Choirum Fitriyah, Farida Juanita, Arfian Mudayan

…………......……….…… …… . .….ABSTRAK…… … ......………. …… …… . .…. Artritis pirai merupakan kelompok penyakit heterogen sebagai akibat dari deposisi kristal monosodium urat pada jaringan atau akibat supersaturasi asam urat di dalam cairan ekstraseluler. Kadar asam urat sangat berhubungan erat dengan makanan yang dikonsumsi. Oleh karena itu pengaturan pola makan sangat diperlukan. Masalah penelitian adalah tingginya kadar asam urat darah. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis hubungan obesitas dengan kadar asam urat darah di Dusun Pilanggadung Kecamatan Tikung Kabupaten Lamongan. Desain penelitian ini menggunakan metode Cross Sectional. Populasi adalah seluruh penduduk yang berusia 30 – 55 tahun di Dusun Pilanggadung Kecamatan Tikung Kabupaten Lamongan dengan besar sampel 56. Metode sampling yang digunakan adalah Simple Random Sampling. Data penelitian ini diambil dengan menggunakan lembar observasi. Setelah ditabulasi data yang ada dianalisis dengan menggunakan uji koefisien kontigensi dengan tingkat kemaknaan 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir setengah responden mengalami obesitas 2 sebanyak 18 orang (32,1%), hampir setengah responden dengan kadar asam urat tinggi sebanyak 25 orang (44,6%). Terdapat hubungan antara obesitas dengan kadar asam urat darah dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,496 dengan tingkat signifikan p = 0,000. Melihat hasil penelitian ini maka perlu adanya pencegahan obesitas dan pengaturan pola makan agar dapat mencegah terjadinya obesitas dan penyakit asam urat. Kata kunci: Obesitas, Kadar Asam Urat

PENDAHULUAN. …… . … … .

Penyakit artritis pirai (gout) ditemukan dan tersebar di seluruh dunia. Artritis pirai merupakan kelompok penyakit heterogen sebagai akibat dari deposisi kristal monosodium urat pada jaringan atau akibat supersaturasi asam urat di dalam cairan ekstraseluler. (Aru W. Sudoyo, 2006). Seseorang dikatakan mengalami gangguan asam urat (gout) bila kadar asam urat dalam darah melebihi batas normal, pada laki-laki lebih dari 7 mg/dl dan pada wanita lebih dari 6 mg/dl. Penyakit ini ditandai dengan pembengkakan di sendi-sendi lutut dan jari-jari yang disertai rasa nyeri. Kandungan asam urat yang tinggi menyebabkan nyeri dan sakit dipersedian yang amat sangat, jika sudah sangat parah, penderita juga tidak bisa berjalan. Kadar asam urat sangat berhubungan erat dengan makanan yang dikonsumsi. Oleh karena itu, pengaturan pola

makan sangat diperlukan. Dengan menghindari konsumsi bahan pangan yang mengandung kadar purin yang tinggi (Sofyan Nur Hidayat, 2010).

Purin itu sendiri adalah turunan dari protein yang terkandung didalam tubuh. Purin juga didapatkan dari makanan yang kita konsumsi. Pada golongan primata, adenosin (purin) dimetabolisme oleh tubuh menjadi asam urat oleh enzim adenosine diaminase. Selanjutnya asam urat akan dimetabolisme lagi menjadi allatoin yang larut air oleh enzim uricase. Namun pada manusia enzim ini sangat sedikit sehingga hasil akhir dari purin adalah asam urat. Bila kadar asam urat semakin tinggi dan melewati kadar jenuh dalam tubuh, maka asam urat lambat laun akan mengendap dan mengkristal (Kuskushendrahe, 2009).

Insidens dan prevalensi gout di Indonesia masih belum diketahui secara pasti.

Page 30: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Obesitas Dengan Kadar Asam Urat Darah

SURYA 27 Vol.01, No.VIII, Aprl 2011

Dari 47.150 responden selama 12 tahun penelitian diperoleh 730 % kasus gout baru (DEPKES RI, 2008). Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada bulan Desember tahun 2010 Di Dusun Pilanggadung Kecamatan Tikung Kabupaten Lamongan dari data 10 orang di dapatkan 7 orang atau (70%) orang kadar asam uratnya tinggi dan 3 orang atau (30%) orang kadar asam uratnya normal, maka masalah penelitian adalah tingginya kadar asam urat darah.

Mengingat banyaknya faktor yang menyebabkan penyakit asam urat maka pada penelitian ini dibatasi faktor obesitas.

Obesitas atau kelebihan berat badan merupakan salah satu bentuk malnutrisi dan kelainan metabolisme. Obesitas merupakan ciri dari populasi penderita asam urat tetapi tidak semua penderita asam urat berbadan gemuk, memang kurus pun tidak tertutup oleh kemungkinan terserang asam urat. Obesitas terjadi akibat mengkonsumsi kalori lebih banyak yang dibutuhkan oleh tubuh dan obesitas berperan dalam terjadinya penyakit asam urat. Karena pada orang yang obesitas kadar asam urat di dalam darahnya meningkat. Disebabkan karena orang yang obesitas cenderung mengkonsumsi makanan yang kaya akan lemak dan makan makanan yang mengandung banyak purin. Obesitas juga berbahaya bagi kesehatan seseorang karena obesitas meningkatkan resiko terjadinya penyakit gout (Aru W. Sudoyo, 2006).

Penyakit gout disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor yang tidak dapat diubah dan faktor yang dapat diubah, faktor yang tidak dapat diubah meliputi : genetik, usia, jenis kelamin, dan faktor yang dapat diubah meliputi : pola makan, obat-obatan, alkohol dan obesitas (Aru W Sudoyo, 2008). Pencegahan bagi penderita obesitas dengan kadar asam urat yaitu dapat dilakukan pemberian penyuluhan untuk menambah pengetahuan tentang penyakit asam urat kepada masyarakat. Dan penerapan pola hidup sehat bisa dilakukan dengan mempertahankan berat badan dalam rentang normal tetapi usahakan dalam menurunkan berat badan jangan menggunakan obat, dianjurkan untuk mengkonsumsi lemak tak

jenuh dan mengurangi konsumsi lemak jenuh. Dan dapat juga dilakukan dengan cara minum 8 sampai 10 gelas air setiap hari untuk membantu pembuangan asam urat melalui ginjal. Hindarkan minuman yang mengandung alkohol, juga sebaiknya hindarkan kopi atau minuman lain yang mengandung senyawa kafein, karena senyawa tersebut juga termasuk sumber asam urat. Penyakit asam urat juga dapat dicegah dengan cara pengaturan diet rendah purin, rendah lemak, cukup vitamin dan mineral. Karena dengan melakukan diet ini dapat menurunkan berat badan (Almatsier, Sunita. 2004).

METODOLOGI .PENELITIAN Desain penelitian pada hakekatnya merupakan hasil akhir dari suatu tahap keputusan yang dibuat oleh peneliti berhubungan dengan bagaimana suatu penelitian bisa diterapkan (Nursalam, 2008).

Desain penelitian dalam penelitian ini adalah menggunakan metode analitik yaitu mencari keterkaitan antara dua variabel, pendekatannya dengan cara cross sectional yaitu jenis penelitian yang menekankan waktu pengukuran atau observasi variabel independen dan dependen hanya satu kali pada satu saat (Nursalam, 2008).

HASIL .PENELITIAN … 1. Karakteristik responden (1) Kelompok umur Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 56 responden. Distribusi responden berdasarkan umur dapat diklasifikasikan seperti pada gambar 1

Gambar 1 iagram Distribusi Responden

Berdasarkan Umur Di Dusun Pilanggadung Kecamatan Tikung Kabupaten Lamongan Bulan Maret Tahun 201

Page 31: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Obesitas Dengan Kadar Asam Urat Darah

SURYA 28 Vol.01, No.VIII, Aprl 2011

(2) Kelompok Pendidikan Data responden berdasarkan kelompok pendidikan disajikan dalam gambar 2

Gambar 2 Diagram Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Di Dusun Pilanggadung Kecamatan Tikung Kabupaten Lamongan Bulan Maret Tahun 2011

(3) Kelompok Pekerjaan

Data responden berdasarkan kelompok pekerjaan disajikan dalam gambar.3

Gambar 3 Diagram Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan Di Dusun Pilanggadung Kecamatan Tikung Kabupaten Lamongan Bulan Maret Tahun 2011

(4) Kelompok Jenis Kelamin Data responden berdasarkan kelompok jenis kelamin disajikan dalam gambar 4

Gambar 4 Diagram Distribusi

Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Di Dusun Pilanggadung Kecamatan Tikung Kabupaten Lamongan Bulan Maret Tahun 2011

PEMBAHASAN .… .… 1. Obesitas

Berdasarkan data karakteristik responden pada kelompok umur didapatkan bahwa 63% adalah usia 41 – 55 tahun.

Menurut Zainun Mutadin (2002) tingkat pengeluaran energi tubuh sangat peka terhadap terhadap pengendalian berat badan. Pengeluaran energi tergantung dari dua faktor : 1) tingkat aktivitas dan olah raga secara umum 2) angka metabolisme basal atau tingkat energi yang dibutuhkan untuk memepertahankan fungsi minimal tubuh. Dari kedua faktor tersebut metabolisme basal memiliki tanggung jawab dua pertiga dari pengeluaran energi orang normal. Meski aktivitas fisik hanya mempengaruhi satu pertiga pengeluaran energi seseorang dengan berat normal, tapi bagi orang yang memiliki kelebihan berat badan aktivitas fisik memiliki peran yang sangat penting.

Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pada umur 41 – 55 tahun kurang beraktivitas dan sangat berpengaruh terhadap obesitas. Semakin banyak aktivitas yang dilakukan maka semakin rendah resiko terjadi obesitas, dan sebaliknya semakin sedikit tingkat aktivitas seseorang semakin tinggi resiko terjadinya obesitas. Meskipun demikian responden yang bekerja juga banyak yang mengalami obesitas, hal tersebut dapat ditimbulkan oleh faktor-faktor

Page 32: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Obesitas Dengan Kadar Asam Urat Darah

SURYA 29 Vol.01, No.VIII, Aprl 2011

lainnya, seperti lingkungan sekitar yang saat ini bergaya kebarat-baratan dengan segala macam kenikmatan tanpa harus banyak mengeluarkan tenaga, itu juga mempengaruhi tingkat obesitas seseorang. Faktor ekonomi juga berpengaruh, semakin tinggi tingkat kemakmuran seseorang semakin mudah mendapatkan sesuatu yang diinginkan, maka semakin rendah juga aktivitas yang dilakukan sehingga angka obesitas meningkat pula.

Selain itu obesitas juga dipengaruhi oleh pendidikan didapatkan bahwa 9% adalah berpendidikan PT. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi. Misalnya mengenai hal yang menunjang kesehatan sehingga meningkatkan kualitas hidup.

Menurut Soekidjo Notoadmodjo (2002) semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin mudah mencerna informasi sehingga banyak juga pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan-perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan.

Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pengetahuan tentang obesitas pada penelitian ini kurang baik, hal ini terjadi karena kebanyakan responden pada penelitian ini yang memiliki pendidikan perguruan tinggi hanya orang sedikit. Maka dari itu pengetahuan tentang obesitas juga sangat kurang.

Obesitas juga kemungkinan dipengaruhi oleh pekerjaan didapatkan bahwa 50% adalah sebagai petani.

Menurut Suprajitno (2004) penghasilan yang rendah akan mempengaruhi kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga terhadap gizi, pendidikan dan juga kebutuhan yang lainnya. Dan makanan yang dimakan sehari-hari tidak diatur dengan baik sehingga menyebabkan obesitas.

Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa apabila penghasilan rendah maka pendidikan juga akan ikut rendah pula dan juga mempengaruhi informasi tentang obesitas.

Selain itu jenis kelamin juga mempengaruhi obesitas dan didapatkan 73%

yaitu sebagian besar berjenis kelamin perempuan.

Menurut Zainun Mutadin (2002) setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya. Rata-rata perempuan memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan laki-laki. Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada perempuan dan 18-23% pada laki-laki. Perempuan dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan laki-laki dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas. Perhatian tidak hanya ditujukan kepada jumlah lemak yang ditimbun, tetapi juga pada lokasi penimbunan lemak tubuh. Pola penyebaran lemak pada laki-laki dan perempuan cenderung berbeda. Perempuan cenderung menimbun lemaknya dipinggul dan bokong. Sehingga memberikan gambaran seperti buah pir. Sedangkan pada laki-laki menimbun lemaknya disekitar perut. Sehingga memberikan gambaran seperti buah apel. Seseorang yang lemaknya banyak tertimbun diperut mungkin akan lebih mudah mengalami berbagai masalah kesehatan dan memiliki resiko yang lebih tinggi yang berhubungan dengan obesitas.

Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin juga berpengaruh terhadap obesitas. Seorang perempuan memiliki timbunaan lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pada laki-laki. Maka perempuan memiliki resiko yang tinggi terhadap obesitas dibandingkan pada laki-laki.

2. Kadar Asam Urat

Pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa hampir setengah kadar asam uratnya tinggi yaitu 25 responden (44,6%). Dan dari data responden berdasarkan usia hampir setengah yang berusia 30 – 40 tahun yaitu 21 orang 37%. Penyakit asam urat umumnya terjadi pada usia pertengahan, terutama terjadi pada usia 30 - 40 tahun, tetapi gejala bisa lebih awal bila terdapat faktor herediter.

Menurut Nyoman Kertia yang menyebabkan kadar asam urat didalam tubuh

Page 33: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Obesitas Dengan Kadar Asam Urat Darah

SURYA 30 Vol.01, No.VIII, Aprl 2011

meningkat adalah produksi asam urat didalam tubuh lebih banyak dari pembuangannya dan adanya asam yang terbentuk akibat metabolisme purin didalam tubuh. Purin berasal dari makanan yang mengandung protein seperti jeroan, kerang, kepiting, udang, emping, bayam, durian, tape, alkohol dan lain-lain. Kurangnya informasi pada responden mengenai faktor- faktor tersebut diduga sebagai penyebab meningkatnya kadar asam urat darah selain faktor genetik (bawaan) dan faktor penyakit seperti kanker darah.

Seluruh responden memiliki rata-rata kadar asam urat yang tinggi yaitu > 7 mg/dl pada pria dan > 6 pada wanita. Kadar asam urat yang tinggi dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang dapat memicu meningkatnya kadar asam urat dalam darah salah satunya dengan pengkonsumsian makanan yang tinggi purin seperti : jeroan, kepiting, udang, bayam, durian, tape, alkohol dan lain-lain. Sehingga diperlukan adanya informasi terhadap pengontrolan pada faktor-faktor tersebut.

Selain itu asam urat juga dipengaruhi oleh pendidikan dan didapatkan bahwa 9% adalah berpendidikan PT. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi. Misalnya mengenai hal yang menunjang kesehatan sehingga meningkatkan kualitas hidup.

Menurut Soekidjo Notoadmodjo (2002) semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin mudah mencerna informasi sehingga banyak juga pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan-perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan.

Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pengetahuan tentang asam urat pada penelitian ini kurang baik, hal ini terjadi karena kebanyakan responden pada penelitian ini yang memiliki pendidikan perguruan tinggi hanya orang sedikit. Maka dari itu pengetahuan tentang asam urat juga sangat kurang.

Asam urat kemungkinan juga dipengaruhi oleh pekerjaan didapatkan bahwa 50% adalah sebagai petani.

Menurut Suprajitno (2004) penghasilan yang rendah akan mempengaruhi kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga terhadap gizi, pendidikan dan juga kebutuhan yang lainnya. Dan makanan yang dimakan sehari-hari juga tidak diatur dengan baik sehingga menyebabkan resiko terjadinya asam urat.

Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa apabila penghasilan rendah maka pendidikan juga akan ikut rendah pula dan juga mempengaruhi informasi tentang terjadinya asam urat.

Selain itu asam urat juga dipengaruhi oleh jenis kelamin dan didapatkan bahwa 27% adalah jenis kelamin laki-laki.

Menurut Kuskushendrahe (2009) umumnya yang terserang asam urat adalah orang laki-laki, sedangkan pada perempuan persentasenya kecil dan baru muncul setelah menopause. Kadar asam urat orang laki-laki cenderung meningkat sejalan dengan peningkatan usia. Sedangkan pada perempuan peningkatan itu dimulai sejak masa menopause. Sebelum menopause perempuan mempunyai hormon estrogen yang ikut membantu pembuangan asam urat lewat urine. Sementara pada laki-laki, asam uratnya cenderung lebih tinggi dari pada perempuan karena tidak memiliki hormon estrogen tersebut. Jadi selama seorang perempuan mempunyai hormon estrogen, maka pembuangan asam uratnya ikut terkontrol. Ketika sudah tidak mempunyai estrogen, seperti saat menopause, barulah perempuan terkena asam urat. Kalau peningkatan asam urat ini melewati ambang batas yang bisa ditolerir, persoalan akan timbul pertama pada ginjal, sendi, dan saluran kemih.

Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin juga berpengaruh terkena asam urat. Semakin tua usia seorang laki-laki maka semakin tinggi resiko terkena asam urat dan juga pada perempuan semakin cepat seseorang mengalami menopause maka semakin tinggi resiko terkena asam urat. 3. Hubungan Obesitas Dengan Kadar

Asam Urat

Page 34: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Obesitas Dengan Kadar Asam Urat Darah

SURYA 31 Vol.01, No.VIII, Aprl 2011

Berdasarkan hasil pengujian dengan uji koefisien kontigensi menujukkan bahwa antara obesitas dengan kadar asam urat darah di Dusun Pilanggadung Kecamatan Tikung Kabupaten Lamongan mempunyai hubungan yang signifikan (bermakna). Selain itu diperkuat dengan korelasi koefisien kontigensi yang menunjukkan bahwa ada korelasi nilai sebesar 0,496 dengan signifikan sebesar 0,000 (p < 0,05) dengan arah korelasi yang positif. Artinya semakin tinggi tingkat obesitas maka semakin tinggi pula kadar asam urat darah, sebaliknya semakin rendah tingkat obesitas semakin rendah pula kadar asam urat darah.

Obesitas atau kelebihan berat badan merupakan salah satu bentuk malnutrisi dan kelainan metabolisme. Obesitas merupakan ciri dari populasi penderita asam urat tetapi tidak semua penderita asam urat berbadan gemuk, memang kurus pun tidak tertutup oleh kemungkinan terserang asam urat. Obesitas terjadi akibat mengkonsumsi kalori lebih banyak yang dibutuhkan oleh tubuh dan obesitas berperan dalam terjadinya penyakit asam urat. Karena pada orang yang obesitas kadar asam urat di dalam darahnya meningkat. Disebabkan karena orang yang obesitas cenderung mengkonsumsi makanan yang kaya akan lemak dan makan makanan yang mengandung banyak purin. Obesitas juga berbahaya bagi kesehatan seseorang karena obesitas meningkatkan resiko terjadinya penyakit gout (Aru W. Sudoyo, 2006).

Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa tingginya kadar asam urat sangat berhubungan erat dengan makanan yang dikonsumsi. Oleh karena itu pengaturan pola makan sangat diperlukan yaitu dengan menghindari konsumsi bahan pangan yang mengandung kadar purin yang tinggi. Karena Purin juga bisa didapatkan dari makanan yang kita konsumsi dan dari protein yang terkandung di dalam tubuh. Tujuan utama diet adalah untuk menurunkan kadar asam urat darah, juga agar berat badan tidak melebihi ukuran ideal yang disarankan. Terutama bagi pria yang berusia diatas 40 tahun, hindari makanan berlemak yang kaya akan purin.

KESIMPULAN DAN SARAN. … 1. Kesimpulan

1) Hampir setengah responden di Dusun Pilanggadung Kecamatan Tikung Kabupaten Lamongan yang berusia 30 – 55 tahun mengalami obesitas 2.

2) Hampir setengah responden di Dusun Pilanggadung Kecamatan Tikung Kabupaten Lamongan yang berusia 30 – 55 tahun memiliki kadar asam urat tinggi.

3) Ada hubungan antara obesitas dengan kadar asam urat darah yang signifikan p = 0,000.

2. Saran Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam menerapkan pengetahuan tentang hubungan obesitas dengan kadar asam urat darah sehingga hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumbangan ilmu pengetahuan sebagai pendukung teori yang sudah ada.

Dapat memberikan gambaran dan informasi untuk meningkatkan penyuluhan tentang penyakit gout dan menambah pengetahuan anggota profesi dalam peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat.

Hasil dari penelitian diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan masukan atau perbandingan bagi penelitian berikutnya untuk upaya mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan hubungan obesitas dengan kadar asam urat darah.

Dapat memberikan informasi untuk meningkatkan penyuluhan tentang penyakit asam urat dan menambah pengetahuan antara profesi dalam melakukan upaya peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat.

Dapat memberikan informasi tentang hubungan obesitas dengan kadar asam urat darah pada masyarakat untuk meningkatkan kesehatan dikalangan masyarakat.

Page 35: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Obesitas Dengan Kadar Asam Urat Darah

SURYA 32 Vol.01, No.VIII, Aprl 2011

. . .DAFTAR PUSTAKA . . . Almatsier, Sunita. (2004). Penuntun Diet

Edisi Baru. Jakarta: Gramedia. Aru W Sudoyo. (2006). Ilmu Penyakit

Dalam Vol 2. Jakarta: Pusat Penerbitan IPD Fakultas Kedokteran Umum Indonesia.

Brunner & Suddarth. (2001). Keperawatan

Medikal Bedah: Edisi 8, Vol 3: Jakarta: EGC.

Brunner & Suddarth. (2002). Keperawatan

Medikal Bedah Vol 2. Jakarta: EGC. Guyton and Hall. (2007). Buku ajar fisiologi

kedokteran dan mekanisme–mekanisme penyakit. Jakarta: EGC.

Hendra.(2009).Obesitas.http://www.sportind

o.com/page/45/Exercise_Healthy_Living/Articles_Tips/perangi_Obesitas_sekarang.html. Diakses tanggal 15 Desember 2010.

Hidayat, A. Aziz Alimul. (2007). Riset

Keperawatan dan Tehnik Penulisan Ilmiah. Jakarta: Salemba Medika.

Iskandar Junaidi. (2006). Rematik Dan

Asam Urat. Jakarta: Gramedia. Kuskushendrahe. (2009). Asam urat.

http://erabaru.net/featured–news/48–hot update/11664–mengobati–penyakit-asam urat-secara –alamiah. Diakses tanggal 1 Desember 2010.

Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan

Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman Skipsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: PT Salemba Medika.

Nyoman kertia. (2009). Asam Urat. Yogyakarta: B First.

Price, Sylvia A. (2006). Patofisiologi

Konsep Klinis Proses- Proses Penyakit. Jakarta: EGC.

Price, Silvia A. Dan lorraine M. Wilson.

(2005). Patofisiologi Vol 2. Jakarta: EGC.

Rimbawan. (2004). Obesitas. Jakarta : PT

Alex Media Komputindo. Rudolph, Abraham M. (2006). Buku Ajar

Pediatri Vol 1. Jakarta: EGC. Setiadi. (2007). Konsep Dan Penulisan

Riset Keperawatan Edisi Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Soekidjo Notoatmojo. (2002). Metodologi

Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Sofyan nur hidayat. (2010). Asam Urat dan

Pola Makan. http://infotheraples.com. Diakses Tanggal 2 Desember 2010.

Suharsimi Arikunto. (2006). Prosedur

Penelitian Suatu Pendekatan Praktik Cet. 13. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Suprajitno, (2004), Keperawatan Keluarga. Jakarta: EGC Suryo wibowo. (2008). Asam Urat.

http://suryo-wibowo.blogspot.com. Diakses Tanggal 3 Desember 2010.

WHO. (2009). Obesity.

http://www.who.int/topics/asam urat/en. Diakses tanggal 5 Desember 2010

Zainun Mutadin. (2002). Obesitas dan

faktor penyebab. http://www.e-psikologi.com. Diakses tanggal 10 Desember 2010.

Page 36: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

SURYA 33 Vol.03, No.X, Des 2011

HUBUNGAN SIKAP DISIPLIN ANAK USIA PRE SCHOOL (4-6 TAHUN) DENGAN PENERAPAN HUKUMAN ORANG TUA

(Suatu Studi Di TK Mekarsari Desa Kedungsari Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro)

Wiwik Utami, Akes Rajekwesi Bojonegoro

…………......……….…… …… . .….ABSTRAK…… … ......………. …… …… . .….

Punishment is the constitution doubt psychological as well as wrong psychological for the violationts behaved what is child did, so it will made the child attitude in order to become better behaved. The purpose of our observation research in order to identification the attitude relation child discipline attain the age of pre school with punishment application of the parent on TK Mekar Sari Kedungsari village Temayang Sub district Bojonegoro Regency years of 2011.

This research method using the analytics correlation with phenomenological cross sectional. Variable data collection independent ( attitude of the discipline from child Pre School ages) and dependent ( punishment application of the parent ) with questioner,population 39 of the respondent and from the biggest sample 36 of the respondent what we get with technique simple random sampling. Afterward what we have to do is editing,coding,scoring and tabulating with analyzing test of the statistic correlation spearman’s rho.

The result from the research indication from the biggest respondent is 21 respondent they have good discipline attitude and from the 25 respondent by applying the punishment with light category. With significant value is 0,000 < α (0,05) it mean H1 is accepting the meaning is have connection discipline attitude with child preschool with applying punishment of parent on TK Mekar Sari Kedungsari village Temayang Sub district Bojonegoro Regency.

The conclusion for the applying punishment of parent is major effect from discipline attitude of child preschool ages on TK Mekar Sari, after research what is already done more than half of the discipline attitude in good category and giving punishment in light category. Implementation the parent is not only giving punishment to make they are child to be discipline, the result is the parent punishment is not only good solution to make the child having good attitude, the parent must give some present or reward it can be made or they done. Keywords : discipline attitude,punishment,preschool

PENDAHULUAN. …… . … … . Disiplin merupakan aspek utama dan

esensial pada pendidikan dalam keluarga yang diemban oleh orang tua, karena mereka bertanggung jawab secara kodrati dalam meletakkan dasar-dasarnya kepada anak. Mereka para orang tua beranggapan bahwa orang tua yang sebenarnya adalah orang tua yang mampu menjadikan anak yang disiplin. Tidak jarang untuk memenuhi anggapan tersebut para orang tua memberikan hukuman (punishment) pada anaknya yang tidak disiplin. Hukuman yang diberikan biasanya berupa hukuman-hukuman fisik dalam membesarkan anak didefinisikan

sebagai hukuman yang menimbulkan rasa sakit atas badan anak karena suatu kesalahan atau tingkah laku yang tidak patuh (Dawn Lighter, 2001).

Banyak organinsasi termasuk American Academy of Pediatrics sangat menentang hukuman badan. Berdasarkan perkiraan sekitar 35% hingga 90% orang tua masih menerapkan disiplin dengan cara ini (Zainun, 2010). Dalam survei yang dilakukan oleh sosiolog dari University of New Hampshire, Muray Straus yang melibatkan 991 orang tua menemukan bahwa membentak dan mengancam adalah bentuk paling umum yang dilakukan orang tua. Dari survei itu

Page 37: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Sikap Disiplin Anak Usia Pre School (4-6 Tahun) Dengan Penerapan Hukuman Orang Tua

SURYA 34 Vol.03, No.X, Des 2011

75% diantaranya melakukan bentakan atau berteriak pada anak (Chaerunnisa, 2008). Straus dkk (Gordon, 1996) melaporkan 84 sampai 97 persen dari semua orang tua yang diteliti mengatakan pernah menghukum anak mereka secara fisik. Hukuman fisik yang dilakukan seperti memukul, menampar dan menonjok anak. Selain hukuman kurung di kamar, disuruh tidur tanpa makan malam, melakukan pekerjaan ekstra, tidak boleh keluar rumah, tidak diajak bicara, merampas mainan kesayangan, dipaksa makan, memarahi, membuatnya malu di depan teman-temannya. Orang tua menggunakan pendekatan disiplin dengan teriakan dan memukul sering dikenakan pada anak usia 2 sampai 3 tahun. Sedangkan untuk usia 4 tahun ke atas sering menggunakan pendekatan time out (pengistirahatan) dan penghilangan hak (Murfiah Dewi W, 2008). Sedangkan di TK Mekar Sari Desa Kedungsari Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro ada 3 dari 5 responden yang menggunakan hukuman untuk mendisplinkan anaknya.

Pembentukan disiplin diri merupakan suatu proses yang harus dimulai sejak masa kanak-kanak. Oleh sebab itu pendidikan disiplin pertama-tama sudah dimulai dari keluarga (orang tua). Dalam kehidupan masyarakat secara umum, metode yang paling sering digunakan untuk mendisplinkan warganya dengan pemberian hukuman. Hal yang sama juga dilakukan oleh sebagaian besar orang tua dalam mendidik anak. Kerugiannya adalah disiplin yang tercipta merupakan disiplin jangka pendek, artinya anak hanya menurutinya sebagai tuntutan sesaat, sehingga seringkali tidak tercipta disiplin diri pada mereka. Hal tersebut disebabkan karena dengan hukuman anak lebih banyak mengingat hal-hal negatif yang tidak boleh dilakukan daripada positif yang seharusnya dilakukan. Dampak lain dari penggunaan hukuman adalah perasaan tidak nyaman pada anak karena harus menanggung hukuman yang diberikan orang tuanya jika ia melanggar batasan yang ditetapkan. Tidak mengherankan jika banyak anak memiliki persepsi bahwa disiplin itu adalah identik dengan penderitaan. Persepsi tersebut bukan

hanya terjadi pada anak-anak tetapi juga seringkali dialami oleh orang tua mereka. Akibatnya tidak sedikit orang tua membiarkan anak-anak “bahagia” tanpa disiplin. Tentu saja hal ini merupakan suatu kekeliruan besar, karena dimasa-masa perkembangan berikutnya maka individu tersebut akan mengalami berbagai masalah dan kebingungan karena tidak mengenal atauran dirinya sendiri. Hukuman merupakan salah satu usaha dari orang tua untuk mendisiplinkan anaknya. Para orang tua yakin bahwa seorang pendisiplin yang baik ialah seorang yang menggunakan hukuman untuk menghalangi perilaku yang salah atau untuk mengajar anak tentang apa yang diterima dan yang tidak diterima oleh kelompok sosialnya (Hurlock, 2002 : 99). Di TK Mekar Sari ada beberapa anak yang kurang disiplin akibatnya orang tua menerapkan disiplin untuk mendisiplinkan anaknya.

Upaya pembentukan sikap disiplin harus dilakukan sedini mungkin dengan cara : 1) Mengembangkan rasa hormat, 2) Inti dari hukuman adalah kasih sayang, 3) Mengendalikan tanpa berteriak, 4) Ciptakan rasa saling percaya, 5) Hindari yang berlebihan dan tidak perlu (Hadi, 2004 : 141-145). Dengan adanya uraian di atas maka disini peran keluarga khususnya orang tua sebagai seorang yang paling bertanggung jawab atas tumbuh dan berkembangnya anak karena keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak untuk belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Selain itu diharapkan orang tua agar tidak hanya menggunakan punishment tetapi juga reward dalam mendisiplinkan anak. Pengalaman masa kanak-kanak akan menjadi potensi dasar bagi kepribadian yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan selanjutnya dan cenderung akan menetap hingga dewasa. Anak-anak pada usia prasekolah (usia 4-6 tahun) cenderung akan meniru apa yang mereka lihat, mereka dengar oleh karena itu peneliti atau profesi keperawatan penting untuk memberikan pengetahuan kepada orang tua tentang cara mengasuh anak yang benar dengan

Page 38: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Sikap Disiplin Anak Usia Pre School (4-6 Tahun) Dengan Penerapan Hukuman Orang Tua

SURYA 35 Vol.03, No.X, Des 2011

melakukan penyuluhan atau konseling kepada orang tua sehingga dengan demikian perkembangan anak tidak terhambat. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan desain penelitian “analitik korelasional” yang merupakan penelitian yang mengkaji hubungan antara variabel dengan cara mencari, menjelaskan hubungan, memperlancar dan menguji berdasarkan teori yang ada, serta menggunakan pendekatan “cross sectional” yaitu jenis penelitian yang menekankan pada waktu pengukuran atau observasi data variabel independent dan variabel dependent hanya satu kali satu saat (Nursalam, 2003 : 84-85). Peneliti ingin meneliti hubungan antara sikap disiplin anak prasekolah (usia 4-6tahun) dengan penerapan hukuman di TK Mekar Sari Desa Kedungsari Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro tahun 2011. Populasi pada penelitian ini adalah Seluruh orang yang anaknyadi TK Mekar Sari Desa Kedungsari Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegorosebanyak 39 orang. Sampel pada penelitian ini adalah Seluruh orang tua yang anaknya di sekolah TK Mekar Sari Desa Kedungsari Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 36 responden. Pada penelitian ini sampling yang digunakan adalah simple random sampling yaitu jenis probability sampling yang paling sederhana dan untuk mencapai sampling ini setiap elemen diseleksi secara random atau acak (Nursalam, 2003 : 97). Variabel independent dalam penelitian ini adalah “sikap disiplin anak usia prasekolah”. Variabel dependent dalam penelitian ini adalah “penerapanhukuman orang tua”. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah observasi, pengukuran dan kuesioner yang ditujukan pada orang tua yang anaknya sekolah di TK Mekar Sari Desa Kedungsari Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro. Pada penelitian ini menggunakan kuesioner tertutup yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih jawaban yang dimengerti (Arikunto S, 2006 : 152).

HASIL .PENELITIAN … 1. Sikap disiplin

Tabel 1 Distribusi sikap disiplin anak usia pre school di TK Mekar Sari Deas Kedungsari Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro tahun 2011.

No. Sikap

disiplin Jumlah

responden Prosentase

1. Baik 21 58,33 2. Cukup 14 38,89 3. Kurang 1 2,78

Total 36 100,00

Dari hasil penelitian menunjukkan

bahwa lebih dari sebagian sikap disiplin anak usia pre school adalah baik yaitu 21 responden (58,33%).

2. Penerapan hukuman orang tua

Tabel 2 Distribusi penerapan hukuman orang tua di TK Mekar Sari Deas Kedungsari Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro tahun 2011.

No. Penerapan

hukuman orang tua

Jumlah responden

Prosentase

1. Berat 3 8,33 2. Sedang 8 22,22 3. Ringan 25 69,44

Total 36 100,00

Dari hasil penelitian menunjukkan

bahwa lebih dari sebagian responden penerapan hukuman orang tua adalah ringan sebanyak 25 responden (69,4%).

Page 39: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

SURYA 36 Vol.03, No.X, Des 2011

3. Hasil tabulasi silang hubungan sikap disiplin anak usia pra sekolah dengan penerapan hukuman orang tua.

Tabel 3 Tabulasi silang hubungan sikap disiplin anak usia pre school dengan perilaku kenakalan remaja di Rumah Tahanan Polres Tuban tahun 2011.

No Sikap disiplin anak usia pra sekolah

Hukuman Jumlah total Ringan Sedang Berat

n % n % n % n %

1. Baik 20 55.56 1 2.78 0 0.00 21 58.33

2. Cukup 5 13.89 7 19.44 2 5.56 14 38.89 3. Kurang 0 0.00 0 0.00 1 2.78 1 2.78

Total 25 69,44 8 22,22 3 8,33 36 100,00

Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui hubungan sikap dsiplin anak usia pra sekolah dengan penerapan hukuman orang tua di Desa Kedungsari Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro tahun 2011, didapatkan sikap disiplin anak usia pra sekolah baik sebanyak 20 anak (55,56%) dengan penerapan hukuman orang tua dalam kategori ringan.Dengan menggunakan uji statistik spearman’s rho dengan nilai α = 0,05. Didapatkan nilai signifikan 0,000 < 0,05 jadi H1 diterima yang berarti ada hubungan sikap disiplin anak usia pra sekolah dengan penerapan hukuman orang tua.

PEMBAHASAN .… .… 1. Sikap disiplin anak usia pre school

Dari hasil penelitian pada tabel 1 dapat dijelaskan dari 36 responden lebih dari sebagian yaitu 21 responden mempunyai sikap disiplin yang baik. Hal ini kemungkinan disebabkan karena cara penanaman disiplin yang berbeda pada setiap anak, sehingga tidak semua anak mempunyai sikap disiplin yang baik. Orang tua cenderung mengikuti cara disiplin yang diterapkan oleh orang tua mereka dulu.

Menurut Hurlock (2002) dalam bukunya perkembangan anak cara menanamkan disiplin ada 3 yaitu Disiplin otoriter, peraturan dan pengaturan yang keras untuk memaksakan perilaku yang diinginkan menandai semua jenis disiplin yang otoriter. Tekniknya mencakup hukuman yang berat bila terjadi kegagalan memenuhi standar dan

sedikit, atau sama sekali tidak adanya persetujuan, pujian atau tanda-tanda penghargaan lainnya bila anak memenuhi standar yang diharapkan, Disiplin permisif, sebetulnya berarti sedikit disiplin, atau tidak berdisiplin. Biasanya disiplin permisif tidak membimbing anak ke pola perilaku yang disetujui secara sosial dan tidak menggunakan hukuman. Bagi banyak orang tua, disiplin permisif merupakan protes terhadap disiplin yang kaku dan keras masa kanak-kanak mereka sendiri. Dalam hal seperti itu, anak sering tidak diberi batas-batas atau kendala yang mengatur apa saja yang boleh dilakukan, mereka diijinkan untuk mengambil keputusan sendiri dan berbuat sekehendak mereka sendiri dan Disiplin demokratis, metode demokratis menggunakan penjelasan, diskusi dan penalaran untuk membantu anak mengerti mengapa perilaku tertentu diharapkan. Metode ini lebih menekankan aspek edukatif dari disiplin daripada aspek hukumannya. Disiplin demokratis menggunakan hukuman dan penghargaan. Dengan penekanan yang lebih besar daripada penghargaan. Hukuman tidak pernah keras dan biasanya tidak berbentuk hukuman badan. Hukumannya hanya digunakan bila terdapat bukti bahwa anak secara sadar menolak melakukan apa yang diharapkan dari mereka. Bila perilaku anak memenuhi standar yang diharapkan orang tua demokratis akan menghargainya dengan pujian atau pernyataan persetujuan yang lain.

Page 40: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Sikap Disiplin Anak Usia Pre School (4-6 Tahun) Dengan Penerapan Hukuman Orang Tua

SURYA 37 Vol.03, No.X, Des 2011

Beberapa dari kebutuhan masa kanak-kanak yang dapat diisi oleh disiplin, yaitu disiplin memberi anak rasa aman dengan memberitahukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, Disiplin membantu anak menghindari perasaan bersalah dan rasa malu akibat perilaku yang salah. Perasaan yang pasti mengakibatkan rasa tidak bahagia dan penyesuaian yang buruk. Disiplin memungkinkan anak hidup menurut standar yang disetujui kelompok sosial dan dengan demikian memperoleh persetujuan social. Dengan disiplin, anak belajar bersikap menurut cara yang akan mendatangkan pujian yang akan ditafsirkan anak sebagai tanda kasih sayang dan penerimaan. Disiplin yang sesuai dengan perkembangan berfungsi sebagai motivasi pendorong ego yang mendorong anak mencapai apa yang diharapkan dirinya.

Sikap disiplin anak usia pra sekolah sendiri meliputi ketaqwaan terhadap Tuhan YME, melakukan kegiatan secara teratur, melakukan tugas-tugas pekerjaan rumah tangga (membantu orang tua), menyiapkan dan membenahi keperluan belajarnya, mematuhi tata tertib yang berlaku di rumah dan sebagainya

2. Penerapan hukuman orang tua

Dari tabel 2 dapat diketahui dari 36 responden didapatkan lebih dari sebagian yaitu 25 responden penerapan hukuman orang tua dalam kategori ringan. Yang dimaksud hukuman ringan di sini adalah orang tua menggunakan hukuman dalam batas wajar/tidak terlalu sering menggunakan hukuman.

Hukuman ialah sanksi fisik maupun psikis untuk kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan anak (Bintang Kecil Wulansari, 2008).

Masih adanya orang tua yang menerapkan hukuman dalam mendisiplinkan anaknya disebabkan karena orang tua mempunyai kesamaan dengan disiplin yang digunakan orang tua mereka. Orang tua biasanya akan menggunakan cara yang digunakan orang tua mereka untuk mendisiplinkan anaknya. Disiplin otoriter lebih umum digunakan untuk anak kecil

daripada untuk mereka yang lebih besar atau dewasa.

3. Hubungan sikap disiplin anak usia pre

school dengan penerapan hukuman orang tua

Dari tabel 3 dapat diketahui hubungan sikap dsiplin anak usia pra sekolah dengan penerapan hukuman di Desa Kedungsari Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro tahun 2011, didapatkan sikap disiplin anak usia prasekolah baik sebanyak 21 anak dengan penerapan hukuman orang tua dalam kategori ringan.

Sikap disiplin anak di TK Mekar Sari tergolong baik tetapi ada 14 anak yang dalam kategori disiplin cukup dan 1 anak dalam kategori disipin kurang, karena anak dilatarbelakangi cara disiplin orang tua yang berbeda. Sehingga tidak semua sikap disiplin dalam kategori baik. Orang tua yang cenderung otoriter lebih memilih hukuman untuk mendisiplinkan anaknya. Sehingga didapatkan 3 orang tua menerapkan hukuman dalam kategori berat.

Dari kedua variabel tersebut diuji signifikasinya dengan menggunakan uji Spearman’s Rho dengan nilai α = 0,05. Didapatkan nilai correlation coeficient 0,685 yang menunjukkan tingkat keeratan yang cukup dan nilai significant 2-tailed 0,000, jadi H1 diterima yang berarti ada hubungan antara sikap disiplin anak usia pra sekolah dengan penerapan hukuman orang tua. Jadi ada hubungan yang bermakna atau signifikasi dengan arah positif, jika sikap disiplin baik, maka semakin ringan hukuman yang didapatkan.

Disiplin membantu anak mengembangkan hati nurani yang merupakan pembimbing dalam pengambilan keputusan dan pengendalian perilaku (Ummu Fadhil, 2010).

Dari hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan sikap disiplin anak usia pra sekolah dengan penerapan hukuman orang tua. Peran orang tua sebagai pendidik sangat penting dalam menerapkan sikap disiplin yang baik, karena orang tua adalah dasar untuk menerapkan cara disiplin.

Page 41: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Sikap Disiplin Anak Usia Pre School (4-6 Tahun) Dengan Penerapan Hukuman Orang Tua

SURYA 38 Vol.03, No.X, Des 2011

KESIMPULAN DAN SARAN. … 1. Kesimpulan

Di TK Mekar Sari Desa Kedungsari Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro tahun 2011 lebih dari sebagian responden mempunyai sikap disiplin baik dan lebih dari sebagian responden melakukan penerapan hukuman dalam kategori ringan sehingga ada hubungan antara sikap disiplin anak usia pre school dengan penerapan hukuman orang tua di TK Mekar Sari Desa Kedungsari Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro tahun 2011. 2. Saran

Responden hendaknya tidak hanya memberikan hukuman untuk mendisiplinkan anaknya, orang tua hendaknya juga memberikan sebuah reward/diberi hadiah karena sudah melakukan sikap yang positif. Responden hendaknya memberikan hukuman jika memang benar – benar anak tidak disiplin dan hukumannya sendiri hendaknya tidak berlebihan.

Bagi institusi sekolah (TK) lebih meningkatkan atau mempertahankan disiplin dengan cara memberikan reward/hadiah seperti berupa pujian jika melakukan sikap disiplin.

. . .DAFTAR PUSTAKA . . . Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta. Bintang kecil wulansari. 2008. Hukuman

Yang Efektif. Dalam www.google.com diakses pada tanggal 18 Februari 2011.

Budiarto, E. 2001. Biostatistika Untuk

Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC.

Chaerunnisa. 2008. Mengajarkan Anak

Disiplin. Dalam www.google.com diakses pada tanggal 18 Februari 2011.

Desmita, 2008. Psikologi Perkembangan, Edisi 4. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Hadi, S. 2004. Kiat Membangun Keluarga

Bahagia. Yogyakarta : Cinta pena Hidayat, 2007. Metode Penelitian Kebidanan

Dan Teknik Analitis Data. Jakarta : Salemba Medika

Hurlock, E. 2002. Perkembangan Anak, Jilid

2 Edisi 6. Jakarta : Erlangga. Notoatmodjo S. 2002. Metode Penelitian

Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Notoatmodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian

Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Nursalam. 2001. Konsep Dan Penerapan

Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

Nursalam. 2003. Konsep Dan Penerapan

Metodologi Penelitian Dan Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Nursalam. 2008. Konsep Penerapan

Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Semiawan, C. 2009. Penerapan

Pembelajaran Pada Anak. Jakarta : Indeks.

Sugiyono. 2004. Metode Penelitian

Administrasi. Bandung : Alfabeta. Sugiyono. 2007. Stastitika untuk penelitian.

Bandung : CV. Alfabeta. Sugiyono. 2008. Metode Penelitian

Kuantitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta

Sugiyono. 2008. Statistika Untuk Penelitian.

Bandung : Alfabeta.

Page 42: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Sikap Disiplin Anak Usia Pre School (4-6 Tahun) Dengan Penerapan Hukuman Orang Tua

SURYA 39 Vol.03, No.X, Des 2011

Ummu fadhil. 2010. Menerapkan Disiplin

Pada Anak. Dalam http://ummufadhil.blogspot.com/2010/02/menerapkan-disiplin-pada-anak.html diakses pada tanggal 17 Februari 2011.

Wikipedia bahasa Indonesia. 2010. Hukuman.

Dalam http://wikipedia.com/2010/03/hukuman.html diakses pada tanggal 17 Februari 2011.

Page 43: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

SURYA 40 Vol.02, No.IX, Agus 2011

PENGARUH PEMBERIAN TEH ROSELLA TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH INGGI PADA LANSIA DI DESA WINDU KECAMATAN KARANGBINANGUN

KABUPATEN LAMONGAN

Suhadak, Arifal aris, Priyoto

…………......……….…… …… . .….ABSTRAK…… … ......………. …… …… . .…. Hypertension is major cause of cerebrovascular disease, ischemic heart disease, heart failure and kidney. Hypertension defined as systolic blood pressure increased more than 140, anddiastole: more than 90 mmHg. One way to reduce high bloodpressure in patients with hypertension that is by consuming roselle tea. The purpose of this study is to investigate the effect of roselle tea to decrease high blood pressure of elderly in the village of Lamongan Karangbinangun Windu District. Pre-experimental research design using the approach of Static-Group Comparison. The population of elderly people who had hypertension in the Village District Windu Karangbinangun Lamongan some 16 elderly. Sampling method using total sampling. The research instrument using Observation Sheet. Based on research conducted showed that of 16 respondents, 8 respondents who consumed tea rosella average value of blood pressure was 27.50, whereas 8 respondents who did not consume tea rosella average value of blood pressure of -1.25. From the obtained value of tests performed (p) = 0.01, where p <0.05 hence H0 means no effect of roselle tea to decrease high blood pressureof elderly in the village of Lamongan Karangbinangun Windu District. Seeing the results of this research is expected to consume hypertensive rosella tea for lowering high blood pressure. Key words: Hypertension, Rosella Tea, Elderly

PENDAHULUAN. …… . … … .

World Health Organization (WHO) (2005) menyatakan hipertensi sebagai masalah kesehatan umum di seluruh dunia. Hipertensi merupakan penyebab utama terjadinya penyakit serebrovaskuler, penyakit jantung iskemik, gagal jantung dan ginjal. Makin meningkatnya harapan hidup makin kompleks penyakit yang diderita, terutama pada orang lanjut usia, termasuk lebih sering terserang hipertensi. Hipertensi bila tidak diatasi dengan pengobatan dapat menimbulkan bahaya pada tubuh, salah satu pengobatan alternative yaitu dengan pengobatan secara alami/herbal.

Pengobatan secara alami disebut juga pengobatan yang menggunakan bahan-bahan yang ada di alam. Orang biasa menyebutnya sebagai obat tradisional. Obat tradisional terbagi menjadi 3, yaitu: jamu, herbal

terstandarisasi dan fitofarmaka. Penggunaan jamu berdasarkan pengalaman secara turun-temurun, sedangkan herbal merupakan tanaman / tumbuhan yang memiliki kegunaan untuk kepentingan medis dan semacamnya. Tanaman herbal memiliki macam ragam kegunaan termasuk untuk kuliner, pengobatan dan bahkan aktivitas spiritual (Mulia, 2009). Baru-baru ini terdapat istilah pengobatan terintegrasi yang berarti pengobatan yang dilakukan dengan pengobatan barat, komplemen terapi, dan terapi dari pelayanan kesehatan lain. Banyak intervensi keperawatan yang dapat digolongkan sebagai terapi komplementer dan merupakan terapi herbal. Salah satu terapi herbal dalam menurunkan tekanan darah adalah dengan menggunakan rosella.

Rosella atau dalam bahasa latin disebut juga sebagai Hibiscus sabdariffa.

Page 44: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Pengaruh Pemberian Teh Rosella Terhadap Penurunan Tekanan Darah Inggi Pada Lansia

SURYA 41 Vol.02, No.IX, Agus 2011

Rosella merupakan tanaman yang hidup secara baik sepanjang tahun asalkan cukup sinar matahari dan pengairan yang bagus. Rosella tidak memerlukan perawatan yang rumit sehingga dengan mudah tumbuh di halaman. Hampir semua bagian dari tanaman rosella memiliki manfaat yang baik untuk kesehatan. Salah satu bagian dari tanaman rosella yang dipergunakan untuk pengobatan adalah bagian dari bunga. Kelopak Bunga Rosella telah juga dipergunakan oleh sebagian masyarakat di Indonesia untuk mengobati hipertensi. Di daerah Karangbinangun banyak terdapat tanamam rosella, tetapi masih banyak juga masyarakat yang belum mengetahui manfaat dari rosella itu sendiri. Pada orang yang mengalami hipertensi, tekanan darah mereka kadang naik kadang turun, apabila tekanan darah naik, mereka berobatnya ke dokter atau puskesmas, padahal disekitar mereka ada obat alternatif untuk penurun hipertensi tanpa mengeluarkan banyak biaya. Dan berdasarkan hasil survey awal yang dilakukan pada tanggal 25 januari 2011 pada 7 lansia di Desa Windu Dusun Windu Karangbinangun Lamongan, terdapat 5 lansia (71,43%) (Sistole: 150-180; Diastole: 90-110) mengalami hipertensi, dan 2 lansia (28,57%) (Sistole: 120-140; Diastole: 70-80) tidak mengalami hipertensi. Jadi masalah dalam hal ini adalah masih banyak masyarakat yang belum mengetahui manfaat dari rosella untuk penurun tekanan darah tinggi dan masih tingginya kejadian hipertensi pada lansia di Desa Windu Dusun Windu Karangbinangun Lamongan. METODOLOGI PENELITIAN …

Desain penelitian menggunakan Quasy Eksperimental (eksperimen semu) dengan pendekatan Pre-Post Tes Design, dengan metode sampling total sampling. Sampel diambil sebanyak 16 responden yaitu lansia yang mengalami hipertensi di Desa Windu Karangbinangun Lamongan tanggal 25 Januari 2011. Data penelitian diambil menggunakan data sekunder dan observasi. Setelah ditabulasi, data dianalisis menggunakan uji T sampel independent.

HASIL .PENELITIAN … Gambar 1 Distribusi penderita

hipertensi berdasarkan jenis kelamin, seperti pada gambar diagram sebagai berikut:

18%

82%

laki-lakiperempuan

Dari Gambar 1 Menunjukkan bahwa

dari 16 responden hampir seluruh penderita Hipertensi berjenis kelamin perempuan sebanyak 14 responden (82%). Dan sebagian kecil berjenis kelamin laki-laki sebanyak 2 responden (18%).

Gambar 2 Diagram Distribusi Umur

penderita Hipertensi Di Desa Windu Dusun Windu Karangbinangun Lamongan April 2011

31%

25%

44% 55-64 tahun65-74 tahun> 75 tahun

Berdasarkan Gambar 2 di atas dapat

dijelaskan bahwa dari 16 responden hampir sebagian penderita Hipertensi umurnya > 75 tahun sebanyak 7 responden (44%). dan sebagian kecil penderita Hipertensi umurnya 65-74 tahun sebanyak 4 responden (25%).

Page 45: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Pengaruh Pemberian Teh Rosella Terhadap Penurunan Tekanan Darah Inggi Pada Lansia

SURYA 42 Vol.02, No.IX, Agus 2011

Tabel 1 Distribusi data perbandingn tekanan darah pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol di Desa Windu Kecamatan Karangbinangun Kabupaten Lamongan, bulan Maret – April 2011.

Berdasarkan Tabel 1 didapatkan hasil analisis data pada kelompok perlakuan didapatkan bahwa sampel yang diberikan rosella sebanyak 8 responden dan apabila dihitung dengan SPSS 17.0 didapatkan hasil nilai rata-rata tekanan darah = 27,50 . Tekanan darah terendah adalah 10 dan tertinggi 50. Sedangkan pada kelompok kontrol didapatkan bahwa sampel yang tidak diberikan rosella sebanyak 8 responden dan apabila dihitung dengan SPSS 17.0 didapatkan hasil nilai rata-rata -1,25. Tekanan darah terendah pada kelompok Kontrol adalah -10 dan tertinggi 10.

PEMBAHASAN .… .… 1. Menganalisa perbedaan tekanan

darah pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol pada lansia di Desa Windu Kecamatan Karangbinangun Kabupaten Lamongan.

Fakta menunjukkan hasil penelitian pada Tabel 1 didapatkan hasil analisis data pada kelompok perlakuan didapatkan bahwa rata-rata Tekanan darah = 27,50. Tekanan darah terendah adalah 10 dan tertinggi 50. Sedangkan pada kelompok kontrol didapatkan bahwa rata-rata Tekanan darah adalah -1,25.

Tekanan darah pada kelompok Kontrol terendah adalah -10 dan tertinggi 10.

Berdasarkan fakta di atas dengan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Windu Kecamatan Karangbinangun Kabupaten Lamongan, bahwa sebagian besar responden setelah diberikan teh rosella mengalami perubahan tekanan darah (hipertensi). Hal ini karena rosella

mempunyai manfaat untuk menurunkan hipertensi. Unsur-unsur yang terkandung dalam bunga rosella yang dapat menurunkan tekanan darah

adalah Threoine, Valine, Glicine, Alanin, Niasin, Thiamine yang dapat berperan dalam metabolisme gula (mengatur kadar gula darah), Leucin dan Niasin ikut membantu metabolisme lemak. Asam Askorbat dan Asam Glicotik memiliki kemampuan dalam deuretik sedang, Asam Askorbat yang berperan dalam mempertahankan elastisitas dinding pembuluh darah arteri. Dengan demikian bunga rosella memiliki berbagai mekanisme dalam menurunkan tekanan darah.

Rosella memiliki efek hipotensi dan diuretik. Rosella dipergunakan sebagai obat rakyat, rosella memiliki efek laksatif ringan dan memiliki kemampuan meningkatkan fungsi perkemihan, karena memiliki dua jenis diuretik yaitu asam askorbat dan asam glykosid. Disebabkan rosella berisi asam sitrat, sehingga dipergunakan sebagai herbal yang mempunyai efek mendinginkan, kemampuan itu disebabkan karena dapat meningkatkan aliran darah dilapisan kulit dan melebarkan pori-pori untuk mendinginkan kulit. Daun dan bunga digunakan sebagai teh untuk penguat pencernaan dan fungsi ginjal. Bunga dan biji dipergunakan untuk diuretik, laksative dan tonik. Dengan demikian rosella memiliki kualifikasi sebagai tanaman herbal karena telah

No. Variabel n mean median SD Min-Mak 95%CI

1 Kelompok Perlakuan 8 27,50 25,00 14,88 10 – 50 15,05

39,94

2 Kelompok Kontrol 8 -1,25 0,00 8,34 (-10) –

10 -8,22 5,72

Page 46: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Pengaruh Pemberian Teh Rosella Terhadap Penurunan Tekanan Darah Inggi Pada Lansia

SURYA 43 Vol.02, No.IX, Agus 2011

dipergunakan sebagai obat dalam menurunkan tekanan darah tinggi.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya hipertensi, diantaranya faktor usia, karena dengan bertambahnya umur maka semakin tinggi mendapat resiko hipertensi. Insiden hipertensi makin meningkat dengan meningkatnya usia. Ini sering disebabkan oleh perubahan alamiah di dalam tubuh yang mempengaruhi jantung, pembuluh darah dan hormon. Hipertensi pada yang berusia kurang dari 35 tahun akan menaikkan insiden penyakit arteri koroner dan kematian prematur (Julianti, 2005).

Selain itu, sebagian besar lansia berjenis kelamin perempuan dan sebagian kecil lansia berjenis kelamin laki-laki. Hal ini bisa mempengaruhi terjadinya hipertensi karena selain faktor usia, jenis kelamin juga bisa mempengaruhi terjadinya hipertensi. Jenis kelamin sangat erat kaitannya terhadap terjadinya hipertensi dimana pada masa muda dan paruh baya lebih tinggi penyakit hipertensi pada laki-laki dan pada wanita lebih tinggi setelah umur 55 tahun, ketika seorang wanita mengalami menopause. Dengan mempelajari dari berbagai teori dan hasil penelitian yang telah diuraikan diatas, teh rosella berpengaruh dalam penurunan hipertensi pada lansia, sehingga jelas perbandinganya antara penderita hipertensi yang diberikan rosella dengan yang tidak diberikan rosella. Dengan demikian teh rosella dapat digunakan sebagai obat untuk menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi).

KESIMPULAN DAN SARAN. … 1. Kesimpulan 1) Terdapat pengaruh pemberian teh

rosella terhadap penurunan tekanan darah tinggi.

2) Tekanan darah tinggi lansia yang berada di Desa Windu Kecamatan Karangbinangun Kabupaten Lamongan menurun.

3) Terdapat perbedaan penurunan tekanan darah tinggi pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol di Desa Windu Kecamatan Karangbinangun Kabupaten Lamongan.

2. Saran Untuk mengatasi penurunan

tekanan darah tinggi maka perlu penanggulangan yang tidak hanya dilakukan dari tenaga medis atau tim kesehatan saja tetapi seluruh individu.

Untuk memudahkan informasi pada penderita dan keluarga perlu diadakan penyuluhan-penyuluhan tentang pengaruh rosella terhadap penurunan tekanan darah tinggi.

Dengan adanya perkembangan pengaruh pemberian teh rosella terhadap penurunan tekanan darah tinggi pada lansia, sehingga hasil penelitian dapat dijadikan pendukung teori yang sudah ada.

Perlunya penelitian lebih lanjut dengan menggunakan jumlah responden yang lebih besar dan representatif dengan metode yang lebih akurat serta meneliti dari pengaruh lain diluar pengaruh rosella dalam penurunan tekanan darah tinggi. . . .DAFTAR PUSTAKA . . . Amir,N.(2002).Diagnosis dan pelaksanaan depresi pasca stroke http:/www.A:/%20 20 news % 20 % Energi % 20 chi % 20 % 20 defenisi % document?e?. diakses pada tanggal 12 februari 2011 jam 20.30 WIB. Dekker,E, (1996).Hidup dengan tekanan darah tinggi. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Page 47: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Pengaruh Pemberian Teh Rosella Terhadap Penurunan Tekanan Darah Inggi Pada Lansia

SURYA 44 Vol.02, No.IX, Agus 2011

Gunawan,L, (2001). Hipertensi : Tekanan darah tinngi. Yogyakarta : Percetakan Kanisus. Hadi Hartono, Nasution I & Handayani R (1999). Penggunaan Obat Secara Rasional pada Usia lanjut. http://www.tempo.co.id/medika/arsip/012002/sek-2.htm. diakses pada tanggal 12 februari 2011 jam 21.00 WIB. Hidayat, Aziz Alimul . 2007. Riset Keperawatan dan Teknik penulisan Ilmiah. Jakarta: Salemba medika Kowalski, Robert E. 2010. Terapi hipertensi: program 8 minggu menurunkan tekanan darah tinggi dan mengurangi risiko serangan jantung dan stroke secara alami/Robert E. Kowalski; penerjemah, Rani S. Ekawati, penyunting, Rahmani Astuti. Cet. 1. Bandung: Qanita. Maryani, Herti dan Lusi Kristiana. 2005. Khasiat dan Manfaat Rosella. http://www.scribd.com/doc/35956762/Si-Merah-Rosella-Yang-Membawa-Berkah. diakses pada tanggal 8 februari 2011 jam 13.00 WIB. Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metode Penelitian Kesehatan Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta Nursalam. 2003. Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika .2008. Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan:

Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II, Edisi 3. Jakarta: FKUI. Sheps, S.G. (2005). Mayo Clinic Hipertensi. Jakarta: PT Intisari Mediatama. Suharsimi Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek ; cet. 13. Jakarta : PT. Rineka Cipta Sutomo,B., 2007. Rosella Bunga Cantik Berkhasiat Obat. http://.www.wikipedia.org, diakses pada tanggal 8 februari 2011 jam 13.00 WIB. Wahyudi Nugroho ( 2000), Keperawatan Gerontik. http://alijeco.blogspot.com/. diakses pada tanggal 12 februari 2011 jam 20.30 WIB. Wexler, (2002). Hipertensi ; Encylopedia of Nursing and Alied Health. http;//www.findarticles.com/p/article/mi. diakses pada tanggal 12 februari 2011 jam 20.00 WIB. Wijayakusuma,H.M (2000). Ramuan Tradisional untuk pengobatan Darah Tinggi. Jakarta: Swadaya. Wiryowidagdo,S.(2002). Obat tradisional untuk penyakit jantung, darah tinggi dan kolestrol. Jakarta : Agromedia Pustaka.

Page 48: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

SURYA 45 Vol.02, No.IX, Agus 2011

HUBUNGAN PEMBERIAN KOMPRES DINGIN TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA PASIEN PRE OPERASI APENDISITIS DI RUANG BEDAH

RUMAH SAKIT MUJI RAHAYU SURABAYA

Mar’atus Sa’diyah, Sri Hananto Ponco, Alifin

…………......……….…… …… . .….ABSTRAK…… … ......………. …… …… . .…. Appendicitis represent most abdomen serious condition case often happened with sigh of

pain in bone or pain representing compared to especial sigh of other sigh. This matter is experienced of many patients pre operate appendicitis in Muji Rahayu Hospital, Surabaya. The design of research is one group pre post test design with sample amounting to 20 responder and election of sample conducted by purposive sampling. The collecting data is using pain in bone scale observation sheet at the patient of pre operate for appendicitis. The processing data by editing, coding, scoring, tabulating than it as percentaged and analyzed using of parried t test.

The result of research showed before giving of cool compress most experiencing of pain in bone, that is light pain in bone counted 2 people (10%), heavy pain in bone counted 6 people (30%) and heave pain in bone controlled by counted 12 people (60%). While after giving of cool compress, especially heavy pain in bone which initially 60% becoming 0%. The correlation giving of cool compress to degradation of pain in bone storey with t count = 9,200 and p=0,000 where p<0,05 hence Ho refused its meaning there is correlation giving of cool compress with degradation of pain in bone.

See resul of this research the importance of cool compress to degrade pain in bone at patient of pre operate for appendicitis. Keywords: Pain In Bone Level, Cool Compress

PENDAHULUAN. …… . … … . Apendisitis merupakan kasus gawat

abdomen yang paling sering terjadi. Menurut Sabiston (2000) berpendapat bahwa apendisitis adalah suatu penyakit prototipe yang berlangsung melalui peradangan akibat obstruksi dan iskhemia dalam rangka waktu bervariasi dimana gejala pasien mencerminkkeadaan penyakit dalam waktu penyakit. Pada kasus apendisitis hampir 97 – 100 % kasus disertai dengan keluhan awal berupa sakit atau nyeri yang merupakan keluhan utama dibandingkan keluhan lain yang menyerta (Soeparman, 1999). Kebutuhan rasa nyaman adalah suatu keadaan yang membuat seseorang merasa

nyaman, terlindung dari ancaman psikologis, bebas dari rasa sakit terutama rasa nyeri. Perubahan rasa nyaman akan menimbulkan perasaan yang tidak enak atau tidak nyaman dalam berespon terhadap stimulus yang berbahaya (Capernito, 1998). Proses dalam memenuhi kebutuhan rasa nyaman, terutama akibat nyeri merupakan hal yang harus diatasi secepatnya karena dapat menimbulkan respon sakit berupa perubahan fisik dan psikis seseorang.

Menurut Syamsuhidajat (2004) alasan utama seseorang yang diduga apendisitis adalah akibat respon sakit yang mereka rasakan. Insiden apendisitis di negara maju lebih tinggi dari pada di negara

Page 49: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Pemberian Kompres Dingin Terhadap Penurunan Nyeri Pada Pasien Pre Operasi Apendisitis

SURYA 46 Vol.02, No.IX, Agus 2011

berkembang dan dalam tiga – empat dasa warsa terakhir menurun secara bermakna, dengan perbandingan antara pria dan wanita pada umumnya sama kecuali pada umur 20 -30 tahun insiden pria lebih tinggi di bandingkan wanita, sedangkan data nasional menunjukkan prognosis pada pasien apendisitis dengan kematian 0 – 3 % dengan apendisitis sederhana dan 2 % atau lebih, pada kasus yang mengalami perforasi, pada anak dan orang tua perforasi menyebabkan kematian berkisar 10 -15 % diakibatkan pasien terlambat memeriksakan diri dan keterlambatan dokter dan ahli bedah yang bersangkutan untuk memberikan pertolongan (Syamsuhidajat, 2004).

Nyeri merupakan perasaan yang sangat subyektif dan paling ditakutkan Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Muji Rahayu pada ruang Bedah ditemukan data tentang jumlah pasien apendiksitis dari bulan Juni – Juli 2009 mencapai jumlah 20 pasien dengan presentase nyeri ringan sebanyak 5 orang (25 %), nyeri sedang 5 orang (25%) dan nyeri berat 10 orang (50 %).banyak orang. Menurut Selye (Long, 1996 dikutip Wahid Iqbal, 2007) rasa nyeri merupakan stressor yang dapat menimbulkan stress dan ketegangan dimana individu dapat merespon secara biologis dan perilaku yang menimbulkan respon fisik dan psikis. Respon fisik meliputi perubahan keadaan umum, wajah, denyut nadi, pernafasan, suhu badan, sikap badan dan apabila nafas makin berat dapat menyebabkan kolaps kardiovaskuler dan syok, sedangkan respoan psikis akibat nyeri dapat merangsang respon stress yang dapat mengurangi sistem imun dalam peradangan, serta menghambat penyembuhan respon yang lebih parah akan mengarah pada ancaman merusak diri sendiri. Sehingga individu dituntut untuk beradaptasi baik secara biologi, psikologi dan sosia,l dalam mengembangkan koping yang efektif, menghindari perilaku yang mal adatif, mencapai fungsi optimal.

Saat orang dibawa kerumah sakit karena diduga apendisitis akan menjalani observasi dan bedrest serta prosedur–prosedur diagnostik yang diperlukan dalam

upaya menentukan terapi dan tindakan selanjutnya. Selama masa menunggu keluhan nyeri harus diminimalkan sekecil mungkin (Long, 1996). Pemberian analgesik dan pemberian narkotik untuk menghilangkan nyeri tidak terlalu dianjurkan karena dapat mengaburkan diagnosa (Syamsuhidajat, 2004). Menurut Carol (1996) untuk mengurangi atau menurunkan perasaan nyeri dapat diberikan kompres dingin(es). Pengetahuan dan teknologi yang mempelajari efek suhu rendah pada bidang biologi dan kedokteran sudah lama dikenal, salah satunya efek kompres dingin (es) adalah efek anastesi berupa hilangnya sensasi nyeri dan dapat digunakan pula pada pengobatan nyeri dan bengkak yang local. Menurut Lewis (2000) bahwa pemberian kompres dingin (es) dapat menghambat proses pembengkakan, kompres hangat tidak dihanjurkan karena rusaknya jaringan. Dari uraian diatas, maka perlu dilakukan penelitian guna mengetahui seberapa jauh manfaat pemberian kompres dingin (es) dalam menurunkan rasa nyeri pada pasien apendisitis. Sehingga hasil penelitian ini dapat memberikan masukan kepada perawat khususnya dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dengan keluhan nyeri apendisitis dan masyarakat pada umumnya. METODOLOGI PENELITIAN Dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian pra-eksperimental dengan menggunakan uji “pre-post test” yang mencari hubungan pemberian kompres dingin (es) terhadap respon nyeri, peneliti melakukan intervensi pada sampel dengan dua pengamatan yaitu sebelum dan sesudah perlakuan.

Teknik pengujian ini melihat hubungan antara dua variabel dependen dan independen dengan menggunakan computer program SPSS 11.5

Page 50: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Pemberian Kompres Dingin Terhadap Penurunan Nyeri Pada Pasien Pre Operasi Apendisitis

SURYA 47 Vol.02, No.IX, Agus 2011

HASIL .PENELITIAN … 1. Data Umum 1) Distribusi responden berdasarkan usia

atau umur Tabel 1 Distribusi responden

berdasarkan umur di Rumah Sakit Muji Rahayu Surabaya mulai tanggal 10 November sampai 31 Desember 2009

No Umur Jumlah Prosentase (%)

1 20 s/d 30 tahun 5 25%

2 31 s/d 40 tahun 9 45%

3 40 s/d 50 tahun 6 30% Jumlah 20 100%

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa dari 20 responden sebagian besar responden yang berumur 31 s/d 40 tahun yaitu 9 orang (45%) dan sebagian kecil responden berumur 20 s/d 30 tahun yaitu 5 orang (25%).

2) Distribusi responden berdasarkan

tingkat pendidikan Tabel 2 Distribusi responden berdasarkan

tingkat pendidikan di Rumah Sakit Muji Rahayu Surabaya mulai tanggal 10 November sampai 31 Desember 2009

No Pendidikan Jumlah Prosentase (%)

1 SD 2 10%

2 SLTP 4 20%

3 SLTA 9 45%

4 Diploma/Sarjana 5 25%

Jumlah 20 100% Dari tabel di atas dapat menunjukan

bahwa sebagian besar responden yang berpendidikan SLTA yaitu 9 orang (45 %) dan sebagian kecil berpendidikan SD yaitu 2 orang (10%).

3) Distribusi responden berdasarkan jenis kelaminnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 3 Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin di Rumah Sakit Muji Rahayu Surabaya mulai tanggal 10 November sampai 31 Desember 2009

No Jenis Kelamin Jumlah Prosentase (%)

1 Laki-laki 14 70%

2 Perempuan 6 30%

Jumlah 20 100%

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebesar 14 orang (70%) dan sebagian kecil responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 6 orang (30%).

4) Sedangkan untuk distribusi responden

berdasarkan pekerjaanya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4 Distribusi responden berdasarkan pekerjaan di Rumah Sakit Muji Rahayu Surabaya mulai tanggal 10 November sampai 31 Desember 2009

No Pekerjaan Jumlah Prosentase (%)

1 Petani 2 10% 2 Wiraswasta 9 45% 3 Swasta 5 25%

4 Pegawai Negeri 4 20%

Jumlah 20 100%

Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan bahwa dari total 20 responden, sebagian besar bekerja sebagai wiraswasta yaitu 9 orang (45%) dan sebagian kecil bekerja sebagai petani yaitu 2 orang (10%).

Page 51: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Pemberian Kompres Dingin Terhadap Penurunan Nyeri Pada Pasien Pre Operasi Apendisitis

SURYA 48 Vol.02, No.IX, Agus 2011

2. Data Khusus 1) Sebelum Pemberian Kompres Dingin Tabel 5 Distribusi Responden Sebelum

Pemberian Kompres di Rumah Sakit Muji Rahayu Surabaya mulai tanggal 10 November sampai 31 Desember 2009

No Skala Nyeri Jumlah Prosentase (%)

1 Tidak nyeri 0 0%

2 Nyeri ringan 2 10%

3 Nyeri sedang 6 30%

4 Nyeri berat terkontrol 12 60%

5 Nyeri berat tidak terkontrol 0 0%

Jumlah 20 100% Berdasarkan tabel diatas dapat

diketahui dari 20 responden sebagian besar yang mengalami nyeri berat terkontrol sejumlah 12 orang (60%), dan sebagian kecil nyeri berat terkontrol sejumlah 2 orang (10%).

2) Sesudah Pemberian Kompres Dingin Tabel 6 Distribusi Responden Sesudah

Pemberian Kompres di Rumah Sakit Muji Rahayu Surabaya mulai tanggal 10 November sampai 31 Desember 2009

No Skala Nyeri Jumlah Prosentase (%)

1 Tidak nyeri 0 0%

2 Nyeri ringan 11 55%

3 Nyeri sedang 9 45%

4 Nyeri berat terkontrol 0 0%

5 Nyeri berat tidak terkontrol 0 0%

Jumlah 20 100%

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui dari 20 responden yang telah diberi kompres dingin sebagian besar nyeri ringan sebanyak 11 orang (55%) dan sebagian kecil nyeri sedang 9 orang (45%).

3) Hubungan Kompres Dingin Terhadap Penurunan Nyeri

Tabel 7 Tabulasi hubngan kompres dingin terhadap penurunan nyeri di Rumah Sakit Muji Rahayu Surabaya mulai tanggal 10 November sampai 31 Desember 2009

No Skala Nyeri Kompres Dingin Sebelum Sesudah

1 Tidak nyeri 0% 0%

2 Nyeri ringan 10% 55%

3 Nyeri sedang 30% 45%

4 Nyeri berat terkontrol 60% 0%

5 Nyeri berat tidak terkontrol 0% 0%

Jumlah 100% 100% Berdasarkan hasil statistik dengan

menggunakan uji “Paried t test atau uji t sampel berpasangan“ didapatkan t hitung = 9,200 dan ρ=0,000 dimana ρ<0,05 maka Ho ditolak artinya terdapat perbedaan rata-rata nyeri sebelum dan sesudah pemberian kompres dingin atau dengan kata lain terdapat hubungan kompres dingin terhadap penurunan nyeri di Rumah Sakit Muji Rahayu Surabaya.

PEMBAHASAN .… .… 1. Respon Nyeri Apendisitis Sebelum

Pemberian Kompres Dari hasil penelitian yang telah

dilakukan serta data-data yang dikumpulkan didapatkan bahwa sebelum dilakukan kompres dingin jumlah responden yang mengalami nyeri berat terkontrol sebanyak 60%, nyeri sedang 30% dan nyeri ringan 10%, hal ini dapat dilihat pada Tabel 5 di atas. Menurut Soeparrman (1999) hampir semua kasus apendisitis disertai dengan keluhan awal berupa sakit atau nyeri yang merupakan keluhan utama dibandingkan keluhan lain yang menyerta. Tanda dan gejala yang timbul pada pasien apendisitis meliputi rasa sakit di daerah epigastrium daerah periubilikus, ini merupakan gejala-gejala pertama dimana rasa sakit ini samar-samar, ringan sampai moderat

Page 52: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Pemberian Kompres Dingin Terhadap Penurunan Nyeri Pada Pasien Pre Operasi Apendisitis

SURYA 49 Vol.02, No.IX, Agus 2011

(Mansjoer, 2000). Nyeri pada apendik disini bersifat menetap secara progresif bertambah hebat dan semakin hebat apabila dibuat untuk bergerak sehingga pasien tampak sakit dan menhindari pergerakan di perut yang dirasa nyeri. Sedangkan pada palpasi didapatkan nyeri yang terbatas pada region iliaka kanan, bisa disertai nyeri lepas. Selain itu nyeri apendik sering disertai mual dan muntah serta biasanya juga disertai konstipasi, demam yang tidak tinggi dan denyut nadi yang meningkat.

Perubahan rasa nyaman akan menimbulkan perasaan yang tidak enak atau tidak nyaman dan berespon terhadap stimulus yang berbahaya (Carpenito, 1998). Proses dalam memenuhi kebutuhan rasa nyaman terutama akibat nyeri merupakan hal yang harus diatasi secepatnya karena dapat menimbulkan respon sakit berupa perubahan fisik dan psikis seseorang. Respon psikis akibat nyeri dapat merangsang respon stress seperti perasaan cemas dan takut akan penyakit yang diderita dapat meningkatkan rasa nyeri yang dirasakan. Hal ini membuktikan bahwa nyeri dapat membuat seseorang menjadi kurang nyaman sehingga pemberian kompres dingin diharapkan dapat menurunkan tingkat nyeri apendisitis.

2. Respon Nyeri Apendisitis Sesudah

Pemberian Kompres Hasil data pada Tabel 6 menunjukkan

bahwa setelah dilakukan pemberian kompres dingin, pasien yang mengalami nyeri ringan sebanyak 55% dan yang mengalami nyeri sedang sebanyak 45%. Sedangkan untuk nyeri berat terkontrol yang semula sebanyak 60% setelah pemberian kompres dingin menjadi 0%, hal ini dikarenakan. Pemberian kompres dingin ini mempunyai efek terapeutik dimana menurunkan diameter kondisi saraf sehingga menurunkan persepsi nyeri, selain itu efek lain dari kompres dingin adalah mengurangi respon peradangan pada jaringan serta dapat memberikan perasaan nyaman sementara terhadap nyeri (Carpenito, 1998). Pada penderita apendisitis lebih dianjurkan untuk diberikan kompres dingin dari pada kompres hangat, hal ini dikarekakan kompres hangat dapat

menambah rusaknya jaringan apendik (Lewis, 2000). Kompres dingin dapat memberikan efek anastesi berupa hilangnya sensasi nyeri dan dapat pula digunakan pada pengobatan bengkak yang lokal. Jadi setelah pemberian kompres dingin didapat data yang menunjukkan terjadi perubahan respon nyeri, dimana perubahan respon nyeri tersebut menunjukkan bahwa kompres dingin dapat memberikan perubahan rasa nyaman terhadap seseorang yang mengalami nyyeri terutama di sini adalah nyeri apendisitis.

3. Hubungan Kompres Dingin Terhadap

Penurunan Nyeri Berdasarkan hasil dari Perhitungan

data dengan menggunakan program SPSS for windows versi 11,5 dengan menggunakan uji statistik paired t test pada kelompok pemberian kompres dingin di daerah dinding perut kanan bawah (titik Mc.Burney) diperoleh hasil perbedaan nyeri 1,05. Sehingga korelasi antara pre dan post didapatkan nilai ρSig = 0.00 dimana ρ = < 0,05, maka Ho ditolak yang berarti bahwa terdapat hubungan pemberian kompres dingin dengan penurunan nyeri apendisitis..

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum dilakukan kompres dingin hampir semua mengalami nyeri baik mulai dari nyeri ringan sebesar 10%, nyeri sedang 30%, maupun nyeri berat sebesar 60%. Data yang diperoleh setelah pemberian kompres dingin memang untuk nyeri ringan terlihat lebih banyak yaitu 55% begitu juga dengan nyeri sedang sebanyak 45%. Namun untuk nyeri berat terkontrol menjadi 0% yang semula sebelum pemberian kompres adalah 60%. Hal ini menunjukkan bahwa kompres dingin mempunyai efektivitas terhadap penurunan nyeri. Dari pembahasan sebelumnya telah dijelaskan juga bahwa kompres dingin memberikan efek terapeutik dimana dapat menurunkan diameter konduksi saraf sehingga menurunkan persepsi nyeri dan memberikan perasaan nyaman sementara terhadap nyeri Carpenito (1998). Dengan adanya penurunan respon nyeri maka kebutuhan akan rasa nyaman terutama akibat nyeri dapat teratasi. Adanya perbedaan sebelun dan sesudah pemberian kompres

Page 53: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Pemberian Kompres Dingin Terhadap Penurunan Nyeri Pada Pasien Pre Operasi Apendisitis

SURYA 50 Vol.02, No.IX, Agus 2011

dingin tersebut mungkin juga disebabkan karena faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri dimana setiap individu mempunyai ambang toleransi nyeri yang berbeda-beda serta penyakit apendisitis itu sendiri yaitu terjadinya peradangan pada umbai cacing atau apendik. Menurut Wahid Iqbal (2007) Umumnya manusia memandang nyeri sebagai pengalaman yang negatif. Pada dasarnya nyeri merupakan salah satu bentuk refleks guna menghindari rangsangan dari luar tubuh atau melindungi tubuh dari bahaya. Orang yang mempunyai tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri tidak akan mengeluh nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyeri rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus kecil.

Dari uraian di atas menunjukkan bahwa pemberian kompres dingin di daerah dindin perut pada kuadran kanan bawah (di titik Mc.Burney) dapat menuurunkan tingkat nyeri. Hal ini dikarenakan pemberian kompres dingin (es) dapat mengurangi atau menurunkan kecepatan hantaran dari reseptor nyeri yang memberi perasaan nyaman terhadap nyeri.

KESIMPULAN DAN SARAN. … 1. Kesimpulan 1) Sebagian besar klien yang menderita

apendisitis mengalami nyeri berat terkontrol.

2) Pada klien yang menderita apendisitis sesudah pemberian kompres dingin sebagian besar mengalami nyeri ringan .

3) Ada hubungan pemberian kompres dingin terhadap penurunan nyeri apendisitis di ruang bedah Rumah Sakit Muji Rahayu Surabaya.

2. Saran Diharapkan penelitian ini dapat

dijadikan pertimbangan dalam pemberian asuhan keperawatan pada klien apendisitis guna untuk menurunkan tingkat nyeri serta dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas pelayanan keperawatan preoperatif yang lebih baik.

Dengan adanya pengetahuan tentang hubungan kompres dingin terhadap penurunan nyeri apendisitis, sehingga hasil

penelitian dapat dijadikan pendukung teori yang sudah ada.

Dengan adanya pelitian tentang kompres dingin, maka masyarakat pada umumnya dan responden pada khususnya dapat mengaplikasikan kompres dingin sebagai alternatif pengurang rasa nyeri pada apendisitis, sehingga dapat memberikan rasa nyaman sementara.

Perlunya penelitian yang lebih lanjut dengan menggunakan responden yang lebih besar dan representatif denagn metode yang lebih akurat, serta penelitian dilakukan dalam lingkup yang lebih luas, sehingga penelitian dapat digerenalisasikan dengan melibatkan faktor-faktor pengontrol/perancu yang mngkin mempengauhi tindakan keperawatan preoperatif pada apendisitis. . . .DAFTAR PUSTAKA . . . ________ (2004), Buku Panduan

Penyusunan Proposal dan Skripsi Program Studi Ilmu Keperawatan, Stikes Muhammadiyah, Lamongan.

________ (2009) Buku Panduan Aplikasi

Program SPSS Versi 11.5 Untuk Penolahan Data Penelitian Kesehatan. Stikes Muhammadiyah Lamongan.

Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur

Penelitian. Edisi5. Jakarta: Rineka Cipta

Carpenito, J.L. (1998). Diagnosa

Keperawatan: Aplikasi Pada Praktik Klinis. Edisi3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Koizer, B. (2004). Fundamental Of Nursing:

Consepts, Process, And Practice. New Jersey: Prentice Hall

Mansjoer, Arif, dkk. (2000). Kapita Selekta

Kedokteran. Edisi3. Jakarta: Media Aesculapius

Page 54: Jurnal Surya Vol 2 No Ix

Hubungan Pemberian Kompres Dingin Terhadap Penurunan Nyeri Pada Pasien Pre Operasi Apendisitis

SURYA 51 Vol.02, No.IX, Agus 2011

Notoadmojo, S. (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Nursalam. (2000). Pendekatan Praktis

Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta : C.V. Infomedia

Nursalam. (2003). Konsep dan Penerapan

Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan

Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan, Pedoman Skripsi, Tesis dan Istrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

Potter & Perry. (2005). Fundametal

keperawatan : Edisi 4. Jakarta: EGC

Price & Wilson. (2005). Patofisiologi Konsep

Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta: EGC

Shannon Ruf Dirksen. (2000). Medical surgical Nursing. St Louis: Moshby Company

Sjamsuhidayat, R & Win D.J. (2004).

Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC

Smeltzer, Suzanne C. (2007). Buku Ajar

Keperwatan Medikal Bedah. (vol. 2). Jakarta: EGC

Sudoyo, Aru W. (2007). Ilmu Penyakit

Dalam. Jakarta: Depertemen Penyakit Dalam FKUI

Taylor, C, Carol, dkk. (1997). Fundamental

Of Nursing ; The Art and Science of Nursing. Lippicott Philadelphia.

Wahit Iqbal & Nurul Chayatin. (2007). Buku

Ajar Kebutuhan Dasar Manusia (Teori dan Aplikasi dalam Praktek). Jakarta: EGC