of 61 /61
 Laporan Obser vasi Identifikasi Mesin Perk akas Pendidik an Teknik Me sin Universitas Sebelas Maret Surakarta 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Memasuki era globalisasi memberikan dampak perubahan pada  perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan ilmu  pengetahuan dan teknologi pada masa sekarang ini sangat berperan penting dalam p embangunan nasional. Segala sesuatunya menjadi lebih canggih, lebih mudah, dan lebih cepat. Begitu pula dalam hal pemesinan, perubahan ke arah zaman serba canggih, menjadikan mesin-mesin dapat diprogram oleh komputer, dapat melakukan gerakan-gerakan yang kompleks, dan pembuatan  produk yang rumit. Kegiatan observasi proses produksi merupakan sebuah mata kuliah  pada semester III di Jurusan Pendidikan Teknik Mesin, yang mempelajari  bagaimana mengoperasikan dan mengetahui komponen-kompo nen pada mesin bubut, mesin bor, mesin gerinda, mesin coulter dan mesin las listrik. Selain itu, tidak hanya mempelajari bagaimana mengoperasikan dan mengetahui komponen-komponennya tetapi juga diharapkan mendapat  pengetahuan dan wawasan yang luas mengenai proses produksi. Hal tersebut  penting karena untuk dapat menghasilkan produk yang bermutu dan memenuhi standar diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas. B. Rumusan Masalah Pada observasi identifikasi mesin perkakas, materi yang dibahas adalah Mesin Bubut, Mesin bor, Mesin gerinda, Mesin Coulter dan Mesin Las Listrik.

Isi Laporan Observasi

Embed Size (px)

Text of Isi Laporan Observasi

Page 1: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 1/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Memasuki era globalisasi memberikan dampak perubahan pada

 perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan ilmu

 pengetahuan dan teknologi pada masa sekarang ini sangat berperan penting

dalam pembangunan nasional. Segala sesuatunya menjadi lebih canggih,

lebih mudah, dan lebih cepat. Begitu pula dalam hal pemesinan, perubahan ke

arah zaman serba canggih, menjadikan mesin-mesin dapat diprogram oleh

komputer, dapat melakukan gerakan-gerakan yang kompleks, dan pembuatan

 produk yang rumit.

Kegiatan observasi proses produksi merupakan sebuah mata kuliah

 pada semester III di Jurusan Pendidikan Teknik Mesin, yang mempelajari

 bagaimana mengoperasikan dan mengetahui komponen-komponen pada

mesin bubut, mesin bor, mesin gerinda, mesin coulter dan mesin las listrik.

Selain itu, tidak hanya mempelajari bagaimana mengoperasikan dan

mengetahui komponen-komponennya tetapi juga diharapkan mendapat

 pengetahuan dan wawasan yang luas mengenai proses produksi. Hal tersebut

 penting karena untuk dapat menghasilkan produk yang bermutu dan

memenuhi standar diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas.

B.  Rumusan Masalah

Pada observasi identifikasi mesin perkakas, materi yang dibahas

adalah Mesin Bubut, Mesin bor, Mesin gerinda, Mesin Coulter dan Mesin Las

Listrik.

Page 2: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 2/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

C.  Tujuan Observasi

Tujuan diadakannya observasi identifikasi mesin perkakas adalah

sebagai berikut:

1.  Dapat menerapkan teori dan menganalisa proses kerja dari mesin bubut,

mesin bor, mesin gerinda, mesin coulter, dan mesin las listrik

2.  Dapat mengoperasikan dan mengetahui komponen-komponen dari mesin

 bubut, mesin bor, mesin gerinda, mesin coulter, dan mesin las listrik

3.  Menambah pengetahuan yang bermanfaat mengenai proses produksi

yang meliputi mesin bubut, mesin bor, mesin gerinda, mesin coulter, dan

mesin las listrik.

D.  Metode Penulisan

Dalam penyusunan laporan ini, penulis melakukan observasi dan

 pengambilan data yang diperlukan untuk menganalisa permasalahan yang

dibahas dalam penulisan laporan ini. Penulis melakukan penyusunan dengan

menggunakan beberapa metode, antara lain :

1.  Studi Pustaka

Penulis mengumpulkan teori dan bahan dari buku-buku/ melalui internet

dan perangkat lainnya yang menjadi referensi mengenai permasalahan

yang akan dibahas dalam penulisan

2.  Studi Lapangan

Data-data yang berkaitan dalam penulisan diambil langsung di lokasi

 pada saat melakukan observasi proses produksi teknik mesin dasar

3.  Metode Gabungan

Penulis menggunakan gabungan dari metode studi pustaka dan studi

lapangan dalam penyusunan laporan ini.

Page 3: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 3/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

BAB II

LANDASAN TEORI

A.  Mesin Bubut

1.  Pengertian Mesin Bubut

Mesin Bubut adalah suatu Mesin perkakas yang digunakan untuk

memotong benda yang diputar. Bubut sendiri merupakan suatu proses

 pemakanan benda kerja yang sayatannya dilakukan dengan cara memutar

 benda kerja kemudian dikenakan pada pahat yang digerakkan secara

translasi sejajar dengan sumbu putar dari benda kerja. Gerakan putar dari

 benda kerja disebut gerak potong relatif dan gerakkan translasi dari pahat

disebut gerak umpan. Dengan mengatur perbandingan kecepatan rotasi

 benda kerja dan kecepatan translasi pahat maka akan diperoleh berbagai

macam ulir dengan ukuran kisar yang berbeda. Hal ini dapat dilakukan

dengan jalan menukar roda gigi translasi yang menghubungkan poros

spindel dengan poros ulir. Roda gigi penukar disediakan secara khusus

untuk memenuhi keperluan pembuatan ulir. Jumlah gigi pada masing-

masing roda gigi penukar bervariasi besarnya mulai dari jumlah 15

sampai dengan jumlah gigi maksimum 127. Roda gigi penukar dengan

 jumlah 127 mempunyai kekhususan karena digunakan untuk konversi

dari ulir metrik ke ulir inci.

2.  Bagian-Bagian Mesin Bubut

Mesin bubut terdiri dari meja dan kepala tetap. Di dalam kepala

tetap terdapat roda-roda gigi transmisi penukar putaran yang akan

memutar poros spindel. Poros spindel akan menmutar benda kerja

melalui cekal. Eretan utama akan bergerak sepanjang meja sambil

membawa eretan lintang dan eretan atas dan dudukan pahat.  Sumber

utama dari semua gerakkan tersebut berasal dari motor listrik untuk

memutar pulley melalui sabuk.

Page 4: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 4/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

3.  Prinsip Kerja Mesin Bubut

Poros spindel akan memutar benda kerja melalui piringan

 pembawa sehingga memutar roda gigi pada poros spindel. Melalui roda

gigi penghubung, putaran akan disampaikan ke roda gigi poros ulir. Oleh

klem berulir, putaran poros ulir tersebut diubah menjadi gerak translasi

 pada eretan yang membawa pahat. Akibatnya pada benda kerja akan

terjadi sayatan yang berbentuk ulir.

4.  Jenis Pengerjaan pada Mesin Bubut

a)  Membubut Lurus 

Pada pembuatan memanjang gerak jalan pahat sejajar dengan poros

 benda kerja, sedangkan untuk pembubutan yang datar ini pada benda

kerja. Dalam pembubutan yang otomatis pahat dapat digeserkan

maju dan mundur kearah melintang.

 b)  Membubut Tirus

Dapat dilakukan dengan 3 cara :

  Dengan menggeser posisi kepala lepas kearah melintang

  Denganmenggeser sekian derajat eretan atas (penjepit pahat)

  Dengan memasang perkakas pembentuk. 

c)  Membubut Eksentris 

Bila garis hati dari dua / lebih silinder dari sebuah benda kerja sejajar

maka benda kerja itu di sebut eksentris, jarak antara garis-garis hati

itu disebut eksentrisitas.

d)  Membubut alur  

Untuk pengerjaan membubut alur di pergunakan pahat bubut

 pengalur dan jenisnya ada yang lurus, bengkok, berjenjang ke kanan

/ ke kiri.

Page 5: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 5/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

e)  Memotong Benda Kerja 

Pemotongan benda kerja berbentuk batang pada mesin bubut

digunakan sebuah pahat pengalur dengan penyayat yang sangat

ramping, sebuah benda kerja yang di jepit diantara senter-senter

tidak boleh putus karena dapat melentur dan menghimpit pahat.

f)  Mengebor pada Mesin Bubut 

Pembuatan lubang senter pada mesin bubut ada 2 cara, yakni benda

kerja yang berputar dan senter yang berputar.

g)  Membubut Dalam 

Untuk membesarkan lubang yang sudah ada dapat digunakan pahat

dalam, caranya tidak jauh berbeda dengan membubut lurus.

Pahatnya punya bentuk tersendiri.

h)  Membubut Profil 

Untuk membubut pembulatan pahatnya diasah menurut bentuk

 profilnya, pahat profil terutama cocok untuk membubut profil pada

 produk-produk yang pendek, pada umumnya pahat bubut tidak

terlalu tebal sehingga umur pemakaiannya pendek.

i)  Mengkartel

Adalah membuat rigi-rigi pada benda kerja dengan gigi kartel yang

tersedia. Kartel dipasang pada rumah pahat dan kedudukannya harus

setinggi senter. Kerja kartel ini adalah menekan benda kerja bukan

menyayat seperti pahat bubut.

 j)  Membubut Ulir Sekrup 

Untuk membuat ulir sekrap dengan mesin bubut digunakan pahat

khusus yang berbentuk seperti : pahat ulir, segitiga, segi empat,

Page 6: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 6/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

trapesium, bulat dan jenis khusus lainnya. Untuk memeriksa pahat

ulir,digunakan mal ulir.

B.  Mesin Bor

1.  Pengertian Mesin Bor

Mesin bor adalah suatu jenis mesin gerakanya memutarkan alat

 pemotong yang arah pemakanan mata bor hanya pada sumbu mesin

tersebut (pengerjaan pelubangan). Sedangkan Pengeboran adalah operasi

menghasilkan lubang berbentuk bulat dalam lembaran-kerja dengan

menggunakan pemotong berputar yang disebut BOR.

2.  Bagian-Bagian Mesin Bor

a.   Base (Dudukan)

 Base ini merupakan penopang dari semua komponen mesin

 bor.  Base terletak paling bawah menempel pada lantai, biasanya

dibaut.Pemasangannya harus kua tkarena akan mempengaruhi

keakuratan pengeboran akibat dari getaran yang terjadi.

 b.  Column (Tiang)

Bagian dari mesin bor yang digunakan untuk menyangga

 bagian-bagian yang digunakan untuk proses pengeboran. Kolom

 berbentuk silinder yang mempunyai alur atau reluntuk jalur gerak

vertical dari meja kerja.

c.  Table (Meja)

Bagian yang digunakan untuk meletakkan benda kerja yang

akan di bor. Meja kerja dapat disesuaikan secara vertical untuk

mengakomodasi ketinggian pekerjaan yang berbeda atau bias

 berputar ke kiri dan ke kanan dengan sumbu poros pada ujung yang

melekat pada tiang (column). Untuk meja yang berbentuk lingkaran

 bias diputar 3600 dengan poros ditengah-tengah meja. Kesemuanya

Page 7: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 7/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

itu dilengkapi pengunci (table clamp) untuk menjaga agar posisi

meja sesuai dengan yang dibutuhkan. Untuk menjepit benda kerja

agar diam menggunakan ragum yang diletakkan di atasmeja.

d.   Drill Chuck  (Mata Bor)

Adalah suatu alat pembuat lubang atau alur yang efisien.

Mata bor yang paling sering digunakan adalah bor spiral, karena

daya hantarnya yang baik, penyaluran serpih (geram) yang baik

karena alur-alurnya yang berbentuk sekrup, sudut-sudut sayat yang

menguntungkan dan bidang potong dapat diasah tanpa mengubah

diameter bor. Bidang –  bidang potong bor spiral tidak radial tetapi

digeser sehingga membentuk garis-garis singgung pada lingkaran

kecil yang merupakan hati bor.

e.  Spindle 

Bagian yang menggerakkan chuck atau pencekam, yang

memegang/ mencekam mata bor.

f.  Spindle head  

Merupakan rumah dari konstruksi  spindle  yang digerakkan

oleh motor dengan sambungan berupa belt dan diatur oleh drill feed

handle untuk proses pemakananya.

g.   Drill Feed Handle 

Handel untuk menurunkan atau menekankan  spindle dan

mata bor ke benda kerja (memakankan).

h.  Table Clamp

Table Clamp digunakan untuk mengunci kedudukan table.

Page 8: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 8/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

3.  Prinsip Pengeboran

Berdasarkan pekerjaan yang dilakukan, maka mesin bor dapat

 berfungsi untuk membuat lobang silindris dan bertingkat, membesarkan

lobang, memcemper lobang dan mengetap.Pekerjaan yang banyak

menuntut ketelitian yang tinggi pada pengeboran adalah pada saat

menempatkan mata bor pada posisi yang tepat di titik senter.

4.  Pengerjaan pada Mesin Bor

Untuk Mekanisme Proses pengerjaan pengeboran adalah sebagai berikut:

a.  Pemasangan Benda Kerja

1)  Jika menggunakan ragum, untuk benda kerja rata dan mendatar

dengan ukuran benda tebalnya lebih pendek dari ukuran tinggi

mulut ragum, dibagian bawah benda kerja ditahan denagan

 bantalan yang rata dan sejajar (paralel). Agar ragum tidak turut

 bergerak, ragum diikat denagan menggunakan mur baut pada

meja bor.

2)  Jika tidak menggunakan ragum, benda kerja diikat pada meja

 bor dengan menggunakan dua buah mur baut, dua buah penjepit

 bentuk U dengan dua balok penahan yang sesuai.

3)  Untuk mengebor logam batang berbentuk bulat, benda kerja

diletakan pada sebuah balok V dan dijepit dengan batang

 pengikat khusus, kemudian ditahan dengan menggunakan balok

yang sesuai dan diikat oleh mur baut pada meja mesin bor.

4)  Untuk benda kerja yang akan dibor tembus, benda kerja dijepit

dengan menggunakan batang, penjepit khusus, balok penahan

yang sesuai tingginya dan diikat dengan mur baut pengikat agar

tidak merusak ragum.

 b.  Pemasangan Mata Bor pada chuck  

1)  Bor dengan tangkai lurus (taper) langsung dimasukan pada

lubang sumbu mesin bor, tidak boleh menggunakan pemegang

Page 9: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 9/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

 bor. Dengan demikian, lubang alur menerima ujung taper dan

lubang taper diimbangi oleh selubang yang distandarisasi

(dinormalisasikan). Ujung taper tidak digunakan untuk

memegang tapi untuk mempermudah dilepas dari selumbung

dengan menggunakan soket. Sebelum melepas bor, sepotong

kayu harus diletakan dibawahnya, sehingga mata bor tidak akan

rusak pada saat jatuh.

2)  Bor dengan tangkai selinder diguanakan “ Pemegang bor

 berkonsentrasi sendiri” dengan dua atau tiga rahang. Bor harus

dimasukan sedalam mungkin sehinggan tidak selip pada saat

 berputar. Permukaan bagiaan dalam pemegang berhubungan

dengan tangakai mata bor, sehingga menghasilkan putaran bor.

3)  Bor dengan kepala bulat lurus diperguanakan pemegang/

 penjepit bor otomatis (universal), dimana bila diputar kuncinya,

maka mulutnya akan membuka atau menjepit dengan sendirinya

(otomatis).

4)  Bor dengan kepala tirus dipergunakan taper atau sarung

 pangurang yang dibuat sesuai dengan tingkatan dan kebutuhan,

sehingga terdapat bermacam-macam ukuran.

5)  Mata bor yang baik asahan mata potongnya akan mengebor

dengan baik dan akan menghasilkan tatal yang sama tebal

dengan yang keluar melalui kedua belah alur spiral bor. Untuk

 bahan memerlukan pendinginan, dipergunakan cerek khusus

tempat bahan pendingin.

c.  Atur posisi benda kerja dengan menggerakkan meja, untuk arah

vertical cukup memutar handle, untuk gerak putar mejanya cukup

membuka pengunci di bawah meja dan di sesuaikan, setelah itu

 jangan lupa mengunci semua pengunci.

Page 10: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 10/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

10 

d.  Tancapkan steker mesin ke stop kontak sumber listrik, kemudian

tekan sakelar on (pada saat ini spindle sudah berputar). Atur

kecepatan yang sesuai dengan benda kerja.

e.  Untuk pemakanan ke benda kerja, putar Drill feed Handle sehingga

mata bor turun dan memakan benda kerja.

f.  Gunakan cairan pendingin bila perlu.

g.  Setelah selesai, tekan sakelar off untuk mematikan mesin

h.  Untuk Mesin bor tangan / pistol sakelar khusus untuk pilhan putaran

ke kanan dan ke kiri.

C.  Mesin Gerinda

1.  Pengertian Mesin Gerinda

Mesin gerinda adalah suatu alat yang ekonomis untuk

menghasilkan permukaan yang halus dan dapat mencapai ketelitian yang

tinggi.Mesin Gerinda merupakan salah satu jenis mesin perkakas dengan

mata potong jamak, dimana mata potongnya berjumlah sangat banyak

yang digunakan untuk mengasah/memotong benda kerja dengan tujuan

tertentu.Prinsip kerja mesin gerinda adalah batu gerinda berputar

 bersentuhan dengan benda kerja sehingga terjadi pengikisan, penajaman,

 pengasahan, atau pemotongan. 

2.  Fungsi Utama Mesin Gerinda

a.  Memotong benda kerja yang ketebalanya yang tidak relatif tebal

 b.  Menghaluskan dan meratakan permukaan benda kerja

c.  Sebagai proses jadi akhir ( finishing ) pada benda kerja

d.  Mengasah alat potong agar tajam

e.  Menghilangkan sisi tajam pada benda kerja

f.  Membentuk suatu profil pada benda kerja ( baik itu elips, siku, dan

lain-lain ).

Page 11: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 11/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

11 

3.  Kelebihan dan Kekurangan Mesin Gerinda

a.  Kelebihan

1)  Dapat mengerjakan benda kerja yang telah dikeraskan

2)  Dapat menghasilkan permukaan yang sangat halus hingga N6

3)  Dapat mengerjakan benda kerja dengan tuntutan ukuran yang

sangat presisi.

 b.  Kekurangan

1)  Skala pemakanan( depth of cut ) harus kecil

2)  Waktu yang diperlukan untuk mengerjakan cukup lama

3)  Biaya yang diperlukan untuk pengerjaan cukup mahal.

4.  Macam-Macam Bentuk Batu Gerinda

a.   Flat wheels, untuk melakukan penggerindaan alat-alat potong seperti

handtap, countersink, mata bor, dan sebagainya

 b.  Cup wheels, untuk melakukan penggerindaan alat-alat potong seperti

cutter, pahat bubut, dan sebagainya

Page 12: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 12/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

12 

c.   Dish grinding wheels, untuk melakukan penggerindaan profil pada

cutter

d.  Shaped grinding wheels, untuk memotong alat potong ataupun

material yang sangat keras, seperti HSS, material yang sudah

mengalami proses heat treatment.

e.  Cylindrical grinding wheels, untuk melakukan penggerindaan

diameter dalam suatu jenis produk.

Page 13: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 13/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

13 

f.  Saucer Grinding Wheels, Gerinda ini biasa digunakan untuk

mengerinda bergelombang dan gerinda pemotong. Ini menemukan

 penggunaan yang luas di non-mesin daerah, karena hal ini filers

 bertemu digunakan oleh roda piring untuk menjaga bilah gergaji.

g.   Diamond Grinding Wheels, Dalam roda berlian berlian industri tetap

terikat ke tepi. Digunakan untuk mengerinda bahan-bahan keras

seperti beton, batu permata dll. Sebuah melihat menggorok dirancang

untuk mengiris batu permata seperti bahan keras

D.  Mesin Coulter

1.  Pengertian Mesin Coulter

Korter adalah peranti untuk membulatkan dan membesarkan blok

silinder. Biasanya para bikers melakukan prosesi ini untuk meningkatkan

tenaga dari kuda besi miliknya.

Page 14: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 14/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

14 

2.  Cara untuk Mengkorter Blok Silinder

a.  Pasang mesin pada blok silinder dengan menggunakan klem

 pengikat. Pisau pemotongnya dipasang pada poros yang dapat

digerakkan naik-turun di dalam silinder

 b.  Poros ini memiliki 3 buah cakra poros, tempat pisau ada ditengah-

tengah silinder yang akan dibor dan dapat disetel keluar masuk pada

 porosnya terhadap silinder

c.  Ukur panjang pemegang dan pisau dengan mikrometer khusus, yang

merupakan kelengkapan mesin untuk menentukan besarnya diameter

yang kaan dibor. Cakra tersebut dapat disetel keluar masuk pada

 porosnya terhadap silinder

d.  Pemboran yang tebal harus dilakukan berulang kali. Ukuran

diameter silinder yang akan dibor adalah atas dasar ukuran diameter

torak yang akan dipakai dan dikurangi lebih kurang 0.002 inchi

untuk menghaluskan

e.  Cakra dipasang sesuai dengna ukuran silinder sehingga poros

 pemotong terletak ditengah-tengah lubang silinder. Periksa lubang

mesin bor, setelah itu keraskan pengikat bor pada blok motor,

kendorkan cakramnya dan poros pemegang pisau ditarik keatas

f.  Hidupkan mesin, pisau diturunkan sehingga memotong sedikit,

kemudian pisau ditarik keatas dan matikan meisn untuk melihat

keadaan pemotongan dengna ukuran silinder. Setelah di periksa

menurut ketentuan, maka dapat diteruskan pemboran dan dengan

sebuah pengatur otomatik, pisau akan memotong sendiri

g.  Setelah selesai pengeboran pertama, untuk berikutnya sisakan

ukuran 0.0015 inchi ukuran sebenarnya guna memperhalus

 pekerjaan.

Page 15: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 15/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

15 

E.  Mesin Las Listrik

1.  Pengertian Mesin Las Listrik

Las busur listrik atau pada umumnya disebut las listrik termasuk

suatu proses penyambungan logam dengan menggunakan tenaga listrik

sebagai sumber panas. Jadi surnber panas pada las listrik ditimbulkan

oleh busur api arus listrik, antara elektroda las dan benda kerja. Benda

kerja merupakan bagian dari rangkaian aliran arus listrik las. Elektroda

mencair bersama-sama dengan benda kerja akibat dari busur api arus

listriik. Gerakan busur api diatur sedemikian rupa, sehingga benda kerja

dan elektroda yang mencair, setelah dingin dapat menjadi satu bagian

yang sukar dipisahkan.

Mesin las adalah alat yang digunakan untuk menyambung logam.

Pengelasan (wedding ) adalah tenik penyambungan logam dengan cara

mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa

 penekanan dan menghasilkan sambungan yang kontinyu. Lingkup

 penggunaan teknik pengelasan dalam kontruksi sangat luas, meliputi

 perkapalan, jembatan, rangka baja, bejana tekan, pipa pesat, pipa saluran

dan sebagainya.

2.  Klasifikasi Cara Pengelasan dan Pemotongan

Sampai pada waktu ini banyak sekali cara-cara pengklasifikasian

yang digunakan dalam bidang las, ini disebabkan karena perlu adanya

kesepakatan dalam hal-hal tersebut.Secara konvensional cara-cara

 pengklasifikasi tersebut vpada waktu ini dapat dibagi dua golongan, yaitu

klasifikasi berdasarkan kerja dan klasifikasi berdasarkan energi yang

digunakan.

Klasifikasi pertama membagi las dalam kelompok las cair, las

tekan, las patri dan lain-lainnya.Sedangkan klasifikasi yang kedua

membedakan adanya kelompok-kelompok seperti las listrik, las kimia,

las mekanik dan seterusnya.

Page 16: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 16/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

16 

Berdasarkan klasifikasi ini pengelasan dapat dibagi dalam tiga

kelas utama yaitu : pengelasan cair, pengelasan tekan dan pematrian.

a.  Pengelasan cair adalah cara pengelasan dimana sambungan

dipanaskan sampai mencair dengan sumber panas dari busur listrik

atau sumber api gas yang terbakar

 b.  Pengelasan tekan adalah pcara pengelasan dimana sambungan

dipanaskan dan kemudian ditekan hingga menjadi satu

c.  Pematrian adalah cara pengelasan diman sambungan diikat dan

disatukan denngan menggunakan paduan logam yang mempunyai

titik cair rendah. Dalam hal ini logam induk tidak turut mencair.

Cara yang banyak digunakan dalam pengelasan adalah pemotongan

dengan gas oksigen dan pemotongan dengan busur listrik.Dibawah ini klasifikasi

dari cara pengelasan :

a.  Pengelasan cair

1)  Las gas

2)  Las listrik terak

3)  Las listrik gas

4)  Las listrik termis

5)  Las listrik elektron

6)  Las busur plasma

 b.  Pengelasan tekan

1)  Las resistensi listrik

2)  Las titik

3)  Las penampang

4)  Las busur tekan

5)  Las tekan

6)  Las tumpul tekan

7)  Las tekan gas

8)  Las tempa

9)  Las gesek

10)  Las ledakan

11)  Las induksi

12)  Las ultrasonic

c.  Las busur: Elektroda terumpan

d.  Las busur gas

1)  Las m16

2)  Las busur CO2

Page 17: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 17/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

17 

e.  Las busur gas dan fluks

1)  Las busur CO2 dengan

elektroda berisi fluks

2)  Las busur fluks

3)  Las elektroda berisi fluks

4)  Las busur fluks

5)  Las elektroda tertutup

6)  Las busur dengan elektroda

 berisi fluks

7)  Las busur terendam

8)  Las busur tanpa pelindung

9)  Elektroda tanpa terumpan

10)  Las TIG atau las wolfram

gas

3.  Klasifikasi Mesin Las

a.  Berdasarkan Panas Listrik

1)  SMAW (Shield Metal Arch Welding) adalah las busur nyala api

listrik terlindung dengan mempergunagakan busur nyala listrik

sebagai sumber panas pencair logam. Jenis ini paling banyak

dipakai dimana – mana untuk hampir semua keperluan pekerjaan

 pengelasaan. Tegangan yang dipakai hanya 23 sampai dengan

45 Volt AC atau DC, sedangkan untuk pencairan pengelasan

dibutuhkan arus hingga 500 Ampere. Namun secara umum yang

dipakai berkisar 80 –  200 Ampere

2)  SAW (Submerged Arch Welding) adalah las busur terbenam

atau pengelasan dengan busur nyala api listrik. Untuk mecegah

oksidasi cairan metal induk dan material tambahan,

dipergunakan butiran –  butiran fluks / slag sehingga bususr nyala

terpendam di dalam ukuran – ukuran fluks tersebut

3)  ESW (Electro Slag Welding) adalah pengelasan busur terhenti,

 pengelasan sejenis SAW namun bedanya pada jenis ESW

 busurnya nyala mencairkan fluks, busur terhenti dan proses

 pencairan fluk berjalan terus dam menjadi bahan pengantar arus

listrik (konduktif). Sehingga elektroda terhubungkan dengan

 benda yang dilas melalui konduktor tersebut. Panas yang

dihasilkan dari tahanan terhadap arus listrik melalui cairan fluk /

Page 18: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 18/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

18 

slag cukup tinggi untuk mencairkan bahan tambahan las dan

 bahan induk yang dilas tempraturnya mencapai 3500° F atau

setara dengan 1925° C

4)  SW (Stud Welding) adalah las baut pondasi, gunanya untuk

menyambung bagian satu konstruksi baja dengan bagian yang

terdapat di dalam beton (baut angker) atau “ Shear Connector “ 

5)  ERW (Electric Resistant Welding) adalah las tahanan listrik

yaitu dengan tahanan yang besar panas yang dihasilkan oleh

aliran listrik menjadi semakin tinggi sehingga mencairkan logam

yang akan dilas. Contohnya adalah pada pembuatan pipa ERW,

 pengelasan plat –  plat dinding pesawat, atau pada pagar kawat

6)  EBW (Electron Beam Welding) adalah las dengan proses

 pemboman elektron, suatu pengelasan uang pencairannya

disebabkan oleh panas yang dihasilkan dari suatu berkas

loncatan elektron yang dimamapatkan dan diarahkan pada benda

yang akan dilas. Penelasan ini dilaksanakan di dalam ruang

hampa, sehingga menghapus kemungkinan terjadinya oksidasi

atau kontaminasi.

b.  Berdasarkan Panas Listrik dan Gas

1)  GMAW (Gas Metal Arch Welding) terdiri dari ; MIG (Metal

Active Gas) dan MAG (Metal Inert Gas) adalah pengelasan

dengan gas nyala yang dihasilkan berasal dari busur nyala

listrik, yang dipakai sebagai pencair metal yang di – las dan metal

 penambah. Sebagai pelindung oksidasi dipakai gas pelindung

yang berupa gas kekal (inert) atau CO2. MIG digunakan untuk

mengelas besi atau baja, sedangkan gas pelindungnya adalah

mengunakan Karbon dioxida CO2. TIG digunakan untuk

mengelas logam non besi dan gas pelindungnya menggunakan

Helium (He) dan/atau Argon (Ar)

Page 19: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 19/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

19 

2)  GTAW (Gas Tungsten Arch Welding) atau TIG (Tungsten Inert

Gas) adalah pengelasn dengan memakai busur nyala dengan

tungsten/elektroda yang terbuat dari wolfram, sedangkan bahan

 penambahnyyadigunakan bahan yang sama atau sejenis dengan

material induknya. Untuk mencegah oksidasi, dipakai gas kekal

(inert) 99 % Argon (Ar) murni

3)  FCAW (Flux Cored Arch Welding) pada hakikatnya hampir

sama dengan proses pengelasan GMAW. Gas pelindungnya juga

sama-sama menggunakan Karbon dioxida CO2. Biasanya, pada

mesin las FCAW ditambah robot yang bertugas untuk

menjalankan pengelasan biasa disebut dengan super anemo

4)  PAW (Plasma Arch Welding) adalah las listrik dengan plasma

yang sejenis dengan GTAW hanya pada proses ini gas

 pelindung menggunakan bahan campuran antara Argon (Ar),

 Nitrogen (N) dan Hidrogen (H) yang lazim disebut dengan

 plasma. Plasma adalah gas yang luminous dengan derajat

 pengantar arus dan kapasitas termis / panas yang tinggi dapat

menampung tempratur diatas 5000°C.

c.  Berdasarkan Panas yang Dihasilkan Campuran Gas

OAW (Oxigen Acetylene Welding) adalah sejenis dengan las

karbid / las otogen. Panas yang didapat dari hasil pembakaran gas

acetylene (C2H2) dengan zat asam atau Oksigen (O2). Ada juga

yang sejenis las ini dan memakai gas propane (C3H8) sebagai ganti

acetylene. Ada pula yang memakai bahan pemanas yang terdiri dari

campuran gas hidrogen (H) dan zat asam (O2) yang disebit OHW

(Oxy Hidrogen Welding)

d.  Berdasarkan Ledakan dan Reaksi Isotermis

EXW (Explosion Welding) adalah las yang sumber panasnya

didapatkan dengan meledakkan amunisi yang dipasang pada suatu

Page 20: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 20/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

20 

mold/cetakan pada bagian tersebut dan mengisi cetakan yang

tersedia. Cara ini sangat praktis untuk menyambung kawat baja /

wire rope, slenk. Cara pelaksanaannya adalah ujung-ujung tambang

kawat dimasukkan ke dalam mold yang telah terisi amunisi

selanjutnya serbuk ledak tersebut dinyalakan dengan pemantik api,

maka terjadilah reaksi kimia eksotermis yang sangat cepat sehingga

menghasilkan suhu yang sangat tinggi sehingga terjadilah ledakan.

Ledakan tersebut mencairkan kedua ujung kawat baja yang terdapat

didalam mold tadi, sehingga cairan metal terpadu dan mengisi

ruangan yang tersedia didalam mold.

4.  Jenis –  Jenis Mesin Las Listrik

Jenis  –   jenis mesin las berdasarkan panas listrik adalah sebagai

 berikut :

a.  Las listrik dengan Elektroda Karbon

1)  Las listrik dengan elektroda karbon tunggal

2)  Las listrik dengan elektroda karbon ganda

Pada las listrik dengan elektroda karbon, maka busur listrik yang terjadi

diantara ujung elektroda karbon dan logam atau diantara dua ujung elektroda

karbon akan memanaskan dan mencairkan logam yang akan dilas.

Page 21: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 21/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

21 

b.  Las listrik dengan elektroda logam

1)  SMAW (Shield M etal Ar ch Welding )

Las busur nyala api listrik terlindung dengan

mempergunaakan busur nyala listrik sebagai sumber panas

 pencair logam. Jenis ini paling banyak dipakai dimana – mana

untuk hampir semua keperluan pekerjaan pengelasaan.Tegangan

yang dipakai hanya 23 sampai dengan 45 Volt AC atau DC,

sedangkan untuk pencairan pengelasan dibutuhkan arus hingga

500 Ampere.Namun secara umum yang dipakai berkisar 80  –  

200 Ampere.

Untuk arus AC (Alternating Current), pada voltage drop

 panjang kabel tidak banyak pengaruhnya, kurang cocok untuk

arus yang lemah, tidak semua jenis elektroda dapat dipakai, arc

starting lebih sulit terutama untuk diameter elektrode kecil, pole

tidak dapat dipertukarkan, arc bow bukan merupakan masalah.

Sedangkan pada arus DC (Direct Current), voltage drop

sensitif terhadap panjang kabel sependek mungkin, dapat

dipakai untuk arus kecil dengan diameter electroda kecil, semua

 jenis elektrode dapat dipakai, arc starting lebih mudah terutama

untuk arus kecil, pole dapat dipertukarkan, arc bow sensitif pada

 bagian ujung, sudut atau bagian yang banyak lekukanya.

Page 22: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 22/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

22 

2)  SAW (Submerged Arch Welding)

Las busur terbenam atau pengelasan dengan busur nyala

api listrik. Untuk mecegah oksidasi cairan metal induk dan

material tambahan, dipergunakan butiran –  butiran fluks / slag

sehingga bususr nyala terpendam di dalam ukuran – ukuran fluks

tersebut. Las Busur terpendam banyak digunakan untuk

 penyambungan tabung-tabung gas, pipa besar, dan

 penyambungan benda-benda yang sama serta banyak.

Pengelasan dilakukan secara otomatis dan fluksnya berupa

 butiran.Satu unit mesin las SAW terdiri dari sebuah travo,

kontrol, elektroda gulungan, nosel, dan perlengkapan untuk

menaburkan fluks. Pengelasan dimulai dengan mengalirkan arus

listrik pada rangkaian listrik SAW. Elektroda berjalan dan

menyentuh benda kerja.Loncatan busur listrik dari elektroda ke

 benda kerja mencairkan keduanya.Pada saat bersamaan butiran

fluks ditaburkan agar deposit lasan yang terbentuk terlindung

dari udara luar.

Page 23: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 23/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

23 

3)  TIG (tungsten inert gas )

Las listrik TIG merupakan pengelasn dengan memakai

 busur nyala dengan tungsten/elektroda yang terbuat dari

wolfram.Busur listrik yang terjadi antara ujung elektroda

wolfrm dan bahan dasar adalah merupakan sumber panas untuk

 pengelasa.Titik cair dari eletroda wolfram sedemikan tingginya

samapai 3410o sehingga tidak ikut mencair pada saat terjadi

 busur listrik.Tangkai las dilengkapi dengan nosel keramik untuk

 penyembur gas pelindung yang melindungi daerah las dari

 pengaruh luar pada saat pengelasan.Sebagai bahan tambah

dipakaielektroda tanpa selaput yang digerakkan dan didekatkan

ke buur listrik yang terjadi antara elektroda wolfram dengan

 bahan dasar.

5.  Arus Las Listrik

a.  Mesin Las listrik arah searah (DC)

Mesin ini mengubah arus listrik bolak-balik (AC) yang

masuk, menjadi arus listrik searah (DC) yang keluar. Keuntungan

dari mesil las DC adalah sebagai berikut :

1)  Busur nyala stabil 

2)  Dapat menggunakan elektroda berselaput dan tidak berselaput

3)  Dapat mengelas pelat tipis 

Page 24: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 24/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

24 

4)  Dapat dipakai untuk mengelas pada tempat lembab 

b.  Mesin las litrik arah bolak  –  balik (AC)

Mesin ini memerlukan sumber arus bolak-balik

denganteganganyang lebihrendahpadalengkung listrik.Keuntungan

dari mesin AC adalah:

1)  Busur nyala kecil, sehingga memperkecil kemungkinan

timbulnya keropos pada rigi –  rigi las

2)  Perlengkapan dan perawatan lebih mudah.

6.  Perlengkapan Las Listrik

a.  Kabel Las

Kabel las biasanya dibuat dari tembaga yang dipilin dan

dibungkus dengan karet isolasi. Yang disebut kabel las ada tiga

macam, yaitu :

1)  Kabel elektroda , yaitu kabel yang menghubungkan pesawat las

dengan elektroda.

2)  Kabel masa, yaitu yang menghubungkan pesawat las dengan

 benda kerja.

3)  Kabel tenaga, yaitu kabel yang menghubungkan sumber tenaga

atau jaringan lisrtik dengan pesawat las.

b.  Pemegang Elektroda

Ujung yang berselaput dari

elektroda dijepit dengan pemegang

elektroda.Ini terdiri dari mulut

 penjepit dan pemegang yang

dibungkus oleh bahan penyekat

(biasanya dari embonit).

Page 25: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 25/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

25 

c.  Palu Las

Palu ini digunakan untuk

melepaskan dan mngeluarkan terak

las pada jalur las dengan jalan

memukulkan atau menggoreskan

 pada daerah las.Gunakanlah kaca

mata pada waktu poembersihan

terak, sebeb dapat memercikan pada

mata. 

d.  Sikat Kawat

Sikat kawat digunakan untuk :

1)  Membersihkan benda kerja yang

akan dilas,

2)  Membersihkan terak las yang sudah

dilepas dari jalur las oleh pukulan

 palu las.

e.  Klem Massa

Alat untuk menghubungkan kabel masa ke benda kerja.

Terbuat dari bahan yang menghantar dengan baik (tembaga).Klem

masa dilengkapi dengan pegas yang kuat, yang dapat menjepit benda

kerja dengan baik.Tempat yang dijepit harus bersih dari kotoran

(karet, cat, minyak dan sebagainya).

f.  Tang penjepit

Digunakan untuk memegang atau memindahkan benda kerja

yang masih panas sehabis pengelasan.

Page 26: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 26/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

26 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  Identifikasi Mesin Perkakas

1.  Mesin Bubut

a.  Merk Mesin : Sanyuen GF 2000 A 

b.  Jenis Mesin : Mesin Bubut Konvensional semi otomatis.

c.  Gambar Mesin : 

Page 27: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 27/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

27 

2.  Mesin Bor

a.  Merk Mesin : West Lake Drilling  

b.  Jenis Mesin : Mesin Bor Konvensional

c.  Gambar Mesin : 

Page 28: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 28/61

Page 29: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 29/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

29 

4.  Mesin Coulter

a.  Merk Mesin : Coulter Waida 

b.  Jenis Mesin : Mesin Coulter Konvensional semi otomatis

c.  Gambar Mesin : 

Page 30: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 30/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

30 

5.  Mesin Las Listrik

a.  Merk Mesin : Modern Welding  

b.  Jenis Mesin : Mesin Las Konvensional

c.  Gambar Mesin :

B.  Bagian-Bagian Mesin Perkakas beserta Fungsinya

a.  Mesin Bubut ( Sanyuen GF 2000 A)

Gambar 1. Kepala Lepas (Tail Stock)

Keterangan :

Kepala lepas atau Tail Stock   adalah bagian dari mesin bubut yang

letaknya di sebelah kanan dan dipasang di atas alas atau meja mesin.

Bagian ini berfungsi untuk tempat pemasangan senter yang digunakan

Page 31: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 31/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

31 

sebagai penumpu ujung benda kerja dan sebagai dudukan penjepit mata

 bor pada saat melakukan pengeboran. Tail Stock   ini dapat digerakkan

atau digeser sepanjang meja mesin, dan dikencangkan dengan perantara

mur dan baut atau dengan tuas pengencang. Selain digeser sepanjang alas

atau meja mesin, tail stock  juga dapat digerakkan maju atau mundur atau

arah melintang saat digunakan untuk keperluan pembubutan benda yang

konis.

Gambar 2. Eretan memanjang, Tuas otomatis arah melintang, Tuas pompa oli,

 Eretan mlintang

Keterangan :

A (Eretan memanjang) :

Sebagai penggerak sumbu Y pada pahat saat menyayat benda kerja atau

arah kanan-kiri.

B (Tuas otomatis arah melintang) :

Sebagai saklar penggerak otomatis pada eretan arah melintang.

C (Tuas pompa oli) :

Sebagai penyalur oli kebagian eretan.

D (Eretan melintang) :

Sebagai penggerak sumbu X pada pahat saat menyayat benda kerja atau

arah maju-mudur.

A

B

C

D

Page 32: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 32/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

32 

Gambar 3. Eretan atas, Tool Post, Lampu

Keterangan :

E (Eretan atas) :

Sebagai pengatur sudut putar pahat untuk proses pembubutan tirus.

F (Tool Post ) :

Sebagai rumah pahat atau tempat pencekaman pahat bubut.

G (Lampu) :

Sebagai penerang saat mengukur bagian dalam atau tersulit saat benda

kerja dicekam di chuck.

E

F

G

Page 33: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 33/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

33 

Gambar 4. Head Stock, Spindle mesin, Chuck

Keterangan :

H (Head Stock ) :

Sebagai bagian utama dari mesin bubut yang digunakan untuk

menyangga poros utama, yaitu poros yang digunakan untuk

menggerakkan spindle.

I (Spindle mesin) :

Sebagai penggerak chuck  ( penjepit benda kerja ) saat diputar.J (Chuck ) :

Sebagai tempat untuk memegang benda kerja.

H

I

J

Page 34: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 34/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

34 

Gambar 5. Coolant pump switch, Main switch, Gear levers, Tuas rem 

Keterangan :

K (Coolant Pump Switch ) :

Untuk menghidupkan pompa cooling oil.

L (Main Switch ) :Untuk mematikan dan menghidupkan mesin.

M (Gear Levers ) : 

Sebagai pengatur putaran gear sebelum diteruskan ke spindle pada mesin.

N (Tuas rem) :

Untuk mengerem atau memperlambat gerakan pada mesin.

M

L

K

 N

Page 35: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 35/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

35 

Gambar 6. Spindle Handle

Keterangan :

O (Spindle ChangeLever):

Digunakan untuk merubah kecepatan putar pada Speed Gear Box dengan

merubah posisi handle. 

P (Left and Right H and Thread Change Lever ) :

Digunakan untuk proses pembuatan ulir kanan maupun kiri.

Gambar 7. Motor listrik

Keterangan :

Motor listrik berfungsi sebagai sumber daya untuk menjalankan mesin.

OP

Page 36: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 36/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

36 

b.  Mesin Bor (West Lake Dr il li ng )

Gambar 8. Head, Quill feed, on/ off switch, motor listrik, column

Keterangan :

A (Head ) :

Kepala dari mesin bor yang berisi tali pemutar dan spindle head  yang

diteruskan pada mata bor.

B (Quill Feed ) :

Untuk menurunkan atau menekankan  spindle dan mata bor ke benda

kerja (memakankan).

C (On/ Off Switch ) :

Untuk menghidupkan/ mematikan mesin.

D (Motor listrik) :

Sebagai sumber daya penghidupan pada mesin.

E (Column / tiang) :

Bagian dari mesin bor yang digunakan untuk menyangga bagian-bagian

yang digunakan untuk proses pengeboran. Kolom berbentuk silinder

yang mempunyai alur atau reluntuk jalur gerak vertical dari meja kerja.

B

A

C

D

E

Page 37: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 37/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

37 

Gambar 9. Drill Chuck, Table, Base

Keterangan :

F (Dri ll Chuck ) :

Adalah suatu alat pembua tlubang atau alur yang efisien. Mata bor yang

 paling sering digunakan adalah bor spiral, karena daya hantarnya yang

 baik, penyaluran serpih (geram) yang baik karena alur-alurnya yang

 berbentuk sekrup, sudut-sudut sayat yang menguntungkan dan bidang

 potong dapat diasah tanpa mengubah diameter bor. Bidang –  bidang

 potong bor spiral tidak radial tetapi digeser sehingga membentuk garis-

garis singgung pada lingkaran kecil yang merupakan hati bor.

G (Table ) :

Bagian yang digunakan untuk meletakkan benda kerja yang akan di bor.

Meja kerja dapat disesuaikan secara vertikal untuk mengakomodasi

ketinggian pekerjaan yang berbeda atau bias berputar ke kiri dan ke

kanan dengan sumbu poros pada ujung yang melekat pada tiang

(column). Untuk meja yang berbentuk lingkaran bias diputar 3600

dengan poros ditengah-tengah meja. Kesemuanya itu dilengkapi

 pengunci (table clamp) untuk menjaga agar posisi meja sesuai dengan

yang dibutuhkan. Untuk menjepit benda kerja agar diam menggunakan

ragum yang diletakkan di atas meja.

F

G

H

Page 38: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 38/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

38 

H (Base ) :

 Base ini merupakan penopang dari semua komponen mesin bor.  Base

terletak paling bawah menempel pada lantai, biasanya dibaut.

Pemasangannya harus kuat karena akan mempengaruhi keakuratan

 pengeboran akibat dari getaran yang terjadi.

c.  Mesin Gerinda (Wipro Grind Force  6000)

Gambar 10. Bagian lengkap mesin gerinda

Keterangan :

A (Tutup roda gerinda) :

Untuk menutupi roda gerinda

B (Saklar) :

Untuk menyalakan dan mematikan mesin

C (Pengatur sudut) :

Untuk mengatur kemiringan sudut meja pengasah

D (Tempat air pendingin) :

Sebagai tempat air pendingin

E (Motor listrik) :

Sebagai penggerak mesin

A

CH

GFE

D

B

Page 39: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 39/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

39 

F (Meja pengasah) :

Untuk menyangga benda kerja

G (Batu gerinda) :

Untuk menggerinda

H (Badan mesin gerinda) :

Sebagai dudukan mesin gerinda

d.  Mesin Coulter (Coulter Waida)

Gambar 11. Column, Box, Pengunci box

Keterangan :

A (Column/ tiang) :

Untuk menyangga bagian dari mesin

B (Box ) :

Tempat untuk menempatkan bahan-bahan yang berbentuk silinder.

C (Pengunci Box ) :

Untuk mengunci bahan agar tidak bergetar atau bergerak saat pengerjaan.

AB C

Page 40: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 40/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

40 

Gambar 12. Bagian lengkap mesin coulter

Keterangan :

D (Coulter chuck ) :

Untuk mengkolter bahan yang di tempatkan pada box

E (Eretan) :

Untuk menggerekkan coulter chuck  dari atas ke bawah

F (Table ) :

Untuk menempatkan benda kerja pada box

G (Coulter Qui ll Feed ) :

Sebagai sumber putaran untuk pemakanan bersamaan dengan coulter

chuck .

H (Motor listrik) :

Sebagai sumber daya penghidupan pada mesin.

D

F

E

H

I

G

J

Page 41: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 41/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

41 

I (Coul ter feed ) :

Sebagai pembantu untuk mengkolter bahan sebelum pada Coulter Quill

 Feed.

J (Head ) :

Sebagai pusat dari putaran yang berisi  spindle coulter yang diikatkan

 pada belt , kemudian di teruskan pada coulter chuck .

e.  Mesin Las Listrik (Modern Welding )

Gambar 13. Mesin las, elektroda, klem massa, pemegang elektroda

Keterangan :

A (Mesin las) :

Sumber untuk melalukan las dari arus listrik di alirkan pada handle yang

dijepitkan pada elektroda.

B (Elektroda) :

Bahan untuk mengelas

C (Klem massa) :

Sebuah penjepit yang dialiri arus listrik apabila elektroda mengenainya

atau saling menguatkan antara bersifat negatif dan positif.

D (Pemegang elektroda) :

Alat untuk menjepit elektroda

AD

C

B

Page 42: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 42/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

42 

C.  Perlegkapan-Perlengkapan Mesin Perkakas

a.  Dril l bits  

Gambar 14. Drill bits 

Keterangan :

 Drill Bits fungsinya sebagai berikut:

1)  Pembuatan Lubang

Mengumpan mata bor pada suatu benda kerja untuk membuat lubang

2)  Pembesaran Lubang

Mengumpan mata bor pada benda kerja yang telah memiliki lubang

sebelumnya guna untuk memperbesar diameter lubang pada benda

kerja.

3)  ChamferChamfer adalah suatu proses untuk menghilangkan sisi tajam dari

sebuah bentuk slindris. Chamf er pada proses counter sink   yang

dimaksudkan ada beberapa macam penggunaan, antara lain :

  Chamfer  untuk membersihkan chip / bram

  Chamfer untuk pembuatan ulir

  Chamfer  untuk dudukan kepala baut konus

  Chamfer  untuk dudukan paku keling.

Page 43: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 43/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

43 

b.  Ragum

Gambar 15. Ragum

Keterangan :

Berdasarkan kapasitasnya untuk mencekam dengan kuat atau

memberikan tekanan tetap, ragum dapat digunakan untuk menyelesaikan

 berbagai masalah dalam produksi di bengkel-bengkel kecil dimana

umumnya memerlukan penyesuaian peralatan dan teknik/metode untuk

 pekerjaan-pekerjaan secara manual dengan tangan. Operasi-operasi di

 bengkel besar akan memerlukan jig atau alat tekan yang dapat digabung

dengan ragum tertentu atau alat lain dari ragum biasa.

Satu masalah yang timbul adalah bagaimana mencekam benda

kerja dengan kuat tanpa meninggalkan bekas kasar dari ragum; masalah

lain yaitu bagaimana memegang part kecil dengan ragum yang relatif

 besar. Ada solusi mudah untuk masalah-masalah tersebut.

Terlepas dari alas penyelip atau jepitan lunak yang dapat

digunakan untuk melindungi benda kerja, seringkali hal ini cukup untuk

memegang benda kerja dengan kardus seperti pada kardus rokok. Karena

ketipisannya dan disokong dengan jepitan logam, hal ini akan

Page 44: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 44/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

44 

memberikan cekaman yang lebih kuat pada benda kerja daripada jepitan

fiber yang tebal. Lembaran logam seperti alumunium dan kuningan, serta

semua material logam lunak juga dapat digunakan.

Jika bagian utama dari benda kerja mengalami permesinan atau

akan mengalami kerusakan akibat dari jepitan ragum standar, sepasang

 permukaan halus dari baja lunak akan mengubah bangku ragum, untuk

fungsi ini, menjadi sebuah mesin ragum tetap.

Saat ini, memegang sebuah mesin ragum lebih nyaman dilakukan

 pada bagian dasar/kaki bangku ragum, dengan menggunakan mesin

ragum untuk memasang benda kerja, dan berdasar prinsipnya, ragum

kecil tertentu, atau penjepit ragum, dan bahkan tempa pembuat perkakas

dapat dipasang untuk benda kerja kecil.

c.  Kunci Pas

Gambar 16. Kunci pas

Keterangan :

Kunci pas digunakan untuk mengencangkan dan melepas baut

dan mur yang tidak terlalu kuat momen pengencangannya atau kepala

 baut dan mur yang telah dilonggarkan dengan kunci ring.

Kontruksi kunci Pas, kunci pas dibuat dari bahan baja tensil tinggi

yaitu logam paduan chrome vanadium, kunci ini mepunyai tangkai

Page 45: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 45/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

45 

(shank) dengan kepala di masing masing ujung yang membuat sudut 15

derajat terhadap tangkainya.

Spesifikasi kunci Pas, Satuan ukuran kunci pas terdiri dari mm

(metrik) dan inch (imperial). Untuk satuan metric ukuran a mm hingga

80 mm. Tetapi yang umum digunakan di otomotif adalah 6 mm dengan

kenaikan setiap 1 mm hingga ukuran 36 mm, kecuali ukuran 31,33,34

dan 35 mm tidak disediakan.

d.  Tang

Gambar 17. Tang

Keterangan :

Tang adalah alat yang digunakan untuk mencengkram atau

memegang komponen yang akan di buka dengan cara diputarkan

 bagiannya. Tang ini juga dapat digunakan untuk mengencangkan atau

melonggarkan mur dan baut tetapi tidak dianjurkan untuk penggunaan

tersebut karena kekuatan cengkraman Tang tidak sekuat cengkrama

Kunci Pas dan kunci kunci yang lainnya.

Page 46: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 46/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

46 

Kontruksi Tang Tang terbuat dari baja tensil tinggi sehingga Tang

sangat kuat ketika dipukulkan pada benda kerja seperti mur dan baut.

Dan jika terpaksa Tang juga bisa digunakan untuk memukul benda benda

yang keras seperti paku yang melengkung dan lain lain.

e.  Mikrometer Sekrup

Gambar 18. Mikrometer sekrup

Keterangan :

Adapun kegunaan dari mikrometer sekrup adalah sebagai alat

ukur panjang dengan tingkat ketelitian tinggi. Dengan ketelitiannya yang

sangat tinggi, mikrometersekrup dapat digunakan untuk mengukur

dimensi luar dari benda yang sangat kecil maupun tipis seperti kertas,

 pisau silet, maupun kawat. Alat ini biasanya difungsikan untuk mengukur

diameter benda-benda berukuran milimeter atau beberapa centimeter

saja.

Page 47: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 47/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

47 

f.  Kunci L

Gambar 19. Kunci L

Keterangan :

Kunci L merupakan alat bantu yang digunakan untuk pengunci

atau mengendorkan baut yang ada pada chuck.

g.  Kunci Tool Post  

Gambar 20. Kunci tool post

Keterangan :

Kunci tool post merupakan salah satu alat bantu yang digunakan

untuk mengencangkan atau mengendorkan baut yang berbentuk eksentrik

yang berada pada kepala tool post.

Page 48: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 48/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

48 

D.  Cara Kerja Mesin Perkakas secara Umum

1.  Mesin Bubut

Poros spindel akan memutar benda kerja melalui piringan pembawa

sehingga memutar roda gigi  pada poros spindel. Melalui roda gigi

 penghubung, putaran akan disampaikan ke roda gigi poros ulir. Oleh

klem berulir, putaran poros ulir tersebut diubah menjadi gerak translasi

 pada eretan yang membawa pahat. Akibatnya pada benda kerja akan

terjadi sayatan yang berbentuk ulir.

2.  Mesin Bor

Prinsip kerja alat atau perkakas bor ini adalah memutar mata bor yang

memiliki alur puntir (Twist ) yang digenggam oleh cak (Chuck ) yang

terpasang pada poros spindel yang dapat digerakkan naik atau turun

untuk mengupankan mata bor ke bahan yang akan dibuat lubang. Dengan

menggunakan daya motor listrik dan ditransmisikan dengan

menggunakan hubungan puli dan sabuk, maka daya dapat diteruskan

kecak yang menggengam mata bor. Mata bor yang berputar dan ditekan

ke bawah dengan menggunakan tuas tekannya, maka bahan atau objek

yang berada di bawah mata bor terlubangi.

3.  Mesin Gerinda

Menggerinda sejatinya merupakan suatu proses pengerjaan mekanik yang

 pengerjaanya dengan menggesekkan atau menyentuhkan benda kerja ke

 batu gerinda yang sedang berputar secara perlahan dan kontinyu terus-

menerus hingga sesuai hasil akhir yang diinginkan dengan depth of cut  

sangat kecil.

Page 49: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 49/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

49 

4.  Mesin Coulter

Sebagai contoh mengkolter box silinder yaitu:

a.  Pasang mesin pada blok silinder dengan menggunakan klem

 pengikat. Pisau pemotongnya dipasang pada poros yang dapat

digerakkan naik-turun di dalam silinder

 b.  Poros ini memiliki 3 buah cakra poros, tempat pisau ada ditengah-

tengah silinder yang akan dibor dan dapat disetel keluar masuk pada

 porosnya terhadap silinder

c.  Ukur panjang pemegang dan pisau dengan mikrometer khusus, yang

merupakan kelengkapan mesin untuk menentukan besarnya diameter

yang kaan dibor. Cakra tersebut dapat disetel keluar masuk pada

 porosnya terhadap silinder

d.  Pemboran yang tebal harus dilakukan berulang kali. Ukuran

diameter silinder yang akan dibor adalah atas dasar ukuran diameter

torak yang akan dipakai dan dikurangi lebih kurang 0.002 inchi

untuk menghaluskan

e.  Cakra dipasang sesuai dengna ukuran silinder sehingga poros

 pemotong terletak ditengah-tengah lubang silinder. Periksa lubang

mesin bor, setelah itu keraskan pengikat bor pada blok motor,

kendorkan cakramnya dan poros pemegang pisau ditarik keatas

f.  Hidupkan mesin, pisau diturunkan sehingga memotong sedikit,

kemudian pisau ditarik keatas dan matikan meisn untuk melihat

keadaan pemotongan dengna ukuran silinder. Setelah di periksa

menurut ketentuan, maka dapat diteruskan pemboran dan dengan

sebuah pengatur otomatik, pisau akan memotong sendiri

g.  Setelah selesai pengeboran pertama, untuk berikutnya sisakan

ukuran 0.0015 inchi ukuran sebenarnya guna memperhalus

 pekerjaan.

Page 50: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 50/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

50 

5.  Mesin Las Listrik

Sebenarnya sebuah mesin las sejatinya adalah sebuah adaptor penurun

tegangan. Sebuah mesin las umumnya mengeluarkan output sekitar 40

volt dengan daya yang besar hingga mampu mengeluarkan ratusan

ampere. Dengan kemampuan daya besar ini las listrik bisa melelehkan

kawat las. Saat kawat las bekerja, sebenarnya saat itu kita

mengkonsletkan atau membuat arus pendek antara positiv dan negativ

(biasanya negativ kita sambungkan ke benda yang akan dilas, dan positiv

kita sambungkan pada kawat las). Kawat las sendiri adalah sebuab kawat

 besi yang dibungkus bahan sejenis kembang api kawat dengan

kemampuan melelehkan kawat. Lapisan inilah yang menyala terang saat

kita melakukan pengelasan. Saat ini sudah ada mesin las dengan sistem

adaptor switching atau mesin las inverter. Inverter ini sangat ringan

dibanding mesin las dengan menggunakan trafo besar, karena inverter

menggunakan rangkaian yang sistem kerjanya sama dengan regulator

elektronik yang banyak digunakan sekarang (Misalnya adaptor ps2, cas

hp, cas laptop dll), dimana hanya menggunakan rangkaian sistem

switching.

E.  Benda Kerja yang Diproduksi

a.  Macam Benda Kerja yang Diproduksi

1)  Kop mesin : 6 buah per hari

Page 51: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 51/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

51 

2)   Bearing : 10 buah per hari

3)   Noken As : 10 buah per hari

Selain itu juga masih banyak lagi benda yang diproduksi dan juga

tergantung pesanan pada bengkel tersebut.

Page 52: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 52/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

52 

   Φ   2   6 

   Φ   3   0 

   Φ    3

   4 

b.  Cara Membuat Benda Kerja

Gambar 21. Gambar benda kerja yang akan dibuat  

Perencanaan proses bubut :

1)  Material benda kerja : Mild Steel ( ST 37), diameter 34 mm x

75 mm

2)  Material Pahat : HSS atau Pahat Karbida jenis P10 ,

 pahat kanan. Dengan geometri pahat dan kondisi pemotongan dipilihdari Tabel 2.3. ( Tabel yang direkomendasikan oleh produsen mesin

 bubut) :

  α =8o, γ=14o, v = 34 m/menit (HSS) 

  α =5o, γ=0o, v = 170 m/menit (Pahat karbida sisipan)

3)  Mesin yang digunakan : Mesin Bubut dengan Kapasitas

diameter lebih dari 1 inchi

4)  Pencekam benda kerja : Cekam rahang tiga. Benda kerja dikerjakanBagian I terlebih dulu, kemudian dibalik untuk mengerjakan Bagian

II ( Gambar 22)

Page 53: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 53/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

53 

Tabel 1. Penentuan jenis pahat, geometri pahat, v, dan f ( EMCO)

5)  Pemasangan pahat : menggunakan tool post (tempat pahat

tunggal) yang tersedia di mesin, panjang ujung pahat dari tool post

sekitar 10 sampai dengan 15 mm, χ r = 93o.

6)  Data untuk elemen dasar :

a.  Untuk pahat HSS : v = 34 m/menit; f = 0,1 mm/putaran, a = 2

mm.

 b.  Untuk pahat karbida : v = 170 m/menit; f = 0,1 mm/putaran; a =

2 mm.

7)  Bahan benda kerja telah disiapkan (panjang bahan sudah sesuai

dengan gambar), kedua permukaan telah dihaluskan.

Page 54: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 54/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

54 

8)  Perhitungan elemen dasar berdasarkan rumus dan gambar rencana

 jalannya pahat adalah sebagai berikut

II I

50 5

Gambar 22. Rencana pencekaman, penya yatan, dan lintasan pahat

Keterangan :

1)  Benda kerja dicekam pada Bagian II, sehingga bagian yang menonjol

sekitar 50 mm

2)  Penyayatan dilakukan 2 kali dengan kedalaman potong a1 = 2 mm dan a2

= 2 mm. Pemotongan pertama sebagai pemotongan pengasaran

(roughing ) dan pemotongan kedua sebagai pemotongan finishing  

3)  Panjang pemotongan total adalah panjang benda kerja yang dipotong

ditambah panjang awalan (sekitar 5 mm) dan panjang lintasan keluar

 pahat ( sama dengan kedalaman potong) . Gerakan pahat dijelaskan

seperti Gambar 23

4)  Gerakan pahat dari titik 4 ke titik 1 adalah gerak maju dengan cepat

(rapid )

a.  Gerakan pahat dari titik 1 ke titik 2 adalah gerakan penyayatan

dengan f = 0,1 mm/putaran

Page 55: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 55/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

55 

 b.  Gerakan pahat dari titik 2 ke titik 3 adalah gerakan penyayatan

dengan f = 0,1 mm/putaran

c.  Gerakan pahat dari titik 3 ke titik 4 adalah gerakan cepat ( dikerjakan

dengan memutar eretan memanjang)

2 1

3 4

Gambar 23. Rencana gerakan dan lintasan pahat

Setelah rencana jalannya pahat tersebut di atas kemudian dilakukan

 perhitungan elemen dasar pemesinannya. Hasil perhitungan dapat dilihat pada

Tabel 2.

a.  Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat HSS) 

v= 34 mm/menitf= 0,1 mm/putara

 a= 4 mma1= 2 mma2= 2 mma3= .. mmdo= 34 mmdm1= 30 mm

dm2= 26 mmlt= 42 mm

Proses n (rpm) Vf (mm/menit) tc(menit) Z(cm3/menit) Bubut rata a1 338,38 33,84 1,24 6,80 

Bubut rata a2 386,72 38,67 1,09 6,80 

Page 56: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 56/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

56 

Proses n (rpm) Vf (mm/menit) tc(menit) Z(cm3/menit) 

Bubut rata a1 1691,88 169,19 0,25 34,00

Bubut rata a2 1933,58 193,36 0,22 34,00

b.  Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat Karbida P10)

Bagian II :

Benda kerja dibalik, sehingga bagian I menjadi bagian yang

dicekam seperti terlihat pada Gambar 24. Lintasan pahat sama dengan

lintasan pahat pada Gambar 23 hanya panjang penyayatan- nya

 berbeda, yaitu (50+5+2) mm.

I II

60 5

Gambar 24. Rencana pencekaman, penyayatan, dan lintasan pahat

v= 170 mm/menitf= 0,1 mm/putara

 a= 4 mma1= 2 mma2= 2 mma3= .. mmdo=  34 mmdm1= 30 mmdm2= 26 mmlt=  42 mm

Page 57: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 57/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

57 

Hasil perhitungan elemen dasar pemesinan dapat dilihat pada Tabel 3 di

 bawah :

Tabel 3. Hasil perhitungan eleman dasar pemesinan Bagian II

a.  Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat HSS) 

v= 34 mm/menitf= 0,1 mm/putara

 a= 2 mma1= .. mma2= .. mma3= 2 mmdo= 34 mm

dm1= 30 mmdm2= .. mmlt= 57 mm

Proses n (rpm) Vf (mm/menit) tc(menit) Z(cm3/menit) 

Bubut rata a3 338,38 33,84 1,68 6,80 

b.  Perhitungan elemen dasar proses bubut ( untuk pahat Karbida)

v= 170 mm/menitf= 0,1 mm/putara a= 2 mm

a1= .. mma2= .. mma3= 2 mmdo= 34 mmdm1= 30 mmdm2= .. mmlt=  57 mm

Proses n (rpm) Vf (mm/menit) tc(menit) Z(cm

3

/menit) Bubut rata a3 1691,88 169,19 0,34 34,00

Catatan : 

1)  Pada prakteknya parameter pemotongan terutama putaran spindel

(n) dipilih dari putaran spindel yang tersedia di mesin bubut tidak

seperti hasil perhitungan dengan rumus di atas. Kalau putaran

spindel hasil perhitungan tidak ada yang sama (hampir sama)

Page 58: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 58/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

58 

dengan tabel putaran spindel di mesin sebaiknya dipilih putaran

spindel di bawah putaran spindel hasil perhitungan

2)  Apabila parameter pemotongan n diubah, maka elemen dasar

 pemesinan yang lain berubah juga

3)  Waktu yang diperlukan untuk membuat benda kerja jadi

 bukanlah jumlah waktu pemotongan (tc) keseluruhan dari tabel

 perhitungan di atas. Waktu pembuatan benda kerja harus ditambah

waktu non produktif yaitu :

a.  waktu penyiapan mesin/ pahat 

b.  waktu penyiapan bahan benda kerja (dengan mesin gergaji, dan

mesin bubut yang disetel khusus untuk membuat bahan benda

kerja) 

c.  waktu pemasangan benda kerja 

d.  waktu pengecekan ukuran benda kerja 

e.  waktu yang diperlukan pahat untuk mundur

(retract ) 

f.  waktu yang diperlukan untuk melepas benda kerja 

g.  waktu yang diperlukan untuk mengantarkan benda kerja (dari

 bagian penyiapan benda kerja ke mesin). 

4)  Tidak ada rumus baku untuk menentukan waktu non produktif.

Waktu non produktif diperoleh dengan mencatat waktu yang

diperlukan untuk masing-masing waktu non produktif tersebut.

5)  Untuk benda kerja tunggal waktu penyelesaian suatu benda kerja

lebih banyak dari pada pembuatan massal (ukuran benda kerja

sama dalam jumlah banyak), karena waktu penyiapan mesin

tidak dilakukan untuk setiap benda kerja yang dikerjakan.

6)  Untuk proses bubut rata dalam, perhitungan elemen dasar pada

 prinsipnya sama dengan bubut luar , tetapi pada bubut dalam

diameter awal (do) lebih kecil dari pada diameter akhir (dm).

Page 59: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 59/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

59 

7)  Apabila diinginkan pencekaman hanya sekali tanpa membalik benda

kerja, maka bahan benda kerja dibuat lebih panjang sekitar 30 mm.

Akan tetapi hal tersebut akan menyebabkan pemborosan bahan

 benda kerja jika membuat benda kerja dalam jumlah banyak.

8)  Apabila benda kerja dikerjakan dengan dua senter, maka benda kerja

harus diberi lubang senter pada kedua ujungnya. Dengan demikian

waktu ditambah dengan waktu pembuatan lubang senter.

9)  Pahat karbida lebih produktif dari pada pahat HSS.

c.  Hasil Pengerjaan

Page 60: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 60/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

60 

BAB IV

PENUTUP

A.  Kesimpulan

Observasi proses produksi menghasilkan produk seperti membubut

tirus, membuat huruf M pada permukaan plat, dan menyambung plat dengan

las listrik. Dari seluruh observasi proses produksi dapat diambil kesimpulan

sebagai berikut :

1.  Mahasiswa jurusan pendidikan teknik mesin harus dapat membaca,

menganalisa, dan membuat gambar teknik. Karena gambar teknik adalah

awal dari perancangan sebuah produk yang divisualisasikan melalui

media gambar yang memiliki standar. Dari gambar kita dapat mengetahui

 bentuk dan berapa ukuran dari produk yang akan dibuat

2.  Mesin-mesin yang diobservasi proses produksi adalah mesin las listrik

dan mesin konvensional seperti mesin bubut,mesin gerinda, mesin

coulter dan mesin bor. Cara mengoperasikan mesin-mesin tersebut

tidaklah sulit bila kita dapat memahami komponen mesin beserta

fungsinya. Tidak hanya itu, kita juga harus mengenal jenis-jenis mata

 pahat pada mesin bubut, mata bor, dan elektroda pada las listrik, serta

 batu gerinda yang dibutuhkan

3.  Untuk membuat produk yang baik dan berkualitas, maka harus memiliki

kesungguhan, ketelitian, dan daya analisa yang tinggi pada saat

 pengerjaannya. Tingkat kepresisian dari suatu produk merupakan kunci

utama keberhasilan pada proses produksi.

B.  Saran

Untuk dapat meningkatkan efektifitas pada proses produksi, maka

diperlukan suatu saran/usulan. Kami selaku penyurvey atau pengamat akan

memberikan saran yang bersifat membangun sebagai berikut :

1.  Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah aspek yang sangat penting

dalam proses produksi. Pada proses produksi masih terdapat kekurangan

Page 61: Isi Laporan Observasi

7/21/2019 Isi Laporan Observasi

http://slidepdf.com/reader/full/isi-laporan-observasi 61/61

 Laporan Observasi Identifikasi Mesin Perkakas Pendidikan Teknik MesinUniversitas Sebelas Maret Surakarta

61 

dalam hal penyediaan alat keselamatan kerja. Misalnya, kacamata

 pelindung dan sarung tangan las

2.  Sebelum memulai proses produksi, penjelasan tentang mesin beserta

komponen dan fungsinya harus secara mendetail. Sehinngga

kemungkinan-kemungkinan yang terburuk dapat terhindari. Hal-hal apa

saja yang tidak boleh dilakukan, tidak dijelaskan

3.  Kurangnya perawatan pada mesin-mesin di bengkel, maka mesin-mesin

tersebut harus dirawat agar kinerja dan produktivitas tetap terjaga